Kenalkah Anda akan Yesus?

“Hari ini telah lahir bagimu Juruselamat, yaitu Kristus, Tuhan, di kota Daud. Dan inilah tandanya bagimu: Kamu akan menjumpai seorang bayi dibungkus dengan lampin dan terbaring di dalam palungan.” Lukas 2:11-12

Alkisah, di daerah itu ada gembala-gembala yang tinggal di padang menjaga kawanan ternak mereka pada waktu malam. Tiba-tiba berdirilah seorang malaikat Tuhan di dekat mereka dan kemuliaan Tuhan bersinar meliputi mereka dan mereka sangat ketakutan. Lalu kata malaikat itu kepada mereka: ”Jangan takut, sebab sesungguhnya aku memberitakan kepadamu kesukaan besar untuk seluruh bangsa: Hari ini telah lahir bagimu Juruselamat, yaitu Kristus, Tuhan, di kota Daud. Dan inilah tandanya bagimu: Kamu akan menjumpai seorang bayi dibungkus dengan lampin dan terbaring di dalam palungan.” Dan tiba-tiba tampaklah bersama-sama dengan malaikat itu sejumlah besar bala tentara sorga yang memuji Allah, katanya: ”Kemuliaan bagi Allah di tempat yang mahatinggi dan damai sejahtera di bumi di antara manusia yang berkenan kepada-Nya.”

Kisah kelahiran Yesus yang dinyatakan kepada para gembala yang ditampilkan oleh Lukas di atas adalah kisah Natal yang sangat berkesan. Mengapa demikian? Karena Tuhan memberitakan kabar baik itu kepada orang-orang yang sederhana, yang rendah tingkat ekonomi dan pengetahuannya. Tuhan memberikan kesempatan pertama kepada orang-orang yang rendah hati untuk mengenal Dia. Tuhan juga memilih mereka yang mau mengabarkan kabar baik itu kepada orang lain, sehingga semua orang heran tentang apa yang dikatakan gembala-gembala itu kepada mereka. Lebih dari itu, hidup para gembala itu berubah total – mereka pulang ke tempat mereka sambil memuji dan memuliakan Allah .

Bagaimana dengan arti Natal bagi Anda? Apakah Anda mempunyai reaksi yang seupa dengan apa yang dirasakan oleh para gembala itu? Itu tergantung pada pengertian Anda tentang siap Yesus itu dan apa yang sudah dikerjakan-Nya untuk umat manusia. Pada pemahaman paling dasar, dunia tanpa Yesus sama sekali berbeda dengan dunia yang kita kenal. Segala sesuatu tentang keberadaan kita saat ini bergantung pada realitas Yesus. Tanpa Yesus Kristus, tidak akan ada Natal, tidak ada agama Kristen atau orang Kristen. Banyak hal yang kita lakukan dan siapa diri kita bergantung pada siapa Yesus bagi kita.

Kita bisa memandang Natal melalui sudut pandang seorang penyelidik untuk menemukan kebenaran tentang siapa bayi di palungan itu lebih dari 2000 tahun yang lalu. Dalam Alkitab, kita melihat pertanyaan yang sama diajukan oleh Yesus sendiri dalam Lukas 9:20: “Menurut kamu, siapakah Aku ini?” Dan dari jawaban Petrus kita tahu siapakah Yesus itu: ”Mesias dari Allah”. Yesus adalah Tuhan dalam wujud manusia, yang turun ke bumi. Seluruh Perjanjian Baru dipenuhi dengan pernyataan bahwa jika kita mengenal Yesus Sang Mesias, berarti kita mengenal Anak Allah.

Anak Allah adalah gambaran Allah yang tidak kelihatan, yang sulung di atas segala ciptaan. Sebab di dalam Dialah telah diciptakan segala sesuatu, baik yang ada di sorga maupun yang ada di bumi, yang kelihatan dan yang tidak kelihatan, baik singgasana, maupun kerajaan, baik pemerintah, maupun penguasa; segala sesuatu telah diciptakan melalui Dia dan untuk Dia. Dia ada sebelum segala sesuatu, dan di dalam Dia segala sesuatu bersatu. Dan dia adalah kepala dari tubuh, gereja; dialah yang awal dan yang sulung dari antara orang mati, supaya dialah yang lebih utama dalam segala hal. Sebab Allah berkenan jika seluruh kepenuhan-Nya berdiam di dalam Dia, dan melalui Dia mendamaikan segala sesuatu dengan diri-Nya, baik yang ada di bumi maupun yang ada di surga, dengan mendamaikan melalui darah-Nya yang tertumpah di kayu salib. Melihat Yesus berarti melihat Tuhan. Mengenal Yesus berarti mengenal Tuhan. Namun, di malam Natal ini, baiklah kita bertanya kepada diri kita sendiri: seberapa jauh kita mengenal Yesus?

Sering kali ketika kita berbicara tentang Yesus, kita cenderung berfokus pada kelahiran dan inkarnasi-Nya (Natal), serta kematian dan kebangkitan-Nya (Paskah). Hal-hal ini penting bagi identitas kita dan iman Kristen. Namun apakah hanya ini saja yang perlu kita ketahui tentang Allah? Tentu saja, mengenal Yesus dengan seutuhnya adalah suatu hal yang penting. Jika kita ingin memahami apa pun tentang iman kita atau dunia kita, kita perlu memiliki pemahaman yang benar tentang siapa Yesus. Kita harus mengakui bahwa tidak cukup hanya memiliki gagasan yang benar tentang Yesus, tetapi mengenal Dia secara dekat. Tapi bagaimana kita melakukan itu?

Dalam konteks ajarannya tentang kedatangan Roh Kudus, Yesus mengatakan hal berikut kepada murid-muridnya: “Jika seorang mengasihi Aku, ia akan menuruti firman-Ku dan Bapa-Ku akan mengasihi dia dan Kami akan datang kepadanya dan diam bersama-sama dengan dia. Barangsiapa tidak mengasihi Aku, ia tidak menuruti firman-Ku; dan firman yang kamu dengar itu bukanlah dari pada-Ku, melainkan dari Bapa yang mengutus Aku.” (Yohanes 14:23-24). Yesus tidak hanya mengajak kita untuk memiliki gagasan yang benar tentang Dia, tetapi Dia ingin kita mengenal-Nya secara dekat: untuk mengasihi Dia. Jika kita mencintai-Nya maka kita akan menaati-Nya. Jika kita mengasihi Dia, Allah akan datang dan “membuat [Nya] tinggal bersama [kita]” melalui Roh Kudus. Pada saat Natal ini, bisakah kita mengatakan tanpa sedikit pun keraguan bahwa kita benar-benar mengasihi Yesus, bahwa kita benar-benar mengenal Dia sehingga kita benar-benar hidup dengan menaati firman-Nya?

Mengapa Anda merayakan Natal pada tanggal 25 Desember?

Hari ini telah lahir bagimu Juruselamat, yaitu Kristus, Tuhan, di kota Daud. Dan inilah tandanya bagimu: Kamu akan menjumpai seorang bayi dibungkus dengan lampin dan terbaring di dalam palungan.” Dan tiba-tiba tampaklah bersama-sama dengan malaikat itu sejumlah besar bala tentara sorga yang memuji Allah, katanya: ”Kemuliaan bagi Allah di tempat yang mahatinggi dan damai sejahtera di bumi di antara manusia yang berkenan kepada-Nya.” Lukas 2:11-14

Dua hari lagi kita akan merayakan hari Natal. Tetapi tidak semua orang Kristen merayakannya pada tanggal 25 Desember. Itu karena tanggal 25 Desember bukan hari kelahiran Yesus. Lebih lanjut, sebagian orang Kristen menyatakan bahwa perayaan Natal sekarang ini bersifat pagan.

Tanggal 25 Desember mulai dipakai sebagai tanggal Natal pada akhir abad kedua dan awal abad ketiga seperti yang diusulkan oleh sejarawan Sextus Julius Africanus. Africanus, menulis volume berjudul Chronographiai, sebuah risalah Kristen mula-mula yang berupaya membahas sejarah dunia secara kronologis mulai dari penciptaan hingga zamannya. Berdasarkan perhitungan pembacaan Injil Lukas dan Matius, Africanus menyimpulkan bahwa Yesus dikandung pada tanggal 25 Maret. Untuk kelahirannya, ia menghitung sembilan bulan ke depan yang membuatnya jatuh pada tanggal 25 Desember.

Africanus tidak sendirian dalam menentukan tanggal kelahiran Yesus. Seorang kontemporer dari Africanus, Hippolytus dari Roma, menulis komentar mengenai kitab Daniel pada awal abad ketiga di mana ia juga menyatakan bahwa Yesus lahir pada tanggal 25 Desember. Pada tanggal ini juga ada perayaan pagan. Karena itu ada orang Kristen yang menyatakan bahwa hari Natal yang kita kenal tidak seharusnya dirayakan.

Memang benar Sol Invictus, festival memperingati Dewa Matahari Romawi, jatuh pada tanggal 25 Desember. Namun, ada bukti sejarah bahwa festival ini jatuh pada awal bulan Desember, bukan pada akhir bulan Desember. Dalam karyanya The Origins of the Liturgical Year, sejarawan Thomas Talley berpendapat bahwa “lebih mungkin Kaisar Romawi Aurelian memindahkan Sol Invictus ke tanggal 25 Desember untuk bersaing dengan laju pertumbuhan agama Kristen”.

