Berserah kepada Tuhan menuntut kerendahan hati

“Karena itu rendahkanlah dirimu di bawah tangan Tuhan yang kuat, supaya kamu ditinggikan-Nya pada waktunya. Serahkanlah segala kekuatiranmu kepada-Nya, sebab Ia yang memelihara kamu.” 1 Petrus 5:6-7

Dalam pemakaian sehari-hari, pemakaian istilah “rendah hati” dan “rendah diri” sering tertukar. Berdasarkan Kamus Besar Bahasa Indonesia, “rendah hati” dan “rendah diri” memiliki arti yang berbeda. Kata “rendah diri” memiliki arti merasa dirinya kurang; sedangkan “rendah hati” memiliki arti tidak sombong atau tidak angkuh. Istilah “rendah hati” mengarah pada konsep kerendahan hati (humility), sedangkan “rendah diri” merujuk pada konsep penghargaan diri yang rendah (low self-esteem). Berdasarkan makna kata tersebut, “rendah diri” memiliki nuansa negatif, sedangkan “rendah hati” memiliki rasa bahasa lebih positif. “Rendah hati” mengarah pada konsep kerendahan hati (humility), sedangkan “rendah diri” merujuk pada konsep penghargaan diri yang rendah (low self-esteem). Pengertian ini kurang cocok jika kita memelajari ayat-ayat di atas. Alkitab memakai kedua istilah itu dalam konteks humility yang positif, bukan negatif.

Petrus mengingatkan kita bahwa selama hidup kita harus dengan rela merendahkan diri di bawah tangan Tuhan dan kepada pemimpin kita (lihat 1 Petrus 5:5). Pada pihak yang laini, kita harus rendah hati kita kepada semua orang (Efesus 4: 2,Filipi 2: 3). Ketika waktu yang tepat tiba, Dia akan meninggikan kita di dunia, atau di kehidupan yang akan datang, atau keduanya, sampai batas tertentu. Kesediaan kita untuk melayani misalnya, bukanlah pernyataan bahwa kita sebenarnya tidak berarti. Kerendahan hati kita dalam pelayanan merupakan pernyataan bahwa Allah kita yang perkasa dapat dipercaya untuk memberikan kita semua kemuliaan dan pengakuan yang kita dambakan ketika waktunya tepat.

“Demikian jugalah kamu. Apabila kamu telah melakukan segala sesuatu yang ditugaskan kepadamu, hendaklah kamu berkata: Kami adalah hamba-hamba yang tidak berguna; kami hanya melakukan apa yang kami harus lakukan.” Lukas 17:10

Dalam hidup, kita sering berusaha mengatasi penderitaan dan tantangan dengan berusaha keras untuk mengatasinya dengan memakai cara kita sendiri. Kita mencari kemenangan akan hal-hal itu dan sering tidak sabar menunggu Tuhan bekerja. Jika kita berhasil, mungkin kita merasa puas karena dengan usaha sendiri kita mendapatkan keberhasilan. Tetapi, kekuatiran akan gagalnya mendapat “kemuliaan” membuat hidup kita merana.

Kunci pandangan Kristen yang alkitabiah tentang kemuliaan manusia adalah memperhatikan dengan saksama apa yang Tuhan katakan tentang bagaimana cara mencarinya. Alkitab mengajarkan kita untuk berhenti berjuang keras dengan tenaga sendiri untuk mewujudkannya, tetapi percaya kepada Tuhan untuk meninggikan kita pada waktu dan tempat yang tepat sesuai dengan yang Dia inginkan. Kita tidak perlu memaksakan keinginan kita kepada orang lain, apalagi menuntut hal itu kepada Tuhan. Dia adalah Bapa yang baik yang mengasihi kita; jadi kita harus berserah kepada Dia yang bertanggung jawab untuk mendatangkan kemuliaan bagi kita menurut kemurahan-Nya pada waktu yang tepat.

“Hendaklah kamu dalam hidupmu bersama, menaruh pikiran dan perasaan yang terdapat juga dalam Kristus Yesus, yang walaupun dalam rupa Allah, tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai milik yang harus dipertahankan, melainkan telah mengosongkan diri-Nya sendiri, dan mengambil rupa seorang hamba, dan menjadi sama dengan manusia. Dan dalam keadaan sebagai manusia, Ia telah merendahkan diri-Nya dan taat sampai mati, bahkan sampai mati di kayu salib.” Filip1 2: 5-8

Yesus menunjukkan kepada kita cara melakukannya. Paulus dalam Filipi 2:5-8 mengingatkan kita bahwa Yesus adalah Tuhan, tetapi ketika Dia datang ke bumi, Dia tidak menjadikan diri-Nya apa pun. Sebaliknya, Dia menjadi hamba bagi semua orang. Kemudian, pada waktu yang tepat, Bapa mengangkat Yesus ke posisi tertinggi di alam semesta. Petrus menegaskan gagasan yang serupa dalam 1 Petrus 5:6-7. Mengapa kita begitu takut untuk merendahkan diri terhadap orang Kristen lain? Mengapa kita merasa terganggu untuk hidup dalam ketundukan kepada orang lain dalam hubungan keluarga, pekerjaan dan gereja? Mungkin sekali kita takut menjadi tidak berarti, tidak dikenali, dan tidak berarti apa-apa. Ini serupa dengan Adam dan Hawa yang ingin menjadi seperti Allah dan kemudian mendengarkan bujukan iblis (Kejadian 3: 4-6).

Mungkin kita pernah menjumpai orang-orang yang mempunyai “percaya diri” dan “iman” yang sangat besar. Tetapi, di luar kesadaran kita orang-orang itu sering kali punya perasaan takut untuk gagal atau tidak dihargai orang lain. Mereka terlihat yakin karena berusaha untuk meyakinkan orang lain akan kemampuan dan keuletan mereka. Mereka takut dipandang lemah. Mereka tidak sadar bahwa dalam Alkitab, “merendahkan diri” tidak berarti kelemahan atau kebencian terhadap diri sendiri. Itu berarti penghargaan yang tepat tentang diri kita, dalam hubungan dengan Tuhan. Itu berarti kekuatan yang terkendali dalam rasa hormat kepada Sang Pencipta. Seperti yang dikatakan C.S. Lewis, “Kerendahan hati bukanlah berpikir bahwa diri Anda adalah kurang mampu, tetapi kurang memikirkan kemampuan diri Anda sendiri.” Sebaliknya, kita harus lebih sering memikirkan kemampuan dan kemurahan Tuhan.

“Humility is not thinking less of yourself, but thinking of yourself less”

C.S. Lewis on humility in Mere Christianity

Dalam kerendahan hati, kita menyerahkan kekhawatiran kita kepada Bapa yang memelihara kita. Dalam kewaspadaan, kita harus tetap berpikiran jernih, waspada terhadap musuh kita, si iblis, yang berusaha menghancurkan kita. Kita melawannya dengan berfokus untuk tetap teguh dalam iman kita dan memercayai Allah untuk menepati janji-janji-Nya. Dengan rendah hati, kita menyerahkan segala kekhawatiran kita kepada-Nya.

Petrus menulis bahwa kita harus mengambil rasa takut dan kekhawatiran kita, dan kemudian menyerahkannya kepada Bapa kita. Ia sudah memberi tahu kita untuk menyerahkan segala sesuatu yang membuat kita gundah, dan menyerahkannya kepada Dia yang sangat peduli pada kita. Ini bukan janji bahwa Tuhan akan memperbaiki segala sesuatu yang membuat kita khawatir. Tuhan tidak berkewajiban untuk mengikuti naskah apa pun yang kita tulis untuk-Nya. Ini adalah janji bahwa Tuhan yang perkasa akan menerima kekhawatiran kita, dan peduli terhadapnya. Ia akan menanggungnya bagi kita. Ia dapat dipercaya untuk menanganinya dengan cara yang terbaik.

Perkataan Petrus pagi ini adalah sebuah perintah. Bukanlah kehendak Tuhan bagi anak-anak-Nya untuk terus hidup di bawah beban-beban kehidupan. Percaya bahwa Tuhan itu perkasa dan peduli pada kita seharusnya menghasilkan penyerahan kekhawatiran kita kepada-Nya. Dalam kerendahan hati, kita menunggu dan memercayai Tuhan untuk meninggikan kita pada waktu-Nya. Kita juga dipanggil untuk tetap waspada terhadap iblis, dan melawannya dengan berfokus kepada Tuhan. Sekalipun kita mungkin mengalami banyak penderitaan dan tantangan dalam hidup yang singkat ini, Tuhan kita akan mengakhiri penderitaan kita dan membuat kita bahagia pada waktunya.

Mengapa kita harus humanis?

”Kamu adalah garam dunia. Jika garam itu menjadi tawar, dengan apakah ia diasinkan? Tidak ada lagi gunanya selain dibuang dan diinjak orang.” Matius 5:13

Matius mencatat Khotbah Yesus di Bukit. Bagian sebelumnya mencatat Ucapan Bahagia, dan sekarang Kristus beralih ke serangkaian ajaran singkat tentang berbagai topik. Pertama, Ia membahas perlunya para pengikut Yesus untuk hidup sesuai dengan kebajikan yang dijelaskan dalam Ucapan Bahagia.

Matius 5:13–20 menggambarkan peran penting yang dilayani oleh para murid dan pengikut Yesus di bumi. Mereka adalah garam dunia dan terang dunia. Metafora-metafora ini menggambarkan dampak yang seharusnya dimiliki orang Kristen di dunia. Itulah sebabnya mengapa sangat penting bagi mereka untuk melakukan pekerjaan baik yang Tuhan berikan kepada mereka. Jika tidak, mereka tidak akan lagi berguna sebagai garam dan terang. Sebaliknya, mereka harus melakukan pekerjaan-pekerjaan itu, membiarkan terang mereka bersinar di dunia yang gelap agar semua yang melihatnya akan memuliakan Tuhan. Inilah konsep orang Kristen humanis.

Sebagai orang Kristen yang humanis, kita diminta untuk memengaruhi budaya masyarakat untuk kebaikan. Ini merupakan mandat budaya yang kita terima dari Tuhan. Mandat budaya, dalam pengertian yang paling alkitabiah, adalah kewajiban pribadi kita untuk menyerahkan seluruh hidup kita kepada kehendak Tuhan, khususnya termasuk cara kita berinteraksi dengan orang lain melalui pemerintahan dan masyarakat.

Humanisme Kristen mengatakan bahwa setiap usaha dan pencapaian manusia harus berpusat pada Kristus. Segala sesuatu harus dilakukan untuk kemuliaan Tuhan dan bukan untuk kesombongan atau promosi diri (1 Korintus 10:31). Kita harus berusaha melakukan yang terbaik secara fisik, mental, dan spiritual dalam segala hal yang Tuhan inginkan untuk kita lakukan dan jalani. sebagai orang humanis, orang Kristen percaya bahwa ini termasuk kehidupan intelektual, kehidupan artistik, kehidupan rumah tangga, kehidupan ekonomi, kegiatan politik, keadilan sosial, hubungan ras, penegakan hukum dan penataan lingkungan.

