Apakah Anda benar-benar mengakui Kristus dalam hidup Anda?

“Setiap orang yang mengakui Aku di depan manusia, Aku juga akan mengakuinya di depan Bapa-Ku yang di sorga.” Matius 10:32

Matius 10:26–33 melanjutkan dorongan Yesus, saat Ia mengutus kedua belas rasul dengan otoritas-Nya. Ia memerintahkan para rasul untuk menyebarkan apa yang Ia sudah katakan kepada mereka ke mana-mana. Penganiayaan akan menimpa mereka, tetapi mereka tidak perlu takut. Musuh-musuh mereka hanya dapat membunuh tubuh mereka. Sebaliknya, mereka harus takut kepada Tuhan dan memahami bahwa Bapa mereka peduli kepada mereka. Yesus menyatakan bahwa Ia juga akan mengakui kepada Bapa-Nya setiap orang yang mengakui-Nya kepada orang lain. Akan tetapi, mereka yang menyangkal identitas-Nya sebagai Putra Allah, akan Ia sangkal.

Yesus memberikan otoritas-Nya atas penyakit, setan, dan bahkan kematian kepada kedua belas rasul pilihan-Nya. Ia memberi mereka petunjuk sebagai persiapan untuk perjalanan singkat ke kota-kota Galilea dan pelayanan mereka setelah Ia meninggalkan bumi. Pertama, mereka akan mengabarkan pesan-Nya tentang kerajaan di kota-kota Israel saat mereka menyembuhkan dan mengusir setan untuk menunjukkan kuasa-Nya. Kemudian, mereka akan menderita penganiayaan hebat saat mereka mewakili-Nya di hadapan orang Yahudi dan non-Yahudi. Namun, mereka tidak perlu takut, dan percaya bahwa Bapa mereka akan menyertai mereka dan memberi mereka pahala.

Pernyataan Yesus kepada kedua belas rasul pilihan-Nya ini merupakan gambaran Injil yang jelas dan lugas kepada semua orang. Ia menegaskan maksudnya dengan jelas: Yesus akan mengakui kepada Allah setiap orang yang mengakui Kristus kepada orang lain dalam hidup ini. Setiap orang Kristen sejati akan mengakui Yesus dalam arti bahwa mereka akan meneguhkan Dia sebagai Mesias, Kristus, Anak Allah. Mereka harus menunjukkan iman kepada Yesus sebagai satu-satunya jalan bagi setiap orang untuk datang kepada Bapa (Yohanes 14:6). Ini yang harus mereka nyatakan kepada orang lain dan bukannya mengakui bahwa ada banyak jalan ke Roma.

Jika orang mengakui Yesus sebagai Anak Allah, Dia akan mengakui mereka sebagai umat-Nya kepada Bapa dan menyatakan bahwa mereka adalah milik-Nya dan, dengan cara itu, menjamin tempat mereka dalam kekekalan bersama Allah Bapa. Gambaran tersebut adalah seperti seorang saksi yang benar di pengadilan yang membela terdakwa di hadapan hakim. Hakim akan lebih mempercayai perkataan Putra-Nya daripada tuduhan musuh-musuh-Nya. Dengan cara ini, pengakuan oleh Yesus akan menjadi pembeda antara hidup dan mati, sebagaimana dijelaskan dalam ayat berikut (Yohanes 3:16–18; 3:36).

Lalu dalam praktiknya, bagaimana kita bisa mengakui Dia? Dalam Perjanjian Lama, Amsal 3:6 memberikan instruksi dan janji: “Akuilah Dia dalam segala lakumu, maka Ia akan meluruskan jalanmu”. Keinginan untuk mengakui Tuhan dan mengikuti pimpinan-Nya dengan saksama adalah hal yang luar biasa sebagai akibat pekerjaan Roh Kudus. Jika kita melengkapi konteksnya, Amsal 3:5 berkata, “Percayalah kepada TUHAN dengan segenap hatimu, dan janganlah bersandar kepada pengertianmu sendiri.” Jadi, mengakui Tuhan dimulai dengan memercayai-Nya dan tidak memercayai hikmat kita sendiri.

Mengakui Tuhan dalam segala laku kita berarti “mengenal Dia” (yang merupakan terjemahan bahasa Ibrani), yaitu mengakui bahwa Tuhan adalah Pribadi yang bekerja dalam hidup kita dengan kuasa, hikmat, kebaikan, dan keadilan (lihat Efesus 3:20). Oleh karena itu, Dia layak untuk diikuti.

Berikut ini adalah sejumlah bidang praktis yang penting dalam kehidupan seorang Kristen yang berusaha mengakui Tuhan dalam segala laku-Nya:

  • Kita akan mulai mengakui Tuhan dalam segala laku kita ketika kita merenungkan betapa sempurnanya Tuhan telah mengampuni kita. Tuhan mengasihi Anda dengan sepenuh hati dan telah mengampuni Anda sepenuhnya. Renungkan Mazmur 103:11–12; Roma 8:1; Kolose 1:22.
  • Kita akan belajar mengakui Tuhan dalam segala hal ketika kita membaca Firman Tuhan dengan setia. Itu adalah buku panduan Anda untuk mengenal Tuhan dan bertumbuh dalam hikmat-Nya. Selalu ada sesuatu yang baru untuk ditemukan dalam Kitab Suci. Cintai itu. Pelajarilah. Hafalkanlah. Pikirkan tentang apa yang dikatakannya. Saat Anda membaca, carilah seperti apa Tuhan itu—karakter-Nya. Carilah kebenaran yang perlu Anda percayai, dan carilah sesuatu yang perlu Anda lakukan. Terapkan itu dalam hidup Anda.
  • Untuk mengakui Tuhan dalam segala hal, kita harus membiarkan Alkitab mengubah kita. Jadilah rendah hati dan siap untuk taat. Dengan cara ini kita berpartisipasi dalam pengudusan kita (1 Tesalonika 4:3–5; Titus 2:11–14). Jika Firman Tuhan menyinari jiwa Anda dan menyingkapkan suatu area dosa dalam hidup Anda, bersiaplah untuk mengakuinya dan meninggalkannya. JAnganlah Anda merasa bahwa semua yang terjadi dalam hidup Anda adalah sebuah takdir yang tidak bisa dihindari.
  • Janganlah Anda merasa bahwa sebagai orang pilihan, Tuhan akan menerima Anda “sebagai mana adanya”. Bertobatlah dengan sungguh-sungguh atas dosa tersebut dan mintalah Tuhan untuk membantu Anda melakukan apa yang benar—apa pun yang diperlukan! Jika Anda merasa telah “mengarahkan jalan Anda sendiri,” mintalah pengampunan Tuhan, sebutkan saat-saat tertentu ketika Anda tahu bahwa Anda telah menempuh jalan Anda sendiri. Bersyukurlah kepada-Nya atas pengampunan-Nya, dan jadikanlah tujuan Anda untuk menyenangkan Tuhan (2 Korintus 5:9).
  • Bagian utama dari mengakui Tuhan dalam segala jalan kita adalah “berdoa terus-menerus” (1 Tesalonika 5:17). Tuhan mengasihi Anda. Dia peduli tentang Anda dan menginginkan hubungan dengan Anda—bukan berarti Anda mengikuti daftar aturan yang legalistik dan merugikan diri sendiri yang membuat Anda bertanya-tanya apakah Anda pernah dapat “berbuat cukup.”
  • Bagikan dengan Bapa Surgawi apa yang Anda alami: sukacita, ketakutan, tujuan, keinginan, dan kegagalan Anda. Kita tidak dapat menyembunyikan pikiran kita dari Tuhan, dan kita tidak boleh mencoba menutupinya. Bersyukurlah atas berkat-berkat-Nya dan atas pencobaan-pencobaan, karena Anda tahu Dia akan bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan (Roma 8:28). Berdoalah saat Anda meluangkan waktu bersama-Nya dan teruslah berbicara dengan-Nya sepanjang hari di mana pun Anda berada.
  • Untuk membantu kita mengakui Tuhan dalam segala hal, kita harus menjadi bagian dari gereja yang baik dan percaya pada Alkitab (Ibrani 10:24–25). Kita tidak ke gereja untuk belajar berdebat teologi atau memusuhi mereka yang tidak sealiran. Kita tidak pergi ke gereja hanya untuk memenuhi kebutuhan kita sendiri, tetapi untuk menjadi penyemangat dan pembimbing orang lain. Keluarga gereja kita menjadi keluarga rohani kita yang lebih luas, yang mencakup semua orang yang mengasihi Tuhan.
  • Saat Anda bertumbuh dalam kedewasaan, Anda akan menemukan keinginan untuk melayani. Tuhan akan menempatkan di dalam hati Anda suatu bidang pelayanan, dan saat Anda mulai melayani, itu akan mendatangkan sukacita bagi diri Anda dan orang lain. Pendeta Anda dapat membimbing Anda ke tempat di mana Anda dapat menggunakan karunia-karunia Anda untuk melayani Tuhan dan memberitakan Injil secara efektif.

Mungkin Anda masih mempertanyakan hubungan pengakuan akan Tuhan dan pertumbuhan rohani kita. Ayat 2 Petrus 1:3–11 menjelaskan seperti apa pertumbuhan dalam keserupaan dengan Kristus. Ayat 3 mengatakan, “Karena kuasa ilahi-Nya telah menganugerahkan kepada kita segala sesuatu yang berguna untuk hidup yang saleh oleh pengenalan kita akan Dia, yang telah memanggil kita oleh kuasa-Nya yang mulia dan ajaib.” Allah telah memberikan kepada kita sumber daya ilahi-Nya, semua yang kita butuhkan, untuk memampukan kita hidup bagi-Nya.

Semakin Anda mengenal Allah, semakin Anda akan mengasihi-Nya. Itu adalah suatu kepastian. Semakin Anda mengasihi-Nya, semakin Anda akan ingin menaati-Nya, karena Anda tahu itu akan menyenangkan-Nya. Jalannya tidak akan selalu mudah, tetapi jika kita percaya kepada-Nya, kita dapat bersandar pada kehendak-Nya bagi kita dan membiarkan Dia mengarahkan jalan kita.

