Hubungan komitmen dan keselamatan

“Tetapi aku melatih tubuhku dan menguasainya seluruhnya, supaya sesudah memberitakan Injil kepada orang lain, jangan aku sendiri ditolak.” 1 Korintus 9:27

Semua orang Kristen percaya bahwa mereka seharusnya setia dan berkomitmen untuk melayani Yesus. Tetapi, orang berbeda pendapat mengenai apakah seseorang yang benar-benar percaya dan berkomitmen kepada Kristus dapat kehilangan keselamatannya. Selain itu, ada perdebatan mengenai seberapa besar komitmen kita kepada Tuhan untuk bisa yakin bahwa kita adalah benar-benar orang yang diselamatkan.

Mengenai komitmen dalam hal hidup sehari-hari, Paulus mendorong jemaat di Korintus untuk rela menyerahkan “posisi nyaman” mereka demi kebaikan orang-orang yang lemah imannya. Paulus menunjukkan bahwa ia pun telah melepaskan kedudukannya, termasuk apa yang bertalian dengan kerasulannya untuk menerima dukungan keuangan dari orang-orang yang ia layani. Berbeda dengan banyak pendeta zaman sekarang, ia bangga karena dapat melayani jemaat Korintus tanpa imbalan apa pun, bahkan dengan mengorbankan dirinya sendiri. Paul menggambarkan dirinya sebagai seorang atlet yang bersaing memperebutkan hadiah mahkota dalam kekekalan. Maksudnya adalah agar orang percaya mengejar kesalehan, dan kebaikan orang lain, dengan komitmen dan disiplin seperti seorang atlet.

Paulus mempraktikkan pengendalian diri dengan cara yang hampir sama seperti seorang atlet dalam latihan yang terus mendisiplinkan tubuhnya dengan pengendalian diri yang ketat terhadap pola makan, olahraga, tidur, dan perilaku lainnya. Istilah Yunani yang Paulus gunakan untuk “disiplin” di sini adalah hypōpiazō. Paul mengatakan dia melatih tubuhnya dengan keras seperti seorang petinju, untuk menguatkan dirinya demi stamina rohaninya.

Paul tetap mau dalam latihan yang berkelanjutan karena dia tidak ingin didiskualifikasi. Apa artinya? Apakah ia takut tidak dapat masuk surga jika ia gagal? Bukan! Ia tidak kuatir tentang kehilangan keselamatannya akibat dosa. Ajaran Paulus sendiri sangat jelas bahwa keselamatan orang Kristen adalah sebuah anugerah, bukan sesuatu yang diperoleh melalui usaha yang keras (Efesus 2:8-9). Jadi, hadiah yang diharapkan Paulus tentunya adalah mahkota penghargaan dari Kristus yang telah ia layani dengan baik.

Sekalipun demikian, banyak orang percaya berpendapat bahwa orang Kristen bisa kehilangan keselamatan karena ada beberapa teks Perjanjian Baru yang sepertinya menunjukkan bahwa hal ini bisa terjadi, misalnya, kata-kata Paulus dalam 1 Timotius 1:18–20:

“Tugas ini kuberikan kepadamu, Timotius anakku, sesuai dengan apa yang telah dinubuatkan tentang dirimu, supaya dikuatkan oleh nubuat itu engkau memperjuangkan perjuangan yang baik dengan iman dan hati nurani yang murni.  Beberapa orang telah menolak hati nuraninya yang murni itu, dan karena itu kandaslah iman mereka di antaranya Himeneus dan Aleksander, yang telah kuserahkan kepada Iblis supaya jera mereka menghujat.”

Di sini, di tengah-tengah instruksi dan teguran yang berhubungan dengan kehidupan dan pelayanan Timotius, Paulus memperingatkan Timotius untuk menjaga iman dan menjaga hati nurani yang baik, dan untuk diingatkan kepada mereka yang tidak melakukannya. Rasul Paulus merujuk pada orang-orang yang membuat “iman mereka kandas,” yaitu orang-orang yang “diserahkannya kepada iblis agar mereka belajar untuk tidak menghujat.” Poin ini mengacu pada pengucilan Paulus terhadap orang-orang ini, dan seluruh bagian ini menggabungkan peringatan serius dengan contoh nyata tentang mereka yang sangat murtad dari pengakuan Kristen mereka.

Secara teologis, istilah “menghujat” termasuk dalam konsep kemurtadan. Istilah ini berasal dari kata Yunani apostasia yang berarti “menjauhi”. Ketika kita berbicara tentang mereka yang murtad atau telah melakukan penghujatan, yang dimaksudkan adalah mereka yang telah berontak atau setidaknya mengingkari pengakuan iman mereka kepada Kristus yang pernah mereka buat.

Tidak diragukan lagi bahwa orang yang mengaku percaya bisa jatuh dan terjatuh secara radikal. Kita memikirkan orang-orang seperti Petrus, misalnya, yang menyangkal Kristus. Namun fakta bahwa Petrus kemudian dipulihkan menunjukkan bahwa tidak semua orang yang mengaku percaya dan jatuh, kemudian tidak dapat kembali lagi. Pada titik ini, kita harus membedakan kejatuhan yang serius dan radikal dari kejatuhan yang total dan final. Para teolog mencatat bahwa Alkitab penuh dengan contoh orang percaya sejati yang jatuh ke dalam dosa besar dan bahkan tidak bertobat dalam waktu lama. Jadi, umat Kristiani memang bisa jatuh dan bahkan secara radikal.

Apa yang lebih serius daripada penyangkalan Petrus di muka umum terhadap Yesus Kristus? Bukankah itu serupa dengan keengganan kita untuk berkomitmen kepada kebenaran Kristus? Kita tidak tahu bagaimana orang yang tidak berkomitmen kemudian menjadi orang yang jatuh secara total dan final. Kita tidak tahu apakah orang-orang yang benar-benar bersalah atas kejatuhan ini sudah terjatuh dan hilang selamanya, atau apakah kejatuhan ini hanya sebuah kondisi sementara yang, pada analisa akhir, akan diperbaiki dengan pemulihan mereka? Hanya Tuhan yang dapat melihat jiwa itu, mengubah jiwa itu, dan memelihara jiwa itu. Dalam kasus orang seperti Petrus, kita melihat bahwa kejatuhannya dapat diatasi melalui pertobatannya. Ini jugalah yang mendorong kita untuk giat mengabarkan Injil ke seluruh dunia. Namun, bagaimana dengan mereka yang akhirnya murtad? Apakah mereka benar-benar beriman?

Jawaban kita terhadap pertanyaan ini adalah “tidak”. Mereka bukan orang Kristen sejati. Ayat 1 Yohanes 2:19 berbicara tentang guru-guru palsu yang keluar dari gereja karena tidak pernah benar-benar menjadi bagian dari gereja. Yohanes menggambarkan kemurtadan orang-orang yang telah membuat pengakuan iman namun tidak pernah sungguh-sungguh bertobat. Kita tahu bahwa Allah memuliakan semua orang yang dibenarkan-Nya (Roma 8:29-30). Karena itu, jika seseorang mempunyai iman sejati sebagai karunia Tuhan yang menyelamatkan dan dibenarkan, maka Tuhan sendiri akan memelihara kehidupan orang tersebut.

Sementara itu, kalau orang yang terjatuh atau tidak berkomitmen selama hidup di dunia, bagaimana kita tahu kalau dia sudah murtad? Satu hal yang tidak bisa dilakukan oleh siapa pun di antara kita adalah membaca hati orang lain. Ketika kita melihat seseorang yang telah membuat pengakuan iman dan kemudian menolaknya, kita tidak tahu apakah dia benar-benar orang yang sudah dilahirkan kembali, yang berada di tengah-tengah proses kejatuhan yang serius dan radikal, namun pada suatu saat di masa depan pasti akan mengalami kemerosotan. Kita tidak dapat menerka kehendak Tuhan dalam pemulihan di masa depan; atau apakah Tuhan membiarkan orang yang belum pernah benar-benar bertobat, yang pengakuan imannya sudah salah sejak awal, yang tidak mau berkomitmen kepada-Nya. Itu adalah hak Tuhan.

Pertanyaan apakah seseorang bisa kehilangan keselamatannya bukanlah pertanyaan abstrak. Hal ini menyentuh kita pada inti kehidupan Kristiani kita, tidak hanya berkaitan dengan kepedulian kita terhadap ketekunan dan komitmen kita sendiri, namun juga berkaitan dengan kepedulian kita terhadap keluarga dan teman-teman kita, khususnya mereka yang tampaknya, secara lahiriah, telah berbuat baik. pengakuan iman yang sejati. Kita mengira pengakuan mereka dapat dipercaya, kita menganggap mereka sebagai saudara, namun ternyata mereka bisa saja menolak keyakinan tersebut.

Secara praktis, apa yang kita lakukan dalam situasi seperti itu? Pertama, kita harus rajin berdoa, dan kemudian, kita menunggu. Kita tidak tahu hasil akhir dari situasi ini, dan mungkin terkejut ketika kita sampai ke surga. Kita akan terkejut melihat orang-orang di sana yang kita pikir tidak akan ada di sana, dan kita akan terkejut bahwa kita tidak melihat orang-orang di sana yang kita yakini akan ada di sana. Tidak mungkin kita mengetahui status batin hati manusia atau jiwa manusia. Hanya Tuhan yang dapat melihat jiwa itu, mengubah jiwa itu, dan memelihara jiwa itu. Bagi kita, yang paling penting adalah jangan sampai kita terkejut menemukan diri kita sendiri ternyata tidak masuk ke surga karena tidak adanya komitmen untuk hidup sebagai umat-Nya.

