Dosa kecil dan dosa besar

“Sebab barangsiapa menuruti seluruh hukum itu, tetapi mengabaikan satu bagian dari padanya, ia bersalah terhadap seluruhnya.” Yakobus 2:10

Meskipun semua dosa di hadapan Allah adalah serius dan patut mendapat hukuman kekal, masyarakat umum sering membedakan tingkatan dosa. Ada korupsi kecil, ada korupsi besar; ada bohong kecil, ada bohong besar. Apa yang kecil mungkin bisa ditolerir, dimaafkan, atau diampuni. Walaupun demikian, apakah Alkitab mengajarkan bahwa ada tingkatan dosa atau apakah semua dosa harus dipandang setara?

Secara umum orang Kristen percaya bahwa semua dosa itu sama. Yakobus 2:10 sering dikutip untuk menyatakan bahwa mengabaikan satu perintah Tuhan sama saja dengan mengabaikan seluruh hukum Tuhan. Dengan demikian, banyak orang berpendapat bahwa ini adalah bukti bahwa Alkitab tidak membedakan antara dosa yang lebih besar dan yang lebih kecil. Setidaknya dalam hal dampak buruknya, semua dosa adalah sama di hadapan Tuhan yang mahasuci. Tapi apakah ini benar?

Kita harus menjawab pertanyaan ini dengan hati-hati, namun baik Alkitab maupun teologi menyatakan bahwa beberapa dosa “lebih besar” dibandingkan yang lain. Tuhan kita Yesus menyatakan fakta ini ketika Dia berbicara kepada Pilatus:

Yesus menjawab: ”Engkau tidak mempunyai kuasa apa pun terhadap Aku, jikalau kuasa itu tidak diberikan kepadamu dari atas. Sebab itu: dia, yang menyerahkan Aku kepadamu, lebih besar dosanya.” Yohanes 19:11

Apa sebenarnya maksud Yesus? Di hadapan Allah semua dosa adalah dosa, namun Alkitab juga berbicara tentang tingkatan dosa, dan bahwa tidak semua dosa memiliki dampak yang sama.

Sebelum reformasi, dosa berat didefinisikan sebagai dosa yang “menghancurkan kasih amal dalam hati manusia karena pelanggaran berat terhadap hukum Tuhan; hal itu menjauhkan manusia dari Tuhan, yang sebenarnya merupakan tujuan akhir dan kebahagiaannya.” Dalam pemahaman ini, “pelanggaran berat” adalah penolakan yang disengaja atau disengaja terhadap Sepuluh Hukum. Kecuali pengakuan dosa dan penebusan dosa dilakukan, Tuhan tidak akan bekerja seperti biasanya atau memberi anugerah dalam diri seseorang, yang pada akhirnya menghasilkan hukuman kekal. Dalam pengertian teologi ini, Allah menerapkan karya Kristus kepada kita dengan menerima sakramen-sakramen yang telah Ia tetapkan dalam gereja. Pada akhirnya proses menjadi orang benar mencapai puncaknya dengan dibersihkannya dosa-dosa kita dan dimuliakan, sehingga memungkinkan kita untuk “melihat” Tuhan. Akan tetapi, dosa berat, jika tidak diakui dan dilakukan penebusan dosa, akan menghentikan seluruh proses ini, yang berakibat pada hukuman kekal.

Pada pihak lain, dosa ringan didefinisikan sebagai dosa-dosa kecil yang “memungkinkan amal tetap ada, meskipun hal tersebut menyinggung dan melukai hati Tuhan.” Ini agaknya dosa yang dianggap kurang serius, karena jika ada orang Kristen yang tidak mengaku dosa itu serta bertobat, hal-hal tersebut tidak akan menghentikan proses yang dimulai pada saat baptisan atas pekerjaan kasih karunia “membenarkan” dari Allah yang secara bertahap membuat seseorang menjadi lebih benar. Dosa-dosa ini mengakibatkan hukuman sementara, namun tidak menghilangkan keselamatan seseorang selamanya.

Berbeda dengan pandangan di atas, para Reformator tidak menyangkal adanya derajat dosa, namun bagi mereka, semua dosa adalah “berat” di hadapan Allah, dan satu-satunya harapan kita adalah kita dipersatukan dengan Kristus dalam iman yang menyelamatkan dan dinyatakan benar di dalam Dia. Agar kita sebagai makhluk yang jatuh dapat berdiri di hadapan Allah, kita membutuhkan penebusan Kristus yang sempurna yang diperhitungkan kepada kita dan seluruh dosa kita dibayar lunas melalui kematian-Nya yang menggantikan kita. Juga bagi orang percaya yang lahir dari Roh dan dipersatukan dengan Kristus sebagai kepala perjanjian karena pembenaran kita sudah lengkap di dalam Kristus, tidak ada dosa yang menghilangkan pembenaran kita, dan pada akhirnya menggagalkan pekerjaan pengudusan Roh dengan hilangnya keselamatan kita. Namun, meskipun menolak pembedaan dosa ringan dan berat, hal ini tidak berarti bahwa kita harus menolak pembedaan antara semua dosa yang setara di hadapan Allah dan berbagai tingkat dosa dalam kaitannya dengan dampak keseluruhannya terhadap diri sendiri, orang lain, dan masyarakat dan dunia

Para Reformator benar ketika mengatakan bahwa semua dosa berakibat pada kematian rohani dan jasmani (Roma 6:23). Dosa dihadapan Tuhan, apapun dosanya, akan menyebabkan kita berstatus bersalah, tercemar, dan jauh dari Tuhan (Efesus 2:1-3). Dalam hal ini, Yakobus 2:10 sekarang dapat digunakan secara sah: “Sebab siapa pun yang menaati seluruh hukum tetapi tidak melakukan satu hal pun, ia bersalah terhadap keseluruhannya.” Di hadapan Tuhan, pelanggaran terhadap satu poin pun dari hukum berarti melanggar keseluruhannya. Paulus menulis hal yang serupa: “Terkutuklah orang yang tidak setia melakukan segala sesuatu yang tertulis dalam kitab hukum Taurat.” (Galatia 3:10). Melanggar satu perintah mengakibatkan kita patut dihukum di hadapan Tuhan.

Mengingat bahwa semua dosa menentang Dia, dan mengingat bahwa kehendak dan sifat Allah adalah standar moral alam semesta, Dia tidak dapat dan tidak mengabaikan dosa kita, apa pun dosa kita. Allah menentang dan menghukum semua dosa. Ketika ada dosa, Allah yang kudus akan menghadapi makhluk-makhluk-Nya dalam pemberontakan mereka; jika tidak, Allah bukanlah Allah yang kudus seperti yang Ia nyatakan. Inilah fakta yang sering ditentang orang yang tidak mau percaya akan adanya Allah yang mahakudus dan mahaadil.

Selain kekudusan Allah, terdapat pula keadilan-Nya, yang sama pentingnya dengan semua sifat-sifat-Nya yang lan. Tuhan tidak seperti hakim manusia yang mengadili orang lain dengan tidak membandingkannya dengan standar dirinya. Ketika Tuhan menghakimi, Dia harus berpegang pada tuntutan moralnya yang sempurna, yang berarti Dia tetap mempertahankan status-Nya. Dosa bertentangan dengan Tuhan yang berpribadi yang kudus dan adil, yang berarti bahwa semua dosa di hadapan Tuhan layak menerima kematian kekal. Agar keputusan-Nya bisa dinyatakan adil, Tuhan mengharuskan dosa kita dibayar lunas dan karena itu kita pantas untuk menerima hukuman mati.

Dalam hal ini, kita harus berpikir hati-hati tentang apa yang diajarkan Kitab Suci tanpa meremehkan kenyataan serius dari dosa manusia dan segala konsekuensi buruknya. Semua dosa di hadapan Tuhan, mengingat siapa Tuhan itu, pantas dan menuntut hukuman kekal, oleh karena itu kita membutuhkan seorang Penebus. Namun, Kitab Suci juga menyebutkan tingkat dosa tergantung pada konteks dan niat orang yang melakukan dosa, dan dampak dosa itu secara keseluruhan.

Dalam kehidupan kita sehari-hari, kita tahu hal ini benar. Misalnya, mengucapkan kata-kata kotor kepada seseorang, atau menyimpan kebencian dalam hati terhadap orang lain adalah dosa yang serius (Yakobus 3:8-10). Namun, membenci seseorang sedemikian rupa sehingga seseorang merencanakan dan melaksanakan kematiannya adalah “lebih besar” dalam hal niat, akibat, dan hukumannya. Atau berpikir untuk berbohong. Berbohong kepada seseorang itu salah. Namun, berbohong sebagai pejabat pemerintah dan bertindak curang dapat mengakibatkan berbagai masalah. Sekali lagi, orang yang melakukannya, niat, konteks, dan konsekuensinya menghasilkan pelanggaran yang lebih “serius”. Perlu dicatat bahwa biasanya orang yang bisa melalukan dosa besar belajar dengan berbuat dosa kecil sebelumnya. Mereka yang berani melakukan dosa besar adalah orang yang tidak merasa bersalah melakukan dosa-dosa kecil pada masa lalunya. Mereka yang melakukan dosa besar tanpa segan adalah orang-orang yang sebelumnya belum pernah tertangkap atau dilarang untuk membuat dosa kecil.

Bagaimana pula dengan dosa seksual? Segala aktivitas seksual di luar perjanjian pernikahan antara seorang pria dan seorang wanita adalah dosa. Namun, kita memandang dosa seksual yang dilakukan antara orang dewasa dan anak-anak, atau dosa seksual yang merupakan distorsi terhadap tatanan ciptaan Tuhan, baik homoseksualitas maupun bestialitas, merupakan hal yang lebih serius dalam hal konsekuensi dan dampaknya terhadap orang-orang yang terlibat serta dampaknya yang lebih besar terhadap masyarakat. Ini berarti bahwa orang Kristen yang mendukung atau mengabaikan bahaya dosa-dosa seperti itu sudah melakukan dosa yang besar karena potensinya untuk mempengaruhi pandangan dan cara hidup orang lain. Ini berlaku terutama untuk para orang tua, pendidik, dan pimpinan gereja yang memilih untuk abstain dalam menyatakan hukum Tuhan.

Pagi ini, Alkitab menegaskan apa yang kita ketahui sebagai kebenaran dalam pengalaman kita sehari-hari. Karena kita diciptakan sebagai pembawa gambar dan kasih karunia Allah, kita tidak dapat menghilangkan kebenaran Allah dari kehidupan, hati nurani, dan diri kita sendiri. Marilah kita berusaha untuk hidup di dalam terang kebenaran Tuhan setiap hari!

Sumber: Degrees of Sin by Stephen Wellum, The Gospel Coalition

Rasa bangga yang pada tempatnya

“Tetapi, jika ia menderita sebagai orang Kristen, maka janganlah ia malu, melainkan hendaklah ia memuliakan Allah dalam nama Kristus itu.” 1 Petrus 4: 16

Hal berbangga adalah sesuatu yang umum dan sering kita jumpai dalam hidup ini. Orang mungkin bangga akan keberhasilan, kekayaan, kepandaian dan apa yang sudah diperolehnya atau yang sudah dicapai oleh anak cucu dan kerabatnya. Tetapi, setiap orang harus berhati-hati dalam membanggakan semua itu. Kebanggaan yang dipamerkan kepada orang lain bisa dipandang sebagai kesombongan jika terlalu sering diutarakan, apalagi jika dengan cara yang berlebihan. Memang, beda antara kebanggaan dan kesombongan itu terkadang sangat tipis, sehingga sulit untuk memisahkan keduanya. Selain itu, kebanggaan sesorang bisa membuat orang lain iri, sedih, dan bahkan marah karena adanya perasaan bahwa hidup atau Tuhan sudah memerlakukan dirinya secara tidak adil. Itu yang sudah terjadi antara Kain dan Habel dalam kitab Kejadian 4:1-17.

Memang, kita sering mendengar bahwa hidup orang yang beriman adalah hidup yang diberkati Tuhan. Dari mimbar gereja sering dikumandangkan pesan bahwa Tuhan yang mengasihi anak-anakNya yang taat, akan juga memberikan berkat-Nya dengan berkelimpahan. Apa yang kita perlukan adalah iman yang kuat, dan dengan itu Tuhan akan memenuhi kebutuhan kita di dunia. Karena itu banyak orang Kristen yang bangga karena Tuhan sudah memberkati hidup mereka dengan berbagai kenyamanan dan keberhasilan. Mereka mungkin merasa bahwa Tuhan mengasihi mereka lebih dari yang lain karena iman mereka. Sebaliknya, banyak juga orang Kristen yang malu dan menderita karena merasa bahwa Tuhan kurang mengasihi mereka. Mungkinkah ada sesuatu yang salah dalam hidup mereka?

Apa yang kita lihat sebagai kenyataan hidup adalah sebaliknya. Mereka yang hidupnya tidak baik seringkali terlihat jaya dan nyaman hidupnya, dan mereka yang berusaha hidup dalam kejujuran justru sering mengalami kekurangan dan penderitaan. Tambahan pula, dalam masyarakat yang semakin bersifat materialistik ini, orang cenderung lebih menghargai orang yang mampu. Lebih payah lagi, jika penderitaan di dunia itu bisa datang kepada siapa saja, kapan saja, dan dimana saja, mereka yang berduit kelihatannya lebih mudah untuk menghindarinya. Adakah keuntungan menjadi orang Kristen di dunia ini?

Ayat diatas jelas mengatakan bahwa sebagai orang Kristen kita beruntung karena kita tidak perlu merasa malu jika kita mengalami penderitaan. Itu jika penderitaan bukan terjadi karena kita berbuat jahat atau salah (1 Petrus 4: 15). Jadi, apapun yang terjadi atas diri kita, kita tidak perlu merasa tertekan, gundah ataupun merana.

Penderitaan bisa datang kepada orang percaya melalui beberapa sebab:

  • Dunia sudah jatuh dalam dosa, apa yang sekarang adalah cacat dan jahat.
  • Pengikut Tuhan sering dibenci oleh mereka yang membenci Tuhan.
  • Iblis ingin menghancurkan umat Tuhan dan gerejaNya.
  • Tuhan mendidik anak-anakNya untuk bisa lebih baik.
  • Pengikut Tuhan ingin mengikuti cara hidup Yesus di dunia dan menjadi seperti Dia yang sudah mati untuk mereka.

Jika kita pada saat ini merasa hidup kita berat, kita mungkin mengalami salah satu atau sebagian dari sebab diatas. Firman Tuhan mengatakan bahwa kita tidak perlu merasa malang; sebaliknya kita harus merasa bersyukur karena ada kesempatan bagi kita untuk menunjukkan iman kita kepada seisi dunia – bahwa dalam semua hal kita bisa merasakan penyertaan Kristus, dan menyelami betapa besar kasih-Nya yang sudah menebus dosa kita. Kita juga bisa menyatakan kepada dunia bahwa iman kita yang teguh datang dari Tuhan dan diberikan kepada umat-Nya yang setia.

“Akan tetapi kami harus selalu mengucap syukur kepada Allah karena kamu, saudara-saudara, yang dikasihi Tuhan, sebab Allah dari mulanya telah memilih kamu untuk diselamatkan dalam Roh yang menguduskan kamu dan dalam kebenaran yang kamu percayai.” 2 Tesalonika 2:13

Jika kita mengingini kenyamanan

Aku tahu apa itu kekurangan dan aku tahu apa itu kelimpahan. Dalam segala hal dan dalam segala perkara tidak ada sesuatu yang merupakan rahasia bagiku; baik dalam hal kenyang, maupun dalam hal kelaparan, baik dalam hal kelimpahan maupun dalam hal kekurangan. Segala perkara dapat kutanggung di dalam Dia yang memberi kekuatan kepadaku. Filipi 4:12-13

Adakah orang yang tidak ingin hidup nyaman? Jawabnya saya rasa bergantung pada definisi kenyamanan. Jika kenyamanan diartikan hidup yang berkelimpahan tanpa perlu berjuang, mungkin sebagian orang tidak mengingininya. Sebaliknya, hidup tenang dalam kemiskinan juga tidak menarik bagi banyak orang. Dalam hal ini, keseimbangan hidup adalah sulit dicari karena orang sering berada pada dua ekstrim: hidup yang berkelimpahan atau hidup yang penuh perjuangan. Hidup cukup dengan rasa syukur atas apa yang ada, adalah satu pedoman yang sulit dijalankan.

Banyak renungan Kristen yang membahas hidup yang penuh perjuangan, yang berusaha menguatkan mereka yang dalam penderitaan dan kekurangan. Tetapi, agaknya jarang ada khotbah atau renungan yang menguraikan masalah yang mungkin ada dalam hidup yang kelihatannya penuh berkat dan kenyamanan. Contoh yang ada dalam Alkitab tentang kehidupan Ayub yang nyaman, sering dibahas dari segi ketaatan Ayub selagi mengalami malapetaka yang disebabkan oleh iblis. Tetapi, kita harus ingat bahwa sewaktu Ayub belum mengalami serangan iblis, ia adalah orang yang berhati-hati dalam hidupnya.

Ayub 1:3-5 menyatakan bagaimana Ayub dan keluarganya hidup dalam kelimpahan dan kenyamanan. Ayub adalah yang terkaya dari semua orang di sebelah timur. Anak-anaknya yang lelaki secara bergilir sering mengadakan pesta di rumah mereka masing-masing dan saudara-saudara perempuan mereka diundang untuk makan dan minum bersama-sama mereka. Setiap kali, apabila hari-hari pesta telah berlalu, Ayub memanggil mereka, dan menguduskan mereka. Keesokan harinya, pagi-pagi, bangunlah Ayub, lalu mempersembahkan korban bakaran atas nama anak-anaknya, sebab pikirnya: ”Mungkin anak-anakku sudah berbuat dosa dan telah mengutuki Allah di dalam hati.” Demikianlah dilakukan Ayub senantiasa. Ayub tahu bahwa hidup dalam kenyamanan bukanlah berarti hidup yang tidak bertanggung jawab kepada Allah.

Dalm kenyataannya, hidup dalam kenyamanan memang cenderung membuat manusia lupa akan Tuhan. Hidup dalam kenyamanan sering membuat orang lupa tentang adanya perjuangan yang lebih besar untuk menempatkan Tuhan di atas segala-galanya. Hidup dalam kenyamanan bisa membuat orang sulit untuk mempunyai hubungan yang baik dengan Tuhan karena kecilnya dorongan kebutuhan. Karena itu, orang yang hidup berkelimpahan membutuhkan usaha dan perjuangan yang lebih besar agar tetap bisa beriman dan berjalan dalam kebenaran Tuhan.

