Jangan Lupakan Tuhan dalam Kepanikan

“Pada waktu itu Yesus sedang tidur di buritan di sebuah tilam. Maka murid-murid-Nya membangunkan Dia dan berkata kepada-Nya: ”Guru, Engkau tidak perduli kalau kita binasa?” Ia pun bangun, menghardik angin itu dan berkata kepada danau itu: ”Diam! Tenanglah!” Lalu angin itu reda dan danau itu menjadi teduh sekali.”Markus‬ ‭4‬:‭38‬-‭39‬‬

Semua orang pernah merasa takut. Rasa takut adalah bagian dari kemanusiaan kita. Takut akan bahaya, kehilangan, penyakit, masa depan, atau ketidakpastian adalah respons yang wajar. Bahkan murid-murid Yesus—orang-orang yang telah berjalan bersama-Nya, melihat mujizat-Nya, dan mendengar pengajaran-Nya—tidak kebal terhadap rasa takut. Namun, apa yang terjadi di perahu itu bukan sekadar takut. Mereka panik.

Panik adalah bentuk ekstrem dari rasa takut. Ia datang mendadak, meluap, dan sering kali melumpuhkan. Dalam kepanikan, akal sehat melemah, tubuh bereaksi keras, dan hati kehilangan pijakan. Detak jantung meningkat, napas terasa sesak, keringat dingin mengalir, dan pikiran dipenuhi oleh satu kesimpulan: kita akan binasa.

Perhatikan kata-kata murid-murid itu:

“Guru, Engkau tidak peduli kalau kita binasa?”

Ini bukan hanya seruan minta tolong. Ini adalah tuduhan yang lahir dari kepanikan. Dalam kondisi panik, mereka tidak sekadar takut pada badai—mereka mulai meragukan karakter Yesus. Kepanikan membuat mereka lupa siapa yang ada di perahu bersama mereka.

Yesus sedang tidur. Bukan karena Ia tidak peduli, tetapi karena Ia berdaulat. Tidur-Nya bukan tanda ketidakhadiran, melainkan ketenangan ilahi di tengah kekacauan. Badai tidak mengejutkan-Nya, ombak tidak mengancam-Nya, dan situasi tidak pernah berada di luar kendali-Nya.

Sering kali, kepanikan kita muncul bukan karena Tuhan tidak hadir, tetapi karena kita kehilangan fokus pada kehadiran-Nya.

Yesus bangun, menghardik angin, dan menenangkan danau. Lalu Ia menegur murid-murid-Nya dengan dua pertanyaan yang sangat menusuk:

“Mengapa kamu begitu takut? Mengapa kamu tidak percaya?”

Yesus tidak menegur mereka karena takut—tetapi karena takut yang berkembang menjadi ketidakpercayaan. Ada perbedaan besar antara takut yang membawa kita kepada Tuhan dan panik yang menjauhkan kita dari Tuhan. Takut bisa menjadi alarm yang mendorong kita berdoa. Panik, sebaliknya, sering membuat kita bertindak seolah-olah Tuhan tidak ada atau tidak peduli.

Di sinilah peran iman menjadi sangat penting.

Pertama, iman mengubah fokus. Iman tidak selalu menghilangkan badai, tetapi iman mengarahkan mata kita kepada Tuhan yang berdaulat atas badai. Dalam kepanikan, fokus kita menyempit pada ancaman. Dalam iman, fokus kita diperluas kepada Pribadi yang memegang kendali. Iman mengingatkan kita bahwa keadaan tidak menentukan kebenaran; Tuhanlah yang menentukan.

Kedua, iman menjadi perisai. Iman bukan sekadar perasaan tenang, melainkan kepercayaan yang berakar pada siapa Tuhan itu—setia, berdaulat, dan baik. Iman melindungi hati kita dari kesimpulan tergesa-gesa yang lahir dari panik. Dengan iman, kita dapat berkata: bahaya ini nyata, tetapi Tuhan tetap memerintah.

Yesus tidak berkata, “Mengapa perahu tak terkendali?”

Ia bertanya, “Mengapa kamu tidak percaya?”

Pertanyaan itu masih relevan hari ini. Ketika hidup terasa seperti perahu kecil di tengah badai besar—krisis kesehatan, tekanan ekonomi, konflik keluarga, atau kecemasan akan masa depan—kita dipanggil bukan untuk menyangkal bahaya, tetapi untuk tidak melupakan Tuhan di tengah kepanikan.

Badai mungkin tidak langsung reda. Yesus mungkin tampak “diam”. Tetapi kehadiran-Nya tidak pernah absen, dan kuasa-Nya tidak pernah berkurang. Iman mengajar kita untuk bersandar, bukan mengendalikan; mempercayai, bukan menuduh; berharap, bukan panik.

Kiranya kita belajar berkata dalam hati yang gelisah:

Tuhan ada di perahu ini. Aku tidak sendirian.

Doa Penutup

Tuhan yang Mahakuasa, kami mengakui bahwa kami mudah takut dan sering kali panik. Dalam badai hidup, kami kerap lupa siapa Engkau dan meragukan kepedulian-Mu. Ampunilah kami.

Ajarlah kami untuk percaya, bukan hanya saat danau teduh, tetapi juga ketika angin bertiup kencang. Tenangkan hati kami, arahkan fokus kami kepada-Mu, dan jadikan iman kami perisai di tengah ketakutan.

Kami menyerahkan setiap kecemasan, kepanikan, dan ketidakpastian ke dalam tangan-Mu. Engkaulah Tuhan yang berdaulat, setia, dan tidak pernah meninggalkan umat-Mu.

Di dalam nama Yesus Kristus, Tuhan atas segala badai, kami berdoa.

Amin.

Masih Adakah Rasa Takut Akan Tuhan?

“Permulaan hikmat adalah takut akan Tuhan, semua orang yang melakukannya berakal budi yang baik. Puji-pujian kepada-Nya tetap untuk selamanya.” Mazmur 111:10

Mazmur 111 ditutup dengan satu pernyataan yang tajam dan mendasar: permulaan hikmat adalah takut akan Tuhan. Bukan kekayaan, bukan pengetahuan, bukan pengalaman hidup. Ini berarti, setinggi apa pun pencapaian manusia, jika rasa takut akan Tuhan hilang, maka hikmat sejati belum pernah benar-benar dimulai.

Pertanyaan ini menjadi sangat relevan ketika kita menoleh kepada salah satu tokoh terbesar dalam Alkitab: Raja Salomo. Tidak ada raja Israel yang menerima berkat sedemikian besar seperti Salomo. Ia dianugerahi hikmat yang melampaui manusia pada zamannya, kekayaan yang tak tertandingi, kedamaian nasional, serta kehormatan di mata bangsa-bangsa. Bahkan, Salomo memulai pemerintahannya dengan hati yang benar—ia meminta hikmat, bukan kekuasaan atau umur panjang.

Namun justru di sinilah ironi yang menyedihkan itu muncul. Salomo yang memulai dengan takut akan Tuhan, perlahan-lahan kehilangan rasa gentarnya. Kitab 1 Raja-raja mencatat bahwa hatinya berpaling ketika ia menjadi tua. Bukan karena Tuhan berhenti memberkati, melainkan karena Salomo berhenti menjaga hatinya. Ia mengizinkan cinta kepada banyak istri asing membentuk arah hidupnya, hingga kesetiaannya kepada Tuhan tergerus secara halus namun pasti.

Kisah Salomo mengungkapkan satu kebenaran yang tidak nyaman: berkat terbesar pun tidak mampu menjaga hati manusia. Hikmat intelektual tidak otomatis menjadi hikmat rohani. Kekayaan tidak menumbuhkan ketaatan. Bahkan pengalaman rohani yang nyata di masa lalu tidak menjamin kesetiaan di masa kini. Ketika takut akan Tuhan tidak lagi menjadi fondasi, hikmat berubah menjadi kemampuan otak, dan ibadah berubah menjadi formalitas. Iman lalu diukur dengan “masuk akal” atau tidak.

Salomo bukan kehilangan pengetahuan tentang Tuhan; ia kehilangan rasa takut akan Tuhan. Ia tetap membangun, tetap memerintah, tetap menulis, namun hatinya tidak lagi sepenuhnya tunduk. Di sinilah Mazmur 111:10 berbicara dengan keras: hikmat tidak diukur dari apa yang kita miliki atau ketahui, melainkan dari Siapa yang kita takuti dan hormati dalam hidup ini, sekalipun Ia tidak terlihat oleh mata.

