“Ketika Allah melihat perbuatan mereka itu, yakni bagaimana mereka berbalik dari tingkah lakunya yang jahat, maka menyesallah Allah karena malapetaka yang telah dirancangkan-Nya terhadap mereka, dan Ia pun tidak jadi melakukannya.” Yunus 3:10

Ada banyak orang yang saya kenal, sudah pernah mendengar bahwa Alkitab menyatakan bahwa semua manusia sudah berdosa dan membutuhkan pengampunan melalui darah Kristus. Walaupun demikian, mereka tidak mau tunduk kepada Tuhan karena merasa mereka sudah cukup baik, atau merasa Tuhan adalah maha kasih. Karena itu, mereka menolak untuk bertobat. Mereka tidak sadar bahwa kemahasucian Tuhan tidak dapat dibandingkan dengan “kebaikan” manusia.
Memang ada ketegangan yang sering kita rasakan ketika membaca Alkitab: jika Tuhan maha kasih dan berdaulat penuh, mengapa manusia masih dituntut untuk bertobat? Dan jika keselamatan adalah anugerah, mengapa ada peringatan yang begitu tegas seperti, “jika kamu tidak bertobat, kamu semua akan binasa”?
Kisah pertobatan Niniwe dalam Yunus 3:10 memberi kita sebuah gambaran yang sangat hidup. Kota yang besar, penuh kejahatan, mendengar peringatan sederhana: empat puluh hari lagi, maka Niniwe akan ditunggangbalikkan. Namun yang terjadi justru sebaliknya—mereka merendahkan diri, berbalik dari jalan yang jahat, dan Tuhan menahan hukuman-Nya.
Sekilas, ayat ini bisa disalahpahami. Seolah-olah pengampunan Tuhan adalah hasil dari usaha manusia. Seolah-olah Tuhan “berubah pikiran” karena manusia berhasil memenuhi syarat tertentu. Namun pemahaman yang lebih dalam menunjukkan sesuatu yang berbeda: pertobatan mereka bukanlah penyebab utama belas kasihan Tuhan, melainkan bukti bahwa kasih karunia Tuhan sedang bekerja.
Di sinilah kita melihat kesatuan pesan Alkitab. Apa yang terjadi di Niniwe adalah gambaran konkret dari prinsip yang dinyatakan dengan jelas oleh Yesus: bahwa tanpa pertobatan, manusia akan binasa. Dengan kata lain, kisah Yunus bukan pengecualian—melainkan contoh.
Tuhan memang menetapkan segala sesuatu dalam kedaulatan-Nya. Namun Ia juga menetapkan cara untuk menggenapi kehendak-Nya. Dan salah satu cara itu adalah pertobatan manusia. Perintah untuk bertobat bukanlah sekadar tuntutan moral, tetapi sarana yang Tuhan pakai untuk menarik manusia kepada-Nya.
Ini penting untuk kita pahami: Tuhan tidak menunggu manusia menjadi baik baru Ia mengampuni. Justru sebaliknya, Tuhan menggerakkan hati manusia sehingga ia mau bertobat. Apa yang tampak sebagai “perbuatan manusia” sebenarnya adalah buah dari pekerjaan Tuhan di dalam hati.
Namun di sisi lain, tanggung jawab manusia tetap nyata dan tidak bisa diabaikan. Orang-orang Niniwe benar-benar bertobat. Mereka merendahkan diri, meninggalkan kejahatan, dan berseru kepada Tuhan. Mereka tidak berkata, “Kalau Tuhan mau menyelamatkan, Ia pasti melakukannya tanpa kami berubah.” Tidak. Mereka merespons peringatan itu dengan sungguh-sungguh.
Di sinilah kita berdiri—di antara dua kebenaran yang tidak bertentangan, tetapi berjalan bersama. Tuhan berdaulat sepenuhnya, dan manusia bertanggung jawab sepenuhnya.
Yesus sendiri menegaskan hal ini dengan serius. Ia tidak hanya mengundang, tetapi juga memperingatkan: tanpa pertobatan, kebinasaan adalah kepastian. Artinya, kesempatan untuk bertobat bukan sesuatu yang bisa ditunda atau dianggap ringan. Itu adalah anugerah—dan sekaligus panggilan yang mendesak.
Kisah Niniwe juga menjadi cermin bagi kita. Jika bangsa yang begitu jahat saja merespons peringatan Tuhan, bagaimana dengan kita yang telah mendengar Injil berulang kali? Jika mereka diselamatkan melalui pertobatan, maka tidak ada alasan bagi siapa pun dan bangsa apa pun untuk tetap tinggal dalam dosa.
Pada akhirnya, pertobatan bukanlah kontribusi manusia untuk keselamatannya, melainkan jalan yang Tuhan sediakan agar manusia mengalami belas kasihan-Nya. Dan ketika seseorang benar-benar bertobat, semua kemuliaan kembali kepada Tuhan—karena Dialah yang terlebih dahulu bekerja di dalam hati.
Doa Penutup
Tuhan, aku mengakui bahwa tanpa Engkau aku tidak mampu berbalik dari jalanku yang salah. Lembutkan hatiku, bukakan mataku, dan beri aku kerelaan untuk bertobat dengan sungguh. Terima kasih karena Engkau tidak hanya memerintahkan pertobatan, tetapi juga memampukan aku untuk melakukannya. Di dalam nama Tuhan Yesus, Amin.