“Atau sangkamu kedelapan belas orang, yang mati ditimpa menara dekat Siloam, lebih besar kesalahannya dari pada kesalahan semua orang lain yang diam di Yerusalem?” Lukas 13:4

Suatu hari Yesus berbicara kepada orang banyak tentang sebuah tragedi. Delapan belas orang mati tertimpa menara dekat Siloam. Seperti kebanyakan manusia pada zaman itu, orang-orang mungkin segera menarik kesimpulan sederhana: mereka pasti lebih berdosa daripada orang lain sehingga mengalami kematian tragis itu. Pikiran seperti ini sangat dekat dengan konsep yang hari ini sering disebut sebagai “hukum karma”—gagasan bahwa setiap penderitaan adalah balasan langsung atas perbuatan seseorang.
Dalam kepercayaan tertentu, karma dipahami sebagai hukum alam yang bekerja secara otomatis dan tanpa pengampunan. Setiap perbuatan buruk harus dibayar oleh pelakunya, entah di kehidupan sekarang atau kehidupan yang akan datang.
Namun Yesus menegur cara berpikir tersebut. Dengan pertanyaan-Nya, Ia menggugurkan logika yang terlalu sederhana itu. Penderitaan tidak selalu berarti seseorang lebih berdosa. Dunia ini tidak bekerja seperti sistem pembalasan otomatis yang selalu menyeimbangkan perbuatan manusia secara langsung.
Jika kita jujur, cara berpikir seperti ini kadang masih muncul di kalangan orang Kristen, terutama dalam budaya Timur.
Kualat adalah istilah dalam bahasa Indonesia/Jawa yang berarti tertimpa bencana, celaka, atau sial akibat perbuatan kurang baik, terutama kepada orang tua atau melanggar norma/etika. Ini sering dianggap sebagai bentuk tulah atau “balasan instan” dari tindakan tidak sopan.
Karena itu, ketika seseorang mengalami kesulitan, kita mungkin tergoda berpikir bahwa itu pasti akibat kesalahan yang ia lakukan. Sebaliknya, ketika seseorang hidup makmur dan berhasil, kita mudah menganggapnya sebagai tanda bahwa ia pasti hidup benar.
Tetapi kenyataan hidup tidak sesederhana itu.
Banyak saudara seiman kita di berbagai negara mengalami penderitaan bukan karena mereka berdosa, melainkan justru karena mereka setia kepada Kristus. Di beberapa tempat di dunia, menjadi orang Kristen berarti kehilangan pekerjaan, dipenjara, bahkan menghadapi ancaman kematian. Mereka menabur apa yang baik, tetapi menuai apa yang buruk.
Kita mungkin masih ingat pada dua puluh satu orang Kristen Koptik yang bekerja sebagai buruh di Libya pada tahun 2015. Mereka diculik oleh kelompok militan dan dipaksa menyangkal iman mereka. Jika mereka mau meninggalkan Kristus, mereka bisa hidup. Tetapi mereka menolak. Di sebuah pantai yang sunyi mereka akhirnya dibunuh, dan banyak dari mereka berseru memanggil nama Yesus sampai napas terakhir.
Apakah mereka mati karena dosa mereka? Tentu tidak. Mereka mati karena kesetiaan mereka kepada Kristus.
Contoh seperti ini menunjukkan dengan jelas bahwa penderitaan orang percaya tidak bisa dijelaskan dengan logika karma. Kadang penderitaan justru datang karena seseorang hidup benar di tengah dunia yang menolak kebenaran.
Di sisi lain, Alkitab memang mengenal prinsip yang disebut “tabur tuai”. Namun prinsip tabur tuai tidak sama dengan karma.
Rasul Paulus menulis, “Apa yang ditabur orang, itu juga yang akan dituainya” (Galatia 6:7). Prinsip ini mengajarkan bahwa tindakan manusia memiliki konsekuensi.
Hidup yang dipenuhi dosa akan menghasilkan kehancuran, sedangkan hidup yang dipimpin Roh menghasilkan kehidupan.
Tabur tuai dalam Alkitab berlangsung dalam hubungan dengan Allah yang hidup. Allah adalah hakim yang adil, tetapi Ia juga adalah Bapa yang penuh belas kasihan. Apa yang dituai manusia tidaklah bisa dibayangkan manusia.
Tuhanlah yang berdaulat atas waktu dan cara seseorang menuai hasil dari hidupnya.
Karma adalah sebuah pengertian yang dipengaruhi moralitas. Di beberapa budaya, berbicara langsung dan terus terang dianggap jujur dan baik. Tetapi di budaya lain, cara itu bisa dianggap kasar atau tidak sopan. Tindakannya sama—berbicara terus terang—tetapi penilaiannya berbeda. Karena itu akibatnya bisa berbeda. Jika standar moral berubah menurut budaya, maka konsekuensi “karma baik atau buruk” juga menjadi relatif.
Contoh lain bisa dilihat dalam hal kebiasaan sosial, pakaian, atau hubungan keluarga. Hal yang dianggap wajar di satu masyarakat bisa dianggap tidak pantas di masyarakat lain. Ini menunjukkan bahwa moralitas sosial sering dibentuk oleh tradisi, sejarah, dan kebiasaan masyarakat, bukan oleh satu standar universal yang jelas.
Perbedaan terbesar antara karma dan tabur tuai menurut Galatia 6:7 terlihat pada kasih karunia Tuhan. Dalam sistem karma, manusia harus menanggung seluruh hutang perbuatannya sendiri. Tetapi dalam iman Kristen, Yesus Kristus datang justru untuk menanggung hukuman dosa manusia. Di kayu salib, Ia memikul hukuman yang seharusnya kita tanggung.
“…. Sekalipun dosamu merah seperti kirmizi, akan menjadi putih seperti salju; sekalipun berwarna merah seperti kain kesumba, akan menjadi putih seperti bulu domba.”Yesaya 1:18
Karena itu, bagi orang yang percaya kepada Kristus, rantai hukuman dosa diputus. Kita tidak lagi hidup di bawah ketakutan akan “karma buruk”, melainkan hidup dalam pengampunan dan kasih karunia Allah.
Inilah pengharapan yang membedakan iman Kristen dari sistem kepercayaan lainnya. Dunia mungkin penuh penderitaan, dan orang percaya pun tidak kebal terhadap kesulitan. Namun penderitaan itu bukanlah hukuman otomatis atas dosa kita. Kadang justru itu menjadi bagian dari panggilan kita untuk mengikuti Kristus dengan setia.
Seperti para martir yang tetap memanggil nama Yesus sampai akhir hidup mereka, kita pun dipanggil untuk hidup dalam kesetiaan yang sama—percaya bahwa Allah memegang hidup kita, dan bahwa kasih karunia-Nya lebih besar daripada semua dosa dan penderitaan kita.
Doa Penutup
Tuhan Yesus, terima kasih atas kasih karunia-Mu yang memutus rantai hukuman dosa kami. Ajarlah kami untuk hidup setia kepada-Mu, tidak menilai orang lain dengan pikiran yang salah, dan tetap percaya kepada-Mu dalam setiap keadaan. Amin.