Belajar dan mengajar cara hidup baik

“Tetapi hendaklah engkau tetap berpegang pada kebenaran yang telah engkau terima dan engkau yakini, dengan selalu mengingat orang yang telah mengajarkannya kepadamu. Ingatlah juga bahwa dari kecil engkau sudah mengenal Kitab Suci yang dapat memberi hikmat kepadamu dan menuntun engkau kepada keselamatan oleh iman kepada Kristus Yesus. Segala tulisan yang diilhamkan Allah memang bermanfaat untuk mengajar, untuk menyatakan kesalahan, untuk memperbaiki kelakuan dan untuk mendidik orang dalam kebenaran. Dengan demikian tiap-tiap manusia kepunyaan Allah diperlengkapi untuk setiap perbuatan baik.” 2 Timotius 3:14-17

Siapakah manusia yang mau mengenal Allah? Tidak ada seorang pun yang mau mengenal Tuhan kecuali itu dimungkinkan oleh Tuhan sendiri. Hati dan pikiran manusia berdosa adalah demikian kotor dan penuh kebodohan, sehingga jika Tuhan tidak membuka jalan bagi manusia, tidak ada seorang pun yang mau mengenal Dia. Memang benar bahawa dalam hati dan pikiran manusia selalu ada tanda tanya mengenai asal usul dan kebesaran alam semesta, tetapi itu tidak cukup untuk membawanya ke arah pengenalan akan Tuhan yang benar. Paulus misalnya pernah menyatakan bahwa ketika ia berjalan-jalan di kota Atena, ia melihat-lihat barang-barang pujaan penduduknya, dan dia menjumpai sebuah mezbah dengan tulisan: “Kepada Allah yang tidak dikenal”. Paulus kemudian menyatakan bahwa apa yang mereka sembah tanpa mengenalnya, itulah yang akan ia beritakan (Kisah 17:23). Penduduk Atena harus belajar dari Paulus yang mau mengajar mereka.

Atena merupakan kota yang mempunyai kedudukan yang sangat penting secara politik dan ekonomi. Sejak zaman purba, Atena juga terkenal akan berhala-berhalanya yang banyak dan mezbah-mezbahnya untuk dewa-dewa. Seorang yang bernama Petronius pernah menulis bahwa di Atena, orang lebih mudah menemukan suatu ilah (dewa) daripada seorang manusia! Seorang penulis lain yaitu Pausanias, menggambarkan bahwa di kota Atena saja terdapat patung-patung yang melebihi jumlah seluruh tanah di Yunani. Rupa-rupanya sudah 1000 tahun sebelum Kristus, Atena merupakan kota yang termasyhur.

Sesudah kemusnahannya di tahun 430 SM oleh bangsa Persia, maka kota Atena dibangun kembali dengan indah. Kota itu menjadi kota para ahli-ahli pikir dan pujangga, para filsuf dan seniman. Oleh usaha sekolah-sekolah filsafat yang terkenal, kota Atena menjadi pusat ilmu pengetahuan Yunani. Dari ketiga kota universitas yang besar pada waktu itu, yaitu Atena, Tarsus dan Aleksandria, Atena adalah yang paling terkenal. Penulis Filo dari Aleksandria mengatakan bahwa orang Atena lebih tajam otaknya dari kebanyakan orang Yunani. Banyak pemuda Romawi pergi ke Atena untuk memperoleh pendidikan tinggi, termasuk Octavius (Kaisar Agustus) dari Roma, yang semasa mudanya juga belajar di kota ini. Tetapi, jika orang yang berpendidikan tidak bisa mengenal siapa Tuhan itu, mereka adalah orang yang bodoh! Kita pun adalah orang yang sama bodohnya, karena jika Tuhan tidak menyatakan diri-Nya kita tidak mungkin mengenal Dia. Bahkan mereka yang sudah menjadi orang Kristen pun masih banyak yang cara hidupnya masih menunjukkan kebodohan.

Paulus dalam suratnya kepada Timotius menyatakan bahwa fiman Tuhan memberi hikmat dan menuntun kita kepada keselamatan oleh iman kepada Kristus Yesus. Segala tulisan yang diilhamkan Allah bermanfaat untuk mengajar kita , untuk menyatakan kesalahan kita, untuk memperbaiki kelakuan kita dan untuk mendidik kita dalam kebenaran. Dengan demikian kita yang sudah menjadi kepunyaan Allah diperlengkapi untuk setiap perbuatan baik.

Mereka yang benar-benar dipanggil Allah akan dikaruniai keinginan untuk mengenal-Nya. Mereka yang ingin mempelajari hal-hal tentang Allah, dan yakin akan hal itu, harus mengetahui Kitab Suci, karena Kitab Suci adalah wahyu Ilahi. Setiap orang Kristen dari segala umur, terutama mereka yang masih anak-anak; dan mereka yang ingin mendapatkan pembelajaran yang benar, harus mengambilnya dari Kitab Suci. Mereka tidak boleh melanggar hukum dan kehendak Tuhan sekalipun orang tua, guru atau pendeta mereka mungkin jarang atau tidak pernah menekannya. Alkitab adalah panduan pasti menuju kehidupan kekal, tetapi dengan bimbingan Roh Kudus setiap orang juga harus belajar dari orang lain yang juga pernah belajar melalui tuntunan orang Kristen lainnya. Dengan demikian tiap-tiap manusia kepunyaan Allah diperlengkapi untuk setiap perbuatan baik terhadap sesamanya.

Para nabi dan rasul tidak berbicara sendiri, tetapi menyampaikan semua firman yang mereka terima dari Allah (2 Petrus 1:21). Ini bermanfaat untuk semua tujuan kehidupan orang Kristen. Ini juga berguna bagi semua orang percaya, karena mereka perlu diajar, dikoreksi, dan ditegur. Ada sesuatu dalam Kitab Suci yang cocok untuk setiap persoalan manusia. Karena itu, kita akan memperoleh manfaat, dan pada akhirnya memperoleh kebahagiaan yang dijanjikan melalui iman kepada Tuhan kita Yesus Kristus, yang merupakan subjek utama dari kedua Perjanjian.

Pagi ini kita menyadari bahwa cara terbaik bagi kita untuk melawan kesalahan dalam hidup adalah dengan mengembangkan pengetahuan yang kuat tentang firman kebenaran; dan kebaikan terbesar yang bisa kita lakukan kepada orang lain adalah dengan mengajar mereka untuk mengenal Alkitab dengan benar agar mereka bisa mencapai pertumbuhan kedewasaan yang baik dalam iman.

Mengapa kita harus melawan dosa?

“Demikianlah hendaknya kamu memandangnya: bahwa kamu telah mati bagi dosa, tetapi kamu hidup bagi Allah dalam Kristus Yesus. Sebab itu hendaklah dosa jangan berkuasa lagi di dalam tubuhmu yang fana, supaya kamu jangan lagi menuruti keinginannya.” Roma 6: 11-12

Paulus menggambarkan kematian Yesus di kayu salib demi dosa umat manusia sebagai peristiwa yang terjadi satu kali saja dan untuk selama-lamanya. Dia menyerah pada kematian pada saat itu, namun begitu Dia bangkit, kematian dikalahkan. Hal itu tidak lagi menguasai Dia. Yesus bebas dari kematian selamanya. Karena, secara rohani, mereka yang percaya kepada Kristus untuk keselamatan mereka juga mati, dikuburkan, dan kemudian dibangkitkan ke kehidupan rohani yang baru, kita berada di jalan yang sama dengan Yesus. Kita sekarang begitu dekat dengan Kristus sehingga Allah memberi kita penghargaan atas kebenaran Kristus dan menanggung pembayaran kematian-Nya atas dosa kita. Kristus secara harfiah adalah “hidup kita” (Kolose 3:4).

Paulus sekarang menulis bahwa kita harus mengubah cara berpikir kita tentang diri kita sendiri. Kita tidak boleh lagi menganggap diri kita sebagai operator yang mandiri, mementingkan diri sendiri, dan mandiri. Sebaliknya, sebagai manusia di dalam Kristus, kita harus menganggap diri kita mati terhadap dosa dan hidup bagi Allah di dalam Kristus.

Apa artinya kita mati terhadap dosa? Paulus menjelaskannya di ayat 6. Manusia lama kita telah disalibkan bersama Kristus dan “tubuh dosa” yang memperbudak kita telah dilenyapkan. Kita telah dibebaskan dari kuasa dosa. Dalam hal ini, kita sudah mati terhadap dosa. Dosa tidak bisa memaksa kita berbuat salah (1 Korintus 10:13), meski kita tidak kehilangan keinginan untuk berbuat dosa (1 Yohanes 1:9-10). Itu sebabnya kita harus terus mengingatkan diri kita sendiri bahwa kita sudah mati terhadap dosa.

Roma 6:1–14 mengeksplorasi bagaimana orang Kristen seharusnya memikirkan dan menanggapi dosa sekarang setelah kita berada di dalam Kristus dan dosa-dosa kita telah diampuni. Dalam menjelaskan hal ini, Paulus mengungkapkan informasi baru tentang apa yang terjadi ketika kita beriman kepada Kristus. Secara rohani, kita mati bersama Dia, dan terhadap dosa kita. Kami kemudian dibangkitkan ke kehidupan rohani yang baru. Kini Paulus memerintahkan kita untuk terus mengingat bahwa kita bukan lagi budak dosa. Kita tidak boleh menyerahkan tubuh kita untuk digunakan dalam dosa, namun kita harus menyerahkan diri kita sendiri sebagai alat kebenaran.

Dalam Roma 6, Paulus menjawab pertanyaan apakah orang Kristen harus terus berbuat dosa. Jawabannya tegas: kita sama sekali tidak seharusnya melakukannya. Pertama, ketika kita datang kepada Allah melalui iman kepada Yesus, kita mati terhadap dosa. Kita bukan lagi budaknya. Kedua, apa manfaat hidup demi dosa bagi kita? Hal ini menyebabkan rasa malu dan kematian. Kebenaran yang diberikan Allah kepada kita secara cuma-cuma di dalam Kristus Yesus membawa kita menjadi seperti Yesus dan hidup kekal. Kita harus mengabdi pada kebenaran, bukannya dosa.

Hal ini menurut beberapa pembaca membingungkan. Bukankah Paulus mengatakan bahwa kita mati terhadap dosa (Roma 6:1)? Bukankah Ia sudah memberitahu kita bahwa “tubuh dosa” sudah dilenyapkan (Roma 6:6) dan bahwa kita sudah dibebaskan dari dosa melalui kematian bersama Kristus ketika kita percaya kepada-Nya (Roma 6:7)? Jadi bagaimana mungkin dosa bisa menguasai kita atau membuat kita menuruti hawa nafsunya? Jawaban sederhananya adalah: Kita sudah terbebas dari kuasa dosa, namun sebagai manusia kita belum kehilangan keinginan untuk berbuat dosa.

