Jangan Menjadi Batu Sandungan

“Janganlah kita saling menghakimi lagi! Tetapi lebih baik kamu membuat keputusan ini: jangan kamu menaruh batu sandungan atau batu penghalang di depan saudaramu.” — Roma 14:13

Kemarin kita membaca bahwa Alkitab dengan jelas mengajarkan bahwa setiap orang bertanggung jawab atas dosanya sendiri. Tidak ada seorang pun yang bisa menyalahkan orang atau keadaan atas dosanya. Yakobus menegaskan bahwa pencobaan berasal dari keinginan pribadi yang menyeret dan memikat hati manusia. Namun kebenaran ini tidak boleh dipahami secara terpisah dari tanggung jawab kita terhadap sesama.

Dalam hal relasi antar manusia, Yakobus menulis:

“Hai saudara-saudara yang kukasihi, ingatlah hal ini: setiap orang hendaklah cepat untuk mendengar, tetapi lambat untuk berkata-kata, dan juga lambat untuk marah; sebab amarah manusia tidak mengerjakan kebenaran di hadapan Allah.”
— ‭‭Yakobus‬ ‭1‬:‭19‬-‭20‬‬

Ini berarti bahwa cara kita berkomunikasi dan menjaga emosi kita juga penting untuk tidak membuat hubungan antar sesama umat Kristen menjadi buruk dengan adanya kemarahan.

Tanggung jawab pribadi kepada Tuhan tidak membebaskan kita dari kewajiban mengasihi sesama. Justru di sinilah kedewasaan iman diuji: bukan hanya dalam menghindari kemarahan diri sendiri, tetapi juga dalam mencegah timbulnya kemarahan orang lain sekalipun kita berada dalam posisi yang benar. Kita harus memastikan bahwa hidup kita tidak menjadi batu sandungan bagi orang lain, baik dalam keluarga maupun gereja.

Hari ini kita membaca bahwa Paulus menulis surat Roma kepada jemaat yang sedang bergumul dan berdebat dengan adanya perbedaan pandangan—tentang makanan, hari-hari tertentu, dan praktik keagamaan. Masalahnya bukan semata-mata soal benar atau salah, melainkan soal dampak. Karena itu Paulus tidak berkata, “Kamu bebas melakukan apa saja karena itu urusanmu,” tetapi justru berkata, “Putuskanlah untuk tidak menjadi batu sandungan.” Artinya, ada keputusan sadar dan sengaja untuk membatasi diri demi kebaikan rohani orang lain.

Batu sandungan bukanlah sekadar kesalahan kecil atau ketidaksengajaan. Dalam konteks Alkitab, batu sandungan adalah sesuatu yang membuat orang lain tersandung dalam imannya—jatuh, tawar hati, marah, atau bahkan menjauh dari Tuhan. Ironisnya, batu sandungan sering kali tidak muncul dalam bentuk dosa yang terang-terangan, melainkan dalam hal-hal yang tampak sepele dan dianggap wajar.

Sebagai contoh, perkataan yang keras, kurang sopan, atau bernada meremehkan dapat melukai hati dan memicu reaksi yang tidak membangun, terlebih bagi mereka yang imannya masih rapuh. Demikian pula cara berpakaian yang tidak pantas atau tidak bijaksana dapat membangkitkan pikiran dan dorongan yang tidak sehat pada orang lain. Begitu juga cara bergaul yang tidak pantas dapat membuat orang lain mengabaikan moralitas Kristen.

Meskipun niat kita mungkin tidak salah atau jahat, dampaknya tetap nyata. Dalam hal ini, Alkitab tidak hanya menilai niat, tetapi juga menimbang akibat dari tindakan kita terhadap sesama. Persoalan dan hak pribadi kita sering kali membuat orang lain dan bahkan seisi rumah dan gereja menjadi resah. Itu sebabnya, mengapa menjadi pengikut Kristus itu tidak mudah. Itu menuntut perjuangan dan pengorbanan setiap hari.

Yesus sendiri memberikan peringatan yang sangat keras tentang hal ini. Ia berkata bahwa siapa pun yang menyesatkan salah satu dari yang kecil yang percaya kepada-Nya, lebih baik baginya jika sebuah batu kilangan diikatkan pada lehernya (Lukas 17:2). Pernyataan ini menunjukkan betapa seriusnya Tuhan memandang dampak hidup kita terhadap iman orang lain. Tuhan bukan hanya memperhatikan apa yang kita lakukan, tetapi juga apa pengaruhnya bagi orang di sekitar kita, terutama anak-anak kita dan sesama anggota gereja.

Sering kali kita bersembunyi di balik kalimat, “Itu kan urusan dia dengan Tuhan.” Atau “Ini kan hak pribadi saya.”Kalimat ini mungkin terdengar rohani, tetapi bisa menjadi pembenaran untuk ketidakpedulian. Memang benar, setiap orang akan berdiri sendiri di hadapan Allah. Setiap orang Kristen masih mempunyai pilihan bebas. Namun kasih Kristen tidak berhenti pada prinsip keadilan; kasih bergerak melampaui itu dengan kepedulian terhadap saudara seiman. Paulus bahkan berkata bahwa ia rela tidak makan daging selamanya jika hal itu membuat saudaranya jatuh dalam dosa. Ini bukan kelemahan iman, melainkan kekuatan kasih.

Menjadi batu sandungan juga bisa terjadi melalui teladan hidup yang tidak konsisten, kebebasan yang dipamerkan tanpa hikmat, atau kebenaran yang disampaikan tanpa kelembutan. Orang yang imannya sedang bertumbuh tidak membutuhkan dari orang lain sikap merasa paling benar, melainkan contoh hidup yang rendah hati dan penuh kesabaran. Kebenaran tanpa kasih tidak membangun; justru dapat menjatuhkan. Gereja yang bagus pengajarannya atau hebat pujiannya tapi tidak menyatakan kasih tidak akan bertumbuh.

Renungan ini mengajak kita bercermin, bukan menunjuk. Bukan bertanya, “Siapa yang mudah tersandung?” atau “Siapa yang mudah tersinggung?” melainkan, “Apakah cara hidupku aman untuk dilihat orang lain?”, atau “Apakah cara bicaraku bisa diterima dengan baik oleh orang lain?”. Pertanyaan ini menolong kita hidup dengan kewaspadaan rohani—menyadari bahwa hidup kita diamati dan dapat memengaruhi perjalanan iman orang lain. Cara hidup orang Kristen adalah salah satu cara yang efektif untuk mengabarkan Injil.

“Demikianlah hendaknya terangmu bercahaya di depan orang, supaya mereka melihat perbuatanmu yang baik dan memuliakan Bapamu yang di sorga” Matius 5:16

Pada akhirnya, panggilan untuk tidak menjadi batu sandungan adalah panggilan untuk meniru Kristus. Ia adalah Pribadi yang memiliki segala hak, namun rela melepaskan kemuliaan-Nya demi keselamatan manusia. Ia tidak hidup untuk menyenangkan diri-Nya sendiri, melainkan untuk membangun dan menyelamatkan. Kiranya hidup kita pun demikian: bukan menjadi batu sandungan, melainkan menjadi jalan yang menuntun orang lain kepada Tuhan.

Doa Penutup

Tuhan yang penuh kasih, kami bersyukur atas kebebasan yang Engkau berikan di dalam Kristus. Namun ajarlah kami menggunakan kebebasan itu dengan hikmat dan kasih.

Jauhkan kami dari sikap, perkataan, dan tindakan yang dapat melukai iman sesama. Bentuklah hati kami agar peka terhadap dampak hidup kami bagi orang lain, dan jadikan hidup kami sarana berkat, bukan batu sandungan.

Tolong kami meneladani kerendahan hati Kristus dalam setiap langkah hidup kami. Di dalam nama Tuhan Yesus kami berdoa. Amin.

Dosa Datang dari Diri Sendiri

“Tetapi tiap-tiap orang dicobai oleh keinginannya sendiri, karena ia diseret dan dipikat olehnya.” — Yakobus 1:14

Salah satu kecenderungan manusia yang paling tua adalah menyalahkan faktor di luar dirinya ketika jatuh dalam dosa. Lingkungan dianggap terlalu rusak, godaan terlalu kuat, keadaan terlalu sulit, atau orang lain terlalu jahat. Sejak awal sejarah manusia, pola ini sudah terlihat jelas. Ketika Adam jatuh, ia menyalahkan Hawa. Ketika Hawa ditanya, ia menunjuk kepada ular. Namun Yakobus dengan sangat tegas dan jujur memotong rantai pembelaan diri itu: dosa tidak berawal dari luar, melainkan dari dalam diri manusia sendiri.

