Moralitas adalah mutlak perlu bagi umat Kristen

Sebab itu perlu kita menaklukkan diri, bukan saja oleh karena kemurkaan Allah, tetapi juga oleh karena suara hati kita. Roma 13: 5

Pada hari Sabtu yang baru lalu, Hamas—kelompok teroris Islam yang berbasis di Jalur Gaza dan didanai oleh Iran—meluncurkan serangan besar-besaran terhadap Israel selatan melalui laut, darat, dan udara. Hingga tulisan ini dibuat, lebih dari 1200 warga Israel telah tewas, 2900 orang terluka, dan ratusan lainnya disandera.

Gambar dan video yang muncul di media sosial sangatlah mengerikan: pengunjung pesta musik yang tidak menaruh curiga dibantai; seorang ayah membantu anak-anaknya melarikan diri melalui atap hanya untuk dibunuh; teroris mengarak seorang wanita telanjang di belakang truk pickup; seorang lansia yang selamat dari Holocaust dipaksa memegang senjata dan berpose bersama seorang tentara Hamas; seorang wanita muda dengan dua anak perempuan, usia 5 dan 3 tahun, disandera. Beberapa pihak menyamakan dampak psikologis yang menimpa Israel dengan tragedi 9/11 yang menimpa Amerika. Ini adalah pembunuhan massal paling mematikan terhadap orang-orang Yahudi dalam satu hari sejak Holocaust, dan hal ini pasti akan mengubah masyarakat Israel secara mendalam.

Terlepas dari perbedaan pandangan umat Kristiani mengenai posisi bangsa Israel modern dalam rencana penebusan Tuhan, ini adalah saat di mana kita perlu memiikirkan pentingnya moral dalam kehidupan sehari-hari. Anak-anak belajar menghormati orang lain dari pendidikan orang tua mereka. Di sekolah, mereka diharuskan menghormati guru-guru berdasarkan peraturan sekolah yang tidak selalu tertulis. Dalam masyarakat, mereka belajar menghormati para pemimpin setempat, polisi, atau tokoh pemerintah lainnya sesuai dengan kaidah moral. Walaupun demikian, dalam masyarakat tertentu ada orang-orang yang kurang peduli akan pentingnya moral, dan tidak sadar bahwa tindakan amoral pada umumnya adalah dosa. Sebagai akibatnya, banyak orang yang menganggap bahwa tujuan baik bisa dicapai dengan segala cara, termasuk dengan cara melanggar hukum, melakukan kejahatan dan perbuatan amoral.

Apa yang terjadi di dunia saat ini sebenarnya sudah diramalkan dalam Alkitab. Dalam kitab Kejadian 16:10-11 ada nubuat tentang bayi yang dikandung Hagar. Bayinya laki-laki dan dia harus memanggilnya Ismail, sebuah nama yang mengacu pada saat ketika Tuhan telah mendengar keluhannya dan membantunya. Dari Ismail kemudian muncul keturunan yang tidak dapat dihitung karena banyaknya.

Meskipun Ismail akan menjadi anak pertama yang lahir dari Abraham, namun ia bukanlah anak janji yang dijamin oleh Tuhan. Ini bukanlah cara Tuhan ingin memenuhi janji-Nya kepada dia. Maka anak sulung Abraham ini akan menjadi seekor “keledai liar” bagi manusia. Dia tidak akan menjadi orang yang suka hidup damai dengan orang lain. Tangannya akan melawan semua orang dan semua orang akan melawan dia. Dia akan hidup dalam permusuhan terhadap sanak saudaranya.

“Seorang laki-laki yang lakunya seperti keledai liar, demikianlah nanti anak itu; tangannya akan melawan tiap-tiap orang dan tangan tiap-tiap orang akan melawan dia, dan di tempat kediamannya ia akan menentang semua saudaranya.” Kejadian 16:12

Pada akhirnya kita akan mengetahui bahwa keturunan Ismail menjadi orang Arab dari berbagai suku dan mereka telah bertentangan dengan orang-orang Yahudi selama ribuan tahun. Keturunan Ismail segera mengambil gaya hidup Badui, terpinggirkan dari masyarakat, berkomitmen pada kebebasan pribadi mereka di atas kebutuhan untuk diterima oleh orang lain.

Jika kita membaca sejarah di atas, kita harus mengakui bahwa di zaman modern ini, dalam negara mana pun ada kecenderungan manusia untuk mengabaikan Tuhan. Mereka mungkin menganggap bahwa Tuhan itu tidak ada atau tidak berkuasa atas hidup mereka. Mereka mulai kehilangan rasa hormat kepada hukum, moral, orang tua, guru, pendeta ataupun pemimpin yang seharusnya mempunyai otoritas atas beberapa segi kehidupan mereka. Di dunia yang penuh dosa, tidak sulit untuk menemukan tindakan yang tidak dapat dibenarkan di kedua sisi yang berkonflik. Siapa pun yang mengecam satu pihak akan segera disambut dengan jawaban: “Bagaimana dengan ini, itu, atau kekejaman lain yang dilakukan pihak lain?”

Kita harus menerima bahwa negara Israel tidak selalu bertindak tanpa cela dalam perlakuan mereka terhadap rakyat Palestina. Sebagai orang Kristen, kita tidak boleh menutup-nutupi setiap tindakan yang telah diambil oleh pemerintah atau militer Israel, sejak pendiriannya hingga saat ini. Kita melihat rasa frustrasi, rasa sakit, dan kesedihan yang dialami oleh orang-orang Palestina, dan kita harus menganggap serius perintah Alkitab untuk “menangis bersama mereka yang menangis” – termasuk dengan orang-orang Palestina yang berduka atas kematian mereka, baik dulu maupun sekarang. Namun adanya kesalahan yang tak terelakkan di kedua belah pihak tidak harus menghasilkan kebingungan moral bagi umat Kristen. Serangan Hamas terhadap Israel merupakan contoh nyata dari kesalahan yang dapat dikutuk dengan tegas tanpa ada keraguan.

Orang Kristen sejati selalu melihat hubungan antara tujuan dan tindakan. Jika Hamas hanya menyandera warga sipil, maka tindakan tersebut sudah merupakan tindakan yang jahat (Alkitab melarang penculikan), sekalipun tujuannya mungkin memiliki pembenaran militer – di masa lalu sandera telah ditukar dengan tahanan Palestina. Namun Hamas tidak hanya menyandera kombatan. Mereka sengaja merancang operasi militer dengan tujuan membunuh warga sipil. Korban sipil tersebut bukanlah korban tambahan akibat serangan terhadap sasaran militer; warga sipil sendirilah yang menjadi sasarannya. Tidak ada pembenaran alkitabiah untuk pembantaian ini, dan orang Kristen harus dengan tegas menyatakannya.

Jika kita tidak dapat membedakan antara kematian akibat kecelakaan mobil dan pembunuhan yang disengaja, sistem peradilan pidana kita akan berantakan. Dan jika kita tidak bisa membedakan antara pembunuhan terhadap kombatan dan pembunuhan terhadap warga sipil yang ingin damai, maka kita hidup dalam dunia nihilisme moral. Di dunia seperti ini, segalanya menjadi abu-abu dan kita tidak bisa membuat perbedaan yang membantu kita mengambil sikap politik dan moral. Tetapi, kekristenan sejati mempunyai moralitas yang berdasarkan Alkitab.

Kejelasan moral mengenai konflik yang terjadi saat ini juga membantu kita mempersiapkan diri menghadapi peristiwa-peristiwa yang belum diketahui dan mungkin terjadi dalam hidup kita. Dengan melatih otot daya pengamatan kita, kita menjadi lebih siap untuk berpikir dengan benar di masa depan. Daya tanggap moral yang baik bisa membuat kita melihat ketidakadilan, ketidakjujuran, kekejaman, dan kejahatan lain pada saat banyak orang Kristen lainnya menganggap itu barang yang lumrah di zaman moden. Visi moral kita yang kuat akan membawa kemuliaan bagi Tuhan; dan sebaliknya, orang Kristen yang mengabaikan moral akan mempermalukan Tuhan.

Hidup di zaman perang

“Kenakanlah seluruh perlengkapan senjata Allah, supaya kamu dapat bertahan melawan tipu muslihat Iblis; karena perjuangan kita bukanlah melawan darah dan daging, tetapi melawan pemerintah-pemerintah, melawan penguasa-penguasa, melawan penghulu-penghulu dunia yang gelap ini, melawan roh-roh jahat di udara.” Efesus 6: 11 – 12

Dari Alkitab kita tahu bahwa bangsa Israel sejak awalnya sudah dikelilingi oleh berbagai bangsa yang memusuhi mereka. Peperangan demi peperangan harus dihadapi oleh bangsa itu, tetapi apa yang terjadi beberapa hari yang lalu adalah sebuah kejutan yang membawa korban besar. Mereka yang mengikuti perkembangan militer tentu tahu bahwa kemampuan teknologi militer yang dimiliki negara itu sangat canggih. Mengapa kali ini tidak ada orang yang menduga datangnya malapetaka?