Mengakui Allah dalam segala jalan dapat dijelaskan dengan cara ini: “Tempatkan Dia di hadapan Anda; ingatlah Dia selalu; anggaplah Dia selalu hadir bersama Anda, perhatikan setiap langkah Anda; dan jangan mengambil satu langkah pun tanpa izin-Nya, dan tanpa nasihat-Nya; mintalah hikmat dari Dia yang memberi dengan murah hati; tanyakan firman-Nya, dan jadikan Kitab Suci sebagai penasihat Anda, jangan hidup menurut daging, melainkan menurut Roh; ketika segala sesuatu berjalan buruk dan bertentangan, dan tidak sesuai dengan pikiran Anda, berserahlah kepada kedaulatan-Nya.

Diamlah dan ketahuilah, bahwa Akulah Allah! Aku ditinggikan di antara bangsa-bangsa, ditinggikan di bumi!” (Mazmur 46:10).

Seberapa besar kita perlu menaati Yesus agar diselamatkan?

”Mengapa kamu berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan, padahal kamu tidak melakukan apa yang Aku katakan?” Lukas 6:46

Lukas 6:17–49 mencatat pengajaran Yesus di ”tempat yang datar,” atau ”Khotbah di Dataran,” dan panggilan kepada orang banyak untuk menjadi murid secara umum. Sebagian besar materi ini memiliki kesamaan Khotbah di Bukit dalam Matius 5 hingga 7, tetapi tidak jelas apakah kedua kisah tersebut berasal dari peristiwa yang sama. Sebagai seorang guru yang berkeliling, memang mungkin bahwa Kristus menyampaikan pesan umum yang sama beberapa kali.

Yesus menyampaikan Khotbah di Bukit setelah pergi ke atas gunung dan duduk (Matius 5:1). Dia menyampaikan Khotbah di Dataran setelah datang turun dari gunung dan berdiri di tempat yang datar (Lukas 6:17). Catatan Lukas tentang Khotbah di Dataran tidak memuat pengajaran Yesus yang diperluas tentang hukum, dan itu mencakup berbagai kesengsaraan selain ucapan bahagia. Juga, tampaknya penonton dalam Matius datang dari tempat yang berbeda dari penonton dalam Lukas (bandingkan Matius 4:25 dengan Lukas 6:17). Ada kemungkinan bahwa Khotbah di Dataran Lukas hanyalah versi ringkas dari Khotbah di Bukit Matius, tetapi tampaknya lebih mungkin bahwa Yesus mengkhotbahkan khotbah serupa pada dua kesempatan berbeda, membuat beberapa perubahan agar lebih sesuai dengan audiens yang ada.

Lukas 6:46–49 mencatat panggilan Yesus untuk menjadi murid secara umum. Ia telah memilih kedua belas murid dari antara sejumlah besar pengikut-Nya (Lukas 6:12–16). Ia menyingkapkan beberapa hal sulit yang Ia harapkan dari umat-Nya, termasuk mengampuni musuh-musuh mereka (Lukas 6:17–42). Untuk melakukannya dibutuhkan hati yang baik (Lukas 6:43–45). Sekarang Ia menyampaikan undangan kepada orang banyak untuk membangun hidup mereka di atas dasar yang pasti dari firman-Nya. Ini mengakhiri Khotbah di Dataran.

Apa arti Lukas 6:46? Yesus telah berbicara kepada banyak orang. Orang banyak ini termasuk dua belas rasul-Nya, banyak murid, dan orang Yahudi serta orang bukan Yahudi yang datang untuk meminta kesembuhan (Lukas 6:17–19). Ia telah selesai menjelaskan bahwa para pengikut-Nya akan dianiaya oleh dunia tetapi mereka perlu mengampuni dan memberkati musuh-musuh mereka (Lukas 6:20–36). Ia kemudian menjelaskan dua sifat umum yang seharusnya menggambarkan para pengikut-Nya. Pertama, mereka harus tekun mempertimbangkan dosa-dosa mereka sendiri sebelum menghakimi orang lain (Lukas 6:37–42). Kedua, jika hati mereka baik haruslah itu menghasilkan perbuatan baik (Lukas 6:43–45). Dan sifat ketiga dalam Lukas 6:46 adalah apa yang harus dipegang oleh para pengikut Yesus: mereka mendasarkan hidup mereka pada perintah-perintah-Nya.

Sebagian besar Khotbah di Dataran berkaitan dengan hal berbicara, termasuk mengutuk, memberkati, berdoa, dan mengajar. Yesus telah menjelaskan bahwa apa yang kita katakan mengungkapkan apa yang ada di dalam hati kita. Di sini, Ia berbicara tentang ucapan yang ceroboh yang belum tentu datang dari hati. “Tuhan” berasal dari akar kata Yunani kurios. Secara umum, kata ini berarti penguasa—yang sering kali seseorang yang didewakan. Lukas tidak menyebut Yesus sebagai Juruselamat meskipun paralelnya dalam Matius menyebutkannya (Matius 7:21). Menyebut Yesus “Tuhan, Tuhan” tetapi menolak apa yang Dia katakan adalah menciptakan dinding pemisah antara ucapan dan isi hati. Ini bisa berakibat sebuah kepalsuan yang tragis.

Ayat ini memang sering memunculkan sebuah tanda tanya yang sering diperdebatkan antara keselamatan dan perbuatan baik. Beberapa orang menyajikan ini sebagai pilihan antara keselamatan yang diajarkan Paulus melalui kasih karunia melalui iman (Efesus 2:8–9) dan catatan Yakobus bahwa iman tanpa perbuatan adalah “mati” (Yakobus 2:17). Pertanyaan ini sering disalahartikan sebagai, “Seberapa besar kita perlu menaati Yesus agar diselamatkan?”

Sebenarnya, ketaatan bukanlah yang menyelamatkan—sebaliknya, adanya keselamatan pasti menghasilkan ketaatan. Menilai “seberapa besar” ketaatan secara akurat mencerminkan keselamatan adalah bagian yang sulit. Di satu sisi ada “aliran mudah percaya” yang mengajarkan bahwa seseorang hanya perlu mengucapkan doa untuk diselamatkan. Selain itu, ada aliran yang bersikeras bahwa orang pilihan Allah tidak perlu memikirkan adanya dosa dalam hidup mereka. Di sisi lain, ada denominasi-denominasi yang sangat legalistik yang bersikeras bahwa orang Kristen sejati pasti jarang berbuat dosa. Selain itu, ada yang mengajarkan bahwa orang pilihan Tuhan masih dapat kehilangan keselamatan jika mereka tetap hidup dalam dosa.

Yang biasanya terlewatkan dalam perdebatan di atas adalah Efesus 2:10: “Karena kita ini buatan Allah, diciptakan dalam Kristus Yesus untuk melakukan pekerjaan baik, yang dipersiapkan Allah sebelumnya. Ia mau, supaya kita hidup di dalamnya.” Urutan hidup Kristen sejati adalah kasih karunia Allah, iman kita, pertobatan kita, perbuatan kita, yang semuanya diberdayakan dan dipimpin oleh Roh Kudus. Dalam istilah yang paling sederhana, “pertobatan” berarti seseorang yang setuju bahwa Yesus benar dan mereka salah—dan bahwa mereka tidak ingin hidup seperti itu lagi.

Perbuatan adalah ketaatan kita kepada Kristus. Baik pertobatan maupun ketaatan adalah tanggapan yang mulanya samar tetapi terus berkembang sebagai reaksi terhadap keselamatan, tetapi keduanya selalu ada selama orang hidup di dunia. Jika tidak ada pertobatan dan tidak ada perbuatan—tidak ada ketaatan—maka tidak ada iman dan tidak ada kasih karunia dalam diri orang itu.

Hubungan keselamatan dan ketaatan sangat mudah disalahpahami karena penekanan ajaran Alkitab pada perbuatan baik. Meskipun demikian, Yesus membuat perbedaan bagi orang banyak: apakah mereka memanggil-Nya “Tuhan” karena Ia menyembuhkan mereka atau karena mereka ingin mendasarkan hidup mereka pada firman-Nya (Lukas 6:40)? Kemudian, Ia akan memarahi orang banyak yang tidak peduli bahwa Ia menggenapi tanda-tanda Mesias—mereka hanya kagum bahwa Ia dapat membuat makanan secara ajaib yang muncul entah dari mana (Yohanes 6:26).

Pada saat Yesus mengucapkan ayat di atas, keselamatan kekal melalui Kristus belum sepenuhnya dijelaskan atau dipahami, bahkan oleh kedua belas rasul. Sekarang, dengan membaca dan menyelami isi Alkitab, kita bisa mengerti hubungan antara keselamatan dan perbuatan. Saat ini, Yesus menantang kita untuk berkomitmen pada apa yang Ia katakan: bahwa mengikut Dia bukan berarti asal percaya diri (PD). Diselamatkan “oleh karunia saja” bukan berarti “oleh karunia tanpa komitmen”. “By Grace alone” bukan berari “by Grace that is alone“.

Orang Kristen sejati selalu berusaha keras untuk menaati Yesus, berjuang keras seperti Paulus yang menggambarkannya sebagai seorang pelari atau petinju. Ini tidak mudah dilakukan. Walaupun demikian, Tuhan Yesus berjanji bahwa jika kita melakukan firman-Nya, hidup kita akan kokoh tidak peduli kesulitan apa yang kita hadapi. Lebih dari itu, kita tidak akan hidup dalam kepalsuan dan kepercayaan sepihak tetapi memang yakin bahwa Tuhan sudah memilih dan mempersiapkan kita dari awalnya karena kita selalu berusaha melakukan firman-Nya.

“Setiap orang yang datang kepada-Ku dan mendengarkan perkataan-Ku serta melakukannya – Aku akan menyatakan kepadamu dengan siapa ia dapat disamakan –, ia sama dengan seorang yang mendirikan rumah: Orang itu menggali dalam-dalam dan meletakkan dasarnya di atas batu. Ketika datang air bah dan banjir melanda rumah itu, rumah itu tidak dapat digoyahkan, karena rumah itu kokoh dibangun.” Lukas 6:47-48

Apakah Anda merasa terbebani dan lelah menjadi orang Kristen?

