Rambut kepala kita terhitung semuanya

“bahkan rambut kepalamu pun terhitung semuanya. Karena itu jangan takut, karena kamu lebih berharga dari pada banyak burung pipit.” Lukas 12:7

Ayat di atas adalah ayat yang cukup terkenal, terutama karena sebagian orang Kristen mengartikannya secara literal dalam konteks Tuhan menentukan segala seuatu, termasuk jatuhnya sehelai rambut dari kepala manusia. Bagi orang-orang ini, ayat di atas mendukung pandangan bahwa manusia tidak bisa berbuat apa-apa karena semua hal terjadi karena sudah ditentukan oleh Tuhan. Tetapi, pengertian literal seperti itu adalah pengertian religius fatalis yang keliru karena ayat itu sebenarnya mengandung simbolisme yang dalam.

Yesus pada waktu itu menggambarkan penganiayaan yang akan dihadapi para pengikut-Nya, khususnya sebelum bait suci dihancurkan pada tahun 70 M. Mereka akan diburu dan ditangkap oleh para pemimpin agama. Sahabat dan keluarga akan mengkhianati mereka, bahkan sampai mati (Lukas 21:16). Sekarang, Yesus memberi para pengikut-Nya harapan. Meskipun orang-orang Yahudi dan Romawi, sebagai suatu kelompok, akan membenci mereka, Allah akan melindungi mereka (Lukas 21:17–19).

Perlu dicatat bahwa ayat di atas dan Lukas 21:18 sulit ditafsirkan, khususnya dalam budaya Barat modern yang sangat harfiah. Frasa “rambut kepalamu” mungkin merupakan teknik sastra synecdoche: sesuatu disebutkan untuk mewakili sesuatu yang lain, khususnya dengan menggunakan sebagian untuk mewakili keseluruhan. Jika Yesus merujuk pada kehidupan duniawi mereka, janji itu bermasalah. Apakah Yesus mengatakan bahwa para pengikut-Nya akan menghadapi penganiayaan, tetapi mereka tidak akan disakiti? Apakah kita akan mengalami berbagai masalah hidup yang sudah ditetapkan Tuhan tetapi akan bisa mengatasinya? Bukan begitu!

Para pengikut Yesus tahu apa yang Yesus bicarakan; atau, setidaknya, mereka akan segera tahu (Yohanes 16:13). Mereka ada di sana ketika Dia menyuruh mereka memikul salib mereka dan bahwa mereka akan menyelamatkan hidup mereka dengan bersedia menyerahkannya. Itu berarti mereka akan mati bagi dunia tetapi memperoleh hidup kekal (Matius 16:24; Lukas 9:24–25). Dia juga mengatakan bahwa mereka tidak perlu takut kepada mereka yang dapat membunuh tubuh tetapi kepada Dia yang dapat mengirim jiwa ke neraka (Lukas 12:4–5). Yang dilindungi adalah kehidupan rohani dan kekal, bukan kehidupan fisik mereka—dan tentu saja bukan rambut mereka!

Lukas 12:4–7 menyatakan peringatan Yesus kepada para murid untuk menolak jalan orang Farisi (Lukas 12:1–3). Para murid akan menghadapi penganiayaan yang hebat, yang dimulai dengan tindakan para pemimpin agama Yahudi, khususnya seorang Farisi bernama Saulus (Kisah Para Rasul 8:1–3; 9:1–2). Banyak pengikut Yesus akan kehilangan nyawa mereka. Meskipun demikian, mereka yang termasuk dalam kerajaan Allah akan menerima hidup kekal. Yesus melanjutkan dengan mengatakan bahwa ketika dihakimi orang-orang yang dapat menyakiti mereka, mereka tidak perlu khawatir tentang apa yang harus mereka katakan. Roh Kudus akan membimbing mereka (Lukas 12:8–12).

Orang Farisi dan ahli Taurat menggunakan praktik-praktik yang secara rohani menyiksa, yang dikutuk Yesus tanpa rasa takut (Lukas 11:37-52). Orang-orang ini adalah tokoh pujaan orang banyak; orang Farisi ditakuti oleh para imam dan orang Saduki dari Sanhedrin karena praktik keagamaan populis mereka. Orang Farisi bersekongkol untuk menghancurkan Yesus (Lukas 11:53-54) dan setelah kenaikan-Nya akan memburu para pengikut-Nya, memenjarakan dan bahkan membunuh beberapa orang Kristen (Kisah Para Rasul 8:3; 9:1-2; 26:10).

Namun, Yesus telah memberi tahu orang-orang percaya untuk tidak takut kepada orang-orang munafik ini. Dalam keadaan terburuk mereka, mereka hanya dapat membunuh tubuh. Sebaliknya, mereka seharusnya takut kepada Allah yang akan menjatuhkan kematian kekal kepada mereka yang menolak untuk bertobat. Allahlah yang akan mengirim orang berdosa ke neraka, dan Allahlah yang mengenal setiap burung pipit (Lukas 12:1-6).

Ayat di atas memunculkan dua tema yang saling bertentangan. Para pengikut Kristus begitu berharga bagi Tuhan sehingga Dia yahu apa pun keadaan mereka. Kepemilikan-Nya yang mahatahu atas fakta-fakta diterjemahkan menjadi kasih: bekerja atas nama mereka yang menjadi milik-Nya. Kita sepenuhnya aman di dalam Dia. Namun, keamanan itu tidak berarti kita akan terbebas dari kesulitan atau bahkan kematian dalam pelayanan-Nya. Sama seperti Tuhan memperhatikan ketika burung pipit jatuh, Dia memperhatikan ketika kita menderita dan mati secara fisik (Matius 10:29).

Simbolisme dalam ayat di atas adalah kaya dan sangat bermakna. Gambaran Tuhan yang mengetahui setiap helai rambut di kepala kita melambangkan pengetahuan dan kepedulian-Nya yang mendalam terhadap setiap aspek kehidupan kita, tak terkecuali hal-hal yang kecil. Gambaran itu juga melambangkan gagasan tentang kedaulatan dan kendali ilahi, karena tidak ada satu pun dalam kehidupan kita yang luput dari perhatian-Nya.

Sebagai kesimpulan, Lukas 12:7 adalah bagian yang menyampaikan pesan tentang penghiburan, kepastian, dan nilai yang mendalam. Bagian itu berbicara tentang kepedulian dan pengetahuan yang mendalam yang Tuhan miliki bagi anak-anak-Nya dan menekankan nilai dan harga diri yang sangat besar yang Dia berikan kepada setiap individu. Ayat itu juga menyampaikan tema-tema penting tentang kepercayaan terhadap pemeliharaan Tuhan, pemeliharaan ilahi, dan nilai manusia. Simbolismenya berfungsi untuk semakin memperkuat tema-tema ini, menjadikannya ayat yang memiliki makna dan arti penting yang dalam bagi orang percaya. Percayalah kepada Dia yang mahatahu dan mahakasih!

Adakah yang kita banggakan sebagai umat pilihan Tuhan?

“Sebab semua orang yang dipilih-Nya dari semula, mereka juga ditentukan-Nya dari semula untuk menjadi serupa dengan gambaran Anak-Nya, supaya Ia, Anak-Nya itu, menjadi yang sulung di antara banyak saudara.” Roma 8:29

Sepanjang ingatan saya, sejak adanya medsos selalu ada berita tentang orang-orang yang hebat, negara-negara yang hebat, penemuan-penemuan yang luar biasa di negara tertentu. Seiring dengan itu, selalu ada penonjolan keunggulan yang dimiliki suatu sistim, orang, ras, negara dan bahkan, agama tertentu. Dengan demikian, timbul potensi atau kecenderungan untuk merendahkan orang, golongan atau bangsa lain.

Sebenarnya, pandangan atau tindakan yang didasarkan pada sentimen identitas diri itu juga terjadi di kalangan orang Kristen. Dalam masyarakat, banyak orang Kristen yang masih membanggakan keturunan, bangsa dan golongan sendiri dan dengan demikian merasa bahwa dirinya lebih baik dari orang lain. Dalam hal kerohanian, banyak orang Kristen yang merasa dirinya lebih mengenal Tuhan dan lebih dikenal oleh Tuhan, dan mungkin lebih benar atau lebih baik dari orang Kristen yang lain. Sekalipun ada yang percaya bahwa semua orang percaya adalah orang pilihan Tuhan, mereka mungkin merasa seperti orang pilihan Tuhan yang nomer satu.

Istilah “orang-orang pilihan” mengandung arti orang-orang yang ditentukan Allah untuk dianugerahi keselamatan. Mereka disebut “yang dipilih” karena kata itu mengandung makna kalau ada pihak yang memilih. dalam hal ini, Allah sendiri yang memilih siapa-siapa saja yang akan diselamatkan. Mereka inilah yang disebut orang-orang pilihan Allah.

Mengenai konsep Allah memilih siapa yang akan diselamatkan tidaklah menimbulkan perdebatan. Tapi, bagaimana dan mengapa Allah memilih yang menjadi perdebatan selama ini. Selama sejarah Gereja, ada dua pandangan utama terkait doktrin pemilihan (atau predestinasi) ini.

Pandangan pertama, yang lebih sering dikenal dengan istilah pandangan pra-pengetahuan, menyatakan kalau Allah, karena kemahatahuan-Nya, akan mengetahui siapa-siapa saja yang pada akhirnya akan memilih beriman-percaya kepada Yesus Kristus. Karena pra-pengetahuan tentang iman orang-orang ini, Allah memilih mereka untuk diselamatkan “bahkan sebelum dunia dijadikan” (Efesus 1:4). Pandangan ini diyakini sebagian besar kaum Kristen.

Pandangan kedua, yang juga dikenal dengan pandangan para pengikut Agustinus, menyatakan kalau Allah tidak hanya memilih siapa-siapa saja yang akan beriman-percaya kepada Yesus Kristus, tetapi juga memilih untuk menganugerahi orang-orang ini iman supaya bisa beriman-percaya kepada Kristus. Allah memilih tidak berdasarkan pra-pengetahuan mengenai iman seseorang, tapi hanya berdasarkan kedaulatan-Nya, kasih karunia dari Allah Yang Mahakuasa. Allah memilih siapa-siapa saja yang akan diselamatkan. Mereka bisa beriman-percaya, karena Allah telah memilih mereka. Pandangan ini umumnya dipegang kaum Reformed.

Yang menjadi bahan perdebatan yang sengit adalah: siapa yang sebenarnya menjadi pihak yang menentukan anugerah keselamatan ini – Allah atau manusia? Bagi pandangan pertama, manusia yang memiliki kontrol; kehendak bebasnya menjadi faktor penentu terkait apa yang dipilih Allah. Allah memang menyediakan jalan keselamatan melalui Yesus Kristus dan kemampuan untuk memilih, tetapi manusia sendiri yang harus memilih bersedia tidaknya untuk tunduk kepada Kristus supaya bisa diselamatkan.

