Paradoks kehidupan orang percaya

“Sebab dukacita menurut kehendak Allah menghasilkan pertobatan yang membawa keselamatan dan yang tidak akan disesalkan, tetapi dukacita yang dari dunia ini menghasilkan kematian.” 2 Korintus 7: 10-11

Allah menganugerahkan pengampunan kepada kita atas segala pelanggaran kita, setelah melunasi hutang dosa kita dan membatalkan tanggung jawab kita terhadap hukuman di kayu salib. Dia tidak pelit dalam memberikan belas kasihan, namun mengaruniai kita pengampunan dosa, sesuai dengan kekayaan kasih karunia-Nya. Kita bebas dari segala penghukuman. Namun, pada saat yang sama, kita tentu sedih jika ingat atas dosa-dosa kita di masa lalu, merasakan kerusakan yang masih kita alami, dan melihat perbuatan dosa kita yang masih berlanjut. Ini adalah perasaan orang Kristen yang sejati, yang tidak hidup dalam “mimpi indah” sebagai orang pilihan.

Martin Luther memakai ungkapan Latin simul justus et peccator untuk menyatakan keadaan orang percaya, yang berarti “secara bersamaan adil (atau benar) dan berdosa.” Dalam frasa ini, beliau mengkomunikasikan pemahaman teologis bahwa orang Kristen itu dibenarkan/benar dan sekaligus berdosa. Melalui iman, umat Kristiani dibenarkan di hadapan Allah karena dosa-dosa mereka diampuni dan kebenaran Kristus diperhitungkan kepada mereka. Namun, dalam kehidupan kita sebagai umat Kristen, masih ada perjuangan melawan dosa yang mengecilkan hati dan, sayangnya, dapat membawa konsekuensi yang sangat buruk selama hidup di dunia. Jadi, bagaimana kita, yang dibenarkan di dalam Kristus, menghadapi dosa yang terus berlanjut?

Pertama, kita harus mengingat siapa diri kita sebagai orang-orang yang dipersatukan dengan Kristus oleh iman. Rasul Paulus menulis dalam Efesus 1 bahwa kita telah ditebus, diangkat anak, diampuni, dan diberi berkat rohani, telah memperoleh warisan, dan banyak lagi. Ini adalah gambaran luar biasa tentang apa yang kita miliki di dalam Kristus karena anugerah Allah. Oleh karena itu, hubungan kita dengan dosa telah diubah sepenuhnya, dan cara kita menanggapi dosa berasal dari pemahaman kita tentang siapa diri kita di dalam Kristus. Sebagai orang Kristen sejati, kita harus terus-menerus mengingatkan diri kita sendiri tentang siapa kita di dalam Kristus dan apa yang telah Kristus lakukan bagi kita.

Sekalipun dengan pemahaman kita tentang siapa diri kita di dalam Kristus, kita masih sering menghadapi godaan. Godaan setiap orang Kristen tidaklah sama, namun kita semua bergumul melawan dosa ketika kita berusaha mengejar kekudusan yang Allah inginkan. Rasul Paulus sekali lagi memanggil kita untuk berdiri teguh dengan mengenakan “seluruh perlengkapan senjata Allah” (Efesus 6:10–20). Kita memerlukan ikat pinggang kebenaran, pelindung dada kebenaran, perisai iman, ketopong keselamatan, dan pedang Roh.

Kiasan tentang pertempuran melawan iblis sangatlah tepat. Kita harus berperang melawan hal-hal yang dapat menyebabkan kita menjauh dari Tuhan. Ini adalah perjuangan terus-menerus yang tidak akan berakhir sampai kita mencapai surga. Syukurlah, Roh Kudus sedang bekerja di dalam kita dan akan menolong kita dalam pergumulan kita hingga hari dimana kita akan dimuliakan dan pergumulan kita melawan dosa pada akhirnya akan berakhir.

Pada pihak yang lain, salah satu cara paling efektif dari iblis untuk mempermainkan orang Kristen adalah dengan berusaha meyakinkannya kalau dosa-dosanya tidak benar-benar diampuni, yang merupakan penghinaan bagi Firman Allah. Jika kita benar-benar menerima dan beriman percaya kepada Yesus sebagai Juru Selamat, tapi masih memiliki kekhawatiran mengenai ada tidaknya pengampunan yang sejati, bisa jadi kita sedang diserang oleh Iblis.

