Hidup sebagai ciptaan baru

“Jadi siapa yang ada di dalam Kristus, ia adalah ciptaan baru: yang lama sudah berlalu, sesungguhnya yang baru sudah datang.” 2 Korintus 5:17

“Kamu harus dilahirkan kembali.” Pemimpin agama yang mendengar kata-kata ini pertama kali diucapkan 2.000 tahun yang lalu tampak tercengang mendengarnya. Karena hal ini, Nikodemus, seorang Farisi dan pemimpin Yahudi, telah mengakui keyakinannya bahwa Yesus Kristus datang dari Tuhan, “sebab tidak seorang pun dapat melakukan tanda-tanda yang Dia lakukan ini, kecuali Tuhan menyertai Dia.” Pasal tiga Injil Yohanes mencatat percakapan menarik antara Yesus dan Nikodemus, yang memberi kita kunci penting menuju kerajaan Allah.

Baik orang percaya maupun orang tidak percaya menggunakan kata-kata Yesus “dilahirkan kembali,” (born again) dan banyak orang, seperti Nikodemus, masih bingung dengan kata-kata tersebut.

Nikodemus bertanya kepada Yesus, “Bagaimana mungkin manusia dilahirkan, kalau ia sudah tua? Tidak mungkin ia masuk ke dalam rahim ibunya untuk kedua kalinya dan dilahirkan kembali, bukan?”

Nikodemus berpikir dalam kerangka jasmani. Yesus harus menjelaskan kepadanya, “Apa yang dilahirkan dari daging adalah daging; dan apa yang dilahirkan dari Roh adalah roh. Jangan heran aku berkata kepadamu, ‘kamu harus dilahirkan kembali.'” Yesus juga menjelaskan kepadanya. bahwa kecuali seseorang dilahirkan kembali, dia tidak dapat melihat atau memasuki kerajaan Allah. Tentu saja, pengalaman dilahirkan kembali ini, apa pun itu, mutlak diperlukan dan paling penting. Kita tidak bisa menganggap enteng hal ini, karena Yesus berkata dengan tegas, “Kamu harus” – sebuah keharusan dari Tuhan. Kata “kamu” juga menunjukkan sifat individu dalam kelahiran baru, yaitu untuk tiap orang agar menyambut uluran tangan Tuhan dan hidup dalam terang-Nya.

Anda dapat membayangkan ekspresi tidak percaya pada wajah Nikodemus. Dia tidak percaya hal seperti itu. Sepanjang hidupnya dia diajari bahwa perbuatan baik adalah kunci menuju surga—bahwa jika seseorang mematuhi semua hukum dan persyaratan Tuhan, dia akan masuk ke surga. Dia berkata kepada Yesus, “Bagaimana hal ini bisa terjadi?”

Anda lihat, Yesus berbicara tentang hal-hal yang berhubungan dengan roh. Dia membandingkan roh dengan angin. Anda tidak dapat melihatnya; Anda tidak tahu dari mana datangnya atau ke mana tujuannya. Tapi ini nyata, dan Anda bisa melihat dampaknya. Anda lihat apa pengaruhnya terhadap pepohonan. Anda melihat dedaunan yang terbawa angin. Anda melihat pusaran debu kecil. Anda merasakan angin di wajah Anda. Yesus berkata, “Demikian pula setiap orang yang dilahirkan dari Roh.”

Masalahnya adalah Nikodemus, seperti semua umat manusia, adalah makhluk jasmani. Dia berasal dari bumi. Jasmani atau daging itu fana. Ia tunduk pada kematian, pembusukan, dan korupsi. Itu dipenuhi dengan rasa kasihan pada diri sendiri, kebanggaan pada diri sendiri, cinta pada diri sendiri.

Ada fakta menakjubkan mengenai jasmani: semua yang kita lihat, semua yang terlihat, bahkan tubuh kita sendiri, sedang mengalami kebinasaan. Banyak orang mencoba segala cara untuk mengabaikan atau melupakan hal ini, namun faktanya tetap ada. Alkitab mengatakan bahwa hal-hal yang terlihat bersifat sementara, tetapi hal-hal yang tidak terlihat adalah kekal (lihat 2 Korintus 4:18). Kenyataannya adalah bahwa kita tinggal di dalam tubuh fana yang akan kembali menjadi debu.

Keadaan kita yang lama, sifat kita yang lama, dan bahkan segala perbuatan baik kita tidaklah cukup untuk mendatangi Tuhan. Tuhan itu benar-benar kudus dan suci. Dia sempurna. Kita tidak dapat bersekutu dengan-Nya saat ini atau di kehidupan mendatang jika sifat kita saat in tidak ingin menjadi sempurna di dalam Dia. Kesempurnaan dan ketidaksempurnaan tidak sejalan.

“Semua orang telah berbuat dosa dan telah kehilangan kemuliaan Allah” (Roma 3:23). Karena sifat kita yang mementingkan diri sendiri, kita berdosa dan tidak sempurna. Dan dosa mengakibatkan kematian, dan keterpisahan abadi dari Tuhan. Ini adalah akibat dari sifat duniawi kita. Jelaslah bahwa kita membutuhkan sifat yang baru, sifat yang dapat diterima oleh Tuhan. Sifat yang dibenarkan di hadapan-Nya. Kita memerlukan kelahiran baru. Anda harus dilahirkan kembali melalui Kristus. Dan setelah itu Anda akan dapat meninggalkan hidup lama yang bersifat kedagingan dan menjalani hidup baru untuk menuju ke arah kekudusan.

Seperti ada tertulis: “Manusia pertama, Adam menjadi makhluk yang hidup”, tetapi Adam yang akhir menjadi roh yang menghidupkan. Tetapi yang mula-mula datang bukanlah yang rohaniah, tetapi yang alamiah; kemudian barulah datang yang rohaniah. Manusia pertama berasal dari debu tanah dan bersifat jasmani, manusia kedua, Yesus Kristus, berasal dari sorga. Makhluk-makhluk alamiah sama dengan dia yang berasal dari debu tanah dan makhluk-makhluk sorgawi sama dengan Dia yang berasal dari sorga. Sama seperti kita telah memakai rupa dari yang alamiah, demikian pula kita akan memakai rupa dari yang sorgawi (1 Korintus 15:445-49).

Sekarang, jika Anda sudah lahir baru tentu ada perubahan dalam hidup Anda. Anda tidak dapat merasa yakin sudah dipilih Tuhan untuk diselamatkan, jika tidak yakin bahwa Anda sudah diberi oleh-Nya kemampuan untuk hidup dalam kekudusan. Paulus menginngatkan kita pagi ini:

“Saudara-saudara, inilah yang hendak kukatakan kepadamu, yaitu bahwa daging dan darah tidak mendapat bagian dalam Kerajaan Allah dan bahwa yang binasa tidak mendapat bagian dalam apa yang tidak binasa” (1 Korintus 15:50).

Mengapa kita berusaha untuk menyenangkan Kristus?

“Sebab itu juga kami berusaha, baik kami diam di dalam tubuh ini, maupun kami diam di luarnya, supaya kami berkenan kepada-Nya. Sebab kita semua harus menghadap takhta pengadilan Kristus, supaya setiap orang memperoleh apa yang patut diterimanya, sesuai dengan yang dilakukannya dalam hidupnya ini, baik ataupun jahat.” 2 Korintus 5:9-10

Dalam 2 Korintus 5:1–10 Paulus melanjutkan ajaran yang ada pada pasal sebelumnya. Ia menyatakan bahwa kemuliaan kekekalan bersama Kristus jauh lebih berharga dari segala penderitaan yang dialaminya dalam hidup ini. Paulus rindu untuk menempati tubuhnya yang kekal, yang digambarkan sebagai rumah megah yang dibangun oleh Tuhan sendiri.

Memang Paulus menanggung banyak penderitaan karena melayani Kristus. Dalam 2 Korintus 5 dia melanjutkan pembahasannya tentang kekekalan, membayahgkan hidup dalam tubuh duniawi seperti hidup dalam kemah. Paulus lebih memilih hidup dalam tubuh kekal yang Tuhan persiapkan bagi mereka yang percaya kepada Kristus, bebas dari keluh kesah dan beban yang menimpa semua orang di dunia. Dengan harapan tersebut, ia berkhotbah dengan berani bahwa semua yang ada di dalam Kristus adalah ciptaan baru. Di dalam Kristus, Allah mendamaikan manusia dengan diri-Nya, tidak memperhitungkan dosa mereka. Paulus memohon agar semua orang hidup dalam kedamaian melalui iman di dalam Kristus. Bagaimana caranya?

Paulus menulis dengan jujur ​​dan transparan bahwa ia lebih memilih berada di rumah bersama Tuhan dalam kekekalan daripada terus melalui penderitaan dan kesakitan hidup ini (2 Korintus 5:8). Tapi dia tidak ingin bunuh diri. Maksudnya bukanlah bahwa ia secara aktif mencari kematian, atau bahwa ia mempunyai keinginan yang sangat kuat untuk mengakhiri hidupnya sendiri. Ia tidak ingin mati secepatnya. Dia hanya percaya Injil dan memahami betapa jauh lebih baik kehidupan surgawi daripada kehidupan sementara dalam tubuh sementara ini. Namun, sampai tiba saatnya untuk ke sana, dia dengan tulus hati dan penuh kerelaan akan terus menjalankan misi yang Tuhan berikan kepadanya di dunia ini. Misi apa?