“Pikullah kuk yang Kupasang dan belajarlah pada-Ku, karena Aku lemah lembut dan rendah hati dan jiwamu akan mendapat ketenangan.” Matius 11:29

Ayat di atas adalah ayat yang cukup dikenal orang Kristen dan sering dipakai dalam konteks kebahagiaan hidup orang Kristen di dunia. Hal kebahagiaan memang ada benarnya, tetapi kebahagiaan dalam hal apa? Bukan dalam hal kebutuhan jasmani, bukan juga dalam hal ketabahan menghadapi tantangan hidup. Tetapi dalam hal menjadi orang Kristen yang baik.

Matius 11:25–30 dimulai dengan doa syukur Yesus kepada Bapa-Nya karena telah menyembunyikan kebenaran Injil dari “orang besar”, yaitu mereka yang dianggap bijak menurut standar dunia. Sebaliknya, Injil telah diungkapkan kepada “orang kecil”, yaitu mereka yang dianggap orang bodoh dan lemah oleh dunia yang tidak percaya. Yesus menyatakan bahwa Dia dan Bapa saling mengenal sepenuhnya dan bahwa Dia dapat mengungkapkan Bapa kepada siapa pun yang Dia pilih. Orang yang Dia pilih bukanlah mereka yang sudah merasa hidup dalam kebenaran dan kesucian. Sebaliknya, Dia menawarkan ketenangan bagi jiwa semua orang percaya yang terbebani dan lelah jika mereka mau memikul kuk-Nya, dengan mengatakan bahwa beban-Nya mudah dan ringan.

Kuk adalah alat dari kayu yang digunakan untuk memanfaatkan tenaga kerja seekor hewan, terutama lembu. Kuk dapat dibuat untuk seekor hewan saja, atau untuk menggabungkan tenaga beberapa hewan. Orang Yahudi menggambarkan hidup dalam ketaatan kepada Hukum Taurat sebagai kuk yang harus dipikul. Pada zaman Yesus, orang Farisi membuat beban itu semakin berat dengan menambahkan persyaratan dan peraturan buatan manusia di atas hukum Musa (Matius 23:4). Di zaman sekarang, ada orang Kristen yang percaya bahwa mereka masih harus melakukan ini dan itu untuk bisa diselamatkan.

Yesus telah menyatakan bahwa Ia mengenal Allah Bapa dan bahwa Ia dapat menyatakan Allah kepada siapa pun yang Ia pilih. Kemudian Ia mengundang para pendengar-Nya untuk datang kepada-Nya dan memikul kuk-Nya, untuk sepenuhnya menyerahkan diri mereka kepada-Nya dan menempatkan diri mereka di bawah kuasa-Nya. Ia telah menjanjikan kelegaan bagi mereka yang melakukan ini (Matius 11:28). Sekarang Ia menjelaskan lebih lanjut, dengan mengundang kita untuk memikul kuk-Nya. Apa arti dari pernyataan Yesus ini?

Jika kita membiarkan Yesus memikul kuk-Nya sendiri atas kita, itu seperti seorang petani memasang kuk atas ternaknya. Berbeda dengan kuk yang dipasang manusia, ini berarti memberi Yesus kendali dan membiarkan Dia mengarahkan hidup kita. Pekerjaan yang Ia lakukan tidak akan sulit, kata Yesus. Ia ingin kita belajar dari-Nya. Tidak seperti orang Farisi yang sombong dan memaksa orang Yahudi dengan hukum-hukum mereka, Yesus menegaskan bahwa Ia lemah lembut. Ia rendah hati (Filipi 2:6–7). Ia datang bukan untuk menambah beban mereka, melainkan untuk memberi mereka ketenangan bagi jiwa mereka.

Pernyataan ini berasal dari perspektif yang sama sekali berbeda dari komentar Kristus sebelumnya tentang pintu gerbang yang lebar dan yang sempit. Di sana, Yesus mengatakan bahwa jalan menuju kehidupan itu sempit dan sulit (Matius 7:14). Dalam konteks itu, Yesus berbicara tentang perspeftif masa sekarang: bahwa mengikuti Kristus berarti menghadapi keadaan yang sulit. Ini tentu benar, karena untuk menjadi pengikut Kristus sering kali kita harus mengalami berbagai tantangan hidup dan mau menanggalkan sifat mementingkan diri sendiri. Namun, yang Yesus maksud di sini adalah perspektif tentang kekekalan masa depan. Dibandingkan dengan tugas yang mustahil untuk mendapatkan keselamatan sendiri (Roma 3:20; Galatia 2:16), Yesus menawarkan sesuatu yang jauh lebih “mudah” (Matius 11:30). Jika kita mau menerima karunia-Nya, kita akan diselamatkan. Tidak ada keraguan akan hal ini.

Dengan memberikan komentar ini, Yesus tidak menawarkan kebebasan dari komitmen orang percaya. Kuk-Nya tetaplah kuk: kuk itu tetap disertai tuntutan dari Allah yang kudus. Hidup sebagai umat-Nya bukanlah hidup yang semau kita sendiri, tanpa kewajiban, tugas atau tanggung jawab. Namun, rasul Yohanes kemudian menulis bahwa ketaatan kepada Allah yang kita kasihi tidaklah berat. Itu karena Yesus sudah menanggung beban dosa kita dan memberikan kuasa dalam Roh Kudus untuk melaksanakan kehendak-Nya.

“Setiap orang yang percaya, bahwa Yesus adalah Kristus, lahir dari Allah; dan setiap orang yang mengasihi Dia yang melahirkan, mengasihi juga Dia yang lahir dari pada-Nya. Inilah tandanya, bahwa kita mengasihi anak-anak Allah, yaitu apabila kita mengasihi Allah serta melakukan perintah-perintah-Nya. Sebab inilah kasih kepada Allah, yaitu, bahwa kita menuruti perintah-perintah-Nya. Perintah-perintah-Nya itu tidak berat, sebab semua yang lahir dari Allah, mengalahkan dunia. Dan inilah kemenangan yang mengalahkan dunia: iman kita.” 1Yohanes 5:1-4

Hargai dan gunakan karunia Tuhan

“Hai saudara-saudaraku yang kekasih, kamu senantiasa taat; karena itu tetaplah kerjakan keselamatanmu dengan takut dan gentar, bukan saja seperti waktu aku masih hadir, tetapi terlebih pula sekarang waktu aku tidak hadir, karena Allahlah yang mengerjakan di dalam kamu baik kemauan maupun pekerjaan menurut kerelaan-Nya.” Filipi 2:12-13

Filipi 2:12–18 menjelaskan bagaimana orang Kristen seharusnya hidup, mengingat semua yang Kristus sudah lakukan bagi mereka. Perintah untuk ”mengerjakan” keselamatan adalah arahan untuk membiarkan kelahiran baru di dalam Kristus terwujud dalam tindakan nyata. Sebagai bagian dari ini, orang percaya harus melayani Tuhan tanpa menggerutu atau mengeluh. Paulus tahu bahwa pelayanannya kepada Tuhan tidaklah mudah, tetapi ini hanyalah bentuk persembahan seperti yang lain. Semua orang Kristen diundang untuk melayani dengan cara yang sama tanpa pamrih.

Ayat 12-13 ini beralih dari fokus Paulus pada kerendahan hati Kristus ke kebutuhan orang Kristen untuk menjalankan iman mereka agar dilihat dunia. Ia mencatat peralihannya dengan menggunakan “karena itu,” merujuk kepada para pembacanya sebagai “saudara-saudaraku yang kekasih” atau “orang-orang yang kukasihi”. Paulus juga menggunakan kata-kata ini kepada orang-orang Kristen di Filipi dalam Filipi 4:1. Dalam kedua konteks tersebut, fokusnya adalah untuk menekankan kasihnya kepada para pembacanya sebelum memberi mereka perintah untuk taat.

Paulus mencatat orang-orang Filipi telah dengan setia mengikuti ajarannya baik ketika ia bersama mereka atau tidak. Mengikuti petunjuk guru ketika ia tidak bersama murid-muridnya adalah ujian kesetiaan yang utama, dan orang-orang Kristen di Filipi telah melakukan hal itu. Selama tahun-tahun mereka berpisah, Paulus tetap berhubungan dengan kelompok orang percaya ini. Bab 4 membahas beberapa kali mereka telah mengirimkan sumbangan keuangan kepadanya untuk membantunya dalam pelayanannya.

Paulus juga memberikan perintah menggunakan frasa yang aneh dan sering disalahpahami: “kerjakan keselamatanmu dengan takut dan gentar.” Pernyataan unik ini berbicara tentang ketaatan yang berkelanjutan bagi mereka yang telah diselamatkan. Penting untuk dicatat bahwa Paulus tidak menyuruh mereka untuk mengusahakan (work for) keselamatan mereka. Pernyataan ini menyiratkan perlunya untuk menjalankan (work out) —untuk mempraktikkan, menunjukkan, dan menyatakan—keselamatan yang dimiliki orang percaya di dalam Kristus.

Konsep “takut dan gentar” membahas rasa hormat yang penuh penyembahan kepada Tuhan. Ini bergema kembali ke konteks setiap lutut yang bertekuk di hadapan Tuhan yang disebutkan dalam ayat 10.

Paulus menggambarkan Yesus Kristus sebagai orang yang bersedia untuk rendah hati, dalam ketaatan kepada Allah Bapa. Untuk itu, Allah akan meninggikan nama Yesus di atas semua nama lainnya. Suatu hari nanti, dengan satu atau lain cara, semua orang akan mengakui bahwa Yesus Kristus adalah Tuhan, dan tunduk kepada-Nya. Paulus ingin jemaat Filipi hidup dengan rasa cukup dan bersatu, tanpa mengeluh.

Dalam ayat 12, Paulus memerintahkan orang-orang Kristen di Filipi untuk “mengerjakan keselamatan mereka sendiri,” yang berarti mereka harus mempraktikkan kebenaran kepercayaan mereka. Siapa mereka di dalam Kristus perlu “meyatakan keselamatan” melalui tindakan dan sikap mereka. Alasan untuk perintah ini diberikan di sini dalam ayat 13: Allah sudah melengkapi orang-orang percaya dengan kekuatan dan kesempatan yang tidak boleh diabaikan. Pemahaman ini seharusnya menuntun orang-orang percaya kepada rasa kagum dan penghargaan yang mendalam atas kebesaran Tuhan.

Paulus kemudian menambahkan dua hal di mana Allah bekerja dalam kehidupan orang percaya. Pertama, Allah bekerja di dalam kita untuk “menghendaki” kesenangan-Nya. Ini termasuk gagasan tentang menaruh keinginan atau memimpin orang percaya untuk melayani Tuhan.