Bukan setiap orang yang berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan! akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga, melainkan dia yang melakukan kehendak Bapa-Ku yang di sorga. Pada hari terakhir banyak orang akan berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan, bukankah kami bernubuat demi nama-Mu, dan mengusir setan demi nama-Mu, dan mengadakan banyak mujizat demi nama-Mu juga? Pada waktu itulah Aku akan berterus terang kepada mereka dan berkata: Aku tidak pernah mengenal kamu! Enyahlah dari pada-Ku, kamu sekalian pembuat kejahatan!” Matius 7:21-23

Kasih tanpa Humanisme?

“Demikianlah tinggal ketiga hal ini, yaitu iman, pengharapan dan kasih, dan yang paling besar di antaranya ialah kasih.” 1 Korintus 13:13

Humanisme adalah pemikiran filsafat yang mengedepankan nilai dan kedudukan manusia serta menjadikannya sebagai kriteria dalam segala hal. Sebagian orang Kristen menolak ajaran humanisme dalam segala bentuknya, terutama mereka yang kurang menekankan pentingnya hidup dan perbuatan baik orang Kristen di dunia.

Sebenarnya, ada berbagai jenis humanisme. Humanisme klasik, yang dikaitkan dengan Renaisans, menekankan estetika, kebebasan, dan studi tentang “humaniora” (sastra, seni, filsafat, dan bahasa klasik Yunani dan Latin). Humanisme sekuler menekankan potensi manusia dan pemenuhan diri sampai pada titik mengesampingkan semua kebutuhan akan Tuhan; ini adalah filosofi naturalistik yang didasarkan pada akal, sains, dan pemikiran yang membenarkan tujuan. Pada pihak yang lain, humanisme Kristen mengajarkan bahwa kebebasan, hati nurani individu, dan kebebasan intelektual sejalan dengan prinsip-prinsip Kristen dan bahwa Alkitab sendiri mendukung pemenuhan kebutuhan manusia—berdasarkan keselamatan Tuhan di dalam Kristus dan tunduk pada kendali kedaulatan Tuhan atas alam semesta.

Humanisme Kristen mewakili kesatuan filosofis agama Kristen dan prinsip-prinsip humanis klasik. Sementara para humanis klasik mempelajari tulisan-tulisan Yunani dan Latin, para humanis Kristen mempelajari tulisan-tulisan Ibrani dan Yunani yang alkitabiah, bersama dengan tulisan-tulisan para bapa gereja mula-mula. Humanisme Kristen, seperti humanisme klasik, mengejar akal, penyelidikan bebas, pemisahan gereja dan negara, dan cita-cita kebebasan. Humanis Kristen berkomitmen pada pendidikan dan pengembangan serta penggunaan ilmu pengetahuan dan teknologi. Humanisme Kristen mengatakan bahwa segala kemajuan dalam ilmu pengetahuan, ilmu pengetahuan, dan kebebasan individu harus digunakan untuk mengabdi pada umat manusia demi kemuliaan Tuhan. Ini adalah mandat budaya dari Tuhan kepada umat-Nya.

“Apa pun juga yang kamu perbuat, perbuatlah dengan segenap hatimu seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia.” Kolose 3:23 TB

Istilah humanisme Kristen telah digunakan untuk merujuk pada berbagai pandangan, beberapa di antaranya lebih alkitabiah dibandingkan yang lain. Secara umum humanisme adalah suatu sistem pemikiran yang berpusat pada nilai-nilai, potensi, dan nilai kemanusiaan; humanisme menaruh perhatian pada kebutuhan dan kesejahteraan umat manusia, menekankan nilai intrinsik individu, dan memandang manusia sebagai agen yang otonom, rasional, dan bermoral. Sejauh mana sudut pandang luas ini diintegrasikan dengan kepercayaan Kristen menentukan dengan tepat bagaimana humanisme Kristen alkitabiah.

Humanisme Kristen berpendapat bahwa manusia mempunyai martabat dan nilai karena manusia diciptakan menurut gambar Allah (Kejadian 1:27). Sejauh mana manusia bersifat otonom, rasional, dan bermoral merupakan cerminan dari penciptaan mereka sebagai gambar Allah (imago Dei). Nilai kemanusiaan diasumsikan di banyak tempat dalam Kitab Suci: dalam inkarnasi Yesus (Yohanes 1:14), belas kasihan-Nya terhadap manusia (Matius 9:36), perintah-Nya untuk “mengasihi sesamamu manusia seperti dirimu sendiri” (Markus 12:31), dan Perumpamaannya tentang orang Samaria yang baik hati (Lukas 10:30–37). Singgungan Paulus terhadap tulisan-tulisan sekuler (Kisah 17:28; Titus 1:12) menunjukkan nilai pendidikan klasik dalam menyajikan kebenaran.

Berbeda dengan humanisme sekuler, kaum humanis Kristen menekankan perlunya menerapkan prinsip-prinsip Kristen dalam setiap bidang kehidupan, baik publik maupun pribadi. Humanisme Kristen menganggap prinsip-prinsip humanis seperti martabat manusia universal, kebebasan individu, dan pentingnya kebahagiaan sebagai komponen esensial dan prinsipal atau bahkan eksklusif dari ajaran Yesus. Sebagian orang Kristen tidak menyadari hal ini dan bahkan menolaknya karena berbau jasmani. Memang kita harus menyadari bahwa Humanisme tidak menyelamatkan, karena imanlah yang membawa keselamatan. Tetapi iman yang sejati akan melahirkan humanisme Kristen.

“Apakah gunanya, saudara-saudaraku, jika seorang mengatakan, bahwa ia mempunyai iman, padahal ia tidak mempunyai perbuatan? Dapatkah iman itu menyelamatkan dia? Jika seorang saudara atau saudari tidak mempunyai pakaian dan kekurangan makanan sehari-hari, dan seorang dari antara kamu berkata: “Selamat jalan, kenakanlah kain panas dan makanlah sampai kenyang!”, tetapi ia tidak memberikan kepadanya apa yang perlu bagi tubuhnya, apakah gunanya itu? Demikian juga halnya dengan iman: Jika iman itu tidak disertai perbuatan, maka iman itu pada hakekatnya adalah mati.” Yakobus 2: 14-17

Kaum humanis Kristen memahami bahwa semua kekayaan hikmat dan pengetahuan tersembunyi di dalam Kristus (Kolose 2:3) dan berusaha untuk bertumbuh ke dalam pengetahuan penuh tentang setiap hal yang baik untuk pelayanan Kristus (Filipi 1:9; 4:6; Kolose 1 :9). Tidak seperti kaum humanis sekuler yang menolak gagasan kebenaran yang diwahyukan, kaum humanis Kristen menganut Firman Tuhan sebagai standar yang mereka gunakan untuk menguji kualitas segala sesuatu. Para humanis Kristen menghargai budaya manusia namun mengakui dampak niskala (yaitu, intelektual) dari sifat kejatuhan manusia (1 Korintus 1:18-25) dan kehadiran sifat dosa dalam setiap hati manusia (Yeremia 17:9). Humanisme Kristen mengatakan bahwa manusia mencapai potensi penuhnya hanya jika ia memiliki hubungan yang benar dengan Kristus. Pada saat diselamatkan, ia menjadi ciptaan baru dan dapat mengalami pertumbuhan dalam segala bidang kehidupan (2 Korintus 5:17).

Humanisme Kristen mengatakan bahwa setiap usaha dan pencapaian manusia harus berpusat pada Kristus. Segala sesuatu harus dilakukan untuk kemuliaan Allah dan bukan untuk kesombongan atau menonjolkan diri (1 Korintus 10:31). Kita harus berusaha untuk melakukan yang terbaik secara fisik, mental, dan rohani dalam segala hal yang Tuhan ingin kita lakukan dan lakukan. Kaum humanis Kristen percaya bahwa hal ini mencakup kehidupan intelektual, kehidupan seni, kehidupan rumah tangga, kehidupan ekonomi, politik, hubungan ras, dan pekerjaan lingkungan.

Humanisme Kristen percaya bahwa gereja harus terlibat secara aktif dalam kebudayaan dan bahwa umat Kristen harus menjadi suara yang menegaskan nilai dan martabat kemanusiaan sambil mengecam, memprotes, dan membela diri terhadap semua pengaruh yang tidak manusiawi di dunia. Humanisme Kristen bersifat alkitabiah sejauh ia berpegang pada pandangan alkitabiah tentang manusia—agen moral yang bertanggung jawab, diciptakan menurut gambar Allah namun jatuh ke dalam dosa. Humanisme Kristen menjadi kurang Kristen jika makin berkompromi dengan humanisme sekuler, yang mengangkat umat manusia ke status ketuhanan. Bagaimana Anda menerapkan humanisme dalam hidup sehari-hari? Apakan Anda ingin mengasihi Tuhan dan sesama tanpa menghargai humanisme? Itu tidak mungkin bisa.