Dalam ayat pembukaan di atas Paulus mengingatkan jemaat Efesus akan adanya “pemerintah-pemerintah, penguasa-penguasa, penghulu-penghulu dunia dan roh-roh jahat di udara”. Paulus tentunya tidak berbohong. Iblis adalah musuh kita yang berbahaya, dan karena itu kita juga harus sadar bahwa selama hidup di dunua, kita bisa mengalami kejutan besar. Rasul Petrus menuliskan hal yang serupa:

“Sadarlah dan berjaga-jagalah! Lawanmu, si Iblis, berjalan keliling sama seperti singa yang mengaum-aum dan mencari orang yang dapat ditelannya.” 1 Petrus 5:8

Iblis memang berusaha menghancurkan apa yang baik yang diciptakan Tuhan sejak dari awalnya. Iblis sangat pandai untuk membujuk manusia agar mereka mengabaikan firman Tuhan. Iblis tidak terang-terangan mengajak umat Tuhan untuk berbuat dosa, tetapi ia membuat manusia merasa tidak merasa bersalah dalam dosa yang diperbuatnya. Iblis mampu membuat apa yang salah, yang jahat, yang kejam dan yang licik, terlihat sebagai sesuatu yang indah. Iblis mengajarkan manusia membuat berbagai dalih untuk membenarkan perbuatan jeleknya. Iblis juga sering membuat manusia merasa diagungkan dan karena itu dengan senang hati mengikuti jalan yang sesat.

Perjuangan orang Kristen dalam hidup ini bukanlah menghadapi sesuatu yang mudah dilihat. Iblis yang sudah memasuki segala segi kehidupan manusia, baik itu menyangkut hukum, politik, ekonomi, medis, agama, keluarga dan kemasyarakatan. Iblis secara perlahan-lahan dan tersembunyi sudah menggerogoti nilai-nilai hidup baik dan hukum-hukum yang sudah diberikan Tuhan sehingga semuanya nampak sebagai hal-hal yang sepele, yang bisa dilupakan. Iblis jugalah yang membuat manusia merasa besar dan percaya bahwa hidup-matinya ada ditangan mereka sendiri. Manusia yang sudah diserang dan dikalahkan oleh iblis biasanya justru tidak menyadari keadaannya, karena ia tidak dapat melihat iblis yang bekerja dibalik semuanya.

Hari ini firman Tuhan berkata bahwa perjuangan kita melawan iblis yang tidak kelihatan tidaklah mudah.  Apa yang kita lihat mungkin menawan dan nyaman, tetapi dibalik semua itu iblis sudah siap untuk menjatuhkan siapa saja yang tidak berhati-hati. Dengan demikian, kita harus mau mengenakan seluruh perlengkapan senjata Allah, supaya kita dapat bertahan melawan tipu muslihat si penipu. Kita harus makin kokoh dalam memegang kebenaran dan keadilan Kristus, ikut mengabarkan injil kepada semua orang, berlindung di balik iman, berpegang pada fiman Tuhan dan rajin berdoa untuk memohon penyertaan Tuhan kepada semua orang percaya.

“Jadi berdirilah tegap, berikatpinggangkan kebenaran dan berbajuzirahkan keadilan, kakimu berkasutkan kerelaan untuk memberitakan Injil damai sejahtera; dalam segala keadaan pergunakanlah perisai iman, sebab dengan perisai itu kamu akan dapat memadamkan semua panah api dari si jahat, dan terimalah ketopong keselamatan dan pedang Roh, yaitu firman Allah, dalam segala doa dan permohonan. Berdoalah setiap waktu di dalam Roh dan berjaga-jagalah di dalam doamu itu dengan permohonan yang tak putus-putusnya untuk segala orang Kudus.” Efesus 6: 14 – 18

Bagaimana kita bisa membuat Tuhan sedih

“Ketika Israel masih muda, Kukasihi dia, dan dari Mesir Kupanggil anak-Ku itu. Makin Kupanggil mereka, makin pergi mereka itu dari hadapan-Ku; mereka mempersembahkan korban kepada para Baal, dan membakar korban kepada patung-patung.”Hosea:11:1-2

Berita dari Israel sejak akhir minggu lalu tentunya membuat rasa sedih muncul dalam hati banyak orang, terutama orang Kristen. Serangan teroris terhadap penduduk Israel sudah memakan ratusan jiwa, termasuk sejumlah orang dari berbagai negara. Lebih dari seratus orang, termasuk anak-anak dan wanita, sudah menjadi sandera dan nasibnya tidak diketahui saat ini. Bagaimana kejadian ini bisa menjadi malapetaka terburuk yang terjadi pada negara modern Israel, yang mempunyai fasilitas pertahanan militer yang canggih, tentunya menjadi tanda tanya banyak orang. Lebih dari itu, banyak orang Kristen bertanya-tanya, mengapa Tuhan membiarkan kejadian yang menyedihkan ini terjadi pada orang-orang yang tidak ada sangkut pautnya dengan kedadaan setempat? Mungkinkah kejadian seperti ini terjadi pada kita juga?

Bangsa Israel adalah bangsa yang dari mulanya sudah mengalami berbagai kejadian yang luar biasa. Sebagai bangsa pilihan Allah, eksodus Israel dari Mesir adalah tindakan penyelamatan utama dalam masa perjanjian lama, dan para nabi menggunakan kejadian itu untuk meramalkan eksodus baru di bawah pelayanan Mesias (Yeremia 16:14-21; Mikha 7:14-17). Meskipun para nabi tentu saja mengetahui kegagalan generasi lama di padang gurun, mereka cenderung menganggap periode tersebut sebagai masa kesetiaan karena, bagaimanapun juga, generasi Israel pada waktu itu mengindahkan panggilan luar biasa untuk melawan kerajaan terkuat pada zaman mereka dan mengikuti Musa ke tanah perjanjian (Yeremia 2:6; Hos. 2:14–15; Amos 2:9–11). Dibandingkan dengan zaman para nabi di mana bangsa Israel tiada hentinya melakukan penyembahan berhala, masa eksodus dan pengembaraan di padang gurun memang merupakan “masa keemasan”, di mana penyertaan Allah terlihat secara nyata.

Ayat pembukaan di atas mengungkapkan isi hati Allah terhadap umat perjanjian lama-Nya, yang meratapi sikap mereka yang berpaling dari-Nya kepada para Baal dan berhala-berhala lainnya. Intinya, Tuhan berkata kepada umat-Nya: “Bagaimana kamu bisa?” Mengingat semua yang telah Dia lakukan bagi mereka sebagai suami tercinta, pengkhianatan Israel sungguh besar (Hosea 11:1-4). Tentu saja, Tuhan bukannya tidak berdaya karena kesedihan karena Ia adalah makhluk mahakuasa. Kegagalan Israel juga bukan sesuatu yang tidak diduga oleh Allah (Ulangan 31:14-22). Namun Israel mendukakan Tuhan karena mereka mereka mengkhianati Tuhan dengan menyembah dewa-dewa lain, dan kekudusan-Nya menuntut balasan (Hosea 11:5-7).

Secara keseluruhan, Israel jelas gagal dalam panggilannya untuk menyembah dan melayani Tuhan. Namun karena Allah telah menjadikan kehormatan-Nya bergantung pada transformasi Israel menjadi bangsa yang kudus (Kejadian 15; Keluaran 32:1-14; 1 Samuel 12:22), Ia harus menepati janji ini dengan cara tertentu. Seperti disebutkan di atas, akan ada eksodus Israel baru yang akan menggenapi tujuan Allah. Israel baru ini akan mempunyai kesinambungan dengan Israel lama, karena sekalipun ada banyak orang kudus di bawah perjanjian yang lama, mereka tetap tidak memiliki kebenaran yang Tuhan minta, pelaksanaan rencana-Nya bagi Israel baru ini akan mengambil bentuk yang baru.

Perjanjian Baru mengatakan bahwa semua ini terjadi di dalam Kristus, yang adalah diri-Nya sendiri sebagai Israel baru, dan yang membuat semua orang yang percaya hanya kepada-Nya, baik etnis Yahudi maupun non-Yahudi, menjadi orang Israel sejati. Inilah poin yang disampaikan Matius ketika ia mengatakan Hosea 11:1 digenapi ketika Kristus kembali bersama orangtua-Nya ke Nazaret dari Mesir (Matius 2:13–15, 19–23). Yesus menggenapi teks Hosea karena Dia adalah Anak Allah yang sejati dan setia yang secara sempurna sudah menggenapi panggilan yang pertama kali diberikan kepada Israel perjanjian lama.

Salah satu kesalahan yang dilakukan umat Allah pada masa perjanjian lama adalah percaya bahwa kehadiran tabernakel atau bait suci dan perabotannya bisa menjamin bahwa bangsa tersebut tidak dapat ditaklukkan, bahwa Israel akan selalu menang. Hal ini tentu saja diyakini oleh para tua-tua Israel ketika mereka berperang melawan orang Filistin menjelang akhir hidup imam Eli, Hofni, dan Pinehas. Berpikir bahwa alasan kekalahan mereka adalah tidak adanya tabut perjanjian, para tua-tua membawanya ke medan pertempuran. Namun mereka kalah dalam tabut dan pertarungan karena Tuhan tidak menjamin kehadiran-Nya bagi orang-orang yang tidak taat (1 Samuel 4:1–11; Ulangan 28:15–15).

Meskipun kehadiran tabut itu sendiri bukanlah jaminan bahwa Tuhan akan berperang demi umat-Nya, kekalahan tabut itu di tangan orang Filistin merupakan tanda bahwa Tuhan telah membiarkan mereka berjuang sendiri. Tanggapan Eli dan menantu perempuannya terhadap hilangnya tabut itu menunjukkan hal ini. Seperti yang kita lihat dalam 1 Samuel 4:12–22, Eli terjatuh dan mati ketika dia mendengar bahwa tabut itu hilang, dan menantu perempuannya, sebelum meninggal saat melahirkan, menamai putranya Ikabod karena “kemuliaan telah berlalu dari Israel”.

