Benarkah prinsip mata ganti mata?

“Tetapi jika perempuan itu mendapat kecelakaan yang membawa maut, maka engkau harus memberikan nyawa ganti nyawa, mata ganti mata, gigi ganti gigi, tangan ganti tangan, kaki ganti kaki, lecur ganti lecur, luka ganti luka, bengkak ganti bengkak.” Keluaran 21:23–25

Salah satu elemen filsafat hidup zaman modern adalah bahwa kita semua mempunyai hak-hak tertentu yang tidak dapat dicabut. Kita sangat mengutamakan hak manusia. Kita sangat sadar akan hak-hak kita, dan itu sebenarnya baik. Masyarakat telah melakukan pembelaan atas hak-hak asazi dan hak-hak kaum wanita serta hak anak-anak dan hak kaum tertindas. Kita juga memiliki serikat buruh yang menuntut hak-hak pekerja. Tetapi, dengan kesadaran tentang pembelaan atas hak pribadi, tidak jarang di masyarakat kita mendengar seseorang berkata, “ Kamu tidak bisa melakukan itu padaku. Aku akan membalasnya.”

Jauh di lubuk hati manusia terdapat keinginan untuk membalas dendam, dan dalam masyarakat kita, kita sering menjadikan pahlawan orang-orang yang tidak mau dihina oleh siapa pun, yang tidak mau menerima kejahatan apa pun. Mereka adalah orang-orang yang kuat, tangguh, berani, dan macho, dan masyarakat kita memandang rendah orang-orang yang lemah lembut dan tidak suka membalas, orang yang sabar, pemaaf, murah hati, dan penuh belas kasihan – yang tidak menuntut apa pun dari siapa pun.

Konsep “mata ganti mata”, kadang-kadang disebut jus talionis atau lex talionis, adalah bagian dari Hukum Musa yang digunakan dalam sistem peradilan Israel. Seperti bunyi ayat di atas, prinsipnya adalah bahwa hukuman harus sesuai dengan kejahatannya dan harus ada hukuman yang adil untuk perbuatan jahat: “Jika ada korban yang meninggal, kamu harus membayarnya dengan nyawa, mata ganti mata, gigi ganti gigi, tangan ganti tangan, kaki ganti kaki, luka bakar ganti luka bakar, luka ganti luka, memar ganti memar”. Keadilan haruslah ditegakkan; kekerasan yang berlebihan dan keringanan hukuman yang berlebihan harus dihindari.

Sebenarnya, tidak ada indikasi bahwa hukum “mata ganti mata” diikuti secara harfiah; tidak ada catatan di Alkitab mengenai orang Israel yang menjadi cacat akibat hukum ini. Selain itu, sebelum hukum khusus ini diberikan, Tuhan telah membentuk sistem peradilan untuk mengadili kasus dan menentukan hukuman (Keluaran 18:13-26) – sebuah sistem yang tidak diperlukan jika Tuhan menginginkan hukuman “mata ganti mata” yang sebenarnya. Meskipun kejahatan berat dibayar dengan eksekusi di Israel kuno, dan ini berdasarkan banyak saksi (Ulangan 17:6), sebagian besar kejahatan lainnya dibayar dengan pembayaran barang. Misalnya jika Anda melukai tangan seseorang sehingga dia tidak dapat bekerja, Anda harus memberikan kompensasi atas hal tersebut.

Selain Keluaran 21, hukum “mata ganti mata” disebutkan dua kali dalam Perjanjian Lama (Imamat 24:20; Ulangan 19:21). Setiap kali, frasa tersebut digunakan dalam konteks suatu kasus yang diadili di hadapan otoritas sipil seperti hakim. “Mata ganti mata” dimaksudkan untuk menjadi prinsip panduan bagi pembuat hukum dan hakim; tetapi hal ini tidak boleh digunakan oleh rakyat untuk membenarkan tindakan main hakim sendiri atau menyelesaikan dendam secara pribadi.

“Karena pemerintah adalah hamba Allah untuk kebaikanmu. Tetapi jika engkau berbuat jahat, takutlah akan dia, karena tidak percuma pemerintah menyandang pedang. Pemerintah adalah hamba Allah untuk membalaskan murka Allah atas mereka yang berbuat jahat.” Roma‬ ‭13‬:‭4‬ ‭

Dalam Perjanjian Baru, nampaknya orang Farisi dan ahli Taurat telah menerapkan prinsip “mata ganti mata” dan menerapkannya dalam hubungan pribadi sehari-hari. Mereka mengajarkan bahwa membalas dendam secara pribadi dapat diterima. Jika seseorang memukul Anda, Anda dapat membalas pukulannya; jika seseorang menghina Anda, dia akan menerima hinaan Anda sebagai balasan yang setimpal. Bukannya menyerahkan persoalan ke tangan hakim, para pemimpin agama pada zaman Yesus ikut-ikutan menerapkan hukum itu dengan mengabaikan dasar hukum yang mendasari pemberian hukum tersebut.

Dalam Khotbah di Bukit, Yesus menentang ajaran umum mengenai pembalasan pribadi: “Kamu telah mendengar firman: Mata ganti mata dan gigi ganti gigi. Tetapi Aku berkata kepadamu: Janganlah kamu melawan orang yang berbuat jahat kepadamu, melainkan siapa pun yang menampar pipi kananmu, berilah juga kepadanya pipi kirimu.” (Matius 5:38–39). Yesus kemudian melanjutkan dengan mengungkapkan isi hati Tuhan mengenai hubungan antarpribadi: “Tetapi Aku berkata kepadamu: Janganlah kamu melawan orang yang berbuat jahat kepadamu, melainkan siapapun yang menampar pipi kananmu, berilah juga kepadanya pipi kirimu. Dan kepada orang yang hendak mengadukan engkau karena mengingini bajumu, serahkanlah juga jubahmu. Dan siapapun yang memaksa engkau berjalan sejauh satu mil, berjalanlah bersama dia sejauh dua mil. Berilah kepada orang yang meminta kepadamu dan janganlah menolak orang yang mau meminjam dari padamu.” (Matius 5:39–42).

Dengan memberikan perintah “baru” ini, Yesus tidak membatalkan hukum Perjanjian Lama (Matius 5:17). Sebaliknya, Dia memisahkan tanggung jawab pemerintah (untuk menghukum pelaku kejahatan dengan adil) dari tanggung jawab kita semua secara pribadi di hadapan Tuhan untuk mengasihi musuh-musuh kita. Kita hendaknya tidak meminta balasan atas penghinaan pribadi. Kita harus mengabaikan hinaan pribadi (ini arti “memberikan pipi yang lain”). Orang-orang Kristen harus rela memberikan lebih banyak harta benda, waktu, dan tenaga mereka daripada yang diminta, meskipun tuntutan yang kita terima tidak adil. Kita hendaknya meminjamkan kepada mereka yang ingin meminjam, mengasihi musuh kita, dan berdoa bagi mereka yang menganiaya kita (ayat 43–48).

Pembatasan prinsip “mata ganti mata” yang Yesus berikan sama sekali tidak melarang pembelaan diri atau perlindungan yang kuat terhadap orang yang tidak bersalah dari bahaya. Tindakan aparat pemerintah yang ditunjuk, seperti polisi dan militer, untuk melindungi warga negara dan menjaga perdamaian tidak perlu dipertanyakan lagi. Perintah Yesus untuk memberikan pipi yang lain berlaku untuk hubungan pribadi, bukan kebijakan peradilan. Asas “mata ganti mata” dimaksudkan sebagai kebijakan peradilan, bukan sebagai aturan dalam hubungan antar pribadi. Menegakkan “mata ganti mata” adalah tugas hakim; memaafkan musuh kita adalah milik kita. Kita melihat hal ini terjadi saat ini ketikai seorang korban tampil di pengadilan untuk memaafkan terpidana di depan umum, tetapi pengampunan tersebut bersifat pribadi dan karena itu hakim tetap menuntut agar hukuman tersebut dilaksanakan.

Mengampuni orang lain yang menjahati kita tidaklah mudah. Ada orang yang berkata: “Aku bisa mengampuni kamu, tetapi aku tidak bisa melupakan kejahatanmu”. Ungkapan ini adalah aneh, karena apa yang tidak bisa diampuni adalah perbuatan jahat yang tidak bisa dilupakan. Pada pihak yang lain, orang yang percaya kepada Kristus dibimbing oleh Roh Kudus untuk bisa mengampuni orang lain dan melupakan kejahatan yang dilakukan mereka. Ini adalah seperti Tuhan yang pernah bekata: “Sebab Aku akan menaruh belas kasihan terhadap kesalahan mereka dan tidak lagi mengingat dosa-dosa mereka.” (Ibrani 8:12). Orang Kristen sangat berbeda dengan mereka yang mengikuti kecenderungan alami untuk memberikan balasan yang setimpal. Orang Kristen adalah orang-orang yang mempunyai kasih karena Tuhan sudah lebih dulu mengasihi mereka.

“Kita mengasihi, karena Allah lebih dahulu mengasihi kita.” 1 Yohanes 4:19

Apakah tujuan menghalalkan cara?

