Hargailah tubuh jasmani yang bukan milik Anda

“Atau tidak tahukah kamu, bahwa tubuhmu adalah bait Roh Kudus yang diam di dalam kamu, Roh Kudus yang kamu peroleh dari Allah, – dan bahwa kamu bukan milik kamu sendiri? Sebab kamu telah dibeli dan harganya telah lunas dibayar: Karena itu muliakanlah Allah dengan tubuhmu!” 1 Korintus 6:19-20

Ayat di atas adalah ayat yang cukup dikenal orang Kristen yang rajin ke gereja. Pada umumnya, pesan itu disampaikan berkenaan dengan adanya tindakan jasmani yang kurang baik yang dilakukan oleh orang Kristen. Isi khotbah biasanya tentang panggialn untuk memilih hidup yang baik, yang bermoral dan yang mencerminkan kesucian yang diharapkan Tuhan dari umat-Nya. Walaupun demikian, pesan ayat di atas bukan saja tentang menghindari apa yang jahat, tetapi juga tentang melakukan apa yang baik terhadap jasmani kita.

1 Korintus 6:12–20 menjelaskan keberatan Paulus terhadap mereka di gereja Korintus yang bersikap acuh tak acuh terhadap amoralitas seksual. Di luar hukum formal dan harfiah, Paulus menegaskan bahwa standar perilaku Kristen haruslah apakah suatu praktik kehidupan bisa bermanfaat atau memperbudak manusia. Paulus menulis bahwa seks lebih dari sekadar fungsi tubuh; Allah merancangnya untuk menyatukan dua orang menjadi satu tubuh dalam pernikahan. Persatuan antara dua orang itu menarik Kristus, yang sudah mempersatukan mereka, ke dalam persatuan dengan mereka.

Paulus memang menegur orang-orang Kristen di gereja Korintus karena ada beberapa orang berpendapat bahwa karena tubuh kita pada akhirnya akan mati dan membusuk, tidak masalah apa yang kita lakukan dengan tubuh kita. Yang penting hanyalah roh di dalam diri kita, kata mereka. Demikian pula, mereka mungkin berpendapat bahwa mereka bebas untuk melakukan ekspresi seksual apa pun yang mereka suka (1 Korintus 6:12–13). Paulus telah menolak ajaran-ajaran sesat ini.

Dengan mengingat hal itu, Paulus sekarang menambahkan, tubuh kita sebenarnya bukanlah tubuh kita. Dia akan menulis dalam ayat berikut bahwa Allah telah membeli kita. Dia telah membayar penebusan dosa kita dengan darah Yesus (Efesus 1:7). Kristus telah menebus kita dari kutukan hidup di bawah hukum Musa dengan menjadi kutukan bagi diri-Nya sendiri (Galatia 3:13).

Anggapan bahwa tubuh duniawi kita tidak penting pada dasarnya salah. Tubuh orang Kristen adalah tempat tinggal Roh Kudus. Dalam arti tertentu, Paulus mengangkat tubuh kita ke tingkat sebagai bait suci, tempat suci, yang ditinggali oleh Roh Allah. Allah memberikan Roh-Nya kepada setiap orang yang percaya kepada Kristus untuk keselamatan (Efesus 1:13–14). Secara misterius, setiap umat Kristen membawa Roh-Nya di dalam tubuhnya. Tubuh kita akan dibangkitkan Allah dan dimaksudkan bahkan sekarang ini untuk mendatangkan kemuliaan bagi Allah.

Dalam pengertian itu, kita mau menjadi milik Allah ketika kita datang kepada-Nya melalui iman kepada Yesus. Itulah sebabnya tubuh kita bukanlah milik kita sendiri untuk kita perlakukan sesuka hati kita. Selain menghindari penggunaan tubuh untuk hal yang jahat, umat ​​Kristen harus memelihara tubuh mereka, yang dianggap sebagai bait Roh Kudus. Merawat kesehatan tubuh dan pikiran mereka adalah cara untuk menghormati Tuhan dan menjalani kehidupan yang lebih bersemangat dan memuaskan, yang memungkinkan mereka untuk melayani dan mengikuti Kristus dengan lebih baik.

Apakah memiliki hidup baru di dalam Kristus berarti saya harus mengharapkan dan berjuang untuk kesehatan fisik yang lebih baik? Seberapa besar Tuhan ingin saya merawat tubuh fisik saya? Ayat di atas menekankan pengendalian diri secara seksual; tetapi itu juga menyangkut apa saja yang bisa membuat tubuh fisik kita terlantar. Jadi, kita harus melawan apa pun yang membuat kita tidak sehat. Untuk itu kita perly meminta pertolongan Roh Kudus. Jika makanan yang membuat kita tidak sehat, lawanlah dengan Roh. Jika kemalasan dan kurangnya kegiatan fisik membuat kita tidak sehat, lawanlah dengan kuasa Roh Kudus. Dan jika kita bekerja terlalu berat dan kurang bisa beristirahat, lawanlah juga dengan Roh Kudus.

Menjaga kesehatan tubuh memungkinkan orang Kristen untuk menggunakan fisik mereka untuk memuliakan Tuhan, baik melalui pekerjaan, pelayanan, atau kegiatan lainnya. Tubuh dan pikiran yang sehat memungkinkan orang Kristen untuk melayani orang lain dengan lebih baik, baik secara fisik maupun rohani, karena mereka memiliki lebih banyak energi dan kemampuan untuk berpartisipasi dalam tindakan kasih dan belas kasih. Selain itu, kesehatan fisik dapat berkontribusi pada pikiran dan jiwa yang lebih kuat, sehingga lebih mudah untuk menolak godaan dan mengikuti kehendak Tuhan. Secara umum. menjaga kesehatan memungkinkan orang Kristen untuk menikmati kehidupan yang lebih bersemangat dan penuh, baik sekarang maupun di masa depan.

Pagi ini kita harus sadar bahwa selama hidup di dunia, tubuh jasmani kita sama pentingnya dengan kerohanian kita. Dia peduli dengan tubuh kita. Tuhan memberikannya kepada kita. Ia ingin agar mereka tetap sehat dan bertahan lama, sampai Ia mengambilnya.

Boleh marah, tapi ada syaratnya

“Ia berdukacita karena kedegilan mereka dan dengan marah Ia memandang sekeliling-Nya kepada mereka lalu Ia berkata kepada orang itu: ”Ulurkanlah tanganmu!” Dan ia mengulurkannya, maka sembuhlah tangannya itu.” Markus 3:5

Markus 3:1–6 menceritakan kisah tentang Yesus yang menyembuhkan seorang pria dengan tangan yang lumpuh pada hari Sabat. Peristiwa ini secara khusus menegaskan kedaulatan-Nya atas hari Sabat. Pada saat yang sama, peristiwa ini juga dapat dianggap sebagai yang pertama dari lima kisah tentang berbagai reaksi orang terhadap pelayanan awal Yesus, yang terlihat di bab 3. Sejak awal pelayanan Yesus, permusuhan orang Farisi perlahan-lahan tumbuh. Kini, tindakan provokatif Yesus membuat para guru agama menganggapnya melampaui batas, dan karena itu orang Farisi bersekutu dengan orang Herodian untuk merencanakan kejahatan terhadap Yesus.

Inti dari Sepuluh Perintah Allah adalah untuk menghormati Tuhan dan manusia. Hukum Musa menjelaskan cara menyembah Tuhan dan menghormati orang lain. Namun, alih-alih mengutamakan Tuhan dan orang lain, orang Farisi mengutamakan hukum demi hukum itu sendiri. Mereka membangun pagar peraturan tambahan di sekeliling ketetapan Tuhan. Mereka berusaha memastikan tidak seorang pun akan melanggar hukum Taurat. Dalam semangat mereka terhadap hukum, mereka melupakan tujuan hukum. Ini mirip orang Kristen di zaman ini yang lebih mementingkan peraturan gereja dan ajaran teologi dari pada firman dan perintah Tuhan untuk mengasihi Dia dan sesama nanusia.

Hari Sabat merupakan contoh ideal tentang perbedaan antara kedua konsep ini. Tuhan memberikan hari Sabat kepada manusia sebagai waktu istirahat dari pekerjaan, yang dimaksudkan untuk memuliakan-Nya dan menyegarkan para pengikut-Nya. Sebaliknya, legalisme orang Farisi mengikat orang-orang. Pendekatan mereka atas hukum mencekik manusia dengan larangan-larangan yang terlalu rinci, yang merusak sukacita dan istirahat yang seharusnya disediakan oleh hari Sabat. Akibatnya, dan khususnya dalam Markus 3, orang Farisi menolak karunia Tuhan dan menuntun orang lain untuk menolaknya juga.

Sikap orang Farisi ini membuat Yesus marah sekaligus berduka. Ia digambarkan dengan kata Yunani orgēs dan syllypoumenos. Kata pertama adalah kata umum yang merujuk pada murka atau kemarahan. Kata kedua didasarkan pada istilah yang kurang umum yang menyiratkan “memberi” atau “berbagi” kesedihan. Yesus marah sekaligus sedih, demi orang-orang di sekitar-Nya, karena reaksi orang-orang Farisi kepada pelayanan Yesus kepada masyarakat.

Kata “degil” atau “keras kepala” berasal dari akar kata Yunani porosis, dan berarti “sangat keras kepala sehingga pikiran menjadi tumpul, keras hati, atau mati rasa. Perlu dicatat bahwa kata “hati” dalam bahasa Yunani memiliki akar kata kardia, dan melambangkan sumber kehidupan, kebijaksanaan, dan kemauan batiniah. Kebijaksanaan orang-orang Farisi ditutupi dengan kekerasan hati yang menjadi penghalang hubungan antara mereka dan Tuhan. Karena kedegilan orang Farisi, Yesus menjadi marah.

Kemarahan memang tidak selalu merupakan dosa. Ada jenis kemarahan yang disetujui Alkitab, yang sering disebut “kemarahan yang benar.” Allah marah (Mazmur 7:11), dan kemarahan orang percaya dapat diterima (Efesus 4:26). Memang aua kata Yunani dalam Perjanjian Baru yang bisa diterjemahkan sebagai “kemarahan.” Yang satu berarti “gairah, energi” dan yang lainnya berarti “gelisah, mendidih.” Secara alkitabiah, kemarahan adalah energi yang diberikan Allah yang dimaksudkan untuk membantu kita memecahkan masalah. Kemarahan semacam ini ada gunanya.

Contoh kemarahan yang benar termasuk kemarahan Daud karena mendengar nabi Natan menceritakan ketidakadilan (2 Samuel 12) dan kemarahan Yesus atas bagaimana beberapa orang Yahudi telah menajiskan ibadah di bait Allah di Yerusalem (Yohanes 2:13-18). Perhatikan bahwa tidak satu pun dari contoh kemarahan ini melibatkan pembelaan diri, tetapi pembelaan terhadap orang lain atau terhadap suatu prinsip.

Belajar dari perilaku Yesus, kita harus mau belajar untuk marah dalam menegakkan kebenaran dan dengan cara benar. Sekalipun kemarahan itu sendiri pada dasarnya bukanlah dosa, tetapi dapat menjadi dosa jika kemarahan tersebut mengarah pada tindakan, perkataan, atau pikiran yang merugikan, atau jika kemarahan tersebut berkembang menjadi kebencian dan kepahitan. Kemarahan menjadi dosa jika tidak ditujukan untuk kemuliaan Tuhan, tetapi untuk ego atau kepentingan diri sendiri.

Kemarahan sementara sebagai respons terhadap situasi yang sulit, jika ditangani dengan cara yang sehat dan tidak dibiarkan berlarut-larut, pada dasarnya bukanlah dosa. Mengekspresikan amarah dengan tepat, seperti mengomunikasikan perasaan kita dengan tenang dan sopan, bukanlah dosa. Kemarahan yang ditujukan pada ketidakadilan atau kesalahan, didorong oleh keinginan akan kebenaran dan keadilan, dapat menjadi emosi yang positif.

