Ketika Perang Menjadi Seperti “Pertandingan”

“Berbahagialah orang yang membawa damai, karena mereka akan disebut anak-anak Allah.”Matius 5:9

Ada sesuatu yang aneh yang sering terjadi di zaman internet ini. Saat ini mungkin kita tidak berada di medan perang Timur Tengah. Kita tidak mendengar dentuman bom secara langsung. Namun ketika membaca berita atau mengikuti perkembangan dunia, perlahan-lahan hati ini mulai memilih: siapa yang kita dukung, dan siapa yang kita harap kalah. Tanpa sadar, perang yang penuh penderitaan berubah menjadi seperti pertandingan sepakbola dunia. Ada “tim” yang kita jagoi, ada “tim” yang kita ingin dikalahkan.

Mungkin ini wajar. Kita memang terbiasa hidup dalam pola seperti itu—sejak kecil kita diajar untuk mendukung satu pihak dan bersorak atas kemenangan. Tetapi perang bukanlah permainan. Di balik setiap “kemenangan”, ada keluarga yang kehilangan, ada anak-anak yang ketakutan, ada masa depan yang hancur. Di sinilah kita perlu berhenti sejenak dan bertanya: apakah hati kita masih peka? Ataukah hati kita terisi kebencian atas suatu bangsa?

Alkitab mengajarkan bahwa Allah berdaulat atas segala sesuatu, termasuk perjalanan bangsa-bangsa. Tidak ada satu pun peristiwa yang lepas dari tangan-Nya. Namun di saat yang sama, kita diingatkan bahwa manusia melihat dengan penglihatan yang terbatas. Kita tidak mengetahui seluruh kebenaran, tidak memahami sepenuhnya kompleksitas yang terjadi. Karena itu, ada bahaya ketika kita terlalu cepat berkata, “Tuhan pasti di pihak ini,” seolah-olah kita bisa membaca pikiran-Nya dengan sempurna.

Memang, kita tidak boleh menjadi acuh tak acuh. Ketika ada ketidakadilan, ketika ada agresi, ketika yang lemah ditindas, hati kita wajar tergerak. Kita boleh bersimpati. Kita boleh merindukan agar kejahatan dihentikan. Namun ada garis tipis yang sering tidak kita sadari—simpati atas bangsa tertentu, bisa menjadi kebencian terhadap bangsa lain. Dukungan atas pihak tertentu bisa berubah menjadi kesombongan moral. Bahkan, tanpa kita sadari, kita bisa merasa puas ketika pihak lain menderita. Di titik itu, hati kita tidak lagi mencerminkan hati Tuhan yang mengasihi seluruh umat manusia.

Yesus Kristus mengajarkan sesuatu yang jauh lebih dalam daripada sekadar memilih pihak. Ia berkata untuk mengasihi musuh dan mendoakan mereka yang memusuhi kita. Ini bukan ajakan untuk mengabaikan kejahatan, tetapi panggilan untuk menjaga hati agar tidak dikuasai oleh kebencian atas sesama.

Itulah sebabnya, doa orang percaya tidak berhenti pada keinginan agar satu pihak menang. Doa kita dipanggil naik lebih tinggi—kepada kerinduan akan keadilan yang sejati dan damai yang memulihkan.

Bukan:

“Biarlah mereka menang.”

Melainkan:

“Ya Tuhan, hentikan kejahatan, lindungi yang tidak bersalah, dan pulihkan damai.”

Mungkin dunia akan tetap melihat konflik sebagai pertandingan. Tetapi orang percaya dipanggil untuk melihat lebih dalam—melihat manusia di balik setiap pemerintah, dan tetap memelihara belas kasihan di tengah keinginan akan keadilan. Karena pada akhirnya, kemenangan yang sejati bukanlah ketika satu pihak mengalahkan yang lain, tetapi ketika kebenaran ditegakkan tanpa kehilangan kasih.

Doa Penutup

Tuhan, ajar kami memiliki hati yang mencintai kebenaran dan tetap penuh kasih.

Jauhkan kami dari kebencian, dan pakailah kami menjadi pembawa damai. Dalam nama Yesus, Amin.

Tinggalkan komentar