“Sebab itu kukatakan dan kutegaskan ini kepadamu di dalam Tuhan: Jangan hidup lagi sama seperti orang-orang yang tidak mengenal Allah dengan pikirannya yang sia-sia dan pengertiannya yang gelap, jauh dari hidup persekutuan dengan Allah, karena kebodohan yang ada di dalam mereka dan karena kedegilan hati mereka.” Efesus 4:17–18

Perang di Timur Tengah masih berlangsung dan tiap hari kita membaca berita yang menyedihkan. Banyak orang beriman yang bertanya mengapa Tuhan terasa diam, tetapi mereka tetap berdoa. Pada pihak lain, mereka yang belum percaya mungkin makin meragukan apakah Tuhan itu ada.
Memang ada banyak orang yang berusaha keras untuk mencari kebenaran, tetapi tetap merasa jauh dari Tuhan. Mereka membaca, berpikir, berdiskusi, bahkan merenung panjang—namun seolah ada tembok tak terlihat yang menghalangi mereka untuk benar-benar percaya. Mengapa demikian?
Rasul Paulus dalam suratnya kepada jemaat di Efesus memberikan jawaban yang tidak biasa. Ia tidak mengatakan bahwa masalah utama manusia adalah kurangnya informasi atau kurangnya kecerdasan. Sebaliknya, ia menunjuk kepada sesuatu yang lebih dalam: pikiran yang sia-sia, pengertian yang gelap, dan hati yang degil atau keras.
Ini bukan sekadar masalah intelektual. Ini adalah masalah kondisi batin manusia.
Sering kali kita mengira bahwa jika seseorang cukup pintar, cukup terdidik, atau cukup rasional, maka ia akan dengan mudah mengenal Tuhan. Tetapi Alkitab menunjukkan arah yang berbeda. Masalahnya bukan pada kurangnya kemampuan berpikir, melainkan pada arah dari hati itu sendiri.
Dosa bukan hanya membuat manusia melakukan hal yang salah; dosa juga memengaruhi cara manusia melihat kebenaran. Ia mengaburkan pengertian, membuat yang terang terlihat samar, dan yang sederhana terasa rumit. Ia menerima yang bisa dilihat mata sebagai hal yang bisa diterima, tapi apa yang muncul dalam hati dianggap sebagai kebodohan. Dengan kata lain, ketidakmampuan rohani manusia yang sedemikian tidak berbeda dengan makhluk lain yang tidak mempunyai jiwa.
Itulah sebabnya iman Kristen tidak dimulai dari usaha manusia untuk mencapai Tuhan, melainkan dari inisiatif Tuhan untuk menyatakan diri-Nya.
Sejak awal, Allah tidak membiarkan manusia berjalan dalam kegelapan. Ia menyatakan diri melalui ciptaan, melalui firman-Nya, dan secara paling sempurna melalui Yesus Kristus. Di dalam Kristus, Allah tidak hanya berbicara dari jauh, tetapi datang mendekat, masuk ke dalam sejarah manusia, dan membuka jalan agar manusia dapat mengenal-Nya. Namun di sinilah letak pergumulannya.
Pengenalan akan Allah bukan sekadar soal memahami konsep, melainkan soal kerendahan hati untuk menerima bahwa kita tidak dapat menemukan-Nya dengan kekuatan sendiri. Bagi banyak orang, ini justru bagian yang paling sulit diterima.
Manusia secara alami ingin memegang kendali. Kita ingin mengerti dulu, baru percaya. Kita ingin memastikan semuanya masuk akal menurut ukuran kita. Tetapi pernyataan ilahi sering kali berjalan dengan urutan yang berbeda: percaya terlebih dahulu, lalu pengertian menyusul. Itulah iman.
Ini bukan berarti iman menolak akal. Justru iman menempatkan akal pada tempat yang benar—sebagai alat untuk memahami, bukan sebagai hakim tertinggi atas segala sesuatu. Akal manusia yang sangat terbatas, tidak dapat menyelami kebesaran Tuhan.
Tetapi, ketika hati manusia melembut, ketika kesombongan mulai runtuh, dan ketika ia bersedia membuka diri terhadap penyataan Allah, di situlah terang mulai masuk. Apa yang sebelumnya terasa gelap perlahan menjadi jelas. Apa yang dahulu tampak mustahil mulai dapat dimengerti.
Percaya bukanlah hasil dari usaha intelektual semata, melainkan buah dari perjumpaan dengan Allah yang menyatakan diri.
Karena itu, kesulitan untuk percaya sering kali bukan tanda bahwa Tuhan jauh, melainkan tanda bahwa hati manusia masih bergumul untuk melepaskan kendali.
Namun kabar baiknya adalah ini: Tuhan tidak menunggu manusia menjadi sempurna untuk menyatakan diri-Nya. Ia justru datang kepada mereka yang bersedia membuka hati, bahkan dalam keraguan sekalipun.
Dan ketika itu terjadi, iman bukan lagi beban, melainkan anugerah.
Doa Penutup
Tuhan, Engkau mengenal hati kami yang sering kali keras dan penuh keraguan. Lembutkanlah hati kami, terangilah pengertian kami, dan bukalah mata kami untuk melihat kebenaran-Mu. Ajarlah kami untuk percaya, bukan hanya dengan pikiran, tetapi dengan hati yang berserah kepada-Mu. Amin.