Komentar Paulus dalam ayat di atas dimaksudkan untuk mencakup semua situasi kehidupan manusia. Dalam tahanan rumah saat menulis surat ini, dia mengaku telah menemukan “rahasia” untuk bertahan dalam perjuangan untuk tetap teguh dalam iman. Seperti disebutkan sebelumnya, ini adalah pilihan yang disengaja untuk merasa puas, dalam kuasa Kristus. Paulus kadang-kadang tidak makan, dan pada waktu lain diberi banyak makanan. Ia tahu apa itu kekurangan dan ia tahu apa itu kelimpahan. Paulus pernah hidup dengan banyak dan dengan sedikit. Dia pernah mengalami lapar dan haus, tidak mempunyai teman, dan masih banyak lagi, seperti yang tertulis dalam surat yang ditulis jauh sebelum suratnya ke Filipi (2 Korintus 11:27-28).

Filipi 4:10–20 menjelaskan bagaimana orang Kristen dapat mengatasi kekhawatiran dan keinginan duniawi, apa pun keadaan mereka. Dengan membuat keputusan yang bertujuan untuk merasa puas dalam hidup, orang percaya dapat mempercayai Tuhan untuk memenuhi kebutuhan kita yang sebenarnya, dan tidak termakan oleh materialisme atau kecemasan. Paulus telah mempelajari keterampilan ini melalui banyak pencobaan dan pengalaman pelayanannya. Paulus juga mengucapkan terima kasih kepada jemaat di Filipi atas kemurahan hati mereka, dan mengungkapkan keyakinannya bahwa Allah akan memberkati mereka atas kemurahan hati mereka.

Paulus menampilkan orang-orang Kristen yang setia sebagai orang-orang yang sadar dan siap untuk menghadapi peristiwa kehidupan apa pun. Ia menyatakan bahwa ketergantungan pada kuasa Kristus tidak hanya membuat orang percaya bersukacita, namun juga menghasilkan kedamaian dalam hubungan kita dengan orang Kristen lainnya. Ini termasuk perlunya untuk menjadi orang pemaaf dan murah hati. Kita tidak boleh lengah dan merasa bahwa tidak ada yang harus kita pelajari dari keadaan kita saat ini. Kita harus yakin bahwa dalam keadaan apa pun Tuhan akan memberi kita bimbingan dan kekuatan jika kita tetap membina hubungan yang baik dengan Dia.

Bersukacitalah senantiasa. Tetaplah berdoa. Mengucap syukurlah dalam segala hal, sebab itulah yang dikehendaki Allah di dalam Kristus Yesus bagi kamu.1 Tesalonika 5:16-18

Janganlah takut, sebab Aku menyertai engkau

Janganlah takut, sebab Aku menyertai engkau, janganlah bimbang, sebab Aku ini Allahmu; Aku akan meneguhkan, bahkan akan menolong engkau; Aku akan memegang engkau dengan tangan kanan-Ku yang membawa kemenangan. Yesaya 41:10

Dalam hidup, kebanyakan orang tentu pernah merasa takut. Rasa takut adalah salah satu mekanisme pertahanan diri manusia untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan. Jika ada orang yang tidak mengenal takut, atau katakanlah “berani mati”, Alkitab menyatakan bahwa orang seperti itu mempunyai risiko besar untuk mengalami hal-hal yang menakutkan tidak hanya sebelum ia mati, tetapi juga sesudah ia mati! Dalam hal ini, mereka yang tidak percaya akan adanya Tuhan, mungkin memilih hidup yang bebas dan semaunya sendiri. Mereka mungkin tidak takut untuk berbuat jahat atau melanggar hukum, tetapi jika mereka mengalami kejadian yang menakutkan dan di luar dugaan, mereka tidak akan bisa mendapatkan kekuatan dan penghiburan dari Tuhan yang mahakuasa untuk menghilangkan rasa takut mereka.

Pada banyak orang, rasa takut muncul setiap hari. Sebagai orang Kristen, rasa takut, kuatir dan bimbang tetap ada. Kita mungkin berusaha mengingatkan diri kita sendiri ketika kita putus asa, “Jangan putus asa, Jangan cemas, Jangan takut, Tuhan akan menyertaimu kemanapun kamu pergi” . Jika Anda bisa mengucapkan kata-kata itu dan mengingatnya karena itu berasal dari janji di dalam Alkitab, Anda akan bisa juga berkata, “Terima kasih Tuhan. Saya akan mengambil langkah dengan keyakinan di masa depan.” Dan pada saat itu suatu ketenangan batin telah Anda nikmati, dan persekutuan dengan Tuhan telah Anda alami. Tetapi itu lebih mudah untuk dibayangkan daripada untuk dijalankan.

Tuhanlah yang memberi tahu kita untuk tidak takut dan memerintahkan kita untuk tidak khawatir terhadap orang yang berbuat jahat atau karena adanya keadaan yang kurang baik. Dia mengajak kita untuk menyerahkan segala kekhawatiran kita kepada-Nya karena Dia peduli pada kita dan berjanji akan menyertai kita selamanya – bahkan sampai akhir zaman. Tuhan Yesus adalah Dia yang memerintahkan kita untuk tidak berkecil hati atau kecewa karena Dia adalah Tuhan kita, dan kebenaran itu sudah cukup untuk menguatkan mereka yang beriman.

Ayat indah di atas pertama kali diberikan oleh Tuhan kepada bangsa Israel. Kita bisa mengambil tiga pengertian darinya:

Pertama, kita tidak perlu takut karena Tuhan telah berjanji untuk menguatkan semua milik-Nya, dan Yesus juga pernah menjelaskan kebenaran ini kepada rasul Paulus ketika Dia mengatakan kepadanya: “Cukuplah kasih karunia-Ku bagimu, sebab justru dalam kelemahanlah kuasa-Ku menjadi sempurna” (2 Korintus 12:9).

Kedua, Tuhan melanjutkan bahwa, selain memiliki kekuatan-Nya untuk semua yang kita perlukan, Dia akan menjadi penolong yang selalu hadir dalam kesulitan: “Allah adalah pelindung kita dan sumber kekuatan kita. Pada-Nya kita selalu mendapat pertolongan pada waktu kesusahan” (Mazmur 46:2). Sesungguhnya Tuhan Yesus sendiri berjanji, “Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman” (Matius 28:20). Lebih jauh lagi, Dia bahkan mengirimkan Roh Kudus-Nya yang tinggal di dalam kita untuk menjadi Penolong kita saat ini dan Penghibur kita di segala waktu dan di mana pun: “Aku akan minta kepada Bapa, dan Ia akan memberikan kepadamu seorang Penolong yang lain, supaya Ia menyertai kamu selama-lamanya, yaitu Roh Kebenaran” (Yohanes 14:16)

Ketiga, kepastian-Nya merentangkan lengan kasih-Nya semakin lebar, dengan janji untuk menopang kita dengan tangan kanan-Nya yang adil dan mencegah langkah kita tergelincir dengan memeluk kita dalam pelukan kebenaran-Nya: “Sebab Aku ini, TUHAN, Allahmu, memegang tangan kananmu dan berkata kepadamu: ”Janganlah takut, Akulah yang menolong engkau” (Yesaya 41:13).

Hari ini kita membaca kata-kata yang memberi semangat dan penghiburan yang diucapkan kepada bani Israel melalui mulut nabi Yesaya. Instruksi serta jaminan ajaib yang sama juga diberikan kepada Gereja, yaitu Tubuh Kristus. Jika Kristus adalah kebenaran kita, Kristus adalah penolong kita yang selalu hadir pada saat kesusahan; dan Kristuslah yang kasih karunia-Nya selalu mencukupi segala kebutuhan kita setiap hari, karena Kristuslah yang menjadi pelindung kita.

Mengerjakan keselamatan dengan takut dan gentar

Hai saudara-saudaraku yang kekasih, kamu senantiasa taat; karena itu tetaplah kerjakan keselamatanmu dengan takut dan gentar, bukan saja seperti waktu aku masih hadir, tetapi terlebih pula sekarang waktu aku tidak hadir, karena Allahlah yang mengerjakan di dalam kamu baik kemauan maupun pekerjaan menurut kerelaan-Nya. Filipi 2:12-13

Filipi 2:12–18 menjelaskan bagaimana orang Kristen seharusnya hidup, dengan mempertimbangkan semua yang Kristus sudah lakukan untuk mereka. Perintah untuk “mengerjakan” keselamatan adalah sebuah arahan untuk membiarkan kelahiran baru di dalam Kristus diwujudkan dalam tindakan. Sebagai bagian dari hal ini, orang percaya harus melayani Tuhan tanpa mengeluh atau mengeluh. Paulus tahu bahwa pelayanannya kepada Tuhan sangat sulit, namun ini hanyalah bentuk lain dari persembahan. Semua umat Kristiani diajak untuk melayani dengan cara yang sama tanpa pamrih.

Paulus menggambarkan Yesus Kristus sebagai pribadi yang bersedia rendah hati, taat kepada Allah Bapa. Untuk ini, Tuhan akan meninggikan nama Yesus di atas segalanya. Suatu hari nanti, dengan satu atau lain cara, semua orang akan mengakui bahwa Yesus Kristus adalah Tuhan, dan tunduk kepada-Nya. Paulus ingin jemaat di Filipi hidup dengan rasa puas dalam persatuan, tanpa merasa tertekan. Instruksi diberikan sehubungan dengan adanya dua orang yang mengunjungi Filipi. Yang pertama adalah orang yang menyampaikan surat ini, Epafroditus. Yang lainnya adalah Timotius, teman terpercaya Paul, yang diharapkan akan segera berkunjung.

Ayat ini beralih dari fokus Paulus pada perlunya orang Kristen di Filipi menghidupi iman mereka agar dunia dapat melihatnya. Dia mencatat perhatiannya kepada mereka dengan penggunaan kata “kekasih” atau orang-orang yang dicintai. Paulus juga menggunakan panggilan “saudara-saudara yang kukasihi dan yang kurindukan” dalam Filipi 4:1. Dalam kedua konteks tersebut, fokusnya adalah untuk menekankan kasih Kristus kepada pembacanya sekaligus memberi mereka perintah untuk dipatuhi.

Paulus mencatat bahwa jemaat Filipi dengan setia mengikuti ajarannya baik dia bersama mereka atau tidak. Mengikuti instruksi seorang guru ketika ia tidak bersama mereka adalah ujian utama kesetiaan, dan umat Kristen di Filipi telah melakukan hal yang sama. Selama bertahun-tahun mereka berpisah, Paulus tetap berhubungan dengan kelompok orang percaya ini. Bab 4 membahas beberapa kali mereka mengiriminya sumbangan keuangan untuk membantunya dalam pelayanannya.

Dalam ayat 12, Paulus memerintahkan umat Kristen di Filipi untuk “mengerjakan keselamatan mereka”, artinya mereka harus menerapkan kebenaran kepercayaan mereka – bukan bekerja untuk mempertahankan keselamatan mereka agar tidak hilang. Keberadaan mereka di dalam Kristus perlu “dinyatakan” melalui tindakan dan sikap mereka. Alasan perintah ini diberikan di sini dalam ayat 13: Allah bertindak melalui kehidupan orang-orang percaya ini. Pemahaman ini hendaknya membawa orang beriman pada rasa kagum dan penghargaan yang mendalam kepada kasih-Nya.

Seperti disebutkan di atas, Paulus memberikan perintah dengan menggunakan ungkapan yang aneh dan sering disalahpahami: “kerjakanlah keselamatanmu sendiri dengan takut dan gentar.” Pernyataan unik ini berbicara tentang ketaatan yang berkelanjutan bagi mereka yang sudah diselamatkan. Penting untuk dicatat bahwa Paulus tidak menyuruh mereka bekerja demi keselamatan mereka. Pernyataan ini menyiratkan suatu kebutuhan untuk menghayati—untuk mengamalkan, mendemonstrasikan, dan memperlihatkan—keselamatan yang dimiliki orang-orang percaya di dalam Kristus. Menjadi orang Kristen bukanlah satu kejadian yang sesudah terjadi, tidak perlu diingat lagi dan dipraktikkan setiap hari. Lebih dari itu, konsep “takut dan gemetar” menunjukkan rasa hormat yang penuh ibadah kepada Tuhan.

Paulus kemudian menambahkan dua bidang di mana Allah bekerja dalam kehidupan orang percaya. Pertama, Tuhan bekerja di dalam kita untuk tunduk kepada kehendak-Nya. Ini termasuk gagasan menempatkan keinginan atau memimpin orang percaya untuk melayani Tuhan. Kedua, Allah bekerja di dalam kita untuk hidup sesuai dengan kehendak-Nya. Roh Allah dalam diri orang percaya memberikan keinginan dan kekuatan agar kita bisa hidup bagi Tuhan. Gagasan tentang “kerelaan-Nya” mencakup ketaatan (Filipi 2:12) menurut bimbingan Roh Allah. Ini bukanlah ketaatan legalistik yang membuta terhadap hukum atau aturan manusia yang ditentang Paulus, melainkan ketaatan berdasarkan kasih kepada Tuhan berdasarkan Roh yang hidup di dalam diri orang percaya.

Pagi ini, firman Tuhan menyatakan bahwa jika kita hidup, kita harus hidup untuk Tuhan. Kita bekerja, melayani, menolong orang lain, mengerjakan apa saja, untuk menaati perintah-Nya. Ia yang sudah memberi kita karunia terbesar dalam diri Yesus, adalah Tuhan yang harus kita hormati dan kita patuhi. Dalam hidup, kita bukan berusaha keras untuk mempertahankan keselamatan kita, tetapi berusaha keras untuk menyatakan keselamatan yang sudah kita terima dalam bentuk kasih kepada Tuhan dan sesama sebagai pernyataan ketaatan dan rasa syukur kita.

Katekismus Heidelberg (1563)

Dikutib dari situs SOTERI

Perkataan ‘katekismus’ berkaitan dengan kata kerja Yunani katekhein, ‘memberitahukan dari atas (panggung, mimbar) ke bawah’, dari situ juga ‘mengajarkan’. Mulai abad pertama (Luk 1:4, Kis 18:25, Gal 6:6) katekhein menjadi istilah baku yang mengacu ke kegiatan membimbing masuk anggota baru ke dalam iman Kristen, apakah mereka orang dewasa yang baru menjadi percaya atau anak-anak yang telah dibaptis, tetapi masih perlu menerima pengajaran. Pengajaran itu diberikan secara lisan. Memang ada pembimbing tertulis (a.l. kitab ‘Didache’, yang ditulis sekitar tahun 100, dan ‘Pengajaran pertama kepada para calon anggota Gereja’ karangan Augustinus), tetapi tulisan itu tidak mendapat status resmi. Luther yang pertama kali menerbitkan katekismus dalam arti buku pelajaran yang membahas pokok-pokok iman Kristen secara sistematis dan yang umum dipakai sebagai pedoman dalam pengajaran iman. Katekismus Besar dan Kecil karangan Luther menjadi buku katekisasi di seluruh Gereja Lutheran. Akan tetapi, Reformasi beraneka ragam, dan menekankan pemakaian bahasa nasional. Maka muncullah sejumlah besar katekismus lain. Katekismus Jenewa (Katekismus Calvin, 1536/45) diterima umum di gereja-gereja Calvinis berbahasa Perancis. Katekismus Anglikan (1549) ditujukan kepada Gereja Nasional Kerajaan Inggris. Katekismus Heidelberg (1563) menjadi pedoman pengajaran agama dan kitab pengakuan iman dalam gereja-gereja Calvinis berbahasa Jerman dan Belanda. Dan Katekismus Westminster, yang Besar dan yang Kecil (1647), sampai sekarang berwibawa besar dalam Gereja-gereja Calvinis berbahasa Inggris. Gereja Katolik Roma pun pada zaman itu menerbitkan katekismus resmi sendiri, yaitu Catechismus Romanus (1566), yang merupakan buku pedoman untuk kaum klerus.

Katekismus Heidelberg disusun oleh panitia yang diangkat oleh Friedrich III, Raja Kurpfalz, salah satu daerah otonorn di bagian barat kekaisaran Jerman, dengan ibukota Heidelberg. Raja Friedrich ingin melanjutkan reformasi gereja di daerahnya, yang telah dimulai oleh raja terdahulu. Pada tahun 1562 dua teolog muda anggota panitia, yaitu Zacharius Ursinus dan Caspar Olevianus, menyusun rancangan, yang pada awal 1563 disahkan oleh Sinode Gereja daerah Pfalz. Pada tahun itu juga terbit edisi kedua dan ketiga. Dalam cetakan ketiga disisipkan kalimat yang dengan kata-kata tajam menolak ajaran transsubstansiasi, yang telah dijadikan ajaran resmi Gereja Katolik Roma pada tahun 1215 dan yang ditegaskan lagi oleh Konsili Trente pada tahun 1562, disertai ucapan kutuk atas semua orang yang menganut pandangan Protestan (lihat nr. 80).

Kebetulan, pada masa terbitnya Katekismus Heidelberg, di daerah Pfalz tinggal sejumlah pengungsi dari Negeri Belanda. Di negeri sendiri aliran Protestan masih tertindas, tetapi mereka disambut hangat oleh Raja Pfalz. Salah seorang pendeta Belanda segera menerjemahkan Katekismus ke dalam bahasa Belanda. Beberapa tahun kemudian, Sinode-sinode Gereja Belanda menerima edisi Belanda itu menjadi kitab katekisasi yang resmi, dan mewajibkan semua pelayan gereja menyatakan persetujuan mereka dengan menandatangani kitab itu. Dengan demikian, Katekismus Heidelberg menjadi salah satu karangan pengakuan iman Gereja Belanda, di samping Pengakuan Iman Belanda (1561) dan Kelima Pasal Melawan Orang Remonstran (1619). Isinya tidak hanya diajarkan kepada anak-anak (di sekolah), tetapi dijadikan juga bahan khotbah dalam kebaktian sore.