Seperti garam yang mengawetkan daging agar tidak membusuk, orang-orang percaya kepada Yesus, yang tersebar di seluruh dunia, membantu menjaga manusia agar tidak jatuh ke dalam ketidakbertuhanan, amoralitas, kekacauan, kemelaratan dan ketidakadilan. Garam mengubah rasa makanan secara permanen, sama seperti pengaruh orang-orang saleh dapat mengubah suatu budaya. Inti utamanya adalah bahwa orang Kristen melayani tujuan ilahi di dunia hanya dengan menjalani apa yang kita yakini tentang Yesus. Menjadi orang Kristen bukan hanya sekadar beriman, tetapi juga mewujudkan iman itu dengan perbuatan baik kepada sesama dan masyarakat untuk memuliakan Tuhan.

Yesus berkata kepada para pengikut-Nya, “Kamu adalah garam dunia.” Dulu, seperti sekarang, garam memiliki berbagai fungsi. Sebelum adanya lemari pendingin, garam digunakan secara luas sebagai bahan pengawet dengan menggosokkannya ke daging. Tentu saja, garam juga digunakan untuk memberi rasa pada makanan. Panggilan Yesus bagi para pengikutnya untuk menjadi “garam dunia” membawa manfaat tersebut, secara simbolis, ke dalam kehidupan rohani kita.

Seperti garam yang sangat berguna dalam kehidupan, manusia memiliki martabat dan nilai karena manusia diciptakan menurut gambar Allah (Kejadian 1:27). Sejauh mana manusia adalah agen yang otonom, rasional, dan bermoral itu sendiri merupakan cerminan bahwa mereka diciptakan dengan imago Dei (gambar Allah). Nilai manusia diasumsikan di banyak tempat dalam Kitab Suci: dalam inkarnasi Yesus (Yohanes 1:14), belas kasih-Nya bagi orang-orang (Matius 9:36), perintah-Nya untuk “mengasihi sesamamu manusia seperti dirimu sendiri” (Markus 12:31), dan perumpamaan-Nya tentang orang Samaria yang baik hati (Lukas 10:30–37).

Orang Kristen memahami bahwa semua harta hikmat dan pengetahuan tersembunyi di dalam Kristus (Kolose 2:3) dan berusaha untuk bertumbuh ke dalam pengetahuan penuh tentang setiap hal yang baik untuk pelayanan Kristus (Filipi 1:9; 4:6; lih. Kolose 1:9). Sebagai orang yang humanis, orang Kristen menghargai budaya manusia tetapi mengakui adanya efek noetik (yaitu, intelektual) dari sifat manusia yang sudah jatuh (1 Korintus 1:18–25) dan adanya pengaruh dosa di dalam setiap hati manusia (Yeremia 17:9). Karena itu, humanisme Kristen mengatakan bahwa manusia hanya bisa mencapai potensi yang murni dan penuh dalam menjalankan mandat budaya ini ketika ia memasuki hubungan yang benar dengan Kristus. Pada saat keselamatan, ia menjadi ciptaan baru dan dapat mengalami pertumbuhan dalam setiap bidang kehidupan (2 Korintus 5:17) sehingga ia bisa berguna untuk memajukan dan menertibkan masyarakat. Pada waktu ia diselamatkan, ia merasakan bahwa itu hanya karena karunia Tuhan dan karena itu ia ingin menyatakan rasa syukurnya dengan berbuat berbagai kebajikan untuk masyarakat selama hidup di dunia.

Orang Kristen berhenti melayani tujuan itu ketika mereka berhenti hidup dalam kesetiaan kepada Tuhan. Ketika para pengikut Yesus berhenti menjadi miskin dalam roh, tidak lagi hidup dalam pertobatan dan kelembutan, tidak memiliki keinginan untuk kebenaran, dan bisa berbelas kasih, mereka berhenti melayani tujuan mereka di bumi. Mereka berhenti menjadi orang Kristen yang humanis. Ini sama dahsyatnya, dan tidak terpikirkan, seperti jika garam kehilangan rasanya. Garam tersebut mungkin sudah diencerkan, atau bahkan terkontaminasi dengan berbagai racun. Itu akan menghasilkan sesuatu yang seharusnya menjadi garam tetapi tidak terasa atau bertindak seperti garam lagi. Itu membuatnya tidak berguna, dan harus dibuang.

Hari ini kita belajar bahwa Yesus menunjukkan hal yang sama dapat terjadi pada seorang murid yang berhenti hidup setia kepada Kristus di dunia. Intinya di sini bukanlah tentang hilangnya keselamatan, tetapi hilangnya tujuan. “Garam yang buruk” tidak dihancurkan atau dibakar, itu hanya diabaikan bersama dengan debu tanah. Orang Kristen sejati percaya bahwa gereja harus terlibat aktif dalam budaya dan bahwa mereka harus menjadi suara yang menegaskan nilai dan martabat manusia sambil mencegah dan melawan semua pengaruh yang tidak manusiawi di dunia.

Apakah Anda masih mengalami proses pengudusan?

“Akan hal ini aku yakin sepenuhnya, yaitu Ia, yang memulai pekerjaan yang baik di antara kamu, akan meneruskannya sampai pada akhirnya pada hari Kristus Yesus.” Filipi 1:6

Dalam Filipi 1, Paulus berterima kasih kepada orang-orang percaya di Filipi karena mendukung pelayanannya. Bahkan ketika Paulus dipenjara, atau dianiaya, mereka selalu bermurah hati dan setia. Paulus menyemangati orang-orang Kristen ini dengan menjelaskan bahwa semua penderitaannya adalah untuk tujuan yang baik. Lebih baik lagi, upaya-upaya untuk menganiaya Paulus ini sebenarnya telah menyebabkan Injil tersebar.

Paulus bersyukur kepada Tuhan atas orang-orang Kristen ini dalam semua doanya. Pada saat yang sama, Paulus memiliki harapan besar bahwa gereja Filipi akan terus bertumbuh dan memperkuat hubungan mereka dengan Kristus. Ia sepenuhnya berharap untuk dibebaskan dari penjara, dan bertemu kembali dengan orang-orang percaya di Filipi.

Paulus mengawali ayat di atas dengan pernyataan keyakinan yang besar kepada orang-orang Kristen di Filipi. Sementara keselamatan dari hukuman dosa terjadi pada saat seseorang menerima Kristus, hal menjadi makin menyerupai Kristus adalah sebuah proses perubahan terus menerus sampai ia berjumpa dengan Yesus Kristus. Paulus sepenuhnya yakin bahwa proses “pengudusan” ini pasti ada pada diri setiap orang percaya, dan akan terus berlanjut dalam kehidupan orang-orang percaya ini. Secara khusus, jaminan ini didasarkan pada pekerjaan Yesus Kristus. Dengan kata lain, Paulus tidak meragukan keselamatan mereka yang setia kepada Kristus, tetapi juga menyatakan bahwa orang yang diselamatkan tidak mungkin tetap tidak berubah cara hidup dan pelayanannya kepada Tuhan dan sesama.

“Hari Yesus Kristus” dengan jelas berbicara tentang akhir zaman, tetapi para penafsir memperdebatkan hal-hal spesifik lainnya yang terkait dengan rujukan ini. Beberapa orang melihat ini sebagai kiasan untuk pengangkatan, yang akan terjadi kapan saja (1 Korintus 15:50–58; 1 Tesalonika 4:13–18). Yang lain melihat pernyataan ini sebagai penyebutan tentang akhir masa kesukaran tujuh tahun sebelum milenium (Wahyu 19–20). Kemungkinan ketiga adalah bahwa Paulus tidak merujuk pada tanggal atau waktu tertentu, tetapi hanya berfokus pada akhir proses pengudusan yang akan terjadi ketika orang-orang percaya ini bertemu Kristus di masa depan.

Apakah Anda merasakan adanya proses pengudusan Kristus dalam hidup Anda? Dalam diri mereka yang dipanggil dan dilahirkan kembali, diciptakan oleh Kristus hati baru dan roh baru. Mereka dikuduskan lebih jauh secara sungguh- sungguh dan perseorangan oleh kekuatan kematian dan kebangkitan Kristus melalui Firman dan Roh-Nya yang diam dalam diri mereka. Dalam proses ini, kuasa dosa dihancurkan dan berbagai hawa nafsu mereka makin hari akan makin menghilang karena adanya semua anugerah Tuhan. Adalah tidak mungkin bagi orang-orang yang sudah diselamatkan untuk tetap hidup dalam dosa=dosa lama mereka. Sebaliknya, mereka akan menuju ke praktik kekudusan yang sejati, sebab tanpa kekudusan tidak seorang pun akan melihat Tuhan. Ini adalah tanggung jawab setiap orang percaya setelah diberi kemampuan oleh Kristus.

“Berusahalah hidup damai dengan semua orang dan kejarlah kekudusan, sebab tanpa kekudusan tidak seorang pun akan melihat Tuhan.” Ibrani 12:14

Pengudusan itu bersifat menyeluruh dan menyangkut manusia seutuhnya, namun tidak sempurna selama hidup di dunia, sebab di semua bagian manusia masih ada beberapa sisa kerusakan akaibat dosa. Karena itulah lahirlah peperangan yang terus menerus dan yang tidak dapat diakhiri dengan pendamaian, sebab keinginan daging berlawanan dengan Roh, dan keinginan Roh berlawanan dengan daging.

“Sebab keinginan daging berlawanan dengan keinginan Roh dan keinginan Roh berlawanan dengan keinginan daging – karena keduanya bertentangan – sehingga kamu setiap kali tidak melakukan apa yang kamu kehendaki.” Galatia 5:17

Dalam peperangan ini, kerusakan yang masih tinggal dapat saja untuk sementara waktu berada di atas angin. Jika itu terjadi, kita bisa melihat bahwa orang Kristen bisa jatuh ke dalam berbagai dosa dan kecemaran. Namun, karena Roh Kristus yang menguduskan terus- menerus menyediakan kekuatan baru maka orang yang benar-benar telah dilahirkan kembali akhirnya akan menang melalui setiap perjuangan melawan dosa. Dengan demikian orang-orang kudus akan terus bertumbuh dalam kasih karunia dan menyempurnakan kekudusannya karena adanya rasa takut akan Allah. Bagaimana dengan hidup Anda?

