Berjuang di dunia dengan berfokus pada hadiah surgawi

“Tidak tahukah kamu, bahwa dalam gelanggang pertandingan semua peserta turut berlari, tetapi bahwa hanya satu orang saja yang mendapat hadiah? Karena itu larilah begitu rupa, sehingga kamu memperolehnya! Tiap-tiap orang yang turut mengambil bagian dalam pertandingan, menguasai dirinya dalam segala hal. Mereka berbuat demikian untuk memperoleh suatu mahkota yang fana, tetapi kita untuk memperoleh suatu mahkota yang abadi. Sebab itu aku tidak berlari tanpa tujuan dan aku bukan petinju yang sembarangan saja memukul.ebab itu aku tidak berlari tanpa tujuan dan aku bukan petinju yang sembarangan saja memukul.” 1 Korintus 9:24-26

Di zaman ini, kita seing mendengar persoalan tentang hak azasi. Hak fundamental yang dipunyai oleh semua orang. Hak asasi manusia mencakup hak untuk hidup dan kebebasan, kebebasan dari perbudakan dan penyiksaan, kebebasan berpendapat dan berekspresi, hak atas pekerjaan dan pendidikan, dan masih banyak lagi. Setiap orang berhak atas hal-hal tersebut, tanpa diskriminasi. Ada banyak lagi hak yang dimiliki manusia, dan setiap orang sering merasa bahwa ia mempunyai hak-hak tertentu yang harus dihormati orang lain. Misanya, menurut kebudayaan Timur orang tua berhak mendapat dukungan anak-anaknya di hari tua, atau hak suami untuk diladeni istri, hak anak untuk menerima warisan, dan sebagainya. Inilah yang sering menimbulkan masalah karena membuat fokus kehidupan kita berubah. Ini juga bisa menimbulkan konflik dengan orang lain.

Orang Kristen memang tidak berbeda dengan orang lain dalam soal hak. Tetapi, Paulus mendorong umat Kristiani untuk rela menyerahkan “hak” mereka demi kebaikan orang lain. Paulus menunjukkan bahwa ia pun telah melepaskan hak-haknya, termasuk hak sebagai rasul untuk menerima dukungan keuangan dari orang-orang yang ia layani. Sebaliknya, ia bersyukur bahwa ia bisa melayani jemaat Korintus tanpa imbalan apa pun, bahkan dengan mengorbankan dirinya sendiri. Paul menggambarkan dirinya sebagai seorang atlet yang bersaing memperebutkan hadiah mahkota dalam kekekalan. Maksudnya adalah agar orang percaya mengejar kesalehan dan berjuang untuk kebaikan orang lain, bukan mengejar keuntungan diri sendiri. Semua itu tentunya untuk kemuliaan Tuhan.

Paul kemudiam dalam ayat-ayat di atas mengubah metaforanya untuk menjadikan dirinya sebagai contoh. Ia telah menjelaskan apa yang harus dilakukan seorang atlet untuk memenangkan perlombaan, termasuk melatih pengendalian diri yang baik. Program pelatihan bagi para atlet di zaman Paulus mencakup komitmen untuk tidak mengonsumsi makanan, minuman, dan pengalaman sensual tertentu agar siap berkompetisi di level tertinggi. Dalam ayat sebelumnya, Paulus menunjukkan bahwa mereka melakukan semua ini untuk menerima karangan bunga setelah hidup di dunia berakhir. Paulus melihat dirinya bersaing untuk memenangkan jiwa bagi Kristus dan menerima penghargaan kekal atas usahanya. “Mahkota” seperti itu akan jauh lebih berharga untuk dipikirkan daripada apa yang hanya berguna untuk sementara di dunia.

Komitmen Paul untuk mengesampingkan kebebasan dan hak-haknya bukan sekadar pelaksanaan asal-asalan. Dia berusaha mendapatkan penghargaan dari Kristus atas seberapa baik dia berjuang untuk memenangkan orang agar percaya kepada Yesus melalui cara hidupnya. Dia sengaja hidup saleh seperti ini. Hal ini sesuai dengan tema utama metaforanya: bahwa orang Kristen harus berkomitmen pada iman seperti halnya seorang atlet yang berdedikasi pada olahraganya. Hal inilah yang jarang dibahas di gereja karena banyak orang Kristen yang percaya bahwa sesudah diselamatkan, kita tidak lagi perlu untuk berusaha hidup baik. Apalagi, ada orang Kristen yang berpendapat bahwa adalah tidak pantas bagi orang Kristen untuk memikirkan pahala dari Tuhan. Sebagai akibatnya, banyak orang yang mengaku Kristen masih hidup dalam kedagingan, mencari kenyamanan hidup di dunia.

Ayat 1 Korintus 9:24–27 membangun metafora yang membandingkan hidup di dunia dan hidup di surga. Paulus berusaha untuk membawa orang kepada Kristus, seperti seorang atlet yang berlatih untuk memenangkan hadiah. Keduanya secara sukarela menyerahkan hal-hal yang menjadi hak atau kenikmatan hidup mereka. Hal ini membutuhkan pengorbanan diri dan pendekatan yang keras terhadap perasaan sendiri. Para atlet melakukan ini demi kemenangan. Namun seorang atlet hanya bisa memenangkan karangan bunga yang akan cepat layu, atau sebuah medali yang akan terlupakan. Sebaliknya, Paulus bertujuan untuk memenangkan hadiah yang akan bertahan selamanya. Ia pun melatih dirinya dengan cara ini agar tidak gagal sebelum melewati garis finis.

Sekarang Paulus mengalihkan perhatiannya pada latihannya sendiri untuk mendapatkan hadiah ini. Dia menegaskan bahwa dia tidak berlari tanpa tujuan. Kemudian dia memasukkan kompetisi umum lainnya pada hari itu, tinju. Paul menulis bahwa dia tidak berlatih secara sembarangan. Petinju sering menggunakan “tinju bayangan” satau “shadow boxing” ebagai cara berlatih, di mana mereka menunduk dan menyerang lawan yang hanya dalam bayangan. Namun itu adalah alat pelatihan, bukan tujuan akhir dari pelatihan seseorang. Paul berencana untuk memenangkan pertarungan dalam hidup, untuk memberikan pukulan serius pada lawan yang sebenarnya. Dia mendisiplinkan dirinya untuk kompetisi yang sebenarnya, untuk hidup di dunia dan mengalahkan keinginan duniawinya.

Paulus mencatat bahwa umat Kristiani berlari untuk mendapatkan mahkota yang tidak dapat binasa – pahala yang diberikan oleh Tuhan Yesus di tahta penghakiman Kristus di garis finis dalam perlombaan yang disebut kehidupan Kristiani. Oleh karena itu, Paulus berlari sedemikian rupa untuk mendapatkan mahkota bagi dirinya. Dan dia berlari dengan setia sepanjang hidupnya. Pada akhir hayatnya, ia mengetahui bahwa Tuhan mempunyai mahkota untuknya.

Sebagai umat Kristen, selama hidup di dunia kita harus menyelesaikan tugas yang diberikan Tuhan kepada kita. Kita akan berlari dengan baik. Paulus sudah berupaya mengajari kita cara menjalankan dengan baik sehingga kita juga dapat memperoleh mahkota yang tidak fana. Kita tidak harus pintar, atau berbakat, atau kuat. Faktanya dalam perlombaan ini bukanlah ide yang baik untuk bersandar pada pemahaman kita sendiri atau mengandalkan kekuatan kita sendiri. Kita adalah manusia yang lemah, yang ingin agar keinginan dan hak kita dipenuhi oleh orang lain. Tetapi kita bisa menjadi atlet Tuhan yang baik, jika kita tetap berjuang di dunia dengan berfokus kepada Tuhan.

Kita tahu persis ke mana tujuan kita. Tidak ada ketidakpastian sama sekali dalam pikiran kita. Kita tidak akan membiarkan apa pun menyebabkan kita menyimpang dari tujuan kita. Kehidupan di dunia memang memberikan banyak tantangan pada kita. Banyak hal, persoalan, atau orang yang membuat kita berpindah fokus. Tetapi, jika mata rohani kita tertuju pada hadiah surgawi itu, tidak ada yang akan mengganggu fokus kita.

Aturan emas yang dikenal manusia

“Jadi jika kamu yang jahat tahu memberi pemberian yang baik kepada anak-anakmu, apalagi Bapamu yang di sorga! Ia akan memberikan yang baik kepada mereka yang meminta kepada-Nya. Segala sesuatu yang kamu kehendaki supaya orang perbuat kepadamu, perbuatlah demikian juga kepada mereka. Itulah isi seluruh hukum Taurat dan kitab para nabi.” Matius 7:11-12

Matius 7 adalah bab terakhir dari tiga pasal yang mencatat apa yang sekarang dikenal sebagai Khotbah di Bukit. Secara singkat, pasal ini menyatakan hal Yesus memerintahkan para pendengar-Nya untuk tidak mengucapkan penilaian yang dangkal atau munafik. Ia menggambarkan Allah sebagai Bapa yang murah hati dan ingin memberikan hal-hal baik kepada anak-anak-Nya ketika mereka memintanya. Dia memerintahkan para pengikut-Nya untuk memasuki gerbang sempit dan menempuh jalan yang sulit menuju kehidupan. Otang Kristen yang palsu dapat dikenali dari buahnya, yaitu tindakan dan pilihannya. Pada saat yang sama, amal ibadah bukanlah bukti mutlak bahwa seseorang mempunyai keimanan yang sejati. Hidup berdasarkan ajaran Yesus adalah seperti membangun rumah kehidupan kita di atas fondasi yang kuat dan bukannya di atas tanah yang lunak. Iman sejati yang benar-benar kokoh akan tetap beridiri dalam keadaan apa pun.