Sambutlah uluran tangan-Nya

“Masuklah melalui pintu yang sesak itu, karena lebarlah pintu dan luaslah jalan yang menuju kepada kebinasaan, dan banyak orang yang masuk melaluinya; karena sesaklah pintu dan sempitlah jalan yang menuju kepada kehidupan, dan sedikit orang yang mendapatinya.” Matius 7:13-14

Saat Yesus mendekati akhir dari Khotbah di Bukit (Matius 5:1-2), Dia menjelaskan serangkaian pilihan yang harus diambil oleh para pendengar-Nya. Mereka harus memilih apa yang baik dengan bimbingan Tuhan, tetapi bukan hanya menantikan keajaiban Tuhan. Pilihan yang pertama adalah gerbang sempit yang membuka jalan yang lebih sulit (kebenaran Tuhan), dan yang lain adalah gerbang lebar yang menuju jalan yang mudah (kebenaran manusia). Meskipun analogi ini sengaja dibuat sederhana, namun mengandung beberapa lapisan makna.

Dalam konteks ajaran Yesus dalam Matius 5-7, jelas bahwa Dia menunjuk jalan yang sempit itu pada diri-Nya sendiri dan ajaran-Nya tentang kebenaran rohani sebagai “gerbang sempit”. Ia juga mengindikasikan bahwa hal ini membuka jalan yang sulit untuk diterima dan dijalani. Dengan kata lain, mereka yang mengikuti-Nya harus memahami bahwa mereka memilih jalan yang sulit menurut sudut pandang duniawi (Matius 5:10-12). Menjadi orang Kristen sejati memang bukan sesuatu yang mudah dijalani.

Ayat ini menyebabkan beberapa orang mempertanyakan kebaikan Tuhan. Jika Dia benar-benar ingin menyelamatkan semua orang, mengapa Dia tidak mempermudah mereka untuk diselamatkan? Mengapa Dia tidak membiarkan semua orang masuk surga? Mengapa Ia justru membuat jalan keselamatan itu sangat sempit sehingga banyak orang yang tidak menyukainya?

Pilihan yang akan diambil kebanyakan orang adalah gerbang lebar menuju jalan yang mudah. Gambaran gerbang yang “lebar” menyiratkan sesuatu yang mudah dilihat, dan mudah untuk dilewati. Hal ini juga menunjukkan sesuatu yang mengakomodasi preferensi kita: gerbang lebar memberi kita lebih banyak pilihan mengenai cara melewatinya dibandingkan gerbang sempit. Karena apa yang ada di balik gerbang itu tampaknya mudah, itulah pilihan yang akan diambil kebanyakan orang. Orang tidak memikirkan bahwa apa yang dapat dilakukan dengan usaha sendiri tidak akan membawa ke arah kebenaran. Hal ini mempunyai implikasi yang menyedihkan dan menyayat hati bagi nasib kekal kebanyakan orang.

Sebenarnya, Matius 7:7–14 menggambarkan Allah sebagai Bapa yang murah hati yang ingin sekali memberikan pemberian yang baik kepada anak-anak-Nya yang berdoa. Yesus memerintahkan para pengikut-Nya untuk terus meminta dan mencari, dengan keyakinan bahwa mereka akan menerima dan menemukan. Jalan Yesus dimulai dengan memasuki gerbang sempit dan terus menyusuri jalan sulit menuju kehidupan. Dia memerintahkan para pengikut-Nya untuk mengambil jalan itu, bukan jalan mudah yang menuju kehancuran.

Sebagian yang Yesus maksudkan sebagai orang yang memilih jalan yang mudah adalah mereka yang akan terus mengikuti ajaran para pemimpin agama Israel, ahli-ahli Taurat, dan orang-orang Farisi. Ajaran mereka yang legalistik menuntut perubahan lahiriah yang meningkatkan ketaatan terhadap peraturan. Hal ini “lebih mudah”, karena hanya mengharuskan seseorang untuk berpura-pura menjadi orang benar atau yakin bahwa mereka orang benar. Orang akan merasa bahwa dengan berbuat baik mereka akan dapat membuat Tuhan merasa puas atas “kebaikan’ mereka. Yesus memperingatkan para pengikut-Nya bahwa ini adalah jalan yang terlalu mudah dan mengarah pada kehancuran kekal. Keyakinan akan kebaikan diri sendiri justru membuat mereka tidak sadar akan kebusukan hidup mereka.

Yesus memerintahkan para pendengar-Nya untuk tidak mengucapkan penilaian yang dangkal atau palsu seperti itu. Ia menggambarkan Allah sebagai Bapa yang murah hati dan ingin memberikan hal-hal yang baik kepada anak-anak-Nya ketika mereka menaati perintah-Nya. Dia memerintahkan para pengikut-Nya untuk memilih gerbang yang sempit dan menempuh jalan yang sulit menuju kehidupan. Ini bertentangan dengan apa yang diajarkan oleh nabi-nabi palsu.

Nabi palsu dapat dikenali dari buahnya, yaitu tindakan dan pilihannya. Di zaman ini, paling tidak ada dua macam nabi palsu yang sering kita lihat: mereka yang mengajarkan bahwa keselamatan harus kita capai dengan berbuat baik, dan yang lain adalah mereka yang mengajarkan bahwa keselamatan sudah diberikan Tuhan dan tidak membutuhkan respon kita.

Ketika kita membaca kata sempit, kita cenderung mengasosiasikannya dengan hal yang merugikan. Kedengarannya seolah-olah Tuhan telah menilai kita semua melalui syarat penerimaan tertentu dan hanya mengijinkan segelintir orang saja untuk memasuki hadirat-Nya. Namun, beberapa ayat sebelumnya, Yesus telah mengatakan kepada pendengar yang sama, “Mintalah, maka akan diberikan kepadamu; carilah, maka kamu akan mendapat; ketoklah, maka pintu akan dibukakan bagimu. Karena setiap orang yang meminta, menerima dan setiap orang yang mencari, mendapat dan setiap orang yang mengetok, baginya pintu dibukakan.” (Matius 7:7-8). Yesus menjelaskannya: jalan menuju kehidupan kekal terbuka bagi setiap orang yang mau bertobat dan meminta bimbingan untuk bisa memilih jalan yang benar, yang sudah disediakan Tuhan.

Gerbang ke surga itu “sempit” dalam artian ada persyaratan khusus untuk masuk: iman kepada Yesus Kristus. Keselamatan hanya ditemukan dalam pribadi Yesus Kristus; Dialah satu-satunya jalan (Yohanes 14:6). Sebaliknya, gerbang yang “lebar” tidaklah eksklusif; hal ini memungkinkan upaya manusia dan semua agama lain di dunia. Dalam hal ini, memang ada banyak jalan ke Roma, tetapi hanya satu jalan ke surga!

Yesus berkata bahwa gerbang sempit itu membawa kita ke jalan yang “sulit”, yaitu jalan yang akan membawa kita melewati kesukaran dan keputusan sulit. Mengikuti Yesus mengharuskan kita menyalibkan daging kita (Galatia 2:20; 5:24; Roma 6:2), hidup dengan iman (Roma 1:17; 2 Korintus 5:7; Ibrani 10:38), menanggung pencobaan dengan kesabaran seperti Kristus (Yakobus 1:2–3, 12; 1 Petrus 1:6), dan menjalani gaya hidup yang terpisah dari dunia (Yakobus 1:27; Roma 12:1–2). Saat dihadapkan pada pilihan antara jalan sempit dan bergelombang atau jalan raya lebar beraspal, kebanyakan dari kita memilih jalan yang lebih mudah. Sifat manusia tertarik pada kenyamanan dan kesenangan. Ketika dihadapkan pada kenyataan menyangkal diri untuk mengikuti Yesus, kebanyakan orang berpaling (Yohanes 6:66). Yesus tidak pernah menutup-nutupi kebenaran, dan kenyataannya tidak banyak orang yang bersedia membayar harga untuk mengikuti-Nya. Itu adalah kesalahan mereka sendiri.

Allah menawarkan keselamatan kepada setiap orang yang mau menerimanya (Yohanes 1:12; 3:16-18; Roma 10:9; 1 Yohanes 2:2). Tapi itu sesuai dengan ketentuan-Nya. Kita harus menempuh jalan yang telah Dia sediakan. Kita tidak dapat menciptakan jalan kita sendiri atau datang kepada Tuhan yang kudus berdasarkan usaha kita sendiri. Dibandingkan dengan kebenaran-Nya, kita semua kotor (Yesaya 64:6; Roma 3:10). Tuhan tidak bisa begitu saja memaafkan atau mengabaikan dosa kita. Dia penyayang, tapi Dia juga adil. Keadilan Tuhan mengharuskan dosa dibayar. Dengan harga yang mahal bagi diri-Nya sendiri, Dia membayar harga tersebut (Yesaya 53:5; 1 Yohanes 3:1, 16; Mazmur 51:7). Tanpa darah Yesus yang menutupi dosa kita, kita bersalah di hadapan Allah (Roma 1:20).

Jika jalan menuju Tuhan tertutup sepenuhnya, dosa kitalah menjadi penghalangnya (Roma 5:12). Tidak ada seorang pun yang berhak mendapat kesempatan kedua. Kita semua berhak untuk tetap berada di “jalan lebar yang menuju kehancuran”. Namun Allah cukup mengasihi kita sehingga memberikan kesempatan untuk memilih jalan menuju kehidupan kekal (Roma 5:6-8). Namun, Dia juga tahu bahwa di dunia kita yang egois dan penuh dosa, tidak banyak orang yang menginginkan Dia – untuk datang kepada-Nya sesuai dengan persyaratan-Nya (Yohanes 6:44, 65; Roma 3:11; Yeremia 29:13) . Setan telah membuka jalan menuju neraka dengan godaan daging, ketertarikan duniawi, dan kompromi moral. Setan juga mengatakan bahwa hidup bermoral tidaklah perlu untuk orang yang sudah diselamatkan karena bukan moral yang menyelamatkan.

