Mencari ketenangan dalam hidup bermasyarakat

“Dan siapakah yang akan berbuat jahat terhadap kamu, jika kamu rajin berbuat baik? Tetapi sekalipun kamu harus menderita juga karena kebenaran, kamu akan berbahagia. Sebab itu janganlah kamu takuti apa yang mereka takuti dan janganlah gentar.” 1 Petrus 3:13-14

Saya yakin Anda pernah membaca pengalaman Ayub (Ayub 1-4). Ayub, seorang yang saleh dan takut akan Tuhan, pernah mengalami cobaan dan penderitaan yang berat. Ayub kehilangan semua hartanya, anak-anaknya meninggal, dan ia menderita penderitaan fisik yang luar biasa.

Di tengah penderitaannya, Ayub dikunjungi oleh tiga orang sahabat. Meskipun sahabat-sahabat Ayub bermaksud menghiburnya, mereka menuduhnya melakukan dosa pelanggaran hukum Tuhan. Pada pihak yang lain, istri Ayub menganjurkan dia untuk menanggalkan imannya. Hal-hal ini ini bukannya meringankan penderitaan Ayub, tetapi justru membuat Ayub mengalami apa yang bisa membuat dia kuatir, marah, dan takut. Orang-orang yang seharusnya berpihak kepada dia, sekarang ternyata meninggalkan dia sendirian dalam penderitaannya.

“Karena yang kutakutkan, itulah yang menimpa aku, dan yang kucemaskan, itulah yang mendatangi aku. Aku tidak mendapat ketenangan dan ketenteraman; aku tidak mendapat istirahat, tetapi kegelisahanlah yang timbul.” Ayub 3: 25-26,

Kita tidak dapat membayangkan betapa besarnya penderitaan Ayub. Bagi kebanyakan orang, pengalaman pahit dalam hidup yang tidak bisa dibandingkan dengan pengalaman Ayub bisa saja menghancurkan atau mengakhiri hidup mereka. Lalu, bagaimana Ayub bisa survive di tengah orang-orang yang tidak bisa dan tidak mau mendukungnya? Bagaimana kita bisa tetap berdiri teguh jika teman, saudara seiman atau sanak keluarga justru memusuhi kita?

Kita tahu bahwa hidup di dunia penuh dengan masalah dan penderitaan. Walaupun demikian, setiap orang tentunya tetap ingin dan berusaha untuk bisa hidup tenang dan damai sekalipun itu tidaklah mudah untuk dicapai. Dari banyak hal yang bisa membantu usaha kita untuk mencari kedamaian, ada tiga hal yang penting yang bisa kita tiru dari Ayub: tidak kuatir, tidak marah dan tidak takut dalam menjalani hidup sehari-hari.

Pesan 1 Petrus 3:8–22 ditujukan kepada semua orang percaya, memerintahkan orang Kristen untuk bersatu dan menolak membalas dendam ketika disakiti. Petrus mengutip dari Daud dan Yesaya untuk menunjukkan bahwa umat Tuhan selalu dipanggil untuk menolak kejahatan dan berbuat baik. Ini benar bahkan ketika kita menderita. Bahkan, seperti Ayub, mungkin kehendak Tuhan bagi umat-Nya untuk menderita, sebagian, untuk menunjukkan kuasa-Nya. Selain itu, teladan kita yang baik dapat meyakinkan orang lain agar bertobat. Allah bermaksud menggunakan tanggapan kita yang penuh harapan terhadap penderitaan, untuk memancing dunia agar melihat kuasa-Nya di dalam diri kita. Kristus juga menderita dan kemudian mati, dibangkitkan, dan naik ke surga.

Ayat 1 Petrus 3:13 melanjutkan ajaran Petrus kepada orang Kristen tentang hidup rukun dengan sesama (1 Petrus 3:8). Kita harus menolak untuk membalas dendam ketika disakiti, tetapi sebaliknya berbuat baik kepada mereka yang menyakiti atau menghina kita (1 Petrus 3:9). Ayat sebelumnya mengungkapkan bahwa Allah memperhatikan orang benar, bahkan di tengah penganiayaan mereka. Ia memperhatikan keadaan mereka. Ia mendengarkan doa-doa mereka. Dan wajah-Nya menentang mereka yang berbuat jahat kepada mereka.

Di sini, Petrus mengajukan pertanyaan yang tampaknya aneh: siapakah yang akan berbuat jahat terhadap kamu, jika kamu rajin berbuat baik? Pertanyaan ini dapat dibaca dalam dua cara. Pertama, mereka yang ingin bersabar dan berbuat baik, bahkan kepada mereka yang menyakiti mereka, cenderung tidak akan diperlakukan dengan buruk. Tentu saja, di sebagian besar waktu dan tempat, itu benar. Kesabaran dan perbuatan baik kita kepada orang lain jarang membangkitkan keinginan mereka untuk menyakiti kita. Sebaliknya, kemarahan dan keinginan kita untuk membalas dendam justru akan memperburuk suasana.

Namun, seperti yang akan dikatakan Petrus dalam ayat berikutnya, orang Kristen mungkin masih menderita bahkan ketika mereka ingin dan mau berbuat baik. Terkadang, kita dapat menderita karena kita berbuat baik dalam nama Yesus. Pernyataan ini kemungkinan besar berarti bahwa orang Kristen—umat yang diselamatkan dan dipisahkan dari orang dunia oleh Tuhan, yang dijamin oleh-Nya untuk selamanya—tidak dapat benar-benar disakiti oleh siapa pun. Dengan kata lain, orang Kristen mungkin terluka atau bahkan terbunuh demi Yesus dalam hidup ini, tetapi tidak seorang pun dapat mengambil apa pun dari kita yang benar-benar berarti. Semua itu aman di tangan Bapa kita selamanya.

Sebagai orang Kristen, kita mungkin mengalami penderitaan karena perlakuan orang lain,seperti Ayub. Orang yang lain, yang membaca perkataan Petrus hari ini, mungkin sedang menderita karena iman mereka dan semangat mereka untuk memertahankan kebenaran Kristus. Petrus sendiri dianiaya dan dibunuh demi Kristus. Orang Kristen mungkin saja menderita demi kebenaran. Orang Kristen yang ingin melakukan perbuatan baik atas nama Yesus, pada kenyataannya, mungkin saja dicelakai atau dimusuhi karena alasan itu. Ini bukan hanya terjadi dalam masyarakat umum, tetapi juga dalam lingkungan kelurga dan bahkan gereja.

Bagaimana perpektif kita dalam menghadapi penderitaan dalam hidup bermasyarakat? Sejauh ini dalam suratnya, Petrus telah menjelaskan beberapa hal dengan sangat jelas. Orang Kristen memiliki masa depan yang aman dan berlimpah bersama Bapa dalam kekekalan. Orang Kristen dipanggil untuk hidup berbeda dari dunia. Kita harus menjalani kehidupan yang baik, sekarang, demi Yesus. Yesus, teladan kita, menderita demi kebaikan kita, jadi kita tidak perlu heran untuk menderita demi Dia. Bahkan, dalam ayat ini, Petrus menulis bahwa menderita dengan cara seperti itu berarti diberkati. Itu adalah hak istimewa dari orang Kristen sejati untuk bisa merasakan apa yang dialami Kristus.

Pagi ini, sebagai orang Kristen kita dipanggil untuk menolak naluri alami kita untuk takut kepada mereka yang mungkin sering menyakiti kita karena iman kita kepada Kristus. Kita diperintahkan untuk menolak kecemasan kita akan masa depan kita. Selain itu, kita dipanggil untuk bersabar dalam penderitaan sambil memadamkan kemarahan kita kepada orang lain dan kepada Tuhan.

Memasuki tahun baru, Allah tahu isi hati kita

Lalu Ia berkata kepada mereka: ”Kamu membenarkan diri di hadapan orang, tetapi Allah mengetahui hatimu. Sebab apa yang dikagumi manusia, dibenci oleh Allah.” Lukas 16:15

Tahun 2025 adalah tahun baru yang mungkin memberi kita kesempatan untuk memperoleh apa yang lebih dari apa yang sudah kita capai pada tahun yang lalu. Jika itu berarti bahwa kita akan berusaha mencapai penghasilan, kesuksesan, kedudukan, keuangan, dan kesehatan yang lebih baik, kita termasuk sebagian dari kebanyakan orang yang mempunyai harapan dan rencana yang serupa setiap memasuki tahun baru. Walaupun demikian, banyak juga orang yang bertekad untuk menjadi orang yang lebih baik dalam hal kerohanian. Ini bukanlah hal yang mudah dicapai karena apa yang baik untuk manusia, belum tentu dipandang baik oleh Tuhan.

Saat mengajar murid-murid-Nya dan menegur orang-orang Farisi, Yesus memberikan beberapa pelajaran tentang kekayaan dan pengabdian kepada Tuhan. Lukas 16:14–18 menyingkapkan hubungan yang menyimpang antara hati manusia, hukum Taurat, dan kerajaan Allah yang dimiliki orang Farisi. Mereka begitu mencintai uang, sehingga menolak pernyataan Yesus tentang hubungan yang bertentangan antara mengejar kekayaan dan mengikuti Allah. Yesus menunjukkan bahwa ini adalah masalah yang bersumber dari hati mereka, bukan karena adanya Hukum Taurat.

Keadaan serupa terjadi pada zaman ini, dengan adanya perbedaan antara cara hidup Kristen kedagingan dan cara hidup orang Kristen sejati. Penyebab perbedaan ini bukan karena adanya Alkitab yang menuntut kita untuk hidup baik, tetapi karena apa yang ada dalam hati orang percaya, yaitu dosa. Lukas 16 adalah kumpulan ajaran tentang bagaimana orang-orang yang mengutamakan hal-hal duniawi, khususnya uang, menunjukkan bahwa mereka tidak mengasihi Tuhan. Orang-orang Farisi sangat mencintai uang tetapi mengaku mengasihi Tuhan. Yang dapat mereka lakukan hanyalah mengejek Yesus, mencoba mendiskreditkan-Nya di hadapan para murid-Nya (Lukas 16:14). Pada zaman ini, orang Kristen duniawi berbuat hal yang serupa dengan mengaku percaya kepada Tuhan tetapi mengabaikan perintah Tuhan untuk mengasihi-Nya dengan segenap hati, segenap jiwa dan dengan segenap akal budi kita (Matius 22:37-40).