Yakobus 1:14 menegaskan bahwa pencobaan bekerja melalui keinginan pribadi—nafsu yang hidup di dalam hati manusia. Godaan dari luar memang nyata, tetapi ia hanya menjadi efektif ketika menemukan “pintu” yang terbuka di dalam diri kita. Setan tidak menciptakan keinginan itu; ia hanya memanfaatkan apa yang sudah ada. Lingkungan tidak memaksa manusia berdosa; ia hanya memperbesar kecenderungan yang telah bersemayam di hati. Ulah orang lain tidak membuat kita melakukan apa yang jahat, tetapi reaksi kita atas hal itulah yang menimbulkan dosa.

Hal ini sangat jelas terlihat dalam kisah Adam dan Hawa. Ular memang berbicara, tetapi ular tidak memaksa. Buah itu memang terlihat indah, tetapi buah itu tidak melompat ke tangan Hawa. Kejatuhan terjadi ketika hati manusia mulai mempercayai keinginan sendiri lebih daripada firman Allah. Ketika keinginan “menjadi seperti Allah” terasa lebih menarik daripada ketaatan, saat itulah dosa mulai dikandung.

Yakobus melanjutkan gambaran ini dengan sangat tajam: keinginan itu “menyeret dan memikat”. Kata-kata ini menunjukkan bahwa dosa jarang datang dengan ancaman yang menakutkan. Ia datang dengan janji, dengan rasa ingin tahu, dengan pembenaran logis, bahkan dengan bahasa rohani. Dosa jarang berkata, “Lakukan ini atau engkau akan menderita.” Sebaliknya, dosa berkata, “Ini jalan yang terbaik,” Ini tidak apa-apa,” “Ini pantas,” ” Kamu benar,” “Semua orang juga melakukannya,” atau “Kamu layak mendapatkannya.”

Karena itu, kesadaran bahwa dosa berasal dari dalam diri sendiri adalah langkah awal pertobatan yang sejati. Selama manusia masih sibuk menyalahkan keadaan, ia tidak akan pernah sungguh-sungguh berubah. Pertobatan bukan dimulai dengan memperbaiki dunia di luar, tetapi dengan merendahkan hati di hadapan Allah dan mengakui kerusakan hati sendiri. Injil tidak pernah mengajarkan bahwa manusia pada dasarnya baik dan hanya perlu lingkungan yang lebih sehat. Alkitab justru mengajarkan bahwa hati manusia perlu diperbarui.

Kesadaran ini bukan untuk membuat kita putus asa, melainkan untuk membawa kita pada anugerah. Jika dosa hanya masalah lingkungan, maka solusinya adalah kontrol. Tetapi jika dosa berasal dari hati, maka solusinya adalah kelahiran baru. Kristus datang bukan sekadar untuk memberi teladan moral, tetapi untuk memberi hati yang baru. Roh Kudus bekerja bukan hanya menahan dosa dari luar, melainkan membarui keinginan dari dalam.

Di sinilah pertempuran rohani yang sesungguhnya berlangsung. Bukan terutama di ruang publik, media sosial, atau sistem dunia, melainkan di dalam pikiran dan hati manusia. Doa, firman Tuhan, disiplin rohani, dan persekutuan orang percaya bukanlah sekadar aktivitas keagamaan, tetapi sarana Allah membentuk ulang keinginan kita. Ketika keinginan akan kebenaran semakin kuat, daya tarik dosa perlahan kehilangan cengkeramannya.

Namun kita juga harus jujur: selama hidup di dunia ini, pergumulan itu tidak pernah benar-benar berhenti. Orang percaya bukanlah orang yang tidak memiliki keinginan berdosa, melainkan orang yang tidak lagi diperbudak olehnya. Kita belajar berkata “tidak” bukan dengan kekuatan diri sendiri, tetapi dengan bersandar pada kasih karunia Tuhan yang lebih besar daripada kelemahan kita.

Renungan ini mengajak kita bercermin, bukan menunjuk. Setiap kali kita jatuh, pertanyaannya bukan pertama-tama “siapa atau apa yang menggoda?”, melainkan “bagian hati mana yang belum diserahkan sepenuhnya kepada Tuhan?” Dari sanalah pertumbuhan rohani dimulai—dari kejujuran di hadapan Allah yang mengenal hati kita lebih dalam daripada kita mengenal diri sendiri.

Doa Penutup

Tuhan yang Mahakudus, kami mengakui bahwa sering kali kami lebih mudah menyalahkan keadaan daripada mengakui kelemahan hati kami sendiri.

Ampunilah kami ketika kami membenarkan dosa dan menutup mata terhadap keinginan yang tidak berkenan kepada-Mu.

Perbaruilah hati kami oleh Roh-Mu, agar keinginan kami semakin selaras dengan kehendak-Mu.

Ajarlah kami berjaga-jaga atas hati kami, rendah hati dalam pertobatan, dan setia berjalan dalam terang kasih karunia-Mu.

Di dalam nama Tuhan Yesus Kristus kami berdoa. Amin.

Hindari Perdebatan yang Bodoh

“Hindarilah soal-soal yang dicari-cari, yang bodoh dan tidak layak. Engkau tahu bahwa soal-soal itu menimbulkan pertengkaran, sedangkan seorang hamba Tuhan tidak boleh bertengkar, tetapi harus ramah terhadap semua orang. Ia harus cakap mengajar, sabar — ‭‭2 Timotius‬ ‭2‬:‭23-24‬‬

Pernahkah Anda menonton perdebatan antar calon pemimpin negara di TV? Banyak orang mengira bahwa berdebat adalah tanda kecerdasan dan keberanian. Siapa yang paling lantang, paling tajam, dan paling mampu mematahkan argumen lawan sering dianggap sebagai pemenang. Itu adalah pandangan manusia.

Alkitab mengajarkan hikmat yang berbeda. Rasul Paulus dengan tegas menasihati Timotius agar berhati-hati dalam berdebat, untuk menghindari argumen yang bodoh. Nasihat ini tidak lahir dari sikap anti-intelektual atau ketakutan terhadap diskusi, melainkan dari pemahaman rohani tentang dampak perdebatan yang tidak sehat dalam gereja-Nya.

Dalam dua ayat sebelumnya, Paulus memberi Timotius perintah tentang apa yang harus “dihindari” dan “dikejar.” Di sini, Paulus sekali lagi mengingatkan Timotius untuk menghindari pertengkaran dangkal dan tidak berarti yang telah diperingatkannya dalam ayat 16.

“Tetapi hindarilah omongan yang kosong dan yang tak suci yang hanya menambah kefasikan.”
— ‭‭2 Timotius‬ ‭2‬:‭16‬‬

Percakapan yang tidak berharga ini menyebabkan argumen-argumen yang muncul mengarah pada lebih banyak pertengkaran. Itu hanya membuat saudara-saudara seiman saling bertentangan tanpa alasan yang baik.

Perdebatan tentang masalah yang tidak penting bisa dengan cepat berubah menjadi permusuhan, meracuni tubuh Kristus seperti halnya gangren menyerang tubuh fisik manusia.

Mengingat betapa seriusnya akibat perdebatan yang tidak sehat, dalam ‭‭2 Timotius‬ ‭2‬:‭24‬‬ Paulus mengingatkan Timotius bahwa kelembutan dan kesabaran adalah obatnya.

Sebenarnya, dalam 1 Timotius, Paulus sudah menyerukan para pemimpin di gereja untuk berdoa tanpa bertengkar (1 Timotius 2:8), mengajarkan bahwa para penatua tidak boleh bertengkar (1 Timotius 3:3), dan mengajarkan bahwa tanda guru palsu adalah seringnya mereka bertengkar mengenai kata-kata:

“ia adalah seorang yang berlagak tahu padahal tidak tahu apa-apa. Penyakitnya ialah mencari-cari soal dan bersilat kata, yang menyebabkan dengki, cidera, fitnah, curiga,” — ‭‭1 Timotius‬ ‭6‬:‭4‬‬

Selain itu, Paulus telah memanggil Timotius untuk menjadi “pelayan Kristus Yesus yang baik” (1 Timotius 4:6). Paulus sendiri menggambarkan dirinya sebagai “hamba Allah” (Titus 1:1). Kata yang diterjemahkan sebagai “hamba” atau “pelayan” di sini adalah doulos, yang secara harfiah berarti budak. Timotius harus memandang dirinya sebagai hamba Tuhan, dan tidak bertengkar dalam bekerja. Tuhan, Sang Majikan, tidak menghendaki kekacauan dalam kerajaan-Nya.

