“Jadi, kita seharusnya sudah lulus dari ajaran-ajaran dasar tentang Kristus. Kita perlu maju terus bukan mundur ke awal lagi. Kehidupan baru kita dimulai dengan berpaling dari kejahatan yang kita lakukan dan dengan percaya pada Allah. Itulah ketika kita diajar tentang baptisan, penumpangan tangan di atas orang-orang untuk memberkati mereka, kebangkitan dari kematian dan penghakiman akhir. Sekarang kita perlu maju dengan ajaran yang lebih dalam.” Ibrani 6:1–2

Belakangan ini, melalui berbagai media, orang melihat seorang pemimpin negara menerima penumpangan tangan dari tokoh-tokoh gereja sebelum memulai sebuah peperangan. Peristiwa itu menimbulkan berbagai reaksi. Ada yang bertanya-tanya, ada yang merasa aneh, bahkan ada yang menertawakannya.
Bagi sebagian orang, tindakan menumpangkan tangan terlihat seperti ritual keagamaan yang tidak jelas maknanya. Namun bagi orang percaya, Alkitab menunjukkan bahwa tindakan sederhana ini memiliki makna rohani yang dalam.
Menariknya, penulis kitab Ibrani memasukkan penumpangan tangan sebagai salah satu ajaran dasar iman Kristen. Artinya, praktik ini sudah dikenal dan dipahami oleh gereja mula-mula sebagai bagian dari kehidupan rohani.
Di dalam Alkitab, penumpangan tangan adalah tindakan simbolis yang menggambarkan bahwa Allah sedang bekerja melalui umat-Nya. Bukan tangan manusia yang memberi kuasa, tetapi Tuhan yang bekerja melalui doa dan iman.
Dalam Perjanjian Lama kita melihat Musa menumpangkan tangan kepada Yosua ketika ia menyerahkan kepemimpinan Israel kepadanya. Melalui tindakan itu, bangsa Israel mengetahui bahwa Tuhan telah menetapkan Yosua untuk memimpin mereka.
Dalam Perjanjian Baru, Yesus menumpangkan tangan kepada anak-anak dan memberkati mereka. Di tengah dunia yang sering mengabaikan yang kecil dan lemah, Yesus menunjukkan bahwa setiap kehidupan berharga di hadapan Tuhan.
Para rasul kemudian melanjutkan praktik ini. Mereka menumpangkan tangan ketika mendoakan orang-orang percaya agar menerima Roh Kudus. Mereka juga menumpangkan tangan ketika mengutus orang-orang tertentu untuk pelayanan di dalam gereja.
Semua ini menunjukkan bahwa penumpangan tangan adalah tanda persekutuan, doa, dan penyerahan seseorang ke dalam pekerjaan Tuhan. Penumpangan tangan bukan tugas khusus yang Tuhan berikan kepada tokoh gereja, tetapi kepada semua orang percaya.
Namun Alkitab juga memberi peringatan penting. Rasul Paulus menasihati agar penumpangan tangan tidak dilakukan dengan tergesa-gesa. Tindakan ini bukan sekadar formalitas atau simbol yang kosong. Ada tanggung jawab rohani di dalamnya.
Penumpangan tangan tidak boleh dijadikan “show” dan tidak boleh dipermainkan karena adanya hubungan dengan kebesaran, kesucian, dan kedaulatan Tuhan. Ini bukan sekadar kebiasaan atau tindakan yang tidak berarti, yang bisa dipermainkan.
Karena itu, tujuan penumpangan tangan yang benar bukanlah untuk memuliakan manusia, memberi legitimasi pada ambisi pribadi, atau menjanjikan keberhasilan duniawi. Semua tindakan itu seharusnya mengarahkan hati kita kepada Tuhan, sumber segala kuasa dan berkat.
Pada akhirnya, penumpangan tangan mengingatkan kita akan satu hal sederhana tetapi mendalam: Tuhan bekerja melalui umat-Nya. Melalui doa yang tulus, melalui pelayanan yang setia, dan bahkan melalui sentuhan yang penuh kasih, Tuhan dapat menyatakan anugerah-Nya kepada dunia.
Kiranya setiap kali kita melihat atau mengalami penumpangan tangan, kita diingatkan bahwa kehidupan iman bukan sekadar kata-kata, tetapi juga tindakan kasih, doa, dan penyerahan diri kepada Tuhan.
Doa Penutup
Tuhan yang penuh kasih, ajar kami memahami setiap tindakan iman dengan hati yang benar. Biarlah hidup kami menjadi alat di tangan-Mu untuk membawa berkat, penguatan, dan kasih bagi sesama. Pakailah kami untuk memuliakan nama-Mu dalam segala hal. Dalam nama Tuhan Yesus kami berdoa. Amin.