Secara khusus, dalam Matius 7:11 Yesus menjelaskan mengapa Allah siap mendengar dan menjawab setiap doa umat-Nya. Yesus bertanya kepada para pendengar-Nya di dua ayat sebelumnya apakah mereka pernah memberikan batu atau ular kepada seorang anak yang meminta makanan? Jawaban yang tersirat adalah bahwa tidak ada orang tua yang akan melakukan hal seperti itu (Matius 7:9-10). Dengan demikian, ayat 11 yang kuat ini mengungkapkan kebenaran esensial tentang sifat manusia dan sifat Tuhan. Sebagai ciptaan Tuhan manusia menurut gambar-Nya manusia memang memiliki apa yang terlihat baik, tetapi itu tidak dapat dibandingkan dengan Tuhan yang mahasempurna.

Yesus mengungkapkan sesuatu tentang sifat manusia. Ayat 11 bisa diartikan bahwa kita, sebagai orang tua yang baik kepada anak-anak kita, sebenarnya adalah orang yang jahat. Ini adalah salah satu bukti dan klarifikasi terkuat terhadap apa yang disebut doktrin kebobrokan (total depravity) manusia. Singkatnya, ini adalah gagasan bahwa semua manusia pada dasarnya berdosa dan tidak mampu melakukan kebenaran atau kebaikan sejati. Menurut definisinya, Yesus berkata, kita jahat di dalam hati kita. Jadi initi hidup manusia itu sudah rusak. Paulus mengatakan hal yang sama dalam Roma 3:10–12, “Tidak ada yang benar, seorang pun tidak. Tidak ada seorang pun yang berakal budi, tidak ada seorang pun yang mencari Allah. Semua orang telah menyeleweng, mereka semua tidak berguna, tidak ada yang berbuat baik, seorang pun tidak.”

Yesus kemudian menegaskan kontras antara manusia dan Tuhan. Allah adalah seorang ayah yang memang baik, bukan seprti manusia. Bapa yang di surga, akan memberikan hal-hal baik kepada mereka yang meminta karena itulah yang dilakukan Dia dari awalnya, bahkan setelah manusia jatuh dalam dosa. Sudah menjadi sifat Tuhan untuk memberikan pemberian yang baik kepada mereka yang mengajukan permohonan dengan kerendahan hati dan ketulusan. Tentu saja, Yesus juga menjelaskan di tempat lain bahwa tidak seorang pun dapat datang kepada Bapa dengan cara ini kecuali melalui Yesus, Dia sendiri (Yohanes 6:28–29; 14:6).

Fakta bahwa manusia pada dasarnya jahat, dibandingkan dengan Tuhan, tidak berarti kita tidak mampu melakukan kebaikan apa pun, atau bobrok sebobrok-bobroknya dalam bentuk apa pun. Kebanyakan orang tua manusia masih bisa memberikan apa yang terbaik yang mereka bisa peroleh untuk anak-anak mereka. Bahkan ada yang rela berkorban demi memenuhi kebutuhan orang lain. Tetapi, apa yang secara alami tidak mampu kita lakukan adalah kebaikan yang sejati, seperti Kristus, tidak mementingkan diri sendiri, dan tidak mengharapkan balasan. Ini tidak mungkin bisa dilakukan oleh mereka yang tidak dibimbing Tuhan.

Pada umumnya setiap manusia ingin diperlakukan dengan baik oleh orang lain, tetapi segan untuk berbuat baik kepada orang lain jika tidak ada hasilnya. Manusia lseing upa bahwa Allah Bapa yang sudah mengurbankan Anak-Nya adalah Tuhan yang melihat kebutuhan manusia dan sudi memberikan apa yang baik. Matius 7:12 kini menjadi salah satu pernyataan yang paling terkenal di seluruh Kitab Suci. Hal ini sering disebut sebagai “Aturan Emas” atau “the Golden Rule“. Ungkapan tradisional bahasa Inggris untuk hal ini adalah “lakukan kepada orang lain sebagaimana Anda ingin mereka memperlakukan Anda.” Sangat mudah bagi pembaca masa kini untuk melupakan betapa besarnya ajaran Kristus telah mengubah dunia, dan betapa sebagian gagasan-gagasannya telah tertanam dalam kehidupan manusiat. Pernyataan ini agak mirip dengan pernyataan yang dibuat oleh para pemimpin spiritual lainnya dalam sejarah, namun pernyataan ayat ini mempunyai perspektif yang sangat berbeda. Perspektif ke arah Tuhan yang mahabaik, yang memberi contoh dan kemampuan bagi umat-Nya.

Yesus bukanlah orang pertama yang memuji perilaku yang dinilai berdasarkan bagaimana Anda ingin diperlakukan. Guru-guru Yahudi dan Yunani sebelumnya juga menawarkan hal ini sebagai pernyataan negatif: suatu bentuk “jangan lakukan kepada siapa pun apa yang Anda tidak ingin dilakukan terhadap Anda”. Dalam hampir semua kasus, hal ini sebagian besar menyiratkan bahwa seseorang harus “tidak melakukan kejahatan”, yang berarti tidak melakukan kejahatan secara aktif. Ungkapan Yesus lebih jauh lagi: tindakan positif adalah bagian dari aturan. Tuhan mengharapkan kita untuk melakukan—untuk secara aktif mengerjakan—apa yang ingin kita lihat dari orang lain. Itu karena Tuhan yang sudah berbuat baik untuk kita.

Selanjutnya, dalam kitab Matius, Yesus menjelaskan serangkaian perintah lain sebagai dasar seluruh Hukum dan Kitab Para Nabi: Kasihilah Allah dan kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri (Matius 22:34-40). Apa yang Yesus sebut sebagai perintah terbesar kedua—untuk mengasihi sesama dengan kasih yang dimiliki terhadap dirinya sendiri— sudah menghapus apa yang dikenal sebagai Aturan Emas: dari sekedar memperlakukan orang lain dengan sopan, menjadi tindakan yang termotivasi oleh kasih terhadap semua orang.

“Kita mengasihi, karena Allah lebih dahulu mengasihi kita.” 1 Yohanes 4:19

Hal mengasihi orang jahat

Tetapi orang-orang Samaria itu tidak mau menerima Dia, karena perjalanan-Nya menuju Yerusalem. Ketika dua murid-Nya, yaitu Yakobus dan Yohanes, melihat hal itu, mereka berkata: ”Tuhan, apakah Engkau mau, supaya kami menyuruh api turun dari langit untuk membinasakan mereka?” Akan tetapi Ia berpaling dan menegor mereka.” Lukas 9:53-55

Pemilu sudah berakhir, dan puji syukur kepada Tuhan bahwa semuanya sudah berjalan dengan baik. Memang, pemilu di mana pun bisa menimbulkan ketegangan antar pendukung capres dan partai, dan ini bisa membawa orang ke dalam kebencian terhadap mereka yang tidak sefaham. Pemilu di Amerika sebentar lagi juga akan berlangsung, dan kita tentunya boleh berdoa agar semuanya bisa berjalan dengan baik seperti pemilu di Indonesia. Tuhan tidak menghedaki kekacauan, tetapi damai sejahtera (1 Korintus 14: 33).

Dalam hidup manusia, memang perasaan tidak senang atau benci bisa membuat seseorang mengutuki orang lain. Sudah tentu kutukan manusia saja tidak akan ada hasilnya karena manusia tidak mempunyai kuasa untuk melakukan keajaiban melalui kutukan. Ini berlainan dengan Yesus, Anak Allah, yang bisa mengutuki pohon ara, orang Farisi dan tiga kota (Khorazim, Betsaida dan Kapernaum). Selain itu, iblis bisa membawa hal-hal yang jahat kepada dunia, tetapi ia pun tidak berdaya untuk menggangu orang Kristen tanpa seizin Tuhan.

Pada waktu itu, Yesus telah mengirimkan utusan ke sebuah desa di Samaria untuk “membuat persiapan bagi dia” (Lukas 9:52). Karena Yesus sedang menuju ke Yerusalem, penduduk desa Samaria yang membenci orang Yahudi menolak untuk mengabulkan permintaan mereka (Lukas 9:53). Secara agama, orang Samaria beribadah di Gunung Gerizim dan tidak percaya bahwa Yerusalem adalah tempat yang tepat untuk beribadah kepada Tuhan. Secara politis, sekitar 130 tahun sebelumnya,ada imam Israel yang membakar kuil orang Samaria. Orang Samaria mempunyai alasan kuat untuk menolak Yesus karena kesetiaan-Nya kepada Yerusalem dan karena Dia seorang Yahudi. Meski begitu, dalam budaya yang mengutamakan keramahtamahan, penolakan ini sangat menghina dan bahkan memalukan.