Soal-soal (argumen) yang bodoh dalam ‭‭2 Timotius‬ ‭2‬:‭23 bukan berarti pertanyaan yang sederhana atau orang yang kurang pengetahuan. Tetapi itu adalah perdebatan yang tidak membangun, tidak menghasilkan pertobatan, dan tidak membawa orang lebih dekat kepada kebenaran.

Paulus menegaskan bahwa membicarakan hal-hal seperti ini hanya menimbulkan pertengkaran. Tidak ada buah rohani di dalamnya—yang ada hanya rasa panas, emosi, dan luka hati—yang makin lama makin parah.

Dalam Titus 3:9, Paulus kembali mengulang peringatan yang sama: hindarilah perdebatan yang tidak berguna dan sia-sia. Pengulangan ini menunjukkan betapa seriusnya masalah ini dalam kehidupan orang Kristen. Gereja dan keluarga bisa hancur dari dalam karena pertengkaran yang terus menerus yang dipelihara dengan ego besar.

Mengapa argumen bodoh begitu berbahaya?

Pertama, karena argumen seperti ini meningkatkan konflik, bukan pemahaman. Tujuan diam-diamnya sering kali bukan mencari kebenaran, melainkan pemuasan ego: memenangkan perdebatan. Ketika itu terjadi, relasi menjadi korban. Suara orang lain tidak lagi perlu didengar, hanya perlu dilawan. Hati setiap orang menjadi keras, bukan terbuka. Kasih menjadi padam, dan kebencian makin tumbuh.

Kedua, argumen bodoh mengalihkan fokus dari panggilan yang lebih penting. Waktu, energi, dan perhatian yang seharusnya dipakai untuk mengasihi, melayani, dan bertumbuh dalam kesalehan, justru habis dalam perdebatan yang tidak produktif. Kita bisa benar secara intelektual, tetapi gagal total secara rohani. Dalam kelarga Kristen dan gereja yang mengalami hal ini akan timbul kekacauan yang membuat orang lain enggan untuk menjadi orang percaya.

Paulus dalam suratnya kepada Timotius, tidak hanya menyatakan apa yang harus dihindari, tetapi juga menunjukkan apa yang harus dilakukan sebagai gantinya. Dalam ayat-ayat setelahnya, ia menasihati agar hamba Tuhan bersikap ramah, sabar, cakap mengajar, dan dengan lemah lembut menuntun mereka yang menentang kebenaran. Artinya, kebenaran tetap penting, tetapi cara menyampaikannya sama pentingnya.

Yesus sendiri menjadi teladan utama. Ia tidak menjawab setiap jebakan yang dilontarkan kepada-Nya. Kadang Ia diam, kadang Ia bertanya balik, dan kadang Ia menjawab dengan perumpamaan. Yesus tidak pernah terjebak dalam argumen bodoh, karena tujuan-Nya bukan memenangkan perdebatan, melainkan menyelamatkan manusia.

Di zaman sekarang, godaan untuk terlibat dalam argumen bodoh semakin besar. Media sosial memberi panggung bagi siapa saja untuk mengeluarkan pendapat tanpa konteks dan tanpa relasi. Banyak perdebatan antar tokoh Kristen berlangsung tanpa niat untuk saling mendengar dan saling belajar. Kata-kata menjadi senjata, bukan sarana untuk membangun kerajaan Tuhan. Di sinilah nasihat Paulus menjadi sangat relevan.

Menghindari argumen bodoh bukan berarti lari dari kebenaran. Ini berarti memilih pertempuran yang benar dengan cara yang benar: melaksanakan hukum kasih. Karena tujuan tidak menghalalkan cara, keputusan harus diambil dengan kesadaran untuk mengutamakan damai sejahtera, pertumbuhan rohani, dan kesaksian hidup.

Pada akhirnya, pertanyaannya bukan, apakah kita boleh berdebat, tetapi apakah perdebatan ini memuliakan Tuhan dan membangun sesama orang beriman. Hikmat sejati tidak selalu terdengar keras. Sering kali, hikmat berbicara melalui keheningan, kesabaran, dan penguasaan diri, demi kemuliaan Tuhan.

“Ada orang yang lancang mulutnya seperti tikaman pedang, tetapi lidah orang bijak mendatangkan kesembuhan.” — ‭‭Amsal‬ ‭12‬:‭18

Doa Penutup

Tuhan yang penuh hikmat, Engkau mengenal hati kami yang mudah terseret oleh ego, emosi, dan keinginan untuk merasa benar. Ampuni kami bila kami sering terlibat dalam argumen yang tidak membangun dan melukai hubungan.

Ajarlah kami untuk membedakan kapan harus berbicara dan kapan harus diam. Berikan kami kerendahan hati untuk menghindari perdebatan yang sia-sia, dan hikmat untuk menyatakan kebenaran dengan kasih dan kelembutan dalam keluarga dan gereja.

Tuntunlah lidah dan hati kami, agar hidup kami memancarkan damai sejahtera-Mu. Kiranya melalui sikap dan perkataan kami, nama-Mu dimuliakan.

Di dalam nama Tuhan Yesus kami berdoa. Amin.

Komunikasi yang Mematikan dan yang Menghidupkan

“Hidup dan mati dikuasai lidah, siapa suka menggemakannya, akan memakan buahnya.”
— ‭‭Amsal‬ ‭18‬:‭21‬‬

Di zaman digital, komunikasi melalui media sosial menjadi suatu hal yang berbahaya. Kata-kata menyebar tanpa konteks di dunia maya, tanpa wajah, tanpa relasi. Orang merasa bebas melukai karena tidak melihat dampaknya secara langsung. Namun di hadapan Tuhan, setiap kata yang dilontarkan secara apa pin tetap diperhitungkan. Media hanyalah alat; hati manusialah sumbernya.

Komunikasi adalah salah satu anugerah terbesar yang Tuhan berikan kepada manusia. Melalui kata-kata, manusia dapat menghibur, mengajar, membangun, dan menguatkan. Namun, anugerah yang sama juga dapat berubah menjadi alat penghancur. Alkitab tidak pernah meremehkan kuasa komunikasi. Justru sebaliknya, Alkitab dengan jujur menyingkapkan betapa mematikan perkataan manusia ketika terlepas dari kasih dan kebenaran Allah.

Amsal 18:21 berkata, “Hidup dan mati dikuasai lidah.” Ayat ini bukan kiasan yang berlebihan. Banyak orang tidak mati secara fisik, tetapi jiwanya terluka parah—bahkan hancur—oleh kata-kata. Ucapan yang merendahkan, mempermalukan, menghakimi, atau mengancam dapat mematikan harapan, merusak iman, dan mematahkan semangat hidup seseorang.

Komunikasi yang mematikan tidak selalu muncul dalam bentuk perundungan (bullying) yang kasar yang terang-terangan. Ia bisa muncul dalam sindiran halus, kritik yang “dibungkus kebenaran,” atau nasihat yang disampaikan tanpa empati. Bahkan ayat Alkitab pun dapat menjadi alat pemukul jika dipakai tanpa kasih. Ketika kebenaran dilepaskan dari kasih, kebenaran itu tidak lagi menyembuhkan, melainkan melukai.

Yesus berkali-kali berhadapan dengan komunikasi yang mematikan. Ia menerima cemoohan, fitnah, dan penghakiman—bukan hanya dari masyarakat umum, tetapi juga dari pemuka agama. Mereka fasih berbicara tentang hukum Taurat, tetapi miskin kasih. Kata-kata mereka benar secara doktrin, namun mematikan secara rohani. Yesus menegur keras sikap ini karena tidak mencerminkan hati Allah.

Sebaliknya, komunikasi Yesus selalu menghidupkan. Ketika Ia berbicara kepada perempuan Samaria, Ia tidak memulai dengan dosa, tetapi dengan kebutuhan akan air hidup. Ketika Ia berhadapan dengan perempuan yang tertangkap berzina, Ia tidak menyangkal dosanya, tetapi Ia lebih dahulu memulihkan martabatnya. Ketika Ia memanggil Zakheus, Ia tidak menuduh, melainkan mengundang diri-Nya sendiri masuk ke rumah orang berdosa itu. Inilah kabar baik: kebenaran yang disampaikan dengan kasih, dan kasih yang tidak mengorbankan kebenaran.