Thomas Talley membuat pengamatan yang menarik bahwa pada abad ketiga dan keempat, agama Kristen jelas-jelas sedang bangkit dan para penganut paganisme tradisional Romawi sedang terjun bebas. Pergeseran praktik keagamaan ini sebenarnya dimulai satu abad sebelumnya pada masa Romawi, tulis  Gaius Plinius Caecilius Secundus, yang dikenal sebagai Pliny the Younger. Pliny adalah seorang pengacara Romawi yang sukses dalam menuntut korupsi, pejabat pemerintah (termasuk bendahara), dan penulis surat-surat terkenal yang melukiskan gambaran penting dunia Romawi sepanjang masa hidupnya.Pliny mencatat (mungkin secara hiperbolik) bahwa kuil-kuil Romawi menjadi kosong karena begitu banyak warga Romawi yang berpindah agama menjadi Kristen. Julian, yang menjadi Kaisar Romawi selama tiga tahun pada abad keempat, menulis tentang rasa frustrasinya terhadap kurangnya pengabdian agama Romawi terhadap berhala, dan secara khusus menyalahkan umat Kristen atas krisis iman orang Romawi ini.

Semua data ini membuat kita bingung: apakah pada abad ketiga dan keempat semakin banyak orang Kristen yang meniru orang-orang kafir, yang jumlah penganutnya menurun tajam, dalam upaya terakhir untuk mengubah mereka yang tidak percaya? Atau, sebaliknya, apakah orang-orang kafir yang putus asa itu meniru orang-orang Kristen yang iman dan praktiknya semakin populer? Berdasarkan semua bukti yang ada, semakin banyak sejarawan kuno yang menunjukkan bahwa kesimpulan terakhir adalah yang benar.

Selain Sol Invictus, yang tampaknya ditetapkan pada tanggal 25 Desember setelah umat Kristen mengakui bahwa itu adalah tanggal kelahiran Yesus – tidak ada hari raya dan perayaan pagan kuno lainnya yang jatuh pada tanggal tersebut. Tetapi, Saturnalia, dirayakan 14 hari sebelum bulan Januari. Perlu diingat bahwa kalender Romawi kuno pada saat itu memiliki dua hari lebih banyak di bulan Desember dibandingkan kalender kita saat ini, yang menempatkan Saturnalia pada tanggal 17 Desember. Pesta Brumalia dan Bacchus juga dirayakan di awal musim, pada akhir November.

Mengingat semua perayaan ini akan jatuh sebelum tanggal 25 Desember, maka jika perayaan Natal orang Kristen merupakan upaya untuk meniru dan menggantikan perayaan pagan, maka mereka melakukan hal yang bodoh. Mengapa? Orang-orang kafir bisa saja dengan mudah merayakan hari raya kafir tradisional mereka pada hari-hari dan bulan-bulan menjelang tanggal 25 Desember dan dengan mudah merayakan Natal di akhir bulan, bukan sebagai pengganti tetapi sebagai tambahan.

Kenyataannya umat Kristiani telah mengakui dan merayakan inkarnasi dan kelahiran Yesus selama beberapa dekade sebelum munculnya berita tentang adanya perayaan kafir lainnya pada tanggal 25 Desember. Pada tahun 386 M, John Chrysostom mengatakan bahwa Natal dirayakan pada tanggal 25 Desember dan menggambarkannya sebagai “tradisi lama”. Kalender Philocalian, sebuah dokumen yang dibuat pada tahun 354 M untuk seorang Kristen Romawi kaya Valentinus, mencantumkan Natal sebagai hari libur pada tanggal 25 Desember.

Manakah yang lebih utama. merayakan Paskah atau Natal? Jika perayaan Paskah dikaitkan dengan perintah Yesus kepada para murid-Nya untuk merayakan Perjamuan Kudus di hari Jumat Agung, tidak ada satupun dalam Kitab Suci yang memerintahkan kita untuk merayakan kelahiran Yesus. Namun, hanya karena Alkitab tidak pernah secara spesifik memerintahkan kita merayakannya bukan berarti kita tidak boleh merayakan hari bahagia ini. Yesus sendiri melakukan perjalanan ke Yerusalem, sebagaimana dicatat dalam Yohanes 10, untuk merayakan hari raya pentahbisan, yang sekarang lebih dikenal sebagai Hanukkah.

Dibandingkan dengan Natal, Hanukkah bukanlah perayaan yang Alkitab nyatakan agar umat Allah turut serta di dalamnya. Hanukkah adalah perayaan orang Yahudi yang berasal dari periode antar-perjanjian, waktu antara kitab terakhir Perjanjian Lama dan permulaan kitab pertama Perjanjian Baru. Perayaan ini dimulai pada abad ke-2 SM, memperingati pemulihan Yerusalem dan peresmian Bait Suci kedua pada awal pemberontakan Makabe. Sudah tentu ini tidak ada hubungannya dengan orang Kristen bukan Yahudi.

Yesus tidak mempunyai masalah bepergian ke Yerusalem untuk merayakan hari raya pentahbisan. Meskipun tidak diperintahkan dalam Kitab Suci, hal ini sepenuhnya konsisten dengan Kitab Suci. Inkarnasi dan kelahiran Kristus, bersama dengan kematian dan kebangkitan Yesus, merupakan dua peristiwa yang paling menakjubkan sepanjang sejarah umat manusia. Karena itu, kita ingin meluangkan waktu khusus untuk merayakan peristiwa luar biasa ini. Kita dengan sengaja menyisihkan waktu dalam setahun seperti Adven, untuk mengantisipasi kedatangan Juruselamat kita.

Sebagian orang Kristen tetap berpendapat bahwa tidaklah baik kita merayakan Natal pada saat orang pagan merayakan hari yang sama untuk maksud tercela. Dalam hal ini kita harus ingat bahwa Rasul Paulus menulis kepada gereja di Korintus mengenai mereka yang khawatir mengenai makan daging yang dipersembahkan kepada berhala:

“Tentang hal makan daging persembahan berhala kita tahu: ”tidak ada berhala di dunia dan tidak ada Allah lain dari pada Allah yang esa.” Sebab sungguhpun ada apa yang disebut ”allah”, baik di sorga, maupun di bumi – dan memang benar ada banyak ”allah” dan banyak ”tuhan” yang demikian – namun bagi kita hanya ada satu Allah saja, yaitu Bapa, yang dari pada-Nya berasal segala sesuatu dan yang untuk Dia kita hidup, dan satu Tuhan saja, yaitu Yesus Kristus, yang oleh-Nya segala sesuatu telah dijadikan dan yang karena Dia kita hidup.” 1 Korintus 8:4-6.

Tuhan membuat segalanya baik, dan hanya karena adanya orang-orang yang mencoba menafsirkan firman Tuhan menurut pengertian mereka, bukan berarti kita harus meniru mereka. Sekalipun sesuatu mempunyai arti bagi seorang penyembah berhala, bukan berarti demikianlah cara Tuhan melihatnya. Tuhan melihat hati kita, apakah kita merayakan Natal dengan ketulusan dan rasa syukur atas kasih-Nya, atau hanya sekadar untuk bersukaria.

“Karena itu janganlah kamu biarkan orang menghukum kamu mengenai makanan dan minuman atau mengenai hari raya, bulan baru ataupun hari Sabat” Kolose 2:16

Selamat menyongsong hari Natal!

Yesus adalah hadiah terbesar untuk kita

“Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal. Sebab Allah mengutus Anak-Nya ke dalam dunia bukan untuk menghakimi dunia, melainkan untuk menyelamatkannya oleh Dia. Barangsiapa percaya kepada-Nya, ia tidak akan dihukum; barangsiapa tidak percaya, ia telah berada di bawah hukuman, sebab ia tidak percaya dalam nama Anak Tunggal Allah.” Yohanes 3:16-18

Di banyak negara, Natal adalah musim memberi dan menerima hadiah. Ini adalah tradisi yang sangat tua, dan tentu saja berakar kuat dalam budaya materialis manusia. Natal adalah musim berbelanja dan mengeluarkan uang untuk makan enak dan berpesta-pora. Tentu saja tidak ada yang salah dengan hadiah dan bersuka-ria, tetapi di tengah hiruk pikuk memberi dan menerima hadiah Natal, kita tidak boleh lupa bahwa kita sedang merayakan datangnya hadiah terbesar yang pernah diberikan kepada dunia: Yesus Kristus, Anak Allah yang kekal.

Yesus Kristus adalah Tuhan sejak sebelum dunia diciptakan, namun Ia menjadi manusia. Ia dilahirkan dari perawan Maria. Dia menjalani kehidupan yang kudus dan tanpa dosa dalam ketaatan yang sempurna kepada Allah Bapa, dan kemudian mati di kayu salib, menderita murka Allah dan sepenuhnya menggantikan kita. Meskipun Ia tidak berdosa, Ia menanggung segala dosa kita dan menaruh seluruh kebenaran-Nya yang sempurna kepada kita. Hasilnya, mereka yang mau menerima DIa akan diselamatkan dan layak beribadah kepada Tuhan dalam kemuliaan kemuliaan di surga kekal selama-lamanya (Yohanes 3:16).

Yesus Kristus, dan keselamatan yang Dia raih bagi umat-Nya, merupakan anugerah yang luar biasa. Itu adalah hadiah cuma-cuma yang diberikan oleh Allah Bapa. Pada hari Natal, Anda tidak perlu memberikan apa-apa kepada bayi Yesus, tetapi harus menerima-Nya dengan iman: Yesus yang dilahirkan dalam palungan adalah Anak Allah. Ayat 16 teks kita menjelaskannya dengan jelas: “Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal.” Tuhan memberinya sebagai hadiah cuma-cuma kepada dunia.