Iblis tidak suka ketika orang-orang dibebaskan dari cengkeraman mereka. Iblis akan selalu mencoba untuk menanam benih keragu-raguan dalam pikiran mereka mengenai realitas keselamatan mereka. Iblis berusaha membuat hidup orang Kristen tidak bahagia. Sebagai salah satu tipu daya Iblis , ia akan terus-menerus mengingatkan kita atas dosa masa lalu, yang ia gunakan untuk “membuktikan” bahwa Allah tidak mungkin mengampuni atau memulihkan kita. Oleh sebab itu, banyak orang Kristen yang berusaha berbuat ini dan itu untuk memastikan keselamatan mereka. Serangan Iblis ini merupakan tantangan nyata bagi kita untuk bisa sepenuhnya bersandar pada janji Allah dan percaya pada kasih-Nya.

Kitab 1 Yohanes 1:9, “Jika kita mengaku dosa kita, maka Ia adalah setia dan adil, sehingga Ia akan mengampuni segala dosa kita dan menyucikan kita dari segala kejahatan.” Sebuah janji yang luar biasa! Allah mengampuni anak-anak-Nya saat mereka berdosa, tetapi hanya jika mereka datang kepada-Nya dengan sikap bertobat dan meminta agar diampuni. Belas kasih Allah begitu besar sehingga dapat menyucikan pendosa dari dosa-dosa mereka dan menjadikannya sebagai anak Allah, dan dengan demikian, karena begitu besarnya, bahkan saat kita tersandung, kita masih mendapatkan pengampunan.

Pada saat bersamaan, harus dicatat bahwa bukan hal yang alkitabiah bagi orang yang telah diselamatkan untuk sengaja dan terbiasa melakukan dosa dan menjadikannya sebagai gaya hidup mereka (1 Yohanes 3:8-9). Inilah sebabnya mengapa Paulus mengingatkan kita: “Ujilah dirimu sendiri, apakah kamu tetap tegak di dalam iman. Selidikilah dirimu! Apakah kamu tidak yakin akan dirimu, bahwa Kristus Yesus ada di dalam diri kamu? Sebab jika tidak demikian, kamu tidak tahan uji” (2 Korintus 13:5).

Sebagai orang Kristen, kita bisa tersandung, namun tidak mungkin hidup dengan gaya hidup yang terus menerus melakukan dosa, tanpa ada pertobatan. Kita semua memiliki kelemahan dan dapat jatuh dalam dosa, bahkan pada saat kita tidak mau berdosa (Roma 7:15). Seperti Paulus, respon orang-percaya seharusnya membenci dosa, bertobat darinya, dan meminta anugerah Allah untuk mengalahkannya (Roma 7:24-25). Meskipun kita seharusnya tidak terjatuh karena anugerah Allah yang memampukan, terkadang kita masih bisa terjatuh karena memilih bersandar pada kekuatan kita sendiri.

Saat iman kita menjadi lemah dan menyangkal Allah dalam perkataan dan hidup kita, seperti yang dilakukan Petrus, masih ada kesempatan untuk bertobat. Saat kita berdosa, Roh Kudus akan menginsyafkan kita dengan dukacita menurut kehendak Allah yang akan menghasilkan pertobatan (2 Korintus 7:10-11). Dia tidak akan menghukum jiwa kita; membuat kita merasa seolah-olah tidak ada harapan, karena tidak ada lagi penghukuman bagi mereka yang ada dalam Kristus (Roma 8:1). Keyakinan Roh Kudus dalam hati kita adalah gerakan kasih dan karunia. Kasih karunia bukanlah alasan untuk berdosa (Roma 6:1-2). Jangan sampai disalahgunakan. Dosa tetap harus dinyatakan sebagai dosa, dan tidak dapat diperlakukan seolah-olah itu bukan hal yang berbahaya atau tidak mengganggu. Orang-percaya tanpa pertobatan perlu dihadapi dengan kasih dan dibimbing kepada kebebasan. Orang-tidak-percaya perlu untuk diberitakan Injil supaya mereka bertobat.