Kebanyakan orang membiarkan nafsu dan keinginannya menentukan jalan hidup mereka. Mereka memilih kesenangan duniawi yang bersifat sementara dibandingkan pengorbanan diri yang dituntut dalam mengikut Yesus (Markus 8:34; Lukas 9:23; Matius 10:37). Gerbang sempit diabaikan. Kebanyakan orang lebih suka menciptakan agama mereka sendiri dan merancang dewa-dewa mereka sendiri. Jadi dengan penuh duka, bukan diskriminasi, Yesus menyatakan bahwa jalan menuju kehidupan kekal itu “sempit, dan hanya sedikit yang menemukannya”. Semoga kita sadar bahwa untuk menyambut tawaran keselamatan dari Yesus kita harus mau mengambil keputusan untuk memilih jalan yag sempit, seperti apa yang sudah dibisikkan oleh Roh Kudus ke dalam hati kita. Jangan sampai kita yang merasa sudah diselamatkan kemudian ditolak-Nya karena kita tidak pernah menyambut uluran tangan-Nya.

Bertumbuh sebagai orang Kristen

“Tetapi bertumbuhlah dalam kasih karunia dan dalam pengenalan akan Tuhan dan Juruselamat kita, Yesus Kristus. Bagi-Nya kemuliaan, sekarang dan sampai selama-lamanya.” 2 Petrus 3:18

Baik saat kita bermain game, mengendarai mobil, atau membuat kue, ada aturan tertentu yang harus dipatuhi demi keberhasilan kita. Begitu juga, sebagai orang yang sudah diselamatkan, kita harus mau menaati hukum dan firman Tuhan untuk menjadi orang Kristen yang baik.

Alkitab mengajarkan bahwa kehidupan Kristen adalah kehidupan yang terus bertumbuh. Ketika Anda dilahirkan kembali, Anda dilahirkan ke dalam keluarga Tuhan. Adalah tujuan Tuhan agar Anda bertumbuh menjadi dewasa dan menjadi dewasa di dalam Kristus. Adalah melanggar hukum Tuhan dan hukum alam jika Anda tetap menjadi bayi dan kemudian menjadi kerdil secara rohani.

Dalam ayat di atas, Alkitab mengatakan bahwa kita harus bertumbuh. Ini menyiratkan perkembangan yang mantap, perluasan yang terus-menerus, peningkatan kebijaksanaan.

Agar seseorang dapat bertumbuh dengan baik, aturan-aturan tertentu harus dipatuhi demi kesehatan rohani yang baik.

  • Bacalah Alkitab Anda setiap hari. Jangan puas membaca satu bab hanya untuk memuaskan hati nurani Anda. Simpanlah Firman Tuhan di dalam hati Anda. Firman Tuhan menghibur, membimbing, mengoreksi, memberi semangat – semua yang kita perlukan ada di sana.
  • Pelajari rahasia doa. Doa adalah komunikasi. Setiap doa yang Anda panjatkan akan didengar-Nya. Terkadang jawabannya mungkin “Ya” dan terkadang “Tidak”, dan terkadang “Tunggu”, namun tetap saja jawabannya pasti akan diberikan Tuhan.
  • Andalkan terus-menerus pada Roh Kudus. Kita tahu bahwa Roh Kudus berdoa bagi kita (Roma 8), dan hal ini seharusnya menjadi penghiburan bagi kita yang merasa lemah. Tenangkan hati Anda dan biarkan Dia mengambil alih semua pilihan dan keputusan dalam hidup Anda.
  • Menghadiri gereja secara teratur. Gereja yang kelihatan adalah organisasi Kristus di bumi. Umat Kristen saling membutuhkan satu sama lain, kita perlu berkumpul untuk beribadah kepada Tuhan dan tidak ada yang bisa menggantikan kehadiran Anda secara pribadi di gereja.
  • Jadilah orang Kristen yang memberi kesaksian. Kita bersaksi dalam dua cara: melalui kehidupan dan perkataan – dan keduanya, jika memungkinkan, harus berjalan beriringan.
  • Biarkan kasih menjadi prinsip utama hidup Anda. Yesus berkata kepada mereka yang mengikuti-Nya, “Dengan demikian semua orang akan tahu, bahwa kamu adalah murid-murid-Ku, yaitu jikalau kamu saling mengasihi.” (Yohanes 13:35). Bukti terbesar dari fakta bahwa kita adalah orang Kristen sejati adalah bahwa kita saling mengasihi, bukan memusuhi dan membenci orang lain.
  • Jadilah orang Kristen yang taat. Biarlah Kristus mendapat tempat pertama dalam semua pilihan hidup Anda. Ini bukan untuk menjamin keselamatan Anda, tetapi pernyataan rasa syukur Anda atas keselamatan yang diberikan-Nya secara cuma-cuma.
  • Pelajari cara menghadapi godaan. Godaan bukanlah dosa. Menyerah itulah dosa. Biarkan Kristus melalui Roh Kudus yang berperang untuk Anda, jangan terus-menerus mengabaikan atau menghalangi Dia.
  • Jadilah orang Kristen yang sehat. Kehidupan dan penampilan kita hendaknya menyatakan cahaya Injil dan menjadikannya menarik bagi orang lain.
  • Hiduplah di atas keadaan Anda. Jangan biarkan keadaan membuat Anda putus asa. Belajarlah untuk hidup dengan rasa syukur dan cukup atas rahmat-Nya yang ada di dalam diri Anda, menyadari bahwa Tuhan sendiri ada bersama Anda.

Pedoman Hidup Kristen dikutip dari “Peace with God” oleh Billy Graham, diterbitkan pada tahun 1953, direvisi dan diperluas pada tahun 1984.

Apa yang harus kita lakukan sesudah diselamatkan?

“Karena itu, saudara-saudara, demi kemurahan Allah aku menasihatkan kamu, supaya kamu mempersembahkan tubuhmu sebagai persembahan yang hidup, yang kudus dan yang berkenan kepada Allah: itu adalah ibadahmu yang sejati.” Roma 12:1

Perayaan Paskah, hari kemenangan Yesus atas maut baru saja berlalu. Jika kita memperingati penderitaan dan kenatian Yesus pada hari Jumat Agung, pada hari Minggu sesudahnya kita merayakan kebangkitan-Nya. Karena kematian-nya, kita sudah ditebus-Nya dari hukuman mati, dan karena kebangkitan-Nya kita akan dibangkitkan dan hidup bersama Dia di masa depan. Yesus sudah berkurban untuk kita karena kasih-Nya, dan itu sesuai dengan kehendak Allah Bapa yang dinyatakan segera setelah Adam dan Hawa jatuh dalam dosa. Sudah tentu, sebagai orang Kristen yang dibenarkan kita seharusnya mengerti bahwa kita sepatutnya selalu bersyukur atas kasih Tuhan.

Sebagai orang yang beruntung, kita harus berjuang untuk bisa menjadi persembahan yang harum kepada Tuhan. Itu jika kita mempunyai kebijaksanaan, sebab banyak orang Kristen yang merasa bahwa sesudah diselamatkan mereka tidak perlu berbuat apa-apa untuk Tuhan. Selain itu, ada orang Kristen yang justru memandang sesama orang Kristen yang berusaha berbuat baik sebagai orang yang “sok” karena beranggapan bahwa tidak ada apa yang baik yang bisa kita persembahkan kepada Tuhan. Mereka lupa bahwa kita adalah bani pilihan Tuhan yang baru, yang tetap harus mempersebahkan kurban meskipun bukan untuk mendapatkan keselanatan.

Bagian baru dari surat Paulus dimulai dengan Roma 12. Ia menyimpulkan bagian yang membahas doktrin keselamatan dan apa artinya datang kepada Allah melalui iman di dalam Kristus. Sekarang dia mulai menjelaskan bagaimana kita yang berada di dalam Kristus seharusnya hidup. Bagaimana seharusnya kita menyikapi kemurahan Tuhan yang begitu besar kepada kita?

Paulus mulai menyampaikan permohonannya kepada saudara-saudara rohaninya: saudara-saudarinya di dalam Kristus. Meskipun dia adalah rasul yang diutus oleh Yesus sendiri untuk membawa Injil ke dunia, Paulus juga “salah satu dari kita.” Ia adalah manusia berdosa yang diselamatkan oleh kasih karunia Allah melalui iman kepada Yesus. Dia menyebut Tuhan sebagai Bapa, sama seperti kita, menjadikannya saudara kita.

Paulus mendesak kita untuk menyadari bahwa Tuhan telah menunjukkan belas kasihan yang sangat besar kepada kita, yang dijelaskan secara rinci di awal surat ini. Nyanyian pujian pada empat bait sebelumnya memperjelas bahwa Tuhan tidak berhutang apa pun kepada kita. Namun, alih-alih kematian, Dia telah memberi kita kehidupan dan tujuan di dalam Kristus. Dia telah mengampuni dosa kita dan membagikan kekayaan kemuliaan-Nya kepada kita. Kita sebenarnya tidak pantas menerima semua itu. Bagaimana seharusnya kita menanggapinya?

