“Sebab bagi Allah tidak ada yang mustahil.” Lukas 1:37

Seminggu lagi kita akan memperingati hari kematian Yesus Kristus di kayu salib dan kemudian hari Paskah. Kejadian yang ajaib, yang membuktikan betapa besar kasih Allah kepada umat manusia. Adalah menyedihkan bahwa pada tahun ini kita akan merayakannya ketika perang besar masih terjadi di Timur Tengah dan Ukraina.
Jika kematian Yesus adalah perdamaian surgawi antara Tuhan dan manusia, setiap generasi sebenarnya juga memimpikan hal yang sama di dunia. Dunia tanpa perang, tanpa kebencian, tanpa saling melukai. Namun semakin kita melihat sejarah—bahkan kehidupan sehari-hari—kita menyadari bahwa damai di bumi terasa seperti sesuatu yang selalu dekat, tetapi tak pernah benar-benar tercapai.
Mengapa demikian?
Iman Kristen melihat akar persoalan bukan pertama-tama pada sistem politik, ekonomi, atau perbedaan budaya, melainkan pada hati manusia. Sejak manusia jatuh ke dalam dosa, relasi yang tadinya harmonis menjadi retak: manusia dengan Allah, manusia dengan sesama, bahkan manusia dengan dirinya sendiri. Dari hati yang tidak berdamai dengan Allah, lahirlah kecemasan, iri hati, kesombongan, keserakahan, dan pada akhirnya konflik. Perang demi perang terjadi, tapi damai yang langgeng belum bisa tercapai. Lalu buat apa berdoa untuk perdamaian?
Dalam terang ini, kita perlu jujur: jika damai bergantung pada usaha manusia semata, maka harapan itu akan selalu terbatas. Kita bisa menghentikan permusuhan, menciptakan perjanjian, membangun institusi, dan menyusun hukum, tetapi semua itu tidak mampu mengubah hati manusia secara mendasar. Damai yang dihasilkan sering kali hanya bersifat sementara—tenang di permukaan, tetapi rapuh di dalam.
Namun firman Tuhan membuka jendela pengharapan: “Bagi Allah tidak ada yang mustahil.” Ayat ini tidak berarti bahwa manusia suatu hari akan berhasil menciptakan utopia di bumi dengan kekuatannya sendiri. Sebaliknya, ayat ini mengarahkan kita kepada karya Allah yang melampaui kemampuan manusia.
Damai sejati bukan dimulai dari bumi menuju surga, tetapi dari Allah yang turun mendamaikan manusia dengan diri-Nya.
Inilah inti Injil: Allah tidak membiarkan dunia dalam keterpecahannya. Ia bertindak. Ia memulihkan. Ia mendamaikan.
Dan pemulihan itu dimulai dari dalam hati. Ketika seseorang diperdamaikan dengan Allah, sesuatu yang baru terjadi. Hati yang dulu gelisah mulai mengenal ketenangan. Hati yang dulu keras mulai dilembutkan. Dari situ, damai mulai mengalir keluar—dalam relasi, dalam perkataan, dalam sikap hidup.
“Sedapat-dapatnya, kalau hal itu bergantung padamu, hiduplah dalam perdamaian dengan semua orang!” Roma 12:18
Apakah ini berarti dunia akan langsung menjadi damai? Tidak. Kita masih hidup di dunia yang belum sepenuhnya dipulihkan. Ketegangan dan konflik tetap ada. Namun di tengah dunia seperti itu, orang percaya dipanggil untuk menjadi pembawa damai—bukan dengan kekuatan sendiri, tetapi sebagai buah dari damai yang sudah mereka terima. Orang percaya juga bisa membawa pengaruh yang kuat terhadap bangsa dan negara sehingga mereka memilih jalan damai daripada perang.
Bagi orang beriman, sebenarnya ada pengharapan yang lebih besar dibandingkan dengan keinginan untuk damai di bumi. Damai yang sempurna bukan sekadar kemungkinan, tetapi janji Tuhan. Suatu hari, Allah sendiri akan memulihkan segala sesuatu secara utuh. Pada saat itu, damai tidak lagi menjadi harapan yang jauh, melainkan kenyataan yang penuh untuk semua orang percaya.
Sampai hari itu tiba, kita hidup di antara dua realitas: dunia yang belum damai sepenuhnya, dan hati yang bisa mengalami damai sejati di dalam Tuhan. Di situlah iman bekerja—bukan dengan menyangkal kenyataan, tetapi dengan memegang janji Allah di tengah kenyataan.
Maka pertanyaannya bukan hanya, “Apakah damai di bumi mungkin?”
Tetapi juga, “Apakah damai itu sudah hadir di dalam hati kita?”
Doa Penutup
Tuhan, di tengah dunia yang penuh kegelisahan, kami datang kepada-Mu. Kami mengakui bahwa kami tidak mampu menciptakan damai sejati dengan kekuatan kami sendiri.
Pulihkanlah hati kami, ya Tuhan, dan penuhi kami dengan damai-Mu. Pakailah hidup kami menjadi alat-Mu untuk membawa damai di mana pun kami berada. Dan tolong kami untuk tetap berharap pada janji-Mu akan pemulihan yang sempurna. Amin.