Sudahkah Anda memberikan yang terbaik?

“Karena itu, saudara-saudara, demi kemurahan Allah aku menasihatkan kamu, supaya kamu mempersembahkan tubuhmu sebagai persembahan yang hidup, yang kudus dan yang berkenan kepada Allah: itu adalah ibadahmu yang sejati.” Roma 12: 1

“The Little Drummer Boy” (awalnya dikenal sebagai “Carol of the Drum“) adalah lagu Natal populer yang ditulis oleh komposer Amerika Katherine Kennicott Davis pada tahun 1941. Pertama kali direkam pada tahun 1951 oleh keluarga Trapp, lagu ini selanjutnya dipopulerkan melalui rekaman tahun 1958 oleh Harry Simeone Chorale; versi Simeone berhasil dirilis ulang selama beberapa tahun, dan lagu tersebut telah direkam berkali-kali sejak saat itu. Dalam liriknya, penyanyi tersebut menceritakan bagaimana, sebagai seorang anak muda yang miskin, dia dipanggil oleh orang Majus ke tempat kelahiran Yesus. Tanpa hadiah untuk Bayi tersebut, anak laki-laki penabuh drum kecil itu memainkan drumnya dengan persetujuan ibu Yesus, Maria, sambil berpikir, “Aku memainkan yang terbaik untuk-Nya”.

Persembahan apakah yang akan Anda berikan kepada Yesus pada hari Natal yang akan datang? Ayat pembukaan di atas menyatakan bahwa kita harus mempersembahkan tubuh kita sebagai persembahan yang hidup, yang kudus dan yang berkenan kepada Allah karena itu adalah ibadah kita yang sejati. Dengan kata lain, jika kita benar-benar ingin membawa persembahan untuk Tuhan, kita harus memakai seluruh hidup kita sebagai persembahan yang membawa kemuliaan bagi Dia setiap hari dan bukannya untuk kemuliaan diri sendiri. Ini berarti bahwa sebagai orang Kristen kita harus peduli akan cara hidup kita, sekalipun kita sudah ditebus dari hukuman dosa oleh darah Kristus.

Memberi kepada orang lain adalah sesuatu yang dilakukan sebagian orang secara teratur. Sering kali terlihat baik dan bahwa mereka sangat murah hati, sampai apa yang mereka berikan terlihat oleh banyak orang. Tetapi ada banyak orang yang membawa barang-barang ke badan sosial apa yang tidak layak diberikan. Mereka sering memberi pakaian usang atau barang-barang rusak kepada mereka yang membutuhkan. Jarang, dan bahkan tidak pernah, orang memberikan apa yang terbaik kepada mereka yang membutuhkan. Biasanya, hanya yang tersisa atau diapkir yang diberikan.

Ini sering terjadi di gereja dengan cara yang sama. Ada banyak orang yang memberikan persembahan kepada Tuhan, tetapi mereka hanya memberikan yang apa yang tersisa atau yang tidak pantas kepada Tuhan. Mereka tidak memberikan yang terbaik. Ada juga yang memberi gereja uang yang berlimpah dari apa yang diperoleh dengan cara yang tidak benar. Mempersembahkan sesuatu yang tidak harum bagi Tuhan sudah menjadi larangan untuk umat Israel pada zaman Perjanjian Lama, dan prinsipnya tetap berlaku hingga sekarang.

“Janganlah engkau mempersembahkan bagi TUHAN, Allahmu, lembu atau domba, yang ada cacatnya, atau sesuatu yang buruk; sebab yang demikian adalah kekejian bagi TUHAN, Allahmu.” Ulangan 17: 1

Pada waktu itu, Tuhan telah memberi tahu orang Israel untuk tidak mempersembahkan hewan yang cacat. Selama waktu itu, mereka mempersembahkan hewan kurban secara fisik. Jika ada yang mempersembahkan domba atau lembu yang cacat kepada Tuhan, Ia akan menganggap itu menjijikkan, karena mereka memberi apa yang patut dibuang, bukan apa yang bisa menunjukkan kemauan mereka untuk menghormati dan memuliakan Tuhan.

Bagaimana dengan konsep memberi persembahan di zaman sekarang? Umumnya, gereja-gereja yang besar mempunyai jemaat yang loyal dan mampu memberi persembahan yang banyak. Terlepas dari jenis gereja, aliran teologi maupun tingkat ekonomi jemaat, persembahan harus diberikan dengan motif yang benar, melalui cara yang benar dan digunakan untuk tujuan yang benar. Kita memberi karena Tuhan lebih dulu memberi kita apa yang terbesar, yaitu keselamatan.

“Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan AnakNya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepadaNya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal.” Yohanes 3: 16

Persembahan ini bukan hanya persembahan uang tunai, tetapi bisa berupa waktu dan tenaga. Dalam hal ini, sering kali waktu dan pikiran manusia tidak digunakan untuk kemuliaan Tuhan. Fokus banyak orang adalah diri sendiri atau dunia ini, bukan pada Tuhan dan kerajaan-Nya. Kesibukan dunia ini seringkali membuat orang memberikan yang seadanya, dan bukan yang terbaik. Mreka mungkin merasa bahwa gereja sudah senang dengan persembahan apa pun dari jemaatnya. Mungkin sebagian merasa bahwa gereja tidak akan berkembang tanpa sumbangan uang dan tenaga mereka. Mereka juga merasa bahwa seharusnya pengurus gereja menghargai semua sumbangan mereka. Mereka lupa bahwa Tuhan tidak membutuhkan apa yang dihasilkan manusia, karena semua yang ada di bumi berasal dari Dia.

Setiap orang percaya perlu memberikan yang terbaik kepada Tuhan dan mempercayai Tuhan untuk memimpin kita dalam menggunakan sisanya. Berikan waktu, uang, dan tenaga yang terbaik. Luangkan waktu hari ini untuk difokuskan pada apa yang Anda akan berikan kepada Tuhan. Ijinkan Tuhan untuk memiliki yang pertama dan terbaik dari semua yang Anda miliki, waktu, energi, kemampuan, dan uang anda. Jangan berikan hanya sisa hidup Anda atau apa yang sebenarnya tidak Anda inginkan, karena itu adalah dosa.

Bagaimana pemberian Anda kepada Tuhan hari ini? Semoga Anda mau memberi kepada Tuhan dengan hati yang rela; bahwa Anda akan memberikan diri Anda sendiri kepada Tuhan; bahwa Anda akan memberikan yang masa hidup yang terbaik kepada Tuhan; dan bahwa Anda akan menghormati Tuhan dalam semua pemberian Anda.

“Sebab siapa yang menghormati Aku, akan Kuhormati, tetapi siapa yang menghina Aku, akan dipandang rendah.” 1 Samuel 2: 30

Mengapa ada perubahan iklim di dunia?

“Sebab kita tahu, bahwa sampai sekarang segala makhluk sama-sama mengeluh dan sama-sama merasa sakit bersalin.” Roma 8:22

Ingatkah saat kita masih kecil dan naif? Ingatkah saat ketika kita mendengar adanya bencana alam, baik banjir atau kelaparan, dan menghubungkannya dengan penyebab supernatural? Manusia dari ribuan tahun yang silam, baik dari Afrika ataupun dari Asia, dan yang tinggal di hutan Amazon maupun yang hidup di padang gurun Australia, semuanya percaya bahwa bencana di dunia dikirim oleh para dewa. Baik itu masalah besar atau penderitaan manusia, mereka tahu siapa yang harus disalahkan: Tuhan. Itu adalah dasar ajaran fatalisme.

Tentu saja, manusia modern seperti kita sekarang telah berubah. Pendidikan kita dan ilmu pengetahuan modern telah secara efektif melenyapkan penafsiran-penafsiran khayalan di atas, dan memberikan pencerahan kepada kita mengenai apa yang sebenarnya terjadi. Kita sekarang tahu apa yang menyebabkan perubahan iklim dan kehancuran flora dan fauna. Kebakaran hutan, angin topan, tanah longsor, mencairnya lapisan es, dan tipisnya lapisan ozon, semuanya mempunyai sumber yang sama. Sebagian dari kita yakin siapa yang bersalah: manusia. Walaupun demikian, masih ada orang yang percaya bahwa semua itu terjadi semata-mata karena kehendak Tuhan. Itu karena manusia tidak mampu mengambil keputusan dan tindakan yang mengubah ciptaan Tuhan. Mana yang benar?

