“Dan inilah kehendak Dia yang telah mengutus Aku, yaitu supaya dari semua yang telah diberikan-Nya kepada-Ku jangan ada yang hilang, tetapi supaya Kubangkitkan pada akhir zaman. Sebab inilah kehendak Bapa-Ku, yaitu supaya setiap orang, yang melihat Anak dan yang percaya kepada-Nya beroleh hidup yang kekal, dan supaya Aku membangkitkannya pada akhir zaman.” Yohanes 6: 40

Seperti peribahasa “Ada banyak jalan menuju Roma”, kita menjumpai orang Kristen di zaman ini, yang mungkin dengan alasan toleransi antar agama dan keadilan Tuhan, mengatakan bahwa ada banyak jalan menuju kebahagiaan sejati. Mereka mungkin menyatakan bahwa ada banyak agana yang mengajarkan kebenaran, berbagai cara untuk hidup bahagia, cara mencapai surga, dan cara menemui Tuhan semesta alam. Karena itu, ada orang Kristen yang berpendapat bahwa bukan orang Kristen saja yang bisa masuk ke surga. Dan tidak mengherankan bahwa ada orang yang mengangap bahwa klaim bahwa Yesus adalah jalan satu-satunya untuk ke surga adalah sebuah ilusi dan kesombongan.
Dengan “kemajuan” pemikiran manusia, banyak orang yang berpendapat bahwa asal hidup kita diisi kebajikan, pada saatnya kita akan sampai ke “Roma”, surga yang kita impikan. Juga dengan anggapan bahwa kebenaran ada dalam semua agama dan ajaran yang beraneka ragam, sebagian orang menggabungkan segi-segi yang dianggap baik dari berbagai sumber untuk dijadikan pedoman hidup modern. Seiring dengan itu, muncul pemikiran bahwa setiap orang yang mau berusaha hidup saleh, pasti akan bisa ke surga. Bagaimana kata Alkitab?
Yohanes 6:40 adalah salah satu bagian terpenting dalam Perjanjian Baru. Ayat ini telah terbukti menjadi pesan penginjilan penting yang dikhotbahkan ke seluruh dunia. Itu adalah pernyataan sederhana tentang kehendak Bapa, keselamatan kita, dan tujuan kekal kita di dalam Kristus. Ayat ini sejalan dengan Yohanes 3: 16 yang menyatakan “Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal.”
Dalam Yohanes 6:40 (bandingkan dengan Yohanes 3:16), ada kata yang mencolok mata, yaitu kata “setiap orang”. Siapakah yang dimaksudkan dengan “setiap orang”? Apakah itu semua orang yang terlihat saleh? Apakah itu siapa saja yang mengaku Kristen? Ataukah mereka yang rajin ke gereja? Ataulah siapa saja yang sudah mengaku percaya kepada Yesus? Mungkinkah itu hanya orang-orang tertentu saja yang mempunyai hidup baik dan selalu taat kepada firman-Nya? Ataukah itu adalah orang yang sudah dipilih Allah dari awalnya menurut kedaulatan-Nya?
Dalam Yohanes 6, Yesus memberi makan ribuan orang yang telah mengikuti-Nya. Ia melakukan ini dengan membagi-bagi isi makanan kecil secara ajaib, menyisakan lebih banyak daripada yang Ia miliki sebelumnya. Awalnya, orang banyak merasa takjub dan mereka dengan antusias memuji Yesus. Setelah mengutus para murid menyeberangi Laut Galilea dan menyelamatkan mereka dari badai dengan berjalan di atas air, Yesus sekali lagi berbicara kepada orang banyak. Kali ini, Ia menekankan pelajaran rohani di balik mukjizat-Nya sebelumnya. Sayang, tidak seperti apa yang terjadi sebelumnya, kali ini sebagian besar dari mereka yang dulunya memuji Yesus ternyata kecewa.
Keinginan sebenarnya dari orang banyak adalah untuk tontonan supranatural lainnya dan lebih banyak makanan gratis. Bukannya membuat keajaiban lagi, Kristus mulai menjelaskan makna sebenarnya di balik mukjizat dan pelayanan-Nya. Ini termasuk yang pertama dari tujuh pernyataan ”Akulah” dalam Injil Yohanes—momen-momen ketika Yesus menyatakan keilahian-Nya sendiri. Yesus menjelaskan bahwa hal-hal fisik seperti roti adalah simbol kebenaran rohani. Dengan demikian, manusia bisa hidup kekal bukan karena makanan dan minuman yang bersifat jasmani, tetapi dari apa yang rohani, yang berassal dari Yesus.