Roma 12:1-2 menjawab pertanyaan, ”Bagaimana seharusnya kita menanggapi kemurahan Allah yang besar kepada kita?” Jawabannya adalah dengan menjadi umat yang selalu setia untuk mempersembahkan kurban, menggunakan hidup kita dalam pelayanan kepada Allah sebagai tindakan ibadah yang berkelanjutan (Ibrani 9:14). Itu yang masuk akal. Ini bukanlah cara untuk mendapatkan keselamatan, namun respon alami yang harus kita miliki setelah diselamatkan. Untuk melakukan hal ini, kita perlu melepaskan diri dari pola dunia yang mengutamakan diri sendiri dan mengubah pikiran kita agar dapat memahami apa yang Tuhan inginkan. Maka kita akan tahu bagaimana cara hidup di dunia untuk memuliakan-Nya.

“Sebab itu jadilah penurut-penurut Allah, seperti anak-anak yang kekasih dan hiduplah di dalam kasih, sebagaimana Kristus Yesus juga telah mengasihi kamu dan telah menyerahkan diri-Nya untuk kita sebagai persembahan dan korban yang harum bagi Allah.” Efesus 5:1-2

Paulus menulis bahwa ketika orang-orang Yahudi mempersembahkan hewan yang telah dibunuh sebagai kurban kepada Tuhan, orang Kristen seharusnya mempersembahkan diri kita sendiri, tubuh kita, kepada-Nya sebagai kurban yang hidup. Dengan kata lain, satu-satunya tanggapan rasional terhadap kemurahan Allah yang memberi kita kehidupan kekal adalah dengan memberikan hidup kita kepada-Nya sebagai pengurbanan untuk digunakan demi tujuan-tujuan-Nya saat ini.

Hewan kurban di bawah sistem pengorbanan perjanjian lama harus dipisahkan dari kawanannya untuk tujuan tersebut dan dipilih dengan hati-hati untuk memastikan bahwa pengorbanan tersebut dapat diterima—tidak cacat dan tidak terluka. Sebagai korban yang hidup, Allah telah memisahkan kita dari umat manusia untuk tujuan-tujuan-Nya dan menyatakan kita dapat diterima karena Dia melihat kita berada pada posisi kita di dalam Kristus. Dengan kata lain, kita tidak perlu menunggu untuk menjadi orang yang benar-benar saleh 100 persen sebelum kita bisa mempersembahkan tubuh dan hidup kita kepada Tuhan. Sebagai umat di dalam Kristus, Dia akan menerima pengorbanan hidup kita sehari-hari saat ini, sebagaimana adanya, tetapi yang akan terus berkembang menuju kesempurnaan (Matius 5:48). Maka, kehidupan beribadah yang terus bertumbuh dalam iman dan perbuatan ini merupakan respon yang tepat terhadap rahmat Tuhan yang telah diberikan kepada kita.

Dalam Roma 12, Paulus menggambarkan penyembahan kepada Tuhan kita sebagai pengurbanan yang hidup kepada Tuhan kita, berhenti mencari apa yang kita inginkan dalam hidup dan belajar untuk mengetahui dan melayani apa yang Tuhan inginkan. Itu dimulai dengan menggunakan karunia rohani kita untuk saling melayani di gereja dan dalam masyarakat dan keluarga. Daftar perintah Paulus menggambarkan gaya hidup yang mengesampingkan diri sendiri. Tujuan kita sebagai orang Kristen adalah untuk saling mengasihi dan meninggikan Tuhan. Kita harus memusatkan pengharapan kita pada kekekalan dan menunggu dengan sabar dan berdoa agar Bapa kita menyediakannya. Kita harus menolak untuk tenggelam dalam berbagai bentuk kejahatan, seperti memberi kebaikan pada orang yang merugikan kita, bukan membalas dendam.

“Sebab itu janganlah kamu bodoh, tetapi usahakanlah supaya kamu mengerti kehendak Tuhan.” Efesus 5:17

Hari ini, firman Tuhan menegaskan bahwa barangsiapa berkata: aku mengenal Tuhan, tetapi ia tidak mau menuruti perintah-Nya, ia adalah seorang pendusta dan di dalamnya tidak ada kebenaran. Sebaliknya, barangsiapa menuruti firman-Nya, di dalam orang itu sungguh sudah sempurna kasih Allah; dengan itulah kita ketahui, bahwa kita ada di dalam Dia.

“Barangsiapa mengatakan, bahwa ia ada di dalam Dia, ia wajib hidup sama seperti Kristus telah hidup.” 1 Yohanes 2:6

Masih ada kesempatan untuk berubah

Dan ketika mereka sedang makan, Ia berkata: “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya seorang di antara kamu akan menyerahkan Aku.” Dan dengan hati yang sangat sedih berkatalah mereka seorang demi seorang kepada-Nya: “Bukan aku, ya Tuhan?” Matius 26: 21 – 22

Ketika itu Yesus dan murd-muridNya merayakan hari Paskah dengan makan malam bersama. Hari raya Paskah (Passover dalam bahasa Ingris dan Pesach dalam bahasa Yahudi) adalah hari peringatan keluarnya orang Israel dari tanah Mesir setelah Allah menulahi orang Mesir sehingga semua anak sulung mereka mati bersama anak sulung hewan peliharaan mereka (Keluaran 12: 27). Hari besar utama bangsa Yahudi ini masih diperingati sampai sekarang.

Bagi kita yang bukan pengikut agama Yahudi, perayaan Paskah yang adalah perayaan hari kebangkitan Yesus. Jika orang Israel mengingat saat dimana mereka luput dari tulah Allah melalui tanda darah domba yang dilaburkan pada ambang atas dan jenang-jenang pintu rumah mereka (Keluaran 12: 23), orang Kristen memperingati kemenangan Kristus atas maut.

Kematian Kristus di kayu salib sudah tentu adalah satu hal yang sangat penting bagi kita orang Kristen, karena melalui darah Kritus kita memperoleh pengampunan Allah atas dosa-dosa kita. Tetapi, dengan memperingati kebangkitan Kristus, kita menyatakan keyakinan iman bahwa kita akan bisa hidup bersama Dia di surga sesudah kita meninggalkan dunia yang fana ini. Dengan kemenangan Kristus atas maut, iman kita tidak akan sia-sia (1 Korintus 15: 14).

Pada waktu itu murid-murid Yesus sudah mulai mendapat gambaran bahwa Guru mereka akan mengalami penderitaan dan kemudian mati disalibkan. Ia berkata: “Kamu tahu, bahwa dua hari lagi akan dirayakan Paskah, maka Anak Manusia akan diserahkan untuk disalibkan”  (Matius 26: 2). Mereka tentunya merasa sedih, walaupun mereka tidak benar-benar mengerti mengapa itu harus terjadi. Kesedihan mereka bertambah besar ketika Yesus berkata: “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya seorang di antara kamu akan menyerahkan Aku.” Mereka seorang demi seorang berkata kepada-Nya: “Bukan aku, ya Tuhan?” Mereka tentunya berharap bahwa kematian Kristus bukanlah akibat kesalahan mereka.

Alkitab menulis bahwa Yesus mengungkapkan bahwa Yudas yang mencelupkan roti ke dalam pinggan bersamaan dengan Yesus adalah orangnya.  Yudas adalah pengkhianat yang menjual Yesus dengan harga tiga puluh uang perak. Yudas dengan demikian adalah murid durhaka. Tidaklah mengherankan, bagi kita umat Kristen nama Yudas adalah nama yang identik dengan orang yang tidak bisa dipercaya, orang jahat yang tidak ada bandingnya. Kesimpulan yang mudah diambil adalah bahwa Yudas sudah patutnya menemui kematian yang mengerikan karena sangat besar dosanya.

Pada pihak yang lain, sulit diterima oleh pikiran kita adanya kenyataan bahwa di dunia ini ada banyak Yudas. Di hadapan Allah, setiap manusia adalah berdosa dan patut menerima kematian, tidak hanya secara tubuh tetapi juga secara roh. Jika Yudas sudah mengkhianati Yesus, kita juga sering mengkhianati Dia dalam hidup kita ketika kita mendahulukan kepentingan kita dan kepentingan orang lain di atas kepentingan Tuhan. Mungkin kita mengaku kenal dengan Yesus, tetapi seringkali kita mengorbankan kebenaran Kritus dengan memilih cara hidup duniawi yang tidak berkenan di hadapanNya.

Pernahkah kita memikirkan bahwa kita mungkin sudah lama hidup dan bertingkah laku seperti Yudas? Jika Yudas tidak mempunyai kesempatan untuk memperbaiki hidupnya, kita harus bersyukur bahwa masih ada waktu bagi kita untuk menjadi pengikutNya yang setia. Sekarang, dan bukan esok hari.

Mengapa Engkau meninggalkan aku?

Kira-kira jam tiga berserulah Yesus dengan suara nyaring: “Eli, Eli, lama sabakhtani?” Artinya: Allah-Ku, Allah-Ku, mengapa Engkau meninggalkan Aku?” Matius 27: 46

Hari ini adalah hari Jumat Agung, hari dimana umat Kristen di seluruh dunia dengan khusyuk memperingati kematian Yesus di kayu salib. Kematian Kristus adalah suatu hal yang tidak mudah dimengerti oleh orang yang bukan Kristen, karena agaknya sulit diterima bahwa Anak Allah yang mahakuasa harus mati secara tragis karena ulah manusia.

