“Janganlah kita saling menghakimi lagi! Tetapi lebih baik kamu membuat keputusan ini: jangan kamu menaruh batu sandungan atau batu penghalang di depan saudaramu.” — Roma 14:13

Kemarin kita membaca bahwa Alkitab dengan jelas mengajarkan bahwa setiap orang bertanggung jawab atas dosanya sendiri. Tidak ada seorang pun yang bisa menyalahkan orang atau keadaan atas dosanya. Yakobus menegaskan bahwa pencobaan berasal dari keinginan pribadi yang menyeret dan memikat hati manusia. Namun kebenaran ini tidak boleh dipahami secara terpisah dari tanggung jawab kita terhadap sesama.
Dalam hal relasi antar manusia, Yakobus menulis:
“Hai saudara-saudara yang kukasihi, ingatlah hal ini: setiap orang hendaklah cepat untuk mendengar, tetapi lambat untuk berkata-kata, dan juga lambat untuk marah; sebab amarah manusia tidak mengerjakan kebenaran di hadapan Allah.”
— Yakobus 1:19-20
Ini berarti bahwa cara kita berkomunikasi dan menjaga emosi kita juga penting untuk tidak membuat hubungan antar sesama umat Kristen menjadi buruk dengan adanya kemarahan.
Tanggung jawab pribadi kepada Tuhan tidak membebaskan kita dari kewajiban mengasihi sesama. Justru di sinilah kedewasaan iman diuji: bukan hanya dalam menghindari kemarahan diri sendiri, tetapi juga dalam mencegah timbulnya kemarahan orang lain sekalipun kita berada dalam posisi yang benar. Kita harus memastikan bahwa hidup kita tidak menjadi batu sandungan bagi orang lain, baik dalam keluarga maupun gereja.
Hari ini kita membaca bahwa Paulus menulis surat Roma kepada jemaat yang sedang bergumul dan berdebat dengan adanya perbedaan pandangan—tentang makanan, hari-hari tertentu, dan praktik keagamaan. Masalahnya bukan semata-mata soal benar atau salah, melainkan soal dampak. Karena itu Paulus tidak berkata, “Kamu bebas melakukan apa saja karena itu urusanmu,” tetapi justru berkata, “Putuskanlah untuk tidak menjadi batu sandungan.” Artinya, ada keputusan sadar dan sengaja untuk membatasi diri demi kebaikan rohani orang lain.
Batu sandungan bukanlah sekadar kesalahan kecil atau ketidaksengajaan. Dalam konteks Alkitab, batu sandungan adalah sesuatu yang membuat orang lain tersandung dalam imannya—jatuh, tawar hati, marah, atau bahkan menjauh dari Tuhan. Ironisnya, batu sandungan sering kali tidak muncul dalam bentuk dosa yang terang-terangan, melainkan dalam hal-hal yang tampak sepele dan dianggap wajar.
Sebagai contoh, perkataan yang keras, kurang sopan, atau bernada meremehkan dapat melukai hati dan memicu reaksi yang tidak membangun, terlebih bagi mereka yang imannya masih rapuh. Demikian pula cara berpakaian yang tidak pantas atau tidak bijaksana dapat membangkitkan pikiran dan dorongan yang tidak sehat pada orang lain. Begitu juga cara bergaul yang tidak pantas dapat membuat orang lain mengabaikan moralitas Kristen.
Meskipun niat kita mungkin tidak salah atau jahat, dampaknya tetap nyata. Dalam hal ini, Alkitab tidak hanya menilai niat, tetapi juga menimbang akibat dari tindakan kita terhadap sesama. Persoalan dan hak pribadi kita sering kali membuat orang lain dan bahkan seisi rumah dan gereja menjadi resah. Itu sebabnya, mengapa menjadi pengikut Kristus itu tidak mudah. Itu menuntut perjuangan dan pengorbanan setiap hari.