Di sini, Yesus menetapkan perlunya kepercayaan bagi mereka yang mencari kehidupan kekal. Selain itu, Kristus membuat pernyataan lain yang jelas tentang doktrin keamanan kekal. Mereka yang diberikan kepada Yesus oleh Bapa, Dia pasti akan menyelamatkannya. Mereka yang Dia selamatkan pasti akan tetap diselamatkan, untuk “[dibangkitkan] pada hari terakhir.” Begitu seseorang benar-benar diselamatkan oleh Kristus, keselamatan mereka tidak akan pernah hilang.
Kita selalu dapat menggambarkan apa yang terjadi di dunia dari dua sisi — dari sisi manusia dan tanggung jawabnya untuk menerima apa yang Tuhan tawarkan — dan dari sisi Tuhan dan kedaulatannya untuk mencapai tujuan penyelamatan-Nya. Mengenai tanggung jawab, bangsa Israel telah gagal untuk memilih apa yang benar, mereka lebih senang dengan hal jasmani. Begitu juga pada zaman ini, meskipun Allah sudah menyatakan diri-Nya dalam bentuk manusia Yesus, manusia tidak tertarik untuk mengakui Yesus sebagai Tuhan yang menyelamatkan. Mereka lebih tertarik pada hal kesalehan untuk mendapat keselamatan. Dan sebagian orang Kristen merasa bahwa “orang-orang saleh” itu tentu akan masuk ke surga.
Dalam Yohanes 6, Tuhan menawarkan roti-Nya – Yesus – kepada umat-Nya sendiri, tetapi mereka tidak menerimanya. Allah mengirim Anak-Nya, dan manusia bertanggung jawab untuk melihat dan percaya. Tapi bangsa Israel menolak-Nya. Sampai sekarang, masih banyak orang tahu nama Yesus, tetapi tidak mau mengakui Yesus sebagai Tuhan. Mereka mungkin nampak saleh, tetapi menolak Yesus. Mereka bukan milik Yesus.
Apakah tujuan penyelamatan Allah kepada “setiap orang” kemudian gagal? Tidak, karena Dia membuat tindakan-tindakan berdasarkan kasih-Nya. Dan ayat 37–40 menjelaskan alasannya. Tuhan berdaulat atas pekerjaan penyelamatan manusia, dan Dia tidak akan membiarkan tujuan akhir-Nya bagi siapa pun gagal. Ada lima penegasan yang kuat tentang karya kedaulatan Allah dalam ayat 37-40. Sangat penting bagi kita untuk memahaminya:
- Tuhan memberikan orang-orang pilihannya kepada Yesus.
Ayat 37: “Semua yang diberikan Bapa kepada-Ku akan datang kepada-Ku”. Ayat 39: “Dan Inilah kehendak Dia yang telah mengutus Aku, yaitu supaya dari semua yang telah diberikan-Nya kepada-Ku jangan ada yang hilang”. Allah tidak menunggu orang-orang pilihan-Nya datang kepada Yesus. Mereka sendiri tidak akan mampu. Dia memberikannya kepada Yesus. Dia memilih mereka untuk diri-Nya sendiri, karena Dia memberikannya kepada Putra-Nya. - Karena Tuhan memberikan mereka kepada Yesus, mereka datang kepada Yesus.
Ayat 37: “Semua yang diberikan Bapa kepada-Ku akan datang kepada-Ku.” Atau, seperti yang telah kita lihat di ayat 35, mereka percaya kepada Yesus. Yesus tidak mengatakan bahwa karena orang datang kepada Yesus dan percaya kepada Yesus, maka Allah memberikan mereka kepada Anak. Tidak. Mereka yang Bapa berikan kepada Putra, datang kepada Putra. Allah mengamankan kedatangan mereka. Dia bekerja mendatangkan mereka. Dia menjamin kedatangan mereka. Ketika Anda datang kepada Kristus, Tuhan membawa Anda. Ketika Yesus dapat dimengerti oleh Anda, itu bukan karena Yesus terlihat memuaskan bagi Anda. Tetapi, itu adalah Tuhan yang membuka mata Anda. sehingga Anda percaya. Dan ketika Dia melakukannya, Anda datang dengan bebas, dengan semua perlawanan Anda teratasi. - Mereka yang diberikan kepada Yesus akan disimpan-Nya.