Ketika orang Belanda datang ke Indonesia, mereka membawa serta kitab katekismus mereka. Pada tahun 1623, kitab itu pertama kali diterjemahkan ke dalam bahasa Melayu oleh pdt. Seb. Danckaerts.’ Tetapi Katekismus itu agak panjang. Maka, sama seperti di Negeri Belanda sendiri, beredar juga versi lebih singkat (‘Tiksar’). Dalam abad ke-19 dan ke-20 sebagian kecil para utusan Injil Belanda dan para pendeta Gereja Protestan tetap memakai Katekismus Heidelberg sebagai pedoman katekisasi. Tetapi biasanya mereka memakai bahan lain, yaitu terjemahan kitab katekisasi yang baru dari Negeri Belanda atau karangan yang mereka susun sendiri. Yang tetap memakai Katekismus Heidelberg terutama Zending Gereformeerde Kerken di Jawa Tengah dan Sumba, dan badan-badan serumpun di beberapa daerah lain, a.1. di Sulawesi Selatan dan di pedalaman Irian Jaya. Namun, sejumlah besar gereja Indonesia menyebut Katekismus Heidelberg dalam tata gereja mereka sebagai salah satu karangan teladan dalam upaya merumuskan iman Kristen.

KATEKISMUS ATAU PENGAJARAN KRISTEN SEBAGAIMANA DIBERIKAN DALAM GEREJA DAN SEKOLAH DI NEGERI BELANDA

Minggu ke-1

  1. Pert. Apakah satu-satunya penghiburan Saudara, baik pada masa hidup maupun pada waktu mati?
    Jaw. Bahwa aku, dengan tubuh dan jiwaku, baik pada masa hidup maupun pada waktu mati (a), bukan milikku (b), melainkan milik Yesus Kristus, Juruselamatku yang setia (c). Dengan darah-Nya yang tak ternilai harganya Dia telah melunasi seluruh utang dosaku (d) dan melepaskan aku dari segala kuasa iblis (e). Dia juga memelihara aku (f), sehingga tidak sehelai rambut pun jatuh dari kepalaku di luar kehendak Bapa yang ada di sorga (g), bahkan segala sesuatu harus berguna untuk keselamatanku (h). Karena itu juga, oleh Roh-Nya yang Kudus, Dia memberiku kepastian mengenai hidup yang kekal (i), dan menjadikan aku sungguh-sungguh rela dan siap untuk selanjutnya mengabdi kepada-Nya (j).

(a) Rom 14:7-8. (b) 1Ko 6:19. (c) 1Ko 3:23. (d) 1Pe 1:18- 19. (e) 1Yo 3:8b. (f) Yoh 6:39. (g) Mat 10:30. (h) Rom 8:28. (i) 2Ko 1:22. (j) Rom 8:14.

  1. Pert. Berapa pokok yang perlu Saudara ketahui, supaya dengan penghiburan ini Saudara hidup dan mati dengan bahagia?
    Jaw. Tiga pokok (a). Pertama. betapa besarnya dosa dan sengsaraku (b). Kedua, bagaimana aku mendapat kelepasan dari semua dosa dan sengsaraku (c). Ketiga, bagaimana aku harus bersyukur kepada Allah atas kelepasan yang demikian itu (d).

(a) Maz 130:3-4. (b) Rom 7:24-25. (c) Mat 11:28. (d) Kol 1:12.

BAGIAN PERTAMA: SENGSARA MANUSIA

Minggu ke-2

  1. Pert. Dari mana Saudara mengetahui sengsara Saudara?
    Jaw. Dari hukum Taurat Allah (a).

(a) Rom 3:20.

  1. Pert. Apa yang dituntut hukum Taurat Allah dari kita?
    Jaw. Itu diajarkan Kristus kepada kita secara ringkas dalam Mat 22:37-40, ‘Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu, dengan segenap jiwamu, dengan segenap akal-budimu, dan dengan segenap kekuatanmu. Itulah hukum yang terutama dan yang pertama. Dan hukum yang kedua, yang sama dengan itu, ialah: Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri. Pada kedua hukum inilah tergantung seluruh hukum Taurat dan kitab para nabi.’
  2. Pert. Dapatkah Saudara melaksanakan semua ini dengan sempurna?
    Jaw. Tidak (a), karena menurut kodratku aku cenderung membenci Allah dan sesamaku manusia (b).

(a) Rom 3:18. (b) Rom 8:7.

Minggu ke-3

  1. Pert. Jadi, apakah Allah telah menjadikan manusia begitu jahat dan buruk?
    Jaw. Sekali-kali tidak (a). Tetapi Allah telah menjadikan manusia baik dan menurut gambar-Nya (b), artinya, dengan kebenaran dan kesucian yang sejati, supaya manusia dapat mengenal Allah Penciptanya secara benar, mengasihi-Nya dengan sebulat hati, dan hidup bersama Dia dalam kebahagiaan yang kekal untuk memuji dan memuliakan Dia (c).

(a) Kej 1:31. (b) Kej 1:27. (c) Efe 4:24.

  1. Pert. Jadi, dari mana asal watak manusia yang seburuk itu?
    Jaw. Dari kejatuhan ke dalam dosa dan ketidaktaatan nenek moyang kita, Adam dan Hawa, di taman Firdaus (a). Di situ tabiat kita menjadi sedemikian buruk, sehingga kita semua dikandung dan dilahirkan dalam dosa (b).

(a) Kej 3:6. (b) Maz 51:7.

  1. Pert. Tetapi, begitu rusakkah kita, sehingga kita sama sekali tidak sanggup berbuat apa pun yang baik, dan hanya cenderung pada yang jahat saja?
    Jaw. Ya (a), kecuali jika kita dilahirkan kembali oleh Roh Allah (b).

(a) Kej 8:21. (b) Yoh 3:3.

Minggu ke-4

  1. Pert. Apakah Allah memperlakukan manusia dengan tidak adil bila menuntut dalam hukum-Nya sesuatu yang tidak dapat dilaksanakan oleh manusia?
    Jaw. Tidak (a), karena Allah telah menjadikan manusia sedemikian rupa, hingga ia dapat melaksanakannya (b). Tetapi oleh bisikan iblis (c) dan oleh ketidaktaatannya yang disengaja, manusia telah bertindak sedemikian, sehingga ia bersama keturunannya kehilangan karunia-karunia itu.

(a) Ayu 34:10. (b) Pengk 7:29. (c) Rom 5:12.

  1. Pert. Apakah Allah hendak membiarkan ketidaktaatan dan kemurtadan semacam itu tanpa hukuman?
    Jaw. Tidak. Sebaliknya, Dia sangat murka (a), baik atas dosa turunan maupun atas dosa yang kita perbuat sendiri. Dia hendak menghukumnya dengan hukuman yang adil, baik di dunia ini maupun di akhirat (b), sebagaimana Dia telah berfirman, ‘Terkutuklah orang yang tidak setia melakukan segala sesuatu yang tertulis dalam kitab hukum Taurat’ (Gal 3:10).

(a) Rom 1:18. (b) Maz 50:21.

  1. Pert. Bukankah Allah juga penyayang?
    Jaw. Sungguh Allah itu penyayang (a), tetapi Dia juga adil (b). Oleh sebab itu, keadilan-Nya menuntut supaya dosa yang diperbuat terhadap Kemuliaan Allah yang Tertinggi itu dihukum dengan hukuman yang tertinggi juga, yaitu hukuman yang kekal atas tubuh dan jiwa.

(a) Kel 34:6. (b) Nah 1:2-3.

BAGIAN KEDUA: KELEPASAN MANUSIA

Minggu ke-5

  1. Pert. Menurut hukuman Allah yang adil itu kita patut mendapat hukuman di dunia ini dan di akhirat. Maka adakah cara kita dapat luput dari hukuman itu dan beroleh kembali anugerah Allah?
    Jaw. Allah menghendaki, supaya tuntutan-tuntutan keadilan-Nya dipenuhi (a). Oleh sebab itu, kita wajib melaksanakan pelunasan sepenuhnya, apakah dengan berupaya sendiri atau oleh upaya pihak lain (b).

(a) Mat 5:26. (b) Rom 8:4.

  1. Pert. Dapatkah kita melaksanakan pelunasan dengan berupaya sendiri?
    Jaw. Sama sekali tidak. Bahkan, tiap-tiap hari kita menambah hutang kita (a).

(a) Maz 130:3.

  1. Pert. Mungkinkah ditemukan suatu makhluk semata, yang dapat melaksanakan pelunasan bagi kita?
    Jaw. Tidak mungkin. Pertama, Allah tidak mau menjatuhkan hukuman terhadap makhluk lain karena kesalahan yang diperbuat manusia (a). Kedua, tidak ada makhluk semata yang sanggup menanggung beban murka Allah yang kekal atas dosa dan membebaskan makhluk-makhluk lain darinya (b).

(a) Yeh 18:4b. (b) Maz 49:8-9.

  1. Pert. Jadi, Pengantara dan Penebus yang bagaimana yang perlu kita cari?
    Jaw. Seorang Pengantara dan Penebus yang adalah manusia sejati (a) dan benar (b), tetapi yang kekuatan-Nya melebihi segala makhluk, artinya yang juga Allah yang sejati (c).

(a) Ibr 2:14. (b) Yoh 8:46. (c) Yoh 1:1.

Minggu ke-6

  1. Pert. Mengapa Dia harus seorang manusia sejati dan benar?
    Jaw. Sebab keadilan Allah menuntut, supaya pembayaran untuk dosa dilakukan oleh kodrat manusia yang telah berdosa itu (a), sedangkan seorang manusia tidak sanggup melakukan pembayaran untuk dosa orang lain karena dia sendiri pun seorang berdosa (b).

(a) Rom 5:18. (b) 1Pe 3:18.

  1. Pert. Mengapa Dia harus juga Allah sejati?
    Jaw. Supaya dengan kuasa keallahan-Nya (a) Dia dapat menanggung (b) beban murka Allah atas kemanusiaan-Nya (c), memperoleh kebenaran dan kehidupan bagi kita, dan mengembalikannya kepada kita (d).

(a)Yes 9:5. (b) Yes 53:11. (c) Maz 130:3. (d) 1Yo 4:9.

  1. Pert. Tetapi, siapakah Pengantara itu, yang adalah Allah yang sejati (a), dan juga manusia yang sejati (b) dan benar (c)?
    Jaw. Tuhan kita Yesus Kristus (d), yang telah dikaruniakan oleh Allah kepada kita untuk menjadi hikmat, kebenaran, pengudusan, dan penebusan yang sempurna bagi kita (e).

(a) 1Yo 5:20. (b) Rom 1:3. (c) Ibr 4:15. (d) 1Ti 2:5. (e) 1Ko 1:30.

  1. Pert. Dari mana Saudara mengetahui hal itu?
    Jaw. Dari Injil yang kudus. Mula-mula, Allah sendiri telah menyatakannya di Taman Firdaus (a). Kemudian Dia menyuruh para bapak leluhur (b) dan para nabi (c) yang kudus mengabarkannya, dan memperlihatkan bayangannya melalui kurban- kurban dan upacara-upacara lain menurut hukum Taurat Allah (d). Akhirnya Dia menggenapinya melalui Anak-Nya yang tunggal (e).

(a) Kej 3:15. (b) Kej 22:18. (c) Kis 10:43. (d) Ibr 10:1. (e) Rom 10:4.

Minggu ke-7

  1. Pert. Apakah semua orang diselamatkan oleh Kristus, sama seperti mereka telah terkutuk oleh karena Adam?
    Jaw. Tidak semua orang (a), tetapi hanya mereka yang oleh iman yang sejati dijadikan anggota tubuh-Nya dan menerima seluruh karunia-Nya (b).

(a) Mat 7:14. (b) Yoh 1:12.

  1. Pert. Apa iman yang sejati itu?
    Jaw. Iman yang sejati adalah keyakinan atau pengetahuan yang pasti yang membuat aku mengakui sebagai kebenaran segala sesuatu yang dinyatakan Allah kepada kita di dalam Firman-Nya, dan juga kepercayaan yang teguh (b), yang dikerjakan dalam hatiku oleh Roh Kudus (c), melalui Injil (d). Isinya ialah bahwa pengampunan dosa dan kebenaran serta keselamatan yang kekal (e) telah dikaruniakan tidak hanya kepada orang lain saja, tetapi juga kepadaku sendiri, oleh rahmat Tuhan semata-mata, hanya berdasarkan jasa-jasa Kristus saja (f).

(a) Ibr 11:1-3. (b) Rom 10:10. (c) Efe 2:8. (d) Rom 10:17. (e) Rom 3:24.

  1. Pert. Apa yang perlu diimani oleh seorang Kristen?
    Jaw. Segala sesuatu yang dijanjikan kepada kita dalam Injil (a). Isi pokoknya diajarkan kepada kita melalui Pasal-pasal Pengakuan Iman Kristen yang am dan pasti.

(a) Yoh 20:31.

  1. Pert. Bagaimana bunyi Pasal-pasal Pengakuan Iman itu?
    Jaw. Aku percaya kepada Allah Bapa, Yang mahakuasa, Khalik langit dan bumi.
    Dan kepada Yesus Kristus, Anak-Nya yang tunggal, Tuhan kita,
    yang dikandung dari Roh Kudus,
    lahir dari anak dara Maria,
    yang menderita di bawah pemerintahan Pontius Pilatus,
    disalibkan, mati dan dikuburkan,
    turun ke dalam kerajaan maut,
    pada hari yang ketiga bangkit pula dari antara orang mati,
    naik ke sorga, duduk di sebelah kanan Allah, Bapa yang Mahakuasa,
    dan akan datang dari sana untuk menghakimi orang yang hidup dan yang mati.
    Aku percaya kepada Roh Kudus.
    Aku percaya adanya gereja (Kristen) yang kudus dan am,
    persekutuan orang kudus,
    pengampunan dosa,
    kebangkitan daging,
    dan hidup yang kekal.

Minggu ke-8

  1. Pert. Pengakuan Iman itu dibagi atas berapa bagian?
    Jaw. Tiga bagian. Yang pertama mengenai Allah Bapa dan penciptaan kita. Yang kedua mengenai Allah Anak dan penebusan kita. Yang ketiga mengenai Allah Roh Kudus dan pengudusan kita.
  2. Pert. Mengingat bahwa hanya ada satu Zat ilahi saja (a), apa sebabnya Saudara menyebutkan Bapa, Anak, dan Roh Kudus?
    Jaw. Karena demikianlah Allah menyatakan diri-Nya dalam Firman-Nya (b). Ketiga Pribadi yang berbeda-beda itu merupakan Allah yang esa, yang sejati dan kekal (c).

(a) Ula 6:4. (b) 1Yo 5:7. (c) 2Ko 13:13.

ALLAH BAPA DAN PENCIPTAAN KITA

Minggu ke-9

  1. Pert. Apa yang Saudara percayai bila Saudara berkata, Aku percaya kepada Allah Bapa, Yang mahakuasa, Khalik langit dan bumi?
    Jaw. Bahwa Bapa yang kekal dari Tuhan kita Yesus Kristus, yang telah menciptakan langit dan bumi serta segala isinya dari yang tiada (a), dan juga tetap memelihara dan memerintahnya menurut rencana-Nya yang kekal dan pemeliharaan-Nya (b), adalah Allah dan Bapaku karena Anak-Nya, yaitu Kristus (c). Aku percaya kepada-Nya, bahkan aku tidak meragukan, Dia akan memeliharaku dalam semua kebutuhan tubuh dan jiwaku (d), dan juga mengubah segala bencana yang ditimpakan-Nya atasku di dunia yang penuh sengsara ini, menjadi kebaikan untukku (e). Sebagai Allah yang Mahakuasa Dia memang sanggup berbuat demikian (f), dan sebagai Bapa yang setiawan Dia berkehendak pula melakukannya (g).

(a) Kej 1:1. (b) Maz 145:15-16. (c) 2Ko 6:18. (d) Maz 55:23. (e) Rom 8:28. (f) Mat 7:11. (g) Mat 6:32.

Minggu ke-10

  1. Pert. Apa itu ‘pemeliharaan Allah’ menurut Saudara?
    Jaw. Kekuatan Allah, yang mahakuasa dan yang hadir di segala tempat (a). Dengannya Dia memelihara langit dan bumi serta semua makhluk seakan-akan dengan tangan-Nya sendiri, dan memerintahnya (b), sehingga daun dan rumput, hujan dan kemarau (c), masa kelimpahan dan kekurangan, makanan dan minuman, sehat dan sakit (d), kekayaan dan kemiskinan (e), dan segala hal tidak menimpa kita secara kebetulan, tetapi datang dari tangan Bapa saja (f).

(a) Yoh 5:17. (b) Maz 104:30. (c) Yer 5:24. (d) Yoh 9:3. (e) Ams 22:2. (f) Mat 10:29.

  1. Pert. Apa manfaatnya bagi kita kalau kita mengetahui bahwa Allah telah menciptakan segala sesuatu dan tetap merawatnya melalui pemeliharaan-Nya?
    Jaw. Berkat pengetahuan itu, kita dapat bersabar di tengah segala kesusahan (a) dan bersyukur dalam kelimpahan (b). Untuk masa depan juga kita menaruh kepercayaan penuh kepada Allah dan Bapa kita yang setia itu (c), bahwa tidak satu makhluk pun akan dapat menceraikan kita dari kasih-Nya (d). Sebab semuamakhluk berada di tangan-Nya, sehingga mereka tidak dapat bergerak setapak pun melawan kehendak-Nya (e).

(a) Rom 5:3. (b) 1Te 5:18. (c) Maz 55:23. (d) Rom 8:38-39. (e) Ams 21:1.

ALLAH ANAK DAN PENEBUSAN KITA

Minggu ke-11

  1. Pert. Mengapa Anak Allah dinamakan Yesus, yang artinya ‘Juruselamat’?
    Jaw. Sebab Dia menyelamatkan kita dari semua dosa kita (a). Lagi pula, sebab kita tidak boleh mencari dan tidak mungkin mendapatkan keselamatan dalam bentuk apa pun pada orang lain (b).

(a) Mat 1:21. (b) Kis 4:12.

  1. Pert. Apakah orang-orang yang mencari keselamatan dan kebahagiaan pada orang-orang kudus atau pada dirinya sendiri, atau pada apa pun yang lain, percaya juga kepada Yesus, Juruselamat satu-satunya?
    Jaw. Tidak. Sebaliknya, mereka nyata-nyata menyangkal Yesus, Juruselamat satu-satunya, meskipun dengan mulut mereka bermegah di dalam Dia (a). Karena di antara dua ini hanya satu yang benar: Yesus itu bukan Juruselamat yang sempurna, atau mereka yang menerima Juruselamat ini dengan iman yang benar tidak dapat tidak akan memperoleh dalam Dia segala sesuatu yang diperlukan untuk keselamatannya (b).

