“Karena Anak Manusia datang untuk mencari dan menyelamatkan yang hilang.”Lukas 19:10

Di suatu sore yang tenang, saya membayangkan kerumunan orang di Yerusalem. Wajah-wajah penuh harap. Mata mereka tertuju pada satu Pribadi—Yesus dari Nazaret. Mereka bersorak, menghamparkan jubah, melambaikan daun palma. Dalam hati mereka ada satu keyakinan: inilah saatnya. Inilah Mesias yang akan membebaskan mereka. Namun, harapan itu perlahan berubah menjadi kebingungan.
Yesus tidak mengangkat pedang. Ia tidak mengumpulkan pasukan untuk melawan Kekaisaran Romawi. Ia justru berbicara tentang mengasihi musuh, memikul salib, dan kehilangan nyawa untuk memperoleh hidup. Bagi banyak orang, ini bukan Mesias yang mereka tunggu.
Mereka menginginkan raja yang kuat.
Yesus datang sebagai hamba yang menderita.
Mereka menginginkan pembebasan politik.
Yesus menawarkan pembebasan dari dosa.
Mereka menginginkan perubahan keadaan.
Yesus mengerjakan perubahan hati.
Dan karena itu, tidak sedikit yang akhirnya kecewa.
Namun jika kita jujur, bukankah kita sering berada di posisi yang sama?
Kita datang kepada Tuhan dengan harapan-harapan tertentu. Kita berdoa untuk jalan keluar yang cepat, untuk berkat yang nyata, untuk hidup yang lebih mudah. Kita berharap Tuhan bekerja sesuai rencana kita—menyelesaikan masalah, mengangkat beban, membuka pintu yang kita inginkan. Tanpa sadar, kita pun membentuk gambaran tentang “Mesias versi kita sendiri.”
Tetapi Yesus tidak pernah berjanji untuk menjadi Mesias seperti itu. Ia datang untuk sesuatu yang jauh lebih dalam. Seperti yang diingatkan dalam Surat Paulus kepada Jemaat di Roma, masalah utama manusia bukanlah keadaan hidup yang sulit, melainkan dosa yang memisahkan kita dari Allah. Dan itulah yang Yesus datang selesaikan—melalui salib.
“Karena semua orang telah berbuat dosa dan telah kehilangan kemuliaan Allah, dan oleh kasih karunia telah dibenarkan dengan cuma-cuma karena penebusan dalam Kristus Yesus.” Roma 3:23-24
Sering kali, kekecewaan kita kepada Tuhan bukan karena Ia tidak setia, tetapi karena kita berharap pada hal yang tidak Ia janjikan.
Namun di situlah kasih-Nya menjadi nyata. Ia tidak memberi kita apa yang kita pikir kita inginkan, tetapi apa yang benar-benar kita perlukan. Ia tidak selalu mengubah keadaan kita, tetapi Ia pasti bekerja mengubah hati kita. Ia tidak selalu membawa kita keluar dari masalah, tetapi Ia berjalan bersama kita di dalamnya.
Mesias yang sejati bukanlah Pribadi yang memenuhi semua ekspektasi manusia, melainkan Pribadi yang menyelamatkan manusia dari dirinya sendiri.
Maka iman sejati bukanlah berkata,
“Tuhan, lakukan apa yang saya inginkan,”
melainkan dengan rendah hati berserah,
“Tuhan, lakukan kehendak-Mu dalam hidupku.”
Dan justru di sanalah kita menemukan damai yang sejati—bukan karena semua masalah hilang, tetapi karena kita berada di tangan Tuhan yang benar.
Doa Penutup
Tuhan, sering kali aku datang kepada-Mu dengan harapan-harapanku sendiri. Aku ingin Engkau bekerja sesuai keinginanku, mengikuti rencanaku, dan menjawab doaku dengan cara yang aku bayangkan.
Ampuni aku, ya Tuhan. Ajarlah aku untuk mengenal-Mu sebagaimana Engkau menyatakan diri-Mu, bukan sebagaimana aku menginginkan-Mu. Bentuklah hatiku agar selaras dengan kehendak-Mu. Berikan aku iman untuk percaya, bahkan ketika jalan-Mu tidak kumengerti.
Di dalam Yesus Kristus aku berdoa. Amin.