Pada ayat diatas diungkapkan apa yang terjadi pada diri Anak Allah yang datang ke dunia dalam bentuk manusia yang bernama Yesus. Manusia yang berdosa bukannya menyambut kedatanganNya dengan rasa hormat, tetapi sebaliknya justru membenci Dia. Karena itu, Ia yang tidak berdosa akhirnya mengalami kematian di kayu salib sebagai ganti umat manusia.

Penderitaan Yesus dimulai dengan segala hinaan dan cacian yang dilontarkan kepadaNya dan berbagai siksaan jasmani. Seperti layaknya seorang hukuman, Yesus dipaksa untuk memikul kayu salib menuju ke Golgota, bukit tengkorak. Dan di situ Ia disalibkan bersama-sama dengan dua orang penjahat, sebelah-menyebelah, dan Yesus ada di tengah-tengah. Pilatus, wakil pemerintahan Romawi pada waktu itu, menyuruh memasang tulisan di atas kayu salib Yesus, bunyinya: “Yesus, orang Nazaret, Raja orang Yahudi”.

Penderitaan fisik dan mental yang dialami Yesus yang tidak berdosa tidaklah sama dengan penderitaan yang dialami kedua penjahat disampingNya. Yesus adalah Tuhan tetapi harus mengalami penderitaan ditangan manusia ciptaanNya. Lebih dari itu, karena Yesus harus merasakan semua penderitaanNya seorang diri di kayu salib dan menanggung murka Allah, secara spiritual Ia juga sangat menderita. Ia mengungkapkan penderitaan rohaniNya dengan ucapan Eli, Eli, lama sabakhtani. Yesus setia kepada tugas penyelamatanNya sampai titik kulminasi dimana Ia merasa bahwa semua yang Ia punyai sudah dikurbankanNya untuk menebus dosa manusia. MisiNya di dunia sudah selesai!

Pagi ini kita membaca dan mengenang apa yang sudah terjadi pada diri Yesus di Golgota dengan rasa kagum atas kasihNya kepada umat manusia. Karena begitu besar kasihNya, Ia mau untuk mengalami semua itu. Karena begitu besar kasihNya, apapun yang terjadi pada diriNya tidak dapat menutupi atau menghilangkan pancaran kasihNya kepada kita.

Dalam hidup ini, saat ini kita mungkin sedang mengalami berbagai tantangan hidup dan penderitaan. Tetapi kematian Yesus di kayu salib menunjukkan bahwa Ia bukanlah Tuhan yang jauh disana. Semoga kita bisa selalu menyadari bahwa Yesus yang sudah pernah mengalami hal yang serupa tidak akan meninggalkan kita!

Percaya dan bertobat

Sesudah Yohanes ditangkap datanglah Yesus ke Galilea memberitakan Injil Allah, kata-Nya: ”Waktunya telah genap; Kerajaan Allah sudah dekat. Bertobatlah dan percayalah kepada Injil!” Markus 1: 14-15

Ayat di atas adalah apa yang sering diucapkan dalam kebaktian kebangunan rohani, di mana para penginjil berusaha menjelaskan bagaimana orang bisa menjadi orang Kristen. Tidak ada penginjil yang menyatakan hal yang sebaiknya: yaitu bahwa mereka tidak perlu berbuat apa-apa dalam menanggapi Injil, karena semua akan diperbuat Tuhan untuk mereka pada waktunya, jika Tuhan menghendaki. Paulus mengklarifikasi hal itu dalam Kisah Para Rasul 20:20-21: “Aku senantiasa bersaksi kepada orang-orang Yahudi dan orang-orang Yunani, supaya mereka bertobat kepada Allah dan percaya kepada Tuhan kita, Yesus Kristus”. Paulus bekerja keras agar orang lain bertobat dan percaya, atau untuk percaya kepada Tuhan yang berkat-kata melalui Roh Kudus dalam hati mereka, agar mereka kemudian bisa bertobat melalui karunia-Nya. Baik percaya maupun bertobat adalah karena rahmat-Nya semata-mata, tetapi untuk itu manusia harus meresponi.

Tanggapan yang tepat terhadap kabar baik adalah sederhana dan mendalam. Kita harus bertobat dan percaya Injil. Namun apa yang Alkitab maksudkan dengan “bertobat” dan “percaya”? Seperti biasa, ketika kita membaca Firman Tuhan, kita harus menemukan arti sebenarnya dari kata-kata di dalam Firman tersebut. Jadi, mari kita lihat apa arti kedua istilah penting dalam Alkitab ini.

Ketika Yesus berkata “Bertobat,” Dia sedang berbicara tentang perubahan hati terhadap dosa, dunia, dan Tuhan; perubahan batin yang memunculkan cara hidup baru yang meninggikan Kristus dan memberikan bukti kebenaran Injil.

Apa artinya bertobat? Kata Yunani Perjanjian Baru yang diterjemahkan sebagai “bertobat” adalah METANOEO. Ini memiliki dua bagian: META dan NOEO. Kata META, merupakan awalan yang berarti pergerakan atau perubahan. Kata NOEO, mengacu pada disposisi batin Anda, “pengaturan standar” Anda terhadap kenyataan. META, atau “perubahan,” ditambah NOEO, atau “disposisi” sama dengan “mengubah disposisi Anda terhadap kehidupan dan kenyataan, untuk mengubah pengaturan standar Anda tentang apa yang penting.”

Yesus menjelaskan bahwa ketika pengaturan standar kita diubah oleh Roh Kudus, hal ini terlihat ketika kita “menghasilkan buah sesuai dengan pertobatan” (Lukas 3:8). Pertobatan sejati adalah perubahan hati batin yang menghasilkan buah dari perilaku baru. Bertindak berbeda, berbicara berbeda, dan hidup berbeda (inilah buahnya) adalah hasil lahiriah yang tak terhindarkan dari perubahan batin secara total (itulah pertobatan).

Yesus menjelaskan dengan jelas bahwa pertobatan dan iman ibarat dua sisi mata uang yang saling sama. Markus 1:15 mencatat ringkasan pesan Yesus yang terilham ketika Dia memulai pelayanan-Nya: “Waktunya telah genap; Kerajaan Allah sudah dekat. Bertobatlah dan percayalah kepada Injil.” Pertobatan dan iman berjalan seiring karena jika Anda percaya bahwa Yesus adalah Tuhan yang menyelamatkan (iman), pikiran Anda berubah tentang dosa dan diri Anda (pertobatan); dan jika Anda bertobat, itu karena Anda percaya bahwa Yesus adalah Tuhan yang menyelamatkan.

Hal ini karena iman, seperti yang dijelaskan dalam Kitab Suci, adalah percaya bahwa Yesus adalah seperti yang Dia katakan dan bahwa Dia melakukan apa yang Dia katakan akan Dia lakukan. Hal penting tentang definisi iman yang alkitabiah ini adalah bahwa definisi ini berfokus pada siapa Yesus itu, bukan pada Anda atau usaha Anda. Inilah artinya bagi Anda. Anggaplah iman memiliki tiga bagian: mengetahui, menyetujui, dan mengandalkan.

Bagian mengetahui dari iman berarti Anda belajar dari Firman Tuhan Siapakah Yesus dan apa yang telah Dia lakukan untuk menyelamatkan orang-orang berdosa. Itulah sebabnya Alkitab berkata, “Jadi, iman timbul dari pendengaran, dan pendengaran oleh firman Kristus.” (Roma 10:17).

Bagian iman yang menyetujui datang ketika Roh Kudus meyakinkan Anda tentang kebenaran tentang Yesus. Engkau setuju dengan kesaksian Tuhan dan mengakui, “Apa yang Tuhan katakan adalah benar.” Ini adalah salah satu pelayanan utama Roh Kudus. Dalam Yohanes 16:13, Yesus berkata, “Tetapi apabila Ia datang, yaitu Roh Kebenaran, Ia akan memimpin kamu ke dalam seluruh kebenaran;…”

Bagian mengandalkan iman berarti Anda mempertaruhkan hidup Anda pada kebenaran yang Anda ketahui dan setujui. Di sinilah iman menjadi pribadi, ketika Anda mempercayakan jiwa kekal Anda hanya kepada Yesu: “Dan bahwa tidak ada orang yang dibenarkan di hadapan Allah karena melakukan hukum Taurat adalah jelas, karena orang yang benar akan hidup oleh iman.” (Galatia 3:11).

Dua bagian pertama dari iman – mengetahui dan menyetujui – adalah seperti pergi ke bandara, melihat orang naik pesawat, dan melihat pesawat lepas landas. Melalui pengamatan, Anda mengetahui bahwa benda bersayap besar ini dapat membawa manusia sejauh ribuan mil dengan kecepatan luar biasa; dan Anda setuju bahwa hal itu terjadi setiap saat. Bagian ketiga dari iman, mengandalkan, adalah seperti Anda menaiki pesawat terbang. Mengetahui dan menyetujui bahwa pesawat dapat membawa orang ke tempat yang jauh adalah satu hal. Naik pesawat sendiri adalah hal lain yang membutuhkan keputusan Anda.