Kini Paulus meringkas tujuannya—”tekad” atau niatnya—ke dalam satu hal. Dia ingin menyenangkan Kristus. Entah sekarang, dalam kehidupan duniawi yang sulit, atau besok di surga bersama Kristus dalam kekekalan yang mulia, ia ingin menyenangkan Kristus sebagai kekasih. Itu mencakup cara dia hidup, apa yang dia katakan, dan segala hal lainnya. Itulah tujuan utama Paulus sekalipun ia sudah mendapatkan “karcis” ke surga. Ia ingin hidup damai dengan Allah bukan saja nanti di surga, tetapi juga sekarang di dunia.

Mengetahui bahwa kepindahan ke surga akan terjadi, Paulus justru mempunyai keberanian untuk mengambil risiko penderitaan yang lebih besar lagi demi melanjutkan misi memberitakan Injil. Satu-satunya tujuannya dalam hidup ini adalah untuk menyenangkan Kristus sekalipun banyak otang yang tidak menyenanginya. Ia tahu bahwa setiap orang Kristen akan menghadapi penghakiman oleh Kristus, bukan oleh manusia. Pengadilan Kristus untuk orang pilihan bukan untuk menentukan nasib kekal mereka, melainkan untuk menerima apa yang menjadi hak mereka atas perbuatan selama hidup dalam tubuh sementara ini. Mengapa Paulus demikian ingin untuk menerima “hadiah” dari Kristus sekalipun ia sudah mendapat jaminan untuk masuk ke surga?

Banyak orang Kristen yang setelah dengan iman meyakini bahwa mereka sudah diperkenan Tuhan untuk memperoleh hidup yang kekal sesudah meninggalkan dunia ini, tidak lagi peduli bahwa mereka harus menempuh kehidupan di dunia yang juga diperkenan oleh Tuhan. Sikap yang demikian sangat ditentang oleh Rasul Paulus yang selalu mengajarkan bahwa kita adalah anak Tuhan bukan saja di surga tetapi juga di dunia. Sebab itu ia berusaha, baik selama hidup di dunia, maupun sesudah ia di surga , agar ia berkenan kepada-Nya. Paulus tentu berharap bahwa Yesus sendiri akan berkata kepadanya: “Baik sekali perbuatanmu itu, hai hambaku yang baik dan setia; engkau telah setia dalam perkara kecil, aku akan memberikan kepadamu tanggung jawab dalam perkara yang besar. Masuklah dan turutlah dalam kebahagiaan tuanmu.” (Matius 25:21).

Hari ini, jika kita mengaku percaya kepada Yesus dan benar-benar mengasihi-Nya, kita akan mempersembahkan hidup kita sebagai persembahan yang harum selama hidup di dunia. Kita akan memiliki hidup yang berbeda jika dibandingkan dengan orang lain, baik Kristen maupun bukan Kristen; dan semua itu karena kita bertekad untuk menyatakan rasa syukur kita yang sebesar-besarnya atas kasih-Nya yang sudah lebih dulu dinyatakan kepada kita.

“Sebab bagi Allah kami adalah bau yang harum dari Kristus di tengah-tengah mereka yang diselamatkan dan di antara mereka yang binasa.” 2 Korintus 2:15

Ingatlah akan pilihan dan panggilan Allah

“Justru karena itu kamu harus dengan sungguh-sungguh berusaha untuk menambahkan kepada imanmu kebajikan, dan kepada kebajikan pengetahuan, dan kepada pengetahuan penguasaan diri, kepada penguasaan diri ketekunan, dan kepada ketekunan kesalehan, dan kepada kesalehan kasih akan saudara-saudara, dan kepada kasih akan saudara-saudara kasih akan semua orang. Sebab apabila semuanya itu ada padamu dengan berlimpah-limpah, kamu akan dibuatnya menjadi giat dan berhasil dalam pengenalanmu akan Yesus Kristus, Tuhan kita. Tetapi barangsiapa tidak memiliki semuanya itu, ia menjadi buta dan picik, karena ia lupa, bahwa dosa-dosanya yang dahulu telah dihapuskan. Karena itu, saudara-saudaraku, berusahalah sungguh-sungguh, supaya panggilan dan pilihanmu makin teguh. Sebab jikalau kamu melakukannya, kamu tidak akan pernah tersandung. ” 2 Petrus 1: 5-10

Apakah tujuan hidup orang Kristen? Sudah tentu itu untuk memuliakan Tuhan yang sudah memilih mereka untuk diselamatkan. Petrus memulai surat singkatnya kepada umat Kristiani dengan mengingatkan agar mereka tidak melewatkan apa pun yang mereka perlukan untuk menjalani kehidupan yang baik dan saleh yang menjadi panggilan mereka. Maka itu, mereka harus bekerja untuk menambah iman mereka dengan kebaikan dan sifat-sifat Yesus. Jika Guru kita adalah orang yang saleh, sebagai murid-Nya kita harus mau belajar untuk menjadi seperti Dia.

Untuk menjadi seperti manusia Yesus, diperlukan adanya usaha, tidak seperti keselamatan kekal yang tidak didasarkan pada manusia. Mereka yang tidak memiliki sifat-sifat positif ini akan hidup sebagai hamba Tuhan yang tidak produktif dan tidak efektif, hampir sama butanya dengan orang yang tidak beriman dan lupa bahwa dosanya sudah diampuni. Petrus, yang hampir meninggal, menegaskan bahwa nubuatan tentang Mesias adalah benar. Yesus akan datang kembali dan kita harus memakai waktu yang masih ada untuk bekerja makin giat.

Dalam ayat-ayat di atas, Petrus menjelaskan manfaat luar biasa yang kita terima dalam mengenal Tuhan melalui iman di dalam Kristus. Kita yang telah dibebaskan dari kungkungan dosa, telah diperlengkapi untuk mengikuti teladan kemuliaan dan kebaikan Yesus. Kita dipilih Tuhan bukan hanya untuk diselanatkan, tetapi juga untuk dikuduskan. Kita tidak boleh melewatkan apa pun yang kita perlukan untuk menjalani kehidupan yang Dia kehendaki untuk kita. Terlebih lagi, melalui iman kepada Yesus, kita telah diberikan hak untuk berpartisipasi, saat ini, dalam rencana Allah. Kita dapat bermitra dengan Kristus dalam menggenapi tujuan Allah di bumi.

Kedengarannya luar biasa, tapi apa artinya bagi kita saat ini? Mengapa tampaknya banyak orang Kristen yang begitu jauh dari berpartisipasi dalam karunia Allah, tidak hidup sesuai dengan tujuan, sukacita, dan kasih dalam Kristus? Apakah mereka tidak yakin bshwa Tuhan sudah memberi mereka kemampuan untuk taat? Mengapa ada orang-orang yang terus hidup dalam dosa yang seharusnya sudah lama hilang? Apakah justru karena mereka sudah yakin terpilih lalu tidak lagi merasa perlu untuk hidup menurut firman-Nya?

Ayat-ayat di atas memberi kita petunjuk yang jelas. Tuhan telah memberi kita semua yang kita perlukan untuk hidup seperti Yesus, namun sekarang kita harus benar-benar mau menggunakan karunia itu. Kita harus mau mengambil keputusan, dan itu berarti bersedia untuk bekerja. Sebelum kita menerima anugerah kasih karunia Allah, kita tidak memiliki kemampuan dan keinginan untuk hidup dalam kemuliaan dan kebaikan Yesus. Kini setelah kita diberdayakan untuk melakukan hal tersebut, kita harus “berusaha keras” untuk menambahkan sifat-sifat yang terpuji, secara “bersamaan”, dengan pertumbuhan iman kita. Dengan kata lain, kita harus mulai hidup benar seperti apa yang kita yakini itu benar.

Dengan iman, kita datang kepada Kristus. Kini, dengan kuasa Kristus, kita harus berupaya menambah kebaikan pada iman kita, dan menambah pengetahuan kita tentang kehendak Tuhan. Ayat-ayat di atas menelusuri gagasan-gagasan tambahan mengenai rantai sifat yang harus kita bangun sebagai orang Kristen dalam kehidupan kita.

Dalam 2 Petrus 1:3–15 Petrus mendorong kita untuk memahami bahwa kita, saat ini, diperlengkapi sepenuhnya untuk menjalani kehidupan yang Allah telah panggil bagi kita. Karena kita sudah diperlengkapi, kita harus menggunakan alat-alat itu melalui upaya pribadi. Kita tidak bisa bergantung pada usaha orang lain, atau menantikan Tuhan untuk melakukannya bagi kita. Kita harus berusaha untuk menambahkan kebaikan Kristus dan sifat-sifat kuat lainnya ke dalam kehidupan iman kita. Bertumbuh dalam kualitas-kualitas tersebut menuntun kita kepada kehidupan yang produktif dan efektif dalam mengenal Tuhan. Kurangnya sifat-sifat Kristus menyebabkan hal yang sebaliknya.