Yesus menyatakan orang Farisi mencoba membenarkan diri mereka di hadapan manusia. Seperti orang Kristen yang rajin ke gereja setiap minggu tetapi menjalani hidup yang salah, mereka mencoba meyakinkan orang lain dan diri sendiri bahwa mereka adalah orang yang saleh, sekalipun mereka sebenarnya hanya berpura-pura. “Semua pekerjaan yang mereka lakukan hanya dimaksud supaya dilihat orang; mereka memakai tali sembahyang yang lebar dan jumbai yang panjang; mereka suka duduk di tempat terhormat dalam perjamuan dan di tempat terdepan di rumah ibadat; mereka suka menerima penghormatan di pasar dan suka dipanggil Rabi.” (Matius 23:5–7).

Yesus juga menceritakan perumpamaan tentang orang Farisi dan pemungut cukai (Lukas 18:9–14). Seorang pemungut cukai yang dibenci masyarakat berdoa kepada Tuhan, meratapi dosanya dalam pertobatan yang rendah hati. Seorang Farisi di dekatnya berdoa agar semua orang mendengar, “Ya Allah, aku mengucap syukur kepada-Mu, karena aku tidak sama seperti semua orang lain, bukan perampok, bukan orang lalim, bukan pezinah dan bukan juga seperti pemungut cukai ini; aku berpuasa dua kali seminggu, aku memberikan sepersepuluh dari segala penghasilanku.” (Lukas 18:11–12). Menurut Yesus, pemungut cukai yang mencari nafkah dengan memeras uang dari orang lain justru dibenarkan oleh Tuhan – bukan orang Farisi. Ini mengherankan. Mengapa demikian?

Perlu kita sadari bahwa setiap manusia sudah berdosa dan tidak layak di hadapan Allah (Roma 3:23). Karena itu, setiap manusia tidak dapat memperbaiki diri mereka dengan usaha sendiri atau melalui keberhasilan yang mereka capai. Hanya Tuhan yang bisa menerima atau menolak manusia. “Pembenaran” Tuhan adalah keadaan manusia yang dinyatakan benar oleh Dia. Itu adalah keputusan dan pernyataan Tuhan yang sesuai dengan adanya iman dan pertobatan kita.

Ketika Yesus berkata, “Allah mengetahui hatimu” dalam Lukas 16:15, Ia berbicara kepada orang-orang Farisi yang menjalani kehidupan ganda. Secara lahiriah, mereka mencari persetujuan publik. Mereka nampaknya berusaha keras untuk mengikuti semua aturan agama dan berusaha keras untuk membuat orang lain terkesan sehingga mereka tampak saleh dan bijaksana. Namun, Allah mengetahui hati mereka. Ia melihat apa yang ada di dalam hati mereka melalui penampilan mereka yang palsu dan saleh.

Orang Farisi tidak dapat dinyatakan benar berdasarkan pekerjaan dan karakter mereka sendiri. Pekerjaan mereka justru membuktikan bahwa karakter mereka berasal dari iblis; mereka adalah pendusta dan kebenaran tidak ada di dalam mereka (Yohanes 8:44). Memang Yesus pernah mengemukakan dua dosa yang dianggap sebagai kekejian dalam Perjanjian Lama: ketidaksetiaan dengan uang (Ulangan 25:13–16; Lukas 16:10–13) dan ketidaksetiaan dalam pernikahan (Ulangan 24:4; Lukas 16:18).

Lukas menyebut orang-orang Farisi ini sebagai “pencinta uang” (Lukas 16:14), dan Yesus berkata kepada mereka, “Kamu suka tampil benar di depan umum, tetapi Allah mengetahui hatimu. Apa yang dihormati dunia ini adalah kekejian bagi Allah” (Lukas 16:15). Yesus baru saja selesai mengajar tentang kekayaan dan harta benda (Lukas 16:1–13). Ia menutupnya dengan peringatan tajam ini kepada orang-orang yang mencoba menjalani kehidupan ganda: “Tak seorang pun dapat mengabdi kepada dua tuan. Sebab jika demikian, ia akan membenci yang seorang dan mengasihi yang lain, atau ia akan setia kepada yang seorang dan tidak mengindahkan yang lain. Kamu tidak dapat mengabdi kepada Allah dan kepada Mamon” (Lukas 16:13).

Allah tahu bahwa, di dalam hati orang-orang Farisi, mereka mengabdi kepada uang. Mereka hanya bermurah hati dengan uang mereka pada acara-acara umum ketika orang lain dapat melihat mereka memberi. Meskipun mereka sangat religius, mereka memupuk nilai-nilai yang tidak bertuhan seperti orang-orang duniawi yang tidak percaya. Mereka bahkan mengklaim bahwa kekayaan mereka adalah upah Allah atas kehidupan mereka yang benar (Lukas 18:9-11). Namun, Yesus dengan keras mengkritik kesalehan lahiriah mereka: “Hati-hatilah, supaya kamu jangan melakukan kebenaran di depan orang lain supaya dilihat mereka. Sebab jika kamu melakukannya, kamu tidak akan memperoleh upah dari Bapamu yang di sorga. Karena itu, apabila kamu memberi kepada orang yang membutuhkan, janganlah kamu memberitakannya dengan terompet, seperti yang dilakukan orang munafik di rumah-rumah ibadat dan di jalan-jalan, supaya kamu dimuliakan. Sesungguhnya Aku berkata kepadamu, mereka telah menerima upah mereka dengan penuh. Tetapi ketika kamu memberi kepada orang yang membutuhkan, jangan biarkan tangan kirimu mengetahui apa yang diperbuat tangan kananmu, supaya pemberianmu itu tersembunyi. Maka Bapamu, yang melihat perbuatan-perbuatan yang tersembunyi, akan membalasnya kepadamu” (Matius 6:1–4).

Allah menegur para pemimpin agama ini karena keserakahan, pemanjaan diri, dan kemunafikan mereka: “Celakalah kamu, ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, hai kamu orang-orang munafik, sebab kamu membersihkan bagian luar dari cawan dan pinggan, tetapi bagian dalamnya penuh dengan keserakahan dan kesenangan. Hai orang Farisi yang buta! Bersihkanlah dahulu bagian dalam dari cawan dan pinggan, maka bagian luarnya juga akan bersih. . . . Kamu seperti kuburan yang dicat putih, yang bagian luarnya tampak indah tetapi bagian dalamnya penuh dengan tulang-tulang orang mati dan segala sesuatu yang najis” (Matius 23:25–27).

Orang Farisi membuktikan bahwa penampilan yang baik bisa menipu mata orang lain. Tetapi, tindakan mereka tidak sesuai dengan siapa mereka sebenarnya di dalam hati mereka. Dalam Alkitab, “hati” mengacu pada kehidupan moral dan spiritual/rohani seseorang. Jika hati kita terisi hal yang baik, kita akan mempunyai kehidupan moral dan rohani yang diminta Tuhan kepada setiap pengikut-Nya.

Pagi ini, kita harus sadar bahwa tantangan Yesus kepada para pemimpin munafik ini sama halnya bagi para pengikut-Nya saat ini. Dalam tahun yang baru ini, kita harus berhati-hati untuk tidak hanya memuliakan Tuhan dengan bibir kita sementara kita hidup seperti orang Kristen duniawi karena hati kita jauh dari-Nya (Matius 15:8; Yesaya 29:13). Kita perlu berfokus untuk membersihkan bagian dalam rumah rohani kita, menangani sikap berdosa dan motif yang salah arah yang sudah kita lakukan pada tahun yang lalu.

“Orang yang baik mengeluarkan barang yang baik dari perbendaharaan hatinya yang baik dan orang yang jahat mengeluarkan barang yang jahat dari perbendaharaannya yang jahat. Karena yang diucapkan mulutnya, meluap dari hatinya.” Lukas 6:45

Apakah Anda sering merasa khawatir?

“Serahkanlah segala kekuatiranmu kepada-Nya, sebab Ia yang memelihara kamu.” 1 Petrus 5:7

Setiap orang pernah khawatir, setiap orang punya kekhawatiran. Itu adalah normal. Orang Kristen pun demikian, dan karena itu ayat di atas adalah sangat relevan. Setiap kali kekhawatiran muncul, kita menyerakannya kepada Tuhan agar kita akan mendapat kelegaan. Ini bukan berarti bahwa kemudian hidup kita akan bebas dari semua kekhawatiran. Kita harus sabar menunggu sampai kita bertemu dengan Tuhan muka dengan muka di surga untuk bisa hidup bebas dari segala penderitaan dan kekhawatiran.

Kekhawatiran dalam hidup di dunia banyak penyebabnya. Memasuki tahun 2025, tentu kita tahu bahwa adanya kebutuhan sehari-hari yang harus kita penuhi, adanya tugas pekerjaan atau pendidikan yang harus kita gumuli, adanya penyakit yang harus kita hindari atau obati, adanya orang-orang yang kurang ramah dan bahkan jahat kepada kita, dan sebagainya, bisa membuat kita khawatir. Ayat di atas sering dipakai sebagai nasihat bagi orang yang mengalami kekawatiran, sekalipun sebenarnya ayat itu muncul dalam konteks pelayanan dan pekerjaan sehari-hari dari orang percaya.