Kisah ini juga menjadi cermin bagi kita. Kita hidup di zaman di mana iman sering diukur dari seberapa diberkati seseorang: sehat, berhasil, mapan, dan dihormati. Namun Alkitab justru mengingatkan bahwa berkat tanpa rasa takut akan Tuhan dapat menjadi jebakan rohani. Semakin diberkati, semakin besar pula godaan untuk merasa cukup tanpa Tuhan.

Takut akan Tuhan bukan ketakutan yang menjauhkan, melainkan kesadaran terus-menerus bahwa hidup ini berada di bawah otoritas-Nya. Tanpa kesadaran ini, kasih karunia disalahartikan sebagai izin untuk hidup sembarangan. Salomo adalah peringatan bahwa seseorang dapat memulai hidup dengan sangat rohani, namun mengakhiri perjalanan dengan hati yang terbagi.

Mazmur ini ditutup dengan pujian: “Puji-pujian kepada-Nya tetap untuk selamanya.” Hanya orang yang hidup dalam takut akan Tuhan yang mampu memuji-Nya bukan hanya di awal, tetapi sampai akhir. Hikmat sejati bukan tentang bagaimana kita memulai, melainkan bagaimana kita tetap setia ketika Tuhan memberkati.

Maka pertanyaan “masih adakah rasa takut akan Tuhan?” bukan ditujukan kepada dunia di luar gereja, melainkan kepada hati kita sendiri. Apakah kita masih gentar terhadap firman-Nya ketika hidup sedang baik-baik saja? Atau kita mulai menyerupai Salomo—diberkati, tetapi perlahan kehilangan ketundukan?

Kiranya Tuhan memelihara kita bukan hanya dengan berkat, tetapi dengan hati yang takut akan Dia, sampai akhir hidup kita.

Doa Penutup

Tuhan yang kudus dan setia, kami belajar dari kisah Salomo bahwa berkat-Mu yang besar tidak menjamin hati yang setia.

Jagalah kami ketika hidup kami berhasil,ketika doa-doa kami dijawab, dan ketika kami merasa aman.

Tanamkan dalam diri kami rasa takut yang kudus kepada-Mu—takut yang menuntun kami untuk hidup rendah hati, taat, dan setia sampai akhir.

Jangan biarkan hati kami terbagi, atau kasih kami kepada-Mu memudar oleh kenyamanan dunia.

Ajarlah kami memuji Engkau bukan hanya di awal perjalanan,tetapi sepanjang hidup kami.

Di dalam nama Tuhan kami, kami berdoa. Amin.

Kemarahan Punya Konsekuensi

“Hai saudara-saudara yang kukasihi, ingatlah hal ini: setiap orang hendaklah cepat untuk mendengar, tetapi lambat untuk berkata-kata, dan juga lambat untuk marah; sebab amarah manusia tidak mengerjakan kebenaran di hadapan Allah. Yakobus 1:19–20

Dalam tradisi Kristen, dikenal apa yang disebut Tujuh Dosa Mematikan—sebuah daftar yang sudah lama dipakai untuk menolong orang percaya mengenali kecenderungan hati yang berbahaya. Kesombongan, keserakahan, hawa nafsu, iri hati, kerakusan, kemarahan, dan kemalasan dianggap sebagai akar dari banyak dosa lain. Daftar ini bukanlah ayat Alkitab, melainkan hasil permenungan Gereja mula-mula yang kemudian dirumuskan secara sistematis oleh Paus Gregorius I pada abad ke-6.

Namun istilah “mematikan” sering disalahpahami. Ia tidak menunjuk pada kehilangan keselamatan, seolah-olah orang percaya bisa begitu saja terlempar dari anugerah Allah. Yang dimaksud “mematikan” adalah daya rusaknya: mematikan kepekaan rohani, mematikan relasi, mematikan kesaksian, dan sering kali mematikan ketaatan yang seharusnya kita hidupi.

Dari ketujuh dosa itu, kemarahan mungkin yang paling mudah kita maklumi. Kita hidup di dunia yang melelahkan, penuh tekanan, ketidakadilan, dan kekecewaan. Marah terasa manusiawi, bahkan kadang terasa benar. Tetapi firman Tuhan dengan tegas menegur kita: “Amarah manusia tidak mengerjakan kebenaran di hadapan Allah.”

Yakobus memberi nasihat yang sederhana, namun sangat menantang: cepat mendengar, lambat berkata-kata, dan lambat untuk marah. Urutan ini bukan kebetulan. Orang yang tidak mau mendengar biasanya akan cepat berbicara, dan orang yang cepat berbicara hampir selalu mudah tersulut amarah. Kemarahan sering kali bukan ledakan tiba-tiba, melainkan buah dari hati yang tidak mau berhenti sejenak di hadapan Allah.

Di sinilah kisah Musa menjadi cermin yang jujur bagi kita. Musa dikenal sebagai seorang yang lembut hatinya, pemimpin besar yang dipakai Tuhan secara luar biasa. Ia memimpin bangsa yang keras kepala, bersabar menghadapi keluhan demi keluhan, dan berkali-kali berdiri di hadapan Allah untuk membela umat yang layak dihukum. Namun justru Musa jatuh pada titik yang sangat manusiawi: amarah yang tidak terkendali.

Di Meriba, Musa memukul batu ketika Tuhan memerintahkannya untuk berbicara. Kata-kata yang keluar dari mulutnya lahir dari frustrasi, bukan dari iman. Tindakannya tampak sepele, tetapi dampaknya besar. Musa tidak diizinkan Tuhan untuk masuk ke Tanah Perjanjian.

“Tetapi Tuhan berfirman kepada Musa dan Harun: ”Karena kamu tidak percaya kepada-Ku dan tidak menghormati kekudusan-Ku di depan mata orang Israel, itulah sebabnya kamu tidak akan membawa jemaah ini masuk ke negeri yang akan Kuberikan kepada mereka.”” Bilangan‬ ‭20‬:‭12‬‬

Apakah Musa ditolak Allah? Tidak. Apakah keselamatannya dibatalkan? Sama sekali tidak. Tetapi ketidaktaatan yang lahir dari kemarahan membawa konsekuensi nyata. Musa tetap hamba Tuhan, tetap dikasihi, tetapi perannya dibatasi. Janji Allah tetap digenapi, namun Musa tidak menikmatinya sepenuhnya di dunia ini.

Di sinilah kita belajar bahwa anugerah keselamatan Tuhan bukan izin untuk hidup ceroboh. Keselamatan tidak bergantung pada kestabilan emosi kita, tetapi ketaatan kita menentukan bagaimana kita berjalan dalam panggilan Allah di dunia ini. Kemarahan yang dibiarkan tidak selalu menghancurkan iman secara langsung, tetapi sering kali mengikis kepekaan rohani sedikit demi sedikit.

Yakobus tidak berkata bahwa orang percaya tidak boleh pernah marah. Ia berkata, “lambatlah untuk marah.” Beri ruang bagi Roh Kudus untuk bekerja. Berhenti sejenak. Dengarkan lebih dulu. Biarkan firman Tuhan membentuk respons, bukan sekadar emosi.

Kemarahan mempunyai konsekuensi, bukan karena Allah keras, tetapi karena Ia kudus dan mahakasih. Ia tidak dapat membiarkan kita melukai diri sendiri dan orang lain. Ia rindu agar hidup kita mencerminkan kebenaran-Nya, bahkan—dan terutama—di saat tekanan memuncak.

Kiranya firman ini menolong kita hidup dengan kewaspadaan yang rendah hati: bersandar pada anugerah, tetapi berjalan dalam ketaatan.

Doa Penutup

Tuhan yang penuh kasih, kami mengaku bahwa hati kami sering cepat bereaksi, mulut kami cepat berbicara, dan amarah kami kerap mendahului ketaatan.

Ampuni kami ketika emosi kami lebih menonjol daripada kebenaran-Mu. Ajarlah kami untuk cepat mendengar, lambat berkata-kata, dan lambat untuk marah.

Bentuklah hati kami oleh Roh-Mu, agar dalam tekanan hidup kami tetap memuliakan Engkau.

Kami bersyukur atas anugerah yang menyelamatkan, dan kami rindu hidup yang berkenan di hadapan-Mu.

Di dalam nama Tuhan Yesus kami berdoa.Amin.