“Jadi siapa yang ada di dalam Kristus, ia adalah ciptaan baru: yang lama sudah berlalu, sesungguhnya yang baru sudah datang.” 2 Korintus 5:17

Jawaban atas pertanyaan ini bergantung pada apa tujuan atau sasarannya dan cara apa yang digunakan untuk mencapainya. Jika tujuannya baik dan mulia, dan cara yang kita gunakan untuk mencapainya juga baik dan mulia, maka tujuan memang menghalalkan cara tersebut. Namun bukan itu yang dimaksudkan kebanyakan orang ketika mereka menggunakan ungkapan tersebut. Kebanyakan orang menggunakannya sebagai alasan untuk mencapai tujuan mereka melalui cara apa pun yang diperlukan, tidak peduli betapa tidak bermoral, ilegal, atau tidak menyenangkannya cara tersebut. Arti dari ungkapan tersebut biasanya seperti: “Tidak masalah bagaimana Anda mendapatkan apa yang Anda inginkan, selama Anda mendapatkannya.”

Yang dimaksud dengan “tujuan menghalalkan cara” biasanya melibatkan tindakan yang salah untuk mencapai tujuan yang positif dan membenarkan tindakan yang salah dengan menunjukkan hasil yang baik. Contohnya adalah berbohong dalam resume untuk mendapatkan pekerjaan yang bagus dan membenarkan kebohongannya dengan mengatakan bahwa penghasilan yang lebih besar akan memungkinkan si pembohong untuk menafkahi keluarganya dengan lebih baik. Alasan lain mungkin membenarkan aborsi bayi demi kebebasan ibunya. Berbohong dan menghilangkan nyawa orang yang tidak bersalah keduanya salah secara moral, namun menafkahi keluarga dan menyelamatkan nyawa seorang wanita adalah benar secara moral. Lalu, di mana kita menarik garis batasnya?

Dilema tujuan dan sarana adalah skenario yang populer dalam diskusi etika. Biasanya, pertanyaannya seperti ini: “Jika Anda bisa menyelamatkan dunia dengan membunuh seseorang, apakah Anda akan melakukannya?” Jika jawabannya adalah “ya”, maka hasil yang benar secara moral membenarkan penggunaan cara-cara yang tidak bermoral untuk mencapainya. Namun ada tiga hal berbeda yang perlu dipertimbangkan dalam situasi seperti ini: moralitas tindakan, moralitas hasil, dan moralitas orang yang melakukan tindakan. Orang Kristen bukannya orang yang tidak mementingkan hal moral, tetapi justru sangat berhati-hati dalam melangkah dalam hidup.

Dalam situasi ini, tindakan (pembunuhan) jelas tidak bermoral, begitu pula si pembunuh. Namun menyelamatkan dunia adalah hasil yang baik dan bermoral. Benarkah itu? Dunia seperti apa yang bisa diselamatkan jika para pembunuh diizinkan untuk memutuskan kapan dan apakah pembunuhan dapat dibenarkan dan kemudian bebas dari hukuman? Atau apakah si pembunuh akan menghadapi hukuman atas kejahatannya di dunia yang telah dia selamatkan? Jika kita mengingat kematian Kristus, apakah dunia yang diselamatkan dibenarkan mengambil nyawa orang yang menyelamatkan mereka?

Tentu saja dari sudut pandang alkitabiah, yang diabaikan dari pembahasan ini adalah karakter Tuhan, hukum Tuhan, dan pemeliharaan Tuhan. Karena kita tahu bahwa Tuhan itu baik, kudus, adil, penyayang dan benar, maka siapa pun yang menyandang nama-Nya harus mencerminkan tabiat-Nya (1 Petrus 1:15-16). Pembunuhan, kebohongan, pencurian, dan segala bentuk perilaku berdosa adalah ekspresi dari sifat dosa manusia, bukan sifat Tuhan. Bagi orang Kristen yang sifatnya telah diubah oleh Kristus (2 Korintus 5:17), tidak ada pembenaran atas perilaku tidak bermoral, tidak peduli motivasi atau akibat yang ditimbulkannya. Memang kita tidak diselamatkan karena bermoral baik, tetapi jika kita sudah diselamatkan, tentunya kita mengerti mengapa kita harus taat kepada hulum-Nya.

Dari Tuhan yang kudus dan sempurna ini, kita mendapatkan hukum yang mencerminkan sifat-sifat-Nya (Mazmur 19:7; Roma 7:12). Sepuluh Perintah Allah memperjelas bahwa pembunuhan, perzinahan, pencurian, kebohongan dan keserakahan tidak dapat diterima di mata Tuhan dan Dia tidak membuat “klausa pelarian” untuk motivasi atau rasionalisasi. Perhatikan bahwa Dia tidak berkata, “Jangan membunuh, kecuali dengan melakukan hal itu kamu akan menghasilkan sesuatu yang baik”. Ini disebut “etika situasional”, dan hal ini tidak terdapat dalam hukum Tuhan. Jadi, jelas sekali, dari sudut pandang Allah tidak ada tujuan yang menghalalkan cara untuk melanggar hukum-Nya.

Sayang sekali, banyak orang Kristen yang siap melakukan hal-hal yang kurang baik dengan alasan “demi kemuliaan Tuhan”. Untuk mencapai tujuan gereja, mungkin orang bersedia untuk berbohong. Mungkin, orang berkata: “Jika kita jujur, tidak ada gereja baru yang bisa didirikan”. Atau, “jika kita tidak berani mengambil jalan pintas, kita tidak akan memcapai tujuan”. Dalam diskusi mengenai hal-hal semacam ini, kita harus sadar akan pemeliharaan Tuhan. Tuhan tidak sekadar menciptakan dunia, mengisinya dengan manusia, dan kemudian membiarkan mereka bekerja sendiri tanpa pengawasan dari-Nya. Sebaliknya, Tuhan mempunyai rencana dan tujuan bagi umat manusia yang telah Dia wujudkan selama berabad-abad.

Segala apa yang terjadi dalam sejarah telah diterapkan secara supernatural pada rencana tersebut. Ia menyatakan kebenaran ini dengan tegas: “…..Keputusan-Ku akan sampai, dan segala kehendak-Ku akan Kulaksanakan, yang memanggil burung buas dari timur, dan orang yang melaksanakan putusan-Ku dari negeri yang jauh. Aku telah mengatakannya, maka Aku hendak melangsungkannya, Aku telah merencanakannya, maka Aku hendak melaksanakannya (Yesaya 46:10-11). Tuhan sangat terlibat dan mengendalikan ciptaan-Nya. Lebih lanjut, Tuhan menyatakan bahwa Ia turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah (Roma 8:28). Seorang Kristen yang berbohong dalam resume atau mengaborsi bayi berarti melanggar hukum Tuhan dan menyangkal kemampuan-Nya untuk mencapai tujuan-Nya.

Hari ini kita belajar bahwa mereka yang tidak mengenal Tuhan mungkin terpaksa menghalalkan segala cara mereka untuk mencapai tujuan, namun mereka yang mengaku sebagai anak-anak Tuhan adalah ciptaan baru, dan mereka tidak punya alasan apa pun untuk melanggar salah satu perintah Tuhan, mengingkari tujuan kedaulatan-Nya, atau mencela Nama-Nya.

Adakah orang yang benar?

“Karena semua orang telah berbuat dosa dan telah kehilangan kemuliaan Allah.” Roma 3:23

Roma 3:23 adalah salah satu ayat yang paling terkenal dan paling sering dikutip di seluruh Alkitab. Ini mengungkapkan sebuah gagasan yang merupakan kunci untuk memahami bagaimana manuisia dapat diselamatkan dari murka Tuhan dan dimasukkan ke dalam keluarga-Nya. Poin kunci untuk memahami ayat ini adalah konteksnya. Ayat 21, 22, dan 23 digabungkan untuk menunjukkan bahwa semua orang, tanpa perbedaan, sama-sama layak menerima murka Allah karena dosa mereka, dan semua orang yang dibenarkan, tanpa perbedaan, dibenarkan hanya melalui Yesus Kristus.

Roma 3 dimulai dengan skema tanya jawab. Ini adalah tanggapan yang mungkin diharapkan dari seseorang yang menentang apa yang Paulus tulis dalam Roma 2. Selanjutnya, Paulus mengutip serangkaian ayat-ayat Perjanjian Lama. Ayat-ayat Kitab Suci ini menunjukkan bahwa para penulis tersebut juga sepakat bahwa tidak seorang pun, tidak satu orang pun, yang layak disebut orang benar. Paulus menyatakan dengan tegas bahwa tidak seorang pun akan dibenarkan sekalipun ia menaati hukum Taurat. Namun akhirnya, ia sampai pada kabar baik: kebenaran di hadapan Allah tersedia tanpa hukum, melalui iman dalam kematian Kristus untuk dosa kita di kayu salib.

Pernyataan di sini singkat dan langsung pada sasaran: Semua orang berbuat dosa. Setiap orang telah berdosa. Tidak ada orang yang tidak berbuat dosa (Roma 3:10). Hal ini lebih jauh menekankan poin yang Paulus ambil dari Kitab Suci Perjanjian Lama di awal pasal ini. Tidak ada jalan keluar dari label ini. Paulus tidak menawarkan kategori apa pun selain “orang berdosa”, dan semua orang termasuk di dalamnya. Ayat sebelumnya menekankan bahwa “tidak ada perbedaan”. Manusia yang paling bermoral – secara relatif – dan manusia yang paling jahat semuanya berada dalam wadah yang sama: “orang berdosa”.