Ayat 37: “Semua yang diberikan Bapa kepada-Ku akan datang kepada-Ku, dan barangsiapa datang kepada-Ku, ia tidak akan Kubuang.” Memberi dan mendatangkan adalah karya kedaulatan Bapa, dan pemeliharaan adalah karya kedaulatan Putra. Anda akan disimpan. Ayat 39: “Dan Inilah kehendak Dia yang telah mengutus Aku, yaitu supaya dari semua yang telah diberikan-Nya kepada-Ku jangan ada yang hilang.” Yesus tidak akan kehilangan siapa pun yang datang kepadanya. Jika Bapa memberikan kita kepada Putra, kita datang kepada Dia. Yesus tidak akan pernah kehilangan kita, atau menolak kita. Kehidupan yang kita miliki di dalam Putra, seperti yang dikatakan ayat 40, adalah “hidup yang kekal.” Tidak seperti hidup di dunia yang sementara, hidup baru itu tidak bisa hilang. - Yesus akan membangkitkan kita dari kematian pada hari terakhir.
Ayat 39: “Dan Inilah kehendak Dia yang telah mengutus Aku, yaitu supaya dari semua yang telah diberikan-Nya kepada-Ku jangan ada yang hilang, tetapi supaya Kubangkitkan pada akhir zaman.” Yesus tahu bahwa kematian bagi semua orang terlihat seperti kekalahan, kehilangan. Apalagi bagi mereka yang belum percaya. Setidaknya tubuh kita hilang. Dan untuk menolak kekuatiran manusia, Yesus berkata dua kali, untuk memperjelasnya, “supaya Kubangkitkan pada akhir zaman”. Sebagai orang percaya, kita tidak perlu kuatir, bahkan tubuh kita tidak akan musnah seperti tubuh orang yang tidak mengenal Yesus. - Landasan yang tak tergoyahkan dari keselamatan kita adalah kehendak Tuhan.
Tidak ada yang lebih pasti di dunia ini daripada kehendak Allah yang berdaulat. Ayat 38 memberikan dasar mengapa Yesus tidak akan mengusir siapa pun yang diberikan Bapa kepadanya: “Sebab Aku telah turun dari sorga bukan untuk melakukan kehendak-Ku, tetapi untuk melakukan kehendak Dia yang telah mengutus Aku.” Adalah kehendak Allah yang berdaulat bahwa tidak ada milik-Nya yang hilang.
Sekarang, jika Anda bertanya: Saya melihat ada banyak orang yang lebih baik hidupnya dari saya. Jika mereka bukan milik Kristus, bagaimana saya bisa tahu jika saya termasuk yang terpilih? Bagaimana saya bisa tahu bahwa saya telah diberikan Bapa kepada Yesus, dan bahwa Dia akan memelihara dan membesarkan saya? Jawabannya sangat sederhana: “Yesus berkata kepada mereka, ‘Akulah roti hidup; barangsiapa datang kepada-Ku, ia tidak akan lapar lagi, dan barangsiapa percaya kepada-Ku, ia tidak akan haus lagi.”(Yohanes 6:35). Jika Anda datang kepada Yesus seperti ini, Anda telah diberikan oleh Bapa kepada Putra. Sebaliknya, mereka yang tidak mau mengakui Yesus sebagai sumber hidup kekal, bukanlah orang-orang yang dipilih Allah sekalipun kesalehan mereka sangat dihargai sesama manusia.
Jika sampai saat ini Anda merasa bahwa hidup Anda sudah terasa baik, mungkin Anda merasa bahwa Anda termasuk orang saleh yang akan diselamatkan Allah. Begitu juga, mereka yang sudah banyak berbuat kebaikan menurut agama masing-masing, Anda kira akan masuk ke surga. Tetapi, jika Anda benar-benar orang pilihan Tuhan, hidup Anda akan mengalami perubahan karena Anda merasa bahwa Allah sendiri yang sudah mengangkat Anda menjadi anak-Nya. Bukan karena kesalehan atau agama Anda, karena Anda tidak bisa menenuhi standar Allah yang mahasuci.
Sebagai orang pilihan, Anda akan merasa bahwa hidup Anda adalah berharga di hadapan Bapa, dan Anda merasa sangat bersyukur untuk itu sekalipun ada banyak penderitaan dan masalah yang harus Anda hadapi. Anda sadar bahwa tidak ada orang yang bisa datang kepada Yesus tanpa melalui Bapa. Tidak ada orang yang bisa bersyukur atas pengurbanan Yesus dan berubah dari hidup lamanya jika tidak dipilih oleh Bapa. Sebaliknya, tidak ada seorang yang saleh yang akan menemui Bapa tanpa mengakui bahwa Yesus dan Bapa adalah satu adanya (Yoanes 10:30). Demikian pula, tidak ada orang yang terlihat saleh, yang dapat dibenarkan di hadapan Alah dan menerima hidup yang kekal tanpa melalui Yesus.
Kata Yesus kepadanya: ”Akulah jalan dan kebenaran dan hidup. Tidak ada seorang pun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku.” Yohanes 14:6