Alkitab menganjurkan kita untuk marah tetapi tidak berbuat dosa, memperingatkan agar tidak membiarkan amarah menguasai dan mengarah pada tindakan atau pikiran yang merugikan. Alkitab tidak mengutuk semua kemarahan, karena Yesus juga menunjukkan kemarahan di Bait Suci. Akan tetapi, Alkitab memperingatkan agar tidak membiarkan kemarahan mengendalikan kita ke arah dosa, dan karena itu menekankan pentingnya pengampunan dan rekonsiliasi.

Membiarkan kemarahan berkembang menjadi kebencian dan keinginan untuk membalas dendam dapat menyebabkan hubungan yang rusak dan hati yang selalu dipenuhi dengan hal-hal yang negatif tentang orang lain. Ketika kemarahan mengarah pada tindakan yang kemudian bisa menimbulkan rasa sesal, seperti berteriak, memukul, atau mengatakan hal-hal yang menyakitkan, kemarahan tersebut bukan lagi sekadar emosi, tetapi tindakan yang berdosa.

Menggunakan bahasa atau nada yang keras atau kasar, dapat menjadi dosa, terutama jika dimaksudkan untuk menyakiti atau merendahkan seseorang. Memendam amarah secara berkelanjutan dan menolak mengampuni orang lain dapat menghambat pekerjaan Roh Kudus dan menghambat pertumbuhan rohani. Mengingat-ingat kesalahan orang lain di masa lalu, selalu berakhir dengan mudahnya untuk menjadi marah lagi di masa depan.

Kita dapat menangani kemarahan secara alkitabiah dengan membalas kejahatan dengan kebaikan (Kejadian 50:21; Roma 12:21). Ini adalah kunci untuk mengubah kemarahan kita menjadi kasih. Sebagaimana tindakan kita mengalir dari hati kita, demikian pula hati kita dapat diubah oleh tindakan kita (Matius 5:43-48). Dengan kata lain, kita dapat mengubah perasaan kita terhadap orang lain dengan mengubah cara kita bertindak terhadap orang tersebut.

Kita dapat menangani kemarahan secara alkitabiah dengan berkomunikasi dalam kasih untuk menyelesaikan masalah. Kita dapat menangani kemarahan secara alkitabiah dengan mengenali dan mengakui kemarahan kita yang sombong dan/atau penanganan kemarahan kita yang salah sebagai dosa (Amsal 28:13; 1 Yohanes 1:9). Pengakuan ini harus ditujukan kepada Tuhan dan kepada mereka yang telah terluka oleh kemarahan kita. Kita tidak boleh meremehkan dosa dengan memaafkannya atau menyalahkan orang lain.

Kita dapat menangani kemarahan secara alkitabiah dengan membalas kejahatan dengan kebaikan (Kejadian 50:21; Roma 12:21). Ini adalah kunci untuk mengubah kemarahan kita menjadi kasih. Sebagaimana tindakan kita mengalir dari hati kita, demikian pula hati kita dapat diubah oleh tindakan kita (Matius 5:43-48). Yaitu, kita dapat mengubah perasaan kita terhadap orang lain dengan mengubah cara kita memilih untuk bertindak terhadap orang tersebut. Kita harus bertindak untuk menyelesaikan bagian kita dari masalah tersebut (Roma 12:18). Kita tidak dapat mengendalikan bagaimana orang lain bertindak atau menanggapi, tetapi kita dapat membuat perubahan yang perlu dan bisa dilakukan di pihak kita.

Amarah seharusnya dipadamkan dalam semalam (Efesus 4:26), tetapi mengatasi penyebab amarah tidak dapat dilakukan dalam semalam. Namun melalui doa, pelajaran Alkitab, dan mengandalkan Roh Kudus Tuhan, kecenderungan munculnya amarah yang tidak benar dapat diatasi. Kita mungkin sudah lama membiarkan amarah mengakar dalam kehidupan kita melalui kebiasaan dan karena adanya lingkungan yang kurang baik, tetapi kita juga dapat berlatih menanggapi dengan benar hingga hal itu juga menjadi kebiasaan baru dan Tuhan bisa dimuliakan melalui usaha kita.

Pagi ini kita harus mau belajar untuk bisa marah demi kebenaran Tuhan, untuk kemuliaan Tuhan, dengan tujuan dan cara yang benar. Tujuan tidak boleh menghalalkan cara. Kita harus bisa memahami situasi atau pikiran apa yang cenderung memicu amarah kita. Kita harus sadar bahwa tiap orang mempunyai kelemahan dalam hal tertentu. Kita harus siap untuk mengampuni, baik terhadap diri sendiri maupun orang lain, karena hal itu dapat membantu melepaskan kepahitan yang memicu amarah. Kita harus beralih cara, dengan mementingkan doa dan iman untuk mencari bimbingan dan kekuatan untuk mengelola amarah dan untuk membuat pilihan yang bijaksana, dengan selalu bertujuan untuk mencapai rekonsiliasi.

“Janganlah ada perkataan kotor keluar dari mulutmu, tetapi pakailah perkataan yang baik untuk membangun, di mana perlu, supaya mereka yang mendengarnya, beroleh kasih karunia. Dan janganlah kamu mendukakan Roh Kudus Allah, yang telah memeteraikan kamu menjelang hari penyelamatan. Segala kepahitan, kegeraman, kemarahan, pertikaian dan fitnah hendaklah dibuang dari antara kamu, demikian pula segala kejahatan. Tetapi hendaklah kamu ramah seorang terhadap yang lain, penuh kasih mesra dan saling mengampuni, sebagaimana Allah di dalam Kristus telah mengampuni kamu.” Efesus 4:29-32

Apakah kita bisa mengerti jalan pikiran Tuhan?

“O, alangkah dalamnya kekayaan, hikmat dan pengetahuan Allah! Sungguh tak terselidiki keputusan-keputusan-Nya dan sungguh tak terselami jalan-jalan-Nya! Sebab, siapakah yang mengetahui pikiran Tuhan?Atau siapakah yang pernah menjadi penasihat-Nya? Atau siapakah yang pernah memberikan sesuatu kepada-Nya,sehingga Ia harus menggantikannya? Sebab segala sesuatu adalah dari Dia, dan oleh Dia, dan kepada Dia: Bagi Dialah kemuliaan sampai selama-lamanya!” Roma 11:3-36

Kehidupan kita sebagai orang Kristen sering terasa berat, yang harus dijalani dengan mengetahui bahwa setan itu nyata, aktif, dan jahat. Kita sendiri tidak berdaya melawan setan. Namun, Tuhan kita berkuasa. Apa pun yang ingin dilakukan setan, harus dengan seizin Tuhan, atau setan tidak dapat melakukannya. Sekalipun dalam hidup ini kita tidak mudah untuk menanggung apa yang setan lemparkan kepada kita, kita harus tetap percaya bahwa jika kita bersandar pada Tuhan yang mengizinkannya dalam hidup kita, pada saat yang tepat kita akan menang bersama Dia. Inilah yang disebut pengertian theodicy atau teodisi.

Teodisi adalah pandangan filosofis untuk menjawab alasan dari Tuhan yang Mahabaik mengizinkan adanya kejahatan di dunia, sehingga mampu menyelesaikan isu dari masalah kejahatan. Beberapa ilmu teodisi juga membahas masalah pembuktian kejahatan dengan mencoba untuk “menyelaraskan keberadaan Tuhan yang Mahapengampun, Mahakuasa, dan Mahatahu dengan keberadaan kejahatan atau penderitaan di dunia”. Istilah ini dicetuskan pada tahun 1710 oleh filsuf Jerman Gottfried Leibniz dalam karyanya yang berjudul Théodicée, walaupun sebelumnya berbagai solusi untuk masalah kejahatan telah diajukan.

Ada pertanyaan alami yang muncul begitu Anda mulai merenungkan hal-hal ini: Mengapa Tuhan tidak menghancurkan setan saja? Mengapa Tuhan mengizinkan setan berkeliaran di bumi sampai sekarang? Mengapa Tuhan menciptakan setan jika Dia tahu ia akan memberontak? Alasan apa yang mungkin dimiliki Tuhan dalam mengizinkan setan mendatangkan rasa sakit, kesengsaraan, kehancuran, dan penderitaan di dunia?

Barangkali, dalam kesusahan kita ada saudara seiman ata pendeta yang debgan maksud baik berusaha menghibur kita. Mereka mungkin mengajak kita berdoa meminta pertolongan dari Tuhan. Mereka mengajak kita membaca ayat-ayat Alkitab yang sering dipakai untuk menguatkan mereka yang tertimpa malapetaka, seperti:

“Kita tahu sekarang, bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah.” Roma 8:28

Tetapi, mendengar bunyi Roma 8:28 hati kita mungkin bertambah sedih. Bagaimana Tuhan bisa berkata bahwa dengan pengalaman yang pedih saat ini Tuhan bisa mendatangkan kebaikan bagi kita? Seperti itu juga, orang tua saya merasa Tuhan itu kejam karena membiarkan kakak saya meninggal dunia ketika ia berumur 6 tahun. Tapi pada saat itu orang tua saya belum sadar bahwa justru setelah datangnya malapetaka itu mereka kemudian mendapat panggilan Kristus untuk menjadi orang percaya!

Pertanyaan yang harus kita jawab di hati kita pada hari ini adalah: akankah kita percaya kepada Tuhan dalam keadaan yang tidak baik? Apakah kita percaya bahwa hikmat, kuasa, dan kasih Tuhan membuat rencana-rencana-Nya dapat dipercaya bahkan ketika kita tidak dapat memahaminya?

Roma 11:33–36 adalah pujian Paulus yang puitis dan seperti himne tentang Tuhan dan hikmat-Nya yang luar biasa. Ia mengutip teks-teks Perjanjian Lama seperti Yesaya dan Ayub. Bagian sebelumnya menjelaskan bagaimana maksud Tuhan bagi Israel disertai dengan beberapa tingkat misteri.

Paulus baru saja menyimpulkan pembahasan yang panjang dan rumit tentang hubungan unik Allah dengan Israel sebagai suatu bangsa dan dengan umatnya sebagai individu. Ia telah membandingkan dan mengontraskan tindakan Allah terhadap Israel dengan tindakan-Nya terhadap orang-orang bukan Yahudi. Ia menyimpulkannya dalam ayat sebelumnya dengan menyatakan, pada intinya, bahwa kedua kelompok tersebut telah hidup dalam ketidaktaatan dan bahwa Allah akan menunjukkan belas kasihan kepada orang-orang dari kedua kelompok tersebut sebagai tanggapan atas iman mereka kepada Kristus.

Dalam Roma 11:33–36, Paulus menyampaikan sebuah puisi, yang terstruktur seperti himne, yang mengungkapkan reaksinya yang mendalam baik terhadap jalan-jalan Allah maupun belas kasihan-Nya kepada manusia yang berdosa.

Paulus memulai dengan mengagumi kedalaman tiga karakteristik Allah. Tuhan adalah mahakaya. Sebelumnya dalam Kitab Roma, Paulus telah menulis tentang kekayaan kasih karunia dan kesabaran Allah (Roma 2:4), kekayaan kemuliaan-Nya (Roma 9:23), dan kekayaan-Nya—dari belas kasihan—bagi dunia (Roma 11:12). Dalam setiap kasus, kekayaan Allah digambarkan sebagai sesuatu yang dibagikan-Nya kepada umat-Nya dengan murah hati dan hal ini tidak pernah berakhir.