Pandangan ini membuat Allah seolah-olah tidak berdaulat karena Pencipta yang harus bergantung pada keputusan ciptaan-Nya. Jika Allah menginginkan seseorang ada di surga, Dia harus berharap supaya orang itu, dengan kehendak bebasnya, memilih jalan keselamatan yang telah Ia sediakan. Sebenarnya, pandangan ini agaknya tidak lagi bisa sepenuhnya menyatakan bahwa “Allah memilih,” karena Allah tidak benar-benar memilih – Dia hanya bisa memberi kemampuan memilih kepada manusia dan mendukung usaha mereka serta menolong mereka untuk tetap bertekad untuk mempertahankan apa yang baik. Pada akhirnya, manusialah yang menentukan apa keputusannya.

Menurut para pengikut Agustinus, Allah yang memiliki kontrol. Dia yang berkuasa. Dengan kedaulatan-Nya, Ia dengan bebas memilih siapa-siapa saja yang ingin diselamatkan-Nya. Dia tidak hanya memilih, tetapi juga memastikan keselamatan mereka. Bukan hanya menyediakan jalan keselamatan, Allah juga memilih siapa-siapa saja yang ingin diselamatkan-Nya, dan kemudian menyelamatkannya. Pandangan ini menempatkan Allah sebagai Pencipta yang sepenuhnya berdaulat, dan manusia tidak bisa nenolak.

Pandangan ini memiliki kelemahannya sendiri. Para kritikus memandang pandangan ini meniadakan kehendak bebas manusia. Jika sejak awal Allah sudah memilih siapa yang ingin diselamatkan-Nya, mengapa manusia masih perlu beriman-percaya? Mengapa perlu memberitakan Injil? Apalagi, jika Allah memilih berdasarkan kedaulatan-Nya, bagaimana mungkin kita bisa dianggap bertanggungjawab atas pilihan kita? Bukankah ini seperti “nasib”?

Di Roma pasal 9, Paulus secara sistematis menjelaskan kedaulatan Allah dalam memilih siapa-siapa saja yang ingin diselamatkan, bahkan sejak dari kekekalan. Dia memulai dengan pernyataan yang penting: “Tidak semua orang yang berasal dari Israel adalah orang Israel” (Roma 9:6). Ini berarti bahwa tidak semua keturunan dari Abraham, Ishak, dan Yakub adalah Israel sejati (orang pilihan Allah).

Mengulas kembali sejarah bangsa Israel, Paulus mengingatkan kalau Allah memilih Ishak ketimbang Ismael; memilih Yakub ketimbang Esau. Sebelum orang-orang mengira kalau pemilihan ini berdasarkan iman atau perbuatan baik di masa depan, Paulus langsung menyatakan, “Sebab waktu anak-anak (Yakub dan Esau) itu belum dilahirkan dan belum melakukan yang baik atau yang jahat- supaya rencana Allah tentang pemilihan-Nya diteguhkan, bukan berdasarkan perbuatan, tetapi berdasarkan panggilan-Nya” (Rom 9:11). Oleh sebab itu, Paulus menyatakan bahwa siapa pun bisa menjadi anak-anak Allah melalui iman dalam Kristus Yesus.

“Dalam hal ini tidak ada orang Yahudi atau orang Yunani, tidak ada hamba atau orang merdeka, tidak ada laki-laki atau perempuan, karena kamu semua adalah satu di dalam Kristus Yesus.” Galatia 3:28

Di titik ini, kita mungkin tergoda berpikir kalau Allah tidak adil. Paulus mengantisipasinya dengan menjawab di Roma 9:14, dengan menyatakan kalau Allah tidak mungkin tidak adil. “Aku akan menaruh belas kasihan kepada siapa Aku mau menaruh belas kasihan, dan Aku akan bermurah hati kepada siapa Aku mau bermurah hati” (Roma 9:15). Jika kita betul-betul menghendaki Allah yang adil menurut pengertian kita, kita harus mau menerima hukuman mati karena dosa kita!

Allah berdaulat penuh atas ciptaan-Nya. Dia berdaulat penuh memilih siapa-siapa saja yang ingin dipilih-Nya, dan membiarkan siapa-siapa saja yang ingin dibiarkan-Nya. Ciptaan tidak punya hak untuk menuduh Penciptanya bertindak tidak adil. Pikiran bahwa ciptaan bisa berbantahan dengan Penciptanya tidak bisa diterima oleh Paulus. Begitu pula bagi setiap orang Kristen. Keselamatan mereka bersifat pasti hanya di dalam Kristus.

Terlepas dari cara bagaimana Allah memilih umat-Nya, apa yang Paulus nyatakan adalah kebenaran: “Sebab semua orang yang dipilih-Nya dari semula, mereka juga ditentukan-Nya dari semula untuk menjadi serupa dengan gambaran Anak-Nya, supaya Ia, Anak-Nya itu, menjadi yang sulung di antara banyak saudara. Dan mereka yang ditentukan-Nya dari semula, mereka itu juga dipanggil-Nya. Dan mereka yang dipanggil-Nya, mereka itu juga dibenarkan-Nya. Dan mereka yang dibenarkan-Nya, mereka itu juga dimuliakan-Nya” (Rom 8:29-30).

Dengan demikian, pada akhirnya, adakah yang bisa kita banggakan sebagai orang pilihan? Apakah kita bangga karena merasa Tuhan memilih kita karena kita lebih benar dari orang lain? Apakah golongan, ras, bangsa kita lebih baik dari yang lain? Semua kebanggaan seperti ini adalah hampa karena Tuhan tidak memilih kita karena kita lebih baik atau lebih benar dari yang lain. Apa yang bisa kita banggakan adalah kasih dan kemurahan Tuhan kepada setiap manusia dari awalnya, yang sudah memilih orang-orang tertentu untuk diselamatkan-Nya dan memisahkan mereka dari orang-orang lain, bukan karena mereka lebih baik atau lebih unggul, tapi karena keputusan-Nya.

“Karena itu seperti ada tertulis: ”Barangsiapa yang bermegah, hendaklah ia bermegah di dalam Tuhan.” 1 Korintus 1:31

Mau mendengar, lambat untuk marah

“Hai saudara-saudara yang kukasihi, ingatlah hal ini: setiap orang hendaklah cepat untuk mendengar, tetapi lambat untuk berkata-kata, dan juga lambat untuk marah; sebab amarah manusia tidak mengerjakan kebenaran di hadapan Allah.” Yakobus 1: 19-20

Sudah tentu setiap orang pernah marah. Tetapi, pernahkah Anda naik pitam? “Naik pitam” adalah idiom dalam bahasa Indonesia yang memiliki dua makna, yaitu: marah atau panas hati, dan pusing atau pening. Biasanya, idiom ini digunakan untuk menggambarkan perasaan marah besar yang mungkin bisa disertai dengan rasa pusing atau sakit kepala. Memang marah-marah bisa menyebabkan sakit kepala. Hal ini terjadi karena kemarahan dapat menyebabkan perubahan fisiologis di dalam tubuh, seperti:

  • Penegangan otot-otot di leher, kepala dan dada
  • Tarikan pada otot-otot wajah
  • Pelepasan hormon stres: adrenalin dan kortisol
  • Perubahan aliran darah ke otot sebagai tanda kesiapan untuk melawan

Selain itu, menahan emosi marah juga dapat menyebabkan ketegangan mental yang dapat memperburuk rasa sakit di bagian belakang kepala.

Dari segi medis, pada saat marah pembuluh darah di sekitar jantung mengkerut sehingga aliran darah tidak lancar. Hal ini dapat menyebabkan jantung kekurangan oksigen dan menimbulkan nyeri dada. Kemarahan juga dapat memperburuk kondisi disfungsi mikrovaskuler koroner, yaitu penyumbatan di pembuluh darah kecil di sekitar jantung. Saat marah, tubuh melepaskan hormon stres seperti adrenalin dan kortisol yang dapat mempercepat detak jantung dan pernapasan. Selain serangan jantung, kemarahan juga dapat meningkatkan risiko stroke dalam beberapa jam setelah marah. Semakin sering seseorang marah, semakin besar risikonya untuk terkena penyakit kardiovaskular.

Umumnya kita marah karena adanya keadaan yang sulit diterima atau orang yang sulit diajak bicara. Dalam hal ini, bagian pembukaan kitab Yakobus memerintahkan orang Kristen untuk tetap percaya kepada Tuhan, bahkan selama masa-masa sulit. Bahkan, orang percaya harus menganggap kesulitan mereka sebagai “sukacita,” karena adanya tes kehidupan adalah cara Tuhan memperkuat iman. Hal ini memberikan penegasan tentang apa artinya tetap setia kepada Tuhan—terus percaya kepada-Nya—bahkan ketika tantangan hidup menghampiri kita. Salah satu alasannya, mereka yang percaya kepada Tuhan akan terus menaati-Nya. Dimulai dari ayat 19, Yakobus mulai menjelaskan seperti apa ketaatan itu.

Mereka yang percaya dan menaati Tuhan belajar untuk menyesuaikan kecepatan mendengar dan berbicara mereka. Jika Tuhan benar-benar memegang kendali, kita mampu meluangkan waktu untuk memahami. Itu memerlukan waktu dan kesabaran. Daripada bertindak gegabah, kita dapat menanggapi dengan cara yang bermanfaat bagi kita dan orang lain. Jika kita gegabah itu adalah karena kesalahan kita sendiri, karena Tuhan bukanlah yang mempercepat mulut atau reaksi kita dan bukan juga memperlambat atau menghambat pikiran sehat kita.

Sebagai orang percaya, kita tidak boleh terobsesi untuk memastikan bahwa kita harus didengar dan dipahami orang lain untuk mendapatkan apa yang kita inginkan. Ketika kita bertindak sesuai dengan keinginan langsung kita dan reaksi langsung kita, kita akan mudah kehilangan kendali. Dan ketika kita merasa kehilangan kendali, kita akan marah. Dengan kemarahan yang tidak terkendali, kita bisa menjadi “mata gelap” atau melakukan apa yang jahat.

Perhatikan bahwa ini bukanlah perintah untuk tidak pernah merasa marah. Kemarahan adalah emosi manusia yang dialami setiap orang, dan itu dapat dibenarkan. Namun, instruksi Yakobus di sini menjelaskan dengan jelas bahwa kita dapat belajar untuk mengendalikan—atau setidaknya memperlambat—respons kemarahan kita. Bahkan, jika kita menolak untuk membiarkan kemarahan mengendalikan kita , itu merupakan tindakan iman. Merupakan pilihan kita untuk percaya bahwa Bapa memegang kendali, bahwa Dia mengasihi kita, dan bahwa Dia baik.

