“Tetapi sekarang, beginilah firman Tuhan yang menciptakan engkau, hai Yakub, yang membentuk engkau, hai Israel: ‘Janganlah takut, sebab Aku telah menebus engkau, Aku telah memanggil engkau dengan namamu, engkau ini kepunyaan-Ku.” Yesaya 43:1

Minggu ini, orang percaya di seluruh dunia kembali mengingat dan merayakan kematian dan kebangkitan Yesus Kristus. Di kayu salib, kita melihat kasih yang begitu pribadi—Yesus tidak mati untuk massa yang anonim, tetapi untuk setiap jiwa secara khusus. Dan dalam kebangkitan-Nya, kita melihat harapan yang hidup: bahwa mereka yang ditebus-Nya tidak pernah dilupakan.
Peristiwa ini mengingatkan kita bahwa hubungan dengan Tuhan bukanlah sesuatu yang jauh dan umum, melainkan dekat dan sangat pribadi. Yesus mati dan bangkit untuk setiap domba-Nya yang mengenal suara-Nya.
Walaupun demikian, ada saat-saat dalam hidup ketika kita merasa anonim: tanpa nama, tidak beridentitas. Di tengah keramaian dunia, di antara jutaan manusia dengan cerita dan pergumulannya masing-masing, kita bisa bertanya dalam hati: Apakah Tuhan sungguh mengenal saya?
Namun firman Tuhan hari ini menjawab dengan lembut sekaligus tegas: “Aku telah memanggil engkau dengan namamu.” Ini bukan sekadar pengenalan umum. Ini adalah pengenalan yang pribadi, spesifik, dan penuh kasih. Tuhan tidak hanya tahu bahwa kita ada—Ia mengenal kita secara mendalam.
Tuhan yang menciptakan kita juga adalah Tuhan yang meneliti hati kita. Ia memahami pikiran yang belum sempat kita ucapkan, pergumulan yang kita sembunyikan, bahkan air mata yang tidak pernah dilihat orang lain. Tidak ada bagian dari hidup kita yang tersembunyi bagi-Nya. Tetapi yang mengherankan, pengenalan yang begitu dalam itu tidak membuat-Nya menjauhi kita, manusia yang berdosa. Justru sebaliknya—Ia tetap mengasihi kita.
Setiap orang percaya adalah pribadi yang dipilih oleh Tuhan untuk diselamatkan dari awalnya. Inilah keindahan hubungan dengan Tuhan. Ia mengenal kita sepenuhnya, namun tetap menerima kita dengan kasih yang setia.
Lebih dari itu, Tuhan juga mengenal siapa yang menjadi milik-Nya. Ketika Ia berkata, “Engkau ini kepunyaan-Ku,” itu adalah pernyataan identitas. Kita bukan milik dunia, bukan milik dosa, dan bukan milik ketakutan. Kita adalah milik Tuhan sendiri. Ada rasa aman yang dalam di sini—bahwa hidup kita berada dalam tangan yang benar.
Namun pengenalan ini bukan tanpa tujuan. Tuhan mengenal kita bukan hanya untuk mengetahui, tetapi untuk membentuk. Ia rindu agar kita hidup dalam kasih dan kebenaran, meninggalkan hal-hal yang tidak berkenan kepada-Nya. Kasih-Nya tidak membiarkan kita tetap seperti semula, tetapi selama hidup di dunia perlahan-lahan mengubahkan kita menjadi serupa dengan kehendak-Nya.
Di sisi lain, kita juga dipanggil untuk mengenal Tuhan. Bukan sekadar tahu tentang Dia, tetapi sungguh mengenal-Nya secara pribadi. Hubungan ini dibangun melalui firman-Nya, melalui doa, dan melalui pengalaman hidup sehari-hari bersama-Nya. Saat kita membuka Alkitab, kita tidak hanya membaca teks, tetapi sedang mendengar suara Tuhan yang berbicara kepada kita secara pribadi.
Tanda bahwa seseorang benar-benar mengenal Tuhan terlihat dalam hidupnya. Kasih menjadi nyata, bukan hanya kata-kata. Ketaatan bukan menjadi beban, tetapi respons dari hati yang mengasihi.
Seperti yang dituliskan dalam 1 Yohanes 2:3-6, mengenal Tuhan berarti hidup seturut dengan kehendak-Nya.
“Barangsiapa berkata: aku mengenal Dia, tetapi ia tidak menuruti perintah-Nya, ia adalah seorang pendusta dan di dalamnya tidak ada kebenaran.” 1 Yohanes 2:4
Maka, mengenal Tuhan bukanlah konsep yang abstrak. Itu adalah hubungan yang hidup—seperti seorang anak yang mengenal ayahnya, atau seorang sahabat yang berjalan bersama sahabatnya. Dan hubungan itu dimulai dari satu kebenaran sederhana namun dalam: Tuhan terlebih dahulu mengenal kita.
Hari ini, ketika Anda mungkin merasa sendiri atau tidak dipahami, ingatlah: Tuhan memanggil Anda dengan nama Anda. Ia tahu siapa Anda. Ia tahu di mana Anda berada. Dan Ia berkata, “Jangan takut.”
Karena Anda adalah milik-Nya.
Doa Penutup
Tuhan, terima kasih karena Engkau mengenal kami dan memanggil kami menjadi milik-Mu.
Tolong kami semakin mengenal Engkau dan hidup dalam kehendak-Mu setiap hari.
Dalam nama Yesus, Amin.