Parahnya, mengetahui perbedaan antara benar dan salah, bahkan hukum yang diberikan Tuhan, tidak menjadikan kita bermoral. Kata Yunani yang diterjemahkan sebagai “gagal” di sini adalah dalam bentuk waktu sekarang. Kenyataannya, kita terus gagal. Dengan kata lain, mengetahui konsekuensi keberdosaan kita saja tidak cukup untuk mencegah kita berbuat dosa (Roma 1:18-20).

Karena tidak seorang pun di antara kita yang tidak berdosa, kita semua kehilangan kemuliaan Allah. Hal ini penting karena kita tidak dapat diselamatkan dari murka penghakiman Allah atas dosa kita kecuali dengan menjadi tidak berdosa. Itu adalah standar Allah, dan kita semua gagal mencapai “kemuliaan”-Nya karena dosa kita. Kemuliaan Tuhan, atau kemuliaan diri-Nya dan kerajaan-Nya, itulah yang ingin dibagikan-Nya kepada mereka yang ada dalam keluarga-Nya, anak-anak-Nya. Namun, dosa kita menghalangi kita untuk mengambil bagian dalam kemuliaan-Nya.

Untungnya, Paulus mengikuti ayat terkenal ini dengan ayat berikutnya. Ini menggambarkan bagaimana kita dapat mencapai kemuliaan Tuhan. Roma 3:21–31 akhirnya memperkenalkan bagian ”kabar baik” dari Injil Yesus Kristus. Sebelumnya, Paulus telah menunjukkan bahwa bahkan dengan mengikuti hukum pun tidak dapat menghindarkan kita dari penghakiman oleh Allah karena dosa kita. Sekarang Paulus mengumumkan bahwa, melalui iman kepada Kristus, kita dapat dibenarkan di mata Allah. Terlepas dari hukum Taurat, kita dapat ditebus melalui pengorbanan darah Kristus yang menebus dosa kita, yang rela ditumpahkan untuk dosa kita. Karunia kasih karunia Allah yang menggantikan murka ini tersedia bagi semua orang, baik orang Yahudi maupun bukan Yahudi. Ini benar-benar kabar baik.

Pagi ini, kita mungkin ingat pertentangan atau percekcokan antara kita dengan mereka, antara aku dengan dia. Dalam setiap pertentangan, setiap pihak merasa bahwa dirinya adalah yang paling benar. Sekalipun kita mungkin mengakui bahwa tidak sepenuhnya kita benar, kita merasa bahwa kita lebih benar dari mereka, dan karena itu dalam perbandingan, kita merasa bahwa kita tidak bersalah. Ini terjadi dalam berbagai hubungan antar manusia, termasuk hubungan antara suami dan istri, orang tua dan anak, hubungan antar bangsa atau negara. Apakah kita masih merasa bahwa kita adalah orang-orang yang baik di hadapan Tuhan?

Pandangan Kristen tentang perang

“Karena pemerintah adalah hamba Allah untuk kebaikanmu. Tetapi jika engkau berbuat jahat, takutlah akan dia, karena tidak percuma pemerintah menyandang pedang. Pemerintah adalah hamba Allah untuk membalaskan murka Allah atas mereka yang berbuat jahat.” Roma 13: 4

Bagaimana pendapat Anda tentang situasi panas di Timur Tengah saat ini? Peperangan antara Israel dan Hamas agaknya semakin besar dan bisa saja melibatkan negara-negara lain. Di berbagai kota besar, demonstrasi mendukung orang Palestina bersaing dengan demonstrasi pendukung Israel. Kedua pihak mempunyai alasan untuk mendukung kelompok mereka.

Mereka yang mendukung perang biasanya dapat berpendapat bahwa perang ada demi tujuan yang adil. Mereka yang menentang perang biasanya dapat menemukan kelemahan dalam argumen tersebut. Tentu saja suatu negara yang berperang tidak pernah melakukan hal tersebut atas dasar motif yang benar-benar murni, dan tidak pernah ada orang yang sepenuhnya yakin akan baik-buruknya hasil akhirnya. Jadi argumen-argumen ini biasanya berakhir dengan keraguan.

Teori perang yang adil (Latin: bellum justum) adalah sebuah doktrin, juga disebut sebagai tradisi, etika militer yang bertujuan untuk memastikan bahwa suatu perang dapat dibenarkan secara moral melalui serangkaian kriteria, yang semuanya harus dipenuhi agar perang dianggap adil. Hal ini telah dipelajari oleh para pemimpin militer, teolog, ahli etika dan pembuat kebijakan. Kriteria tersebut dibagi menjadi dua kelompok: jus ad bellum (“hak untuk berperang”) dan jus in bello (“perilaku yang benar dalam perang”).

Kelompok kriteria pertama menyangkut moralitas berperang, dan kelompok kriteria kedua menyangkut perilaku moral dalam perang. Ada seruan untuk memasukkan kategori ketiga teori perang yang adil (jus post bellum) yang berhubungan dengan moralitas penyelesaian dan rekonstruksi paskaperang. Teori perang yang adil mendalilkan keyakinan bahwa perang, meskipun mengerikan namun tidak begitu buruk jika dilakukan dengan benar, tidak selalu merupakan pilihan terburuk. Tanggung jawab yang penting, keadaan yang tidak diinginkan, atau kekejaman yang seharusnya dapat dicegah, dapat menjadi alasan perang.

Penentang teori perang yang adil mungkin cenderung mengusulkan bahwa perang perlu dilakukan hanya untuk melayani kepentingan suatu negara agar dapat dibenarkan. Dalam banyak kasus, para filsuf menyatakan bahwa individu tidak perlu diganggu oleh rasa bersalah jika diharuskan berperang. Beberapa filsuf mengagungkan kebajikan prajurit sementara mereka juga menyatakan kekhawatiran mereka terhadap perang itu sendiri. Beberapa pihak, mendukung pemberontakan melawan pemerintahan yang menindas. Lalu bagaimana dengan pandangan orang Kristen?

Paulus dalam ayat di atas menyatakan bahwa Allah telah memberikan senjata kepada pemerintah untuk menegakkan hukum. Kita menyebutnya kekuatan pedang. Artinya, para penguasa mempunyai kuasa di bawah Tuhan untuk mendukung keputusan mereka dengan menggunakan kekerasan. Mereka mungkin menggunakan kekuasaan itu dengan benar atau salah, namun kekuasaan itu sendiri bukanlah sesuatu yang telah mereka rebut. Itu diberikan kepada mereka oleh Tuhan. Kekuasaan ini meliputi kekuasaan menjatuhkan hukuman mati dan kekuasaan untuk berperang. Dalam pelaksanaannya, kedua kekuasaan ini terbukti kontroversial dalam sejarah gereja.

Pertimbangkan perang. Semua orang Kristen dipanggil untuk menjadi “pasifis” dalam arti bahwa kita harus mencintai perdamaian dan mengejarnya. Walaupun demikian, dalam sejarah Kristen, ada tiga teori perang yang dikemukakan. Yang pertama adalah posisi pasifisme murni, yang menyatakan bahwa tidak ada orang Kristen yang boleh mengangkat senjata. Yang kedua adalah posisi yang terangkum dalam kalimat, “Negaraku, benar atau salah.” Posisi ini mengatakan bahwa warga negara Kristen mempunyai kewajiban untuk berperang dalam jenis perang apa pun yang diputuskan oleh pemerintah.

Di antara kedua ekstrem ini terdapat posisi “perang yang adil” di atas. Posisi perang yang adil telah didukung sepanjang sejarah oleh sebagian besar ahli etika Kristen di semua cabang gereja. Berdasarkan Alkitab, posisi perang yang adil menyatakan bahwa beberapa perang dapat dibenarkan, dan umat Kristiani boleh dan sering kali harus mengangkat senjata dalam keadaan seperti itu, namun perang lainnya tidak dapat dibenarkan, dan umat Kristiani harus menentang perang tersebut.

Apa yang menentukan perbedaannya? Pada dasarnya, perang yang adil adalah perang yang bersifat defensif. Adalah benar dan pantas bagi penguasa negara untuk memanggil orang-orang Kristen untuk membantu mempertahankan negara dari para agresor. Di sisi lain, umat Kristiani harus menentang perang yang menjadi tindakan agresi, karena perang tersebut bisa menjadi pembunuhan dalam skala besar.

Mengenai hukuman mati, Alkitab dengan jelas memberi wewenang (bahkan memerintahkan) dalam Kejadian 9:6, yang berbunyi: “Siapa yang menumpahkan darah manusia, darahnya akan tertumpah oleh manusia, sebab Allah membuat manusia itu menurut gambar-Nya sendiri.” Salah satu tujuan hukuman, termasuk hukuman mati, adalah retribusi. Menurut Roma 3:3, pedang penguasa merupakan teror bagi pelaku kejahatan, sehingga pencegahan kejahatan bisa merupakan hasil lain dari hukuman.

Apa yang kita lihat sekarang ini adalah situasi yang sangat rumit. Teori perang yang adil bisa menjadi agak kabur dan sulit diterapkan, terutama ketika suatu negara sedang dilanda semangat emosional. Sebagai orang Kristen, kita btidak boleh ikut-ikutan terpancing. Pastikan bahwa Anda mengambil keputusan berdasarkan analisa yang cermat, bijaksana, dan alkitabiah, dan bukan berdasarkan berita media atau afiliasi partai politik atau agama. Dorong para pemimpin politik Anda untuk melakukan hal yang sama.