(a) 1Ko 1:13. (b) 1Yo 1:7.

Minggu ke-12

  1. Pert. Mengapa Dia dinamakan Kristus, yang artinya ‘Yang diurapi’?
    Jaw. Sebab Dia telah ditetapkan oleh Allah Bapa dan diurapi dengan Roh Kudus (a), menjadi Nabi dan Guru, Imam Besar, dan Raja kita. Sebagai Nabi dan Guru kita yang tertinggi (b), Dia telah menyatakan kepada kita dengan sempurna seluruh rencana dan kehendak Allah yang tersembunyi mengenai penebusan kita (c). Sebagai Imam Besar kita satu-satunya (d), Dia telah menebus kita dengan kurban satu-satunya, yaitu tubuh-Nya sendiri (e), dan senantiasa menjadi Pengantara kita di hadapan Allah dengan doa syafaat-Nya (f). Sebagai Raja kita yang kekal, Dia memerintah kita dengan Firman dan Roh-Nya serta melindungi dan memelihara kita sehingga tetap memiliki keselamatan yang telah diperoleh-Nya (g).

(a) Luk 4:18. (b) Ula 18:15. (c) Yoh 1:18. (d) Maz 110:4. (e) Ibr 10:14. (f) Rom 8:34. (g) Yoh 10:28.

  1. Pert. Tetapi, mengapa Saudara disebut orang Kristen? (a)
    Jaw. Sebab aku, melalui iman, adalah anggota tubuh Kristus (b), dan dengan demikian mendapat bagian dalam pengurapan-Nya (c). Tujuannya supaya aku mengakui nama-Nya (d), mempersembahkan diriku kepada-Nya menjadi korban syukur yang hidup (e), di dalam hidup ini berperang melawan dosa dan iblis dengan hati nurani yang bebas dan tulus (f), dan kelak di akhirat bersama-sama Dia memerintah segala makhluk untuk selama-lamanya (g).

(a) Kis 11:26. (b) 1Ko 3:23. (c) 1Yo 2:27. (d) Mat 10:32. (e) Rom 12:1. (f) Efe 6:11. (g) 2Ti 2:12.

Minggu ke-13

  1. Pert. Mengapa Dia dinamakan Anak Allah yang tunggal, padahal kita pun menjadi anak-anak Allah?
    Jaw. Sebab hanya Kristus saja yang adalah Anak Allah yang sehakikat dan yang sama-sama kekal (a). Sebaliknya, kita diangkat menjadi anak-anak Allah karena Dia, berdasarkan kasih karunia (b).

(a) Yoh 1:14. (b) Yoh 1:12.

  1. Pert. Mengapa Saudara menyebut Dia Tuhan kita?
    Jaw. Sebab Dia telah menebus kita, tubuh dan jiwa, bukan dengan emas atau perak, melainkan dengan darah-Nya yang tak ternilai harganya, sehingga kita bukan lagi hamba dosa, dan telah melepaskan kita dari segala kuasa iblis, dan dengan demikian menjadikan kita milik-Nya (a).

(a) 1Pe 1:18-19.

Minggu ke-14

  1. Pert. Apa arti perkataan ini: yang dikandung dari Roh Kudus, lahir dari anak dara Maria?
    Jaw. Bahwa Anak Allah yang kekal itu, yang tetap (a) tinggal Allah sejati dan kekal (b), telah mengenakan tabiat manusia sejati dari daging dan darah anak dara Maria (c) oleh karya Roh Kudus (d), supaya Dia juga menjadi keturunan Daud yang sejati (e), yang dalam segala hal serupa dengan saudara-saudara-Nya (f),terkecuali dalam hal dosa (g).

(a) Kol 1:15. (b) 1Yo 5:20b. (c) Gal 4:4. (d) Luk 1:35. (e) Rom 1:3. (f) Ibr 2:17. (g) Ibr 4:15.

  1. Pert. Apa manfaat yang Saudara peroleh dari kenyataan bahwa Kristus telah dikandung secara suci dan lahir?
    Jaw. Dia adalah Pengantara kita (a), dan karena ketidakbersalahan dan kesucian-Nya yang sempurna maka di hadapan Allah Dia menutupi dosaku yang telah kusandang sejak saat aku dikandung dan dilahirkan.

(a) 1Ti 2:5. (b) Maz 32:1.

  1. Pert. Apa arti kata menderita menurut Saudara?
    Jaw. Artinya, Dia telah menanggung murka Allah atas dosa seluruh umat manusia pada tubuh dan jiwa-Nya (a), selama Dia hidup di dunia ini tetapi terutama pada akhir hidup-Nya. Maksudnya, supaya dengan penderitaan-Nya, sebagai kurban perdamaian satu-satunya (b), Dia melepaskan tubuh dan jiwa kita dari hukuman yang kekal (c), dan memperoleh bagi kita anugerah Allah, kebenaran, dan hidup yang kekal (d).

(a) Yes 53:4. (b) 1Ko 5:7. (c) Gal 3:13. (d) 2Ko 5:21.

  1. Pert. Mengapa Dia menderita di bawah hakim Pontius Pilatus?
    Jaw. Supaya Dia, walaupun tidak bersalah, dihukum di hadapan pengadilan dunia (a), dan dengan demikian meluputkan kita dari hukuman Allah yang keras, yang hendak dilaksanakan atas kita (b).

(a) Mat 27:24. (b) Yes 53:5.

  1. Pert. Apakah kematian-Nya mempunyai arti lebih besar karena terjadi pada kayu salib dibandingkan dengan mati secara lain?
    Jaw. Lebih besar artinya, sebab dengan demikian aku mempunyai kepastian, bahwa Dia telah menanggung kutuk yang ada atas diriku (a), mengingat bahwa kematian pada kayu salib itu terkutuk di hadapan Allah (b).

(a) Gal 3:13. (b) Ula 21:23.

Minggu ke-16

  1. Pert. Mengapa Kristus harus merendahkan diri sampai mati? Jaw. Sebab, menurut keadilan dan kebenaran Allah (a), hutang dosa-dosa kita tidak dapat dilunasi dengan cara lain kecuali dengan kematian Anak Allah (b).

(a) Kej 2:17. (b) Rom 8:4.

  1. Pert. Mengapa Dia dikuburkan?
    Jaw. Supaya dengan demikian ditegaskan bahwa Dia telah benar-benar mati (a).

(a) Kis 13:29.

  1. Pert. Jika Kristus telah mati untuk kita, mengapa kita juga harus mati?
    Jaw. Kematian kita bukanlah pelunasan utang dosa-dosa kita (a), melainkan kematian bagi dosa, dan pintu masuk ke dalam hidup yang kekal (b).

(a) Mar 8:37. (b) Fil 1:23.

  1. Pert. Manfaat apa lagi yang kita peroleh dari pengorbanan dan kematian Kristus pada salib?
    Jaw. Oleh kekuatan pengorbanan dan kematian itu, manusia lama kita ikut disalibkan, dimatikan, dan dikuburkan bersama dengan Dia (a), supaya hawa nafsu daging tidak berkuasa lagi dalam diri kita (b), tetapi kita mempersembahkan diri kita menjadi korban syukur bagi-Nya (c).

(a) Rom 6:6, 8. (b) Rom 6:12. (c) Rom 12:1.

  1. Pert. Mengapa ditambahkan kata-kata turun ke dalam kerajaan maut?
    Jaw. Supaya dalam godaan-godaan yang paling sengit sekalipun, aku mendapat keyakinan dan hiburan yang sungguh-sungguh bahwa Tuhanku Yesus Kristus telah melepaskan aku dari ketakutan dan kesakitan neraka (a), oleh ketakutan, nestapa, kegentaran, dan siksa neraka yang tidak terkatakan yang telah diderita-Nya selama masa sengsara-Nya, teristimewa di kayu salib (b).

(a) Mat 27:46. (b) Yes 53:5.

Minggu ke-17

  1. Pert. Apa manfaat kebangkitan Kristus bagi kita?
    Jaw. Pertama, oleh kebangkitan-Nya Dia telah mengalahkan maut, supaya Dia dapat memberikan kepada kita kebenaran yang telah diperoleh-Nya dengan kematian- Nya (a). Kedua, oleh kuasa kebangkitan itu kita pun dibangkitkan untuk menempuh kehidupan yang baru (b). Ketiga, bagi kita kebangkitan Kristus menjadi jaminan kebangkitan kita yang membahagiakan (c).

(a) Rom 4:25. (b) Rom 6:4. (c) 1Ko 15:22.

Minggu ke-18

  1. Pert. Apa arti naik ke sorga menurut Saudara?
    Jaw. Bahwa di depan mata murid-murid-Nya Kristus terangkat dari bumi naik ke sorga (a), dan bahwa Dia berada di sana untuk kebaikan kita (b), sampai Dia datang kembali untuk menghakimi orang yang hidup dan yang mati (c).

(a) Kis 1:9. (b) Rom 8:34. (c) Kis 1:11.

  1. Pert. Bukankah Kristus menyertai kita sampai pada akhir zaman, sebagaimana telah dijanjikan-Nya kepada kita (a)?
    Jaw. Kristus adalah manusia sejati dan Allah sejati. Menurut tabiat kemanusiaan-Nya, Dia tidak ada lagi di atas bumi (b), tetapi menurut keallahan, kemuliaan, anugerah, dan Roh-Nya, Dia tidak pernah meninggalkan kita (c).

(a) Mat 28:20. (b) Mat 26:11. (c) Mat 18:20.

  1. Pert. Tetapi, jika kemanusiaan-Nya itu tidak terdapat di segala tempat bersama dengan keallahan, bukankah kedua tabiat Kristus itu terpisah yang satu dengan yang lain?
    Jaw. Sekali-kali tidak. Keallahan itu tak dapat dikurung oleh apa pun, dan hadir di segala tempat (a). Oleh karena itu, keallahan itu memang berada di luar kemanusiaan yang telah dikenakannya (b), namun berdiam juga di dalamnya dan tetap bersatu dengannya menjadi satu Pribadi.

(a) Yer 23:24. (b) Kol 2:9.

  1. Pert. Apa manfaat kenaikan Kristus ke sorga bagi kita?
    Jaw. Pertama, di sorga Dia menjadi Jurusyafaat bagi kita di hadapan Bapa-Nya (a). Kedua, adanya daging kita di sorga menjadi jaminan yang pasti bahwa Dia, sebagai Kepala, akan menyambut kita, yaitu anggota-anggota-Nya (b). Ketiga, Dia mengutus Roh-Nya kepada kita supaya juga menjadi jaminan bagi kita (c). Oleh kuasa Roh itu kita mencari perkara yang di atas, tempat Kristus duduk di sebelah kanan Allah, dan bukan perkara yang di bumi (d).

(a) 1Yo 2:1. (b) Yoh 14:2. (c) Yoh 14:16. (d) Kol 3:1.

Minggu ke-19

  1. Pert. Mengapa ditambahkan lagi kata-kata duduk di sebelah kanan Allah?
    Jaw. Karena Kristus telah naik ke sorga, supaya di sana Dia menyatakan diriNya sebagai Kepala Gereja Kristen yang menjadi milik-Nya (a), dan dengan perantaraan Dialah Allah Bapa memerintah segala sesuatu (b).

(a) Efe 1:22. (b) Mat 28:18.

  1. Pert. Apa manfaat kemuliaan Kristus, Kepala kita itu, bagi kita?
    Jaw. Pertama, Dia, oleh Roh-Nya yang Kudus, mencurahkan karunia-karunia sorgawi ke dalam diri kita, anggota-anggota-Nya (a). Kedua, dengan kuasaNya Dia melindungi dan memelihara kita terhadap semua musuh (b).

(a) Kis 2:33. (b) Yoh 10:28.

  1. Pert. Penghiburan apa yang Saudara peroleh dari kedatangan Kristus kembali untuk menghakimi orang yang hidup dan yang mati?
    Jaw. Bahwa dalam segala kedukaan dan penganiayaan, dengan kepala tegak aku tetap menantikan kedatangan Dia, yang dahulu menghadapi pengadilan Allah guna kebaikanku, dan yang telah mengangkat seluruh kutuk Allah dariku, untuk menjadi Hakim sorgawi (a). Dia akan membuang semua musuh-Nya, yang adalah juga musuhku, ke tempat kutuk yang kekal (b), tetapi akan menyambut aku bersama dengan semua orang pilihan-Nya dalam kesukaan dan kebahagiaan yang di sorga (c).

(a) Fil 3:20. (b) 2Tes 1:8. (c) Mat 25:34.

ALLAH ROH KUDUS DAN PENGUDUSAN KITA

Minggu ke-20

  1. Pert. Apakah yang Saudara percayai tentang Roh Kudus?
    Jaw. Pertama, bahwa Dia bersama dengan Bapa dan Anak adalah Allah yang sejati dan kekal (a). Kedua, bahwa Dia dikaruniakan juga kepadaku (b), supaya Dia membuat aku, oleh iman yang sejati, beroleh bagian dalam Kristus dan segala anugerah-Nya (c), menghibur aku (d), dan menyertai aku untuk selama-lamanya (e).

(a) 1Yo 5:7. (b) Gal 4:6. (c) Gal 3:14. (d) Yoh 15:26. (e) Yoh 14:16.

Minggu ke-21

  1. Pert. Apakah yang Saudara percayai tentang Gereja yang kudus dan am?
    Jaw. Bahwa Anak Allah (a), oleh Roh dan Firman-Nya (b), sejak awal dunia ini sampai akhir zaman (c), mengumpulkan, melindungi, dan memelihara bagi diri-Nya (d) dari segenap umat manusia (e), dalam kesatuan iman yang benar (f), satu jemaat yang terpilih untuk beroleh hidup yang kekal (g). Aku percaya bahwa aku adalah anggota yang hidup jemaat itu (h) dan akan tetap menjadi anggotanya untuk selama-lamanya (i).

(a) Yoh 10:9. (b) Kis 16:14. (c) Yes 59:21. (d) Mat 16:18. (e) Wah 5:9. (1) Kis 2:42. (g) Kis 13:48. (h) 2Kor 13:5. (i) 1Pe 1:5.

  1. Pert. Apa arti persekutuan orang kudus menurut Saudara?
    Jaw. Pertama, bahwa semua orang beriman dan tiap-tiap orang beriman secara perseorangan, sebagai anggota Tuhan Kristus, mendapat bagian dalam Dia dan dalam semua harta-Nya serta semua karunia-Nya (a). Kedua, bahwa tiap-tiap orang percaya harus menyadari kewajibannya untuk dengan sukarela dan gembira mempergunakan segala karunia yang didapatnya demi kebaikan dan keselamatan anggota lain (b).

(a) 1Ko 12:12, 14. (b) 1Pe 4:10.

  1. Pert. Apakah yang Saudara percayai tentang pengampunan dosa?
    Jaw. Bahwa Allah sama sekali tidak lagi hendak mengingat dosa-dosaku dan juga watakku yang berdosa yang sepanjang hidup menjadi lawan bagiku, karena Kristus telah melakukan pelunasan untuknya (a). Sebaliknya, Dia menganugerahkan kebenaran Kristus kepadaku, karena kasih karunia, (b), supaya aku sama sekali tidak perlu lagi menghadapi pengadilan Allah (c).

(a) 1Yo 2:2. (b) Yer 31:34. (c) Yoh 5:24.

Minggu ke-22

  1. Pert. Penghiburan apa yang Saudara peroleh dari kebangkitan daging?
    Jaw. Bahwa sesudah hidup ini bukan hanya jiwaku akan segera diangkat kepada Kristus, Kepalanya (a), melainkan juga dagingku akan dibangkitkan oleh kuat- kuasa Kristus, lalu dipersatukan kembali dengan jiwaku, dan akan menjadi serupa dengan tubuh Kristus yang mulia (b).

(a) Luk 23:43. (b) Fil 3:21.

  1. Pert. Penghiburan apa yang Saudara timba dari bagian mengenai hidup yang kekal?
    Jaw. Karena sekarang ini juga sudah kurasakan dalam hati asas kesukaan yang kekal (a), maka sesudah hidup ini aku akan beroleh kebahagiaan yang sempurna, yang belum pernah dilihat oleh mata, dan belum pernah didengar oleh telinga, dan belum pernah timbul di dalam hati manusia, supaya di dalamnya aku memuji Allah untuk selama-lamanya (b).

(a) 1Pe 1:8-9. (b) 1Ko 2:9.

PEMBENARAN OLEH IMAN

Minggu ke-23

  1. Pert. Tetapi, apa manfaatnya bagi Saudara, jika Saudara percaya kepada semua hal ini?
    Jaw. Bahwa di dalam Kristus aku benar di hadapan Allah dan dijadikan ahli waris hidup yang kekal (a).

(a) Rom 5:1.

  1. Pert. Bagaimana Saudara benar di hadapan Allah?
    Jaw. Hanya oleh iman yang sejati kepada Yesus Kristus (a). Hati nuraniku memang mempersalahkan aku, karena aku berbuat dosa berat terhadap segala hukum Allah dan tidak ada yang kutaati (b), dan karena aku masih tetap cenderung pada segala macam kejahatan (c). Namun, Allah, tanpa jasa apa pun dari pihakku (d), semata-mata berdasarkan rahmat (e), memberikan kepadaku anugerah ini: pelaksanaan pelunasan oleh Kristus (f), kebenaran-Nya, dan kesucian-Nya yang sempurna (g) dianggap-Nya sebagai milikku (h), seolah-olah aku belum pernah dihinggapi dosa atau berbuat dosa, bahkan seolah-olah aku sendirilah yang mengerjakan segala ketaatan yang dikerjakan oleh Kristus untukku (i), asal saja anugerah itu kuterima dengan hati yang percaya (j).

(a) Gal 2:16. (b) Rom 3:23. (c) Rom 7:23. (d) Rom 3:24. (e) Tit 3:5. (f) 1Yo 2:2. (g) 1Yo 2:1. (h) 2Ko 5:19. (i) 1Pe 1:5. (j) Rom 3:22.

  1. Pert. Mengapa Saudara mengatakan bahwa Saudara benar hanya oleh iman?
    Jaw. Bukan karena layaknya imanku membuat Allah berkenan kepadaku, melainkan karena hanya pelaksanaan pelunasan oleh Kristus, kebenaran-Nya, dan kesucian-Nya semata-mata merupakan kebenaranku di hadapan Allah (a), dan karena semua itu tidak mungkin kuterima dan kuraih dengan cara lain kecuali melalui iman (b).