Petrus terus mengingatkan pembaca tentang apa yang telah mereka ketahui, untuk terus menggugah mereka, untuk memastikan mereka mengingat semua ini setelah dia meninggal (yang akan segera terjadi) dan untuk mengajar orang Kristen yang lain (selagi kita masih bisa). Maukah Anda menuruti panggilan Petrus?

Tuhan ikut bekerja dalam segala sesuatu

“Kita tahu sekarang, bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah.” Roma 8:28

Selama berabad-abad, para teolog tidak sepakat mengenai kendali mutlak Allah atas segala sesuatu, sebagian menekankan kedaulatan Tuhan atas segala sesuatu dan sebagian lagi menekankan kebebasan manusia untuk bertindak sendiri tanpa paksaan. Ada sebab mengapa mereka tidak sepakat – itu karena Alkitab memang mengajarkan dua hal: kedaulatan Allah dan tanggung jawab manusia. Kita tidak bisa membantah kenyataan ini. Bagaimana kedua hal ini bisa berjalan bersama?

Kecil kemungkinannya kita akan memiliki pemahaman yang lengkap tentang hal ini sampai kita tiba di Surga. Namun sampai saat itu tiba, kita harus berpegang teguh pada kedua kebenaran ini: Tuhan mengendalikan segalanya, namun kita juga bertanggung jawab atas tindakan kita. Mengapa ini penting. Alkitab berkata, “karena Allahlah yang mengerjakan di dalam kamu baik kemauan maupun pekerjaan menurut kerelaan-Nya.” Filipi 2:13

Ayar Roma 8:28 di atas menyatakan bahwa Tuhan bekerja di belakang layar untuk mencapai tujuan-Nya. Inilah sebabnya mengapa doa sangat penting dalam menjalani kehidupan Kristen dan agar kita dapat mengambil keputusan yang sesuai dengan kehendak-Nya. Pemazmur menulis, “aku suka melakukan kehendak-Mu, ya Allahku; Taurat-Mu ada dalam dadaku.”” (Mazmur 40:9). Bukan Tuhan yang selalu mengambil keputusan untuk kita, tetapi kita yang harus selalu mencari kehendak-Nya sebelum mengambil keputusan.

Mengetahui kehendak Tuhan adalah kebijaksanaan tertinggi. Jika kita tidak mengetahui Firman Tuhan, maka kita juga tidak mengetahui kehendak Tuhan. Hambatan pertama adalah karena kita sering ingin mengatur hidup kita sendiri, hal itu mungkin dibiarkan atau diizinkan Tuhan sampai kita merasakan bagaimana hajaran Tuhan kemudian menyadarkan kekeliruan kita. Hambatan kedua adalah jika kita merasa bahwa tidak ada gunanya kita mengambil keputusan karena kehendak Tuhanlah yang akan terjadi, sampai kita merasa bahwa Tuhan sudah meninggalkan kita sehingga kita hanya bisa menyerah saja. Pertarungan ini terjadi di dalam hati kita antara keinginan kita dan kehendak Tuhan setiap hari sekalipun kita tidak sadar.

Sama seperti Tuhan memberikan manusia pertama, Adam kebebasan untuk memilih, demikian pula Dia memberikan kebebasan yang sama kepada semua orang. Kita bukan sekadar boneka. Tetapi, tanpa bimbingan Tuhan kehendak bebas kita selalu menghasilkan dosa. Karena itu, keinginan Tuhan adalah agar kita mencari hikmat-Nya dan menaati perintah-perintah-Nya. Alkitab penuh dengan pesan “hendaklah kamu”. Dengan demikian, jika kita mencari kehendak-Nya kita bisa menjalani hidup rohani yang merasakan kecukupan dan bahkan berkelimpahan seperti apa yang Dia janjikan.

Pagi ini marilah kita pikirkan: ada keputusan yang harus diambil bagi Kristus? Apakah semua yang kita lakukan atau semua yang terjadi pada kita sudah sesuai dengan rencana Tuhan dalam hidup kita? Segala sesuatu yang terjadi pada kita belum tentu adalah kehendak atau rencana Tuhan atas hidup kita. Misalnya saja, Allah tidak menghendaki kita berbuat dosa, namun kita semua tetap melakukannya. Dalam hal ini, melalui kematian Kristus kita menjadi milik-Nya. Dia mempunyai “obat” yang siap pakai untuk setiap kali kita gagal. Terkadang obat itu pahit, tetapi kita tidak boleh berhenti berusaha untuk menaati firman-Nya selama hidup di dunia. Itu adalah bagian dari proses pengudusan kita selama hidup di dunia.

Ada juga hal-hal lain yang kita tahu pasti bukan kehendak Tuhan. Ketika Yesus datang ke bumi Dia selalu menyembuhkan penyakit dimana pun Dia menemukannya dan Dia selalu menyelamatkan siapa pun yang tertindas. Hal-hal yang buruk di dunia adalah bagian dari kutukan awal yang menimpa umat manusia ketika Adam dan Hawa pertama kali berdosa, dan karena kita hidup di dunia yang sudah jatuh dalam dosa, kita sering kali mengalami dampak negatifnya. Walaupun demikian, Tuhan bukan penyebab dosa atau yang menetapkan kita untuk jatuh dalam dosa atau mendatangkan penderitaan kepada kita.

Anda mungkin merasa bahwa hal-hal di atas tidak ada hubungannya dengan pertanyaan khusus Anda hari ini. Anda mungkin sedang merasakan adanya kepahitan dan penderitaan dalam hidup dan Anda bertanya-tanya apa manfaatnya dari sudut pandang spiritual. Anda ingin tahu dimana Tuhan ketika hal buruk menimpa Anda. Sekarang kita sampai pada bagian yang baik dari Roma 8:28. Meski ada hal-hal yang bukan kehendak Tuhan dalam hidup kita, namun semua yang terjadi pada kita bisa diusahakan untuk kebaikan kita oleh Tuhan. Dia dapat membuat segala yang terjadi dalam hidup kita untuk menjadi bagian dari Rencana A-Nya. Ia tidak akan kaget melihat sesuatu yang kita lakukan karena Ia adalah Tuhan yang mahatahu. Kita sering tidak tahu persis MENGAPA sesuatu terjadi dan KAPAN itu akan berakhir, tetapi biasanya kita akan melihat bagaimana Tuhan pada akhirnya mengubahnya dan menggunakannya untuk tujuan yang baik dalam hidup kita.

Salah satu janji terbesar Alkitab kita adalah ayat Roma 8:28 di atas, apa pun yang terjadi, kita dapat percaya bahwa Allah dapat menggunakannya. Kita mungkin dapat memikirkan beberapa saat dalam hidup ketika hasil akhirnya begitu baik sehingga tampaknya Tuhan telah merencanakan kejadian aslinya, bahkan ketika hal itu pada mulanya berdampak negatif bagi kita.

Apakah kehendak Tuhan jika Anda pada saat ini tidak mendapatkan apa yang Anda inginkan? Tidak seorang pun yang tahu jawabnya. Mungkin hal itu tidak sebaik yang terlihat. Mungkin Tuhan menyelamatkan Anda dari bencana yang tidak pernah Anda ketahui. Mungkin Tuhan punya rencana yang lebih baik. Mungkin hal itu bisa menjadi sesuatu yang hebat, tetapi iblis kemudian memasukkan jarinya ke dalamnya sehingga hal itu tidak berjalan sesuai keinginan Anda. Apapun itu—percayalah kepada Tuhan bahwa Dia memegang kendali Anda dan bahwa Dia melakukan SEMUA hal demi kebaikan Anda.

Mengapa orang Kristen masih harus takut untuk berbuat dosa

“Hiduplah sebagai anak-anak yang taat dan jangan turuti hawa nafsu yang menguasai kamu pada waktu kebodohanmu, tetapi hendaklah kamu menjadi kudus di dalam seluruh hidupmu sama seperti Dia yang kudus, yang telah memanggil kamu, sebab ada tertulis: Kuduslah kamu, sebab Aku kudus. Dan jika kamu menyebut-Nya Bapa, yaitu Dia yang tanpa memandang muka menghakimi semua orang menurut perbuatannya, maka hendaklah kamu hidup dalam ketakutan selama kamu menumpang di dunia ini.” 1 Petrus 1:14-17

Hari ini gereja saya mengadakan perjamuan kudus sebagai acara rutin setiap hari Minggu pertama di bulan yang baru guna memperingati kematian Kristus untuk menebus umat percaya. Sebagaimana lazimnya, peringatan diberikan kepada jemaat (1 Korintus 11: 26-29):

“Jadi barangsiapa dengan cara yang tidak layak makan roti atau minum cawan Tuhan, ia berdosa terhadap tubuh dan darah Tuhan. Karena itu hendaklah tiap-tiap orang menguji dirinya sendiri dan baru sesudah itu ia makan roti dan minum dari cawan itu. Karena barangsiapa makan dan minum tanpa mengakui tubuh Tuhan, ia mendatangkan hukuman atas dirinya.”