Komunikasi yang menghidupkan seharusnya meniru kabar baik yang disampaikan oleh Yesus. Injil bukan sekadar informasi teologis; Injil adalah berita yang membangkitkan harapan. Yesus tidak datang membawa ancaman, melainkan undangan. Ia tidak memulai dengan penghakiman, melainkan dengan panggilan untuk bertobat dan hidup baru. Kata-kata-Nya membawa terang, bukan kegelapan; membawa kehidupan, bukan kematian.

Masalahnya, sebagai orang percaya, kita sering tanpa sadar mempraktikkan komunikasi yang mematikan dengan memegang pedang dan merasa sedang membela kebenaran. Kita cepat berbicara, lambat mendengar, dan mudah tersulut emosi. Kita lupa bahwa amarah manusia tidak mengerjakan kebenaran Allah (Yakobus 1:20). Kita lupa bahwa tujuan komunikasi Kristen bukan memenangkan argumen, melainkan memenangkan hati.

Renungan ini mengajak kita untuk berhenti sejenak dan bertanya:

  • Apakah cara saya berbicara mencerminkan Injil Kristus?
  • Apakah kata-kata saya sudah memberi hidup atau justru mematikan semangat orang lain?
  • Apakah saya lebih dikenal sebagai pembawa kabar baik, atau sebagai pengkritik yang tajam?

Mengikuti Yesus berarti juga belajar berbicara seperti Yesus. Ini bukan perkara teknik komunikasi, melainkan pembaruan hati. Bukan sekadar lip service atau bermanis-manis. Ketika hati sudah dipenuhi oleh Roh Kudus, lidah akan mengalirkan kehidupan. Ketika kita sungguh memahami bahwa kita sendiri hidup hanya oleh anugerah Tuhan, kita tidak akan mematikan orang lain dengan kata-kata, karena kita sadar bahwa mereka adalah milik Tuhan.

Kiranya Tuhan menolong kita untuk menjadi pembawa kabar baik—di rumah, di gereja, di masyarakat, dan di dunia digital. Dunia sudah terlalu penuh dengan komunikasi yang mematikan. Dunia merindukan suara yang menghidupkan.

Doa Penutup

Tuhan Yesus, Engkau adalah Firman yang menjadi manusia, Firman yang membawa hidup dan terang bagi dunia.

Ampuni kami bila kata-kata kami sering melukai, menghakimi, dan mematikan harapan sesama.

Perbaruilah hati kami oleh kasih karunia-Mu, agar ucapan kami mencerminkan Injil yang menghidupkan.

Ajarlah kami berbicara dengan kebenaran dan kelembutan, menyampaikan kasih tanpa mengorbankan kebenaran.

Jadikan kami alat-Mu untuk membangun, bukan merobohkan; menguatkan, bukan melemahkan.

Kiranya melalui setiap kata yang kami ucapkan, nama-Mu dimuliakan dan hidup dinyatakan.

Di dalam nama Yesus Kristus kami berdoa. Amin.

Bukan Asal Omong

“Hai saudara-saudara yang kukasihi, ingatlah hal ini: setiap orang hendaklah cepat untuk mendengar, tetapi lambat untuk berkata-kata, dan juga lambat untuk marah; sebab amarah manusia tidak mengerjakan kebenaran di hadapan Allah.”Yakobus 1:19–20

Kita hidup di zaman ketika kata-kata berhamburan tanpa saringan. Media sosial, grup percakapan, dan ruang publik dipenuhi pendapat, kritik, dan reaksi spontan. Banyak orang merasa perlu berbicara cepat agar tidak “ketinggalan suara.” Namun Alkitab justru mengajarkan kebalikan dari naluri zaman ini: bukan asal omong.

Yakobus menulis kepada jemaat yang sedang menghadapi tekanan, konflik, dan ketegangan sosial. Dalam situasi seperti itu, lidah menjadi alat yang paling mudah melukai. Karena itu Yakobus tidak memulai dengan larangan keras, tetapi dengan urutan yang sangat bijaksana: cepat mendengar, lambat berbicara, dan lambat marah. Urutan ini bukan kebetulan. Mendengar lebih dahulu akan menolong kita berbicara dengan benar; berbicara dengan benar akan menolong kita mengendalikan amarah dan dosa.

Cepat mendengar berarti memberi ruang bagi orang lain—bukan hanya telinganya, tetapi juga hatinya. Mendengar di sini bukan sekadar menunggu giliran berbicara, melainkan sungguh-sungguh memahami. Banyak konflik tidak pernah membesar seandainya kita mau mendengar dengan rendah hati. Ketika kita mendengar, kita mengakui bahwa kita tidak selalu memiliki seluruh kebenaran. Sikap ini adalah bentuk kerendahan hati yang sangat berkenan di hadapan Allah.

Lambat berbicara tidak berarti bungkam atau pasif. Ini berarti berhati-hati. Kata-kata memiliki kuasa membangun sekaligus menghancurkan. Karena itu Paulus mengingatkan:

“Janganlah ada perkataan kotor keluar dari mulutmu, tetapi pakailah perkataan yang baik untuk membangun” (Efesus 4:29).

Perkataan “kotor” dalam ayat ini berarti perkataan yang jahat. Dengan demikian, itu bukan hanya “omong kotor”. Bukan hanya apakah yang saya katakan benar secara tata bahasa, tetapi juga apakah yang saya katakan membangun orang lain. Kebenaran yang disampaikan tanpa kasih sering kali berubah menjadi senjata, bukan kasih. Apa yang kita sampaikan bisa mematikan semangat atau membunuh spirit orang lain.

Lebih jauh lagi, Kolose 4:6 menasihatkan agar perkataan kita selalu “ramah, dibumbui dengan garam,” sehingga kita tahu bagaimana menjawab setiap orang, Garam jika dipakai dengan jumlah yang tepat memberi rasa, sehingga makanan tidak hambar. Ini menyiratkan ucapan yang bijaksana, enak didengar, dan tidak membosankan, tapi berisi kebenaran. Ketajaman kata tanpa hikmat bisa melukai, tetapi kelembutan tanpa kebenaran bisa menyesatkan. Hikmat Kristen terletak pada keseimbangan: jujur, tetapi penuh kasih; tegas, tetapi tetap ramah.

Yakobus kemudian mengaitkan lidah dengan amarah. “Amarah manusia tidak mengerjakan kebenaran di hadapan Allah.” Ini adalah peringatan keras. Banyak orang merasa amarahnya dibenarkan karena merasa benar. Namun Alkitab dengan jelas menyatakan bahwa amarah manusia—yang lahir dari ego, luka batin, atau keinginan menguasai—tidak pernah menghasilkan kebenaran Allah. Bahkan ketika isu yang dibela adalah benar, cara yang salah akan merusak kesaksian tentang kasih Tuhan.

Amsal 15:1 berkata, “Jawaban yang lemah lembut meredakan kegeraman, tetapi perkataan yang pedas membangkitkan marah.” Kelembutan bukan tanda kelemahan, melainkan buah kedewasaan rohani. Dibutuhkan kekuatan batin untuk menahan lidah, menunda reaksi, dan memilih kata yang tepat. Dunia memuji orang yang lantang dan keras, tetapi Tuhan menghargai orang yang mampu mengendalikan diri dan menghindari dosa.

Renungan ini mengajak kita bercermin di tahun yang baru: berapa banyak kata yang kita ucapkan dalam sehari yang sebenarnya tidak perlu? Berapa banyak yang diucapkan karena emosi, bukan karena kasih? Dalam keluarga, gereja, dan masyarakat, sering kali luka terdalam bukan berasal dari tindakan, tetapi dari kata-kata yang diucapkan tanpa pertimbangan.

“Bukan asal omong” berarti membawa setiap kata ke hadapan Tuhan sebelum keluar dari mulut kita. Ini adalah latihan rohani yang terus-menerus. Kita belajar berhenti sejenak, mendengar lebih lama, berdoa dalam hati, lalu berbicara dengan maksud membangun. “Asal omong” memang gampang, tetapi menghindarinya adalah sulit. Tetapi, jika kata-kata kita dipimpin oleh Roh Kudus, lidah yang dulu melukai dapat menjadi alat penyembuhan.

Kiranya kita dikenal bukan sebagai orang yang paling cepat berkomentar, tetapi sebagai orang yang perkataannya memberi hidup, menenangkan jiwa, dan memuliakan Tuhan.