Jika orang Samaria masih ingat dendam lama, Yakobus dan Yohanes juga terjebak dalam pola pikir Perjanjian Lama. Mereka percaya Yesus adalah Mesias yang akan menaklukkan Roma, memberikan kemerdekaan politik kepada orang-orang Yahudi, dan memerintah, dengan pengikut-Nya di sisi-Nya (Markus 10:35–37). Mereka membela kerajaan Yesus dan kembalinya pemerintahan Yahudi: sebuah pemikiran yang menimbulkan keresahan pada setiap orang Samaria.

Selain itu, Yakobus dan Yohanes mengetahui bahwa orang Samaria tidak menyembah Tuhan sebagaimana mestinya. Perbedaan antara orang Samaria dan Yahudi nampaknya muncul pada zaman Nehemia. Namun landasan bagi pembagian itu sudah ada sejak lama. Penyembahan berhala merupakan masalah bagi bangsa Israel pada masa hakim-hakim. Hal ini semakin parah ketika kerajaan Israel di utara memisahkan diri dari putra Salomo yang bodoh, dan pemimpin baru tersebut mendirikan berhala-berhala untuk menjauhkan rakyatnya dari Yerusalem dan Bait Suci (1 Raja-Raja 12:25-33). Sepanjang sejarah mereka, mereka semakin banyak menyembah dewa-dewa asing sampai Tuhan memanggil bangsa Asyur untuk menghancurkan mereka; tetapi yang kemudian memperkenalkan lebih banyak lagi dewa-dewa kafir (2 Raja-Raja 17:24-33). Orang Samaria merupakan keturunan hasil perkawinan antara orang Israel dan orang bukan Yahudi. Mereka hanya mengikuti Taurat (lima kitab pertama dalam Alkitab) dan beribadah di Gunung Gerizim, percaya bahwa kuil di Yerusalem, dan para pendetanya, adalah tidak sah.

Yakobus dan Yohanes berupaya keras melawan ibadat palsu yang merajalela di Samaria. Mereka tidak memiliki kesabaran terhadap penolakan terang-terangan terhadap Mesias. Karena itu, mereka berharap agar Tuhan mengutuki orang Samaria. Bahkan mereka besedia untuk menjadi saluran murka Tuhan. Pikiran mereka tampaknya kembali ke raja kerajaan utara, Ahazia, yang meminta petunjuk kepada Baal-zebub mengenai apakah ia akan pulih dari cederanya. Elia menantang penyembahan berhalanya dan memanggil api dari surga untuk menghancurkan para utusannya yang tidak senonoh (2 Raja-raja 1).

Pada zaman raja Ahazia, tindakan Elia merupakan respon yang tepat. Israel menolak Tuhan mereka, yang ibadahnya hanya dilakukan di Yerusalem. Tetapi, di masa yang dijelaskan oleh Lukas dalam perikop ini, Yesus sedang mempersiapkan murid-murid-Nya menuju jalan yang baru yang berdasarkan hukum kasih. Di persekutuan Kristen, para penyembah-Nya akan meninggalkan Yerusalem dan menyebarkan kabar baik tentang kasih Tuhan ke seluruh dunia. Mereka harus setia kepada Yesus, bukan kepada Yerusalem. Inilah sebabnya mengapa Yesus telah mengatakan kepada mereka bahwa jika suatu kota menolak pesan mereka tentang Dia, mereka harus “keluar dari kota dan mengebaskan debu dari kaki mereka sebagai peringatan terhadap kota itu” (Lukas 9:5).

Lukas 9:52–56 mencatat bagaimana sebuah desa di Samaria menolak memberikan keramahtamahan kepada Yesus dan para murid. Ini merupakan penghinaan yang menyedihkan pada saat itu. Sebagai tanggapan, Yohanes dan Yakobus menawarkan untuk memanggil api dari surga, namun Yesus menegur mereka. Ini adalah cerita pertama dari beberapa cerita dalam Lukas 9:52—11:13 di mana Yesus mengoreksi gagasan para murid tentang apa artinya Dia adalah Tuhan. Di sini, Yesus mengajarkan kepada para murid bahwa mereka tidak perlu menghakimi mereka yang menolak Yesus. Begitu juga kita tidak boleh melakukan hal yang serupa terhadap mereka yang tidak sefaham dengan kita.

Namun, penampilan Yakobus dan Johanes tidak semuanya buruk. Pertama, mereka menyadari kekuatan Ilahi yang dapat mereka akses. Mereka akan membutuhkan keyakinan itu ketika mereka melakukan perjalanan dan mengajarkan bahwa Yesus menawarkan keselamatan. Kedua, setidaknya mereka meminta izin Yesus, daripada langsung bertindak berdasarkan dorongan hati mereka. Apa yang baik dalam diri Yakobus dan Yohanes inilah yang harus kita tiru, bukan kebodohan dan kebencian mereka terhadap orang yang tidak menyukai mereka. Kita harus sadar bahwa Tuhan mempunyai kuasa untuk mengubah hati manusia, dan Ia ingin agar kita mengasihi musuh kita dan berdoa untuk mereka. Dalam segala tindakan kita terhadap orang lain, kita harus meminta izin dan bimbingan dari Tuhan untuk memilih apa yang terbaik.

“Kamu telah mendengar firman: Kasihilah sesamamu manusia dan bencilah musuhmu. Tetapi Aku berkata kepadamu: Kasihilah musuhmu dan berdoalah bagi mereka yang menganiaya kamu” Matius 5:43–44

Keselamatan adalah karunia Tuhan, mengikut Dia adalah keputusan Anda

Dan seorang lain lagi berkata: “Aku akan mengikut Engkau, Tuhan, tetapi izinkanlah aku pamitan dahulu dengan keluargaku.” Tetapi Yesus berkata: “Setiap orang yang siap untuk membajak tetapi menoleh ke belakang, tidak layak untuk Kerajaan Allah.” Lukas 9:51-62

Anda tentu mengenal lagu “Mengikut Yesus keputusanku”. Lagu ini merupakan salah satu puji-pujian tertua yang masih tetap dinyanyikan sampai sekarang. Lirik lagu ini diambil dari kata-kata terakhir yang diucapkan seorang lelaki berasal dari Assam (sebuah desa di Timur Laut India). Dia bersama keluarganya memutuskan menerima Tuhan Yesus pada pertengahan abad ke 19. Kepala suku Assam memaksanya untuk meninggalkan imannya, namun lelaki itu berkata “I have decided to follow Jesus” (Mengikut Yesus Keputusanku). Istri lelaki itu telah dibunuh karena imannya dan pada akhirnya lelaki itu pun dieksekusi ketika sedang menyanyikan “The cross before me, the world behind me” yang artinya “Salib di depan, dunia di belakang”. Pernyataaan iman pasangan ini telah membawa kepala suku dan semua penduduk desa bertobat dan mengikut Yesus. Seorang editor pujian-pujian William Jensen Reynold kemudian membuat aransemen lagu ini dan pada tahun 1959 dimuat di dalam sebuah buku lagu gereja. Waktu penginjil besar Billy Graham masih hidup, lagu ini selalu dinyanyikan ketika banyak orang dipanggil Tuhan untuk menjadi orang percaya.

Ketika itu Yesus dan murid-murid-Nya sedang dalam perjalanan ke Yerusalem. Kemudian ada seorang di tengah jalan yang tanpa diajak berkata kepada Yesus: “Aku akan mengikut Engkau, ke mana saja Engkau pergi.” Yesus berkata kepadanya: “Serigala mempunyai liang dan burung mempunyai sarang, tetapi Anak Manusia  tidak mempunyai tempat untuk meletakkan kepala-Nya.” Apakah Yesus menolak orang itu? Tidak. Agaknya Yesus bermaksud untuk menjelaskan kepada orang itu untuk berpikir masak-masak, karena mengikut Dia itu bukanlah sebuah keputusan yang mudah diambil karena risikonya besar.

Hidup di dunia tidaklah mudah untuk orang Kristen, tetapi di dalam Kristus kita pasti diajak untuk mengikut Dia. Apa maksudnya? Kehidupan orang Kristen di dunia, seperti yang dikatakan Yesus adalah panggilan untuk memikul salib-Nya. Seperti Yesus, kita yang sudah menerima karunia keselamatan harus bersedia bekerja untuk kemuliaan-Nya, dan bukannya acuh tak acuh dalam kehidupan Kristen kita. Sikap atau perilaku seseorang yang mengaku Kristen tetapi yang tampak tidak peduli, tidak tertarik, atau cuek terhadap ajakan Yesus tentunya adalah hasil keputusan orang itu sendiri.

Kita tidak menyatakan kebenaran jika kita mengajar atau menyiratkan bahwa Yesus dapat dimasukkan ke dalam struktur kehidupan kita tanpa dunia membenci kita (Matius: 24:9). Dunia sudah jatuh dalam dosa karena Iblis, dan Iblis dan pengikutnya membenci Yesus. Tetapi, setiap orang Kristen sejati akan mengambil keputusan untuk mau mengikut Dia dan bekerja untuk Dia.

