Bagaimana kita bisa membuat Tuhan sedih

“Ketika Israel masih muda, Kukasihi dia, dan dari Mesir Kupanggil anak-Ku itu. Makin Kupanggil mereka, makin pergi mereka itu dari hadapan-Ku; mereka mempersembahkan korban kepada para Baal, dan membakar korban kepada patung-patung.”Hosea:11:1-2

Berita dari Israel sejak akhir minggu lalu tentunya membuat rasa sedih muncul dalam hati banyak orang, terutama orang Kristen. Serangan teroris terhadap penduduk Israel sudah memakan ratusan jiwa, termasuk sejumlah orang dari berbagai negara. Lebih dari seratus orang, termasuk anak-anak dan wanita, sudah menjadi sandera dan nasibnya tidak diketahui saat ini. Bagaimana kejadian ini bisa menjadi malapetaka terburuk yang terjadi pada negara modern Israel, yang mempunyai fasilitas pertahanan militer yang canggih, tentunya menjadi tanda tanya banyak orang. Lebih dari itu, banyak orang Kristen bertanya-tanya, mengapa Tuhan membiarkan kejadian yang menyedihkan ini terjadi pada orang-orang yang tidak ada sangkut pautnya dengan kedadaan setempat? Mungkinkah kejadian seperti ini terjadi pada kita juga?

Bangsa Israel adalah bangsa yang dari mulanya sudah mengalami berbagai kejadian yang luar biasa. Sebagai bangsa pilihan Allah, eksodus Israel dari Mesir adalah tindakan penyelamatan utama dalam masa perjanjian lama, dan para nabi menggunakan kejadian itu untuk meramalkan eksodus baru di bawah pelayanan Mesias (Yeremia 16:14-21; Mikha 7:14-17). Meskipun para nabi tentu saja mengetahui kegagalan generasi lama di padang gurun, mereka cenderung menganggap periode tersebut sebagai masa kesetiaan karena, bagaimanapun juga, generasi Israel pada waktu itu mengindahkan panggilan luar biasa untuk melawan kerajaan terkuat pada zaman mereka dan mengikuti Musa ke tanah perjanjian (Yeremia 2:6; Hos. 2:14–15; Amos 2:9–11). Dibandingkan dengan zaman para nabi di mana bangsa Israel tiada hentinya melakukan penyembahan berhala, masa eksodus dan pengembaraan di padang gurun memang merupakan “masa keemasan”, di mana penyertaan Allah terlihat secara nyata.

Ayat pembukaan di atas mengungkapkan isi hati Allah terhadap umat perjanjian lama-Nya, yang meratapi sikap mereka yang berpaling dari-Nya kepada para Baal dan berhala-berhala lainnya. Intinya, Tuhan berkata kepada umat-Nya: “Bagaimana kamu bisa?” Mengingat semua yang telah Dia lakukan bagi mereka sebagai suami tercinta, pengkhianatan Israel sungguh besar (Hosea 11:1-4). Tentu saja, Tuhan bukannya tidak berdaya karena kesedihan karena Ia adalah makhluk mahakuasa. Kegagalan Israel juga bukan sesuatu yang tidak diduga oleh Allah (Ulangan 31:14-22). Namun Israel mendukakan Tuhan karena mereka mereka mengkhianati Tuhan dengan menyembah dewa-dewa lain, dan kekudusan-Nya menuntut balasan (Hosea 11:5-7).

Secara keseluruhan, Israel jelas gagal dalam panggilannya untuk menyembah dan melayani Tuhan. Namun karena Allah telah menjadikan kehormatan-Nya bergantung pada transformasi Israel menjadi bangsa yang kudus (Kejadian 15; Keluaran 32:1-14; 1 Samuel 12:22), Ia harus menepati janji ini dengan cara tertentu. Seperti disebutkan di atas, akan ada eksodus Israel baru yang akan menggenapi tujuan Allah. Israel baru ini akan mempunyai kesinambungan dengan Israel lama, karena sekalipun ada banyak orang kudus di bawah perjanjian yang lama, mereka tetap tidak memiliki kebenaran yang Tuhan minta, pelaksanaan rencana-Nya bagi Israel baru ini akan mengambil bentuk yang baru.

Perjanjian Baru mengatakan bahwa semua ini terjadi di dalam Kristus, yang adalah diri-Nya sendiri sebagai Israel baru, dan yang membuat semua orang yang percaya hanya kepada-Nya, baik etnis Yahudi maupun non-Yahudi, menjadi orang Israel sejati. Inilah poin yang disampaikan Matius ketika ia mengatakan Hosea 11:1 digenapi ketika Kristus kembali bersama orangtua-Nya ke Nazaret dari Mesir (Matius 2:13–15, 19–23). Yesus menggenapi teks Hosea karena Dia adalah Anak Allah yang sejati dan setia yang secara sempurna sudah menggenapi panggilan yang pertama kali diberikan kepada Israel perjanjian lama.