Iman alkitabiah memang seperti itu. Anda jadi tahu dari Firman Tuhan kebenaran tentang Siapa Yesus itu dan apa yang telah Dia lakukan bagi Anda. Kemudian, Roh Kudus meyakinkan Anda tentang kebenaran Firman Tuhan, dan Anda setuju bahwa Injil itu benar. Dan kemudian Anda menganggapnya sebagai masalah pribadi: Anda tidak lagi bergantung pada upaya Anda sendiri untuk mencapai keselamatan, dan menyerahkan hidup Anda di tangan Yesus, percaya bahwa Siapa Dia dan apa yang Dia lakukan sudah cukup untuk menyelamatkan Anda.

Pagi ini, Anda mungkin bersiap untuk pergi ke gereja. Anda yakin bahwa Anda adalah orang yang dipilih Tuhan untuk percaya kepada Yesus Penebus. Tetapi, sudahkah Anda bertobat? Jika belum, pernahkah Anda bertanya-tanya mengapa itu belum terjadi? Apakah Anda tidak percaya bahwa pertobatan adalah bagian dari keselamatan? Apakah Anda sudah berusaha menghentikan dosa-dosa Anda tetapi sampai saat ini kurang berhasil? Sudahkah Anda mengandalkan Yesus saja untuk pertobatan Anda? Jika belum, maukah Anda meminta Yesus untuk menolong Anda dalam setiap langkah kehidupan Anda?

Apakah kita masih harus bertanggungjawab?

“Sebab kita semua harus menghadap takhta pengadilan Kristus, supaya setiap orang memperoleh apa yang patut diterimanya, sesuai dengan yang dilakukannya dalam hidupnya ini, baik ataupun jahat.” 2 Korintus 5: 10

Menara Babel

Ada orang Kristen yang percaya bahwa Tuhan yang menetapkan segala tindakan manusia, baik kecil maupun besar, melalui penentuan Ilahi yang mutlak dan tidak dapat diganggu gugat dari awalnya. Walaupun mereka percaya bahwa manusia nampaknya memiliki kebebasan untuk mengambil keputusan sehari-hari, mereka tidak bisa menerima bahwa semua itu adalah kehendak mereka sendiri. Apalagi, jika kehendak manusia dikaitkan dengan soal keselamatan, banyak orang yang menyangka bahwa Tuhan menentukan mereka yang akan dikirim ke surga dan mereka yang ke neraka tanpa mempertimbangkan iman dan keinginan hati mereka selama hidup di dunia.

Manusia hanya bisa diselamatkan melalui iman dan iman berasal dari Tuhan. Siapa pun yang mengambil keputusan untuk percaya dan ingin untuk diselamatkan, harus percaya bahwa itu hanya bisa terjadi karena bimbingan Roh Kudus. Dan oleh bimbingan Roh Kudus juga, mereka yang percaya akan bisa menyatakan iman mereka dalam berbagai perbuatan baik yang memuliakan Tuhan. Sebaliknya, mereka yang tidak dibimbing Roh Kudus hanya bisa melakukan apa yang jahat di hadapan Tuhan, sekalipun terlihat baik di mata manusia.

“Sebab aku tahu, bahwa di dalam aku, yaitu di dalam aku sebagai manusia, tidak ada sesuatu yang baik. Sebab kehendak memang ada di dalam aku, tetapi bukan hal berbuat apa yang baik.” Roma 7: 18

Memang sebagai manusia, tidak ada sesuatu yang baik dalam diri manusia yang bisa memenuhi standar Allah. Kehendak yang ada pada diri manusia sering kali adalah kehendak yang diracuni dosa dan mungkin juga dipengaruhi iblis. Dengan demikian, jika kita bersandar pada kehendak kita sendiri dalam hubungan kita dengan Tuhan sering kali justru membuat kita cenderung untuk menjauhkan diri kita dari Tuhan. Itulah yang terjadi pada Adam dan Hawa ketika mereka memakan buah terlarang. Hanya karena anugerah Tuhan mereka yang percaya kepada-Nya akan menerima hidup yang kekal di surga. Walaupun demikian, tidaklah benar bahwa Tuhan selalu memaksakan kehendak-Nya kepada mereka yang tidak mau percaya kepada-Nya atau tidak peduli akan adanya surga dan neraka.

Sebagai manusia yang diciptakan sebagai peta dan teladan Allah, manusia memang diberi kebebasan untuk memilih apa yang diingini selama hidup di dunia. (Kejadian 2: 16). Tetapi, jika manusia tidak mau tunduk kepada firman Tuhan, kehendak manusia akan membawa mereka kepada pilihan yang buruk. Kebebasan manusia dari awalnya, bukanlah sesuatu yang tidak mempunyai konsekuensi, tetapi harus dilakukan dengan kesadaran yang penuh bahwa manusia tidak dapat hidup tanpa Tuhan dan firman-Nya. Manusialah yang pada akhirnya bertanggung jawab atas cara hidup mereka, apakah mereka ingin untuk menjadi orang yang diselamatkan atau tidak. Mereka yang pada akhirnya masuk ke neraka, tidak dapat menuduh Tuhan berlaku tidak adil karena mereka akan disadarkan bahwa selama hidup di dunia mereka tidak mau taat kepada firman Tuhan.

“Barangsiapa percaya kepada Anak, ia beroleh hidup yang kekal, tetapi barangsiapa tidak taat kepada Anak, ia tidak akan melihat hidup, melainkan murka Allah tetap ada di atasnya.” Yohanes 3: 36

Perlu kita ingat bahwa kehendak kita hanya bisa terjadi sejauh mana Allah mengizinkan. Manusia bisa menghendaki apa pun, tapi tidak ada usaha kita yang mengalahkan kedaulatan dan rencana Tuhan. JIka Tuhan mengulurkan tangan-Nya untuk menolong kita, adalah tanggung jawab kita untuk menyambutnya, Sebaliknya, jika Tuhan tidak mengulurkan tangan-Nya, itu adalah keputusan-Nya yang tidak dapat dibantah.

Semua penduduk bumi dianggap remeh; Ia berbuat menurut kehendak-Nya terhadap bala tentara langit dan penduduk bumi; dan tidak ada seorangpun yang dapat menolak tangan-Nya dengan berkata kepada-Nya: “Apa yang Kaubuat?” Daniel 4: 35

Sebagai umat Kristen kita bebas untuk melakukan apa saja atau mengambil keputusan selama hidup di dunia. Tetapi kita tidak boleh menggunakan kebebasan itu untuk membuat murka Allah. Kita bertanggung jawab atas apa yang kita lakukan karena kita bukanlah pion-pion Allah. Kewajiban kita adalah menggunakan kehendak bebas (dalam arti “tanpa paksaan”, dan bukan “bebas untuk mendapatkan apa yang dikehendaki”) yang diberikan-Nya kepada kita untuk diselaraskan dengan kehendak-Nya selama hidup di dunia. Kita tidak boleh dengan sombong memakai kebebasan yang kita punyai untuk mengabaikan kedaulatan Allah. Sebaliknya, dengan kerendahan hati kita berserah kepada-Nya:

“Jika Tuhan menghendakinya, kami akan hidup dan berbuat ini dan itu.” Yakobus 4: 15

Satu hal penting yang harus kita sadari, Tuhan belum tentu menghentikan tindakan manusia sekalipun itu tidak sesuai dengan kehendak-Nya. Malahan, Tuhan bisa saja membiarkan manusia yang sombong dan keras kepala seperti Firaun untuk makin sesat dan menerima hukuman yang setimpal. Manusia tidak bisa mempersalahkan Tuhan jika ia jatuh ke dalam dosa. Tuhan sudah tahu sebelum dosa dilakukan manusia dan rencana-Nya tetap bisa berjalan tanpa bergantung pada hidup dan perbuatan manusia. Itulah sebabnya ada banyak hal menyedihkan yang terjadi ketika manusia tidak mau hidup sesuai dengan kehendak-Nya. Pada akhirnya, kita harus sadar bahwa sebagai umat Kristen kita bertanggung-jawab atas apa pun yang kita sudah lakukan dengan kehendak bebas kita baik mengenai soal jasmani maupun rohani. Setiap orang, baik orang Kristen maupun bukan Kristen, akan memperoleh apa yang patut diterimanya, sesuai dengan yang dilakukannya dalam hidupnya.

Apakah orang Kristen masih menerima hukuman atas dosa mereka?

“Karena barangsiapa makan dan minum tanpa mengakui tubuh Tuhan, ia mendatangkan hukuman atas dirinya.” 1 Korintus 11:29

Banyak orang Kristen yang merasa bahwa sebagai orang yang terpilih, mereka sudah menerima pengampunan atas segala dosa mereka. Karena itu, mungkin mereka merasa bahwa mereka tidak perlu memikirkan cara hidup mereka. Memang, jika mereka adalah orang percaya, bukankah darah Tuhan Yesus sudah mengampuni semua dosa mereka? Semua dosa: bukankah itu dosa yang lalu, dosa yang sekarang, dan dosa yang akan datang? Diampuni: bukankah itu berarti tidak lagi ada hukuman, sekarang dan selamanya? Inilah hal yang sering membingungkan kita.