Seorang pria lain mengatakan bahwa dia bersedia untuk mengikuti Kristus jika dia dapat menguburkan ayahnya terlebih dahulu. Namun Yesus tidak mengizinkan keraguan ini. Ini adalah perkataan yang sulit dimengerti, karena Alkitab mengajarkan kita untuk menghormati orang tua kita (Keluaran 20: 12). Tetapi, kemungkinan besar jawaban Yesus kepada orang itu adalah prinsip universal, bukan penerapan universal. Pada prinsipnya, hanya Yesus yang layak menerima pengabdian tertinggi kita, tetapi cara penerapan prinsip ini mungkin berbeda-beda. Walaupun demikian, jelas bahwa tugas keluarga seharusnya menempati urutan kedua ketika Yesus memanggil.

John Calvin berkomentar, “Anak-anak harus melaksanakan kewajiban mereka kepada orang tua mereka sedemikian rupa sehingga, setiap kali Tuhan memanggil mereka untuk pekerjaan lain, mereka harus menempatkan perintah Tuhan di tempat pertama. Apa pun kewajiban kita harus dilaksanakan, ketika Allah memerintahkan kepada kita apa yang harus segera menjadi hak-Nya.”

Hari ini, firman Tuhan mengingatkan kita bahwa setiap pengikut-Nya mempunyai tugas-tugas tertentu dalam hidupnya. Mungkin kesadaran akan hal itu belum terasa, sekalipun kita sudah menjadi orang yang diselamatkan sejak lama. Mungkin pikiran mereka tenteram karena adanya keyakinan bahwa kita sudah menjadi orang terpilih. Tetapi, ayat pembukaan kita menunjukkan bahwa untuk menjadi pengikut Yesus yang sejati kita tidak dapat tidak harus mengubah prioritas dan cara hidup kita. Menjadi pengikut Kristus tanpa pengurbanan adalah tidak mungkin.

Setiap orang yang mau mengikut Dia harus mau membaktikan bagian yang paling utama untuk Tuhan. Itu mungkin berupa dedikasi, waktu, tenaga, kemampuan, pikiran, uang dan apa pun saja yang kita pandang berharga. Itu bukan untuk membeli keselamatan kita, tetapi untuk menyatakan rasa syukur kita kepada Tuhan atas keselamatan yang kita terima. Apa saja yang dapat kita pakai untuk melayani dan memuliakan Kristus. Semua itu adalah kehendak bebas kita, keputusan kita. Jangan sampai kita menunda-nunda kesempatan yang baik untuk mengikut Dia. Siapa yang menunda panggilan Tuhan akan tertinggal di belakang dalam perlombaan yang diwajibkan Tuhan. Karena itu, dalam mengikuti Tuhan jangan sampai kita menganggap bahwa Tuhan sudah menjamin tempat yang utama bagi kita di surga sekalipun kita tidak mau melaksanakan perintah-Nya.

“Berbahagialah kamu, jika karena Anak Manusia orang membenci kamu, dan jika mereka mengucilkan kamu, dan mencela kamu serta menolak namamu sebagai sesuatu yang jahat. Bersukacitalah pada waktu itu dan bergembiralah, sebab sesungguhnya, upahmu besar di sorga; karena secara demikian juga nenek moyang mereka telah memperlakukan para nabi.” Lukas 6:22-23

Antara hidup dan kenikmatan dunia

“Makanan adalah untuk perut dan perut untuk makanan: tetapi kedua-duanya  akan dibinasakan Allah. Tetapi tubuh bukanlah untuk percabulan, melainkan untuk Tuhan, dan Tuhan untuk tubuh. Allah, yang membangkitkan Tuhan, akan membangkitkan kita juga  oleh kuasa-Nya. Tidak tahukah kamu, bahwa tubuhmu adalah anggota Kristus” 1 Korintus 6:13-15

Kita mungkin pernah mendengar tentang tujuh dosa utama (seven capital sins) atau tujuh dosa mematikan (seven deadly sins) yang pernah disebut dalam tradisi gereja di abad mula-mula. Sekalipun kita tahu bahwa di hadapan Tuhan semua dosa adalah dosa yang bisa membawa kematian, angka tujuh menempati posisi yang unik dalam kehidupan umat Kristen. Ketujuh dosa utama tersebut adalah:

Kesombongan (Pride, Superbia)
Iri hati (Envy, Invidia)
Kemarahan (Anger, Ira)
Ketamakan (Greed, Avaritia)
Nafsu-birahi (Lust, Luxuria)
Rakus (Gluttony, Gula)
Kemalasan (Sloth, Acedia)

Sebagian orang mungkin juga berpikir bahwa membuat kategori “tujuh dosa” adalah sia-sia, karena di mata Tuhan tidak ada dosa kecil atau dosa besar. Ini benar. Namun, dalam tradisi Kristen yang panjang ketujuh dosa utama ini terus didengungkan karena sikap realistis bahwa ketujuh dosa ini memang “utama,” dalam arti ia melahirkan banyak dosa-dosa lainnya. Karena itu mereka disebut dosa utama (capital, caput, kepala).

Pada pihak yang lain, ada orang yang berpendapat bahwa tidak ada dosa yang bisa membawa kebinasaan kepada orang percaya. Orang yang sudah diselamatkan sudah dibasuh dengan darah Kristus dan karena itu tidak ada dosa yang bisa membatalkan penyelamatan itu. Sudah tentu pandangan ini ada benarnya, yaitu jika orang berdosa sudah menerima hidup baru dari Tuhan dan berubah dari hidup lamanya, ia adalah orang yang benar-benar dipilih oleh Tuhan. Pada pihak yang lain, ini bukan berarti bahwa setiap orang yang rajin ke gereja, tetapi tetap bergelimang dalam dosa adalah orang yang sudah diselamatkan.

Satu Korintus 6:12–20 menggambarkan keberatan Paulus terhadap jemaat Korintus yang bersikap santai terhadap percabulan. Di luar hukum formal dan literal, Paulus menekankan bahwa standar perilaku Kristen haruslah apakah suatu praktik itu bermanfaat atau malah memperbudak. Seks lebih dari sekedar fungsi tubuh; Tuhan merancangnya untuk menyatukan dua insan menjadi satu tubuh dalam pernikahan. Kesatuan dengan orang lain menyeret Kristus, yang kepadanya kita juga dipersatukan, ke dalam kesatuan dengan kita. Tubuh kita akan dibangkitkan dan bahkan sekarang dimaksudkan untuk membawa kemuliaan bagi Tuhan.

Satu Korintus 6 melanjutkan konfrontasi Paulus dengan umat Kristen di Korintus mengenai permasalahan dalam gereja. Bagian-bagian sebelumnya membahas masalah perpecahan menjadi faksi-faksi, dan toleransi terhadap dosa seksual yang keji. Paul juga marah karena mereka saling menuntut ke pengadilan karena masalah kecil. Daripada saling menuntut di hadapan orang-orang yang tidak percaya, mereka harus menyelesaikan masalah-masalah sepele di gereja. Kedua, Paulus mendesak mereka untuk hidup sesuai dengan identitas baru mereka di dalam Kristus dan bukannya hidup sesuai dengan standar budaya yang tidak bermoral secara seksual. Ini menyiapkan diskusi tentang pernikahan di pasal 7.

Paulus menggunakan “tubuh” dalam dua arti, yaitu sebagai tubuh rohani—gereja—dan tubuh jasmani setiap anggotanya. Dosa berupaya menghancurkan keduanya, dan Allah tidak menciptakan kita untuk berbuat dosa. Menjaga kesehatan tubuh adalah tanggung jawab penatalayanan yang menyertai pemanggilan kita. Kita berhutang kewajiban ini kepada Tuhan Pencipta kita sama seperti kita mempunyai tanggung jawab rohani terhadap-Nya. Kita mungkin menganggap tanggung jawab fisik ini kurang penting, namun hal itu tidak menghilangkan tanggung jawab untuk menghindari dosa, baik itu nafsu birahi atau kerakusan.

Dosa yang dibahas Paulus di sini adalah percabulan, porneia, yang mencakup berbagai macam dosa seksual yang memutarbalikkan penggunaan seks yang benar dan saleh. Paulus menggunakannya untuk menggambarkan kehancuran tubuh manusia. Dosa itu seperti junk food: Mungkin untuk sementara waktu “terasa” enak di lidah kita, tetapi dosa itu akan kembali lagi menjadi kebiasaan dan merugikan kita dengan sifat-sifatnya yang merusak. Junk food mungkin terasa enak saat dikonsumsi, namun pada saat yang sama, makanan tersebut menghilangkan nutrisi pemberi kehidupan yang dibutuhkan tubuh agar menjadi kuat.

Dalam Kejadian 1:28, Tuhan memberi umat manusia kekuasaan dan tanggung jawab untuk memerintah atas ciptaan-Nya. Kehidupan dan tubuh kita adalah wilayah ciptaan Tuhan yang terdekat dan paling spesifik yang harus kita kendalikan. Dalam Kejadian 2:15, Tuhan memerintahkan kita untuk mendandani dan menjaga ciptaan-Nya, memberi kita arahan yang lebih spesifik dalam kewajiban ini. Mendandani dan menjaga berarti kita harus mempercantik, mempercantik, memperindah, dan menyempurnakan produk mentah, serta memeliharanya dan menghambat pembusukan dan degenerasinya.