Ayat 1 Petrus 5:1–11 memberikan instruksi khusus kepada para penatua tentang cara memimpin kawanan domba Tuhan dengan rela, bersemangat, dan dengan teladan mereka sendiri. Ayat ini juga berlaku untuk semua orang Kristen dalam kegiatan sehari-hari karena mereka sebenarnya bekerja untuk Tuhan (Kolose 3:23). Petrus menulis bahwa kita semua harus hidup dalam kerendahan hati terhadap satu sama lain dan terhadap Tuhan, yang menentang orang yang sombong. Dalam kerendahan hati, kita menyerahkan kekhawatiran kita kepada Bapa yang peduli pada kita. Dalam kewaspadaan, kita harus tetap berpikiran jernih, waspada terhadap musuh kita, si iblis, yang berusaha menghancurkan kita. Kita melawannya dengan berfokus untuk tetap teguh dalam iman kita, dan memercayai Tuhan untuk menepati janji-janji-Nya.

Ayat di atas menyimpulkan pemikiran yang dimulai di ayat 6: “Karena itu rendahkanlah dirimu di bawah tangan Tuhan yang kuat, supaya kamu ditinggikan-Nya pada waktunya.” Apa artinya? Orang Kristen harus pertama-tama merendahkan diri di bawah tangan Tuhan yang perkasa, percaya bahwa Dia akan meninggikan kita pada waktu yang tepat. Kita harus berhenti mencari kemuliaan atau kepentingan kita sendiri untuk bisa menerima pekerjaan dan tugas kita dan untuk bisa tunduk kepada orang lain. Kemudian, ketika waktunya tepat, Tuhan kita akan menggunakan tangan-Nya yang perkasa untuk meninggikan kita.

Ini adalah kata-kata dorongan yang besar, dan mungkin memberi keyakinan rohani, bagi mereka yang berjuang untuk tunduk kepada otoritas manusia yang sering terasa kejam. Ini berbicara kepada mereka yang bekerja dalam mayarakat, melayani tahun demi tahun tetapi hanya menerima sedikit penghargaan. Ini mendorong semangat mereka yang bertugas untuk menyediakan barang atau jasa yang dianggap kurang berharga dalam negara, masyarakat, gereja dan keluarga. Ketakutan alami manusia mungkin memberi tahu kita bahwa kita menyia-nyiakan hidup kita, kita berada di jalan yang salah, bahwa pilihan kita untuk melayani orang lain dengan rendah hati tanpa imbalan yang jelas adalah bukti bahwa kita adalah orang yang bodoh dan tidak berharga. Ini juga pesan iblis yang sering membuat anak Tuhan hidup dalam kesepian, keraguan, kesedihan dan kekecewaan. Ada rasa kuatir kalau-kalau Tuhan sudah melupakan kita atau bahkan menakdirkan kita untuk menderita.

Petrus menulis bahwa kitalah yang harus mengambil rasa takut itu dan menyerahkannya—melemparkannya—kepada Bapa, Allah kita. Bahkan, ia memberi tahu kita untuk menyerahkan semua penyebab kekhawatiran kita, segala sesuatu yang membuat kita khawatir, dan menyerahkannya kepada Tuhan yang sangat peduli pada kita. Ini bukan janji bahwa Tuhan akan menghilangkan segala sesuatu yang membuat kita khawatir. Selama kita hidup di dunia, Tuhan tidak berkewajiban untuk menandatangani naskah apa pun yang kita tulis untuk-Nya. Tetapi, ini adalah janji bahwa Tuhan yang perkasa akan menerima kekhawatiran kita, dan peduli terhadapnya. Ia akan menanggung kekhawatiran kita bagi kita. Ia dapat dipercaya untuk menanganinya dengan cara yang terbaik.

Pagi ini kita harus sadar bahwa perkataan Petrus adalah sebuah perintah. Bukanlah kehendak Tuhan bagi anak-anak-Nya untuk terus hidup di bawah beban-beban fisik maupun mental. Bukanlah Tuhan yang membuat atau menentukan kita menderita. Jika kita percaya bahwa Tuhan itu perkasa dan peduli pada kita, kita seharusnya menyerahkan kekhawatiran kita kepada-Nya secara teratur setiap hari.

Pemikiran Tahun Baru: Apakah kita sudah termasuk orang baik-baik?

“Sebab bukan apa yang aku kehendaki, yaitu yang baik, yang aku perbuat, melainkan apa yang tidak aku kehendaki, yaitu yang jahat, yang aku perbuat.” Roma 7:19

Bagi Anda yang mengemudi kendaraan bermotor, saya ingin bertanya apakah Anda pernah mendapat “tilang” pada tahun 2024? Kalau ya, tentu Anda berharap untuk tidak ditilang lagi pada tahun yang baru ini. Tilang merupakan singkatan dari Bukti Pelanggaran Lalu Lintas. Tilang adalah sanksi administratif yang diberikan kepada pengendara yang melanggar peraturan lalu lintas. Tilang merupakan bentuk penindakan yang dilakukan oleh polisi lalu lintas (Polantas). Tilang resmi adalah sebuah surat yang berisi informasi mengenai pelanggaran si pengendara.

Di Australia, pemerintah memberikan tilang berdasarkan tingkat kesalahan dan potensi bahaya yang ditimbulkan oleh pelanggaran. Bukan saja orang bisa terkena denda resmi polisi, tetapi mungkin juga kehilangan SIM jika pelanggarannya cukup serius. Di negara bagian Queensland, denda tilang menurut daftar polisi bervariasi antara $200 sampai lebih dari $1500. Sebagian orang berpendapat bahwa tilang hanya merupakan sumber pemasukan dana pemerintah, karena itu mereka sangat anti tilang. Tetapi, tanpa adanya tilang mungkin banyak orang akan mengabaikan cara mengemudi yang baik dan peraturan lalu lintas. Sekalipun kelihatannya ada banyak orang yang terkena tilang setiap hari, menurut data survey 90% pengemudi di Australia tidak pernah mendapat tilang selama setahun yang lalu.

Tentu saja, jika kita ditilang polisi ada perasaan kurang nyaman di hati kita. Bagi sebagian pengemudi, mungkin ada rasa malu kepada teman atau sanak. Sebagian lagi mungkin merasa menyesal karena kesalahan yang tidak disengaja telah berakibat denda. Tetapi sebagian lagi mungkin merasa geram karena merasa bahwa kesalahan yang dianggap kecil sudah berakibat hukuman yang dirasa sangat merugikan. Karena itu, bagi orang yang sering terkena tilang, mungkin ada pemikiran betapa enaknya jika tilang ditiadakan. Sudah tentu itu tidak mungkin terjadi, karena adanya hukum selalu disertai dengan hukuman yang berupa denda dan bahkan penjara bagi mereka yang melanggarnya. Di mana pun, adanya hukum adalah berguna untuk menunjukkan kesalahan seseorang dan mengajarnya untuk tidak berbuat apa yang keliru di masa depan.

Jika orang bisa menaati peraturan lalu lintas dan berhati-hati dalam mengemudi sehingga tidak pernah mendapat tilang, lain halnya dengan hukum Tuhan. Roma 7:7–25 menyelidiki hubungan antara hukum Musa dan dosa manusia. Paulus menegaskan bahwa hukum adalah cara ia mengetahui dan memahami dosa, secara umum, dan dosanya sendiri secara khusus. Ia juga menjelaskan bagaimana mengetahui hukum Taurat tidak bisa membuat seseorang lebih suci; hukum justru dapat menggoda kita untuk berbuat dosa lebih banyak lagi karena godaan dosa lebih besar dari ancaman hukuman Tuhan yang mungkin tidak segera harus dialami. Itu karena banyak orang yang merasa senang jika bisa mengelabui hukum Tuhan. Paulus sebagai seorang Kristen sebenarnya ingin melakukan apa yang benar, tetapi mendapati dirinya justru melakukan apa yang berdosa. Paulus menyadari ketidakmampuan alaminya untuk melakukan yang benar dan menyadari kebutuhannya untuk dibebaskan dari dosa oleh Allah melalui Yesus.

Mengenai hukum Taurat, Paulus menegaskan bahwa hukum itu kudus dan baik dalam arti bahwa hukum itu menyingkapkan kepada semua orang yang mencoba mengikutinya betapa lemahnya kita terhadap godaan dosa dan begitu berdosanya kita. Hukum itu menunjukkan kepada kita bahwa tidak peduli seberapa baik niat kita, kita tetap akan berdosa dan membutuhkan pembebasan yang hanya tersedia melalui iman kepada Yesus. Kita sendiri tidak akan mampu untuk sepenuhnya hidup sesuai dengan kehendak Tuhan, dan karena itu tidak mungkin bisa bebas dari hukuman dosa, yaitu kematian di hadapan Allah yang mahasuci.

Dalam ayat sebelumnya, Paulus menyatakan bahwa tidak ada yang baik yang tinggal dalam dagingnya. Dengan daging, ia merujuk pada dirinya sendiri, tubuhnya. Tahun demi tahun, ia mengulangi pola yang telah ia amati berulang kali dalam hidupnya: Ia tidak melakukan kebaikan yang ingin ia lakukan, tetapi ia terus melakukan kejahatan yang tidak ingin ia lakukan. Paulus menggambarkan pertikaian yang tak berkesudahan antara niat baik dan tindakan nyata.

Apakah ia menggambarkan dirinya sebagaimana adanya sebelum ia mengenal Kristus? Saat itu, ia berusaha mengikuti hukum Musa. Beberapa teolog percaya bahwa Paulus menggambarkan gambaran tentang bagaimana rasanya hidup di bawah hukum tanpa kemampuan untuk menaati hukum. Teolog lainnya berpikir bahwa Paulus menggambarkan pengalaman semua orang Kristen yang berjuang untuk berhenti berbuat dosa dan melakukan kebaikan yang mampu mereka lakukan dalam kuasa Roh Kudus sekarang karena mereka tidak lagi menjadi budak dosa. Kedua pendapat itu selaras dengan pengalaman orang percaya dan informasi yang disajikan dalam ayat-ayat Perjanjian Baru lainnya. Walaupun demikian, berdasarkan analisa bahasa Yunani dari ayat di atas, tampaknya Paulus berbicara tentang pengalamannya saat ini. Orang Kristen mana pun tidak mungkin menjadi “orang baik” yang bisa menaati 100% hukum Taurat. Jika demikian, mengapa kita harus berusaha untuk menaati firman Tuhan?