Kedua, Allah bekerja di dalam kita “untuk bekerja” demi kesenangan-Nya. Roh Allah di dalam orang percaya memberikan keinginan dan kekuatan untuk hidup bagi Tuhan. “Pekerjaan” muncul sebagai tema umum dalam surat ini (Filipi 1:6; 2:12, 25, 30; 4:3). Gagasan tentang “kerelaan-Nya” melibatkan ketaatan (Filipi 2:12) menurut Roh Allah. Ini bukanlah ketaatan legalistik terhadap hukum yang Paulus bicarakan dalam ajaran-ajaran sesat kelompok sunat, melainkan ketaatan yang didasarkan pada kasih kepada Allah berdasarkan Roh yang hidup di dalam orang percaya yang mau mendengar bimbingan Roh Kudus dan tidak mendukakan–Nya.

Pagi ini Paulus melanjutkan nasihatnya kepada kita:

“Lakukanlah segala sesuatu dengan tidak bersungut-sungut dan berbantah-bantahan, supaya kamu tiada beraib dan tiada bernoda, sebagai anak-anak Allah yang tidak bercela di tengah-tengah angkatan yang bengkok hatinya dan yang sesat ini, sehingga kamu bercahaya di antara mereka seperti bintang-bintang di dunia” Filipi 2: 14-15

Biarpun berbeda, kita hidup dalam satu iman

“Hendaklah kamu selalu rendah hati, lemah lembut, dan sabar. Tunjukkanlah kasihmu dalam hal saling membantu. Dan berusahalah memelihara kesatuan Roh oleh ikatan damai sejahtera: satu tubuh, dan satu Roh, sebagaimana kamu telah dipanggil kepada satu pengharapan yang terkandung dalam panggilanmu, satu Tuhan, satu iman, satu baptisan, satu Allah dan Bapa dari semua, Allah yang di atas semua dan oleh semua dan di dalam semua.Tetapi kepada kita masing-masing telah dianugerahkan kasih karunia menurut ukuran pemberian Kristus.” Efesus 4:2-7

Efesus 4:1–10 adalah uraian Paulus yang meyakinkan tentang kesatuan Kristen. Efesus 2:11–22 memberikan bagian yang panjang yang difokuskan pada tema persatuan antara orang Yahudi dan orang bukan Yahudi di dalam Kristus. Keharmonisan semacam ini telah menjadi fokus di seluruh surat Paulus dan akan kembali lagi di ayat 13.

Paulus sering berbicara tentang orang Kristen sebagai “bersama” (Efesus 2:5, 21, 22), karena tubuh adalah satu kesatuan yang terbuat dari anggota yang terpisah. Setiap orang Kristen yang sudah diselamatkan, sudah diselamatkan oleh iman yang sama kepada Allah yang sama. Oleh karena itu, setiap orang Kristen adalah bagian dari satu keluarga universal orang percaya kepada Yesus Kristus. Pada saat yang sama, Allah memberikan karunia yang berbeda kepada setiap orang, sehingga mereka dapat menjalankan banyak peran yang dibutuhkan untuk mencapai tujuan-Nya di bumi ini. Daripada khawatir tentang karunia apa yang mungkin tidak kita miliki, dan daripada menuduh orang lain tidak mempunyai karunia sebaik karunia kita, setiap orang Kristen dapat bersukacita dalam kesatuan kita, dan berfokus untuk melayani Allah dengan kemampuan terbaik kita.

Memahami kasih karunia yang menyelamatkan dengan sungguh-sungguh, seperti yang dijelaskan Paulus dalam bab-bab sebelumnya, adalah motivasi pertama orang Kristen untuk menjalani kehidupan yang saleh. Di sini, Paulus mendorong orang percaya untuk hidup dengan cara yang menghormati karunia itu. Semua orang Kristen yang diselamatkan adalah bagian dari satu keluarga yang bersatu, bagian dari ”tubuh” Kristus. Pada saat yang sama, setiap orang percaya diberi talenta yang berbeda. Beberapa dipanggil untuk menduduki posisi kepemimpinan dan otoritas, dan karena itu dituntut tanggung jawab yang lebih besar untuk bisa mengajarkan cara hidup ini dan menunjukkan bagaimana pelaksanaannya. Walaupun demikian, setiap orang Kristen dituntut untuk bertanggung jawab atas karunia Tuhan yang sudah diberikan kepadanya.

Tidak dapat di abaikan bahwa dengan karunia Tuhan semua orang Kristen diharuskan untuk berpaling dari ”manusia lama” yang kita miliki sebelum diselamatkan. Penjelasan Paulus tentang ”manusia baru” mencakup beberapa langkah dasar dan praktis. Ayat 2 memberikan empat penerapan khusus tentang bagaimana iman Kristen harus diterjemahkan ke dalam perilaku Kristen yang dapat mendukung perbuatan baik kita kepada sesama dan yang memuliakan nama Tuhan. Sifat-sifat tersebut adalah kerendahan hati, kelembutan, kesabaran, dan kasih. Sifat-sifat ini dianjurkan sebagai cara untuk hidup layak atas panggilan yang telah diberikan Allah kepada kita.

Hidup dengan cara yang sesuai dengan panggilan Kristus (Efesus 4:1) mencakup empat sifat yang dijelaskan dalam ayat ini. Pertama, jemaat Efesus—dan semua orang Kristen—harus hidup dalam kerendahan hati. Kristus memanggil orang lain untuk hidup dengan kerendahan hati seperti anak kecil (Matius 18:4) dan mengajarkan, “Dan barangsiapa meninggikan diri, ia akan direndahkan dan barangsiapa merendahkan diri, ia akan ditinggikan.” (Matius 23:12). Yesus lahir di palungan yang sederhana, tumbuh dalam lingkungan yang sederhana, menjalani kehidupan yang sederhana, tetapi memiliki dampak yang luar biasa. Para pengikut Kristus juga harus bertindak dalam kerendahan hati.

Kedua, orang percaya harus hidup dengan kelembutan. Menjadi lembut adalah bagian dari buah Roh (Galatia 5:23) dan penting dalam kehidupan setiap orang percaya. Sifat ini tidak hanya membantu menghindari konflik yang tidak perlu, tetapi juga menunjukkan kasih yang seharusnya kita tunjukkan setiap saat (Yohanes 13:34–35).

Ketiga, orang percaya harus menunjukkan kesabaran. Kesabaran adalah bagian lain dari buah Roh (Galatia 5:22) dan juga suatu keharusan jika kita ingin menunjukkan kasih kepada orang lain. Di tempat lain, Paulus mengingatkan orang percaya bahwa “kasih itu sabar” (1 Korintus 13:4).

Keempat, orang percaya harus hidup dengan kasih terhadap satu sama lain. Paulus telah menyebutkan hal ini dalam Efesus dan surat-surat lainnya, khususnya dalam 1 Korintus 13 di mana “karunia Allah yang terbesar adalah kasih.” Khususnya sebagaimana digunakan dalam Perjanjian Baru, “kasih” bukan sekadar perasaan atau emosi. Itu berarti melakukan tindakan yang menguntungkan orang lain. Perasaan yang tidak menghasilkan tindakan bukanlah “kasih” yang alkitabiah dan nyata.

Kesatuan ini juga harus terjadi “dalam ikatan damai sejahtera”. Damai adalah tema lain yang disebutkan Paulus beberapa kali dalam surat ini (Efesus 1:2; 2:14, 15, 17; 6:15, 23). Kristus adalah kedamaian kita, Dia menciptakan kedamaian, memberitakan kedamaian, memberikan kesatuan dalam kedamaian, dan menawarkan Injil kedamaian. Kedamaian adalah bagian dari buah Roh (Galatia 5:22) dan penting bagi setiap orang percaya (Roma 5:1). Mereka yang gemar untuk bertengkar dengan orang seiman adalah bukan orang Kristen sejati, tetapi mungkin adalah utusan iblis yang berusaha memecah belah kesatuan tubuh Kristus,

Pagi ini, kita harus sadar bahwa memahami besarnya kasih karunia yang menyelamatkan dengan sungguh-sungguh, seperti yang dijelaskan Paulus dalam bab-bab sebelumnya, adalah motivasi pertama orang Kristen untuk menjalani kehidupan yang saleh. Orang Kristen yang segan berusaha untuk hidup baik adalah orang yang kurang menghargai pengurbanan Kristus bagi semua umat-Nya. Di sini, Paulus mendorong orang percaya untuk hidup dengan cara yang menghargai karunia itu dengan rajin berbuat baik satu kepada yang lain. Semua orang Kristen yang diselamatkan adalah bagian dari satu keluarga yang bersatu, bagian dari ”tubuh” Kristus. Orang Kristen yang sejati adalah orang yang menghargai karya penebusan Kristus bagi setiap orang Kristen yang sudah diselamatkan kepada Allah Tritunggal yang sama, terlepas dari bakat atau keterampilan mereka, denominasi gereja mereka, status, suku atau ras mereka, baik pria atau wanita.

Kemudaan bukan berarti aib

“Jangan seorangpun menganggap engkau rendah karena engkau muda. Jadilah teladan bagi orang-orang percaya, dalam perkataanmu, dalam tingkah lakumu, dalam kasihmu, dalam kesetiaanmu dan dalam kesucianmu.” 1 Timotius 4:12

Ayat penting ini sering dikutip kepada pelayanan pemuda dan pemimpin muda. Meskipun Timotius kemungkinan berusia awal 30-an ketika surat ini ditulis, kata-kata itu berlaku bagi setiap pemimpin gereja, bahkan setiap orang Kristen tanpa memandang usia. Timotius tidak boleh membiarkan siapa pun memandang rendah dirinya karena usianya. Kita tidak boleh mengabaikan ayat ini karena setiap orang percaya diberi kemampuan dan kesempatan untuk memimpin orang seiman.