Doa Penutup:

Tuhan yang penuh hikmat, ajarlah kami untuk cepat mendengar, lambat berbicara, dan lambat marah.

Kuduskan lidah kami agar setiap kata yang keluar membangun, bukan melukai; membawa damai, bukan pertengkaran.

Berilah kami kerendahan hati untuk mendengar,dan keberanian untuk berbicara dengan kasih dan kebenaran.

Biarlah hidup kami menjadi kesaksian yang memuliakan nama-Mu.

Di dalam nama Tuhan Yesus kami berdoa. Amin.

Kasihani dirimu sendiri dengan mengasihani orang lain

“Sebab penghakiman yang tak berbelas kasihan akan berlaku atas orang yang tidak berbelas kasihan. Tetapi belas kasihan akan menang atas penghakiman.” Yakobus 2:13

Ayat ini adalah salah satu pernyataan Yakobus yang tajam, bahkan terasa keras. Ia tidak berbicara dengan bahasa yang lunak atau kompromistis. Namun justru di dalam ketegasannya, Yakobus sedang membawa kita kembali kepada inti iman Kristen: bagaimana relasi kita dengan Allah yang penuh belas kasihan itu harus dinyatakan dalam cara kita memperlakukan sesama.

Yakobus tidak sedang mengajarkan bahwa keselamatan ditentukan oleh seberapa banyak belas kasihan yang kita lakukan. Ia juga tidak mengatakan bahwa seorang Kristen yang pernah gagal mengasihi orang lain akan kehilangan keselamatannya. Demikian pula, ia tidak sedang menyatakan bahwa orang yang tidak mengenal Kristus tetapi bersikap baik kepada sesamanya otomatis akan diselamatkan. Yakobus bukan sedang membandingkan perbuatan baik dengan iman, melainkan menunjukkan buah alami dari iman yang sejati.

Iman yang hidup kepada Allah yang berbelas kasihan akan melahirkan kehidupan yang ditandai oleh belas kasihan. Bukan kesempurnaan, tetapi arah hidup. Bukan tanpa dosa, tetapi dengan kepekaan hati.

Sampai nafas yang penghabisan, orang Kristen tetap orang berdosa. Selama hidup, kita masih bisa bersikap keras, cepat menghakimi, atau kurang empati. Namun perbedaannya terletak pada kebiasaan hidup dan kecenderungan hati. Orang yang ada di dalam Kristus, yang setiap hari hidup dari anugerah, lambat laun akan dibentuk oleh Roh Kudus untuk semakin menyerupai Kristus yang penuh belas kasihan kepada orang lemah, orang berdosa, dan mereka yang terpinggirkan.

Karena itu Yakobus berani berkata: orang yang tidak pernah atau hampir tidak pernah menunjukkan belas kasihan, terutama kepada mereka yang lebih lemah atau menderita, patut mempertanyakan imannya sendiri. Ia mungkin bukan orang Kristen sejati! Bukan karena ia gagal memenuhi standar moral tertentu, melainkan karena hidupnya tidak mencerminkan sifat Allah yang ia akui percaya.

Yesus sendiri mengajarkan hal yang serupa. Dalam perumpamaan tentang hamba yang tidak berbelas kasihan (Matius 18:23-35), Tuhan menegur orang yang telah menerima pengampunan besar tetapi menolak mengampuni sesamanya. Masalahnya bukan pada satu kesalahan, melainkan pada hati yang tidak pernah berubah setelah menerima anugerah. Orang yang sedemikian tidak sadar bahwa ia harus mengasihani orang lain setelah ia dikasihani oleh Tuhan. Karena itu, pantaslah ia kehilangan belas kasihan Tuhan.

‘Maka Bapa-Ku yang di sorga akan berbuat demikian juga terhadap kamu, apabila kamu masing-masing tidak mengampuni saudaramu dengan segenap hatimu.” Matius 18:35

Di sinilah kita diajak bercermin. Betapa mudahnya kita menghakimi—dengan kata-kata, sikap, atau bahkan dengan kediaman yang dingin. Kita sering merasa benar, rohani, atau lebih bermoral, sementara lupa bahwa kita sendiri hidup sepenuhnya oleh belas kasihan Allah. Kita lupa bahwa tanpa belas kasihan-Nya, tidak seorang pun dapat berdiri di hadapan-Nya.

Yakobus mengingatkan bahwa Allah memang adil, tetapi belas kasihan-Nya jauh lebih unggul dari penghakiman-Nya. Di dalam Kristus, penghakiman yang seharusnya kita terima telah ditanggung. Salib adalah bukti bahwa belas kasihan Allah tidak mengabaikan keadilan, tetapi menggenapinya melalui belas kasihan-Nya dalam pengorbanan Anak-Nya yang tunggal.

Karena itu, hidup dalam belas kasihan bukanlah beban tambahan bagi orang percaya, melainkan respons yang wajar dan sudah seharusnya. Kita mengasihi karena kita telah dikasihi. Kita mengasihani karena sudah dikasihani. Kita mengampuni karena kita telah diampuni. Kita menahan diri untuk tidak cepat menghakimi karena kita sadar betapa seringnya Tuhan bersabar kepada kita.

Di dunia yang keras dan mudah menghakimi, belas kasihan adalah kesaksian yang kuat. Ia menunjukkan bahwa kita hidup dari sumber yang berbeda. Bukan dari rasa benar diri, tetapi dari anugerah. Bukan dari superioritas rohani, tetapi dari kerendahan hati sebagai orang-orang yang telah diselamatkan.

Kita harus sadar bahwa orang yang hidup dalam belas kasihan kepada orang lain sebenarnya sedang hidup di dalam ruang belas kasihan Allah sendiri. Mengasihi sesama bukan hanya demi mereka, tetapi juga demi kesehatan rohani kita sendiri selama hidup di dunia.

Orang yang terus menghakimi biasanya hidup dalam ketegangan, rasa benar diri, dan ketakutan akan penghakiman orang lain. Sebaliknya, orang yang berbelas kasihan memilih untuk “mengasihani dirinya sendiri” karena ia memilih untuk berjalan seirama dengan cara Allah dalam menyatakan belas kasihan-Nya. Orang yang sedemikian akan bisa hidup dalam kedamaian.

“Siapa menaruh belas kasihan kepada orang yang lemah, memiutangi Tuhan, yang akan membalas perbuatannya itu. Amsal‬ ‭19‬:‭17‬‬

Kiranya hidup kita dalam tahun yang baru ini — di keluarga, gereja, dan masyarakat—lebih dikenal karena belas kasihan daripada penghakiman. Sebab di sanalah iman yang sejati terlihat, dan di sanalah karakter Kristus dinyatakan.

Doa Penutup:

Tuhan yang penuh belas kasihan, kami mengaku bahwa sering kali kami lebih cepat menghakimi daripada mengasihi.

Ampunilah kami, dan lembutkan hati kami oleh anugerah-Mu.

Ajarlah kami hidup sebagai orang-orang yang telah menerima belas kasihan, supaya hidup kami pun memancarkan belas kasihan kepada sesama.

Bentuklah kami semakin serupa dengan Kristus, yang kasih-Nya menang atas segala penghakiman.

Di dalam nama Tuhan Yesus kami berdoa. Amin.

Memasuki Tahun Baru dengan keyakinan

“Kita tahu sekarang, bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah.” Roma 8:28

Hari ini adalah hari pertama di tahun 2026. Selamat Tahun Baru! Semoga tahun baru ini diisi dengan segala kebahagiaan dari Tuhan kita Yesus Kristus. Untuk itu, kita pagi ini akan belajar dari Roma 8:28.

Roma 8:18-30 berbicara tentang partisipasi orang Kristen dalam penderitaan sehari-hari yang dialami oleh seluruh ciptaan. Kita semua mengerang bersama seperti seorang wanita yang sedang melahirkan sambil menunggu Tuhan menemui anak-anak-Nya. Sebagai anak-anak-Nya, kita menunggu Bapa untuk menyelesaikan pengadopsian kita dengan menebus tubuh kita sehingga kita dapat bersama-Nya. Roh Allah membantu kita di masa penantian dengan membawa doa-doa kita yang belum sempurna kepada Allah. Kita percaya bahwa Allah menggunakan setiap keadaan dalam hidup kita untuk tujuan-Nya dan bahwa Dia telah memilih kita sejak lama untuk menjadi anak-anak-Nya.