Sewaktu saya masih kecil, memang saya sering mendengar bahwa harapan orang tua untuk anak-anaknya adalah agar mereka menjadi “orang baik-baik”. Dalam soal mencari menantu pun mereka ingin mendapat orang baik-baik, biarpun tidak kaya atau pandai. Di zaman sekarang, jarang saya temui orang tua yang membanggakan anak menantunya karena mereka adalah orang baik-baik. Mungkin saja, jika orang tidak pernah dipenjara dan bersal dari keluarga terpandang, ia sudah termasuk orang baik-baik. Biasanya orang sekarang senang menceritakan keberhasilan anak menantu dalam karir dan keuangan. Malahan di beberapa gereja pun, hal kesuksesan lebih didengung-dengungkan daripada hal menjadi orang yang taat kepada Tuhan. Keberhasilan dianggap sama dengan, atau tanda dari, “kebaikan” seseorang. Bukankah itu karena Tuhan memberkati orang yang baik?

Jika masyarakat umum sekarang sudah mengabaikan hal menjadi orang baik yang talut akan Tuhan, mungkin ada beberapa alasan orang Kristen yang menyebabkan mereka bersikap acuh tak acuh akan perlunya hidup baik:

  • Semua orang pada waktunya akan menjadi orang baik.
  • Baik atau buruk kita tidak bisa memilih karena sudah ditentukan Tuhan.
  • Orang yang terlalu baik biasanya tidak bisa sukses.
  • Orang yang benar-benar baik itu tidak ada.
  • Kebaikan itu tidak bisa dibanggakan.
  • Baik atau buruk itu berubah menurut keadaan zaman.
  • Baik atau buruk itu adalah penilaian pribadi.
  • Semua orang juga berbuat hal yang sama.
  • Kita masih lebih baik dari orang lain.
  • Hanya Tuhan yang benar-benar baik.

Jika kita yakin bahwa dalam tahun 2024 hidup kita cukup baik, dan akan menjadi lebih baik di tahun 2025, baiklah kita melihat apa yang dikatakan Alkitab. Kebaikan (bahasa Yunani agathosune) berarti watak atau sifat moral yang baik, yang berusaha tanpa pamrih untuk membuang apa yang jelek dan menggantinya dengan apa yang baik, baik dalam diri sendiri, orang lain dan juga dalam masyarakat, negara atau dunia. Tetapi, biarpun kesadaran moral itu penting, manusia di jaman ini bisa bersembunyi dibalik penampilan sopan atau tindakan sosial yang bisa mempengaruhi pandangan orang di sekitarnya. Pada pihak yang lain, mereka yang punya sarana, kedudukan, dan kemampuan, cenderung memakainya untuk mengejar kesuksesan dan kepuasan untuk diri sendiri dan anak-cucunya tanpa memikirkan hukum Tuhan. Dalam hal ini, Tuhan tidak bisa kita tipu karena Ia melihat apa yang ada dalam hati kita.

” ….. Bukan yang dilihat manusia yang dilihat Allah; manusia melihat apa yang di depan mata, tetapi TUHAN melihat hati.” 1 Samuel 16:7

Apahah kita mau menjadi lebih baik di tahun 2025? Roma 7:19 menyatakan bahwa kita tidak bisa menaati hukum Tuhan dengan usaha sendiri. Walaupun demikian, Tuhan menghendaki kita untuk menjadi kudus, dalam arti terus berusaha untuk hidup kudus. Itu hanya bisa dijalani dengan perjuangan berat, dan untuk itu kita harus mau untuk selalu dekat dengan Tuhan dan mendengarkan bimbingan Roh Kudus-Nya.

tetapi hendaklah kamu menjadi kudus di dalam seluruh hidupmu sama seperti Dia yang kudus, yang telah memanggil kamu, sebab ada tertulis: Kuduslah kamu, sebab Aku kudus. 1 Petrus 1:15-16

Penderitaan kita ada artinya

“Hai kamu, hamba-hamba, tunduklah dengan penuh ketakutan kepada tuanmu, bukan saja kepada yang baik dan peramah, tetapi juga kepada yang bengis. Sebab adalah kasih karunia, jika seorang karena sadar akan kehendak Allah menanggung penderitaan yang tidak harus ia tanggung.” 1 Petrus 2: 18-19

Mungkin Anda pernah membaca bahwa pandemi Covid-19 yang lalu tidak hanya membawa sakit jasmani, tetapi juga sudah membuat banyak orang mengalami berbagai masalah kejiwaan. Memang, dalam kasus long Covid ada sejumlah penderita yang tetap memiliki keluhan fisik atau mental selama berbulan-bulan atau bahkan bertahun-tahun setelah gejala awal muncul.

Mengenai gangguan mental, itu bukan hanya bisa disebabkan oleh Covid-19, tetapi adalah salah satu masalah kesehatan yang terbesar yang bisa dialami masyarakat di negara mana pun, yang bisa bertalian dengan berbagai masalah sosial dan ekonomi.

Banyak orang yang mengalami masalah kehidupan yang berat, merasa tertekan dan bertanya-tanya mengapa itu harus terjadi, dan pertanyaan itu adalah wajar. Mereka yang harus menderita bukan karena perbuatan mereka, tentu saja sulit untuk mengerti mengapa ketidak-adilan harus mereka alami karena tindakan orang lain. Dan mereka yang sudah bekerja keras tetapi tetap mengalami kesulitan ekonomi sering merasa bahwa usaha mereka sia-sia. Mereka yang tidak tahan menghadapi penderitaan hidup seperti ini, kemudian bisa mengalami tekanan batin yang besar.

Dalam ayat 18, rasul Petrus menulis bahwa budak-budak Kristen harus tunduk kepada tuan mereka. Perlu dicatat, perbudakan” di era Alkitab bukanlah konsep perbudakan dengan penindasan seperti yang mungkin sering kita lihat di layar perak. Para budak di Alkitab pada umumnya sudah dianggap sebagai pembantu rumah tangga dan sering mendapat kepercayaan dari majikan mereka. Walaupun demikian, tentu ada budak-budak yang merasa bahwa mereka tidak mendapat perlakuan yang baik dari majikan mereka.

Penting untuk diingat bahwa banyak pembaca Kristen Petrus adalah budak, dan sangat mungkin menghadapi perlakuan buruk dari tuan mereka. Petrus sangat menyadari hal ini. Di sini, ia mengakui bahwa penderitaan yang tidak adil akan mendatangkan rasa sakit dan/atau kesedihan bagi mereka. Ia tidak menyebut itu hal yang baik. Yang ia sebut hal yang baik adalah dengan sengaja menanggung rasa sakit dan kesedihan itu karena kesadaran akan adanya Tuhan yang berdaulat. Atau, bisa dikatakan, karena kepercayaan dan ketundukan kepada Tuhan.

Sampai sekarang banyak orang yang merasa sudah “diperbudak” oleh atasan. Perasaan tertekan, sedih, dan marah mungkin muncul bersama keinginan untuk memberontak dan membalas dendam. Tetapi, menurut ayat di atas, semua orang Kristen harus tunduk kepada setiap orang yang memiliki otoritas dalam hidup mereka. Ini seperti apa yang dilakukan oleh Yesus.

“Ketika Ia dicaci maki, Ia tidak membalas dengan mencaci maki; ketika Ia menderita, Ia tidak mengancam, tetapi Ia menyerahkannya kepada Dia, yang menghakimi dengan adil.” 1 Petrus 2:23

Dalam ayat 23, Petrus mengingatkan kita bahwa Yesus menanggung rasa sakit dan kesedihan saat diperlakukan tidak adil. Yesus membuat pilihan yang disengaja untuk mempercayakan Diri-Nya kepada hakim yang adil, yaitu Allah Bapa. Jadi, kemampuan untuk menanggung rasa sakit dan kesedihan itu adalah suatu kasih karunia dari Tuhan. Dengan kemampuan itu, kita sadar bahwa Allah kita adalah satu-satunya yang akan menghakimi semua tindakan tersebut pada akhirnya. Dia juga satu-satunya yang memenuhi kebutuhan terdalam kita saat ini.

Secara keseluruhan, 1 Petrus 2:13–25 mengungkapkan kehendak Allah bagi mereka yang merdeka di dalam Kristus: untuk dengan rela tunduk kepada setiap otoritas manusia demi Allah. Ini termasuk kaisar, gubernur, raja, dan bahkan atasan dan majikan. Petrus tidak mendukung perbudakan, tetapi ia memerintahkan “budak-budak Kristen” untuk menanggung penderitaan yang tidak adil, seperti yang Yesus lakukan demi kita di kayu salib.

Petrus menjelaskan secara spesifik tentang apa artinya hidup sebagai umat pilihan Allah. Kristus adalah batu fondasi rumah rohani yang sedang dibangun Allah. Kita harus terlibat dalam pertempuran melawan keegoisan dan keinginan untuk berbuat dosa. Ini termasuk tunduk kepada otoritas manusia, tidak peduli seberapa bengis atau kasarnya. Walaupun demikian, Paulus tidak mengharapkan kita untuk ”taat” ketika perintah itu untuk berbuat dosa. Sebaliknya, orang Kristen dipanggil untuk meniru Kristus dengan menderita karena memilih apa yang baik. Itu berarti siap untuk menanggung penderitaan, seperti yang Kristus lakukan demi kita ketika Dia mati di kayu salib. Peran kita bukanlah untuk berperang secara fisik demi keadilan di dunia, tetapi kita harus sadar bahwa penderitaan kita adalah untuk sementara.