Haruskah orang Kristen pergi ke gereja?

“Janganlah kita menjauhkan diri dari pertemuan-pertemuan ibadah kita, seperti dibiasakan oleh beberapa orang, tetapi marilah kita saling menasihati, dan semakin giat melakukannya menjelang hari Tuhan yang mendekat.” Ibrani‬ ‭10‬:‭25‬‬

Penulis Kitab Ibrani tidak diketahui, meskipun tradisi kuno mengaitkannya dengan Rasul Paulus, sebuah pandangan yang sekarang diragukan oleh para sarjana teologi modern karena perbedaan gaya tulisan.

Kandidat penulis yang pernah diusulkan termasuk rekan-rekan Paulus seperti Apolos, Barnabas, atau Lukas, tetapi tidak ada bukti definitif yang ada. Yang bisa dipastikan adalah bahwa pertemuan-pertemuan ibadah pada zaman itu tidak dilakukan dalam gedung gereja dalam bentuk, fungsi dan liturgi yang kita kenal sekarang.

Tempat pertemuan Kristen dalam bentuk gereja yang paling awal adalah gereja Dura-Europos di Suriah, sebuah rumah yang dikonversi dari 233-256 M, sementara bangunan gereja tertua yang dibangun khusus yang diketahui adalah Gereja Aqaba di Yordania, yang berasal dari akhir abad ke-3 (sekitar 290-an M), sebelum penganiayaan besar Romawi. Sebelum itu, pertemuan di rumah kecil adalah umum, tetapi struktur yang lebih besar dan dibangun khusus baru muncul pada abad ke-3, dengan yang lebih megah muncul setelah Kekristenan dilegalkan di bawah Kaisar Konstantinus pada tahun 313 M.

Alkitab sebenarnya tidak mengatakan bahwa kita harus pergi ke gereja karena belum ada gedung gereja seperti yang kita kenal sekarang. Orang percaya waktu itu mula-mula “mengabdikan diri mereka untuk pengajaran para rasul dan persekutuan, untuk memecahkan roti dan untuk berdoa” (Kisah Para Rasul 2:42), sehingga mereka dapat menyembah Tuhan dengan orang percaya lainnya, saling mendukung, dan belajar tentang Firman-Nya untuk pertumbuhan spiritual mereka.

Orang Kristen tidak diharuskan untuk pergi ke gereja untuk diselamatkan karena anugerah Tuhan, dan bukan karena perbuatan. Tetapi, Alkitab sangat menekankan orang Kristen untuk bertemu secara teratur dengan orang percaya lainnya untuk persekutuan, dorongan, pengajaran, dan untuk memuji Tuhan secara bersama. Kita melihat gereja sebagai tubuh Kristus, bukan hanya sebuah bangunan.

Sementara iman adalah mutlak perlu, komunitas (“gereja”) dipandang penting untuk pertumbuhan spiritual dan menjalankan iman, dengan Ibrani 10:25 mendesak untuk tidak mengabaikan “berkumpul bersama”.

Keselamatan adalah melalui kasih karunia Tuhan. Menjadi seorang Kristen adalah tentang iman kepada Yesus, bukan tentang mendapatkan poin dengan menghadiri acara kebaktian.

Gereja adalah orang percaya. Gereja” alkitabiah (ekklesia) berarti “majelis yang dipanggil” atau “rakyat,” jadi menjadi seorang Kristen berarti kita adalah bagian dari gereja, tubuh Kristus.

Bertemu dengan orang percaya lainnya membantu orang Kristen tumbuh dalam kasih, perbuatan baik, dan kesetiaan, yang sulit dilakukan dalam isolasi.

Tidak ada ayat khusus yang mengatakan “Anda harus pergi ke gereja setiap hari Minggu atau yang lain,” tetapi prinsip berkumpul dan berkomunikasi dengan saudara seiman sangat penting untuk kehidupan iman yang sehat.

Jika menghadiri gereja tertentu tidak dimungkinkan karena faktor usia, kesehatan, dan situasi politik, bertemu dalam kelompok kecil, online, atau dengan orang percaya lainnya untuk berdoa dan belajar Alkitab bisa dilakukan untuk memenuhi kebutuhan akan komunitas.

Anda dapat menjadi seorang Kristen tanpa menghadiri sebuah gereja, tetapi Anda tidak dapat benar-benar menjadi seorang Kristen tanpa terhubung dengan komunitas Kristen yang lebih luas. Gereja, yang paling baik diungkapkan melalui pertemuan muka dengan muka secara teratur.

Perubahan apa yang dikehendaki Tuhan atas diriku?

“Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaharuan budimu, sehingga kamu dapat membedakan manakah kehendak Allah: apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna.” Roma 12:2

Banyak orang yang setelah menjadi orang percaya kemudian mengalami perubahan karakter dan cara hidup. Sebagai contoh, Paulus (Saulus dari Tarsus) adalah seorang Farisi yang dididik di bawah bimbingan Gamaliel, seorang guru Farisi terkemuka. Sebagai Farisi, ia menganggap ajaran Kristen sesat dan karena itu ia memimpin penganiayaan terhadap umat Kristen, termasuk Stefanus yang dirajam sampai mati. Pengalamannya di jalan Damsyik mengubahnya secara radikal, membuatnya menjadi Paulus, yang mengabarkan kasih karunia Kristus dan kebenaran yang berasal dari iman.

Pada pihak lain, banyak orang yang tidak mengalami pengalaman yang berarti setelah bertobat. Bahkan, setelah bertahun-tahun menjadi orabg Kristen, segala apa yang dikerjakan mereka, cara hidup mereka dan tingkah laku mereka tidak banyak berubah. Mereka mungkin tidak sadar bahwa seharusnya setiap orang Kristen sehatusnya mengalami perubahan karena melalui belas kasihan Allah mereka sudah disembuhkan dari sakit rohani mereka. Yesus pernah berkata: “Bukan orang sehat yang memerlukan tabib, tetapi orang sakit; Aku datang bukan untuk memanggil orang benar, melainkan orang berdosa.” (Markus 2:17). Apakah orang-orang itu belum benar-benar disembuhkan?

Setiap orang yang percaya sudah menerima pengampunan, dan itu adalah kesembuhan Ilahi. Tetapi, tidak semua orang sadar akan implikasi dan tanggung jawab mereka sesudah sembuh. Ini seperti orang yang sudah sembuh dari sakit perut, tetapi tidak pernah mengubah apa yang dimakannya.

Roma 12:1-2 menjawab pertanyaan, “Bagaimana seharusnya kita menanggapi belas kasihan Allah yang besar kepada kita?” Jawabannya adalah menjadi korban yang hidup dan bernapas, menggunakan hidup kita untuk melayani Allah sebagai tindakan penyembahan yang berkelanjutan. Itulah yang masuk akal. Ini bukanlah cara untuk mendapatkan keselamatan, tetapi respons alami yang seharusnya kita miliki setelah diselamatkan.

Untuk melakukan ini, kita perlu melepaskan diri dari pola mementingkan diri sendiri yang ada di dunia dan mengubah pikiran kita agar dapat memahami apa yang Allah inginkan. Kemudian kita akan tahu apa hidup itu dan bagaimana harus hidup.

Surat Paulus kepada jemaat di Roma mencapai satu titik balik yang penting pada pasal 12. Setelah sebelas pasal penuh dengan penjelasan tentang dosa manusia, anugerah Allah, pembenaran oleh iman, dan karya keselamatan yang sepenuhnya berasal dari belas kasihan Tuhan, Paulus kini beralih dari doktrin keselamatan ke respons manusia. Ia tidak memulai dengan tuntutan moral, melainkan dengan dasar yang kokoh: “demi kemurahan Allah.”

Seluruh panggilan hidup Kristen berakar pada apa yang telah Allah lakukan terlebih dahulu, bukan pada apa yang manusia mampu capai.

Dalam Roma 12, Paulus menggambarkan penyembahan kepada Allah kita sebagai menjadi korban yang hidup bagi Allah kita, melepaskan pencarian apa yang kita inginkan dari hidup dan belajar untuk mengetahui dan melayani apa yang Allah inginkan. Itu dimulai dengan menggunakan karunia rohani kita untuk melayani satu sama lain di gereja. Daftar perintah Paulus menggambarkan gaya hidup yang mengesampingkan diri sendiri.