Singkatnya, dosa masih menarik bagi kita. Sangat mudah bagi kita untuk lupa, atau bahkan tidak percaya, bahwa kita tidak perlu lagi melakukan perbuatan dosa, apalagi jika kita yakin sudah dipilih Tuhan untuk diselamatkan (1 Korintus 10:13). Kita bukan budak dosa, tetapi bisa menjadi sukarelawan dosa jika kita tidak memusuhi dosa.

Paulus memerintahkan kita untuk melakukan pemikiran ini dengan diri kita sendiri secara berkelanjutan. Dia memerintahkan kita untuk terlibat dalam pertempuran melawan keinginan kita. Jangan biarkan dosa memberi tahu Anda apa yang harus Anda lakukan, tulisnya. Bagi orang percaya Kristen yang sudah diselamatkan, kenikmatan yang dosa yang ditawarkan iblis bukanlah hal yang menarik lagi. Dalam hal ini umat Kristiani tidak boleh bersifat pasif terhadap godaan iblis.

“Karena itu tunduklah kepada Allah, dan lawanlah Iblis, maka ia akan lari dari padamu!” Yakobus 4:7

Roma 6:1–14 mengeksplorasi bagaimana orang Kristen seharusnya memikirkan dan menanggapi dosa sekarang setelah kita berada di dalam Kristus dan dosa-dosa kita telah diampuni. Dalam menjelaskan hal ini, Paulus mengungkapkan informasi baru tentang apa yang terjadi ketika kita beriman kepada Kristus. Secara rohani, kita mati bersama Dia, dan terhadap dosa kita. Kita kemudian dibangkitkan ke kehidupan rohani yang baru. Kini Paulus memerintahkan kita untuk terus mengingat bahwa kita bukan lagi budak dosa. Kita tidak boleh menyerahkan tubuh kita untuk digunakan dalam dosa, namun kita harus menyerahkan diri kita sendiri sebagai alat kebenaran.

Pagi ini kita membaca bahwa Paulus menjawab pertanyaan apakah wajar bagi orang Kristen untuk terus berbuat dosa selama hidup di dunia. Jawabannya tegas: kita sama sekali tidak seharusnya melakukannya. Pertama, ketika kita datang kepada Allah melalui iman kepada Yesus, kita mati terhadap dosa. Kita bukan lagi budaknya. Kedua, apa manfaat hidup demi dosa bagi kita? Hal ini menyebabkan rasa malu dan kematian rohani. Pada pihak yang lain, kebenaran yang diberikan Allah kepada kita secara cuma-cuma di dalam Kristus Yesus membawa kita menjadi seperti Yesus dan hidup kekal. Kita harus mengabdi pada Kristus, bukannya dosa, seperti yang tertulis pada ayat-ayat di bawah ini.

“Tetapi syukurlah kepada Allah! Dahulu memang kamu hamba dosa, tetapi sekarang kamu dengan segenap hati telah mentaati pengajaran yang telah diteruskan kepadamu. Kamu telah dimerdekakan dari dosa dan menjadi hamba kebenaran. Aku mengatakan hal ini secara manusia karena kelemahan kamu. Sebab sama seperti kamu telah menyerahkan anggota-anggota tubuhmu menjadi hamba kecemaran dan kedurhakaan yang membawa kamu kepada kedurhakaan, demikian hal kamu sekarang harus menyerahkan anggota-anggota tubuhmu menjadi hamba kebenaran yang membawa kamu kepada pengudusan.” Roma 6:17-19

Konsekuensi kemerdekaan adalah pelayanan

“Saudara-saudara, memang kamu telah dipanggil untuk merdeka. Tetapi janganlah kamu mempergunakan kemerdekaan itu sebagai kesempatan untuk kehidupan dalam dosa, melainkan layanilah seorang akan yang lain oleh kasih.” Galatia 5:13

Orang Kristen adalah orang yang sudah dipanggil Kristus untuk percaya kepada-Nya agar dibebaskan dari ikatan dosa. Para pembaca surat Paulus pada waktu itu berada dalam bahaya menyia-nyiakan kebebasan itu, dengan membelok ke salah satu dari dua arah. Di satu arah, guru-guru palsu menekan mereka untuk melakukan sunat agar yakin bahwa mereka benar di hadapan Allah. Di arah lain, kebebasan juga bisa disia-siakan hanya untuk melayani keinginan pribadi dalam hidup yang tidak berubah, dan bukannya melayani orang lain dalam kasih. Roh Allah sebenarnya sudah memberi mereka kekuatan untuk melakukan hal benar jika saja mereka membiarkan Dia memimpin hidup mereka. JIka itu mereka lakukan, niscaya kehidupan dalam Roh akan menghasilkan buah yang penuh kuasa dan positif dalam kehidupan mereka.

Galatia 5:1–15 berfokus pada apa yang harus dilakukan oleh mereka yang berada di dalam Kristus terhadap kebebasan yang ada di dalam Kristus. Pertama, mereka harus menjaganya, terutama dari pihak-pihak yang menekan mereka untuk mengikuti hukum. Paulus yakin jemaat Galatia akan menolak orang yang membawa mereka ke arah yang salah. Selain itu, Paulus juga memperingatkan mereka untuk tidak menyia-nyiakan kebebasan mereka di dalam Kristus dengan melayani diri sendiri secara egois dan bukannya melayani satu sama lain dalam kasih. Seluruh hukum Tuhan memang digenapi dalam satu kata itu: kasih. Namun, hidup mereka yang melayani kepentingan dirinya sendiri akan selalu berakhir dengan konflik dan kekacauan.

Paulus menghabiskan sebagian besar suratnya kepada jemaat di Galatia untuk menyerukan mereka agar hidup dalam kebebasan yang datang dari iman kepada Kristus. Dengan darah-Nya sendiri, Kristus telah membeli bagi mereka yang percaya kepada-Nya kebebasan dari perbudakan keberdosaan kita di bawah hukum Taurat. Kami diampuni. Kita tidak perlu bekerja keras di bawah beban hukum yang berat (Galatia 3:23-29). Dalam suratnya kepada jemaat di Roma, yang memperluas gagasan yang sama, Paulus menyatakannya sebagai berikut: “Demikianlah sekarang tidak ada penghukuman bagi mereka yang ada di dalam Kristus Yesus.” (Roma 8:1).

Namun hal ini menimbulkan pertanyaan baru, yang tentunya juga ditanyakan oleh musuh-musuh Paulus: Jika tidak ada ancaman hukuman bagi orang yang berbuat dosa, apa yang bisa mencegah orang berbuat dosa lebih banyak lagi? Tanpa konsekuensi, bukankah orang-orang akan menuruti segala jenis praktik jahat? Bukankan jika demikian orang beriman tidak perlu berjuang selawan serangan iblis? Perlu kita ingat bahwa Paulus sudah menyatakan kepada jemaat di Efesus bahwa setiap percaya harus memakai seluruh perlengkapan senjata Allah untuk melawan tipu muslihat iblis:

“Kenakanlah seluruh perlengkapan senjata Allah, supaya kamu dapat bertahan melawan tipu muslihat Iblis; karena perjuangan kita bukanlah melawan darah dan daging, tetapi melawan pemerintah-pemerintah, melawan penguasa-penguasa, melawan penghulu-penghulu dunia yang gelap ini, melawan roh-roh jahat di udara. Sebab itu ambillah seluruh perlengkapan senjata Allah, supaya kamu dapat mengadakan perlawanan pada hari yang jahat itu dan tetap berdiri, sesudah kamu menyelesaikan segala sesuatu. Jadi berdirilah tegap, berikatpinggangkan kebenaran dan berbajuzirahkan keadilan, kakimu berkasutkan kerelaan untuk memberitakan Injil damai sejahtera; dalam segala keadaan pergunakanlah perisai iman, sebab dengan perisai itu kamu akan dapat memadamkan semua panah api dari si jahat, dan terimalah ketopong keselamatan dan pedang Roh, yaitu firman Allah, dalam segala doa dan permohonan. Berdoalah setiap waktu di dalam Roh dan berjaga-jagalah di dalam doamu itu dengan permohonan yang tak putus-putusnya untuk segala orang Kudus.” Efesus 6:11-18

Kini dalam kitab Galatia Paulus memperingatkan jemaat Galatia untuk tidak menggunakan kebebasan mereka di dalam Kristus sebagai kesempatan untuk secara egois melayani kedagingan dengan hanya melakukan apa yang dirasa baik untuk diri sendiri. Sebaliknya, mereka harus saling melayani tanpa pamrih dalam kasih. Inilah hidup baik yang sesuai dengan hukum Kristus yang kedua.

Sekarang, apakah kita hidup di dalam Kristus atau tidak, itu tergantung pada arah ke mana kita menempatkan fokus kita. Kita sendiri yang harus mengambil keputusan. Jika kita berusaha membuat kita layak di hadapan Tuhan, kita hidup di bawah hukum; yang menurut definisinya, berarti berusaha membenarkan diri kita sendiri di hadapan Allah, dengan usaha sendiri, melalui perbuatan sendiri. Kita fokus pada diri kita sendiri, dan sebagai hasilnya, kita benar-benar mencari kejayaan bagi diri kita sendiri. Sebaliknya, jika kita memilih keselamatan melalui iman di dalam Kristus yaitu tentang apa yang Dia lakukan melalui pekerjaan-Nya, itu sama sekali bukan tentang kita.

Hari ini, kita belajar bahwa hidup dalam kebebasan yang Kristus beli tidak boleh berarti berfokus pada diri sendiri. Hidup orang Kristen adalah tentang kasih Tuhan yang memberi kemerdekaan yang abadi kepada mereka dan karena itu mereka berusaha untuk melayani satu sama lain dengan kasih yang sama.

“Kita mengasihi, karena Allah lebih dahulu mengasihi kita.”1 Yohanes 4:19

Antara pembenaran, pengudusan, dan perbuatan baik

“Hai saudara-saudaraku yang kekasih, kamu senantiasa taat; karena itu tetaplah kerjakan keselamatanmu dengan takut dan gentar, bukan saja seperti waktu aku masih hadir, tetapi terlebih pula sekarang waktu aku tidak hadir, karena Allahlah yang mengerjakan di dalam kamu baik kemauan maupun pekerjaan menurut kerelaan-Nya.” Filipi 2:12-13

Mungkin Anda pernah mendengar penjelasan tentang hubungan antara pembenaran dan pengudusan. Banyak orang berpendapat bahwa “Pembenaran bersifat monergistis. Pengudusan bersifat sinergis.” Bagaimana pendapat Anda?

Semua orang Reformed percaya bahwa pembenaran umat Kristen adalah semata-mata pekerjaan Tuhan. Kita diampuni bukan karena kebaikan atau usaha kita, tetapi 100% karunia Tuhan. Ini yang disebut monergisme. Walaupun demikian, dalam hal pengudusan, pandangan orang Reformed terbelah dua. Hasil survei beberapa tahun yang lalu menunjukkkan bahwa hampir separuh umat Reformed percaya bahwa proses pengudusan terjadi secara sinergis (bekerja sama) antara Tuhan dan manusia.

