“Jawab Yesus kepada mereka: ‘Waspadalah supaya jangan ada orang yang menyesatkan kamu!’ Matius 24:4

Dunia hari ini seolah sedang menahan napas. Dari Selat Hormuz hingga perbatasan Iran, berita peperangan bukan lagi sekadar teks di layar, melainkan kenyataan yang mengguncang rasa aman manusia. Harga energi bergejolak, stabilitas ekonomi terancam, dan bayang-bayang konflik yang lebih luas terasa semakin dekat.
Dalam suasana seperti ini, banyak orang dengan cepat mengaitkannya dengan “Armageddon,” seolah-olah akhir dunia atau kiamat sudah di depan mata. Ketakutan pun menyebar, sering kali lebih cepat daripada kebenaran.
Armageddon adalah istilah yang berasal dari Alkitab, merujuk pada nubuat tentang pengumpulan akhir pasukan untuk pertempuran antara kebaikan dan kejahatan di akhir zaman (Wahyu 16:16). Istilah ini berasal dari bahasa Ibrani “Har Megiddo,” yang berarti “Bukit Megiddo,” sebuah lokasi bersejarah untuk berbagai pertempuran besar. Saat ini, istilah tersebut digunakan secara umum untuk menggambarkan skenario kiamat yang katastropik atau pertempuran yang menentukan.
Namun, di tengah kekacauan saat ini, firman Tuhan mengingatkan kita untuk waspada—bukan hanya terhadap bahaya fisik, tetapi juga terhadap penyesatan rohani. Ketakutan yang tidak terarah dapat membuat kita kehilangan pengharapan, bahkan meragukan kedaulatan Tuhan. Karena itu, kita perlu kembali kepada dasar iman kita: Allah memegang kendali penuh atas sejarah.
Alkitab tidak pernah menggambarkan dunia ini berjalan secara kebetulan. Dari awal hingga akhir, sejarah berada dalam tangan Tuhan. Apa yang bagi manusia tampak sebagai kekacauan, bagi Tuhan tidak pernah di luar rencana-Nya. Bahkan konflik besar sekalipun tidak terjadi tanpa sepengetahuan dan izin-Nya. Ini bukan berarti Tuhan menyukai peperangan, tetapi bahwa tidak ada satu pun peristiwa yang mampu menggagalkan tujuan-Nya.
Ketika Yesus berbicara tentang tanda-tanda akhir zaman, Ia dengan tegas mengatakan bahwa akan ada perang, kelaparan, dan berbagai penderitaan. Namun Ia juga menambahkan, “Jangan kamu gelisah; sebab semuanya itu harus terjadi.” Kata “harus” ini penting. Artinya, segala sesuatu berjalan sesuai dengan kehendak Allah yang lebih besar, meskipun sering kali tidak kita pahami sepenuhnya.
Di sinilah iman kita diuji. Apakah kita melihat dunia hanya dari berita dan analisis manusia, atau kita melihatnya melalui kacamata firman Tuhan? Jika kita hanya berpegang pada informasi dunia, kita akan mudah dilanda kecemasan. Tetapi jika kita berpegang pada janji Tuhan, kita akan memiliki ketenangan yang tidak tergoyahkan.
Kita juga perlu berhati-hati terhadap kecenderungan untuk berspekulasi tentang waktu dan detail akhir zaman. Sejarah telah menunjukkan bahwa banyak orang yang mencoba menebak kapan semuanya akan berakhir, tetapi semuanya gagal. Tuhan tidak pernah memanggil kita untuk menebak waktu, melainkan untuk hidup setia setiap hari. Fokus kita bukan pada menghitung kapan akhir itu datang, tetapi pada bagaimana kita hidup sebelum akhir itu tiba.
Kita hidup dalam sebuah ketegangan rohani: kemenangan Kristus sudah nyata melalui kematian dan kebangkitan-Nya, tetapi dunia yang sempurna belum sepenuhnya terwujud. Karena itu, kita masih melihat penderitaan, konflik, dan ketidakadilan. Namun semua itu tidak akan berlangsung selamanya. Akan tiba saatnya ketika Kristus menyatakan kemenangan-Nya secara penuh.
Sementara kita menantikan hari itu, kita tidak dipanggil untuk hidup dalam ketakutan atau menarik diri dari dunia. Sebaliknya, kita dipanggil untuk tetap setia dalam panggilan kita.
Kita dipanggil untuk menjadi terang di tengah kegelapan, membawa damai di tengah konflik, dan menunjukkan kasih di tengah kebencian. Dalam keluarga, pekerjaan, dan masyarakat, kita hidup sebagai saksi bahwa Tuhan itu hidup dan berdaulat.
Jika hari ini berita dunia membuat hati kita gelisah, marilah kita kembali mengingat siapa Tuhan kita. Dia bukan hanya Tuhan atas hidup pribadi kita, tetapi juga Tuhan atas bangsa-bangsa. Tidak ada satu pun pemimpin, kekuatan militer, atau peristiwa global yang berada di luar kuasa-Nya. Pada akhirnya, sejarah akan mencapai tujuannya: kemuliaan Tuhan dinyatakan, dan Kristus diakui sebagai Raja di atas segala raja.
Karena itu, marilah kita berdiri teguh. Bukan karena kita tahu apa yang akan terjadi besok, tetapi karena kita mengenal Dia yang memegang hari esok. Di tengah dunia yang tidak pasti, kita memiliki pengharapan yang pasti.
Doa Penutup
Tuhan yang berdaulat, di tengah dunia yang penuh ketidakpastian dan ketakutan, kami datang kepada-Mu. Ampuni kami ketika hati kami lebih mudah dikuasai oleh kecemasan daripada iman. Tolong kami untuk tetap percaya bahwa Engkau memegang kendali atas segala sesuatu.
Berikan kami hati yang tenang, bukan karena keadaan yang membaik, tetapi karena kami percaya kepada-Mu. Ajarlah kami untuk hidup setia setiap hari, menjadi terang di tengah kegelapan, dan membawa damai di tengah dunia yang gelisah.
Kami menyerahkan masa depan kami, keluarga kami, dan dunia ini ke dalam tangan-Mu. Kuatkan iman kami sampai hari ketika kami melihat kemuliaan-Mu dinyatakan sepenuhnya.
Di dalam nama Tuhan Yesus kami berdoa. Amin.