“Segala tulisan yang diilhamkan Allah memang bermanfaat untuk mengajar, untuk menyatakan kesalahan, untuk memperbaiki kelakuan dan untuk mendidik orang dalam kebenaran.” 2 Timotius 3:16

Ada satu pertanyaan yang sering muncul, baik diucapkan dengan jujur maupun disembunyikan dalam keraguan: Mengapa seseorang tidak percaya? Sebagian menjawab dengan sederhana, “Karena Alkitab tidak dapat dipercaya.”
Alasannya pun beragam—ditulis manusia, berasal dari zaman kuno, atau dianggap penuh kepentingan. Namun jika direnungkan lebih dalam, penolakan seperti ini sering kali berhenti pada asal-usul, bukan pada isi. Dalam logika, sikap seperti ini dikenal sebagai genetic fallacy—yaitu kesalahan pikiran yang menilai benar atau salahnya suatu hal hanya berdasarkan dari mana asalnya, bukan pada kebenaran isinya.
Padahal dalam kehidupan sehari-hari, kita menerima begitu banyak hal dari sumber manusia—sejarah, ilmu, bahkan hukum—tanpa menolaknya secara otomatis hanya karena asalnya.
Alkitab sendiri justru memberikan kesaksian yang berbeda tentang dirinya. Ia bukan sekadar kumpulan pemikiran religius manusia. Ia adalah tulisan yang “diilhamkan Allah”—sebuah istilah yang dalam bahasa aslinya berarti “dinafaskan oleh Allah” (theopneustos). Artinya, Allah adalah sumbernya, sementara manusia adalah alat yang dipakai-Nya.
Sekitar empat puluh penulis, dari latar belakang yang sangat berbeda, menulis dalam rentang waktu yang panjang, sekitar 1500-1600 tahun. Namun ada satu tema yang utuh: karya keselamatan Allah bagi manusia. Ini bukan kebetulan. Roh Kudus bekerja sebagai Pribadi yang menggerakkan, membimbing, dan menjaga setiap penulisan, sehingga apa yang dihasilkan tetap setia pada kehendak Allah.
Menariknya, proses ini bukanlah dikte mekanis. Para penulis tetap memakai gaya bahasa, pengalaman, dan kepribadian mereka. Tetapi di balik semua itu, Roh Kudus berdaulat penuh, memastikan bahwa setiap kata yang dituliskan menyampaikan kebenaran ilahi dengan tepat.
Dan karya Roh Kudus tidak berhenti pada masa penulisan. Sampai hari ini, Ia juga yang memberi penerangan kepada pembaca—membuka hati, menyingkapkan kebenaran, dan menolong seseorang mengerti Firman Tuhan secara pribadi.
Di sinilah letak pergumulannya. Masalahnya sering bukan pada kurangnya bukti, tetapi pada kurangnya kesiapan hati untuk menerima. Sebab jika Alkitab benar adalah Firman Allah, maka ia tidak hanya memberi informasi—ia juga menegur, mengoreksi, dan menuntut perubahan hidup. Dan tidak semua orang siap untuk itu. Mereka ingin bebas untuk melakukan apa yang disenangi: dosa yang sering tidak disadari.
Maka pertanyaan “Mengapa tidak percaya?” pada akhirnya menjadi sangat pribadi. Bukan hanya soal intelektual, tetapi juga soal sikap hati di hadapan Allah.
Apakah orang menolak karena sungguh-sungguh telah menguji dan mencari kebenaran? Atau karena mereka tidak ingin kebenaran itu mengubah diri mereka? Hanya Tuhan yang tahu, karena Dialah yang memberi karunia iman.
Firman Tuhan tidak pernah diberikan hanya untuk dibaca, tetapi untuk mengubah hidup. Ia mengajar, menyatakan kesalahan, memperbaiki, dan mendidik dalam kebenaran. Pertanyaannya bukan hanya apakah kita percaya, tetapi apakah kita bersedia dibentuk olehnya.
Doa Penutup
Tuhan, bukalah hati kami untuk melihat kebenaran-Mu dengan jujur. Singkirkan kesombongan dan keraguan yang menutup mata kami. Terangi kami dengan Roh-Mu, agar kami bukan hanya memahami Firman-Mu, tetapi juga hidup di dalamnya. Amin.