Mungkin banyak orang yang bertanya: apakah ada barang yang gratis tapi berharga di dunia ini? Inilah penyebab sebagian orang tidak mau menjadi orang Kristen. Mereka menganggap bahwa untuk diselamatkan, manusia harus banyak bersedekah dan berbuat baik. Tetapi Yesus adalah hadiah yang luar biasa, yang menakjubkan. Kata “menakjubkan” sering digunakan secara berlebihan dalam budaya kita saat ini. Ini kurang lebih dilontarkan sebagai sinonim untuk “bagus sekali.” Yesus adalah orang yang baik, seperti halnya dengan tokoh agama lain, begitu kata orang. Namun kata “menakjubkan” bukanlah itu maksudnya. Artinya “menakjubkan; menyebabkan kejutan atau keheranan besar.” Dan saat kita berhenti dan merenungkan anugerah besar berupa kehidupan kekal di dalam Yesus Kristus dan pengorbanan besar-Nya di kayu salib bagi orang-orang berdosa seperti kita, kita akan takjub. Kita akan tercengang. Kami akan terkejut. Kita akan mengalami keajaiban yang luar biasa. Mengapa Allah masih mengasihi manusia yang durhaka seperti kita?

Kita tentu saja tidak layak menerima anugerah apa pun dari Tuhan yang maha besar ini. Dia adalah Raja di atas segala raja, dan Tuhan di atas segala tuan. Dia mahakuasa, Dia mahasuci, dan Dia layak menerima segala pujian. Sebaliknya, kita bukanlah apa-apa. Kita ini hina, tidak berarti, dan bersifat fana: hari ini ada, dan hilang besok; sama dengan seekor ikan yang berenang di lautan. Kita tidak berarti apa-apa, kecuali Tuhan menganugerahkan arti penting kepada kita.

Tuhan menciptakan segalanya, Dia memberi kehidupan dan nafas pada segala sesuatu, dan Dia menopang segalanya, bahkan hingga saat ini. Kita hidup dan bernapas berdasarkan kehendak dan kuasa Allah yang menopang (Ibrani 1:3). Dia tentu saja tidak berhutang pemberian apa pun kepada kita, dan Dia juga tidak mendapat manfaat dengan memberikan apa pun kepada kita.

Terlebih lagi, kita tidak layak karena semua orang sudah berdosa dan telah kehilangan kemuliaan Allah (Roma 3:23). Dia menciptakan dunia, termasuk umat manusia, dan menjadikan semuanya indah. Namun, dosa Adam dan Hawa menjerumuskan dunia milik Allah ini ke dalam dosa dan kegelapan. Lebih dari itu, kita tidak berhak menerima hadiah apa pun karena telah menodai ciptaan-Nya yang baik dengan dosa yang kita lakukan dalam hidup kita. Memang, setiap orang dilahirkan sebagai orang berdosa dan terus berbuat dosa setiap hari. Kita mungkin berbuat dosa ribuan, jutaan, dan mungkin bahkan miliaran kali selama hidup kita. Itu jika kita sadar dan mau mengakuinya.

Tentu saja, jika kita mempunyai pikiran yang waras, kita harus mengakui bahwa hal ini benar. Kita tahu bahwa kita adalah orang berdosa yang selalu berbuat dosa. Kita tahu bahwa hal ini benar berdasarkan hati nurani kita sendiri, meskipun kita mungkin tidak menyukai kenyataan buruk ini. Kita tahu bahwa kita masing-masing telah melakukan kejahatan, kita masing-masing berpikir jahat, dan kita masing-masing telah mencoba melakukan kejahatan berkali-kali dalam hidup kita. Kita tahu – setiap orang, baik yang percaya maupun yang tidak percaya – bahwa kita adalah orang-orang berdosa yang bersalah dan patut menerima penghakiman dan murka Allah. Kita tidak pantas menerima hadiah; kita pantas mendapatkan murka. Untunglah, ada hari Natal.

Yesus Kristus adalah anugerah Allah, Putra kekal yang menjadi manusia. Dia adalah segalanya. Namun Alllah tidak mengutus-Nya hanya agar kita bisa memandang atau mengagumi bayi Yesus. Yesus tidak datang hanya untuk dilihat dan dirayakan. Tidak, ada hadiah yang lebih dari itu. Sebagaimana dikatakan dalam ayat 15 dan 16, Allah memberi kita karunia ini “supaya siapa pun yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal.” Ayat 17 mengatakan bahwa Allah Bapa memberikan Anak-Nya “untuk menyelamatkan dunia melalui Dia,” melalui Anak. Dan ayat 18 mengatakan, “Barangsiapa percaya kepada-Nya, ia tidak dihukum.” Ia tidak datang sekadar sebagai hadiah untuk diterima, sebuah gambar untuk dipajang di dinding di dekat pohon Natal. Tidak, Dia datang dengan misi: memberi jalan bagi manusia berdosa untuk diselamatkan, untuk mendapatkan hidup kekal.

Hidup kekal yang kita terima adalah hidup kekal bersama Tuhan. Kita akan terbebas dari kuasa dosa. Kita akan terbebas dari kehadiran dosa. Kita akan terbebas dari hukuman yang harus kita terima karena dosa kita. Di surga, kita akan bebas memenuhi tujuan keberadaan kita: memuliakan Tuhan dan menikmati Dia selamanya. Kita akan bebas melihat Tuhan secara langsung. Kita akan bebas untuk menyembah Dia dalam Roh dan kebenaran. Jadi ini sungguh merupakan hadiah yang luar biasa, yang harus kita ingat dan rayakan.

Apakah Natal untuk semua orang?

“Jangan sesat! Allah tidak membiarkan diri-Nya dipermainkan. Karena apa yang ditabur orang, itu juga yang akan dituainya. Sebab barangsiapa menabur dalam dagingnya, ia akan menuai kebinasaan dari dagingnya, tetapi barangsiapa menabur dalam Roh, ia akan menuai hidup yang kekal dari Roh itu.” Galatia 6:7-8

Sebentar lagi kita akan merayakan hari Natal. Bagi umat Kristen, hari Natal adaah hari kelahiran Yesus Kristus, Allah yang turun ke dunia dalam bentuk manusia, Anak Allah. Bagi orang bukan Kristen, hari Natal mungkin adalah hari yang dinikmati secara kekeluargaan atau dengan pesta pora, bahkan dengan mabuk-mabukan. Tetapi, bagi orang lain hari Natal adalah hari libur yang tidak perlu dirayakan, dan bahkan tidak boleh dirayakan, mungkin saja karena ada kaitannya dengan agama Kristen. Jelas di sini bahwa hari Natal adalah milik orang Kristen, tetapi dikenal oleh semua orang sebagai hari libur, dan “dirayakan” oleh mereka yang tidak menentang hari Natal.

Jika tidak semua orang merayakan hari Natal dalam arti yang benar, apakah Kristus datang untuk semua orang? Ini pertanyaan yang sulit dijawab. Kristus memang datang agar semua orang yang percaya bisa diselamatkan, tetapi tidak semua orang mau percaya kepada-Nya. Jadi, tidak semua orang menerima keselamatan dari Tuhan, dan Tuhan tidak mengasihi semua orang dengan derajat yang sama, sekalipun Ia memberikan matahari dan segala berkat yang ada di dunia untuk siapa saja. Ayat di atas menyebutkan bahwa Tuhan malahan membenci orang-orang yang mempermainkan-Nya. Ayat lain menyebutkan hal yang lebih spesifik:

“Atau tidak tahukah kamu, bahwa orang-orang yang tidak adil tidak akan mendapat bagian dalam Kerajaan Allah? Janganlah sesat! Orang cabul, penyembah berhala, orang berzinah, banci, orang pemburit, pencuri, orang kikir, pemabuk, pemfitnah dan penipu tidak akan mendapat bagian dalam Kerajaan Allah.” 1 Korintus 6:9-10

Semua orang memang diciptakan menurut gamnar Tuhan. Gambar Tuhan adalah doktrin alkitabiah mengenai sifat dan tujuan umat manusia. Kejadian 1:27 menyatakan bahwa Allah menciptakan manusia “menurut gambar-Nya,” yang berarti bahwa umat manusia diberikan kemiripan tertentu dengan Allah. Tuhan menciptakan semua manusia sengan kasih-Nya. Sama seperti Set yang memiliki “rupa dan gambar” bapaknya, Adam (Kejadian 5:3), Allah menciptakan Adam dan Hawa untuk memiliki gambar dan gambarnya. Teologi sejarah sering kali mendasarkan gambaran Tuhan pada superioritas umat manusia atas makhluk yang lebih kecil, mengingat rasionalitas dan spiritualitas manusia yang lebih tinggi, dan khususnya pada kapasitas manusia untuk mengenal dan menyembah Tuhan. Ayat di atas juga menunjukkan bahwa manusia juga mempunyai kapasitas untuk melawan Tuhan atau mengabaikan panggilan-Nya.