Sudah tentu kita tidak dapat melepaskan manusia dari panggilan yang diberikan Tuhan untuk secara bertanggung jawab menjaga dan mengembangkan ciptaan baik Sang Pencipta. Kita tidak dapat membantah ilmu pengetahuan seputar perubahan iklim. Tetapi, masalahnya adalah jika kita hanya memilih satu cara untuk menceritakan hal ini: bahwa manusia bertanggungjawab sepenuhnya atas apa yang terjadi di dunia. Jika itu benar, manusia tidak akan mempunyai harapan di saat adanya malapetaka.

Beberapa puluh tahun yang lalu, ketika dunia sedang terguncang akibat epidemi AIDS, banyak pendeta dikecam karena kata-kata mereka yang menyatakan bahwa bencana mengerikan tersebut bisa jadi merupakan penghakiman dari Tuhan. Sesudah itu, ada pengkhotbah yang menyalahkan dosa manusia atas terjadinya COVID-19 dan munculnya serangan teroris. Ketika mereka menyalahkan manusia atas datangnya bencana seperti itu, mereka ditertawakan. Namun saat ini, para ilmuwan, pakar, dan politisi tampaknya menyalahkan kita (dan satu sama lain) atas perubahan iklim!

Entah pilihan pribadi atau kebijakan publik yang harus disalahkan, satu hal yang kita semua sepakati adalah bahwa perubahan iklim adalah permasalahan manusia yang disebabkan oleh alam. Setiap hari dalam siklus berita 24/7, para pakar ilmiah dan politik yang mengubur kita dengan rasa malu dan bersalah, lalu memberi tahu kita bagaimana kita menyebabkan segala apa yang terjadi. Mereka juga menyatakan bahwa hanya manusia yang bisa bertindak untuk menghindari bencana yang lebih besar.

Tentu saja kita tidak boleh mengabaikan semua yang telah diperoleh melalui sains. Namun pertanyaannya adalah apa yang bisa kita peroleh dengan menyatakan sebagian dari kepastian ilmiah yang tampaknya hanya membebani semua orang. Bagaimana jika, sebaliknya, kita mengizinkan beberapa saksi supernatural untuk memberikan kesaksian dan berbagi sedikit misteri Ilahi?

Menurut kesaksian Kristen, dalam semua bencana selalu ada kabar baik. Kabar terbaiknya adalah Tuhan bersedia menanggung semua masalah kita. Alkitab secara jelas menyatakan kegagalan manusia di sepanjang zaman. Banyak catatan kuno tentang penyakit, bencana, dan kematian yang berasal dari pilihan manusia. Namun Injil Kristen, kabar baik dari Tuhan, adalah bahwa Allah yang menciptakan segala sesuatu dengan baik, dan memberi kita semua kebaikan yang kita nikmati, sudah menjadi manusia Yesus untuk menyerap badai dan penyakit yang terjadi karena dosa manusia. Salib Yesus adalah tindakan ilahi ketika Tuhan mengangkat tangan-Nya untuk menanggung kesalahan atas kegagalan manusia.

Ada cara lain di mana Allah memikul tanggung jawab atas seluruh bencana yang terjadi di bumi. Menurut Alkitab, penyakit dan bencana alam bukanlah akibat yang buta dan penyebabnya tidak terlihat. Semua itu adalah alat bantu visual yang diilhami ilahi untuk membantu kita melihat realitas hakiki kita. Itu adalah lampu yang dirancang untuk mengingatkan manusia dari bencana yang lebih besar. Dengan demikian, itu sebenarnya adalah kebaikan Tuhan. Itu seperti sistem peringatan dini yang memberitahu Anda untuk mencari tempat yang lebih tinggi dan menghindari gelombang tsunami. Untuk mencari apa yang abadi dan bukan apa yang mudah rusak.

Hari ini kita harus sadar bahwa Tuhan orang Kristen mengklaim berkuasa atas seluruh ciptaan. Semua peristiwa alam tidak berada di luar kendali-Nya. Dia bahkan mengizinkan terjadinya bencana yang mengerikan dalam rancangan-Nya demi kebaikan umat manusia. Kita harus percaya bahwa perubahan iklim bukan hanya konsekuensi dosa manusia atau semata-mata penderitaan yang dibuat Tuhan.

Ayat di atas mengajarkan bahwa ciptaan Allah mengerang seperti saat melahirkan. Bumi yang penuh bencana ini sedang menunggu sesuatu yang lebih baik. Sebuah hidup baru. Sebuah ciptaan baru. Iklim baru. Dunia baru di mana tidak akan ada lagi kesedihan, tangisan, atau kesakitan. Dunia ini hanya mungkin terjadi karena Allah di dalam Kristus bersedia menanggung kesalahan dan dosa kita.

Apa yang menyebabkan kita menjadi seperti ini?

Tetapi semua orang yang menerima-Nya diberi-Nya kuasa supaya menjadi anak-anak Allah, yaitu mereka yang percaya dalam nama-Nya; orang-orang yang diperanakkan bukan dari darah atau dari daging, bukan pula secara jasmani oleh keinginan seorang laki-laki, melainkan dari Allah.” Yohanes 1:12-13

Pernahkah Anda bertanya-tanya bagaimana jadinya jika Anda dilahirkan di negara yang berbeda, mungkin dengan orang tua yang berbeda, atau bahkan pada waktu yang berbeda dalam sejarah? Banyak dari kita yang berfantasi tentang hal ini dan bahkan mungkin merasa bahwa keadaan akan jauh lebih baik bagi kita jika kita tinggal di negara lain dengan orang tua yang berbeda. Tetapi, mungkin Anda merasa beruntung tidak dilahirkan di Timur Tengah, sebagai anak dari keluarga bukan Kristen, sekalipun Anda mungkin menjadi Pangeran Ali Baba atau Puteri Sultan raja minyak yang kaya raya!

Mengapa kita harus merasa beruntung menjadi orang Kristen, tentunya bisa kita mengerti. Itu karena orang Kristen yang mempunyai Yesus yang menebus kita dari hukuman dosa, dan yang juga adalah Tuhan sendiri. Keselamatan kita di surga sudah dipastikan dan dijamin oleh Tuhan sendiri. Lalu, apa yang menyebabkan kita menjadi orang Kristen? Sebagian orang merasa beruntung karena dilahirkan dalam keluarga Kristen, menerima pendidikan dari sekolah Kristen, atau diinsafkan oleh khotbah atau pesan orang Kristen. Semua itu adalah faktor-dafktor yang mempengaruhi kapan, bagaimana dan di mana kita mau menerima tawaran kasih Kristus, tetapi bukanlah penyebab kita menjadi orang Kristen.

Ada banyak keluarga Kristen yang justru mempunyai anak-anak yang menolak untuk menjadi orang Kristen. Jika ada beberapa anak yang dilahirkan dalam satu keluarga, tidak semuanya akan menjadi orang Kristen. Bahkan salah satu anak dari seorang pendeta terkenal di Amerika, justru bukan orang Kristen sekalipun saudaranya menjadi seorang pendeta terkenal. Apa yang menyebabkan sebagian orang menjadi orang Kristen dan sebagian lagi menolak atau acuh tak acuh akan Injil?

Alkitab dengan jelas menunjukkan bahwa Tuhanlah yang menentukan kapan kita akan dilahirkan, siapa orang tua kita, dan di mana kita akan tinggal. Ini adalah sesuatu yang tidak dapat kita pilih atau tolak. Sebagai Tuhan, Ia tidak membuat kesalahan, karena Dialah Mahabijaksana. Dia menentukan hidup kita dan menempatkan kita dalam keluarga kita. Meskipun wajar jika sebagian orang merasa Tuhan tidak adil karena tidak memberi mereka lingkungan, tempat, dan saat kelahiran yang lebih baik, kenyataannya setiap otang dilahirkan pada tempat dan waktu yang tepat sesuai rencana Tuhan.

