“Karena hikmat dunia ini adalah kebodohan bagi Allah. Sebab ada tertulis: ‘Ia yang menangkap orang berhikmat dalam kecerdikannya.’”1 Korintus 3:19

Ada banyak orang yang menolak untuk percaya kepada Tuhan yang maha kuasa sekalipun mereka hidup dalam lingkungan Kristen. Ada juga yang mengaku percaya tetapi cara hidupnya seakan tidak berTuhan. Mungkin ada juga yang percaya akan adanya Tuhan, tapi Tuhan yang jauh di sana dan tidak memengaruhi hidup mereka. Mengapa ada orang-orang sedemikian?
Bukan selalu karena mereka tidak mampu berpikir, tetapi sering kali karena perjalanan hidup mereka telah membentuk cara pandang yang lain. Luka masa lalu dan mungkin keadaan dunia yang kacau sekarang ini membuat hati menjadi keras. Keberhasilan membuat manusia merasa cukup dengan dirinya sendiri dan bebas dari kebutuhan rohani. Pendidikan dan rasionalitas kadang memberi ilusi bahwa segala sesuatu harus dapat dijelaskan, diukur, dan dibuktikan.
Dalam semua itu, manusia merasa sedang berdiri di atas pijakan yang kuat. Namun firman Tuhan berkata sebaliknya: hikmat dunia ini adalah kebodohan bagi Allah.
Pernyataan ini terasa keras. Tetapi Alkitab tidak sedang merendahkan kecerdasan manusia. Kita tahu ada begitu banyak orang yang luar biasa dalam pengetahuan dan kemampuan. Namun yang dimaksud firman Tuhan adalah sesuatu yang lebih dalam: tidak ada satu pun manusia yang mampu memahami sepenuhnya pikiran dan rencana Allah.
Sering kali, tanpa sadar, manusia mencoba menilai Tuhan dengan standar manusia. Seolah-olah Tuhan bisa dipahami sepenuhnya melalui logika, dianalisis seperti objek penelitian, atau dihakimi berdasarkan pengalaman pribadi. Ketika Tuhan tidak sesuai dengan ekspektasi, maka manusia cenderung menolak-Nya.
Di situlah letak “kebodohan” yang dimaksud Alkitab—bukan soal kecerdasan otak, tetapi sikap hati.
Tuhan adalah Roh. Ia adalah Pencipta, dan kita adalah ciptaan. Jarak antara keduanya tidak dapat dijembatani oleh kecerdasan manusia semata. Apa yang dapat kita ketahui tentang Dia hanyalah apa yang Ia nyatakan. Di luar itu, manusia hanya bisa berspekulasi.
Alkitab menggambarkan orang bodoh sebagai mereka yang hidup seolah-olah Tuhan tidak ada. Bukan berarti mereka tidak mampu berpikir, tetapi karena mereka memilih untuk tidak tunduk. Mereka mengandalkan diri sendiri, kekuatan sendiri, dan hikmat sendiri.
Sebaliknya, permulaan dari hikmat sejati justru bukan pada pengetahuan, melainkan pada sikap: takut akan Tuhan. Sebuah kerendahan hati untuk mengakui bahwa kita terbatas, bahwa kita tidak memegang kendali penuh, dan bahwa kita membutuhkan Dia.
Di hadapan Tuhan, semua manusia—sehebat apa pun—pada dasarnya tidak tahu apa-apa jika dibandingkan dengan hikmat-Nya yang tak terbatas. Tetapi justru di situlah anugerah itu mulai bekerja. Ketika manusia berhenti bersandar pada dirinya sendiri, ia mulai terbuka untuk menerima kebenaran dari Tuhan.
Bukan orang yang merasa paling tahu yang berkenan di hadapan Tuhan, melainkan mereka yang mau diajar.
Doa Penutup
Tuhan, kami datang dengan segala keterbatasan kami. Ampuni ketika kami mengandalkan diri sendiri dan merasa cukup tanpa Engkau. Ajarkan kami untuk rendah hati, takut akan Engkau, dan membuka hati kami bagi kebenaran-Mu. Pimpin kami untuk hidup dalam hikmat yang berasal dari-Mu. Amin.