Menghadapi Orang Yang Menghujat Tuhan

“Jangan menjawab orang bebal menurut kebodohannya, supaya jangan engkau sendiri menjadi sama dengan dia.” Amsal 26:4

Di zaman media sosial, kita sering menjumpai kata-kata yang terasa begitu tajam—bukan hanya menyerang keyakinan, tetapi juga menghujat Tuhan yang kita kasihi. Hati kita pun terusik. Secara otomatis, ada dorongan untuk segera membalas, meluruskan, bahkan “membela” Tuhan dengan segala kekuatan kata yang kita miliki. Ini adalah reaksi manusia, yang pernah saya alami sendiri.

Namun di tengah gejolak itu, kita diingatkan akan satu kebenaran yang menenangkan: Tuhan tidak pernah kehilangan kemuliaan-Nya. Ia tetap berdaulat, tidak tergoyahkan oleh ejekan manusia. Penghujatan tidak membuat-Nya menjadi lebih kecil. Justru sebaliknya, itu menyingkapkan betapa rusaknya hati manusia yang belum mengenal-Nya.

Di sinilah kita diuji. Apakah kita marah karena nama Tuhan dinista? Atau sebenarnya karena ego kita yang terluka? Ada perbedaan yang halus, tetapi sangat penting. Kecemburuan yang kudus lahir dari kasih kepada Tuhan, sedangkan amarah daging lahir dari diri sendiri. Yang satu memuliakan Allah, yang lain justru bisa mempermalukan kesaksian kita.

Sering kali, tanpa sadar, kita masuk ke dalam pertengkaran yang tidak membangun. Kata dibalas kata, hinaan dibalas hinaan. Pada titik itu, kita tidak lagi sedang menyatakan kebenaran—kita sedang tenggelam dalam kebisingan yang sama. Di titik inilah perkataan Tuhan Yesus menjadi sangat relevan: jangan melempar mutiara kepada babi.

“Jangan kamu memberikan barang yang kudus kepada anjing dan jangan kamu melemparkan mutiaramu kepada babi, supaya jangan diinjak-injaknya dengan kakinya, lalu ia berbalik mengoyak kamu.” Matius‬ ‭7‬:‭6‬‬

“Mutiara” menggambarkan sesuatu yang sangat berharga—kebenaran firman Tuhan, Injil, dan kesaksian iman kita. Sedangkan “babi” bukan merujuk pada manusia sebagai makhluk, melainkan pada sikap hati yang keras, yang tidak menghargai hal yang kudus, bahkan siap menginjak-injaknya. Artinya, ada orang-orang yang tidak muncul dalam percakapan untuk mencari kebenaran, tetapi hanya untuk merendahkan dan menghina Tuhan.

Memberikan kebenaran yang indah kepada hati yang seperti itu sering kali bukan menghasilkan pertobatan, tetapi justru penghinaan yang lebih besar. Bahkan, seperti dikatakan dalam konteks ayat itu, mereka bisa “berbalik menyerang.”

Karena itu, menahan diri bukan berarti kita pelit dalam membagikan kebenaran, melainkan bijaksana dalam mengenali waktu dan kondisi hati seseorang.

Amsal 26:4 memberi hikmat yang sejalan: ada saatnya untuk tidak menjawab. Bukan karena kita kalah. Bukan karena kita tidak punya jawaban. Tetapi karena kita tahu bahwa tidak semua percakapan layak diteruskan. Ada orang yang tidak mencari kebenaran, hanya mencari reaksi. Memberi mereka “panggung” justru merendahkan hal yang kudus.

Diam, dalam konteks seperti itu, bukan kelemahan. Itu adalah kekuatan yang terkendali. Namun diam bukan berarti pasif. Kita tetap bisa bersaksi—dengan cara yang berbeda. Dengan ketenangan. Dengan ketegasan yang tidak kasar. Dengan batas yang jelas. Kadang cukup berkata, “Sebagai orang beriman, saya tidak bisa menerima cara bicara seperti itu,” lalu berhenti di situ.

Dan anehnya, justru dalam ketenangan penghentian debat itu, terang lebih terlihat. Dunia sudah penuh dengan suara keras, tetapi jiwa yang tenang sering kali berbicara lebih dalam daripada argumen yang panjang, atau melalui proses hukum.

Orang Kristen dipanggil untuk menjaga keseimbangan antara memegang hukum negara dan memancarkan karakter Kristus. Dalam menghadapi penghujatan, respons yang paling kuat sering kali bukanlah melalui pengadilan, melainkan menunjukkan kesaksian hidup—yang tenang, namun tegas; yang lembut, namun penuh kebenaran dan kasih.

Kita dipanggil bukan hanya untuk mengatakan yang benar, tetapi juga untuk mencerminkan Pribadi yang kita imani. Ketika kita tidak terpancing, ketika kita tidak membalas dengan cara yang sama, kita sedang menunjukkan sesuatu yang berbeda—sesuatu yang tidak berasal dari diri kita sendiri.

Pada akhirnya, bukan kita yang harus membela Tuhan seolah-olah Ia membutuhkan pembelaan. Kitalah yang dipanggil untuk hidup sedemikian rupa sehingga nama-Nya tetap dihormati—bahkan di tengah dunia yang menolaknya.

Doa Penutup

Tuhan yang Mahakudus, ajarlah aku memiliki hati yang peka dan bijaksana.

Berikan aku pengertian untuk membedakan kapan harus berbicara dan kapan harus berhenti.

Jaga hatiku dari amarah yang sia-sia, dan bentuklah aku menjadi saksi yang setia dan lembut.

Biarlah hidupku tetap memuliakan nama-Mu, bahkan di tengah dunia yang sering menolak-Mu.

Amin.

Tinggalkan komentar