Salah satu dari tujuan hidup kita sebagai orang Kristen adalah untuk saling mengasihi dan mengangkat satu sama lain.

Paulus mendesak orang percaya untuk menanggapi anugerah Allah dengan mempersembahkan seluruh hidup—tubuh, pikiran, kehendak, dan arah hidup—sebagai korban yang hidup. Ini bukan pengorbanan yang mati dan berakhir di altar, melainkan pengorbanan yang terus bernapas, berjalan, bekerja, dan berelasi setiap hari.

Hidup Kristen bukan sekadar perubahan perilaku sesekali, melainkan penyerahan diri yang utuh dan berkelanjutan.

Langkah pertama dari penyerahan itu bersifat negatif sekaligus radikal: “Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini.” Dunia yang dimaksud Paulus adalah sistem nilai yang terbentuk dari manusia yang hidup tanpa Allah. Inilah pola hidup “default” manusia berdosa—cara hidup manusia yang asli dalam berpikir, menilai, dan menginginkan sesuatu tanpa mempertimbangkan kehendak Sang Pencipta.

Rasul Yohanes merangkum pola hidup duniawi ini sebagai “keinginan daging, keinginan mata, dan keangkuhan hidup.” Dengan naluri alamiah, kita semua tertarik pada kenikmatan, kepemilikan, dan pengakuan. Kita mengejar kenyamanan, prestasi, status, dan rasa unggul atas orang lain—sering kali bukan karena itu sungguh dibutuhkan, melainkan karena itulah ukuran keberhasilan yang dunia ajarkan. Tanpa disadari, kita mulai menilai hidup berdasarkan apa yang kita miliki, seberapa dihormati kita, dan seberapa besar kendali yang kita rasakan.

Namun Paulus tidak berhenti pada larangan untuk menjadi orang duniawi. Ia melanjutkan dengan panggilan yang jauh lebih dalam: “berubahlah oleh pembaharuan budimu.” Perubahan yang Tuhan kehendaki bukan sekadar kosmetik rohani, bukan hanya perilaku yang diperhalus atau kebiasaan yang dipoles. Perubahan sejati dimulai dari pusat kendali hidup manusia: cara berpikir. Pikiran yang diperbarui bukan pikiran yang lebih religius, melainkan pikiran yang terus menerus ditundukkan kepada kebenaran Allah.

Pembaharuan budi berarti belajar melihat realitas dengan kacamata Allah. Nilai-nilai lama ditantang, asumsi lama diuji, dan tujuan hidup lama dipertanyakan. Dunia bertanya, “Apa yang membuatku bahagia?” Injil bertanya, “Apa yang memuliakan Tuhan?” Dunia bertanya, “Apa keuntunganku?” Injil bertanya, “Apa kehendak Allah?” Inilah perubahan arah yang halus namun menentukan.

Tujuan dari pembaharuan ini bukan kebingungan rohani, melainkan kepekaan rohani. Paulus berkata bahwa dengan pikiran yang diperbarui, kita dapat membedakan kehendak Allah—apa yang baik, berkenan, dan sempurna.

Kehendak Tuhan bukanlah teka-teki mistis yang hanya bisa dipecahkan oleh segelintir orang rohani. Ia dikenali melalui hidup yang melalui Roh Kudus diselaraskan dengan kebenaran-Nya, melalui hati yang rela dibentuk, dan melalui pikiran yang terus diperbarui oleh firman-Nya.

Tuhan tidak selalu memanggil kita keluar dari “dunia” secara fisik. Ia mungkin tetap mempercayakan kesenangan, harta, atau posisi tertentu. Namun Ia mengubah cara kita memandang semuanya itu. Seperti apa yang terjadi pada pemungut cukai Zakheus (Lukas 19:8), pertanyaan hidup kita bergeser: bukan lagi “apa yang bisa saya dapatkan dari hidup ini?”, melainkan “apa yang Tuhan ingin kerjakan melalui hidup saya?” Bukan lagi “apa yang paling menguntungkan saya?”, melainkan “apa yang baik, berkenan, dan sempurna di mata Allah?”

Perubahan yang dikehendaki Tuhan belum tentu berupa perubahan kegiatan hidup, melainkan perubahan pandangan hidup.

Hidup yang dipersembahkan kepada Allah adalah hidup yang terus belajar berkata: “Bukan kehendakku, melainkan kehendak-Mu yang jadi.” Dan di situlah, justru, manusia menemukan makna yang sejati. Hidup baru yang makin lama makin dipakai untuk memuliakan Dia, dan bukan untuk diri sendiri.

Doa Penutup

Tuhan yang penuh belas kasihan, kami bersyukur karena Engkau terlebih dahulu mengasihi kami dan menyelamatkan kami oleh anugerah-Mu. Ajarlah kami untuk tidak hidup menurut pola dunia ini, meskipun godaannya begitu kuat dan tampak wajar. Perbaruilah budi kami oleh kebenaran firman-Mu. Ubah cara kami berpikir, menilai, dan menginginkan sesuatu, agar hidup kami semakin selaras dengan kehendak-Mu. Bimbing kami untuk membedakan apa yang baik, yang berkenan kepada-Mu, dan yang sempurna menurut tujuan-Mu. Kami serahkan hidup kami sebagai korban yang hidup di hadapan-Mu. Pakailah kami bukan untuk kemuliaan diri sendiri, melainkan untuk kemuliaan nama-Mu. Di dalam nama Yesus Kristus kami berdoa. Amin.

Haruskah Kita Mempunyai Moral yang Baik?

“Jika demikian, apakah yang hendak kita katakan? Bolehkah kita bertekun dalam dosa, supaya semakin bertambah kasih karunia itu? Sekali-kali tidak! Bukankah kita telah mati bagi dosa, bagaimanakah kita masih dapat hidup di dalamnya?” Roma 6:1–2

Pertanyaan Paulus dalam Roma 6 bukanlah pertanyaan yang dangkal atau bersifat spekulatif. Pertanyaan ini muncul secara alami dari Injil yang ia beritakan dengan sangat radikal: bahwa manusia dibenarkan bukan oleh perbuatan, bukan oleh ketaatan hukum, dan bukan oleh keunggulan moral, melainkan semata-mata oleh kasih karunia Allah di dalam Kristus. Ketika Injil diberitakan dengan jujur, pertanyaan seperti ini tidak dapat dihindari.

Jika keselamatan adalah anugerah sepenuhnya, lalu apakah moral orang Kristen masih penting? Jika dosa kita diampuni, bahkan dipakai Allah untuk menyatakan kelimpahan kasih karunia-Nya, apakah kita boleh hidup santai dalam dosa?

Kita bisa membaca bahwa syarat menjadi pendeta, penatua, dan diaken berdasarkan Alkitab (terutama 1 Timotius 3:1-13) mencakup karakter yang saleh, integritas moral, kehidupan keluarga yang baik, penguasaan diri, dan pelayanan yang melayani, dengan fokus pendeta pada firman Tuhan dan diaken pada pelayanan kasih dan kebutuhan jemaat, serta keduanya harus terbukti tidak bercela dan memiliki reputasi baik di dalam maupun di luar gereja.

Lalu bagaimana pula dengan mereka yang tidak menjabat posisi gereja? Bolehkah kita santai dalam hal moral karena kita adalah pedagang, businessman, kontraktor, politikus, pegawai pajak, murid sekolah, pensiunan, atau “orang awam Kristen” lainnya?

Jawaban Paulus datang dengan kekuatan penuh: “Sekali-kali tidak!” Ini bukan sekadar nasihat etis, tetapi penegasan tentang hakikat keselamatan itu sendiri. Menurut Paulus, gagasan bahwa situasi di mana orang percaya terus hidup dalam dosa menunjukkan bahwa Injil belum sungguh-sungguh dipahami.

Alasannya sederhana namun mendalam: orang percaya bukan hanya diampuni, tetapi dipersatukan dengan Kristus. Keselamatan bukan hanya perubahan status hukum—dari bersalah menjadi benar—melainkan juga perubahan arah hidup. Paulus berkata, “Kita telah mati bagi dosa.” Artinya, dosa tidak lagi menjadi kuasa yang menguasai, identitas yang menentukan, atau tujuan yang dicari.

Ini tidak berarti orang percaya tidak lagi berdosa. Alkitab dengan jujur mengakui kelemahan dan kegagalan umat Tuhan. Namun ada perbedaan besar antara jatuh ke dalam dosa dan hidup di dalam dosa. Yang pertama adalah pergumulan orang yang telah ditebus; yang kedua adalah ciri hidup lama yang belum berubah.