Salah satu kesalahan yang dilakukan umat Allah pada masa perjanjian lama adalah percaya bahwa kehadiran tabernakel atau bait suci dan perabotannya bisa menjamin bahwa bangsa tersebut tidak dapat ditaklukkan, bahwa Israel akan selalu menang. Hal ini tentu saja diyakini oleh para tua-tua Israel ketika mereka berperang melawan orang Filistin menjelang akhir hidup imam Eli, Hofni, dan Pinehas. Berpikir bahwa alasan kekalahan mereka adalah tidak adanya tabut perjanjian, para tua-tua membawanya ke medan pertempuran. Namun mereka kalah dalam tabut dan pertarungan karena Tuhan tidak menjamin kehadiran-Nya bagi orang-orang yang tidak taat (1 Samuel 4:1–11; Ulangan 28:15–15).

Meskipun kehadiran tabut itu sendiri bukanlah jaminan bahwa Tuhan akan berperang demi umat-Nya, kekalahan tabut itu di tangan orang Filistin merupakan tanda bahwa Tuhan telah membiarkan mereka berjuang sendiri. Tanggapan Eli dan menantu perempuannya terhadap hilangnya tabut itu menunjukkan hal ini. Seperti yang kita lihat dalam 1 Samuel 4:12–22, Eli terjatuh dan mati ketika dia mendengar bahwa tabut itu hilang, dan menantu perempuannya, sebelum meninggal saat melahirkan, menamai putranya Ikabod karena “kemuliaan telah berlalu dari Israel”.

Perlakuan terhadap bait suci dan perabotannya sebagai benda ajaib yang menjamin keberhasilan adalah hal yang umum dalam sejarah Israel perjanjian lama. Berabad-abad kemudian, pada masa nabi Yeremia, orang-orang yang percaya akan keberadaan bait suci di Yerusalem tidak mempercayai Yeremia ketika dia secara akurat meramalkan jatuhnya kota itu ke tangan Babel (Yeremia 7:1–15; 52). Seperti itu juga, sering orang Kristen di zanan sekarang menganggap bahwa kekristenan mereka adalah jaminan kemakmuran, kejayaan dan kesuksesan. Mereka tidak sadar bahwa jika mereka tidak benar-benar hidup menurut ajaran dan perintah Yesus, mereka pada akhirnya akan mengalami kekacauan hidup.

Saat kita mempertimbangkan gagasan bahwa Tuhan meninggalkan Israel, kita harus mengingat beberapa hal. Pertama, ketika Alkitab berbicara tentang kepergian Tuhan, itu tidak berarti bahwa Dia tidak lagi hadir di tempat di mana Dia pergi. Bagaimanapun juga, Tuhan bukanlah wujud fisik, dan Dia ada di mana-mana—hadir di mana saja. Tidak ada tempat dalam ciptaan di mana Tuhan tidak ada (Mazmur 139:7-12). Kedua, meskipun Tuhan dapat dikatakan telah meninggalkan Israel, hal ini tidak berarti Dia meninggalkan semua orang dalam komunitas perjanjian Israel. Allah selalu menyertai sisa-sisa-Nya (Mzm. 23:4).

Ketika Kitab Suci mengatakan bahwa Allah telah meninggalkan umat-Nya, itu berarti bahwa Dia telah mengambil berkat-Nya dari mereka, bahwa Dia tidak lagi melindungi mereka dari bahaya. Seperti itu juga, jika kita di zaman sekarang tidak lagi menaati Firman Tuhan dan mulai mengajarkan serta menoleransi kesalahan teologis yang signifikan, seperti pendewaan atas materi, seks dan politik, Tuhan akan membiarkan komunitas kita di dunia menderita.

Pagi ini kita belajar bahwa Tuhan tidak akan pernah meninggalkan gereja, yaitu semua orang yang benar-benar percaya kepada-Nya. Namun, Dia akan menolak semua orang yang hanya mengaku beriman, tetapi tidak mau mengikuti perintah Kristus dengan cara hidup mereka yang berkecimpung dalam dosa. Ketika hal itu terjadi, bahkan umat lain yang setia di dalam gereja yang ada akan menderita. Karena itu, jika kita ingin berkat Tuhan tetap ada pada komunitas lokal kita, janganlah kita dengan sengaja membiarkan kesalahan dan dosa terjadi dalam kehidupan pribadi kita.

Tinggalkan komentar