Teori perang yang adil bukanlah ajaran Alkitab. Ini adalah tradisi yang dimulai dari Aristoteles hingga Stoa, dan kemudian diadopsi oleh umat Kristen seperti Agustinus. Namun pada akhirnya kita tetap harus membuat keputusan etis berdasarkan Alkitab. Ada beberapa prinsip umum alkitabiah yang berkaitan dengan perang, yang terutama adalah mempertahankan hak setiap manusia untuk hidup layak. Namun Alkitab cukup realistis mengenai perang. Kita harus mengakui bahwa tidak selalu mungkin atau diinginkan untuk melindungi semua non-kombatan, karena tujuan perang untuk menegakkan keadilan mungkin tidak akan tercapai. Pada dasarnya, kita harus mengakui bahwa perang adalah seperti neraka dan jika memang diperlukan, biarlah itu dapat diakhiri dengan cepat!

Sukacita bergantung pada keadaan Anda

“Bersukacitalah senantiasa dalam Tuhan! Sekali lagi kukatakan: Bersukacitalah!” Filipi 4: 4

Banyak orang yang mengatakan bahwa kebahagiaan adalah hak semua orang, dan karena itu setiap orang seharusnya mencari dan bahkan berusaha keras untuk memperolehnya. Dalam hal ini, ada juga yang berpendapat bahwa pemerintah berkewajiban untuk memberikan kebahagiaan bagi rakyatnya, dan orang tua berkewajiban untuk memberikan kebahagiaan kepada anak-anak-nya. Betulkah begitu?

Kebahagiaan sebenarnya bukanlah sesuatu yang dapat kita tuntut ataupun sesuatu yang kita terima. Tetapi, kebahagiaan adalah pilihan setiap orang atau choice. Kebahagiaan ada tersedia bagi seluruh umat manusia, tetapi orang harus memilihnya untuk bisa berbahagia. Tuhan sendiri memberikan berbagai berkat-Nya kepada semua insan, tetapi Ia tidak secara langsung memberikan kebahagiaan kepada mereka. Karena itu, ada banyak orang yang sudah menerima berbagai berkat Tuhan, tetapi tidak pernah merasa puas, bahagia atau bersyukur. Sebaliknya, ada banyak orang yang hidup dalam kekurangan, tetapi bisa merasa cukup dan berbahagia dalam perlindungan Tuhan.

Jika sukacita tidak datang secara langsung dari Tuhan, dari mana datangnya rasa sukacita itu? Menurut Alkitab, sukacita yang sejati dimungkinkan oleh Tuhan. Manusia dengan keterbatasannya hanya bisa mendapat kebahagiaan yang datang dari apa yang bisa dilihat, didengar, dirasakan dan dialami. Tetapi rasa sukacita datang melalui iman kepada Tuhan, karena dengan iman manusia percaya bahwa Tuhan yang mahakasih selalu menyertainya. Lebih dari itu, sebagai orang Kristen kita sudah menerima keselamatan melalui pengurbanan Yesus di kayu salib.

Rasa sukacita bisa timbul karena adanya karunia khusus dari Tuhan kepada anak-anak-Nya. Ini berbeda dengan karunia umum Tuhan yang diberikan-Nya kepada semua orang, seperti makanan, kesehatan, kekuatan dan sebagainya. Tetapi karunia umum yang kita rasakan sebagai kebahagiaan hari ini, mungkin tidak dapat membuat kita bahagia esok hari. Tidak ada yang kekal di muka bumi! Tuhan yang mahakasih adalah Tuhan yang menghendaki umat-Nya untuk mempunyai rasa sukacita, karena itu Ia memberi kita keyakinan akan penyertaan-Nya pada setiap saat. Rasa sukacita sejati dengan demikian, hanya bisa muncul dalam hati orang yang percaya.

Bagi orang beriman, keadaan akhir yang akan kita alami adalah fakta yang membahagiakan. Kemahatahuan Tuhan berarti Dia mengetahui kebutuhan kita; kemahakuasaan-Nya memastikan Dia bisa menemui mereka; belas kasihnya menggerakkan Dia untuk peduli terhadap mereka; pemeliharaan-Nya menegaskan bahwa setiap kebutuhan yang tidak terpenuhi mempunyai tujuan yang penuh kasih (meskipun saat ini masih tersembunyi). Fakta-fakta seperti kekekalan Allah, penebusan orang berdosa, kebangkitan Kristus yang berkemenangan, pembenaran hanya melalui iman, dan janji hidup yang kekal, seharusnya membentuk lingkaran keadaan kita. Sukacita kita sepenuhnya bergantung pada keadaan akhir ini.

Pada hari terakhir, sukacita surgawi akan menelan keadaan-keadaan yang ada di sekitar kita, dan setiap air mata akan terhapus. Sampai saat itu tiba, atas karunia Tuhan, kita akan mengejar sukacita dengan menerima setiap keadaan yang diijinkan Tuhan untuk terjadi melalui hikmat alkitabiah. Kita akan menerima setiap keadaan menyedihkan yang tidak dapat kita ubah sebagai bagian rencana Tuhan yang mahabijaksana. Dan kita akan mengingat bahwa “Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah.” (Roma 8:28).

Bagaimana reaksi Anda atas perintah Tuhan dalam ayat di atas untuk bersukacita senantiasa? Itu adalah pilihan Anda, menurut atau tidak adalah keputusan masing-masing. Firman Tuhan berkata bahwa kita seharusnya bersukacita karena keselamatan yang sudah kita terima. Kita juga bersukacita karena iman yang membawa keyakinan bahwa Tuhan menyertai kita sampai akhir zaman. Lebih dari itu kita bisa bersyukur karena apa yang tersedia di surga untuk kita, tidaklah dapat dibandingkan dengan apa yang ada saat ini. Biarlah Roh Kudus yang membuka hati kita dan mengingatkan kita kepada kemurahan Tuhan dalam hidup kita.

Siapakah musuh Anda?

Hal itu tidak usah mengherankan, sebab Iblis pun menyamar sebagai malaikat terang. Jadi bukanlah suatu hal yang ganjil, jika pelayan-pelayannya menyamar sebagai pelayan-pelayan kebenaran. Kesudahan mereka akan setimpal dengan perbuatan mereka.” 2 Korintus 11: 14-15

Apakah ada orang yang tidak mempunyai musuh? Anda mungkin mengenal seorang yang begitu ramah kepada semua orang, dan disenangi oleh semua orang. Mungkin saja Anda merasa bahwa tidak ada orang yang memusuhi Anda karena Anda selalu berbaik hati kepada semua orang. Mungkin juga, Anda menasihati anak Anda untuk berteman dengan semua orang, agar tidak mempunyai musuh. Teman sejati adalah sulit didapat, satu musuh saja sudah terlalu banyak – mungkin itu nasihat Anda. Tetapi dalam kenyataannya, setiap orang Kristen pasti mempunyai musuh sekalipun ia tidak sadar. Yesus bahkan mempunyai banyak musuh, dan pada akhirnya Ia disalibkan karena ulah orang-orang yang menjahati-Nya.

Musuh adalah orang yang tidak menyukai atau membenci orang lain dan berusaha menyakiti, menentang, dan melawan orang yang menjadi lawannya. Jadi, musuh Tuhan adalah orang yang menentang kehadiran dan tujuan Tuhan di dunia ini. Iblis dan pengikutnya.

Setelah pertobatan kita kepada Kristus, kita mendapatkan beberapa musuh yang berusaha menghambat pertumbuhan rohani kita dan bahkan menyebabkan kita meninggalkan jalan kesetiaan. Beberapa dari musuh ini bersifat eksternal. Misalnya, dunia yang sudah jatuh dalam dosa membenci Kristus dan semua orang yang dipersatukan dengan-Nya oleh iman (Yohanes 7:7), dan dunia ini berusaha membuat kita berbagi prioritas dan kasih secara tidak teratur. Musuh lainnya adalah musuh internal. Kita harus berperang melawan kedagingan -sisa-sisa dari sifat kita yang berdosa – jika kita ingin mengembangkan kasih terhadap apa yang Allah kasihi (Roma 8:1-11).

Musuh terbesar yang harus kita hadapi dalam pengudusan kita juga bersifat eksternal. Kita berbicara tentang iblis, malaikat yang jatuh yang telah memberontak melawan Tuhan dan berupaya mengajak orang lain untuk ikut serta dalam perjuangannya. Iblis adalah musuh yang nyata, meskipun banyak orang yang menganggapnya enteng. Kita jarang mendengar orang-orang berjuang mati-matian melawan iblis di saat ini, namun catatan sejarah gereja dipenuhi dengan kisah-kisah tentang orang-orang kudus yang berperang melawan iblis dan antek-anteknya. Martin Luther, misalnya, sering menulis tentang pertarungannya melawan iblis, bahkan mengaku pernah melihatnya sesekali. Masuk akal jika Luther memiliki pengetahuan pengalaman yang begitu kuat tentang iblis, karena iblis sangat suka menyerang Injil, dan Luther berada di garis depan dalam pemulihan Injil terbesar sejak masa para rasul.