Perbedaan pendapat ini kemudian menimbulkan perdebatan yang baik dan bermanfaat antar saudara seiman, meskipun terkadang agak memanas. Namun, satu hal yang tampaknya hilang dalam perdebatan itu adalah standar-standar Pengakuan Iman Reformed. Itulah sebabnya banyak jemaat yang kemudian memiliki pengertian yang salah tentang pengudusan dan perbuatan baik.

Jika kita membaca Pengakuan Westminster, misalnya, kita bisa mrnyimpulkan bahwa ungkapan seperti “pengudusan itu sinergis” atau “usaha dalam pengudusan” sangat tidak memadai. Pembenaran dan pengudusan itu adalah monergisme, semata-mata pekerjaan Tuhan, tetapi apa yang bisa dilakukan orang beriman adalah menuruti suara Roh Kudus dan berbuat baik. Tuhan tidak memaksa kita untuk menuruti suara Roh Kudus dan untuk berbuat baik, tetapi sebagai orang percaya kita akan melakukannya dengan takut dan gentar (dengan sungguh hati) untuk kemuliaan-Nya yang sudah menebus dan menguduskan kita.

Apa yang tertulis dalam Pengakuan Iman Westminster mengenai pengudusan, iman, dan perbuatan baik?

Bab XIII. Pengudusan

  1. Dalam diri mereka yang dipanggil dengan ampuh dan dilahirkan kembali, diciptakan hati baru dan roh baru, dan mereka dikuduskan lebih jauh, sungguh- sungguh dan secara perseorangan, oleh kekuatan kematian dan kebangkitan Kristus, melalui Firman dan Roh-Nya yang diam dalam diri mereka. Kuasa seluruh tubuh dosa dihancurkan dan berbagai hawa nafsunya makin hari makin dihidupkan dan diperkuat dalam semua anugerah-yang-menyelamatkan, menuju ke praktik kekudusan yang sejati, sebab tanpa kekudusan tidak seorang pun akan melihat Tuhan.
  2. Pengudusan itu bersifat menyeluruh dan menyangkut manusia seutuhnya, namun tidak sempurna dalam hidup ini, sebab di semua bagiannya masih tinggal beberapa sisa kerusakan. Dari situlah lahirlah peperangan yang terus menerus dan yang tidak dapat diakhiri dengan pendamaian, sebab keinginan daging berlawanan dengan Roh, dan keinginan Roh berlawanan dengan daging.
  3. Dalam peperangan ini, kerusakan yang masih tinggal dapat saja untuk sementara waktu berada di atas angin. Namun, karena Roh Kristus yang menguduskan terus- menerus menyediakan kekuatan baru maka bagian yang telah dilahirkan kembali akhirnya menang. Dengan demikian orang-orang kudus bertumbuh dalam kasih karunia dan menyempurnakan kekudusannya dalam takut akan Allah.

Bab XIV. Iman yang Menyelamatkan

  1. Karunia iman, yang membuat orang-orang terpilih sanggup menjadi percaya, demi keselamatan jiwanya, merupakan karya Roh Kristus di dalam hati mereka, dan biasanya dikerjakan melalui pelayanan Firman. Olehnya, dan oleh pelayanan sakramen-sakramen serta doa, iman itu juga bertambah besar dan kuat.
  2. Oleh iman itu seorang Kristen percaya bahwa apa pun yang dinyatakan dalam Firman adalah benar, karena kewibawaan Allah sendiri yang bersabda di dalamnya. Ia menanggapi isi tiap-tiap bagaimana cara yang berbeda-beda. Perintah-perintah ditaatinya; berhadapan dengan ancaman-ancaman ia gemetar; dan janji-janji Allah untuk hidup ini dan hidup yang akan datang dipeluknya. Akan tetapi, perbuatan-perbuatan utama iman yang menyelamatkan adalah, menyambut dan meraih Kristus serta bertumpu pada Dia seorang demi pembenaran, pengudusan, dan kehidupan kekal, yang diperoleh melalui perjanjian anugerah.
  3. Iman itu berbeda-beda tingkat kekuatannya, dan dapat saja sering dan dengan berbagai cara diserang dan diperlemah, namun beroleh kemenangan dan dalam banyak orang bertumbuh hingga mencapai keyakinan penuh oleh Kristus, yang menciptakan iman kita dan membawanya ke kesempurnaan.

Bab XVI. Perbuatan baik

  1. Yang merupakan perbuatan baik hanya perbuatan yang Allah perintahkan dalam Firman-Nya yang kudus, bukan yang tanpa perintah Firman itu direka-reka oleh manusia, karena fanatisme buta atau dengan dalih mengupayakan sesuatu yang baik.
  2. Perbuatan baik itu, yang dilakukan dalam ketaatan pada perintah-perintah Allah, adalah buah dan bukti iman yang sejati dan hidup. Olehnya orang percaya menunjukkan rasa terima kasih,menguatkan keyakinan mereka, membangun saudara-saudaranya, menjadikan lebih indah pengakuan mereka tentang Injil, menyumbat mulut kaum lawan, dan memuliakan Allah. Mereka itu buatan Dia, diciptakan dalam Yesus Kristus dengan maksud supaya beroleh buah yang membawa pada kekudusan dan sebagai kesudahannya ialah hidup yang kekal.
  3. Kemampuan mereka untuk melakukan perbuatan baik sama sekali tidak datang dari mereka sendiri, tetapi seluruhnya dari Roh Kristus. Supaya mereka dibuat mampu, diperlukan, selain karunia-karunia yang telah mereka terima, pengaruh nyata Roh Kudus itu untuk mengerjakan dalam diri mereka baik kemauan maupun pekerjaan menurut kerelaan-Nya. Namun, seharusnya hal ini tidak menyebabkan mereka menjadi lalai, seakan-akan mereka tidak terikat untuk menunaikan tugas kewajiban apa pun kecuali atas dorongan khusus dari Roh. Sebaliknya, mereka harus berupaya membangkitkan karunia Allah yang ada dalam diri mereka.
  4. Pun mereka yang dalam hal ketaatan telah mencapai tingkat ketaatan tertinggi yang dapat dijangkau dalam kehidupan ini, sama sekali tidak mampu menghasilkan amal berlebih dan berbuat melebihi tuntutan Allah. Mereka malah ketinggalan dalam banyak hal yang sesungguhnya wajib mereka laksanakan.
  5. Kita tidak layak memperoleh pengampunan dosa atau hidup kekal dari Allah karena perbuatan kita yang baik pun, karena perbuatan itu sama sekali tidak sebanding dengan kemuliaan yang akan datang, dan karena jarak tidak terhingga yang ada antara kita dengan Allah. Alasannya, tidak mungkin melalui perbuatan itu kita membawa manfaat bagi Dia atau melunasi utang dosa kita yang sudah- sudah. Sebaliknya, apabila kami telah berbuat sedapat mungkin, tidak berguna. Lagi pula, sejauh perbuatan itu baik, datangnya dari Roh-Nya, dan sejauh merupakan hasil upaya kita, perbuatan itu tercemar dan tercampur dengan kelemahan dan ketidaksempurnaan begitu rupa, sehingga tidak mungkin perbuatan itu bertahan di hadapan pengadilan Allah yang keras.
  6. Meskipun demikian, karena orang-orang percaya sendiri telah diterima oleh karena Kristus maka juga perbuatan baik mereka diterima di dalam Dia. Bukan seolah-olah perbuatan itu dalam hidup ini sama sekali tidak tercela dan tidak pantas ditegur dalam pandangan Allah, tetapi Dia memandangnya dalam diri Anak- Nya dan karena itu berkenan menerima dan mengganjar perbuatan yang dilakukan dengan sungguh-sungguh, meskipun disertai banyak kelemahan dan ketidaksempurnaan.
  7. Adapun perbuatan yang dilakukan manusia yang tidak dilahirkan kembali, menurut misterinya dapat saja sesuai dengan perintah Allah dan bermanfaat bagi mereka sendiri dan bagi orang lain. Akan tetapi, perbuatan itu tidak keluar dari hati yang disucikan oleh iman dan tidak dilakukan dengan cara yang benar seturut Firman, tidak juga tertuju ke tujuan yang tepat, yaitu kemuliaan Allah. Karena itu, perbuatan itu penuh dosa dan tidak mungkin berkenan kepada Allah atau membuat seorang manusia layak menerima anugerah Allah. Namun, kalau orang-orang itu mengabaikannya, mereka bertambah berdosa dan tidak mungkin menyenangkan Allah.

Hari ini kita bisa melihat apa yang dijelaskan oleh para pemimpin gereja dalam pengakuan Westminster mengenai iman, pengudusan dan perbuatan baik. Dari tiga hal yang berbeda, dua hal adalah apa yang dilakukan Tuhan, dan satu hal adalah apa yang harus dilakukan dengan kesungguhan hati oleh orang yang sudah ditebus dan menerima pengudusan Tuhan.

Semua harus mau bertanggung jawab, sekalipun tidak mampu bertanggung jawab sepenuhnya

“Sebab itu juga kami berusaha, baik kami diam di dalam tubuh ini, maupun kami diam di luarnya, supaya kami berkenan kepada-Nya. Sebab kita semua harus menghadap takhta pengadilan Kristus, supaya setiap orang memperoleh apa yang patut diterimanya, sesuai dengan yang dilakukannya dalam hidupnya ini, baik ataupun jahat.” 2 Korintus 5:9-10

Haruskah orang Kristen mempertanggungjawabkan hidupnya? Dapatkah mereka mempertanggung-jawabkan hidupnya? Hampir semua orang Kristen menjawab “ya” untuk pertanyaan pertama, tetapi ragu dalam menjawab pertanyaan kedua. Mengapa demikian? Dari ayat di atas sudah jelas bahwa kita harus berusaha untuk menyenangkan Tuhan, agar kita mendapatkan apa yang baik ketika kita menghadap takhta-Nya. Walaupun demikian, barangkali kita merasa bahwa apa pun yang kita perbuat tidak akan cukup untuk bisa dibandingkan dengan standar Tuhan. Itulah sebabnya, ada orang Kristen yang kemudian merasa bahwa usaha mereka untuk hidup bertanggung jawab akan sia-sia. Apalagi, jika Tuhan memang mahakuasa, tentunya ketidakmampuan kita untuk menjadi umat yang berkenan kepada-Nya adalah apa yang dikehendaki-Nya. Karena itu, sebagai ciptaan, kita hanya bisa berserah kepada Sang Pencipta yang tentu pada akhirnya akan mengampuni kita melalui darah Yesus. Pandangan ini adalah pandangan yang salah!

Pengakuan Westminster Bab XVI menyatakan bahwa umat Kristen diharuskan untuk bertanggung jawab atas hidupnya dengan berbuat baik, dalam arti menaati apa yang diperintahkan Tuhan. Yang merupakan perbuatan baik hanya perbuatan yang diperintahkan dalam Firman-Nya yang kudus, bukan yang merupakan rekaan manusia, karena fanatisme buta atau dengan dalih mengupayakan sesuatu yang dipandang manusia sebagai apa yang baik.