Selanjutnya, Paulus terpesona oleh kedalaman hikmat Allah, kemungkinan dalam ungkapan kasih dan kuasa-Nya dalam menyediakan belas kasihan bagi semua orang melalui iman kepada Kristus. Ini diikuti oleh pengetahuan Allah yang mendalam, mungkin sebuah referensi kepada “pengetahuan-Nya sebelumnya” tentang semua orang yang akan datang kepada-Nya melalui iman kepada Kristus (Roma 8:29; 11:2).

Dua baris berikutnya Paulus dimulai dengan “siapakah yang (bisa) …” Betapa tidak terselami atau tidak terduganya penghakiman Allah, Paulus bertanya-tanya. Dengan kata lain, manusia tidak memiliki kapasitas untuk memahami mengapa Allah memutuskan apa yang Dia lakukan. Jalan-jalan Allah dikatakan tidak dapat dipahami, seperti kode rahasia yang tidak dapat kita pecahkan. Inilah yang disebut “uncsrutability of God“.

Inscrutability” dalam bahasa Indonesia berarti kualitas atau keadaan yang sulit atau bahkan tidak dapat dipahami atau dipahami secara mendalam. Ini merujuk pada sifat seseorang atau sesuatu yang tidak menunjukkan emosi atau pikiran secara jelas, sehingga membuatnya sulit untuk mengetahui apa yang mereka pikirkan atau rasakan. Dengan kata lain, “inscrutability” adalah kesulitan untuk menembus atau memahami rahasia seseorang.

Salah satu alasan Allah tetap memiliki hak untuk melakukan apa yang Dia inginkan tanpa harus menunjukkan belas kasihan atau alasan kepada manusia adalah karena kita tidak memiliki kapasitas untuk memahami pilihan-pilihan-Nya. Pikiran-pikiran-Nya, jalan-jalan-Nya, keputusan-keputusan-Nya berada di luar jangkauan kita. Kita hanya perlu berserah kepada-Nya dan menyembah-Nya.

Paulus mengajukan beberapa pertanyaan, yang dikutip dari Yesaya 40:13, untuk menggambarkan betapa sedikit yang Tuhan butuhkan dari kita.

Pertama, siapa yang mengetahui pikiran Tuhan? Jawabannya begitu jelas sehingga Paulus tidak mau repot-repot menjawabnya. Tidak seorang pun pernah mengetahui pikiran Tuhan. Sebagai makhluk yang diciptakan oleh-Nya, kita tidak memiliki kapasitas untuk sepenuhnya memahami pikiran-Nya (Yesaya 55:8–9). Menganggap bahwa kita mungkin mengetahui sesuatu tentang proses berpikir Tuhan di luar apa yang telah Dia ungkapkan dalam Firman-Nya adalah kesombongan yang bodoh. Mengakui pikiran-Nya sebagai sesuatu yang tidak dapat kita ketahui adalah alasan untuk menyembah-Nya.

Pertanyaan kedua serupa dengan pertanyaan pertama. Siapa yang pernah menjadi penasihat Tuhan? Kepada siapa Tuhan meminta konseling, atau dukungan moral, atau nasihat tentang hubungan? Kepada siapa Dia meminta ide tentang ciptaan atau pemeliharaan makhluk-makhluk-Nya? Tuhan tidak membutuhkan kita untuk membantu-Nya memikirkan segala sesuatunya, tidak peduli seberapa bersemangatnya kita terkadang untuk melakukan hal itu. Saat kita mulai memahami perbedaan antara pikiran-Nya yang luas dan pikiran kita sendiri, satu-satunya respons yang masuk akal adalah menyembah-Nya dan menerima keputusan-Nya sebagai benar dan tepat.

Kemudian Paulus bertanya, siapakah yang telah memberikan sesuatu kepada Tuhan yang begitu berharga sehingga Tuhan berutang sesuatu kepadanya? Jawabannya adalah tidak seorang pun. Tuhan tidak berutang apa pun kepada kita. Dalam ayat ini, Paulus menjelaskan alasannya. Segala sesuatu yang ada di alam semesta berasal dari Tuhan. Dia adalah Sang Pencipta dan sumber segala sesuatu yang baik. Bagaimana mungkin kita dapat memberikan sesuatu yang belum Dia miliki?

Hari ini kita membaca bahwa Paulus menyatakan dengan tegas bahwa alam semesta adalah milik Tuhan, dan kita hanya hidup di dalamnya, dan menjadi bagian darinya. Apa pun yang terjadi dalam hidup kita, bagi Allah kemuliaan ada sampai selama-lamanya. Ini adalah pernyataan fakta sekaligus doa untuk pemenuhannya, dan itulah yang juga bisa kita sampaikan dalam nyanyian pujian kita (NKI 118 Kehendakmu Jadilah, My Jesus, As Thou Wilt):

Kehendak-Mu jadi di atas dunia
Kuserahkan diri dalam karunia
Dalam suka duka kujadi milik-Mu
Tolong ku berkata, “jadi kehendak-Mu”.


Kehendak-Mu jadi walau dengan duka
B’ri kuat dengan imanku terang bercahaya
Tuhan t’lah mend’rita dengan tangis
Seduh ku juga mau serta “jadi kehendak-Mu”.

Kehendak-Mu jadi lenyapkan musuhku
Masa pancaroba terserah pada-Mu
Ku mau t’rus mendaki menuju rumah-Mu
Nyanyi sen’tiasa, “jadi kehendak-Mu”.

Jika setan menyerang kita, itu dengan seizin Tuhan

Sadarlah dan berjaga-jagalah! Lawanmu, si Iblis, berjalan keliling sama seperti singa yang mengaum-aum dan mencari orang yang dapat ditelannya.” 1 Petrus 5:8

Anda dan saya memiliki musuh bernama setan atau iblis yang berkeliaran di bumi dengan misi melahap siapa pun yang dapat ditelannya. Alkitab juga mengatakan hal itu dalam Wahyu 2:10.

“Jangan takut terhadap apa yang harus engkau derita! Sesungguhnya Iblis akan melemparkan beberapa orang dari antaramu ke dalam penjara supaya kamu dicobai dan kamu akan beroleh kesusahan selama sepuluh hari. Hendaklah engkau setia sampai mati, dan Aku akan mengaruniakan kepadamu mahkota kehidupan.” Wahyu 2:10

Dalam Alkitab, kita melihat iblis dan anak buahnya mendatangkan malapetaka dan penderitaan di bumi dan dalam kehidupan manusia. Kita tahu bahwa Adam dan Hawa digoda dan ditipu iblis (Kejadian 3:1-5), yang mengakibatkan kejatuhan manusia ke dalam jurang dosa. Ini merupakan masalah besar seluruh umat manusia sampai sekarang karena kita mewarisi dosa mereka.

Di kitab Tawarikh dikatakan bahwa yang mendorong Daud untuk sombong adalah iblis, “Iblis bangkit melawan orang Israel dan ia membujuk Daud untuk menghitung orang Israel.” (1Tawarich 21:1). Tetapi, dalam kitab Samuel, dikatakan bahwa yang mendorong Daud melakukan sensus adalah Allah: “Bangkitlah pula murka TUHAN terhadap orang Israel; Ia menghasut Daud melawan mereka, firman-Nya: “Pergilah, hitunglah orang Israel dan orang Yehuda.” (2 Samuel 24:1). Dari kedua ayat ini dapat disimpulkan bahwa Iblis-lah yang membujuk Daud untuk melakukan sensus, namun Allah mengizinkan hal tersebut. Atau, Allah membuka pintu/ mengizinkan Iblis mencobai Daud, sebagaimana Allah mengizinkan Iblis mencobai Ayub.

Dalam Perjanjian Baru, Yesus menghadapi kekuatan kegelapan di setiap sudut dalam diri orang-orang yang sakit, lumpuh, dan dirasuki oleh kekuatan iblis. Petrus dalam ayat di atas memperingatkan kita bahwa Setan terus bergerak. Ia mencari yang lemah, terisolasi, dan rentan untuk dilahap. Ia tidak pernah menghargai keadilan. Ia tidak pernah libur, atau merasa kasihan kepada siapa pun. Lalu, apakah peringatan Petrus itu menyangkut kemungkinan bahwa orang Kristen, domba Yesus, bisa dirasuki setan?

Meskipun Alkitab tidak secara eksplisit menyatakan apakah seorang Kristen dapat dirasuki setan, kebenaran Alkitab yang terkait menjelaskan dengan sangat jelas bahwa orang Kristen tidak dapat dirasuki setan. Ada perbedaan yang jelas antara dirasuki setan dan ditindas atau dipengaruhi oleh setan. Kerasukan setan melibatkan setan yang memiliki kendali langsung/penuh atas pikiran dan/atau tindakan seseorang (Matius 17:14-18; Lukas 4:33-35; 8:27-33). Tetapi, untuk orang Kristen penindasan atau pengaruh setan menyangkut serangan rohani dan/atau mendorongnya ke dalam perilaku berdosa.

Dalam semua bagian Perjanjian Baru yang membahas peperangan rohani, tidak ada instruksi untuk mengusir setan dari orang percaya (Efesus 6:10-18). Orang percaya diperintahkan untuk melawan iblis (Yakobus 4:7; 1 Petrus 5:8-9), bukan menengking iblis dari saudara seiman. Orang Kristen didiami oleh Roh Kudus (Roma 8:9-11; 1 Korintus 3:16; 6:19). Tentunya Roh Kudus tidak akan membiarkan setan merasuki orang yang sama yang didiami-Nya. Tentunya tidak mungkinl bahwa Allah akan membiarkan salah satu anak-Nya, yang telah Ia beli dengan darah Kristus (1 Petrus 1:18-19) dan dijadikan ciptaan baru (2 Korintus 5:17), untuk dirasuki dan dikendalikan oleh setan. Allah sudah tentu jauh lebih berkuasa dari pada setan!

Sebagai orang percaya, kita memang berperang melawan setan dan roh-roh jahatnya, tetapi bukan setan yang berdiam dalam diri kita sendiri. Rasul Yohanes menyatakan, “Kamu berasal dari Allah, anak-anakku, dan kamu telah mengalahkan nabi-nabi palsu itu, sebab Roh yang ada di dalam kamu, lebih besar dari pada roh yang ada di dalam dunia” (1 Yohanes 4:4). Siapakah Roh yang ada di dalam kita? Roh Kudus. Siapakah Roh yang ada di dalam dunia? Setan dan roh-roh jahatnya. Siapakah yang mengalahkan kuasa setan di kayu salib? Yesus dengan ketaatan-Nya kepada Allah Bapa. Oleh karena itu, dengan adanya kuasa Yesus yang telah mengalahkan dunia roh jahat, kasus kerasukan setan pada orang percaya tidak dapat dijelaskan secara alkitabiah. Jadi, jika ada orang yang kerasukan setan, orang itu pasti bukan atau belum menjadi domba Yesus.

Dengan bukti Alkitab yang kuat bahwa seorang Kristen tidak dapat dirasuki setan, beberapa tokoh gereja menggunakan istilah “demonisasi” untuk merujuk pada setan yang menguasai seorang Kristen. Kisah demonisasi malah sering muncul dalam film di layar putih maupun TV. Beberapa berpendapat bahwa meskipun seorang Kristen tidak dapat dirasuki setan, seorang Kristen dapat dimasuki setan. Biasanya, deskripsi tentang dimasuki setan hampir identik dengan deskripsi tentang kerasukan setan. Jadi, hasilnya adalah masalah yang sama. Mengubah terminologi tidak mengubah fakta bahwa setan tidak dapat menghuni atau menguasai sepenuhnya seorang Kristen. Pengaruh dan penindasan setan adalah kenyataan bagi orang Kristen yang tidak dapat diragukan, tetapi tidaklah alkitabiah untuk mengatakan bahwa seorang Kristen dapat dimasuki setan atau dirasuki setan.