Iblis kemungkinan besar mengincar sasaran yang lebih besar daripada kebanyakan dari kita, namun itu tidak berarti kita tidak akan diserang oleh roh jahat atau setan. Kita tidak boleh menganggap bahwa sebagai anak Tuhan, kita tidak dapat disiksa iblis. Kita tahu bahwa ada sekumpulan setan yang mengikuti petunjuk iblis (Markus 5:1-20), dan kita akan berada dalam bahaya rohani yang besar jika kita tidak siap untuk mengakui pekerjaan mereka.

“Sadarlah dan berjaga-jagalah! Lawanmu, si Iblis, berjalan keliling sama seperti singa yang mengaum-aum dan mencari orang yang dapat ditelannya.” 1 Petrus 5:8

Tidak semua musuh yang kita hadapi mempunyai iblis di baliknya. Sifat kedagingan kita dan dunia tidak memerlukan bantuan dalam menggoda kita untuk berbuat dosa. Namun, iblis berkeliaran di bumi seperti singa, berupaya memangsa mangsanya, dan kita perlu menyadari bagaimana dia dan pasukannya sering kali menampilkan diri. Musuh-musuh licik ini sering kali tidak terlihat jahat. Faktanya, mereka cenderung menyamar sebagai malaikat terang (2 Kor. 11:14-15).

Iblis dan pengikutnya dapat dan bahkan sering menyembunyikan apa yang jahat di bawah apa yang kelihatannya baik, indah, dan menarik. Mereka memutarbalikkan kebenaran, menjadikan kebohongan tampak masuk akal di telinga kita karena mereka berusaha membawa kita ke dalam kesalahan rohani yang serius. Misalnya, ke arah kesimpulan bahwa sesudah diselamatkan kita pasti aman dan bahagia. Hanya orang-orang Kristen yang bijak yang akan mengenali iblis ketika ia sedang bekerja. Oleh karena itu, kita harus berupaya untuk “melatih daya pengamatan kita melalui praktik yang terus-menerus untuk membedakan yang baik dari yang jahat” (Ibrani 5:14). Kita melakukan ini dengan bertumbuh dalam pemahaman kita akan doktrin alkitabiah.

Selain iblis, Alkitab menyebutkan banyak musuh lain dari Allah dan umat-Nya. Siapa pun yang tidak menaati perintah Tuhan dinyatakan sebagai musuh Tuhan. Dosa membuat kita menentang Allah: “Juga kamu yang dahulu hidup jauh dari Allah dan yang memusuhi-Nya dalam hati dan pikiran seperti yang nyata dari perbuatanmu yang jahat” (Kolose 1:21a). Rasul Paulus menyebut orang-orang berdosa yang belum diselamatkan sebagai musuh Allah: “Sebab jikalau kita, ketika masih seteru, diperdamaikan dengan Allah oleh kematian Anak-Nya, lebih-lebih kita, yang sekarang telah diperdamaikan, pasti akan diselamatkan oleh hidup-Nya!” (Roma 5: 10).

Alkitab mengidentifikasi Setan, iblis, sebagai musuh spesifik Allah (1 Timotius 5:14-15). Sepanjang sejarah, sebagai musuh Tuhan, Setan berupaya menggagalkan rencana Tuhan, merugikan manusia, dan menjauhkan mereka dari Tuhan. Sepanjang sejarah umat Israel, umat Allah berjuang melawan musuh-musuh yang berkomitmen untuk menghancurkan mereka. Bangsa Mesir, Kanaan, Filistin, dan Babilonia hanyalah beberapa dari sekian banyak bangsa musuh yang kejam dan menindas yang disebutkan dalam Perjanjian Lama. Bangsa-bangsa tersebut, ketika menentang umat Allah, dianggap sebagai musuh Allah, dan Allah berperang demi kepentingan Israel (lihat 2 Raja-Raja 19). Sampai sekarang, bangsa Israel masih mengalami hal ini, sekalipun keadaan itu mungkin berkaitan dengan sikap mereka yang menentang Kristus.

Hari ini kita diingatkan bahwa Kristus sudah memberikan teladan bagi umat Kristiani untuk diikuti setiap kali mereka menghadapi musuh-musuh Allah dan ancaman-ancaman mereka: “Sebab untuk itulah kamu dipanggil, karena Kristus pun telah menderita untuk kamu dan telah meninggalkan teladan bagimu, supaya kamu mengikuti jejak-Nya. Ia tidak berbuat dosa, dan tipu tidak ada dalam mulut-Nya. Ketika Ia dicaci maki, Ia tidak membalas dengan mencaci maki; ketika Ia menderita, Ia tidak mengancam, tetapi Ia menyerahkannya kepada Dia, yang menghakimi dengan adil. Ia sendiri telah memikul dosa kita di dalam tubuh-Nya di kayu salib, supaya kita, yang telah mati terhadap dosa, hidup untuk kebenaran. Oleh bilur-bilur-Nya kamu telah sembuh.’” (1 Petrus 2:21–24).

Rendah hati bukanlah rendah diri

“Jangan seorang pun menganggap engkau rendah karena engkau muda. Jadilah teladan bagi orang-orang percaya, dalam perkataanmu, dalam tingkah lakumu, dalam kasihmu, dalam kesetiaanmu dan dalam kesucianmu.” 1 Timotius 4:12

Ayat penting ini sering dikutip pada pelayanan pemuda dan pemimpin muda. Meskipun Timotius kemungkinan besar berusia awal 30-an ketika surat ini ditulis, kata-kata tersebut berlaku untuk pemimpin gereja mana pun, berapa pun usianya. Timotius tidak boleh membiarkan siapa pun meremehkannya karena usianya. Sepanjang sejarah umat manusia, terdapat kecenderungan generasi tua memandang rendah mereka yang lebih muda, hanya karena mereka masih muda. Sebaliknya, pada zaman sekarang banyak kaum muda yang mengabaikan mereka yang lebih tua karena dianggap ketinggalan zaman. Untuk mengatasi hal ini, pengaruh seorang pemimpin harus datang melalui teladannya. Dalam konteks khusus ini, “teladan” yang diberikan orang Kristen kepada orang-orang Kristen lainnya, bukan kepada orang-orang yang tidak beriman. Meskipun keduanya penting (Matius 5:16), dalam ayat ini Paulus berfokus pada kepemimpinan dalam gereja.

Paulus memberikan lima bidang spesifik yang patut diteladani Timotius. Yang pertama adalah kata-katanya. Kedua, tindakannya, yang harus mencerminkan teladan kesalehan. Ketiga, kasihnya harus menjadi teladan (1 Timotius 1:5, 14; 2:15). Keempat, Timotius harus menjadi teladan dalam iman. Hal ini mirip dengan 1 Timotius 1:5 dimana Paulus berkata, “Tujuan nasihat itu ialah kasih yang timbul dari hati yang suci, dari hati nurani yang murni dan dari iman yang tulus ikhlas.” Kelima, teladan Timotius adalah dengan memasukkan “kemurnian” dirinya, baik secara fisik dalam perilakunya di sekitar kaum wanita (1 Timotius 5:2) maupun dalam spiritualitasnya (1 Timotius 5:22).

Satu Timotius 4:11–16 berfokus pada perilaku pribadi Timotius sebagai pemimpin gereja Kristen, dan itu berlaku juga untuk kita yang memimpin anggota keluarga, murid di sekolah atau pegawai di kantor. Paulus menekankan gagasan seperti ketekunan, keyakinan, dan kesabaran. Yang paling penting adalah Timotius memberikan teladan bagi orang percaya lainnya. Salah satu perlawanan paling ampuh terhadap ajaran palsu adalah hasil positif yang dapat dihasilkan oleh kebenaran rohani. Selain mengajarkan kebenaran, Timotius juga harus menghayatinya. Dengan mengabdikan dirinya pada prinsip-prinsip ini, Paulus meyakinkan Timotius bahwa dia dapat memberikan pengaruh positif yang kuat bagi Kristus.

Satu Timotius 4 memberikan perspektif penting sebelum instruksi Paulus yang akan datang. Setelah memberikan rincian kepada Timotius tentang cara memilih pemimpin gereja, dan perilaku yang baik dari anggota gereja, pasal ini sebagian besar berfokus pada pilihan rohani pribadi Timotius. Secara khusus, Paulus memerintahkan dia untuk rajin, setia, dan siap sedia. Taruhannya besar, baik bagi Timotius maupun bagi mereka yang dipanggil untuk dipimpinnya. Bab ini menekankan pentingnya latihan spiritual yang baik, yang merupakan kunci ketika mempertimbangkan nasihat Paulus di bagian lainnya.

Umat ​​Kristen harus hidup sedemikian rupa sehingga mereka tidak dianggap rendah diri, naif, atau tidak dewasa. Kita dapat mencegah penghinaan tersebut dengan menjadi teladan dalam segala hal dan melakukan apa yang baik:

“..dan jadikanlah dirimu sendiri suatu teladan dalam berbuat baik. Hendaklah engkau jujur dan bersungguh-sungguh dalam pengajaranmu, sehat dan tidak bercela dalam pemberitaanmu sehingga lawan menjadi malu, karena tidak ada hal-hal buruk yang dapat mereka sebarkan tentang kita.” Titus 2:7–8.