“Saudara-saudaraku yang kekasih, karena kita sekarang memiliki janji-janji itu, marilah kita menyucikan diri kita dari semua pencemaran jasmani dan rohani, dan dengan demikian menyempurnakan kekudusan kita dalam takut akan Allah.” 2 Korintus 7:1

Hal prioritas dalam keluarga

“Jadi karena dalam Kristus ada nasihat, ada penghiburan kasih, ada persekutuan Roh, ada kasih mesra dan belas kasihan, karena itu sempurnakanlah sukacitaku dengan ini: hendaklah kamu sehati sepikir, dalam satu kasih, satu jiwa, satu tujuan, dengan tidak mencari kepentingan sendiri atau puji-pujian yang sia-sia. Sebaliknya hendaklah dengan rendah hati yang seorang menganggap yang lain lebih utama dari pada dirinya sendiri; dan janganlah tiap-tiap orang hanya memperhatikan kepentingannya sendiri, tetapi kepentingan orang lain juga. Hendaklah kamu dalam hidupmu bersama, menaruh pikiran dan perasaan yang terdapat juga dalam Kristus Yesus, yang walaupun dalam rupa Allah, tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai milik yang harus dipertahankan, melainkan telah mengosongkan diri-Nya sendiri, dan mengambil rupa seorang hamba, dan menjadi sama dengan manusia. Dan dalam keadaan sebagai manusia, Ia telah merendahkan diri-Nya dan taat sampai mati, bahkan sampai mati di kayu salib.” Filipi 2:1-8

Sering ada orang yang berkata bahwa ia tidak punya waktu untuk mengerjakan apa yang bisa dikerjakan orang lain. Ini tentunya bukan jawaban yang tepat. Dalam kehidupan sehari-hari, setiap orang mempunyai 24 jam sehari. Apa yang lebih tepat untuk dinyatakan adalah ia tidak dapat melakukan sesuatu hal karena ia lebih suka melakukan hal yang lain. Ini adalah soal prioritas dalam 24 jam.

Mengenai apa yang perlu kita prioritaskan selama hidup di dunia, urutannya menurut Alkitab dimulai dari Tuhan, suami/istri, anak-anak, orang tua, keluarga besar, saudara seiman, dan kemudian seluruh dunia. Meskipun terkadang keputusan harus dibuat untuk berfokus pada satu orang daripada yang lain, tujuannya adalah untuk tidak mengabaikan hubungan dengan yang lain. Keseimbangan menurut Alkitab adalah membiarkan Tuhan memberdayakan kita untuk memenuhi semua prioritas kita, di dalam dan di luar keluarga kita. Dalam bahasan kali ini, tiga proritas yang paling utama akan dijelaskan.

Fokus pertama kita seharusnya selalu pada Tuhan; pada rencana dan petunjuk-Nya, pada hal-hal surgawi. Hanya ketika kita menempatkan Tuhan di pusat dan fokus utama kehidupan kita, kita dapat merawat keluarga dan diri kita sendiri dengan sebaik-baiknya. Melalui ketaatan kepada Firman-Nya dan penyerahan kepada kehendak-Nya, kta akan dapat menjalani hidup kita dengan rasa tenteram. Karena itu, membangun hubungan dengan Kristus dan takut akan Tuhan harus menjadi prioritas utama kita dalam semua yang kita lakukan. Ini menjadi fondasi yang paling kuat bagi kehidupan kita.

“Pikirkanlah perkara yang di atas, bukan yang di bumi.” Kolose 3:2

Pada urutan kedua, kita berfokus pada pasangan hidup kita. Dalam hubungan yang dalam dan bersifat pribadi ini, mungkin mudah bagi kita untuk pad awalnya menempatkan pasangan kita di tempat yang paling tinggi. Apa yang mereka inginkan, dambakan, atau bahkan apa tidak mereka sukai sering kali menjadi prioritas pertimbangan kita. Namun, ada kalanya kita – cepat atau lambat – menempatkan orang lain (pekerjaan, orang tua, anak dan lain-lain) atau diri kita sendiri di atas kebutuhan pasangan kita.

Dalam Kitab Suci, pernikahan kita dibandingkan dengan Yesus dan gereja-Nya. Ini sulit diterima oleh banyak pasangan di zaman sekarang dan karena itu tidaklah mengherankan bahwa kasus perceraian makin banyak terjadi.

“Karena itu sebagaimana jemaat tunduk kepada Kristus, demikian jugalah isteri kepada suami dalam segala sesuatu. Hai suami, kasihilah isterimu sebagaimana Kristus telah mengasihi jemaat dan telah menyerahkan diri-Nya baginya” Efesus 5:24-25.

Jika Anda seorang istri, kata “tunduk” ini tidak berarti Anda adalah seorang hamba yang rendah dan lemah kedudukannya. Ketundukan dalam pernikahan adalah tanda kekuatan, rasa hormat, dan pengakuan bahwa Allah telah menetapkan suami sebagai kepala keluarga. “Ketundukan” ini berarti seorang istri adalah penolong sejati bagi suaminya. Amsal 31 adalah referensi yang luar biasa untuk ditelusuri lebih jauh.

‘Isteri yang cekap susah ditemukan. Dia lebih berharga daripada permata. Suaminya mempunyai keyakinan terhadap dia dan tidak akan kekurangan apa-apa. Seumur hidupnya, dia berbuat baik kepada suaminya dan tidak berbuat jahat kepadanya.” Amsal 31:10-12

Di sisi lain, para suami dipanggil untuk mengasihi dan melindungi istri mereka. Tuhan bahkan memberi tahu kita dengan tepat bagaimana kita harus saling mengasihi di seluruh Kitab Suci. Dalam 1 Korintus kita belajar bahwa kasih itu sabar dan murah hati, tidak menghina, dan tidak egois atau sombong. Para suami tidak boleh membuat mereka merasa bersalah, merendahkan atau mempermalukan mereka. Kita melihat contoh kasih yang paling murni dalam Yesus yang mengorbankan dirinya untuk Gereja, contoh yang luar biasa dan kuat dari hubungan pernikahan.

“Hai suami, kasihilah isterimu sebagaimana Kristus telah mengasihi jemaat dan telah menyerahkan diri-Nya baginya untuk menguduskannya, sesudah Ia menyucikannya dengan memandikannya dengan air dan firman, supaya dengan demikian Ia menempatkan jemaat di hadapan diri-Nya dengan cemerlang tanpa cacat atau kerut atau yang serupa itu, tetapi supaya jemaat kudus dan tidak bercela. Demikian juga suami harus mengasihi isterinya sama seperti tubuhnya sendiri: Siapa yang mengasihi isterinya mengasihi dirinya sendiri.” Efesus 5:25-28

Seorang suami harus menjadi pengasuh istrinya, sahabatnya, dan pelindungnya. Seorang istri seharusnya menjadi penolong dan orang kepercayaan suaminya. Dia dipanggil untuk menghormati dan menghargai kedudukannya sebagai pelindung dan kepala keluarga. Menjadi istri yang tunduk dan suami yang penuh kasih adalah tentang hubungan yang seimbang di mana masing-masing pihak memahami peran yang telah Tuhan berikan kepada mereka. Hubungan pernikahan harus selalu menghormati kedua belah pihak. Itu bukan pembagian 50/50; itu adalah kontribusi 100/100 di kedua belah pihak.

Hubungan pernikahan yang kokoh ditemukan ketika prioritas pertama adalah Tuhan, dan hubungan tersebut dibangun di atas fondasi-Nya. Ketika kita memiliki fondasi Kristus yang kokoh dan berjuang untuk pernikahan yang sehat dan berdasarkan Alkitab, kita akan lebih siap untuk hubungan yang sehat dengan anak-anak kita. Ajari anak-anak untuk mengerti bahwa hubungan antara ibu dan bapa mereka adalah sangat penting untuk dapat menunjang usaha untuk membesarkan mereka, sehingga ketika mereka sudah menjadi orang tua, mereka tidak akan menyimpang dari prinsip ini.

Pasangan Anda adalah orang yang akan menghabiskan sisa hidup Anda bersama Anda. Ini adalah janji sehidup semati yang Anda ucapkan pada saat pernikahan. Pasangan Anda akan tetap ada bahkan setelah anak-anak Anda meninggalkan rumah untuk menjalani hidup mereka sendiri. Walaupun demikian, anak-anak Anda juga penting dan Anda perlu mengasuh mereka, mencintai mereka, bermain, berdoa, tertawa, dan tumbuh bersama mereka. Ingatlah bahwa mereka tidak meminta untuk dilahirkan, tetapi mereka ada karena keputusan yang diambil orang tua mereka. Karena itu, anak-anak ada dalm prioritas ketiga.

Apakah kita mengajar dan melatih anak-anak kita? Kualitas karakter atau perilaku apa yang kita inginkan agar anak-anak kita kembangkan? Ini adalah tanggung jawab bersama yang dimiliki oleh ayah dan ibu, tanggung jawab yang besar dan menyita banyak waktu dan pengurbanan secara jasmani dan rohani.

“Dan kamu, bapa-bapa, janganlah bangkitkan amarah di dalam hati anak-anakmu, tetapi didiklah mereka di dalam ajaran dan nasihat Tuhan.” Efesus 6:4

“Didiklah anakmu, maka ia akan memberikan ketenteraman kepadamu, dan mendatangkan sukacita kepadamu.” Amsal 29:17

Didiklah orang muda menurut jalan yang patut baginya, maka pada masa tuanya pun ia tidak akan menyimpang dari pada jalan itu.” Amsal 22:6

Adanya anak seharusnya memperkuat hubungan antara suami dan istri karena adanya tujuan bersama. Tetapi, mungkin saja terjadi bahwa hubungan suami istri menjadi renggang ketika mereka sudah mempunyai anak. Ini mungkin saja terjadi karena tanggung jawab untuk membesarkan anak yang dirasa sangat besar, lebih besar dari tanggung jawab untuk mengasihi dan membahagiakan pasangan mereka. Hal ini merupakan sesuatu yang berbahaya dan akan membuat hubungan suami-stri menjadi kacau, terutama jika di hari tua mereka masih merasa bertanggung jawab untuk membesarkan cucu-cucu mereka.

Pagi ini kita belajar bahwa sebagai orang Kristen kita haris menggunakan waktu dan usaha kita dengan bijaksana. Prioritas yang kacau atau kabur membuat kita tertekan karena timbulnya rasa bersalah yang timbul dalam hati kita, atau karena munculnya perpecahan dalam kesatuan keluarga. Mementukan prioritas hidup adalah sangat penting agar kita dapat hidup dengan damai dan bahagia dalam berkat Tuhan.

Karena kecewa orang bisa menolak Yesus

“Dan berbahagialah orang yang tidak menjadi kecewa dan menolak Aku.” Matius 11:6

Matius 11:1–19 membahas tentang Yohanes Pembaptis, yang saat itu berada di penjara (Matius 4:12). Yohanes mengutus murid-muridnya sendiri untuk bertanya kepada Yesus. Itu karena kemasyghulan yang ada dalam pikiran Yohanes.