Melalui Alkitab kita bisa melihat bahwa hidup yang tidak bermoral tidak perlu dibayangkan sebagai hidup sebagai seorang koruptor, pembunuh bayaran, pemabuk, atau penjudi. Seorang bisa dikatakan hidup amoral jika pikirannya masih penuh dengan hal-hal yang tidak baik seperti yang dinyatakan dalam Alkitab: hawa nafsu, iri hati, dendam, kemarahan, egoisme, apatisme, dan kesombongan.

Perlu kita sadari bahwa Injil tidak memanggil kita untuk menjadi orang baik agar diterima Allah. Injil menyatakan bahwa Allah menerima orang berdosa yang tidak layak, lalu mengubahkan mereka dari dalam. Karena itu, kehidupan moral orang percaya bukanlah alat untuk memperoleh keselamatan, melainkan buah dari keselamatan yang telah diterima.

Yesus sendiri menegaskan hubungan ini ketika Ia berkata, “Jikalau kamu mengasihi Aku, kamu akan menuruti perintah-perintah-Ku.” (Yohanes 14:15). Ketaatan bukan syarat kasih, tetapi wujud kasih. Ketika kasih karunia sungguh dipahami, ketaatan tidak lagi dilihat sebagai beban, melainkan sebagai respons syukur. Itulah sebabnya mengapa Paulus menulis;

“Jadi akhirnya, saudara-saudara, semua yang benar, semua yang mulia, semua yang adil, semua yang suci, semua yang manis, semua yang sedap didengar, semua yang disebut kebajikan dan patut dipuji, pikirkanlah semuanya itu.” Filipi‬ ‭4‬:‭8‬‬

Hukum Tuhan tidak dibuang setelah Injil datang. Yang dibuang adalah upaya manusia menggunakan hukum untuk membenarkan diri. Hukum tetap berfungsi sebagai cermin yang menyadarkan dosa, sebagai batas yang menahan kejahatan, dan sebagai penuntun bagi kehidupan orang yang telah diperbarui. Dalam terang kasih karunia, hukum tidak lagi menghakimi, tetapi membimbing.

Roma 6 juga memperingatkan kita terhadap bahaya kasih karunia yang disalahpahami. Kasih karunia sejati tidak pernah murah. Ia mahal karena Kristus harus mati untuk menebus kita, dan karena itu ia juga mahal bagi kita—sebab kita dipanggil untuk mematikan dosa dan hidup bagi Allah. Bukan untuk memperoleh keselamatan, tetapi karena keselamatan itu telah menjadi milik kita.

Kasih karunia yang menyelamatkan tidak pernah berdiri sendiri. Ia selalu mendorong perubahan hidup. Dan hidup yang diubahkan itulah yang memuliakan Allah.

Ketika kita gagal, kita tidak kembali kepada ketakutan atau usaha membenarkan diri. Kita kembali kepada Injil yang sama—kasih karunia yang mengampuni, memulihkan, dan terus membentuk kita sampai akhir hayat.

Maka, perlukah kita mempunyai moral yang baik? Jawabannya adalah: ya, mutlak perlu, tetapi bukan sebagai dasar keselamatan. Moral yang baik adalah tanda kehidupan baru, bukti pekerjaan Roh Kudus, dan kesaksian nyata bahwa kasih karunia Allah sungguh bekerja dalam diri seseorang.

Doa Penutup

Tuhan yang penuh kasih karunia, kami bersyukur karena Engkau menyelamatkan kami bukan karena kebaikan kami, tetapi karena kasih-Mu yang besar di dalam Kristus. Ampuni kami jika kami pernah menyalahgunakan anugerah-Mu untuk membenarkan dosa. Ajarlah kami hidup sesuai dengan identitas baru yang Engkau berikan—mati bagi dosa dan hidup bagi-Mu. Bentuklah hati kami agar ketaatan lahir dari kasih dan syukur, bukan dari ketakutan atau kesombongan. Kiranya hidup kami menjadi kesaksian bagi kemuliaan nama-Mu. Amin.

Menjatuhkan melalui perkataan

“Barangsiapa menyesatkan salah satu dari anak-anak kecil ini yang percaya kepada-Ku, lebih baik baginya jika sebuah batu kilangan diikatkan pada lehernya dan ia ditenggelamkan ke dalam laut.” – Matius 18:6

Kita hidup di zaman yang sangat menjunjung tinggi kebebasan berekspresi. Banyak orang merasa bahwa selama yang diucapkan itu benar, maka cara penyampaiannya tidak lagi penting. Ungkapan seperti “Saya hanya jujur” atau “Saya berhak menyampaikan pendapat” sering dipakai untuk membenarkan kata-kata yang tajam, sinis, atau merendahkan.

Alkitab berulang kali menegaskan bahwa perkataan bukanlah hal sepele. Kata-kata memiliki kuasa untuk membangun, tetapi juga kuasa untuk merusak. Tidak sedikit relasi hancur, komunitas gereja terpecah, bahkan iman seseorang terguncang bukan karena kebohongan, melainkan karena cara kebenaran itu disampaikan.

Yesus sendiri memberi peringatan keras tentang hal ini dalam ayat di atas. Kata “menyesatkan” di sini juga dapat diterjemahkan sebagai “menjadi batu sandungan”. Bukan selalu berarti mengajarkan ajaran sesat, tetapi juga mencakup sikap, tindakan, dan perkataan yang membuat orang lain jatuh atau tersandung dalam perjalanan imannya.

Alkitab tidak pernah memisahkan kebebasan dari kasih. Rasul Paulus menulis:

“Segala sesuatu diperbolehkan. Benar, tetapi bukan segala sesuatu berguna. Segala sesuatu diperbolehkan. Benar, tetapi bukan segala sesuatu membangun.” (1 Korintus 10:23)

Perkataan yang benar secara isi, bisa menjadi salah secara rohani. Ketepatan teologis tidak otomatis berarti kesetiaan moral. Di sinilah muncul konsep batu sandungan: sesuatu yang sah, tetapi disampaikan tanpa hikmat, sehingga melukai atau menjatuhkan orang lain.

Alkitab dengan jujur mengakui bahwa perkataan kita bisa memicu dosa orang lain:

“Jawaban yang lemah lembut meredakan kegeraman, tetapi perkataan yang pedas membangkitkan marah.” (Amsal 15:1)

Nada, waktu, dan sikap hati sering lebih menentukan dampak perkataan daripada isi kalimatnya. Kritik yang benar tetapi disampaikan dengan nada merendahkan dapat memicu kemarahan. Teguran yang tepat tetapi diucapkan di depan umum dapat mempermalukan dan mengeraskan hati.

Alkitab, khususnya  dalam Efesus 6:4 dan Kolose 3:21 juga memerintahkan para orang tua (khususnya bapa) untuk tidak membangkitkan amarah di dalam hati anak-anak mereka, tetapi mendidik mereka di dalam ajaran dan nasihat Tuhan, yang berarti menghindari perlakuan kasar, tidak adil, atau memprovokasi yang menyebabkan anak sakit hati, benci, atau memberontak. Sebaliknya, membesarkan mereka dengan disiplin dan ajaran yang benar agar mereka bertumbuh dalam kasih dan takut akan Tuhan. 

Dalam konteks ini, setiap orang yang berbicara dipanggil untuk hikmat moral:

  • Apakah perkataanku membangun atau sekadar melampiaskan emosi?
  • Apakah aku berbicara demi kebaikan orang lain atau demi pembenaran diri?
  • Apakah ini waktu yang tepat, tempat yang tepat, dan cara yang tepat?

Pada pihak yang lain, Alkitab juga tidak membebaskan pendengar dari tanggung jawab moral. Bahwa seseorang tersinggung atau marah tidak otomatis berarti pembicara sepenuhnya salah.

Yakobus menasihati:

“Setiap orang hendaklah cepat untuk mendengar, tetapi lambat untuk berkata-kata, dan juga lambat untuk marah.” (Yakobus 1:19)

Rasa tersinggung, terluka, atau jengkel tidak memberi kita izin untuk bereaksi dengan kemarahan, kata-kata kasar, atau kebencian. Sama seperti godaan tidak membenarkan dosa, adanya provokasi orang lain tidak membenarkan kehilangan penguasaan diri.