Yohanes 1: 12-13 menunjukkan bahwa lebih dari menentukan kelahiran jasmani kita, Tuhan juga menentukan kelahiran rohani kita. Ayat 13 adalah penyebutan pertama dalam Injil ini tentang “dilahirkan” ke dalam Kerajaan Allah. Istilah “dilahirkan kembali” telah menjadi klise dan banyak orang salah memahaminya. Namun, ini merupakan ide yang penting, karena apa yang tersirat di dalamnya. Saat seorang anak lahir, segala usaha, tenaga, dan rasa sakit ditanggung oleh ibu. Namun, anaklah yang paling banyak mengalami perubahan dalam hidup seterusnya.

Keselamatan rohani kita adalah serupa: penderitaan dan usaha Tuhan untuk memberikan kita hidup baru, membuahkan manfaat bagi kita. Mengatakan bahwa hal ini tidak terjadi “melalui darah atau daging” berarti ini bukan kejadian alami. Mengatakan bahwa ini bukan “kehendak daging” berarti ini bukan soal keputusan manusia. Kelahiran kembali ini sepenuhnya merupakan pekerjaan Tuhan, dan sesuai dengan kehendak-Nya. Keselamatan kita tidak bergantung pada apa pun dalam sifat kemanusiaan kita. Ini bagus, karena jika tidak demikian, kita semua akan tersesat untuk selamanya!

Lalu mengapa ada orang-orang yang dilahirkan dalam lingkungan Kristen, tetapi tidak pernah menjadi orang yang secara setia dan teratur beribadah? Seringkali penyebabnya adalah kepahitan hidup. Karena mereka merasa Tuhan kurang mengasihi mereka, mereka merasa kecewa. Karena kelakuan orang-orang Kristen disekitar mereka, mereka merasa mual atas apa yang mereka lihat. Mereka kemudian menolak tawaran kasih Tuhan. Bagi mereka, semua Kristen adalah munafik. Mereka merasa lebih berbahagia di antara orang-orang yang bukan Kristen, yang bebas untuk menjalani hidup mereka tanpa menunaikan kewajiban iman.

Malam ini, Alkitab mengingatkan kita bahwa kasih-Nya akan mengalahkan keadaan yang paling buruk dalam hidup kita, dan kasih karunia-Nya dapat memulihkan tahun-tahun terbuang yang seolah telah dimakan belalang. Daripada merasa ingin untuk mendapatkan kehidupan yang lebih baik dari apa yang ada sekarang, mulailah bersyukur kepada Tuhan atas tujuan luar biasa-Nya dalam kehidupan yang Anda jalani saat ini. Dia menempatkan Anda dalam keluarga tempat Anda berada, dan Dia memilih dengan tepat waktu kelahiran Anda dan di mana Anda akan tinggal. Rencana-Nya bagi kita masing-masing adalah agar segala sesuatu bekerja sama demi kebaikan Anda sesuai dengan tujuan baik-Nya jika kita mengasihi Dia!

Doa:

Bapa, bantulah aku untuk menyadari bahwa Engkaulah yang memilih orang tuaku, waktu kelahiranku, dan di mana aku akan tinggal. Aku bersyukur Engkau tidak pernah melakukan kesalahan. Bantulah aku untuk menyadari bahwa kasih-Mu dapat menaklukkan segala situasi atau keadaan yang aku alami dan Engkau ingin membuat segala sesuatu bekerja sama demi kebaikanku sesuai dengan tujuan baik-Mu! Dalam nama PutraMu yang terkasih Yesus, aku berdoa, AMIN.

Jangan berharap pada kekuatan sendiri

“Akhirnya, hendaklah kamu kuat di dalam Tuhan, di dalam kekuatan kuasa-Nya. Efesus 6:10

Apakah Anda bisa melihat bagaimana orang Kristen hidup dan bekerja di dunia? Banyak orang Kristen yang hidupnya tidak berbeda dengan orang bukan Kristen. Bahkan banyak orang yang berpendapat bahwa orang Kristen hanya terlihat seperti orang yang jujur dan saleh pada hari Minggu saja, selama berada di gereja. Begitu keluar dari gedung gereja, mereka sama saja dengan orang lainnya. Sebagai orang yang mengaku Kristen, mereka mungkin belum pernah belajar dari Efesus 6 tentang cara hidup di dunia.

Paulus memulai surat Efesus 6 dengan memberikan instruksi khusus kepada anak-anak dan ayah, masing-masing menekankan kepatuhan dan kesabaran. Ia juga mengarahkan para pelayan untuk melayani dengan keikhlasan dan niat baik, seolah-olah bekerja untuk Kristus. Para majikan diperingatkan untuk tidak bersikap kasar karena Tuhan yang sama yang menghakimi semua orang tanpa pilih kasih. Paulus kemudian menyatakan bahwa semua orang Kristen dipanggil untuk menggunakan alat yang diberikan Tuhan kepada kita untuk bertahan dari serangan iblis dan menolak godaan dunia. Ini dibayangkan sebagai bagian perlengkapan perang seorang prajurit.

Paulus mengingatkan orang-orang percaya bahwa kehidupan Kristen berarti ikut serta dalam peperangan rohani. Dari pengalamannya sendiri, sang rasul mengetahui bahwa pertentangan itu nyata dan peperangannya sangat sengit: “Karena perjuangan kita bukanlah melawan darah dan daging, tetapi melawan pemerintah-pemerintah, melawan penguasa-penguasa, melawan penghulu-penghulu dunia yang gelap ini, melawan roh-roh jahat di udara. Sebab itu ambillah seluruh perlengkapan senjata Allah, supaya kamu dapat mengadakan perlawanan pada hari yang jahat itu dan tetap berdiri, sesudah kamu menyelesaikan segala sesuatu.” (Efesus 6:12–13).

Efesua 6 ayat 10 sampai 18 adalah bagian Alkitab yang terkenal dan banyak digunakan. Ayat-ayat ini memberikan garis besar setiap bagian dari perlengkapan senjata Allah yang bersifat metaforis. Masing-masing bagian berhubungan dengan bidang kehidupan spiritual yang penting untuk bersandar pada kekuatan Tuhan. Penggambaran Paulus mengenai komponen-komponen ini akan diakhiri dengan fokus pada doa (Efesus 6:18-20), sekali lagi memohon kekuatan dan kesuksesan kepada Tuhan dalam pertempuran. Hanya dengan mengandalkan Tuhan, melalui alat spiritual ini, kita dapat mengatasi kejahatan spiritual dan berhasil mewujudkan kehendak Tuhan.

Ayat 10 di atas memperkenalkan dasar dari keseluruhan dari instruksi Paulus. Yakni kekuatan, melalui Tuhan, dan dari Tuhan. Karena orang-orang percaya terlibat dalam peperangan rohani yang terus-menerus melawan kuasa kegelapan, mereka tidak dapat bertahan tanpa kuasa Allah. Menjadi kuat di dalam Tuhan dan kuasa kuasa-Nya sangat penting untuk menjalani kehidupan Kristen yang menang atas godaan dosa.

Penting bagi kita untuk memahami apa yang dimaksud dengan “menjadi kuat di dalam Tuhan”. Dalam bahasa Yunani aslinya, istilah ini merupakan kata kerja kalimat pasif yang berarti “dibuat (lebih) mampu atau mampu melakukan suatu tugas.” Menjadi kuat di dalam Tuhan tidak berarti membangun kekuatan Anda sendiri. Orang percaya tidak dapat menguatkan dirinya sendiri; sebaliknya, mereka harus diberdayakan atau diperkuat oleh Tuhan.

Hanya ketika hidup kita diposisikan di dalam Tuhan, dalam kesatuan dengan Dia, barulah kita memiliki kekuatan yang tepat untuk mengalahkan musuh. Yesus berkata, “Tinggallah di dalam Aku dan Aku di dalam kamu. Sama seperti ranting tidak dapat berbuah dari dirinya sendiri, kalau ia tidak tinggal pada pokok anggur, demikian juga kamu tidak berbuah, jikalau kamu tidak tinggal di dalam Aku. Akulah pokok anggur dan kamulah ranting-rantingnya. Barangsiapa tinggal di dalam Aku dan Aku di dalam dia, ia berbuah banyak, sebab di luar Aku kamu tidak dapat berbuat apa-apa.” (Yohanes 15:4–5).