Roma 8:28 adalah salah satu ayat Alkitab yang paling populer, paling sering dikutip, dan sekaligus paling sering disalahpahami. Ayat ini kerap dijadikan penghiburan instan, seolah-olah setiap peristiwa buruk pasti akan segera berubah menjadi sesuatu yang menyenangkan. Tidak jarang ayat ini diucapkan dengan maksud baik, tetapi justru terdengar dingin dan tidak peka bagi mereka yang sedang berada dalam penderitaan yang nyata.

Banyak orang Kristen, tanpa disadari, memiliki hubungan yang canggung dengan Roma 8:28. Ayat ini terdengar indah, tetapi terasa sulit dipercaya ketika hidup dipenuhi kegagalan, kehilangan, sakit penyakit, konflik keluarga, atau doa-doa yang tampaknya tidak dijawab. Di titik inilah Roma 8:28 menjadi bukan hanya ayat penghiburan, tetapi juga ayat yang menguji iman.

Memasuki tahun baru, kita membawa serta berbagai pengalaman dari tahun-tahun sebelumnya. Ada sukacita, ada pencapaian, tetapi juga ada luka yang belum sembuh, kesedihan yang belum terurai, dan pertanyaan yang belum menemukan jawaban. Roma 8:28 tidak menyangkal kenyataan pahit itu. Ayat ini tidak berkata bahwa segala sesuatu itu baik. Ayat ini berkata bahwa Allah bekerja di dalam segala sesuatu. Ini perbedaan yang sangat penting.

Alkitab tidak pernah mengajarkan bahwa penderitaan itu sendiri adalah kebaikan. Kehilangan, ketidakadilan, penyakit, dan kejahatan tetaplah sesuatu yang menyakitkan dan sering kali tidak masuk akal bagi kita. Namun, Roma 8:28 menegaskan bahwa tidak ada satu pun peristiwa yang berada di luar kedaulatan dan pemeliharaan Allah, khususnya bagi mereka yang berada di dalam Kristus.

Paulus menulis ayat ini bukan dari menara gading, yaitu tempat atau kedudukan yg serba mulia, enak, dan menyenangkan. Ia menulisnya sebagai seseorang yang mengenal penderitaan, penganiayaan, penolakan, bahkan ancaman kematian. Karena itu, Roma 8:28 bukanlah slogan optimisme murahan, ajaran teologi kemakmuran, atau sekadar ayat penghibur, melainkan pernyataan iman yang matang: Allah tidak pernah kehilangan kendali, bahkan ketika hidup terasa kacau.

Kunci ayat ini terletak pada frasa “bagi mereka yang mengasihi Dia” dan “terpanggil sesuai dengan rencana Allah.” Janji ini bukan janji universal bagi semua orang, dan bukan pula jaminan hidup tanpa masalah. Ini adalah janji perjanjian—janji bagi mereka yang hidup di dalam relasi dengan Kristus.

Bagi orang percaya, “kebaikan” yang dimaksud Allah tidak selalu identik dengan kenyamanan, keberhasilan, atau kebahagiaan jangka pendek. Kebaikan yang Allah kerjakan sering kali berbentuk pembentukan karakter, pemurnian iman, pendewasaan rohani, dan semakin serupanya kita dengan Kristus. Proses ini sering menyakitkan, tetapi tujuannya mulia.

Roma 8:28 juga menolong kita memasuki tahun baru dengan sikap yang lebih tenang dan realistis. Kita tidak memasuki tahun baru dengan ilusi bahwa semuanya akan berjalan lancar, melainkan dengan keyakinan bahwa apa pun yang terjadi, Allah tidak akan meninggalkan kita. Keyakinan ini tidak menghapus air mata, tetapi memberi makna di tengah air mata.

Iman Kristen bukan iman yang menutup mata terhadap penderitaan, melainkan iman yang berani berjalan di tengah penderitaan dengan pengharapan. Kita boleh berduka, kita boleh kecewa, kita boleh mengeluh kepada Tuhan. Dalam hal ini, kitab Mazmur penuh dengan keluhan yang jujur. Namun di balik semua itu, ada pegangan yang kokoh: Allah tetap bekerja, bahkan ketika kita tidak melihat hasilnya sekarang.

Memasuki tahun baru, mungkin kita tidak tahu apa yang akan terjadi. Tetapi Roma 8:28 mengingatkan kita bahwa masa depan kita tidak ditentukan oleh kebetulan, nasib, atau kekuatan gelap, melainkan oleh Allah yang setia pada rencana-Nya. Keyakinan inilah yang memberi kita keberanian untuk melangkah, satu hari demi satu hari.

Tahun baru bukan jaminan hidup yang lebih mudah, tetapi undangan untuk mempercayakan hidup lebih dalam kepada Tuhan. Di dalam Kristus, tidak ada penderitaan yang sia-sia, tidak ada air mata yang tidak diperhitungkan, dan tidak ada cerita hidup yang berakhir tanpa makna.

Doa Penutup:

Tuhan Allah kami yang setia, kami memasuki tahun yang baru dengan hati yang beragam—ada harapan, ada ketakutan, ada luka yang masih kami bawa. Kami bersyukur karena Engkau adalah Allah yang bekerja di dalam segala sesuatu, bahkan ketika kami tidak memahaminya.

Ajarlah kami untuk percaya, bukan karena hidup selalu mudah, tetapi karena Engkau selalu setia. Berilah kami iman untuk melangkah hari demi hari, kekuatan saat kami lemah, dan pengharapan saat jalan terasa gelap.

Kami menyerahkan tahun ini ke dalam tangan-Mu. Bentuklah hidup kami sesuai dengan kehendak-Mu, dan pakailah segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan yang Engkau maksudkan bagi kami di dalam Kristus.

Di dalam nama Tuhan Yesus kami berdoa.

Amin.

Menyongsong tahun baru dalam kasih yang teguh

“Kita telah mengenal dan telah percaya akan kasih Allah kepada kita. Allah adalah kasih, dan barangsiapa tetap berada di dalam kasih, ia tetap berada di dalam Allah dan Allah di dalam dia.” 1 Yohanes 4:16

Tahun 2025 perlahan menutup lembarannya. Ada halaman-halaman yang ingin kita kenang dengan syukur, ada pula yang mungkin ingin kita lipat rapi dan tidak sering-sering dibuka kembali. Seperti tahun-tahun sebelumnya, waktu berjalan tanpa meminta izin, membawa serta keberhasilan dan kegagalan, tawa dan air mata, harapan yang terpenuhi dan doa yang terasa tak terjawab.

Kini, tahun 2026 berdiri di depan kita—masih kosong, masih sunyi, masih penuh tanda tanya. Tidak seorang pun tahu apa yang akan terjadi. Kita tidak tahu kondisi kesehatan kita setahun ke depan, arah dunia yang terus berubah, nasib ekonomi, relasi, bahkan pergumulan batin yang mungkin muncul tanpa diduga. Ketidakpastian inilah yang sering melahirkan kekhawatiran. Masa depan, bagi banyak orang, adalah sumber kecemasan.

Namun firman Tuhan mengarahkan pandangan kita ke dasar yang jauh lebih kokoh: “Kita telah mengenal dan telah percaya akan kasih Allah kepada kita.” Bukan sekadar tahu secara intelektual, tetapi mengenal—melalui pengalaman hidup—dan percaya—dengan keyakinan yang bersandar penuh. Kasih Allah bukan teori, bukan slogan rohani, melainkan realitas yang telah dinyatakan melalui salib Kristus dan kesetiaan-Nya yang terus kita alami hari demi hari.

Rasul Yohanes menegaskan sesuatu yang radikal: Allah adalah kasih. Ini berarti kasih bukan hanya salah satu sifat Allah, tetapi hakikat-Nya sendiri. Dan jika kita tinggal di dalam kasih itu, kita tinggal di dalam Allah. Masa depan mungkin tidak pasti, tetapi Allah yang kita kenal tidak pernah berubah. Kasih-Nya tidak tergantung pada situasi, usia, keberhasilan, atau kegagalan kita. Ia setia ketika kita kuat, dan Ia tetap setia ketika kita rapuh.

Menyambut tahun baru dengan iman bukan berarti menutup mata terhadap realitas hidup. Kita tetap merencanakan, bekerja, dan berjaga-jaga. Namun perbedaannya terletak pada dasar hati kita. Kekhawatiran tidak lagi menjadi pusat, karena masa depan tidak kita hadapi sendirian. Kita melangkah bersama Allah yang telah lebih dahulu hadir di hari esok.