Perlakuan terhadap bait suci dan perabotannya sebagai benda ajaib yang menjamin keberhasilan adalah hal yang umum dalam sejarah Israel perjanjian lama. Berabad-abad kemudian, pada masa nabi Yeremia, orang-orang yang percaya akan keberadaan bait suci di Yerusalem tidak mempercayai Yeremia ketika dia secara akurat meramalkan jatuhnya kota itu ke tangan Babel (Yeremia 7:1–15; 52). Seperti itu juga, sering orang Kristen di zanan sekarang menganggap bahwa kekristenan mereka adalah jaminan kemakmuran, kejayaan dan kesuksesan. Mereka tidak sadar bahwa jika mereka tidak benar-benar hidup menurut ajaran dan perintah Yesus, mereka pada akhirnya akan mengalami kekacauan hidup.

Saat kita mempertimbangkan gagasan bahwa Tuhan meninggalkan Israel, kita harus mengingat beberapa hal. Pertama, ketika Alkitab berbicara tentang kepergian Tuhan, itu tidak berarti bahwa Dia tidak lagi hadir di tempat di mana Dia pergi. Bagaimanapun juga, Tuhan bukanlah wujud fisik, dan Dia ada di mana-mana—hadir di mana saja. Tidak ada tempat dalam ciptaan di mana Tuhan tidak ada (Mazmur 139:7-12). Kedua, meskipun Tuhan dapat dikatakan telah meninggalkan Israel, hal ini tidak berarti Dia meninggalkan semua orang dalam komunitas perjanjian Israel. Allah selalu menyertai sisa-sisa-Nya (Mzm. 23:4).

Ketika Kitab Suci mengatakan bahwa Allah telah meninggalkan umat-Nya, itu berarti bahwa Dia telah mengambil berkat-Nya dari mereka, bahwa Dia tidak lagi melindungi mereka dari bahaya. Seperti itu juga, jika kita di zaman sekarang tidak lagi menaati Firman Tuhan dan mulai mengajarkan serta menoleransi kesalahan teologis yang signifikan, seperti pendewaan atas materi, seks dan politik, Tuhan akan membiarkan komunitas kita di dunia menderita.

Pagi ini kita belajar bahwa Tuhan tidak akan pernah meninggalkan gereja, yaitu semua orang yang benar-benar percaya kepada-Nya. Namun, Dia akan menolak semua orang yang hanya mengaku beriman, tetapi tidak mau mengikuti perintah Kristus dengan cara hidup mereka yang berkecimpung dalam dosa. Ketika hal itu terjadi, bahkan umat lain yang setia di dalam gereja yang ada akan menderita. Karena itu, jika kita ingin berkat Tuhan tetap ada pada komunitas lokal kita, janganlah kita dengan sengaja membiarkan kesalahan dan dosa terjadi dalam kehidupan pribadi kita.

Bagaimana kita bisa memuliakan Tuhan?

“Bawalah anak-anak-Ku laki-laki dari jauh, dan anak-anak-Ku perempuan dari ujung-ujung bumi, semua orang yang disebutkan dengan nama-Ku yang Kuciptakan untuk kemuliaan-Ku, yang Kubentuk dan yang juga Kujadikan!” ” Yesaya 43:6–7

Apakah kita, sebagai makhluk ciptaan Allah, adalah sarana untuk memuliakan diri-Nya sendiri? Pertanyaan ini sering muncul di kalangan orang bukan Kristen karena gereja telah menekankan ajaran alkitabiah bahwa Allah menciptakan dan menebus umat-Nya demi kemuliaan-Nya sendiri, yang berarti agar kemuliaan-Nya bisa dikenal dan dihargai serta ditunjukkan di alam semesta.

Sebagian orang Kristen tidak mengerti bahwa segala berkat jasmani yang mereka terima bukanlah berarti bahwa mereka adalah orang yang baik dan disenangi Tuhan. Berkat Tuhan juga turun kepada orang yang bukan umat-Nya. Dengan demikian, segala berkat yang datang dari Tuhan seharusnya diterima dengan pengerian bahwa semua itu harus digunakan untuk kemuliaan-Nya.

Selain berkat jasmani, orang Kristen menerima berkat rohani. Kita sudah dipilih, ditentukan sejak semula, diadopsi, ditebus melalui darah Kristus untuk memuji kemuliaan kasih karunia Allah (Efesus 1:4-7).

Walaupun demikian, pertanyaan yang muncul di antara banyak orang adalah: apakah manusia diciptakan Allah sekadar sebagai sarana-Nya untuk memuliakan diri sendiri? Bukankah itu berarti Tuhan itu egois, yang menciptakan manusia seperti boneka-Nya? Jawabmya singkat saja. Bintang, batu, dan gunung memang diciptakan hanya sebagai sarana untuk memuliakan diri Tuhan, namun manusia tidaklah demikian. Tidak sesederhana itu.

Tuhan menciptakan manusia menurut gambar-Nya, dan manusia adalah satu-satunya ciptaan Tuhan yang bisa berkomunikasi dan membina hubungan dengan-Nya. Dengan demikian, memuliakan Tuhan menuntut tindakan aktif manusia, dan ini berbeda dengan ciptaan-Nya yang lain. Selain itu, hanya manusia yang bisa percaya bahwa apa yang ada adalah pemberian-Nya, sedangkan makhluk lain hanya bisa menikmati apa yang ada tanpa memikirkan dari mana asalnya.

Konsep memuliakan Tuhan adalah menghormati Tuhan melalui hidup seseorang. Ayat 1 Korintus 10:31 mengajarkan orang percaya untuk menghormati Tuhan dalam segala hal yang mereka lakukan: “Jadi, apakah kamu makan atau minum atau apa pun yang kamu lakukan, lakukanlah semuanya itu untuk kemuliaan Allah.” Konteks ayat ini mencakup diskusi tentang kebebasan yang dimiliki orang percaya di dalam Kristus. Kita bebas menentukan pilihan pribadi dalam hidup, namun kita tidak boleh melakukan apa pun yang menyebabkan orang lain “tersandung” atau berdosa dalam perjalanannya bersama Allah. Kita harus mengupayakan kebaikan orang lain (1 Korintus 10:32–33).

Lebih lanjut, orang percaya mungkin mempunyai “hak” untuk melakukan apa pun, namun tidak semuanya bermanfaat (1 Korintus 10:23). Paulus menggunakan ilustrasi makan daging yang dipersembahkan kepada berhala. Baginya, pengabdian seperti itu tidak berarti apa-apa karena berhala bukanlah tuhan yang nyata. Namun, dia akan menjauhkan diri dari makan daging lagi demi kebaikan orang lain yang mungkin berbuat dosa karena mengikuti teladannya. Orang-orang percaya melayani Tuhan baik melalui kehidupan pribadi mereka maupun dalam tindakan mereka terhadap orang lain.

Untuk memuliakan Tuhan diperlukan komitmen penuh kepada-Nya. Dalam Kolose 3:23 kita membaca, “Apapun juga yang kamu perbuat, perbuatlah dengan segenap hatimu seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia.” Konteksnya mencakup arahan Paulus bagi budak-budak Kristen yang bekerja untuk majikan manusia. Bahkan dalam peran ini, pekerjaan mereka harus dilakukan seolah-olah mereka sedang melayani Yesus (Kolose 3:24). Menghormati atau memuliakan Tuhan dalam segala hal termasuk memiliki etos kerja yang kuat, bahkan ketika kita bekerja untuk orang yang tidak kita sukai atau bekerja dalam situasi sulit.

Memuliakan Tuhan dalam segala hal berarti kita menghormati Dia dalam pikiran dan tindakan kita. Pikiran kita harus tertuju pada hal-hal yang berasal dari Allah (Mazmur 1) dan Firman Allah (Mazmur 119:11). Saat kita fokus pada Firman Tuhan, kita tahu apa yang benar dan bisa menindaklanjutinya dengan melakukan apa yang benar.

Yesus selalu memuliakan Bapa-Nya di surga. Tidak pernah ada momen dimana Dia tidak memuliakan Tuhan. Setiap pikiran, perkataan, dan tindakan Tuhan kita sepenuhnya ditujukan untuk kemuliaan Tuhan. Ketika Yesus menghadapi godaan Setan (Matius 4:1-11), Dia mengutip Kitab Suci sebanyak tiga kali. Yesus adalah manusia yang menepati janji, berkomitmen penuh pada kehendak Allah, dan teladan-Nya dalam mengatasi godaan menawarkan harapan bagi kita semua yang berusaha untuk tetap teguh dalam masa-masa pencobaan.

Cara lain kita memuliakan Tuhan dalam segala hal yang kita lakukan adalah dengan merawat tubuh kita dengan benar. Berbicara mengenai percabulan, 1 Korintus 6:19-20 mengajarkan, “Atau tidak tahukah kamu, bahwa tubuhmu adalah bait Roh Kudus yang diam di dalam kamu, Roh Kudus yang kamu peroleh dari Allah, – dan bahwa kamu bukan milik kamu sendiri? Sebab kamu telah dibeli dan harganya telah lunas dibayar: Karena itu muliakanlah Allah dengan tubuhmu!”