Pemberdayaan orang percaya datang dari keberadaannya di dalam Yesus. Di luar Dia, kita tidak dapat berbuat apa-apa, tetapi di dalam Kristus kita mempunyai segenap kekuatan kuasa-Nya. Melalui panggilan tinggi Allah dalam Kristus Yesus, kuasa Tuhan membuat kita mampu berjuang. Dia menguatkan kita dengan segala yang kita butuhkan untuk tugas apa pun.

Ketika Paulus mendorong orang percaya untuk “menjadi kuat di dalam Tuhan,” dia memanggil mereka untuk setia—untuk tinggal di dalam Kristus dan percaya pada kuasa Tuhan dalam segala hal dalam hidup. Kekuatan Kristen sejati datang dari kesadaran kita akan ketergantungan sepenuhnya pada Tuhan. Inilah yang Paulus maksudkan ketika ia menulis, “Segala perkara dapat kutanggung di dalam Dia yang memberi kekuatan kepadaku.” (Filipi 4:13).

Adakah kekuatiran di hati anda?

“Sebab aku yakin, bahwa baik maut, maupun hidup, baik malaikat-malaikat, maupun pemerintah-pemerintah, baik yang ada sekarang, maupun yang akan datang, atau kuasa-kuasa, baik yang di atas, maupun yang di bawah, ataupun sesuatu makhluk lain, tidak akan dapat memisahkan kita dari kasih Allah, yang ada dalam Kristus Yesus, Tuhan kita.” Roma 8: 38 – 39

Sesudah kejatuhan manusia kedalam dosa, dunia menjadi satu tempat yang penuh dengan semak duri (Kejadian 3: 17 – 19). Walaupun demikian, manusia eksis selama berabad-abad dan hidup sampai sekarang sekalipun banyak makhluk lain yang musnah. Jelas bahwa manusia sebagai ciptaan Tuhan yang istimewa memang diberi kemampuan yang khusus untuk survive oleh Tuhan. Sekalipun begitu, ada banyak hal yang bisa membuat kita kuatir, dan bahkan ketakutan.

Populasi dunia mengalami penuaan, hampir setiap negara di dunia mengalami pertumbuhan jumlah dan proporsi lansia dalam populasinya. Jumlah penduduk lanjut usia, yaitu mereka yang berusia 60 tahun atau lebih, telah meningkat secara signifikan dalam beberapa tahun terakhir di sebagian besar negara dan wilayah, dan pertumbuhan tersebut diperkirakan akan meningkat pesat dalam beberapa dekade mendatang. Bagaimana masa depan kaum muda yang pada akhirnya harus mendukung mereka yang lanjut usia? Dan bagaimana mereka yang sudah berumur tetapi tidak memiliki sanak yang bisa membantu mereka dalam menghadapi hari tua?

Perubahan iklim juga merupakan salah satu tantangan besar di zaman kita. Mulai dari perubahan pola cuaca yang mengancam produksi pangan, hingga kenaikan permukaan air laut yang meningkatkan risiko bencana banjir, dampak perubahan iklim memiliki cakupan global dan skala yang belum pernah terjadi sebelumnya. Banyak penduduk dunia yang harus mengungsi dari daerahnya untuk menghindari dampak perubahan iklim.

Bagaimana dengan pertentangan antar bangsa dan antar manusia? Memang benar bahwa dengan majunya peradaban dan ilmu pengetahuan, manusia makin bisa mengelola bumi dan isinya. Tetapi, seiring dengan kemajuan itu, manusia juga makin mampu untuk mencelakai sesamanya dan makin mampu untuk membuat orang lain menderita dengan berbagai cara.

Apa yang terjadi pada Yesus pada akhir hidup-Nya adalah sebuah contoh bahwa manusia tidak segan-segan menggunakan segala cara yang kejam untuk mencapai maksud mereka. Para murid Yesus pun mengalami berbagai penderitaan. Diantara apa yang tercatat dalam sejarah gereja, Matius dibunuh dengan pedang setelah disiksa terlebih dahulu. Yakobus anak Zebedeus, meninggal karena dipenggal di Jerusalem. Bagaimana dengan Petrus? Ia meninggal dengan cara disalibkan terbalik dengan kepala menghadap kebawah. Andreas juga meninggal dengan cara disalib seperti Petrus di Yunani. Thomas meninggal karena dihujani tombak, dan sebelumnya dia sempat dilempar kedalam perapian, tetapi tidak meninggal. Matias, yang merupakan Rasul pengganti Yudas Iskariot, meninggal karena dihukum rajam dan akhirnya dipenggal kepalanya.

Apa yang membuat umat Kristen bertahan dalam menghadapi tantangan kehidupan dan bahaya dan lebih tabah dari yang lain? Ayat diatas yang ditulis rasul Paulus kepada jemaat di Roma menyebutkan kunci kekuatan umat Kristen yaitu kasih Allah. Bahwa tidak ada kuasa atau keadaan yang akan dapat memisahkan umat Kristen dari kasih Allah, yang ada dalam Kristus Yesus. Rasul Paulus sendiri disiksa dengan kejam dan dipenggal kepalanya oleh Kaisar Nero pada abad pertama. Ia adalah rasul yang paling lama mengalami penyiksaan di penjara dan karena itu kebanyakan suratnya dibuat dan dikirim dari penjara.

Kunci keberanian orang Kristen adalah keyakinan bahwa Tuhan tidak pernah meninggalkan mereka dalam keadaan apa pun. Bagi umat Kristen yang mempunyai hubungan yang erat dengan Tuhan, kasih-Nya yang mereka rasakan hari demi hari dalam hidup mereka membuat mereka selalu tabah dan tidak takut menghadapi goncangan dalam hidup. Sekalipun keadaan di dunia mungkin mencekam, mereka sadar bahwa hidup di dunia hanyalah sebagian kecil dari hidup keseluruhan. Bagi mereka, hidup yang ada sesudah hidup di dunia adalah yang paling penting. Itulah yang dinamakan iman, percaya sekalipun tidak bisa melihat.

Hari ini, suasana disekitar kita mungkin terasa suram dan kekuatiran mulai muncul dalam pikran kita. Apa yang akan terjadi pada diri kita, dan apa pula yang akan dihari-hari mendatang? Kita tidak tahu apa yang akan terjadi dan Tuhan tidak selalu memberikan kita petunjuk yang jelas akan masa depan kita. Tetapi, apa yang pasti adalah kasih dan kuasa-Nya. Tuhan yang mahakasih selalu memberi kita kekuatan dan Ia yang mahakuasa pasti memberi apa yang terbaik untuk kita. Dengan itu kita boleh yakin bahwa pada akhirnya rencana agung Tuhan akan terjadi dan itu adalah baik untuk kita.

Bagaimana Abraham bisa menerima keselamatan?

“Sebelum iman itu datang kita berada di bawah pengawalan hukum Taurat, dan dikurung sampai iman itu telah dinyatakan. Jadi hukum Taurat adalah penuntun bagi kita sampai Kristus datang, supaya kita dibenarkan karena iman. Sekarang iman itu telah datang, karena itu kita tidak berada lagi di bawah pengawasan penuntun. Sebab kamu semua adalah anak-anak Allah karena iman di dalam Yesus Kristus.” Galatia 3: 23-26

Pertanyaan di atas seringkali membuat orang bingung. Kita tahu bahwa sejak zaman Perjanjian Baru, keselamatan datang sebagai anugerah melalui iman dalam Yesus Kristus (Yohanes 1:12; Efesus 2:8-9). Kita juga tahu bahwa Yesus adalah Jalan (Yohanes 14:6). Jika demikian, sebelum lahirnya Kristus, apakah jalan untuk menerima keselamatan? Mengapa Abraham bisa menerima keselamatan sebelum adanya hukum Taurat dan sebelum Yesus datang?