Melihat seseorang yang kita kira orang Kristen menunjukkan perilaku kerasukan setan seharusnya membuat kita mempertanyakan keaslian imannya. Hal itu seharusnya tidak membuat kita mengubah sudut pandang kita tentang pengaruh setan. Mungkin orang itu benar-benar orang Kristen tetapi sangat ditindas setan dan/atau menderita masalah psikologis yang parah. Namun sekali lagi, pengalaman kita harus menaati kata Alkitab, bukan kata hati atau pikiran kita. Tidak ada orang Kristen sejati yang bisa dikuasai setan.

Namun, apa yang telah kita katakan sejauh ini seharusnya menimbulkan pertanyaan: Bagaimana kita bisa hidup di dunia yang diperintah oleh Tuhan, diatur oleh Tuhan, dan sepenuhnya bergerak menuju tujuan yang telah ditetapkan-Nya, tetapi Tuhan membiarkan setan menimbulkan berbagai malapetaka di bumi? Bagaimana Tuhan membiarkan kita diserang setan tanpa kita menyadarinya? Di manaka perlindungan Tuhan untuk umat-Nya?

Jawaban singkat yang sesuai dengan teologi Kristen adalah: Tuhan mengizinkan peran setan di bumi dan penderitaan manusia karena semua itu adalah bagian dari rencana kekal-Nya. Salah satu cuplikan terbesar mengenai misteri Tuhan yang mengizinkan aktivitas dan penderitaan setan yang dibawanya, diungkapkan dalam kitab Ayub. Di dalamnya, kita melihat setan masuk ke hadirat Tuhan. Tuhan bertanya kepadanya di mana dia berada, dan setan berkata bahwa dia telah berkeliaran ke sana kemari. Terjadilah perdebatan antara Tuhan dan setan tentang Ayub, seorang pria yang makmur dan takut akan Tuhan di bumi.

Tuhan memberi tahu setan bahwa dia dapat menyiksa hidup Ayub. Dan setan dengan senang hati melakukannya. Ayub kehilangan harta benda dan anak-anaknya, tetapi Ayub tidak kehilangan imannya. Setan kecewa dan berkata kepada Tuhan bahwa jika Ayub secara pribadi disiksa, dia akan mengutuk Tuhan. Tuhan lagi-lagi mengizinkan setan menyiksa Ayub, tetapi Dia menetapkan syarat tentang apa yang dapat atau tidak dapat dia lakukan. Kali ini Setan tidak diizinkan untuk mengambil nyawanya, tetapi semua hal lainnya masih bisa terjadi. Ayub kemudian menderita penyakit fisik dan kesengsaraan sebagai akibatnya. Banyak orang percaya bahwa Ayub telah tidak menaati Tuhan dan sedang dihukum. Yang lain percaya bahwa ia harus mengutuk Tuhan dan berpaling dari-Nya. Ayub tidak melakukannya. Ayub tetap percaya kepada kasih Tuhan.

Ada banyak sudut pandang untuk membahas kisah Ayub ini, tetapi jelas bahwa kemampuan setan untuk bertindak di bumi adalah dengan seizin Tuhan. Setan tidak berdaulat. Setan tidak memiliki kebebasan untuk melakukan apa pun yang diinginkannya. Hanya Tuhan yang berdaulat, dan hanya Tuhan yang dapat melakukan semua yang Ia inginkan (Mazmur 115:3).

Ada pertanyaan alami yang muncul begitu Anda mulai merenungkan hal-hal ini: Mengapa Tuhan tidak menghancurkan setan saja? Mengapa Tuhan mengizinkan setan berkeliaran di bumi sampai sekarang? Mengapa Tuhan menciptakan setan jika Dia tahu ia akan memberontak? Alasan apa yang mungkin dimiliki Tuhan dalam mengizinkan setan mendatangkan rasa sakit, kesengsaraan, kehancuran, dan penderitaan di dunia?

Ada beberapa jawaban yang bisa kita pelajari:

Pertama, Tuhan dapat menggunakan setan sebagai alat penghakiman atas dunia. Kita tidak boleh lupa bahwa semua manusia adalah anak-anak murka sebagai akibat dari dosa (Efesus 2:3). Allah tidak harus menunda penghakiman sampai kita mati, tetapi bebas untuk memberikan keadilan atas pemberontakan di bumi saat ini.

Kedua, Allah dapat menggunakan setan sebagai alat untuk mewujudkan tujuan-tujuan-Nya yang baik. Kedengarannya aneh untuk menghubungkan apa pun yang dilakukan iblis dengan tujuan-tujuan baik Allah, tetapi kisah penyaliban Yesus adalah secuah contoh yang baik. Setan menuntun Yudas untuk mengkhianati Yesus, yang akhirnya mengakibatkan penyalibannya di kayu salib. Tanpa salib tidak ada keselamatan. Setan bermain tepat sesuai rencana Allah. Itu karena Allah memberi setan kesempatan. Dan kita harus menyadari ada 1001 cara lain yang Allah lakukan yang tidak selalu bisa kita mengerti.

Ketiga, Allah dapat menggunakan setan sebagai alat untuk memperlihatkan kemuliaan Kristus yang tak terukur. Bagaimana caranya? Ketika Yesus kembali dalam kemuliaan di atas awan, dan mata-Nya menyala-nyala dengan api dan pedang ada di tangan-Nya, setan akan menemui kekalahan terakhirnya. Kristus akan menerima kemuliaan yang lebih besar dalam kekalahan setan pada akhirnya daripada yang akan diterimanya jika setan dikalahkan secara langsung. Kedatangan Yesus kembali akan mengakhiri pekerjaan setan yang merusak di dunia, dan pemberontakannya akan dipadamkan saat ia dilemparkan ke dalam lautan api (Wahyu 20:10), tidak pernah untuk bisa bangkit kembali. Pada saat itu, kita akan merayakan kemenangan Raja kita, yang menang atas semua musuh-Nya dan musuh kita. Haleluya!

Pertanyaan yang harus kita jawab di hati kita pada hari ini adalah: akankah kita percaya kepada Tuhan? Apakah kita percaya bahwa hikmat, kuasa, dan kasih Tuhan membuat rencana-rencana-Nya dapat dipercaya bahkan ketika kita tidak dapat memahaminya?

Kehidupan kita sebagai orang Kristen sering terasa berat, yang harus dijalani dengan mengetahui bahwa setan itu nyata, aktif, dan jahat. Kita sendiri tidak berdaya melawan setan. Namun, Tuhan kita berkuasa. Apa pun yang ingin dilakukan setan, harus dengan seizin Tuhan, atau setan tidak dapat melakukannya. Sekalipun dalam hidup ini kita tidak mudah untuk menanggung apa yang setan lemparkan kepada kita, kita harus tetap percaya bahwa jika kita bersandar pada Tuhan yang mengizinkannya dalam hidup kita, pada saat yang tepat kita akan menang bersama Dia.

Siapakah yang tidak pernah kecewa?

“Semuanya itu Kukatakan kepadamu, supaya kamu beroleh damai sejahtera dalam Aku. Dalam dunia kamu menderita penganiayaan, tetapi kuatkanlah hatimu, Aku telah mengalahkan dunia.” Yohanes 16:33

Adakah orang yang tidak pernah kecewa? Saya yakin tidak ada, termasuk di antara umat percaya. Ada banyak hal yang bisa membuat orang Kristen kecewa. Orang tua membesarkan anak mereka di dalam Tuhan, tetapi sang anak kemudian berperilaku dengan cara yang menghancurkan hati mereka. Seorang menikahi pasangannya di gereja, yang berjanji untuk mencintai, menghormati, dan menghargainya sampai maut memisahkan mereka, tetapi selang beberapa bulan sang pasangan bertindak seolah-olah dia lebih mencintai pekerjaannya. Anda mungkin saja bergabung dengan sebuah gereja dan yakin bahwa itu adalah pilihan yang dibuat Tuhan di surga, tetapi kemudian Anada menemukan bahwa gereja itu dipimpin oleh orang-orang yang tidak sempurna dan lemah seperti di gereja yang Anda tinggalkan.

Agaknya keadaan, pekerjaan, keuangan, kesehatan, rumah, mobil, orang-orang, dan segala sesuatu yang ada di dunia memiliki kemampuan untuk membuat kita kecewa. Benarkah begitu? Ataukah kita yang justru memiliki kelemahan dalam hal bisa dikecewakan oleh apapun yang ada dan yang terjadi di dunia? Sudah tentu di luar sesama manusia, tidak ada yang mampu mengewakan kita. Benda mati, tumbuhan dan hewan tidak mampu, tidak bisa, melakukan sesuatu untuk mengecewakan manusia. Tetapi manusia mana pun bisa merasa kecewa atas apa yang terjadi di dunia jika itu tidak sesuai dengan keinginannya. Jika seseorang merasa adanya kekecewaan, itu berasal dari diri (pikiran) sendiri.

Sering orang kecewa atas apa yang dipandang tidak adil. Orang Kristen juga bisa kecewa kepada Tuhan jika harapannya tidak terpenuhi. Mengapa Tuhan tidak adil? Kisah nabi Yunus yang kecewa karena Tuhan batal menghukum orang-orang Niniwe, dan juga karena matinya pohon jarak yang ditumbuhkan Tuhan, menunjukkan bahwa orang percaya bisa terpuruk dalam kekecewaan. Seperti Yunus, kita mudah putus asa dan marah atas apa yang dianggap tidak adil, yang terjadi pada diri kita.

Sepanjang pengajaran-Nya dalam perjamuan terakhir (Yohanes 13:1–5), Yesus sering mengemukakan fakta bahwa Ia memberikan peringatan dini kepada para pengikut-Nya (Yohanes 13:19; 14:25). Maksud-Nya adalah untuk memberikan semangat dalam menghadapi penganiayaan sebagai akibat dari iman mereka tidak dapat dihindari. Sesuai dengan kepastian akan adanya penderitaan itu, Yesus kembali menjanjikan kedatangan Roh Kudus. Ia menjelaskan bahwa setelah masa kesedihan dan kekecewaan yang mendalam, para pengikut-Nya akan mengalami sukacita dan kejelasan yang besar. Ini diakhiri dengan janji yang sangat dikasihi bahwa Kristus telah “mengalahkan dunia.”

Yohanes 16:25-33 melengkapi kombinasi dorongan dan peringatan Kristus saat Ia mempersiapkan para murid untuk penangkapan-Nya yang akan datang (Yohanes 18:1-3). Bagian ini merangkum pesan umum dari wacana itu: bahwa kesulitan dan penganiayaan akan datang, tetapi orang percaya harus tetap setia, mengetahui bahwa ini semua adalah bagian dari pengetahuan Allah dan kehendak-Nya. Alih-alih bereaksi dengan panik atau ragu, para pengikut Kristus harus merasakan kedamaian. Keyakinan ini diilhami oleh pengetahuan bahwa tidak ada yang mereka alami yang mengejutkan Allah. Ungkapan “kuatkan hatimu” menyiratkan keberanian: mengetahui kemenangan Kristus akan mengatasi semua masalah itu.

Perkataan Kristus, yang dicatat di sini, termasuk yang paling dihargai dalam Injil Yohanes. Pernyataan ini menggabungkan pengajaran, peringatan, dan dorongan. Menjadi seorang Kristen tidak menjamin kehidupan yang mudah. ​​Bahkan, Yesus telah menjelaskan dengan jelas bahwa mengikuti-Nya dapat menuntun pada penganiayaan (Yohanes 16:1-4). Sukacita yang dimiliki oleh orang percaya yang lahir baru berasal dari pengetahuan bahwa Kristus telah memperoleh kemenangan akhir, dan tidak ada apa pun di dunia ini yang dapat membatalkannya (Roma 8:38-39). Bahwa Kristus menjelaskan, sebelumnya, bahwa masa-masa sulit akan datang (Yohanes 15:20-21) seharusnya meyakinkan semua orang percaya: situasi-situasi yang kita hadapi saat ini tidak mengejutkan Tuhan. Tuhan selalu memegang kontrol. God is always in control.

