Tahukah Anda bahwa perbuatan baik itu perlu?

“Jika demikian, apakah yang hendak kita katakan? Bolehkah kita bertekun dalam dosa, supaya semakin bertambah kasih karunia itu? Sekali-kali tidak! Bukankah kita telah mati bagi dosa, bagaimanakah kita masih dapat hidup di dalamnya? Atau tidak tahukah kamu, bahwa kita semua yang telah dibaptis dalam Kristus, telah dibaptis dalam kematian-Nya? Dengan demikian kita telah dikuburkan bersama-sama dengan Dia oleh baptisan dalam kematian, supaya, sama seperti Kristus telah dibangkitkan dari antara orang mati oleh kemuliaan Bapa, demikian juga kita akan hidup dalam hidup yang baru.” Roma 6:1–4

Salah satu keberatan paling umum yang diajukan oleh para pengkritik doktrin pembenaran hanya karena karunia Tuhan (Sola Gratia) dan hanya melalui iman (Sola Fide) adalah: “Jika kita diselamatkan hanya karena kasih karunia, hanya melalui iman, hanya karena Kristus, lalu apa gunanya melakukan perbuatan baik?” Bahkan rasul Paulus pernah mendengar keberatan serupa dari orang-orang Kristen di Roma, sehingga ia mempertanyakan: “Jika demikian, apakah yang hendak kita katakan? Bolehkah kita bertekun dalam dosa, supaya semakin bertambah kasih karunia itu?” (Roma 6:1).

Pertanyaan-pertanyaan seperti ini muncul dari kekhawatiran bahwa jika kasih karunia Allah terlalu ditekankan, umat Kristiani akan menjadi malas dan acuh tak acuh terhadap Hal-hal Ilahi. Orang Kristen mungkin terlalu bergantung pada kasih karunia dan tidak menunjukkan semangat yang cukup untuk melakukan perbuatan baik. Lagi pula, insentif apa yang tersisa untuk melakukan pekerjaan-pekerjaan yang Allah perintahkan kepada kita dalam Firman-Nya jika kedudukan kita di hadapan Allah bergantung pada perbuatan baik orang lain – yaitu Yesus Kristus? Lebih buruk lagi, seperti pendapat para kritikus, jika doktrin pembenaran di atas adalah benar dan kita adalah orang berdosa yang dibenarkan, tetapi tetap orang berdosa bahkan setelah kita menjadi Kristen, lalu mengapa kita harus melakukan perbuatan baik, karena perbuatan baik apa pun masih ternoda oleh dosa kita? Manusia manapun tidak dapat melakukan apa yang benar-benar baik, begitu sanggah mereka.

Jawaban Paulus terhadap pertanyaan-pertanyaan ini dalam Roma 6 sangatlah tegas. Menanggapi tuduhan bahwa penekanan pada kasih karunia membuat orang Kristen acuh tak acuh terhadap cara hidup mereka, Paulus menulis, “Sama sekali tidak!” Penjelasan rasul itu sederhana saja. “Bagaimana mungkin kita yang sudah mati terhadap dosa masih bisa hidup di dalamnya? Tidak tahukah kamu bahwa kita semua yang telah dibaptis dalam Kristus Yesus, telah dibaptis dalam kematian-Nya? Oleh karena itu kita telah dikuburkan bersama-sama dengan Dia melalui baptisan dalam kematian, supaya, sama seperti Kristus telah dibangkitkan dari antara orang mati oleh kemuliaan Bapa, kita juga dapat hidup dalam hidup yang baru” (ayat 2-4).

Setelah berargumentasi bahwa orang-orang berdosa dibenarkan karena iman saja dan bukan karena perbuatan (Roma 3:21-28), rasul Paulus dapat menegaskan bahwa orang-orang yang dibenarkan karena iman juga telah mati terhadap dosa. Umat ​​Kristen sejati pasti tidak lagi ingin hidup di bawah kekuasaan dosa karena mereka telah dikuburkan bersama Kristus dan kemudian dibangkitkan ke dalam hidup yang baru. Bukannya menghancurkan keinginan untuk melakukan perbuatan baik, doktrin pembenaran karena iman saja adalah satu hal yang harus mendorong perbuatan baik. Orang yang betul-betul sudah dibenarkan (sudah mati terhadap dosa) pasti akan mau berjalan dalam hidup yang baru. Kehidupan yang baru itu ditandai dengan perbuatan baik (Efesus 2:10) dan buah Roh (Galatia 5:16-26). Sebagaimana Paulus katakan di tempat lain, “Tuhan yang memulai pekerjaan yang baik di antara kamu, akan meneruskannya sampai pada akhirnya pada hari Kristus Yesus.” (Filipi 1:6).