Mengapa kita, sebagai anak-anak Tuhan melalui iman kepada Kristus, harus belajar mengendalikan amarah kita, memperlambatnya, dan mengendalikannya? Bagi Yakobus, intinya adalah ini: Amarah tidak akan menghasilkan apa yang baik. Mengapa begitu? Secara praktis, kemarahan manusia yang berdosa adalah alat yang tidak efektif untuk berkontribusi pada kebenaran Allah. Membiarkan kemarahan meluap mungkin dianggap sebagai alat yang tangguh untuk mencapai keinginan kita sendiri, tetapi bukan untuk melakukan kebajikan yang diminta Allah.

Dunia memberi tahu kita bahwa kemarahan dapat memanipulasi atau mengintimidasi orang-orang di sekitar kita. Kemarahan memberi kita perasaan bahwa kita mengendalikan orang-orang dalam hidup kita, bahkan membuat diri kita merasa lebih baik untuk beberapa saat. Karena itu, secara sengaja kita sering memilih untuk marah. Namun, bahkan dari sudut pandang non-spiritual, hal ini biasanya harus dibayar dengan harga yang mahal. Kita akan kehilangan integritas, kepercayaan orang lain, rasa hormat dan kasih orang lain dan pengendalian diri kita ketika kita hidup dalam kemarahan.

Ajaran Yakobus di sini mengungkapkan sebuah gagasan yang sangat besar: Kita diciptakan untuk lebih dari sekadar menyingkirkan hal-hal yang dangkal dari kehidupan. Bagian dari tujuan kita sebagai orang percaya adalah untuk digunakan oleh Allah untuk membantu berkontribusi pada kebenaran-Nya, untuk membantu mencapai tujuan-Nya di dunia. Kita memiliki tujuan yang mulia dan kekal, jauh lebih besar daripada apa yang dapat kita capai melalui kemarahan atau dosa.

Seberapa penting bagi orang Kristen untuk memercayai Tuhan? Yakobus menulis, sangatlah penting bagi kita untuk menyebut saat-saat terburuk kita sebagai saat-saat yang menyenangkan, karena pencobaan membantu kita untuk lebih memercayai Tuhan. Orang yang memercayai Tuhan meminta hikmat kepada-Nya—dan kemudian menerima apa yang Dia berikan. Orang yang memercayai Tuhan menganggap pahala mereka di kehidupan berikutnya lebih penting daripada kekayaan mereka di kehidupan ini. Orang yang memercayai Tuhan tidak menyalahkan-Nya atas keinginan mereka untuk berbuat dosa; sebaliknya, mereka memuji-Nya atas semua hal baik dalam hidup mereka. Mereka menyelidiki Firman-Nya, dan mereka bertindak berdasarkan apa yang mereka lihat di sana.

Yakobus membedakan antara kemarahan manusia dan kemarahan Allah. Segala sesuatu yang Allah rasakan dan ungkapkan adalah benar, termasuk kemarahan-Nya. Sebaliknya, kemarahan manusia hampir selalu merupakan ekspresi keegoisan manusia, ketakutan, atau keinginan untuk mengendalikan dunia dan manusia di sekitar kita. Mereka yang percaya kepada Bapa untuk memegang kendali, menyediakan apa yang dibutuhkan, dan menegakkan keadilan pada saat yang tepat, mampu melepaskan kemarahan manusia.

Yakobus 1:19–27 menekankan bahwa mereka yang benar-benar percaya kepada Tuhan tidak puas hanya dengan tampil religius. Mereka berhenti mencoba mengendalikan dunia dengan kata-kata dan kemarahan mereka. Mereka dengan rendah hati menerima Firman yang telah ditanamkan Tuhan di dalam diri mereka, mendengarkannya, dan melanjutkan untuk melakukan apa yang dikatakannya. Bagian dari apa yang Firman katakan kepada kita adalah bahwa kita harus mengendalikan perkataan kita, memperhatikan mereka yang lemah dan menderita, dan menjaga diri kita agar tidak tercemar oleh dunia di sekitar kita.

“Apabila kamu menjadi marah, janganlah kamu berbuat dosa: janganlah matahari terbenam, sebelum padam amarahmu dan janganlah beri kesempatan kepada Iblis.” Efesus 4:26-27

Apakah Tuhan ingin kita bahagia?

“Memang tiap-tiap ganjaran pada waktu ia diberikan tidak mendatangkan sukacita, tetapi dukacita. Tetapi kemudian ia menghasilkan buah kebenaran yang memberikan damai kepada mereka yang dilatih olehnya.” Ibrani 12: 11

Ibrani 11 menjelaskan kemenangan beberapa pahlawan iman terbesar dalam Perjanjian Lama. Bab ini juga menjelaskan penderitaan dan penganiayaan mereka. Bab ini menggunakan contoh-contoh tersebut sebagai ”awan saksi” untuk membuktikan bahwa Tuhan tidak meninggalkan kita saat kita menderita. Dalam banyak kasus, Dia menggunakan pengalaman-pengalaman tersebut untuk ”melatih” kita, seolah-olah kita adalah atlet, untuk membuat kita lebih kuat. Dalam kasus lain, itu adalah jenis disiplin yang sama yang diterima seorang anak dari seorang ayah yang penuh kasih. Tidak seperti Perjanjian Lama, yang dengan tepat mengilhami rasa takut dan gentar, perjanjian baru menawarkan kita kedamaian. Seperti halnya masalah kebenaran atau kepalsuan lainnya, kita harus berpegang teguh pada apa yang benar, sehingga kita dapat menjadi bagian dari ”kerajaan yang tidak dapat digoyahkan.”

Ibrani 12:3–17 dibangun dari deskripsi para pahlawan iman di atas, yang berpuncak pada Yesus Kristus. Mereka yang datang sebelumnya dikasihi oleh Allah dan dihormati oleh Allah, namun mereka menderita kesulitan di dunia ini. Dalam bagian ini, penulis menjelaskan bahwa penderitaan sering kali merupakan cara Allah membangun dan melatih kita, bukan selalu merupakan tanda ketidaksenangan-Nya. Orang Kristen yang menanggapi pencobaan dengan mencari Tuhan, dalam iman, dapat terhindar dari nasib orang-orang yang kurang setia, seperti Esau.

Lalu apa arti Ibrani 12:11? Dalam ayat ini, penulis Ibrani menunjukkan bahwa sekadar mengalami sesuatu yang tidak menyenangkan tidak berarti kita sedang dihukum oleh Tuhan, atau telah ditinggalkan oleh-Nya. Ada kalanya Tuhan menggunakan pergumulan dan kesulitan untuk mengoreksi kita agar menjauh dari dosa (Ibrani 6:7–8). Dan, ada kalanya kita hanya diberi kesempatan untuk bertumbuh—dilatih untuk memiliki iman yang lebih dalam. Hal ini terlihat jelas dalam hubungan antara orang tua dan anak, di mana orang tua yang penuh kasih “mendisiplinkan” anaknya. Selang waktu, ketika menoleh ke belakang, anak tersebut menyadari makna dan guna dari bimbingan itu dan karena itu menghormati orang tuanya.

Di sini, penulis Ibrani juga menunjukkan bahwa tidak seorang pun suka didisiplinkan. Saat berada di tengah-tengah suatu pergumulan, pikiran kita sebagian besar tertuju pada betapa tidak menyenangkannya situasi tersebut. Namun, setelah itu, kita dapat lebih mudah melihat bagaimana Tuhan menggunakan pengalaman-pengalaman itu untuk menumbuhkan iman kita. Kita dapat melihat adanya proses kedewasaan dan pengudusan, yang didorong oleh disiplin kita.

Itulah sebabnya penulis Kitab Ibrani merujuk pada gagasan tentang “dilatih,” dari kata Yunani gegymnasmenois, yang secara harfiah berarti “latihan yang berat.” Penggunaan disiplin oleh Allah, meskipun tidak menyenangkan pada saat itu, sangat mirip dengan pelatihan seorang atlet. Latihan atlet “tampaknya menyakitkan daripada menyenangkan” saat dilakukan. Namun, setelah itu, atlet melihat pertumbuhan dan perkembangan sebagai hasil dari pengalaman tersebut. Iman, dengan cara itu, juga bertumbuh saat kita menanggung disiplin Allah, membantu kita menghasilkan “buah kebenaran.”

Jika Tuhan bermaksud baik dalam melatih kita dalam hidup, itu tidak mudah dimengerti. Pernahkah Anda bertanya kepada diri sendiri, berdasarkan Firman Tuhan, apakah Tuhan sebenarnya ingin kita bahagia dalam hidup di dunia? Apakah Dia peduli tentang itu? Apakah hal-hal kecil dalam hidup kita penting bagi-Nya, atau apakah Dia lebih peduli untuk membawa kita ke surga?

Di seluruh dunia, dalam setiap budaya, orang mencari kebahagiaan. Orang mencari ke berbagai tempat untuk membantu mereka menutupi, atau menghilangkan rasa sakit dalam hidup ini. Saya mendengar banyak orang Kristen yang bermaksud baik berkata, “Tuhan tidak ingin Anda bahagia. Dia ingin Anda menjadi kudus.” Jawaban ini terdengar alkitabiah dan intens, jadi pasti benar, bukan? Bukankah Tuhan lebih peduli dengan kita yang menaati semua aturan-Nya, daripada tersenyum sepanjang hidup?

Apakah Tuhan ingin kita bahagia? Ya, Tuhan ingin kita bahagia – selalu dan pada akhirnya dan selamanya. Tetapi, bukankah Tuhan ingin kita menjadi kudus? Ya, tentu saja, selalu dan pada akhirnya dan selamanya. Kedua hal ini sebenarnya saling terkait. Tuhan ingin kita menjadi kudus, karena Ia ingin kita bahagia lebih dari sekadar sesaat. Tuhan menciptakan kita, Ia tahu bagaimana kita diciptakan untuk hidup dan apa yang akan memberi makna pada hidup kita. Yang terpenting, Tuhan tahu bahwa semakin dekat kita dengan-Nya, semakin bahagia dan puas kita nantinya. Jadi, Ia dengan penuh kasih memanggil kita untuk taat dan mendekat kepada-Nya.

Seperti orang tua yang memberi tahu anaknya, jangan berlari di depan mobil itu, atau jangan minum air kotor itu, atau menjauhlah dari tepi jurang itu, Tuhan memperingatkan dan menegur kita untuk melindungi dan merawat kita. Ibrani 12:5-7 menjelaskan lebih lanjut agar kita tidak melupakan bahwa Tuhan berbicara kepada kamu seperti kepada anak-anak: “Hai anakku, janganlah anggap enteng didikan Tuhan, dan janganlah putus asa apabila engkau diperingatkan-Nya; karena Tuhan menghajar orang yang dikasihi-Nya, dan Ia menyesah orang yang diakui-Nya sebagai anak. Jika kamu harus menanggung ganjaran; Allah memperlakukan kamu seperti anak. Di manakah terdapat anak yang tidak dihajar oleh ayahnya?”

