Sendirian dalam iman, sendirian dalam kematian

“Demikianlah setiap orang di antara kita akan memberi pertanggungan jawab tentang dirinya sendiri kepada Allah.” Roma 14:12

Pernahkah Anda membaca cerita Sam Pek Eng Tay? Ini adalah cerita rakyat Tiongkok yang mengisahkan percintaan Sam Pek dan Eng Tay. Legenda ini sering dianggap sebagai Romeo dan Juliet versi Tionghoa.

Eng Tay adalah seorang gadis muda dari Shangyu, Zhejiang, putri tunggal dari sebuah keluarga kaya yang pergi ke Hangzhou untuk belajar. Dalam perjalanannya, ia berkenalan dengan Sam Pek, yang berasal dari Kuaiji. Di sekolah Eng Tay jatuh cinta dengan Sam Pek. Namun orang tua Eng Tay memaksanya untuk menikahi orang lain. Sam Pek sakit hati dan akhirnya meninggal dunia.

Pada hari pernikahan Eng Tay dengan orang pilihan orang tuanya, rombongan pengantin wanita tidak dapat pergi ke rumah mempelai laki-laki karena terhadang badai di dekat kuburan Sam Pek. Engtay pergi ke kuburan tersebut dan meminta agar kuburan tersebut terbuka. Tiba-tiba Eng Tay meloncat ke dalam kuburan Sam Pek. Jiwa mereka dilahirkan kembali sebagai sepasang kupu-kupu yang terbang bersama. Kisah sehidup semati yang berkesan indah, tetapi sebenarnya tidak cocok untuk orang Kristen. Mengapa demikian?

Terlepas dari cara Eng Tay untuk menyatakan cintanya kepada Sam Pek yang sudah mendahuluinya, orang Kristen mengerti bahwa tidak semua orang akan bisa ke surga. Sekalipun ada dua orang Kristen yang saling mengasihi, hanya orang Kristen sejati yang akan masuk surga. Keselamatan adalah hal pribadi yang tidak bisa dibagi dengan orang lain. Begitu juga kematian, karena hanya kematian orang yang sudah ditebus akan berakhir dengan kehidupan kekal di surga.

Martin Luher perbah menyatakan: “Every man must do two things alone; he must do his own believing and his own dying“. Artinya: setiap orang harus melakukan dua hal sendirian; ia harus menjalankan imannya sendirian dan ia harus mati sendirian. Tidak ada orang yang bisa sehidup semati dengan orang lain. Karena jika kita mau bertekad untuk hidup sebagai orang Kristen sejati, itu harus merupakanh perjuangan pribadi kita; dan jika kita meninggalkan dunia ini kita harus menhadapi Tuhan sendirian.

Dalam kutipan Martin Luther di atas, ia merangkum esensi dari perjalanan pribadi dan tanggung jawab utama yang kita pikul sebagai individu. Pada intinya, kutipan tersebut menunjukkan bahwa ada dua aspek mendasar dalam hidup yang tidak dapat dialami oleh siapa pun: percaya dan mati. Percaya, dalam konteks ini, mencakup tindakan mengembangkan keyakinan, nilai, dan perspektif diri sendiri. Hal ini memerlukan eksplorasi ide secara independen, hubungan pribadi dengan Tuhan. Kepercayaan memaksa kita untuk mempertanyakan, merenungkan, dan mencari jawaban atas pertanyaan-pertanyaan mendasar dalam hidup. Ini adalah proses yang sangat pribadi dan intim yang membentuk opini kita, memengaruhi keputusan kita, dan memberi makna pada keberadaan kita.

Demikian pula, bagian kedua dari ucapan Luther itu membahas realitas kematian manusia yang tak terelakkan. Kematian adalah aspek kehidupan yang tidak dapat dihindari dan kita masing-masing akan menghadapinya secara individu. Terlepas dari sistem pendukung eksternal apa pun, di akhir perjalanan kita, kita dihadapkan pada kesendirian dan finalitas dari kematian kita sendiri. Kita tidak bisa mengandalkan orang lain untuk melakukan pengalaman ini atas nama kita; itu milik kita pribadi.

Makna kutipan ini terletak pada penekanannya pada akuntabilitas dan otonomi pribadi. Hal ini mendorong kita untuk mengendalikan keyakinan kita, memastikan bahwa keyakinan tersebut lahir dari introspeksi dan keyakinan mendalam, bukan kepatuhan membabi buta terhadap ajaran pendeta atau keyakinan orang lain. Terlebih lagi, hal ini mengingatkan kita bahwa kitalah yang memiliki kepemilikan tunggal atas hidup kita dan pilihan-pilihan yang kita buat hingga akhir.

Tiap orang harus memikul salibnya sendiri. Memikul salib berarti menaruh kepercayaan penuh kepada Tuhan di tengah badai dan pertempuran dalam hidup Anda. Artinya, meskipun Anda berada dalam situasi yang sangat sulit atau menyakitkan, adalah keputusan Anda untuk selalu percaya bahwa Tuhan menyertai Anda di tengah penderitaan Anda. Lebih dari itu, sebagai orang Kristen, kita sendiri harus berusaha menjalani hidup kita sesuai dengan kehendak Tuhan.

Meskipun kutipan Luther menyoroti tanggung jawab individu, keyakinan dan keputusan kita bergema dalam lingkup yang lebih luas dari keberadaan manusia. Perjalanan hidup orang beriman dan akhir hidup dari setiap orang Kristen adalah suatu kesatuan yang tidak dapat terpisahkan. Meskipun pada akhirnya kita bertanggung jawab atas hidup kita sendiri dan harus menghadapi proses kematian, hubungan dan interaksi yang kita dengan Tuhan sumber kehidupan kita memberi kita keyakinan bahwa semua itu akan kita jalani bersama Tuhan sendiri. Dalam kenyataannya, kita tidak dapat bergantung pada kasih orang lain, tetapi kepada kasih Tuhan.

“Siapakah yang akan memisahkan kita dari kasih Kristus? Penindasan atau kesesakan atau penganiayaan, atau kelaparan atau ketelanjangan, atau bahaya, atau pedang? Seperti ada tertulis: ”Oleh karena Engkau kami ada dalam bahaya maut sepanjang hari, kami telah dianggap sebagai domba-domba sembelihan.” Tetapi dalam semuanya itu kita lebih dari pada orang-orang yang menang, oleh Dia yang telah mengasihi kita. Sebab aku yakin, bahwa baik maut, maupun hidup, baik malaikat-malaikat, maupun pemerintah-pemerintah, baik yang ada sekarang, maupun yang akan datang, atau kuasa-kuasa, baik yang di atas, maupun yang di bawah, ataupun sesuatu makhluk lain, tidak akan dapat memisahkan kita dari kasih Allah, yang ada dalam Kristus Yesus, Tuhan kita.” Roma 8:35-39

Apa arti nama Anda?

Ia membawanya kepada Yesus. Yesus memandang dia dan berkata: ”Engkau Simon, anak Yohanes, engkau akan dinamakan Kefas (artinya: Petrus).”Yohanes 1:42

Nama selalu penting dalam kehidupan manusia. Ketika saya dan istri mencoba memilih nama untuk anak-anak kami, kami selalu membanding-bandingkan beberapa pilihan. Apakah nama itu baik artinya? Apakah nama itu cocok bunyinya dengan nama keluarga kami? Apakah nama itu tidak akan membuat orang lain sulit menyebutkannya? Semua faktor penting! Suka atau tidak suka, nama seseorang terikat pada arti, bunyi dan persepsi.

Beberapa tahun yang lalu ada orang tua di Tiongkok yang memilih nama depan yang sangat pendek untuk bayi mereka. Nama itu hanya terdiri dari satu huruf @, yang berbunyi “at‘ dalam bahasa Inggris dan digunakan untuk nama email. Untunglah pemerintah setempat melarang penggunaan nama itu karena bisa membawa olok-olokan untuk anak mereka di kemudian hari. Sekalipun nama itu praktis dan tidak membawa arti buruk, nama itu bisa mendatangkan persepsi yang buruk.

