“Hiduplah sebagai anak-anak yang taat dan jangan turuti hawa nafsu yang menguasai kamu pada waktu kebodohanmu, tetapi hendaklah kamu menjadi kudus di dalam seluruh hidupmu sama seperti Dia yang kudus, yang telah memanggil kamu, sebab ada tertulis: Kuduslah kamu, sebab Aku kudus. Dan jika kamu menyebut-Nya Bapa, yaitu Dia yang tanpa memandang muka menghakimi semua orang menurut perbuatannya, maka hendaklah kamu hidup dalam ketakutan selama kamu menumpang di dunia ini.” 1 Petrus 1:14-17

Hari ini gereja saya mengadakan perjamuan kudus sebagai acara rutin setiap hari Minggu pertama di bulan yang baru guna memperingati kematian Kristus untuk menebus umat percaya. Sebagaimana lazimnya, peringatan diberikan kepada jemaat (1 Korintus 11: 26-29):
“Jadi barangsiapa dengan cara yang tidak layak makan roti atau minum cawan Tuhan, ia berdosa terhadap tubuh dan darah Tuhan. Karena itu hendaklah tiap-tiap orang menguji dirinya sendiri dan baru sesudah itu ia makan roti dan minum dari cawan itu. Karena barangsiapa makan dan minum tanpa mengakui tubuh Tuhan, ia mendatangkan hukuman atas dirinya.”
Mengapa perlu untuk memperingatkan jemaat? Sebab Paulus mengingatkan bahwa banyak di antara jemaat Korintus yang lemah dan sakit, dan tidak sedikit yang meninggal karena dihukum Tuhan. Walaupun demikian, di zaman ini banyak orang Kristen yang kurang memperhatikan peringatan Paulus ini.
Sebagian orang Kristen memang tidak takut jika melakukan hal-hal yang menyalahi hukum Tuhan. Mereka mengira bahwa jika seseorang sudah dipilih Tuhan untuk diselamatkan, tidak ada hal apapun yang bisa membatalkan pemilihan itu. Sebagai orang terpilih, mereka mendapatkan karunia keselamatan dan itu bukan karena perbuatan mereka. Karena itu mereka berpendapat bahwa tindak tanduk dan cara hidup manusia bikanlah hal yang harus dipikirkan. Mereka yang tidak terpilih boleh saja tetap berbuat jahat karena mereka akhirnya akan mendapatkan kebinasaan, sedangkan mereka yang terpilih tidak perlu memikirkan hukuman Tuhan karena akan memperoleh keselamatan melalui penebusan Kristus.
Selain alasan di atas, ada orang Kristen yang percaya bahwa karena manusia mana pun tidak dapat berbuat apa yang baik sesuai dengan standar Tuhan, apa pun yang dilakukan manusia adalah sampah di mata Tuhan. Karena itu, usaha manusia untuk berbuat baik adalah kemunafikan dan kebodohan karena tidak ada hal yang bisa dilakukan manusia untuk menyenangkan Tuhan. Secara tidak langsung ini menyatakan bahwa Tuhan selalu tidak puas atas apa yang dilakukan manusia. Karena itu, mengapa umat Kristen harus memikirkan hal Tuhan yang bisa murka? Bagi mereka yang terpilih kemurkaan ini tentu sudah dipadamkan oleh darah Kristus.
Ayat di atas yang ditulis oleh rasul Petrus, ternyata berbeda dengan pandangan orang Kristen yang menyatakan bahwa segala sesuatu sudah ditetapkan Tuhan, bukan saja keselamatan mereka tetapi juga apa yang terjadi dalam hidup mereka. Orang-orang Kristen semacam itu sering menyatakan bahwa karena manusia tidak mempunyai kehendak bebas, mereka tidak berdaya untuk memilih apa yang baik. Selain itu, karena Tuhan mahakuasa, segala apa yang terjadi dalam hidup mereka tentunya sudah sesuai dengan kehendak-Nya. Manusia tidak berdaya untuk berusaha menaati hukum Tuhan.