Yohanes tampaknya bertanya-tanya apakah Yesus benar-benar Mesias (Matius 11:1–3). Yesus menanggapi dengan menghubungkan mukjizat penyembuhan dan khotbah-Nya dengan nubuat-nubuat dari Yesaya (Matius 11:4–5).

Keraguan tentang identitas Yesus adalah masalah umum para pengikut Yesus sebelum penyaliban dan kebangkitan-Nya (Matius 16:21–23; Yohanes 2:22). Memang Yesus telah menyatakan bahwa Mesias akan datang dengan kesembuhan dan harapan, serta janji penghakiman Allah. Tetapi, banyak orang yang seperti Yohanes berharap bahwa Mesias akan segera mendatangkan penghakiman Allah atas orang-orang di Israel yang belum bertobat dari dosa mereka, serta para penindas Israel.

Pertanyaan Yohanes mungkin merupakan ungkapan keraguan. Atau, mungkin merupakan cara untuk mengungkapkan kebingungan, seolah-olah berkata: “Yesus, apakah Engkau akan melakukan hal-hal ini, atau tidak?”

Yesus yang sudah memberi mereka jawaban kemudian mendukung Yohanes di hadapan orang banyak. Ia mengingatkan mereka tentang ketabahan Yohanes dan menegaskan bahwa Yohanes adalah nabi yang menggenapi nubuat tentang orang yang akan mempersiapkan jalan bagi Mesias. Namun, orang-orang menolak pesan pertobatan Yohanes, dengan mengatakan bahwa Yohanes kerasukan setan dan bahwa Yesus adalah seorang pelahap dan pemabuk. Yesus menegaskan bahwa Ia dan Yohanes akan terbukti benar pada akhirnya. Yesus kemudian mengutuk kota-kota yang menolak untuk bertobat. Ia berterima kasih kepada Bapa karena telah mengungkapkan kebenaran kepada anak-anak kecil. Ia juga menawarkan kelegaan bagi mereka yang lelah dan terbebani.

Seperti orang-orang pada masa itu, kita pun bisa saja meragukan apakan Yesus masih bekerja pada zaman ini. Tepatnya, apakah Ia akan memenuhi kehendak kita. Akankah Ia menolong kita yang sedang mengalami penderitaan dan berbagai persoalan? Akankah Ia membuat keajaiban untuk kita? Kapankah Ia menjawab permohonan kita? Setelah menunggu cukup lama, kita pun bisa menjadi kecewa.

Yesus mengakhiri jawaban-Nya kepada murid-murid Yohanes dengan menyatakan berbahagialah “orang yang tidak menjadi kecewa.” Frasa ini dalam bahasa Yunani adalah hos ean mē skandalisthē en emoi. Frasa ini dapat diterjemahkan sebagai “orang yang tidak tersinggung karena Aku”. Yesus secara halus memperingatkan untuk tidak kecewa, marah atau gundah karena Dia tidak langsung memenuhi harapan seseorang. Lebih dari itu, kehendak dan rencana-Nya yang harus terjadi, bukan kehendak manusia. Jawaban Yesus atas permohonan kita bisa “ya”, “tidak”, atau “tunggu”.

Banyak orang yang menolak Yesus karena beranggapan bahwa Yesus hanya ada dalam dongeng Alkitab. Yesus bukan Allah karena mereka merasa tidak mendapat manfaat apa-apa sebagai orang Kristen. Asumsi sedemikian adalah bagian dari sifat kita yang kurang mau mendengar suara Roh Kudus, yang sering hanya memikirkan kebutuhan duniawi pada saat ini.

“Tetapi manusia duniawi tidak menerima apa yang berasal dari Roh Allah, karena hal itu baginya adalah suatu kebodohan; dan ia tidak dapat memahaminya, sebab hal itu hanya dapat dinilai secara rohani.” 1 Korintus 2:14

Pagi ini kita harus sadar bahwa Yesus adalah satu-satunya jalan menuju Allah Bapa (Yohanes 14:6), tetapi Dia juga merupakan batu sandungan yang akan membuat orang tersandung dalam upaya mereka untuk mencapai Allah karena mereka tidak percaya bahwa Dia adalah Kristus (Yesaya 8:14; Roma 9:33).

Banyak orang, baik di era Yesus maupun saat ini, menolak Allah secara khusus karena Dia tidak sesuai dengan pilihan atau tuntutan mereka. Dengan demikian, mereka juga menolak uluran tangan keselamatan dari Yesus. Mereka hanya ingin hidup nikmat sementara di zaman sekarang, dan tidak peduli akan hidup abadi di masa depan. Semoga Anda tidak demikian!

Untungnya menjadi orang percaya

Sebab itu sejak waktu kami mendengarnya, kami tiada berhenti-henti berdoa untuk kamu. Kami meminta, supaya kamu menerima segala hikmat dan pengertian yang benar, untuk mengetahui kehendak Tuhan dengan sempurna, sehingga hidupmu layak di hadapan-Nya serta berkenan kepada-Nya dalam segala hal, dan kamu memberi buah dalam segala pekerjaan yang baik dan bertumbuh dalam pengetahuan yang benar tentang Allah, dan dikuatkan dengan segala kekuatan oleh kuasa kemuliaan-Nya untuk menanggung segala sesuatu dengan tekun dan sabar, dan mengucap syukur dengan sukacita kepada Bapa, yang melayakkan kamu untuk mendapat bagian dalam apa yang ditentukan untuk orang-orang kudus di dalam kerajaan terang.” Kolose 1:9-12

Perhitungan untung -rugi secara materi agaknya juga sering muncul dalam kehidupan bermasyarakat, sampai-sampai untuk berteman ataupun berkeluarga, ada orang-orang yang mengambil keputusan berdasarkan besarnya keuntungan di masa depan. Jika hubungan antar manusia tidak bisa membawa keuntungan, orang mungkin akan kehilangan minat untuk meneruskannya. Dalam hal ini, adanya orang yang mempunyai kedudukan, pengaruh atau harta seringkali memberi insentif bagi orang lain untuk mau membina hubungan yang baik dengan mereka.

Jika untung rugi sering diperhitungkan dalam kehidupan bermasyarakat, ada orang -orang yang mempertimbangkan hal yang serupa dalam kehidupan rohani. Apa untungnya untuk menjadi Kristen? Buat apa rajin ke gereja atau membaca Alkitab? Bukankah untuk menjadi orang benar-benar Kristen itu tidak mudah? Jika orang sudah kurang punya waktu untuk menikmati hidup, mengapa pula mereka harus peduli dengan soal rohani?

Ada banyak keuntungan dari Tuhan yang kita peroleh sebagai orang Kristen. Dalam Kolose 1, Paulus pertama-tama memperkenalkan dirinya, bersama dengan rekan penulisnya Timotius. Seperti yang sering dilakukannya, Paulus bersyukur atas apa yang didengarnya tentang iman orang-orang percaya di Kolose. Paulus menyertakan doa untuk pertumbuhan dan kekuatan rohani mereka. Surat itu kemudian beralih ke pujian kepada Yesus, menyatakan-Nya sebagai Tuhan (Lord).

Semua ciptaan diciptakan melalui, oleh, dan untuk-Nya. Dan, karena pengorbanan-Nyalah yang menyelamatkan kita dari dosa, kita dapat yakin pada karunia keselamatan kita. Ini adalah keuntungan terbesar bagi kita. Dalam doanya, Paulus mengingatkan orang-orang percaya di Kolose bahwa keselamatan sepenuhnya adalah pekerjaan Tuhan, yang secara drastis mengubah nasib mereka dengan menyelamatkan mereka dari dosa.

Paulus berdoa agar mereka terus bertumbuh secara rohani, termasuk pengetahuan tentang Tuhan, pengetahuan tentang kehendak-Nya, dan hikmat rohani. Ini memungkinkan kita untuk berjalan di jalan yang benar. Paulus juga berdoa agar mereka memiliki kekuatan dan ketabahan dalam menghadapi persoalan hidup. Ini penting karena menjadi umat-Nya bukan berarti semua hal akan berjalan mulus dan lancar.

Selanjutnya, Paulus melanjutkan doanya bagi jemaat di Kolose dengan meminta agar mereka diberi kuasa tambahan. Secara khusus, Paulus berdoa agar mereka menerima kuasa dari Allah. Kekuatan Tuhan, atau kuasa yang dahsyat, merupakan tema umum dalam Kitab Suci (Zakharia 4:6). Kejadian 49:24 juga menyebut Allah sebagai “Yang Mahakuat pelindung Yakub.” Kuasa Allah yang bagaimana?

Pertama, kuasa Allah memberikan ketahanan, yaitu kemampuan untuk menahan kesulitan. Tuhan adalah “Allah yang penuh dengan ketekunan dan penghiburan”, yaitu apa yang dibutuhkan oleh semua orang Kristen dalam hidup di dunia sehingga mereka dapat hidup saling menolong dengan sesamanya.

“Semoga Allah, yang adalah sumber ketekunan dan penghiburan, mengaruniakan kerukunan kepada kamu, sesuai dengan kehendak Kristus Yesus” Roma 15:5

Kedua, kuasa Allah memberikan kesabaran. Kesabaran merupakan bagian dari buah Roh (Galatia 5:22–23) dan merupakan bagian penting dari kedewasaan Kristen. Ketiga, kuasa Allah memberikan sukacita. Sukacita juga merupakan bagian dari buah Roh dan merupakan salah satu perbedaan yang paling jelas antara kehidupan orang percaya dan orang yang tidak percaya. Orang percaya tidak selalu hidup berkelimpahan secara jasmani, tetapi selalu bisa meraca cukup atas apa yang ada.

“Memang ibadah itu kalau disertai rasa cukup, memberi keuntungan besar. Sebab kita tidak membawa sesuatu apa ke dalam dunia dan kita pun tidak dapat membawa apa-apa ke luar. Asal ada makanan dan pakaian, cukuplah.” 1 Timotius 6:6-8

Selain berdoa memohon kekuatan Tuhan bagi orang-orang Kristen di Kolose, Paulus berdoa agar mereka mengucap syukur. Sama seperti Paulus berdoa, mengucap syukur terus-menerus (1 Tesalonika 5:16-18), mereka juga harus mengucap syukur dalam setiap keadaan.

Pada akhirnya, Paulus juga menyebutkan tentang terang, yang merupakan bagian penting dari pemikiran Ibrani. Menurut orang-orang Yahudi, semua pengetahuan dan kebaikan dilambangkan dengan “terang,” sementara dosa dan ketidaktahuan dicirikan oleh “kegelapan.” Ini juga merupakan tema rasul Yohanes, yang sering digunakan dalam surat-suratnya dan Injil Yohanes. Semoga terang Kristus membuka mata rohani kita agar kita yakin bahwa kita adalah orang-orang yang beruntung!