(a) 1Ko 1:30. (b) 1Yo 5:10.

Minggu ke-24

  1. Pert. Tetapi, apa sebabnya perbuatan baik kita tidak dapat menjadi kebenaran kita di hadapan Allah, biarpun untuk sebagian saja?
    Jaw. Karena kebenaran yang dapat bertahan di hadapan pengadilan Allah harus sungguh-sungguh sempurna dan dalam segala hal sesuai dengan hukum Allah (a), dan karena perbuatan kita yang terbaik pun dalam hidup ini tidak sempurna dan tercemar oleh karena dosa (b).

(a) Gal 3:10. (b) Yes 64:6.

  1. Pert. Apa? Adakah perbuatan baik kita tidak menghasilkan ganjaran? Padahal, Allah hendak memberi ganjaran, baik dalam hidup sekarang ini maupun dalam hidup yang akan datang?
    Jaw. Ganjaran itu terjadi bukan berdasarkan amal, melainkan berdasarkan rahmat saja (a).

(a) Luk 17:10.

  1. Pert. Akan tetapi, tidakkah ajaran ini menjadikan manusia tidak peduli dan fasik?
    Jaw. Tidak, karena barang siapa yang telah menjadi anggota tubuh Kristus, oleh iman yang sungguh-sungguh, tidak dapat tidak menghasilkan buah berupa perbuatan baik, yang timbul dari rasa syukur kepada Allah (a).

(a). Mat 7:18.

SAKRAMEN-SAKRAMEN

Minggu ke-25

  1. Pert. Mengingat bahwa hanya iman yang membuat kita mendapat bagian dalam Kristus dan segala anugerah-Nya, dari manakah datangnya iman yang demikian itu?
    Jaw. Dari Roh Kudus (a), yang bekerja menciptakan iman itu dalam hati kita melalui pemberitaan Injil yang kudus, dan yang menguatkannya melalui penerimaan Sakramen (b).

(a) Efe 2:8. (b) Rom 10:17.

  1. Pert. Apa itu Sakramen?
    Jaw. Sakramen adalah tanda dan meterai yang kudus serta kasatmata, yang telah ditetapkan oleh Allah. Melalui penerimaan sakramen, diterangkan-Nya dan dimeteraikan-Nya kepada kita secara lebih jelas lagi janji Injil, yaitu bahwa Dia menganugerahkan kepada kita pengampunan semua dosa dan hidup yang kekal, hanya berdasarkan rahmat, karena kurban Kristus yang satu- satunya, yang telah terjadi di kayu salib (a).

(a) Rom 4:11.

  1. Pert. Jadi, apakah keduanya, yaitu Firman dan Sakramen-sakramen, ditetapkan dengan tujuan agar olehnya iman kita diarahkan kepada kurban Yesus Kristus pada kayu salib itu sebagai satu-satunya dasar keselamatan kita?
    Jaw. Ya. Roh Kudus mengajarkan kepada kita dalam Injil dan meneguhkan melalui Sakramen, bahwa keselamatan kita yang sempurna berdasarkan kurban Kristus yang satu-satunya, yang telah terjadi bagi kita pada kayu salib (a).

(a) Rom 6:3.

  1. Pert. Berapa jumlah Sakramen yang ditetapkan Kristus dalam Perjanjian Baru?
    Jaw. Dua, yaitu Baptisan Kudus dan Perjamuan Kudus.

Minggu ke-26

  1. Pert. Bagaimana Saudara diingatkan dan diyakinkan dalam Baptisan Kudus, bahwa kurban Kristus yang satu-satunya, yang terjadi pada kayu salib itu, menjadi kebaikan bagi Saudara?
    Jaw. Kristus telah menetapkan permandian lahiriah ini (a), disertai janji (b). Sebagaimana tubuhku pasti dibasuh secara lahiriah oleh air, yang biasa dipakai untuk menghilangkan kotoran tubuh, sepasti itu pula aku telah dibasuh dengan darah dan Roh-Nya dari kecemaran jiwaku, yaitu semua dosaku (c).

(a) Kis 2:38. (b) Mat 28:19. (c) 1Pe 3:21.

  1. Pert. Apa itu: dibasuh dengan darah dan Roh Kristus?
    Jaw. Mendapat pengampunan dosa dari Allah, berdasarkan rahmat, karena darah Kristus yang telah ditumpahkan-Nya bagi kita dengan pengurbanan-Nya pada kayu salib (a), dan pembaruan oleh Roh Kudus serta pengudusan olehNya menjadi anggota tubuh Kristus, supaya kita makin lama makin mati bagi dosa dan menempuh hidup saleh serta tidak bercela (b).

(a) Kol 1:14. (b) Rom 6:3-4.

  1. Pert. Di mana Kristus berjanji kepada kita bahwa, sebagaimana kita pasti dibasuh oleh air baptisan, sepasti itu pula Dia mau membasuh kita dengan darah dan Roh-Nya?
    Jaw. Dalam penetapan Baptisan, yang berbunyi sebagai berikut, Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus (Mat 28:19), dan, Siapa yang percaya dan dibaptis akan diselamatkan, tetapi siapa yang tidak percaya akan dihukum (Mar 16:16). Janji itu diulang, ketika Alkitab menyebut Baptisan adalah permandian kelahiran kembali (Tit 3:5) dan pembasuhan dari semua dosa (Kis 22:16).

Minggu ke-27

  1. Pert. Jadi, apakah permandian lahiriah itu sendiri pembasuhan dari dosa- dosa?
    Jaw. Bukan (a), karena hanya darah Yesus Kristus, dan Roh Kudus yang membasuh kita dari segala dosa (b).

(a) 1Pe 3:21. (b) 1Yo 1:7.

  1. Pert. Kalau demikian, apa alasan Roh Kudus menamakan Baptisan itu ‘permandian kelahiran kembali’ dan ‘pembasuhan dari dosa-dosa’?
    Jaw. Allah berfirman demikian bukan tanpa alasan yang sangat penting. Pertama, dengan demikian Dia hendak mengajar kita bahwa, sama seperti kotoran tubuh dihilangkan dengan air, begitu pula segala dosa kita dihilangkan oleh darah dan Roh Yesus Kristus (a). Tetapi terutama, melalui jaminan dan tanda ilahi ini Dia hendak memastikan kepada kita bahwa, sebagaimana tubuh kita benar- benar dibasuh secara lahiriah dengan air, begitu pula kita benar-benar dibasuh secara rohani dari segala dosa kita (b).

(a) Wah 1:5. (b) Gal 3:27.

  1. Pert. Haruskah anak-anak kecil juga dibaptis?
    Jaw. Harus. Mereka termasuk dalam perjanjian Allah dan dalam jemaat-Nya, sama seperti orang-orang dewasa (a). Lagi pula, melalui darah Kristus, mereka, tidak kurang daripada orang dewasa (b), menerima janji kelepasan dari dosa-dosa dan Roh Kudus yang bekerja menciptakan iman (c). Maka mereka pun perlu dimasukkan dalam Gereja Kristen dan dibedakan dari anak-anak orang tidak percaya (d), melalui Baptisan, sebagai tanda perjanjian itu, sebagaimana dalam Perjanjian Lama dilakukan melalui Sunat (e), yang dalam Perjanjian Baru diganti dengan Baptisan (f).

(a) Kej 17:7. (b) Kis 2:39. (c) Mat 19:14. (d) Kis 10:47. (e) Kej 17:12-13. (f) Kol 2:11-13.

PERJAMUAN KUDUS

Minggu ke-28

  1. Pert. Bagaimana* Saudara diingatkan dan diyakinkan dalam Perjamuan Kudus, bahwa Saudara mendapat bagian dalam kurban Kristus yang satu-satunya, yang terjadi pada kayu salib, dan dalam semua harta-Nya?
    Jaw. Kristus telah memerintahkan aku dan semua orang percaya, supaya makan dari roti yang dipecah-pecahkan dan minum dari cawan agar perbuatan itu menjadi peringatan akan Dia. Dia menambahkan janji janji ini (a). Pertama, bahwa sebagaimana aku melihat dengan mata kepala sendiri bahwa roti Tuhan dipecah- pecahkan untukku dan cawan diberikan kepadaku, sepasti itu pula tubuh-Nya dikurbankan bagiku dan darah-Nya ditumpahkan untukku di kayu salib. Kedua, sebagaimana dari tangan pelayan aku menerima roti dan cawan Tuhan sebagai tanda- tanda yang pasti dari tubuh dan darah Kristus, dan mengecapnya dengan mulutku, sepasti itu pula Dia sendiri memberi makan dan minum jiwaku dengan tubuh-Nya yang disalibkan dan darah-Nya yang ditumpahkan, supaya aku beroleh hidup yang kekal.

(a) Mat 26:26-28.

  1. Pert. Apa arti, ‘makan tubuh Kristus yang disalibkan’ dan ‘minum darahNya yang ditumpahkan’?
    Jaw. Artinya, bahwa kita menerima seluruh penderitaan dan kematian Kristus dengan hati yang percaya, dan dengan demikian memperoleh pengampunan dosa-dosa dan hidup yang kekal (a). Di samping itu, bahwa kita makin lama makin dipersatukan dengan tubuh-Nya yang kudus oleh Roh Kudus yang tinggal dalam Kristus maupun dalam kita (b). Memang, Kristus ada di sorga (c) dan kita di bumi. Namun, persatuan itu membuat kita menjadi daging dari daging-Nya dan tulang dari tulang-tulang-Nya (d), serta hidup dan diperintah oleh satu Roh untuk selama-lamanya, sama seperti anggota-anggota tubuh hidup dan diperintah oleh satu jiwa (e).

(a) Yoh 6:35. (b) Yoh 6:56. (c) Kis 3:21. (d) Efe 5:30. (e) Efe 2:21-22.

  1. Pert. Kristus berjanji, sebagaimana orang percaya makan dari roti yang dipecah-pecahkan dan minum dari cawan, sepasti itu pula Dia akan mengenyangkan mereka dengan tubuh-Nya dan menyegarkan mereka dengan darahNya. Di mana janji itu terdapat?
    Jaw. Dalam penetapan Perjamuan Malam yang berbunyi (a), Sebab apa yang telah kuteruskan kepadamu, telah aku terima dari Tuhan, yaitu bahwa Tuhan Yesus, pada malam waktu Dia diserahkan, mengambil roti dan sesudah itu Dia mengucap syukur atasnya; Dia memecah-mecahkannya dan berkata, Inilah tubuh-Ku, yang diserahkan bagi kamu; perbuatlah ini menjadi peringatan akan Aku!’ Demikian juga Dia mengambil cawan, sesudah makan, lalu berkata, ‘Cawan ini adalah perjanjian baru yang dimeteraikan oleh darah-Ku; perbuatlah ini, setiap kali kamu meminumnya, menjadi peringatan akan Aku!’ Sebab setiap kali kamu makan roti ini dan minum dari cawan ini, kamu memberitakan kematian Tuhan sampai Dia datang.’ (1Ko 11:23-26). Janji ini diulang Rasul Paulus, katanya, ‘Bukankah cawan pengucapan syukur, yang atasnya kita ucapkan syukur, adalah persekutuan dengan darah Kristus? Bukankah roti yang kita pecah-pecahkan adalah persekutuan dengan tubuh Kristus? Karena roti adalah satu, maka kita, sekalipun banyak, adalah satu tubuh, karena kita semua mendapat bagian dalam roti yang satu itu’ (1Ko 10:16-17).

(a) Mat 26:26-28.

Minggu ke-29

  1. Pert. Apakah roti dan anggur itu berubah menjadi tubuh dan darah Kristus yang sesungguhnya?
    Jaw. Tidak (a). Sebagaimana air dalam Baptisan tidak diubah menjadi darah Kristus, dan tidak menjadi pembasuh dari dosa-dosa itu, tetapi hanya merupakan tanda dan jaminan dari Allah (b), demikian pula roti dalam Perjamuan Malam tidak menjadi tubuh Kristus (c), meskipun, sesuai dengan sifat Sakramen-sakramen (d), roti itu disebut tubuh Yesus Kristus.

(a) Mat 26:29. (b) Efe 5:26. (c) 1Ko 10:16. (d) 1Ko 10:3-4.

  1. Pert. Kalau begitu, mengapa Kristus menyebut roti itu ‘tubuh-Nya’ dan minuman dalam cawan itu ‘darah-Nya’ atau ‘perjanjian baru di dalam darahNya’, dan mengapa Paulus menyebutnya ‘persekutuan dengan tubuh dan darah Kristus’?
    Jaw. Kristus berfirman demikian bukan tanpa alasan yang sangat penting. Pertama, dengan demikian Dia hendak mengajar kita bahwa, sama seperti roti dan anggur memelihara hidup kita sementara di dunia ini, demikian pula tubuh-Nya yang telah disalibkan dan darah-Nya yang ditumpahkan itu merupakan makanan dan minuman yang sesungguhnya bagi jiwa kita untuk hidup yang kekal (a). Tetapi terutama, melalui tanda dan jaminan yang kelihatan ini Dia hendak memastikan kepada kita bahwa, sama seperti kita menerima tanda-tanda kudus ini dengan mulut jasmani menjadi peringatan akan Dia, demikian pula kita sungguh-sungguh mendapat bagian dalam tubuh dan darah-Nya melalui pekerjaan Roh Kudus (b), dan bahwa penderitaan dan ketaatan-Nya itu pasti menjadi milik kita, seolah-olah kita sendiri telah merasakan segala kesengsaraan itu dan melunasi utang dosa kita kepada Allah.’

(a) Yoh 6:55. (b) 1Ko 10:16.

Minggu ke-30

  1. Pert. Apa beda antara Perjamuan Malam Tuhan dengan ‘Misa’ Gereja Katolik Roma?
    Jaw. Perjamuan Malam Tuhan menegaskan kepada kita, bahwa kita telah beroleh pengampunan sempurna atas segala dosa kita oleh kurban Yesus Kristus, yang satu- satunya, yang telah dipersembahkan-Nya sendiri satu kali saja di kayu salib (a), dan bahwa, oleh Roh Kudus, kita dijadikan anggota tubuh Kristus (b). Menurut tabiat kemanusiaan-Nya, sekarang Dia tidak ada lagi di atas bumi, tetapi di sorga, di sebelah kanan Allah Bapa-Nya (c), dan Dia ingin supaya di sana kita menyembah-Nya (d). Sedangkan Misa mengajarkan bahwa orang yang hidup dan yang mati tidak memperoleh pengampunan dosa karena penderitaan Kristus, kecuali kalau Kristus tiap-tiap hari dikurbankan lagi bagi mereka oleh imam-imam Misa, dan bahwa Kristus dengan tubuh-Nya hadir dalam rupa roti dan anggur, dan karena itulah harus disembah dalam roti dan anggur itu. Itulah sebabnya Misa itu pada dasarnya tidak lain dan tidak bukan merupakan penyangkalan kurban dan penderitaan Yesus Kristus yang satu-satunya, dan penyembahan berhala yang terkutuk (e).

(a) Ibr 10:10, 12, 14. (b) 1Ko 10:17. (c) Kol 3:1. (d) Kis 7:55. (e) Ibr 9:26.

81 Pert. Untuk siapa Perjamuan Malam Tuhan ditetapkan?
Jaw. Untuk mereka yang menyesali dirinya karena dosa-dosanya, namun tetap percaya bahwa dosanya itu telah diampuni karena Kristus dan bahwa juga segala kelemahan yang masih tertinggal ditutup oleh penderitaan serta kematianNya; mereka yang juga ingin makin menguatkan iman dan membenahi hidup mereka. Sebaliknya, orang munafik dan mereka yang tidak bertobat kepada Allah dengan ikhlas, mereka itu mendatangkan hukuman atas diri mereka dengan makan dan minum (a).

(a) 1Ko 10:21.

  1. Pert. Apakah mereka yang dalam hal pengakuan iman dan perihidupnya ternyata bertindak sebagai orang tidak percaya dan fasik diizinkan turut serta dalam Perjamuan Kudus?
    Jaw. Tidak, karena dengan demikian perjanjian Allah dinajiskan dan murkaNya dibangkitkan atas seluruh jemaat (a). Oleh karena itu, Gereja Kristen wajib mengucilkan mereka dengan mempergunakan kunci-kunci kerajaan sorga, sesuai dengan penetapan Kristus dan Rasul-rasul-Nya, sampai mereka itu terbukti telah membenahi hidupnya.

(a) Mat 7:6.

Minggu ke-31

  1. Pert. Apa itu ‘kunci-kunci kerajaan sorga’?
    Jaw. Pemberitaan Injil yang kudus dan pengucilan resmi atau pemutusan hubungan dengan jemaat Kristen. Dengan kedua sarana itulah kerajaan sorga dibuka bagi orang-orang yang percaya, dan ditutup bagi orang-orang yang tidak percaya.
  2. Pert. Bagaimana kerajaan sorga dibuka dan ditutup melalui pemberitaan Injil yang kudus?
    Jaw. Menurut perintah Kristus, kepada semua orang percaya, dan kepada tiap- tiap orang percaya secara perseorangan, diberitakan dan ditegaskan dengan nyata bahwa, setiap kali mereka menerima janji Injil dengan iman yang benar, semua dosa mereka sungguh-sungguh diampuni oleh Allah karena jasa Kristus. Sebaliknya, kepada semua orang yang tidak percaya dan mereka yang tidak sungguh-sungguh bertobat, diberitakan dan ditegaskan bahwa mereka tetap kena murka Allah dan hukuman yang kekal selama mereka tidak bertobat (a). Allah akan menjatuhkan hukuman menurut kesaksian Injil ini, baik dalam hidup sekarang ini maupun dalam hidup yang akan datang.

(a) Mat 16:19.

  1. Pert. Bagaimana kerajaan sorga ditutup dan dibukakan melalui pengucilan resmi dari jemaat Kristen?
    Jaw. Menurut perintah Kristus, mereka yang memakai nama Kristen, namun membawakan ajaran bukan Kristen atau menempuh hidup yang bukan Kristen, harus berkali-kali dinasihati secara persaudaraan. Kalau mereka tidak mau melepaskan ajaran sesatnya atau cara hidupnya yang keji, namanya harus diberitahukan kepada jemaat, atau kepada orang-orang yang oleh jemaat diangkat untuk menangani perkara-perkara semacam itu. Kalau mereka tidak menghiraukan nasihat itu, orang- orang itu akan mengucilkan mereka dari jemaat Kristen dengan cara melarang mereka menerima Sakramen-sakramen yang kudus, dan oleh Allah sendiri mereka dikucilkan pula dari kerajaan Kristus. Tetapi jika mereka berjanji akan bertobat dan menunjukkan pertobatan yang sungguh-sungguh, mereka akan diterima kembali sebagai anggota Kristus dan jemaat-Nya (a).