Hari ini kita belajar bahwa untuk memuliakan Allah dalam segala hal, kita harus memperlihatkan iman (Ibrani 11:6), kasih tanpa kemunafikan (Roma 12:9), menyangkal diri (Lukas 9:23), penuh dengan Roh (Efesus 5:18), dan mempersembahkan diri kita sendiri sebagai “persembahan yang hidup” bagi Allah (Roma 12:1). Setiap bidang kehidupan penting untuk dievaluasi dan dijalani semaksimal mungkin demi kemuliaan dan kehormatan Tuhan. Kita hendaknya berusaha agar setiap pikiran dan perbuatan membawa sukacita bagi Bapa kita di surga.

Apa tujuan hidup Anda?

“Sebab itu aku tidak berlari tanpa tujuan dan aku bukan petinju yang sembarangan saja memukul. Tetapi aku melatih tubuhku dan menguasainya seluruhnya, supaya sesudah memberitakan Injil kepada orang lain, jangan aku sendiri ditolak.” 1 Korintus 9:26-27

Sudah berapa lama Anda menjadi orang Kristen? Saya percaya bahwa sebagian dari pembaca sudah belasan tahun, dan sebagian lagi mungkin sudah puluhan tahun. Tetapi, apakan Anda sudah dan tetap berlari ke tujuan yang benar seperti Paulus dalam ayat di atas?

Ada orang yang mengaku Kristen, tetapi tidak pernah berjuang untuk menjalani hidup seperti apa yang dikehendaki Tuhan, guna mencapai tujuan yang sudah ditetapkan-Nya. Sebagian lagi masih bertanya-tanya ke arah manakah kehidupan Kristen mereka harus diarahkan. Bagi mereka, kenyataan bahwa mereka sudah dibaptis atau disidi, dianggap sebagai garansi bahwa mereka adalah orang-orang yang terpilih.

Memang mungkin sebagian besar orang Kristen percaya bahwa tujuan menjadi orang Kristen hanyalah satu, yaitu untuk masuk ke surga sesudah menyelesaikan hidup di dunia. Tetapi, pandangan seperti itu adalah keliru karena hanya memusatkan perhatian kepada diri sendiri dan belum ada bukti bahwa orang itu benar-benar sudah menjadi orang percaya. Menjadi orang percaya bukan semudah menjawab “ya” atas panggilan Tuhan, tetapi harus melibatkan perubahan cara hidup manusia. Alkitab memberikan setidaknya empat jawaban atas pertanyaan apa tujuan hidup kita sebagai umat-Nya.

Menjadi seperti Yesus dalam gambar Tuhan

Kita ditentukan untuk menjadi serupa dengan gambar Anak Allah (Roma 8:29). Anak Allah adalah gambaran Allah yang tanpa cela, sebagaimana dimaksudkan oleh umat manusia (Kolose 1:15). Tuhan menjadikan setiap orang percaya seperti Yesus. Ini adalah proyek besar-Nya dalam kehidupan setiap orang Kristen sejati.

Sebab semua orang yang dipilih-Nya dari semula, mereka juga ditentukan-Nya dari semula untuk menjadi serupa dengan gambaran Anak-Nya, supaya Ia, Anak-Nya itu, menjadi yang sulung di antara banyak saudara.” Roma 8:29

Untuk menjadi bagian dari gereja yang lengkap sedunia

Kita ditakdirkan untuk menjadi bagian dari “suatu kumpulan besar orang banyak yang tidak dapat terhitung banyaknya, dari segala bangsa dan suku dan kaum dan bahasa” (Wahyu 7:9). Kehidupan Kristiani dijalani secara individu, satu demi satu; namun, pada hakikatnya, hal ini bukan merupakan persoalan individu saja. Allah sedang menyelesaikan gereja Kristus di seluruh dunia sepanjang zaman; dan kita adalah bagian dari itu. Mereka yang merasa bahwa hanya golongan mereka sendiri yang akan diselamatkan, adalah orang-orang yang tidak mengerti arti Wahyu 7:9.

Untuk ikut serta dalam memerintah ciptaan baru

Janji kepada Abraham adalah bahwa di dalam keturunannya (Kristus dan semua yang ada di dalam Kristus) dia akan mewarisi dunia (Roma 4:13). “Orang-orang kudus” (orang percaya) “akan menghakimi” (yaitu, memerintah) “dunia” (1 Korintus 6:2). Meskipun warisan kita “disimpan di surga” untuk kita (1 Petrus 1:4), warisan itu akan dinikmati, dalam tubuh kebangkitan, dalam ciptaan baru, langit dan bumi dijadikan baru (Wahyu 21:5; lih. Roma 8:18–25; 2 Petrus 3:10–13). Orang Kristen yang tidak sadar bahwa mereka adalah pewaris kerajaan Allah yang bertugas untuk memancarkan terang-Nya mungkin bukan orang Kristen yang sejati.

Untuk bersinar bagi kemuliaan Tuhan

Yang paling dalam, takdir kita adalah untuk bersinar bagi kemuliaan Allah (Efesus 1:6). Alam semesta akan bersatu dalam kekaguman atas kasih karunia Allah yang menakjubkan dan mulia dalam gereja Kristus yang telah sempurna. Ini adalah tujuan terbesar dalam kehidupan orang Kristen.

Kehidupan Kristen adalah persoalan hati, dan itu ada sebelum keluar dalam bentuk perkataan dan perbuatan kita. Dari hati terpancar segala kehidupan (Amsal 4:23). Kerusakan hati adalah akar dari semua masalah kita (misalnya Markus 7:6, 7, 14-23). Penyembuhan keinginan dan kasih sayang hati adalah urusan yang paling penting dalam kehidupan Kristiani. Apa yang dianggap sebagai “kehidupan Kristen” tetapi mengabaikan keinginan hati yang sudah disi oleh Roh Kudus tidak lain hanyalah kemunafikan belaka. Sebaliknya, mereka yang berusaha melalukan apa yang baik sesuai dengan keinginan hati yang tidak dicerahi oleh anugerah Tuhan adalah usaha yang sia-sia.

Bagaimana kita dapat berjuan untuk mencapai tujuan di atas?

Kehidupan Kristiani harus dimulai, berlanjut, dan diakhiri seluruhnya oleh anugerah Allah yang cuma-cuma, namun Allah telah memilih untuk menggunakan instrumen yang melaluinya kita dapat membawa anugerah-Nya ke dalam hidup kita dan hidup sesama kita. Pada intinya, tujuan kehidupan setiap orang Kristen adalah untuk menjunjung tinggi perintah untuk mengasihi Tuhan dan mengasihi sesama (Matius 22:37-39). Ini pada dasarnya adalah satu perintah, bukan dua perintah yang berbeda: kita mengasihi Tuhan dengan hati, pikiran, jiwa, dan kekuatan; dan wujud kasih yang tulus kepada Tuhan adalah kasih kepada sesama yang Tuhan utamakan bagi kita. Hal ini mencakup keluarga dekat kita dan mereka yang tinggal di wilayah kita, dan juga banyak orang lain, di tempat kerja, di negara kita, dan di dunia.

Arti hidup sebagai orang Kristen

“Jadi siapa yang ada di dalam Kristus, ia adalah ciptaan baru: yang lama sudah berlalu, sesungguhnya yang baru sudah datang. Dan semuanya ini dari Allah, yang dengan perantaraan Kristus telah mendamaikan kita dengan diri-Nya dan yang telah mempercayakan pelayanan pendamaian itu kepada kami.” 2 Korintus 5:17-18


Berapa lama Anda sudah menjadi orang Kristen? Apakah Anda merasakan bahwa hidup sebagai umat Tuhan adalah sangat berbeda jika dibandingkan dengan hidup orang yang tidak mengenal Yesus Kristus?

Kehidupan Kristen didasarkan pada karya Allah dalam kelahiran baru, pembenaran, karunia Roh, pengampunan dosa, dan kesatuan kita dengan Kristus. Tujuan kehidupan Kristen adalah menjadi serupa dengan gambaran Kristus dan, sebagai hasilnya, ikut ambil bagian dalam pemerintahan Allah di bumi demi kemuliaan Allah. Dengan menggunakan berbagai karunia Tuhan, seperti Alkitab, doa, Gereja, dan sakramen, Allah menyelaraskan orang Kristen ke dalam gambar Kristus melalui Roh. Kehidupan Kristiani yang sehat ditunjukkan dalam iman dan ketaatan, perbuatan baik, kehidupan yang berkorban dan memberi, serta partisipasi dalam misi Gereja sedunia. Hidup baru bukan hanya dalam bayangan atau teori, tetapi hidup yang benar-benar terjadi. Sudah seharusnya Anda akan merasakan hal ini jika Anda benar-benar orang Kristen sejati.

Kita hanya akan dapat memahami kehidupan Kristiani jika kita memahami landasan yang mendasarinya. Alkitab membicarakan hal ini setidaknya dalam tujuh segi:

Pertobatan dan Iman
Allah memerintahkan semua orang di mana pun untuk bertobat (Kisah Para Rasul 17:30-31). Petrus memberikan perintah ini pada hari Pentakosta (Kisah Para Rasul 2:38) dan ini merupakan ajaran yang konsisten dalam Perjanjian Baru. Kita harus berbalik dari dosa kita dan percaya kepada Yesus Kristus Juruselamat dan Tuhan. Tanpa pertobatan dan iman ini, tidak ada kehidupan Kristen. Memang benar, pertobatan dan iman bukan sekadar bentuk awal kehidupan Kristiani; semuanya itu adalah bentuk seluruh kehidupan Kristiani, hari demi hari.