Bagi orang Kristen yang berpikir bahwa sebagai hamba yang sudah ditebus, mereka boleh hidup bebas tanpa kekuatiran terhadap pelanggaran dosa, Paulus pernah menyatakan:

“Jadi bagaimana? Apakah kita akan berbuat dosa, karena kita tidak berada di bawah hukum Taurat, tetapi di bawah kasih karunia? Sekali-kali tidak!” Roma 6:15

Lebih lanjut, dalam suratnya kepada jemaat Korintus di atas, Paulus menjelaskan alasan-alasan untuk merayakan Perjamuan Tuhan dan bagaimana hal itu hendaknya dilakukan. Umat ​​Kristen di Korintus telah menjatuhkan hukuman Allah atas diri mereka sendiri karena mempraktekkan persekutuan dengan cara yang tidak menghormati pengorbanan Kristus untuk dosa dan mempermalukan orang-orang miskin di antara mereka. Jelas, orang Kristen masih menerima hukuman atas dosa-dosa mereka selama hidup di dunia. Pertanyaan bagi kita: bagaimana ini mungkin?

Tuhan Yesus Kristus, kita akui, telah menebus dosa-dosa kita di kayu salib. Kita yakin bahwa jika Yesus Kristus benar-benar telah membayar segala dosa kita melalui pengorbanan-Nya yang sempurna di kayu salib, maka tidak ada lagi penghakiman yang tersisa bagi kita atas dosa-dosa kita. Lagipula, Allah tidak menghukum dosa yang sama dua kali – pertama pada Anak-Nya di kayu salib dan kedua kalinya pada kita yang melakukan dosa tersebut. Dan itu benar!

Namun itu bukanlah jawaban lengkap atas pertanyaan di atas. Ada banyak sekali contoh dalam Alkitab ketika anak-anak Tuhan mengalami hukuman berat dari Tuhan atas dosa-dosa mereka. Lalu bagaimana cara kerjanya? Apakah Tuhan menghukum dosa orang Kristen? Alkitab menekankan bahwa umat Tuhan pasti dapat – dan memang – mengalami penghakiman Tuhan yang adil atas dosa-dosa mereka dalam kehidupan ini. Hanya saja, banyak pendeta yang kurang mau menegaskan pentingnya hidup suci di dunia. Karena itu, di zaman ini banyak orang Kristen yang hidup semaunya sendiri, sekalipun sebagian di antara mereka yakin bahwa mereka tidak mempunyai kehendak bebas.

Bayangkanlah bangsa Israel di padang gurun. Harap diingat bahwa Israel adalah umat Allah berdasarkan perjanjian, yang dihargai oleh-Nya. Mereka bahkan memberitakan kabar penebusan kepada mereka dengan setia di dalam tabernakel yang Allah perintahkan untuk mereka bangun; pengorbanannya mengarahkan orang-orang pada bagaimana pengorbanan Yesus Kristus yang akan datang akan membasuh dosa-dosa mereka. Bangsa ini juga telah mengikrarkan kesetiaan mereka kepada Allah, menunjukkan pengabdian mereka kepada-Nya. Tetapi, bangsa pilihan Tuhan ini banyak mengalami hukuman karena dosa-dosa mereka (Bilangan 11).

Dalam Perjanjian Baru, Rasul Paulus menulis surat kepada “jemaat Allah di Korintus, yaitu mereka yang dikuduskan dalam Kristus Yesus dan dipanggil menjadi kudus” (1 Korintus 1:2). Ini adalah jemaat orang-orang Kristen sejati yang dibasuh dalam darah Yesus, dikuduskan dan dimeteraikan melalui Roh Kudus (seperti yang digaungkan gereja dalam ajaran Kitab Suci dalam Pasal 27, Pengakuan Iman Belgia), dan juga orang-orang yang termasuk dalam Perjamuan Tuhan. Namun di dalam jemaat ini ada orang-orang yang menghadiri Perjamuan Kudus dengan cara yang tidak layak sehingga memakan dan meminum hukuman atas diri mereka sendiri (1 Korintus 11:29).

Atas otoritas Roh Kudus Paulus memberikan hubungan langsung antara tindakan jemaat Korintus dan penyakit yang ada di tengah-tengah mereka: “Sebab itu banyak di antara kamu yang lemah dan sakit, dan tidak sedikit yang meninggal.” Bayangkan: Allah begitu tidak senang dengan dosa-dosa anak-anak-Nya di Korintus sehingga Ia menghukum gereja-Nya di kota itu dengan penghakiman yang adil saat itu juga! Ini bukan berarti semua dosa-dosa mereka telah diampuni dalam darah Yesus sehingga tidak ada hukuman lagi bagi mereka.

Ingat juga kata Yesus kepada gereja di Efesus. “Engkau telah meninggalkan kasihmu yang semula.,” tulisnya. “Sebab itu ingatlah betapa dalamnya engkau telah jatuh! Bertobatlah dan lakukanlah lagi apa yang semula engkau lakukan. Jika tidak demikian, Aku akan datang kepadamu dan Aku akan mengambil kaki dianmu dari tempatnya, jikalau engkau tidak bertobat. (Wahyu 2:5). Pada tahun-tahun berikutnya, Tuhan Yesus Kristus benar-benar “melepaskan kaki dian” dari Efesus; cahaya Injil tidak lagi bersinar di kota itu, karena Allah dalam pemeliharaan-Nya membiarkan gereja di tempat itu mati. Mengapa? Bukan karena mereka semua adalah orang-orang fasik! Namun Dia melakukan itu karena mereka telah meninggalkan kasih semula mereka. Artinya: dalam waktu bertahun-tahun mereka telah kehilangan kedalaman persekutuan aktif dengan orang-orang kudus. Itu adalah dosa di hadapan Tuhan, dan ada hukuman atas dosa itu; oleh penghakiman Allah yang adil, terang mereka padam. Dan itulah pola yang muncul berkali-kali dalam Kitab Wahyu.

Pesan yang sama juga disampaikan dalam bacaan di Korintus itu. Karena sikap egois orang-orang Kristen ini ketika datang ke Perjamuan Kudus, banyak di antara mereka yang lemah dan sakit, dan beberapa telah meninggal. Paulus menjelaskan mengapa demikian. Dia berkata, “Kalau kita menguji diri kita sendiri, hukuman tidak menimpa kita.” (1 Korintus 11:31). Maksudnya jelas: orang-orang Kristen di Korintus ini tidak memikirkan apakah mereka hidup dalam dosa, namun hanya berasumsi bahwa kematian Yesus Kristus menutupi semua pelanggaran mereka. Mereka berasumsi bahwa Tuhan sungguh penuh belas kasihan. Paulus setuju, tapi dia bersikeras: Tuhan “juga adil.

Menyadari hal ini, kita mungkin merasa bingung dan tertekan. Hal-hal buruk terjadi dalam hidup kita. Apakah kenyataan bahwa sesuatu yang buruk terjadi dalam hidup saya berarti saya telah berdosa dan belum bertobat?? Seperti dalam: tragedi itu salahku sendiri? John Calvin mengatakannya seperti ini: ketika seorang beriman dilanda bencana, dia “segera turun ke dalam dirinya untuk memikirkan dosa-dosanya” (Institusi, III.4.32). Artinya: menurut Calvin orang beriman menerima kenyataan bahwa Allah tidak membiarkan dosa luput dari hukuman, percaya juga bahwa dosa ditebus di dalam Yesus Kristus. Namun, orang beriman juga mengakui keberdosaannya yang terus berlanjut, termasuk keengganan untuk mengakui perbuatan tertentu sebagai dosa. Jadi, ketika menghadapi bencana, orang Kristen akan memeriksa dirinya sendiri untuk memastikan bahwa dia tidak membiarkan dosa-dosa tertentu tidak diakui. Itu, kata Calvin, adalah respons standar orang Kristen yang tepat terhadap masalah; itu adalah pemeriksaan diri.

Apakah Anda gagal untuk bertobat dari dosa-dosa tertentu? Apakah ada hal-hal yang terjadi dalam hidup Anda yang Anda tahu salah tetapi Anda hanya berasumsi bahwa Tuhan baik-baik saja dengan kesalahan tersebut? Apakah dengan kekerasan hati kita bisa menghalangi hikmat Tuhan dan menarik kutukan Tuhan? Calvin bersikeras: orang Kristen yang saleh tentu mengetahui keberdosaan dan kekeraskepalaannya, dan mengetahui bahwa tidak akan ada berkat dari Tuhan saat ini jika ia tidak berpaling dari setiap dosa yang diketahuinya, dan dengan demikian segera memeriksa kembali apakah ia benar-benar melakukan dosa tersebut. bertobat dari segala dosa.

Praktik introspeksi diri ini telah menjadi kekuatan pendorong spiritualitas Kristen selama beberapa generasi, dan selama berabad-abad sejak Reformasi Besar, dan hal ini menghasilkan suatu gaya hidup yang menjunjung tinggi perintah Tuhan. Namun di zaman kita, perasaan bahwa Allah masih menghukum dosa yang tidak ditobati sering diremehkan atau diabaikan. Hal ini mengatakan pada kita diri sendiri bahwa dosa-dosa kita tidak mempunyai konsekuensi karena ada pengampunan dalam darah Yesus. Namun di sinilah kita membodohi diri sendiri. Melawan tren zaman kita (dan diri kita yang berdosa), kita harus kritis dan tegas dalam memeriksa diri sendiri, dan kita harus bertobat dari dosa apa pun yang kita temukan. Jangan sampai dalam hidup ini tangan Tuhan menghancurkan kita.