(a) Mat 18:15-17.

BAGIAN KETIGA: SYUKUR YANG WAJIB DIPERSEMBAHKAN KEPADA ALLAH KARENA KELEPASAN ITU

Minggu ke-32

  1. Pert. Mengingat bahwa Kristus telah melepaskan kita dari kesengsaraan kita hanya oleh rahmat, tanpa jasa apa pun dari pihak kita, mengapa kita masih perlu melakukan perbuatan baik?
    Jaw. Karena Kristus, setelah menebus kita dengan darah-Nya, juga membarui kita melalui Roh-Nya yang Kudus menjadi serupa dengan gambar-Nya, supaya kita dengan seluruh kehidupan kita memberi syukur kepada Allah karena anugerah-Nya (a) dan Dia kita puji (b). Selanjutnya, supaya masing-masing dalam hatinya yakin tentang imannya karena buah-buah iman itu (c), dan supaya sesama kita manusia, dengan melihat kehidupan kita yang saleh, tertarik kepada Kristus (d).

(a) 1Ko 6:20. (b) Mat 5:16. (c) 2Pe 1:10. (d) Rom 14:19.

  1. Pert. Jadi, mereka yang berkanjang dalam hidupnya yang fasik dan tidak mengenal syukur, dan tidak bertobat kepada Allah, tidak dapat beroleh selamat?
    Jaw. Sama sekali tidak, karena Kitab Suci berkata bahwa orang cabul, penyembah berhala, pezina, pencuri, orang serakah, pemabuk, pemfitnah, perampok, dan sejenis, tidak akan mendapat bagian dalam Kerajaan Allah (a).

(a) 1Ko 6:9-10.

Minggu ke-33

Pert. Pertobatan manusia yang sungguh-sungguh terdiri atas berapa bagian?
Jaw. Dua bagian, yaitu kematian manusia lama dan kebangkitan manusia baru (a).

(a) Efe 4:22-24.

  1. Pert. Apa itu ‘kematian manusia lama’?
    Jaw. Sungguh-sungguh menyesali bahwa kita telah menimbulkan murka Allahkarena dosa kita, dan semakin membenci dan menjauhi dosa itu (a).

(a) 2Ko 7:10.

  1. Pert. Apa itu ‘kebangkitan manusia baru’?
    Jaw. Sungguh-sungguh bersukacita dalam Allah karena Kristus (a), dan rela suka akan hidup sesuai dengan kehendak Allah sambil melakukan segalaperbuatan baik (b).

(a) Rom 5:1. (b) Efe 2:10.

  1. Pert. Tetapi, apa itu ‘perbuatan baik’?
    Jaw. Hanyalah perbuatan yang timbul dari iman yang sungguh-sungguh (a), dan yang seturut hukum Taurat Allah (b), untuk memuliakan Dia (c), bukan perbuatan yang berdasarkan kemauan kita atau aturan manusia sendiri (d).

(a) Rom 14:23. (b) Gal 6:16. (c) 1Ko 1:31. (d) Mat 15:9.

HUKUM TAURAT ALLAH

Minggu ke-34

  1. Pert. Bagaimana bunyi hukum Taurat Allah itu?
    Jaw. Allah mengucapkan semua perintah ini (Kel 20:1-17, Ula 5:6-21), Akulah TUHAN, Allahmu, yang membawa engkau keluar dari tanah Mesir, dari tempat perbudakan.

Perintah ke-1
Jangan ada padamu allah lain di hadapan-Ku.

Perintah ke-2
Jangan membuat bagimu patung yang menYeruPai apa pun yang ada di langit di atas, atau yang ada di bumi di bawah, atau yang ada di dalam air di bawah bumi. Jangan sujud menyembah kepadanya atau beribadah kepadanya, sebab Aku, TUHAN, Allahmu, adalah Allah yang cemburu, yang membalaskan kesalahan bapa kepada anak- anaknya, kepada keturunan yang ketiga dan keempat duri orang-orang yang membenci Aku, tetapi Aku menunjukkan kasih setia kepada beribu-ribu orang, yaitu mereka yang mengasihi Aku dan yang berpegang pada perintah perintah-Ku.

Perintah ke-3
Jangan menyebut nama TUHAN, Allahmu, dengan sembarangan, sebab TUHAN akan memandang bersalah orang yang menyebut nama-Nya dengan sembarangan.

Perintah ke-4
Ingatlah dan kuduskanlah hari Sabat: enam hari lamanya engkau akan bekerja dan melakukan segala pekerjaanmu, tetapi hari ketujuh adalah hari Sabat TUHAN, Allahmu:
maka jangan melakukan sesuatu pekerjaan, engkau atau anakmu laki-laki, atau anakmu perempuan, atau hambamu laki-laki, atau hambamu perempuan, atau hambamu, atau orang asing yang di tempat kediamanmu.
Sebab enam hari lamanya TUHAN menjadikan langit dan bumi, laut dan segala isinya, dan Ia berhenti pada hari ketujuh;
itulah sebabnya TUHAN memberkati hari Sabat dan menguduskannya.

perintah ke-5
Hormatilah ayahmu dan ibumu, supaya lanjut umurmu di tanah yang diberikan TUHAN, Allahmu, kepadamu.

Perintah ke-6
Jangan membunuh.

Perintah ke-7
Jangan berzina.

Perintah ke-8
Jangan mencuri.

Perintah ke-9
Jangan mengucapkan saksi dusta tentang sesamamu.

Perintah ke-10
Jangan mengingini rumah sesamamu; jangan mengingini isterinya, atau hambanya laki-laki, atau hambanya perempuan, atau lembunya, atau keledainya, atau apa pun yang dipunyai sesamamu.

  1. Pert. Bagaimana Kesepuluh Hukum itu dibagi?
    Jaw. Kesepuluh Hukum itu dibagi atas dua loh batu (a). Yang pertama mengajarkan, bagaimana seharusnya sikap kita terhadap Allah; yang kedua, apa kewajiban kita terhadap sesama kita manusia (b).

(a) Ula 4:13. (b) Mat 22:37-40.

  1. Pert. Apa yang Allah perintahkan dalam perintah yang pertama?
    Jaw. Agar aku, demi keselamatan jiwaku, harus menghindari dan menjauhkan diri dari segala penyembahan berhala (a), ilmu sihir, tenung, takhyul (b), minta pertolongan kepada orang-orang kudus yang tertentu atau makhluk-makhluk lain (c). Di pihak lain, agar aku sungguh-sungguh mengenal Allah yang Esa dan benar (d), menaruh kepercayaan kepada Dia saja (e), berserah kepada-Nya (f) dengan rendah hati dan sabar (g), mengharapkan segala kebaikan hanya dari Dia (h), dan mengasihi, menyegani (i), serta menghormati Dia (j) dengan segenap hati, sehingga aku lebih suka melepaskan segala makhluk daripada menentang kehendak- Nya dalam perkara yang paling kecil pun (k).

(a) 1Yo 5:21. (b) Ima 19:31. (c) Mat 4:10. (d) Yoh 17:3. (e) Yer 17:7. (f) Ibr 10:36. (g) 1Pe 5:5. (h) Maz 104:27. (i) Mat 22:37. (j) Maz 111:10. (k) Mat 4:10. (l) Kis 5:29.

  1. Pert. Apa itu penyembahan berhala?
    Jaw. Penyembahan berhala ialah mereka-reka atau mempunyai sesuatu yang oleh manusia dijadikan tempat kepercayaan sebagai ganti Allah yang Esa dan benar, yang menyatakan diri-Nya dalam Firman-Nya, atau di samping Dia (a).

(a) 1Ta 16:26.

Minggu ke-35

  1. Pert. Apa yang Allah tuntut dalam perintah yang kedua?
    Jaw. Agar kita jangan sekali-kali membuat gambar Allah dengan cara apa pun (a) dan jangan berbakti kepada-Nya dengan cara lain dari yang telah Dia perintahkan dalam Firman-Nya (b).

(a) Yes 40:18. (b) Ula 12:30.

  1. Pert. Jadi, apakah orang sama sekali tidak boleh membuat gambar dan patung?
    Jaw. Allah tidak dapat dan tidak boleh digambarkan dengan cara apa pun (a). Adapun makhluk, meskipun mereka boleh digambarkan atau dibuat patungnya, Allah melarang membuat dan memiliki gambar atau patungnya dengan maksud menyembahnya atau memakainya untuk beribadah kepada Allah (b).

(a) Yes 40:25. (b) Kel 23:24.

  1. Pert. Tetapi, apakah orang tidak boleh membiarkan gambar atau patung di gereja dipakai menjadi alat peraga bagi orang-orang Kristen awam?
    Jaw. Tidak, karena kita tidak boleh menganggap diri kita lebih bijaksana daripada Allah, yang menghendaki supaya umat-Nya diajar bukan dengan gambar atau patung yang bisu (a), melainkan dengan pemberitaan Firman-Nya yang hidup (b).

(a) Hab 2:18. (b) 2Pe 1:19.

Minggu ke-36

  1. Pert. Apa maksud perintah yang ketiga?
    Jaw. Agar kita tidak menghujat Nama Allah atau menyebutnya dengan sembarangan, bukan hanya dengan mengumpat (a) atau bersumpah dusta (b), melainkan juga dengan mengucapkan sumpah secara gegabah (c). Kita juga tidak boleh turut bersalah melakukan dosa yang mengerikan itu dengan cara berdiam diri dan membiarkan perbuatan itu (d). Pendek kata, kita tidak boleh menyebut Nama Allah yang kudus kecuali dengan rasa takut dan khidmat (e), supaya kita mengakui Dia (f), berseru kepada-Nya dengan cara yang benar (g), dan memuji Dia dalam semua perkataan dan perbuatan kita (h).

(a) Ima 24:14. (b) Ima 19:12. (c) Mat 5:37. (d) Ima 5:1. (e) Yer 4:2. (f) Mat 10:32. (g) Maz 50:15. (h) Kol 3:17.

  1. Pert. Apakah begitu besar dosanya, jika orang menghujat Nama Allah dengan bersumpah dan mengumpat, sehingga Allah juga murka kepada mereka yang tidak membantu dengan sekuat tenaga untuk mencegah dan melarang orang lain bersumpah dan mengumpat?
    Jaw. Sudah tentu (a), karena tidak ada dosa yang lebih besar dan yang lebih menimbulkan murka Allah daripada dosa menghujat Nama-Nya. Sebab itu, Dia telah memberi perintah menghukum dosa seperti itu dengan hukuman mati (b).

(a) Ams 29:24. (b) Ima 24:16.

Minggu ke-37

  1. Pert. Tetapi, apakah orang boleh bersumpah demi Nama Allah dengan maksud saleh?
    Jaw. Boleh, kalau pemerintah menuntut hal itu dari rakyat, atau karena keadaan darurat, untuk dengan demikian meneguhkan kesetiaan dan kebenaran, demi kemuliaan Nama Allah dan kebaikan sesama kita manusia. Sebab bersumpah secara demikian berdasarkan Firman Allah (a). Karena itu, sumpah seperti itu juga dipakai secara tepat oleh orang-orang kudus pada zaman Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru (b).

(a) Ula 6:13. (b) Kej 21:24.

  1. Pert. Apakah orang boleh bersumpah demi orang-orang kudus tertentu atau demi makhluk lain?
    Jaw. Tidak, karena bersumpah dengan benar adalah berseru kepada Allah supaya Dia, satu-satunya yang mengetahui isi hati manusia, sudi memberikan kesaksian tentang kebenaran, dan menghukum aku kalau aku bersumpah dusta (a). Tidak ada makhluk yang berhak mendapat kehormatan itu (b).

(a) 2Ko 1:23. (b) Mat 5:34-36.

Minggu ke-38

  1. Pert. Apa yang Allah perintahkan dalam perintah yang keempat?
    Jaw. Pertama, agar pelayanan gereja, yaitu pemberitaan Firman, dan sekolah- sekolah tetap diselenggarakan (a), dan agar aku, teristimewa pada hari perhentian, dengan setia bergabung dengan jemaat Allah (b) untuk mendengarkan Firman Allah (c), menerima Sakramen-sakramen (d), berseru kepada Tuhan Allah dalam acara umum (e), dan berderma kepada orang-orang miskin secara Kristen (f). Kedua, agar seumur hidupku aku berhenti dari perbuatanku yang jahat dan menerima Tuhan bekerja melalui Roh-Nya dalam hatiku, dan dengan demikian memulai hari Sabat yang kekal dalam hidup ini (g).

(a) Ams 29:18. (b) Ibr 10:25. (c) 1Ti 4:13. (d) 1Ko 11:33. (e) 1Ti 2:1. (f) 1Ko 16:2. (g) Wah 7:15.

Minggu ke-39

  1. Pert. Apa yang Allah kehendaki dalam perintah yang kelima?
    Jaw. Agar aku menghormati, mengasihi, dan setia kepada ibu-bapakku dan kepada semua orang yang diberi kuasa atasku, dan tunduk pada pengajaran dan hukuman mereka dengan ketaatan yang patut (a). Dan juga agar aku bersikap sabar terhadap kelemahan dan cacat mereka (b), karena Allah berkenan memerintah kita melalui tangan mereka (c).

(a) Efe 6:1-3. (b) Ams 23:22. (c) Rom 13:1-2.

Minggu ke-40

  1. Pert. Apa yang Allah tuntut dalam perintah yang keenam?
    Jaw. Agar aku, baik sendiri maupun dengan bantuan orang lain, tidak menghina, membenci, menganiaya atau membunuh sesamaku manusia, dengan pikiran, dengan perkataan atau sesuatu isyarat, apalagi dengan perbuatan (a). Sebaliknya, aku harus membuang segala dendam kesumat (b), dan juga tidak boleh menganiaya diri sendiri atau dengan sengaja membahayakan diri (c). Oleh karena itulah pemerintah menyandang pedang untuk mencegah pembunuhan (d).

(a) Mat 5:21-22. (b) Rom 12:19. (c) Mat 4:7. (d) Kej 9:6.

  1. Pert. Tetapi, rupanya perintah ini hanya mengenai pembunuhan saja?
    Jaw. Dengan melarang pembunuhan, Allah mengajar kita bahwa Dia membenci akar pembunuhan itu, seperti dengki (a), benci (b), amarah (c), dan dendam kesumat, dan menganggap semua itu sama dengan pembunuhan (d).

(a) Yak 3:16. (b) 1Yo 2:11. (c) Yak 1:20. (d) 1Yo 3:15.

  1. Pert. Tetapi, sudah cukupkah kalau kita tidak membunuh sesama kita manusia, seperti tersebut di atas?
    Jaw. Belum, karena dengan melarang dengki, benci, dan amarah, Allah memerintahkan pula, supaya kita mengasihi sesama kita manusia seperti diri kita sendiri (a), dan bersikap sabar, suka damai, lembut, murah hati, dan ramah terhadapnya (b), sedapat-dapatnya menghindarkan darinya segala sesuatu yang dapat merugikan dia (c), dan juga berbuat baik terhadap musuh kita (d).

(a) Mat 7:12 (b) Efe 4:32. (c) Rom 2:10. (d) Mat 5:44.

Minggu ke-41

  1. Pert. Ajaran apa yang bagi kita terkandung dalam perintah yang ketujuh?
    Jaw. Bahwa Allah mengutuk segala perbuatan kemesuman (a), dan karena itu kita harus membencinya dengan sungguh-sungguh (b), dan menahan hawa nafsu serta hidup sopan (c), baik dalam pernikahan yang kudus maupun di luarnya (d).

(a) Efe 5:11. (b) Yud.:22-23. (c) 1Te 4:3. (d) Ibr 13:4.

  1. Pert. Jadi, hanya zina dan keaiban serupa itu yang dilarang Allah dalam perintah ini?
    Jaw. Karena tubuh dan jiwa kita merupakan bait Roh Kudus, Dia menghendaki supaya kita memelihara kedua-duanya sehingga tetap murni dan suci. Oleh karena itu, Dia melarang segala perbuatan, isyarat, perkataan (a), pikiran, dan hawa nafsu yang mesum (b), serta segala sesuatu yang dapat menyebabkan hati manusia tertarik padanya (c).

(a) Efe 5:3-4. (b) Mat 5:27-28. (c) 1Ko 15:33.

Minggu ke-42

  1. Pert. Apa yang dilarang oleh Allah dalam perintah yang kedelapan?
    Jaw. Allah tidak hanya melarang pencurian (a) dan perampasan (b) yang dihukum oleh pemerintah. Segala tipu daya yang dirancang untuk memperoleh milik sesama kita manusia juga Dia namakan pencurian (c), apakah dilakukan dengan kekerasan atau dengan berbuat pura-pura adil, ataupun dengan timbangan, ukuran, takaran, barang-barang (d), mata uang palsu, dengan makan riba (e) atau dengan cara apa pun yang dilarang oleh Allah. Selain itu juga segala sifat kikir (f), dan segala pemborosan serta pemakaian dengan sia-sia atas pemberian-pemberian- Nya (g).

(a) 1Ko 6:10. (b) Ima 19:13. (c) 1Te 4:6 (d) Ams 11:1. (e) Ula 23:19. (f) 1Ti 6:10. (g) Ams 23:20-21.

  1. Pert. Tetapi, apa yang diperintahkan oleh Allah kepada Saudara dalam perintah ini?
    Jaw. Agar aku sedapat-dapatnya dan di mana mungkin berupaya demi kemanfaatan sesamaku manusia, dan bertindak terhadapnya sebagaimana aku ingin orang lain bertindak terhadap diriku (a). Selain itu, agar aku bekerja dengan tekun, supaya aku dapat memberikan pertolongan kepada orang yang berkekurangan (b).

(a) Mat 7:12. (b) Efe 4:28.