Ayat di atas berbunyi bahwa umat kristen harus hidup sebagai anak-anak yang taat dan tidak menuruti hawa nafsu yang menguasai mereka pada saat kebodohan ada dalam diri mereka, tetapi hendaklah mereka menjadi kudus di dalam seluruh hidup mereka sama seperti Dia yang kudus, yang telah memanggil mereka, sebab ada tertulis: Kuduslah kamu, sebab Aku kudus. Dan jika mereka menyebut-Nya Bapa, yaitu Dia yang tanpa memandang muka menghakimi semua orang menurut perbuatan mereka, maka hendaklah setiap orang Kristen hidup dengan takut akan Tuhan selama mereka hidup di dunia.
Kata “hendaklah” jelas merupakan perintah agar umat Kristen berusaha untuk melakukannya. Kata “hendaklah” juga mernunjuk pada kehendak Tuhan kepada umat-Nya. Kata “hendaklah”juga berarti bahwa ada kemungkinan umat Kristen tidak melakukannya, dan karena itu diingatkan agar melakukannya, Dengan demikian, ada kemungkinan bahwa umat Kristen pada saat tertentu tidak menghendaki sesuatu yang dikehendaki Tuhan. Di sini jelas bahwa manusia mempunyai kehendak bebas, dalam arti melakukan sesuatu tanpa paksaan tetapi atas kemauan sendiri. Orang Kristen yang berkata bahwa mereka tidak dapat mengubah cara hidupnya karena tidak mempunyai kehendak bebas adalah orang Kristen yang fatalis dan sekaligus menghujat Tuhan yang dianggap menetapkan mereka hidup tidak bisa berubah.
Satu hal yang kita harus sadari dari Alkitab sejak mulanya, ialah bahwa Tuhan akan murka jika ada manusia yang melawan kehendak-Nya. Tuhan juga murka jika umat-Nya merendahkan kekudusan-Nya dengan cara tidak memperhatikan cara hidup mereka yang tidak kudus. Seluruh Alkitab, baik Perjanjian Lama maupun Perjanjian Baru, menyatakan bahwa karena Tuhan Kudus, Ia menghendaki kita juga hidup dalam kekudusan. Itu berati dengan kesadaran penuh kita harus memilih untuk taat kepada hukum-Nya. Kita tidak boleh nerasa bahwa sebagai orang pilihan kita mendapatkan dispensasi selama hidup di dunia untuk tidak perlu melakukan apa yang baik karena keselamatan kita sudah terjamin.
Ayat di atas menyatakan bahwa Tuhan bisa murka kepada siapa pun yang menentang kehendak-Nya, Jika Ia menghendaki kita untuk hidup kudus itu bukan untuk berpura-pura berkelakuan baik seperti orang munafik. Tetapi itu berarti bahwa karena kita takut kepada Tuhan, kita akan berusaha sungguh-sungguh untuk menjadi hamba-Nya yang baik. Itu bukan berarti bahwa kita bisa melakukan apa yang sempurna tetapi apa yang kita lakukan dengan kesungguhan sesuai dengan apa yang sudah dikaruniakan kepada kita.
Sebagai orang pilihan, kita bukannya tidak lagi mempunyai rasa takut kepada Tuhan. Kita memang tidak kuatir akan keselamatan kita yang sudah dijanjikan, tetapi rasa takut kita kepada Dia seharusnya tumbuh semakin besar selama kita hidup di dunia karena semakin sadar kita akan kebesaran dan kekudusan Tuhan kita. Jika rasa takut ini semakin besar, proses kedewasaan iman kita juga akan terjadi semakin cepat dan berkat-Nya akan semakin besar kepada kita dan sanak keluarga kita. Sebaliknya, mereka yang tidak percaya akan adanya dosa-dosa yang mematikan kerohanian akan mengalami kekerdilan iman dan persoalan hidup yang besar selama hidup di dunia. Biarlah kita saling mengingatkan bahwa setiap orang percaya harus hidup dengan rasa takut dan hormat kepada Tuhan yang mahakuasa.
“Kami tahu apa artinya takut akan Tuhan, karena itu kami berusaha meyakinkan orang. Bagi Allah hati kami nyata dengan terang dan aku harap hati kami nyata juga demikian bagi pertimbangan kamu.” 2 Korintus 5: 11