Pagi ini, mari kita tegaskan cara memperbaiki hidup kita, karena kita telah menerima kasih karunia demi kasih karunia (Yohanes 1:16). Inilah bagaimana kita hidup, bagaimana kita diselamatkan, bagaimana kita dikuduskan, dan bagaimana kita dipelihara dan dimuliakan. Ketika berdosa, mari kita menerima kasih karunia dengan cara: bertobat dan mengaku dosa kita kepada Allah. Mengapa kita hidup dalam kecemaran saat Kristus menawarkan untuk membersihkan kita, dengan membenarkan kita di mata Allah?

Apakah Tuhan senang atas kematian orang jahat?

“Seperti Tuhan bergirang karena kamu untuk berbuat baik kepadamu dan membuat kamu banyak, demikianlah Tuhan akan bergirang karena kamu untuk membinasakan dan memunahkan kamu, dan kamu akan dicabut dari tanah, ke mana engkau pergi untuk mendudukinya.” Ulangan 28:63

Banyak orang yang merasa senang jika orang yang jahat menerima hukuman. Apalagi jika kejahatan mereka sangat besar, sebagian orang senang ketika mereka mengalami nasib malang dan bahkan dihukum mati. Sebagai orang Kristen, tentunya kita ingin tahu bagaimana sikap Tuhan terhadap orang jahat. Ayat di atas menyatakan bahwa Tuhan dengan senang hati mau membinasakan manusia. Bagaimana kita menyelaraskan ayat ini dengan dan Yehezkiel 18: 23 dan 32 dimana Tuhan berkata bahwa Dia tidak berkenan atas kematian siapapun? Bagaimana bisa Tuhan begitu sadis dengan gagasan membinasakan umat-Nya sendiri?

“Apakah Aku berkenan kepada kematian orang fasik? demikianlah firman Tuhan ALLAH. Bukankah kepada pertobatannya supaya ia hidup?” Yehezkiel 18:23

“Sebab Aku tidak berkenan kepada kematian seseorang yang harus ditanggungnya, demikianlah firman Tuhan ALLAH. Oleh sebab itu, bertobatlah, supaya kamu hidup!” Yehezkiel 18:32

Tuhan mengacu pada hukuman jasmani dalam kehidupan duniawi dalam Ulangan 28:63, sedangkan Dia mengacu pada kematian rohani yang kekal dalam Yehezkiel 18:23. Mungkin saja Tuhan mempunyai berbagai perasaan mengenai hukuman terhadap bangsa Israel. Di satu sisi, Dia melakukannya dengan berat hati karena Dia mengasihi bangsa Israel dan tidak ingin menghukum mereka; di sisi lain, Dia senang keadilan ditegakkan dan orang jahat tidak lolos dari dosa yang mereka lakukan. Bukan karena Allah senang membayangkan mereka menderita, tetapi karena Ia mahasuci, Ia ingin bahwa semua bentuk kejahatan tidak luput dari hukuman. Tetapi, Ia yang mahakasih ingin agar mereka yang jahat bertobat dan luput dari neraka.

Sebagai Allah yang mahakasih, Tuhan tidak suka menghukum manusia. Dari apa yang terjadi dengan Adam dan Hawa, dan juga Kain dan Habel, kita tahu bahwa Dia senang memberkati manusia dan menjawab doa mereka, tetapi penghakiman bukanlah hal yang Dia sukai. Dia senang bahwa keadilan ditegakkan, tetapi Dia sedih melihat orang-orang yang berbuat jahat karena keadilan harus ditegakkan. Ini mungkin mirip dengan apa yang bisa terjadi dalam keluarga. Orang tua bisa saja berkata kepada anaknya, “Jika kamu menurutiku, aku akan dengan senang hati memberimu hadiah, tetapi jika kamu dengan sengaja tidak menaatiku, dengan senang hati aku akan menghukummu agar kamu mempunyai masa depan yang baik”.