Mengapa kuasa Tuhan agaknya tidak melakukan sesuatu ketika kita menderita dan tertindas? Mungkin pelajaran terbesar yang kita pelajari dari pengalaman Ayub adalah bahwa Tuhan tidak harus menjawab siapa pun atas apa yang Dia lakukan atau tidak lakukan. Pengalaman Ayub mengajarkan kita bahwa kita mungkin tidak pernah tahu alasan spesifik dari penderitaan seseorang, tetapi kita harus percaya kepada Allah kita yang berdaulat, kudus, dan adil.

Mereka yang tetap percaya kepada Tuhan dalam segala keadaan, adalah orang-orang yang percaya bahwa Tuhan yang mahakuasa tentu dapat juga mengubah penderitaan untuk menjadi sukacita. Bagi mereka, kasih dan kemuliaan Tuhan akan terlihat dengan nyata pada akhirnya. Ini jugalah yang sudah terjadi dalam hidup Ayub dan dalam hidup setiap orang yang beriman. Tuhan bukanlah Tuhan yang membiarkan umat-Nya menderita tanpa suatu alasan yang baik.

Adapun Allah, jalan-Nya sempurna; janji Tuhan adalah murni; Dia menjadi perisai bagi semua orang yang berlindung pada-Nya. Mazmur 18: 31

Pagi ini, kita harus sadar bahwa adalah tanggung jawab dan pilihan kita untuk menaati-Nya, memercayai-Nya, dan tunduk pada kehendak-Nya, baik kita bisa memahaminya atau tidak. Karena jalan Tuhan sempurna, kita dapat percaya bahwa apa pun yang Dia lakukan—dan apa pun yang Dia izinkan—juga sempurna.

“Ingatlah selalu akan Dia, yang tekun menanggung bantahan yang sehebat itu terhadap diri-Nya dari pihak orang-orang berdosa, supaya jangan kamu menjadi lemah dan putus asa. Dalam pergumulan kamu melawan dosa kamu belum sampai mencucurkan darah.” Ibrani 12:3-4

Rencana belum tentu menjadi kenyataan

“Jadi sekarang, hai kamu yang berkata: “Hari ini atau besok kami berangkat ke kota anu, dan di sana kami akan tinggal setahun dan berdagang serta mendapat untung”, sedang kamu tidak tahu apa yang akan terjadi besok. Apakah arti hidupmu? Hidupmu itu sama seperti uap yang sebentar saja kelihatan lalu lenyap.” Yakobus 4: 13-14

Apa yang menyebabkan perdebatan dan pertikaian di antara orang-orang Kristen kepada siapa Yakobus menulis suratnya? Mereka hidup dengan hikmat duniawi. Pandangan yang salah ini mengatakan bahwa manusia harus melakukan apa pun untuk mendapatkan apa yang mereka inginkan dalam hidup ini, bahkan jika itu menyakiti atau merugikan orang lain. Yakobus mengatakan bahwa hidup seperti itu adalah seperti perzinahan, karena menolak hikmat Tuhan dan merangkul hikmat dunia.

Yakobus 4:13-17 berfokus pada kesombongan dalam merencanakan kesuksesan kita sendiri tanpa mengakui bahwa kita bergantung pada Allah. Adalah sangat bodoh untuk mengabaikan fakta bahwa kita tidak dapat melihat masa depan. Hidup kita pendek dan rapuh. Ini tidak berarti tidak pernah membuat rencana. Sebaliknya, kita harus selalu membuat rencana dengan kesadaran bahwa rencana itu hanya dapat berhasil jika Allah mengizinkannya. Sikap lain apa pun adalah berdosa, sombong, dan picik.

Memang, pada umumnya orang selalu mempunyai keinginan untuk melakukan atau mendapatkan sesuatu di masa depan. Hal ini lebih umum di kalangan orang yang belum mencapai usia uzur, tetapi sekalipun mereka yang sudah pensiun tidaklah jarang ditemui mereka yang mempunyai rencana masa depan sebelum mereka meninggalkan dunia ini. Masa depan adalah relatif, buat mereka yang masih anak-anak menjadi orang dewasa barangkali tidak atau belum pernah terpikirkan, tetapi mereka yang sudah termasuk dewasa tetapi masih tergolong muda mungkin mempunyai berbagai cita-cita dan rencana hidup yang diharapkan untuk tercapai sebelum datangnya usia tua. “Gantungkanlah cita-citamu setinggi langit”, begitulah nasihat yang sering diberikan kepada orang muda; tetapi bagi yang sudah pensiun mungkin pandangan hidup sudah berubah untuk menerima apa yang ada.

Ayat-ayat di atas menetapkan apa yang harus dilakukan orang Kristen dalam hidup sehari-hari, dalam hal rencana bisnis/kegiatan sehari-hari. Masalahnya di sini bukan pada pembuatan rencana—Yakobus tidak mengatakan bahwa perencanaan adalah dosa, atau bodoh. Masalah yang Yakobus ceritakan, dengan menggunakan contoh ini, adalah sikap mengandalkan diri sendiri. “Besok, aku akan melakukan ini atau itu.” Ayat 16 menunjukkan sikap sombong yang dimaksudkan Yakobus di balik kata-kata ayat ini. Membuat pernyataan seperti itu, karena percaya diri pada kemampuan sendiri, dan tanpa kerendahan hati, adalah tidak bijaksana untuk tidak dikatakan mengundang bencana.

Yakobus telah membahas masalah mengikuti proses berpikir dunia, yang berbeda dengan hikmat Tuhan. Di sini, Yakobus membayangkan seorang pengusaha yang menyatakan bagaimana ia akan menghasilkan lebih banyak uang, bagaimana ia akan mendapatkan apa yang ia inginkan dalam hidup. Dalam konteksnya, ini dimaksudkan sebagai orang yang membuat rencana sesuai dengan pola dunia. Apa yang halal dan lazim di dunia dianggap tidak salah. Sekalipun mereka sadar bahwa itu bukan yang disenangi Tuhan, mereka membuat rencana dan bertekad untuk menaatinya dengan kekuatannya sendiri dan dengan kekuatan kehendaknya sendiri. Sekalipun tidak mengatakannya dengan terang-terangan, mereka pada hakikatnya percaya bahwa itu adalah free will atau kehendak bebas manusia yang diberikan Tuhan. Itu bukanlah kehidupan ketergantungan yang Allah panggil untuk dijalani oleh anak-anak-Nya.

Berlainan dengan pandangan atau kebiasaan umum, buat orang Kristen tujuan hidup bukanlah hanya untuk menggantungkan cita-cita setinggi langit dan berusaha mencapainya, dan juga bukan untuk hidup pasif dan tidak berbuat apa-apa – tetapi untuk memuliakan Tuhan, karena itulah tujuan Tuhan untuk menciptakan manusia. Manusia dari segala bangsa, jenis, status sosial dan umur seharusnya mengabdikan diri mereka selama hidup di dunia untuk kemuliaan Tuhan.

“Semua orang yang disebutkan dengan nama-Ku yang Kuciptakan untuk kemuliaan-Ku, yang Kubentuk dan yang juga Kujadikan!” Yesaya 43: 7

Tambahan pula, Yesus mengatakan bahwa dua hukum utama yang harus dijalankan manusia seumur hidup adalah untuk mengasihi Tuhan dengan segenap hati, jiwa dan akal budi, dan mengasihi sesama manusia seperti mengasihi diri sendiri (Matius 22: 37-40).

Jika tujuan hidup kita adalah untuk memuliakan Tuhan, itu bukan berarti kita tidak boleh berusaha mencapai apa yang bisa dicapai dalam hidup kita, karena Alkitab mengatakan bahwa apapun yang kita perbuat dalam hidup ini, kita harus melakukan semuanya untuk kemuliaan Tuhan. Ini berarti bahwa apa yang kita pikirkan dan rencanakan haruslah mempunyai tujuan agar nama Tuhan dibesarkan. Dengan tidak bersemangat untuk mencapai hasil yang baik atau dengan kepuasan untuk tidak berbuat apa-apa, manusia tidak dapat memuliakan Tuhan.

“Aku menjawab: Jika engkau makan atau jika engkau minum, atau jika engkau melakukan sesuatu yang lain, lakukanlah semuanya itu untuk kemuliaan Allah.” 1 Korintus 10: 31

Dalam kenyataannya, kebanyakan manusia memiliki cita-cita dan membuat rencana untuk dirinya sendiri atau demi anak-cucu. Bukan saja mereka yang muda ingin untuk memperoleh segala kenikmatan duniawi yang ada, mereka yang sudah tua pun jarang memikirkan apa yang harus diperbuat untuk kemuliaan Tuhan dalam sisa hidup mereka. Manusia tidak tahu apa yang terjadi esok hari, tetapi seolah merasa bahwa mereka harus dan akan hidup  untuk mencapai apa yang mereka senangi.

Pagi ini, kita harus menyadari bahwa hidup mati kita bukannya ada di tangan kita, dan karena itu dalam merencanakan segala sesuatu seharusnya kita melakukannya dengan rasa rendah hati dan penyerahan kepada Tuhan. Orang Kristen harus bertobat dan mendekatkan diri kepada Tuhan lagi. Tuhan akan memberikan kasih karunia kepada mereka yang sadar. Kita harus percaya kepada-Nya untuk menyediakan apa yang kita butuhkan, menjadi Hakim kita, dan mengangkat kita pada waktu-Nya.

Dengan rendah hati, kita harus mengakui bahwa semua rencana kita bergantung pada-Nya, dan Dia dapat mengubahnya kapan saja. Manusia memang bisa merencanakan segala sesuatu, tetapi jika itu bukan untuk kemuliaan Tuhan, pada akhirnya semua itu tidak ada gunanya sesudah hidup kita berakhir di dunia ini. Semoga kita bisa mengarahkan hidup kita ke arah yang benar dan mau menyerahkan semua rencana hidup kita ke tangan Tuhan di tahun yang akan datang!

Adakah sesuatu yang pasti di dunia?