Sepanjang sejarah manusia, ada kecenderungan generasi yang lebih tua untuk mengabaikan guru yang lebih muda, hanya karena mereka masih muda. Untuk melawan hal ini, pengaruh seorang pemimpin muda harus datang melalui teladannya. Selain itu, di antara kaum muda, ada kecenderungan untuk menuduh sesama teman sebagai orang yang “sok alim” jika mereka selalu berusaha menghindari hal yang buruk. Selain itu, ada orang-orang yang gemar menuduh orang lain “munafik” karena mereka sering mengajarkan pentingnya hidup baik. Dalam konteks khusus ini, “teladan” adalah yang diberikan orang Kristen kepada orang Kristen lainnya, bukan untuk orang yang tidak percaya. Meskipun keduanya penting (Matius 5:16), Paulus berfokus pada hubungan anggota gereja dalam ayat ini.

Ayat-ayat dalam 1 Timotius 4:11–16 berfokus pada perilaku pribadi Timotius sendiri sebagai pemimpin gereja Kristen. Paulus menekankan gagasan-gagasan seperti kegigihan, keyakinan, dan ketekunan. Yang paling penting adalah bahwa Timotius hidup sebagai teladan bagi orang percaya lainnya. Di antara penangkal paling ampuh terhadap ajaran sesat adalah hasil positif dalam hidup yang dapat diperoleh dari kebenaran rohani. Selain mengajarkan kebenaran, Timotius harus menjalaninya. Dengan mengabdikan dirinya pada prinsip-prinsip ini, Paulus meyakinkan Timotius bahwa ia dapat menjadi pengaruh positif yang kuat bagi pengikut Kristus.

Paulus memberikan lima bidang khusus di mana Timotius (dan kita semua) harus menjadi teladan. Pertama adalah perkataannya. Kedua tindakannya, yang harus mencerminkan teladan kesalehan. Ketiga, kasihnya harus menjadi teladan (1 Timotius 1:5, 14; 2:15). Keempat, Timotius harus menjadi teladan dalam iman. Hal ini serupa dengan 1 Timotius 1:5 di mana Paulus berkata, “Tujuan tugas kita ialah kasih yang timbul dari hati yang suci, hati nurani yang murni, dan iman yang tulus ikhlas”. Kelima, teladan Timotius adalah mencakup “kemurniannya,” baik secara fisik dalam perilakunya di sekitar wanita muda (1 Timotius 5:2) maupun dalam kerohaniannya (1 Timotius 5:22).

Perkataan kepada Timotius juga merupakan dorongan bagi semua orang percaya yang lebih muda di mana pun. Wajar bagi orang untuk memandang rendah generasi muda hanya karena mereka masih muda dan belum berpengalaman. Paulus mengatakan bahwa orang muda dapat melawan kecenderungan itu pada orang yang lebih tua dengan memperhatikan karakter mereka sendiri. Seorang Kristen muda dapat dan harus menjadi teladan bagi orang lain dan mengarahkan mereka kepada Tuhan. Dengan cara itu, tidak seorang pun akan “meremehkan” masa muda mereka.

Perintah Paulus kepada Timotius, “Jangan seorang pun menganggap rendah kamu karena kemudaanmu,” diikuti dengan instruksi lebih lanjut untuk mencegah sikap seperti itu di gereja. Meremehkan berarti menunjukkan penghinaan, mencemooh, atau mengabaikan. Timotius dapat menghindari penghinaan dengan menjadi teladan bagi orang lain dalam perkataan, perilaku, kasih, semangat, iman, dan kemurniannya serta dengan mengabdikan dirinya untuk membaca Kitab Suci di depan umum, menasihati, dan mengajar (1 Timotius 4:13). Semua orang Kristen, khususnya orang Kristen muda dalam hidup baru, tetap memiliki panggilan yang sama.

Orang Kristen harus hidup sedemikian rupa sehingga mereka tidak diremehkan sebagai orang yang belum dewasa, naif, atau emosional. Kita dapat mencegah penghinaan tersebut dengan menjadi teladan dalam segala hal dan melakukan apa yang baik: “dan jadikanlah dirimu sendiri suatu teladan dalam berbuat baik. Hendaklah engkau jujur dan bersungguh-sungguh dalam pengajaranmu, sehat dan tidak bercela dalam pemberitaanmu sehingga lawan menjadi malu, karena tidak ada hal-hal buruk yang dapat mereka sebarkan tentang kita.” (Titus 2:7–8).

Ada pemimpin Kristen yang mengajarkan bahwa sebagai orang pilihan kita seharusnya makin lama makin sadar akan ketidakmampuan kita untuk hidup sesuai dengan kehendak Allah. Ini bukanlah apa yang diajarkan Paulus kepada Timotius. Justru karena kita adalah orang piilihan Tuhan, cara hidup dan perilaku kita penting untuk dijaga sekuat tenaga. Dalam hal ini ada dua kemungkinan: apa yang kita lakukan dan katakan bisa mencerminkan Kristus dengan baik kepada dunia, atau cara hidup kita salah menggambarkan kesucian Kristus dan menodai nama-Nya. Terlepas dari tahap kehidupan rohani kita, tujuan kita seharusnya adalah untuk “jangan biarkan seorang pun meremehkan kemudaanmu.” Jangan biarkan orang lain meremehkan kesungguhan usaha kita dalam menjadi pengikut-Nya. Jika kita mundur atau segan untuk berbuat baik untuk kemuliaan Tuhan, hanya iblislah yang akan senang.

Sebagai bagian dari pencegahan terhadap orang-orang yang meremehkan masa mudanya, Timotius juga dinasihati untuk mengabdikan dirinya dalam kegiatan rohani di gereja (1 Timotius 4:13). Firman Allah mengubah kita, menguduskan kita, dan memberi kita kesempatan untuk melihat dan mengenal Allah. Dengan berfokus pada disiplin-disiplin ini dan bertumbuh dalam karakter yang saleh, Timotius akan menjadi pengaruh yang kuat bagi Kristus. Tidak seorang pun akan memandang pelayanannya dan meremehkan masa mudanya. Timotius akan mengalami kemajuan dalam kedewasaan rohani dan menjadi garam dan terang yang Allah panggil untuk menjadi dirinya (lihat Matius 5:13-15).

Pagi ini, firman Tuhan mengingatkan kita bahwa di saat banyak orang Kristen tampaknya mulai meninggalkan pengertian dan pelaksanaan yang benar atas firman Tuhan, kita dapat tetap bersemangat untuk bersinar terang bagi Kristus dan menjadi teladan bagi semua orang percaya, tanpa memandang usia. Masa muda secara jasmani maupun rohani tidak perlu menjadi aib. Dengan pertolongan Roh Kudus, karakter dan prioritas hidup seorang Kristen muda (muda usia atau baru menjadi Kristen) pasti dapat mengarahkan orang lain kepada keselamatan yang ditawarkan Kristus. Cara terbaik untuk “Jangan seorangpun menganggap engkau rendah karena engkau muda” adalah dengan “hendaknya terangmu bercahaya di depan orang, supaya mereka melihat perbuatanmu yang baik dan memuliakan Bapamu yang di sorga.” (Matius 5:16).

Hal menghindari kehancuran masyarakat

“Basuhlah, bersihkanlah dirimu, jauhkanlah perbuatan-perbuatanmu yang jahat dari depan mata-Ku. Berhentilah berbuat jahat, belajarlah berbuat baik; usahakanlah keadilan, kendalikanlah orang kejam; belalah hak anak-anak yatim, perjuangkanlah perkara janda-janda!” Yesaya 1:16-17

Apakah kitab Perjanjian Lama masih relevan untuk orang Kristen di zaman ini? Sebagian orang Kristen mungkin menganggap bahwa itu kurang relevan karena hubungan Tuhan dan umat pilihan-Nya, umat Israel, adalah berbeda dengan hubungan-Nya dengan umat pilihan-Nya sesudah Yesus datang ke dunia. Itu memang ada benarnya, karena sebelum Yesus datang ke dunia, Allah secara khusus membimbing kehidupan bani Israel melalui perintah-Nya yang disampaikan kepada para nabi guna mewujudkan rencana penyelamatan umat manusia. Sesudah Yesus datang, bimbingan Tuhan sekarang dinyatakan secara langsung kepada setiap umat-Nya melalui Alkitab dengan pencerahan dari Roh Kudus. Walaupun demikian satu perintah yang sama dari dulu sampai sekarang bagi semua orang yang dipanggil Allah untuk menjadi umat-Nya adalah agar kita hidup sebagai umat Tuhan yang berbeda dari orang lain, dengan menghindari dosa dengan sepenuh tenaga.

”Berbicaralah kepada segenap jemaah Israel dan katakan kepada mereka: Kuduslah kamu, sebab Aku, TUHAN, Allahmu, kudus.” Imamat 19:2

“Hiduplah sebagai anak-anak yang taat dan jangan turuti hawa nafsu yang menguasai kamu pada waktu kebodohanmu, tetapi hendaklah kamu menjadi kudus di dalam seluruh hidupmu sama seperti Dia yang kudus, yang telah memanggil kamu, sebab ada tertulis: Kuduslah kamu, sebab Aku kudus.” 1 Petrus 1: 14-16

Yesaya 1:2-20 memulai presentasi yang agak seperti gugatan terhadap orang-orang Yehuda di Israel. Tuhan akan menunjukkan banyak cara mereka melanggar perjanjian dengan-Nya. Umat itu dipenuhi dengan dosa. Mereka telah meninggalkan-Nya. Yesaya menggambarkan penyakit rohani yang tidak mau diobati oleh Israel. Penyakit itu akan menyebabkan kehancuran fisik bangsa Israel oleh para bangsa penjajah dan musuh. Persembahan mereka tidak ada artinya karena pemberontakan mereka yang hidup dalam dosa. Tuhan memanggil mereka untuk berhenti berbuat dosa dan berbuat baik. Dia menawarkan untuk membuat dosa-dosa mereka seputih salju jika mereka bertobat dan untuk menghancurkannya jika mereka memberontak.

‘Marilah, baiklah kita beperkara! – firman TUHAN – Sekalipun dosamu merah seperti kirmizi, akan menjadi putih seperti salju; sekalipun berwarna merah seperti kain kesumba, akan menjadi putih seperti bulu domba. Jika kamu menurut dan mau mendengar, maka kamu akan memakan hasil baik dari negeri itu. Tetapi jika kamu melawan dan memberontak, maka kamu akan dimakan oleh pedang.”
Yesaya 1:18-20

Di zaman sekarang, kita mungkin sering mendengar Yesaya 1:18 tentang janji Tuhan tentang pengampunan dosa yang bisa membuat dosa semerah apa pun bisa menjadi putih seperti salju, tetapi kita jarang mendengar Yesaya 1:20 yang merupakan ancaman Tuhan kepada umat-Nya yang berani melawan dan memberontak. Mengapa demikian? Mungkin karena sebagian orang Kristen menganggap bahwa dalam penebusan Kristus keselamatan kita sudah terjamin dan tidak ada hukuman yang akan dijatuhkan kepada umat-Nya. Ini sudah tentu pandangan yang keliru, karena sekalipun kita akan bebas dari hukuman kebinasaan yang kekal, kita dan bahkan bangsa kita masih bisa mendapatkan hukuman selama hidup di dunia.