Dalam Kejadian 4:7, Tuhan memperingatkan Kain—dan kita pada prinsipnya—bahwa keinginan untuk melakukan hal yang bertentangan dengan keinginan Tuhan akan selalu menjadi bagian dari hal ini. Dosa ada di depan pintu, Ia memperingatkan, namun kita harus menguasainya. Intinya, kita harus membangkitkan semangat dalam diri kita untuk mendisiplinkan diri. Dengan menggabungkan prinsip-prinsip utama ini, kita dapat melihat bahwa yang dimaksudkan Allah adalah wilayah kerja utama kita dalam tujuan-Nya adalah wilayah yang paling dekat dengan kita: tubuh kita.

Seperti yang ia lakukan pada ayat sebelumnya, Paulus sepertinya mengutip sebuah slogan populer saat itu. Ini adalah masalah yang umum, bahkan dalam gereja modern, di mana klise dan perkataan menyusup ke dalam pemikiran Kristen. Meski kelihatannya tidak berbahaya, ungkapan seperti “hidup diberkati adalah hidup untuk dinikmati”, atau “Allah memberkati semua umat-Nya dengan kelimpahan” tidak ditemukan dalam Alkitab. Faktanya, banyak pendeta yang justru memimpin orang ke arah yang sangat tidak spiritual. Mungkin slogan-slogan yang Paulus maksudkan di sini adalah slogan-slogan yang digunakan oleh orang-orang tertentu di gereja Korintus untuk membenarkan keikutsertaan mereka dalam percabulan.

Lagi pula, ada orang yang mungkin berpendapat, apa bedanya nafsu seks dengan nafsu makan? Perut untuk makan, bukan? Bukankah kita seharusnya memperlakukan hasrat seksual dengan cara yang sama dan berusaha untuk mendapatkan kepuasan, sama seperti kita makan ketika kita lapar? Semua itu adalah karena berkat Tuhan, bukan? Paulus menolak perbandingan ini. Sekali lagi, ia menyerukan umat Kristiani di Korintus untuk menghayati jati diri mereka di dalam Kristus dan bukannya merendahkan diri mereka hanya pada sekumpulan nafsu yang harus dipenuhi.

Pertama, bagaimana nasib perut dan makanan di masa depan? Bagaimana pula dengan nasib seks dan kenikmatan seksual? Itu bersifat sementara. Tuhan akan “menghancurkan” keduanya. Dengan ungkapan ini, Paulus sepertinya memaksudkan bahwa kita semua akan mati secara fisik dan berhenti memikmati apa yang bersifat diniawi. Memberi makan perut kita bukanlah tujuan akhir dari siapa kita. Menikmati seks, sekalipun dalam hubungan suami-istri, juga akan berakhir. Kita tidak “hidup untuk makan”, kita bukan hidup untuk kenikmatan duniawi apa pun.

Kedua, Paulus menekankan pentingnya tubuh yang kita tinggali. Tubuh lebih dari sekedar perut, dan otak kita lebih penting dari organ seksual kita. Tubuh orang-orang yang ada di dalam Kristus memiliki tujuan yang lebih besar, itulah sebabnya tubuh, mata, dan pikiran mereka tidak dimaksudkan untuk perbuatan amoral.

Ayat ini diakhiri dengan sebuah gagasan yang mengejutkan: tubuh orang percaya dimaksudkan untuk Tuhan. Yang lebih menakjubkan lagi, Tuhan diperuntukkan bagi tubuh orang percaya. Ini adalah tempat di mana Dia bersama kita. Apa yang kita lakukan dengan tubuh kita di sini dan saat ini jauh lebih penting daripada yang mungkin kita pikirkan. Dengan pikiran yang sudah diperbaharui Kristus, kita akan sadar bahwa bukan hanya ada tujuh dosa yang harus kita hindari, tetapi tujuh dosa di atas adalah contoh-contoh dosa utama di mana kita sering terperangkap.

“Atau tidak tahukah kamu, bahwa tubuhmu adalah bait Roh Kudus yang diam di dalam kamu, Roh Kudus yang kamu peroleh dari Allah, – dan bahwa kamu bukan milik kamu sendiri? Sebab kamu telah dibeli dan harganya telah lunas dibayar: Karena itu muliakanlah Allah dengan tubuhmu!” 1 Korintus 6:19-20





Bagaimana kita disempurnakan oleh Kristus

“Akan hal ini aku yakin sepenuhnya, yaitu Ia, yang memulai pekerjaan yang baik di antara kamu, akan meneruskannya sampai pada akhirnya pada hari Kristus Yesus.” Filipi 1:6

Saat ini, Anda membaca salah satu bagian dari surat Paulus kepada orang Filipi. Isi surat yang di tulis pada abad pertama itu sebenarnya juga berlaku untuk setiap orang percaya. Dalam hidup ini kita melihat berbagai hal yang menyedihkan, yang mungkin membuat kita berpikir mengapa Tuhan membiarkan semua itu terjadi. Kita melihat bagaimana orang-orang yang bekerja keras dengan jujur, orang-orang yang taat kepada Tuhan, para penginjil yang berusaha keras mengabarkan kabar baik kepada semua orang, mereka justru mengalami banyak penderitaan. Untuk kita yang mempertanyakan kebijaksanaan Tuhan, Paulus menulis ayat di atas.

Melihat keadaan hidup di dunia, kita mungkin berpikir adakah gunanya kita berusaha untuk mengikut Yesus jika kita tidak mendapatkan apa yang kita ingini. Terkadang kita ragu apakah kita harus bertahan untuk tetap taat kepada firman-Nya, jika orang yang jahat justru berusaha menindas dan menguasai kita. Dalam keadaan demikian, bagaimana kita bisa hidup dengan keyakinan bahwa semua yang ada di sekitar kita bisa membawa kita lebih taat kepada Tuhan dan lebih sempurna dalam iman?

Surat Paulus dari penjara kepada Jemaat di Filipi ditulis sekitar tahun 62 Masehi dan pada saat itu, sebagaimana disebutkan dalam Filipi 2:19, Paulus berharap untuk mengirimkan Timotius kepada mereka. Oleh karena itu kita tahu bahwa Timotius tidak berada dipenjara bersama Paulus. Dalam Ibrani 13:23 Paulus menyebutkan bahwa Timotius dibebaskan dari penjara. Diduga, surat Ibrani ditulis pada paruh kedua tahun 63 atau awal tahun 64. Hal ini menunjukkan bahwa Timotius kemungkinan besar dipenjarakan pada paruh kedua tahun 62 hingga paruh pertama tahun 63 Masehi.

Dalam Filipi pasal 1, Paulus menyampaikan rasa berterima kasih kepada jemaat di Filipi yang telah mendukung pelayanannya. Paulus menyemangati orang-orang Kristen di Filipi dengan menjelaskan bahwa semua penderitaannya adalah untuk tujuan yang baik. Bahkan yang lebih baik lagi, upaya-upaya untuk menganiaya Paulus waktu itu sebenarnya telah menyebabkan Injil menyebar. Untuk itu, Paulus bersyukur. Dia sepenuhnya berharap untuk dibebaskan, dan bertemu kembali dengan orang-orang percaya di Filipi.

Paulus mengawali ayat ini dengan pernyataan keyakinannya yang besar terhadap umat Kristen di Filipi. Meskipun keselamatan dari hukuman dosa terjadi pada saat seseorang menerima Kristus, perubahan untuk menjadi lebih serupa dengan Kristus adalah: sebuah proses. Paulus sangat yakin bahwa “pengudusan” ini akan terus berlanjut dalam kehidupan orang-orang percaya ini. Secara khusus, jaminan ini didasarkan pada pekerjaan Yesus Kristus. Dengan kata lain, Paulus tidak mempunyai keraguan mengenai keselamatan dan kesetiaan mereka kepada Kristus.

“Hari Yesus Kristus” dengan jelas berbicara tentang akhir zaman, namun para penafsir memperdebatkan hal-hal spesifik lainnya yang berkaitan dengan referensi ini. Beberapa orang melihat ini sebagai hari di mana orang meninggalkan dunia ini, yang akan terjadi setiap saat (1 Tesalonika 4:13–18). Ada pula yang melihat pernyataan ini sebagai penyebutan berakhirnya masa tujuh tahun kesengsaraan tepat sebelum milenium (Wahyu 19-20). Kemungkinan ketiga adalah bahwa Paulus tidak mengacu pada tanggal atau waktu tertentu, namun hanya berfokus pada hal-hal baik yang akan terjadi ketika orang-orang percaya ini bertemu dengan Kristus di masa depan.

Jika kita menempatkan diri kita sebagai jemaat di Filipi, kita akan dapat mengerti bahwa orang-orang beriman bisa saja mengalami hidup yang penuh penderitaan. Keadaan mereka, seperti apa yang dialami Paulus, bisa membuat kita kecewa atas janji Tuhan untuk memelihara umat-Nya. Tetapi, kita harus sadar bahwa setiap orang percaya harus memikul salib masing-masing. Tidak ada orang beriman yang tidak menderita karena harus berusaha untuk mengikut Kristus dan memancarkan terang-Nya. Jika kita mengaku orang Kristen tetapi tidak pernah mengalami kesulitan dan penderitaan ketika berusaha menjadi pengikut Tuhan yang setia, mungkin kita belum benar-benar menjadi orang percaya.