Mungkin Anda ingat bahwa dalamKejadian 22:1–19 Tuhan menguji Abraham dengan perintah-Nya untuk mengurbankan putra kesayangannya sebagai kurban bakaran. Abraham bertekad untuk taat, tanpa ragu-ragu, bertindak dengan keyakinan penuh bahwa Tuhan, bagaimanapun caranya, akan membuat segala sesuatu menjadi baik. Abraham menghentikan maksudnya hanya ketika Tuhan campur tangan. Karena kepercayaan dan ketaatannya yang mendalam, Tuhan memperbaharui dan menekankan berkat-Nya kepada Abraham dan keturunannya, serta berjanji untuk memberkati semua bangsa melalui keturunan Abraham.

Apakah Abraham yang dikatakan “bapa orang percaya” itu diselamatkan karena perbuatannya? Tidak! Sebelum ujian Tuhan datang, Ia sudah bersabda bahwa melalui keturunan Abraham, semua bangsa di bumi akan diberkati. Janji ini juga diulangi dari interaksi sebelumnya dengan Tuhan (Kejadian 12:3; 18:18), dengan tambahan bahwa berkat bagi bangsa-bangsa di bumi akan datang melalui keturunan Abraham dan bukan hanya melalui dia. Tuhan menyatakan bahwa Dia telah bersumpah “demi diri-Nya” untuk melakukan beberapa hal yang sangat spesifik bagi Abraham. Hal ini termasuk memberkati Abraham, memperbanyak keturunannya, dan memberikan kemenangan kepada keturunannya atas musuh-musuh mereka. Ini terjadi sebelum Abraham diuji oleh Tuhan!

Kita dengan demikian dapat menyimpulkan bahwa Tuhan melakukan semua itu karena Abraham telah mendengarkan suara Tuhan. Menariknya, Tuhan memberikan semua janji ini kepada Abraham tanpa mengharuskan dia untuk melakukan sesuatu bagi Tuhan. Dengan demikian, janji-janji itu diberikan Tuhan semata-mata karena Ia ingin memberikannya. Dengan inisiatif Tuhan sendiri, Abraham dimasukkan sebagai alasan atas pemberian Tuhan ini.

Implikasi janji Tuhan kepada Abraham itu ternyata sangat besar. Keturunan Abraham, melalui Ishak ke Yakub dan di sepanjang sejarah, ternyata diberi berbagai peran unik sampai kelahiran Yesus terjadi. Karena Yesus, semua bangsa di bumi mempunyai kesempatan untuk diselamatkan dari dosa dan termasuk dalam keluarga Allah melalui iman kepada Yesus sebagai keturunan Abraham (Galatia 3:7), baik orang Israel maupun bukan orang Israel. Keselamatan ternyata bukan karena usaha manusia, tetapi karunia Tuhan untuk semua manusia percaya.

Di dalam Roma 4 rasul Paulus menjelaskan bahwa jalan keselamatan dalam Perjanjian Lama tidaklah beda dengan jalan Perjanjian Baru, yang adalah melalui anugerah saja, melalui iman saja. Untuk membuktikan hal ini, Paulus menunjuk kepada Abraham, yang diselamatkan melalui iman: “Lalu percayalah Abraham kepada Tuhan, dan Tuhan memperhitungkan hal itu kepadanya sebagai kebenaran” (Roma 4:3). Abraham tidak mungkin selamat melalui pemeliharaan hukum, karena ia hidup lebih dari 400 tahun sebelum pemberian hukum itu sendiri.

Karunia kepada Abraham tersebut diberikan tanpa syarat oleh kasih karunia Tuhan semata-mata. Lalu mengapa Musa menerima sepuluh hukum Tuhan? Apakah sesudah adanya hukum Taurat orang diselamatkan karena menjalankan hukum itu? Dalam kenyataannya, tidak ada seorang pun yang bisa menjalankan hukum Taurat dengan sepenuhnya dan secara sempurna. Dengan demikian hukum Taurat tidak bisa menjadi syarat keselamatan orang Israel. Mereka yang diselamatkan Tuhan di zaman itu juga diselamatkan hanya karena karunia-Nya. Penerima anugerah mengakui kebaikan Tuhan dan menaati perintah Tuhan. Tuhan kemudian menjadikan ketaatan si penerima sebagai alasan untuk memberikan hadiah yang seharusnya Dia berikan.

Paulus menjelaskan tujuan hukum dalam sejarah Israel sampai Kristus datang. Dia telah menjelaskan dengan jelas bahwa hukum Musa tidak dapat memberikan kehidupan. Hal ini tidak dapat menyelamatkan manusia dari dosa mereka (Galatia 3:11). Namun, hal ini memainkan peran penting bagi Israel sejak zaman Musa hingga zaman Kristus.

Paulus menggunakan ilustrasi untuk menjelaskan tujuan tersebut. Ia membandingkan hukum dengan seorang paidagōgos, atau seorang pendidik. Dalam keluarga Yunani, seorang pendidik adalah seorang budak yang dipercaya untuk melindungi dan merawat anak-anak dari usia 6 tahun hingga akhir remaja. Pedagog tidak persis sama dengan “guru”, namun ia mendisiplinkan anak-anak. Dia mengajari mereka moral dan mengoreksi mereka ketika mereka berperilaku buruk. Namun, ketika anak-anak sudah cukup besar, mereka meninggalkan sang pendidik. Kata ini diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris sebagai “tutor.”

Galatia 3:23-29 merangkum gagasan bahwa Allah tidak pernah bermaksud agar hukum menjadi solusi akhir atas masalah dosa. Sebaliknya, hal itu dimaksudkan untuk ”menjaga” umat manusia, hingga kedatangan Kristus. Kebebasan dari belenggu hukum ini juga melampaui semua hambatan lainnya: ras, gender, kekayaan, kesehatan, dan budaya semuanya tidak relevan dengan hubungan kita dengan Juruselamat. Siapa pun yang menjadi milik Kristus, karena iman, dijanjikan menjadi ahli waris.

Sebuah salah paham tentang jalur keselamatan pada masa Perjanjian Lama yang masih ada di zaman ini adalah bahwa sebagian orang Yahudi masih percaya bahwa mereka akan diselamatkan melalui pemeliharaan Hukum Taurat. Dari pembacaan Alkitab kita tahu bahwa anggapan ini tidak benar. Paulus mengajarkan bahwa tujuan dari Hukum sendiri adalah fungsinya sebagai “penuntun bagi manusia sampai Kristus datang, supaya kita dibenarkan karena iman” (Galatia 3:24). Bagi kita, ketaatan kepada hukum Tuhan bukanlah kunci keselamatan, tetapi tanda bahwa kita sudah diselamatkan.

Dari mana datangnya hikmat?

“Aku mengasihi orang yang mengasihi aku, dan orang yang tekun mencari aku akan mendapatkan daku.” Amsal 8:17

Jika ada orang yang mempertanyakan dari mana datangnya cinta, lagu Maluku yang berjudul “Rasa Sayange” menyatakan bahwa cinta datang dari mata turun ke hati. Tapi pandangan ini mungkin sudah berubah. Jika dahulu penampilan fisik adalah apa yang menarik dan mendorong perhatian lawan jenis, sekarang orang mungkin lebih memakai pikiran mereka sebelum jatuh cinta. Ditimbang-timbang, dipikir-pikir sebelum memutuskan untuk jatuh cinta. Orang bilang bahwa kita harus bijaksana, dan karena itu segala sesuatu harus dipertimbangkan untung-ruginya!

Sekalipun kebijaksanaan itu perlu, apa yang dikenal sebagai hikmat oleh Tuhan bukanlah apa yang secara alami dimiliki oleh semua manusia. Alkitab menyatakan bahwa orang yang tidak berhikmat, adalah orang yang tidak mengenal Tuhan. Kebijaksanaan atau hikmat yang benar adalah datang dari Allah dan Allah adalah sumber hikmat. Karena orang yang mengenal Allah adalah orang yang dipilih-Nya, mereka adalah orang yang diberi kesempatan untuk mendapatkan hikmat yang sejati.