Setelah mengidentifikasi dirinya sebagai putra Amos, Yesaya memulai penglihatannya dari Tuhan dengan memperkenalkan gugatan Allah terhadap umat Israel. Anak-anaknya hidup dalam pemberontakan terhadap-Nya. Mereka dipenuhi dengan dosa dan telah meninggalkan Tuhan. Penyakit rohani mereka akan menyebabkan kehancuran mereka, meskipun beberapa akan diselamatkan. Persembahan mereka tidak ada artinya karena gaya hidup mereka yang berdosa. Jika mereka bertobat sekarang, mereka akan ditebus. Jika tidak, mereka akan dihancurkan. Tuhan akan menerapkan keadilan-Nya bagi Yerusalem yang dulunya taat: semua yang tidak bertobat akan dihancurkan.

Tuhan mengubah haluan dari memberi tahu orang-orang Yehuda tentang kegagalan mereka menjadi memberi tahu mereka cara untuk mulai berubah. Keadaan hati, pikiran, dan tindakan mereka yang berdosa begitu ekstrem sehingga semua persembahan dan ketaatan agama mereka menjadi tidak berarti (Yesaya 1:11-15). Bahkan, persembahan dan ketaatan agama mereka lebih buruk daripada tidak berarti karena Allah menerimanya sebagai beban. (Yesaya 1:14)

Untuk membuat hubungan mereka dengan Allah bisa bermakna lagi, bani Israel harus membuat perubahan yang nyata. Ini adalah tugas mereka, bukan tugas Tuhan. Tuhan memberi tahu mereka untuk membasuh diri dan membersihkan diri. Dia tidak berbicara tentang pembasuhan seremonial atau lebih banyak persembahan dan korban. Allah ingin agar umat-Nya menjadi bersih dengan berhenti melakukan kejahatan. Dia melihat perbuatan jahat mereka. Satu-satunya cara agar Dia tidak melihat mereka adalah dengan berhenti melakukannya. Ini adalah langkah pertama untuk mengubah cara Allah memandang mereka dan memungkinkan hubungan yang dekat dengan-Nya.

Tuhan memberi tahu orang-orang Yehuda bagaimana cara berubah, bagaimana memulihkan hubungan mereka dengan-Nya. Dia telah menggambarkan mereka sebagai bangsa yang berdosa dan penuh dengan kejahatan (Yesaya 1:4). Dia telah menyebut pengorbanan dan persembahan mereka serta pertemuan keagamaan tidak berarti (Yesaya 1:13) karena gaya hidup mereka menyenangi dosa.

Tuhan memberi tahu mereka bagaimana cara belajar berbuat baik. Mereka harus membersihkan diri dengan menghentikan praktik-praktik jahat mereka. Bentuk kebaikan diungkapkan dalam ayat ini sebagai kebaikan yang selalu diinginkan Tuhan dari setiap orang dalam komunitas dari segala zaman: Berilah keadilan bagi mereka yang dizalimi, terutama mereka yang tidak dapat berjuang sendiri, serta campur tangan untuk menghentikan penindasan yang tidak berdaya oleh yang berkuasa.

Keadaan alami setiap kelompok masyarakat sampai saat ini adalah orang yang kaya menjadi lebih kaya dan mengambil keuntungan dari orang miskin dan yang tidak berdaya untuk keuntungan mereka sendiri. Sifat manusia yang rusak dari dulu seperti itu, dan makin parah di zaman ini. Keadilan sosial mengharuskan masyarakat untuk bertindak bersama-sama untuk menghentikan siklus ini dan meminta pertanggungjawaban dari yang berkuasa atas kesalahan sambil membela mereka yang tidak memiliki sumber daya untuk membela diri mereka sendiri. Umat ​​pilihan Allah, Israel, dan semua umat Kristen, harus mempraktikkan kebaikan ini. Di sinilah perlunya kita belajar humanisme Kristen yang didasarkan pada – dan membela – martabat dan nilai setiap orang karena kita diciptakan menurut gambar dan rupa Allah.

Yesaya telah membandingkan orang-orang Yehuda dengan orang-orang di Sodom dan Gomora (Yesaya 1:9-10). Ia ingin mereka menjauh dari jalan yang mengarah pada kehancuran serupa. Percabulan dan kekerasan seksual Sodom bukanlah satu-satunya dosa mereka. Suatu budaya dapat rusak dalam banyak hal; semua kejahatan berarti penolakan terhadap hukum dan firman Allah. Bagian Alkitab lainnya mencatat bahwa kota-kota yang dihancurkan dalam Kejadian pasal 19 bersalah atas banyak kejahatan lainnya. Penolakan mereka untuk melakukan kebaikan yang disebutkan di sini berkontribusi pada kehancuran mereka oleh Tuhan: “Lihat, inilah kesalahan Sodom, kakakmu yang termuda itu: kecongkakan, makanan yang berlimpah-limpah dan kesenangan hidup ada padanya dan pada anak-anaknya perempuan, tetapi ia tidak menolong orang-orang sengsara dan miskin.” (Yehezkiel 16:49).

Hari ini kita belajar bahwa orang Kristen bukanlah satu individu saja, mereka adalah bani Kristen yang seperti bani Israel diberi kewajiban untuk hidup baik dan memberi kontribusi yang bermanfaat bagi masyarakat di mana mereka hidup. Terlalu sering kita mendengar ajaran bahwa keselamatan dari Kristus adalah bersifat individu; sebaliknya, terlalu jarang kita mendengar bahwa kita harus berbuat baik karena rasa syukur kita atas kasih Allah – agar banyak orang bisa ikut merasakan berkat Tuhan selama mereka hidup di dunia.

Apakah Anda dikenal Allah dan mengenal Dia?

“Tetapi orang yang mengasihi Allah, ia dikenal oleh Allah.” 1 Korintus 8:3

”Jikalau kamu mengasihi Aku, kamu akan menuruti segala perintah-Ku.” Yohanes 14:15

Ada banyak orang Kristen yang percaya bahwa mereka dapat mengenal Allah dengan memelajari firman Tuhan dan untuk itu tentu saja mereka harus belajar dari pendeta dan guru pembimbing. Sebagian orang Kristen mungkin merasa yakin bahwa dengan membaca Alkitab saja mereka akan mengerti apa arti setiap ayatnya. Ini tidak benar. Mereka yang ingin menafsirkan Alkitab dengan usaha sendiri harus memakai buku pembimbing Alkitab dan buku teologi. Alkitab bukan sekadar buku ilmu pengetahuan, tetapi firman Tuhan yang hanya bisa ditafsirkan dengan bimbingan Roh Kudus dan melalui cara belajar yang sistimatik dan komprehensif. Pada pihak lain, pengetahuan manusia tentang Allah tidak menjamin bahwa mereka kenal Allah dan dikenal Allah.

Selain dari itu, ada juga orang Kristen yang merasa dikenal dan mengenal Allah karena yakin sudah dipilih ole Allah sebagai umat-Nya. Bagi mereka keharusan untuk mengasihi Allah dengan segenap hati dan dengan segenap jiwa dan dengan segenap akal budi (Matius 22:37) sering diabaikan karena apa yang paling penting bagi mereka, keselamatan, sudah mereka terima. Mereka merasa mengenal Allah dan dikenal Allah sekalipun kurang mengasihi dan menaati perintah-Nya. Mereka merasa cukup tahu akan Allah yang berdaulat dan rencana-Nya, tetapi tidak sadar bahwa Allah hanya mengenal orang-orang tertentu.

Dalam surat mereka sebelumnya kepada Paulus (1 Korintus 7:1), jemaat Korintus tampaknya telah mengangkat isu memakan makanan yang dipersembahkan kepada berhala. Mungkin mereka menantang ajaran Paulus sebelumnya tentang hal itu dengan mengatakan bahwa “kita semua memiliki pengetahuan.” Paulus telah menunjukkan dua masalah dengan pengetahuan. Pertama, pengetahuan saja hanya menciptakan kesombongan, sementara kasih membangun orang (1 Korintus 8:1). Kedua, hanya karena seseorang percaya bahwa mereka tahu tidak berarti mereka benar-benar tahu (1 Korintus 8:2).

Pengetahuan tentang Allah seharusnya membuat umat Tuhan menyadari pentingnya kasih. Paulus menyatakan bahwa kasih adalah yang benar-benar penting, terutama ketika kasih itu ditujukan kepada Allah. Di sini sekali lagi, ia menggunakan akar kata Yunani agapao, yang merujuk pada kasih yang tidak mementingkan diri sendiri dan penuh pengorbanan.

Memang lebih baik daripada memiliki pengetahuan tentang Allah adalah dikenal oleh-Nya. Mereka yang mengasihi-Nya dikenal oleh-Nya. Dikenal oleh Allah, pada gilirannya, berarti bahwa kita adalah milik-Nya. Mereka yang milik Tuhan, Paulus akhirnya akan menunjukkan, harus sepenuhnya memisahkan diri dari setan, kekuatan sesungguhnya di balik penyembahan berhala dan dewa-dewa (1 Korintus 10:20–21). Untuk kita di zaman sekarang, itu berarti pemisahan diri kita dari cara hidup yang tidak membawa kemuliaan bagi Tuhan.

Pada malam sebelum penyaliban-Nya, Yesus Kristus memberikan pengajaran pribadi yang panjang kepada para murid-Nya. Wacana di ruang atas ini terjadi tepat setelah pengumuman Tuhan bahwa salah satu murid akan mengkhianati-Nya dan Yudas meninggalkan ruangan. Sebagai bagian dari instruksi tersebut, Yesus berkata, “Jikalau kamu mengasihi Aku, kamu akan menuruti segala perintah-Ku” (Yohanes 14:15). Makna yang tidak salah lagi dari bagian ini adalah bahwa ketaatan kepada perintah-perintah Kristus merupakan tanda sekaligus ujian kasih kita kepada-Nya. Dengan demikian, ini juga akan memastikan apakah kita dikenal Allah sebagai umat-Nya. Bukan mereka yang tahu banyak tentang Allah adalah umat-Nya, tetapi mereka yang benar-benar mengasihi dan mau taat kepada Allah dalam hidup mereka.