Perbuatan baik, yang dilakukan dalam ketaatan pada perintah-perintah Allah, adalah buah dan bukti iman yang sejati dan hidup kudus. Olehnya orang percaya menunjukkan rasa terima kasih,menguatkan keyakinan mereka, membangun saudara-saudaranya, menjadikan lebih indah pengakuan mereka tentang Injil, menyumbat mulut lawan, dan memuliakan Allah. Memang, mereka itu buatan Dia, diciptakan dalam Yesus Kristus dengan maksud supaya beroleh buah yang membawa pada kekudusan dan sebagai kesudahannya ialah hidup yang kekal.

Jika umat Tuhan mau bertanggung jawab atas hidup mereka, kemampuan mereka untuk melakukan perbuatan baik sama sekali tidak datang dari mereka sendiri, tetapi seluruhnya dari Roh Kristus. Supaya mereka dibuat mampu, selain karunia-karunia yang telah mereka terim diperlukan juga pengaruh nyata Roh Kudus untuk mengerjakan dalam diri mereka baik kemauan maupun kemampuan menurut kerelaan Tuhan yang mahakuasa. Mereka tidak dapat menuntut Tuhan untuk memberi kemampuan yang besar, sebaliknya mereka harus mau mempertanggungjawabkan apa yang sudah diberikan Tuhan.

JIka kemampuan untuk hidup secara bertanggung jawab adalah berbeda-beda antara orang yang satu dengan yang lain, seharusnya hal ini tidak menyebabkan mereka menjadi lalai, seakan-akan mereka tidak terikat untuk menunaikan tugas kewajiban apa pun kecuali atas dorongan khusus dari Roh. Sebaliknya, mereka harus mau berupaya memmakai karunia Allah yang sudah ada dalam diri mereka. Perlu dicatat bahwa sekalipun ada orang-orang tertentu yang dalam hal ketaatan nampaknya sudah mencapai tingkat ketaatan tertinggi yang dapat dijangkau dalam kehidupan di dunia, mereka sama sekali tidak mampu menghasilkan amal perbuatan yang melebihi tuntutan Allah. Sekalipun mereka terlihat sangat bertanggung jawab atas cara hidup mereka, mereka malah ketinggalan dalam banyak hal yang sesungguhnya wajib mereka laksanakan. Mengapa demikian? Mereka yang diberi banyak pengertian dan kemampuan, dituntut Tuhan agar mempunyai ketaatan dan tanggung jawab yang lebih besar, dan karena itu tidak boleh tinggi hati.

Kita tidak layak memperoleh pengampunan dosa atau hidup kekal dari Allah karena perbuatan kita yang sebaik apa pun, karena perbuatan itu sama sekali tidak sebanding dengan kemuliaan yang akan kita terima dari Tuhan di surga, dan karena perbedaan standar yang ada antara kita dengan Allah. Tidak mungkin melalui hidup bertanggung jawab dan perbuatan baik kita bisa membawa manfaat bagi Dia yang mahasuci dan mahakaya, atau melunasi hutang dosa kita yang sudah- sudah. Sebaliknya, apabila kita telah berbuat baik sedapat mungkin, itu masih merupakan sampah jika dibandingkan dengan kemuliaan dan kesucian Tuhan. Lagi pula, apa yang baik bagi Tuhan hanya bisa datang dari Roh-Nya, dan apa yang merupakan hasil upaya kita selalu tercemar dan tercampur dengan kelemahan dan ketidaksempurnaan begitu rupa, sehingga tidak mungkin perbuatan kita bertahan di hadapan Allah yang mahasempurna. Lalu apa gunanya kita berusaha hidup bertanggung jawab jika kita tidak memenuhi standar kebenaran Tuhan? Bukankah mereka yang percaya bahwa manusia tidak mampu bertanggung jawab kepada Tuhan adalah benar?

Meskipun kita tidak dapat memenuhi standar kebaikan dan kecucian Tuhan, karena orang-orang percaya telah diterima sebagai anak-anak Allah oleh karena pengurbanan Kristus maka juga perbuatan anak-anak Tuhan juga diterima Bapa di dalam Dia. Bukan seolah-olah perbuatan itu dalam hidup ini sama sekali tidak tercela dan tidak pantas ditegur dalam pandangan Allah, tetapi Dia memandangnya dalam diri Anak- Nya dan karena itu berkenan menerima dan mengganjar perbuatan yang dilakukan dengan sungguh-sungguh, meskipun disertai banyak kelemahan dan ketidaksempurnaan. Tuhan melihat isi hati orang percaya yang berusaha untuk bertanggung jawab, bukan melihat seberapa besar hasil tanggung jawab mereka.

Jika Tuhan menghargai tanggung jawab umat-Nya, bagaimana pula dengan hidup orang lain yang tidak mengenal Tuhan tetapi terlihat tertib dan bertanggung jawab? Adapun perbuatan baik yang dilakukan manusia yang tidak dilahirkan kembali, dapat saja sesuai dengan kehendak Allah dan bermanfaat bagi mereka sendiri dan bagi orang lain. Kita sadar bahwa ada banyak orang bukan Kristen yang melakukan tugasnya dengan baik dalam masyarakat. Akan tetapi, perbuatan mereka sudah tentu tidak keluar dari hati yang disucikan oleh Roh Kudus dan tidak dilakukan dengan cara yang benar karena tidak tertuju untuk kemuliaan Allah. Karena itu, perbuatan itu dalam pandangan Tuhan adalah penuh dosa dan tidak mungkin berkenan kepada Dia atau membuat mereka layak menerima anugerah Allah.

Jika demikian, apa guna orang-orang yang bukan Kristen untuk bertanggung jawab atas cara hidup mereka? Dalam hal ini kita tahu dari ayat di atas bahwa Tuhan tetap menuntut mereka untuk betanggung jawab, apalagi jika Tuhan menetapkan mereka untuk menjadi pimpinan. Jika mereka tidak mau, mereka akan menambah dosa mereka dan karena itu akan mendapat hukuman yang lebih besar atas hidup mereka!

Kita harus mengajar hal berbuat baik secara aktif

“Perkataan ini benar dan aku mau supaya engkau dengan yakin menguatkannya, agar mereka yang sudah percaya kepada Allah sungguh-sungguh berusaha melakukan pekerjaan yang baik. Itulah yang baik dan berguna bagi manusia.” Titus 3:8

Dalam teologi Kristen, perbuatan baik, atau sederhananya perbuatan, adalah tindakan dan perbuatan (eksternal) seseorang yang sejalan dengan ajaran moral, menekankan kasih sayang, amal, kebaikan dan kepatuhan pada prinsip-prinsip alkitabiah, berbeda dengan hal internal atau rohani seperti karunia atau iman. Berakar pada keyakinan bahwa keimanan harus terwujud dalam tindakan positif, konsep ini menggarisbawahi pentingnya menghayati keimanan melalui kemurahan hati.

Kekristenan menekankan pentingnya terlibat dalam altruisme sebagai demonstrasi pengabdian mereka kepada Tuhan. Tindakan-tindakan ini, yang dipandu oleh ajaran moral dan etika Alkitab, dipandang sebagai ekspresi nyata dari cinta, ketaatan dan kebenaran dalam kerangka pandangan dunia Kristen. Konsep perbuatan baik sangat terkait dengan keyakinan teologis akan keselamatan melalui iman (sola fide) dan bukan cara untuk mendapatkan keselamatan, karena umat Kristiani berupaya mewujudkan rasa syukur mereka atas anugerah Tuhan dengan berpartisipasi aktif dalam tindakan pelayanan kepada orang lain.

Perspektif teologis Kristen menempatkan pentingnya kekuatan transformatif dari perbuatan baik dalam mengembangkan kehidupan yang mencerminkan nilai-nilai humanisme Kristiani. Umat Kristen sering kali didorong untuk mengasihi sesamanya, peduli terhadap yang kurang beruntung, dan memajukan nilai-nilai moral dalam komunitasnya. Konsep ini seharusnya melampaui batas-batas denominasi, mencerminkan komitmen bersama terhadap tanggung jawab sosial dan upaya mencapai kehidupan bajik yang dipandu oleh prinsip-prinsip Kristiani. Pemahaman teologis tentang perbuatan baik seharusnya menjadi subjek wacana dan interpretasi dalam komunitas Kristen yang lebih luas.

Walaupun demikian, Alkitab memuat banyak hal negatif mengenai “perbuatan”, khususnya “melakukan hukum Taurat.” Paulus berulang kali menekankan bahwa kita dibenarkan karena iman kepada Kristus dan bukan karena melakukan hukum Taurat. Keselamatan “bukanlah hasil perbuatanmu, jangan ada orang yang memegahkan diri” (Efesus 2:8). Namun “perbuatan baik” adalah persoalan lain. Berdasarkan penelusuran isi Alkitab, frasa “berbuat baik” muncul lebih dari 30 kali dalam Perjanjian Baru. Tanpa kecuali, frasa ini digunakan dalam cara yang positif (seperti yang dilakukan Kristus) dan tidak ironis (seperti yang dilakukan orang Farisi) untuk menggambarkan aktivitas Kristen yang patut diteladani.

Hanya sedikit pasal yang menganjurkan perbuatan baik seperti Titus 3. Jika ada orang yang mengatakan kepada Anda bahwa Paulus dan Yakobus tidak sepakat tentang perlunya melakukan perbuatan baik, arahkan dia ke pasal ini. Di sini kita dapat mengidentifikasi tiga aspek perbuatan baik: landasannya, pentingnya, dan definisinya.

William Wilberforce (24 Agustus 1759 – 29 Juli 1833) adalah seorang politikus Inggris, seorang dermawan, dan pemimpin gerakan penghapusan perdagangan budak. Pada tahun 1785, ia mengalami pengalaman pertobatan dan menjadi seorang Evangelis Anglikan, yang mengakibatkan perubahan besar pada gaya hidupnya dan kepedulian seumur hidup terhadap reformasi. William Wilberforce, yang juga merupakan orang yang selalu berbuat baik, pernah mendefinisikan Kekristenan sebagai “sebuah skema . . . karena menjadikan buah-buah kekudusan sebagai akibat, bukan sebab, dari pembenaran kita dan rekonsiliasi dengan Tuhan.” Perbuatan baik adalah buahnya, bukan akarnya. Atau untuk mengubah analoginya, perbuatan baik adalah apa yang dilakukan di dalam rumah, namun bukan fondasi dari rumah tersebut.

Inilah tepatnya yang Paulus tekankan dalam Titus 3:8: “Perkataan ini benar dan aku mau supaya engkau dengan yakin menguatkannya, agar mereka yang sudah percaya kepada Allah sungguh-sungguh berusaha melakukan pekerjaan yang baik. Itulah yang baik dan berguna bagi manusia..” Perhatikan bahwa orang-orang yang diperintahkan untuk mengabdikan diri pada perbuatan baik adalah “orang-orang yang beriman kepada Tuhan”. Iman yang menyelamatkan dan perbuatan baik tidak seperti dua tangan kita yang terpisah—sebaliknya, iman kepada Tuhan adalah dasar dari perbuatan baik.