Di sinilah tanggung jawab moral pendengar diuji:

  • Apakah aku menjaga hatiku?
  • Apakah aku membalas dengan kasih atau dengan ego?
  • Apakah aku mau mendengar kebenaran meski disampaikan dengan cara yang kurang sempurna?

Adalah kenyataan bahwa dalam komunikasi antar umat Tuhan, terutama dalam keluarga dan gereja, sering kali ada dua kegagalan sekaligus. Yang berbicara gagal dalam kasih, Yang mendengar gagal dalam penguasaan diri. Alkitab memanggil keduanya kepada pertobatan, bukan untuk saling menyalahkan.

Rasul Paulus menasihati jemaat:

“Janganlah ada perkataan kotor keluar dari mulutmu, tetapi pakailah perkataan yang baik untuk membangun.” (Efesus 4:29)

Dan di saat yang sama:

“Segala kepahitan, kegeraman, kemarahan… hendaklah dibuang dari antara kamu.” (Efesus 4:31)

Pagi ini kita belayar bahwa cara berbicara, baik secara lisan maupun tertulis, yang membuat orang lain tersandung bukan hanya soal kata-kata kasar, tetapi juga soal kebenaran yang disampaikan tanpa kasih, kritik tanpa empati, dan kebebasan tanpa tanggung jawab.

Kristus tidak pernah mengorbankan kebenaran demi kenyamanan, tetapi Ia juga tidak pernah mengorbankan kasih demi memenangkan perdebatan. Di salib, kebenaran dan kasih bertemu dengan sempurna. Kiranya kita bisa belajar berbicara seperti Kristus:

  • tegas tanpa kejam,
  • jujur tanpa melukai,
  • benar tanpa menjadi batu sandungan.

“Jadi akhirnya, saudara-saudara, semua yang benar, semua yang mulia, semua yang adil, semua yang suci, semua yang manis, semua yang sedap didengar, semua yang disebut kebajikan dan patut dipuji, pikirkanlah semuanya itu.”
— ‭‭Filipi‬ ‭4‬:‭8‬‬

Doa Penutup

Tuhan yang penuh kasih, ampuni kami bila perkataan kami sering lebih mencerminkan keinginan untuk menang daripada kerinduan untuk mengasihi. Ajarlah kami berbicara dengan hikmat, kepekaan, dan kerendahan hati, agar kata-kata kami tidak menjadi batu sandungan bagi sesama.

Beri kami juga hati yang lembut saat mendengar, agar kami tidak cepat tersinggung, tidak mudah marah, dan tidak membalas kejahatan dengan kejahatan. Bentuklah kami menjadi umat yang mencerminkan karakter Kristus, baik dalam berkata-kata maupun dalam merespons.

Kiranya setiap perkataan yang keluar dari mulut kami berkenan di hadapan-Mu dan membawa kehidupan bagi orang lain. Di dalam nama Tuhan Yesus kami berdoa. Amin.

Jangan Menjadi Batu Sandungan

“Janganlah kita saling menghakimi lagi! Tetapi lebih baik kamu membuat keputusan ini: jangan kamu menaruh batu sandungan atau batu penghalang di depan saudaramu.” — Roma 14:13

Kemarin kita membaca bahwa Alkitab dengan jelas mengajarkan bahwa setiap orang bertanggung jawab atas dosanya sendiri. Tidak ada seorang pun yang bisa menyalahkan orang atau keadaan atas dosanya. Yakobus menegaskan bahwa pencobaan berasal dari keinginan pribadi yang menyeret dan memikat hati manusia. Namun kebenaran ini tidak boleh dipahami secara terpisah dari tanggung jawab kita terhadap sesama.

Dalam hal relasi antar manusia, Yakobus menulis:

“Hai saudara-saudara yang kukasihi, ingatlah hal ini: setiap orang hendaklah cepat untuk mendengar, tetapi lambat untuk berkata-kata, dan juga lambat untuk marah; sebab amarah manusia tidak mengerjakan kebenaran di hadapan Allah.”
— ‭‭Yakobus‬ ‭1‬:‭19‬-‭20‬‬

Ini berarti bahwa cara kita berkomunikasi dan menjaga emosi kita juga penting untuk tidak membuat hubungan antar sesama umat Kristen menjadi buruk dengan adanya kemarahan.

Tanggung jawab pribadi kepada Tuhan tidak membebaskan kita dari kewajiban mengasihi sesama. Justru di sinilah kedewasaan iman diuji: bukan hanya dalam menghindari kemarahan diri sendiri, tetapi juga dalam mencegah timbulnya kemarahan orang lain sekalipun kita berada dalam posisi yang benar. Kita harus memastikan bahwa hidup kita tidak menjadi batu sandungan bagi orang lain, baik dalam keluarga maupun gereja.

Hari ini kita membaca bahwa Paulus menulis surat Roma kepada jemaat yang sedang bergumul dan berdebat dengan adanya perbedaan pandangan—tentang makanan, hari-hari tertentu, dan praktik keagamaan. Masalahnya bukan semata-mata soal benar atau salah, melainkan soal dampak. Karena itu Paulus tidak berkata, “Kamu bebas melakukan apa saja karena itu urusanmu,” tetapi justru berkata, “Putuskanlah untuk tidak menjadi batu sandungan.” Artinya, ada keputusan sadar dan sengaja untuk membatasi diri demi kebaikan rohani orang lain.

Batu sandungan bukanlah sekadar kesalahan kecil atau ketidaksengajaan. Dalam konteks Alkitab, batu sandungan adalah sesuatu yang membuat orang lain tersandung dalam imannya—jatuh, tawar hati, marah, atau bahkan menjauh dari Tuhan. Ironisnya, batu sandungan sering kali tidak muncul dalam bentuk dosa yang terang-terangan, melainkan dalam hal-hal yang tampak sepele dan dianggap wajar.

Sebagai contoh, perkataan yang keras, kurang sopan, atau bernada meremehkan dapat melukai hati dan memicu reaksi yang tidak membangun, terlebih bagi mereka yang imannya masih rapuh. Demikian pula cara berpakaian yang tidak pantas atau tidak bijaksana dapat membangkitkan pikiran dan dorongan yang tidak sehat pada orang lain. Begitu juga cara bergaul yang tidak pantas dapat membuat orang lain mengabaikan moralitas Kristen.

Meskipun niat kita mungkin tidak salah atau jahat, dampaknya tetap nyata. Dalam hal ini, Alkitab tidak hanya menilai niat, tetapi juga menimbang akibat dari tindakan kita terhadap sesama. Persoalan dan hak pribadi kita sering kali membuat orang lain dan bahkan seisi rumah dan gereja menjadi resah. Itu sebabnya, mengapa menjadi pengikut Kristus itu tidak mudah. Itu menuntut perjuangan dan pengorbanan setiap hari.

Yesus sendiri memberikan peringatan yang sangat keras tentang hal ini. Ia berkata bahwa siapa pun yang menyesatkan salah satu dari yang kecil yang percaya kepada-Nya, lebih baik baginya jika sebuah batu kilangan diikatkan pada lehernya (Lukas 17:2). Pernyataan ini menunjukkan betapa seriusnya Tuhan memandang dampak hidup kita terhadap iman orang lain. Tuhan bukan hanya memperhatikan apa yang kita lakukan, tetapi juga apa pengaruhnya bagi orang di sekitar kita, terutama anak-anak kita dan sesama anggota gereja.

Sering kali kita bersembunyi di balik kalimat, “Itu kan urusan dia dengan Tuhan.” Atau “Ini kan hak pribadi saya.”Kalimat ini mungkin terdengar rohani, tetapi bisa menjadi pembenaran untuk ketidakpedulian. Memang benar, setiap orang akan berdiri sendiri di hadapan Allah. Setiap orang Kristen masih mempunyai pilihan bebas. Namun kasih Kristen tidak berhenti pada prinsip keadilan; kasih bergerak melampaui itu dengan kepedulian terhadap saudara seiman. Paulus bahkan berkata bahwa ia rela tidak makan daging selamanya jika hal itu membuat saudaranya jatuh dalam dosa. Ini bukan kelemahan iman, melainkan kekuatan kasih.