“Ingatlah hal itu dan jadilah malu, pertimbangkanlah dalam hati, hai orang-orang pemberontak! Ingatlah hal-hal yang dahulu dari sejak purbakala, bahwasanya Akulah Allah dan tidak ada yang lain, Akulah Allah dan tidak ada yang seperti Aku, yang memberitahukan dari mulanya hal yang kemudian dan dari zaman purbakala apa yang belum terlaksana, yang berkata: Keputusan-Ku akan sampai, dan segala kehendak-Ku akan Kulaksanakan, yang memanggil burung buas dari timur, dan orang yang melaksanakan putusan-Ku dari negeri yang jauh. Aku telah mengatakannya, maka Aku hendak melangsungkannya, Aku telah merencanakannya, maka Aku hendak melaksanakannya.” Yesaya 46:8-11

Hari Natal sudah berlalu, dan beberapa hari lagi kita akan memasuki tahun baru. Hari Natal yang kedatangannya dinantikan setidaknya selama beberapa minggu, ternyata lewat dengan cepat. Tidak demikian dengan tahun baru. Jika hari Natal hanya sehari, tentu kita tahu bahwa tahun 2025 akan datang dan bersama kita selama 365 hari. Oleh karena itu banyak orang yang sudah memikirkan apa yang harus dilakukan pada tahun itu.

Apa yang berjalan kurang lancar di tahun 2024, diharapkan dapat diperbaiki sehingga bisa berjalan lebih baik di tahun yang baru. Pada pihak yang lain, banyak orang yang akan melakukan hal yang sama di tahun 2025 karena sudah terbiasa melakukannya pada tahun 2024. Ini bisa termasuk segala dosa, kebiasaan yang salah, cara bekerja yang kurang jujur, dan cara hidup yang melupakan Tuhan. Jika semua itu sudah dijalani tanpa masalah di tahun 2024, mengapa tidak melakukannya pada tahun 2025? Ini tentu akan membawa sukses di tahun yang baru!

Nabi Yesaya menggambarkan para pengungsi Babel saat mereka melarikan diri dari pasukan Kores, membawa serta harta benda pribadi apa pun yang dapat mereka bawa. Dewa-dewa Babel (dua di antaranya yang paling penting adalah Bel dan Nebo), alih-alih menyelamatkan orang-orang, harus diselamatkan oleh mereka. Jauh dari membantu orang-orang, mereka hanya menjadi penghalang dan beban, menyebabkan keledai dan lembu mengerang karena beban tambahan yang harus mereka bawa (Yesaya 46:1-2). Sebaliknya, keturunan Yakub digendong oleh-Nya. Allah yang menciptakan mereka memelihara mereka, dan akan terus memelihara mereka sampai akhir (Yesaya 46: 3-4). Dewa-dewa dari perak dan emas menghabiskan banyak uang, waktu, dan tenaga para penyembahnya, tetapi mereka tidak dapat melakukan apa pun untuk menyelamatkan para penyembahnya dari masalah (Yesaya 46: 5-7).

Penaklukan Babel oleh Koresh membuktikan kepada orang Babel yang selamat bahwa mengandalkan berhala untuk menang adalah sia-sia. Dewa-dewa kayu tidak dapat meramalkan penaklukan Koresh, tetapi Yahweh, satu-satunya Allah yang benar, telah meramalkannya sejak lama (Yesaya 45: 20-21). Orang-orang dari bangsa-bangsa sekitar mungkin sebelumnya telah berperang melawan Yahweh dengan mengandalkan berhala, tetapi sekarang mereka harus meninggalkan berhala-berhala itu dan tunduk kepada Allah yang hidup. Maka mereka akan menemukan kemenangan, kebenaran dan kekuatan, dan akan bergabung dengan semua umat Allah yang benar dalam mendatangkan pujian kepada-Nya (Yesaya 45: 22-25).

Kota Yerusalem pada masa pemerintahan Manasye merupakan latar belakang dari semua bagian yang menentang penyembahan berhala ini. Yesaya 40:8 mengingatkan kita pada masa Manasye ketika orang Israel sangat menyembah berhala; dan ayat-ayaet di atas harus dianggap ditujukan kepada mereka dan dimaksudkan untuk mengingatkan mereka agar menyembah Allah yang benar.

Seperti itu juga, mungkin kita mempunyai banyak “berhala” dalam hidup kita. Hal mempertahankan kenyamanan hidup, kesehatan, harta, posisi dan kuasa bisa menjadi sesuatu yang menuntut dedikasi penuh kita. Kita mungkin percaya itu adalah kunci keberhasilan kita. Kita mungkin juga percaya selama keluarga kita bersatu, semua persoalan hidup bisa diatasi. Kita lupa bahwa tidak ada satu pun yang pasti dalam hidup ini.

Kita harus sadar bahwa selama hidup di Babel, banyak orang Yahudi pernah tergoda untuk mengikuti cara-cara penyembahan berhala orang Babilonia. Tetapi, mereka diingatkan bahwa hanya Yahweh yang adalah Allah (Yesaya 46:8-9). Masa depan berada di bawah kendali-Nya, dan pada saat yang tepat Ia akan memanggil Koresh untuk datang dan menghancurkan Babilonia serta membebaskan orang-orang Yahudi (Yesaya 46:10-11). Oleh karena itu, orang-orang Yahudi yang dengan keras kepala menolak untuk percaya kepada Allah harus mengubah cara-cara mereka, jika mereka ingin ikut menikmati berkat-berkat Israel yang baru (Yesaya 46:12-13). Kita harus sadar bahwa segala bentuk berhala manusia adalah seperti rumput kering.

“Rumput menjadi kering, bunga menjadi layu, tetapi firman Allah kita tetap untuk selama-lamanya.” Yesaya 40:8

Yesaya 40:8 memiliki makna agar kita ingat dan berdiri teguh, dan tidak bimbang antara penyembahan berhala dan penyembahan kepada Allah. Biarlah kita makin dekat kepada Tuhan dan makin taat kepada firman-Nya di tahun 2025. Kasih Tuhan kepada kita adalah satu-satunya yang bisa kita harapkan sebagai kepastian.

Natal: Janji Allah sudah ditepati

“Aku akan mengadakan permusuhan antara engkau dan perempuan ini, antara keturunanmu dan keturunannya; keturunannya akan meremukkan kepalamu, dan engkau akan meremukkan tumitnya.” Kejadian 3:15

Hari ini adalah hari Natal, hari di mana kita merayakan kelahiran Yesus ke dunia. Ini adalah hari yang sangat signifikan dalam sejarah manusia. Mengapa demikian?

Untuk memahami kisah Natal, kita harus kembali ke masa lampau. Bukan hanya beberapa ribu tahun yang lalu ke saat kelahiran Yesus, tetapi jauh ke masa lampau, kembali ke masa orang tua pertama kita, Adam dan Hawa. Pada mulanya Tuhan menempatkan mereka di taman Eden yang indah. Mereka memiliki semua yang mereka butuhkan. Taman itu sempurna. Kemudian mereka jatuh dalam dosa dan Tuhan mengusir mereka. Sekarang Adam dan Hawa hidup di bawah kutukan. Namun, saat Tuhan mengumumkan kutukan itu, yang menggelegar dari surga, Dia juga memberi mereka sebuah janji.

Kejadian 3 menceritakan kisah tentang surga yang hilang karena kesengajaan manusia berdosa. Manusia pada awalnya diberi setiap hal sempurna yang mereka butuhkan atau inginkan, dan hampir tidak ada batasan. Meskipun demikian, Adam dan Hawa hanya membutuhkan sedikit dorongan dari ular yang berbicara untuk tidak menaati Pencipta mereka yang baik. Dengan munculnya rasa malu dan adanya kutukan Tuhan kepada mereka, kisah yang menyedihkan dari sejarah manusia dimulai dengan keluarnya mereka dari Taman Eden.

Setelah jatuh ke dalam godaan, manusia merasa malu dan dengan bodohnya berusaha bersembunyi dari Tuhan. Ketika dihadapkan dengan dosa mereka, pria dan wanita itu mengaku, tetapi juga berusaha mengalihkan kesalahan kepada orang lain. Adam bahkan menyalahkan Tuhan. Sebagai tanggapan, Tuhan mengeluarkan tiga kutukan yang memengaruhi manusia hingga hari ini. Umat manusia tidak dapat lagi tinggal di taman Eden.

Allah memulai kutukan-Nya kepada iblis, yang mengambil bentuk tubuh ular. Allah berjanji untuk menjadikan iblis dan perempuan itu musuh. Bahkan, keturunan mereka—atau “benih”—akan tetap menjadi musuh sepanjang semua generasi.

Kepada Adam dan Hawa, yang sebelumnya hanya mengenal ketenangan, datang kutukan yang membuat mereka terkunci dalam pengalaman yang pahit. Bahkan bumi pun akan menjadi tantangan. Adanya semak duri, penderitaan hidup di dunia, akan menjadi peringatan yang terus-menerus bagi manusia atas dosa mereka. Meskipun demikian, Tuhan yang mahakasih terus menyediakan apa yang perlu bagi ciptaan-Nya.

Keturunan Hawa, tentu saja, mencakup seluruh umat manusia, yang lahir dari satu generasi ke generasi berikutnya hingga saat ini. Namun, siapakah keturunan Setan? Tentu ini bukan anak-anak biologis Iblis. Keturunan Setan mungkin mencakup semua malaikat yang jatuh, yang akan mengikutinya. Ini juga mencakup manusia-manusia yang memilih untuk menghamba kepada iblis dan mempraktikkan kebohongannya.

Yesus, yang menegur para pemimpin agama Yahudi dalam Yohanes 8:44, berkata demikian: “Iblislah yang menjadi bapamu dan kamu ingin melakukan keinginan-keinginan bapamu. Ia adalah pembunuh manusia sejak semula dan tidak hidup dalam kebenaran, sebab di dalam dia tidak ada kebenaran. Apabila ia berkata dusta, ia berkata atas kehendaknya sendiri, sebab ia adalah pendusta dan bapa segala dusta.”