Saat ini, jika kita mengalami masalah yang bukan akibat dosa kita, Allah mungkin sedang mendidik kita; karena itu janganlah kita putus asa. Ia memperlakukan kita seperti anak-anak-Nya yang terkasih. Masalah yang kita alami dalam hidup tidak selalu merupakan bagian hukuman Tuhan kepada keturunan Adam dan Hawa; melainkan bisa menjadi pelatihan, pengalaman normal anak-anak Tuhan di dunia. Hanya orang tua yang tidak bertanggung jawab yang membiarkan anak-anak berjuang sendiri.

Kita menghormati orang tua kita sendiri karena telah mendidik dan tidak memanjakan kita, jadi mengapa tidak menerima pelatihan Tuhan agar kita dapat benar-benar hidup? Ketika kita masih anak-anak, orang tua kita melakukan apa yang menurut mereka terbaik. Tetapi Tuhan melakukan apa yang terbaik bagi kita, melatih kita untuk menjalani kehidupan yang terbaik dari Tuhan. Pada saat itu, disiplin tidaklah menyenangkan dan terasa tidak enak. Tetapi,, hal itu akan membuahkan hasil yang besar, karena orang-orang yang terlatih dengan baiklah yang akan menemukan diri mereka dewasa dalam hubungan mereka dengan Tuhan.

Jadi, apakah Tuhan ingin kita bahagia? Tentu saja. Dia memberi kita segalanya melalui Putra-Nya. Dia peduli dengan detail kehidupan kita. Seperti orang tua yang baik, Tuhan peduli pada kita dan ingin kita menjalani kehidupan yang bahagia, terpenuhi, dan sangat bermakna di bumi ini, serta bersama-Nya selamanya dalam sukacita kekal dari hadirat dan kemuliaan-Nya. Walaupun demikian, ada kalanya Tuhan, dalam hikmat dan perlindungan-Nya yang tak terbatas, meminta kita untuk melepaskan keinginan kita untuk mendapat kebahagiaan sementara yang ada di dunia ini agar kita dapat mengejar sukacita yang jauh lebih besar, lebih dalam, dan abadi. Tuhan ingin kita bahagia lebih dari sekadar sesaat!

“TUHAN menetapkan langkah-langkah orang yang hidupnya berkenan kepada-Nya; apabila ia jatuh, tidaklah sampai tergeletak, sebab TUHAN menopang tangannya.” Mazmur 37:23-24

Bersyukurlah sekalipun hidup ini berat

“Bersukacitalah senantiasa. Tetaplah berdoa. Mengucap syukurlah dalam segala hal, sebab itulah yang dikehendaki Allah di dalam Kristus Yesus bagi kamu.” 1 Tesalonika 5: 16-18

Pernahkah Anda menggunakan AI (Artificial Intellegence) atau Kecerdasan Buatan dalam pekerjaan Anda? Kecerdasan buatan adalah teknologi yang memiliki kemampuan pemecahan masalah layaknya seperti manusia. AI dalam tindakannya tampak seperti meniru kecerdasan manusia—teknologi ini dapat mengenali gambar, menulis puisi, dan membuat prediksi berbasis data yang ada sekalipun dalam batas-batas tertentu.

Saya baru-baru ini mencoba kemampuan AI untuk menjawab pertanyaan penting: Apa yang harus kita lakukan untuk hidup bahagia? Di luar dugaan saya, AI memberi beberapa cara yang nampaknya masuk akal untuk tetap optimis selama masa-masa sulit:

  • Berlatihlah bersyukur: Mengekspresikan rasa syukur secara teratur dapat membantu Anda menjadi lebih optimis dan tangguh.
  • Tantang pikiran negatif: Daripada terus-menerus memikirkan hal-hal negatif, cobalah untuk mengubahnya menjadi pikiran positif.
  • Fokus pada hal-hal positif: Carilah hal-hal baik dalam berbagai hal, rayakan pencapaian Anda, dan ubahlah pikiran negatif.
  • Luangkan waktu dengan orang-orang yang positif: Orang-orang yang positif dapat membantu Anda melihat sisi positif kehidupan dan menginspirasi Anda untuk mencapai tujuan Anda.
  • Berlatihlah untuk tetap sadar: Kesadaran melibatkan pemusatan perhatian pada saat ini tanpa mencari kesalahan. Ini dapat membantu Anda menghadapi kejadian yang tidak menyenangkan dan berdamai dengannya.
  • Tetapkan tujuan-tujuan kecil: Tetapkan tujuan-tujuan kecil yang dapat dicapai untuk membantu Anda tetap termotivasi.
  • Lakukan perawatan diri: Pastikan untuk merawat diri sendiri secara teratur.
  • Pertahankan omunikasi: Tetap terhubung dengan orang-orang terkasih dan carilah dukungan.

Yang membuat saya heran ialah bahwa AI menempatkan “berlatih bersyukur” pada urutan pertama. Itu berarti tindakan “bersyukur” adalah sangat penting. Tetapi, saya rasa ini tidak akan bisa dilaksanakan oleh semua orang. Bagaimana orang bisa bersyukur dalam keadaan sulit dan kepada siapa mereka harus bersyukur? Ini tidak dijelaskan. Tidak semua orang mengenal Tuhan yang sudah menyertai setiap orang dalam keadaan apa pun.

Karena dengan demikianlah kamu menjadi anak-anak Bapamu yang di sorga, yang menerbitkan matahari bagi orang yang jahat dan orang yang baik dan menurunkan hujan bagi orang yang benar dan orang yang tidak benar.” Matius 5:45

Hanya orang percaya yang tahu bahwa Tuhan sudah memberkati semua manusia, baik yang mengenal Dia atau yang tidak mengenal-Nya. Dalam hal ini, hanya orang Kristen yang tahu bahwa karunia terbesar yang sudah diterimanya adalah keselamatan kekal. Pada pihak lain, banyak orang Kristen yang lupa untuk bersyukur kepada-Nya pada setiap waktu dan dalam keadaan apa pun.

Ayat-ayat 1 Tesalonika 5:12-22 memberikan serangkaian nasihat kepada jemaat di Tesalonika. Sebagai anak-anak zaman itu, yang menantikan kedatangan Tuhan kembali, mereka perlu hidup benar. Sebagai jemaat, mereka perlu berhubungan baik dengan para pemimpin mereka. Paulus meminta mereka untuk memperlakukan semua rekan seiman mereka dengan baik dan sabar serta berbuat baik satu sama lain. Paulus menasihati jemaat untuk selalu bersukacita dan terus berdoa. Ucapan syukur yang terus-menerus harus menandai kehidupan mereka. Lebih jauh, Paulus memberi tahu para pembacanya untuk tidak memadamkan Roh Kudus atau bersikap negatif terhadap pelayanan gereja yang ada. Sebaliknya, mereka diharapkan untuk tetap berpegang teguh pada ajaran-ajaran yang telah mereka uji dan temukan kebenarannya. Terakhir, Paulus mengarahkan para pembacanya untuk menghindari segala jenis kejahatan.

Menurut 1 Tesalonika 5:16, orang Kristen harus bersukacita setiap saat. Mempraktikkan karunia pengampunan Tuhan tanpa syarat memungkinkan kita untuk menaati perintah untuk “bersukacita senantiasa.” Pikiran yang pahit dan tidak mau mengampuni menghalangi sukacita sebagaimana halnya balok kayu menghalangi aliran sungai. Kitab Suci mengakui bahwa keadaan hidup kita dan perlakuan orang lain kepada kita mungkin tidak selalu menghasilkan “kebahagiaan,” tetapi kebahagiaan tidak sama dengan sukacita. Sukacita, dalam Alkitab, melibatkan harapan yang penuh kepercayaan kepada Kristus, yang menuntun kepada hidup kekal (Yakobus 1:2-3; Ibrani 12:2).

Paulus mempraktikkan apa yang ia khotbahkan. Ketika ia menulis kepada jemaat Filipi dari penjara, ia tidak hidup dalam keadaannya, sebaliknya ia bangkit mengatasinya. Meskipun ia dibelenggu, ia bersukacita di dalam Tuhan (Filipi 1:17-18; 4:10). Sukacita Paulus mengalahkan pencobaannya. Meskipun mengalami perlakuan buruk, sering kali berhadapan dengan kematian, kesedihan, dan kemiskinan, ia selalu bersukacita (2 Korintus 6:8-10). Dengan demikian, sekalipun keadaan jemaat Tesalonika sulit, mereka juga dapat bersukacita “di dalam Tuhan.”

Yesus menghubungkan sukacita dengan ketaatan. Ia berkata,

“Jikalau kamu menuruti perintah-Ku, kamu akan tinggal di dalam kasih-Ku, seperti Aku menuruti perintah Bapa-Ku dan tinggal di dalam kasih-Nya. Semuanya itu Kukatakan kepadamu, supaya sukacita-Ku ada di dalam kamu dan sukacitamu menjadi penuh.” Yohanes 15:10-11

Dalam ayat 17 Paulus mendorong jemaat di Tesalonika untuk berdoa terus-menerus. Tentu saja, ini tidak berarti berdoa setiap saat. KIta tetap harus mengerjakan apa yang perlu dalam hidup kita. Sebaliknya, kita harus rajin berdoa, dan sering berbicara kepada Tuhan dalam doa yang sungguh-sungguh dan penuh dedikasi. Bahkan di tengah-tengah pencobaan, orang percaya harus menyadari nilai yang tak terukur dari memelihara persekutuan dengan Tuhan melalui doa yang sering.

Yesus adalah contoh terbaik tentang apa artinya berdoa terus-menerus. Ia mengajar murid-murid-Nya untuk berdoa (Matius 6:5–13). Ia berdoa sebelum memberi makan lima ribu orang (Matius 14:19–21). Ia berdoa ketika Ia memberkati anak-anak (Matius 19:13). Ia berdoa di pagi hari (Markus 1:35) dan di malam hari (Markus 6:45–47). Ia berdoa untuk murid-murid-Nya dan untuk semua orang percaya berikutnya (Yohanes 17). Ia berdoa di Taman Getsemani (Matius 26:36-42). Ia berdoa dari kayu salib (Lukas 23:34).

Rasul Paulus juga berdoa terus-menerus. Ia berdoa dari penjara pada tengah malam (Kisah Para Rasul 16:25). Ia berdoa setelah memberikan perintah kepada para penatua gereja di Efesus (Kisah Para Rasul 20:36). Ia berdoa di Malta (Kisah Para Rasul 28:8). Ia berdoa untuk Israel (Roma 10:1). Ia berdoa untuk gereja-gereja (Roma 1:9; Efesus 1:16; Filipi 1:4; Kolose 1:3-12).