Pagi ini Paulus mengingatkan kita bahwa jika kita mengalami kesulitan dalam hidup sebagai orang Kristen, Tuhan tetap bisa memakai hidup kita untuk menjadi saksi-saksi Kristus. Kita bisa menjadi contoh bagi orang lain bahwa pengurbanan kita tidak akan sia-sia. Sebaliknya, jika kita melihat saudara-saudara seiman yang mengalami penderitaan dalam hidup, tetapi tetap bertekun dalam iman, itu adalah seuatu pelajaran bagi kita bahwa setiap umat Tuhan akan mengalami proses pendewasaan iman. Kita harus tetap mau mendukung mereka. Tuhan tetap bekerja dengan berbagai cara dalam setiap hidup orang Kristen sampai saat mereka berjumpa muka dengan muka dengan Dia.

Kepada siapa Anda akan berseru?

“Ketika aku dalam kesesakan, aku berseru kepada TUHAN, kepada Allahku aku berteriak minta tolong. Ia mendengar suaraku dari bait-Nya, teriakku minta tolong kepada-Nya sampai ke telinga-Nya.” Mazmur 16:6

Agaknya dari segi medis orang tahu bahwa jatuh terlentang adalah posisi yang berbahaya karena kemungkinan gegar otak jika kepala membentur lantai. Tetapi ada juga orang berkata bahwa jatuh terlentang adalah posisi yang terbaik. Jika diamati, ketika Anda telentang, Anda dapat melihat ke atas. Daud menghadapi krisis yang membuatnya merasa takut. Pasukan Saul telah mengepung dia, dan dia agaknya seperti orang yang jatuh terlentang. Tapi dalam jatuhnya, Daud mendongak. Dalam kesusahannya dia berdoa. Dia berseru kepada Tuhan memohon bantuan, dan Tuhan menjawabnya dari surga.

Rasa takut adalah wajar bagi setiap orang yang mengalami ancaman. Rasa takut bisa terjadi karena adanya kemungkinan untuk kalah atau hancur ketika manusia menghadapi suatu tantangan besar atau musuh. Rasa takut bisa juga muncul karena manusia tidak tahu apa yang akan terjadi pada dirinya di masa mendatang.

Rasa takut bisa muncul dalam diri orang yang bukan Kristen maupun orang Kristen. Walaupun demikian, jika rasa takut sulit diatasi oleh orang yang tidak mengenal Kristus, orang Kristen seharusnya lebih mudah untuk mengatasinya. Mengapa demikian? Jika rasa takut muncul karena kekuatiran untuk kalah atau hancur, orang Kristen percaya bahwa Tuhan mereka adalah Tuhan yang mahakuasa, yang mampu mengatasi segala goncangan yang ada di alam semesta. Karena itu orang Kristen berdoa kepada Tuhan untuk meminta agar Tuhan menolong. Tetapi, banyak orang Kristen yang masih bimbang apakah TUhan akan menolong mereka.

Saya pernah mendengar bahwa satu-satunya doa yang tidak dikabulkan oleh Tuhan adalah doa yang tidak pernah dipanjatkan. Tapi apakah itu benar? Apakah Tuhan selalu mengabulkan setiap doa? Mazmur 18:7 meyakinkan kita bahwa doa kita sampai ke telinga Tuhan.

“Ketika aku dalam kesesakan, aku berseru kepada Tuhan, kepada Allahku aku berteriak minta tolong. Ia mendengar suaraku dari bait-Nya, teriakku minta tolong kepada-Nya sampai ke telinga-Nya.” Mazmur 18:7

Dia tidak pernah mengabaikan permintaan kita atau menolak untuk mendengarkan. Dalam Yeremia 33:2-3 Tuhan memerintahkan umat-Nya untuk berseru kepada-Nya, berjanji bahwa Dia akan menjawab. Alkitab menjelaskan dengan jelas bahwa Wuhan mendengar dan menjawab doa-doa kita. Jadi mungkin pertanyaan yang lebih baik bukanlah apakah Tuhan menjawab doa kita, tapi bagaimana Tuhan menjawab doa kita.

”Beginilah firman TUHAN, yang telah menjadikan bumi dengan membentuknya dan menegakkannya – TUHAN ialah nama-Nya –: Berserulah kepada-Ku, maka Aku akan menjawab engkau dan akan memberitahukan kepadamu hal-hal yang besar dan yang tidak terpahami, yakni hal-hal yang tidak kauketahui.” Yeremia 33:2-3

Ada kalanya kita menerima jawaban langsung dari Tuhan. Terkadang Dia berkata, “Ya,” dan Dia mengatakannya segera setelah kita berdoa. Jika kita jujur, kita semua berharap setiap doa dijawab dengan cara ini. Tetapi, ini sudah tentu bukan cara Tuhan bekerja. Dan percaya atau tidak, itu adalah hal yang baik. Terkadang kita menerima jawaban yang tertunda, seperti, “Ya, tapi tidak sekarang.” Dalam hal ini, penting untuk diingat bahwa Tuhan tidak hanya ingin memberikan apa yang terbaik bagi kita; Dia ingin memberikannya pada saat yang terbaik bagi kita. Dia tidak pernah datang lebih awal dan Dia tidak pernah terlambat. Kita harus percaya bahwa segala seuatu terjadi pada waktu-Nya meskipun mungkin tidak sesuai dengan waktu kita. Penundaan bukanlah penolakan.

Namun memang benar bahwa terkadang, jawaban Tuhan adalah, “Tidak.” Inilah saatnya kita tergoda untuk berpikir bahwa Tuhan tidak mendengarkan atau menjawab doa-doa kita. Tapi ingat, “tidak” adalah sebuah jawaban. Mungkin bukan yang kita inginkan, tapi itulah jawabannya. Kita harus berterima kasih kepada Tuhan atas jawaban “tidak” yang Dia berikan kepada kitaa. Kita semua tahu bahwa setiap orang tua yang baik tidak akan memberikan segala yang diinginkan anak-anaknya. Apa yang kita inginkan tidak selalu sesuai dengan kebutuhan kita. Dan sering kali jawaban “tidak” dari Tuhan adalah karena ada sesuatu yang lebih baik yang akan terjadi. Saya yakin ketika kita masuk surga, kita akan berterima kasih kepada Tuhan atas jawaban “tidak”-Nya sama seperti kita akan berterima kasih kepada-Nya atas jawaban “ya”.

Kita selalu bisa berdoa dengan penuh keyakinan, mengetahui bahwa Tuhan akan mendengar dan menjawab setiap doa. Dan apakah jawaban tersebut sesuai dengan harapan kita atau tidak, kita dapat percaya pada kesetiaan, kebaikan, dan hikmat Tuhan yang tak tergoyahkan.

Hari ini, adakah ketakutan atau kekuatiran yang muncul dalam hati dan pikiran anda? Apakah keadaan di sekeliling anda membuat anda tertekan dan ingin melarikan diri, tetapi anda tidak tahu kemana anda harus pergi? Ataukah himpitan kebutuhan hidup membuat anda merasa ragu bagaimana anda bisa melangkah di hari depan? Firman Tuhan mengajak kita untuk meletakkan kepercayaan kita pada Tuhan saja; Dialah yang mahakuasa, mahatahu dan mahakasih. Dialah yang akan memelihara kita.

Karena itu rendahkanlah dirimu di bawah tangan Tuhan yang kuat, supaya kamu ditinggikan-Nya pada waktunya. Serahkanlah segala kekuatiranmu kepada-Nya, sebab Ia yang memelihara kamu.” 1 Petrus 5: 6 – 7

Apakah Tuhan pernah beromong kosong?

“Sebab seperti hujan dan salju turun dari langit dan tidak kembali ke situ, melainkan mengairi bumi, membuatnya subur dan menumbuhkan tumbuh-tumbuhan, memberikan benih kepada penabur dan roti kepada orang yang mau makan, demikianlah firman-Ku yang keluar dari mulut-Ku: ia tidak akan kembali kepada-Ku dengan sia-sia, tetapi ia akan melaksanakan apa yang Kukehendaki, dan akan berhasil dalam apa yang Kusuruhkan kepadanya.” Yesaya 55: 10-11

Teringat saya bahwa saat berada di SMP, istilah “gombal” mulai dipopulerkan. Kalau tidak salah, di TVRI pada waktu itu ada komedian Bagyo, Darto Helm dan Ratmi B29, yang sering memakai kata “rayuan gombal”. Munculnya kata gombal merupakan contoh bagaimana kata bahasa gaul dalam kamus percintaan manusia kemudian bisa menjadi kata baku dalam bahasa Indonesia. Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) menyatakan bahwa kata “gombal” memiliki arti bohong, omong kosong, atau rayuan. Gombal bisa juga diartikan sebagai ucapan yang tidak benar, tidak sesuai dengan kenyataan. Sekalipun kata “gombal” bukan berarti secarik kain kotor seperti dalam bahasa Jawa, tetapi mungkin milainya serupa. Dalam ragam percakapan saat ini, memang kata itu bisa bermakna sesuatu yang tidak berguna atau tidak berarti.