Refleksi lebih lanjut mencatat bahwa sebagai pria dan wanitaa, umat manusia memiliki gambar Allah dalam komunitas kasih. Penekanan dalam Kejadian 1:26 mengenai kekuasaan manusia atas makhluk lainnya membuktikan bahwa manusia berada dalam kekuasaan yang rendah dalam hal akuntabilitas kepada Allah. Refleksi Perjanjian Baru mengenai gambar ilahi menyoroti bahwa manusia diciptakan untuk persekutuan perjanjian dengan Allah dalam kebenaran dan kekudusan. Meskipun kejatuhan telah merusak citra Allah – menghancurkan kebenaran dan kekudusan yang sudah ada dalam diri kita sejak awal – Allah mengutus Putra-Nya, Yesus Kristus, untuk menebus umat manusia dan memulihkan citra Allah “dalam kebenaran dan kekudusan sejati” (Efesus 4 :24).

“Karena kamu telah mendengar tentang Dia dan menerima pengajaran di dalam Dia menurut kebenaran yang nyata dalam Yesus, yaitu bahwa kamu, berhubung dengan kehidupan kamu yang dahulu, harus menanggalkan manusia lama, yang menemui kebinasaannya oleh nafsunya yang menyesatkan, supaya kamu dibaharui di dalam roh dan pikiranmu, dan mengenakan manusia baru, yang telah diciptakan menurut kehendak Allah di dalam kebenaran dan kekudusan yang sesungguhnya.” Efesus 4:21-24

Seorang bapa gereja yang bernama Agustinus berpendapat bahwa gambar Tuhan ada dalam ingatan, pemahaman, dan kehendak manusia, sehingga dengan cara ini ia mencerminkan kepribadian Allah yang Tritunggal. Yang lain mengacu pada kesadaran diri dan kepribadian manusia, yang lebih tinggi tingkatnya daripada binatang. Manusia selanjutnya memiliki rasa hati nurani dan melakukan pengambilan keputusan moral. Selain itu, hanya manusia saja di antara makhluk yang menyembah Tuhan dengan kesadaran spiritual, sebagaimana pengamatan Salomo: Tuhan “telah memberikan kekekalan dalam hati manusia” (Pengkhotbah 3:11). Dengan kemampuan kodrat yang mencerminkan gambaran ilahi, kita mempunyai tanggung jawab untuk memenuhi tujuan utama kita sebagai pria dan wanita ciptaan Tuhan untuk memuliakan Tuhan dan menikmati Dia selama-lamanya.

Yang paling penting dari semuanya, gambaran Allah dalam diri manusia melibatkan penciptaan kita untuk sebuah identitas dalam persekutuan dengan Pencipta dan sesama kita. Kolose 3:10 berbicara tentang pemulihan besar yang telah terjadi dalam keselamatan orang Kristen ketika manusia baru “diperbarui dalam pengetahuan menurut gambar penciptanya.” Paulus dengan demikian menunjukkan bahwa mengenal Allah merupakan hakikat penciptaan manusia menurut gambar Allah. Hewan-hewan tidak sadar akan Tuhan. Mereka tidak mencari atau menyembah Pencipta mereka. Mereka tidak mengerti apakah mereka jantan atau betina, karena mereka hidup hanya dengan naluri. Namun umat manusia, kata Paulus, mengenal Tuhan karena Tuhan telah merancang ciptaan untuk menyatakan diri-Nya kepada orang yang mempunyai gambar-Nya (Roma 1:19).

Hari Natal ini bukan untuk semua orang, tetapi hanya untuk mereka yang mengenal Tuhan. Aspek kunci kemanusiaan kita ini menjelaskan seruan Yesus bahwa “Inilah hidup yang kekal itu, yaitu bahwa “mereka mengenal Engkau, satu-satunya Allah yang benar, dan mengenal Yesus Kristus yang telah Engkau utus.” (Yohanes 17:3). Sebagian orang Kristen ingin menyatakan bahwa semua orang dikasihi Allah dengan kasih yang sama, dengan demikian kita harus menghargai cara hidup mereka. Tetapi, pada hari Natal ini kita harus sadar bahwa hanya orang-orang yang taat kepada firman-Nya adalah orang-orang yang dikenal Tuhan sebagai domba-Nya. Kita tidak boleh mengajarkan kepada dunia bahwa Tuhan juga memberkati mereka yang melakukan hal-hal yang dibenci Tuhan. Sebaliknya, kita dipanggil untuk memanggil mereka agar kembali ke jalan yang benar.

Apa arti Natal yang sebenarnya?

Lalu kata malaikat itu kepada mereka: ”Jangan takut, sebab sesungguhnya aku memberitakan kepadamu kesukaan besar untuk seluruh bangsa: Hari ini telah lahir bagimu Juruselamat, yaitu Kristus, Tuhan, di kota Daud.” Lukas 2:10-11

Natal benar-benar merupakan salah satu saat terindah dalam setahun. Bagi banyak orang, ada pesta yang hangat, rumah yang nyaman, tradisi yang menyenangkan untuk dirayakan, dan hadiah untuk dibagikan. Ini adalah saat perayaan yang menggembirakan. Namun, terkadang kita terbuai suasana dan melupakan alasan kita merayakannya. Di tengah kesibukan, fokus kita hilang dengan berbagai prioritas tidak selaras.

Kebanyakan orang dapat memberi tahu Anda asal muasal Natal, bahwa itu adalah peringatan akan kelahiran Kristus. Namun entah itu sebatas pengetahuan mereka atau mereka lupa akan hal ini di tengah kesibukan liburan. Mengapa kita benar-benar merayakan Natal? Bukan Sinterklas, atau pohon Natal, atau berbagai tradisi lainnya yang dirangkai dalam Natal. Mengapa kita merayakan peristiwa ini – apa arti sebenarnya?

Selama ribuan tahun umat manusia menantikan kedatangan Kristus; mereka rindu akan datangnya seorang Raja untuk membebaskan mereka dari penindasan. Perjanjian Lama penuh dengan nubuatan, termasuk nubuatan dari Yesaya 9.

“Sebab seorang anak telah lahir untuk kita, seorang putera telah diberikan untuk kita; lambang pemerintahan ada di atas bahunya, dan namanya disebutkan orang: Penasihat Ajaib, Allah yang Perkasa, Bapa yang Kekal, Raja Damai.” Yesaya 9:5

Alkitab penuh dengan Kitab Suci yang menunjuk langsung kepada Dia yang akan menyelamatkan umat manusia dari dosa-dosa mereka. Ketika Yesaya menggambarkan kedatangan-Nya, dia menggambarkan kedatangan-Nya sebagai seorang bayi. Namun anak ini akan bertumbuh dan mendirikan Kerajaan kebenaran selama-lamanya. Saat kita merayakan Natal, kita sedang merayakan momen dalam sejarah ketika nubuatan digenapi. Tuhan datang untuk menyertai kita.

Sebab ketika Yesus datang, Ia juga meninggalkan anugerah keselamatan kepada kita. Kelahiran-Nya penting karena kematian-Nya. Selama tiga puluh tiga tahun Yesus menjalani kehidupan yang bebas dari dosa sehingga Ia dapat menjadi domba kurban yang sempurna untuk penebusan dosa kita. Di Golgota, Kristus membayar harga dan mengalahkan kematian sehingga kita dapat memperoleh kemenangan atas dosa dan penghukuman. Jadi, ketika bayi yang berharga itu lahir dan ditempatkan di palungan, itu bukan sekedar kelahiran biasa. Ini adalah awal dari rencana penebusan Allah bagi umat manusia. Suatu tindakan yang tidak harus Dia lakukan tetapi Dia memilihnya karena kasih.

“Hendaklah kamu dalam hidupmu bersama, menaruh pikiran dan perasaan yang terdapat juga dalam Kristus Yesus, yang walaupun dalam rupa Allah, tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai milik yang harus dipertahankan, melainkan telah mengosongkan diri-Nya sendiri, dan mengambil rupa seorang hamba, dan menjadi sama dengan manusia. Dan dalam keadaan sebagai manusia, Ia telah merendahkan diri-Nya dan taat sampai mati, bahkan sampai mati di kayu salib. Itulah sebabnya Allah sangat meninggikan Dia dan mengaruniakan kepada-Nya nama di atas segala nama, supaya dalam nama Yesus bertekuk lutut segala yang ada di langit dan yang ada di atas bumi dan yang ada di bawah bumi, dan segala lidah mengaku: ”Yesus Kristus adalah Tuhan,” bagi kemuliaan Allah, Bapa!” Filipi 2:5-11

Tindakan kerendahan hati dan pilihan-Nya untuk mati di kayu salib inilah yang menyebabkan kita berlutut dan mengangkat tangan. Memang kesibukan tahun ini bisa menyebabkan waktu berlalu begitu saja dan tanpa kita sadari, hari libur telah berlalu dan kita lupa merayakan alasan kita merayakannya. Namun jangan teralihkan – dapatkan perspektif yang benar. Pilihlah rasa hormat dan berikan kehormatan di mana kehormatan itu pantas untuk dinyatakan.

Luangkan waktu di akhir tahun ini untuk merayakan makna Natal yang sebenarnya dengan memuliakan Dia yang memberikan semuanya. Seorang anak dilahirkan dalam keadaan sederhana dan kematian-Nya sebagai kurban mencerminkan hal yang sama, namun keduanya penting bagi kemanusiaan. Tanpa kematian Kristus, keselamatan tidak mungkin terjadi. Jadi tanpa kelahiran-Nya, hal ini juga tidak mungkin terjadi. Kedatangan Yesus ke bumi mengubah segalanya dan ini adalah momen yang harus kita rayakan dengan sepenuh hati. Tentu saja Anda boleh menikmati pesta, makanan, hadiah Natal, dan acara Natal gereja yang meriah, namun jangan lupa untuk mengarahkan hati Anda, keluarga Anda, jemaat Anda, dan orang-orang di sekitar Anda pada makna Natal yang sebenarnya: Kristus datang dengan rencana penebusan kita.

“Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal.” Yohanes 3:16

Yesus, bayi yang lemah tetapi berkuasa

“Dan ia melahirkan seorang anak laki-laki, anaknya yang sulung, lalu dibungkusnya dengan lampin dan dibaringkannya di dalam palungan, karena tidak ada tempat bagi mereka di rumah penginapan.” Lukas 2:7

Pada saat menjelang Natal ini, di banyak tempat kita bisa melihat hiasan Natal yang berbagai ragam. Salah satu hiasan yang klasik tetapi masih sering dijumpai ialah bayi Yesus di dalam palungan. Saya dapat memahami Tuhan sebagai Tuhan yang mulia, Tuhan yang kudus, Tuhan yang penuh kasih. Tapi Tuhan yang lemah dan lahir di tempat makanan hewan? Kedengarannya ini memalukan. Ini mungkin merupakan paradoks yang pertama dalam sejarah kehidupan Yesus di dunia. Kata Tuhan dan kelemahan tidak bisa disatukan. Begitulah ujar mereka yang kurang mengerti.

Dunia mengharapkan satu hal sementara Tuhan memberikan sesuatu yang lain. Orang-orang Yahudi menginginkan seorang Mesias untuk menyelamatkan mereka dari penindasan Romawi; tetapi Tuhan mengutus Juruselamat yang dibungkus dengan kain lampin untuk menyelamatkan manusia dari hukuman dosa. Tuhan kita adalah Tuhan yang tak terduga bagi banyak manusia. Firman Tuhan sungguh menakjubkan untuk dilihat, dan itu sepadan dengan seluruh waktu berharga yang diperlukan untuk mempelajarinya dan untuk mengenal Tuhan melaluinya. Mereka yang tidak bisa menyelami arti kelahiran Yesus sebagai bayi yang tidak berdaya, tidak akan dapat mengenal Yesus sebagai Allah.

Yesus dinubuatkan akan datang dengan lemah lembut dan rendah hati, dan seperti bayi yang terbaring di palungan. Para ahli Taurat mengetahui nubuat tersebut namun memilih kehendak manusiawi mereka sendiri dibandingkan kehendak Allah. Sampai sekarang, banyak orang Yahudi yang masih menantikan kedatangan Mesias itu. Jika mereka sudah mengabaikan kelahiran Mesias di Betlehem, Mesias yang sudah datang itu tidak akan membiarkan mereka (atau siapa pun) mengabaikan kedatangan-Nya yang kedua kali. Sebagaimana dinyatakan dalam Kitab Suci, “Itulah sebabnya Allah sangat meninggikan Dia dan mengaruniakan kepada-Nya nama di atas segala nama, supaya dalam nama Yesus bertekuk lutut segala yang ada di langit dan yang ada di atas bumi dan yang ada di bawah bumi, dan segala lidah mengaku: ”Yesus Kristus adalah Tuhan,” bagi kemuliaan Allah, Bapa!” (Filipi 2:9-11).

Sekalipun Yesus datang sebagai bayi yang rendah hati, dan Ia bertumbuh kuat dalam roh dan kasih karunia Allah (Lukas 1:80). Kita datang ke dunia ini dengan cara yang sama seperti Yesus – lemah dan lemah dalam kemanusiaan. Tetapi, oleh kasih karunia-Nya, kita menjadi anak-anak Allah, ahli waris-Nya (Titus 3:7). Seperti Dia yang bertumbuh, maka kita dapat bertumbuh semakin serupa dengan Dia dan suatu hari nanti kita akan melihat Dia dengan wajah yang tidak terselubung (1 Yohanes 3:2).

Lahir di palungan sebagi bayi seolah menunjukan ketidakberdayaan dan kelemahan. Tetapi Paulus pernah mengatakan: tidak ada yang lemah dalam diri Yesus sendiri. “Karena kamu ingin suatu bukti, bahwa Kristus berkata-kata dengan perantaraan aku, dan Ia tidak lemah terhadap kamu, melainkan berkuasa di tengah-tengah kamu.,” tulisnya (2 Korintus 13:3). Dia adalah gambar Allah dan seluruh kepenuhan Allah diam di dalam Dia (Kolose 1:15-20). Siapa yang bisa menganggap Yesus lemah? Namun, Paulus juga berkata bahwa Yesus disalib dalam kelemahan. Di kayu salib, Yesus memilih sikap lemah. Dengan demikian, Tuhan kita Yesus Kristus mencapai tujuan besar-Nya dengan menjadi lemah. Melalui kelemahan-Nya Ia mampu merasakan penderitaan kita dan bahkan sampai mati – untuk menyelamatkan kita dari perbudakan dosa.

Kelahiran Yesus di palungan dan kematian-Nya di kayu salib bukan sekedar catatan sejarah, namun paradigma kehidupan Kristiani. Kita yang mengikuti Yesus tidak dipanggil untuk menguasai orang lain. Sebaliknya, kita dipanggil untuk taat dengan rendah hati, sebuah kepatuhan yang seringkali membawa penderitaan. Menurut Paulus, kelemahan adalah bukti bahwa pelayanannya otentik. Kita cenderung melihat kelemahan sebagai sebuah masalah. Paulus melihatnya sebagai kehidupan Kristen yang normal.

Jika Yesus lahir sebagai bayi yang lemah, apakah agama Kristen berkembang karena kerja keras pengikut-Nya? Apakah karena orang Kristen merayakan hari kelahiran Yesus, orang sedunia ikut-ikutan merayakan hari Natal dan mengenal Yesus sebagai Anak Allah? Tidak! Pendeta terkenal dari abad 19 Charles Surgeon pernah berkata: “Dia tidak menyelamatkan manusia saat ini karena kekuatan para pelayan-Nya, namun karena kelemahan mereka,” lanjut Spurgeon, “dan bukanlah kekuatan Injil, yang dinilai menurut cara daging, yang dapat menaklukkan bangsa-bangsa; namun, seperti halnya Tuhan kita, kemenangan diraih melalui kelemahan kita.” Kita tidak dapat membawa orang lain kepada Kristus tanpa menunjukkan ketergantungan kita kepada Tuhan dan kasih kita kepada mereka.

Saya merasa kurang enak dengan sebutan “Tuhan yng lemah” yang diberikan orang untuk Yesus karena hal itu tidak menggambarkan kemuliaan Tuhan. Namun itu adalah gelar yang cocok, setidaknya ketika kita melihat palungan dan bayi Yesus. Mereka yang bertanya-tanya apakah Tuhan adalah manusia yang tidak berdaya, belumlah mengenal jalan Tuhan. Tuhan orang Kristen bekerja melalui kelemahan. Begitulah cara Dia menunjukkan kekuatan-Nya.

Cendekiawan Richard Dawkins yang atheis pernah mengejek seorang Kristen karena kepercayaan mereka kepada Yesus: “Mereka yang percaya bahwa pencipta alam semesta, Tuhan yang merancang hukum fisika, hukum matematika, konstanta fisika… percaya bahwa Tuhan yang jenius matematika dan ilmu fisika ini tidak dapat memikirkan cara yang lebih baik untuk membersihkan dunia dari dosa selain untuk datang ke titik kecil debu kosmik ini dan menyiksa serta mengeksekusi diri-Nya sendiri agar Dia bisa memaafkan manusia.”

Memang. Siapa yang bisa membayangkan bahwa Tuhan akan memilih untuk bekerja dengan cara seperti ini? Bagi Dawkins, ini merupakan argumen yang menentang iman Kristen. Bagi kita orang percaya, ini adalah inti dari iman Kristen. Palungan dan salib menyatakan bahwa Tuhan bekerja melalui kelemahan untuk mencapai kemenangan. Dia melakukannya dari awal sampai akhir hidup-Nya, dan Dia terus melakukannya hingga hari ini dalam hidup kita.

“Karenaw itu aku senang dan rela di dalam kelemahan, di dalam siksaan, di dalam kesukaran, di dalam penganiayaan dan kesesakan oleh karena Kristus. Sebab jika aku lemah, maka aku kuat.” 2 Korintus 12:10

Yesus adalah Allah Raja Damai

“Sebab seorang anak telah lahir untuk kita, seorang putera telah diberikan untuk kita; lambang pemerintahan ada di atas bahunya, dan namanya disebutkan orang: Penasihat Ajaib, Allah yang Perkasa, Bapa yang Kekal, Raja Damai.” Yesaya 9:5

Sepeluh hari lagi hari Natal akan datang, dan pada saat ini banyak rumah di Australia sudah dihias dengan berbagai lampu hias dan pohon Natal. Di beberapa daerah ada banyak rumah yang dihiasi dengan ratusan dan bahkan ribuan lampu yang berkedip-kedip, dan berbagai hiasan Natal yang dipasang dari lantai sampai ke atapnya. Mereka mungkin ikut berlomba hiasan Natal dan karena itu banyak orang yang datang sekadar untuk mengagumi teran benderangnya lampu Natal mereka. Sekalipun indah, hiasan Natal itu biasanya akan dibongkar seminggu sesudah tahun baru, dan setelah itu rumah-rumah itu kehilangan terangnya karena lampu-lampu hias itu tidak dipasang secara permanen.