Tapi ada masalah; kita tidak mau dan tidak mampu bertobat dan percaya kepada Kristus kecuali Allah bekerja di dalam kita, karena pertobatan dan iman pada hakikatnya adalah anugerah Allah (2 Timotius 2:25). Meskipun kita mengalami permulaan kehidupan Kristiani dalam kaitannya dengan pertobatan dan iman kita, kita memahami bahwa semua itu tidak akan terjadi kecuali Allah terlebih dahulu bekerja di dalam kita dalam kasih-Nya.

Kelahiran Baru
Secara alami, kita mati secara rohani karena pelanggaran dan dosa kita (Efesus 2:1). Kita tidak bisa melakukan apa pun untuk menyelamatkan diri kita sendiri. Tuhan harus melahirkan kita dari atas, dan itu adalah kelahiran baru (Yohanes 3:1-8).

Karunia Roh
Kelahiran ini datang kepada kita melalui Roh Kudus yang masuk ke dalam hati kita untuk memberi kita kehidupan. Melalui iman kita menerima Roh Kudus yang dijanjikan (Galatia 3:14).

Adopsi sebagai anak-anak Tuhan
Dengan memberikan kita kelahiran baru, Roh Kudus membawa kita ke dalam keluarga Allah melalui adopsi (Roma 8:15). Kita menjadi anak-anak Tuhan. Ini mengungkapkan kebenaran yang luar biasa bahwa kita masing-masing, pria atau wanita, masuk melalui kasih karunia ke dalam hak istimewa hidup sebagai anak Yesus. Sungguh menakjubkan menjadi anak Allah (1 Yohanes 3:1-2). Semua yang diadopsi ke dalam keluarga Allah dapat merasakan kepastian bahwa Allah telah menentukan kita sejak semula dalam kasih-Nya (Efesus 1:5).

Pengampunan atas dosa-dosa kita
Sejak hari pertama kehidupan Kristen kita dapat yakin bahwa segala dosa kita telah diampuni; pengampunan dosa adalah bagian inti dari pesan Injil dan elemen dasar dalam awal kehidupan Kristen (Matius 26:28; Lukas 24:47; Kisah Para Rasul 10:43; Efesus 1:7).

Pembenaran
Kebenaran Kristus diperhitungkan, atau diperhitungkan, kepada kita melalui kasih karunia, karena dosa kita telah diperhitungkan pada perhitungan Kristus di kayu salib. Oleh karena itu, kita “dibenarkan” atau “dinyatakan benar” di hadapan Allah karena kematian Yesus sebagai pendamaian atas dosa-dosa kita (Roma 3:21–26).

Disatukan “di dalam Kristus”
Semua hak istimewa ini—adopsi, pengampunan, pembenaran, karunia Roh, kelahiran baru—dirangkum dalam Perjanjian Baru dengan frasa penting “di dalam Kristus.” Ini tidak berarti bahwa kita secara fisik berada di dalam Kristus; tetapi itu berarti kita bersatu dengan Kristus. Ini adalah persatuan yang mendalam. Artinya, kematian-Nya diperhitungkan sebagai kematian kita, kebangkitan-Nya sebagai kebangkitan kita (kebangkitan rohani di saat ini dan kebangkitan jasmani di masa depan), dan kenaikan-Nya sebagai kenaikan pasti kita di masa depan (Roma 8:1; Galatia 3:26; Efesus: 2:5–6; Kolose 3:3).

Pagi ini, jika kita membaca apa yang sudah dilakukan Tuhan untuk kita, tentunya kita harus bersyukur. Tidak ada barang atau tindakan apa pun yang bisa mendatangkan keselamatan kita. Semua itu datang karena kasih Tuhan semata-mata. Oleh karena itu kita harus menghargai apa yang sudah diperbuat-Nya, dan berusaha untuk hidup baik di dalam Kristus. Siapa yang ada di dalam Kristus, ia adalah ciptaan baru: yang lama sudah berlalu, dan sesungguhnya yang baru sudah datang. Semuanya ini dari Allah, yang dengan perantaraan Kristus telah mendamaikan kita dengan diri-Nya. Oleh karena itu, kita harus rajin untuk memberitakan kabar perdamaian ini kepada semua orang. Pujilah Tuhan setiap hari dan di sepanjang masa!

Sumber: Concise Theology series

Apakah Tuhan yang memilih pasangan Anda?

“Kiranya terjadilah begini: anak gadis, kepada siapa aku berkata: Tolong miringkan buyungmu itu, supaya aku minum, dan yang menjawab: Minumlah, dan unta-untamu juga akan kuberi minum – dialah kiranya yang Kautentukan bagi hamba-Mu, Ishak; maka dengan begitu akan kuketahui, bahwa Engkau telah menunjukkan kasih setia-Mu kepada tuanku itu.” Kejadian 24:14

Siapakah yang tahu jalan pikiran Tuhan? Tentu tidak ada seorang pun. Jika manusia dengan logikanya mencoba menduga apa yang akan terjadi, seringkali justru kejutan yang datang. Manusia kemudian dengan mudah berkata bahwa kehendak Tuhan tidak dapat ditolak. Tuhanlah yang membuat itu terjadi. Begitu anggapan sebagian orang Kristen.

Jika Tuhan tidak memberi kita kesempatan dan kemampuan untuk memilih, bagaimana pula dengan hidup pernikahan kita? Ada yang bilang bahwa pernikahan adalah seperti undian; jika kita mujur, kita akan mendapatkan seorang pasangan yang baik. Tetapi ada pula orang yang menyalahkan Tuhan jika ia mendapatkan jodoh yang dianggap kurang tepat. Selain itu ada orang yang menyesali hidup pernikahannya karena ia merasa salah pilih. Inilah masalah yang pelik, yang tidak mudah dijawab. Pada persoalan ini bergantung satu pertanyaan: apakah aku masih bisa memilih?

Pernikahan merupakan ide Tuhan untuk mempersatukan seorang pria dan wanita. Melalui pernikahan Allah memberi kesempatan kepada pria dan wanita untuk hidup bersama. Kehidupan bersama pria dan wanita ini harus didasarkan atas kasih karunia Tuhan. Pernikahan sebagai sebuah lembaga, ditetapkan oleh Allah sendiri (Kejadian 2:24), dan melukiskan persekutuan antara Kristus dan gerejaNya (Efesus 5:31-32). Dalam pernikahan suami dan istri mengikat diri dalam suatu tujuan yang kudus, untuk membangun rumah tangga bahagia dan harmonis. Sebagaimana Yesus Kristus mengasihi satu gereja dan gereja itu mengasihi satu Tuhan, demikian seorang pria dipanggil mengasihi satu wanita dan wanita mengasihi satu pria.

Pernikahan dengan demikian adalah hal mulia, yang dikaruniakan Tuhan, sejak manusia belum jatuh ke dalam dosa. Pernikahan adalah hal yang sangat penting. Kejadian 1:28 mencatat bagaimana Tuhan memberkati Adam dan Hawa sebelum mereka diperintahkan untuk beranak cucu. Karena itu, pernikahan harus ditempuh dengan rukun, sehati, setujuan, penuh kasih sayang, saling percaya, dan bersandar kepada kasih karunia Tuhan. Pernikahan tidak boleh ditempuh atau dimasuki dengan sembarangan, dirusak oleh kurangnya kebijaksanaan, direndahkan atau ditolak; melainkan hendaklah hal itu dihormati dan dijunjung tinggi oleh pria dan wanita dengan rasa takut akan Tuhan serta mengingat maksud Allah dalam pernikahan itu.

Pernikahan bisa dianggap sebagai patokan apakah manusia masih mempunyai kemampuan untuk memilih apa yang perlu dilakukan dalam hidupnya. Tetapi, terkadang kita membuat segalanya menjadi lebih rumit dari yang seharusnya. Kita menderita karena adanya kehendak Tuhan, berpikir bahwa memahaminya adalah sulit dan memakan waktu. Kita mempertimbangkan pilihan-pilihan kita secara serius, dan mengeluarkan banyak usaha dalam menentukan pilihan kita.

Memilih jodoh atau pasangan hidup memang bukan hal remeh dan mudah. Ada banyak kasus orang yang sudah menikah dan berpikir bahwa pasangannya adalah pasangan hidupnya yang tepat, tetapi pada akhirnya bercerai dengan alasan tidak cocok. Mengapa bisa tidak cocok, bahkan bercerai? Karena mereka tidak sungguh-sungguh saling mengasihi? Ataukah Tuhan jugalah yang menentukan mereka bercerai?

Tentu saja, ada kalanya pengambilan keputusan memerlukan pertimbangan yang mendalam dan langkah yang lambat serta hati-hati. Namun dalam banyak kasus, memahami kehendak Tuhan sebenarnya sederhana, dan tidak memerlukan tanda khusus dari atas atau wawasan luar biasa lainnya untuk membuat pilihan yang tepat. Kita bisa melihat hal ini dalam hal memahami kehendak Tuhan dalam panggilan kita.

Tuhan kita memberi kita prinsip-prinsip umum untuk diikuti, dan kitalah yang harus membuat keputusan berdasarkan prinsip-prinsip tersebut. Sebagai contoh, hal memilih pekerjaan. Apakah panggilan untuk bekerja yang kita rasakan adalah benar? Apakah saya mempunyai keterampilan untuk melakukannya, atau dapatkah saya memperolehnya? Apakah orang lain percaya bahwa saya mempunyai bakat untuk pekerjaan tersebut? Dapatkah saya mencukupi kebutuhan keluarga saya, dan apakah saya bisa menikmati dalam melakukannya? Jika jawaban atas semua pertanyaan sederhana tersebut adalah ya, maka jawabannya sudah jelas: saya dapat dengan bebas memilih pekerjaan tersebut.

