“Sebab, barangsiapa yang berseru kepada nama Tuhan, akan diselamatkan. Tetapi bagaimana mereka dapat berseru kepada-Nya, jika mereka tidak percaya kepada Dia? Bagaimana mereka dapat percaya kepada Dia, jika mereka tidak mendengar tentang Dia. Bagaimana mereka mendengar tentang Dia, jika tidak ada yang memberitakan-Nya? Dan bagaimana mereka dapat memberitakan-Nya, jika mereka tidak diutus? Seperti ada tertulis: ”Betapa indahnya kedatangan mereka yang membawa kabar baik!” Roma 10:13-15

Ada sebuah kerinduan yang sering muncul di hati kita: benarkah keselamatan itu terbuka bagi semua orang? Ataukah hanya bagi sebagian yang sudah “ditentukan”dari awalnya? Pertanyaan ini bukan sekadar diskusi teologi, tetapi pergumulan yang sangat pribadi—terutama ketika kita memikirkan orang-orang yang kita kasihi yang belum percaya.
Rasul Paulus dalam Roma 10:13 menulis dengan sangat sederhana namun penuh kuasa: “Sebab, barangsiapa yang berseru kepada nama Tuhan, akan diselamatkan.” Kata “barangsiapa” di sini terasa seperti pintu yang terbuka lebar. Tidak ada batasan etnis, latar belakang, masa lalu, atau tingkat moralitas. Semua orang yang berseru—semua yang datang dengan hati yang memanggil—akan diselamatkan.
Namun Paulus tidak berhenti di situ. Ia melanjutkan dengan rangkaian pertanyaan yang menggugah: “Bagaimana mereka dapat berseru kepada-Nya, jika mereka tidak percaya kepada Dia? Bagaimana mereka dapat percaya, jika mereka tidak mendengar tentang Dia? Bagaimana mereka mendengar, jika tidak ada yang memberitakan?” (Roma 10:14–15).
Di sini kita melihat sesuatu yang sangat penting: keselamatan memang dinyatakan secara universal, tetapi jalannya tidak terlepas dari proses. Ada rantai yang tidak boleh terputus—mendengar, percaya, berseru. Dan di tengah rantai itu, ada peran nyata dari pemberitaan Injil.
Ini memberi kita pemahaman bahwa penginjilan bukanlah sekadar formalitas. Bukan hanya “mengumpulkan” mereka yang sudah pasti akan percaya. Sebaliknya, setiap pemberitaan Injil adalah momen di mana Allah bekerja—membuka hati, menggerakkan jiwa, dan memberi kesempatan bagi seseorang untuk merespons.
Gambaran ini mengingatkan kita pada kisah “anak yang hilang.” Anak itu tidak dipaksa pulang. Ia sampai pada titik kesadaran, lalu memutuskan untuk kembali. Namun di balik keputusannya, kita melihat kasih sang ayah yang sudah lebih dulu menantikan. Respons manusia dan inisiatif Allah berjalan bersama—bukan sebagai dua kekuatan yang bersaing, tetapi sebagai misteri kasih yang saling terkait.
Di sinilah kita bisa melihat bahwa keselamatan bukanlah sesuatu yang dingin dan mekanis. Ia adalah undangan yang hidup. Allah tetap berdaulat, tetapi dalam kedaulatan-Nya, Ia berkenan bekerja melalui pemberitaan, melalui perjumpaan, bahkan melalui pergumulan hidup seseorang.
Maka, ketika kita bertanya apakah keselamatan itu mungkin bagi semua orang, Roma 10 menjawab: pintu itu terbuka. “Barangsiapa” tetap “barangsiapa.” Tetapi ayat yang sama juga menantang kita—apakah kita bersedia menjadi bagian dari rantai itu? Apakah kita mau memberitakan, bersaksi, dan tidak cepat menyerah terhadap seseorang?
Sering kali kita tergoda untuk “mengibaskan debu dari kaki” terlalu cepat—merasa seseorang sudah terlalu jauh, terlalu keras, atau terlalu tidak tertarik. Namun Roma 10 mengingatkan bahwa setiap kali Injil diberitakan, ada kemungkinan bahwa seseorang sedang berada di ambang untuk percaya. Kita tidak pernah benar-benar tahu kapan momen itu terjadi.
Karena itu, pengharapan kita tidak boleh padam. Kita dipanggil untuk setia, bukan untuk memastikan hasil. Kita menabur, Allah yang memberi pertumbuhan.
Akhirnya, keselamatan adalah anugerah yang ditawarkan dengan tangan terbuka. Dan setiap orang yang berseru—dengan hati yang sungguh—tidak akan ditolak.
“Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal.” Yohanes 3:16
Doa Penutup
Tuhan yang penuh kasih, terima kasih karena Engkau membuka jalan keselamatan bagi setiap orang yang berseru kepada-Mu.
Ajarlah kami untuk tidak cepat menyerah dalam memberitakan Injil, dan beri kami hati yang sabar serta penuh pengharapan. Pakailah hidup kami sebagai alat-Mu, agar banyak orang dapat mendengar, percaya, dan berseru kepada nama-Mu.
Di dalam nama Tuhan Yesus kami berdoa. Amin.