Menghadapi penderitaan sebagai orang Kristen

“Tetapi, jika ia menderita sebagai orang Kristen, maka janganlah ia malu, melainkan hendaklah ia memuliakan Allah dalam nama Kristus itu.” 1 Petrus 4:16

Pernahkah Anda menderita? Saya yakin Anda akan menjawab “ya”. Orang manakah yang tidak pernah menderita akibat sakit, kegagalan, masalah pekerjaan dan sebagainya? Itu semua adalah konsekuensi Adam dan Hawa yang telah jatuh dalam dosa (Kejadian 3:18-19). Walaupun demikian, jawaban kita mungkin berbeda atas pertanyaan ini: “Pernahkah Anda menderita demi Kristus?”. Menderita demi Kristus? Apa maksudnya? Bukankah kita ingin berbahagia dan bukannya menderita dalam Kristus? Bukankah Kristus sudah menang atas kematian?

Ayat-ayat dari 1 Petrus 4:12–19 mengingatkan orang Kristen untuk tidak terkejut bahkan oleh penderitaan dalam mengikuti Yesus, tetapi sebaliknya melihat keikutsertaan dalam penderitaan Kristus sebagai sesuatu yang layak untuk disyukuri. Kita akan bersukacita ketika kemuliaan Kristus akhirnya dinyatakan, dan kita saat ini diberkati sekalipun mempunyai masalah karena Roh Allah menyertai kita. Pada saat yang sama, kita tidak akan mendapatkan pujian atas hukuman karena kejahatan kita sendiri, atau karena ingin membalas dendam terhadap mereka yang menyakiti kita. Ketika kita sebagai orang beriman dianiaya karena berbuat baik, Allah mampu menegakkan keadilan intuk umat-Nya, untuk memperkuat iman kita kepada-Nya. Sebaliknya, Dia akan menghakimi dengan keras semua orang yang menolak Kristus.

Kata “Kristen” sebenarnya hanya muncul enam kali dalam Alkitab. Sangat mungkin kata itu digunakan sebagai penghinaan oleh orang-orang yang tidak percaya pada zaman Petrus. Namun, Petrus menolak gagasan bahwa berhubungan dengan Kristus seharusnya dianggap sebagai penghinaan. Orang-orang percaya harus menolak rasa malu karena benar-benar menderita demi Yesus. Sebaliknya, kita harus dengan berani memuliakan Tuhan, dalam nama Kristus, tepat di tengah-tengah penderitaan kita bagi-Nya. Kita tidak boleh menjadi malu karena orang lain mengejek kita karena sebagai orang Kristen kita masih mengalami kekurangan, penderitaan dan pergumulan dan bukannya selalu mengalami kelimpahan, kesuksesan dan kemakmuran seperti yang diajarkan beberapa orang.

Petrus terus menjelaskan bagaimana orang Kristen harus menanggapi ketika menghadapi penganiayaan, pencemoohan, ejekan, dari dunia dan bahkan dari sesama orang Kristen. Ambillah sikap Kristus, dan harapkan tujuan Allah bagi hidup Anda mencakup penderitaan. Jauhkan jalan hidup Anda dari pencarian kenikmatan dan kemakmuran duniawi. Waspadalah sehingga Anda dapat berdoa secara efektif di akhir zaman ini. Bahkan, bersukacitalah jika Anda ambil bagian dalam penderitaan Kristus yang pernah ditolak bangsa-Nya dan bahkan dua murid-Nya. Tuhan menggunakan penderitaan untuk memurnikan iman umat-Nya, dan penderitaan kita saat ini berkontribusi pada kemuliaan di masa depan. Jika Anda menderita dalam bentuk apa pun, teruslah berbuat baik dan hidup saleh sambil mempercayakan jiwa Anda kepada Sang Pencipta dengan iman yang teguh. Lalu apa pentingnya iman dalam penderitaan kita?

Iman didefinisikan sebagai “dasar dari segala sesuatu yang kita harapkan dan bukti dari segala sesuatu yang tidak kita lihat” (Ibrani 11:1). Iman adalah percaya dengan sungguh-sungguh. Bagi umat Kristen, iman adalah karunia Allah yang dikerjakan di dalam hati oleh Roh Kudus, yang menghidupkan dan memandu semua kemampuan kita menuju satu tujuan. Kita harus berdoa untuk memiliki iman, dan supaya iman kita bertumbuh. Iman kita juga akan diperkuat dengan selalu mengingat janji-janji Kristus yang berulangkali diucapkan bahwa doa-doa kita kepada Bapa, dalam nama-Nya, pasti akan dijawab kalau kita memintanya dengan iman, dan percaya sewaktu kita memintanya. Lihat Matius 7:7; Lukas 11:9; Yohanes 14:13, 15, 16; Yakobus 4:2; I Yohanes 3:22, 5:14; Lukas 11:10.

Iman adalah pekerjaan jiwa yang dengannya kita merasa pasti akan keberadaan dan kebenaran dari sesuatu yang tidak ada di depan kita, atau tidak tampak bagi indera manusia. Setiap orang menilai iman secara berbeda, yang akan dirasanya sukar bahkan tidak mungkin untuk menunjukkannya dengan cara-cara yang tampak. Ini merupakan hal mempraktikan iman – latihan sukarela – yang memampukan kita untuk bertambah dalam mempercayai kebenaran-kebenaran besar yang Allah berkenan nyatakan. Paulus menyatakan “– sebab hidup kami ini adalah hidup karena percaya, bukan karena melihat” (2 Korintus 5:7). Yesus sendiri berfirman: “Berbahagialah mereka yang tidak melihat, namun percaya” (Yohanes 20:29)

Dengan demikian, sementara mempercayai apa yang kita lihat dan pahami akan mendatangkan manfaat sekalipun terasa pahit, percaya pada apa yang tidak terlihat dan hanya dipahami secara samar-samar mendatangkan manfaat yang lebih besar. Ada banyak hal di alam semesta ini yang kita percayai, tanpa harus kita pahami sepenuhnya; kita percaya karena kita mendapatkan buktinya dari orang lain, meskipun bukan dari panca indera kita sendiri. Iman yang begitu saja percaya pada apa yang bisa ia lihat, pahami, jelaskan dan tunjukkan sama sekali bukan iman. “Tidak seorang pun melihat Allah”, akan tetapi semua orang percaya kepada Allah. Hal-hal dalam dunia rohani tidak dapat ditunjukkan melalui perantara-perantara materiil, melainkan hanya bisa melalui perantara-perantara rohani. Dengan demikian, menggunakan iman akan meningkatkan kerohanian kita, memampukan kita memahami berbagai hal yang saat ini terasa pahit, tetapi yang sebenarnya adalah bentuk latihan dan ujian dari Tuhan yang pada akhirnya akan membuat kita lebih dekat dan bergantung kepada-Mya.

“karena Tuhan menghajar orang yang dikasihi-Nya, dan Ia menyesah orang yang diakui-Nya sebagai anak.” Jika kamu harus menanggung ganjaran; Allah memperlakukan kamu seperti anak. Di manakah terdapat anak yang tidak dihajar oleh ayahnya?” Ibrani 12:6-7

Perjuangan melawan dosa harus terus belangsung karena dosa kita tidak ditetapkan Tuhan

“Sebab apa yang aku perbuat, aku tidak tahu. Karena bukan apa yang aku kehendaki yang aku perbuat, tetapi apa yang aku benci, itulah yang aku perbuat. Jadi jika aku perbuat apa yang tidak aku kehendaki, aku menyetujui, bahwa hukum Taurat itu baik. Kalau demikian bukan aku lagi yang memperbuatnya, tetapi dosa yang ada di dalam aku. Sebab aku tahu, bahwa di dalam aku, yaitu di dalam aku sebagai manusia, tidak ada sesuatu yang baik. Sebab kehendak memang ada di dalam aku, tetapi bukan hal berbuat apa yang baik. Sebab bukan apa yang aku kehendaki, yaitu yang baik, yang aku perbuat, melainkan apa yang tidak aku kehendaki, yaitu yang jahat, yang aku perbuat. Jadi jika aku berbuat apa yang tidak aku kehendaki, maka bukan lagi aku yang memperbuatnya, tetapi dosa yang diam di dalam aku.” Roma 7:15-20

Apakah ayat-ayat di atas menggambarkan Paulus sebelum atau sesudah menjadi seorang Kristen? Para ahli Alkitab tidak sependapat satu sama lain, dan perbedaan tersebut memiliki beberapa arti penting. Secara harfiah, bahasa Yunani Paulus dalam bagian ini berubah menjadi bentuk orang pertama, tunggal, dan bentuk sekarang. Hal ini berbeda dengan bagian lain dari Kitab Roma yang menggunakan istilah yang lebih umum. Setidaknya menurut pilihan bahasanya, Paulus tampaknya berbicara tentang dirinya sendiri secara langsung dan harfiah.

Roma 7:7–25 membahas hubungan antara hukum Musa dan dosa manusia. Paulus menegaskan bahwa hukum adalah cara ia mengetahui dan memahami dosa secara umum, dan dosanya sendiri secara khusus. Ia juga menjelaskan bagaimana mengetahui hukum tidak membuat seseorang lebih suci; hukum justru dapat menggoda kita untuk berbuat dosa lebih banyak lagi! Paulus mengubah perspektifnya dalam bagian ini, dia berbicara sebagai orang pertama, sebagai seorang Kristen yang ingin melakukan apa yang benar tetapi mendapati dirinya melakukan apa yang berdosa. Paulus menyadari ketidakmampuan alaminya untuk melakukan yang benar dan menyadari kebutuhannya untuk dibebaskan dari dosa oleh Allah melalui Yesus.

Mereka yang percaya bahwa Paulus menggambarkan hidupnya sebelum menjadi seorang Kristen memahami bahwa Paulus bermaksud bahwa mereka yang masih berada di bawah hukum bingung tentang mengapa mereka tidak dapat menaati hukum. Mengapa mereka terus-menerus tidak menaati perintah-perintah Allah bahkan ketika mereka tidak mau begitu? Sebagian orang Kristen percaya bahwa itu adalah “takdir”, sudah ditetapkan Allah agar dapat memenuhi rencana-Nya. Tetapi, pandangan seperti itu adalah fatalis.