Mengapa perlu untuk memperingatkan jemaat? Sebab Paulus mengingatkan bahwa banyak di antara jemaat Korintus yang lemah dan sakit, dan tidak sedikit yang meninggal karena dihukum Tuhan. Walaupun demikian, di zaman ini banyak orang Kristen yang kurang memperhatikan peringatan Paulus ini.

Sebagian orang Kristen memang tidak takut jika melakukan hal-hal yang menyalahi hukum Tuhan. Mereka mengira bahwa jika seseorang sudah dipilih Tuhan untuk diselamatkan, tidak ada hal apapun yang bisa membatalkan pemilihan itu. Sebagai orang terpilih, mereka mendapatkan karunia keselamatan dan itu bukan karena perbuatan mereka. Karena itu mereka berpendapat bahwa tindak tanduk dan cara hidup manusia bikanlah hal yang harus dipikirkan. Mereka yang tidak terpilih boleh saja tetap berbuat jahat karena mereka akhirnya akan mendapatkan kebinasaan, sedangkan mereka yang terpilih tidak perlu memikirkan hukuman Tuhan karena akan memperoleh keselamatan melalui penebusan Kristus.

Selain alasan di atas, ada orang Kristen yang percaya bahwa karena manusia mana pun tidak dapat berbuat apa yang baik sesuai dengan standar Tuhan, apa pun yang dilakukan manusia adalah sampah di mata Tuhan. Karena itu, usaha manusia untuk berbuat baik adalah kemunafikan dan kebodohan karena tidak ada hal yang bisa dilakukan manusia untuk menyenangkan Tuhan. Secara tidak langsung ini menyatakan bahwa Tuhan selalu tidak puas atas apa yang dilakukan manusia. Karena itu, mengapa umat Kristen harus memikirkan hal Tuhan yang bisa murka? Bagi mereka yang terpilih kemurkaan ini tentu sudah dipadamkan oleh darah Kristus.

Ayat di atas yang ditulis oleh rasul Petrus, ternyata berbeda dengan pandangan orang Kristen yang menyatakan bahwa segala sesuatu sudah ditetapkan Tuhan, bukan saja keselamatan mereka tetapi juga apa yang terjadi dalam hidup mereka. Orang-orang Kristen semacam itu sering menyatakan bahwa karena manusia tidak mempunyai kehendak bebas, mereka tidak berdaya untuk memilih apa yang baik. Selain itu, karena Tuhan mahakuasa, segala apa yang terjadi dalam hidup mereka tentunya sudah sesuai dengan kehendak-Nya. Manusia tidak berdaya untuk berusaha menaati hukum Tuhan.

Ayat di atas berbunyi bahwa umat kristen harus hidup sebagai anak-anak yang taat dan tidak menuruti hawa nafsu yang menguasai mereka pada saat kebodohan ada dalam diri mereka, tetapi hendaklah mereka menjadi kudus di dalam seluruh hidup mereka sama seperti Dia yang kudus, yang telah memanggil mereka, sebab ada tertulis: Kuduslah kamu, sebab Aku kudus. Dan jika mereka menyebut-Nya Bapa, yaitu Dia yang tanpa memandang muka menghakimi semua orang menurut perbuatan mereka, maka hendaklah setiap orang Kristen hidup dengan takut akan Tuhan selama mereka hidup di dunia.

Kata “hendaklah” jelas merupakan perintah agar umat Kristen berusaha untuk melakukannya. Kata “hendaklah” juga mernunjuk pada kehendak Tuhan kepada umat-Nya. Kata “hendaklah”juga berarti bahwa ada kemungkinan umat Kristen tidak melakukannya, dan karena itu diingatkan agar melakukannya, Dengan demikian, ada kemungkinan bahwa umat Kristen pada saat tertentu tidak menghendaki sesuatu yang dikehendaki Tuhan. Di sini jelas bahwa manusia mempunyai kehendak bebas, dalam arti melakukan sesuatu tanpa paksaan tetapi atas kemauan sendiri. Orang Kristen yang berkata bahwa mereka tidak dapat mengubah cara hidupnya karena tidak mempunyai kehendak bebas adalah orang Kristen yang fatalis dan sekaligus menghujat Tuhan yang dianggap menetapkan mereka hidup tidak bisa berubah.

Satu hal yang kita harus sadari dari Alkitab sejak mulanya, ialah bahwa Tuhan akan murka jika ada manusia yang melawan kehendak-Nya. Tuhan juga murka jika umat-Nya merendahkan kekudusan-Nya dengan cara tidak memperhatikan cara hidup mereka yang tidak kudus. Seluruh Alkitab, baik Perjanjian Lama maupun Perjanjian Baru, menyatakan bahwa karena Tuhan Kudus, Ia menghendaki kita juga hidup dalam kekudusan. Itu berati dengan kesadaran penuh kita harus memilih untuk taat kepada hukum-Nya. Kita tidak boleh nerasa bahwa sebagai orang pilihan kita mendapatkan dispensasi selama hidup di dunia untuk tidak perlu melakukan apa yang baik karena keselamatan kita sudah terjamin.

Ayat di atas menyatakan bahwa Tuhan bisa murka kepada siapa pun yang menentang kehendak-Nya, Jika Ia menghendaki kita untuk hidup kudus itu bukan untuk berpura-pura berkelakuan baik seperti orang munafik. Tetapi itu berarti bahwa karena kita takut kepada Tuhan, kita akan berusaha sungguh-sungguh untuk menjadi hamba-Nya yang baik. Itu bukan berarti bahwa kita bisa melakukan apa yang sempurna tetapi apa yang kita lakukan dengan kesungguhan sesuai dengan apa yang sudah dikaruniakan kepada kita.

Sebagai orang pilihan, kita bukannya tidak lagi mempunyai rasa takut kepada Tuhan. Kita memang tidak kuatir akan keselamatan kita yang sudah dijanjikan, tetapi rasa takut kita kepada Dia seharusnya tumbuh semakin besar selama kita hidup di dunia karena semakin sadar kita akan kebesaran dan kekudusan Tuhan kita. Jika rasa takut ini semakin besar, proses kedewasaan iman kita juga akan terjadi semakin cepat dan berkat-Nya akan semakin besar kepada kita dan sanak keluarga kita. Sebaliknya, mereka yang tidak percaya akan adanya dosa-dosa yang mematikan kerohanian akan mengalami kekerdilan iman dan persoalan hidup yang besar selama hidup di dunia. Biarlah kita saling mengingatkan bahwa setiap orang percaya harus hidup dengan rasa takut dan hormat kepada Tuhan yang mahakuasa.

“Kami tahu apa artinya takut akan Tuhan, karena itu kami berusaha meyakinkan orang. Bagi Allah hati kami nyata dengan terang dan aku harap hati kami nyata juga demikian bagi pertimbangan kamu.” 2 Korintus 5: 11

Belajar dan mengajar cara hidup baik

“Tetapi hendaklah engkau tetap berpegang pada kebenaran yang telah engkau terima dan engkau yakini, dengan selalu mengingat orang yang telah mengajarkannya kepadamu. Ingatlah juga bahwa dari kecil engkau sudah mengenal Kitab Suci yang dapat memberi hikmat kepadamu dan menuntun engkau kepada keselamatan oleh iman kepada Kristus Yesus. Segala tulisan yang diilhamkan Allah memang bermanfaat untuk mengajar, untuk menyatakan kesalahan, untuk memperbaiki kelakuan dan untuk mendidik orang dalam kebenaran. Dengan demikian tiap-tiap manusia kepunyaan Allah diperlengkapi untuk setiap perbuatan baik.” 2 Timotius 3:14-17

Siapakah manusia yang mau mengenal Allah? Tidak ada seorang pun yang mau mengenal Tuhan kecuali itu dimungkinkan oleh Tuhan sendiri. Hati dan pikiran manusia berdosa adalah demikian kotor dan penuh kebodohan, sehingga jika Tuhan tidak membuka jalan bagi manusia, tidak ada seorang pun yang mau mengenal Dia. Memang benar bahawa dalam hati dan pikiran manusia selalu ada tanda tanya mengenai asal usul dan kebesaran alam semesta, tetapi itu tidak cukup untuk membawanya ke arah pengenalan akan Tuhan yang benar. Paulus misalnya pernah menyatakan bahwa ketika ia berjalan-jalan di kota Atena, ia melihat-lihat barang-barang pujaan penduduknya, dan dia menjumpai sebuah mezbah dengan tulisan: “Kepada Allah yang tidak dikenal”. Paulus kemudian menyatakan bahwa apa yang mereka sembah tanpa mengenalnya, itulah yang akan ia beritakan (Kisah 17:23). Penduduk Atena harus belajar dari Paulus yang mau mengajar mereka.

Atena merupakan kota yang mempunyai kedudukan yang sangat penting secara politik dan ekonomi. Sejak zaman purba, Atena juga terkenal akan berhala-berhalanya yang banyak dan mezbah-mezbahnya untuk dewa-dewa. Seorang yang bernama Petronius pernah menulis bahwa di Atena, orang lebih mudah menemukan suatu ilah (dewa) daripada seorang manusia! Seorang penulis lain yaitu Pausanias, menggambarkan bahwa di kota Atena saja terdapat patung-patung yang melebihi jumlah seluruh tanah di Yunani. Rupa-rupanya sudah 1000 tahun sebelum Kristus, Atena merupakan kota yang termasyhur.