Inti dari kutukan Allah atas iblis adalah ini: ia telah menjadi musuh umat manusia sejak awal. Ia tidak akan pernah dapat dipercaya. Seperti yang Petrus tulis, iblis terus memburu dan berusaha melahap manusia hingga hari ini (1 Petrus 5:8), meskipun ia tidak akan diizinkan melakukannya selamanya.

Kutukan atau nubuat terakhir Allah kepada ular adalah bahwa keturunan perempuan itu akan meremukkan, atau melukai, kepala iblis, dan iblis akan memukul atau melukai tumit-Nya. Hal ini merujuk kepada Kristus, Anak Allah, dan juga keturunan Hawa. Setan akan merusak Kristus, tetapi Ia akan memperoleh kemenangan akhir atas nama umat manusia. Mereka yang ada di dalam Kristus akan merayakan kemenangan bersama-Nya untuk selamanya.

Berkenaan dengan hari Natal, kita harus sadar bahwa yang paling penting bagi umat manusia adalah bahwa Tuhan memberi Adam dan Hawa janji tentang sebuah Benih. Benih yang akan lahir dari seorang perempuan. Benih itu akan membuat semua yang salah menjadi benar. Dia akan membuat semua yang rusak menjadi utuh. Benih yang dijanjikan akan memasuki konflik ini, bertarung dengan ular, yaitu iblis, si pengacau besar. Benih ini akan membawa kedamaian dan keharmonisan di mana pertikaian dan konflik berkecamuk seperti lautan yang diterjang badai. Kejadian 3 menjanjikan bahwa Benih itu akan mengalahkan ular, memastikan kemenangan akhir dan mengantar datangnya gelombang demi gelombang perdamaian. Namun, Benih itu akan datang dalam waktu yang lama.

Adam dan Hawa memiliki Kain dan Habel, dan keduanya ternyata bukan Benih. Ketika Kain membunuh Habel, Tuhan memberi Adam dan Hawa Set, sedikit kasih karunia di dunia yang sangat bermasalah. Namun, Set juga bukan Benih. Lebih banyak putra menyusul. Generasi demi generasi datang dan generasi demi generasi berlalu.

Kemudian Abraham muncul di panggung dunia. Tuhan memanggil pria ini dari mulanya untuk menjadikan dari dirinya dan istrinya, Sarah, sebuah bangsa baru yang besar yang akan menjadi mercusuar terang bagi dunia yang terhilang dan tanpa harapan. Sekali lagi, Tuhan berjanji kepada pasangan ini tentang Benih, seorang putra. Mereka mengira itu adalah Ishak. Namun, Ishak meninggal.

Kisah ini diulang dari generasi ke generasi, membangun antisipasi akan Dia yang akan datang yang akan membuat semua hal menjadi benar, yang akan membawa kedamaian. Seorang janda bernama Naomi dan menantu perempuannya yang janda, Rut, bahkan masuk ke dalam kisah ini. Mereka berada dalam keadaan putus asa. Tidak ada jaring sosial untuk menangkap kejatuhan orang-orang yang terpinggirkan seperti itu di dunia kuno.

Tanpa suami dan anak laki-laki, tanpa hak dan sarana, para janda hidup dari hari ke hari dengan seutas harapan. Kemudian datanglah Boas yang menikahi Rut. Tak lama kemudian, tepat saat tirai ditutup pada kisah Alkitab tentang Rut, seorang anak laki-laki, benih, lahir bagi Rut. Anak laki-laki ini akan menjadi pemulih kehidupan, seorang penebus. Namun, ia hanyalah bayangan dari Benih yang akan datang. Ia juga meninggal.

Anak laki-laki yang lahir dari Rut dan Boas bernama Obed. Obed memiliki seorang anak laki-laki bernama Isai. Isai memiliki banyak anak laki-laki, dan salah satunya adalah seorang gembala yang kecil tubuhnya. Suatu kali gembala ini melemparkan sebuah batu dan menjatuhkan seorang raksasa. Ia menghadapi singa-singa. Ia juga seorang musisi yang hebat. Yang mengejutkan semua orang—bahkan ayahnya—putra Isai ini, cicit Rut dan Boas, diurapi menjadi raja Israel.

Ketika Daud berada di atas takhta, Allah memberikan janji lain langsung kepadanya. Ini adalah janji lain tentang seorang putra. Allah berkata bahwa putra Daud akan menjadi raja selamanya dan kerajaannya tidak akan berakhir. Itulah janji Allah, bahwa putra Daud adalah Juruselamat manusia. Mesias.

Tujuh belas ayat dalam Perjanjian Baru menyatakan Yesus sebagai “anak Daud.” Kristus (Mesias) merupakan penggenapan nubuatan dari keturunan Daud (2 Samuel 7:12-16). Matius pasal 1 menjabarkan bukti silsilah Yesus, yang dari sisi kemanusiaannya merupakan keturunan langsung dari Daud melalui Yusuf, ayah Yesus yang tercatat secara hukum. Silsilah dalam Lukas pasal 3 menjabarkan silsilah Yesus dari garis keturunan ibu-Nya, Maria. Yesus merupakan keturunan Daud, melalui adopsi oleh Yusuf, dan melalui darah oleh Maria. Namun yang terutama, ketika Kristus disebut sebagai anak Daud, hal itu merujuk kepada gelar Mesias-Nya seperti yang dinubuatkan di dalam Perjanjian Lama.

Yesus beberapa kali dipanggil sebagai “Allah, anak Daud” oleh orang-orang yang, dengan iman, mencari belas kasih atau penyembuhan. Perempuan yang anaknya menderita karena kerasukan setan (Matius 15:22), dua orang buta di pinggir jalan (Matius 20:30), dan Bartimeus yang buta (Markus 10:47), semuanya berseru meminta pertolongan kepada “anak Daud.” Gelar kehormatan yang mereka nyatakan ini menunjukkan iman mereka kepada Dia. Dengan memanggil Dia “Allah” menyatakan pemahaman mereka akan keilahian-Nya, kekuasaan-Nya dan kekuatan-Nya. Dengan memanggil-Nya “anak Daud,” maka mereka juga telah mengakui-Nya sebagai Mesias.

Yesus Kristus, satu-satunya Anak Allah dan satu-satunya jalan keselamatan bagi semua manusia di bawah kolong langit (Kis 4:12), sungguh-sungguh adalah anak Daud, baik secara fisik maupun spiritual. Ia sudah lahir di Betlehem dan kita merayakan kelahirannya pada hari ini. Itu karrena Allah sudah menepati janji-Nya. Segala kemuliaan adalah bagi Allah di tempat yang mahatinggi. Gloria in excelsis Deo.

Natal seharusnya membuat kita rendah hati

“Karena Anak Manusia juga datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani dan untuk memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi banyak orang.” Markus 10:45

Penulis Kristen terkenal, C. S. Lewis, dalam bukunya “Mere Christianity” mencatat bahwa kesombongan adalah keadaan “anti-Tuhan”, posisi di mana ego dan pendirian manusia secara langsung menentang kebesaran Tuhan. Jika ketidaksucian, kemarahan, keserakahan, kemabukan, adalah jahat di mata Tuhan, semua itu bukan apa-apa jika dibandingkan dengan kesombongan. Melalui kesombonganlah iblis menjadi jahat, dan hal itu menuntun dia kepada setiap kejahatan lainnya. Keseombongan adalah keadaan pikiran yang sepenuhnya anti-Tuhan. Kesombongan dipahami sebagai sesuatu yang memisahkan roh kita dari Tuhan yang sudah memberi kita hidup dan kasih karunia.

Kesombongan umat Kristen, mungkin paling mencolok pada saat kita merayakan hari Natal. Sebagian orang Kristen menyambut hari Natal sebagai satu kesempatan untuk bersuka-cita dan berpesta pora, baik di gereja, di rumah, maupun di tempat lain. Mereka bisa merasa bangga karena banyak orang yang bukan Kristen juga merayakan Natal. Suasana Natal dengan lagu-lagu Natal, hiasan Natal yang berkerlap-kerlip, dan banyaknya pengunjung gereja yang datang untuk merayakan Natal adalah satu tanda bahwa agama Kristen adalah agama yang hebat. Natal adalah kesempatan untuk berlomba untuk menunjukkan kepada masyarakat bahwa gereja kita adalah yang terbesar, terbaik, dan terkaya. Begitu mungkin perasaan mereka. Mereka lupa bahwa panggilan Natal adalah agar umat Tuhan untuk menjadi orang yang rendah hati.

Markus 10:35-45 menggambarkan permintaan arogan Yakobus dan Yohanes untuk memiliki posisi berkuasa dan berwenang dalam kerajaan Yesus yang akan datang. Ini terjadi setelah mengetahui bahwa Yesus menghargai orang-orang yang tidak berdaya seperti wanita dan anak-anak (Markus 10:1-16). Yesus juga menyatakan bahwa mereka yang memiliki kekuasaan dan kekayaan duniawi sering mengalami kesulitan mengikuti Tuhan karena mereka cenderung lebih menghargai harta benda mereka (Markus 10:17-22).

Dalam ayat di atas, Yesus yang kelahiran-Nya akan kita rayakan esok hari. datang ke dunia bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani dan untuk memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi banyak orang. Seperti Dia yang sudah merendahkan diri-Nya untuk menjadi manusia. Yesus memanggil kita untuk menjadi hamba (Markus 10:43) dan budak (Markus 10:44). Sikap kita harus seperti Dia, di mana kita secara harfiah harus menempatkan diri kita dalam posisi hamba atau budak bagi orang lain.

Yesus mengambil “rupa seorang hamba” bagi Allah, bukan bagi kita (Filipi 2:7–8). Agar kita dapat menyambut dan menjadi bagian dari kerajaan Allah, kita harus menjalani pemahaman kita bahwa pada dasarnya kita adalah makhluk yang tidak berdaya (Markus 10:14–15). Allah yang berdaulat adalah Tuhan yang memiliki kuasa yang nyata, dan harus kita muliakan terlepas dari posisi kita dalam hidup di dunia. Bahkan jika kita diakui sebagai pemimpin di gereja, peran kita pada hakikatnya tetaplah seorang hamba. Kita wajib melayani dan bukan menuntut untuk dilayani orang lain.