Baik di hadapan Tuhan maupun dihadapan manusia, perilaku kita penting. Apa yang kita lakukan dan katakan mencerminkan Kristus dengan baik di mata dunia atau salah menggambarkan Dia. Apa pun tahap kehidupan kita, tujuan kita hendaknya adalah “jangan ada seorang pun yang memandang rendah dirimu.” Ini bukan berusaha menyombongkan diri. Sebaliknya, kita berusaha untuk mejadi orang yang rendah hati dengan tidak merendahkan diri, tetapi dengan tidak selalu memikirkan diri sendiri.

Paulus memberi Timotius bidang-bidang spesifik di mana ia dapat mewakili Kristus dengan baik: dalam perkataan, perilaku, kasih, roh, iman, dan kemurnian. Seorang Kristen telah menyerahkan hidupnya kepada ketuhanan Kristus dan terus tunduk pada Firman dan pekerjaan Roh untuk bertumbuh dalam karakter yang saleh. Seorang Kristen yang bijak ingin tunduk pada ketuhanan Kristus dalam segala bidang sehingga tidak ada seorang pun yang memandang rendah cara hidupnya. Firman Tuhan menyampaikan banyak hal dalam hidup tiap orang Kristen, dan orang yang bijaksana akan dengan sungguh-sungguh memeriksa kehidupan mereka untuk melihat apakah mereka mencerminkan Tuhan dengan baik.

Sebagai bagian dari pencegahan terhadap orang-orang yang meremehkan masa mudanya, Timotius juga harus mengabdikan dirinya untuk membaca Kitab Suci, berkhotbah, dan mengajar di depan umum (1 Timotius 4:13). Firman Tuhan mengubah kita, menguduskan kita, dan memberi kita kesempatan untuk melihat dan mengenal Tuhan. Dengan berfokus pada disiplin ini dan bertumbuh dalam karakter yang saleh, Timotius akan memberikan pengaruh yang kuat bagi Kristus. Tidak seorang pun akan memandang rendah pelayanannya dan memandang rendah masa mudanya. Timotius akan mengalami kemajuan dalam kedewasaan rohani dan menjadi garam dan terang sebagaimana Allah memanggilnya (lihat Matius 5:13–15).

Di saat banyak orang mulai murtad, orang-orang Kristen yang setia dapat tetap terdorong untuk bersinar terang bagi Kristus dan menjadi teladan bagi semua orang percaya, tanpa memandang usia. Masa muda maupun masa tua tidak perlu menjadi stigma. Karakter dan prioritas hidup seorang Kristen dapat mengarahkan orang lain kepada keselamatan yang ditawarkan Kristus. Cara terbaik untuk “jangan biarkan seorang pun memandang rendah masa mudamu” adalah dengan “biarkan terangmu bercahaya di depan orang lain, supaya mereka melihat perbuatan baikmu dan memuliakan Bapamu di surga” (Matius 5:16).

Apakah Anda domba Yesus?

“Domba-domba-Ku mendengarkan suara-Ku dan Aku mengenal mereka dan mereka mengikut Aku, dan Aku memberikan hidup yang kekal kepada mereka dan mereka pasti tidak akan binasa sampai selama-lamanya dan seorang pun tidak akan merebut mereka dari tangan-Ku.” Yohanes 10:27-28

Apakah Anda yakin bahwa Anda adalah orang Kristen sejati yang sudah diselamatkan? Jika Anda yakin, tentunya Anda akan bisa meresapi dan mengerti ayat di atas. Yesus membuat pernyataan di atas dalam suasana yang gawat. Para pengkritiknya telah menjebak Dia di sudut Bait Suci (Yohanes 10:24), menantang Dia untuk mengulangi klaim-Nya, dan tampaknya bersiap untuk melakukan kekerasan (Yohanes 10:31). Dengan cara yang khas, Yesus tidak hanya menanggapi dengan kebenaran yang berani, tetapi Ia melanjutkan, seperti yang ditunjukkan dalam ayat-ayat berikut (Yohanes 10:28-29), yang berpuncak pada pernyataan yang tampaknya sengaja dimaksudkan untuk membuat marah para pengkritik-Nya: ” Aku dan Bapa adalah satu.” (Yohanes 10:30).

Yohanes 10:22–42 terjadi beberapa bulan setelah kontroversi yang dijelaskan dalam pasal 9 hingga paruh pertama pasal 10. Di sini, Yesus dipojokkan, dalam sebuah ancaman terang-terangan, oleh para pemimpin agama yang sama yang telah Dia cela selama bertahun-tahun. Dia menggemakan metafora tentang domba dan gembala yang Dia gunakan setelah memberikan penglihatan kepada orang buta. Yesus menunjukkan bahwa ajaran dan mukjizat-Nya semuanya konsisten dengan ramalan tentang Mesias, namun mereka menolak untuk menerima-Nya. Hal ini berpuncak pada upaya mereka untuk membunuh Yesus, yang entah dengan cara bagaimana bisa dihindari-Nya. Setelah itu, Yesus meninggalkan daerah tersebut dan kembali ke daerah dimana Yohanes Pembaptis pernah berkhotbah. Ini adalah kali terakhir Yesus mengajar di depan umum sebelum penyaliban-Nya.

Sebenarnya banyak orang Israel yang sampai saat ini tidak mengerti konsep gembala dan domba yang dipakai Yesus. Hubungan umat Israel dengan Allah sebelum Yesus disalibkan adalah hubungan formal dan satu arah, dan sampai sekarang, orang Yahudi yang belum menjadi Kristen tidak dapat membayangkan bahwa Yesus adalah Gembala yang penuh kasih sayang. Seperti nenek moyang mereka, orang Yahudi yang tidak percaya bahwa Yesus adalah Anak Allah, percaya bahwa Allah berfirman dengan perantaraan para nabi dan mereka tidak bisa berkomunikasi secara langsung dengan Allah. Secara umum tidak ada kemesraan antara Allah dan umat-Nya.

Jika Anda bertanya kepada orang-orang Yahudi di jalan apakah mereka berdoa, kemungkinan besar Anda akan diberitahu bahwa mereka melakukannya. Jika ditanya lebih jauh tentang apa yang dilakukan mereka, kemungkinan besar Anda akan diberitahu bahwa mereka mengucapkan kata-kata siddur, atau mengucapkan berkat.

Jika Anda mendesak lebih jauh, untuk menanyakan apakah orang-orang Yahudi berdoa langsung kepada Tuhan, dengan kata-kata mereka sendiri, di luar sinagoga atau momen ritual yang ada, kemungkinan besar Anda akan mendapat jawaban negatif. “Kami tidak melakukan itu! Itu adalah cara orang lain berdoa”. Namun, ada sejarah panjang doa pribadi orang Yahudi, yang diungkapkan langsung kepada Tuhan. Ini adalah doa-doa sukacita dan syukur, doa-doa kesedihan dan keputusasaan, doa-doa kebutuhan dan penantian, seperti yang diucapkan Daud. Beberapa dari doa-doa ini berisi permohonan – “tolong bantu saya” – namun ada juga yang sekadar pernyataan kebenaran – “Inilah yang saya rasakan. Apa Engkau di sana?” Terlepas dari sejarah ini, doa pribadi orang Yahudi di zaman ini sebagai praktik spiritual hampir tidak diketahui, dan bahkan lebih sedikit lagi yang dilakukan.

Tidak adanya doa seperti itu dalam kehidupan orang Yahudi melemahkan potensi doa komunal dan liturgi menjadi bermakna. Sulit sekali membangkitkan tenaga untuk berdoa – sekalipun menggunakan perkataan orang lain – jika tidak mempunyai pengalaman berdoa. Ketidakhadiran Tuhan juga menguras sebagian besar energi vital kehidupan keagamaan Yahudi. Mereka mungkin mengucapkan kata-kata doa yang indah, namun kata-kata tersebut tidak mempunyai arah, tidak ada harapan untuk diterima, tidak ada perasaan bahwa doa-doa tersebut mempunyai arti selain dari tradisi.

Allah tidak menyukai hubungan dengan umatNya yang serba formal seperti yang tertulis dalam kitab Perjanjian Lama, tetapi itu tidak bisa dihindari karena bagi sebagian orang Mesias belum datang. Mereka tidak mengerti bahwa Allah yang mengasihi manusia, menginginkan hubungan yang intim dengan umat-Nya. Karena itu Ia mengirimkan anakNya yang tunggal, Yesus Kristus. Dengan penebusan Kristus, hubungan kita dengan Tuhan bisa menjadi hubungan pribadi yang intim sesuai dengan tujuan penciptaan manusia pada awalnya.

“Akulah gembala yang baik dan Aku mengenal domba-domba-Ku dan domba-domba-Ku mengenal Aku” Yohanes 10: 14

Adalah kenyataan yang menyedihkan bahwa sesudah pengurbanan Kristus, tidak semua orang yang mengaku sebagai domba-domba Kristus di zaman ini mengenal suara-Nya. Mereka terlalu sibuk dengan acara dan kesibukan mereka sehingga sebagian kembali memakai hubungan formal dengan Tuhan: berdoa bersama dan ke gereja sekali seminggu. Mereka mendengarkan khotbah dan pengalaman pribadi pendeta. Tetapi hubungan yang personal dan intim dengan Tuhan tidak terjadi karena “tidak ada waktu”.