Sebenarnya, Paulus menggambarkan dirinya sebagai seorang Kristen percaya bahwa ia sangat jujur ​​tentang perjuangan yang sedang berlangsung melawan dosa. Meskipun orang Kristen telah terbebas dari kuasa dosa, kita terus hidup di bawah pengaruhnya yang kuat. Terkadang kita mungkin merasa persis seperti yang dijelaskan Paulus. Kita terus melakukan apa yang kita benci—kita berdosa—bahkan ketika kita bermaksud melakukan apa yang benar. Bukan berarti kita masih menjadi budak dosa, tetapi kita terbagi oleh keinginan-keinginan kita sendiri yang saling bersaing. Ini adalah bagian tak terpisahkan dari menjadi manusia yang dapat berbuat salah dan fana (2 Korintus 5:2).

Paulus menggambarkan dirinya sebagai orang yang terus-menerus melakukan hal yang berlawanan dengan apa yang ingin ia lakukan. Alih-alih melakukan hal-hal yang ingin ia lakukan, ia malah melakukan apa yang ia benci. Hal ini membuat frustrasi—mengapa hal ini terjadi? Beberapa orang Kristen mungkin mencoba mengartikan ayat ini sebagai perkataan Paulus bahwa ia tidak bisa bertanggung jawab atas perbuatan dosanya sendiri. Namun, konteks bagian ini memperjelas bahwa bukan itu yang dimaksudkan Paulus. Ia telah menulis bahwa meskipun ia ingin berbuat baik, ia malah melakukan apa yang ia benci: ia berdosa. Keinginan pribadinya adalah melakukan hal yang benar, menaati hukum Allah. Bahkan dalam kasus Paulus, tumbuh sebagai orang Yahudi yang taat (Filipi 3:4–7), tidak cukup untuk mencegahnya dari ketidaktaatan kepada Allah. Daya tarik dosa mengalahkan minat Paulus yang tulus untuk berbuat benar. Dengan cara ini, Paulus mengatakan bahwa masalahnya bukan pada niatnya. Sebaliknya, dosa dalam dirinyalah yang mengalahkan niatnya dan menuntunnya untuk tetap melakukan apa yang salah.

Setiap orang Kristen sedang berjuang dalam peperangan besar yang terjadi di dalam diri mereka. Mereka menghadapi musuh-musuh dari luar di dunia ini dan iblis yang berperang melawan mereka. Namun, ada lawan yang lebih kuat lagi yang telah bercokol di dalam diri setiap orang percaya. Ini melibatkan kita dalam pertempuran tanpa henti antara manusia baru kita di dalam Kristus dan daging lama kita yang berdosa. Kedua rival ini saling bertentangan. Mereka saling bermusuhan. Mereka menimbulkan pertikaian internal di medan perang dalam jiwa setiap orang percaya. Tidak pernah ada gencatan senjata yang disepakati antara kedua kekuatan ini. Tidak pernah ada bendera putih yang dikibarkan dalam pertikaian ini. Tidak pernah ada gencatan senjata. Pertempuran ini terus berlangsung sampai akhir hidup kita di dunia.

Jika Anda pada saat ini merasakan intensitas pertikaian internal ini, itu karena Anda telah lahir baru. Setelah Anda dibenarkan oleh iman, pertempuran internal pun terjadi di dalam diri Anda. Ada keinginan baru di dalam diri setiap orang percaya yang ingin melakukan yang benar. Itu datangnya dari Tuhan. Kita sekarang mengasihi Tuhan, gereja, kebenaran, dan kehendak Tuhan. Namun, ada keinginan lain di dalam diri kita yang mengasihi diri kita sendiri dan dunia. Hasilnya adalah tarik-menarik internal.

Bagian dalam Roma 7:15-20 ini memberi kita kisah langsung tentang pertempuran antara sifat baru dan daging yang berdosa di dalam diri rasul Paulus. Ia menulis ayat-ayat ini sebagai orang percaya yang dewasa di dalam Kristus. Kehidupan Paulus sendiri menunjukkan bahwa pergumulan dengan daging kita yang berdosa ini tidak pernah berakhir selama kita berada di bumi. Paulus sedang berjuang untuk kekudusan, sama seperti Anda dan saya, karena Tuhan menghendakinya.

“tetapi hendaklah kamu menjadi kudus di dalam seluruh hidupmu sama seperti Dia yang kudus, yang telah memanggil kamu, sebab ada tertulis: Kuduslah kamu, sebab Aku kudus.” 1 Petrus 1:15-16

Bukannya menyerah kepada keadaan, kita harus mengambil tindakan untuk menguji tubuh kita dan menjadikannya budak kita. Kita harus melawan godaan dan berjuang dalam pertarungan yang baik. Kita harus melawan godaan dan menjauhi amoralitas. Kehidupan Kristen adalah perjuangan untuk kekudusan. Pergumulan di dalam diri kita ini nyata, intens, berkelanjutan, internal, rohani, dan ditemukan dalam diri semua orang percaya sejati. Ayat-ayat ini seperti melihat ke dalam cermin dan melihat pergumulan dengan dosa yang ada di dalam diri kita masing-masing.

Alkitab berbicara dengan sangat akurat mengenai kondisi manusia kita. Alkitab menyingkapkan hal-hal terburuk tentang manusia. Manusia yang sering lupa bahwa ia bertanggung jawab kepada Penciptanya. Ini adalah bukti lain bahwa Alkitab adalah firman Allah yang diilhami dan tidak salah. Jika ini hanya sebuah buku manusia, Alkitab akan menampilkan manusia dalam cahaya yang terbaik, selalu menampilkan sisi terbaiknya. Namun, bukan itu yang kita baca dalam Kitab Suci. Sebaliknya, kita menemukan di halaman-halamannya pergumulan nyata dengan dosa yang dihadapi orang percaya. Alkitab memuat diagnosis Allah tentang dilema manusia.

Dalam Roma 7:15-20, kita melihat pergumulan Paulus yang terus-menerus dengan dosa. Ini adalah pengalamannya bahkan sebagai orang percaya yang dewasa dalam Yesus Kristus. Pergumulan dengan dosa inilah yang membingungkan Paulus. Sebagai orang percaya yang dewasa, ia tidak mengerti mengapa ia masih berbuat dosa, padahal ia memiliki hati yang baru yang mengasihi Tuhan. Mengapa ia masih berbuat dosa padahal ia memiliki sifat yang baru dengan kasih sayang yang baru, dan Roh Kudus sekarang tinggal di dalam dirinya? Ia tidak dapat mengerti mengapa ia masih berbuat dosa. Hal itu membingungkan Paulus. Ini adalah titik frustrasi yang besar, karena ia selalu menginginkan kesalehan dan kekudusan. Ia mengerti bahwa cara hidupnya adalah dalam tanggung jawabnya. Namun, ia terus jatuh ke dalam dosa. Paulus bingung dan dibuat bingung oleh misteri yang tidak dapat dijelaskan ini tentang dirinya sendiri. Apakah itu sudah ditetapkan Tuhan?

Bagi kita yang adalah orang percaya, ini seharusnya menjadi gema dari kebingungan yang seharusnya kita rasakan di dalam hati kita sendiri. Ketika kita mengakhiri hari dalam doa, ada dosa-dosa yang harus kita akui yang tidak masuk akal mengapa kita melakukannya. Egotisme, keserakahan, hawa nafsu, keduniawian, ketamakan, dan banyak dosa lainnya masih muncul dalam kehidupan kita. Kita bertanya-tanya mengapa dosa-dosa itu terus mengganggu kita. Dosa adalah misteri yang membingungkan. Mengapa kita masih melakukan dosa jika kita telah dilahirkan kembali? Apakah itu membuktikan bahwa kita tidak bisa bertangggung jawab atas hidup kita?

Paulus menggambarkan pergumulannya dengan dosa sebagai kontradiksi total dengan sifat barunya yang diciptakan dalam kekudusan. Ia menulis, “Sebab apa yang aku perbuat, aku tidak tahu. Karena bukan apa yang aku kehendaki yang aku perbuat, tetapi apa yang aku benci, itulah yang aku perbuat” (ayat 15). Paulus berkata bahwa apa yang ingin ia perbuat, ia tahu bahwa ia tidak melakukannya. Dan apa yang ia lakukan adalah hal yang ia benci. Segala sesuatu dalam hidupnya terbalik. Apa yang tidak ingin ia lakukan, ia lakukan. Apa yang ingin ia lakukan, ia tidak lakukan. Ada aspek negatif dan positif dari dilema terbalik ini. Ia melakukan dosa kelalaian dan perbuatan. Dosa kelalaian adalah apa yang tidak ia lakukan, tetapi seharusnya ia lakukan. Dosa perbuatan adalah apa yang ia lakukan, tetapi seharusnya tidak ia lakukan. Itu bukan takdir.

Ketika Paulus berkata, “bukan apa yang aku kehendaki yang aku perbuat,” ia berbicara tentang melakukan hal-hal yang berkaitan dengan kekudusan pribadi. Ini adalah alasan lain mengapa Paulus menyebut dirinya sebagai orang percaya. Orang yang tidak percaya tidak ingin mengejar kekudusan. Orang-orang yang tidak percaya tidak mau menyangkal diri dan memikul salib mereka – tidak mau bertanggung jawab atas hidupnya – untuk mengikuti Kristus. Orang-orang yang tidak percaya biasanya lebih suka menjadi antinomian dan hidup tanpa mempedulikan ketaatan pada firman Tuhan. Sebaliknya, orang-orang percaya tidak mau menjadi antinomian, karena Tuhan telah memberi mereka rasa lapar dan haus yang baru untuk menaati firman-Nya. Sebagai hasil dari kelahiran baru, mereka telah diberi keinginan baru untuk hidup sesuai dengan panggilan mereka. Mereka memiliki hati yang baru dengan kasih sayang yang baru. Mereka ingin melakukan hal-hal yang memuliakan Tuhan, karena itu adalah perintah Tuhan.

“Sebab kamu telah dibeli dan harganya telah lunas dibayar: Karena itu muliakanlah Allah dengan tubuhmu!” 1 Korintus 6:20

Namun, kontradiksi dalam diri Paulus adalah bahwa ia tidak selalu mempraktikkan hal-hal ini. Keinginannya adalah untuk kesalehan, tetapi praktiknya tidak selalu sejalan dengan itu. Paulus bersikap sangat jujur. Ia tidak mencoba menampilkan dirinya dengan cara yang sangat rohani. Paulus, sebagai orang percaya, justru melakukan hal-hal yang dibencinya. Ia membenci dosa yang tidak menyenangkan dan tidak menghormati Tuhan. Ia benci menyerah pada godaan. Ia benci mengorbankan kesaksiannya. Namun, ia melakukannya dan begitu juga kita. Karena itu, ketika kita berlutut dalam doa di hadapan Tuhan, kita perlu jujur ​​kepada-Nya bahwa kita tidak melakukan apa yang kita inginkan.