Pada zaman Yesaya, penghakiman Allah akan menimpa Israel yang durhaka. Allah akan melenyapkan para pemimpin mereka. Kejahatan membakar seluruh bangsa seperti api. Walaupun demikian, Yesaya telah menggambarkan masa depan Israel, ketika Tuhan akan mengembalikan terang ke negeri mereka yang gelap (Yesaya 9:1-2). Dia akan memberikan istirahat, keamanan, dan kelimpahan kepada mereka dengan mematahkan penindasan musuh-musuh mereka. Dia bahkan akan mengakhiri perang itu sendiri (Yesaya 9:3-4). Bagaimana Tuhan akan mewujudkan semua kemegahan ini bagi Israel?

Yesaya 9:1–7 dimulai dengan bagian akhir dari Yesaya 8. Kegelapan yang disebutkan dalam pasal itu suatu hari nanti akan digantikan secara permanen dengan kemuliaan. Israel akan berlimpah dalam kehidupan dan sukacita. Bangsa ini akan aman dan bebas dari penindasan. Perang akan berakhir. Perdamaian akan bersifat permanen. Bagaimana ini akan terjadi? Tuhan akan mengirimkan seorang anak yang akan menjadi raja selamanya di atas takhta Daud. Dia akan disebut Allah yang Perkasa dan Raja Damai. Dan Dia akan memerintah dengan kebenaran dan keadilan. Allah akan menyebabkan semua ini terjadi.

Yesaya 9 mengawali nubuatan tentang masa depan ketika kegelapan akan disingkirkan dari Israel. Bangsa ini akan bebas, makmur, dan damai selamanya. Hal ini terjadi karena Tuhan akan mengirimkan seorang anak yang akan menjadi raja di atas takhta Daud. Pemerintahan raja ini atas Israel dan bumi tidak akan menjadi pemerintahan yang penuh pertumpahan darah dimana Dia memerintah dengan tangan besi. Raja ilahi ini akan begitu berkuasa sehingga Dia akan menciptakan perdamaian abadi di bumi, mengakhiri segala perang. Dia berhak diberi gelar “Raja Damai”. Ini adalah salah satu nama yang dengannya kita mengenal Juruselamat dan Tuhan kita Yesus Kristus, penggenapan nubuatan Yesaya.

Ayat di atas menggambarkan bagaimana Tuhan akan mewujudkan semua ini. Dia akan melakukannya melalui seseorang: seorang manusia yang akan dilahirkan sebagai manusia. Ini adalah ayat terkenal yang cenderung dianggap oleh umat Kristen modern sebagai dongeng Natal. Itu karena meramalkan kelahiran Yesus, harapan keselamatan bagi semua orang. Namun, hal ini juga merupakan janji Tuhan kepada Israel akan seorang penyelamat, seorang Mesias, yang akan mengembalikan kejayaan dan kegembiraan bagi bangsa mereka. Anak ini akan menjadi Raja Israel dan juga Raja seluruh dunia.

Orang yang digambarkan Yesaya ini sungguh luar biasa dan luar biasa. Dia tidak dapat disangkal adalah manusia karena Dia dilahirkan sebagai seorang anak. Dia jelas akan menjadi raja, karena Yesaya menyatakan bahwa “pemerintahan ada di atas bahunya”. Bukan hal yang aneh jika raja diberi gelar mewah di era ini, namun gelar yang diberikan kepada Raja ini dengan cepat meningkat. Gelar-gelar tersebut dimulai dari tingkat putra mahkota, atau wakil Tuhan yang diberi wewenang khusus, hingga tingkat Tuhan. Yesaya tidak menyisakan ruang bagi kita untuk merasa ragu, Anak yang akan dilahirkan ini adalah Tuhan sendiri, Raja dari segala raja.

Yesaya menulis bahwa penyelamat ini akan disebut “Penasihat yang ajaib”. Ini menggambarkan kebijaksanaan raja dari seorang raja seperti Salomo. Dia akan menjadi pemimpin yang akan selalu membuat keputusan terbaik dalam setiap skenario dan memberikan nasihat yang tiada henti kepada rakyatnya. Meskipun gelar itu mungkin diberikan kepada raja manusia yang sangat bijak, gelar berikutnya tidak bisa diberikan. Orang ini akan disebut “Allah yang Perkasa”. Beberapa pakar mencoba mengartikan bahasa di sini sebagai “pahlawan besar”. Namun Yesaya dengan jelas bermaksud menyampaikan bahwa penyelamat Israel, dan dunia ini, akan bersifat ilahi di dalam diri-Nya sendiri. Dia menggambarkan Mesias, yang pada akhirnya akan dinyatakan sebagai Yesus Kristus, Anak Allah.

Hari ini kita menyadari bahwa Raja ini disebut sebagai “Bapa yang Kekal” dan “Raja Damai”. Banyak pemimpin dunia yang disebut sebagai bapak rakyatnya. Pemimpin yang dipuja-puja, tetapi pada suatu saat akan turun jabatan. Namun, peran sebagai Bapa yang kekal ini tidak akan berakhir. Dia akan terus menjadi Bapa dari generasi ke generasi dan kemudian ke seluruh generasi umat-Nya selamanya. Sudahkah Anda siap untuk merayakan kelahiran-Nya dan merasakan kedamaian yang dibawa-Nya?

Apa hadiah Natal yang Anda harapkan?

”Sesungguhnya, anak dara itu akan mengandung dan melahirkan seorang anak laki-laki, dan mereka akan menamakan Dia Imanuel” – yang berarti: Allah menyertai kita.” Matius 1:23

Ketika kita memikirkan hari raya umat Kristiani, Natal mungkin adalah hal pertama yang terlintas di pikiran kita. Natal mendapat banyak perhatian baik di dalam maupun di luar tembok gereja. Namun secara rohani, Natal hanyalah permulaan. Mengapa begitu? Natal merayakan Tuhan yang menjalankan rencana-Nya untuk menyelamatkan umat manusia dengan mengutus Yesus. Jika sebagai orang Kristen, kita hanya bisa menantikan hadiah atau suasana Natal, itu berarti kita masih kurang bisa menyadari apa arti hari Natal yang sebenarnya.

Tuhan mengasihi manusia dan menginginkan hubungan dengan kita masing-masing. Tapi ada satu masalah besar. Tuhan itu sempurna, jadi kesalahan dan pemberontakan kita memisahkan kita dari-Nya. Kesempurnaan tidak bisa berada dalam hubungan dengan ketidaksempurnaan. Daripada menyerahkan nasib kita pada usaha kita, Tuhan berencana untuk menyelamatkan kita dari konsekuensi kesalahan kita dan memulihkan hubungan kita dengan-Nya. Kita tidak dapat melakukan ini sendiri. Karena kita sudah tidak sempurna, tidak ada cara untuk menjadi sempurna lagi. Kita tidak bisa menjangkau Tuhan, jadi Dia menjangkau kita dengan mengirimkan seorang Juruselamat.

Pada hari Natal, Tuhan datang ke bumi sebagai manusia, Yesus, untuk mengorbankan diri-Nya bagi kita. Natal adalah perayaan kedatangan penyelamat – perayaan kelahiran Yesus. Ketika Tuhan datang ke bumi, Dia memulainya dalam keadaan lemah dan rentan seperti kita semua. Mengapa Tuhan memilih untuk datang ke bumi sebagai bayi yang tidak berdaya? Mengapa tidak menjadi dewasa dan memulai misi penyelamatan dengan menunjukkan kekuatan? Yesus menjalani kehidupan manusia sejak bayi hingga dewasa, dengan segala tantangan hidup. Dia melakukan apa yang tidak bisa kita lakukan: Dia menjalani kehidupan yang sempurna, agar kita mau untuk disempurnakan-Nya.

Jika Natal adalah sebuah permulaan, Yesus kemudian membuka tindakan terakhir dari rencana penyelamatan. Dia mengorbankan diri-Nya untuk meruntuhkan penghalang antara Tuhan dan manusia dan memulihkan hubungan kita dengan Tuhan. Pada hari Jumat sebelum Paskah pertama, hari yang kita sebut sebagai Jumat Agung, Yesus mengorbankan diri-Nya dengan mati menggantikan kita. Kehidupan Yesus yang sempurna memungkinkan Dia menggantikan kita dan menanggung hukuman atas kesalahan kita. Namun mengapa Yesus harus mati? Tidak bisakah Tuhan menyelamatkan kita tanpa pengorbanan? Tuhan itu pengasih, tapi Dia juga adil, jadi Dia tidak bisa mengabaikan kesalahan dan konsekuensinya.

Konsekuensi utama dari semua kesalahan kita adalah keterpisahan dari Tuhan, atau kematian rohani. Seseorang harus membayar harga tersebut, maka Tuhan datang ke bumi dalam wujud Yesus untuk membayarnya bagi kita. Rencana penyelamatan tidak berakhir pada Jumat Agung. Yesus tidak tetap mati; Perpisahannya dengan Tuhan tidak berlangsung selamanya. Pada hari Paskah, Yesus melepaskan diri dari kematian, hidup kembali untuk menyelesaikan misi penyelamatan.

Paskah merayakan keberhasilan misi penyelamatan yang Tuhan mulai pada hari Natal. Melalui pengorbanan dan kebangkitan-Nya, Yesus menawarkan anugerah menakjubkan berupa hubungan tanpa hambatan dengan Tuhan dan kehidupan kekal bersama-Nya di Surga. Sebagai manusia, kita hanya harus menerima hadiah ini. Inilah hadiah yang seharusnya kita nantikan dengan penuh pengharapan.