Yesus sendiri memberikan peringatan yang sangat keras tentang hal ini. Ia berkata bahwa siapa pun yang menyesatkan salah satu dari yang kecil yang percaya kepada-Nya, lebih baik baginya jika sebuah batu kilangan diikatkan pada lehernya (Lukas 17:2). Pernyataan ini menunjukkan betapa seriusnya Tuhan memandang dampak hidup kita terhadap iman orang lain. Tuhan bukan hanya memperhatikan apa yang kita lakukan, tetapi juga apa pengaruhnya bagi orang di sekitar kita, terutama anak-anak kita dan sesama anggota gereja.
Sering kali kita bersembunyi di balik kalimat, “Itu kan urusan dia dengan Tuhan.” Atau “Ini kan hak pribadi saya.”Kalimat ini mungkin terdengar rohani, tetapi bisa menjadi pembenaran untuk ketidakpedulian. Memang benar, setiap orang akan berdiri sendiri di hadapan Allah. Setiap orang Kristen masih mempunyai pilihan bebas. Namun kasih Kristen tidak berhenti pada prinsip keadilan; kasih bergerak melampaui itu dengan kepedulian terhadap saudara seiman. Paulus bahkan berkata bahwa ia rela tidak makan daging selamanya jika hal itu membuat saudaranya jatuh dalam dosa. Ini bukan kelemahan iman, melainkan kekuatan kasih.
Menjadi batu sandungan juga bisa terjadi melalui teladan hidup yang tidak konsisten, kebebasan yang dipamerkan tanpa hikmat, atau kebenaran yang disampaikan tanpa kelembutan. Orang yang imannya sedang bertumbuh tidak membutuhkan dari orang lain sikap merasa paling benar, melainkan contoh hidup yang rendah hati dan penuh kesabaran. Kebenaran tanpa kasih tidak membangun; justru dapat menjatuhkan. Gereja yang bagus pengajarannya atau hebat pujiannya tapi tidak menyatakan kasih tidak akan bertumbuh.
Renungan ini mengajak kita bercermin, bukan menunjuk. Bukan bertanya, “Siapa yang mudah tersandung?” atau “Siapa yang mudah tersinggung?” melainkan, “Apakah cara hidupku aman untuk dilihat orang lain?”, atau “Apakah cara bicaraku bisa diterima dengan baik oleh orang lain?”. Pertanyaan ini menolong kita hidup dengan kewaspadaan rohani—menyadari bahwa hidup kita diamati dan dapat memengaruhi perjalanan iman orang lain. Cara hidup orang Kristen adalah salah satu cara yang efektif untuk mengabarkan Injil.
“Demikianlah hendaknya terangmu bercahaya di depan orang, supaya mereka melihat perbuatanmu yang baik dan memuliakan Bapamu yang di sorga” — Matius 5:16
Pada akhirnya, panggilan untuk tidak menjadi batu sandungan adalah panggilan untuk meniru Kristus. Ia adalah Pribadi yang memiliki segala hak, namun rela melepaskan kemuliaan-Nya demi keselamatan manusia. Ia tidak hidup untuk menyenangkan diri-Nya sendiri, melainkan untuk membangun dan menyelamatkan. Kiranya hidup kita pun demikian: bukan menjadi batu sandungan, melainkan menjadi jalan yang menuntun orang lain kepada Tuhan.
Doa Penutup
Tuhan yang penuh kasih, kami bersyukur atas kebebasan yang Engkau berikan di dalam Kristus. Namun ajarlah kami menggunakan kebebasan itu dengan hikmat dan kasih.
Jauhkan kami dari sikap, perkataan, dan tindakan yang dapat melukai iman sesama. Bentuklah hati kami agar peka terhadap dampak hidup kami bagi orang lain, dan jadikan hidup kami sarana berkat, bukan batu sandungan.
Tolong kami meneladani kerendahan hati Kristus dalam setiap langkah hidup kami. Di dalam nama Tuhan Yesus kami berdoa. Amin.