Pagi ini kita belajar dari Paulus bahwa sukacita tidak datang secara otomatis dari Tuhan. Sukacita dan dukacita bukanlah takdir. Untuk bersukcita kita harus mempunyai kesadaran dan kemauan. Kita harus sadar bahwa Tuhan sudah mengasihi kita dari awalnya dan mau untuk rajin berdoa serta bersyukur kepada Dia yang merupakan sumber kekuatan kita.

Dari hati timbullah berbagai dosa

“Tetapi apa yang keluar dari mulut berasal dari hati dan itulah yang menajiskan orang. Karena dari hati timbul segala pikiran jahat, pembunuhan, perzinahan, percabulan, pencurian, sumpah palsu dan hujat.” Matius 15:18-19

Pada waktu itu, orang-orang Farisi dan ahli Taurat datang dari Yerusalem untuk menantang Yesus. Mereka tersinggung karena para murid-Nya melanggar tradisi para pemimpin agama tentang mencuci tangan sebelum makan. Yesus membalikkan serangan itu, dengan menunjukkan bahwa para pengkritik-Nya menghormati tradisi di atas perintah-perintah Allah yang sebenarnya! Ia menegaskan bahwa tidak seorang pun menjadi najis oleh apa yang masuk ke dalam mulut—oleh hal-hal yang harfiah itu sendiri—tetapi oleh luapan isi hati, seperti perkataan yang keluar dari mulut. Dosa bahkan sudah terjadi sebelum ada perkataan yang jahat keluar dari mulut.

Apa saja yang bisa menajiskan kita secara rohani? Segala macam dosa: perbuatan, perkataan, dan pikiran yang jahat, yang semuanya berasal dari hati yang kotor. Dalam Matius 15, Yesus tidak mengharuskan murid-murid-Nya untuk melakukan ritual mencuci tangan seperti yang dilakukan orang Farisi sebelum makan. Orang Farisi memang telah mengangkat tradisi ini ke tingkat “doktrin”. Mereka menganggap perlu untuk menghindari memasukkan setitik makanan yang dinyatakan “najis” oleh Hukum Taurat ke dalam mulut seseorang (Matius 15:1–2).

Matius 15:10–20 menggambarkan jawaban Yesus yang diperluas terhadap tantangan dari orang Farisi. Kekhawatiran mereka bukanlah tentang mencuci tangan demi kesehatan, tetapi untuk mengikuti ritual keagamaan. Ia berkata orang-orang Farisi ini adalah penuntun kerohanian yang buta. Yesus memberi tahu para murid bahwa bukan apa yang masuk ke mulut seseorang yang menajiskannya; melainkan perkataan yang keluar yang menyingkapkan dosa rohani dalam hatinya. Kekotoran itu sudah ada di sana, termasuk segala macam dosa. Ia memberi tahu mereka dengan tegas bahwa makan dengan tangan yang tidak dicuci tidak menajiskan siapa pun secara rohani. Orang tidak dapat mencuci kekotoran rohani mereka dengan mencuci kaki atau tangan.

Ketika Kristus menepis gagasan ini, Ia dengan tegas menyatakan bahwa tidak ada yang masuk ke mulut seseorang yang menajiskan (Matius 15:10–11). Zat dalam makanan hanya bergerak melalui tubuh dan kemudian dikeluarkan. Itu adalah proses fisik tanpa kemampuan untuk mengkontaminasi jiwa manusia dan membuatnya berdosa. Bahkan makanan yang dilarang bagi orang Israel hanyalah makanan—makanan itu sendiri tidak berisi berdosa. Sebagai orang Yahudi menurut garis keturunan Maria, Yesus tidak pernah melanggar pantangan makanan tersebut (Matius 5:17–19), tetapi Ia juga tidak mengajarkan orang untuk melakukannya.

Sebaliknya, dosa dan kenajisan sudah hidup dalam jiwa manusia dari awalnya. Kekotoran itu bisa terungkap dari hati melalui kata-kata yang diucapkan seseorang. Kata-kata menunjukkan apa yang ada di dalam hati seseorang. Ketika kita mengatakan sesuatu yang kotor atau jahat, kita menyingkapkan fakta bahwa kita sudah tercemar. Apa yang memenuhi hati meluap dan keluar melalui kata-kata seseorang. Jika seseorang berbicara cukup lama, ia akhirnya akan menunjukkan apa yang ada di dalam hatinya. Hati yang tercemar selalu mengluarkan kata-kata yang jahat, tidak sopan dan tidak benar.

Lebih lanjut, Yesus memberikan daftar contoh-contoh pencemaran yang ada di dalam hati manusia. Daftar ini tidak dimaksudkan untuk menjadi daftar yang lengkap; ada lebih banyak dosa daripada hanya ini. Daftar tersebut mencakup pikiran-pikiran jahat, pembunuhan, dan perzinahan. Yesus merujuk pada amoralitas seksual dalam bentuk apa pun dengan menggunakan istilah Yunani porneia. Ia juga merujuk pada pencurian, berbohong tentang tindakan orang lain, dan fitnah. Inilah yang hidup di dalam hati manusia dan diungkapkan melalui apa yang kita keluarkan dari hati kita.

Dalam kehidupan kita sehari-hari, kita tahu hal ini benar. Hatilah yang menbuat “dosa kecil” menjadi “dosa besar”. Misalnya, mengucapkan kata-kata kotor kepada seseorang, atau menyimpan kebencian dalam hati terhadap orang lain adalah dosa yang serius (Yakobus 3:8-10). Namun, membenci seseorang sedemikian rupa sehingga seseorang merencanakan dan melaksanakan pembunuhan adalah “lebih besar” dalam hal niat, akibat, dan hukumannya. Atau berpikir untuk berbohong. Berbohong kepada seseorang itu salah. Namun, berbohong sebagai pejabat pemerintah atau pengurus gereja dan bertindak curang dalam hal pendanaan dapat mengakibatkan berbagai masalah.

Bagaimana pula dengan dosa seksual? Segala aktivitas seksual di luar perjanjian pernikahan antara seorang pria dan seorang wanita adalah dosa. Namun, kita memandang dosa seksual yang merupakan distorsi terhadap tatanan ciptaan Tuhan, baik homoseksualitas, maupun keinginan seksual terhadap anak-anak (pedofilia) dan hubungan dengan binatang (bestialitas) merupakan hal yang lebih serius dalam hal konsekuensi dan dampaknya terhadap orang-orang yang terlibat dan juga masyarakat umum. Ini berarti bahwa orang Kristen yang mendukung atau mengabaikan bahaya dosa-dosa seperti itu sudah melakukan dosa yang besar karena potensinya untuk mempengaruhi pandangan dan cara hidup orang lain. Apalgi, di zaman ini, ada kecenderungan di beberapa negara bahwa pikiran erotis terhadap anak-anak dan hewan untuk dianggap normal selama itu tidak diwujudkan dalam perbuatan yang merugikan orang lain.

Pagi ini, Alkitab menegaskan apa yang kita ketahui sebagai kebenaran dalam pengalaman kita sehari-hari. Karena kita diciptakan sebagai pembawa gambar dan kasih karunia Allah, kita tidak dapat menghilangkan kebenaran Allah dari kehidupan, hati nurani, dan diri kita sendiri. Marilah kita berusaha untuk hidup di dalam terang kebenaran Tuhan setiap hari!

Karena bersyukur kita rela berkorban

“Karena itu, saudara-saudara, demi kemurahan Allah aku menasihatkan kamu, supaya kamu mempersembahkan tubuhmu sebagai persembahan yang hidup, yang kudus dan yang berkenan kepada Allah: itu adalah ibadahmu yang sejati. Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaharuan budimu, sehingga kamu dapat membedakan manakah kehendak Allah: apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna.” Roma 12:1-2

Roma 12:1–2 menjawab pertanyaan, ”Bagaimana kita harus menanggapi kemurahan hati Allah yang besar kepada kita?” Jawabannya adalah menjadi korban yang hidup dan bernapas, menggunakan hidup kita dalam pelayanan kepada Allah sebagai tindakan penyembahan yang berkelanjutan. Itulah yang masuk akal. Ini bukanlah cara untuk memperoleh keselamatan, tetapi tanggapan alami yang seharusnya kita miliki untuk diselamatkan. Untuk melakukan ini, kita perlu melepaskan diri dari pola dunia yang mementingkan diri sendiri dan mengubah pikiran kita agar mampu memahami apa yang Allah inginkan. Melalui ayat-ayat ini, kita akan tahu bagaimana cara hidup sebagai orang Kristen sejati.

Dalam Roma 12, Paulus menggambarkan penyembahan kepada Allah kita sebagai korban yang hidup bagi Allah kita. Kita berhenti mencari apa yang kita inginkan dari kehidupan duniawi dan belajar untuk mengetahui dan melayani apa yang Allah inginkan. Itu dimulai dengan menggunakan karunia rohani kita untuk melayani satu sama lain di gereja. Daftar perintah Paulus menggambarkan gaya hidup yang berbeda dengan gaya hidup orang lain. Sudah tentu kita harus berusaha mencukupi kebutuhan kita sendiri, tetapi lebih dari itu tujuan kita sebagai orang Kristen adalah untuk saling mengasihi dan saling menolong. Kita harus memfokuskan harapan kita pada kekekalan dan menunggu dengan kesabaran dan doa, agar Bapa kita menyediakan itu untuk kita pada waktunya. Kita harus menolak untuk terjerumus ke dalam kejahatan, memberikan kebaikan kepada mereka yang menyakiti kita dan bukannya membalas dendam.

Paulus memulai permohonan kepada saudara-saudari rohaninya: saudara-saudarinya di dalam Kristus. Meskipun ia adalah rasul yang diutus oleh Yesus sendiri untuk membawa Injil ke seluruh dunia, Paulus juga “salah seorang dari kita.” Ia adalah manusia berdosa yang diselamatkan oleh kasih karunia Allah melalui iman kepada Yesus. Ia memanggil Allah Bapa, seperti kita, menjadikan-Nya saudara kita. Ia menyampaikan perintah Tuhan yang juga berlaku untuk dirinya sendiri.

Paulus mendesak kita untuk menyadari bahwa Allah telah menunjukkan belas kasihan yang sangat besar kepada kita, yang dijelaskan secara rinci sebelumnya dalam surat ini. Himne pujian dalam empat ayat sebelumnya (Roma 11:33-36) memperjelas bahwa Allah tidak berutang apa pun kepada kita. Namun, bukannya menghukum kita yang berdosa dengan kematian, Ia justru memberi kita hidup dan tujuan hidup di dalam Kristus. Ia telah mengampuni dosa-dosa kita dan berbagi dengan kita kekayaan dan kemuliaan-Nya. Kita tidak pantas mendapatkan semua itu. Bagaimana kita harus menanggapinya?

