Apakah Tuhan penyebab bencana?

“Jika Allah kami yang kami puja sanggup melepaskan kami, maka Ia akan melepaskan kami dari perapian yang menyala-nyala itu, dan dari dalam tanganmu, ya raja; tetapi seandainya tidak, hendaklah tuanku mengetahui, ya raja, bahwa kami tidak akan memuja dewa tuanku, dan tidak akan menyembah patung emas yang tuanku dirikan itu.” Daniel‬ ‭3‬:‭17‬-‭18‬‬

Berita tentang perang di Timur Tengah sejak akhir Februari 2026 mengguncang hati banyak orang. Ribuan nyawa melayang, keluarga tercerai-berai, dan masa pdepan menjadi kabur. Di tengah semua itu, muncul pertanyaan yang tidak mudah dijawab: apakah Tuhan yang menghendaki semua ini? Jika Ia berkuasa, mengapa Ia membiarkan penderitaan? Apakah Ia peduli, atau justru kejam?

Pertanyaan-pertanyaan seperti ini bukanlah hal baru. Jauh sebelum kita, Sadrakh, Mesakh, dan Abednego juga berdiri di ambang maut. Mereka dihadapkan pada pilihan yang tampaknya sederhana tetapi sangat berat: menyembah patung emas atau mati dalam perapian yang menyala-nyala. Mereka tahu apa yang benar—tidak menyembah berhala. Namun mereka tidak tahu apa yang akan Tuhan lakukan.

Jawaban mereka kepada raja Nebukadnezar sangat menggetarkan: Tuhan sanggup melepaskan mereka, tetapi jika tidak, mereka tetap setia. Di sini kita melihat iman yang dewasa—iman yang tidak bergantung pada hasil, tetapi pada siapa Tuhan itu.

Mereka tidak berpikir bahwa Tuhan menghendaki mereka mati terbakar. Mereka juga tidak menuduh Tuhan sebagai penyebab kejahatan yang mengancam mereka. Sebaliknya, mereka memahami bahwa hidup di dunia yang telah jatuh ke dalam dosa memang penuh dengan ketidakpastian dan penderitaan. Kejahatan yang mereka hadapi berasal dari hati manusia yang memberontak, bukan dari hati Tuhan yang penuh kasih.

Namun mereka juga tahu satu hal yang pasti: Tuhan berdaulat. Tidak ada satu pun yang terjadi di luar pengetahuan-Nya. Ia tidak perlu menjelaskan rencana-Nya kepada manusia. Ia tidak perlu meminta persetujuan ciptaan-Nya. Tetapi kedaulatan itu tidak pernah terpisah dari kasih-Nya.

Di sinilah sering timbul kebingungan. Ada saat di mana Tuhan bertindak secara nyata—menolong, menyembuhkan, menyelamatkan. Namun ada juga saat di mana Ia seakan diam. Dalam keadaan seperti itu, sebagian orang menyimpulkan bahwa Tuhan tidak peduli, atau bahkan tidak ada. Padahal, Alkitab menunjukkan bahwa “diam”-Nya bukanlah ketidakpedulian, melainkan bagian dari rencana-Nya yang lebih besar.

Kita bisa menyebutnya sebagai kehendak aktif dan kehendak yang mengizinkan. Kadang Tuhan bertindak langsung; kadang Ia mengizinkan sesuatu terjadi. Tetapi izin-Nya bukan berarti Ia menyukai kejahatan.

Dunia ini telah rusak oleh dosa sejak kejatuhan manusia. Penderitaan, bencana, dan kematian adalah akibat dari kerusakan itu—bukan ciptaan awal Allah yang baik.

Karena itu, ketika kita melihat perang, bencana, atau tragedi, kita tidak boleh dengan cepat berkata, “Tuhan yang melakukannya.” Kejahatan tetaplah kejahatan. Penderitaan tetaplah musuh. Alkitab sendiri menyebut maut sebagai musuh terakhir. Namun di tengah dunia yang rusak ini, Tuhan tidak pernah melepaskan kendali-Nya.

Sadrakh, Mesakh, dan Abednego tidak tahu apakah mereka akan selamat. Tetapi mereka tahu bahwa Tuhan tetap menyertai mereka—baik dalam hidup maupun dalam kematian. Dan ternyata, Tuhan hadir di dalam perapian itu bersama mereka. Api tidak membinasakan, tetapi justru menjadi tempat di mana kemuliaan Tuhan dinyatakan.

Pengalaman itu mengajarkan kita sesuatu yang dalam: bukan berarti Tuhan selalu menghindarkan kita dari “api” kehidupan, tetapi Ia berjanji menyertai kita di dalamnya.

Hari ini, mungkin kita menghadapi “api” yang berbeda—penyakit, kehilangan, ketidakpastian, atau berita dunia yang menakutkan. Kita mungkin tidak mengerti mengapa semuanya terjadi. Tetapi seperti ketiga sahabat Daniel itu, kita dipanggil untuk berpegang pada satu kepastian: Tuhan yang berdaulat adalah Tuhan yang mengasihi.

Kita tidak selalu tahu apa yang akan Ia lakukan. Tetapi kita tahu siapa Dia. Dan itu cukup.

Doa Penutup

Tuhan yang Mahakuasa dan Mahakasih, di tengah dunia yang penuh penderitaan dan ketidakpastian, ajar kami untuk percaya kepada-Mu.

Ketika kami tidak mengerti jalan-Mu, kuatkan iman kami untuk tetap setia.

Tolong kami melihat bahwa Engkau tidak pernah meninggalkan kami, bahkan di dalam “api” kehidupan kami.

Pegang hati kami agar tetap percaya bahwa kasih-Mu tidak pernah berubah.

Di dalam nama Tuhan Yesus kami berdoa. Amin.

Tinggalkan komentar