“Lalu datanglah firman Tuhan kepada Samuel, demikian: ‘Aku menyesal, karena Aku telah menjadikan Saul raja, sebab ia telah berbalik dari pada Aku dan tidak melaksanakan firman-Ku.’ Maka sakit hatilah Samuel dan ia berseru-seru kepada Tuhan semalam-malaman.” 1 Samuel 15:10–11

Melihat berita tentang konflik dan perang di berbagai belahan dunia, mungkin kita pernah bertanya dalam hati: apakah Tuhan menyesal atas apa yang terjadi? Apakah Ia tidak peduli? Ataukah Ia telah kehilangan kendali atas dunia yang semakin kacau?
Pertanyaan seperti ini bukanlah tanda kurang iman, melainkan cerminan pergumulan yang jujur. Kita hidup di dunia yang penuh luka, dan sering kali kita mencoba memahami hati Tuhan di tengah semua itu. Ayat dalam 1 Samuel 15:11 membawa kita pada satu pernyataan yang mengejutkan: Tuhan berkata, “Aku menyesal.”
Sepintas, ini membingungkan. Bukankah Tuhan Mahatahu? Bukankah Dia sempurna dalam segala keputusan-Nya? Bagaimana mungkin Dia “menyesal”?
Untuk memahaminya, kita perlu melihat bahwa Alkitab sering memakai bahasa yang bisa kita mengerti sebagai manusia. Ketika Tuhan berkata “Aku menyesal,” itu bukan berarti Dia membuat kesalahan seperti kita. Itu adalah ungkapan yang menggambarkan kedalaman relasi-Nya dengan manusia—bahwa Dia sungguh-sungguh terlibat, bukan jauh dan tidak peduli.
Saul dipilih menjadi raja, tetapi kemudian ia berpaling dari Tuhan. Ia tidak taat. Dan di titik itulah, Alkitab menggambarkan hati Tuhan yang berduka. Ini bukan penyesalan karena rencana yang gagal, melainkan kesedihan karena relasi yang rusak.
Di sini kita melihat sesuatu yang sangat indah sekaligus menggentarkan: Tuhan bukan pribadi yang dingin. Dia bukan sekadar penguasa yang jauh di atas sana. Dia adalah Pribadi yang hidup, yang mengasihi, dan yang merasakan duka ketika umat-Nya menjauh.
Sering kali kita berpikir bahwa jika kita gagal, Tuhan akan langsung meninggalkan kita. Namun ayat ini justru menunjukkan sebaliknya. Kesedihan Tuhan atas dosa Saul adalah bukti bahwa Dia peduli. Jika Dia tidak peduli, Dia tidak akan berduka.
Ini membawa penghiburan yang dalam. Ketika kita jatuh dalam dosa, ketika kita merasa jauh dari Tuhan, atau ketika kita menyesali keputusan-keputusan kita sendiri, kita tidak sedang berhadapan dengan Allah yang acuh tak acuh. Kita datang kepada Allah yang hatinya tersentuh—yang melihat, yang mengetahui, dan yang mengasihi.
Namun kisah ini tidak berhenti pada kesedihan. Tuhan tidak kehilangan kendali. Kegagalan Saul bukan akhir dari cerita. Justru di tengah kegagalan itu, Tuhan sedang bekerja. Ia mempersiapkan Daud, seorang raja yang berkenan di hati-Nya, yang pada akhirnya menunjuk kepada Raja yang sempurna—Yesus Kristus.
Di sinilah pengharapan kita berakar. Tuhan tidak pernah kehilangan arah dalam sejarah. Bahkan ketika manusia gagal, Dia tetap setia pada rencana-Nya. Duka-Nya tidak pernah menjadi akhir; selalu ada tujuan yang lebih besar yang sedang Ia kerjakan.
Bagi kita hari ini, pesan ini sangat pribadi. Mungkin pengalaman kita membawa penyesalan. Mungkin ada dosa yang terus menghantui, atau kegagalan yang membuat kita merasa tidak layak. Tetapi ingatlah: hati Tuhan yang berduka bukanlah tanda penolakan, melainkan undangan.
Undangan untuk kembali. Undangan untuk bertobat. Undangan untuk mengalami kasih-Nya yang tidak berubah.
Tuhan yang sama yang berkata “Aku menyesal” adalah Tuhan yang juga memulihkan, menuntun, dan memegang kita dengan setia. Di tengah ketidaksetiaan kita, Dia tetap setia. Di tengah kelemahan kita, Dia tetap kuat. Di tengah kekacauan dunia, Dia tetap memegang kendali.
Dan itulah pengharapan kita yang teguh: Tuhan yang berdaulat atas segala sesuatu adalah Tuhan yang hatinya penuh kasih kepada umat-Nya.
Doa Penutup
Tuhan yang penuh kasih, kami bersyukur karena Engkau bukan Allah yang jauh, tetapi Allah yang peduli dan mengasihi kami dengan sungguh. Ampuni kami ketika kami berpaling dari-Mu. Lembutkan hati kami untuk kembali taat dan setia. Tolong kami untuk percaya bahwa Engkau tetap bekerja, bahkan di tengah kegagalan kami. Peganglah hidup kami dan tuntun kami berjalan dalam kehendak-Mu. Di dalam nama Tuhan Yesus kami berdoa. Amin.