Bukannya bereaksi dalam ketakutan atau kebingungan, semua orang Kristen harus menyadari bahwa pengalaman pahit mereka merupakan bagian dari rencana Allah yang lebih besar. Tidak ada sesuatu pun yang bisa terjadi di dunia jika Tuhan tidak mengizinkannya. Kitab Ibrani, khususnya pasal 11, merayakan para pahlawan iman yang memilih untuk “berpegang teguh” dan percaya kepada Allah. Kepercayaan itu, sebagaimana ditunjukkan oleh Alkitab, harus dipelihara dengan baik, bahkan jika pemenuhan janji-janji Allah belum terjadi sampai saat orang-orang percaya itu meninggal. Itu karena segala sesuatu pasti terjadi pada saat yang ditetapkan Tuhan. Yesus sudah menang atas kematian, kubur dan neraka. Dia akan menghapus air mata kekecewaan dari wajah kita untuk terakhir kalinya dan menunjukkan kepada kita bagaimana penderitaan kita saat ini tidak sebanding dengan sukacita surgawi yang akan kita terima.

“Sebab penderitaan ringan yang sekarang ini, mengerjakan bagi kami kemuliaan kekal yang melebihi segala-galanya, jauh lebih besar dari pada penderitaan kami.” 2 Korintus 4:17

Sampai saat kita datang, kekecewaan akan menjadi bagian dari pengalaman manusiawi kita. Ketika kita mengalaminya, dan karena itu kita boleh saja menangis. Dengan bantuan Roh Kudus, kita dapat dengan sungguh hati menyatakan harapan-harapan kita, memperoleh penghiburan dalam janji-janji Tuhan, membawa keinginan-keinginan kita kepada-Nya, dan berserah kepada kehendak-Nya. Dengan kekuatan kita sendiri, ini tidak mungkin, tetapi dengan bantuan Tuhan kita dapat melakukannya. Setiap kekecewaan baru membawa kesempatan lain untuk memercayai-Nya. Ketika kita melakukannya, Dia menghibur hati kita dan menumbuhkan iman kita. Semoga Tuhan memberi kita ketabahan yang makin besar dalam menghadapi hidup ini.

Yakinkah Anda akan keselamatan Anda? Bagian 3

“Sebab banyak yang dipanggil, tetapi sedikit yang dipilih.” Matius 22:14

Manakah yang lebih banyak penghuninya, surga atau neraka? Manakah yang lebih populer, surga atau neraka? Pertanyaan ini dijawab oleh Yesus sendiri: “Masuklah melalui pintu yang sesak itu, karena lebarlah pintu dan luaslah jalan yang menuju kepada kebinasaan, dan banyak orang yang masuk melaluinya; karena sesaklah pintu dan sempitlah jalan yang menuju kepada kehidupan, dan sedikit orang yang mendapatinya.” (Matius 7:13–14).

Hanya mereka yang menerima Yesus Kristus dengan iman sejatilah yang diberi hak untuk menjadi anak-anak Allah: ” Tetapi semua orang yang menerima-Nya diberi-Nya kuasa supaya menjadi anak-anak Allah, yaitu mereka yang percaya dalam nama-Nya”(Yohanes 1:12). Yesus pernah berkata: ”Akulah jalan dan kebenaran dan hidup. Tidak ada seorang pun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku.” (Yohanes 14:6). Kita tidak dapat masuk surga melalui Muhammad, Buddha, atau dewa-dewa palsu buatan manusia lainnya. Kita juga tidak dapat ke surga melalui amal-sedekah. Kehidupan kekal bukanlah untuk mereka yang menginginkan jalan yang bisa dibeli dan mudah dicapai, menuju surga sambil terus menjalani kehidupan mereka yang egois dan duniawi. Yesus hanya menyelamatkan mereka yang sepenuhnya percaya kepada-Nya sebagai Juruselamat (Kisah Para Rasul 4:12). Apakah Anda termasuk dalam kelompok ini? Marilah kita meneliti pilihan kita.

Ada dua pintu gerbang dalam Matius 7:13–14? Keduanya adalah pintu masuk ke dua “jalan” yang berbeda. Gerbang yang lebar mengarah ke jalan atau jalan yang lebar. Gerbang yang kecil dan sempit mengarah ke jalan yang sempit. Jalan yang sempit adalah jalan orang saleh, dan jalan yang lebar adalah jalan orang fasik. Jalan yang lebar adalah jalan yang mudah. ​​Jalan itu menarik dan memanjakan diri sendiri. Jalan itu permisif. Jalan itu adalah jalan dunia yang inklusif, dengan sedikit aturan, sedikit batasan, dan lebih sedikit persyaratan.

Toleransi terhadap dosa adalah norma di mana Firman Tuhan tidak dipelajari dan standar-Nya tidak diikuti. Jalan ini tidak mengembangkan atau memperjuangkan kedewasaan rohani, karakter moral, komitmen, atau pengorbanan. Jalan ini melibatkan ketaatan kepada “penguasa kerajaan angkasa, yaitu roh yang sekarang sedang bekerja di antara orang-orang durhaka.” (Efesus 2:2). Jalan yang disangka orang lurus, tetapi ujungnya menuju maut.” (Amsal 14:12).

Mereka yang mengkhotbahkan injil inklusivitas di mana “semua jalan menuju surga” mengkhotbahkan injil yang sama sekali berbeda dari yang dikhotbahkan Yesus. Gerbang penipuan, keegoisan, dan kesombongan adalah gerbang dunia yang lebar yang menuju neraka, bukan gerbang sempit yang menuju kehidupan kekal. Kebanyakan orang menghabiskan hidup mereka mengikuti orang banyak yang berada di jalan yang lebar, melakukan apa yang dilakukan orang lain, dan mempercayai apa yang diyakini orang lain.

Mereka yang mengkhotbahkan injil ekslusivitas di mana “asal terpilih akan ke surga” juga menyampaikan pesan yang keliru karena pertimbangan akan hidup suci dan ketaatan kepada firman Tuhan dinomer-duakan atau diabaikan. Mereka yang tidak mempunyai moral yang baik dan hidup dalam dosa adalah orang yang memilih jalan yang lebar, yang menju ke arah kebinasaan.

Jalan yang sempit adalah jalan yang sulit, jalan yang penuh tuntutan. Itu adalah jalan yang rendah hati, dan mereka yang menjalaninya menyadari bahwa mereka tidak dapat menyelamatkan diri mereka sendiri dan harus bergantung pada Yesus Kristus saja. Itu adalah jalan penyangkalan diri dan salib. Fakta bahwa sedikit yang menemukan jalan Tuhan menyiratkan bahwa tidak banyak yang berusaha menemukannya. Namun, Tuhan berjanji bahwa semua yang mencarinya dengan tekun akan menemukannya: “Kamu akan mencari Aku dan menemukan Aku, apabila kamu mencari Aku dengan segenap hatimu” (Yeremia 29:13).

Tidak seorang pun akan tersandung ke dalam kerajaan surga atau berjalan melalui pintu gerbang yang sempit secara kebetulan atau tanpa kesadaran dan kemauan. Seseorang pernah bertanya kepada Yesus, “Tuhan, sedikit sajakah orang yang diselamatkan?” Jawab Yesus kepada orang-orang di situ: ”Berjuanglah untuk masuk melalui pintu yang sesak itu! Sebab Aku berkata kepadamu: Banyak orang akan berusaha untuk masuk, tetapi tidak akan dapat.” (Lukas 13:23–24).

Banyak orang akan ingin masuk dari pintu yang sempit itu, pintu keselamatan, tetapi “tidak akan dapat.” Mengapa? Mereka tidak mau percaya kepada Yesus saja. Mereka tidak mau meninggalkan dunia dan daya tariknya. Jalan Kristus adalah jalan salib, dan jalan salib adalah jalan penyangkalan diri. Yesus berkata, “Setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya setiap hari dan mengikut Aku. Karena barangsiapa mau menyelamatkan nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya; tetapi barangsiapa kehilangan nyawanya karena Aku, ia akan menyelamatkannya.” (Lukas 9:23–24). Ini adalah perintah Tuhan yang mutlak tapi sulit untuk dilakukan. Apakah Anda sudah pernah berusaha?

Yesus tahu bahwa banyak orang akan memilih pintu yang lebar dan jalan yang lebar yang menuju kebinasaan dan neraka. Dan Ia berkata bahwa hanya sedikit yang akan memilih pintu yang sempit. Dengan demikian, menurut Matius 7:13–14, tidak diragukan lagi bahwa lebih banyak orang akan masuk neraka daripada ke surga. Masalahnya, bagaimana orang bisa masuk melalui pintu yang sempit untuk ke surga? Bagaimana kita bisa terhitung dalam kelompaok yang lebih kecil? Ataukah Anda sudah yakin bahwa Anda termasuk dalam kelompok ini?

Matius 22, khususnya ayat ini, menimbulkan ketegangan antara dua gagasan. Kitab Suci tampaknya menyeimbangkan dua konsep yang tidak saling bertentangan, tetapi tumpang tindih dalam cara yang rumit. Di satu sisi adalah pilihan Allah atas mereka yang akan masuk ke dalam kerajaan surga. Di sisi lain adalah perintah bagi orang-orang untuk menerima undangan dan menerima anugerah kasih karunia. Allah memanggil setiap orang untuk datang kepada-Nya melalui iman kepada Kristus (Kisah Para Rasul 4:12). Tetapi, hanya mereka yang dipilih oleh Allah yang akan percaya, dan mereka yang dipilih akan percaya atas pilihan mereka sendiri. Hanya mereka yang benar-benar percaya (Yohanes 3:16-18), mereka yang dengan tulus dan sungguh-sungguh mau menaati panggilan, adalah orang-orang pilihan.

Perlu kita ketahui, ada banyak yang dipanggil atau diundang ke dalam kerajaan, tetapi tidak ada yang dapat datang sendiri. Tuhan harus menarik hati mereka yang datang; jika tidak, mereka tidak akan datang karena tidak mampu.

“Tidak ada seorang pun yang dapat datang kepada-Ku, jikalau ia tidak ditarik oleh Bapa yang mengutus Aku, dan ia akan Kubangkitkan pada akhir zaman.” Yohanes 6:44

Pola ini membantu kita memahami hakikat panggilan dalam perumpamaan ini. Itu adalah panggilan atau undangan Allah melalui hamba-hamba-Nya—nabi dalam Perjanjian Lama, pendeta dalam Perjanjian Baru. Panggilan ini meminta para pendengar untuk bertobat dan percaya pada kabar baik yang diberitakan oleh para hamba. Adalah mungkin untuk menolak, seperti yang dilakukan banyak orang Yahudi dan juga orang zaman sekarang. Yesus mengajarkan bahwa mereka yang menolak panggilan itu bersalah karena menolaknya.

Tidak semua orang yang mendengar Injil menerimanya, tetapi hanya “sedikit” yang memiliki telinga untuk mendengar dan menerimanya. Banyak orang yang mendengar, tetapi tidak ada minat atau ada pertentangan langsung terhadap Tuhan. Banyak orang yang mendengar dan mau berusaha untuk ikut Yesus, tetai mereka masih ingin untuk menikmati hidup duniawi (Matius 19:16-26). Pada pihak yang lain, semua “orang pilihan” Allah akan diselamatkan tanpa kecuali; mereka akan mendengar dan menanggapi karena mereka memiliki telinga rohani untuk mendengar kebenaran. Menurut pikiran manusia, hal seperti ini adalah tidak mungkin, seperti onta yang ingin melewati lunang jarum (Matius 19:25). Tetapi, kuasa Allah memastikan hal ini (Matius 19:26; Roma 8:28-30).