Mungkin Yudas adalah nama dari Alkitab yang tidak Anda sukai. Yudas adalah nama untuk anak laki-laki yang berasal dari Yunani. Ini adalah kata Yunani dari kata Ibrani Yehuda, yang berarti “terpuji.” Meskipun nama alkitabiah ini agaknya sinonim dengan Yudas Iskariot yang mengkhianati Yesus, arti sebenarnya adaah baik. Yudas adalah pilihan nama yang tepat jika Anda ingin menunjukkan kepada si kecil betapa Anda menghargai kehadirannya. Tetapi, karena adanya asosiasi dengan Yudas Iskariot, nama Yudas di dunia barat tidak pernah populer dan bahkan di Indonesia mungkin tidak ada orang yang mau memakainya.

Yohanes 1:29–42 adalah percakapan antara Yesus dan Yohanes Pembaptis, dan mencatat momen ketika Yesus merekrut dua murid pertama-Nya. Yesus diidentifikasikan sebagai “Anak Domba Allah,” dan “Anak Allah.” Yohanes Pembaptis menggambarkan penglihatannya tentang Roh Kudus, dalam bentuk seekor merpati, hinggap pada Yesus. Ini menegaskan bahwa Dia adalah Mesias. Yohanes Pembaptis menyuruh dua pengikutnya, Yohanes dan Andreas, untuk pergi dan mengikuti Yesus. Mereka, pada gilirannya, memperkenalkan Yesus kepada Simon.

Andreas sudah memberitahu saudaranya Simon bahwa pria yang ditemuinya adalah “Mesias”, yang berarti “Yang Diurapi”. Istilah Yunaninya adalah Christos, yang kemudian menjadi kata dalam bahasa Indonesia “Kristus”. Ini adalah nama kelima dari tujuh nama Yesus yang disebutkan Yohanes dalam pasal 1. Yesus segera memberi tahu Simon bahwa dia akan memiliki nama baru yaitu “Kefas.” Ini sebenarnya adalah sebuah kata dari bahasa Aram yang berarti “batu.” Dalam bahasa Yunani aslinya, Yohanes menerjemahkan Kefas sebagai Petros, yang darinya kita mendapatkan nama “Petrus”.

Teman-teman Simon mungkin menganggap aneh bahwa seseorang yang dikenal emosional dan tidak stabil kini menggunakan nama “Batu”. Jauh sebelum Petrus melakukan hal-hal yang patut diperhatikan, Yesus sudah bisa melihat potensinya, dan memberinya nama yang pantas untuk masa depannya. Tentu saja, kita sekarang tahu bahwa nama Petrus itu sangat tepat untuk seseorang yang setia kepada imannya sampai mati.

Sekarang, bolehkah saya bertanya siapakah nama Anda? Mungkin jika Anda ke gereja besok pagi, tidak banyak orang di jalan yang tahu nama Anda, tetapi mereka pasti tidak ragu memanggil memanggil Anda dengan nama “orang Kristen”. Seperti itulah murid-murid Yesus yang di Antiokhia dinamakan orang Kristen untuk pertama kalinya (Kisah Para Rasul 11:26). Kristen bukan nama sembarang nama. Nama itu seharusnya membawa arti, bunyi dan persepsi yang baik. Seharusnya, tetapi belum tentu.

Hari ini, sadarkah Anda bahwa masyarakat di sekitar Anda mengenal Anda sebagai “orang Kristen”? Sadarkah Anda bahwa arti nama itu adalah “pengikut Kristus”? Apakah nama Anda merupakan sesuatu yang bunyinya merdu untuk orang lain, karena mereka dapat melihat cara hidup Anda yang penuh kasih dan kesalehan, yang berbeda dari orang lain? Apakah orang lain mempunyai persepsi yang baik atas diri Anda? Semoga.

Mengapa lebih baik memberi daripada menerima?

“Dalam segala sesuatu telah kuberikan contoh kepada kamu, bahwa dengan bekerja demikian kita harus membantu orang-orang yang lemah dan harus mengingat perkataan Tuhan Yesus, sebab Ia sendiri telah mengatakan: Adalah lebih berbahagia memberi dari pada menerima.” Kisah Para Rasul 20:35

Kisah Para Rasul 20:28–35 mencatat kata-kata terakhir Paulus kepada para pemimpin dan penatua gereja di Efesus, dan itu ditulis bukan kepada para jemaat. Ia telah mengingatkan mereka akan pengabdiannya yang setia kepada mereka dan gereja. Dia telah memberitahu mereka bahwa dia akan pergi ke Yerusalem dimana dia akan dipenjarakan; mereka tidak akan pernah melihatnya lagi (Kisah 20:18–27). Kemudian, ia menasihati mereka untuk mengikuti teladannya dalam memimpin gereja, melindungi umatnya dari guru-guru palsu, dan mengorbankan keuntungan duniawi untuk membawa orang lain kepada Kristus. Paulus akan membuktikan poin terakhir ini ketika dia menghabiskan lima tahun berikutnya dalam tahanan namun masih berkhotbah dan menulis kepada gereja-gereja (Kisah 28:30-31).

Sekarang dalam perjalanan kembali ke Yerusalem, Paulus bertemu dengan para penatua gereja. Dia mengingatkan mereka akan pelayanannya dan memperingatkan mereka tentang kedatangan guru-guru palsu. Dia juga memberi tahu mereka bahwa dia akan dipenjara dan mereka tidak akan melihatnya lagi. Sekarang, dia memberikan instruksi terakhir kepada mereka saat dia menugaskan mereka untuk setia memimpin gereja mereka (Kisah 20:17-34). Kemudian Paulus melanjutkan pesannya agar para pemimpin gereja membantu orang-orang yang lemah karena adalah lebih berbahagia memberi dari pada menerima.

Apa yang dipesankan Paulus kepada penatua gereja agaknya berbeda dari kecenderungan masa kini. Pada zaman ini adalah biasa jika pendeta menerima perhatian utama dan pemberian jemaat. Bahkan banyak pendeta yang sekarang menjadi orang yang kaya raya karena menuntut berbagai pemberian dan fasilitas kenyamanan dari jemaat dengan memakai kedok persembahan untuk Tuhan. Apa yang kita lihat, jemaat Kristen juga ikut-ikutan merasa bahwa adalah lebih enak untuk menerima berkat Tuhan daripada membagikan berkat itu kepada orang lain. Ini bertentangan dengan ajaran Paulus di atas.

Lebih berbahagia memberi daripada menerima karena memberi akan membunuh sifat mementingkan diri sendiri, menghilangkan cinta akan uang dan kenyamanan, dan mendorong misi kita untuk membantu mereka yang membutuhkan. Karena kita telah diberikan segala yang kita butuhkan di dalam Kristus, kita tidak perlu mengharapkan imbalan apa pun saat memberi. Kita menjadi bahagia atau diberkati ketika kita memikul salib dan menyangkal diri kita sendiri, seperti yang Yesus ajarkan dalam Lukas 9:23.

“Kata-Nya kepada mereka semua: ”Setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya setiap hari dan mengikut Aku.”

Paulus melaksanakan ajaran ini dalam Kisah Para Rasul 20:24-25, ketika ia berkata: “Tetapi aku tidak menganggap hidupku berharga atau berharga bagi diriku sendiri, asal saja aku dapat menyelesaikan kursus dan pelayanan yang aku terima dari Tuhan. Yesus, untuk memberi kesaksian tentang Injil kasih karunia Allah.”

Kita dapat memberikan waktu, bakat, dan harta kita kepada mereka yang membutuhkan karena pekerjaan Injil kasih karunia yang dilakukan Allah di dalam dan melalui kita. Setiap anugerah sumber daya yang ditawarkan akan membunuh keegoisan kita dan menempatkan ketergantungan dan iman yang lebih dalam kepada Tuhan. Ketika kita percaya bahwa memberi adalah hal yang lebih berbahagia, kita menaruh iman kita pada janji bahwa Tuhan tidak akan pernah meninggalkan dan mengabaikan kita.

Tuhan menciptakan kita untuk menjadi saluran rahmat-Nya. Ketika kita memberi, kita mencerminkan kemurahan dan pengorbanan-Nya. Pemberian keuangan dan sumber daya dengan pengorbanan kita secara alami akan memberikan peluang untuk tidak hanya membantu orang miskin dan membutuhkan, tetapi juga membuat orang beriman untuk kaya di dalam Kristus.