Lebih parah lagi, banyak orang Kristen yang dalam hidup bebasnya hanya mempunyai hubungan casual dengan Tuhan. Jarang-jarang, tidak teratur, dan hanya kalau perlu, atau kalau sempat. Apalagi, saat ini rasanya lebih asyik dan nikmat untuk “bersekutu” dengan teman-teman lama lewat sosmed dan sesekali mengirim gambar-gambar “rohani” dan semboyan-semboyan agama. Seolah kita tidak lagi memerlukan seorang Gembala yang nyata dan hidup.

Kita harus sadar bahwa Yesus, sebagai gembala yang baik, menjaga domba-domba-Nya siang dan malam. Ia juga yang dengan setia selalu memanggil domba-domba-Nya untuk mengikuti jalan-Nya. Pagi ini, kita dihadapkan pada dua pilihan. Hidup dengan usaha untuk membina hubungan pribadi yang intim dengan Tuhan, atau hidup untuk diri kita sendiri dan merasa puas mempunyai hubungan formal atau casual dengan-Nya. Mana pilihan anda?

“Jika semua dombanya telah dibawanya ke luar, ia berjalan di depan mereka dan domba-domba itu mengikuti dia, karena mereka mengenal suaranya.” Yohanes 10: 4

Apakah Israel masih relevan di zaman ini?

“Sebab rancangan-Ku bukanlah rancanganmu, dan jalanmu bukanlah jalan-Ku, demikianlah firman TUHAN. Seperti tingginya langit dari bumi, demikianlah tingginya jalan-Ku dari jalanmu dan rancangan-Ku dari rancanganmu.” Yesaya 55:8-9

Tahukah Anda bahwa sebagian orang Kristen percaya bahwa gereja yang ada sekarang sudah menggantikan Israel sepenuhnya, sehingga umat Israel yang tidak menerima Yesus dan negara mereka tidak lagi signifikan secara teologis? Walaupun demikian, jika kita membaca apa yang terjadi pada bangsa Yahudi dalam perang dunia kedua dan terbentuknya negara Israel modern yang kita kenal saat ini, ada banyak orang Kristen yang percaya bahwa Israel tetap merupakan bangsa pilihan Allah.

John Calvin pernah menulis bahwa karena orang-orang Yahudi tidak bersedia menjadi mitra dalam perjanjian Allah, maka “mereka layak untuk ditolak” (Institut 4.2.3). Hanya ada satu perjanjian bagi Calvin, jadi perjanjian baru tidak menggantikan perjanjian lama; namun gereja adalah penerima baru janji-janji Perjanjian Lama yang diberikan kepada Israel Yahudi. Tidak ada pemilihan bangsa yang berkelanjutan di Israel, yang ada hanyalah pemilihan individu Israel (orang Kristen) yang menerima Kristus (Institut 3.21.6). Maka, setelah kebangkitan Yesus, tidak ada masa depan bagi umat atau tanah Israel yang dapat memberikan arti teologis.

Sekalipun pengaruh ajaran Calvin sangat kuat, pada akhir abad ke-16, beberapa pengikut Calvin, kebanyakan kaum Puritan, mengambil pendekatan berbeda. Mereka membedakan antara janji-janji yang dibuat kepada Israel Yahudi dan janji-janji yang dibuat kepada Israel non-Yahudi yang baru. Thomas Draxe misalnya, menggunakan Roma 11 dan nubuatan Alkitab untuk berargumentasi bahwa Yesus tidak akan datang kembali sampai “orang-orang Yahudi yang terpencar-pencar pada umumnya masuk Kristen, namun sementara itu mereka untuk sementara waktu akan dikembalikan ke negara mereka sendiri,dan akan membangun kembali Yerusalem.

Dalam komentarnya terhadap kitab Wahyu, yang diterbitkan secara anumerta pada tahun 1611, Thomas Brightman (1562–1607) menulis bahwa orang Yahudi adalah “raja dari timur” dalam Wahyu 16:12 yang akan menghancurkan Islam. Dia yakin mereka akan dikembalikan ke tanah Sion: “Apakah mereka akan kembali lagi ke Yerusalem? Tidak ada yang lebih pasti: para Nabi dengan jelas menegaskannya.”

Joseph Mede (1586–1638) adalah simpatisan Puritan lainnya yang mengemukakan keyakinan Puritan yang sering diulang-ulang bahwa orang-orang Yahudi akan dikembalikan ke tanah Israel setelah kehancuran kekaisaran Turki.

Bukan hanya kaum Puritan Anglo-Amerika dalam tradisi Reformed yang menyimpang dari pandangan Calvin. Pada pergantian abad ke-18, teolog Reformed Belanda Wilhelmus à Brakel (1635–1711) menerbitkan empat jilid teologi sistematika yang menyajikan pandangan yang lebih bernuansa tentang Israel Yahudi. Brakel bersikeras bahwa rujukan Paulus pada “seluruh Israel” dalam Roma 11:25 mengacu pada Israel Yahudi sebagai bangsa yang mempunyai masa depan yang jelas. Brakel menyatakan dengan tegas bahwa orang Yahudi akan kembali ke tanah airnya: “Akankah bangsa Yahudi dikumpulkan kembali dari seluruh wilayah di dunia dan dari semua bangsa di bumi dimana mereka tersebar? Akankah mereka datang dan tinggal di Kanaan dan seluruh tanah yang dijanjikan kepada Abraham, dan akankah Yerusalem dibangun kembali? Kami yakin peristiwa ini akan terjadi.”

Jonathan Edwards (1703-1758), mungkin teolog Reformed terbesar setelah Calvin, sependapat dengan Brakel bahwa pandangan Calvin menggunakan hermeneutika hiper-spiritualis yang mengabaikan pengertian Kitab Suci. Meskipun dia setuju dengan Calvin bahwa Tuhan telah meninggalkan banga Israel karena penyembahan berhala mereka telah membuat-Nya iri, dia berargumentasi bahwa pengabaian ilahi ini hanya sementara. Akan ada hari rahmat yang kedua. Tepat sebelum milenium dimulai, Tuhan akan membuka tabir yang menutupi mata mereka dan melembutkan hati mereka dengan rahmat. Seluruh Israel kemudian akan diselamatkan. “Tidak ada yang lebih pasti dinubuatkan selain pertobatan nasional orang-orang Yahudi di Roma pasal 11.”

Edwards bertekad bahwa orang-orang Yahudi akan kembali ke tanah airnya. Hal ini tidak dapat dihindari, ia beralasan, karena ramalan tentang tanah yang diberikan kepada mereka hanya terpenuhi sebagian. Hal ini juga penting agar Tuhan menjadikan mereka “monumen nyata” akan rahmat dan kuasa-Nya pada saat pertobatan mereka. Pada saat itu agama dan pembelajaran akan berada pada puncaknya masing-masing, dan Kanaan sekali lagi akan menjadi pusat spiritual dunia. Meskipun Israel kembali menjadi negara yang berbeda, umat Kristen akan memiliki akses bebas ke Yerusalem, karena orang-orang Yahudi akan memandang umat Kristen sebagai saudara mereka.

Edwards dan para pendahulunya dari kalangan Puritan tidak hanya berfokus pada makna sederhana dari janji-janji Perjanjian Lama; mereka juga memperhatikan berbagai saran dalam Perjanjian Baru bahwa umat dan tanah Israel akan memiliki masa depan. Misalnya, Yesus meramalkan bahwa suatu hari Yerusalem akan menyambutnya (Lukas 13:34–35). Dalam Matius 24 ia mengatakan bahwa ketika Anak Manusia kembali, “semua suku di negeri itu akan berdukacita,” mengutip nubuat Zakharia tentang penduduk Yerusalem yang berduka ketika “TUHAN akan memberikan keselamatan kepada kemah-kemah Yehuda” (Zakharia 12 :7, 10).

Kemudian dalam Matius 19 Yesus mengatakan kepada murid-muridnya bahwa “di dunia baru, ketika Anak Manusia akan duduk di takhta-Nya yang mulia, kamu yang mengikuti Aku juga akan duduk di 12 takhta, menghakimi 12 suku Israel” (ayat 28 ). Ketika murid-muridnya bertanya kepada Yesus sesaat sebelum kenaikan-Nya, “Tuhan, apakah saat ini Engkau akan memulihkan kerajaan Israel?” (Kisah 1:6), Yesus tidak menentang asumsi mereka bahwa suatu hari kerajaan akan dipulihkan ke Israel secara fisik. Dia hanya mengatakan bahwa Bapa telah menetapkan tanggalnya, dan mereka belum perlu mengetahuinya.

Pagi ini, jika anda membaca berita tentang apa yang terjadi di Timur Tengah, hati Anda mungkin menjadi gundah. Apa yang akan terjadi di Palestina, Israel, Yordania dan negara-negara di sekitarnya? Kita tidak tahu jalan Tuhan, karena Dia yang mahakuasa adalah jauh lebih bijak dari manusia. Kuasa-Nya sangat besar, yang sudah terbukti pada terbentuknya negara Israel sesudah perang dunia kedua. Apalagi yang kita bimbangkan dalam hidup ini? Kehendak-Nya pasti terjadi, dan kita hanya bisa berserah kepada-Nya.