Orang bebal berkata dalam hatinya: ”Tidak ada Allah.” Mazmur 14: 1

Allah dalam Amsal 8:17 di atas, dipersonifikasikan sebagai seorang wanita yang berseru agar orang di sekitarnya mau mendengar. Katanya: “Aku mengasihi orang yang mengasihi aku.” Hikmat adaah Allah yang berseru agar umat-nya mau mendengar (Amsal 1:20-21). Allah memanggil mereka agar mereka berhikmat dengan cara mengasihi dan menaati Dia. Hikmat adalah bagian dari karunia kreatif Allah jauh sebelum penciptaan alam semesta.

“Hikmat berseru nyaring di jalan-jalan, di lapangan-lapangan ia memperdengarkan suaranya, di atas tembok-tembok ia berseru-seru, di depan pintu-pintu gerbang kota ia mengucapkan kata-katanya.” Amsal 1:20-21

Amsal 8:12–21 mencatat lebih banyak kata-kata yang merupakan personifikasi hikmat. Allah berbicara tentang nilai yang Dia berikan kepada mereka yang menemukannya. Bertentangan dengan apa yang ditawarkan oleh wanita pezinah dalam Amsal 7—kemiskinan dan aib—hikmat menawarkan kekayaan sejati, kehormatan, dan warisan.

Kasih, dalam hubungannya dengan hikmat, juga memiliki makna yang mendalam. Kasih Yesus tidak ada bandingannya. Itu adalah cinta tanpa pamrih dan penuh pengorbanan. Yohanes 13:1 menggambarkan Yesus sebagai “setelah mengasihi umat-Nya yang ada di dunia, Ia mengasihi mereka sampai kesudahannya.” Tentu saja, perwujudan kasih Yesus yang paling signifikan bagi kita adalah kematian-Nya di kayu salib. Rasul Paulus menulis dalam Galatia 2:20, “…namun aku hidup, tetapi bukan lagi aku sendiri yang hidup, melainkan Kristus yang hidup di dalam aku. Dan hidupku yang kuhidupi sekarang di dalam daging, adalah hidup oleh iman dalam Anak Allah yang telah mengasihi aku dan menyerahkan diri-Nya untuk aku”.

” Kasih Yesus kepada kita mengobarkan kasih timbal balik kepada-Nya dalam diri kita. Rasul Yohanes menulis, “Kita mengasihi karena Dialah yang terlebih dahulu mengasihi kita” (1 Yohanes 4:19).

Kebijaksanaan akan ditemukan oleh mereka yang tekun mencarinya. Ini berarti bahwa mereka yang mengasihi Dia akan memperoleh kebijaksanaan. Yeremia 29:13 menerapkan gagasan yang sama kepada mereka yang mencari Tuhan, secara umum, menyatakan, “apabila kamu mencari Aku, kamu akan menemukan Aku; apabila kamu menanyakan Aku dengan segenap hati.” Ayat berikut menjanjikan, “Aku akan memberi kamu menemukan Aku” (Yeremia 29:14). Yesus, sumber segala hikmat, mengundang orang-orang terhilang untuk datang kepada-Nya.

Semua yang diberikan Bapa kepada-Ku akan datang kepada-Ku, dan barangsiapa datang kepada-Ku, ia tidak akan Kubuang.” Yohanes 6: 37

Pagi ini kita harus menyadari bahwa jika kita memang mengasihi DIa, kita akan memperoleh hikmat dalam hidup kita. Kita tidak akan merasa ragu, kuatir atau takut dalam melangkahkan kaki kita. Kita akan terlindungi sehingga tidak jatuh terperosok dalam dosa.

”Jikalau kamu mengasihi Aku, kamu akan menuruti segala perintah-Ku. Aku akan minta kepada Bapa, dan Ia akan memberikan kepadamu seorang Penolong yang lain, supaya Ia menyertai kamu selama-lamanya, yaitu Roh Kebenaran. Dunia tidak dapat menerima Dia, sebab dunia tidak melihat Dia dan tidak mengenal Dia. Tetapi kamu mengenal Dia, sebab Ia menyertai kamu dan akan diam di dalam kamu. Yohanes 14:15-17

Kesedihan mengingatkan adanya Tuhan

“Berapa lama lagi, TUHAN, Kaulupakan aku terus-menerus? Berapa lama lagi Kausembunyikan wajah-Mu terhadap aku? Berapa lama lagi aku harus menaruh kekuatiran dalam diriku, dan bersedih hati sepanjang hari? Berapa lama lagi musuhku meninggikan diri atasku? Mazmur 13: 1 – 2

Keadaan di Israel dan Palestina sekarang ini tentunya bukan suatu hal yang mudah diterima dengan hati yang tabah. Dengan berjalannya waktu, suasana perang ini lambat laun membuat banyak orang merasa gundah. Apalagi jika kita mendengar begitu banyaknya korban yang berjatuhan dari kedua pihak. Setiap orang di dunia tentunya merasa sedih dengan keadaan dunia saat ini. Semua ini adalah kenyataan dan bukan sebuah film drama perang.

Sekalipun orang mungkin senang menonton film drama yang bernada sedih dan bisa membayangkan keadaan yang dilukiskan dalam film itu, tentunya tidak seorang pun yang mengingini agar kejadian semacam itu terjadi pada dirinya sendiri. Sekalipun kejadian serupa mungkin saja pernah dialami oleh penonton, itu bukanlah sesuatu yang bisa dinikmati. Kesedihan adalah sesuatu yang tidak disukai manusia, tetapi bisa datang tanpa diundang. Sebagian kesedihan bisa disebabkan karena kesalahan diri sendiri, tetapi banyak juga yang datang karena perbuatan orang lain atau karena adanya peristiwa-peristiwa yang terjadi di dunia.

Kesedihan adalah bagian kehidupan sejak manusia jatuh ke dalam dosa. Sekalipun kita berusaha keras untuk menghindari apa yang menyedihkan, hal yang buruk dapat terjadi dalam hidup kita. Banyak orang Kristen yang mengalami musibah yang bertanya-tanya mengapa Tuhan yang mahakasih membiarkan umat-Nya untuk merasakan kesedihan yang luar biasa. Mengapa Ia tidak memberikan pertolongan, penghiburan dan kekuatan?

Hidup tidak selalu mudah. Iman kepada Tuhan tidak selalu memberikan jawaban yang mudah. Alkitab tidak menyembunyikan fakta ini. Pada ayat di atas, Daud bersama banyak orang lainnya mengungkapkan kebingungan dan frustrasinya kepada Allah. Menghadapi bahaya, Daud merasa Tuhan telah melupakannya. Pertanyaan David tentang “berapa lama?” lebih dari sekedar persoalan waktu; itu juga merupakan permohonan penjelasan. Ada perasaan “mengapa?” yang dibawa dalam keluhan ini.

Rupanya, janji Tuhan untuk mengangkat Daud menjadi raja Israel semakin pudar dalam menghadapi ancaman Saul. Daud merasa terharu saat melihat wajah Tuhan, namun kini sepertinya Tuhan menyembunyikan wajah-Nya. Daud mengungkapkan keprihatinan serupa dalam Mazmur 22:12, yang mana ia berdoa, “Janganlah jauh dari padaku, sebab kesusahan telah dekat, dan tidak ada yang menolong.”

Mungkin karena menghadapi kemungkinan besar akan menjadi korban kekejaman Saul, Daud berseru kepada Tuhan karena frustrasi. Dalam keadaannya, dia merasa ditinggalkan dan tidak dicintai. Dia memohon kepada Tuhan untuk mempertimbangkan situasinya dan menjawabnya. Daud tidak sekadar meminta bantuan; dia meminta penjelasan. Meskipun begitu, Daud tetap percaya kepada Tuhan dan melakukannya dengan penuh keyakinan. Karena Tuhan sudah membuktikan diri-Nya, Daud memilih beriman kepada Tuhan.