John Calvin menulis dalam bab satu, bagian pertama dari Institutes of the Christian Religion bahwa dengan pengetahuan tentang Tuhan datanglah pengetahuan tentang diri sendiri. Segala sesuatu dalam kehidupan Kristen Anda dimulai dengan mengetahui siapa Tuhan itu dan, pada gilirannya, mengetahui siapa Anda. Sebelum Anda mengetahui siapa Tuhan itu, Anda tidak akan pernah mengetahui siapa diri Anda. Dan sebelum Anda mengetahui siapa diri Anda, Anda tidak akan pernah maju dalam kerohanian. Paulus benar-benar jujur ​​kepada kita. Ini adalah pemikiran pribadi yang sekarang diungkapkan kepada publik untuk membantu kita belajar tentang diri kita sendiri. Jika ketika Anda berbuat dosa dan berpikir, “Apa yang salah dengan saya?”, kenyataannya adalah bahwa pikiran inilah yang salah dengan kita semua. Kita harus menerima bahwa bahkan sebagai orang percaya, kita masih berjuang melawan dosa.

Kita masih memiliki kapasitas untuk melakukan apa yang tidak ingin dilakukan oleh manusia baru kita. Begitu kita bangun, pertempuran terus berlanjut. Tidak ada waktu istirahat dari konflik internal ini. Tidak ada waktu istirahat di tengah-tengah pergumulan. Kadang-kadang, bahkan semakin tinggi kedudukan rohani kita, semakin rentan kita terhadap dosa. Bagi setiap orang percaya, dosa adalah kenyataan yang terus berlanjut dalam hidup kita bahkan setelah kita diselamatkan. Sebagai orang percaya, kita akan selalu memerangi dosa. Medan perang ada di dalam diri kita, dan konflik rohani tidak akan hilang. Dosa dan maut tidak lagi berkuasa atas kita, meskipun dosa masih ada di dalam diri kita. Dosa pernah berkuasa atas hidup kita, tetapi Kristus telah menyingkirkan dosa dari takhta kehidupan kita. Yesus sekarang bertahta sebagai Tuhan atas hidup kita. Karena itu, dalam peperangan melawan dosa kita harus bersandar kepada Dia dalam setiap saat.

“Tetapi tiap-tiap orang dicobai oleh keinginannya sendiri, karena ia diseret dan dipikat olehnya.” Yakobus 1:14

Tugas kita adalah menginjil, bukan berdebat

“Apa yang telah engkau dengar dari padaku di depan banyak saksi, percayakanlah itu kepada orang-orang yang dapat dipercayai, yang juga cakap mengajar orang lain.” 2 Timotius 2:2

Ada tulisan dari situs Reformed yang baru-baru ini saya baca tentang seorang Kristen baru, seorang mahasiswi yang sedang berkuliah di universitas. Mempelajari Alkitab merupakan hal baru baginya dan karena itu dia harus bergantung pada bimbingan dan petunjuk dari beberapa wanita yang “lebih tua” untuk membantunya memahami bagaimana dia harus menjalani kehidupan Kristen. Dia sangat ingin memahami firman Tuhan, dan penuh dengan pertanyaan untuk teman-teman dan pemimpin Kristen yang melayani kampusnya.

Tidak lama setelah beriman kepada Kristus, sang mahasiswi menyadari bahwa ada dua kelompok berbeda dalam pelayanan yang dia ikuti: mereka yang percaya pada penetapan mutlak dari Tuhan dan mereka yang tidak percaya akan hal itu. Kemudian dia menyadari bahwa nama yang lebih formal untuk kelompok-kelompok Kristen tersebut adalah Reformed dan Arminian.

Seorang teman mahasiswi itu yang dari kubu Reformed memberi tahu dia bahwa mereka telah menjuluki sudut pandang yang berlawanan sebagai “lelucon” dan bahkan “bidat”. Orang bodoh mana yang benar-benar percaya bahwa Alkitab tidak menjelaskan predestinasi dengan tegas? Sikapnya yang arogan dan mengejek, bersama dengan tanggapan sombong orang lain, benar-benar membuat mahasiswi itu tidak tertarik. Tiba-tiba dia lagi tidak tertarik mendengar bukti alkitabiah mereka. Kata-kata tajam mereka dengan cepat telah meruntuhkan sudut pandang mereka yang dulunya dia hormati. Dan sekarang, dia bahkan tidak tertarik untuk mempertimbangkan bahwa apa yang mereka katakan mungkin benar. Keselamatan bukan bergantung pada doktrin, tapi pada anugerah Tuhan.

Bahaya kesombongan teologis mengintai di balik banyak keyakinan kuat yang kita miliki dan perdebatan sengit yang sering kita lakukan — baik dalam pelajaran Alkitab, di media sosial, atau di gereja. Kita yang bersemangat mempelajari Alkitab dan memahami firman Tuhan, pasti akan membentuk keyakinan dalam bidang-bidang seperti predestinasi, peran pria dan wanita, karunia Roh, akhir zaman, dan berbagai topik lainnya.

Keyakinan adalah hal yang baik, selama kita menyampaikannya kepada orang lain dengan cara yang penuh kasih. Sebagai pengikut Reformed, saya sendiri setuju bahwa doktrin yang benar itu penting. Paulus menasihati kita untuk “mengerjakan keselamatan kita dengan takut dan gentar” (Filipi 2:12). Kita harus melaksanakan firman Tuhan dengan tekun dan hati-hati karena pegurbanan Yesus adalah sesuatu yang pernyataan kedaulatan Tuhan yang mahabesar. Yakobus memperingatkan kita bahwa tidak banyak dari kita yang boleh menjadi guru, karena kita akan dihakimi dengan lebih keras (Yakobus 3:1). Namun, sikap yang kita bawa saat kita menyatakan keyakinan kita, atau mengajarkannya kepada orang lain, memiliki kuasa untuk menarik orang lain kepada Injil, atau mengusir mereka dari hidup dalam kekudusan.

Di komunitas Reformed pada umumnya, saya melihat adanya kecenderungan untuk menunjukkan apa atau siapa yang harus kita lawan daripada mengajarkan dengan kasih apa yang kita dukung. Tampaknya banyak yang mengenakan sarung tinju mereka di dunia teologi dan ingin beradu pendapat tentang ajaran siapa yang harus kita tegaskan dan ajaran siapa yang harus kita buang. Saat ini, kita cepat-cepat melontarkan tuduhan “bidat.” Meskipun saya menyadari sebagai orang Kristen kita tidak boleh mendukung bidat, kita seharusnya tidak terburu-buru menuduh seseorang dengan sebutan yang berat itu hanya karena mereka tidak memiliki keyakinan yang sama tentang lima pokok Kalvinisme, atau apakah seorang wanita dapat bekerja sebagai pendeta atau tidak.

Ayat 2 Timotius 2:1–13 menyajikan serangkaian contoh manusia yang Paulus ingin Timotius pertimbangkan. Paulus memberi Timotius mandat yang jelas untuk membela kebenaran. Ini termasuk menegakkan Injil dengan akurat, dan menyampaikan pembelaan itu dengan cara yang lembut dan penuh kasih. Meskipun kebenaran penting, Paulus juga mencatat bahwa ada beberapa masalah yang hanya merupakan gangguan dan bukan sesuatu yang perlu dibesar-besarkan. Ia menganggap semua yang kurang penting untuk dipersoalkan sebagai “omong kosong” , dan argumen tentangnya sebagai bentuk penyakit rohani. Seperti gangren, pertengkaran antar golongan Kirsten ini bisa terus menyebar hingga menjadi bencana bagi umat Kristen secara umum. Tujuan akhir penginjilan kita bukanlah untuk “memenangkan” argumen, tetapi untuk menyelamatkan orang-orang yang terhilang.

Ayat 2 Timotius 2:2 tentang pemuridan yang terkenal ini menawarkan strategi Paulus untuk meneruskan iman. Ia mulai dengan mengingatkan Timotius tentang pelajaran khusus yang Paulus berikan kepadanya. Paulus membagikan Kristus kepada Timotius dan melakukannya “di hadapan banyak saksi.” Pentingnya saksi-saksi lain bagi iman Timotius juga terbukti dalam 1 Timotius 6:12 ketika Paulus menulis: “Bertandinglah dalam pertandingan iman yang benar dan rebutlah hidup yang kekal. Untuk itulah engkau telah dipanggil dan telah engkau ikrarkan ikrar yang benar di depan banyak saksi.“.

Timotius harus mengajarkan pesan yang sama kepada orang lain yang mampu menyampaikan pengetahuan yang sama. Ini bukan referensi untuk penginjilan, karena lebih penting dari itu mereka harus menjadi “orang-orang yang setia,” atau orang-orang yang telah percaya kepada Kristus. Jika dilakukan dengan benar, orang-orang percaya yang terlatih ini akan “dapat mengajar orang lain juga.” Ini adalah cara utama penyebaran Injil: melalui hubungan dan pemuridan.

Saya khawatir, dalam hasrat kita untuk memurnikan gereja dengan doktrin yang benar, kita melupakan kasih yang Kristus memanggil kita untuk taat kepada firman-Nya dalam hidup kita. Cara kita menjalani hidup dan perkataan yang mengalir dari mulut kita memperlihatkan Injil kepada dunia yang sedang mengamati. Semua itu harus menunjukkan kasih kita kepada Tuhan dan sesama kita.

Saya bukan pendukung untuk menerima atau menoleransi ajaran yang jelas-jelas sesat. Kita harus bijak dan cerdas, mengambil keyakinan kita dari firman Tuhan itu sendiri. Kita harus mengevaluasi pelajaran Alkitab yang kita lakukan, buku-buku Kristen yang kita baca, dan guru serta pengkhotbah yang kita dengarkan. Segala sesuatu harus diukur berdasarkan kebenaran Firman Tuhan. Namun, hanya karena seseorang tidak memiliki keyakinan yang sama dengan saya, tidak berarti semua yang mereka katakan tidak berharga. Saya juga tidak dapat menghakimi mereka sebagai orang-orang yang tidak terpilih.

Saya harap kita akan menyelidiki hati kita sebelum berdebat dengan sesama orang Kristen atau memposting tanggapan yang menyakitkan di media sosial dengan seseorang yang tidak memiliki keyakinan yang sama tentang masalah teologis tertentu. Berbagi keyakinan kita dengan penuh semangat dengan semangat kasih, dan bukan nya mudah mengutuk, dapat menghasilkan pengaruh yang lebih besar daripada yang dapat kita bayangkan. Janganlah kita bersalah karena meninggalkan kasih yang pertama kali kita miliki, saat kita berusaha menyebarkan nama Tuhan ke seluruh bangsa.