Kata “tebusan” dalam ayat di atas berasal dari akar kata Yunani lutron dan merujuk pada harga yang dibayarkan untuk menebus seorang budak atau tawanan (Imamat 25:51–52) atau anak sulung (Bilangan 18:15), atau ganti rugi atas kejahatan (Bilangan 35:31–32) atau cedera (Keluaran 21:30). Yesus mampu “memberitakan pembebasan kepada orang-orang tawanan, dan kelepasan dari penjara bagi mereka yang terkurung” (Yesaya 61:1; lih. Lukas 4:18–19) karena Dia adalah Hamba yang Menderita dari Yesaya 53 yang datang untuk menanggung kejahatan banyak orang, sehingga mereka dapat dianggap benar (Yesaya 53:11).

Mendengar kata-kata ini untuk pertama kalinya, para murid berpikir bahwa yang akan ditebus adalah “tawanan”, yaitu orang-orang Yahudi yang hidup di bawah kekuasaan Romawi. Yesus mengatakan bahwa tawanan sejati adalah mereka yang menjadi budak dosa (Yohanes 8:34). Melalui kematian dan kebangkitan Yesus, kita dapat dibebaskan dari sifat dan akibat dosa yang memisahkan kita dari Allah (Roma 6:18). Kebebasan dari dosa ini bersifat penuh (Yohanes 8:36), tetapi kemerdekaan ini mengalihkan perbudakan kita dari dosa kepada kebenaran Allah (Roma 6:16–18). Kebebasan kita yang datang dari Tuhan, seharusnya memerdekakan kita dari keegoisan, kesombongan, dan keinginan untuk mengendalikan segala seuatu menurut kemauan kita. Perbudakan kita kepada Allah memberikan kita kemerdekaan untuk bisa mengasihi orang lain dan menerima hidup kekal (Roma 6:23).

Kebebasan ini adalah manifestasi kerajaan Allah di dalam diri kita. Namun, ini juga merupakan konsep yang sangat asing bagi orang Yahudi yang misinya adalah kemerdekaan duniawi dari jajahan Romawi, bukan kemerdekaan surgawi dari dosa. Dalam sejarah Yahudi, para pemimpin besar adalah mereka yang membawa kutuk kepada rakyatnya karena penyembahan berhala dan memimpin pasukan mereka untuk mempertahankan perbatasan daerah mereka. Kepemimpinan Yesus mengurapi zaman baru. Itu dibangun di atas ketundukan kepada Allah dan pengorbanan bagi orang lain. Sering kali, “orang lain” itu adalah gereja-gereja yang miskin, orang-orang buangan dunia, wanita-wanita yang tidak berdaya (Markus 10:1-12), anak-anak yang berkekurangan (Markus 10:13-16), dan orang-orang yang tidak berdaya serta patah semangat (Markus 10:46-52), bukan para pemimpin kaya atau berkuasa yang dianggap perlu dihormati (Markus 10:17-31).

Hari ini, marilah kita mengingat bahwa Yesus datang membawa karunia keselamatan bagi mereka yang percaya. Karunia yang tidak perlu kita beli, karunia yang tidak dapat kita bayar, karena karunia itu adalah karunia pengampunan dosa kita dari Allah yang mahasuci. Kita harus merasakan betapa besarnya kasih Tuhan kepada kita yang tidak layak di hadapan-Nya. Hanya karena kasih-Nya kita diselamatkan dan itu bukat karena hasil jerih payah kita.

Sebagai orang-orang percaya, seharusnya kita menempatkan diri kita sebagai hamba yang dimeredekakan dan bukannya orang-orang pilihan Allah yang lebih baik dari orang lain. Kita bukan juga orang Kristen yang merasa lebih baik dari orang Kristen lain karena teologi, kekayaan gereja atau kemasyhuran pendeta kita. Adalah panggilan bagi kita untuk menjadi seperti Yesus yang lahir di palungan, yang tidak membanggakan kemegahan diri-Nya sebagai Anak Allah. Hari Natal adalah panggilan bagi kita untuk selalu siap untuk merendahkan diri di hadapan orang lain dan siap melayani mereka yang membutuhkan pertolongan sambil mengaku bahwa kita semua adalah orang-orang berdosa yang sudah menerima belas kasihan Allah!

Selamat Hari Natal 2024

Gloria in excelsis Deo belum tentu dapat diucapkan semua orang Kristen

”Kemuliaan bagi Allah di tempat yang mahatinggi dan damai sejahtera di bumi di antara manusia yang berkenan kepada-Nya.” Lukas 2:14

Gloria in excelsis Deo (bahasa Latin dengan arti harafiah: “Kemuliaan bagi Allah di tempat yang mahatinggi”) adalah reffrain dari sebuah himne Natal terkenal “Angels we have heard on high” atau “Para Malaikat Bernyanyi”. Lagu ini juga dikenal dengan judul lain seperti “Alam Raya Berkumandang” dengan lirik karya James Chadwick, dan nada kidung “Gloria” dari lagu Prancis tradisional dengan asal usul yang tidak diketahui yang berjudul Les Anges dans nos campagnes. Lirik Chadwick diambil dan terinspirasi, dan sebagian diterjemahkan, dari karya Prancis asli tersebut. Tema lagu tersebut adalah kelahiran Yesus yang dikisahkan dalam Injil Lukas, khususnya peristiwa dimana para gembala dari luar Betlehem dihampiri para malaikat yang bernyanyi dan memuji anak yang baru lahir tersebut, seperti yang ditampilkan dalam ayat di atas dan tertulis dalam sayir lagu di bawah ini:

Angels we have heard on high,
Sweetly singing o’er the plains,
And the mountains in reply
Echoing their joyous strains.

Refrain:
Gloria in excelsis Deo.
Gloria in excelsis Deo.

M’laikat t’lah kami dengar,
Nyanyi merdu di lembah,
Dan gunung pun membalas
Gemakan lagu ria

Reffrain:
Gloria in excelsis Deo.
Gloria in excelsis Deo.

Lukas 2:8–21 menggambarkan para gembala yang dikunjungi oleh banyak malaikat. Bagian kitab Lukas ini biasanya dibacakan pada hari Natal, saat merayakan kelahiran Yesus. Makhluk-makhluk surgawi ini memberitakan kelahiran Kristus dan menjelaskan di mana Dia dapat ditemukan. Para gembala kemudian mengikuti arahan mereka dan menemukan Yesus, Yusuf, dan Maria.

Sebagian besar terjemahan ayat di atas menghubungkan “damai” yang diberitakan dengan kesenangan Tuhan terhadap suatu kelompok tertentu. Ini secara bergantian diungkapkan sebagai “mereka yang berkenan kepada-Nya,” atau “orang-orang yang berkenan kepada-Nya.” Ini menggambarkan Tuhan selalu menggunakan orang-orang sederhana untuk memberitakan kebenaran-Nya yang paling penting. Tuhan selalu memilih orang yang rendah hati, bukan mereka yang suka bermegah dan sombong.

Sementara Injil Yesus Kristus adalah pesan rekonsiliasi dan harapan (Yohanes 3:16–17), harapan itu hanya dapat diakses oleh mereka yang percaya kepada-Nya (Yohanes 3:18, 36). Jika diterjemahkan secara akurat, para malaikat tidak menyatakan kebaikan hati Tuhan kepada seluruh umat manusia; mereka merayakan belas kasihan-Nya kepada mereka yang mengikuti kehendak-Nya dengan menerima Putra-Nya (Yohanes 6:28–29; Ibrani 11:6).

Ketika para malaikat sudah pergi, para gembala bergegas ke Betlehem untuk melihat sendiri Kristus yang baru lahir (Lukas 2:15–16). Seperti itu juga, orang Kristen sejati akan berusaha untuk melaksanakan perintah Tuhan dalam hidup mereka. Mereka tidak menunda kesempatan untuk memuliakan Tuhan dengan cara melaksanakan firman Tuhan secepat mungkin. Mereka sadar bahwa Tuhan sudah berbelas kasihan kepada mereka yang sudah dipilih Tuhan sebagai orang-orang yang sederhana di mata Tuhan.

Jika ada orang yang mengaku Kristen, tetapi mempunyai rasa sombong yang sering tidak terkontrol, saat menjelang hari Natal ini adalah kesempatan untuk mengingat bahwa hanya orang yang merendahkan dirinya di hadapan Tuhan adalah orang-orang yang berkenan kepada-Nya. Dalam Matius Yesus pernah berkata: “Biarkanlah anak-anak itu, janganlah menghalang-halangi mereka datang kepada-Ku; sebab orang-orang yang seperti itulah yang empunya Kerajaan Sorga” (Matius 19:14).

Yesus mengizinkan anak-anak kecil untuk datang kepada-Nya. Ia memberi tahu para pengikut untuk tidak menghalangi mereka karena kerajaan surga adalah milik mereka yang seperti anak-anak. Itu adalah gambaran yang lembut, sekalipun Ia tidak mengatakan bahwa kerajaan surga adalah milik anak-anak kecil. Sebaliknya, Ia mengingatkan para pengikut tentang perlunya iman dan kerendahan hati seperti anak kecil. Orang Kristen tidak dapat memuji Tuhan dengan sepenuh hati jika mereka menempatkan kesombongan dalam hati mereka.

Pada hari Ini, menjelang datangnya hari Natal, baiklah kita mendengar gema dari ajaran yang Yesus berikan kepada para pengikut-Nya:

“Sesungguhnya, Aku berkata kepadamu, kecuali kamu bertobat dan menjadi seperti anak kecil ini, kamu tidak akan masuk ke dalam Kerajaan Surga. Barangsiapa merendahkan diri dan menjadi seperti anak kecil ini, dialah yang terbesar dalam Kerajaan Surga” Matius 18:3–4