Dalam ayat di atas, Imanuel adalah nama laki-laki Ibrani yang berarti “Allah beserta kita.” Yesus adalah Imanuel. Ia bukanlah satu bagian dari Allah yang beserta kita; Yesus adalah Allah yang beserta kita dalam segala kepenuhan-Nya: “Sebab dalam Dialah berdiam secara jasmaniah seluruh kepenuhan ke-Allahan” (Kolose 2:9). Yesus meninggalkan kemuliaan di surga dan mengambil rupa seorang hamba supaya kita yakin bahwa Ia dapat memahami kesukaran hidup sehari-hari kita (Filipi 2:6-11; Ibrani 4:15-16).

Imanuel adalah Juruselamat kita (1 Timotius 1:15). Allah telah mengutus Anak-Nya untuk hidup di antara kita dan mati bagi kita di atas salib. Melalui darah Kristus yang tercurah, kita dapat didamaikan dengan Allah (Roma 5:10; 2 Korintus 5:19; Kolose 1:20). Ketika kita lahir baru oleh karena Roh-Nya, Kristus datang dan hidup di dalam kita (2 Korintus 6:16; Galatia 2:20). Inilah hadiah yang harus kita pertahankan dalam iman dalam hidup kita sebagai orang Kristen sejati.

Imanuel akan selamanya menyertai kita. Setelah kebangkitan-Nya dari kematian, sebelum Yesus kembali pada Bapa-Nya, Ia memberi janji ini: “Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman.” (Matius 28:20). Tidak ada yang dapat memisahkan kita dari Allah serta kasih-Nya terhadap kita dalam Kristus (Roma 8:35-39). Bukankah itu yang harus kita ingat dalam menyambut datangnya hari Natal?

Menjadi dewasa di dalam Kristus

“Dialah yang kami beritakan, apabila tiap-tiap orang kami nasihati dan tiap-tiap orang kami ajari dalam segala hikmat, untuk memimpin tiap-tiap orang kepada kesempurnaan dalam Kristus. Itulah yang kuusahakan dan kupergumulkan dengan segala tenaga sesuai dengan kuasa-Nya, yang bekerja dengan kuat di dalam aku.” Kolose 1:28-29.1:28

Apa bunyi ayat di atas jika kita hidup seperti rasul Paulus? Kita akan mengucapkan: “Kita akan mewartakan Kristus, memperingatkan semua orang dan mengajar semua orang dalam segala kebijaksanaan, agar kita dapat menjadikan setiap orang dewasa dalam Kristus.” Inilah panggilan setiap orang Kristen. Bukan saja menjadi dewasa, tetapi juga menjadikan orang lain dewasa. Bukan sebaliknya: mengajarkan orang agar yakin bahwa sebagai orang yang diselamatkan tidak perlu lagi memikirkan hal menjadi dewasa untuk makin menyerupai Kristus.

Saya mempunyai tiga pertanyaan untuk Anda:

Yang pertama, apakah kedewasaan Kristen itu? Karena jika Anda benar-benar memikirkannya, ada banyak jenis kedewasaan. Ada kematangan fisik, mempunyai tubuh yang berkembang dan sehat. Ada kematangan intelektual, yang bisa mengembangkan pandangan dunia yang konsisten. Ada kematangan psikologis, mampu menjalin hubungan dengan orang lain dan memikul tanggung jawab. Namun yang terpenting, ada kedewasaan rohani, dan itulah yang perlu kita mengerti sehubungan dengan ayat di atas. Apa itu kedewasaan rohani?

Rasul Paulus menyebutnya kedewasaan di dalam Kristus. Berada di dalam Kristus adalah ungkapan paling umum tentang apa artinya menjadi seorang Kristen. Seorang Kristen bukan sekedar seseorang yang pergi ke gereja atau telah dibaptis atau pernah membaca Alkitab. Seorang Kristen adalah pria atau wanita di dalam Kristus. Itu tidak berarti seperti perkakas di dalam kotak atau seperti pakaian Anda di dalam lemari. Berada di dalam Kristus berarti bersatu dengan Kristus, seperti pokok anggur di cabang-cabangnya, atau seperti anggota tubuh di dalam tubuh. Berada di dalam Kristus berarti bersatu secara organik dengan Yesus Kristus. Ini tentu tidak mudah dan hanya dimungkinkan oleh Kristus.

Jadi, jika kita mau menjadi orang Kristen, itu berarti bahwa kita berhubungan dengan Kristus. Menjadi orang Kristen yang dewasa tentu saja memiliki hubungan yang dewasa dengan Kristus, suatu hubungan yang erat di mana kita bukan saja percaya kepada-Nya, tetapi juga beribadah kepada-Nya, dan menaati-Nya. Dapatkah kita membayangkan suatu hubungan seperti itu, suatu hubungan dengan Yesus Kristus di dalamnya persatuan dengan-Nya ini sudah matang? Ini adalah prospek yang luar biasa di hadapan kita, karena tidak semua orang yang mengaku Kristen mau beribadah kepada-Nya dan menaati Firman-Nya.

Kedua, bagaimana orang Kristen menjadi dewasa? Nah, perhatikan kerangka teks Paulus: “Kami mewartakan (segala hikmat) Kristus agar kami dapat mendorong agar setiap orang bisa menjadi dewasa di dalam Kristus.” Anda akan melihat pengulangan kata Kristus. Jadi itulah yang penting. Dan hal ini masuk akal karena jika kedewasaan Kristiani adalah kedewasaan dalam hubungan dengan Kristus, maka semakin jelas visi kita tentang Kristus, semakin kita yakin bahwa Dia layak untuk kita percayai, dan menerima kasih kita, ketaatan kita, penyembahan kita, dan sebagainya. Makin lama kita menjadi Kristen, makin taat kita kepada Firman-Nya. Sebaliknya, jika kita sudah lama menjadi orang Kristen, tetapi kita makin merasa “biasa-biasa saja”, kita adalah “Kristen kerdil” karena dalam hidup ini kita mempunyai Tuhan yang kerdil. Orang Kristen yang menjadi makin dewasa, akan bisa merasakan kebesaran Tuhan yang makin lama makin besar dalam hidupnya.

Kita adalah orang-orang Kristen kerdil jika kita memiliki Kristus yang kerdil. Kenyataannya adalah bahwa ada banyak kristus palsu yang ditawarkan di dunia, di supermarket kekristenan di dunia. Ada ajaran Yesus yang palsu, ada Kristus yang pintar membadut di gereja, ada Kristus yang membawa kekayaan, ada Kristus yang mengajarkan cara memperoleh kesuksesan. Bahkan sekarang ini Anda bisa berbincang-bincang dengan Kristus melalui AI (Artifical Intellegence atau kecerdasan buatan) yang dinamakan “Chatbot Jesus“. Padahal AI adalah program komputer yang dirancang untuk meniru kecerdasan manusia, termasuk kemampuan pengambilan keputusan, logika, dan karakteristik kecerdasan lainnya. Apakah Anda pernah mendengar atau mengagumi ajaran Yesus-Yesus palsu itu?

Sekarang, tentu saja Anda boleh bertanya di manakah kita bisa menemukan Yesus yang asli? Dan jawabannya tentu saja ada di dalam Kitab Suci. Jika Anda adalah orang Kristen yang benar-benar dewasa, tentu Anda akan mengerti definisi Kitab Suci berikut ini: Kitab Suci adalah gambaran terlengkap dari Anak yang dilukis oleh Roh Kudus. Kitab Suci adalah potret yang paling tajam dari Anak yang dilukis oleh Roh Kudus. Alkitab penuh dengan Kristus.

Jerome, salah satu bapak gereja besar pada abad ke-4 M, menulis dalam salah satu komentarnya, “Ketidaktahuan akan Kitab Suci adalah ketidaktahuan akan Kristus.” Dan kita dapat menyatakan sebaliknya, bahwa pengetahuan tentang Kitab Suci adalah pengetahuan tentang Kristus. Mereka yang belum dewasa, mungkin belum bisa membaca atu mengerti apa yang ditulis dalam Alkitab. Mereka yidak tertarik untuk mempelajari Firman. Mereka adalah orang orang Kristen yang masih makan bubur.

“Susulah yang kuberikan kepadamu, bukanlah makanan keras, sebab kamu belum dapat menerimanya. Dan sekarangpun kamu belum dapat menerimanya.” 1 Korintus 3:2

Sejauh ini, kita telah menanyakan dua pertanyaan dalam teks kita. Pertama, apakah kedewasaan Kristen itu, dan yang kedua, bagaimana cara orang Kristen menjadi dewasa? Pertanyaan yang ketiga, siapakah yang dapat bertumbuh menuju kedewasaan Kristen? Anda akan memperhatikan tiga kali pengulangan kata, “tiap-tiap orang.” Bacalah lagi. “Dialah yang kami beritakan, apabila tiap-tiap orang kami nasihati dan tiap-tiap orang kami ajari dalam segala hikmat, untuk memimpin tiap-tiap orang kepada kesempurnaan dalam Kristus.”

Jadi kedewasaan dalam Kristus jelas tidak terbuka bagi segelintir orang yang terpilih, semacam aristokrasi atau golongan elit spiritual. Anda tidak perlu merasa bahwa Tuhan tidak menetapkan Anda untuk menjadi dewasa. Anda menipu diri Abnda sendiri jika yakin bahwa Tuhan menerima tingkat kerohanian Anda “sebagaimana adanya”. Tidak, sebaliknya. Kedewasaan terbuka untuk semua orang dan tidak ada yang perlu gagal untuk mencapainya.