“Kita tahu sekarang, bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah. Sebab semua orang yang dipilih-Nya dari semula, mereka juga ditentukan-Nya dari semula untuk menjadi serupa dengan gambaran Anak-Nya, supaya Ia, Anak-Nya itu, menjadi yang sulung di antara banyak saudara. Dan mereka yang ditentukan-Nya dari semula, mereka itu juga dipanggil-Nya. Dan mereka yang dipanggil-Nya, mereka itu juga dibenarkan-Nya. Dan mereka yang dibenarkan-Nya, mereka itu juga dimuliakan-Nya.” Roma 8:28-30:

Siapakah mereka yang dengan tulus menanggapi panggilan dan menerima Kristus dengan iman? Yesus menyebut mereka sebagai “orang-orang terpilih” atau, sebagaimana kata Yunani tersebut dapat diterjemahkan, orang-orang pilihan. Mereka semua adalah orang-orang yang telah dipilih Bapa di dalam Kristus sejak sebelum dunia dijadikan untuk menjadi kudus dan tak bercacat di hadapan-Nya (Ef. 1:4). Hanya orang-orang pilihan inilah yang akan menjadi bagian dari orang-orang tebusan ketika Kristus kembali dalam kemuliaan. Pilihan kekal Allah memastikan bahwa mereka akan menanggapi panggilan tersebut dengan tulus. Panggilan eksternal ditujukan kepada semua orang. Itu adalah panggilan Allah melalui pesan Injil. Panggilan ini memanggil pria dan wanita untuk datang kepada Kristus melalui pertobatan dan iman. Namun, hanya orang pilihan yang mengalami panggilan internal. Bagi mereka, Injil memang kekuatan Allah yang menyelamatkan.

“Sebab aku mempunyai keyakinan yang kokoh dalam Injil, karena Injil adalah kekuatan Allah yang menyelamatkan setiap orang yang percaya, pertama-tama orang Yahudi, tetapi juga orang Yunani.” Roma 1:16

Semoga Anda yakin akan keselamatan Anda.

Yakinkah Anda akan keselamatan Anda? Bagian 2

“Dan inilah kesaksian itu: Allah telah mengaruniakan hidup yang kekal kepada kita dan hidup itu ada di dalam Anak-Nya. Barangsiapa memiliki Anak, ia memiliki hidup; barangsiapa tidak memiliki Anak, ia tidak memiliki hidup. Semuanya itu kutuliskan kepada kamu, supaya kamu yang percaya kepada nama Anak Allah, tahu, bahwa kamu memiliki hidup yang kekal.” 1 Yohanes 5:11-13

Jaminan keselamatan, secara sederhana, adalah mengetahui dengan pasti bahwa Anda diselamatkan. Banyak orang Kristen sepanjang sejarah telah menulis tentang pergumulan mereka dalam usaha untuk memperoleh kepastian keselamatan. Hal ini sering membuat mereka sedih dan menderita, karena sekalipun mereka sudah berusaha menjalani hidup sebagai orang Kristen, mereka tidak yakin kalau Tuhan mau memilih mereka. Bagaimana dengan Anda?

Dalam teologi Reformed, kepastian keselamatan merupakan topik yang masih sering diperdebatkan, sekalipun penganutnya percaya bahwa Tuhan sudah memilih umat-Nya hanya berdasarkan pilihan-Nya dan keselamatan yang di karuniakan-Nya tidak akan bisa hilang. Ada yang berpendapat bahwa Allah memberikan kepastian tentang keselamatan kepada anak-anak-Nya melalui Roh Kudus, yang memungkinkan mereka mengetahui bahwa mereka telah diselamatkan. Yang lain, seperti yang dinyatakan dalam Konsili Trente, berpendapat bahwa seseorang memang belum tentu bisa yakin bahwa mereka telah ditakdirkan untuk selamat. Tidak ada orang yang tahu tentang nasib akhirnya kecuali Tuhan sendiri. Jika ini benar, sungguh malang nasib orang Kristen selama hidup di dunia, seperti seorang anak yang tidak yakin kalau ia dikasihi orang tuanya.

Kita cenderung mencari kepastian keselamatan dalam hal-hal yang Tuhan lakukan dalam hidup kita, dalam pertumbuhan rohani kita, dalam perbuatan baik dan ketaatan kepada Firman Tuhan yang nyata dalam perjalanan hidup kita sebagai orang Kristen. Meskipun hal-hal ini dapat menjadi bukti keselamatan, hal-hal tersebut bukanlah yang seharusnya menjadi dasar kepastian keselamatan kita. Sebaliknya, kita harus menemukan kepastian keselamatan kita dalam kebenaran objektif Firman Tuhan. Kita harus memiliki keyakinan yang kuat bahwa kita diselamatkan berdasarkan janji-janji yang telah Tuhan nyatakan, bukan karena pengalaman subjektif kita.

Bagaimana Anda dapat memperoleh kepastian keselamatan? Pertimbangkan ayat di atas. Allah telah mengaruniakan hidup yang kekal kepada kita dan hidup itu ada di dalam Anak-Nya. Barangsiapa memiliki Anak, ia memiliki hidup; barangsiapa tidak memiliki Anak, ia tidak memiliki hidup. Fakta ini ditulis rasul Yohanes agar mereka yang percaya kepada Yesus, tahu bahwa mereka memiliki hidup yang kekal. Dengan demikian, jika Anda memiliki Yesus, Anda memiliki hidup. Bukan hidup sementara, tetapi hidup kekal.

“Semuanya itu kutuliskan kepada kamu, supaya kamu yang percaya kepada nama Anak Allah, tahu, bahwa kamu memiliki hidup yang kekal.” 1 Yohanes 5:13

Allah ingin kita memiliki kepastian keselamatan kita. Kita seharusnya tidak menjalani kehidupan Kristen kita dengan bertanya-tanya dan khawatir setiap hari apakah kita benar-benar diselamatkan. Itulah sebabnya Alkitab membuat rencana keselamatan begitu jelas. Dengan menghayati Firman Tuhan, Anda tidak akan meragukan kenyataan keselamatan kekal Anda.

Kepastian datang melalui bukti kehidupan yang berubah. Kepastian diteguhkan di dalam diri kita saat kita melihat Allah membentuk kita menjadi serupa dengan gambar Yesus Kristus. Semua orang yang telah dilahirkan kembali akan melihat bukti yang jelas tentang kehidupan baru di dalam Kristus. Meskipun kita tidak akan pernah menjadi sempurna dalam hidup ini, kita akan mengalami kehidupan yang berubah. Transformasi batin inilah yang memberikan peneguhan yang kuat tentang keselamatan kita.

Rasul Yohanes menulis dalam 1 Yohanes 2:3: “Dan inilah tandanya, bahwa kita mengenal Allah, yaitu jikalau kita menuruti perintah-perintah-Nya.” Dengan kata lain, kita dapat yakin bahwa kita mengenal Kristus saat kita melihat di dalam diri kita ada ketaatan yang diinginkan Allah. Ketika kita melihat buah rohani ini dihasilkan oleh Roh Kudus dalam hidup kita, kita dapat yakin bahwa Kristus hidup di dalam kita. Dalam Yesus kita harus juga yakin bahwa keselamatan adalah anugerah Allah yang ditawarkan kepada semua orang dan diberikan kepada mereka yang percaya melalui pekerjaan Roh Kudus.

Namun, ada hal lain yang membuat banyak orang Kristen khawatir. Paulus menulis dalam Kolose 1:21-23: “Juga kamu yang dahulu hidup jauh dari Allah dan yang memusuhi-Nya dalam hati dan pikiran seperti yang nyata dari perbuatanmu yang jahat, sekarang diperdamaikan-Nya, di dalam tubuh jasmani Kristus oleh kematian-Nya, untuk menempatkan kamu kudus dan tak bercela dan tak bercacat di hadapan-Nya. Sebab itu kamu harus bertekun dalam iman, tetap teguh dan tidak bergoncang, dan jangan mau digeser dari pengharapan Injil, yang telah kamu dengar dan yang telah dikabarkan di seluruh alam di bawah langit, dan yang aku ini, Paulus, telah menjadi pelayannya.”

Teks ini tampaknya menyatakan bahwa keselamatan dapat hilang karena itu bergantung pada ketekunan atau kelanjutan iman kita. Itu bukan kesimpulan yang sepenuhnya benar dari teks ini. Namun ayat itu tidak salah karena kita memang harus bertekun.

Teks tersebut mengatakan kita telah diperdamaikan jika kita terus bertekun dalam iman. Itu syarat yang nyata. Jika kita tidak terus bertekun dalam iman — yaitu, jika kita membuang iman, meninggalkan Yesus Kristus, menentang Dia dan kebenaran-Nya, tidak pernah bertobat — kita akan binasa. Itulah yang dikatakan dalam 1 Yohanes 2:19 tentang mereka yang murtad: “Memang mereka berasal dari antara kita, tetapi mereka tidak sungguh-sungguh termasuk pada kita; sebab jika mereka sungguh-sungguh termasuk pada kita, niscaya mereka tetap bersama-sama dengan kita. Tetapi hal itu terjadi, supaya menjadi nyata, bahwa tidak semua mereka sungguh-sungguh termasuk pada kita.”

Dua hal penting dijelaskan dengan jelas dalam teks itu. Pertama, jika kita tidak bertekun dalam iman, kita tidak pernah benar-benar berasal dari Allah dan umat Allah — tidak pernah dilahirkan dari Allah. “Mereka keluar, supaya menjadi jelas, bahwa tidak semua dari mereka termasuk kita” . Artinya, mereka tidak pernah dilahirkan dari Allah.

Kedua, jika kita dilahirkan dari Allah, katanya, kita akan bertekun. Mereka akan bertekun. “Jika mereka termasuk kita” — yaitu, di antara mereka yang dilahirkan dari Allah — “mereka akan tetap bersama-sama dengan kita.” Jadi tidak perlu ada pemikiran tentang kehilangan keselamatan: tidak perlu ada pemikiran tentang dilahirkan kembali dan kemudian ternyata tidak dilahirkan kembali, dibenarkan dan kemudian ternyata tidak dibenarkan, memiliki hidup kekal dan kemudian ternyata itu tidak kekal sama sekali.

Mungkin Anda masih bertanya bagaimana mungkin ada syarat dalam Kolose 1: 23 jika Anda tidak dapat kehilangan rekonsiliasi Anda dengan Allah?

“Sebab itu kamu harus bertekun dalam iman , tetap teguh dan tidak bergoncang, dan jangan mau digeser dari pengharapan Injil, yang telah kamu dengar dan yang telah dikabarkan di seluruh alam di bawah langit, dan yang aku ini, Paulus, telah menjadi pelayannya.” Kolose 1:23

Dan jawabannya adalah bahwa Allah menggunakan peringatan tersebut untuk membuat anak-anak-Nya bertekun, dan Dia mengamankan ketekunan mereka, Dia menjaminnya, dengan kesetiaan-Nya untuk menjaga kita dalam iman. Alkitab dengan jelas mengajarkan bahwa semua orang yang benar-benar dilahirkan kembali pada kenyataannya akan diselamatkan. Mereka akan memenuhi syarat tersebut karena pertolongan Allah.

Jaminan keselamatan dinyatakan dengan tegas dalam Roma 8:30. “Dan mereka yang ditentukan-Nya dari semula, mereka itu juga dipanggil-Nya. Dan mereka yang dipanggil-Nya, mereka itu juga dibenarkan-Nya. Dan mereka yang dibenarkan-Nya, mereka itu juga dimuliakan-Nya.” Ini adalah rantai keselamatan yang tidak terputus. Semua yang dipilih dipanggil, dan semua yang dipanggil dibenarkan, lalu semua yang dibenarkan dimuliakan — tidak ada yang putus sekolah. Ia yang mahatahu sudah memilih umat-Nya dari semula hanya karena kehendak-Nya. Karena itu, keamanan kekal dari orang-orang yang suah dipilih Allah adalah kebenaran alkitabiah.

