“Kira-kira jam tiga berserulah Yesus dengan suara nyaring: ‘Eli, Eli, lama sabakhtani?’ Artinya: Allah-Ku, Allah-Ku, mengapa Engkau meninggalkan Aku?”Matius 27:46

Ada saat-saat dalam hidup ketika doa terasa hampa. Kata-kata keluar dari mulut kita, tetapi hati kita terasa kosong. Kita bertanya, “Tuhan, di mana Engkau?” Dalam keheningan itu, kita merasa seolah-olah Tuhan jauh, tidak menjawab, bahkan mungkin meninggalkan kita.
Seruan Yesus di kayu salib membawa kita masuk ke dalam kedalaman pengalaman itu. “Eli, Eli, lama sabakhtani?” bukan sekadar ungkapan penderitaan fisik, tetapi jeritan jiwa yang merasakan keterpisahan. Ia yang tidak berdosa, kini menanggung dosa dunia. Ia yang selalu satu dengan Bapa, kini merasakan jarak yang begitu dalam.
Menariknya, seruan ini bukanlah kata-kata yang muncul begitu saja. Yesus sedang mengutip Mazmur 22, doa Daud yang dimulai dengan keluhan, tetapi berakhir dengan pengharapan. Daud pernah merasa ditinggalkan, tetapi ia tidak berhenti berdoa. Ia tetap berseru kepada Allahnya.
Di sinilah kita melihat sesuatu yang sangat penting: bahkan dalam penderitaan terdalam, Yesus tetap berdoa. Ia tidak memutuskan hubungan dengan Bapa. Ia tidak diam dalam keputusasaan. Ia berseru—dan seruan itu adalah doa.
Sering kali kita berpikir bahwa doa harus penuh iman yang kuat, kata-kata yang indah, atau keyakinan yang tidak tergoyahkan. Tetapi dari kayu salib, Yesus menunjukkan bahwa doa juga bisa berupa jeritan. Doa bisa berupa pertanyaan. Doa bisa berupa air mata.
Ketika hidup terasa berat, kita cenderung berdoa agar masalah itu diangkat. Kita meminta Tuhan menghilangkan kesulitan, menghapus penderitaan, atau membuka jalan keluar secepat mungkin. Tidak salah untuk meminta itu. Namun, ada sesuatu yang lebih dalam yang bisa kita pelajari dari doa Yesus.
Yesus tidak berdoa agar salib itu diangkat pada saat itu. Ia sudah menyerahkan diri sepenuhnya kepada kehendak Bapa. Di tengah penderitaan, Ia tetap berseru kepada Allah-Nya. Ini mengajarkan kita bahwa inti doa bukanlah menghindari kesulitan, tetapi tetap melekat kepada Tuhan di dalam kesulitan.
Ada kekuatan yang lahir ketika kita tetap berdoa di tengah pergumulan. Bukan karena keadaan langsung berubah, tetapi karena hati kita dipegang oleh Tuhan. Dalam seruan yang jujur, kita menemukan bahwa Tuhan tidak menjauh. Justru di situlah Ia bekerja, meskipun kita tidak selalu merasakannya.
Seruan Yesus juga mengingatkan kita akan kasih yang begitu besar. Ia rela mengalami keterpisahan supaya kita tidak perlu mengalaminya. Ia masuk ke dalam kegelapan supaya kita bisa memiliki terang. Ketika kita merasa ditinggalkan, kita sebenarnya tidak pernah benar-benar sendirian. Salib menjadi bukti bahwa Tuhan hadir bahkan dalam penderitaan terdalam kita.
Karena itu, kita boleh belajar untuk berdoa seperti Yesus. Datang dengan jujur. Datang dengan apa adanya. Tidak perlu menyembunyikan rasa takut, kecewa, atau kebingungan. Tuhan tidak menuntut doa yang sempurna, tetapi hati yang berseru kepada-Nya.
Dan mungkin, alih-alih hanya berdoa agar kesulitan diangkat, kita bisa mulai berdoa: “Tuhan, kuatkan aku untuk melewatinya.” Sebab di dalam proses itulah, iman kita dibentuk, dan kita semakin mengenal Dia.
Doa Penutup
Tuhan, ketika hidup terasa berat dan Engkau seakan jauh, ajar aku untuk tetap berseru kepada-Mu. Beri aku kekuatan untuk bertahan dan iman untuk percaya bahwa Engkau tidak pernah meninggalkanku. Dalam nama Yesus aku berdoa. Amin.