Berbeda dengan manusia yang berdosa dan kotor seperti gombal, dan sering membuahkan omong kosong yang tidak berarti, Tuhan yang mahakuasa dan mahasuci selalu meenghasilkan sesuatu yang sesuai dengan apa yang difirmankan-Nya. Yesaya 55:10 mengatakan, bahwa Firman Tuhan selalu menuju sasaran-Nya: “Sebab seperti hujan dan salju turun dari langit dan tidak kembali ke situ, melainkan mengairi bumi, membuatnya subur dan menumbuhkan tumbuh-tumbuhan, memberikan benih kepada penabur dan roti kepada orang yang mau makan.” Selanjutnya, ayat 11 menjelaskan bahwa Firman Tuhan yang keluar dari mulut-Nya tidak akan kembali dengan sia-sia, tetapi akan melaksanakan apa yang Dia kehendaki, dan akan berhasil dalam apa yang Dia suruhkan kepada-Nya. Firman Tuhan adalah sebuah kemyataan bukan omong kosong atau gombal. Firman Tuhan adalah mahakuasa.

Hujan dan salju adalah bagian dari proses siklus air. Curah hujan turun ke bumi, mengalir ke daratan, dan menghasilkan manfaat besar dalam pertumbuhan tanaman, penyegaran jiwa, dan kelangsungan hidup. Hujan dan salju datang dari atas dan tidak kembali ke atas tanpa mencapai tujuannya. Tuhan mengibaratkan Firman-Nya dengan hujan dan salju karena, seperti curah hujan, Firman Tuhan selalu menggenapi tujuan baik-Nya. Firman Tuhan adalah mahasuci dan Ia bisa membuat kita seperti lebih putih dari salju (Mazmur 51:7).

Ketika Tuhan mengatakan bahwa Firman-Nya tidak akan kembali kepada-Nya dengan sia-sia, kita dapat mengetahui bahwa Dia mempunyai maksud atas Firman-Nya. Firman Tuhan datangnya dari atas. Dia “menghembuskan” Firman-Nya kepada kita, dan itu dicatat dalam Alkitab (2 Timotius 3:16). Setiap perkataan yang Dia berikan kepada umat manusia memiliki tujuan dan diberikan karena suatu alasan. Bagaikan hujan dan salju, firman Tuhan melahirkan kehidupan (Yohanes 6:63) dan menghasilkan buah yang baik dalam hidup kita. Melalui Firman-Nya, kita mengetahui bahwa Tuhan mengasihi kita dan bahwa Yesus mati untuk membebaskan kita dari dosa dan kematian; kita juga belajar bagaimana hidup dalam terang kebenaran tersebut. Kasih Tuhan bukanlah omong kosong saja.

Ketika Tuhan berkata bahwa Firman-Nya tidak akan kembali kepada-Nya dengan sia-sia, kita didorong untuk tinggal di dalam Firman-Nya, membiarkannya meresap ke dalam hidup kita, menyerapnya seperti tanah menyerap hujan dan salju. Kebenaran tidak akan kembali sia-sia ketika hati kita diubah. Firman Tuhan menegur dan mengoreksi kita ketika kita melakukan kesalahan, serta melatih kita dalam hidup saleh (2 Timotius 3:16-17). Firman-Nya adalah terang yang membimbing kita dalam dunia yang gelap ini (Mazmur 119:105). Hal ini relevan dengan setiap masalah yang mendesak dan praktis. Firman Tuhan akan selalu mencapai apa yang Dia inginkan, apakah itu mengajar, mengoreksi, melatih, menuntun kita kepada-Nya, menyingkapkan dosa kita, atau tujuan baik dan bermanfaat lainnya.

Ketika Tuhan mengatakan bahwa Firman-Nya tidak akan kembali kepada-Nya dengan sia-sia, kita memahami bahwa Tuhan berdaulat. Janjinya adalah bahwa Firman Tuhan akan mencapai apa yang Dia inginkan, belum tentu sesuai dengan keinginan kita. Kita mungkin membagikan Firman dengan tujuan mengubah pikiran seseorang—dan pikiran orang tersebut tidak berubah. Apakah Firman Tuhan tidak berlaku? Tidak, namun tujuan pribadi kita mungkin berbeda dengan tujuan Tuhan. Seperti angin yang “bertiup kemana pun ia mau,” Roh Kudus bergerak dengan cara yang misterius (Yohanes 3:8). Dan Tuhan mungkin menggunakan Firman-Nya dengan cara yang mengejutkan, pada waktu yang mengejutkan, dan mengejutkan orang-orang. Kita tidak dapat memprediksi dengan tepat bagaimana Allah akan menggunakan Firman-Nya seperti halnya para ahli meteorologi tidak dapat memprediksi dengan pasti curah hujan dan salju.

Firman Tuhan tidak akan kembali dengan sia-sia. Ketika Allah berkata, “Jadilah terang,” hasil langsungnya adalah “terang itu jadi” (Kejadian 1:3). Ketika Yesus berkata, “Damai! Diamlah!” angin berhenti dan laut menjadi tenang (Markus 4:39). Firman Tuhan akan selalu berhasil; Tuhan akan berhasil, dan mereka yang menerima Firman-Nya juga akan menjadi pemenang (1 Yohanes 5:4). Ini membuktikan:

  1. Bahwa Allah mempunyai rencana dalam memberikan Firman-Nya kepada manusia. Dia mempunyai maksud yang jelas dalam Firman-Nya seperti halnya Dia menurunkan hujan ke bumi.
  2. Bahwa apa pun yang direncanakannya dalam memberitakan Injil, hal itu akan terlaksana. Hal ini tidak pernah diucapkan dengan sia-sia, dan tidak pernah gagal menghasilkan apa yang diinginkannya. Mereka yang dipilih-Nya dari semula, mereka jugalah yang diselamatkan-Nya.

Perlu kita sadari bahwa

  1. Bahwa janji-Nya untuk menyelamatkan manusia dari hukuman kematian, sudah digenapi-Nya karena Firman itu sudah menjadi manusia Yesus. “Firman itu telah menjadi manusia, dan diam di antara kita, dan kita telah melihat kemuliaan-Nya, yaitu kemuliaan yang diberikan kepada-Nya sebagai Anak Tunggal Bapa, penuh kasih karunia dan kebenaran.” Yohanes 1:14
  2. Bahwa janji Firman untuk menyertai kita bukanlah omong kosong. Ia akan menyertai kita sampai kesudahan hidup kita jika kita taat kepada perintah-Nya. “…ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu. Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman.”Matius 28:20

Pagi ini kita disadarkan bahwa Firman Tuhan itu adalah kekal dan benar. Yesus sudah datang dan menebus orang percaya dari kematian. Jika kita percaya kepada-Nya, apa yang sudah dijanjikan-Nya, akan terjadi dalam hidup kita karena kasih-Nya yang tulus dan murni dan tidak mengandung kebohongan. Maukah kita taat kepada Dia?

Kepada Tuhan kita berserah

“Kiranya diberikan-Nya kepadamu apa yang kaukehendaki dan dijadikan-Nya berhasil apa yang kaurancangkan.” Mazmur 20:4

Hari ini adalah hari tahun baru Imlek. Bagi sebagian orang yang merayakannya, hari ini adalah kesempatan untuk berkumpul dengan sanak keluarga dan teman dekat, saling mengucapkan selamat tahun baru disertai dengan harapan agar mereka mendapatkan keuntungan di masa depan. Bagi mereka yang tidak merayakannya, mungkin hari ini kurang mempunyai arti selain kesempatan untuk makan enak dan mengharapkan “hokkie” atau keberuntungan di masa depan. Salahkah jika kita menharapkan nasib baik kita dan mendoakan agar orang lain mendapatkan keberuntungan material?

Pada waktu itu, Daud bersiap untuk berperang. Dia memanjatkan doa dan pengorbanan di tabernakel dan percaya kepada Tuhan untuk kemenangan. Pasukannya siap untuk berperang, dan diorganisasikan ke dalam kelompok-kelompok, masing-masing dengan panjinya. Mereka menyuarakan permohonannya, meminta Tuhan untuk melindungi, membantu, mendukung, dan memberikan kesuksesan kepada Daud. Raja Daud menanggapinya dengan meyakinkan anak buahnya bahwa Tuhan menjawab doa dan akan memberinya kemenangan atas musuh. Ia yakin musuh akan tumbang sementara ia dan anak buahnya tetap bertahan. Akhirnya, anakbuah Daud berseru kepada Tuhan untuk menjawab doa mereka untuk menyelamatkan raja mereka.

Doa di atas bunyinya mirip nadanya dengan uacapan selamat hari tahun baru Imlek. Doa ini melanjutkan doa syafaat atas nama Raja Daud. Bani Israel berdoa agar Tuhan memberikan apa yang baik kepada Daud dan mewujudkan rencana Daud dengan sukses. Tetapi doa ini berbeda dengan ucapan selamat tahun baru Imlek “Gong Xi Fa Cai“”. Dalam bahasa Mandarin, Gong Xi Fa Cai berarti “selamat mendapatkan lebih banyak kekayaan atau kemakmuran”. Sementara, dalam terjemahan bahasa Kantonis, ucapan tersebut berarti “mengharapkan kebahagiaan dan kemakmuran bagimu”. Beda ayat di atas dengan ucapan tahun baru Imlek adalah dalam hal doa kepada Tuhan dan ketergantungan orang Israel kepada-Nya.