Paulus tidak mengacu pada iman umum akan keberadaan Allah, melainkan iman khusus terhadap kasih setia Allah kepada kita melalui Injil. Ketika kebaikan dan kemurahan hati Allah Juruselamat kita nyata, Ia menyelamatkan kita, bukan karena perbuatan baik yang kita lakukan, melainkan karena kemurahan-Nya sendiri, melalui kelahiran baru dan pembaharuan Roh Kudus, yang dicurahkan-Nya. atas kita dengan limpahnya melalui Yesus Kristus, Juruselamat kita, supaya kita dibenarkan oleh kasih karunia-Nya, dan kita berhak menjadi ahli waris menurut pengharapan hidup yang kekal. (ayat 4–7)

Satu-satunya pesan yang dapat dipercaya untuk menghasilkan perbuatan baik adalah pesan yang mengatakan bahwa perbuatan kita tidak dapat menyelamatkan kita. Tampaknya berlawanan dengan intuisi, namun itulah Injil. Jika kita ingin sebuah rumah dipenuhi dengan perbuatan baik, pertama-tama kita harus meletakkan dasar yang kuat untuk hal tersebut.

Kadang-kadang pendeta atau pimpinan gereja yang terlalu menekankan kedaulatan Tuhan bisa merasa gelisah terhadap perbuatan baik. Mereka mungkin berpikir: “Beritakan saja Injil, dan perbuatan baik akan terjadi dengan sendirinya tanpa adanya fokus yang berkelanjutan pada hal tersebut.” Namun hal ini tidak kita lihat dalam Titus 3. Sebaliknya, Paulus mengatakan hal-hal seperti “Dan biarlah orang-orang kita juga belajar melakukan pekerjaan yang baik” (ayat 14) dan “agar mereka yang sudah percaya kepada Allah sungguh-sungguh berusaha melakukan pekerjaan yang baik (ayat 8). Ada hal mendesak di sini yang sering kali dibungkamkan dalam khotbah di gereja, padahal menurut ayat di atas perbuatan baik harus diajarkan secara aktif. Mengapa demikian?

Pembelajaran pasif didefinisikan sebagai “metode pembelajaran atau pengajaran di mana siswa menerima informasi dari instruktur dan menganalisanya.” Secara mendasar, hal ini berarti seorang siswa akan mendengarkan dan membaca materi serta melakukan refleksi dalam hati tanpa melakukan refleksi atau peninjauan lebih lanjut. Sebaliknya, metode pembelajaran aktif meminta siswa untuk terlibat dalam pembelajarannya dengan berpikir, berdiskusi, menyelidiki, dan mencipta. Di kelas, siswa melatih keterampilan, memecahkan masalah, menghadapi pertanyaan kompleks, membuat keputusan, mengusulkan solusi, dan menjelaskan ide dengan kata-kata mereka sendiri melalui tulisan dan diskusi. Mereka berbuat secara nyata.

Perbuatan baik memerlukan pengabdian yang nyata dalm hidup kita. Bagaimanapun, untuk itulah kita “diciptakan dalam Kristus Yesus” (Efesus 2:10). Kita harus secara aktif “belajar” melakukannya. Kemampuan untuk melakukan perbuatan baik memang ditanamkan ke dalam diri kita ketika kita dilahirkan kembali—sehingga potensinya ada. Namun sebenarnya melakukan hal-hal tersebut merupakan keterampilan yang dipelajari (seperti mengendarai sepeda atau membaca), dan bagian dari pemuridan Amanat Agung adalah mengajar orang untuk melakukannya (Matius 28:20).

Sama seperti tipe Injil sosial yang progresif sering kali ingin menekankan perbuatan baik tanpa mengikutsertakan Injil, maka tipe pesan Reformed yang berpusat pada kedaulatan Tuhan terkadang ingin menekankan Injil tanpa mendorong orang untuk mengabdikan diri pada perbuatan baik. Yang pertama berupaya membangun rumah tanpa meletakkan fondasi, sedangkan yang kedua ingin meletakkan fondasi tanpa membangun apa pun di atasnya. Keduanya bertentangan dengan Titus 3, dan keduanya tidak menghiasi doktrin Allah Juruselamat kita seperti yang Paulus maksudkan. Keduanya adalah kesalahan pengajaran Kristen.

Di ayat 8, ketika berbicara tentang perbuatan baik, Paulus berkata, “Hal-hal itu baik dan bermanfaat bagi manusia.” Berbeda dengan “pertengkaran bodoh” dan “pertengkaran mengenai hukum Taurat” (ayat 9), perbuatan baik membantu orang lain. Lalu dalam ayat 14, Paulus berkata, “Dan biarlah orang-orang kita juga belajar melakukan pekerjaan yang baik untuk dapat memenuhi keperluan hidup yang pokok, supaya hidup mereka jangan tidak berbuah.” Anda melihat suatu kebutuhan, dan Anda mencoba untuk memenuhinya—itu pekerjaan yang disenagi Tuhan. Perbuatan baik adalah luapan kasih kepada Kristus yang memenuhi kebutuhan sesama. Itu adalah bagian penting dari hidup baru, seperti yang dilakukan Zakheus (Lukas 19:8).

Perbuatan baik dapat memenuhi kebutuhan besar atau kecil, material atau spiritual, dan penerimanya bisa siapa saja. Jelas bahwa “perbuatan baik” bukanlah suatu kategori sempit yang harus kita cermati untuk menemukannya. Ladangnya sudah matang, kebutuhannya banyak, dan peluangnya ada di mana-mana. “Tidak seorang pun berhak bermalas-malasan,” kata William Wilberforce. Di dunia seperti ini, Anda selalu dapat menemukan “beberapa ketidaktahuan untuk diinstruksikan, beberapa kesalahan untuk diperbaiki, beberapa ingin memberikan, beberapa kesengsaraan untuk meringankan.”

Injil memberitahu bahwa suatu hari Anda akan berjumpa dengan Yesus muka dengan muka. Ketika hari itu tiba, Anda akan mendengar Yesus berkata, “Mari, hai kamu yang diberkati oleh Bapa-Ku, terimalah Kerajaan yang telah disediakan bagimu sejak dunia dijadikan. Sebab ketika Aku lapar, kamu memberi Aku makan; ketika Aku haus, kamu memberi Aku minum; ketika Aku seorang asing, kamu memberi Aku tumpangan; ketika Aku telanjang, kamu memberi Aku pakaian; ketika Aku sakit, kamu melawat Aku; ketika Aku di dalam penjara, kamu mengunjungi Aku.” (Matius 25:34-36).

Pagi ini kita harus menyadari bahwa jika hari itu datang hidup kita tidak percuma dan kerja keras kita tidak akan sia-sia. Inilah yang justry ingin diciptakan oleh Yesus “yang telah menyerahkan diri-Nya bagi kita untuk membebaskan kita dari segala kejahatan dan untuk menguduskan bagi diri-Nya suatu umat, kepunyaan-Nya sendiri, yang rajin berbuat baik.(Titus 2:14). Maka janganlah kita menjadi lelah dalam berbuat baik. Sebaliknya, marilah kita belajar mengabdikan diri pada perbuatan baik.

Mengapa harus membenci saudara seiman?

Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaharuan budimu, sehingga kamu dapat membedakan manakah kehendak Allah: apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna. Berdasarkan kasih karunia yang dianugerahkan kepadaku, aku berkata kepada setiap orang di antara kamu: Janganlah kamu memikirkan hal-hal yang lebih tinggi dari pada yang patut kamu pikirkan, tetapi hendaklah kamu berpikir begitu rupa, sehingga kamu menguasai diri menurut ukuran iman, yang dikaruniakan Allah kepada kamu masing-masing. ” Roma 12:2-3

Perdebatan antar pribadi maupun antar kelompok kerapkali dijumpai di tengah masyarakat, tak terkecuali perdebatan antar kelompok Kristen. Debat yang mengatasnamakan dua atau lebih pihak dari denominasi yang berbeda saat ini juga dengan mudah dijumpai baik yang berlangsung secara luring ataupun daring. Secara khusus saat ini perdebatan tersebut banyak berlangsung di media sosial. Dengan mudah hal tersebut dijumpai dalam berbagai kanal YouTube di tanah air. Sayangnya, perdebatan antar denominasi yang terjadi kerapkali dilandasi dengan keinginan masing-masing pihak untuk mencari kesalahan dan menjatuhkan pihak lain serta menganggap ajaran sendiri sebagai ajaran yang paling benar atau satu-satunya kebenaran. Akibatnya, perdebatan yang berlangsung bukan hanya semakin memperlebar jurang perbedaan tetapi sekaligus, entah disadari atau tidak, justru menyemai dan menumbuhsuburkan benih kebencian di masing-masing pihak. Hal ini sebenarnya bukan barang baru, karena pada zaman gereja pertama Paulus sudah melihatnya.

Dalam Roma 12, Paulus menggambarkan penyembahan kepada Tuhan kita sebagai pengorbanan yang hidup kepada Tuhan kita, berhenti mencari apa yang kita inginkan dalam hidup dan belajar untuk mengetahui dan melayani apa yang Tuhan inginkan. Itu dimulai dengan menggunakan karunia rohani kita untuk saling melayani di gereja. Daftar perintah Paulus menggambarkan gaya hidup yang mengesampingkan diri sendiri. Tujuan kita sebagai orang Kristen adalah untuk saling mengasihi dan saling meninggikan. Kita harus memusatkan pengharapan kita pada kekekalan dan menunggu dengan sabar dan berdoa agar Bapa kita menyediakannya. Kita harus menolak untuk tenggelam dalam level kebencian dan kejahatan; sebaliknya, kita harus memberi kebaikan pada orang yang merugikan kita, bukan membalas dendam.

Roma 12:3–8 menggambarkan tanggung jawab pertama setiap orang Kristen yang berkorban hidup dan menyembah Tuhan. Gereja itu seperti sebuah tubuh: tubuh Kristus. Gereja bukan berarti gedung atau persekutuan yang kita kunjungi pada hari Minggu. Gereja adalah persekutuan semua orang di dunia yang sudah diselamatkan Kristus. Setiap orang Kristen mempunyai peran dalam menggunakan karunia rohani spesifik yang telah Tuhan berikan kepada kita. Karunia kasih karunia ini memberikan segala kekuatan dan kemampuan yang kita butuhkan untuk saling melayani, namun kita harus tetap melakukannya, baik pemberian kita berupa pelayanan, pengajaran, nasihat, belas kasihan, atau yang lainnya.