Jika kita menoleh ke belakang, sering kali kita menyadari: ada banyak hal yang dulu kita khawatirkan, tetapi ternyata dapat kita lewati. Ada jalan yang Tuhan buka, kekuatan yang Tuhan beri, dan penghiburan yang datang tepat pada waktunya. Semua itu bukan kebetulan. Itu adalah jejak kasih Allah yang menyertai perjalanan hidup kita.

Karena itu, memasuki tahun 2026, pertanyaannya bukan terutama: apa yang akan terjadi? Melainkan: di dalam siapa kita tinggal? Jika kita tinggal di dalam kasih Allah, maka apa pun yang datang—sukacita atau duka—tidak akan memisahkan kita dari Dia. Kita mungkin tidak selalu mengerti rencana-Nya, tetapi kita mengenal hati-Nya.

Tahun baru adalah undangan untuk memperbarui kepercayaan. Bukan janji bahwa hidup akan lebih mudah, tetapi keyakinan bahwa kita tidak akan pernah berjalan sendiri. Kasih Allah cukup untuk hari ini, dan kasih yang sama akan menopang kita esok hari.

Doa Penutup:

Tuhan yang penuh kasih,

Kami mengucap syukur untuk tahun yang telah Engkau izinkan kami jalani. Untuk segala berkat yang kami terima, kami bersyukur. Untuk luka dan kegagalan, kami menyerahkannya ke dalam tangan kasih-Mu.

Saat kami melangkah ke tahun yang baru, kami mengakui keterbatasan kami. Kami tidak tahu apa yang akan terjadi, tetapi kami memilih percaya kepada-Mu. Ajarlah kami tinggal di dalam kasih-Mu, agar hati kami tenang menghadapi hari esok.

Pimpinlah langkah kami di tahun 2026. Bentuklah kami menjadi pribadi yang lebih setia, lebih rendah hati, dan lebih mengasihi. Kiranya hidup kami memuliakan nama-Mu, apa pun keadaan yang kami hadapi.

Di dalam nama Yesus Kristus, sumber pengharapan kami, kami berdoa.

Amin.

Hal menebus waktu

“Karena itu, perhatikanlah dengan saksama, bagaimana kamu hidup, janganlah seperti orang bebal, tetapi seperti orang arif, dan pergunakanlah waktu yang ada, karena hari-hari ini adalah jahat.” Efesus 5:15–16

Sering saya melihat adanya beberapa orang yang pergi ke gym, tapi memakai waktunya untuk lebih lama duduk di alat latihan, bukannya untuk berolahraga, tapi untuk bermain dengan ponsel mereka. Saya heran mengapa mereka tidak dapat berolahraga tanpa memegang HP. Hal itu bukan saja merugikan mereka sendiri, tetapi juga orang lain yang ingin memakai alat yang sama. Lebih mengherankan, bukan anak muda saja yang terobsesi dengan HP, tetapi juga mereka yang tergolong tua.

Dalam ayat di atas, Rasul Paulus tidak menulis nasihat bukan hanya bagi orang muda atau mereka yang masih aktif bekerja. Ia berbicara kepada seluruh umat percaya, tanpa pengecualian usia. “Perhatikanlah dengan saksama bagaimana kamu hidup,” katanya. Artinya, hidup tidak boleh dijalani secara otomatis, apalagi pasif atau pasrah. Ada panggilan untuk kesadaran, kewaspadaan, dan pilihan yang disengaja dalam menggunakan waktu.

Renungan hari ini berfokus pada hidup di hari tua, sekalipun berguna juga untuk mereka yang masih muda.

Usia lanjut sering dipandang sebagai masa untuk melambat, beristirahat, dan “menjalani hari apa adanya.” Tubuh memang tidak lagi sekuat dahulu, dan ruang aktivitas fisik menjadi terbatas. Namun firman Tuhan mengingatkan bahwa hidup Kristen tidak pernah diukur terutama dari kekuatan tubuh, melainkan dari kebijaksanaan dalam menggunakan waktu.

Kebosanan yang sering dialami di usia lanjut bukan sekadar persoalan kurangnya kegiatan, tetapi kerap berakar pada pikiran yang tidak lagi diarahkan pada makna. Ketika tanggung jawab besar telah selesai, ada godaan untuk membiarkan waktu berlalu tanpa tujuan rohani maupun intelektual.

Hari-hari bisa diisi dengan rutinitas yang aman, tetapi tidak menumbuhkan. Inilah yang secara halus dapat menjadikan seseorang “bebal” bukan karena kurang cerdas, melainkan karena berhenti menggunakan hikmat. Orang yang sedemikian mungkin secara bercanda disebut sebagai “pengacara” yang berarti “pengangguran banyak acara”.

Paulus mengontraskan hidup orang bebal dengan hidup orang arif. Orang arif bukanlah orang yang sibuk tanpa henti, tetapi orang yang menebus waktu (redeeming the time). Kata “menebus” (atau “membeli”) menyiratkan tindakan aktif untuk menyelamatkan waktu dari kesia-siaan.

Kisah Maria dan Marta dalam Alkitab, yang sering direnungkan terkait dengan “menebus waktu” atau memprioritaskan hal-hal yang penting, mengajarkan tentang  prioritas antara pelayanan aktif (Marta) dan waktu bersekutu secara pribadi dengan Tuhan (Maria).  Cerita ini terdapat dalam Injil Lukas 10:38-42.

Ketika Yesus mengunjungi rumah mereka di Betania, kedua saudari yang masih muda ini menunjukkan sikap yang berbeda: 

  • Marta sibuk sekali mempersiapkan dan melayani segala sesuatu untuk menjamu Yesus dan murid-murid-Nya. Ia merasa terbebani dengan pekerjaannya dan mengeluh kepada Yesus karena Maria tidak membantunya.
  • Maria memilih untuk duduk diam dekat kaki Tuhan Yesus dan terus mendengarkan pengajaran-Nya, menyingkirkan kesibukan lain untuk fokus pada hadirat Yesus. 

Respons Yesus terhadap keluhan Marta memberikan pelajaran kunci mengenai prioritas hidup dan penggunaan waktu bagi semua orang, tua dan muda:

“Marta, Marta, engkau kuatir dan menyusahkan diri dengan banyak perkara, tetapi hanya satu saja yang perlu: Maria telah memilih bagian yang terbaik, yang tidak akan diambil dari padanya.” (Lukas 10:41-42).

Menebus waktu dengan demikian berarti menyadari bahwa setiap hari adalah anugerah yang bernilai, bahkan—atau justru—ketika hari-hari terasa sunyi dan sederhana. Waktu ditebus ketika pikiran tetap dipakai untuk merenung, belajar, berdoa, dan memahami kehendak Tuhan dengan lebih dalam.

Di usia senja, kesempatan untuk berpikir jernih dan reflektif sering kali justru lebih besar. Tidak lagi dikejar ambisi, pikiran dapat diarahkan pada hal-hal yang kekal: kebenaran firman, hikmat hidup, dan warisan iman bagi generasi berikutnya. Ketika pikiran dibiarkan menganggur, kebosanan mudah masuk. Tetapi ketika pikiran diarahkan kepada Tuhan, waktu yang tampaknya kosong berubah menjadi ladang pertumbuhan rohani.

Pada saat ini hari Natal dan kesibukan dalam keluarga, gereja, dan masyarakat sudah lewat, tetapi rasa capai mungkin masih terasa. Natal, bagi banyak orang, adalah masa sibuk. Firman Tuhan pagi ini tidak memanggil kita sekadar untuk sibuk mengisi waktu, melainkan untuk menggunakannya dengan arif. Kita harus sadar bahwa seperti Marta, semua kesibukan yang kita maksudkan untuk Tuhan, belum tentu membawa kebaikan untuk kita atau memuliakan Tuhan.

Selama Tuhan masih memberi napas, Dia masih memberi panggilan untuk hidup dengan sadar, bertanggung jawab, dan bermakna. Bagi kita yang masih muda, penggunaan waktu secara bijaksana menentukan masa depan kita secara jasmani dan rohani. Bagi kita yang sudah tua, usia lanjut bukan masa penurunan rohani, melainkan kesempatan untuk menebus waktu dengan hikmat yang telah ditempa sepanjang hidup.

Doa Penutup:

Tuhan, ajar kami memperhatikan bagaimana kami hidup, di setiap musim kehidupan. Tolong kami menebus waktu yang Kau berikan, bukan dengan kesibukan kosong, tetapi dengan hikmat, iman, dan kerinduan untuk terus bertumbuh di dalam-Mu. Amin.

