Alasan untuk tidak percaya

“Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal.” Yohanes 3:16

Di sebuah percakapan sederhana, seseorang tertawa kecil ketika mendengar tentang iman Kristen. Baginya, semua itu tidak masuk akal. Mengapa manusia harus memuliakan Tuhan yang sudah mulia? Mengapa memberi kepada Tuhan yang tidak kekurangan? Mengapa percaya pada surga dan neraka yang tidak bisa dibuktikan? Bukankah hidup baik sudah cukup?

Pertanyaan-pertanyaan itu terdengar rasional. Bahkan, sekilas tampak kuat. Namun, di balik semua itu, tersembunyi satu hal yang lebih dalam: bukan sekadar soal logika, tetapi soal hati manusia. Hati manusia yang sudah tercemar dosa tidak lagi dapat menerima eksistensi Tuhan yang tidak terlihat mata.

Paskah membawa kita kembali kepada pusat iman Kristen, yaitu salib dan kebangkitan Yesus Kristus. Di sana, kita melihat sesuatu yang tidak mudah dipahami oleh akal semata—Allah yang maha mulia justru merendahkan diri-Nya dan menjadi manusia Yesus. Ia tidak menuntut manusia untuk memberi kepada-Nya, tetapi terlebih dahulu memberi diri-Nya bagi manusia. Tetapi, di sinilah banyak orang tersandung.

Bagi sebagian orang, konsep ini terasa “tidak rasional.” Dunia mengajarkan bahwa yang kuat tidak perlu berkorban untuk yang lemah. Namun Paskah justru menyatakan sebaliknya: kasih sejati rela berkorban. Salib bukan tanda kelemahan, tetapi kekuatan kasih yang tidak dimengerti oleh logika dunia.

C.S. Lewis (Clive Staples Lewis; 1898–1963) adalah seorang penulis, ahli sastra, dan apologet Kristen terkemuka asal Inggris yang sangat berpengaruh pada abad ke-20. Beliau pernah mengamati bahwa manusia sering menolak Allah bukan karena kurang bukti, tetapi karena keberadaan Allah menuntut respons. Jika Allah benar ada, maka manusia tidak lagi menjadi pusat hidupnya sendiri.

Itulah sebabnya, “alasan untuk tidak percaya” sering kali bukan kekurangan argumen, melainkan keengganan untuk menyerahkan diri.

Kita mengatakan, “Tidak ada yang tahu apakah surga dan neraka itu ada.” Tetapi di dalam hati, kita juga tahu bahwa dunia ini tidak adil. Ada kejahatan yang tidak pernah dihukum, dan kebaikan yang tidak pernah dihargai. Kerinduan akan keadilan itu sendiri menjadi petunjuk bahwa hidup ini tidak berhenti di sini.

Kita berkata, “Hidup baik sudah cukup.” Namun, siapa yang bisa benar-benar hidup baik dengan sempurna? Bahkan dalam keheningan hati, kita menyadari adanya kegagalan, egoisme, dan dosa yang tidak bisa kita selesaikan sendiri.

Di sinilah Yohanes 3:16 berbicara dengan lembut namun tegas: Allah tidak menunggu manusia menjadi cukup baik. Ia datang lebih dahulu, mengasihi, dan memberikan jalan.

Paskah adalah jawaban Allah terhadap semua keraguan manusia. Bukan dengan argumen panjang, tetapi dengan tindakan nyata. Salib berkata: manusia berdosa. Kebangkitan berkata: pengharapan itu nyata.

Agustinus dari Hippo (354–430 M) adalah filsuf, teolog, dan Uskup Hippo di Afrika Utara yang sangat berpengaruh dalam Kekristenan Barat. Beliau pernah berkata bahwa hati manusia gelisah sampai menemukan perhentiannya di dalam Allah. Banyak orang mencari alasan untuk tidak percaya, tetapi di saat yang sama, mereka tetap mencari damai, makna, dan kepastian—hal-hal yang tidak pernah sepenuhnya ditemukan di luar Tuhan.

Maka iman bukanlah lompatan ke dalam kegelapan, melainkan langkah menuju terang yang mungkin belum sepenuhnya kita pahami, tetapi nyata dinyatakan dalam Kristus.

Mungkin kita tidak bisa menjawab semua pertanyaan. Namun Paskah mengingatkan kita bahwa inti iman bukanlah kita memahami segalanya, melainkan kita percaya kepada Pribadi yang telah terlebih dahulu mengasihi kita.

Dan di hadapan salib, semua alasan untuk tidak percaya perlahan menjadi kecil—bukan karena kita dipaksa, tetapi karena kita melihat kasih yang terlalu besar untuk diabaikan.

Doa Penutup

Tuhan yang penuh kasih, di tengah segala keraguan dan pertanyaan, tolonglah kami untuk melihat salib-Mu dengan hati yang jujur. Ajarlah kami bukan hanya memahami dengan pikiran, tetapi juga merespons dengan iman. Ketika kami lemah dan penuh pertanyaan, ingatkan kami bahwa Engkau telah lebih dahulu mengasihi kami.

Teguhkan iman kami, ya Tuhan, agar kami tetap percaya, bukan karena kami mengerti segalanya, tetapi karena Engkau setia.

Di dalam nama Tuhan Yesus kami berdoa. Amin.

Tinggalkan komentar