Kita mungkin pernah mengidentifikasi diri dengan perasaan seperti yang dialami Daud. Masalah mungkin menekan kita, sehingga kita berpikir bahwa Tuhan telah meninggalkan kita dan tidak peduli lagi. Namun, Apalagi jika tidak ada seorang pun yang peduli, atau yang bisa menolong kita. Tetapi, Tuhan tidak akan pernah meninggalkan orang percaya, dan Dia memeliharanya (Ibrani 13:5; 1 Petrus 5:7). Perjuangan Daud tidak membuat dia menolak Tuhan; sebaliknya, dia akan menanggapi ketakutannya dengan iman (Mazmur 13:5–6). Kita pun bisa mejadi seperti Daud.

Pagi ini, pertanyaan kita mungkin: adakah guna kesedihan sehingga Tuhan membiarkan umat-Nya untuk mengalaminya? Ada! Kesedihan bisa membimbing manusia untuk menyadari bahwa mereka tidak berkuasa atas apa pun juga yang terjadi di dunia. Penderitaan bisa juga menginsafkan manusia untuk tidak mengulangi kekeliruan di masa lalu. Kesedihan bisa memperkuat iman kita agar kita mau bergantung kepada Tuhan. Kesesakan hidup juga bisa membuat kita untuk mau berjalan bersama Dia. Lebih dari itu, adanya kesedihan bisa memberi keyakinan kepada kita bahwa Yesus yang sudah mengalami penderitaan yang luar biasa, tidak akan membiarkan kita untuk mengalami penderitaan yang lebih besar dari kekuatan kita.

“Pencobaan-pencobaan yang kamu alami ialah pencobaan-pencobaan biasa, yang tidak melebihi kekuatan manusia. Sebab Allah setia dan karena itu Ia tidak akan membiarkan kamu dicobai melampaui kekuatanmu. Pada waktu kamu dicobai Ia akan memberikan kepadamu jalan ke luar, sehingga kamu dapat menanggungnya.” 1 Korintus 10: 13

Hal mengasihi orang yang tidak kita sukai

“Tetapi kamu, kasihilah musuhmu dan berbuatlah baik kepada mereka dan pinjamkan dengan tidak mengharapkan balasan, maka upahmu akan besar dan kamu akan menjadi anak-anak Allah Yang Mahatinggi, sebab Ia baik terhadap orang-orang yang tidak tahu berterima kasih dan terhadap orang-orang jahat.” Lukas 6:35

Alkisah, ada seorang perempuan Kristen yang sudah cukup lama menikah, tetapi masih harus berjuang keras untuk bisa menikmati hidup bersama suaminya. Setelah hampir sepuluh tahun, dia masih bertanya-tanya dengan penuh kesungguhan: “Tuhan, apakah dia memang jodohku?” Perempuan itu tidak mau mengakuinya secara terang-terangan – dan dia tahu Tuhan telah menempatkan pria itu dalam hidupnya – tetapi dia sebenarnya tidak menyukai suaminya! Setiap hari, dia bertanya-tanya bagaimana dia bisa menaati panggilan Tuhan untuk mencintai sang suami, jika ia tidak tahan lagi berada di dekatnya. Menurutnya, pria yang satu ini adalah tipe orang yang membosankan, tak henti-hentinya mengeluh, jarang mau mendengarkan, suka berperang mulut, jarang tersenyum, tetapi suka bergosip. Dapatkah ia mengasihi orang yang tidak disukainya?

Alkitab memberi tahu kita bahwa kehendak Allah adalah agar kita mengasihi orang lain dengan kasih yang ilahi. Kita dipanggil untuk “mengasihi musuh kita, berbuatlah baik kepada orang yang membenci kita; mintalah berkat bagi orang yang mengutuk kita; berdoalah bagi orang yang mencaci kita.” (Lukas 6: 27-28). Yesus berkata kepada murid-murid-Nya pada malam sebelum penyaliban-Nya, “Aku memberikan perintah baru kepada kamu, yaitu supaya kamu saling mengasihi; sama seperti Aku telah mengasihi kamu demikian pula kamu harus saling mengasihi.” (Yohanes 13:34).

Dalam masing-masing contoh di atas, kata Yunani untuk kasih adalah agapao yang mempunyai sifat pengorbanan diri sebagai ciri utamanya. Ini bukanlah cinta kasih sayang persaudaraan (phileo), atau hubungan cinta yang didasarkan nafsu (eros) seperti yang sering dipikirkan orang zaman sekarang. Sebaliknya, cinta agapao atau agape mencari yang terbaik untuk objeknya. Kasih yang rela berkorban tidak didasarkan pada perasaan, melainkan suatu tindakan yang penuh tekad, tekad yang penuh sukacita untuk mendahulukan kesejahteraan orang lain di atas kesejahteraan kita sendiri. Jelaslah, cinta seperti ini tidak mungkin terjadi jika kita memiliki kekuatan sendiri. Hanya melalui kuasa Roh Kudus kita mampu menaati perintah Tuhan, termasuk perintah mengasihi.

Yesus berkata kita harus mengasihi sebagaimana Dia mengasihi kita, lalu bagaimana Dia mengasihi? “Akan tetapi Allah menunjukkan kasih-Nya kepada kita, oleh karena Kristus telah mati untuk kita, ketika kita masih berdosa.” (Roma 5:8). Tentu saja kita tidak akan menyukai semua orang, dan kita juga tidak terpanggil untuk menyukai semua orang. Meski begitu, saat kita mulai mencintai seseorang dengan kasih Tuhan, sikap kita terhadap orang tersebut akan berubah. Secara ajaib, kita tidak akan mampu memiliki sikap dan tindakan yang tidak konsisten. Ketika kita mulai menunjukkan kasih melalui tindakan kita, sikap kita pun akan mengikuti. Mengasihi akan tetap menjadi sebuah pilihan, namun lambat laun akan menjadi pilihan yang lebih rela dan siap dilakukan oleh hati. Bukan karena terpaksa.

Ketika kita melihat interaksi Yesus dengan orang lain, kita melihat bahwa Dia rela berhubungan dengan semua jenis orang—orang berdosa, pemungut cukai, orang Farisi, Saduki, orang Roma, Samaria, nelayan, wanita, anak-anak—tanpa mempedulikan pandangan masyarakat. Yesus mengasihi orang-orang ini dan memperlakukan mereka berdasarkan kasih tersebut, namun hal itu tidak selalu terlihat menyenangkan. Dia mengucapkan kata-kata kasar kepada orang-orang yang menentang-Nya, namun Dia melakukannya karena itu yang terbaik bagi mereka. Dia mengorbankan waktu-Nya, energi emosional-Nya, dan kebijaksanaan-Nya bagi mereka yang membenci-Nya karena Dia tahu hal itu akan membawa mereka pada pengetahuan yang menyelamatkan tentang Dia dan menjauhkan mereka dari dosa untuk selamanya. Apa pun yang terjadi, mereka mendapat manfaat dari masukan-Nya. Inilah inti dari mengasihi musuh kita—mengatakan kebenaran dengan kasih kepada mereka (Efesus 4:15), tidak peduli seberapa besar biaya yang harus kita keluarkan untuk melakukan hal tersebut.

Sudah tentu, ini tidak berarti bahwa Anda akan menyukai setiap orang atau bahkan menghormati mereka tanpa memikirkan cara hidup mereka. Tuhan telah memberi kita pikiran untuk membedakan, sampai batas tertentu, hati orang lain. Kita juga diciptakan menurut gambar Allah dan tidak boleh membahayakan diri kita sendiri dengan memercayai seseorang yang tidak layak untuk dipercaya. Yesus menjauh dari orang banyak karena Dia mengetahui isi hati mereka dan Ia perlu melindungi diri-Nya (Yohanes 5:13; 6:15). Namun, ketika kita menaruh kepercayaan kita sepenuhnya kepada Kristus dan mengejar hikmat dan kekudusan melalui doa dan Kitab Suci, kita secara alami akan mengembangkan kasih terhadap orang lain—kasih ilahi yang mengorbankan diri demi mencari yang terbaik bagi mereka—baik disertai dengan atau tidak dengan rasa suka kita terhadap mereka dan cara hidupnya.