Roma 12:1-2 menjawab pertanyaan, ”Bagaimana seharusnya kita menanggapi kemurahan Allah yang besar kepada kita?” Jawabannya adalah dengan menjadi hidup, mempersembahkan korban, menggunakan hidup kita dalam pelayanan kepada Allah sebagai tindakan ibadah yang berkelanjutan. Itu yang masuk akal. Ini bukanlah cara untuk mendapatkan keselamatan, namun respon alami yang harus kita miliki untuk diselamatkan. Untuk melakukan hal ini, kita perlu melepaskan diri dari pola dunia yang mengutamakan kepentingan pribadi atau golongan sendiri, dan mengubah pikiran kita agar dapat memahami apa yang Tuhan inginkan. Kita harus tahu bagaimana cara hidup sebagai orang yang sudah diselamatkan. Mereka yang sudah menerima kasih Allah seharusnya bisa mengasihi Tuhan dan sesama.

Paulus mendesak semua umat Kristiani untuk menanggapi belas kasihan Allah, pengampunan dosa kita, dan penyertaan kita dalam keluarga-Nya. Reaksi yang tepat adalah mempersembahkan kepada-Nya seluruh hidup kita sebagai suatu bentuk pengorbanan yang hidup dan bernafas. Selanjutnya Paulus menulis bahwa kita tidak boleh lagi menjadi serupa dengan dunia. Kata “dunia” sering digunakan dalam Perjanjian Baru untuk merujuk pada “sistem dunia”, atau cara hidup setiap manusia yang biasa kita lihat. Yohanes menggambarkan cara hidup duniawi ini sebagai “keinginan daging dan keinginan mata serta keangkuhan hidup” (1 Yohanes 2:16). Secara naluri, kita semua mengejar hal-hal tersebut demi kebanggaan diri sendiri.

Tuhan mungkin terus memberi kita kesenangan, harta benda, dan status dalam berbagai bentuk, namun Dia mendorong kita untuk belajar bagaimana memandang kehidupan dengan pertanyaan baru: Apa yang Tuhan inginkan dariku? Apakah yang benar-benar merupakan penggunaan hidup saya yang baik, dapat diterima, dan sempurna untuk tujuan-tujuan-Nya dan bukan hanya untuk tujuan saya sendiri? Paulus memberitahu kita untuk meninggalkan pengejaran akan kesenangan, harta benda, dan status; untuk berhenti hidup seperti orang lain yang belum diselamatkan. Sebaliknya, ia mendesak kita untuk bertransformasi dari dalam ke luar. Secara khusus, ia menulis bahwa kita harus diubah dalam cara berpikir kita, agar pikiran kita diperbarui sehingga kita dapat mulai memahami kehendak Tuhan bagi hidup kita.

Paulus telah menulis bahwa kita yang telah menerima belas kasihan Allah yang luar biasa di dalam Kristus harus mengubah cara kita menjalani hidup. Faktanya, dia mendesak kita untuk mengorbankan cara kita menggunakan tubuh dan pikiran kita. Kita harus berusaha untuk dipakai oleh Tuhan demi tujuan-tujuan-Nya dan melihat dunia melalui kacamata apa yang Dia inginkan, bukan sekedar apa yang kita inginkan.

Sekarang Paulus menulis bahwa hal ini dimulai dengan melihat diri kita sebagaimana adanya. Secara alami, manusia membesar-besarkan persepsi kita tentang diri kita sendiri. Kita selalu berada di pusat mata batin kita sendiri, selalu mengukur segala sesuatu yang kita lihat dan dengar berdasarkan standar perspektif kita sendiri. Paulus menulis bahwa salah satu cara pikiran kita harus diubah adalah dengan mengembangkan kemampuan melihat diri sendiri secara akurat. Kita harus mengembangkan “penilaian yang bijaksana”, atau pandangan yang obyektif. Kita harus jujur ​​pada diri kita sendiri mengenai apa yang kita kuasai dan apa yang tidak.

Paulus tidak mengatakan bahwa kita semua harus belajar menganggap diri kita buruk dan tidak berharga. Sebaliknya, Dia ingin kita menjauh dari keyakinan bahwa kita adalah satu-satunya orang pilihan Tuhan, yang membuat kita melihat diri kita sendiri sebagai orang yang besar, berkuasa, dan penting. Dibutuhkan iman untuk melihat diri kita secara obyektif dengan cara ini, tulis Paulus. Mengapa iman? Paulus menunjukkan bahwa kita harus memandang diri kita sendiri secara jujur ​​sehingga kita dapat memercayai Allah untuk melakukan melalui kita apa yang telah Ia karuniakan kepada kita. Dengan kata lain, Tuhan mempunyai pekerjaan bagi kita masing-masing untuk menghabiskan hidup kita melakukan pelayanan kepada gereja-Nya. Pandangan yang berlebihan terhadap diri kita sendiri hanya akan menghalangi hal-hal yang benar-benar penuh kuasa yang Allah ingin lakukan melalui kita.

Bisakah kita memilih apa yang baik?

“Jika demikian, apakah yang hendak kita katakan? Bolehkah kita bertekun dalam dosa, supaya semakin bertambah kasih karunia itu? Sekali-kali tidak! Bukankah kita telah mati bagi dosa, bagaimanakah kita masih dapat hidup di dalamnya?” Roma 6:1-2

Dapatkah manusia memilih sesuatu dalam hidupnya? Semua orang tentunya pernah memilih pakaian, makanan, mobil, dan berbagai benda yang disenangi, dan bahkan memilih pasangan hidup mereka. Semua orang pada umumnya bisa memilih apa pun tanpa paksaan. Walaupun demikian, ada orang Kristen yang percaya bahwa segala sesuatu sudah ditentukan Tuhan sebelumnya, dan manusia tidak dapat menolak pilihan Tuhan. Dengan demikian, manusia mungkin serupa dengan robot yang tidak memiliki kemampuan untuk berpikir dan bertindak dengan kemampuan sendiri. Pandangan fatalis di atas sudah tentu berlawanan dengan apa yang tertulis di dalam Alkitab: bahwa sebagai gambar Allah, manusia mampu mengambil keputusan berdasarkan pilihan mereka sendiri. Kemampuan itu datang dari Tuhan. Apa yang dipilh akan terjadi dengan seizin Tuhan, tetapi belum tentu apa yang disenangi Tuhan. Mengapa demikian?

Walaupun manusia bisa memilih dan mengambil keputusan, karena dosa yang ada manusia tidak dapat mengenal Tuhan dan karena itu tidak dapat memilih apa yang benar-benar memuliakan Tuhan. Memang, siapakah yang dapat menyembah Tuhan yang benar jika ia tidak mengenal-Nya? Dan siapakah yang dapat mengenal Tuhan jika Tuhan tidak menyatakan diri-Nya kepadanya? Inilah kebenaran Alkitab, bahwa sekalipun kita bebas dan dapat memilih tanpa paksaan, pilihan kita selalu membuahkan dosa jika kita tidak mengenal Tuhan. Karena itu, sekalipun manusia bebas untuk memilih, pilihan itu sebenarnya diikat oleh dosa.

Untunglah bahwa melalui kedatangan Yesus ke dunia dan karena pekerjaan Roh Kudus, mata rohani kita dicelikkan sehingga kita bisa melihat kebenaran Kristus. Walaupun demikian, itu bukan berarti bahwa setelah lahir baru kita tidak dapat memilih apa yang buruk lagi – itu karena kita belum menjadi manusia yang sempurna. Kita masih dapat memilih dosa dan bahkan cenderung melakukan apa yang jahat jika kita tidak mau taat dan menurut bisikan Roh Kudus. Hanya melalui proses pengudusan Tuhan, kita bisa bertumbuh dalam iman dan dimampukan untuk makin lama makin bijaksana dalam membedakan apa yang baik dan apa yang jahat.

Sebagai orang Kristen, jelas kita masih bisa berbuat dosa. Tetapi, dalam Roma 6 Paulus menjawab pertanyaan apakah orang Kristen harus terus berbuat dosa. Jawabannya tegas: kita sama sekali tidak seharusnya melakukannya. Pertama, ketika kita datang kepada Allah melalui iman kepada Yesus, kita mati terhadap dosa. Kita bukan lagi budaknya. Kedua, apa manfaat hidup demi dosa bagi kita? Hal ini menyebabkan rasa malu dan kematian. Kebenaran yang diberikan Allah kepada kita secara cuma-cuma di dalam Kristus Yesus seharusnya membawa kita menjadi seperti Yesus. Kita harus mengabdi pada kebenaran, bukannya dosa. Untuk itu kita harus sadar bahwa dalam hidup, kita mempunyai pilihan. Untuk itu kita harus mau berusaha memilih apa yang baik. Namun, itu tidak mudah dilakukan.

“Sebab bukan apa yang aku kehendaki, yaitu yang baik, yang aku perbuat, melainkan apa yang tidak aku kehendaki, yaitu yang jahat, yang aku perbuat. Jadi jika aku berbuat apa yang tidak aku kehendaki, maka bukan lagi aku yang memperbuatnya, tetapi dosa yang diam di dalam aku.” Roma 7:19-20

Paulus memulai Roma pasal 6 dengan mengajukan pertanyaan tentang implikasi dari pernyataan-pernyataan yang mengakhiri pasal 5. Di sana, ia menulis bahwa ketika dosa bertambah, kasih karunia Allah “bertambah besar”. Artinya, untuk penebusan yang sempurna, ketika dosa bertambah, maka kasih karunia Allah pun melimpah untuk menutupi dosa semua orang yang percaya pada kematian Kristus untuk menutupi dosa mereka. Memang secara logis dan kenyataan, itu harus demikian. Kita benar-benar tidak bisa berbuat dosa melebihi kasih karunia Allah. Tetapi ini bukan berarti kita dapat berbuat dosa apa pun tanpa mempedulikan firman-Nya agar kita hidup dalam terang-Nya. Kita tidak boleh mengabaikan hukum Tuhan karena merasa yakin bahwa Tuhan akan mengampuni semua dosa kita, sebesar apa pun.

Roma 6:1–14 mengeksplorasi bagaimana orang Kristen seharusnya memikirkan dan menanggapi dosa sekarang setelah kita berada di dalam Kristus dan dosa-dosa kita telah diampuni. Dalam menjelaskan hal ini, Paulus mengungkapkan informasi baru tentang apa yang terjadi ketika kita beriman kepada Kristus. Secara rohani, kita mati bersama Dia, dan terhadap dosa kita. Kita kemudian dibangkitkan ke kehidupan rohani yang baru. Kini Paulus memerintahkan kita untuk terus mengingat bahwa kita bukan lagi budak dosa. Kita tidak boleh menyerahkan tubuh kita untuk digunakan dalam dosa, namun kita harus menyerahkan diri kita sendiri sebagai alat kebenaran. Kita harus mau memilih apa yang baik, yang sesuai dengan firman Tuhan, agar nama-Nya dipermuliakan.