Apapun kedudukan sosial Anda, Anda semua, pada kenyataannya, mempunyai tanggung jawab pastoral. Mungkin Anda adalah pendeta yang ditahbiskan; beberapa dari Anda mungkin penatua atau diaken; beberapa dari Anda mungkin adalah guru sekolah minggu, dan sebagainya. JIka Anda tidak aktif dalam organisasi gereja, mungkin Anda adalah orang tua yang memiliki tanggung jawab terhadap anak-anak Anda sendiri. Jadi apapun itu, kita semua mempunyai tanggung jawab pastoral ini – tanggung jawab untuk orang lain. Itu jika kita sendiri mau menjadi dewasa secara rohani.

Hari ini, kita menyimpulkan bahwa kita semua memiliki kerinduan ganda yang sama. Di satu sisi kita ingin menjadi seperti umat Kristiani di Kolose, belajar dari Paulus agar kita bisa bertumbuh ke dalam kedewasaan dalam Kristus. Di sisi lain, kita ingin sekali meniru Paulus dalam tanggung jawabnya, tanggung jawab pastoralnya terhadap jemaat Kolose dan yang lainnya. Dan kita bisa menentukan siapa pun yang menjadi tanggung jawab kita, tujuan kita adalah menemui dan mengasihi mereka. Kita ingin mengembangkan diri kita sendiri, namun kita juga ingin mereka bertumbuh menjadi dewasa di dalam Kristus.

Antara menghakimi dan membenci

”Jangan kamu menghakimi, supaya kamu tidak dihakimi. Karena dengan penghakiman yang kamu pakai untuk menghakimi, kamu akan dihakimi dan ukuran yang kamu pakai untuk mengukur, akan diukurkan kepadamu. Mengapakah engkau melihat selumbar di mata saudaramu, sedangkan balok di dalam matamu tidak engkau ketahui? Bagaimanakah engkau dapat berkata kepada saudaramu: Biarlah aku mengeluarkan selumbar itu dari matamu, padahal ada balok di dalam matamu. Hai orang munafik, keluarkanlah dahulu balok dari matamu, maka engkau akan melihat dengan jelas untuk mengeluarkan selumbar itu dari mata saudaramu.” ”Jangan kamu memberikan barang yang kudus kepada anjing dan jangan kamu melemparkan mutiaramu kepada babi, supaya jangan diinjak-injaknya dengan kakinya, lalu ia berbalik mengoyak kamu.” Matius 7:1-6

Perintah Alkitab agar kita tidak menghakimi orang lain bukan berarti kita tidak boleh menunjukkan hasil pengamatan kita. Segera setelah Yesus berkata, “Jangan menghakimi,” Dia berkata, “Jangan kamu memberikan barang yang kudus kepada anjing dan jangan kamu melemparkan mutiaramu kepada babi”. Beberapa saat kemudian dalam khotbah yang sama (ayat 15), Dia berkata, “Waspadalah terhadap nabi-nabi palsu yang datang kepadamu dengan menyamar seperti domba, tetapi sesungguhnya mereka adalah serigala yang buas.” Bagaimana kita bisa membedakan siapakah “anjing” dan “babi” dan “nabi palsu” kecuali kita memiliki kemampuan untuk membuat keputusan berdasarkan doktrin dan perbuatan? Yesus memberi kita izin untuk membedakan mana yang benar dan mana yang salah. Dan itu berdasarkan Firman Tuhan, bukan berdasarkan pikiran atau perasaan kita sendiri.

Selain itu, perintah Alkitab agar kita tidak menghakimi orang lain tidak berarti semua tindakan manusia sama-sama bermoral baik atau kebenaran itu bersifat relatif. Alkitab dengan jelas mengajarkan bahwa kebenaran itu objektif, kekal, dan tidak dapat dipisahkan dari karakter Allah. Apa pun yang bertentangan dengan kebenaran adalah kebohongan -tetapi, tentu saja, menyebut sesuatu sebagai “kebohongan” berarti menghakimi. Menyebut pernikanan sejenis, perzinahan atau pembunuhan sebagai dosa juga berarti menghakimi – tetapi juga berarti setuju dengan Frman Tuhan. Menyebut bahwa mereka yang tidak mengakui Yesus sebagai Juruselamat akan pergi ke neraka juga sesuai dengan Alkitab. Ketika Yesus berkata untuk tidak menghakimi orang lain, Ia tidak bermaksud bahwa tidak seorang pun dapat mengidentifikasi dosa apa adanya, berdasarkan definisi Allah tentang dosa.

Perintah Alkitab agar kita tidak menghakimi orang lain tidak berarti tidak ada mekanisme untuk menangani dosa. Alkitab memiliki seluruh buku yang berjudul Hakim-hakim. Para hakim dalam Perjanjian Lama diangkat oleh Allah sendiri (Hakim-Hakim 2:18). Sistem peradilan modern, termasuk para hakimnya, merupakan bagian penting dalam masyarakat. Dengan mengatakan, “Jangan menghakimi,” Yesus tidak mengatakan, “Apa pun boleh.” Dalam hal ini, sebagai orang Kristen kita tidak boleh takut atau sengan menyatakan kebenaran Alkitab, sekalipun orang lain (termasuk sesama orang Kristen) menuduh kita “main hakim sendiri”.

Umat ​​Kristen sering dituduh “menghakimi” atau “tidak toleran”, bahkan “membenci orang lain” ketika mereka menentang dosa. Namun menentang atau membenci dosa tidaklah salah. Ini memang ada hubungnannya dengan hal mengasihi sesama: karena kita mengasihi mereka, kita tidak ingin mereka bergelimang dalam dosa dan menemui kematian abadi. Yohanes Pembaptis menimbulkan kemarahan Herodias ketika dia menentang perzinahannya dengan Herodes (Markus 6:18–19). Dia akhirnya membungkam Yohanes, namun dia tidak bisa membungkam kebenaran (Yesaya 40:8). Walaupun demikian, sekalipun kita boleh menghakimi dan membenci dalam usaha menegakkan kebenaran Firman, kita harus sadar akan adanya aspek positif dan negatif dari kebencian.

Boleh saja kita membenci hal-hal yang dibenci Tuhan; memang, ini merupakan bukti kedudukan yang benar di hadapan Tuhan. “Hai orang-orang yang mengasihi TUHAN, bencilah kejahatan!” (Mazmur 97:10a). Memang benar, semakin dekat kita berjalan dengan Tuhan dan semakin kita bersekutu dengan-Nya, kita akan semakin sadar akan dosa, baik di dalam maupun di luar. Bukankah kita berduka dan terbakar amarah ketika nama Tuhan difitnah, ketika kita melihat kemunafikan rohani, ketika kita melihat ketidakpercayaan dan perilaku yang tidak bertuhan? Semakin kita memahami sifat-sifat Tuhan dan mencintai karakter-Nya, kita akan semakin menjadi seperti Dia dan semakin membenci hal-hal yang bertentangan dengan Firman dan sifat-Nya.

Namun kebencian yang bersifat negatif tentunya harus ditujukan kepada orang lain. Tuhan menyebutkan kebencian dalam Khotbah di Bukit: “Setiap orang yang marah terhadap saudaranya harus dihukum” (Matius 5:22). Tuhan memerintahkan agar kita tidak hanya berdamai dengan saudara kita sebelum kita menghadap Tuhan, tetapi juga agar kita melakukannya dengan cepat (Matius 5:23-26). Tindakan pemikiran atau tindakan kebencian apa pun adalah tindakan pembunuhan di mata Tuhan yang karenanya keadilan akan dituntut, mungkin bukan dalam kehidupan ini melainkan pada saat penghakiman. Begitu kejamnya posisi kebencian di hadapan Allah sehingga orang yang membenci dikatakan berjalan dalam kegelapan, bukan dalam terang (1 Yohanes 2:9, 11).

Yang paling buruk adalah seseorang yang mengaku beriman namun tetap bermusuhan dengan saudaranya. Kitab Suci menyatakan bahwa orang seperti itu adalah pembohong (1 Yohanes 4:20), dan ia mungkin dapat membodohi manusia, tetapi bukan Allah. Berapa banyak orang beriman yang hidup selama bertahun-tahun dengan berpura-pura bahwa semuanya baik-baik saja, berpenampilan apa-apa, namun pada akhirnya ternyata kekurangan karena mereka memendam rasa permusuhan (kebencian) terhadap rekan seiman mereka?

Kebencian adalah racun yang menghancurkan kita dari dalam, menghasilkan kepahitan yang menggerogoti hati dan pikiran kita. Inilah sebabnya Kitab Suci memerintahkan kita untuk tidak membiarkan “akar kepahitan” tumbuh di dalam hati kita (Ibrani 12:15). Kebencian juga menghancurkan kesaksian pribadi seorang Kristen karena hal itu menjauhkannya dari persekutuan dengan Tuhan dan orang percaya lainnya. Marilah kita berhati-hati dalam melakukan apa yang Tuhan nasehatkan dan selalu memperhitungkan segala hal kepada semua orang, tidak peduli seberapa kecilnya, dan Tuhan akan dengan setia mengampuni, seperti yang Dia janjikan (1 Yohanes 1:9; 2:1).