Sesudah kemusnahannya di tahun 430 SM oleh bangsa Persia, maka kota Atena dibangun kembali dengan indah. Kota itu menjadi kota para ahli-ahli pikir dan pujangga, para filsuf dan seniman. Oleh usaha sekolah-sekolah filsafat yang terkenal, kota Atena menjadi pusat ilmu pengetahuan Yunani. Dari ketiga kota universitas yang besar pada waktu itu, yaitu Atena, Tarsus dan Aleksandria, Atena adalah yang paling terkenal. Penulis Filo dari Aleksandria mengatakan bahwa orang Atena lebih tajam otaknya dari kebanyakan orang Yunani. Banyak pemuda Romawi pergi ke Atena untuk memperoleh pendidikan tinggi, termasuk Octavius (Kaisar Agustus) dari Roma, yang semasa mudanya juga belajar di kota ini. Tetapi, jika orang yang berpendidikan tidak bisa mengenal siapa Tuhan itu, mereka adalah orang yang bodoh! Kita pun adalah orang yang sama bodohnya, karena jika Tuhan tidak menyatakan diri-Nya kita tidak mungkin mengenal Dia. Bahkan mereka yang sudah menjadi orang Kristen pun masih banyak yang cara hidupnya masih menunjukkan kebodohan.

Paulus dalam suratnya kepada Timotius menyatakan bahwa fiman Tuhan memberi hikmat dan menuntun kita kepada keselamatan oleh iman kepada Kristus Yesus. Segala tulisan yang diilhamkan Allah bermanfaat untuk mengajar kita , untuk menyatakan kesalahan kita, untuk memperbaiki kelakuan kita dan untuk mendidik kita dalam kebenaran. Dengan demikian kita yang sudah menjadi kepunyaan Allah diperlengkapi untuk setiap perbuatan baik.

Mereka yang benar-benar dipanggil Allah akan dikaruniai keinginan untuk mengenal-Nya. Mereka yang ingin mempelajari hal-hal tentang Allah, dan yakin akan hal itu, harus mengetahui Kitab Suci, karena Kitab Suci adalah wahyu Ilahi. Setiap orang Kristen dari segala umur, terutama mereka yang masih anak-anak; dan mereka yang ingin mendapatkan pembelajaran yang benar, harus mengambilnya dari Kitab Suci. Mereka tidak boleh melanggar hukum dan kehendak Tuhan sekalipun orang tua, guru atau pendeta mereka mungkin jarang atau tidak pernah menekannya. Alkitab adalah panduan pasti menuju kehidupan kekal, tetapi dengan bimbingan Roh Kudus setiap orang juga harus belajar dari orang lain yang juga pernah belajar melalui tuntunan orang Kristen lainnya. Dengan demikian tiap-tiap manusia kepunyaan Allah diperlengkapi untuk setiap perbuatan baik terhadap sesamanya.

Para nabi dan rasul tidak berbicara sendiri, tetapi menyampaikan semua firman yang mereka terima dari Allah (2 Petrus 1:21). Ini bermanfaat untuk semua tujuan kehidupan orang Kristen. Ini juga berguna bagi semua orang percaya, karena mereka perlu diajar, dikoreksi, dan ditegur. Ada sesuatu dalam Kitab Suci yang cocok untuk setiap persoalan manusia. Karena itu, kita akan memperoleh manfaat, dan pada akhirnya memperoleh kebahagiaan yang dijanjikan melalui iman kepada Tuhan kita Yesus Kristus, yang merupakan subjek utama dari kedua Perjanjian.

Pagi ini kita menyadari bahwa cara terbaik bagi kita untuk melawan kesalahan dalam hidup adalah dengan mengembangkan pengetahuan yang kuat tentang firman kebenaran; dan kebaikan terbesar yang bisa kita lakukan kepada orang lain adalah dengan mengajar mereka untuk mengenal Alkitab dengan benar agar mereka bisa mencapai pertumbuhan kedewasaan yang baik dalam iman.

Mengapa kita harus melawan dosa?

“Demikianlah hendaknya kamu memandangnya: bahwa kamu telah mati bagi dosa, tetapi kamu hidup bagi Allah dalam Kristus Yesus. Sebab itu hendaklah dosa jangan berkuasa lagi di dalam tubuhmu yang fana, supaya kamu jangan lagi menuruti keinginannya.” Roma 6: 11-12

Paulus menggambarkan kematian Yesus di kayu salib demi dosa umat manusia sebagai peristiwa yang terjadi satu kali saja dan untuk selama-lamanya. Dia menyerah pada kematian pada saat itu, namun begitu Dia bangkit, kematian dikalahkan. Hal itu tidak lagi menguasai Dia. Yesus bebas dari kematian selamanya. Karena, secara rohani, mereka yang percaya kepada Kristus untuk keselamatan mereka juga mati, dikuburkan, dan kemudian dibangkitkan ke kehidupan rohani yang baru, kita berada di jalan yang sama dengan Yesus. Kita sekarang begitu dekat dengan Kristus sehingga Allah memberi kita penghargaan atas kebenaran Kristus dan menanggung pembayaran kematian-Nya atas dosa kita. Kristus secara harfiah adalah “hidup kita” (Kolose 3:4).

Paulus sekarang menulis bahwa kita harus mengubah cara berpikir kita tentang diri kita sendiri. Kita tidak boleh lagi menganggap diri kita sebagai operator yang mandiri, mementingkan diri sendiri, dan mandiri. Sebaliknya, sebagai manusia di dalam Kristus, kita harus menganggap diri kita mati terhadap dosa dan hidup bagi Allah di dalam Kristus.

Apa artinya kita mati terhadap dosa? Paulus menjelaskannya di ayat 6. Manusia lama kita telah disalibkan bersama Kristus dan “tubuh dosa” yang memperbudak kita telah dilenyapkan. Kita telah dibebaskan dari kuasa dosa. Dalam hal ini, kita sudah mati terhadap dosa. Dosa tidak bisa memaksa kita berbuat salah (1 Korintus 10:13), meski kita tidak kehilangan keinginan untuk berbuat dosa (1 Yohanes 1:9-10). Itu sebabnya kita harus terus mengingatkan diri kita sendiri bahwa kita sudah mati terhadap dosa.

Roma 6:1–14 mengeksplorasi bagaimana orang Kristen seharusnya memikirkan dan menanggapi dosa sekarang setelah kita berada di dalam Kristus dan dosa-dosa kita telah diampuni. Dalam menjelaskan hal ini, Paulus mengungkapkan informasi baru tentang apa yang terjadi ketika kita beriman kepada Kristus. Secara rohani, kita mati bersama Dia, dan terhadap dosa kita. Kami kemudian dibangkitkan ke kehidupan rohani yang baru. Kini Paulus memerintahkan kita untuk terus mengingat bahwa kita bukan lagi budak dosa. Kita tidak boleh menyerahkan tubuh kita untuk digunakan dalam dosa, namun kita harus menyerahkan diri kita sendiri sebagai alat kebenaran.

Dalam Roma 6, Paulus menjawab pertanyaan apakah orang Kristen harus terus berbuat dosa. Jawabannya tegas: kita sama sekali tidak seharusnya melakukannya. Pertama, ketika kita datang kepada Allah melalui iman kepada Yesus, kita mati terhadap dosa. Kita bukan lagi budaknya. Kedua, apa manfaat hidup demi dosa bagi kita? Hal ini menyebabkan rasa malu dan kematian. Kebenaran yang diberikan Allah kepada kita secara cuma-cuma di dalam Kristus Yesus membawa kita menjadi seperti Yesus dan hidup kekal. Kita harus mengabdi pada kebenaran, bukannya dosa.

Hal ini menurut beberapa pembaca membingungkan. Bukankah Paulus mengatakan bahwa kita mati terhadap dosa (Roma 6:1)? Bukankah Ia sudah memberitahu kita bahwa “tubuh dosa” sudah dilenyapkan (Roma 6:6) dan bahwa kita sudah dibebaskan dari dosa melalui kematian bersama Kristus ketika kita percaya kepada-Nya (Roma 6:7)? Jadi bagaimana mungkin dosa bisa menguasai kita atau membuat kita menuruti hawa nafsunya? Jawaban sederhananya adalah: Kita sudah terbebas dari kuasa dosa, namun sebagai manusia kita belum kehilangan keinginan untuk berbuat dosa.

Singkatnya, dosa masih menarik bagi kita. Sangat mudah bagi kita untuk lupa, atau bahkan tidak percaya, bahwa kita tidak perlu lagi melakukan perbuatan dosa, apalagi jika kita yakin sudah dipilih Tuhan untuk diselamatkan (1 Korintus 10:13). Kita bukan budak dosa, tetapi bisa menjadi sukarelawan dosa jika kita tidak memusuhi dosa.

Paulus memerintahkan kita untuk melakukan pemikiran ini dengan diri kita sendiri secara berkelanjutan. Dia memerintahkan kita untuk terlibat dalam pertempuran melawan keinginan kita. Jangan biarkan dosa memberi tahu Anda apa yang harus Anda lakukan, tulisnya. Bagi orang percaya Kristen yang sudah diselamatkan, kenikmatan yang dosa yang ditawarkan iblis bukanlah hal yang menarik lagi. Dalam hal ini umat Kristiani tidak boleh bersifat pasif terhadap godaan iblis.