Seperti yang Paulus tanyakan di sini, haruskah kita terus berbuat dosa agar kasih karunia Allah terus bertambah? Tampaknya ini adalah hal yang sering dibantahnya dalam tulisan-tulisannya (Roma 3:8; 2 Korintus 5:17; Galatia 5:19-24). Walaupun demikian, apa yang diungkapkan Paulus menyebabkan adanya tuduhan yang sering diajukan terhadap kekristenan, bahkan hingga saat ini, yang menyatakan bahwa Injil sebenarnya hanyalah izin untuk berbuat dosa.

Memang, Paulus mengatakan dalam pasal 5 bahwa ketika dosa meningkat, maka kasih karunia Allah bagi mereka yang percaya pada kematian Kristus atas dosa mereka semakin meningkat. Dengan demikian, kasih karunia Allah selalu berkuasa atas dosa. Kita tidak bisa mengabaikan kasih karunia dan pengampunan Tuhan. Kita yakin atas kuasa Tuhan yang memilih kita bukan berdasarkan cara hidup kita. Jadi, Paulus bertanya, haruskah kita tetap berbuat dosa sekarang karena kita percaya kepada Yesus agar Tuhan tetap meningkatkan kasih karunia-Nya?

Paulus menjawab di sini dengan, “sekali-kali tidak!” Ini adalah penggunaan yang sama dari frasa Yunani mē genoito yang sering digunakan Paulus ketika menjawab pertanyaan-pertanyaan konyol sebagai alat pengajaran. Ada 15 contoh pemakaian frasa ini di Alkitab: Lukas 20:16; Roma 3:4; 3:6; 3:31; 6:2; 6:15; 7:7; 7:13; 9:14; 11:1; 11:11; I Korintus 6:15; Galatia 2:17; 3:21; 6:14.

Singkatnya, umat Kristiani tidak boleh terus menerus berbuat dosa untuk menambah rahmat Tuhan. Ini berarti, orang Kristen tidak boleh terus-terusan berbuat dosa dengan sengaja. Di bagian lain dalam Alkitab, kita diberikan rincian lebih lanjut tentang mengapa kehidupan yang terus menerus melakukan dosa dan disengaja sebenarnya tidak sejalan dengan mereka yang benar-benar telah diselamatkan (Galatia 5:19-24; 1 Yohanes 3:6-9).

Paulus melanjutkan pertanyaan ini dengan pertanyaan lain: Bagaimana orang yang mati terhadap dosa masih bisa hidup di dalamnya? Hal ini memunculkan aspek baru dalam pesan Injil Paulus. Seperti yang akan ia tunjukkan dalam ayat-ayat sesudahnya, semua orang yang datang kepada Allah dalam iman, yang percaya kepada kematian Kristus menggantikan mereka di kayu salib untuk membayar dosa mereka, dikatakan telah “mati bersama Kristus” dalam arti tertentu: kita mati terhadap dosa pada saat itu.

Paulus akan memperluas pemikiran ini, namun gagasannya adalah ini: Mereka yang tidak berada di dalam Kristus hidup di bawah kekuasaan dosa. Mereka tidak bisa menghindari dosa. Ini adalah satu-satunya pilihan yang ada. Namun kematian Kristus di kayu salib untuk membayar dosa kita mematahkan kekuasaan dosa atas hidup kita. Kita sekarang memiliki kuasa, di dalam Kristus, untuk berhenti berbuat dosa. Kita tidak kehilangan keinginan untuk berbuat dosa, tetapi kita tahu apa yang baik dan sudah dimampukan oleh Tuhan untuk bisa memilih apa yang baik!

“Jadi akhirnya, saudara-saudara, semua yang benar, semua yang mulia, semua yang adil, semua yang suci, semua yang manis, semua yang sedap didengar, semua yang disebut kebajikan dan patut dipuji, pikirkanlah semuanya itu.” Filipi 4:8

Apakah manusia memiliki kehendak bebas?

“Sebab itu juga kami berusaha, baik kami diam di dalam tubuh ini, maupun kami diam di luarnya, supaya kami berkenan kepada-Nya. Sebab kita semua harus menghadap takhta pengadilan Kristus, supaya setiap orang memperoleh apa yang patut diterimanya, sesuai dengan yang dilakukannya dalam hidupnya ini, baik ataupun jahat.” 2 Korintus 5: 9-10

Banyak orang Kristen bertanya-tanya mengapa Tuhan menciptakan makhluk yang bisa berbuat dosa. Mengapa Dia tidak menciptakan malaikat dan manusia tanpa kemampuan berbuat dosa? Alternatifnya adalah menciptakan makhluk yang tidak bisa memilih benar dan salah. Namun jika demikian, malaikat dan manusia ibarat robot, tidak mampu menunjukkan cinta dan kasih sayang yang sesungguhnya kepada Tuhan. Robot tidak mempunyai perasaan dan pikiran seperti yang dimiliki manusia.

Tuhan bisa membuat dosa menjadi mustahil, atau Dia bisa membuat makhluk bebas memilih, tapi secara logika Dia tidak bisa melakukan keduanya. Tanpa perasaan dan kemampuan untuk memilih, tidak ada manusia yang dapat memiliki hubungan yang bermakna dengan Tuhan. Tidak akan pernah ada pengalaman yang berarti akan kemurahan dan kasih-Nya, keadilan dan kebenaran-Nya. Kepenuhan sifat dan kemuliaan Allah tidak akan terlihat dalam hidup manusia.

Ayat 2 Korintus 5:1–10 melanjutkan ajaran Paulus dari pasal sebelumnya. Dinyatakan bahwa kemuliaan kekekalan bersama Kristus jauh lebih berat dari segala penderitaan yang dialami tubuh kita yang sementara dalam hidup ini. Karena itu, Paulus rindu untuk menempati tubuhnya yang kekal, yang digambarkan sebagai rumah permanen yang dibangun oleh Tuhan sendiri. Mengetahui hal itu akan terjadi, Paulus memiliki keberanian untuk mengambil risiko penderitaan yang lebih besar lagi demi melanjutkan misi memberitakan Injil. Satu-satunya tujuannya dalam hidup ini adalah untuk menyenangkan Kristus. Ia tahu bahwa setiap orang Kristen akan menghadapi penghakiman oleh Kristus, bukan untuk menentukan nasib kekal seseorang, melainkan untuk menerima apa yang menjadi hak kita atas perbuatan kita selama hidup dalam tubuh sementara ini.

Paulus telah menulis dengan jujur ​​dan transparan bahwa ia lebih memilih berada bersama Tuhan dalam kekekalan daripada terus melalui penderitaan dan kesakitan hidup ini (2 Korintus 5:8). Tapi dia tidak ingin bunuh diri. Maksudnya bukanlah bahwa ia secara aktif mencari kematian, atau bahwa ia memiliki keinginan yang sangat kuat untuk mengakhiri hidupnya sendiri. Dia hanya percaya Injil dan memahami betapa jauh lebih baik kehidupan surgawi daripada kehidupan sementara dalam tubuh sementara ini. Namun, sampai dia tiba di sana, dia akan terus menjalankan misi yang Tuhan berikan kepadanya untuk kehidupan ini. Sampai saatnya datang, ia akan memilih untuk melakukan apa yang beekenan kepada Tuhan.

Kini Paulus meringkas tujuannya—”tujuan” atau niatnya—ke dalam satu hal. Dia ingin menyenangkan Kristus. Entah di sini, dalam kehidupan duniawi yang sulit, atau di rumah bersama Kristus dalam kekekalan yang mulia, ia ingin menyenangkan Kristus. Itu mencakup cara dia hidup, apa yang dia katakan, dan segala hal lainnya. Itulah tujuan akhir Paulus, dan yang seharusnya menjadi tujuan hidup setiap orang Kristen.

Mengapa Paulus menanggung begitu banyak penderitaan karena memberitakan tentang Kristus? Di sini dia melanjutkan diskusinya tentang kekekalan, membandingkan tubuh duniawi kita dengan tinggal di tenda Tuhan. Paulus lebih memilih hidup dalam tubuh kekal yang Tuhan persiapkan bagi mereka yang percaya kepada Kristus, bebas dari keluh kesah dan beban yang menimpa semua orang di sini. Dengan harapan tersebut, ia berkhotbah dengan berani bahwa semua yang ada di dalam Kristus adalah ciptaan baru. Sebagai ciptaan baru, ia bisa merasakan kasih dan kuasa Tuhan, memikirkan apa yang baik untuk Tuhan dan sesama, memilih yang benar dan menjauhi yang salah.

Di dalam Kristus, Allah mendamaikan manusia dengan diri-Nya, tidak memperhitungkan dosa mereka. Paulus memohon agar semua orang berdamai dengan Allah dengan cara ini melalui iman di dalam Kristus. Di dalam Kristus, manusia dimampukan untuk memilih bukan saja apa yang baik, tetapi juga apa yang terbaik untuk kemuliaan Tuhan. Di luar Kristus, manusia bebas memilih tetapi hanya apa yang terbaik untuk diri mereka sendiri karena mereka tidak dapat mengenal Tuhan.

Salah satu motivasi untuk menyenangkan Tuhan adalah pengetahuan Paulus bahwa dia akan dihakimi oleh Kristus atas perbuatannya dalam kehidupan ini. Paulus menegaskan bahwa semua orang yang percaya kepada Yesus akan menghadap takhta penghakiman Kristus ketika Dia kembali ke bumi. Paulus dengan jelas menyatakan dalam suratnya bahwa penghakiman ini bukanlah tentang keselamatan. Kristus tidak akan menyatakan pada saat itu apakah seseorang akan masuk surga atau neraka. Ayat ini sama sekali tidak menyiratkan bahwa penghakiman, atau perbuatan yang diperiksa, itulah yang menentukan nasib kekal seseorang. Keselamatan adalah anugerah yang diberikan kepada setiap orang yang percaya kepada Kristus. Injil Paulus adalah bahwa anugerah keselamatan “bukan diperoleh melalui usaha” (Efesus 2:8-9), atau tidak seorang pun dapat memperolehnya (Roma 3:23; 6:23).

Takhta penghakiman Kristus adalah sesuatu yang khusus diperuntukkan bagi orang-orang percaya, sebagai penilaian Kristus terhadap pekerjaan kita di bumi. Ini mengacu pada penilaian terhadap apa yang telah dilakukan oleh setiap orang Kristen yang diselamatkan dan menuju surga “di dalam tubuh” sejak mereka beriman kepada Kristus. Bagaimana dia telah menggunakan kehidupan ini di dalam Kristus? Apa yang telah mereka lakukan, untuk kebaikan atau kejahatan? Apakah perbuatan dan cara hidup mereka sudah merupakan penginjilan yang akan membawa orang lain kepada Kristus?