Paulus menulis bahwa sebagaimana orang Yahudi mempersembahkan hewan yang disembelih sebagai kurban kepada Tuhan, orang Kristen seharusnya rela mempersembahkan diri kita, tubuh kita, kepada-Nya sebagai kurban yang hidup. Dengan kata lain, satu-satunya tanggapan yang rasional terhadap kemurahan hati Tuhan dalam memberi kita hidup kekal adalah dengan rela memberikan hidup kita kepada-Nya sebagai kurban untuk digunakan bagi tujuan-Nya saat ini.

Kurban hewan di bawah sistem kurban perjanjian lama harus dipisahkan dari kawanannya untuk tujuan itu dan dipilih dengan hati-hati untuk memastikan bahwa kurban tersebut dapat diterima—tidak cacat dan tidak terluka. Sebagai kurban yang hidup, Tuhan telah memisahkan kita untuk tujuan-Nya dan menyatakan kita dapat diterima karena Dia melihat kita dalam posisi kita di dalam Kristus. Dengan kata lain, kita tidak perlu menunggu menjadi orang yang sempurna sebelum kita mempersembahkan tubuh dan hidup kita kepada Tuhan. Sebagai orang-orang di dalam Kristus, Dia akan menerima kurban kehidupan kita sehari-hari saat ini.

Maka, kehidupan dalam penyembahan ini adalah tanggapan yang tepat terhadap kemurahan hati yang telah Tuhan berikan kepada kita. Paulus mendesak orang Kristen untuk sekarang juga menanggapi belas kasihan Allah, pengampunan-Nya atas dosa kita, dan penyertaan-Nya atas kita dalam keluarga-Nya. Reaksi yang tepat adalah mempersembahkan seluruh hidup kita kepada-Nya, hari demi hari, sebagai bentuk rasa syukur dengan pengorbanan yang hidup dan bernapas.

Selanjutnya, Paulus menulis bahwa kita tidak boleh lagi mengikuti dunia. Kata “dunia” sering digunakan dalam Perjanjian Baru untuk merujuk pada “sistem dunia,” atau cara setiap manusia hidup secara duniawi. Yohanes menggambarkan cara hidup duniawi ini sebagai “keinginan daging dan keinginan mata serta keangkuhan hidup” (1 Yohanes 2:16). Secara naluri, kita semua mengejar hal-hal itu untuk mengejar kebahagiaan dan makna.

“Sebab semua yang ada di dalam dunia, yaitu keinginan daging dan keinginan mata serta keangkuhan hidup, bukanlah berasal dari Bapa, melainkan dari dunia.” 1 Yohanes 2:16

Paulus memberi tahu kita untuk rela meninggalkan pengejaran kesenangan, harta benda, dan status—untuk berhenti hidup seperti orang yang belum percaya. Sebaliknya, ia mendesak kita untuk diubahkan dari dalam ke luar. Secara khusus, ia menulis bahwa kita harus diubah dalam cara kita berpikir, untuk memperbarui pikiran kita karena adanya rasa syukur yang luar biasa, sehingga kita dapat mulai memahami kehendak Allah bagi hidup kita dan menyatakannya dalam segala perbuatan kita.

Hari ini, Tuhan mungkin terus memberi kita kesenangan, harta benda, dan status dalam berbagai bentuk, tetapi Ia mendesak kita untuk belajar cara memandang hidup baru kita di dalam Kristus dengan pertanyaan baru: Apa yang Tuhan inginkan untukku dengan semua yang ada? Apa yang benar-benar baik, dapat diterima, dan sempurna dalam hidupku untuk tujuan-Nya dan bukan hanya untuk tujuanku sendiri?

“Sebab itu marilah kita, oleh Dia, senantiasa mempersembahkan korban syukur kepada Allah, yaitu ucapan bibir yang memuliakan nama-Nya. Dan janganlah kamu lupa berbuat baik dan memberi bantuan, sebab korban-korban yang demikianlah yang berkenan kepada Allah.” Ibrani 13: 15-16

Sikap antinomianisme dari kaum Hiper-Calvinis

Hiper-Calvinisme adalah pembunuh. Saya tidak mengatakan ini untuk bersikap dramatis, tetapi sekadar bersikap realistis tentang teologi yang akan menguras habis kehidupan gereja lokal. Dalam tulisan terakhir saya, saya mulai mengupas “dampak mematikan” Hiper-Calvinisme sebagai peringatan yang bermanfaat bagi saudara-saudara Calvinis saya untuk menjauh sejauh mungkin dari jalan licin yang halus ini.

Secara khusus, saya telah berusaha menggarisbawahi lima cara di mana Hiper-Calvinisme akan mengeraskan gereja, dan karenanya menekan kuasa pemberi hidup, belas kasihan, dan pengudusan Injil. Tiga dampak mematikan pertama dalam Hiper-Calvinisme ini menjadi fokus pertimbangan terakhir kita. Pertama-tama, kita melihat bagaimana prevalensi Hiper-Calvinisme akan mematikan pemberitaan Injil kepada orang-orang yang terhilang. Sementara kaum Hyper-Calvinis dengan tepat menerima kedaulatan Allah dalam keselamatan, namun ia secara keliru menyimpulkan dari kebenaran ini (berdasarkan akal budi manusia dan bukan Kitab Suci ilahi) bahwa memanggil orang berdosa untuk bertobat dan percaya kepada Kristus mengingkari kehendak Allah yang berdaulat untuk menyelamatkan. Dengan demikian, mandat Alkitab untuk memberitakan Injil kepada semua bangsa (Lukas 24:47) diingkari, diabaikan, atau ditafsirkan ulang untuk mengartikan sesuatu selain menginjili orang berdosa.

Selain itu, kaum Hyper-Calvinis juga akan mematikan doa. Karena Allah telah menetapkan segala sesuatu yang akan terjadi, kaum Hyper-Calvinis beralasan bahwa doa tidak ada gunanya, karena doa tidak akan mengubah apa yang telah Allah kehendaki. Oleh karena itu, kaum Hyper-Calvinis benar-benar menjadi seorang fatalis karena ia mengingkari kebenaran bahwa Allah menetapkan doa sebagai sarana untuk mencapai tujuan ilahi-Nya (misalnya, Filipi 1:19-20). Akhirnya, kaum Hyper-Calvinisme akan mematikan semangat bersyukur dalam pemeliharaan Allah. Karena kaum Hyper-Calvinis telah memutuskan bahwa “apa pun yang akan terjadi, akan terjadi” – maka ia tidak dapat “mengucap syukur dalam segala hal” (1 Tesalonika 5:18), karena ia tidak dapat melihat bagaimana Allah secara pribadi, dengan bijaksana, dan penuh kasih mengerjakan segala sesuatu untuk kebaikan orang percaya (Roma 8:28). Oleh karena itu tidak ada sukacita dan rasa syukur dalam pemeliharaan Allah, tetapi hanya ketabahan yang muram untuk sekadar menanggung apa pun yang telah Allah kehendaki.

Namun ini bukanlah satu-satunya “dampak mematikan” dari Hyper-Calvinisme. Ada dua cara mematikan lainnya di mana Hyper-Calvinisme bekerja melawan kehidupan rohani sebuah gereja. Pertama, Hyper-Calvinisme akan membunuh kewaspadaan harian. Memuliakan kebenaran kedaulatan Allah atas segala sesuatu adalah benar dan sehat untuk menumbuhkan kehidupan Kristen yang kuat (lihat Amsal 16:1,9; Roma 8:28-31; 11:33-36). Akan tetapi, bagi kaum Hyper-Calvinis, kedaulatan Allah adalah segalanya. Ia makan, minum, dan tidur adalah kedaulatan ilahi. Jadi, ketika Kitab Suci memanggilnya untuk “berjaga-jaga” (1 Petrus 5:8), memperhatikan bagaimana ia harus hidup agar ia tidak jatuh ke dalam pencobaan (Matius 26:41; bdk. 1 Korintus 10:12) – ia mengabaikan peringatan-peringatan tersebut sebagai sesuatu yang harus dianggap enteng, karena Allah berdaulat. Dengan kata lain, kedaulatan Allah bagi kaum Hyper-Calvinis membatalkan mandat Alkitab yang menekankan tanggung jawab pribadi pada orang Kristen untuk berhati-hati dalam cara hidupnya.

Akibatnya, kaum Hyper-Calvinis menjadi seorang antinomian. Karena itu, ia menggunakan kebenaran kedaulatan Allah untuk membenarkan perilakunya yang berdosa. Ia bernalar dalam hati: “Baiklah, saya tidak akan melakukan dosa ini jika bukan kehendak kedaulatan Allah.” Namun, penalaran semacam ini adalah kegilaan dan penghujatan. Ia berusaha menjadikan Allah sebagai sumber dosa, sementara menolak kebenaran Alkitab tentang tanggung jawab moral manusia atas tindakannya sendiri (Yakobus 1:13-15). Hasil dari pemikiran semacam ini di gereja akan menjadi jemaat yang keras kepala, orang-orang berdosa yang sombong, yang sebagian besar perlu diselamatkan. Karena jika tidak ada panggilan untuk bertobat dari dosa dan mengejar kekudusan sebagai jalan hidup, ini hanya akan meneguhkan orang-orang berdosa dalam kesombongan dan ketidakpercayaan mereka. Dan ini adalah konsekuensi yang paling mematikan dari Hyper-Calvinisme.

Kedua, Hyper-Calvinisme membunuh kesesuaian total dengan seluruh Kitab Suci. 2 Timotius 3:16-17 meyakinkan kita bahwa “semua Kitab Suci dihembuskan oleh Allah dan bermanfaat untuk mengajar, untuk menyatakan kesalahan, untuk memperbaiki kelakuan dan untuk mendidik orang dalam kebenaran. Dengan demikian tiap-tiap manusia kepunyaan Allah diperlengkapi untuk setiap perbuatan baik.” Namun, Hyper-Calvinis tidak mempercayai kesaksian suci tentang Kitab Suci ini. Satu-satunya hal yang “bermanfaat” baginya adalah kedaulatan Allah. Namun, sejauh menyangkut ajaran Alkitab lainnya, hal itu tidak menjadi masalah. Akan tetapi, ketidakpedulian yang ditunjukkan oleh Hyper-Calvinisme terhadap seluruh Firman Tuhan sebenarnya merupakan penyangkalan terhadap kedaulatan Tuhan. Sebab jika yang Tuhan inginkan agar kita ketahui hanyalah kedaulatan-Nya, maka ini akan menjadi satu-satunya doktrin yang ditemukan dalam Kitab Suci. Namun, bukan itu masalahnya. Tuhan menghendaki kita menerima segala sesuatu yang telah Dia ungkapkan (dalam konteks yang tepat!), sehingga kita akan diperlengkapi untuk setiap pekerjaan baik. Namun, Hyper-Calvinisme menyangkal berkat ini.