“Karena itu tunduklah kepada Allah, dan lawanlah Iblis, maka ia akan lari dari padamu!” Yakobus 4:7

Roma 6:1–14 mengeksplorasi bagaimana orang Kristen seharusnya memikirkan dan menanggapi dosa sekarang setelah kita berada di dalam Kristus dan dosa-dosa kita telah diampuni. Dalam menjelaskan hal ini, Paulus mengungkapkan informasi baru tentang apa yang terjadi ketika kita beriman kepada Kristus. Secara rohani, kita mati bersama Dia, dan terhadap dosa kita. Kita kemudian dibangkitkan ke kehidupan rohani yang baru. Kini Paulus memerintahkan kita untuk terus mengingat bahwa kita bukan lagi budak dosa. Kita tidak boleh menyerahkan tubuh kita untuk digunakan dalam dosa, namun kita harus menyerahkan diri kita sendiri sebagai alat kebenaran.

Pagi ini kita membaca bahwa Paulus menjawab pertanyaan apakah wajar bagi orang Kristen untuk terus berbuat dosa selama hidup di dunia. Jawabannya tegas: kita sama sekali tidak seharusnya melakukannya. Pertama, ketika kita datang kepada Allah melalui iman kepada Yesus, kita mati terhadap dosa. Kita bukan lagi budaknya. Kedua, apa manfaat hidup demi dosa bagi kita? Hal ini menyebabkan rasa malu dan kematian rohani. Pada pihak yang lain, kebenaran yang diberikan Allah kepada kita secara cuma-cuma di dalam Kristus Yesus membawa kita menjadi seperti Yesus dan hidup kekal. Kita harus mengabdi pada Kristus, bukannya dosa, seperti yang tertulis pada ayat-ayat di bawah ini.

“Tetapi syukurlah kepada Allah! Dahulu memang kamu hamba dosa, tetapi sekarang kamu dengan segenap hati telah mentaati pengajaran yang telah diteruskan kepadamu. Kamu telah dimerdekakan dari dosa dan menjadi hamba kebenaran. Aku mengatakan hal ini secara manusia karena kelemahan kamu. Sebab sama seperti kamu telah menyerahkan anggota-anggota tubuhmu menjadi hamba kecemaran dan kedurhakaan yang membawa kamu kepada kedurhakaan, demikian hal kamu sekarang harus menyerahkan anggota-anggota tubuhmu menjadi hamba kebenaran yang membawa kamu kepada pengudusan.” Roma 6:17-19

Konsekuensi kemerdekaan adalah pelayanan

“Saudara-saudara, memang kamu telah dipanggil untuk merdeka. Tetapi janganlah kamu mempergunakan kemerdekaan itu sebagai kesempatan untuk kehidupan dalam dosa, melainkan layanilah seorang akan yang lain oleh kasih.” Galatia 5:13

Orang Kristen adalah orang yang sudah dipanggil Kristus untuk percaya kepada-Nya agar dibebaskan dari ikatan dosa. Para pembaca surat Paulus pada waktu itu berada dalam bahaya menyia-nyiakan kebebasan itu, dengan membelok ke salah satu dari dua arah. Di satu arah, guru-guru palsu menekan mereka untuk melakukan sunat agar yakin bahwa mereka benar di hadapan Allah. Di arah lain, kebebasan juga bisa disia-siakan hanya untuk melayani keinginan pribadi dalam hidup yang tidak berubah, dan bukannya melayani orang lain dalam kasih. Roh Allah sebenarnya sudah memberi mereka kekuatan untuk melakukan hal benar jika saja mereka membiarkan Dia memimpin hidup mereka. JIka itu mereka lakukan, niscaya kehidupan dalam Roh akan menghasilkan buah yang penuh kuasa dan positif dalam kehidupan mereka.

Galatia 5:1–15 berfokus pada apa yang harus dilakukan oleh mereka yang berada di dalam Kristus terhadap kebebasan yang ada di dalam Kristus. Pertama, mereka harus menjaganya, terutama dari pihak-pihak yang menekan mereka untuk mengikuti hukum. Paulus yakin jemaat Galatia akan menolak orang yang membawa mereka ke arah yang salah. Selain itu, Paulus juga memperingatkan mereka untuk tidak menyia-nyiakan kebebasan mereka di dalam Kristus dengan melayani diri sendiri secara egois dan bukannya melayani satu sama lain dalam kasih. Seluruh hukum Tuhan memang digenapi dalam satu kata itu: kasih. Namun, hidup mereka yang melayani kepentingan dirinya sendiri akan selalu berakhir dengan konflik dan kekacauan.

Paulus menghabiskan sebagian besar suratnya kepada jemaat di Galatia untuk menyerukan mereka agar hidup dalam kebebasan yang datang dari iman kepada Kristus. Dengan darah-Nya sendiri, Kristus telah membeli bagi mereka yang percaya kepada-Nya kebebasan dari perbudakan keberdosaan kita di bawah hukum Taurat. Kami diampuni. Kita tidak perlu bekerja keras di bawah beban hukum yang berat (Galatia 3:23-29). Dalam suratnya kepada jemaat di Roma, yang memperluas gagasan yang sama, Paulus menyatakannya sebagai berikut: “Demikianlah sekarang tidak ada penghukuman bagi mereka yang ada di dalam Kristus Yesus.” (Roma 8:1).

Namun hal ini menimbulkan pertanyaan baru, yang tentunya juga ditanyakan oleh musuh-musuh Paulus: Jika tidak ada ancaman hukuman bagi orang yang berbuat dosa, apa yang bisa mencegah orang berbuat dosa lebih banyak lagi? Tanpa konsekuensi, bukankah orang-orang akan menuruti segala jenis praktik jahat? Bukankan jika demikian orang beriman tidak perlu berjuang selawan serangan iblis? Perlu kita ingat bahwa Paulus sudah menyatakan kepada jemaat di Efesus bahwa setiap percaya harus memakai seluruh perlengkapan senjata Allah untuk melawan tipu muslihat iblis:

“Kenakanlah seluruh perlengkapan senjata Allah, supaya kamu dapat bertahan melawan tipu muslihat Iblis; karena perjuangan kita bukanlah melawan darah dan daging, tetapi melawan pemerintah-pemerintah, melawan penguasa-penguasa, melawan penghulu-penghulu dunia yang gelap ini, melawan roh-roh jahat di udara. Sebab itu ambillah seluruh perlengkapan senjata Allah, supaya kamu dapat mengadakan perlawanan pada hari yang jahat itu dan tetap berdiri, sesudah kamu menyelesaikan segala sesuatu. Jadi berdirilah tegap, berikatpinggangkan kebenaran dan berbajuzirahkan keadilan, kakimu berkasutkan kerelaan untuk memberitakan Injil damai sejahtera; dalam segala keadaan pergunakanlah perisai iman, sebab dengan perisai itu kamu akan dapat memadamkan semua panah api dari si jahat, dan terimalah ketopong keselamatan dan pedang Roh, yaitu firman Allah, dalam segala doa dan permohonan. Berdoalah setiap waktu di dalam Roh dan berjaga-jagalah di dalam doamu itu dengan permohonan yang tak putus-putusnya untuk segala orang Kudus.” Efesus 6:11-18

Kini dalam kitab Galatia Paulus memperingatkan jemaat Galatia untuk tidak menggunakan kebebasan mereka di dalam Kristus sebagai kesempatan untuk secara egois melayani kedagingan dengan hanya melakukan apa yang dirasa baik untuk diri sendiri. Sebaliknya, mereka harus saling melayani tanpa pamrih dalam kasih. Inilah hidup baik yang sesuai dengan hukum Kristus yang kedua.

Sekarang, apakah kita hidup di dalam Kristus atau tidak, itu tergantung pada arah ke mana kita menempatkan fokus kita. Kita sendiri yang harus mengambil keputusan. Jika kita berusaha membuat kita layak di hadapan Tuhan, kita hidup di bawah hukum; yang menurut definisinya, berarti berusaha membenarkan diri kita sendiri di hadapan Allah, dengan usaha sendiri, melalui perbuatan sendiri. Kita fokus pada diri kita sendiri, dan sebagai hasilnya, kita benar-benar mencari kejayaan bagi diri kita sendiri. Sebaliknya, jika kita memilih keselamatan melalui iman di dalam Kristus yaitu tentang apa yang Dia lakukan melalui pekerjaan-Nya, itu sama sekali bukan tentang kita.

Hari ini, kita belajar bahwa hidup dalam kebebasan yang Kristus beli tidak boleh berarti berfokus pada diri sendiri. Hidup orang Kristen adalah tentang kasih Tuhan yang memberi kemerdekaan yang abadi kepada mereka dan karena itu mereka berusaha untuk melayani satu sama lain dengan kasih yang sama.