Pagi ini, kita percaya bahwa Dia menyediakan semua kebutuhan kita, sama seperti Dia menyediakan kebutuhan burung di udara (Matius 6:26-34). Kita harus percaya bahwa ketika kita memberi, Dia ada untuk kebaikan kita, dan menggunakan segala sesuatu untuk kemuliaan-Nya (Roma 8:28). Pemberian yang kita berikan tidak akan pernah sia-sia, apalagi jika kita memberi dengan hati yang rela dan gembira.

Pernahkah Anda merajuk karena keputusan Tuhan?

Tetapi hal itu sangat mengesalkan hati Yunus, lalu marahlah ia. Dan berdoalah ia kepada TUHAN, katanya: ”Ya TUHAN, bukankah telah kukatakan itu, ketika aku masih di negeriku? Itulah sebabnya, maka aku dahulu melarikan diri ke Tarsis, sebab aku tahu, bahwa Engkaulah Allah yang pengasih dan penyayang, yang panjang sabar dan berlimpah kasih setia serta yang menyesal karena malapetaka yang hendak didatangkan-Nya. Jadi sekarang, ya TUHAN, cabutlah kiranya nyawaku, karena lebih baik aku mati dari pada hidup.” Tetapi firman TUHAN: ”Layakkah engkau marah?” Yunus 4:1-4

Yunus adalah seorang nabi yang mempunyai temperamen yang agak “aneh”. Tetapi, dalam keadaan tertentu kita mungkin juga bisa berlaku seperti Yunus. Dalam ayat di atas, kita melihat bahwa dalam doanya Yunus marah kepada Tuhan dan mengasihani dirinya sendiri karena Tuhan menyelamatkan Niniwe. Seperti Yunus, kita juga membuat dosa serupa yang berupa kemarahan, pembenaran diri dan kesombongan. Sebagai orang pilihan, kita mungkin merasa bahwa Tuhan seharusnya selalu “mengalah” kepada kita.

Setelah perjalanan pengabarannya di Niniwe, Yunus sebenarnya punya banyak alasan untuk merasa bahagia. Dia seharusnya bersyukur, gembira, bersyukur, bersukacita. Dia telah berkhotbah selama tiga hari dan seluruh kota telah bertobat kepada Tuhan. Tidak banyak pengkhotbah yang mendapat tanggapan positif yang begitu besar terhadap khotbah mereka.

Tapi Yunus tidak bersukacita, dia malah merajuk. Dia tidak senang, dia kesal. Dia “sangat tidak senang dan menjadi marah”. Mengapa? Dia terkejut dengan anugerah Tuhan terhadap kota Niniwe dan dia sama sekali tidak menyukainya. Hal ini juga membuat Yunus menjadi sombong. “Dia berdoa kepada Tuhan, ‘Ya Tuhan, bukankah ini yang aku katakan ketika aku masih di rumah?’ “Yunus menanggapi kasih TUhan kepada orang Niniwe dengan merajuk kekanak-kanakan dan membiarkan kepahitan menguasai dirinya.

Ada kemarahan yang benar, ada kemarahan yang baik; tapi ada juga kemarahan penuh dosa yang muncul karena sikap egois dan mementingkan diri sendiri ketika kita tidak mendapatkan apa yang kita inginkan. Kita makin marah karena orang yang tidak kita senangi justru mendapatkannya. Kemarahan seperti ini merupakan gejala dari masalah yang lebih dalam. Ini adalah bel peringatan yang perlu kita perhatikan. Kemarahan yang disadarkan rasa iri hati dan kesombongan seperti ini mengarah pada dosa-dosa lainnya (ingat Tujuh Dosa yang Membinasakan).

Alkitab menampilkan dua doa Yunus. Yang pertama di dalam perut ikan, yang kedua di Niniwe. Dalam doanya yang pertama dia berseru minta ampun kepada Tuhan, dalam doa kedua dia marah kepada Tuhan. Tadinya di perut ikan dia rendah hati dan menyesal, sekarang dia sombong dan merasa dirinya lebih baik dari orang lain. Dalam doa pertama, dia merasa kosong dalam dirinya sendiri; kemudian sesudah diampuni Tuhan, dia merasa penuh dengan dirinya sendiri. Dalam kesombongannya, Yunus merasa dia lebih tahu daripada Tuhan. Secara harafiah keluhannya berbunyi, “Bukankah ini perkataanku ketika aku masih di rumah?”

Inilah Yunus, nabi yang melarikan diri dan tidak taat, yang kemudian memberi tahu Tuhan apa yang harus dilakukan, menguliahi Tuhan. Inilah nabi lemah yang merasa lebih bijaksana daripada Tuhan yang mahakuasa. Karena segala sesuatunya tidak berjalan sesuai dengan harapannya, dia menuduh Tuhan tidak adil; seperti pemain sepakbola yang menantang keputusan wasit; “Kamu membuat keputusan yang buruk; itu adalah keputusan yang salah.” Tetapi, kita pun sering berlaku seperti Yunus sekalipun tidak sadar akan hal itu.

Banyak di antara kita yang terjebak dalam pemikiran bahwa kita lebih tahu daripada Tuhan; berpikir kita mempunyai rencana yang lebih baik, sehingga kita dapat memperbaiki apa yang sedang Tuhan lakukan. Seperti Marta yang merajuk karena kematian Lazarus: “Tuhan, sekiranya Engkau ada di sini, saudaraku pasti tidak mati.” (Yohanes 11: 21).

Kita sering melakukan ini juga. “Tuhan, mengapa Engkau membiarkan hal itu terjadi?” “Jika orang itu tidak mengatakan hal itu, aku tentu tidak akan marah.” “Jika Tuhan menjagaku tetap sehat, semua ini tidak akan terjadi.” Kita jatuh ke dalam sikap yang sama seperti Yunus. Kita pikir kita lebih tahu daripada Tuhan dan kita menyalahkan Dia atas apa yang tidak kita sukai, dan kita berani mengatakan kepada-Nya apa yang harus Dia dilakukan. Dalam kesombongan kita, kita berselisih dengan Tuhan. Kita cukup sombong untuk berpikir bahwa kita pantas untuk merajuk kepada Tuhan.

Hari ini, firman Tuhan mengingatkan kita bahwa Tuhan adalah mahaadil dan mahabijaksana. Seperti Dia mengasihi nabi Yunus, Tuhan juga mengasihi kita yang berdosa. Tuhan mau kita sadar bahwa Ia mengasihi semua ciptaan-Nya dan memberikan berkat-Nya sesuai dengan kebijakan-Nya. Kita tidak patut merajuk kepada Tuhan karena adanya hal-hal yang tidak kita sukai. Jika kita saat ini marah kepada Tuhan, firman-Nya kepada kita: ”Layakkah engkau marah?”

Kita tidak perlu meniru orang Israel

Firman Allah kepada Musa: “AKU ADALAH AKU.” Lagi firman-Nya: “Beginilah kaukatakan kepada orang Israel itu: AKULAH AKU telah mengutus aku kepadamu.” Selanjutnya berfirmanlah Allah kepada Musa: “Beginilah kaukatakan kepada orang Israel: TUHAN, Allah nenek moyangmu, Allah Abraham, Allah Ishak dan Allah Yakub, telah mengutus aku kepadamu: itulah nama-Ku untuk selama-lamanya dan itulah sebutan-Ku turun-temurun.” Keluaran 3: 14 – 15

Pada saat ini, banyak orang yang rajin membaca berita tentang keadaan di Timur Tengah. Peperangan antara Israel dan Hamas membuat orang ingin tahu lebih banyak tentang latar belakang perseteruan antara Israel dan Hamas, dan juga antara Israel dean beberapa negara Arab. Karena itu banyak orang mungkin tertarik untuk mempelajari cara hidup, budaya dan agama orang Israel.

Seperti yang kita ketahui, bangsa Israel adalah bangsa pilihan Allah, dari mana Yesus dilahirkan. Allahlah yang menyelamatkan bangsa Israel dari perbudakan di Mesir dan membimbing mereka untuk masuk ke tanah perjanjian. Namun, karena bangsa itu kemudian berpaling dari Allah, mereka kemudian diceraiberaikan Allah, sampai-sampai kehilangan negaranya. Hanya setelah berakhirnya perang dunia kedua, dan setelah mengalami malapetaka yang disebabkan oleh Nazi Jerman, negara Israel kemudian terbentuk lagi hingga sekarang.