Tidak salah lagi bahwa Yesus memanggil umat-Nya untuk mengasihi orang-orang yang tidak kita sukai – di dalam dan di luar gereja. Di dalam dan di luar rumah. Kasih yang Dia ajarkan kepada kita tidak didasarkan pada kesamaan alami atau kepentingan bersama. Kita tidak menatap tetangga kita, seperti beberapa orang yang memicingkan mata ke awan tak berbentuk, mencoba melihat sesuatu yang menarik di dalamnya – yang bisa kita sukai – sebelum kita bertindak. Apa yang diperlukan untuk menunjukkan kepedulian kita terhadap siapa pun di planet ini hanyalah perintah Yesus: “Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri” (Lukas 10:27).

Memang menjengkelkan bahwa kita tidak bisa memilih siapa yang pindah ke rumah sebelah atau siapa yang tergeletak bersimbah darah di pinggir jalan (Lukas 10:25-37). Lebih payah lagi, suami atau istri yang kita pilih, selang berapa tahun mungkin menjadi orang yang tidak seperti yang kita bayangkan. Apakah kasih kita menjadi hilang karena adanya hal-hal yang tidak sesuai dengan selera kita?

Pagi ini, harapan Tuhan terhadap kasih, inti dari perintah-Nya, adalah agar kita dapat memperluas wawasah kasih kita kepada mereka yang secara alami tidak atau belum kita sukaii. Yesus bahkan lebih jauh lagi memanggil kita untuk mengasihi orang-orang yang membenci kita.

Sendirian dalam iman, sendirian dalam kematian

“Demikianlah setiap orang di antara kita akan memberi pertanggungan jawab tentang dirinya sendiri kepada Allah.” Roma 14:12

Pernahkah Anda membaca cerita Sam Pek Eng Tay? Ini adalah cerita rakyat Tiongkok yang mengisahkan percintaan Sam Pek dan Eng Tay. Legenda ini sering dianggap sebagai Romeo dan Juliet versi Tionghoa.

Eng Tay adalah seorang gadis muda dari Shangyu, Zhejiang, putri tunggal dari sebuah keluarga kaya yang pergi ke Hangzhou untuk belajar. Dalam perjalanannya, ia berkenalan dengan Sam Pek, yang berasal dari Kuaiji. Di sekolah Eng Tay jatuh cinta dengan Sam Pek. Namun orang tua Eng Tay memaksanya untuk menikahi orang lain. Sam Pek sakit hati dan akhirnya meninggal dunia.

Pada hari pernikahan Eng Tay dengan orang pilihan orang tuanya, rombongan pengantin wanita tidak dapat pergi ke rumah mempelai laki-laki karena terhadang badai di dekat kuburan Sam Pek. Engtay pergi ke kuburan tersebut dan meminta agar kuburan tersebut terbuka. Tiba-tiba Eng Tay meloncat ke dalam kuburan Sam Pek. Jiwa mereka dilahirkan kembali sebagai sepasang kupu-kupu yang terbang bersama. Kisah sehidup semati yang berkesan indah, tetapi sebenarnya tidak cocok untuk orang Kristen. Mengapa demikian?

Terlepas dari cara Eng Tay untuk menyatakan cintanya kepada Sam Pek yang sudah mendahuluinya, orang Kristen mengerti bahwa tidak semua orang akan bisa ke surga. Sekalipun ada dua orang Kristen yang saling mengasihi, hanya orang Kristen sejati yang akan masuk surga. Keselamatan adalah hal pribadi yang tidak bisa dibagi dengan orang lain. Begitu juga kematian, karena hanya kematian orang yang sudah ditebus akan berakhir dengan kehidupan kekal di surga.

Martin Luher perbah menyatakan: “Every man must do two things alone; he must do his own believing and his own dying“. Artinya: setiap orang harus melakukan dua hal sendirian; ia harus menjalankan imannya sendirian dan ia harus mati sendirian. Tidak ada orang yang bisa sehidup semati dengan orang lain. Karena jika kita mau bertekad untuk hidup sebagai orang Kristen sejati, itu harus merupakanh perjuangan pribadi kita; dan jika kita meninggalkan dunia ini kita harus menhadapi Tuhan sendirian.

Dalam kutipan Martin Luther di atas, ia merangkum esensi dari perjalanan pribadi dan tanggung jawab utama yang kita pikul sebagai individu. Pada intinya, kutipan tersebut menunjukkan bahwa ada dua aspek mendasar dalam hidup yang tidak dapat dialami oleh siapa pun: percaya dan mati. Percaya, dalam konteks ini, mencakup tindakan mengembangkan keyakinan, nilai, dan perspektif diri sendiri. Hal ini memerlukan eksplorasi ide secara independen, hubungan pribadi dengan Tuhan. Kepercayaan memaksa kita untuk mempertanyakan, merenungkan, dan mencari jawaban atas pertanyaan-pertanyaan mendasar dalam hidup. Ini adalah proses yang sangat pribadi dan intim yang membentuk opini kita, memengaruhi keputusan kita, dan memberi makna pada keberadaan kita.

Demikian pula, bagian kedua dari ucapan Luther itu membahas realitas kematian manusia yang tak terelakkan. Kematian adalah aspek kehidupan yang tidak dapat dihindari dan kita masing-masing akan menghadapinya secara individu. Terlepas dari sistem pendukung eksternal apa pun, di akhir perjalanan kita, kita dihadapkan pada kesendirian dan finalitas dari kematian kita sendiri. Kita tidak bisa mengandalkan orang lain untuk melakukan pengalaman ini atas nama kita; itu milik kita pribadi.

Makna kutipan ini terletak pada penekanannya pada akuntabilitas dan otonomi pribadi. Hal ini mendorong kita untuk mengendalikan keyakinan kita, memastikan bahwa keyakinan tersebut lahir dari introspeksi dan keyakinan mendalam, bukan kepatuhan membabi buta terhadap ajaran pendeta atau keyakinan orang lain. Terlebih lagi, hal ini mengingatkan kita bahwa kitalah yang memiliki kepemilikan tunggal atas hidup kita dan pilihan-pilihan yang kita buat hingga akhir.

Tiap orang harus memikul salibnya sendiri. Memikul salib berarti menaruh kepercayaan penuh kepada Tuhan di tengah badai dan pertempuran dalam hidup Anda. Artinya, meskipun Anda berada dalam situasi yang sangat sulit atau menyakitkan, adalah keputusan Anda untuk selalu percaya bahwa Tuhan menyertai Anda di tengah penderitaan Anda. Lebih dari itu, sebagai orang Kristen, kita sendiri harus berusaha menjalani hidup kita sesuai dengan kehendak Tuhan.

Meskipun kutipan Luther menyoroti tanggung jawab individu, keyakinan dan keputusan kita bergema dalam lingkup yang lebih luas dari keberadaan manusia. Perjalanan hidup orang beriman dan akhir hidup dari setiap orang Kristen adalah suatu kesatuan yang tidak dapat terpisahkan. Meskipun pada akhirnya kita bertanggung jawab atas hidup kita sendiri dan harus menghadapi proses kematian, hubungan dan interaksi yang kita dengan Tuhan sumber kehidupan kita memberi kita keyakinan bahwa semua itu akan kita jalani bersama Tuhan sendiri. Dalam kenyataannya, kita tidak dapat bergantung pada kasih orang lain, tetapi kepada kasih Tuhan.

“Siapakah yang akan memisahkan kita dari kasih Kristus? Penindasan atau kesesakan atau penganiayaan, atau kelaparan atau ketelanjangan, atau bahaya, atau pedang? Seperti ada tertulis: ”Oleh karena Engkau kami ada dalam bahaya maut sepanjang hari, kami telah dianggap sebagai domba-domba sembelihan.” Tetapi dalam semuanya itu kita lebih dari pada orang-orang yang menang, oleh Dia yang telah mengasihi kita. Sebab aku yakin, bahwa baik maut, maupun hidup, baik malaikat-malaikat, maupun pemerintah-pemerintah, baik yang ada sekarang, maupun yang akan datang, atau kuasa-kuasa, baik yang di atas, maupun yang di bawah, ataupun sesuatu makhluk lain, tidak akan dapat memisahkan kita dari kasih Allah, yang ada dalam Kristus Yesus, Tuhan kita.” Roma 8:35-39