Amsal 3:5–6 berjanji jika kita percaya sepenuhnya kepada Tuhan, dan menerima kehendak-Nya, Dia akan membimbing kita. Daud tidak bergantung pada pemahamannya sendiri ketika dia bersiap untuk berperang. Dia telah menyembah Tuhan dan mencari kehendak-Nya (1 Samuel 23:1–2). Kata “rancangan” yang diterjemahkan di sini berasal dari istilah Ibrani “asāt“, yang juga dapat diterjemahkan sebagai “strategi atau siasat”. Strategi peperangan Daud untuk mengalahkan musuh akan berhasil jika Tuhan menggenapinya. Tuhan adalah kunci kehidupan kita, bukan harta atau kemakmuran.

Rasul Yakobus menasihati kita untuk tidak merencanakan apa yang akan kita lakukan besok tanpa mencari kehendak Tuhan (Yakobus 4:13-15). Tuhan memerintahkan Yosua untuk merenungkan Firman Tuhan dan menaati Firman Tuhan dan kemudian dia akan berhasil (Yosua 1:4–9). Ulangan 20:1–4 menyerukan kepada umat Israel untuk bersandar pada Tuhan ketika mereka pergi berperang. Seperti tu, Mazmur 20:1–5 mengungkapkan doa jemaat di tabernakel untuk Daud saat dia bersiap untuk berperang. Pembukaan mazmur ini menunjukkan respon positif masyarakat terhadap seruan ini. Kata-kata ini mengungkapkan kepercayaan bani Israel kepada Tuhan yang mahakuasa dan kepada-Nya mereka boleh berserah. Apakah Anda berharap kepada Tuhan dan berserah kepada kehendak-Nya atas hidup di masa depan?

Apakah orang tua bertanggungjawab atas kelakuan anaknya?

Bacaan: 1 Samuel 2: 11 – 36

“Inilah yang akan menjadi tanda bagimu, yakni apa yang akan terjadi kepada kedua anakmu itu, Hofni dan Pinehas: pada hari yang sama keduanya akan mati. Dan Aku akan mengangkat bagi-Ku seorang imam m kepercayaan, yang berlaku sesuai dengan hati-Ku dan jiwa-Ku, dan Aku akan membangunkan baginya keturunan yang teguh setia, sehingga ia selalu hidup di hadapan orang yang Kuurapi.” 1 Samuel 2:34-35

Minggu ini ada berita menarik dari Amerika. Dalam keputusan yang diperkirakan memiliki implikasi luas terhadap tanggung jawab pidana orang tua pelaku penembakan massal, pengadilan Michigan pada tanggal 6 Februari 2024, memvonis Jennifer Crumbley ikut bersalah atas perannya dalam kejahatan putranya hampir tiga tahun lalu. Pada bulan Desember 2023, putranya, Ethan Crumbley, dijatuhi hukuman penjara seumur hidup atas penembakan pada 30 November 2021, yang menewaskan empat orang dan melukai tujuh lainnya.

Kedua orang tua Ethan sebelumnya mengaku tidak bersalah atas peran mereka. Sekarang, Jennifer Crumbley terancam hukuman penjara maksimal 60 tahun dan denda maksimal US$30.000. Suami Jennifer, James Crumbley, akan diadili atas tuduhan yang sama pada bulan Maret, dan, jika terbukti bersalah, menghadapi hukuman yang serupa. Kejadian ini luar biasa, karena biasanya seorang anak yang sudah dewasa dianggap bertanggungjawab atas kelakuannya. Namun ini bukannya tanpa preseden.

“Adapun anak-anak lelaki Eli adalah orang-orang dursila; mereka tidak mengindahkan TUHAN” 1 Samuel 2: 12

Alkitab menyatakan bahwa anak-anak nabi Eli adalah orang-orang jahat. Salah satu kata dalam Alkitab berbahasa Indonesia yang menarik perhatian saya adalah kata “dursila”. Dalam Alkitab berbahasa Inggris yang banyak versinya, kata dursila ini muncul sebagai kata “wicked“, “scoundrel“, “worthless“, “corrupt” dan sebagainya. Secara umum kata-kata itu menunjukkan karakter dan cara hidup manusia yang sangat buruk. Mungkin, jika ada Alkitab berbahasa Indonesia yang berversi lain, kata durhaka, durkasa dan durjana bisa juga dipakai sebagai kata alternatif.

Pada waktu itu anak-anak Eli adalah orang-orang dewasa yang suka menjarah kurban persembahan untuk Allah. Bukannya mereka menunggu sampai upacara persembahan selesai dan kemudian mengambil bagian daging bakaran yang sesuai dengan hukum yang ada, mereka sebaliknya mengambil apa saja yang mereka mau, kalau perlu dengan jalan kekerasan. Lebih dari itu mereka juga berzinah dengan perempuan-perempuan Israel yang melayani di depan pintu Kemah Pertemuan.

Mengapa anak-anak lelaki nabi Eli, Hofni dan Pinehas, disebut sebagai orang dursila? Berbagai kata yang bisa dipakai untuk menggambarkan sifat dan kelakuan mereka menunjukkan bahwa tidaklah cukup jika kita memakai kata “jahat” atau “amoral”. Mereka adalah orang-orang jahat, kejam, amoral, dan culas, yang tidak peduli akan hukum dan orang lain. Lebih dari pada itu, mereka adalah orang-orang yang tidak takut kepada orang tua dan kepada Tuhan.

Jika kesalahan anak-anak Eli adalah cukup serius menurut standar kepercayaan umat Israel pada waktu itu, semuanya adalah suatu dosa besar yang membuat Allah sangat murka. Mengapa begitu? Segala kesalahan itu dapat disimpulkan sebagai tidak adanya rasa takut kepada Tuhan. Mereka yang seharusnya mengenal Tuhan yang mahasuci, justru mengabaikan adanya Tuhan dengan berbuat semaunya dan dengan tidak menghiraukan teguran Eli, ayah mereka. Mereka dihukum Tuhan karena kedursilaan mereka dan Nabi Eli juga dihukum Tuhan karena kelakuan anak-anaknya. Jika Hofni dan Pinehas tewas dalam perang, Eli yang sudah sangat tua tewas karena jatuh dan patah tulang lehernya setelah mendengar kabar tentang tabut perjanjian yang dirampas musuh Israel.

Bagi kita, adalah mudah untuk berkata bahwa sudah sepantasnya bahwa Tuhan menghukum anak-anak Eli untuk kedursilaan mereka, dan juga menghukum Eli yang tidak bisa berbuat apa-apa selain menegur mereka. Dalam hal ini, sungguh menarik perhatian bahwa Eli seakan pasrah kepada Tuhan dan tidak lagi peduli akan kemarahan Tuhan yang merasa terhina atas segala apa yang terjadi (1 Samuel 3: 18). Jelas, mengabaikan dosa anak-anak kita, adalah termasuk dosa juga bagi kita.

Mungkin kita berpikir bahwa anak-anak kita tidak akan melakukan hal yang sama seperti yang diperbuat anak-anak Eli. Kita barangkali yakin bahwa perbuatan seperti menjarah, merampok, mencuri, membuli dan berselingkuh tidak pernah mereka lakukan dalam hidup ini. Tetapi, apa yang menjadi penyebab utama kemarahan Tuhan adalah sikap hidup manusia yang mengabaikan-Nya. Perbuatan-perbuatan jahat hanyalah manifestasi hati dan pikiran yang menaruh Tuhan di satu sudut hidup untuk bisa dilupakan.

Mengabaikan Tuhan tidak selalu berupa tindakan dursila yang jelas terlihat. Eli yang tidak merasa terbeban untuk menghentikan kejahatan anak-anaknya, juga melakukan dosa besar dalam pandangan Tuhan yang mahasuci. Karena itu, kita harus sadar bahwa jika kita mengabaikan cara hidup anak-anak kita yang “normal” untuk ukuran manusia, itu belum tentu merupakan keadaan yang bisa diterima oleh Tuhan. Setiap orang tua tetap bertanggungjawab untuk membimbing anak-anak mereka seumur hidup. Ini bukan berarti bahwa kita bertanggungjawab atas apa yang mereka perbuat secara langsung, tetapi melalui nasihat, bimbingan, dan tindakan kita. Sebagai orang tua, kita harus bisa menjadi teladan bagi anak-anak kita. Sebab jika kita sendiri tidak menghormati Tuhan, kita tidak bisa mengajak mereka untuk menghormati Dia.

Orang yang dursila adalah manusia yang tidak lagi menempatkan Tuhan yang mahasuci di tempat yang tertinggi dalam hidupnya. Mereka mungkin masih sering ke gereja, tetapi mengabaikan firman-Nya, tidak lagi sadar akan kebesaran Tuhan, dan tidak lagi menghormati-Nya dalam setiap segi kehidupan mereka. Sebagai orang tua kita harus mau menegur anak-anak kita yang tidak mau menghormati Tuhan.

“Sebab siapa yang menghormati Aku, akan Kuhormati, tetapi siapa yang menghina Aku, akan dipandang rendah.” 1 Samuel 2: 30