Minggu ke-43

  1. Pert. Apa yang dikehendaki perintah yang kesembilan?
    Jaw. Agar aku tidak memberi kesaksian dusta terhadap siapa pun (a), tidak memutarbalikkan perkataan orang (b), tidak memfitnah dan menodai nama baik orang (c), tidak mempersalahkan atau turut mempersalahkan orang secara gegabah dengan tidak mendengarkannya lebih dulu (d). Sebaliknya, aku harus tetap menghindarkan segala dusta dan tipu daya karena hal itu adalah perbuatan iblis (e), agar aku tidak tertimpa murka Allah yang dahsyat (f). Lagi pula, agar aku di muka pengadilan dan dalam segala tindakanku mencintai kebenaran, berkata-kata dengan jujur, dan memberi kesaksian yang benar (g); juga agar sedapat-dapatnya aku membela dan memajukan kehormatan dan nama baik sesamaku manusia (h).

Minggu ke-44

  1. Pert. Apa yang dituntut perintah yang kesepuluh dari kita?
    Jaw. Agar jangan timbul dalam hati kita keinginan dan pikiran sedikit pun yang melawan perintah Allah apa pun. Sebaliknya, agar kita selalu dengan segenap hati menentang segala dosa, dan gemar melakukan segala perbuatan yang benar
    (a).

(a) Rom 7:7.

  1. Pert. Tetapi, dapatkah orang yang sudah bertobat kepada Allah melaksanakan semua perintah ini dengan sempurna?
    Jaw. Tidak. Bahkan, orang yang paling suci pun selama hidup di dunia ini baru berada pada taraf permulaan ketaatan ini (a). Namun, sebegitu rupa, sehingga mereka, dengan niat yang sungguh-sungguh, mulai hidup sesuai dengan perintah Allah, tidak hanya dengan beberapa saja, tetapi dengan semua perintah itu. (b).

(a) 1Yo 1:8. (b) Maz 119:128.

  1. Pert. Mengapa Allah menyuruh mengajarkan kesepuluh perintah itu kepada kita dengan begitu tegas, kalau tidak seorang pun sanggup melaksanakannya selama hidup di dunia ini?
    Jaw. Pertama, agar kita selama hidup makin lama makin mengenal watak kita yang berdosa (a), dan makin berusaha mendapat pengampunan dosa dan kebenaran di dalam Kristus (b). Selanjutnya, supaya kita dengan tiada henti-hentinya berupaya dan memohon kepada Allah karunia Roh Kudus, agar kita semakin diperbarui menurut gambar Allah, hingga kelak sesudah hidup ini kita mencapai kesempurnaan yang ditunjukkan kepada kita (c).

(a) Rom 3:20. (b) Gal 3:24. (c) 1Ko 9:24.

DOA

Minggu ke-45

  1. Pert. Mengapa doa perlu bagi orang Kristen?
    Jaw. Doa adalah bagian utama pemberian syukur yang Allah tuntut dari kita (a). Dan Allah hendak melimpahkan rahmat-Nya serta Roh Kudus hanya kepada mereka yang dengan berkeluh kesah dan dengan tiada henti-hentinya memohon rahmat serta Roh itu dari-Nya dan mengucap syukur atasnya (b).

(a) Maz 50:14-15. (b) Mat 7:7.

  1. Pert. Apa yang seharusnya termasuk dalam doa yang berkenan di hadapan Allah dan yang dikabulkan-Nya?
    Jaw. Pertama, dengan segenap hati kita harus berseru (a) hanya kepada Allah yang esa dan sejati, yang telah menyatakan diri-Nya kepada kita dalam Firman-Nya (b), untuk memohon kepada-Nya segala sesuatu yang menurut perintah-Nya kita pohon (c). Lagi pula, kita harus insaf benar akan kekurangan dan kesengsaraan kita (d), supaya kita merendahkan diri di hadapan kemuliaan-Nya (e). Ketiga, seharusnya kita mempunyai dasar yang kuat ini (f), yaitu bahwa Dia pasti sudi mengabulkan doa kita, walau kita tidak layak, hanya karena Tuhan Kristus (g), sesuai dengan janji-Nya dalam Firman-Nya (h).

(a) Yoh 4:24. (b) Mat 4:10b. (c) 1Yo 5:14. (d) Maz 40:17. (e) Maz 2:11. (f) Yak 1:6. (g) Yoh 14:13. (h) Mat 7:8.

  1. Pert. Apa yang Allah perintahkan agar kita memohon kepada-Nya?
    Jaw. Segala kebutuhan rohani dan jasmani (a), yang disimpulkan Tuhan Kristus dalam doa yang diajarkan-Nya sendiri kepada kita.

(a) Mat 6:33.

  1. Pert. Bagaimana bunyi doa itu?
    Jaw. Bapa kami yang di sorga,
    dikuduskanlah nama-Mu, datanglah Kerajaan-Mu,
    jadilah kehendak-Mu, di bumi seperti di sorga.
    Berikanlah kami pada hari ini makanan kami yang secukupnya,
    dan ampunilah kami akan kesalahan kami, seperti kami juga mengampuni orang yang bersalah kepada kami,
    dan janganlah membawa kami ke dalam pencobaan, tetapi lepaskanlah kami dari yang jahat.
    Karena Engkaulah yang empunya Kerajaan dan kuasa dan kemuliaan sampai selama- lamanya. Amin. Mat 6:9-13 (a).

(a) Mat 6:9-13, Luk 11:2-4.

Minggu ke-46

  1. Pert. Mengapa Kristus memerintahkan kita menyapa Allah Bapa Kami?
    Jaw. Supaya pada saat kita mulai berdoa, di dalam hati kita segera Dia bangkitkan rasa takut dan percaya kepada Allah, sebagaimana seorang anak kecil terhadap bapaknya. Rasa takut dan percaya itu menjadi dasar doa kita: Allah telah menjadi Bapa kita karena Kristus, dan Dia jauh lebih sudi mengabulkan permohonan yang kita ajukan kepada-Nya dengan iman yang sungguh-sungguh daripada bapak kita sudi memberikan barang-barang dunia kepada kita (a).

(a) Luk 11:11-13.

  1. Pert. Mengapa ditambahkan di sini kata: yang di sorga?
    Jaw. Supaya kemuliaan Allah tidak kita bayangkan secara duniawi (a), dan supaya segala kebutuhan tubuh dan jiwa hanya kita harapkan dari kemahakuasaan- Nya saja (b).

(a) Maz 115:3. (b) Rom 10:12.

Minggu ke-47

  1. Pert. Apa doa yang pertama?
    Jaw. Dikuduskanlah nama-Mu. Artinya, berilah pertama-tama agar kami benar-benar mengenal Engkau (a) dan menguduskan, memuliakan, serta memuji Engkau karena segala perbuatan-Mu yang menyatakan kemahakuasaan, hikmat, kebaikan, keadilan, kemurahan, dan kebenaran-Mu (b). Selanjutnya, berilah agar kami mengatur dan mengarahkan seluruh hidup, pikiran, perkataan, dan perbuatan kami sedemikian, sehingga nama-Mu jangan dihujat, tetapi dipuji dan dihormati karena kami (c).

{a) Yoh 17:3. (b) Maz 119:117. (c) Maz 115:1.

Minggu ke-48

  1. Pert. Apa doa yang kedua?
    Jaw. Datanglah Kerajaan-Mu. Artinya, perintahlah kami melalui Firman dan Roh-Mu sedemikian, sehingga kami makin lama makin tunduk kepada-Mu (a); pelihara dan kembangkanlah Gereja-Mu (b); binasakanlah segala perbuatan iblis dan segala kekuasaan yang menentang Engkau, demikian pula segala maksud jahat, yang dirancangkan untuk melawan Firman-Mu yang kudus (c); sampai kerajaan-Mu datang dengan sempurna (d). Di dalamnya Engkau akan menjadi semua di dalam semua (e).

(a) Maz 119:5. (b) Maz 51:18. (c) 1Yo 3:8. (d) Rom 8:22-23. (e) 1Ko 15:28.

Minggu ke-49

  1. Pert. Apa doa yang ketiga?
    Jaw. Jadilah kehendak-Mu di bumi seperti di sorga. Artinya, berilah supaya kami dan sekalian manusia menyangkal kehendak sendiri (a), dan dengan tidak membantah, mematuhi kehendak-Mu, satu-satunya yang baik (b), agar dengan demikian setiap orang memenuhi dan melaksanakan tugas panggilannya dengan kerelaan dan kesetiaan yang sama (c) seperti malaikat-malaikat di surga (d).

(a). Mat 16:24. (b) Luk 22:42. (c) 1Ko 7:24. (d) Maz 103:20-21.

Minggu ke-50

  1. Pert. Apa doa yang keempat?
    Jaw. Berikanlah kami pada hari ini makanan kami yang secukupnya. Artinya, kiranya Engkau memelihara kami dengan segala yang diperlukan oleh tubuh kami (a), supaya olehnya kami mengakui bahwa Engkaulah satu-satunya sumber segala kebaikan b), dan bahwa baik usaha dan pekerjaan kami maupun pemberian-Mu tidak berfaedah bagi kami tanpa berkat-Mu (c), sehingga kami tidak lagi menaruh kepercayaan kepada makhluk apa pun, tetapi hanya kepada Engkau saja (d).

(a) Maz 104:27. (b) Yak 1:17. (c) Maz 127:1-2. (d) Maz 55:23.

Minggu ke-51

  1. Pert. Apa doa yang kelima?
    Jaw. Dan ampunilah kami akan kesalahan kami, seperti kami juga mengampuni orang yang bersalah kepada kami. Artinya, segala kesalahan dan kejahatan yang senantiasa melekat pada kami, orang berdosa yang malang ini, janganlah kiranya Kautanggungkan kepada kami, karena darah Kristus (a), seperti juga kami dapati tanda anugerah-Mu dalam hati kami, yaitu bahwa kami berniat sungguh-sungguh akan mengampuni sesama kami manusia dengan tulus (b).

(a) 1Yo 2:1. (b) Mat 6:14.

Minggu ke-52

  1. Pert. Apa doa yang keenam?
    Jaw. Dan janganlah membawa kami ke dalam pencobaan, tetapi lepaskanlah kami dari yang jahat. Artinya, kami sendiri begitu lemah, sehingga kami tidak sanggup bertahan sesaat pun (a), tambahan pula musuh kami turun-temurun, yaitu iblis (b), dunia (c), dan daging kami sendiri (d), dengan tiada henti-hentinya menyerang kami. Maka sokong dan kuatkanlah kami dengan kuasa Roh-Mu yang Kudus, supaya kami tidak kalah dalam peperangan rohani ini (e), tetapi selalu melawan dengan sekuat tenaga, sampai kelak kami beroleh kemenangan akhir (f).

(a) Maz 103:14. (b) 1Pe 5:8. (c) Yoh 15:19. (d) Rom 7:18. (e) Mat 26:41. (f) 1Te 5:23.

  1. Pert. Bagaimana Saudara mengakhiri doa Saudara ini?
    Jaw. Karena Engkaulah yang empunya Kerajaan dan kuasa dan kemuliaan sampai selama-lamanya. Artinya, semua ini kami mohon kepada-Mu, karena Engkau, sebagai Raja kami dan Yang Mahakuasa, beritikad dan berkuasa mengaruniakan kepada kami segala hal yang baik (a), dan kami memohon semua ini supaya bukan kami, melainkan Nama-Mu yang kudus dipuji karenanya, untuk selama-lamanya (b).

(a) 1Ta 29:11. (b) Maz 115:1.

  1. Pert. Apa arti kata Amin itu?
    Jaw. Amin berarti, hal ini benar dan pasti. Karena Allah pasti telah mengabulkan doaku, jauh lebih pasti daripada perasaan hatiku bahwa hal itu kuinginkan dari-Nya (a).

(a) Neh 8:7.

Tahukah Anda bahwa perbuatan baik itu perlu?

“Jika demikian, apakah yang hendak kita katakan? Bolehkah kita bertekun dalam dosa, supaya semakin bertambah kasih karunia itu? Sekali-kali tidak! Bukankah kita telah mati bagi dosa, bagaimanakah kita masih dapat hidup di dalamnya? Atau tidak tahukah kamu, bahwa kita semua yang telah dibaptis dalam Kristus, telah dibaptis dalam kematian-Nya? Dengan demikian kita telah dikuburkan bersama-sama dengan Dia oleh baptisan dalam kematian, supaya, sama seperti Kristus telah dibangkitkan dari antara orang mati oleh kemuliaan Bapa, demikian juga kita akan hidup dalam hidup yang baru.” Roma 6:1–4

Salah satu keberatan paling umum yang diajukan oleh para pengkritik doktrin pembenaran hanya karena karunia Tuhan (Sola Gratia) dan hanya melalui iman (Sola Fide) adalah: “Jika kita diselamatkan hanya karena kasih karunia, hanya melalui iman, hanya karena Kristus, lalu apa gunanya melakukan perbuatan baik?” Bahkan rasul Paulus pernah mendengar keberatan serupa dari orang-orang Kristen di Roma, sehingga ia mempertanyakan: “Jika demikian, apakah yang hendak kita katakan? Bolehkah kita bertekun dalam dosa, supaya semakin bertambah kasih karunia itu?” (Roma 6:1).

Pertanyaan-pertanyaan seperti ini muncul dari kekhawatiran bahwa jika kasih karunia Allah terlalu ditekankan, umat Kristiani akan menjadi malas dan acuh tak acuh terhadap Hal-hal Ilahi. Orang Kristen mungkin terlalu bergantung pada kasih karunia dan tidak menunjukkan semangat yang cukup untuk melakukan perbuatan baik. Lagi pula, insentif apa yang tersisa untuk melakukan pekerjaan-pekerjaan yang Allah perintahkan kepada kita dalam Firman-Nya jika kedudukan kita di hadapan Allah bergantung pada perbuatan baik orang lain – yaitu Yesus Kristus? Lebih buruk lagi, seperti pendapat para kritikus, jika doktrin pembenaran di atas adalah benar dan kita adalah orang berdosa yang dibenarkan, tetapi tetap orang berdosa bahkan setelah kita menjadi Kristen, lalu mengapa kita harus melakukan perbuatan baik, karena perbuatan baik apa pun masih ternoda oleh dosa kita? Manusia manapun tidak dapat melakukan apa yang benar-benar baik, begitu sanggah mereka.

Jawaban Paulus terhadap pertanyaan-pertanyaan ini dalam Roma 6 sangatlah tegas. Menanggapi tuduhan bahwa penekanan pada kasih karunia membuat orang Kristen acuh tak acuh terhadap cara hidup mereka, Paulus menulis, “Sama sekali tidak!” Penjelasan rasul itu sederhana saja. “Bagaimana mungkin kita yang sudah mati terhadap dosa masih bisa hidup di dalamnya? Tidak tahukah kamu bahwa kita semua yang telah dibaptis dalam Kristus Yesus, telah dibaptis dalam kematian-Nya? Oleh karena itu kita telah dikuburkan bersama-sama dengan Dia melalui baptisan dalam kematian, supaya, sama seperti Kristus telah dibangkitkan dari antara orang mati oleh kemuliaan Bapa, kita juga dapat hidup dalam hidup yang baru” (ayat 2-4).

Setelah berargumentasi bahwa orang-orang berdosa dibenarkan karena iman saja dan bukan karena perbuatan (Roma 3:21-28), rasul Paulus dapat menegaskan bahwa orang-orang yang dibenarkan karena iman juga telah mati terhadap dosa. Umat ​​Kristen sejati pasti tidak lagi ingin hidup di bawah kekuasaan dosa karena mereka telah dikuburkan bersama Kristus dan kemudian dibangkitkan ke dalam hidup yang baru. Bukannya menghancurkan keinginan untuk melakukan perbuatan baik, doktrin pembenaran karena iman saja adalah satu hal yang harus mendorong perbuatan baik. Orang yang betul-betul sudah dibenarkan (sudah mati terhadap dosa) pasti akan mau berjalan dalam hidup yang baru. Kehidupan yang baru itu ditandai dengan perbuatan baik (Efesus 2:10) dan buah Roh (Galatia 5:16-26). Sebagaimana Paulus katakan di tempat lain, “Tuhan yang memulai pekerjaan yang baik di antara kamu, akan meneruskannya sampai pada akhirnya pada hari Kristus Yesus.” (Filipi 1:6).

Doktrin tentang pentingnya berbuat baik sebenarnya sudah ditegaskan dalam katekismus Heidelberg yang menjadi dasar pelajaran katekisasi gereja Protestan di Indonesia, seperti juga di banyak negara lain. Masalahnya, sekalipun bahan katekisasi ini dberikan kepada jemaat, itu mungkin tidak pernah atau jarang dibahas lagi dalam khotbah. Apalagi, ada orang Kristen yang cenderung menganggap semua usaha untuk berbuat baik itu sama saja dengan usaha untuk memastikan keselamatan.

Karena masalah perbuatan baik sering menjadi bahan perdebatan, maka katekismus Heidelberg membahas masalah ini secara panjang lebar. Setelah menunjukkan bahwa perbuatan baik adalah hal-hal yang dilakukan berdasarkan iman yang benar, sesuai dengan hukum Tuhan, dilakukan demi kemuliaan Tuhan, bukan untuk mendapatkan pahala (Tanya Jawab 91), dan kemudian membahas Sepuluh Perintah Allah, yang harus difahami umat Kristiani sebagai wahyu dan kehendak Allah (Tanya Jawab 92–114), Katekismus Heidelberg kemudian melontarkan pertanyaan mengapa kita harus melakukan perbuatan baik, sekalipun sebagai orang Kristen, kita tidak dapat menaati perintah-perintah Allah dengan sempurna.

Dalam tanya jawab 114 Katekismus dibahas inti hubungan antara pembenaran hanya karena iman dan perbuatan baik. Karena kita berdosa dari ujung kepala sampai ujung kaki, dan karena dosa mempengaruhi kita dalam setiap aspek keberadaan kita, kita tetap berdosa meskipun kita dibenarkan. Bahkan orang yang diberi banyak iman, dan yang sungguh-sungguh ingin menjalani kehidupan yang menyenangkan Tuhan masih tetap saja berdosa. Perbuatan baik kita tetap ternoda oleh keberdosaan kita sehingga di luar Kristus perbuatan-perbuatan ini hanya akan menghukum kita, karena perbuatan sebaik bagaimana pun telah dirusak oleh dosa dan tidak benar-benar baik.

Waalaupun demikian, karena kita diciptakan “diciptakan dalam Kristus Yesus untuk melakukan pekerjaan baik, yang dipersiapkan Allah sebelumnya” (Efesus 2:10), setiap orang Kristen (yang dibenarkan karena iman saja) akan mulai menaati perintah-perintah Allah, betapapun ragu dan cacatnya ketaatan itu. Hal ini benar bukan karena kita memiliki kemampuan rohani di dalam diri kita yang meresponi kasih karunia Allah tetapi karena “karena Allahlah yang mengerjakan di dalam kamu baik kemauan maupun pekerjaan menurut kerelaan-Nya.” (Filipi 2:13).