Pagi ini kita belajar bahwa keselamatan adalah sebuah peristiwa dan sebuah proses. Keselamatan memang ada kaitannya dengan ketekunan. Meskipun demikian — dan ini adalah sesuatu yang sangat mulia — keselamatan sepenuhnya pasti bagi anak-anak Allah yang telah dipilih, dipanggil, dibenarkan, dan percaya. Oleh karena itu, semua peringatan untuk bertekun, semua peringatan dalam Perjanjian Baru, harus ditanggapi dengan serius karena Allah menggunakannya untuk menjaga anak-anak-Nya tetap teguh dalam perjuangan iman. Kita akan diberi-Nya keyakinan akan keselamatan jika kita benar-benar serius dalam menanggapi semua janji-janji dan semua peringatan Kitab Suci. Kita akan hidup bahagia sekarang dan selamanya dalam ketekunan dan kesetian kita kepada Tuhan.

Menghadapi masa depan dengan keyakinan

“Sekalipun aku berjalan dalam lembah kekelaman, aku tidak takut bahaya, sebab Engkau besertaku; gada-Mu dan tongkat-Mu, itulah yang menghibur aku.” Mazmur 23:4

Pernahkah Anda merasa takut? Adalah normal jika orang merasa takut ketika menghadapi situasi tertentu. Rasa takut adalah kemampuan yang diberikan Tuhan kepada setiap manusia agar manusia menyadari adanya bahaya dan mengerti akan batas-batas kemampuannya. Orang yang tidak mengenal takut mempunyai risiko untuk tidak menyadari adanya situasi yang mengancam jiwanya – itu tentu saja bisa membawa bahaya besar.

Dalam bidang medis, situasi yang mengancam jiwa adalah situasi yang memiliki kemungkinan besar menyebabkan kematian jika tidak segera ditangani. Situasi ini memerlukan perhatian medis segera dan dapat mencakup kondisi seperti pendarahan berat, kesulitan bernapas, kehilangan kesadaran, atau cedera serius. Walaupun demikian, seseorang yang selalu memikirkan adanya bahaya dan risiko yang mengancan kesehatannya tentu akan hidup dalam tekanan jiwa karena rasa tahut yang terus menerus (phobia).

Sebenarnya ada banyak hal yang bisa mendatangkan situasi yang bisa mengancam jiwa kita. Hidup memang tidak pernah tanpa tantangan, tetapi keberanian untuk menghadapi tantangan hidup sebenarnya baik untuk kita. Jika kita selalu berusaha menghindari ancaman dan tantangan, mungkin kita harus mengurung diri dalam kandang yang steril. Betapa membosankan dan terbatasnya hidup ini jika kita tidak pernah mau menghadapi tantangan!

Ada orang-orang yang menyebut rasa takut dan kuatir sebagai berkat bagi orang beriman. Saya setuju. Rasa takut kepada Tuhan hanya dimiliki oleh orang percaya. Rasa takut atas hukuman Tuhan hanya dimiliki oleh mereka yang sadar bahwa Tuhan adalah Tuhan yang mahatahu dan mahaadil. Dengan demikian, setiap orang percaya tentunya berusaha untuk menaati firman Tuhan. Walaupun demikian, setiap orang yang takut akan Tuhan tidak dijanjikan untuk mengalami hidup tanpa bahaya. Justru sebaliknya, sebagai orang Kristen kita akan dimusuhi oleh orang dunia dan bisa mengalami banyak tantangan kehidupan.

Beberapa ayat Alkitab membahas konsep ancaman untuk orang percaya. Salah satu yang menonjol adalah Matius 5:11, yang menyatakan, “Berbahagialah kamu, jika karena Aku kamu dicela dan dianiaya dan kepadamu difitnahkan segala yang jahat.”. Selain itu, Matius 10:22 mengatakan, “Kamu akan dibenci semua orang oleh karena nama-Ku.”. Ayat-ayat ini, bersama dengan ayat-ayat lainnya, menunjukkan bahwa penganiayaan dapat menjadi pengalaman umum bagi mereka yang mengikuti Kristus atau menjalani kehidupan yang benar.

Adanya situasi yang mencengkam bisa menjadi sarana penyempurnaan yang berkelanjutan dalam wadah pengudusan Tuhan, sehingga orang Kristen dapat merasakan bahwa ia dijadikan alat yang lebih baik untuk tujuan-Nya. Selain itu, melalui rasa sakit dan penderitaan, seseorang bisa tumbuh dalam karunia rohani tertentu. Misalnya, orang bisa dikaruniai dengan empati yang lebih besar terhadap orang lain serta kemampuan untuk benar-benar mendengarkan hati seseorang yang bermasalah. Berkat lain dari rasa takut adalah bahwa pengalaman seseorang dapat menjadi mercusuar harapan bagi orang lain yang perlu melakukan perjalanan berbahaya melalui “lembah kekelaman” seperti yang tertulis dalam ayat pembukaan di atas.

Dengan 6 ayat, Mazmur 23 termasuk dalam daftar mazmur yang sedikit jumlah ayatnya. Mazmur terpendek dalam Alkitab adalah Mazmur 117, yang hanya terdiri dari dua ayat. Mazmur 117 juga merupakan bab terpendek dalam seluruh Alkitab. Mazmur 23, yang juga cukup pendek, dikenal karena pesannya yang sederhana dan universal tentang kepercayaan kepada Tuhan. Ayat 4 dari Mazmur 23 ini sering dibacakan ketika keadaan yang kurang baik terjadi.

Mazmur 23:4–6 berubah dari suasana dari ketenangan yang digambarkan dalam ayat 1–3. Bagian ini muram, tetapi mengandung kepastian bahwa Tuhan melindungi domba-domba-Nya dan memenuhi hari-hari mereka dengan berkat-Nya. Bagian ini berbeda dari tiga ayat pertama karena berbicara langsung kepada Tuhan, gembala Daud. Dalam ayat 1–3 Daud berbicara tentang Tuhan, tetapi dalam ayat 4–6 ia berbicara kepada Tuhan.

Daud bersyukur atas perlindungan dan bimbingan Tuhan. Domba-domba yang dijaga oleh seorang gembala yang terampil dituntun ke makanan dan air, serta dilindungi dari bahaya. Dengan cara yang sama, Daud memuji Tuhan karena memberinya kedamaian. Pengetahuan tentang perlindungan dan pemeliharaan Tuhan merupakan penghiburan yang luar biasa. Mazmur ini menggabungkan tema-tema tentang berkat, pembelaan, kepastian, dan pemeliharaan dari Tuhan.

Daud dapat berjalan melewati jurang yang gelap, bahkan mungkin kematian, tanpa rasa takut, karena Tuhan berjalan bersamanya. Daud menjelaskan bahwa ia tidak takut karena “Engkau besertaku.” Menarik untuk mengamati bahwa “dalam lembah kekelaman” mendekatkan Daud kepada Tuhan. Ia memanggil Tuhan dengan sebutan “Engkau,” sedangkan di tempat-tempat yang damai ia memanggil Tuhan dengan sebutan “ia.”

Seorang gembala pada zaman Alkitab membawa gada dan tongkat untuk melindungi domba-dombanya. Gada adalah tongkat yang pendek, tebal, dan berat, mirip dengan apa yang orang modern sebut sebagai tongkat pemukul, seperti yang dipakai polisi. Gada ini digantung pada ikat pinggang gembala. Tongkat adalah galah yang panjang dan ringan dengan ujung yang melengkung, yang digunakan gembala untuk memindahkan, menghitung, dan memeriksa domba-dombanya di malam hari ketika mereka kembali ke kandang.

Daud percaya bahwa Tuhan akan melindunginya, sama seperti seorang gembala melindungi domba-dombanya dari binatang yang menyerang. Yesus, Sang Gembala yang Baik, selalu menyertai orang percaya (Yohanes 10:11, 14). Ia berjanji akan selalu menyertai kita (Matius 28:20). Ia menyertai kita saat kita berjalan “dalam lembah kematian” sama pastinya seperti Ia menyertai kita “ke air yang tenang” (Mazmur 23:2). Yesus berkata, “Aku memberikan hidup yang kekal kepada mereka dan mereka pasti tidak akan binasa sampai selama-lamanya dan seorang pun tidak akan merebut mereka dari tangan-Ku.” (Yohanes 10:28).

Pagi ini kita diingatkan bahwa hidup sebagai orang Kristen bukanlah berarti hidup yang penuh kenyamanan. Sebaliknya, hidup kita penuh dengan tantangan karena kita harus berusaha hidup menurut firman Tuhan. Dunia membenci kita, iblis berusaha menjatuhkan kita. Tetapi, satu hal yang kita tahu, seperti Daud yang mempunyai seorang Gembala yang setia, kita pun memiliki Gembala yang sama. Gembala yang tidak penah berubah. Ia mahakuasa dan mahakasih. Ia senantiasa menyertai kita dalam keadaan apa pun. Dengan demikian, adanya rasa takut dan rasa kuatir justru aan membuat kita makin bergantung kepada-Nya.

Kepada Allah pengharapanku
Di darat, laut, di waktu manapun
KepadaNya ‘ku percaya
Bapa di Surga sumber hidupku

Walaupun badai, ombak menderu
Aku berharap pada Allahku
‘Ku tak gentar, kar’na ‘ku tau
Tuhan s’lalu menjaga hidupku

Mengapa aku harus menderita?

Tetapi jawab Tuhan kepadaku: ”Cukuplah kasih karunia-Ku bagimu, sebab justru dalam kelemahanlah kuasa-Ku menjadi sempurna.” Sebab itu terlebih suka aku bermegah atas kelemahanku, supaya kuasa Kristus turun menaungi aku. 2 Korintus 12:9

Hanya sedikit kebohongan yang lebih memikat dan beracun dari klaim bahwa mengikuti Tuhan adalah sarana untuk meraih kesuksesan duniawi (1 Timotius 6:3–5). Alkitab dengan tegas mengajarkan bahwa kehidupan setiap manusia di dunia dapat melibatkan kesulitan, bahkan suatu kepastian bagi umat Kristen yang setia (Yohanes 15:19; 2 Korintus 5:2–6). Karena itu, ajaran eksplisit Yesus adalah bahwa orang Kristen harus siap menghadapi kesulitan, sebuah peringatan yang Ia berikan secara khusus untuk mencegah keputusasaan dalam menghadapi masa-masa sulit (Yohanes 16:33). Mereka yang mengajarkan bahwa kekayaan, penyembuhan, kemakmuran, atau keuntungan lainnya sedang menunggu siapa pun dengan iman yang “cukup”, bukan saja tidak alkitabiah, tetapi berpotensial untuk menghancurkan iman yang ada pada diri seseorang. Pengalaman Paulus dalam merupakan salah satu bukti paling kuat dalam Kitab Suci bahwa “kenyamanan adalah tanda iman” dan bentuk-bentuk lain dari teologi kemakmuran adalah palsu.

Ayat-ayat dalam 2 Krintus 12 mencakup pengalaman surgawi Paulus yang luar biasa (2 Korintus 12:1–3). Momen ini memberinya wawasan yang harus dirahasiakan (2 Korintus 12:4). Karena itu, dengan kerendahan hati semaksimal mungkin, Paulus menggambarkan pengalaman yang mencengangkan. Ia diangkat ke ”surga tingkat ketiga” dan menerima wahyu dari Allah yang tidak dapat ia ungkapkan di bumi. Ia menolak untuk menyombongkannya, tetapi menyebutkannya untuk menjelaskan konsekuensi dari pengalaman itu. Konsekuensi yang serupa bisa dialami oleh setiap orang Kristen, untuk mencegah orang Kristen menjadi sombong.