Apakah bangsa Israel yang sekarang ada, masih tetap merupakan bangsa pilihan Allah? Jawaban pertanyaan ini tidaklah mudah ditemukan. Maklum, bangsa Israellah yang membuat Yesus disalibkan, dan sampai sekarang sebagian besar orang Yahudi masih menantikan datangnya Mesias. Sebagian orang Kristen kemudian menganggap bahwa eksistensi bangsa Israel sekarang tidak lagi relevan dalam teologi Kristen. Sebaliknya, banyak orang Kristen yang percaya bahwa bangsa ini sampai sekarang masih bangsa pilihan yang pada akhirnya akan diselamatkan.

Dalam masyarakat Yahudi, Yahweh adalah pengucapan dari nama perjanjian Tuhan, YHVH atau YHWH. Tuhan pertama kali menggunakan nama ini ketika Dia berbicara dengan Abram (Abraham) dalam Kejadian 15: 7. Nama YHVH juga diturunkan kepada Musa di Gunung Sinai ketika Tuhan menampakkan diri kepada Musa di semak yang terbakar. Musa menanyakan nama-Nya dan Tuhan menjawab “Aku adalah Aku”(Keluaran 3:14).

Sebenarnya, Tuhan dikenal dengan berbagai nama dalam kitab Kejadian. Dia disebut “El Elyon” (Tuhan Yang Maha Tinggi), “El Shaddai” (Tuhan Yang Maha Kuasa), “El Roi” (Tuhan yang melihatku), dan nama-nama lainnya. Walaupun demikian, Abraham, Nuh, Ishak, Yakub, dan Laban mengenal Tuhan sebagai YHWH, atau Yahweh.

Yahweh adalah nama yang Tuhan nyatakan kepada Musa agar diingat oleh umat-Nya, Israel, pada saat itu. Selalu diingat, tidak boleh dilupakan. Tuhan memang sedang mempersiapkan umat-Nya untuk mengenali Mesias yang akan datang, “benih” yang dijanjikan di taman Firdaus (Kejadian 3:15). Dari Alkitab kita bisa membaca tentang Tuhan yang mengungkapkan banyak segi dari tujuan dan rencana penebusan-Nya dan lebih banyak lagi tentang siapa Dia, yang tidak pernah berubah. Karena itu, Tuhan adalah Tuhan. Yahweh yang tidak ada duanya.

Dalam kitab Keluaran agaknya nama YHWH sudah dilupakan. Itulah sebabnya tidak disebutkan nama ilahi dalam Keluaran 1 dan 2. Kita harus ingat bahwa umat Israel telah menjadi budak di Mesir selama 400 tahun. Musa telah berada di Midian dengan ayah mertuanya yang tidak mengenal Tuhan selama 40 tahun. Walaupun ada orang-orang yang takut akan Tuhan, dan juga orang-orang yang berseru dalam penderitaan mereka kepada Tuhan, tidak ada yang memanggil nama YHWH. Dengan melupakan Tuhan yang tidak pernah berubah dan Tuhan yang mahakuasa, dan yang rancangan penyelamatan-Nya pasti terjadi, dalam penderitaan umat Israel tidak bisa mengerti siapakah Tuhan mereka, YHWH, yang akan membawa mereka keluar dari tanah Mesir.

Untuk kita, implikasi dari nama yang luar biasa ini, AKU ADALAH AKU, adalah bahwa Allah yang tak terbatas, mutlak, dan menentukan nasib sendiri ini telah datang untuk kita di dalam Yesus Kristus. Dalam Yohanes 8: 56–58, Yesus menjawab kritik dari para pemimpin Yahudi. Dia berkata, “Abraham bapamu bersukacita bahwa ia telah melihatnya dan ia bersukacita. ” Orang-orang Yahudi kemudian berkata kepadanya, “UmurMu belum sampai lima puluh tahun, dan Engkau telah melihat Abraham?” Yesus kemudian berkata kepada mereka, “Aku berkata kepadamu, sebelum Abraham jadi, Aku telah ada. AKU ADALAH AKU!

Haruskah kita sekarang memanggil Tuhan dengan nama Yahweh seperti orang Yahudi? Tidak! Di zaman Perjanjian Lama, Tuhan berbicara melalui para nabi-Nya dan bernubuat tentang Mesias yang akan datang. Selama pelayanan-Nya di bumi, Yesus memberikan penjelasan lebih lanjut tentang tujuan dan rencana Bapa yang tidak berubah. Setelah Yesus datang ke dunia dan mati di kayu salib, mereka yang percaya kepada-Nya akan menerima keselamatan. Mereka diangkat menjadi anak-anak Allah. Sebab itu, kita tidak memiliki roh yang membuat kita takut lagi; tetapi karena Yesus sudah memperdamaikan kita dengan Tuhan, kita tidak boleh lupa bahwa kita telah menerima Roh yang menjadikan kita anak Allah. Oleh Roh itu kita memanggil: “ya Abba, ya Bapa!”. Kita boleh percaya bahwa pada saatnya, bangsa Israel juga akan memanggil Yahweh sebagai Bapa, jika mereka menerima Yesus sebagai Juruselamat mereka.

Semua orang, yang dipimpin Roh Allah, adalah anak Allah. Sebab kamu tidak menerima roh perbudakan yang membuat kamu menjadi takut lagi, tetapi kamu telah menerima Roh yang menjadikan kamu anak Allah. Oleh Roh itu kita berseru: “ya Abba, ya Bapa!” Roma 8: 14 – 15

Bolehkah kita berbohong kecil?

“Karena itu buanglah dusta dan berkatalah benar seorang kepada yang lain, karena kita adalah sesama anggota.” Efesus 4:25,

Keyakinan saya sendiri adalah bahwa berbohong tidak pernah benar secara moral. Tapi ini bukan berarti saya tidak pernah berbohong. Berbohong didefinisikan sebagai “membuat pernyataan yang tidak benar dengan maksud untuk menipu.” Kebohongan kecil merupakan pernyataan yang tidak benar, namun biasanya dianggap tidak penting karena tidak menutupi kesalahan yang serius. Kebohongan kecil memang menipu, namun bisa juga bersifat sopan atau diplomatis. Ini bisa jadi dianggap sebagai kebohongan yang “bijaksana” untuk menjaga perdamaian dalam suatu hubungan; atau bisa jadi itu adalah kebohongan yang “membantu” yang seolah-olah menyenangkan orang lain; itu bisa menjadi kebohongan “kecil” untuk membuat diri kita terlihat lebih baik di depan banyak orang.

Bagaimana kita tidak boleh berbohong jika kita menghadapi masalah yang sulit? Dalam situasi sulit, seharusnya kita percaya Tuhan akan memberikan alternatif agar kita bisa melakukan apa yang benar di mata Tuhan, namun tidak berbohong. Tetapi ini bukannya mudah untuk dilaksanakan karena kita sering tidak sabar untuk menunggu jawaban-Nya.

Jika kita menelusuri Alkitab berapa kali muncul larangan untuk berbohong, mengatakan apa yang tidak benar, memberikan kesaksian palsu, dan sebagainya. Ada banyak ayat berulang kali di mana Tuhan jelas memerintahkan kita untuk tidak berbohong. Tentu saja, kita melihat hal ini dalam 10 perintah Tuhan: “Jangan mengucapkan saksi dusta tentang sesamamu.” (Keluaran 20:16) namun jika kita melihat Perjanjian Baru, Paulus berkata dalam Efesus 4:25, “Karena itu buanglah dusta dan berkatalah benar seorang kepada yang lain, karena kita adalah sesama anggota.”. Dalam Kolose 3:9, dia berkata, “Jangan lagi kamu saling mendustai, karena kamu telah menanggalkan manusia lama serta kelakuannya.”.

Adalah penting bagi kita untuk menyadari bahwa meniru karakter Tuhan adalah dasar untuk tidak berbohong. Tuhan tidak pernah berbohong. Faktanya, Ibrani 6:18 mengatakan bahwa Tuhan tidak mungkin berbohong. Titus 1:2 mengatakan bahwa Dia adalah Tuhan yang tidak berdusta, Tuhan yang tidak pernah berbohong.

Selain itu, Yesus tidak pernah berbohong. Itu adalah argumen lain yang mendukung gagasan bahwa kita tidak boleh berpikir bahwa kita terpaksa berbohong. Kita bisa membahas panjang lebar contoh-contoh naratif mengenai beberapa kebohongan dalam Kitab Suci – misalnya Rahab berbohong kepada tentara Yerikho untuk melindungi mata-mata yang datang ke rumahnya – tetapi contoh naratif tersebut tidak membatalkan kesimpulan bahwa Tuhan memerintahkan kita untuk tidak berbohong dan tidak menegaskan kebohongan.

