Ketika Penghakiman Tuhan Terasa Seperti Genosida

“Masakan Aku menyembunyikan kepada Abraham apa yang hendak Kulakukan?” Kejadian 18:17

Istilah genosida (genocide) relatif baru dalam sejarah manusia, meskipun praktik pemusnahan suatu kelompok sudah terjadi sejak zaman kuno.

Istilah ini pertama kali diperkenalkan pada tahun 1944 oleh seorang ahli hukum asal Polandia, Raphael Lemkin. Ia menggabungkan dua kata: genos (bahasa Yunani): ras atau bangsa dan cide (bahasa Latin): membunuh

Lemkin menciptakan istilah ini dalam bukunya Axis Rule in Occupied Europe, untuk menggambarkan kebijakan sistematis pemusnahan kelompok tertentu oleh rezim Adolf Hitler, khususnya terhadap orang Yahudi dalam Holocaust.

Setelah Perang Dunia II berakhir, dunia mulai menyadari perlunya istilah dan hukum yang jelas. Pada tahun 1948, PBB mengesahkan Konvensi Pencegahan dan Penghukuman Kejahatan Genosida (Genocide Convention). Sejak saat itu, “genosida” menjadi istilah hukum internasional.

Ada bagian-bagian dalam Alkitab yang membuat kita memikirkan apakah genosida sudah ada sejak Perjanjian Lama. Beberapa bagian Perjanjian Lama, khususnya dalam kitab seperti kitab Yosua dan Ulangan, mencatat perintah Tuhan kepada bangsa Israel untuk:

  • menaklukkan tanah Kanaan
  • menghancurkan bangsa-bangsa tertentu

Contohnya sering dikaitkan dengan bangsa Amalek dan bangsa Kanaan

Karena ada unsur pemusnahan kelompok, sebagian orang modern menyebutnya sebagai “genosida”. Pertanyaan pun muncul: bagaimana mungkin Allah yang penuh kasih memerintahkan hal seperti itu? Pergumulan ini bukan tanda iman yang lemah. Justru sebaliknya—ini menunjukkan bahwa kita sungguh peduli pada siapa Allah itu. Iman yang hidup tidak menutup mata terhadap pertanyaan, tetapi membawanya dengan jujur ke hadapan Tuhan.

Jika kita mundur sejenak dan melihat gambaran yang lebih luas, kita akan menemukan bahwa penghakiman Allah dalam Perjanjian Lama tidak pernah terjadi secara tiba-tiba atau tanpa alasan. Dalam Kejadian 15:16, Tuhan menyatakan bahwa Ia menunda penghukuman selama beberapa generasi. Ada kesabaran. Ada penantian. Ada kesempatan untuk bertobat. Ini menunjukkan bahwa Allah bukan pribadi yang cepat murka, melainkan panjang sabar.

Namun, kesabaran bukan berarti Tuhan mengabaikan kejahatan. Pada titik tertentu, kejahatan yang terus-menerus—yang merusak manusia dan menodai ciptaan—tidak lagi bisa dibiarkan. Di sinilah kekudusan Allah dinyatakan. Penghakiman yang kita baca bukanlah tindakan sewenang-wenang, melainkan respons terhadap kondisi moral yang telah mencapai puncaknya.

Kejadian 18:16–21 memberi kita gambaran yang lebih dekat tentang hati Tuhan. Saat itu Abraham menerima tiga tamu di dekat tendanya—salah satunya adalah Tuhan yang menyatakan diri dalam wujud manusia, sementara dua lainnya adalah malaikat. Dari tempat yang tinggi, mereka memandang ke arah Sodom, kota yang telah dikenal karena kejahatannya.

Menariknya, Tuhan tidak langsung menjatuhkan hukuman kepada penduduk Sodom. Ia terlebih dahulu “berbicara” dengan Abraham. Pertanyaan retoris yang Dia ajukan bukan karena Tuhan membutuhkan informasi, melainkan untuk menyatakan maksud-Nya dan melibatkan Abraham dalam pemahaman akan keadilan-Nya. Tuhan, yang tidak perlu menjelaskan diri kepada manusia, justru memilih untuk melakukannya—demi mendidik dan membentuk iman Abraham, dan juga iman kita.

Di sini kita melihat sesuatu yang indah: Tuhan sering memakai cara-cara yang manusiawi agar kita dapat memahami-Nya. Ia memanggil Adam di taman Eden, meskipun Ia tahu di mana Adam berada. Ia berbicara dengan Abraham, meskipun Ia sudah mengetahui seluruh jalannya percakapan. Semua ini menunjukkan bahwa Tuhan bukan jauh dan tidak terjangkau, tetapi dekat dan rela menyatakan diri-Nya.

Namun, meskipun kita memahami hal-hal ini, hati kita mungkin masih belum sepenuhnya tenang. Pertanyaan yang lebih dalam tetap ada: benarkah Tuhan mengasihi manusia?

Untuk menjawabnya, kita tidak bisa berhenti hanya pada bagian-bagian yang sulit. Kita perlu melihat Alkitab secara utuh. Apa yang tampak keras dalam Perjanjian Lama menemukan puncaknya dalam Perjanjian Baru—bukan dalam penghancuran manusia, tetapi dalam pengorbanan Anak Allah untuk manusia.

Di dalam Kristus, kita melihat Allah yang sama. Namun kali ini, Ia tidak menghakimi dari luar, melainkan mengambil hukuman itu ke atas diri-Nya sendiri. Salib menunjukkan sesuatu yang mengejutkan sekaligus mengubah hati kita:

Allah bukan hanya Hakim yang adil, tetapi juga Penyelamat yang rela menggantikan.

Jika kita berhenti pada kisah penghakiman, kita bisa salah memahami hati Tuhan. Tetapi jika kita berjalan sampai ke salib, kita melihat keseimbangan yang sempurna antara keadilan dan kasih.

Pergumulan kita mungkin tidak hilang sepenuhnya. Dalam hidup kita saat ini, akan selalu ada misteri yang tidak kita pahami sepenuhnya. Namun iman bukanlah tentang memiliki semua jawaban, melainkan tentang mempercayai Pribadi yang kita kenal. Dan kita mengenal Dia sebagai Allah yang sabar, Allah yang adil, dan Allah yang rela berkorban.

Karena itu, ketika kita berhadapan dengan bagian firman yang sulit, kita tidak boleh menolaknya, tetapi juga tidak boleh menyederhanakannya. Kita harus datang dengan rendah hati, mengakui keterbatasan kita, sambil tetap berpegang pada keyakinan bahwa karakter dan kasih Allah dapat dipercaya.

Doa Penutup

Tuhan, aku mengakui bahwa pengertianku terbatas dan hatiku sering bergumul. Tolong aku tetap percaya pada kebaikan dan keadilan-Mu. Ajar aku melihat Engkau bukan hanya dari bagian yang mudah kupahami, tetapi dari seluruh karya-Mu—terutama melalui salib Kristus. Amin.

Tinggalkan komentar