Walaupun demikian, kita bisa memperumit masalah dalam hal memilih pasangan. Jika kita masih lajang, mungkin kita berpikir kita memerlukan wawasan khusus dari Tuhan untuk memberi tahu kita siapa yang harus kita nikahi. Jika yang sedang mencari jodoh adalah anak atau teman kita, kita mungkin mencari wahyu khusus dari Tuhan mengenai orang yang hendak dinikahinya. Mungkin kita mendapat dorongan untuk berpikir seperti itu dari ayat di atas, di mana hamba Abraham berdoa memohon tanda mengenai siapa yang harus menjadi istri Ishak.

Percayalah bahwa Allah tidak pernah menjanjikan kepada kita wahyu khusus seperti itu, dan hal menemukan istri bagi Ishak adalah sebuah kasus khusus dalam sejarah penebusan manusia. Namun, Kitab Suci memberi kita prinsip-prinsip umum untuk mengambil keputusan ini. Apakah calon pasangannya adalah orang yang beriman (2 Korintus 6:14)? Jika Anda seorang wanita, apakah calon suami adalah seseorang yang bisa diterima sebagai pemimpin? Jika Anda seorang pria, apakah calon istri adalah seseorang yang dapat Anda pimpin secara rohani dengan kasih (Efesus 5:22–33)? Apakah calon pasangan tersebut adalah kerabat yang dilarang Allah untuk dinikahi (Imamat 18:6)? Jika Anda seorang wanita, apakah calon suami adalah seorang pekerja keras yang akan menafkahi rumah tangganya (1 Tim. 5:8)? Jika Anda laki-laki, apakah calon istri itu bijaksana (Amsal 19:14)? Apakah Anda menikmati kebersamaan satu sama lain (Penghkhotbah 9:9)? Jika pertanyaan-pertanyaan ini dapat dijawab secara positif dengan tegas, dan tidak ada keberatan yang masuk akal dari orang lain, maka tidak perlu Anda bingung atas keputusan tersebut. Calon pasangan Anda adalah pilihan yang baik, dan Anda bebas menikah dengannya.

Bagaimana pesan Alkitab kepada mereka yang sudah memilih pasangannya? Lagi-lagi merekalah yang harus memilih cara hidup mereka, yaitu untuk tetap hidup dalam satu iman sepanjang hidup mereka. Kesatuan dalam iman adalah satu hal penting dalam hubungan suami-istri. Kita yang sudah diselamatkan oleh Kristus, memiliki hubungan yang berdasarkan kasih. Dalam hal ini, doa sebagai bagian rutin dalam hubungan pasangan, merupakan praktik spiritual terpenting dalam kesuksesan hubungan mereka. Doa tidak hanya mengundang Tuhan ke dalam hubungan pada saat ketidakbahagiaan dan pergumulan, namun juga membantu pasangan menjadi lebih intim dan peduli satu sama lain. Bagaimana dengan pilihan Anda?

“Janganlah kamu merupakan pasangan yang tidak seimbang dengan orang-orang yang tak percaya. Sebab persamaan apakah terdapat antara kebenaran dan kedurhakaan? Atau bagaimanakah terang dapat bersatu dengan gelap” 2 Korintus 6:14

Ada berbagai motivasi penginjilan

Ada orang yang memberitakan Kristus karena dengki dan perselisihan, tetapi ada pula yang memberitakan-Nya dengan maksud baik.” Filipi 1: 15

Dalam Filipi pasal 1, Paulus berterima kasih kepada jemaat di Filipi yang telah mendukung pelayanannya. Bahkan ketika Paulus dipenjarakan atau dianiaya, mereka tetap bermurah hati dan setia. Paulus menyemangati orang-orang Kristen ini dengan menjelaskan bahwa semua penderitaannya adalah untuk tujuan yang baik. Bahkan yang lebih baik lagi, upaya-upaya untuk menganiaya Paulus ini sebenarnya telah menyebabkan Injil makin menyebar. Untuk itu, Paulus bersyukur. Dia sepenuhnya berharap untuk dibebaskan, dan bertemu kembali dengan orang-orang percaya di Filipi.

Di penjara, Paulus mendapat dua macam perlawanan, baik dari luar maupun dari dalam. Antagonisme dari luar datang dari penguasa Romawi. Permusuhan dari dalam datang dari gereja! Filipi 1:12–18 menjelaskan perspektif Paulus mengenai pemenjaraannya. Secara khusus, Paulus melihat banyaknya kesulitan dalam hidupnya sebagai hal yang baik, karena satu alasan: hal itu justru membawa pada penyebaran Injil. Paulus telah dipenjara; ini memungkinkan dia untuk berkhotbah kepada para sipir penjara. Paulus telah melihat orang lain mengulangi pesannya dalam upaya untuk menyakitinya; hal ini telah menyebabkan lebih banyak orang mendengar Injil. Bagian ini memperkuat argumen Paulus selanjutnya bahwa, baik melalui hidup atau mati, ia bermaksud untuk memuliakan Allah.

Mulai dari ayat 15 hingga ayat 17, Paulus membuat katalog tentang motivasi orang Filipi untuk memberitakan Injil. Pesan mereka sama (syukurlah!), tapi motifnya berbeda. ”Karena dengki dan perselisihan” adalah perpaduan antara motif-motif jahat yang digunakan untuk mengabarkan Injil. Pesan mereka bisa diterima, tapi motifnya lain! Di ayat 18, Paulus mencatat bahwa motivasi seseorang dalam memberitakan Injil tidak mengubah fakta bahwa Injil sedang diberitakan. Tuhan bisa memakai semua pemberitaan Injil untuk maksud pelebaran kerajaan-Nya.

Selain dua motivasi yang tidak pantas ini, Paulus mencatat bahwa beberapa orang yang memberitakan Kristus di Roma melakukannya “dengan niat baik”. Mereka mempunyai motivasi yang baik dan saleh untuk membagikan Kristus, dan membantu orang-orang terhilang untuk ditemukan di dalam Yesus. Pada saat itu, di awal tahun 60an M, banyak orang yang membagikan ajaran Yesus di Roma. Tak lama kemudian, kota ini akan dianggap sebagai ibu kota Kekristenan Barat.

Beberapa orang Filipi iri dengan popularitas Paulus di kalangan umat Kristen, sehingga mereka meniru pesannya agar mereka sendiri menjadi lebih populer. Berdasarkan penganiayaan yang dialami Paulus dan orang lain karena iman mereka, hal ini jelas bukan merupakan motivasi yang umum. Yang lain melihat Paulus sebagai saingan atau pesaing dan berusaha menjadi lebih populer melalui jangkauan khotbah mereka sendiri. Mungkin juga mereka yang membenci pesan Paulus sengaja menyebarkannya, untuk mengobarkan api musuh-musuhnya (Filipi 1:17).

Di zaman ini, semua penginjil dan pendeta memberitakan Kristus. Mereka tidak memberitakan Musa atau Abraham. Mereka mungkin saja adalah hamba-hamba Allah yang luar biasa, namun mereka bukan Kristus. Yesus lebih dari sekadar manusia; dia adalah “Allah dan Juruselamat yang agung” (Titus 2:13). Dia berdiri seperti gedung pencakar langit, yang jauh lebih megah jika dibandingkan dengan sebuah gubuk. Mereka tidak selayaknya merasa sudah menjadi hamba Kristus yang paling benar dan paling hebat.

Kita tentu tahu adanya tujuh sudut gelap hati manusia, yaitu tujuh dosa utama (seven capital sins) atau tujuh dosa mematikan (seven deadly sins). Sekalipun kita bisa mengatakan bahwa angka tujuh di sini merupakan kebetulan, namun dalam tradisi bapa-bapa gereja di abad mula-mula, angka tujuh menempati posisi yang unik. Ketujuh dosa utama tersebut adalah:

Kesombongan (Pride, Superbia)
Iri hati (Envy, Invidia)
Kemarahan (Anger, Ira)
Ketamakan (Greed, Avaritia)
Nafsu-birahi (Lust, Luxuria)
Rakus (Gluttony, Gula)
Kemalasan (Sloth, Acedia)

Iri hati adalah perasaan tidak setuju mendengar keberhasilan orang lain. Istilah ini selalu digunakan dalam arti negatif atau jahat dalam Perjanjian Baru. Beberapa pengkhotbah di Roma membenci keberhasilan pelayanan Paulus. Begitu juga banyak pendeta di zaman ini membenci keberhasilan pendeta lain, terutama jika itu terlihat dalam bentuk uang persembahan yang diterima. Dengan kesombongan dan kemarahan, mungkin mereka menyerang pendeta lain dengan alasan teologi yang berbeda, tetapi juga ada orang-orang yang sealiran tapi menyerang orang lain yang dianggap sebagai kurang berpengetahuan. Gereja dari awalnya sering kali dilemahkan karena hal-hal yang mematikan ini. Bayangkan sebuah gereja yang penuh dengan orang-orang yang terancam oleh orang lain. Perselisihan tidak bisa dihindari, dan kekacauan dan kehancuran lambat laun akan terjadi.