Jika kita mau mengaku bahwa berbohong adalah dosa (Imamat 19:11; Amsal 12:22), bagaimana dengan “kebohongan kecil” atau white lies yang hanya mengandung “sedikit” kebohongan? Bagaimana jika mengatakan kebenaran justru bisa menyakiti seseorang? Kita hidup dalam masyarakat yang mengkondisikan kita untuk berbohong dengan mengatakan bahwa, dalam banyak situasi, kebohongan itu dibenarkan. Sekretaris “melindungi” atasan yang tidak ingin diganggu; penjual melebih-lebihkan kualitas produknya; pelamar pekerjaan menmbesar-besarkan resumenya. Alasannya, selama tidak ada yang dirugikan atau hasilnya bagus, sedikit kebohongan pun tidak masalah. Malahan ada yang percaya bahwa jika kebohonagn bisa membesarkan nama Tuhan, kebohongan itu tentunya baik.

Memang benar bahwa beberapa dosa membawa akibat yang lebih buruk dibandingkan dosa lainnya. Dan memang benar bahwa berbohong kecil tidak akan menimbulkan dampak yang sama seriusnya dengan, misalnya, membunuh seseorang. Namun semua dosa sama-sama menyinggung Allah (Roma 6:23a), dan itu adalah alasan bagus untuk menghindari semua kebohongan.

Keyakinan bahwa kebohongan kecil itu “membantu” berakar pada gagasan bahwa tujuan menghalalkan segala cara. Jika kebohongan menghasilkan persepsi “baik”, maka kebohongan itu dibenarkan. Namun, kutukan Tuhan atas kebohongan dalam Amsal 6:16-19 tidak mengandung klausul pengecualian. Juga, siapa yang bisa mendefinisikan “kebaikan” yang dihasilkan dari kebohongan? Seorang penjual yang berbohong mungkin akan menjual produknya – suatu hal yang “baik” baginya -tetapi bagaimana dengan pelanggan yang dimanfaatkan?

Mengatakan kebohongan kecil untuk bersikap “bijaksana” atau untuk menjaga perasaan seseorang juga merupakan hal yang tidak boleh dilakukan. Seseorang yang terus-menerus berbohong untuk membuat orang lain merasa senang pada akhirnya akan menunjukkan siapa dirinya: pembohong. Mereka yang memakai kebohongan dalam bisnisnya akan merusak kredibilitasnya.

Kebohongan kecil mempunyai cara untuk menyebar dan berkembang. Kebohongan sering menimbulkan gosip yang menyebarkan kebohongan lain. Menceritakan lebih banyak kebohongan untuk menutupi kebohongan awal adalah prosedur standar, dan kebohongan tersebut semakin lama semakin besar. Mencoba mengingat kebohongan apa yang diberitahukan kepada orang lain juga memperumit hubungan dan membuat kebohongan seterusnya semakin mungkin terjadi.

Mengatakan kebohongan putih demi keuntungan diri sendiri hanyalah keegoisan. Ketika perkataan kita dimotivasi oleh keangkuhan hidup, kita sedang jatuh ke dalam pencobaan (1 Yohanes 2:16). Kebohongan kecil sering kali dilakukan untuk menjaga perdamaian, seolah-olah mengatakan kebenaran akan menghancurkan perdamaian. Namun Alkitab menyajikan kebenaran dan perdamaian sebagai sesuatu yang ada bersama-sama: “Cintailah kebenaran dan perdamaian” (Zakharia 8:19). Para penutur kebohongan kecil percaya bahwa mereka berbohong karena “cinta”; namun, Alkitab memerintahkan kita untuk mengatakan “kebenaran dengan kasih” (Efesus 4:15).

Pagi ini kita menyadari bahwa terkadang mengatakan kebenaran tidaklah mudah; kenyataannya, hal ini bisa sangat tidak menyenangkan. Namun kita dipanggil untuk menjadi juru bicara kebenaran. Bersikap jujur sangat berharga di mata Tuhan (Amsal 12:22); itu menunjukkan takut akan Tuhan. Lebih jauh lagi, mengatakan kebenaran bukanlah sebuah anjuran, melainkan sebuah perintah!

Benarkah prinsip mata ganti mata?

“Tetapi jika perempuan itu mendapat kecelakaan yang membawa maut, maka engkau harus memberikan nyawa ganti nyawa, mata ganti mata, gigi ganti gigi, tangan ganti tangan, kaki ganti kaki, lecur ganti lecur, luka ganti luka, bengkak ganti bengkak.” Keluaran 21:23–25

Salah satu elemen filsafat hidup zaman modern adalah bahwa kita semua mempunyai hak-hak tertentu yang tidak dapat dicabut. Kita sangat mengutamakan hak manusia. Kita sangat sadar akan hak-hak kita, dan itu sebenarnya baik. Masyarakat telah melakukan pembelaan atas hak-hak asazi dan hak-hak kaum wanita serta hak anak-anak dan hak kaum tertindas. Kita juga memiliki serikat buruh yang menuntut hak-hak pekerja. Tetapi, dengan kesadaran tentang pembelaan atas hak pribadi, tidak jarang di masyarakat kita mendengar seseorang berkata, “ Kamu tidak bisa melakukan itu padaku. Aku akan membalasnya.”

Jauh di lubuk hati manusia terdapat keinginan untuk membalas dendam, dan dalam masyarakat kita, kita sering menjadikan pahlawan orang-orang yang tidak mau dihina oleh siapa pun, yang tidak mau menerima kejahatan apa pun. Mereka adalah orang-orang yang kuat, tangguh, berani, dan macho, dan masyarakat kita memandang rendah orang-orang yang lemah lembut dan tidak suka membalas, orang yang sabar, pemaaf, murah hati, dan penuh belas kasihan – yang tidak menuntut apa pun dari siapa pun.

Konsep “mata ganti mata”, kadang-kadang disebut jus talionis atau lex talionis, adalah bagian dari Hukum Musa yang digunakan dalam sistem peradilan Israel. Seperti bunyi ayat di atas, prinsipnya adalah bahwa hukuman harus sesuai dengan kejahatannya dan harus ada hukuman yang adil untuk perbuatan jahat: “Jika ada korban yang meninggal, kamu harus membayarnya dengan nyawa, mata ganti mata, gigi ganti gigi, tangan ganti tangan, kaki ganti kaki, luka bakar ganti luka bakar, luka ganti luka, memar ganti memar”. Keadilan haruslah ditegakkan; kekerasan yang berlebihan dan keringanan hukuman yang berlebihan harus dihindari.

Sebenarnya, tidak ada indikasi bahwa hukum “mata ganti mata” diikuti secara harfiah; tidak ada catatan di Alkitab mengenai orang Israel yang menjadi cacat akibat hukum ini. Selain itu, sebelum hukum khusus ini diberikan, Tuhan telah membentuk sistem peradilan untuk mengadili kasus dan menentukan hukuman (Keluaran 18:13-26) – sebuah sistem yang tidak diperlukan jika Tuhan menginginkan hukuman “mata ganti mata” yang sebenarnya. Meskipun kejahatan berat dibayar dengan eksekusi di Israel kuno, dan ini berdasarkan banyak saksi (Ulangan 17:6), sebagian besar kejahatan lainnya dibayar dengan pembayaran barang. Misalnya jika Anda melukai tangan seseorang sehingga dia tidak dapat bekerja, Anda harus memberikan kompensasi atas hal tersebut.

Selain Keluaran 21, hukum “mata ganti mata” disebutkan dua kali dalam Perjanjian Lama (Imamat 24:20; Ulangan 19:21). Setiap kali, frasa tersebut digunakan dalam konteks suatu kasus yang diadili di hadapan otoritas sipil seperti hakim. “Mata ganti mata” dimaksudkan untuk menjadi prinsip panduan bagi pembuat hukum dan hakim; tetapi hal ini tidak boleh digunakan oleh rakyat untuk membenarkan tindakan main hakim sendiri atau menyelesaikan dendam secara pribadi.