Menjadi batu sandungan juga bisa terjadi melalui teladan hidup yang tidak konsisten, kebebasan yang dipamerkan tanpa hikmat, atau kebenaran yang disampaikan tanpa kelembutan. Orang yang imannya sedang bertumbuh tidak membutuhkan dari orang lain sikap merasa paling benar, melainkan contoh hidup yang rendah hati dan penuh kesabaran. Kebenaran tanpa kasih tidak membangun; justru dapat menjatuhkan. Gereja yang bagus pengajarannya atau hebat pujiannya tapi tidak menyatakan kasih tidak akan bertumbuh.

Renungan ini mengajak kita bercermin, bukan menunjuk. Bukan bertanya, “Siapa yang mudah tersandung?” atau “Siapa yang mudah tersinggung?” melainkan, “Apakah cara hidupku aman untuk dilihat orang lain?”, atau “Apakah cara bicaraku bisa diterima dengan baik oleh orang lain?”. Pertanyaan ini menolong kita hidup dengan kewaspadaan rohani—menyadari bahwa hidup kita diamati dan dapat memengaruhi perjalanan iman orang lain. Cara hidup orang Kristen adalah salah satu cara yang efektif untuk mengabarkan Injil.

“Demikianlah hendaknya terangmu bercahaya di depan orang, supaya mereka melihat perbuatanmu yang baik dan memuliakan Bapamu yang di sorga” Matius 5:16

Pada akhirnya, panggilan untuk tidak menjadi batu sandungan adalah panggilan untuk meniru Kristus. Ia adalah Pribadi yang memiliki segala hak, namun rela melepaskan kemuliaan-Nya demi keselamatan manusia. Ia tidak hidup untuk menyenangkan diri-Nya sendiri, melainkan untuk membangun dan menyelamatkan. Kiranya hidup kita pun demikian: bukan menjadi batu sandungan, melainkan menjadi jalan yang menuntun orang lain kepada Tuhan.

Doa Penutup

Tuhan yang penuh kasih, kami bersyukur atas kebebasan yang Engkau berikan di dalam Kristus. Namun ajarlah kami menggunakan kebebasan itu dengan hikmat dan kasih.

Jauhkan kami dari sikap, perkataan, dan tindakan yang dapat melukai iman sesama. Bentuklah hati kami agar peka terhadap dampak hidup kami bagi orang lain, dan jadikan hidup kami sarana berkat, bukan batu sandungan.

Tolong kami meneladani kerendahan hati Kristus dalam setiap langkah hidup kami. Di dalam nama Tuhan Yesus kami berdoa. Amin.

Dosa Datang dari Diri Sendiri

“Tetapi tiap-tiap orang dicobai oleh keinginannya sendiri, karena ia diseret dan dipikat olehnya.” — Yakobus 1:14

Salah satu kecenderungan manusia yang paling tua adalah menyalahkan faktor di luar dirinya ketika jatuh dalam dosa. Lingkungan dianggap terlalu rusak, godaan terlalu kuat, keadaan terlalu sulit, atau orang lain terlalu jahat. Sejak awal sejarah manusia, pola ini sudah terlihat jelas. Ketika Adam jatuh, ia menyalahkan Hawa. Ketika Hawa ditanya, ia menunjuk kepada ular. Namun Yakobus dengan sangat tegas dan jujur memotong rantai pembelaan diri itu: dosa tidak berawal dari luar, melainkan dari dalam diri manusia sendiri.

Yakobus 1:14 menegaskan bahwa pencobaan bekerja melalui keinginan pribadi—nafsu yang hidup di dalam hati manusia. Godaan dari luar memang nyata, tetapi ia hanya menjadi efektif ketika menemukan “pintu” yang terbuka di dalam diri kita. Setan tidak menciptakan keinginan itu; ia hanya memanfaatkan apa yang sudah ada. Lingkungan tidak memaksa manusia berdosa; ia hanya memperbesar kecenderungan yang telah bersemayam di hati. Ulah orang lain tidak membuat kita melakukan apa yang jahat, tetapi reaksi kita atas hal itulah yang menimbulkan dosa.

Hal ini sangat jelas terlihat dalam kisah Adam dan Hawa. Ular memang berbicara, tetapi ular tidak memaksa. Buah itu memang terlihat indah, tetapi buah itu tidak melompat ke tangan Hawa. Kejatuhan terjadi ketika hati manusia mulai mempercayai keinginan sendiri lebih daripada firman Allah. Ketika keinginan “menjadi seperti Allah” terasa lebih menarik daripada ketaatan, saat itulah dosa mulai dikandung.

Yakobus melanjutkan gambaran ini dengan sangat tajam: keinginan itu “menyeret dan memikat”. Kata-kata ini menunjukkan bahwa dosa jarang datang dengan ancaman yang menakutkan. Ia datang dengan janji, dengan rasa ingin tahu, dengan pembenaran logis, bahkan dengan bahasa rohani. Dosa jarang berkata, “Lakukan ini atau engkau akan menderita.” Sebaliknya, dosa berkata, “Ini jalan yang terbaik,” Ini tidak apa-apa,” “Ini pantas,” ” Kamu benar,” “Semua orang juga melakukannya,” atau “Kamu layak mendapatkannya.”

Karena itu, kesadaran bahwa dosa berasal dari dalam diri sendiri adalah langkah awal pertobatan yang sejati. Selama manusia masih sibuk menyalahkan keadaan, ia tidak akan pernah sungguh-sungguh berubah. Pertobatan bukan dimulai dengan memperbaiki dunia di luar, tetapi dengan merendahkan hati di hadapan Allah dan mengakui kerusakan hati sendiri. Injil tidak pernah mengajarkan bahwa manusia pada dasarnya baik dan hanya perlu lingkungan yang lebih sehat. Alkitab justru mengajarkan bahwa hati manusia perlu diperbarui.

Kesadaran ini bukan untuk membuat kita putus asa, melainkan untuk membawa kita pada anugerah. Jika dosa hanya masalah lingkungan, maka solusinya adalah kontrol. Tetapi jika dosa berasal dari hati, maka solusinya adalah kelahiran baru. Kristus datang bukan sekadar untuk memberi teladan moral, tetapi untuk memberi hati yang baru. Roh Kudus bekerja bukan hanya menahan dosa dari luar, melainkan membarui keinginan dari dalam.

Di sinilah pertempuran rohani yang sesungguhnya berlangsung. Bukan terutama di ruang publik, media sosial, atau sistem dunia, melainkan di dalam pikiran dan hati manusia. Doa, firman Tuhan, disiplin rohani, dan persekutuan orang percaya bukanlah sekadar aktivitas keagamaan, tetapi sarana Allah membentuk ulang keinginan kita. Ketika keinginan akan kebenaran semakin kuat, daya tarik dosa perlahan kehilangan cengkeramannya.

Namun kita juga harus jujur: selama hidup di dunia ini, pergumulan itu tidak pernah benar-benar berhenti. Orang percaya bukanlah orang yang tidak memiliki keinginan berdosa, melainkan orang yang tidak lagi diperbudak olehnya. Kita belajar berkata “tidak” bukan dengan kekuatan diri sendiri, tetapi dengan bersandar pada kasih karunia Tuhan yang lebih besar daripada kelemahan kita.

Renungan ini mengajak kita bercermin, bukan menunjuk. Setiap kali kita jatuh, pertanyaannya bukan pertama-tama “siapa atau apa yang menggoda?”, melainkan “bagian hati mana yang belum diserahkan sepenuhnya kepada Tuhan?” Dari sanalah pertumbuhan rohani dimulai—dari kejujuran di hadapan Allah yang mengenal hati kita lebih dalam daripada kita mengenal diri sendiri.

Doa Penutup

Tuhan yang Mahakudus, kami mengakui bahwa sering kali kami lebih mudah menyalahkan keadaan daripada mengakui kelemahan hati kami sendiri.

Ampunilah kami ketika kami membenarkan dosa dan menutup mata terhadap keinginan yang tidak berkenan kepada-Mu.

Perbaruilah hati kami oleh Roh-Mu, agar keinginan kami semakin selaras dengan kehendak-Mu.

Ajarlah kami berjaga-jaga atas hati kami, rendah hati dalam pertobatan, dan setia berjalan dalam terang kasih karunia-Mu.

Di dalam nama Tuhan Yesus Kristus kami berdoa. Amin.