Dibutuhkan kedewasaan untuk bersukacita atas keberhasilan orang lain. Dibutuhkan adanya rasa syukur dan rasa cukup untuk menghindari ketamakan, dan kerajinan dalam mengabarkan injil harus tetap dipupuk untuk menghindari kemunduran. Ketidakdewasaan iman selalu membawa ke arah perbandingan diri dengan orang lain dalam pengertian yang salah. Iri hati tidak hanya berarti keinginan untuk memiliki apa yang dimiliki orang lain, tetapi juga berusaha merampas apa yang dimiliki orang lain. Dengan kata lain, dalam beberapa hal, rasa iri bertujuan untuk meremehkan keberhasilan orang lain. Jika sebuah gereja di kota kita diberkati dengan pertumbuhan yang signifikan, gereja lain mungkin berkata, “Yang mereka pedulikan hanyalah angka.” Iri hati tidak pernah menambah, itu selalu mengurangi kemampuan orang yang memilikinya. “Hati yang tenang menyegarkan tubuh, tetapi iri hati membusukkan tulang.” (Amsal 14:30); rasa iri akan membusukkan hati dan pikiran kita.

Akibat yang selalu muncul ketika seseorang merasa tersudut karena kesuksesan orang lain adalah perselisihan. Perselisihan adalah ekspresi permusuhan. Kedua kejahatan ini digabungkan menjadi satu dalam Yakobus 3:16: “Sebab di mana ada iri hati dan mementingkan diri sendiri di situ ada kekacauan dan segala macam perbuatan jahat.” Orang-orang mencoba mengungguli dan melampaui orang lain jika terdapat rasa iri dalam motivasinya. Apa yang terjadi sebagai akibat iri hati Kain adalah pembunuhan Habel, saudara kandungnya. Begitu juga, iri hari antar orang Kristen akan memadamkan rasa kasih kepada sesama.

Pagi ini, jika kita ke gereja, itu seharusnya bukan karena kita ingin mendengarkan khotbah pendeta yang ternama atau berapi-api. Kita seharusnya ingin mendengarkan firman Tuhan yang disampaikan oleh hamba-Nya yang rendah hati dan penuh kasih. Jika kita sering mendengarkan pesan pendeta-pendeta tertentu, perhatikan apakan ada nada kasih dalam pesan mereka. Jika kita menemukan adanya pesan-pesan yang berisi kesombongan, kebencian, kemarahan, iri hati dan ketamakan, biarlah Roh Kudus membimbing kita untuk bisa menemukan pesan-pesan orang lain yang berisi kerendahan hati, kebenaran, kesabaran, ketulusan dan kasih. Biarlah Roh Kudus juga membimbing kita sendiri untuk berani berpaling dari apa yang salah kepada apa yang benar.

“Jadi akhirnya, saudara-saudara, semua yang benar, semua yang mulia, semua yang adil, semua yang suci, semua yang manis, semua yang sedap didengar, semua yang disebut kebajikan dan patut dipuji, pikirkanlah semuanya itu.” Filipi 4:8


Arti bekerja untuk Tuhan

“Apapun juga yang kamu perbuat, perbuatlah dengan segenap hatimu seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia.” Kolose 3: 23

Manusia memang diciptakan Tuhan untuk bekerja. Pada mulanya, pekerjaan bukanlah sesuatu yang berat ataupun hal kurang bisa dinikmati. Manusia tidak diciptakan untuk menjadi budak pekerjaan atau orang lain, sebaliknya untuk menjadi penguasa bumi, sebagai wakil Tuhan.

Allah memberkati mereka, lalu Allah berfirman kepada mereka: “Beranakcuculah dan bertambah banyak; penuhilah bumi dan taklukkanlah itu, berkuasalah atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara dan atas segala binatang yang merayap di bumi.” Kejadian 1: 28

Walaupun manusia tidak dapat dibandingkan dengan Tuhan pencipta-Nya, dalam batas-batas tertentu manusia bisa membuat atau menciptakan sesuatu yang baik atau indah bagi sesamanya. Itu memang tugas yang diberikan Tuhan kepada manusia sejak mulanya, untuk mengatur isi bumi ini sebagai utusan-Nya. Manusia, berbeda dengan makhluk lainnya, memang diberi-Nya kemampuan untuk melakukan apa yang perlu untuk jalannya kehidupan di bumi.

Sebagai manusia yang bisa berkarya, salah satu kewajiban manusia dalam membuat sesuatu hasil, baik itu kecil ataupun besar, adalah untuk merampungkan tugasnya dengan baik sehingga mereka yang memakai atau menggunakannya akan mendapat manfaat dan bukannya masalah.

Apapun peranan kita dalam hidup sehari-hari, kita harus bisa menjadi orang yang berguna untuk orang lain. Ini, jika dilihat dari sudut pandangan kekristenan, adalah sesuatu yang seharusnya karena Tuhan yang menciptakan manusia juga mempunyai prinsip yang sama: jika Ia bekerja, Ia bekerja sampai tuntas. Jika Ia mencipta, Ia menciptakan segala sesuatu sampai selesai dan berfungsi dengan baik.

“Maka Allah melihat segala yang dijadikan-Nya itu, sungguh amat baik. Jadilah petang dan jadilah pagi, itulah hari keenam.” Kejadian 1: 31

Orang Kristen yang sadar bahwa Tuhan menciptakan manusia untuk memuliakan Sang Pencipta tentu mengerti bahwa apapun yang mereka kerjakan, haruslah membawa kebaikan – seperti Tuhan yang sudah menciptakan segala sesuatu sehingga terlihat sangat baik dan berfungsi dengan sempurna. Dalam hal ini, pria maupun wanita yang mengurus rumah tangga sudah tentu adalah contoh pekerja yang baik, yang membawa kebahagiaan bagi pasangan dan anak-anak mereka.

Dalam kenyataannya, banyak manusia yang bekerja hanya untuk uang, sebagai keharusan, atau demi keuntungan dan kemasyhuran diri sendiri. Mereka sering kali bekerja secara asal-asalan dan tanpa memikirkan risiko untuk dirinya dan orang yang disekitarnya; dan karena itu bisa mendatangkan kekacauan dan penderitaan bagi orang lain. Manusia juga sering merasa malang karena harus bekerja keras untuk “mencari sesuap nasi” dan bekerja demi kesejahteraan orang lain. Tetapi, Alkitab justru menyatakan bahwa bekerja dalam bentuk apa pun adalah mandat yang datang dari Tuhan.

“Orang yang mencuri, janganlah ia mencuri lagi, tetapi baiklah ia bekerja keras dan melakukan pekerjaan yang baik dengan tangannya sendiri, supaya ia dapat membagikan sesuatu kepada orang yang berkekurangan.” Efesus 4:28

“Sebab, juga waktu kami berada di antara kamu, kami memberi peringatan ini kepada kamu: jika seorang tidak mau bekerja, janganlah ia makan. Kami katakan ini karena kami dengar, bahwa ada orang yang tidak tertib hidupnya dan tidak bekerja, melainkan sibuk dengan hal-hal yang tidak berguna. Orang-orang yang demikian kami peringati dan nasihati dalam Tuhan Yesus Kristus, supaya mereka tetap tenang melakukan pekerjaannya dan dengan demikian makan makanannya sendiri.” 2 Tesalonika 3:10-12

Umat Kristen didesak untuk saling mengasihi melalui panggilan mereka, yang mencakup upaya membantu memenuhi kebutuhan orang lain dan bahkan melayani orang-orang yang bekerja bersama mereka (Efesus 4:28). Namun bukan hanya itu yang harus kita lakukan dalam panggilan kita: selain mengasihi orang lain melalui pekerjaan kita, kita juga harus bekerja keras dalam panggilan kita (2 Tesalonika 3:10–12).

Paulus mengkritik mereka yang “bermalas-malasan” dan “tidak sibuk bekerja”. Mengingat desakannya untuk bekerja demi kebaikan orang lain, tidak sulit untuk melihat mengapa dia tidak senang dengan mereka yang tidak bekerja dengan rajin. Gagal bekerja dengan tekun dalam tugas yang diberikan kepada kita adalah tindakan yang tidak menimbulkan kasih sayang bagi rekan kerja kita, karena hal itu memaksa mereka untuk mengambil alih tugas tersebut. Lebih jauh lagi, kegagalan untuk bekerja keras adalah kegagalan untuk mengasihi bawahan dan pemimpin kita. Kita juga melayani mereka dalam pekerjaan kita, dan kita tidak mencintai dan melayani mereka dengan baik dengan upaya yang sesedikit mungkin atau dengan membuang-buang waktu.

Rasul Paulus juga mengeluarkan kata-kata tegas bagi mereka yang menolak bekerja, dengan memberi tahu kita bahwa gereja harus menunjukkan kebijaksanaan dan kebijaksanaan dalam melayani mereka yang membutuhkan. Sederhananya, orang yang tidak mau bekerja “tidak boleh makan”. Jelas sekali, Paulus tidak memaksudkan mereka yang tidak bisa bekerja karena penyakit, cacat parah, atau penderitaan berat lainnya. Ia juga tidak berbicara tentang orang-orang yang dengan tekun mencari pekerjaan namun belum juga menemukannya. Sebaliknya, ia berbicara tentang mereka yang mampu bekerja namun tidak mau bekerja.