“Karena pemerintah adalah hamba Allah untuk kebaikanmu. Tetapi jika engkau berbuat jahat, takutlah akan dia, karena tidak percuma pemerintah menyandang pedang. Pemerintah adalah hamba Allah untuk membalaskan murka Allah atas mereka yang berbuat jahat.” Roma‬ ‭13‬:‭4‬ ‭

Dalam Perjanjian Baru, nampaknya orang Farisi dan ahli Taurat telah menerapkan prinsip “mata ganti mata” dan menerapkannya dalam hubungan pribadi sehari-hari. Mereka mengajarkan bahwa membalas dendam secara pribadi dapat diterima. Jika seseorang memukul Anda, Anda dapat membalas pukulannya; jika seseorang menghina Anda, dia akan menerima hinaan Anda sebagai balasan yang setimpal. Bukannya menyerahkan persoalan ke tangan hakim, para pemimpin agama pada zaman Yesus ikut-ikutan menerapkan hukum itu dengan mengabaikan dasar hukum yang mendasari pemberian hukum tersebut.

Dalam Khotbah di Bukit, Yesus menentang ajaran umum mengenai pembalasan pribadi: “Kamu telah mendengar firman: Mata ganti mata dan gigi ganti gigi. Tetapi Aku berkata kepadamu: Janganlah kamu melawan orang yang berbuat jahat kepadamu, melainkan siapa pun yang menampar pipi kananmu, berilah juga kepadanya pipi kirimu.” (Matius 5:38–39). Yesus kemudian melanjutkan dengan mengungkapkan isi hati Tuhan mengenai hubungan antarpribadi: “Tetapi Aku berkata kepadamu: Janganlah kamu melawan orang yang berbuat jahat kepadamu, melainkan siapapun yang menampar pipi kananmu, berilah juga kepadanya pipi kirimu. Dan kepada orang yang hendak mengadukan engkau karena mengingini bajumu, serahkanlah juga jubahmu. Dan siapapun yang memaksa engkau berjalan sejauh satu mil, berjalanlah bersama dia sejauh dua mil. Berilah kepada orang yang meminta kepadamu dan janganlah menolak orang yang mau meminjam dari padamu.” (Matius 5:39–42).

Dengan memberikan perintah “baru” ini, Yesus tidak membatalkan hukum Perjanjian Lama (Matius 5:17). Sebaliknya, Dia memisahkan tanggung jawab pemerintah (untuk menghukum pelaku kejahatan dengan adil) dari tanggung jawab kita semua secara pribadi di hadapan Tuhan untuk mengasihi musuh-musuh kita. Kita hendaknya tidak meminta balasan atas penghinaan pribadi. Kita harus mengabaikan hinaan pribadi (ini arti “memberikan pipi yang lain”). Orang-orang Kristen harus rela memberikan lebih banyak harta benda, waktu, dan tenaga mereka daripada yang diminta, meskipun tuntutan yang kita terima tidak adil. Kita hendaknya meminjamkan kepada mereka yang ingin meminjam, mengasihi musuh kita, dan berdoa bagi mereka yang menganiaya kita (ayat 43–48).

Pembatasan prinsip “mata ganti mata” yang Yesus berikan sama sekali tidak melarang pembelaan diri atau perlindungan yang kuat terhadap orang yang tidak bersalah dari bahaya. Tindakan aparat pemerintah yang ditunjuk, seperti polisi dan militer, untuk melindungi warga negara dan menjaga perdamaian tidak perlu dipertanyakan lagi. Perintah Yesus untuk memberikan pipi yang lain berlaku untuk hubungan pribadi, bukan kebijakan peradilan. Asas “mata ganti mata” dimaksudkan sebagai kebijakan peradilan, bukan sebagai aturan dalam hubungan antar pribadi. Menegakkan “mata ganti mata” adalah tugas hakim; memaafkan musuh kita adalah milik kita. Kita melihat hal ini terjadi saat ini ketikai seorang korban tampil di pengadilan untuk memaafkan terpidana di depan umum, tetapi pengampunan tersebut bersifat pribadi dan karena itu hakim tetap menuntut agar hukuman tersebut dilaksanakan.

Mengampuni orang lain yang menjahati kita tidaklah mudah. Ada orang yang berkata: “Aku bisa mengampuni kamu, tetapi aku tidak bisa melupakan kejahatanmu”. Ungkapan ini adalah aneh, karena apa yang tidak bisa diampuni adalah perbuatan jahat yang tidak bisa dilupakan. Pada pihak yang lain, orang yang percaya kepada Kristus dibimbing oleh Roh Kudus untuk bisa mengampuni orang lain dan melupakan kejahatan yang dilakukan mereka. Ini adalah seperti Tuhan yang pernah bekata: “Sebab Aku akan menaruh belas kasihan terhadap kesalahan mereka dan tidak lagi mengingat dosa-dosa mereka.” (Ibrani 8:12). Orang Kristen sangat berbeda dengan mereka yang mengikuti kecenderungan alami untuk memberikan balasan yang setimpal. Orang Kristen adalah orang-orang yang mempunyai kasih karena Tuhan sudah lebih dulu mengasihi mereka.

“Kita mengasihi, karena Allah lebih dahulu mengasihi kita.” 1 Yohanes 4:19

Apakah tujuan menghalalkan cara?

“Jadi siapa yang ada di dalam Kristus, ia adalah ciptaan baru: yang lama sudah berlalu, sesungguhnya yang baru sudah datang.” 2 Korintus 5:17

Jawaban atas pertanyaan ini bergantung pada apa tujuan atau sasarannya dan cara apa yang digunakan untuk mencapainya. Jika tujuannya baik dan mulia, dan cara yang kita gunakan untuk mencapainya juga baik dan mulia, maka tujuan memang menghalalkan cara tersebut. Namun bukan itu yang dimaksudkan kebanyakan orang ketika mereka menggunakan ungkapan tersebut. Kebanyakan orang menggunakannya sebagai alasan untuk mencapai tujuan mereka melalui cara apa pun yang diperlukan, tidak peduli betapa tidak bermoral, ilegal, atau tidak menyenangkannya cara tersebut. Arti dari ungkapan tersebut biasanya seperti: “Tidak masalah bagaimana Anda mendapatkan apa yang Anda inginkan, selama Anda mendapatkannya.”

Yang dimaksud dengan “tujuan menghalalkan cara” biasanya melibatkan tindakan yang salah untuk mencapai tujuan yang positif dan membenarkan tindakan yang salah dengan menunjukkan hasil yang baik. Contohnya adalah berbohong dalam resume untuk mendapatkan pekerjaan yang bagus dan membenarkan kebohongannya dengan mengatakan bahwa penghasilan yang lebih besar akan memungkinkan si pembohong untuk menafkahi keluarganya dengan lebih baik. Alasan lain mungkin membenarkan aborsi bayi demi kebebasan ibunya. Berbohong dan menghilangkan nyawa orang yang tidak bersalah keduanya salah secara moral, namun menafkahi keluarga dan menyelamatkan nyawa seorang wanita adalah benar secara moral. Lalu, di mana kita menarik garis batasnya?

Dilema tujuan dan sarana adalah skenario yang populer dalam diskusi etika. Biasanya, pertanyaannya seperti ini: “Jika Anda bisa menyelamatkan dunia dengan membunuh seseorang, apakah Anda akan melakukannya?” Jika jawabannya adalah “ya”, maka hasil yang benar secara moral membenarkan penggunaan cara-cara yang tidak bermoral untuk mencapainya. Namun ada tiga hal berbeda yang perlu dipertimbangkan dalam situasi seperti ini: moralitas tindakan, moralitas hasil, dan moralitas orang yang melakukan tindakan. Orang Kristen bukannya orang yang tidak mementingkan hal moral, tetapi justru sangat berhati-hati dalam melangkah dalam hidup.

Dalam situasi ini, tindakan (pembunuhan) jelas tidak bermoral, begitu pula si pembunuh. Namun menyelamatkan dunia adalah hasil yang baik dan bermoral. Benarkah itu? Dunia seperti apa yang bisa diselamatkan jika para pembunuh diizinkan untuk memutuskan kapan dan apakah pembunuhan dapat dibenarkan dan kemudian bebas dari hukuman? Atau apakah si pembunuh akan menghadapi hukuman atas kejahatannya di dunia yang telah dia selamatkan? Jika kita mengingat kematian Kristus, apakah dunia yang diselamatkan dibenarkan mengambil nyawa orang yang menyelamatkan mereka?