Hubungan antara kasih kepada Kristus dan ketaatan kepada-Nya merupakan tema yang berulang dalam tulisan-tulisan rasul Yohanes: “Inilah tandanya, bahwa kita mengasihi anak-anak Allah, yaitu apabila kita mengasihi Allah serta melakukan perintah-perintah-Nya. Sebab inilah kasih kepada Allah, yaitu, bahwa kita menuruti perintah-perintah-Nya.” (1 Yohanes 5:2-3). Dalam wacana di ruang atas yang sama, Yohanes mengutip perkataan Yesus sekali lagi, “Barangsiapa memegang perintah-Ku dan melakukannya, dialah yang mengasihi Aku. Dan barangsiapa mengasihi Aku, ia akan dikasihi oleh Bapa-Ku dan Aku pun akan mengasihi dia dan akan menyatakan diri-Ku kepadanya.”” (Yohanes 14:21).

“Kamu adalah sahabat-Ku, jikalau kamu berbuat apa yang Kuperintahkan kepadamu. Aku tidak menyebut kamu lagi hamba, sebab hamba tidak tahu, apa yang diperbuat oleh tuannya, tetapi Aku menyebut kamu sahabat, karena Aku telah memberitahukan kepada kamu segala sesuatu yang telah Kudengar dari Bapa-Ku.” Yohanes 15:14

Apa yang Yesus maksud ketika Ia berkata, “memegang perintah-Ku?” Apakah Yesus mengacu pada menaati daftar aturan dan hukum seperti Sepuluh Perintah Allah, atau apakah Ia memiliki maksud lain? Kata-kata yang Yohanes gunakan dalam bahasa aslinya tidak hanya dipahami sebagai menaati serangkaian instruksi moral, tetapi lebih dari itu. “Perintah-perintah” ini mencakup semua perkataan dan ajaran Yesus, yang sebenarnya adalah perkataan Allah Bapa: Jawab Yesus: ”Jika seorang mengasihi Aku, ia akan menuruti firman-Ku dan Bapa-Ku akan mengasihi dia dan Kami akan datang kepadanya dan diam bersama-sama dengan dia. Barangsiapa tidak mengasihi Aku, ia tidak menuruti firman-Ku; dan firman yang kamu dengar itu bukanlah dari pada-Ku, melainkan dari Bapa yang mengutus Aku.’” (Yohanes 14:23–24). Hanya mereka yang mengasihi Yesus dan taat kepada firman-Nya dikenal oleh Allah.

Pagi ini, kita harus bersyukur jika kita memiliki kemauan untuk mengasihi Yesus dan menaati perintah-perintah-Nya. Kita sudah diberi teladan oleh Yesus dalam kasih-Nya dan kehidupan-Nya yang taat kepada Bapa (Yohanes 14:31). Menaati perintah-perintah Kristus berarti meniru teladan Yesus (Yohanes 13:15–16). Mengasihi Yesus bukan sekadar perasaan atau pengetahuan; Ini adalah hubungan yang aktif, kekal, dan terus menerus dalam mengikuti dan menaati Guru kita yang pengasih: “Dan inilah tandanya, bahwa kita mengenal Allah, yaitu jikalau kita menuruti perintah-perintah-Nya.” (1 Yohanes 2:3).

Berkat dan karunia bagi umat Kristen

“Lihatlah, aku memperhadapkan kepadamu pada hari ini berkat dan kutuk: berkat, apabila kamu mendengarkan perintah TUHAN, Allahmu, yang kusampaikan kepadamu pada hari ini; dan kutuk, jika kamu tidak mendengarkan perintah TUHAN, Allahmu, dan menyimpang dari jalan yang kuperintahkan kepadamu pada hari ini, dengan mengikuti allah lain yang tidak kamu kenal.” Ulangan 11:26-28

Sering kali, orang menyebut karunia sebagai berkat. Meskipun tidak diragukan lagi bahwa kita diberkati Tuhan dengan karunia keselamatan, karunia (grace) adalah kebaikan yang tidak layak diterima dari Tuhan, sementara berkat (blessing) lebih sering dipahami sebagai “upah” karena kita sudah berusaha tetap setia kepada Tuhan yang berdiam dalam jiwa kita. Sebuah contoh dari Perjanjian Baru misalnya muncul dalam Khotbah di Bukit:

“Berbahagialah kamu, jika karena Anak Manusia orang membenci kamu, dan jika mereka mengucilkan kamu, dan mencela kamu serta menolak namamu sebagai sesuatu yang jahat. Bersukacitalah pada waktu itu dan bergembiralah, sebab sesungguhnya, upahmu besar di sorga; karena secara demikian juga nenek moyang mereka telah memperlakukan para nabi.” Lukas 6:22-23

Berkat Tuhan dimaksudkan untuk mendorong kita untuk terus melakukan tindakan-tindakan baik dalam iman. Berkat dapat berupa berkat rohani yang menumbuhkan kehidupan rohani kita di dunia: pengetahuan, kebijaksanaan, kedamaian, kebahagiaan, ketabahan, dan sebagainya. Berkat jasmani bisa berupa makanan, tempat tinggal, kesehatan, kekuatan, kecukupan, kesuksesan dan sejenisnya. Jika karunia keselamatan diberikan kepada manusia karena keputusan Tuhan dan bukan karena permintaan mereka, mereka yang sudah diselamatkan sadar bahwa Tuhan yang mahapemurah juga memberi berbagai berkat kepada umat-Nya yang memintanya sesuai dengan ketaatan mereka kepada Tuhan.

Bagaimana caranya untuk mendapat berkat Tuhan? Dalam Alkitab, berkat erat kaitannya dengan kasih karunia. Mereka yang telah menerima Yesus sebagai Juruselamat diselamatkan oleh kasih karunia secara cuma-cuma melalui iman (Efesus 2:8-9). Mereka ingin menerima berkat Tuhan selama hidup di dunia. Mereka mengetahui bahwa tanpa iman, mustahil untuk menyenangkan Allah (Ibrani 11:6), tetapi mereka yang memiliki iman yang menyelamatkan kepada Anak Allah dinyatakan benar (Roma 4:5; Filipi 3:9) dan akan berusaha hidup dalam perkenanan Allah. Karena itu, jawaban paling mendasar untuk pertanyaan “bagaimana saya bisa mendapatkan berkat Tuhan” adalah “percaya sepenuhnya kepada Tuhan Yesus.” Ini juga syarat untuk mendapat perkenan ( favour) Allah untuk hidup kita.

Allah mencari mereka yang mengasihi-Nya dan yang mengasihi perintah-perintah-Nya sehingga Ia dapat memberkati, membimbing, dan melindungi mereka (Mazmur 37:23; Amsal 3:5-6). Ini tidak berarti bahwa setiap orang Kristen yang makmur atau sehat telah mendapatkan berkat Allah (Yeremia 12:1; Mazmur 37:7; 73:16). Ini juga tidak berarti bahwa orang yang diperkenan (disenangi) Tuhan, seperti Ayub, tidak akan pernah mengalami kesulitan. Justru dalam kesulitan hidup, umat Tuhan merasakan berkat-Nya yang luar biasa. Banyak tokoh dalam Alkitab yang berkenan kepada Tuhan tetapi juga mengalami kesulitan (2 Korintus 6:4; Kisah Para Rasul 14:22; 20:23; 1 Petrus 2:19). Tokoh-tokoh seperti Nuh (Kejadian 6:8), Musa (Keluaran 32:11; 33:13), Daniel (Daniel 10:19), dan Maria (Lukas 1:28) berkenan kepada Tuhan dan diberkati-Nya, tetapi mereka juga berjuang menghadapi kesulitan seperti orang lain.

Mereka yang berkenan kepada Tuhan tahu bahwa Tuhan menyertai mereka dan bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka (Roma 8:28). Mereka mendengarkan-Nya saat mereka berjalan melalui lembah-lembah yang gelap (Mazmur 34:15) dan tahu bahwa perjuangan mereka untuk tetap setia kepada-Nya tidak akan sia-sia (Matius 10:42; Wahyu 2:10).

Selain bukti-bukti lahiriah, kemurahan hati Tuhan dapat dirasakan dalam roh. Ketika kita memiliki perkenanan Tuhan, kita beristirahat dengan keyakinan yang tenang bahwa dosa-dosa kita diampuni (Roma 4:7), kita berada dalam rencana Allah (Mazmur 86:11), dan bahwa Dia ada untuk kita setiap saat (Yesaya 41:10; Matius 28:20). Ketika kita berjalan dengan Allah seperti dengan teman terdekat kita, kita akan bisa melihat dan menghargai berkat-berkat kecil yang disediakan Allah untuk kenikmatan kita—berkat-berkat yang dulu kita anggap remeh.

Salah satu cara untuk memperoleh berkat dari Tuhan adalah dengan mencari hikmat. Amsal 8:35 mengatakan, “Karena siapa mendapat hikmat, ia mendapat hidup, dan TUHAN berkenan.” Mazmur 5:12 mengatakan, “Sesungguhnya, ya TUHAN, Engkau memberkati orang benar; Engkau melindungi mereka dengan kasih karunia-Mu seperti perisai.” Mendapatkan kasih karunia dari Tuhan menjaga hidup dan pikiran kita tetap murni karena kita lebih ingin menyenangkan-Nya daripada menyenangkan diri kita sendiri. Ibrani 11:25 mengatakan tentang Musa, “Ia lebih suka menderita sengsara dengan umat Allah dari pada untuk sementara menikmati kesenangan dari dosa.” Ketika hal yang sama dapat dikatakan tentang kita, kita tahu bahwa kita telah mendapatkan kasih karunia dari Tuhan. Kesenangan-Nya di dalam kita akan ditunjukkan melalui berkat-Nya, yang diberikan-Nya kepada kita berdasarkan keputusan-Nya dan bukan karena gigihnya doa tuntutan kita.