Rasul Petrus menulis:

“Sebab inilah kehendak Allah, yaitu supaya dengan berbuat baik kamu membungkamkan kepicikan orang-orang yang bodoh. Hiduplah sebagai orang merdeka dan bukan seperti mereka yang menyalahgunakan kemerdekaan itu untuk menyelubungi kejahatan-kejahatan mereka, tetapi hiduplah sebagai hamba Allah.” 1 Petrus 2: 15-16

Dan rasul Paulus menulis:

“Demikianlah setiap orang di antara kita akan memberi pertanggungan jawab tentang dirinya sendiri kepada Allah.” Roma 14:12

Setiap perbuatan baik akan mendapat balasannya. Umat ​​​​Kristen akan menerima upaya tersebut “balasannya dari Tuhan” (Efesus 6:8). Namun, pekerjaan orang-orang yang hidup hanya untuk diri mereka sendiri akan “dibakar” atau dianggap tidak berharga. “Jika pekerjaannya terbakar, ia akan menderita kerugian, tetapi ia sendiri akan diselamatkan, tetapi seperti dari dalam api.” (1 Korintus 3:15).

Paulus termotivasi oleh kesadaran akan penghakiman yang akan datang ini, dan dia ingin para pembacanya juga termotivasi oleh hal itu. Anugerah Allah kepada kita dalam mengampuni dosa tidak berarti Dia akan menutup mata atas apa yang kita jalani dalam hidup di dunia. Kita akan berdiri di hadapan-Nya dan dimintai pertanggungjawaban atas pilihan-pilihan kita. Pertanggungjawaban itu tidak mempengaruhi nasib kekal kita. Walaupun demikian, itu mempertanyakan apakah waktu kita dihabiskan secara baik atau bodoh, secara berani atau pengecut, dalam iman atau dalam kebutaan rohani dan keegoisan. Akibat dari ganjaran atau teguran pada saat itu akan benar-benar menyenangkan dan/atau menyakitkan, berdasarkan pilihan-pilihan yang telah kita ambil selama hidup.

Hari ini kita belajar bahwa sebagai orang yang dipilih oleh Tuhan untuk diselamatkan, kita tidak boleh menolak kenyataan bahwa kita bisa memilih apa yang baik dan apa yang benar. Kita bisa membedakan apa yang baik untuk Tuhan dan sesama, atau apa yang jahat. Sebagai umat Kristen kita sudah dianugerahi wahyu kebenaran Kristus dan dimampukan untuk mempunyai iman yang hidup. Yakobus berkata, “Sebab seperti tubuh tanpa roh adalah mati, demikian jugalah iman tanpa perbuatan-perbuatan adalah mati” (Yakobus 2:26). Iman tanpa perbuatan baik disebut mati karena kurangnya perbuatan baik itu mengungkapkan kehidupan yang tidak diubahkan, serta hati yang mati secara rohani. Ada berbagai ayat yang menjelaskan bahwa iman sejati yang menyelamatkan akan menghasilkan kehidupan yang berubah, bahwa iman terbukti oleh perbuatan kita. Cara hidup kita mengungkapkan kepercayaan kita dan apakah iman yang kita akui benar-benar iman yang hidup. Karena itu tidak ada alasan bagi kita untuk berkata bahwa cara hidup kita sudah ditentukan Tuhan dan kita tidak dapat atau perlu untuk memilih apa yang baik, yang sesuai dengan Firman Tuhan.

”Demikianlah hendaknya terangmu bercahaya di depan orang, supaya mereka melihat perbuatanmu yang baik dan memuliakan Bapamu yang di sorga.”“ Matius‬ ‭5‬:‭16‬ ‭

Sadarkah kita ketika memberontak?

“”Mengapa kamu berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan, padahal kamu tidak melakukan apa yang Aku katakan?” Lukas 6:46

Pemberontakan adalah perlawanan terhadap otoritas. Pemberontakan bisa menjadi kekerasan, seperti dalam “pemberontakan bersenjata yang terjadi di suatu negara”, namun bisa juga tidak terekspresikan. Tidak perlu secara aktif, tetapi bisa juga secara pasif. Pemberontakan apa pun selalu dimulai dari hati. Pemberontakan terhadap otoritas Allah adalah dosa pertama umat manusia (Kejadian 3) dan kemudian menjadi kejatuhan seluruh umat manusia. Natur kita yang berdosa tidak mau tunduk pada otoritas orang lain, bahkan Tuhan. Kehendak bebas yang dimiliki manusia selalu berakhir dengan dosa jika tidak diterangi Roh Kudus. Kita ingin menjadi tuan bagi diri kita sendiri, dan pemberontakan dalam hati manusia adalah akar segala dosa (Roma 3:23).

Demonstrasi yang paling jelas dalam Alkitab mengenai pemberontakan dan akibat-akibatnya terdapat dalam 1 Samuel 15. Raja Saul, yang dipilih oleh Allah untuk memimpin Israel, menjadi terlalu besar bagi para bawahannya. Dia pikir dia lebih tahu daripada Tuhan apa yang Tuhan inginkan darinya, jadi dia tidak menaati instruksi langsung Tuhan (1 Samuel 15:3) dan menggantikan idenya sendiri. Alih-alih mengikuti arahan Allah untuk memusnahkan semua jarahan dari perkemahan musuh, Saul malah mempertahankan ternak terbaiknya. Dan bukannya membunuh raja Agag yang jahat seperti yang diperintahkan Tuhan, Saul membawanya kembali sebagai tawanan. Kedua tindakan ini merupakan pemberontakan melawan perintah Tuhan, namun Saul senang dengan inisiatifnya dan mencoba membenarkan ketidaktaatannya (ayat 15). Itupun yang sering terjadi jika kita berbuat dosa dengan memberontak terhadap perintah Tuhan – kita selalu bisa mencari alasan untuk membenarkan perbuatan kita.

Pemberontakan terhadap yang wewenang adalah masalah yang serius di mata Allah. Nabi Samuel mengkonfrontasi Raja Saul dengan kata-kata ini: “Tetapi jawab Samuel: ”Apakah TUHAN itu berkenan kepada korban bakaran dan korban sembelihan sama seperti kepada mendengarkan suara TUHAN? Sesungguhnya, mendengarkan lebih baik dari pada korban sembelihan, memperhatikan lebih baik dari pada lemak domba-domba jantan. Sebab pendurhakaan adalah sama seperti dosa bertenung dan kedegilan adalah sama seperti menyembah berhala dan terafim. Karena engkau telah menolak firman TUHAN, maka Ia telah menolak engkau sebagai raja” (1 Samuel 15:22–23). Pemberontakan dikaitkan dengan kesombongan dalam ayat ini, dan kedua dosa tersebut disamakan dengan sihir dan penyembahan berhala. Karena pemberontakan Saul yang terus-menerus terhadap Tuhan, ia kehilangan takhta dan dinasti kerajaannya pun terhenti. Tuhan memberikan kerajaan itu kepada seorang anak gembala bernama Daud (1 Samuel 13:14).

Sejarah Israel adalah siklus pemberontakan dan pemulihan. Ketika Tuhan memberikan Hukum kepada bangsa Israel, Dia sedang mengajarkan dunia bahwa alam semesta memiliki rantai komando. Tuhan yang turun ke Sinai adalah Tuhan yang mahakuasa yang dinyatakan dengan “guruh dan kilat dan awan padat di atas gunung dan bunyi sangkakala yang sangat keras” (Keluaran 19:16) . Manusia mungkin adalah mahkota ciptaan-Nya (Ibrani 2:7), namun kita bukanlah dewa ciptaan-Nya. Meskipun sebagai orang Kristen kita mempunyai kebebasan untuk memilih untuk menaati Tuhan atau tidak, Hukum-Nya tetap berlaku. Ketika kita memberontak terhadap hak-Nya untuk menjadi Tuhan kita, konsekuensinya akan mengikuti, sama seperti yang terjadi pada Saulus (lihat Roma 6:23). Lagi-lagi, pemberontakan tidak harus berarti melawan Hukum Tuhan, tetapi mengabaikan pentingnya ketaatan kepada Hukum Tuhan juga termasuk pemberontakan secara pasif. Keduanya bisa dikatakan sebagai tindakan melawan hukum atau antinomianisme.

Di zaman modern ini, ketamakan manusia makin menjadi-jadi. Bukan saja orang mengejar harta, mereka juga mengejar kedudukan, pengaruh dan ketenaran dengan segala cara. Ini adalah pemberontakan yang juga bisa dikaitkan dengan kesombongan dan penyembahan berhala.

Tetapi mereka yang ingin kaya terjatuh ke dalam pencobaan, ke dalam jerat dan ke dalam berbagai-bagai nafsu yang hampa dan yang mencelakakan, yang menenggelamkan manusia ke dalam keruntuhan dan kebinasaan. Karena akar segala kejahatan ialah cinta uang. Sebab oleh memburu uanglah beberapa orang telah menyimpang dari iman dan menyiksa dirinya dengan berbagai-bagai duka.” 1 Timotius 6: 9-10

Oleh sebab itu Yesus pernah berkata:

“Berjaga-jagalah dan berdoalah, supaya kamu jangan jatuh ke dalam pencobaan: roh memang penurut, tetapi daging lemah.” Mtius 26:41

Dalam peradaban manusia di zaman ini, Tuhan telah menetapkan rantai komando, dan pemberontakan melawan perintah Tuhan adalah dosa. Roma 13:1-7 memerintahkan kita untuk tunduk kepada pemerintah yang berwenang dan hukum yang berlaku, selama pemerintah tersebut tidak menuntut kita untuk tidak menaati otoritas Allah (lih. Kisah Para Rasul 5:29). Pemberontakan terhadap otoritas yang benar menyebabkan anarki dan perpecahan masyarakat. Lebih lanjut, ini membawa akibat yang buruk untuk nama Tuhan yang tidak dimuliakan melalui cara hidup umat-Nya. Dalam rumah tangga, rantai otoritas Allah adalah suami menjadi kepala keluarga. Tanggung jawab suami adalah memimpin keluarganya untuk tunduk kepada Kristus (Efesus 5:23). Istri harus tunduk kepada suaminya, dan anak-anak harus menaati orang tuanya (Efesus 5:22; 6:1; Kolose 3:18, 20). Pemberontakan terhadap otoritas keluarga juga menyebabkan kekacauan dan disfungsi di dalam rumah.

Pagi ini, apakah kita sadar bahwa setiap hari kita selalu melakukan dosa, dan bahkan dosa-dosa yang sudah sering kita lalukan sebelumnya? Mungkin semua itu sudah terbiasa sehingga kita tidak merasa bersalah. Mungkin hal itu terjadi karena adanya situasi di negara kita yang memungkinkan. Mungkin hal itu terjadi karena di gereja kita jarang mendengar khotbah untuk meninggalkan dosa kita. Mungkin kita merasa yakin bahwa sebagai umat pilihan Tuhan, kita sudah menerima pengampunan atas segala dosa kita. Mungkin sebagai orang Kristen kita tidak percaya akan adanya dosa-dosa yang bisa mematikan kehidupan rohani kita. Mungkin juga kita tidak sadar akan adanya dosa yang membawa maut karena kita terus menerus melawan bimbingan Roh Kudus. Jika itu memang demikian, saat ini adalah saat kita untuk bertobat dan kembali ke jalan yang benar.