O, alangkah dalamnya kekayaan, hikmat dan pengetahuan Allah! Sungguh tak terselidiki keputusan-keputusan-Nya dan sungguh tak terselami jalan-jalan-Nya! Roma 11:33

Banyak orang mencoba menjelaskan bagaimana Allah memilih siapa yang akan diselamatkan dan bagaimana manusia harus menanggapi panggilan itu. Sebagian orang mengatakan bahwa semua tergantung pada pilihan bebas manusia. Yang lain berkata bahwa semuanya adalah keputusan mutlak Allah sejak kekekalan. Tetapi bagaimana jika keduanya benar dalam cara yang tidak bisa kita pahami sepenuhnya?
Beberapa pandangan teologi mencoba menyatukan dua hal itu. Allah memberikan anugerah kepada semua, dan manusia harus merespons dengan benar. Hanya mereka yang tidak menolak anugerah Allah yang akan diselamatkan, tapi kemampuan untuk tidak menolak juga berasal dari anugerah. Hasilnya adalah sebuah logika berputar yang sulit dicerna. Seolah-olah kita diselamatkan karena pilihan kita, tapi tidak juga, karena semuanya berasal dari anugerah Allah.
Jika kita terlalu menekankan logika ini, kita bisa jatuh ke dalam kebingungan — atau lebih parah: merasa lebih unggul karena kita “merespons dengan benar.”
Allah adalah Oknum Ilahi yang berdaulat. Karena itu, saya percaya bahwa pilihan Allah tidak ditentukan oleh tanggapan manusia, namun Dia tetap menghendaki manusia untuk menanggapi panggilan-Nya. Ini bukan kontradiksi. Ini adalah misteri. Dan misteri ini bukan untuk dipecahkan dengan logika manusia, tetapi untuk dihormati dengan iman yang rendah hati.
Kebenaran yang Sederhana Tapi Dalam
Alkitab mengajarkan dua kebenaran besar:
Allah berdaulat dan tidak ada yang bisa mempengaruhi keputusan-Nya (Roma 9:15–16). Manusia sungguh-sungguh bertanggung jawab untuk menanggapi Injil (Roma 10:13).
Apakah kedua hal ini bisa dijelaskan sepenuhnya? Tidak. Tapi keduanya benar.
Itulah sebabnya Paulus — setelah menulis tentang pemilihan, tanggapan manusia, dan keselamatan — tidak mencoba menyimpulkannya dengan logika. Ia malah menyembah:
“Dari Dia, dan oleh Dia, dan kepada Dia segala sesuatu. Bagi Dialah kemuliaan sampai selama-lamanya!” Roma 11:36
Jika Anda diselamatkan hari ini, itu bukan karena Anda lebih bijak, lebih rendah hati, lebih cepat bertobat, atau lebih baik daripada orang lain. Itu karena anugerah Allah telah menembus kelemahan Anda, dan Anda tidak menolak-Nya.
“Aku datang bukan untuk memanggil orang benar, tetapi orang berdosa, supaya mereka bertobat.” Lukas 5:32
Karena itu, jika seseorang belum diselamatkan, kita tidak berhak berkata, “Dia lebih buruk dari saya.” Kita hanya bisa berdoa:
“Tuhan, kiranya mereka pun mengalami anugerah seperti yang aku alami.”
Pertanyaan Refleksi
- Apakah saya merasa lebih “rohani” daripada orang lain karena saya merespons Injil?
- Apakah saya bersedia mengakui bahwa keselamatan saya murni karena anugerah Tuhan?
- Bagaimana saya bisa menunjukkan kasih kepada orang yang belum mengenal Yesus, tanpa merasa lebih tinggi dari mereka?
Doa Penutup
Tuhan, aku tidak memahami sepenuhnya bagaimana Engkau memilih dan bagaimana Engkau memanggil. Tapi aku percaya bahwa Engkau adil, penuh kasih, dan tidak pernah gagal. Ajarlah aku untuk tetap rendah hati, dan untuk memuji Engkau, bukan memuji diriku sendiri. Amin.