Tentu saja dari sudut pandang alkitabiah, yang diabaikan dari pembahasan ini adalah karakter Tuhan, hukum Tuhan, dan pemeliharaan Tuhan. Karena kita tahu bahwa Tuhan itu baik, kudus, adil, penyayang dan benar, maka siapa pun yang menyandang nama-Nya harus mencerminkan tabiat-Nya (1 Petrus 1:15-16). Pembunuhan, kebohongan, pencurian, dan segala bentuk perilaku berdosa adalah ekspresi dari sifat dosa manusia, bukan sifat Tuhan. Bagi orang Kristen yang sifatnya telah diubah oleh Kristus (2 Korintus 5:17), tidak ada pembenaran atas perilaku tidak bermoral, tidak peduli motivasi atau akibat yang ditimbulkannya. Memang kita tidak diselamatkan karena bermoral baik, tetapi jika kita sudah diselamatkan, tentunya kita mengerti mengapa kita harus taat kepada hulum-Nya.

Dari Tuhan yang kudus dan sempurna ini, kita mendapatkan hukum yang mencerminkan sifat-sifat-Nya (Mazmur 19:7; Roma 7:12). Sepuluh Perintah Allah memperjelas bahwa pembunuhan, perzinahan, pencurian, kebohongan dan keserakahan tidak dapat diterima di mata Tuhan dan Dia tidak membuat “klausa pelarian” untuk motivasi atau rasionalisasi. Perhatikan bahwa Dia tidak berkata, “Jangan membunuh, kecuali dengan melakukan hal itu kamu akan menghasilkan sesuatu yang baik”. Ini disebut “etika situasional”, dan hal ini tidak terdapat dalam hukum Tuhan. Jadi, jelas sekali, dari sudut pandang Allah tidak ada tujuan yang menghalalkan cara untuk melanggar hukum-Nya.

Sayang sekali, banyak orang Kristen yang siap melakukan hal-hal yang kurang baik dengan alasan “demi kemuliaan Tuhan”. Untuk mencapai tujuan gereja, mungkin orang bersedia untuk berbohong. Mungkin, orang berkata: “Jika kita jujur, tidak ada gereja baru yang bisa didirikan”. Atau, “jika kita tidak berani mengambil jalan pintas, kita tidak akan memcapai tujuan”. Dalam diskusi mengenai hal-hal semacam ini, kita harus sadar akan pemeliharaan Tuhan. Tuhan tidak sekadar menciptakan dunia, mengisinya dengan manusia, dan kemudian membiarkan mereka bekerja sendiri tanpa pengawasan dari-Nya. Sebaliknya, Tuhan mempunyai rencana dan tujuan bagi umat manusia yang telah Dia wujudkan selama berabad-abad.

Segala apa yang terjadi dalam sejarah telah diterapkan secara supernatural pada rencana tersebut. Ia menyatakan kebenaran ini dengan tegas: “…..Keputusan-Ku akan sampai, dan segala kehendak-Ku akan Kulaksanakan, yang memanggil burung buas dari timur, dan orang yang melaksanakan putusan-Ku dari negeri yang jauh. Aku telah mengatakannya, maka Aku hendak melangsungkannya, Aku telah merencanakannya, maka Aku hendak melaksanakannya (Yesaya 46:10-11). Tuhan sangat terlibat dan mengendalikan ciptaan-Nya. Lebih lanjut, Tuhan menyatakan bahwa Ia turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah (Roma 8:28). Seorang Kristen yang berbohong dalam resume atau mengaborsi bayi berarti melanggar hukum Tuhan dan menyangkal kemampuan-Nya untuk mencapai tujuan-Nya.

Hari ini kita belajar bahwa mereka yang tidak mengenal Tuhan mungkin terpaksa menghalalkan segala cara mereka untuk mencapai tujuan, namun mereka yang mengaku sebagai anak-anak Tuhan adalah ciptaan baru, dan mereka tidak punya alasan apa pun untuk melanggar salah satu perintah Tuhan, mengingkari tujuan kedaulatan-Nya, atau mencela Nama-Nya.

Adakah orang yang benar?

“Karena semua orang telah berbuat dosa dan telah kehilangan kemuliaan Allah.” Roma 3:23

Roma 3:23 adalah salah satu ayat yang paling terkenal dan paling sering dikutip di seluruh Alkitab. Ini mengungkapkan sebuah gagasan yang merupakan kunci untuk memahami bagaimana manuisia dapat diselamatkan dari murka Tuhan dan dimasukkan ke dalam keluarga-Nya. Poin kunci untuk memahami ayat ini adalah konteksnya. Ayat 21, 22, dan 23 digabungkan untuk menunjukkan bahwa semua orang, tanpa perbedaan, sama-sama layak menerima murka Allah karena dosa mereka, dan semua orang yang dibenarkan, tanpa perbedaan, dibenarkan hanya melalui Yesus Kristus.

Roma 3 dimulai dengan skema tanya jawab. Ini adalah tanggapan yang mungkin diharapkan dari seseorang yang menentang apa yang Paulus tulis dalam Roma 2. Selanjutnya, Paulus mengutip serangkaian ayat-ayat Perjanjian Lama. Ayat-ayat Kitab Suci ini menunjukkan bahwa para penulis tersebut juga sepakat bahwa tidak seorang pun, tidak satu orang pun, yang layak disebut orang benar. Paulus menyatakan dengan tegas bahwa tidak seorang pun akan dibenarkan sekalipun ia menaati hukum Taurat. Namun akhirnya, ia sampai pada kabar baik: kebenaran di hadapan Allah tersedia tanpa hukum, melalui iman dalam kematian Kristus untuk dosa kita di kayu salib.

Pernyataan di sini singkat dan langsung pada sasaran: Semua orang berbuat dosa. Setiap orang telah berdosa. Tidak ada orang yang tidak berbuat dosa (Roma 3:10). Hal ini lebih jauh menekankan poin yang Paulus ambil dari Kitab Suci Perjanjian Lama di awal pasal ini. Tidak ada jalan keluar dari label ini. Paulus tidak menawarkan kategori apa pun selain “orang berdosa”, dan semua orang termasuk di dalamnya. Ayat sebelumnya menekankan bahwa “tidak ada perbedaan”. Manusia yang paling bermoral – secara relatif – dan manusia yang paling jahat semuanya berada dalam wadah yang sama: “orang berdosa”.

Parahnya, mengetahui perbedaan antara benar dan salah, bahkan hukum yang diberikan Tuhan, tidak menjadikan kita bermoral. Kata Yunani yang diterjemahkan sebagai “gagal” di sini adalah dalam bentuk waktu sekarang. Kenyataannya, kita terus gagal. Dengan kata lain, mengetahui konsekuensi keberdosaan kita saja tidak cukup untuk mencegah kita berbuat dosa (Roma 1:18-20).

Karena tidak seorang pun di antara kita yang tidak berdosa, kita semua kehilangan kemuliaan Allah. Hal ini penting karena kita tidak dapat diselamatkan dari murka penghakiman Allah atas dosa kita kecuali dengan menjadi tidak berdosa. Itu adalah standar Allah, dan kita semua gagal mencapai “kemuliaan”-Nya karena dosa kita. Kemuliaan Tuhan, atau kemuliaan diri-Nya dan kerajaan-Nya, itulah yang ingin dibagikan-Nya kepada mereka yang ada dalam keluarga-Nya, anak-anak-Nya. Namun, dosa kita menghalangi kita untuk mengambil bagian dalam kemuliaan-Nya.

Untungnya, Paulus mengikuti ayat terkenal ini dengan ayat berikutnya. Ini menggambarkan bagaimana kita dapat mencapai kemuliaan Tuhan. Roma 3:21–31 akhirnya memperkenalkan bagian ”kabar baik” dari Injil Yesus Kristus. Sebelumnya, Paulus telah menunjukkan bahwa bahkan dengan mengikuti hukum pun tidak dapat menghindarkan kita dari penghakiman oleh Allah karena dosa kita. Sekarang Paulus mengumumkan bahwa, melalui iman kepada Kristus, kita dapat dibenarkan di mata Allah. Terlepas dari hukum Taurat, kita dapat ditebus melalui pengorbanan darah Kristus yang menebus dosa kita, yang rela ditumpahkan untuk dosa kita. Karunia kasih karunia Allah yang menggantikan murka ini tersedia bagi semua orang, baik orang Yahudi maupun bukan Yahudi. Ini benar-benar kabar baik.