Terus bertumbuh secara rohani

“tetapi dengan teguh berpegang kepada kebenaran di dalam kasih kita bertumbuh di dalam segala hal ke arah Dia, Kristus, yang adalah Kepala.” Efesus 4:15

Masih ingatkah Anda kapan tubuh Anda berhenti bertumbuh? Usia saat anak-anak berhenti tumbuh tinggi tergantung pada jenis kelamin dan faktor-faktor lainnya. Meskipun anak laki-laki tumbuh lebih lambat dibandingkan dengan anak perempuan, mereka akhirnya mengejar ketertinggalan. Kebanyakan anak perempuan berhenti tumbuh tinggi pada usia 14 atau 15 tahun. Sebaliknya, setelah masa pertumbuhan remaja awal, anak laki-laki terus bertambah tinggi secara bertahap hingga sekitar usia 18 tahun.

Apa yang terjadi setelah tubuh berhenti bertumbuh? Kekuatan jasmani tetap bertumbuh seiring dengan kesehatan dan kegiatan hidup tiap orang sehingga dalam olahraga misalnya, atlit-atlit tertentu mencapai puncak prestasi pada usia 20-30 tahun sekalipun untuh olahraga renang dan gimnastik usia 25 sudah dianggap tua. Penyebab utama hilangnya kemampuan fisik seiring bertambahnya usia adalah hilangnya massa dan kekuatan otot yang berkaitan dengan usia, yang disebut sarkopenia. Biasanya, massa dan kekuatan otot meningkat secara bertahap sejak lahir dan mencapai puncaknya pada usia sekitar 30 hingga 35 tahun, dan sesudah itu mulai menurun.

Berbeda dengan pertumbuhan jasmani, pertumbuhan rohani dimulai saat orang Kristen bertobat dan berlanjut terus hingga mereka meninggalkan dunia ini. Pertumbuhan rohani merupakan aspek penerapan penebusan di mana kedewasaan rohani dikembangkan dalam kehidupan mereka yang telah ditebus oleh Kristus. Orang Kristen bertumbuh dalam kasih karunia melalui penerapan yang tekun dari berbagai cara yang ditetapkan Allah dan disiplin rohani seperti ibadah bersama, ibadah pribadi, doa, pelajaran Alkitab, persekutuan, dan pemuridan. Pertumbuhan rohani dikaitkan dengan ajaran Alkitab tentang kepastian keselamatan dan pemeliharaan serta ketekunan orang-orang kudus. Ayat di atas menyatakan bahwa adanya pertumbuhan rohani membuat orang Kristen makin lama makin menyerupai Kristus.

Pribadi dan karya Kristus membentuk dasar pertumbuhan rohani orang Kristen. Alkitab mengajarkan bahwa Anak Allah menyatukan diri-Nya dengan kodrat manusia, dan selama hidup-Nya, Yesus “makin bertambah besar dan bertambah hikmat-Nya dan besar-Nya, dan makin dikasihi oleh Allah dan manusia.” (Lukas 2:52). Menurut kodrat manusia-Nya, Yesus bertumbuh dalam hikmat rohani, dan dalam hal itu Ia menjadi teladan pertumbuhan. Namun, Yesus lebih dari sekadar teladan. Karya-Nya bagi orang berdosalah adalah apa yang memungkinkan pertumbuhan rohani mereka.

Yesus Kristus mati dan bangkit kembali untuk membebaskan umat-Nya dari rasa bersalah dan kuasa dosa. Melalui kematian-Nya di kayu salib, Yesus menjamin pembenaran dan pengudusan orang percaya. Dalam pembenaran, Allah memperhitungkan dosa umat-Nya kepada Kristus dan kebenaran Kristus kepada orang percaya (2 Korintus 5:21). Kematian Yesus menghapuskan rasa bersalah atas dosa umat-Nya. Dalam pengudusan, Allah secara bertahap memurnikan umat-Nya. Roh Kudus adalah agen pertumbuhan rohani. Ia tinggal di dalam orang percaya, menyadarkan mereka akan dosa, dan itu membuat mereka bertambah hikmat dan makin dikasihi Allah dan manusia.

Ibadah bersama sangat penting bagi pertumbuhan rohani orang Kristen dalam kasih karunia Tuhan. Alkitab mengajarkan bahwa orang Kristen tidak boleh meninggalkanpersekutuan orang-orang seiman. Ibadah Hari Tuhan yang diadakan setiap minggu sangat penting bagi proses pertumbuhan kasih karunia yang berkelanjutan. Keanggotaan di gereja lokal sangat penting untuk berpartisipasi dalam sarana kasih karunia ini, dan itu adalah sarana yang melaluinya orang percaya saling menguatkan dan yang melaluinya pejabat gereja yang ditunjuk dengan benar mengatur akses ke sakramen untuk kebaikan rohani orang percaya.

Kekristenan yang tidak bergereja sama sekali tidak alkitabiah. Umat Allah dipanggil untuk hidup dalam komunitas yang penuh kasih dan penuh tujuan dengan satu sama lain, dan tidak pernah dalam keterasingan (Kisah Para Rasul 2:42–47). Ini, tentu saja, adalah rancangan Allah. Dia tahu apa yang dibutuhkan anak-anak-Nya, dan Firman-Nya penuh dengan bagian-bagian yang menggarisbawahi peran utama yang seharusnya dimainkan oleh gereja lokal dalam kehidupan kita. Kita membutuhkan sarana kasih karunia Firman, sakramen, dan doa (Kisah Para Rasul 2:42). Kita membutuhkan pengawasan rohani (Ibr. 13:17). Kita membutuhkan dorongan dan akuntabilitas yang terus-menerus (Ibrani 3:13). Kita saling membutuhkan (Roma 12:3–8; Efesus 4:1–16).

Disiplin adalah cara lain yang digunakan orang percaya untuk mengalami pertumbuhan rohani. Kata disiplin erat kaitannya dengan kata pemuridan. Dalam Kitab Suci, seorang murid adalah seseorang yang diajar dalam ajaran Kristus. Pemuridan alkitabiah terjadi ketika orang percaya diajar dalam Firman Tuhan. Orang percaya dipanggil oleh Tuhan untuk mengejar disiplin diri dan bukannya merasa bebas untuk berbuat apa saja karena sudah mendapat jaminan keselamatan.

Alkitab juga menasihati orang tua untuk mendisiplinkan anak-anak mereka, membesarkan mereka dalam disiplin dan pelatihan Tuhan (Efesus 6:4). Dengan demikian, para pemimpin gereja juga bertugas untuk mengajarkan disiplin hidup yang benar kepada jemaat. Hal ini terbukti dari ajaran Alkitab tentang disiplin gereja (Matius 18:15–20; Ibrani 12:3–11). Disiplin gereja berfungsi sedemikian rupa untuk menjaga kehormatan nama Kristus, memulihkan saudara-saudara yang bersalah, dan mengekang kejahatan di gereja. Melalui proses ini, orang percaya dapat dibantu dalam proses pertumbuhan rohani.

Ibadah keluarga dan ibadah pribadi adalah disiplin rohani tambahan yang membantu pertumbuhan rohani dalam kasih karunia. Alkitab memerintahkan orang tua untuk dengan tekun mengajarkan seluruh nasihat Allah kepada anak-anak mereka (Ulangan 6:6-7; Efesus 6:4). Alkitab juga penuh dengan contoh-contoh individu yang merenungkan Firman Allah dan memakai waktunya dalam persekutuan dengan-Nya dalam doa (misalnya, Daniel 6:10; Mazmur 63:6).

Kita diselamatkan hanya oleh kasih karunia dan dibenarkan hanya oleh iman, tetapi setelah diselamatkan, kita tidak hanya menunggu kematian. Kekristenan juga tentang pertumbuhan rohani, dan pertumbuhan rohani melibatkan usaha kita—kerja keras untuk pengudusan. Jelas kita tidak bekerja untuk kelahiran kembali atau pembenaran kita. Kedua tindakan itu bersifat monergistis, yang dilakukan oleh Allah sendiri. Hanya Roh Kudus yang dapat mengubah hati kita. Hanya kebenaran Kristus, kebenaran Anak Allah yang dijamin oleh ketaatan-Nya yang sempurna kepada Bapa, yang dapat mengamankan kedudukan kita yang benar di hadapan Allah.

Pada pihak yang lain, pengudusan mencakup usaha kita. Kita mengatakan itu sinergis karena Allah dan kita sama-sama melakukan sesuatu. Namun, kita bukanlah mitra yang setara. Allah berkehendak dan bekerja di dalam kita sesuai dengan kerelaan-Nya sehingga kita maju dalam kekudusan (Filipi 2:12–13). Namun saat Allah bekerja di dalam kita, kita juga bekerja, mencari Dia dalam doa, mengandalkan sarana kasih karunia—Firman yang dikhotbahkan dan sakramen—berusaha untuk berdamai dengan mereka yang telah kita sakiti. Tidak ada jalan pintas untuk pengudusan. Itu adalah sebuah proses, dan proses yang sering kali tampak terlalu lamban, dengan kemajuan yang membutuhkan waktu bertahun-tahun untuk bisa dilihat dan dirasakan, tetapi sesuatu yang harus terus disyukuri.

Karena Yesus Kristus dan karya penyelamatan-Nya membentuk dasar iman kita (1 Korintus 2:2; 3:11), kita seharusnya lebih peduli tentang cara bertumbuh dalam kasih karunia dan pengetahuan tentang Kristus (2 Petrus 3:18). Pertumbuhan kita dalam kasih karunia Kristus akan sepadan dengan penggunaan sarana yang telah ditetapkan Allah. Para teolog menyebutnya sebagai “sarana kasih karunia” (media gratia). Sarana kasih karunia adalah sarana yang ditetapkan Allah yang dengannya Roh Kudus memampukan orang percaya untuk menerima Kristus dan manfaat penebusan. Meskipun Ia dapat memilih untuk segera menyatakan Kristus kepada umat-Nya, Ia telah memutuskan untuk melakukannya melalui sarana tertentu. Allah menugaskan Firman, sakramen, dan doa untuk menjadi sarana utama yang dengannya Ia mengomunikasikan Kristus dan manfaat-Nya kepada orang percaya.

Pagi ini, kita harus sadar bahwa ada tanggung jawab yang diberikan kepada kita. Dalam Filipi 2:12-13 ada pernyataan Paulus yang sangat membantu: “Kerjakan keselamatanmu.” Ia tidak berbicara tentang bekerja untuk memdapatkan keselamatan, tetapi bekerja keras dalam keselamatan Anda, bertumbuh dalam kasih karunia, karena Roh Tuhan bekerja di dalam Anda. Anda tidak sendirian. Roh Kudus akan menghasilkan berbagai buah sebagai persediaan yang kita butuhkan untuk bertumbuh dalam kasih karunia.

“Tetapi buah Roh ialah: kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan, penguasaan diri. Tidak ada hukum yang menentang hal-hal itu.” Galatia 5:22-23