Mengapa kita harus memuliakan Tuhan?

“Segala sesuatu dijadikan oleh Dia dan tanpa Dia tidak ada suatu pun yang telah jadi dari segala yang telah dijadikan.” Yohanes 1:3

Bab pertama Yohanes memperkenalkan Yesus sebagai “Firman,” dari kata Yunani logos. Bab ini dengan jelas menggambarkan Yesus sebagai Allah. Setelah prolog ini, bab ini menggambarkan Yesus merekrut murid-murid pertama-Nya, serta percakapan antara Yohanes Pembaptis dan orang-orang Farisi. Ada tujuh nama atau gelar untuk Kristus dalam bab ini, termasuk “Anak Allah,” “Firman,” dan “Raja Israel.”

Peran Allah sebagai Pencipta ditegaskan dalam ayat di atas. Alam semesta bukanlah produk materi tanpa desain, tetapi produk yang dimaksudkan oleh Pencipta yang mahacerdas. Dalam ayat-ayat sebelumnya (Yohanes 1:1-2), Yesus dikatakan sebagai Allah. Ini adalah tujuan penting dari 18 ayat pertama Yohanes: menentang semua konsep lain tentang apa itu Allah atau bukan Allah.

Di sini, Alkitab membuat poin menarik bahwa tidak ada ciptaan yang diciptakan terpisah dari Yesus. Ini penting karena beberapa alasan. Pertama, ini membuktikan bahwa Yesus bukanlah malaikat, manusia, atau makhluk yang dibentuk lainnya (Ibrani 1:3-4). Kedua, ini menyiratkan perbedaan antara hal-hal yang mulai ada, dan Dia yang selalu ada. Dengan kata lain, ada satu hal yang tidak “mulai ada,” yang tidak “muncul.” Memang secara logis, sebab-akibat harus memiliki permulaan yang tidak disebabkan. Satu-satunya hal ini adalah Allah. Istilah yang lebih canggih untuk gagasan ini adalah “Argumen Kosmologis,” atau argumen dari “penyebab pertama.”

Argumen kosmologis adalah landasan teologi alam yang menyimpulkan keberadaan Tuhan dari keberadaan alam semesta (kosmos). Argumen ini menyatakan bahwa karena alam semesta terdiri dari makhluk-makhluk yang kontingen (bergantung) dan tunduk pada sebab akibat, maka alam semesta membutuhkan sebab pertama yang mutlak, tak diciptakan, dan transenden—yang diidentifikasi sebagai Tuhan.

Teologi alam itu mudah dimengerti, dan karena itu ada banyak orang yang percaya bahwa Tuhan itu ada. Tidak sedikit yang mengakui bahwa Dialah Pencipta langit dan bumi, sumber awal dari seluruh alam semesta. Namun anehnya, pengakuan ini sering berhenti pada tataran intelektual. Mereka percaya Tuhan menciptakan segalanya, tetapi tidak merasa perlu memuja-Nya, menyembah-Nya, atau hidup untuk memuliakan-Nya.

Bagi sebagian orang, penciptaan dianggap sekadar peristiwa kosmis yang tidak memiliki hubungan personal dengan manusia. Tuhan dipahami sebagai “arsitek agung” yang telah menyelesaikan pekerjaan-Nya, lalu membiarkan ciptaan berjalan sendiri menurut hukum alam. Manusia, dalam pandangan ini, hidup untuk dirinya sendiri. Tuhan tidak membutuhkan apa pun dari ciptaan-Nya, sehingga dianggap tidak pantas jika Ia “menuntut” pujian. Bahkan ada yang berkata, “Jika Tuhan meminta penyembahan, bukankah itu tanda Dia gila hormat?”. Pandangan ini sepertinya terdengar rasional, bahkan rendah hati. Namun sesungguhnya di situlah letak kekeliruannya.

Yohanes 1:3 menegaskan bahwa segala sesuatu dijadikan oleh Dia, dan tanpa Dia tidak ada satu pun yang ada. Ayat ini bukan sekadar pernyataan tentang asal-usul dunia, tetapi tentang ketergantungan total ciptaan kepada Sang Firman. Kita tidak hanya “pernah” diciptakan; kita terus ada karena Dia menopang keberadaan kita setiap saat. Nafas yang kita hirup, detak jantung yang kita anggap biasa, kemampuan berpikir dan merasa—semuanya bukan milik kita secara otonom. Jika demikian, maka penyembahan bukanlah pemberian tambahan dari manusia kepada Tuhan, melainkan respons yang paling wajar dari ciptaan kepada Penciptanya.

Tuhan memang tidak membutuhkan pujian kita. Ia sempurna tanpa kita. Namun justru di situlah bedanya antara Tuhan yang sejati dan berhala. Berhala membutuhkan pujian agar tampak berkuasa; Tuhan layak dipuja karena Dia memang berkuasa. Penyembahan tidak menambah kemuliaan Tuhan, tetapi mengembalikan posisi kita pada tempat yang benar: sebagai ciptaan yang bergantung sepenuhnya kepada-Nya.

Masalahnya, banyak orang—termasuk yang mengaku Kristen—ingin menerima berkat dari Tuhan tanpa menyerahkan hidup untuk Tuhan. Mereka bersyukur atas kesehatan, pekerjaan, keluarga, dan perlindungan-Nya, tetapi enggan hidup dalam ketaatan, pelayanan, dan pengorbanan. Tuhan dijadikan sumber pertolongan, bukan tujuan hidup.

Di sinilah penyembahan menjadi isu hati, bukan sekadar ritual. Penyembahan sejati tidak berhenti pada lagu, doa, atau kehadiran di gereja. Penyembahan adalah sikap hidup yang mengakui: “Tuhan, Engkau layak atas hidupku, waktuku, kemampuanku, dan keputusanku.” Ketika seseorang berkata percaya kepada Tuhan tetapi tidak mau melakukan apa pun untuk memuliakan-Nya, sesungguhnya ia belum mengenal siapa Tuhan itu. Orang Kristen yang sedemikian, bukanlah orang Kristen sejati.

Melalui Alkitab, kita diajar bahwa tujuan utama manusia adalah memuliakan Tuhan dan menikmati Dia selama-lamanya. Ini bukan beban, melainkan pembebasan. Dunia modern mendorong manusia untuk hidup bagi diri sendiri, mengejar makna dari prestasi, kenyamanan, dan pengakuan. Namun semakin manusia berpusat pada diri, semakin kosong jiwanya. Penyembahan mengalihkan pusat hidup dari “aku” kepada Dia yang menciptakan dan menyelamatkan aku.

Yesus Kristus, Sang Firman yang oleh-Nya segala sesuatu dijadikan, tidak hanya layak dipuja karena kuasa-Nya sebagai Pencipta, tetapi juga karena kerendahan hati-Nya sebagai Penebus. Dia yang menciptakan segala sesuatu rela masuk ke dalam ciptaan, menderita, dan mati bagi manusia yang sering mengabaikan-Nya. Jika penciptaan saja sudah cukup menjadi alasan untuk memuja Tuhan, apalagi penebusan-Nya.

Maka pertanyaannya bukanlah, “Apakah Tuhan membutuhkan pujianku?” melainkan, “Bagaimana mungkin aku yang diciptakan dan ditebus tidak hidup untuk memuliakan Dia?” Ketika kita memahami siapa Tuhan dan siapa diri kita di hadapan-Nya, penyembahan tidak lagi terasa sebagai kewajiban, melainkan kerinduan.

Pagi ini biarlah kita sadar sepenuhnya akan kebesaran Tuhan kita. Kiranya kita tidak menjadi orang yang mengakui Tuhan dengan mulut, tetapi menyangkal-Nya dengan hidup. Biarlah seluruh keberadaan kita—pikiran, perkataan, dan perbuatan—menjadi pujian yang hidup bagi Dia yang oleh-Nya segala sesuatu ada.

Doa Penutup:

Tuhan yang Mahamulia, kami mengaku bahwa sering kali kami menikmati ciptaan-Mu tanpa memuliakan Engkau sebagai Pencipta. Ampuni hati kami yang berpusat pada diri sendiri. Ajar kami menyadari bahwa hidup kami sepenuhnya berasal dari-Mu dan ada bagi-Mu. Bentuklah kami menjadi pribadi yang menyembah Engkau bukan hanya dengan kata-kata, tetapi dengan seluruh hidup kami. Di dalam nama Yesus Kristus, Sang Firman yang hidup, kami berdoa. Amin.