Ia membawanya kepada Yesus. Yesus memandang dia dan berkata: ”Engkau Simon, anak Yohanes, engkau akan dinamakan Kefas (artinya: Petrus).”Yohanes 1:42

Nama selalu penting dalam kehidupan manusia. Ketika saya dan istri mencoba memilih nama untuk anak-anak kami, kami selalu membanding-bandingkan beberapa pilihan. Apakah nama itu baik artinya? Apakah nama itu cocok bunyinya dengan nama keluarga kami? Apakah nama itu tidak akan membuat orang lain sulit menyebutkannya? Semua faktor penting! Suka atau tidak suka, nama seseorang terikat pada arti, bunyi dan persepsi.
Beberapa tahun yang lalu ada orang tua di Tiongkok yang memilih nama depan yang sangat pendek untuk bayi mereka. Nama itu hanya terdiri dari satu huruf @, yang berbunyi “at‘ dalam bahasa Inggris dan digunakan untuk nama email. Untunglah pemerintah setempat melarang penggunaan nama itu karena bisa membawa olok-olokan untuk anak mereka di kemudian hari. Sekalipun nama itu praktis dan tidak membawa arti buruk, nama itu bisa mendatangkan persepsi yang buruk.
Mungkin Yudas adalah nama dari Alkitab yang tidak Anda sukai. Yudas adalah nama untuk anak laki-laki yang berasal dari Yunani. Ini adalah kata Yunani dari kata Ibrani Yehuda, yang berarti “terpuji.” Meskipun nama alkitabiah ini agaknya sinonim dengan Yudas Iskariot yang mengkhianati Yesus, arti sebenarnya adaah baik. Yudas adalah pilihan nama yang tepat jika Anda ingin menunjukkan kepada si kecil betapa Anda menghargai kehadirannya. Tetapi, karena adanya asosiasi dengan Yudas Iskariot, nama Yudas di dunia barat tidak pernah populer dan bahkan di Indonesia mungkin tidak ada orang yang mau memakainya.
Yohanes 1:29–42 adalah percakapan antara Yesus dan Yohanes Pembaptis, dan mencatat momen ketika Yesus merekrut dua murid pertama-Nya. Yesus diidentifikasikan sebagai “Anak Domba Allah,” dan “Anak Allah.” Yohanes Pembaptis menggambarkan penglihatannya tentang Roh Kudus, dalam bentuk seekor merpati, hinggap pada Yesus. Ini menegaskan bahwa Dia adalah Mesias. Yohanes Pembaptis menyuruh dua pengikutnya, Yohanes dan Andreas, untuk pergi dan mengikuti Yesus. Mereka, pada gilirannya, memperkenalkan Yesus kepada Simon.
Andreas sudah memberitahu saudaranya Simon bahwa pria yang ditemuinya adalah “Mesias”, yang berarti “Yang Diurapi”. Istilah Yunaninya adalah Christos, yang kemudian menjadi kata dalam bahasa Indonesia “Kristus”. Ini adalah nama kelima dari tujuh nama Yesus yang disebutkan Yohanes dalam pasal 1. Yesus segera memberi tahu Simon bahwa dia akan memiliki nama baru yaitu “Kefas.” Ini sebenarnya adalah sebuah kata dari bahasa Aram yang berarti “batu.” Dalam bahasa Yunani aslinya, Yohanes menerjemahkan Kefas sebagai Petros, yang darinya kita mendapatkan nama “Petrus”.
Teman-teman Simon mungkin menganggap aneh bahwa seseorang yang dikenal emosional dan tidak stabil kini menggunakan nama “Batu”. Jauh sebelum Petrus melakukan hal-hal yang patut diperhatikan, Yesus sudah bisa melihat potensinya, dan memberinya nama yang pantas untuk masa depannya. Tentu saja, kita sekarang tahu bahwa nama Petrus itu sangat tepat untuk seseorang yang setia kepada imannya sampai mati.
Sekarang, bolehkah saya bertanya siapakah nama Anda? Mungkin jika Anda ke gereja besok pagi, tidak banyak orang di jalan yang tahu nama Anda, tetapi mereka pasti tidak ragu memanggil memanggil Anda dengan nama “orang Kristen”. Seperti itulah murid-murid Yesus yang di Antiokhia dinamakan orang Kristen untuk pertama kalinya (Kisah Para Rasul 11:26). Kristen bukan nama sembarang nama. Nama itu seharusnya membawa arti, bunyi dan persepsi yang baik. Seharusnya, tetapi belum tentu.
Hari ini, sadarkah Anda bahwa masyarakat di sekitar Anda mengenal Anda sebagai “orang Kristen”? Sadarkah Anda bahwa arti nama itu adalah “pengikut Kristus”? Apakah nama Anda merupakan sesuatu yang bunyinya merdu untuk orang lain, karena mereka dapat melihat cara hidup Anda yang penuh kasih dan kesalehan, yang berbeda dari orang lain? Apakah orang lain mempunyai persepsi yang baik atas diri Anda? Semoga.