“Kita mengasihi, karena Allah lebih dahulu mengasihi kita.”1 Yohanes 4:19

Antara pembenaran, pengudusan, dan perbuatan baik

“Hai saudara-saudaraku yang kekasih, kamu senantiasa taat; karena itu tetaplah kerjakan keselamatanmu dengan takut dan gentar, bukan saja seperti waktu aku masih hadir, tetapi terlebih pula sekarang waktu aku tidak hadir, karena Allahlah yang mengerjakan di dalam kamu baik kemauan maupun pekerjaan menurut kerelaan-Nya.” Filipi 2:12-13

Mungkin Anda pernah mendengar penjelasan tentang hubungan antara pembenaran dan pengudusan. Banyak orang berpendapat bahwa “Pembenaran bersifat monergistis. Pengudusan bersifat sinergis.” Bagaimana pendapat Anda?

Semua orang Reformed percaya bahwa pembenaran umat Kristen adalah semata-mata pekerjaan Tuhan. Kita diampuni bukan karena kebaikan atau usaha kita, tetapi 100% karunia Tuhan. Ini yang disebut monergisme. Walaupun demikian, dalam hal pengudusan, pandangan orang Reformed terbelah dua. Hasil survei beberapa tahun yang lalu menunjukkkan bahwa hampir separuh umat Reformed percaya bahwa proses pengudusan terjadi secara sinergis (bekerja sama) antara Tuhan dan manusia.

Perbedaan pendapat ini kemudian menimbulkan perdebatan yang baik dan bermanfaat antar saudara seiman, meskipun terkadang agak memanas. Namun, satu hal yang tampaknya hilang dalam perdebatan itu adalah standar-standar Pengakuan Iman Reformed. Itulah sebabnya banyak jemaat yang kemudian memiliki pengertian yang salah tentang pengudusan dan perbuatan baik.

Jika kita membaca Pengakuan Westminster, misalnya, kita bisa mrnyimpulkan bahwa ungkapan seperti “pengudusan itu sinergis” atau “usaha dalam pengudusan” sangat tidak memadai. Pembenaran dan pengudusan itu adalah monergisme, semata-mata pekerjaan Tuhan, tetapi apa yang bisa dilakukan orang beriman adalah menuruti suara Roh Kudus dan berbuat baik. Tuhan tidak memaksa kita untuk menuruti suara Roh Kudus dan untuk berbuat baik, tetapi sebagai orang percaya kita akan melakukannya dengan takut dan gentar (dengan sungguh hati) untuk kemuliaan-Nya yang sudah menebus dan menguduskan kita.

Apa yang tertulis dalam Pengakuan Iman Westminster mengenai pengudusan, iman, dan perbuatan baik?

Bab XIII. Pengudusan

  1. Dalam diri mereka yang dipanggil dengan ampuh dan dilahirkan kembali, diciptakan hati baru dan roh baru, dan mereka dikuduskan lebih jauh, sungguh- sungguh dan secara perseorangan, oleh kekuatan kematian dan kebangkitan Kristus, melalui Firman dan Roh-Nya yang diam dalam diri mereka. Kuasa seluruh tubuh dosa dihancurkan dan berbagai hawa nafsunya makin hari makin dihidupkan dan diperkuat dalam semua anugerah-yang-menyelamatkan, menuju ke praktik kekudusan yang sejati, sebab tanpa kekudusan tidak seorang pun akan melihat Tuhan.
  2. Pengudusan itu bersifat menyeluruh dan menyangkut manusia seutuhnya, namun tidak sempurna dalam hidup ini, sebab di semua bagiannya masih tinggal beberapa sisa kerusakan. Dari situlah lahirlah peperangan yang terus menerus dan yang tidak dapat diakhiri dengan pendamaian, sebab keinginan daging berlawanan dengan Roh, dan keinginan Roh berlawanan dengan daging.
  3. Dalam peperangan ini, kerusakan yang masih tinggal dapat saja untuk sementara waktu berada di atas angin. Namun, karena Roh Kristus yang menguduskan terus- menerus menyediakan kekuatan baru maka bagian yang telah dilahirkan kembali akhirnya menang. Dengan demikian orang-orang kudus bertumbuh dalam kasih karunia dan menyempurnakan kekudusannya dalam takut akan Allah.

Bab XIV. Iman yang Menyelamatkan

  1. Karunia iman, yang membuat orang-orang terpilih sanggup menjadi percaya, demi keselamatan jiwanya, merupakan karya Roh Kristus di dalam hati mereka, dan biasanya dikerjakan melalui pelayanan Firman. Olehnya, dan oleh pelayanan sakramen-sakramen serta doa, iman itu juga bertambah besar dan kuat.
  2. Oleh iman itu seorang Kristen percaya bahwa apa pun yang dinyatakan dalam Firman adalah benar, karena kewibawaan Allah sendiri yang bersabda di dalamnya. Ia menanggapi isi tiap-tiap bagaimana cara yang berbeda-beda. Perintah-perintah ditaatinya; berhadapan dengan ancaman-ancaman ia gemetar; dan janji-janji Allah untuk hidup ini dan hidup yang akan datang dipeluknya. Akan tetapi, perbuatan-perbuatan utama iman yang menyelamatkan adalah, menyambut dan meraih Kristus serta bertumpu pada Dia seorang demi pembenaran, pengudusan, dan kehidupan kekal, yang diperoleh melalui perjanjian anugerah.
  3. Iman itu berbeda-beda tingkat kekuatannya, dan dapat saja sering dan dengan berbagai cara diserang dan diperlemah, namun beroleh kemenangan dan dalam banyak orang bertumbuh hingga mencapai keyakinan penuh oleh Kristus, yang menciptakan iman kita dan membawanya ke kesempurnaan.

Bab XVI. Perbuatan baik

  1. Yang merupakan perbuatan baik hanya perbuatan yang Allah perintahkan dalam Firman-Nya yang kudus, bukan yang tanpa perintah Firman itu direka-reka oleh manusia, karena fanatisme buta atau dengan dalih mengupayakan sesuatu yang baik.
  2. Perbuatan baik itu, yang dilakukan dalam ketaatan pada perintah-perintah Allah, adalah buah dan bukti iman yang sejati dan hidup. Olehnya orang percaya menunjukkan rasa terima kasih,menguatkan keyakinan mereka, membangun saudara-saudaranya, menjadikan lebih indah pengakuan mereka tentang Injil, menyumbat mulut kaum lawan, dan memuliakan Allah. Mereka itu buatan Dia, diciptakan dalam Yesus Kristus dengan maksud supaya beroleh buah yang membawa pada kekudusan dan sebagai kesudahannya ialah hidup yang kekal.
  3. Kemampuan mereka untuk melakukan perbuatan baik sama sekali tidak datang dari mereka sendiri, tetapi seluruhnya dari Roh Kristus. Supaya mereka dibuat mampu, diperlukan, selain karunia-karunia yang telah mereka terima, pengaruh nyata Roh Kudus itu untuk mengerjakan dalam diri mereka baik kemauan maupun pekerjaan menurut kerelaan-Nya. Namun, seharusnya hal ini tidak menyebabkan mereka menjadi lalai, seakan-akan mereka tidak terikat untuk menunaikan tugas kewajiban apa pun kecuali atas dorongan khusus dari Roh. Sebaliknya, mereka harus berupaya membangkitkan karunia Allah yang ada dalam diri mereka.
  4. Pun mereka yang dalam hal ketaatan telah mencapai tingkat ketaatan tertinggi yang dapat dijangkau dalam kehidupan ini, sama sekali tidak mampu menghasilkan amal berlebih dan berbuat melebihi tuntutan Allah. Mereka malah ketinggalan dalam banyak hal yang sesungguhnya wajib mereka laksanakan.
  5. Kita tidak layak memperoleh pengampunan dosa atau hidup kekal dari Allah karena perbuatan kita yang baik pun, karena perbuatan itu sama sekali tidak sebanding dengan kemuliaan yang akan datang, dan karena jarak tidak terhingga yang ada antara kita dengan Allah. Alasannya, tidak mungkin melalui perbuatan itu kita membawa manfaat bagi Dia atau melunasi utang dosa kita yang sudah- sudah. Sebaliknya, apabila kami telah berbuat sedapat mungkin, tidak berguna. Lagi pula, sejauh perbuatan itu baik, datangnya dari Roh-Nya, dan sejauh merupakan hasil upaya kita, perbuatan itu tercemar dan tercampur dengan kelemahan dan ketidaksempurnaan begitu rupa, sehingga tidak mungkin perbuatan itu bertahan di hadapan pengadilan Allah yang keras.
  6. Meskipun demikian, karena orang-orang percaya sendiri telah diterima oleh karena Kristus maka juga perbuatan baik mereka diterima di dalam Dia. Bukan seolah-olah perbuatan itu dalam hidup ini sama sekali tidak tercela dan tidak pantas ditegur dalam pandangan Allah, tetapi Dia memandangnya dalam diri Anak- Nya dan karena itu berkenan menerima dan mengganjar perbuatan yang dilakukan dengan sungguh-sungguh, meskipun disertai banyak kelemahan dan ketidaksempurnaan.
  7. Adapun perbuatan yang dilakukan manusia yang tidak dilahirkan kembali, menurut misterinya dapat saja sesuai dengan perintah Allah dan bermanfaat bagi mereka sendiri dan bagi orang lain. Akan tetapi, perbuatan itu tidak keluar dari hati yang disucikan oleh iman dan tidak dilakukan dengan cara yang benar seturut Firman, tidak juga tertuju ke tujuan yang tepat, yaitu kemuliaan Allah. Karena itu, perbuatan itu penuh dosa dan tidak mungkin berkenan kepada Allah atau membuat seorang manusia layak menerima anugerah Allah. Namun, kalau orang-orang itu mengabaikannya, mereka bertambah berdosa dan tidak mungkin menyenangkan Allah.