Doktrin tentang pentingnya berbuat baik sebenarnya sudah ditegaskan dalam katekismus Heidelberg yang menjadi dasar pelajaran katekisasi gereja Protestan di Indonesia, seperti juga di banyak negara lain. Masalahnya, sekalipun bahan katekisasi ini dberikan kepada jemaat, itu mungkin tidak pernah atau jarang dibahas lagi dalam khotbah. Apalagi, ada orang Kristen yang cenderung menganggap semua usaha untuk berbuat baik itu sama saja dengan usaha untuk memastikan keselamatan.

Karena masalah perbuatan baik sering menjadi bahan perdebatan, maka katekismus Heidelberg membahas masalah ini secara panjang lebar. Setelah menunjukkan bahwa perbuatan baik adalah hal-hal yang dilakukan berdasarkan iman yang benar, sesuai dengan hukum Tuhan, dilakukan demi kemuliaan Tuhan, bukan untuk mendapatkan pahala (Tanya Jawab 91), dan kemudian membahas Sepuluh Perintah Allah, yang harus difahami umat Kristiani sebagai wahyu dan kehendak Allah (Tanya Jawab 92–114), Katekismus Heidelberg kemudian melontarkan pertanyaan mengapa kita harus melakukan perbuatan baik, sekalipun sebagai orang Kristen, kita tidak dapat menaati perintah-perintah Allah dengan sempurna.

Dalam tanya jawab 114 Katekismus dibahas inti hubungan antara pembenaran hanya karena iman dan perbuatan baik. Karena kita berdosa dari ujung kepala sampai ujung kaki, dan karena dosa mempengaruhi kita dalam setiap aspek keberadaan kita, kita tetap berdosa meskipun kita dibenarkan. Bahkan orang yang diberi banyak iman, dan yang sungguh-sungguh ingin menjalani kehidupan yang menyenangkan Tuhan masih tetap saja berdosa. Perbuatan baik kita tetap ternoda oleh keberdosaan kita sehingga di luar Kristus perbuatan-perbuatan ini hanya akan menghukum kita, karena perbuatan sebaik bagaimana pun telah dirusak oleh dosa dan tidak benar-benar baik.

Waalaupun demikian, karena kita diciptakan “diciptakan dalam Kristus Yesus untuk melakukan pekerjaan baik, yang dipersiapkan Allah sebelumnya” (Efesus 2:10), setiap orang Kristen (yang dibenarkan karena iman saja) akan mulai menaati perintah-perintah Allah, betapapun ragu dan cacatnya ketaatan itu. Hal ini benar bukan karena kita memiliki kemampuan rohani di dalam diri kita yang meresponi kasih karunia Allah tetapi karena “karena Allahlah yang mengerjakan di dalam kamu baik kemauan maupun pekerjaan menurut kerelaan-Nya.” (Filipi 2:13).

Karena pengudusan kita adalah tindakan kasih karunia Allah dan juga pembenaran kita, maka semua orang yang telah dibenarkan hanya karena kasih karunia, melalui iman saja, karena Kristus saja, akan (seperti dikatakan dalam Katekismus) mau hidup sesuai dengan seluruh kehendak Allah. Karena ketaatan kita (seperti dosa kita) ditutupi oleh darah dan kebenaran Kristus (yang membuat perbuatan kita yang tidak sempurna menjadi benar-benar baik), Bapa surgawi kita senang dengan upaya kita yang lemah untuk berbuat baik. Dan ketika kita mengetahui hal ini, kita akan nemiliki keinginan untuk lebih taat.

Hari ini, firman Tuhan menyatakan bahwa setiap orang Kristen sejati akan mengerti bahwa perbuatan baik adalah ciri dari orang yang sudah dibenarkan oleh Tuhan. Orang yang sudah dipilih-Nya untuk diselamatkan adalah orang-orang yang sudah dimampukan-Nya untuk bisa mengeri bahwa Tuhan ingin agar kita mau untuk taat kepada-Nya. Tuhan sendiri yang membimbing dan mengajar kita untuk bisa berbuat baik dalam segala kelemahan kita. Oleh karena itu, hanyalah orang orang Kristen sejati yang akan berbuah-buah dalam segala apa yang baik, segala sesuatu yang akan membawa kemuliaan kepada Tuhan.

Tinggalkan komentar