Karena pengudusan kita adalah tindakan kasih karunia Allah dan juga pembenaran kita, maka semua orang yang telah dibenarkan hanya karena kasih karunia, melalui iman saja, karena Kristus saja, akan (seperti dikatakan dalam Katekismus) mau hidup sesuai dengan seluruh kehendak Allah. Karena ketaatan kita (seperti dosa kita) ditutupi oleh darah dan kebenaran Kristus (yang membuat perbuatan kita yang tidak sempurna menjadi benar-benar baik), Bapa surgawi kita senang dengan upaya kita yang lemah untuk berbuat baik. Dan ketika kita mengetahui hal ini, kita akan nemiliki keinginan untuk lebih taat.

Hari ini, firman Tuhan menyatakan bahwa setiap orang Kristen sejati akan mengerti bahwa perbuatan baik adalah ciri dari orang yang sudah dibenarkan oleh Tuhan. Orang yang sudah dipilih-Nya untuk diselamatkan adalah orang-orang yang sudah dimampukan-Nya untuk bisa mengeri bahwa Tuhan ingin agar kita mau untuk taat kepada-Nya. Tuhan sendiri yang membimbing dan mengajar kita untuk bisa berbuat baik dalam segala kelemahan kita. Oleh karena itu, hanyalah orang orang Kristen sejati yang akan berbuah-buah dalam segala apa yang baik, segala sesuatu yang akan membawa kemuliaan kepada Tuhan.

Berubahlah oleh pembaharuan budimu

“Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaharuan budimu, sehingga kamu dapat membedakan manakah kehendak Allah: apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna.” Roma 12:2

Secara keseluruhan, dalam Roma 12 Paulus menggambarkan penyembahan kita sebagai pengorbanan yang hidup kepada Tuhan kita, berhenti mencari apa yang kita inginkan dalam hidup dan belajar untuk mengetahui dan melayani apa yang Tuhan inginkan. Itu dimulai dengan menggunakan karunia rohani kita untuk saling melayani saudara-saudara seiman. Daftar perintah Paulus untuk jemaat di Roma menggambarkan gaya hidup yang mengesampingkan diri sendiri. Memang, sebenarnya tujuan hidup kita sebagai orang Kristen adalah untuk saling mengasihi dan menghargai. Kita harus memusatkan pengharapan kita pada kekekalan dan menunggu dengan sabar dan berdoa agar Bapa kita menyediakannya. Kita harus menolak untuk tenggelam dalam hal-hal yang jahat, memberi kebaikan pada orang yang merugikan kita, bukan membalas dendam.

Roma 12:1-2 di atas bisa ditulis dengan bahasa yang lebih mudah dimengerti sebagai:

“Jangan ubah diri Anda menjadi seperti orang-orang di dunia ini, tapi biarkan Tuhan mengubah batin Anda dengan cara berpikir yang baru. Maka Anda akan dapat memahami dan menerima apa yang Tuhan inginkan bagi Anda. Anda akan dapat mengetahui apa yang baik dan menyenangkan hati-Nya serta apa yang sempurna.

Paulus menjawab pertanyaan, ”Bagaimana seharusnya kita menanggapi kemurahan Allah yang besar kepada kita?” Jawabannya adalah dengan menjadi hidup, mempersembahkan korban, menggunakan hidup kita dalam pelayanan kepada Allah sebagai tindakan ibadah yang berkelanjutan. Itu yang masuk akal. Ini bukanlah cara untuk mendapatkan keselamatan, namun respon alami yang harus kita miliki untuk diselamatkan. Maka kita akan tahu bagaimana cara hidup yang benar. Untuk melakukan hal ini, kita perlu melepaskan diri dari pola dunia yang mengutamakan saya dan mengubah budi atau pikiran kita agar dapat memahami apa yang Tuhan inginkan. Budi adalah serangkaian kemampuan kognitif yang memungkinkan kesadaran, persepsi, pertimbangan, dan ingatan pada manusia.

Menyadari bahwa banyak orang percaya yang mau menerima anugerah keselamatan tetapi segan untuk berbuat baik untuk menyatakan rasa syukur mereka, Paulus mendesak kita untuk menanggapi belas kasihan Allah, pengampunan-Nya atas dosa kita, dan penerimaan-Nya atas diri kita ke dalam keluarga-Nya. Reaksi yang tepat adalah mempersembahkan kepada-Nya seluruh hidup kita sebagai suatu bentuk pengorbanan yang hidup dan bernafas.

Paulus menulis bahwa kita tidak boleh lagi menjadi serupa dengan dunia. Kata “dunia” sering digunakan dalam Perjanjian Baru untuk merujuk pada “sistem dunia”, atau cara hidup setiap manusia pada umumnya, menurut kebiasaan umum dalam bermasyarakat. Setiap manusia cenderung ingin hidup nikmat, nyaman dan berkelimpahan, mereka ingin dipandang sukses dan dihormati orang lain. Yohanes menggambarkan cara hidup duniawi ini sebagai “keinginan daging dan keinginan mata serta keangkuhan hidup”.

“Sebab semua yang ada di dalam dunia, yaitu keinginan daging dan keinginan mata serta keangkuhan hidup, bukanlah berasal dari Bapa, melainkan dari dunia.” 1 Yohanes 2:16

Tuhan mungkin terus memberi kita kesenangan, harta benda, dan status dalam berbagai bentuk, namun Dia mendorong kita untuk belajar bagaimana memandang kehidupan dengan pertanyaan baru: Apa yang Tuhan inginkan dariku? Apakah yang benar-benar merupakan penggunaan hidup saya yang baik, dapat diterima, dan sempurna untuk tujuan-tujuan-Nya dan bukan hanya untuk tujuan saya sendiri?

Paulus memberitahu kita untuk meninggalkan pengejaran akan kesenangan, harta benda, dan status – untuk berhenti hidup seperti orang lain. Sebaliknya, beliau mendesak kita untuk berubah dari dalam ke luar. Secara khusus, ia menulis bahwa kita mau harus diubah oleh Tuhan dalam cara berpikir kita, agar pikiran kita diperbarui sehingga kita dapat mulai memahami kehendak Tuhan bagi hidup kita.

Dosa telah mempengaruhi seluruh keberadaan kita, termasuk pikiran. Kita telah melihat bahwa tanpa pekerjaan Roh Kudus, semua pemikiran kita pada akhirnya mengarah pada kesia-siaan. Namun ketika Roh mengubah pikiran kita, kita dimampukan untuk berpikir sebagaimana Tuhan ingin kita berpikir.

Sayangnya, peran pikiran dalam iman Kristen tidak dianggap serius saat ini. Faktanya, kita hidup di masa paling anti-intelektual dalam sejarah Kristen. Kebanyakan orang Kristen hanya mau ke gereja seminggu sekali untuk mendengarkan khotbah pendeta kita, dan tidak mau mempelajari firman Tuhan secara teratur dan mendalam. Namun hal ini tidak seharusnya begitu. Secara historis, orang-orang yang kita kenali dari sejarah gereja juga merupakan tokoh-tokoh intelektual. Orang-orang seperti Agustinus, Calvin, Luther, dan Edwards, dan masih banyak lagi, mengasihi Tuhan dengan segenap hati dan pikiran mereka. Alkitab memerintahkan kita untuk mengasihi Tuhan dengan pikiran dan hati kita.

Saat ini, banyak orang di gereja tidak menganggap pikiran itu penting. Yang penting, kata mereka, adalah hati. Satu-satunya hal yang penting, kata mereka, adalah Anda mengasihi Yesus. Tentu saja hal ini benar, namun hal ini hanya benar jika Anda mengasihi Yesus yang benar. Tidak ada gunanya bagi seseorang jika mereka mencintai Yesus versi Mormon, Yesus versi Saksi Yehuwa, Yesus versi Mesianik Yudaisme, atau Yesus versi Islam. Seseorang hanya akan diselamatkan jika mereka mengasihi Yesus yang alkitabiah, Yesus yang adalah Tuhan dan bukan sekadar orang baik, juruselamat atau rasul.

Iman Kristen melibatkan pengetahuan dan kepercayaan. Kita tidak bisa benar-benar mempercayai apa yang tidak kita ketahui. Inilah sebabnya mengapa iman Kristen menegaskan pentingnya pikiran. Iman kita memiliki muatan intelektual. Kita harus mengetahui fakta-fakta tertentu seperti dosa, penebusan, kebangkitan, dan keilahian Kristus untuk menerima keselamatan. Kita dapat mengatakan bahwa kita mengasihi Yesus menurut cara kita, namun jika kita tidak mengetahui kebenaran tentang Dia, kita tidak dapat diselamatkan (Yohanes 8:24; Roma10:9).

Pikiran adalah sesuatu yang utama yang hanya bisa dicapai dalam belajar secara teratur. Tuhan pertama-tama harus melalui pikiran untuk sampai ke hati kita. Kita harus mengetahui beberapa isinya agar kita dapat mengasihi Dia dengan benar. Namun, mengetahui fakta saja tidak cukup. Iblis mungkin dapat menulis teologi sistematik yang lebih baik daripada teolog mana pun, namun ia tidak akan pernah datang kepada Kristus karena ia membenci hal-hal yang berkaitan dengan Allah. Kita juga harus mempercayai Kristus dengan hati kita untuk bisa diselamatkan.

Pagi ini kita juga harus menyadari bahwa iman Kristen juga berbicara tentang pentingnya hati. Hati adalah hal yang paling penting. Anda dapat mengetahui semua fakta tentang Kristus namun tetap dikutuk karena Anda tidak mengasihi Dia dan sesama manusia. Mengenal dan mengasihi Kristus yang benar adalah penting bagi keselamatan, karena keduanya adalah tanda orang Kristen sejati.

“Pada hari terakhir banyak orang akan berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan, bukankah kami bernubuat demi nama-Mu, dan mengusir setan demi nama-Mu, dan mengadakan banyak mujizat demi nama-Mu juga? Pada waktu itulah Aku akan berterus terang kepada mereka dan berkata: Aku tidak pernah mengenal kamu! Enyahlah dari pada-Ku, kamu sekalian pembuat kejahatan!” Matius 7:22-23

Pentingnya hati nurani dalam hidup

“Beberapa orang telah menolak hati nuraninya yang murni itu, dan karena itu kandaslah iman mereka.” 1 Timotius 1:19

Ayat di atas melanjutkan tulisan Paulus kepada Timotius dari ayat sebelumnya yang berisi himbauan agar Timotius “memperjuangkan perjuangan yang baik dengan iman dan hati nurani yang murni.” Ini mengandung pengertian berpegang teguh dan tidak melepaskan iman. Timotius harus melakukan perjuangannya dengan “hati nurani yang baik”. Pasangan iman dan hati nurani juga terlihat dalam 1 Timotius 1:5 dan 3:9. Iman (faith) dan hati nurani (conscience) mempunyai hubungan yang erat.

Paulus memperkenalkan dirinya dan menekankan hubungan positif yang ia miliki dengan Timotius. Misi khusus Timotius di Efesus adalah menentang pengajaran palsu. Beberapa orang di Efesus menolak pentingnya hati nurani dan berusaha mengajar tanpa memiliki pengetahuan yang diperlukan. Akibatnya, mereka bertengkar tentang hal-hal yang tidak berguna dan menyalahgunakan hukum yang diberikan Tuhan. Paulus yang menyadari kebutuhan akan pengampunan dan keselamatan, menyemangati Timotius dengan mengingatkan bahwa mereka memiliki Juru Selamat yang sama.

Dalam ayat berikutnya, Paulus memberikan dua contoh spesifik tentang orang-orang yang merusak iman mereka dengan mengabaikan hati nurani mereka yang bersih. Paulus menanamkan pengertian akan urgensi dari misi yang diberikan kepada Timotius, untuk ia berjaga-jaga terhadap ajaran-ajaran palsu yang telah Paulus uraikan. Kunci dari upaya ini adalah menjaga keyakinan yang telah diwariskannya selama ini. Sebagai contoh tandingan, Paulus mengacu pada dua pria yang mengesampingkan hati nurani yang baik dan mendapati iman mereka hancur (ayat 20).

Hal iman mengarisbawahi himbauan Paulus, tetapi ia juga memperingatkan tentang bahaya berpaling dari hati nurani yang baik. Paulus menggunakan kata Yunani apōsamenoi, yang menyiratkan penolakan yang kuat, bersifat pribadi, dan disengaja. Ini bukan kesalahan biasa atau kebetulan—Paulus merujuk pada orang-orang yang dengan sengaja tidak mau menjaga hati nurani mereka tetap bersih.

Apa itu hati nurani? Diskusi tentang hati nurani kembali muncul di kalangan umat Kristiani. Selama beberapa tahun terakhir, istilah hati nurani semakin banyak dirujuk dalam perdebatan yang terjadi baik di gereja (misalnya, seruan kepada hati nurani jemaat dalam menghadapi isu-isu moral /seksual zaman ini) dan dalam masyarakat umum (misalnya, seruan untuk berpegang pada hati nurani). Kita sering mendengar tentang hati nurani, tapi apa sebenarnya maknanya? Konsep umum tentang hati nurani dapat ditemukan di hampir setiap kebudayaan manusia, namun memiliki makna yang unik dan khas bagi umat Kristiani. Istilah Yunani untuk hati nurani (suneidesis) muncul lebih dari dua lusin kali, dan mempunyai konsep yang penting, khususnya dalam surat-surat Paulus. Jika kita memeriksa cara Kitab Suci berbicara tentang hati nurani, kita akan menemukan lima tema umum:

  1. Hati nurani adalah kapasitas rasional internal yang menjadi saksi sistem nilai kita. John MacArthur menggambarkan hati nurani sebagai “sistem peringatan bawaan yang memberi sinyal kepada kita ketika sesuatu yang kita lakukan salah.”Hati nurani bagi jiwa kita sama dengan sensor rasa sakit bagi tubuh kita: hati nurani menimbulkan kesediha, dalam bentuk rasa bersalah, setiap kali kita melanggar apa yang menurut hati kita benar.”
  2. Hati nurani adalah pedoman yang dapat dipercaya hanya jika hati nurani tersebut diisi dan diatur oleh Tuhan. Melanggar hati nurani yang benar memang merupakan dosa. Namun yang membuat sesuatu menjadi dosa bukan hanya karena tidak selaras dengan nilai-nilai kita, namun karena memilih kehendak kita dan bukannya kehendak Allah. R.C. Sproul menjelaskan, kita harus ingat bahwa bertindak berdasarkan hati nurani terkadang juga bisa merupakan dosa. Jika hati nurani mendapat informasi yang salah, maka kita mencari alasan di balik informasi yang salah tersebut. Apakah salah informasi karena orang tersebut lalai mempelajari Firman Tuhan? Ya!
  3. Hati nurani harus tunduk dan diinformasikan oleh Firman Tuhan yang diwahyukan.
    Hati nurani tidak dapat menjadi otoritas etis kita yang final karena, tidak seperti Firman Allah yang diwahyukan, hati nurani dapat berubah dan bisa salah. Namun, sering kali orang Kristen membalik aturan tersebut dan berupaya menggunakan hati nurani mereka untuk menghakimi Allah dan Firman-Nya. Saat kita mendapati diri kita berpikir, “Benarkah Tuhan berfirman seperti itu?” ketika Kitab Suci dengan jelas menyatakan hal itu, maka kita tahu bahwa yang berbicara kepada kita adalah iblis.
  4. Bertindak dengan sengaja melawan hati nurani selalu merupakan dosa. “Hati nurani orang Kristen wajib dan terikat hanya pada apa yang diperintahkan atau dilarang oleh Alkitab,” kata Sam Storms, “atau oleh apa yang secara sah dapat disimpulkan dari prinsip alkitabiah yang jelas.” Hati nurani kita harus selalu diinformasikan oleh apa yang Tuhan katakan. Itu adalah prinsip yang sangat penting. Luther benar ketika mengatakan, “Tidaklah benar dan tidak aman untuk bertindak melawan hati nurani.” Dalam kenyataannya, banyak orang Kristen yang tergoda untuk melakukan sesuatu yang tidak sesuai dengan suara hati nurani mereka.
  5. Hati nurani bisa ditekan oleh dosa. Jika kita ingin mengembangkan kebiasaan positif, kita perlu melakukan suatu tindakan berulang kali, seiring berjalannya waktu, hingga menjadi refleks otomatis. Proses yang sama terjadi ketika kita jatuh ke dalam dosa. Ketika kita berdosa, kita menolak otoritas Allah. Jika kita mengulangi dosa kita, lama kelamaan penolakan terhadap otoritas Allah akan menjadi refleks otomatis. Mereka pikir mereka bijaksana, tapi dosa mereka menjadikan mereka bodoh. Pada akhirnya, Tuhan menyerahkan mereka ke dalam pikiran mereka yang sudah rusak (Roma 1:24), Orang-orang percaya juga berada dalam bahaya terjerumus ke dalam pola yang merusak ini. Terkadang dosa kita membuat kita meragukan realitas Allah. Ketika kita menyangkal otoritas Allah, kita mulai meragukan keberadaan-Nya sehingga kita bisa menenangkan hati nurani kita terhadap penghakiman-Nya, dalam hidup yang sekarang maupun ketika kita berjumpa dengan Dia.

Pagi ini kita belajar bahwa sebagai orang Kristen, hati nurani kita mempunyai peranan penting dalam hidup orang Kristen sekalipun bukan untuk memperoleh keselamatan. Barangkali kita sering mengabaikan suara hati nurani kita yang mengingatkan bahwa kita harus menaati firman Tuhan, dan mungkin juga kita sering menolak kenyataan bahwa kehendak Tuhan harus terjadi dan bukan kehendak kita. Karena itu, hidup kita bisa menjadi kacau dan tidak mengalami kedamaian. Hari lepas hari, iman kita tidak bertumbuh, tetapi sebaliknya makin mengecil karena kita menempatkan kemauan dan kepentingan kita di atas kehendak dan kemuliaan Tuhan. Apakah Anda masih mau mendengarkan suara hati nurani Anda yang dibimbing oleh Roh Kudus?

“Dan janganlah kamu mendukakan Roh Kudus Allah, yang telah memeteraikan kamu menjelang hari penyelamatan.” Efesus 4:30