December 5, 2017 By Kurt Smith, Providence Reformed Baptist Church, Pine Mountain in Remlap, Alabama

Apa pentingnya karakter bagi orang Kristen?

“dan jadikanlah dirimu sendiri suatu teladan dalam berbuat baik. Hendaklah engkau jujur dan bersungguh-sungguh dalam pengajaranmu, sehat dan tidak bercela dalam pemberitaanmu sehingga lawan menjadi malu, karena tidak ada hal-hal buruk yang dapat mereka sebarkan tentang kita.” Titus 2: 7-8

Pemilihan umum di Amerika sudah berlangsung dengan baik dan untuk itu kita harus bersyukur. Tidak ada yang lebih mengkhawatirkan daripada terjadinya kerusuhan berdarah di negara besar yang dianggap sebagai contoh negara demokrasi, seperti yang terjadi pada tanggal 6 Januari 2021 di ibukota Amerika, Washington D.C., ketika gedung Capitol diserbu oleh pendukung capres yang baru terpilih minggu lalu. Walaupun demikian, bagi sebagian orang, ada keheranan bagaimana seorang yang dianggap mempunyai karakter yang tercela bisa terpilih menjadi presiden. Dalam hal ini, jawabannya adalah bahwa rakyat pada umumnya lebih mementingkan apa yang dijanjikan seorang capres daripada apa yang terlihat sebagai karakternya. Sebagai alasan, sebagian orang berpendapat bahwa mereka tidak bisa mengharapkan setiap orang yang mengaku Kristen untuk berkarakter seperti orang Kristen. Bagi orang yang lain, setiap orang Kristen masih mempunyai karakter yang tidak baik. Jelas bahwa hasil pemilihan umum tidak dipengaruhi oleh karakter capres yang mengaku Kristen itu. Karena itu, pertanyaan bagi kita adalah: Apakah pentingnya karakter bagi orang Kristen?

Sebagai orang Kristen kita percaya bahwa manusia dapat menjadi murid Tuhan sebenarnya bukan karena usaha manusia. Inilah prasyarat pertama untuk pengaruh spiritual, yaitu bekerjanya Roh Kudus dalam diri orang pilihan Tuhan. Selanjutnya, karakter adalah prasyarat kedua untuk pengaruh spiritual. Setiap manusia diciptakan menurut gambar Tuhan, dan secara naluriah dan dalam keterbatasan mereka, menghargai sifat-sifat karakter Tuhan yang merancang kita – bahkan bagi mereka yang tidak mengenal Tuhan. Umat manusia secara universal menghargai buah Roh: “kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan dan penguasaan diri” (Galatia 5:22-23). Pada zaman Yesus, banyak orang yang ditolak oleh para pemimpin agama kemudian tertarik kepada Yesus karena Ia mewujudkan karakteristik ini. Sampai hari ini, karakter seperti yang Yesus miliki masih menarik perhatian dan mengundang rasa hormat banyak orang, tetapi bukan semua orang.

Orang non-Kristen memerhatikan kegembiraan kita ketika kita bekerja, kedamaian kita di tengah kekecewaan, dan keanggunan dan kerendahan hati kita terhadap orang-orang yang menguji kesabaran kita. Sayangnya, karakter semacam ini sering terasa kurang terlihat dalam hidup kita yang dituntut untuk menunjukkan karakter Yesus kepada dunia. Pada tahun 2013, ada survei yang mempelajari kemunafikan di kalangan orang Kristen. Di antara mereka yang mengidentifikasi diri mereka sebagai orang Kristen, penelitian berdasarkan daftar sikap dan tindakan yang dipilih untuk diri sendiri menemukan bahwa 51 persen menggambarkan diri mereka lebih seperti orang Farisi (munafik, merasa benar sendiri, menghakimi) dibandingkan dengan hanya 14 persen yang mencontoh tindakan dan sikap Yesus (tanpa pamrih, empati, kasih dan lain-lainnya). Kekurangan umat Kristen inilah yang bisa menghambat usaha penginjilan. Mengapa demikian? Teolog terkenal C.S. Lewis menjelaskan masalahnya:

“Ketika kita orang Kristen berperilaku buruk, atau gagal berperilaku baik, kita membuat kekristenan tidak dapat dipercaya oleh dunia luar. … Kehidupan kita yang ceroboh membuat dunia luar berbicara; dan kita memberi dunia sebuah alasan untuk berbicara dengan cara yang meragukan kebenaran kekristenan….”

Karakter didefinisikan sebagai kekuatan moral yang oleh sebagian orang Kristen dipandang tidak terlalu penting, dengan alasan bahwa semua orang adalah tidak sempurna. Walaupun demikian, penginjil terkenal A.W. Tozer menggambarkan karakter sebagai “keunggulan makhluk bermoral.” Sebagaimana keunggulan yang dimiliki emas adalah kemurniannya dan keunggulan dari seni adalah keindahannya, maka keunggulan manusia adalah karakternya. Orang yang berkarakter dikenal karena kejujuran, etika, dan kedermawanannya. Deskripsi seperti “pria yang berprinsip” dan “wanita yang berintegritas” merupakan penegasan karakter. Kurangnya karakter adalah kekurangan moral, dan orang yang tidak memiliki karakter yang baik cenderung berperilaku tidak jujur, tidak etis, dan tidak beramal.

Karakter seseorang berasal dari watak, pikiran, niat, keinginan, dan tindakannya. Perlu diingat bahwa karakter diukur berdasarkan kecenderungan umum, bukan berdasarkan beberapa tindakan yang terisolasi. Kita harus melihat keseluruhan kehidupan orang yang bersangkutan. Misalnya, Abraham yang diberkati Tuhan sekalipun tidak percaya bahwa istrinya akan memperoleh seorang putra di hari tua (Kejadian 18:1-3). Raja Daud adalah orang yang berkarakter baik (1 Samuel 13:14) meskipun ia terkadang berbuat dosa (2 Samuel 11). Sebaliknya, meskipun Raja Ahab mungkin pernah bertindak mulia (1 Raja-raja 22:35), ia tetaplah seorang yang berkarakter buruk secara keseluruhan (1 Raja-raja 16:33). Dengan demikian, sebagai orang Kristen kita tidak boleh tertipu oleh janji-janji manis dari orang yang buruk karakternya karena sekalipun orang itu dapat membuat kita puas, besar kemungkinan bahwa hasil itu dicapainya dengan cara yang salah.

Karakter juga dipengaruhi dan dikembangkan oleh pilihan-pilihan kita, bukan 100% ditetapkan oleh Tuhan melalui faktor genetika dan tempat dan situasi di mana kita hidup. Daniel “bertekad untuk tidak menajiskan dirinya” di Babel (Daniel 1:8), dan pilihan saleh itu merupakan langkah penting dalam merumuskan integritas yang tak tergoyahkan dalam kehidupan pemuda itu. Karakter, pada gilirannya, memengaruhi pilihan-pilihan kita. “Orang yang jujur dipimpin oleh ketulusannya” (Amsal 11:3a). Karakter akan membantu kita menghadapi badai kehidupan dan menjauhkan kita dari dosa (Amsal 10:9a). Setiap orang bertanggung jawab atas hidupnya.

“Sebab kita semua harus menghadap takhta pengadilan Kristus, supaya setiap orang memperoleh apa yang patut diterimanya, sesuai dengan yang dilakukannya dalam hidupnya ini, baik ataupun jahat.” 2 Korintus 5:10

Tujuan Tuhan adalah mengembangkan karakter di dalam diri kita. “Kui adalah untuk melebur perak dan perapian untuk melebur emas, tetapi TUHANlah yang menguji hati.” (Amsal 17:3). Karakter yang saleh adalah hasil dari pekerjaan pengudusan Roh Kudus. Karakter dalam orang percaya adalah manifestasi Yesus yang konsisten dalam hidupnya. Kemurnian hati yang diberikan Allah menjadi kemurnian dalam tindakan. Allah terkadang menggunakan ujian untuk memperkuat karakter: “Kita malah bermegah juga dalam kesengsaraan kita, karena kita tahu, bahwa kesengsaraan itu menimbulkan ketekunan, dan ketekunan menimbulkan tahan uji dan tahan uji menimbulkan pengharapan.” (Roma 5:3-4). Tuhan senang ketika anak-anak-Nya bertumbuh dalam karakter yang baik dan menjadi sempurna di dalam Dia.

Kita dapat mengembangkan karakter dengan mengendalikan pikiran kita (Filipi 4:8), mengamalkan kebajikan Kristen (2 Petrus 1:5-6), menjaga hati kita (Amsal 4:23; Matius 15:18-20), dan bergaul dengan orang baik (1 Korintus 15:33). Pria dan wanita yang berkarakter akan memberikan contoh yang baik bagi orang lain untuk diikuti, dan reputasi saleh mereka akan terlihat oleh semua orang (Titus 2:7-8).

Jika kata-kata kita berarti bagi orang lain, kata-kata itu harus mengalir dari kehidupan yang berintegritas. Jika tidak, perbuatan dan kata-kata kita akan diwarnai dengan kesombongan atau kebohongan. Sebaliknya, ketika orang melihat bahwa kita tidak hanya berpose atau melakukan pencitraan, tetapi dengan rendah hati berusaha menjalani kehidupan yang berintegritas, mereka akan menghargai pesan-pesan kita.

Orang-orang juga memerhatikan apa yang akan kita lakukan ketika kita gagal dalam menjalani tes integritas. Dalam hal ini, apakah kita mau mengakui bahwa kita tidak sepenuhnya memiliki integritas sebagai anak Tuhan? Mungkin yang lebih penting daripada memperbaiki keadaan adalah mengakui bahwa kita sering melakukan kesalahan, mencari pengampunan, dan menebus kesalahan kita kepada mereka yang kita lukai. Salah satu elemen karakter yang paling menarik adalah kerendahan hati untuk menerima bahwa kita bukanlah manusia yang sempurna atau manusia yang paling bijaksana.

Memang, sering kali sebagai orang Kristen kita berperilaku seolah-olah kita yang sudah lahir baru dan memiliki segalanya untuk diberikan kepada orang non-Kristen yang belum menerima apa pun dan sama sekali rusak karakter dan moralnya. Karena itu, banyak orang mungkin merasa malu untuk mengakui kelemahan atau memperlihatkan kekurangan apa pun yang bisa merendahkan pamor kita. Pada pihak yang lain, ada juga orang Kristen yang merasa bahwa mereka tidak perlu malu dengan segala kekurangan dan cara hidup mereka yang kacau karena mereka yakin sudah terpilih. Kedua sikap ini tentunya keliru, untuk tidak dikatakan munafik!