Untuk mencegah Paulus menjadi sombong tentang wawasan ilahi yang diperolehnya, Allah mengirimkan Paulus sebuah “duri dalam daging” yang tidak disebutkan secara spesifik. Alkitab tidak menjelaskan apakah ini suatu penderitaan yang bersifat fisik atau mental. Yang diceritakan kepada kita hanyalah bahwa seorang yang beriman dan berkomitmen kuat bisa saja terserang penyakit atau menderita, yang menyebabkannya berseru kepada Allah berulang kali memohon keringanan (2 Korintus 12:7–8).

Entah bagaimana, Paulus kemudian memahami bahwa jawaban Allah atas permintaannya adalah “tidak”, dan penolakan ini bersifat permanen alias tidak dapat ditawar. Seperti yang ditunjukkan ayat-ayat sebelumnya, Paulus kemudian menyadari tujuan dari penyakit itu adalah untuk mempertahankan kerendahan hati. “Kelemahan” yang terus-menerus dalam kehidupan Paulus ini membantunya untuk tidak menjadi sombong, dan mengerti bahwa apa yang menjadi kehendak Allah tidak dapat dibantah.

Allah menyatakan bahwa kasih karunia-Nya sepenuhnya mampu menyediakan segala sesuatu yang Paulus butuhkan untuk menanggung penderitaan ini. Allah memberi tahu Paulus bahwa kuasa-Nya menjadi sempurna dalam kelemahan Paulus. Kata Yunani untuk “cukup” di sini adalah arkei, yang menyiratkan ketahanan, kekuatan, atau kepuasan. Paulus telah menulis bahwa ia hanya akan bermegah dalam kelemahannya (2 Korintus 12:5), dan sekarang ia menunjukan antusiasmenya. Ia akan bermegah dengan senang hati tentang kelemahannya, termasuk duri dalam daging ini. Seperti itu, sebagai orang Kristen kita tidak perlu malu atau merasa sedih jika kita mengalami sakit atau penderitaan dalam hidup.

Mengapa seseorang seperti Paulus “merayakan” keadaan yang membebani dia selamanya dengan beberapa pergumulan yang menyakitkan? Karena kuasa Kristus menjadi paling jelas dalam situasi di mana orang percaya merasa paling lemah. Kata yang diterjemahkan sebagai “sempurna” di sini adalah teleitai, yang sebagian besar mengacu pada penyelesaian atau pencapaian. Fokusnya adalah pada sesuatu yang dicapai, bukan pada kekurangan yang disingkirkan. Ini adalah akar kata yang sama yang digunakan oleh Kristus ketika menyatakan “sudah selesai” pada waktu Ia di salib.

Sesudah Yesus meminum anggur asam itu, berkatalah Ia: ”Sudah selesai.” Lalu Ia menundukkan kepala-Nya dan menyerahkan nyawa-Nya. Yohanes 19:30

Ayat pembukaan di atas mengungkapkan beberapa kebenaran tentang bagaimana Allah bekerja dalam kehidupan duniawi orang Kristen:

  • Pertama, Allah bisa menggunakan iblis dan orang-orang jahat di dunia untuk mencapai tujuan-Nya. Sekalipun Allah bukan pembuat kejahatan dan malapetaka, hal-hal yang jahat yang dapat mengganggu umat Tuhan dapat menjadi bagian dari strategi Allah untuk mencapai tujuan-Nya yang tepat di dunia.
  • Kedua, jawaban Tuhan atas doa selalu bergantung pada kehendak-Nya secara keseluruhan. Ia mungkin menjawab “tidak” atas permintaan untuk meringankan beban orang percaya, terlepas dari apakah beban itu berasal dari iblis atau tidak. Jika penderitaan itu membantu orang Kristen untuk lebih taat dan bergantung pada Tuhan, penderitaan itu mungkin sedang menggenapi apa yang Ia inginkan di dalam diri kita.
  • Ketiga, penderitaan itu menunjukkan kepada kita bahwa perhatian utama Tuhan bagi anak-anak-Nya bukanlah untuk membuat kehidupan mereka terasa mudah dan nyaman. Seperti apa yang dialami murid-murid Yesus, tujuan pertama-Nya adalah agar mereka percaya dengan sepenuhnya kepada-Nya. Itu berarti membiarkan Kristus menjadi kuat di tempat-tempat yang membuat kita lemah, dan seperti Ayub, kita tidak membenci-Nya jika Ia membiarkan kita mengalami kelemahan itu.

Maka berkatalah isterinya kepadanya: “Masih bertekunkah engkau dalam kesalehanmu? Kutukilah Allahmu dan matilah! Tetapi jawab Ayub kepadanya: “Engkau berbicara seperti perempuan gila! Apakah kita mau menerima yang baik dari Allah, tetapi tidak mau menerima yang buruk?” Dalam kesemuanya itu Ayub tidak berbuat dosa dengan bibirnya. Ayub 2:9-10

Mungkin Anda pernah membaca the Serenity Prayer atau Doa Ketenangan ditulis oleh Reinhold Niebuhr, seorang teolog Amerika, pada tahun 1930-an. Ia menulisnya sebagai bagian dari sebuah khotbah dan kemudian menyusunnya kembali menjadi versi yang kita kenal sekarang. Tujuan doa tersebut adalah untuk menawarkan suatu kerangka kerja dalam menghadapi kenyataan hidup, mendorong penerimaan terhadap apa yang tidak dapat diubah, keberanian untuk menghadapi apa yang dapat diubah, dan kebijaksanaan untuk membedakan antara keduanya.

O God and Heavenly Father, Grant to us the serenity of mind to accept that which cannot be changed; courage to change that which can be changed, and wisdom to know the one from the other, through Jesus Christ our Lord, Amen.

Ya Tuhan dan Bapa Surgawi, berikanlah kepada kami ketenangan pikiran untuk menerima apa yang tidak dapat diubah; keberanian untuk mengubah apa yang dapat diubah, dan kebijaksanaan untuk membedakan yang satu dari yang lain, melalui Yesus Kristus Tuhan kami, Amin.

Semoga Tuhan memberi kita ketenangan pikiran dan kedamaian!

Apa arti kematian dan kebangkitan Yesus?

“Barangsiapa memiliki Anak, ia memiliki hidup; barangsiapa tidak memiliki Anak, ia tidak memiliki hidup.” 1 Yohanes 5:12

Kemarin kita memperingati hari kematian Yesus di kayu salib. Besok pagi, kita akan memperingati hari kebangkitan-Nya. Jika kita mengerti bahwa kebangkitan Kristus membuktikan bahwa Yesus adalah Tuhan, kita mungkin kurang megerti mengapa Yesus harus mati secara mengenaskan. Mengapa Yesus harus mati? Mengapa Anak Allak bisa ditaklukkan kematian?

Pandangan naturalistik adalah bahwa manusia hanyalah makhluk biologis dan kematian fisik menandai akhir dari keberadaan seseorang. Dalam kematian, eksistensi Anda tidak ada lagi. Iklan bir lama mengungkapkan sentimen yang mengalir dari pandangan ini: “Anda hanya hidup sekali dalam hidup, jadi raihlah semua kesenangan yang bisa Anda nikmati.” Nasihat lain yang senada adalah: “Makan, minum, dan bergembiralah karena besok kita akan mati.” (1 Korintus 15:32).

Kekristenan tidak setuju dengan pandangan di atas. Kekristenan menganggap keberadaan manusia adalah untuk selamanya. Kehidupan memiliki awal pada saat pembuahan tetapi tidak memiliki akhir. Kematian fisik hanyalah sebuah perjalanan menuju alam keberadaan lain di luar kubur. Keberadaan itu mungkin sangat indah atau mimpi buruk yang nyata tergantung pada bagaimana Anda berhubungan dengan pencipta Anda, penulis buku kehidupan dan kematian.

Memang manusia menggunakan istilah “kematian” dalam pengertian populer tentang berakhirnya kehidupan fisik seperti dalam laporan, “Yusuf mati pada usia 110 tahun” (Kejadian 50:26). Sebagai hukuman atas dosa Adam, Allah mengutuk tanah dan segala sesuatu yang berasal darinya: “dengan berpeluh engkau akan mencari makananmu, sampai engkau kembali lagi menjadi tanah, karena dari situlah engkau diambil; sebab engkau debu dan engkau akan kembali menjadi debu.”(Kejadian 3:19).

Dalam ayat pembukaan di atas, Yohanes menggemakan ajaran Yesus yang ditemukan dalam Yohanes 14:6: “Akulah jalan dan kebenaran dan hidup. Tidak ada seorangpun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku.” Yesus yang memiliki hidup dan adalah hidup bagi kita, baik hidup yang berkelimpahan (Yohanes 10:10) maupun hidup kekal (Yohanes 3:16). Salah satu tujuan Yohanes menulis surat ini adalah untuk melawan keputusasaan banyak orang yang takut menghadapi kematian tubuh. Guru-guru palsu, seperti banyak manusia modern, tampaknya, memberi tahu orang-orang percaya bahwa semua manusia tidak bisa memiliki hidup yang kekal (1 Yohanes 2:25–26). Tetapi ini tidak benar, karena mereka yang percaya kepada Yesus adalah orang-orang yang sudah diselamatkan.

Dalam memperingati Jumat Agung dan Paskah, kita mendapat kabar baik bahwa dalam pengertian kematian yang lebih mendalam kita bisa diyakinkan bahwa kita dibenarkan Allah karena Yesus sudah mati menggantikan kita. “Upah dosa ialah maut” (Roma 6:23), yang berarti pemisahan dan keterasingan dari Allah. Inilah yang dialami Yesus di kayu salib sekitar jam kesembilan ketika ia mengutip Mazmur 22:1: “Allah-Ku, Allah-Ku, mengapa Engkau meninggalkan Aku?” (Matius 27:46). Tetapi, Rasul Paulus menjelaskan lagi, “Dia yang tidak mengenal dosa telah dibuat-Nya menjadi dosa karena kita, supaya kita dibenarkan oleh Allah” (2 Korintus 5:21). Inilah tujuan kematian Yesus.

Dari kematian yang Yesus alami terhadap dosa yang kita peringati pada Hari Jumat Agung, kita telah menerima hidup melalui iman kepada-Nya. Hidup, dalam pengertian ini, berarti persekutuan yang penuh kasih yang dipulihkan dengan Pencipta dan Penebus kita. Rasul Yohanes menyatakan: “Barangsiapa memiliki Anak, ia memiliki hidup; barangsiapa tidak memiliki Anak, ia tidak memiliki hidup” (1 Yohanes 5:12).

Hari-hari kita di dunia yang telah jatuh ini dihitung oleh sang pencipta kehidupan dan kematian. Ia memberi kehidupan, dan Ia mengambilnya kembali (Ayub 1:21). Ini adalah hukuman atas dosa dan tindakan belas kasihan dari Sang Pencipta dan Penebus kita. Kita yang beriman tidak harus menanggung rasa sakit dan penderitaan dari keberadaan kita selamanya, tetapi hanya untuk sementara waktu. Yesus tidak berada di kubur untuk selamanya, tetapi bangkit pada hari yang ketiga agar kita ikut dibangkitkan.

Selama hidup di dunia, kita dapat meratap bersama rasul Paulus: “Aku, manusia celaka! Siapakah yang akan melepaskan aku dari tubuh maut ini?” (Roma 7:24). Namun, kita juga dapat bersukacita bersama-Nya: “Syukur kepada Allah melalui Yesus Kristus, Tuhan kita!…Demikianlah sekarang tidak ada penghukuman bagi mereka yang ada di dalam Kristus Yesus” (Roma 7:25a, 8:1). Tidak ada kemungkinan lain, dan kita harus yakin akan hal itu.