Hari ini kita bisa melihat apa yang dijelaskan oleh para pemimpin gereja dalam pengakuan Westminster mengenai iman, pengudusan dan perbuatan baik. Dari tiga hal yang berbeda, dua hal adalah apa yang dilakukan Tuhan, dan satu hal adalah apa yang harus dilakukan dengan kesungguhan hati oleh orang yang sudah ditebus dan menerima pengudusan Tuhan.

Semua harus mau bertanggung jawab, sekalipun tidak mampu bertanggung jawab sepenuhnya

“Sebab itu juga kami berusaha, baik kami diam di dalam tubuh ini, maupun kami diam di luarnya, supaya kami berkenan kepada-Nya. Sebab kita semua harus menghadap takhta pengadilan Kristus, supaya setiap orang memperoleh apa yang patut diterimanya, sesuai dengan yang dilakukannya dalam hidupnya ini, baik ataupun jahat.” 2 Korintus 5:9-10

Haruskah orang Kristen mempertanggungjawabkan hidupnya? Dapatkah mereka mempertanggung-jawabkan hidupnya? Hampir semua orang Kristen menjawab “ya” untuk pertanyaan pertama, tetapi ragu dalam menjawab pertanyaan kedua. Mengapa demikian? Dari ayat di atas sudah jelas bahwa kita harus berusaha untuk menyenangkan Tuhan, agar kita mendapatkan apa yang baik ketika kita menghadap takhta-Nya. Walaupun demikian, barangkali kita merasa bahwa apa pun yang kita perbuat tidak akan cukup untuk bisa dibandingkan dengan standar Tuhan. Itulah sebabnya, ada orang Kristen yang kemudian merasa bahwa usaha mereka untuk hidup bertanggung jawab akan sia-sia. Apalagi, jika Tuhan memang mahakuasa, tentunya ketidakmampuan kita untuk menjadi umat yang berkenan kepada-Nya adalah apa yang dikehendaki-Nya. Karena itu, sebagai ciptaan, kita hanya bisa berserah kepada Sang Pencipta yang tentu pada akhirnya akan mengampuni kita melalui darah Yesus. Pandangan ini adalah pandangan yang salah!

Pengakuan Westminster Bab XVI menyatakan bahwa umat Kristen diharuskan untuk bertanggung jawab atas hidupnya dengan berbuat baik, dalam arti menaati apa yang diperintahkan Tuhan. Yang merupakan perbuatan baik hanya perbuatan yang diperintahkan dalam Firman-Nya yang kudus, bukan yang merupakan rekaan manusia, karena fanatisme buta atau dengan dalih mengupayakan sesuatu yang dipandang manusia sebagai apa yang baik.

Perbuatan baik, yang dilakukan dalam ketaatan pada perintah-perintah Allah, adalah buah dan bukti iman yang sejati dan hidup kudus. Olehnya orang percaya menunjukkan rasa terima kasih,menguatkan keyakinan mereka, membangun saudara-saudaranya, menjadikan lebih indah pengakuan mereka tentang Injil, menyumbat mulut lawan, dan memuliakan Allah. Memang, mereka itu buatan Dia, diciptakan dalam Yesus Kristus dengan maksud supaya beroleh buah yang membawa pada kekudusan dan sebagai kesudahannya ialah hidup yang kekal.

Jika umat Tuhan mau bertanggung jawab atas hidup mereka, kemampuan mereka untuk melakukan perbuatan baik sama sekali tidak datang dari mereka sendiri, tetapi seluruhnya dari Roh Kristus. Supaya mereka dibuat mampu, selain karunia-karunia yang telah mereka terim diperlukan juga pengaruh nyata Roh Kudus untuk mengerjakan dalam diri mereka baik kemauan maupun kemampuan menurut kerelaan Tuhan yang mahakuasa. Mereka tidak dapat menuntut Tuhan untuk memberi kemampuan yang besar, sebaliknya mereka harus mau mempertanggungjawabkan apa yang sudah diberikan Tuhan.

JIka kemampuan untuk hidup secara bertanggung jawab adalah berbeda-beda antara orang yang satu dengan yang lain, seharusnya hal ini tidak menyebabkan mereka menjadi lalai, seakan-akan mereka tidak terikat untuk menunaikan tugas kewajiban apa pun kecuali atas dorongan khusus dari Roh. Sebaliknya, mereka harus mau berupaya memmakai karunia Allah yang sudah ada dalam diri mereka. Perlu dicatat bahwa sekalipun ada orang-orang tertentu yang dalam hal ketaatan nampaknya sudah mencapai tingkat ketaatan tertinggi yang dapat dijangkau dalam kehidupan di dunia, mereka sama sekali tidak mampu menghasilkan amal perbuatan yang melebihi tuntutan Allah. Sekalipun mereka terlihat sangat bertanggung jawab atas cara hidup mereka, mereka malah ketinggalan dalam banyak hal yang sesungguhnya wajib mereka laksanakan. Mengapa demikian? Mereka yang diberi banyak pengertian dan kemampuan, dituntut Tuhan agar mempunyai ketaatan dan tanggung jawab yang lebih besar, dan karena itu tidak boleh tinggi hati.

Kita tidak layak memperoleh pengampunan dosa atau hidup kekal dari Allah karena perbuatan kita yang sebaik apa pun, karena perbuatan itu sama sekali tidak sebanding dengan kemuliaan yang akan kita terima dari Tuhan di surga, dan karena perbedaan standar yang ada antara kita dengan Allah. Tidak mungkin melalui hidup bertanggung jawab dan perbuatan baik kita bisa membawa manfaat bagi Dia yang mahasuci dan mahakaya, atau melunasi hutang dosa kita yang sudah- sudah. Sebaliknya, apabila kita telah berbuat baik sedapat mungkin, itu masih merupakan sampah jika dibandingkan dengan kemuliaan dan kesucian Tuhan. Lagi pula, apa yang baik bagi Tuhan hanya bisa datang dari Roh-Nya, dan apa yang merupakan hasil upaya kita selalu tercemar dan tercampur dengan kelemahan dan ketidaksempurnaan begitu rupa, sehingga tidak mungkin perbuatan kita bertahan di hadapan Allah yang mahasempurna. Lalu apa gunanya kita berusaha hidup bertanggung jawab jika kita tidak memenuhi standar kebenaran Tuhan? Bukankah mereka yang percaya bahwa manusia tidak mampu bertanggung jawab kepada Tuhan adalah benar?

Meskipun kita tidak dapat memenuhi standar kebaikan dan kecucian Tuhan, karena orang-orang percaya telah diterima sebagai anak-anak Allah oleh karena pengurbanan Kristus maka juga perbuatan anak-anak Tuhan juga diterima Bapa di dalam Dia. Bukan seolah-olah perbuatan itu dalam hidup ini sama sekali tidak tercela dan tidak pantas ditegur dalam pandangan Allah, tetapi Dia memandangnya dalam diri Anak- Nya dan karena itu berkenan menerima dan mengganjar perbuatan yang dilakukan dengan sungguh-sungguh, meskipun disertai banyak kelemahan dan ketidaksempurnaan. Tuhan melihat isi hati orang percaya yang berusaha untuk bertanggung jawab, bukan melihat seberapa besar hasil tanggung jawab mereka.

Jika Tuhan menghargai tanggung jawab umat-Nya, bagaimana pula dengan hidup orang lain yang tidak mengenal Tuhan tetapi terlihat tertib dan bertanggung jawab? Adapun perbuatan baik yang dilakukan manusia yang tidak dilahirkan kembali, dapat saja sesuai dengan kehendak Allah dan bermanfaat bagi mereka sendiri dan bagi orang lain. Kita sadar bahwa ada banyak orang bukan Kristen yang melakukan tugasnya dengan baik dalam masyarakat. Akan tetapi, perbuatan mereka sudah tentu tidak keluar dari hati yang disucikan oleh Roh Kudus dan tidak dilakukan dengan cara yang benar karena tidak tertuju untuk kemuliaan Allah. Karena itu, perbuatan itu dalam pandangan Tuhan adalah penuh dosa dan tidak mungkin berkenan kepada Dia atau membuat mereka layak menerima anugerah Allah.

Jika demikian, apa guna orang-orang yang bukan Kristen untuk bertanggung jawab atas cara hidup mereka? Dalam hal ini kita tahu dari ayat di atas bahwa Tuhan tetap menuntut mereka untuk betanggung jawab, apalagi jika Tuhan menetapkan mereka untuk menjadi pimpinan. Jika mereka tidak mau, mereka akan menambah dosa mereka dan karena itu akan mendapat hukuman yang lebih besar atas hidup mereka!