Hari ini kita belajar bahwa karakter dan moralitas yang baik adalah ciri orang Kristen sejati. Hidup sebagai saksi Kristus tidaklah mudah. Rasul Yakobus menulis bahwa imat adalah mati jika tidak disertai perbuatan (Yakobus 2: 17). Tetapi, berbuat baik saja tidak cukup untuk mmberitakan injil. Kita harus mempunyai sesuatu yang menarik dalam karakter kita. Dalam hal ini, yang terutama adalah kemampuan kita untuk mengakui kegagalan dan kehancuran, yang merupakan karakter yang sangat menonjol dalam masyarakat dan budaya di sekitar kita. Orang perlu mencium bau harum kehadiran Yesus dalam karakter kita, yang paling nyata terlihat melalui karakter rendah hati yang Dia ciptakan dalam diri kita. Itu tidaklah mudah untuk dipraktikkan. Kita tidak dapat memperlihatkan karakter yang baik kepada dunia jika Roh Kudus tidak bekerja sepenuhnya dalam hidup kita. Kita tidak dapat berkarakter baik dengan meniru pemimpin yang berkarakter buruk.

Kita dapat “mendukakan Roh Kudus” dengan bertindak seperti orang yang belum percaya dengan menyerah kepada natur dosa kita, dengan berdusta, dengan kemarahan, dengan percabulan. “Mendukakan Roh Kudus” itu terjadi ketika kita melakukan hal yang berdosa baik melalui pikiran, perkataan, dan perbuatan, maupun melalui pikiran saja. Baik “memadamkan” dan “mendukakan” Roh memiliki dampak yang sama; keduanya menghalangi seseorang untuk hidup dalam kekudusan. Keduanya terjadi ketika orang-percaya berdosa kepada Allah dan mengikuti keinginan duniawinya. Jika kita tidak suka didukakan, kita juga tidak akan berusaha memadamkan apa yang baik. Karena itu, kita tidak boleh mendukakan atau memadamkan Roh Kudus dengan menolak mendengarkan bimbingan-Nya.

“Dan janganlah kamu mendukakan Roh Kudus Allah, yang telah memeteraikan kamu menjelang hari penyelamatan.” Efesus 4:30

Larangan bukan untuk diabaikan

“Sebab itu hendaklah dosa jangan berkuasa lagi di dalam tubuhmu yang fana, supaya kamu jangan lagi menuruti keinginannya.” Roma 6:12

Tidak dapat dipungkiri bahwa dunia pendidikan anak sudah mengalami perubahan besar selama 40 tahun terakhir. Jika dulu, seorang anak agaknya harus menaati semua perintah orang tua, di zaman ini banyak orang tua yang kewalahan dalam usaha mendidik anak-anak mereka. Mengapa? Dengan kemajuan teknologi zaman ini anak-anak sudah terbiasa melihat berbagai hal melalui TV dan media sosial. Mereka sering merasa bahwa perintah orang tua sebagai sesuatu yang tidak relevan. Pada pihak yang lain, banyak orang tua modern merasa bahwa kebebasan untuk memilih dan belajar untuk bertanggung jawab atas pilihan sendiri adalah perlu bagi anak-anak mereka.

Dalam kehidupan Kristen, peruahan serupa juga terjadi sekalipun sudah berlangsung sejak lama. Dengan kemajuan cara hidup individual dan hak azasi manusia, banyak orang Kristen yang merasa bahwa hukum Tuhan adalah “optional” atau “pilihan” bagi mereka dan bukannya keharusan. Para pemimpin gereja mengalami kesulitan untuk menegur jemaat yang melakukan hal yang tidak baik. Dalam khotbah, semakin jarang disampaikan pesah untuk tidak berbuat ini dan itu, atau agar jemaat melaksanakan firman Tuhan jika mereka mengaku orang Kristen. Apalagi, di gereja tertentu agaknya ditekankan bahwa karena kita sudah menerima “grace” atau karunia keselamatan dari Tuhan, Tuhan tidak lagi menuntut kita untuk melaksanakan semua perintah-Nya. Kata “hendaklah” dan “janganlah” dalam Alkitab kelihatannya sudah pudar artinya.

Dalam Roma 6, Paulus menjawab pertanyaan apakah orang Kristen harus terus berbuat dosa. Jawabannya tegas: kita sama sekali tidak boleh berbuat dosa. Pertama, ketika kita datang kepada Allah melalui iman kepada Yesus, kita mati terhadap dosa. Kita tidak lagi menjadi budak dosa. Kedua, apa yang pernah kita dapatkan dari hidup demi dosa? Itu menuntun kita kepada rasa malu dan kematian. Kebenaran yang diberikan kepada kita secara cuma-cuma oleh Allah di dalam Kristus Yesus menuntun kita untuk menjadi seperti Yesus dan kepada hidup kekal. Kita harus melayani kebenaran dan bukan dosa.

Roma 6:1–14 membahas bagaimana orang Kristen seharusnya berpikir tentang dan menanggapi dosa sekarang setelah kita berada di dalam Kristus dan dosa-dosa kita diampuni. Dalam menjelaskan hal ini, Paulus mengungkapkan informasi baru tentang apa yang terjadi ketika kita menaruh iman kita kepada Kristus. Dalam arti rohani, kita mati bersama-Nya, dan terhadap dosa-dosa kita. Kita kemudian dibangkitkan ke dalam kehidupan rohani yang baru. Sekarang Paulus memerintahkan kita untuk terus mengingat bahwa kita tidak lagi menjadi budak dosa. Kita tidak boleh mempersembahkan tubuh kita untuk digunakan demi dosa, tetapi kita harus mempersembahkan diri kita sebagai alat kebenaran.

Dalam Roma 6:11, Paulus memberi tahu kita untuk menganggap diri kita mati terhadap dosa dan hidup bagi Allah sebagaimana Kristus mati terhadap dosa dan hidup bagi Allah. Sekarang dalam Roma 6:12, ia memberi tahu kita untuk tidak membiarkan dosa berkuasa atau berkuasa dalam tubuh kita yang fana saat ini. Kita tidak boleh membiarkan dosa membuat kita menaatinya. Dosa adalah musuh kita.

Perlu dicatat, bahwa kata “hendaklah dosa jangan berkuasa” dalam Roma 6:12 muncul sebagai “jangan lagi membiarkan dosa” dalam terjemahan Alkitab versi lain. Kata “jangan” bisa dianggap sebagai larangan tegas yang harus ditaati, dan ini sesuai dengan terjemahan dalam banyak Alkitab berbahasa Inggris. Tentunya ada orang yang mengangap bahwa kata “hendaklah” sebagai sebuah anjuran dan bukan perintah.

Perintah ini bisa membingungkan beberapa pembaca. Bukankah Paulus mengatakan bahwa kita telah mati terhadap dosa (Roma 6:1)? Bukankah ia telah memberi tahu kita bahwa “tubuh dosa” telah disingkirkan (Roma 6:6) dan bahwa kita telah dibebaskan dari dosa dengan mati bersama Kristus ketika kita percaya kepada-Nya (Roma 6:7)? Jadi, bagaimana mungkin dosa dapat berkuasa dalam diri kita atau membuat kita menaati hawa nafsunya? Mengapa kita tetap harus berjuang untuk melawan dosa? Jawaban sederhananya adalah ini: Kita telah dibebaskan dari belenggu dosa atas diri kita, tetapi kita belum kehilangan keinginan untuk berbuat dosa. Singkatnya, dosa masih menarik bagi kita. Mudah bagi kita untuk lupa, atau bahkan tidak percaya, bahwa kita tidak akan pernah lagi melakukan dosa (1 Korintus 10:13). Kita bukanlah budak dosa. Kita hanya bisa melakukan dosa dengan sukarela, alias dengan kehendak sendiri.

Paulus memerintahkan kita untuk terus-menerus melakukan percakapan dengan diri kita sendiri. Ia memerintahkan kita untuk terlibat dalam pertempuran melawan keinginan kita. Jangan biarkan dosa memberi tahu Anda apa yang harus dilakukan, tulisnya. Bagi orang Kristen yang sudah diselamatkan, keinginan berdosa bukan lagi yang utama. Orang Kristen seharusnya tidak menyerahkan kendali kepada dorongan tersebut. Orang Kristen tidak seharusnya berpikir bahwa ia sudah ditakdirkan untuk mempunyai kelemahan atau berada dalam keadaan yang tidak menguntungkan dalam menghadapi godaan dosa. Kita bertanggung jawab atas semua dosa kita.

Paulus telah menjelaskan dengan sangat jelas bahwa kita yang ada di dalam Kristus harus terlibat dalam semacam pertempuran dengan diri kita sendiri. Kita telah dibebaskan, melalui kematian rohani dan kebangkitan kita bersama Kristus, dari kuasa dosa. Diri lama kita telah disalibkan secara rohani dengan cara yang sama seperti Kristus disalibkan secara rohani. Hasilnya adalah bahwa dosa seharusnya tidak lagi memiliki otoritas atas kita. Kita telah dibebaskan.

Namun, kita belum kehilangan keinginan untuk berbuat dosa. Kita masih ingin berbuat dosa, kadang-kadang, bahkan sekalipun sadar betapa merusaknya dosa kita. Paulus telah memerintahkan kita untuk tidak secara sukarela berbuat dosa, tidak membiarkannya mengendalikan tubuh kita. Sekarang dia menekankan perintahnya dengan lebih rinci. Kita tidak boleh menyerahkan anggota tubuh kita, bagian mana pun dari tubuh kita, untuk digunakan dosa untuk melakukan hal-hal yang tidak benar.

Perhatikan sesuatu tentang perintah itu: Perintah itu menegaskan bahwa kita memiliki kendali atas apa yang kita lakukan dengan tubuh kita sendiri. Kematian Kristus dan kuasa roh Allah memberi kita kendali itu. Mereka yang sudah diselamatkan hanya dapat berdosa dengan memilih dengan kehendak bebas untuk melakukannya.

Pagi ini, Paulus menulis bahwa kita harus mempersembahkan tubuh kita kepada Allah untuk digunakan bagi kebenaran. Bahkan, kita harus melakukannya dengan sengaja seperti orang-orang yang telah dibawa dari kematian menuju kehidupan. Bagaimana kita melakukannya? Kita mulai dengan terus-menerus mengingatkan diri kita sendiri bahwa kita benar-benar telah dibawa dari kematian menuju kehidupan. Itulah diri kita sekarang, dan itulah kehidupan yang ditakdirkan untuk kita jalani.