Pagi ini, kita mungkin ingat pertentangan atau percekcokan antara kita dengan mereka, antara aku dengan dia. Dalam setiap pertentangan, setiap pihak merasa bahwa dirinya adalah yang paling benar. Sekalipun kita mungkin mengakui bahwa tidak sepenuhnya kita benar, kita merasa bahwa kita lebih benar dari mereka, dan karena itu dalam perbandingan, kita merasa bahwa kita tidak bersalah. Ini terjadi dalam berbagai hubungan antar manusia, termasuk hubungan antara suami dan istri, orang tua dan anak, hubungan antar bangsa atau negara. Apakah kita masih merasa bahwa kita adalah orang-orang yang baik di hadapan Tuhan?

Pandangan Kristen tentang perang

“Karena pemerintah adalah hamba Allah untuk kebaikanmu. Tetapi jika engkau berbuat jahat, takutlah akan dia, karena tidak percuma pemerintah menyandang pedang. Pemerintah adalah hamba Allah untuk membalaskan murka Allah atas mereka yang berbuat jahat.” Roma 13: 4

Bagaimana pendapat Anda tentang situasi panas di Timur Tengah saat ini? Peperangan antara Israel dan Hamas agaknya semakin besar dan bisa saja melibatkan negara-negara lain. Di berbagai kota besar, demonstrasi mendukung orang Palestina bersaing dengan demonstrasi pendukung Israel. Kedua pihak mempunyai alasan untuk mendukung kelompok mereka.

Mereka yang mendukung perang biasanya dapat berpendapat bahwa perang ada demi tujuan yang adil. Mereka yang menentang perang biasanya dapat menemukan kelemahan dalam argumen tersebut. Tentu saja suatu negara yang berperang tidak pernah melakukan hal tersebut atas dasar motif yang benar-benar murni, dan tidak pernah ada orang yang sepenuhnya yakin akan baik-buruknya hasil akhirnya. Jadi argumen-argumen ini biasanya berakhir dengan keraguan.

Teori perang yang adil (Latin: bellum justum) adalah sebuah doktrin, juga disebut sebagai tradisi, etika militer yang bertujuan untuk memastikan bahwa suatu perang dapat dibenarkan secara moral melalui serangkaian kriteria, yang semuanya harus dipenuhi agar perang dianggap adil. Hal ini telah dipelajari oleh para pemimpin militer, teolog, ahli etika dan pembuat kebijakan. Kriteria tersebut dibagi menjadi dua kelompok: jus ad bellum (“hak untuk berperang”) dan jus in bello (“perilaku yang benar dalam perang”).

Kelompok kriteria pertama menyangkut moralitas berperang, dan kelompok kriteria kedua menyangkut perilaku moral dalam perang. Ada seruan untuk memasukkan kategori ketiga teori perang yang adil (jus post bellum) yang berhubungan dengan moralitas penyelesaian dan rekonstruksi paskaperang. Teori perang yang adil mendalilkan keyakinan bahwa perang, meskipun mengerikan namun tidak begitu buruk jika dilakukan dengan benar, tidak selalu merupakan pilihan terburuk. Tanggung jawab yang penting, keadaan yang tidak diinginkan, atau kekejaman yang seharusnya dapat dicegah, dapat menjadi alasan perang.

Penentang teori perang yang adil mungkin cenderung mengusulkan bahwa perang perlu dilakukan hanya untuk melayani kepentingan suatu negara agar dapat dibenarkan. Dalam banyak kasus, para filsuf menyatakan bahwa individu tidak perlu diganggu oleh rasa bersalah jika diharuskan berperang. Beberapa filsuf mengagungkan kebajikan prajurit sementara mereka juga menyatakan kekhawatiran mereka terhadap perang itu sendiri. Beberapa pihak, mendukung pemberontakan melawan pemerintahan yang menindas. Lalu bagaimana dengan pandangan orang Kristen?

Paulus dalam ayat di atas menyatakan bahwa Allah telah memberikan senjata kepada pemerintah untuk menegakkan hukum. Kita menyebutnya kekuatan pedang. Artinya, para penguasa mempunyai kuasa di bawah Tuhan untuk mendukung keputusan mereka dengan menggunakan kekerasan. Mereka mungkin menggunakan kekuasaan itu dengan benar atau salah, namun kekuasaan itu sendiri bukanlah sesuatu yang telah mereka rebut. Itu diberikan kepada mereka oleh Tuhan. Kekuasaan ini meliputi kekuasaan menjatuhkan hukuman mati dan kekuasaan untuk berperang. Dalam pelaksanaannya, kedua kekuasaan ini terbukti kontroversial dalam sejarah gereja.

Pertimbangkan perang. Semua orang Kristen dipanggil untuk menjadi “pasifis” dalam arti bahwa kita harus mencintai perdamaian dan mengejarnya. Walaupun demikian, dalam sejarah Kristen, ada tiga teori perang yang dikemukakan. Yang pertama adalah posisi pasifisme murni, yang menyatakan bahwa tidak ada orang Kristen yang boleh mengangkat senjata. Yang kedua adalah posisi yang terangkum dalam kalimat, “Negaraku, benar atau salah.” Posisi ini mengatakan bahwa warga negara Kristen mempunyai kewajiban untuk berperang dalam jenis perang apa pun yang diputuskan oleh pemerintah.

Di antara kedua ekstrem ini terdapat posisi “perang yang adil” di atas. Posisi perang yang adil telah didukung sepanjang sejarah oleh sebagian besar ahli etika Kristen di semua cabang gereja. Berdasarkan Alkitab, posisi perang yang adil menyatakan bahwa beberapa perang dapat dibenarkan, dan umat Kristiani boleh dan sering kali harus mengangkat senjata dalam keadaan seperti itu, namun perang lainnya tidak dapat dibenarkan, dan umat Kristiani harus menentang perang tersebut.

Apa yang menentukan perbedaannya? Pada dasarnya, perang yang adil adalah perang yang bersifat defensif. Adalah benar dan pantas bagi penguasa negara untuk memanggil orang-orang Kristen untuk membantu mempertahankan negara dari para agresor. Di sisi lain, umat Kristiani harus menentang perang yang menjadi tindakan agresi, karena perang tersebut bisa menjadi pembunuhan dalam skala besar.

Mengenai hukuman mati, Alkitab dengan jelas memberi wewenang (bahkan memerintahkan) dalam Kejadian 9:6, yang berbunyi: “Siapa yang menumpahkan darah manusia, darahnya akan tertumpah oleh manusia, sebab Allah membuat manusia itu menurut gambar-Nya sendiri.” Salah satu tujuan hukuman, termasuk hukuman mati, adalah retribusi. Menurut Roma 3:3, pedang penguasa merupakan teror bagi pelaku kejahatan, sehingga pencegahan kejahatan bisa merupakan hasil lain dari hukuman.

Apa yang kita lihat sekarang ini adalah situasi yang sangat rumit. Teori perang yang adil bisa menjadi agak kabur dan sulit diterapkan, terutama ketika suatu negara sedang dilanda semangat emosional. Sebagai orang Kristen, kita btidak boleh ikut-ikutan terpancing. Pastikan bahwa Anda mengambil keputusan berdasarkan analisa yang cermat, bijaksana, dan alkitabiah, dan bukan berdasarkan berita media atau afiliasi partai politik atau agama. Dorong para pemimpin politik Anda untuk melakukan hal yang sama.

Teori perang yang adil bukanlah ajaran Alkitab. Ini adalah tradisi yang dimulai dari Aristoteles hingga Stoa, dan kemudian diadopsi oleh umat Kristen seperti Agustinus. Namun pada akhirnya kita tetap harus membuat keputusan etis berdasarkan Alkitab. Ada beberapa prinsip umum alkitabiah yang berkaitan dengan perang, yang terutama adalah mempertahankan hak setiap manusia untuk hidup layak. Namun Alkitab cukup realistis mengenai perang. Kita harus mengakui bahwa tidak selalu mungkin atau diinginkan untuk melindungi semua non-kombatan, karena tujuan perang untuk menegakkan keadilan mungkin tidak akan tercapai. Pada dasarnya, kita harus mengakui bahwa perang adalah seperti neraka dan jika memang diperlukan, biarlah itu dapat diakhiri dengan cepat!