Malam ini, Tuhan mengundang kita untuk mencari perkenanan-Nya (Mazmur 119:58, 135; 2 Raja-raja 13:4; Yeremia 26:19; Zefanya 2:3). Ketika kita mencari perkenanan-Nya, kita merendahkan hati kita di hadapan-Nya (2 Raja-raja 22:19) karena kita sebenarnya tidak layak di hadapan-Nya. Kita mencari Dia untuk diri-Nya sendiri, bukan hanya untuk berkat-berkat yang Dia berikan (Yeremia 29:13); dan menata hidup kita untuk mengasihi-Nya dengan segenap hati, jiwa, pikiran, dan kekuatan kita (Markus 12:30; Lukas 10:27), bukan untuk mengejar berkat-Nya.

“Tetapi carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya, maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu.” Matius 6:23

Bagaimana rasanya jika Tuhan menolong orang yang kita benci?

“Tetapi hal itu sangat mengesalkan hati Yunus, lalu marahlah ia. Dan berdoalah ia kepada TUHAN, katanya: “Ya TUHAN, bukankah telah kukatakan itu, ketika aku masih di negeriku? Itulah sebabnya, maka aku dahulu melarikan diri ke Tarsis, sebab aku tahu, bahwa Engkaulah Allah yang pengasih dan penyayang, yang panjang sabar dan berlimpah kasih setia serta yang menyesal karena malapetaka yang hendak didatangkan-Nya. Jadi sekarang, ya TUHAN, cabutlah kiranya nyawaku, karena lebih baik aku mati dari pada hidup.” Tetapi firman TUHAN: “Layakkah engkau marah?” Yunus 4:1-4

Kitab Yunus terdiri dari empat pasal. Pasal pertama membahas panggilan Yunus untuk berkhotbah di Niniwe, upayanya untuk melarikan diri dari Tuhan, dan konsekuensi yang diakibatkannya. Tindakan Yunus menggambarkan kesia-siaan pelarian dari Tuhan: pasal ini diakhiri dengan Yunus yang dibuang ke laut dan ditelan ikan besar. Tuhan adalah Tuhan yang berdaulat dan sekalipun manusia bebas untuk memilih tindakannya. ia tidak bisa melawan kehendak Tuhan.

Pasal 2 berisi doa Yunus. Dia berseru kepada Tuhan dalam kesusahannya (Yunus 2:2) saat berada di dalam perut ikan. Tuhan kemudian menjawab doanya, berbicara kepada ikan, dan ikan tersebut memuntahkan Yunus ke daratan (Yunus 2:10).

Pasal 3 menceritakan tentang Yunus yang dengan setia menaati Tuhan untuk berkhotbah di Niniwe. Setelah panggilan kedua ini (Yunus 3:1–2), Yunus patuh dan menyatakan kepada warga Ninewe bahwa kehancuran akan terjadi dalam empat puluh hari. Penduduk Niniwe percaya kepada Tuhan, berpuasa, dan berdukacita sebagai tanggapannya (Yunus 3:5). Raja bahkan mengeluarkan keputusan yang tidak boleh dimakan oleh siapa pun atau hewan, melainkan berdoa memohon belas kasihan Tuhan (Yunus 3:6-9). Ketika mereka melakukannya, Tuhan menunjukkan belas kasihan kepada mereka (Yunus 3:10). Inilah yang bisa terjadi jika manusia menyadari kedudukan mereka di hadapan Tuhan dan mau menyesuaikan kehendak mereka dengan kehendak Tuhan.

Pasal 4 menawarkan tanggapan Yunus terhadap pertobatan Niniwe dan pengampunan Tuhan. Daripada bersukacita, dia malah ingin mati (Yunus 4:3). Yunus kemudian beristirahat di luar kota di bawah tanaman yang telah disediakan Tuhan. Keesokan harinya, tanaman itu hilang dan Yunus sangat marah hingga ingin mati lagi (Yunus 4:8). Tuhan mengingatkan Yunus bahwa penduduk Niniwe jauh lebih penting daripada tanaman yang telah mati. Tuhan memilih untuk berbelas kasihan kepada mereka dan lebih memedulikan mereka daripada Yunus memedulikan tanaman yang menghasilkan keteduhan. Kasih Tuhan jelas ditunjukkan kepada semua orang yang menyambut Dia.

Tuhan menaruh belas kasihan kepada siapa yang dikehendaki-Nya dan Ia menegarkan hati siapa yang dikehendaki-Nya (Roma 9:18). Jadi, tampaknya aneh jika seorang pengkhotbah seperti Yunus marah karena pendengarnya bertobat dari dosa mereka, namun itulah reaksi Yunus terhadap pertobatan orang Niniwe. Yunus 4:2 memberi tahu kita alasannya. Yunus berdoa kepada Tuhan , katanya: ”Ya Tuhan , bukankah telah kukatakan itu, ketika aku masih di negeriku? Itulah sebabnya, maka aku dahulu melarikan diri ke Tarsis, sebab aku tahu, bahwa Engkaulah Allah yang pengasih dan penyayang, yang panjang sabar dan berlimpah kasih setia serta yang menyesal karena malapetaka yang hendak didatangkan-Nya.” Yunus tahu sejak awal bahwa Tuhan itu pengasih dan penyayang. Ia menyadari bahwa jika penduduk Niniwe bertobat, Tuhan akan mengampuni mereka. Yunus marah atas pertobatan mereka karena dia lebih suka melihat Niniwe dihancurkan!

Di zaman ini, masih banyak pemimpin gereja dan orang Kristen yang seperti Yunus. Mereka memusuhi orang-orang yang tidak sepaham dengan mereka dan menyatakan bahwa mereka adalah orang-orang yang sesat yang ditakdirlan untuk ke neraka. Apa yang seharusnya diberitakan kepada orang lain adalah kabar baik dan kabar kasih tentang Tuhan yang mau mengampuni semua orang yang mau bertobat dan percaya kepada-Nya. Tetapi, dalam kenyataannya sikap orang-orang Kristen seperti itu kebanyakan menunjukkan kebencian mereka kepada orang lain yang tidak sefaham dengan mereka.

Mengapa ada orang Kristen yang mengharapkan Tuhan menunjukkan kedaulatan-Nya dan bukan kasih-Nya? Kita dapat belajar dari kasus Yunus. Ada beberapa kemungkinan alasan Yunus ingin melihat Niniwe dihancurkan. Pertama, Niniwe adalah ibu kota Asyur, bangsa yang kejam dan suka berperang yang merupakan musuh Israel. Kehancuran Niniwe bisa dilihat sebagai kemenangan bagi Israel. Kedua, Yunus mungkin ingin melihat kejatuhan Niniwe untuk memuaskan rasa keadilannya. Bagaimanapun, Niniwe layak menerima penghakiman Tuhan. Ketiga, tidak adanya penghakiman oleh Allah atas Niniwe dapat membuat perkataan Yunus tampak tidak benar, karena ia telah meramalkan kehancuran kota tersebut.

Kita juga dapat belajar untuk menolak contoh negatif dari Yunus yang tidak memuji Tuhan atas kebaikan-Nya.

Pertama, Tuhan kita adalah Tuhan yang penuh belas kasihan, bersedia mengampuni semua orang yang bertobat (lihat 2 Petrus 3:9). Penduduk Niniwe adalah bangsa bukan Yahudi, namun Tuhan tetap memberikan keselamatan-Nya kepada mereka. Dalam kebaikan-Nya, Tuhan memperingatkan bangsa Asyur sebelum mengirimkan penghakiman, memberi mereka kesempatan untuk bertobat.

Kedua, Tuhan peduli terhadap manusia di setiap bangsa. Dia, pada dasarnya, adalah Juruselamat. Seperti yang diungkapkan Lukas 15 dalam perumpamaan tentang domba yang hilang, dirham yang hilang, dan anak yang hilang, hati Tuhan adalah untuk penebusan semua orang yang mau datang kepada-Nya. Lebih lanjut, Amanat Agung dalam Matius 28:18-20 menekankan panggilan Allah untuk menyampaikan pesan “kabar baik” Allah kepada semua bangsa. Roma 1:16 juga menekankan pentingnya memberitakan Injil baik kepada orang Yahudi maupun non-Yahudi.

Ketiga, Tuhan prihatin terhadap mereka yang belum pernah mendengar pesan keselamatan-Nya. Penyebutan “lebih dari 120.000 orang yang tidak dapat membedakan tangan kanan dan kirinya” (Yunus 4:11) kemungkinan besar merujuk pada mereka yang tidak mengetahui apa pun tentang kebenaran rohani. Mengenai hal-hal tentang Tuhan, mereka tidak bisa membedakan atas dari bawah atau kanan dari kiri. Tuhan kasihan pada kebutaan rohani orang-orang kafir. Tuhan ingin memperluas keselamatan-Nya kepada semua orang yang mau bertobat dan berpaling kepada-Nya.

Bagaimana sikap kita terhadap orang-orang yang tidak kita sukai? Mungkin kita menganggap mereka sebagai musuh kita, musuh golongan kita. Karena itu kita mungin merasa berhak untuk membenci mereka, seperti Tuhan membenci mereka (dalam bayangan kita). Tetapi ini adalah kesalahan total! Tuhan mengasihi segala bangsa, dan karena itu kita harus mengasihi sesama kita.

Hanya Tuhan yang tahu siapakah manusia yang diselamatkan di antara semua orang yang sudah diberkati-Nya dengan berbagai apa yang baik di dunia. Kita harus bersyukur jika ada orang yang takut akan Tuhan sekalipun mereka nampaknya adalah orang-orang yang patut dihukum Tuhan. Tuhan yang berdaulat berhak memutuskan siapa yang diselamatkan-Nya dan kita harus menerima semua keputusan-Nya dengan sukacita sebab kita sudah diselamatkan bukan karena kita orang yang benar.

“Kamu telah mendengar firman: Kasihilah sesamamu manusia dan bencilah musuhmu. Tetapi Aku berkata kepadamu: Kasihilah musuhmu dan berdoalah bagi mereka yang menganiaya kamu. Karena dengan demikianlah kamu menjadi anak-anak Bapamu yang di sorga, yang menerbitkan matahari bagi orang yang jahat dan orang yang baik dan menurunkan hujan bagi orang yang benar dan orang yang tidak benar.” Matius 5:43-45