Hindari Perdebatan yang Bodoh

“Hindarilah soal-soal yang dicari-cari, yang bodoh dan tidak layak. Engkau tahu bahwa soal-soal itu menimbulkan pertengkaran, sedangkan seorang hamba Tuhan tidak boleh bertengkar, tetapi harus ramah terhadap semua orang. Ia harus cakap mengajar, sabar — ‭‭2 Timotius‬ ‭2‬:‭23-24‬‬

Pernahkah Anda menonton perdebatan antar calon pemimpin negara di TV? Banyak orang mengira bahwa berdebat adalah tanda kecerdasan dan keberanian. Siapa yang paling lantang, paling tajam, dan paling mampu mematahkan argumen lawan sering dianggap sebagai pemenang. Itu adalah pandangan manusia.

Alkitab mengajarkan hikmat yang berbeda. Rasul Paulus dengan tegas menasihati Timotius agar berhati-hati dalam berdebat, untuk menghindari argumen yang bodoh. Nasihat ini tidak lahir dari sikap anti-intelektual atau ketakutan terhadap diskusi, melainkan dari pemahaman rohani tentang dampak perdebatan yang tidak sehat dalam gereja-Nya.

Dalam dua ayat sebelumnya, Paulus memberi Timotius perintah tentang apa yang harus “dihindari” dan “dikejar.” Di sini, Paulus sekali lagi mengingatkan Timotius untuk menghindari pertengkaran dangkal dan tidak berarti yang telah diperingatkannya dalam ayat 16.

“Tetapi hindarilah omongan yang kosong dan yang tak suci yang hanya menambah kefasikan.”
— ‭‭2 Timotius‬ ‭2‬:‭16‬‬

Percakapan yang tidak berharga ini menyebabkan argumen-argumen yang muncul mengarah pada lebih banyak pertengkaran. Itu hanya membuat saudara-saudara seiman saling bertentangan tanpa alasan yang baik.

Perdebatan tentang masalah yang tidak penting bisa dengan cepat berubah menjadi permusuhan, meracuni tubuh Kristus seperti halnya gangren menyerang tubuh fisik manusia.

Mengingat betapa seriusnya akibat perdebatan yang tidak sehat, dalam ‭‭2 Timotius‬ ‭2‬:‭24‬‬ Paulus mengingatkan Timotius bahwa kelembutan dan kesabaran adalah obatnya.

Sebenarnya, dalam 1 Timotius, Paulus sudah menyerukan para pemimpin di gereja untuk berdoa tanpa bertengkar (1 Timotius 2:8), mengajarkan bahwa para penatua tidak boleh bertengkar (1 Timotius 3:3), dan mengajarkan bahwa tanda guru palsu adalah seringnya mereka bertengkar mengenai kata-kata:

“ia adalah seorang yang berlagak tahu padahal tidak tahu apa-apa. Penyakitnya ialah mencari-cari soal dan bersilat kata, yang menyebabkan dengki, cidera, fitnah, curiga,” — ‭‭1 Timotius‬ ‭6‬:‭4‬‬

Selain itu, Paulus telah memanggil Timotius untuk menjadi “pelayan Kristus Yesus yang baik” (1 Timotius 4:6). Paulus sendiri menggambarkan dirinya sebagai “hamba Allah” (Titus 1:1). Kata yang diterjemahkan sebagai “hamba” atau “pelayan” di sini adalah doulos, yang secara harfiah berarti budak. Timotius harus memandang dirinya sebagai hamba Tuhan, dan tidak bertengkar dalam bekerja. Tuhan, Sang Majikan, tidak menghendaki kekacauan dalam kerajaan-Nya.

Soal-soal (argumen) yang bodoh dalam ‭‭2 Timotius‬ ‭2‬:‭23 bukan berarti pertanyaan yang sederhana atau orang yang kurang pengetahuan. Tetapi itu adalah perdebatan yang tidak membangun, tidak menghasilkan pertobatan, dan tidak membawa orang lebih dekat kepada kebenaran.

Paulus menegaskan bahwa membicarakan hal-hal seperti ini hanya menimbulkan pertengkaran. Tidak ada buah rohani di dalamnya—yang ada hanya rasa panas, emosi, dan luka hati—yang makin lama makin parah.

Dalam Titus 3:9, Paulus kembali mengulang peringatan yang sama: hindarilah perdebatan yang tidak berguna dan sia-sia. Pengulangan ini menunjukkan betapa seriusnya masalah ini dalam kehidupan orang Kristen. Gereja dan keluarga bisa hancur dari dalam karena pertengkaran yang terus menerus yang dipelihara dengan ego besar.

Mengapa argumen bodoh begitu berbahaya?

Pertama, karena argumen seperti ini meningkatkan konflik, bukan pemahaman. Tujuan diam-diamnya sering kali bukan mencari kebenaran, melainkan pemuasan ego: memenangkan perdebatan. Ketika itu terjadi, relasi menjadi korban. Suara orang lain tidak lagi perlu didengar, hanya perlu dilawan. Hati setiap orang menjadi keras, bukan terbuka. Kasih menjadi padam, dan kebencian makin tumbuh.

Kedua, argumen bodoh mengalihkan fokus dari panggilan yang lebih penting. Waktu, energi, dan perhatian yang seharusnya dipakai untuk mengasihi, melayani, dan bertumbuh dalam kesalehan, justru habis dalam perdebatan yang tidak produktif. Kita bisa benar secara intelektual, tetapi gagal total secara rohani. Dalam kelarga Kristen dan gereja yang mengalami hal ini akan timbul kekacauan yang membuat orang lain enggan untuk menjadi orang percaya.

Paulus dalam suratnya kepada Timotius, tidak hanya menyatakan apa yang harus dihindari, tetapi juga menunjukkan apa yang harus dilakukan sebagai gantinya. Dalam ayat-ayat setelahnya, ia menasihati agar hamba Tuhan bersikap ramah, sabar, cakap mengajar, dan dengan lemah lembut menuntun mereka yang menentang kebenaran. Artinya, kebenaran tetap penting, tetapi cara menyampaikannya sama pentingnya.

Yesus sendiri menjadi teladan utama. Ia tidak menjawab setiap jebakan yang dilontarkan kepada-Nya. Kadang Ia diam, kadang Ia bertanya balik, dan kadang Ia menjawab dengan perumpamaan. Yesus tidak pernah terjebak dalam argumen bodoh, karena tujuan-Nya bukan memenangkan perdebatan, melainkan menyelamatkan manusia.

Di zaman sekarang, godaan untuk terlibat dalam argumen bodoh semakin besar. Media sosial memberi panggung bagi siapa saja untuk mengeluarkan pendapat tanpa konteks dan tanpa relasi. Banyak perdebatan antar tokoh Kristen berlangsung tanpa niat untuk saling mendengar dan saling belajar. Kata-kata menjadi senjata, bukan sarana untuk membangun kerajaan Tuhan. Di sinilah nasihat Paulus menjadi sangat relevan.

Menghindari argumen bodoh bukan berarti lari dari kebenaran. Ini berarti memilih pertempuran yang benar dengan cara yang benar: melaksanakan hukum kasih. Karena tujuan tidak menghalalkan cara, keputusan harus diambil dengan kesadaran untuk mengutamakan damai sejahtera, pertumbuhan rohani, dan kesaksian hidup.

Pada akhirnya, pertanyaannya bukan, apakah kita boleh berdebat, tetapi apakah perdebatan ini memuliakan Tuhan dan membangun sesama orang beriman. Hikmat sejati tidak selalu terdengar keras. Sering kali, hikmat berbicara melalui keheningan, kesabaran, dan penguasaan diri, demi kemuliaan Tuhan.

“Ada orang yang lancang mulutnya seperti tikaman pedang, tetapi lidah orang bijak mendatangkan kesembuhan.” — ‭‭Amsal‬ ‭12‬:‭18

Doa Penutup

Tuhan yang penuh hikmat, Engkau mengenal hati kami yang mudah terseret oleh ego, emosi, dan keinginan untuk merasa benar. Ampuni kami bila kami sering terlibat dalam argumen yang tidak membangun dan melukai hubungan.

Ajarlah kami untuk membedakan kapan harus berbicara dan kapan harus diam. Berikan kami kerendahan hati untuk menghindari perdebatan yang sia-sia, dan hikmat untuk menyatakan kebenaran dengan kasih dan kelembutan dalam keluarga dan gereja.

Tuntunlah lidah dan hati kami, agar hidup kami memancarkan damai sejahtera-Mu. Kiranya melalui sikap dan perkataan kami, nama-Mu dimuliakan.

Di dalam nama Tuhan Yesus kami berdoa. Amin.