Apakah Anda memiliki sahabat yang sejati?

“Tidak ada kasih yang lebih besar dari pada kasih seorang yang memberikan nyawanya untuk sahabat-sahabatnya. Kamu adalah sahabat-Ku, jikalau kamu berbuat apa yang Kuperintahkan kepadamu. Aku tidak menyebut kamu lagi hamba, sebab hamba tidak tahu, apa yang diperbuat oleh tuannya, tetapi Aku menyebut kamu sahabat, karena Aku telah memberitahukan kepada kamu segala sesuatu yang telah Kudengar dari Bapa-Ku.” Yohanes 15:13-15

Teman adalah harta yang istimewa. Penulis buku Kristen yang ternama, C.S. Lewis, mengatakan bahwa persahabatan lahir “ketika dua orang atau lebih menemukan bahwa mereka memiliki kesamaan dalam wawasan, persoalan, minat atau bahkan selera yang tidak dimiliki oleh yang lain, dan yang sebelumnya diyakini sebagai keadaan uniknya atau bebannya sendiri” Lewis menyatakan bahwa pikiran yang muncul di awal sebuah persahabatan adalah seperti: “Apa? Kamu juga begitu? Saya pikir hanya saya satu-satunya yang mengalami.”

Secara alami, persahabatan adalah anugerah umum yang dimiliki oleh semua orang. Pengalaman dan minat yang sama dapat menghasilkan resonansi yang hangat dan bertahan lama di antara dua orang. Dan memang, ada kegembiraan tersendiri saat merasakan bahwa seseorang mengenal Anda, memahami Anda, dan menikmati kebersamaan dengan Anda dalam semua keadaan, sekalipun apa yang dialami adalah kurang menyenangkan. Sahabat yang sejati adalah teman dalam suka dan duka.

Benarlah jika seseorang berkata bahwa jika ia mempunyai satu teman sejati, ia harus menganggap dirinya diberkati. Hal ini sehubungan dengan banyaknya “teman” yang kita temui dalam hidup, sekalipun mereka kebanyakan adalah teman dalam keadaan dan saat tertentu saja. Apa yang dinamakan teman sehidup semati pun belum tentu merupakan teman yang terbaik. Karena teman sejati sulit didapat, ada ungkapan yang berbunyi: “Banyak musuh datang tanpa diundang, tapi seorang teman jarang ditemukan”.

Orang Kristen bisa berteman dengan orang yang tidak beriman seperti yang digambarkan C.S. Lewis. Persahabatan seperti itu juga bisa menjadi hal yang baik. Namun, umat beriman harus menyadari bahwa ada landasan rohani yang unik dalam persahabatan antara orang-orang Kristen yang melampaui apa yang mungkin terjadi pada mereka yang tidak mengenal Kristus. Mengapa begitu?

Umat ​​Kristen tidak hanya memiliki beberapa kesamaan; mereka memiliki seorang Sahabat yang sama. Persahabatan mereka dengan Yesus memberikan landasan spiritual dan tali pengikat yang kuat bagi persahabatan satu dengan yang lain. Sebab Yesus telah bersabda, “Aku tidak menyebut kamu lagi hamba, sebab hamba tidak tahu, apa yang diperbuat oleh tuannya, tetapi Aku menyebut kamu sahabat, karena Aku telah memberitahukan kepada kamu segala sesuatu yang telah Kudengar dari Bapa-Ku” (Yohanes 15:15). Sesama umat percaya bisa menjadi sahabat sejati karena tiap-tiap orang adalah sahabat Yesus.

Persahabatan Kristiani dipupuk ketika dua orang berbagi satu sama lain bagaimana pengalaman yang mereka alami dalam Kristus diwujudkan dalam pengalaman hidup mereka yang unik sebagai orang percaya. Mereka tahu bahwa mereka adalah sahabat Kristus karena Dia mati untuk mereka (Yohanes 15:13); dan persahabatan ini berkembang ketika mereka berbagi satu sama lain bagaimana Tuhan mengungkapkan hal ini kepada mereka. Mereka tahu bahwa Yesus berkata bahwa mereka adalah sahabat-Nya jika mereka menaati-Nya (Yohanes 15:14). Persahabatan ini diperdalam ketika mereka bisa berbagi pengalaman, baik yang indah maupun yang buruk, di mana mereka dapat menggunakannya sebagai dorongan untuk bertekun dalam mengikut Kristus. Hati umat Kristiani semakin erat saat mereka mempelajari kisah kasih karunia Tuhan dalam hidup mereka.

“Bersukacitalah dengan orang yang bersukacita, dan menangislah dengan orang yang menangis!” Roma 12:15

Persahabatan Kristen biasanya memerlukan inisiatif khusus. Kadang-kadang umat Kristiani merasa kesepian dalam tubuh Kristus karena mereka tidak mengambil inisiatif untuk membuka hati satu sama lain mengenai pengalaman mereka bersama dengan Kristus. Seringkali percakapan kita tidak lebih dari sekadar pembicaraan tentang berita, pekerjaan, rekreasi, atau masalah kesehatan dan keluarga, seperti yang terjadi dalam acara reuni atau “kumpul-kumpul”. Lebih dari itu, acara kumpul-kumpul bisa memberi kesempatan untuk mendengarkan dan menyebarkan gosip.

Pada pihak lain, persahabatan yang sejati bisa lebih akrab daripada hubungan keluarga, dan sering kali seorang sahabat bisa mengenali Anda secara lebih baik. Mereka mendoakan hal yang lebih besar untuk Anda daripada Anda mendoakan diri Anda sendiri. Iman mereka bisa menguatkan Anda ketika iman Anda lemah. Mereka bisa memberi ruang kelegaan bagi Anda saat hidup tertekan, dan mereka ikut berduka jika Anda berduka, dan bersukacita bersama Anda pada saat semuanya baik-baik saja. Yang terpenting, sahabat sejati mengingatkan Anda dalam setiap pertemuan tetnang siapa dan apa yang paling penting diperhatikan dalam hidup. Yesus Kristus dan kasih-Nya.

Hakikat persahabatan Kristiani adalah persahabatan yang ditempa dalam api Roh Kudus dalam dua keyakinan:

  • Hanya Yesus yang dapat memuaskan jiwa, dan
  • Hanya kehendak-Nya yang layak untuk dilaksanakan.

Yesus adalah Roti Kehidupan kita, Air Kehidupan kita, Mutiara kita yang Sangat Berharga, Terang kita, Kebangkitan kita, Kehidupan kita. Bahaya terbesar bagi jiwa kita adalah kita mungkin tidak lagi tinggal di dalam Dia, mengikuti Dia, dan menemukan sukacita di dalam Dia. Oleh karena itu, hadiah terbaik yang bisa diberikan seorang sahabat adalah komitmen untuk memperjuangkan sukacita dan persekutuan kita dengan Kristus. Jika kita mempunyai hubungan yang baik dengan Kristus, kita akan bisa membina hubungan baik dengan sesama.

Sebaliknya, distorsi persahabatan yang paling buruk muncul ketika seorang teman mendorong kita, secara sadar atau tidak, untuk menempatkan kasih sayang kita di tempat lain. Tanpa disadari rasul Petrus melakukan distorsi semacam ini dalam Matius 16. Yesus mengatakan kepada murid-muridnya bahwa dia akan mati dan bangkit kembali (Matius 16:21). Petrus menegur Yesus dengan komentar yang tentunya bermaksud baik dari seorang teman setianya: “Tuhan, kiranya Allah menjauhkan hal itu! Hal itu sekali-kali takkan menimpa Engkau.” (Matius 16:22).

Tampaknya ini adalah bentuk persahabatan yang terdalam, paling tulus, dan paling indah, namun kata-kata Petrus menempatkannya di antara Yesus dan ketaatannya kepada Bapa. Ketidaktahuannya membuat seorang teman menjadi musuh, setidaknya untuk sesaat. “Enyahlah Iblis. Engkau suatu batu sandungan bagi-Ku, sebab engkau bukan memikirkan apa yang dipikirkan Allah, melainkan apa yang dipikirkan manusia.” (Matius 16:23). Apa yang Petrus anggap bermanfaat, Yesus sebut sebagai penghalang. Apa yang Petrus anggap sebagai persahabatan yang saleh, Yesus menyebutnya perbuatan iblis. Hal yang serupa dapat terjadi pada diri kita yang berusaha menolong seprang sahabat; tetapi karena kita tidak benar-benar mengerti apa yang dikehendaki Tuhan, kita justru membuat mereka jatuh.

Pagi ini, jika kita memikirkan hubungan kita dengan orang lain, perlulah kita memisahkan mereka yang tergolong dalam kelompok sahabat duniawi dan mereka yang tergolong dalam kelompok sahabat surgawi. Sebagai orang Kristen, kita boleh saja bersahabat dengan semua orang karena panggilan kita adalah untuk mengasihi siapa saja, dan bahkan musuh kita (Matius 5: 44). Walaupun demikian, kita harus sadar bahwa hanya mereka yang sudah benar-benar menjadi sahabat Yesus akan dapat mengasihi kita seperti Yesus mengasihi kita. Sahabat yang sejati adalah orang-orang yang mau berkurban untuk kita, mau berjuang untuk kita, mau mengingatkan kita akan kesalahan kita, dan selalu berdoa untuk kita.