Umat Tuhan harus bermurah hati terhadap orang sakit, terhadap orang lemah, dan terhadap mereka yang sedang mencari pekerjaan namun tidak dapat menemukannya karena hal-hal di luar kendali mereka. Inilah salah satu alasan mengapa gereja harus berhati-hati dalam memilih pemimpin yang tidak hanya berbelas kasih tetapi juga cerdas. Mereka harus memberikan bantuan secara bijaksana, tidak menutup hati terhadap yang membutuhkan tetapi juga memberikan semangat kepada mereka yang mampu menghayati etos kerja tinggi berdasarkan Alkitab.

Faktanya, orang-orang beriman harus menjadi pekerja terbaik, apa pun panggilan mereka, karena kita telah diberikan dua motivasi kuat dalam bekerja: cinta terhadap sesama dan kemuliaan Tuhan. Kita semua harus mengingat komentar John Calvin: “Umat beriman harus sungguh-sungguh menjalankan panggilan mereka, dan mengabdikan diri mereka pada pekerjaan yang halal dan terhormat, yang tanpanya kehidupan manusia akan sengsara.”

Perintah Tuhan untuk mengasihi sesama kita bukanlah sebuah prinsip abstrak atau sebuah panggilan untuk sekedar sentimen belaka. Sebaliknya, kita harus mengasihi sesama kita secara nyata, dan kasih itu harus ditunjukkan bahkan ketika kita sedang bekerja dalam pekerjaan kita. Kita harus bertanya pada diri sendiri apakah orang lain akan melihat kita sebagai pekerja yang rajin. Orang juga bisa menilai apakah kita benar-benar suka menolong sesama pekerja. Jika tidak, itu mungkin berarti kita tidak mengasihi sesama kita sebagaimana seharusnya.

Hari ini marilah kita memikirkan apa yang perlu kita persiapkan dan lakukan di hari-hari mendatang. Firman Tuhan berkata bahwa Ia sudah menciptakan apa yang baik untuk kita, dan karena itu kita harus bisa memakai dan mengelolanya dengan baik. Biarlah kita mau bekerja untuk kemuliaan Tuhan dan bukan sekadar memenuhi kewajiban kita!

Saat keadaan menjadi sulit, mereka yang kuat akan terus berjalan

“Tetapi sekalipun kamu harus menderita juga karena kebenaran, kamu akan berbahagia. Sebab itu janganlah kamu takuti apa yang mereka takuti dan janganlah gentar.” 1 Petrus 3: 14

Sebuah semboyan berbahasa Inggris yang populer, “when the going gets tough, the tough get going” bisa diartikan sebagai “ketika situasi menjadi sulit, orang-orang yang kuat mampu mengambil tindakan dan mengatasinya”. Semboyan ini dikaitkan dengan ayah dari presiden Amerika John F. Kennedy dan pelatih sepakbola Amerika Knute Rockne, dan sebuah lagu dengan judul yang sama dipopulerkan oleh penyanyi Billy Ocean.

Di Indonesia, semboyan yang mirip dengan itu adalah “maju terus, pantang mundur” atau “ever onward, no retreat” sudah dikenal sejak lama di Indonesia, dan sering muncul pada saat Presiden Soekarno berkuasa. Semboyan ini sangat populer karena dimaksudkan untuk memberi semangat kepada mereka yang berjuang untuk menghadapi tantangan hidup.

Sebuah buku dengan judul yang sama, yang diterbitkan pada tahun 1964 oleh “Komando Operasi Tertinggi”, merupakan catatan penting dari sebuah ekspedisi ilmiah pertama di Irian Jaya. Ekspedisi Cenderawasih yang diinisiasi Soekarno pada 1963 itu merupakan kerja sama antara banyak ahli, termasuk mereka yang berasal dari Universitas Cenderawasih dan Kyoto University.

Maju terus, pantang mundur: lebih mudah mengatakannya daripada melakukannya. Memang dalam hidup ini tidaklah mudah untuk maju terus jika orang tidak yakin akan hasilnya. Mereka yang sudah mengalami jatuh-bangun dalam hidup, bisa merasakan bahwa untuk bangun kembali setelah mengalami pengalaman pahit tidaklah mudah. Tiap kali kita jatuh, sebagian rasa percaya diri ikut hilang bersama dengan datangnya rasa sakit dan malu.

Selain itu, banyak orang yang maju terus dan pantang mundur, tetapi tidak pernah menggunakan cara atau jalan lain. Hasilnya seringkali berupa kegagalan demi kegagalan. Memang kita harus berani maju terus, tetapi itu tidak berarti bahwa kita harus melakukan hal yang sama. Tetapi, jalan mana yang harus kita pilih adalah sesuatu yang memerlukan iman.

Memang dalam hidup kita selalu berhadapan dengan berbagai tantangan. Mungkin juga kita harus berjuang jatuh bangun, dan itu tidak mudah. Banyak orang yang ingin menghindari tantangan hidup, yang takut bersusah-payah, akan memilih jalan pintas untuk mendapatkan hasil secara mudah. Pelanggaran hukum dan etika adalah biasa untuk orang-orang yang menginginkan hasil yang besar dengan menghalalkan segala cara.

Walaupun godaan untuk menghindari tantangan hidup selalu ada, ayat diatas menyatakan bahwa sebagai orang Kristen kita harus siap menderita karena kebenaran selama hidup di dunia ini. Kita tidak boleh takut untuk berpegang pada kebenaran karena kita akan berbahagia pada akhirnya. Memang iman yang teguh pasti membawa kebaikan kepada mereka yang taat kepada Tuhan.

Komitmen kepada Kristus tidak bisa dilakukan setengah-setengah; dibutuhkan niat yang bulat untuk terus maju dan menaati Dia bahkan ketika keadaan menjadi sulit (Lukas 16:16). Kita tidak melakukan hal ini dengan kekuatan sendiri, namun ini adalah anugerah kasih karunia Allah, dan ini adalah sesuatu yang harus kita minta agar Tuhan berikan terus-menerus kepada kita. Selain itu, ketika kita memahami musuh-musuh utama kita terhadap pertumbuhan Kristen, kita akan melihat lebih banyak lagi alasan mengapa kita memerlukan kekuatan dari Dia.

Martin Luther mengatakan bahwa umat Kristiani menghadapi tiga musuh utama: dunia, kedagingan, dan iblis. Jelas sekali, musuh-musuh ini saling terkait. Sifat kedagingan kita, yaitu kecenderungan yang masih ada sekalipun kita sudah lahir baru, tersisa karena adanya dosa dalam hidup kita. Kedagingan didorong oleh iblis agar kita mengasihi dunia dan bukannya Yesus Sang Juruselamat. Namun, sebagai orang Kristen sejati kita seharusnya dapat membedakan musuh-musuh ini, karena saat ini kita tentunya sedang menghadapi berbagai tantangan dari dunia.

Ketika kita berbicara tentang dunia sebagai musuh, kita berbicara tentang sistem dunia yang telah jatuh dan bertentangan dengan Kristus. Dunia ini sendiri pada mulanya sangat baik (Kejadian 1), namun pada saat kejatuhan Adam, dunia ini bertentangan dengan Penciptanya. Dengan demikian, banyak orang membenci Yesus karena kesaksian-Nya mengenai kesombongan dan kefasikan mereka yang telah jatuh, dan karena itu, mereka membenci semua orang yang bersatu dengan Kristus (Yohanes 7:7).

Dunia adalah lingkungan, atau sekelompok orang, yang tidak memiliki kasih sayang terhadap hal-hal yang berhubungan dengan Tuhan. Dunia ada dalam pertentangan serta ketegangan melawan kerajaan Tuhan. Namun Pencipta kita mengasihi dunia bahkan dalam kejatuhannya, dan setelah mengutus Putra-Nya untuk menyelamatkan dunia, menugaskan kita sebagai duta kasih karunia bagi dunia (Yohanes 3:16; 20:21). Sebagai orang-orang yang diutus ke dunia, kita mudah tergoda untuk mengikuti cara-cara dunia, maka Yesus berdoa bagi kita agar kita tidak menjadi bagian dari dunia dan berada di bawah pengaruh itu meskipun kita masih berada di dunia (Yohanes 17: 14-16).

Panggilan untuk masuk dan bukannya keluar dari dunia ini sangatlah penting, karena menekankan poin alkitabiah bahwa Allah tidak menyelamatkan kita untuk mengambil kita keluar dari dunia atau agar kita dapat hidup terisolasi dalam lingkungan Kristen kita sendiri. Sebaliknya, seperti Yesus, kita harus melayani di dunia di mana pun kita berada kepada orang-orang, tidak peduli dari mana mereka berasal, sekalipun mereka tidak menyenangi kita.

Ketika kita berusaha untuk berbuat baik kepada semua orang, memang akan ada tekanan untuk menyesuaikan diri dengan dunia, untuk hanya mengasihi mereka yang mengasihi kita. Pada pihak yang lain, kita mungkin berusaha untuk menerima semua filsafat dan cara hidup apa saja yang ada di dunia karena ingin dianggap toleran. Bahaya filsafat yang sia-sia mengintai di setiap sudut. Namun solusinya adalah dengan tidak mengabaikan hal-hal tersebut atau mengubah pesan kita agar lebih dapat diterima oleh dunia. Jawabannya adalah tetap berada di dunia dan menghadapi dunia, tentu saja dengan penuh kemurahan hati, dengan berdasarkan pada kebenaran Injil. Semua itu pada akhirnya akan mendatangkan kebaikan kepada kita dan orang lain yang mengasihi Dia.

“Kita tahu sekarang, bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah.” Roma 8: 28