Hal lain yang dapat membantu kita dalam membandingkan Yehezkiel 18: 23 dan32 dengan Ulangan 28:63 adalah dengan menyatakan bahwa kompleksitas Allah yang tak terbatas adalah sedemikian rupa sehingga Ia dapat memandang dunia melalui dua jenis lensa: Ia dapat melihat melalui lensa sudut sempit atau lensa sudut lebar. Ketika Tuhan melihat peristiwa yang menyakitkan atau jahat melalui lensa sudut sempit, Dia melihat tragedi dosa sebagaimana adanya, dan Dia marah dan berduka atas apa yang dilihat-Nya. Dia kemudian menjatuhkan hukuman-Nya tanpa rasa segan.

Namun melalui lensa sudut lebar, Tuhan melihat tragedi dosa dalam kaitannya dengan segala sesuatu yang harus berjalan sesuai dengan rencana-Nya. Ia melihatnya dalam kaitannya dengan semua hubungan dan semua efek yang membentuk suatu pola atau mosaik, yang membentang hingga keabadian. Dan mosaik itu serta seluruh bagiannya, baik dan jahat, membuat-Nya senang. Mazmur 135:6 berkata “TUHAN melakukan apa yang dikehendaki-Nya, di langit dan di bumi, di laut dan di segenap samudera raya.” Dia senang dengan semua yang dilakukan-Nya dan semua yang Dia izinkan di dunia. Dia punya alasan tersendiri untuk membiarkan hal-hal yang jahat dalam lensa sudut lebar.

Jika Tuhan memakai segala sesuatu yang ada untuk menggenapi rencana-Nya, bagaimana pula manusia di haruskan untuk bertanggung jawab atas perbuatan mereka? Topik tanggung jawab individu atas dosa sebenarnya dieksplorasi dalam Yehezkiel 18:20–32 dan muncul kembali dalam Yehezkiel 33:10–20. Dalam ayat-ayat ini, Kitab Suci menjelaskan bahwa manusia mempunyai pilihan untuk hidup benar atau jahat. Tuhan dengan tegas menyatakan,

“Katakanlah kepada mereka: Demi Aku yang hidup, demikianlah firman Tuhan ALLAH, Aku tidak berkenan kepada kematian orang fasik, melainkan Aku berkenan kepada pertobatan orang fasik itu dari kelakuannya supaya ia hidup. Bertobatlah, bertobatlah dari hidupmu yang jahat itu! Mengapakah kamu akan mati, hai kaum Israel?” Yehezkiel 33:11

Tuhan menjadikan Yehezkiel sebagai penjaga bangsa Israel. Yehezkiel ditugaskan untuk berjaga-jaga, memperingatkan umat Allah bahwa penghakiman atas dosa akan datang. Jika mereka terus melakukan kejahatan, mereka akan mati kekal. Namun karena kemurahan, anugerah, dan kasih Tuhan, karena Dia tidak berkenan dengan kematian orang jahat, Allah dengan hati-hati memperingatkan akan adanya penghakiman dan memanggil umat-Nya untuk bertobat. Tidak peduli betapa benarnya mereka hidup di masa lalu, jika mereka hidup dalam dosa, mereka harus segera berpaling kepada Allah agar bisa menerima hidup kekal (Yehezkiel 18:23-24).

Meskipun Allah tidak senang dengan kematian orang fasik, Amsal 11:10 menyatakan bahwa “Bila orang benar mujur, beria-rialah kota, dan bila orang fasik binasa, gemuruhlah sorak-sorai.”. Sama seperti setiap individu bertanggung jawab atas pilihannya untuk hidup benar atau jahat, seluruh masyarakat juga memperoleh manfaat dan kerugian dari pilihan moral mereka. Ketika kesalehan dan moralitas menang di dunia ini dan kejahatan dikalahkan, ada alasan untuk bersukacita karena kehendak Allah terlaksana di bumi (Roma 13:1-7). Kita bisa bergembira karena keadilan ditegakkan dan kejahatan ditaklukkan, namun hukuman kekal terhadap jiwa tidak boleh dirayakan. Ini harus diingat karena terkadang kita mungkin merasa bahwa orang-orang tertentu pantas untuk dilenyapkan dari muka bumi.

Nasib kekal setiap orang bukanlah perkara yang bisa dianggap enteng. Kematian orang-orang yang ditebus, di satu sisi, merupakan alasan yang sangat baik untuk dirayakan karena orang tersebut, bagaimana pun besarnya dosanya, telah memasuki kehidupan kekal bersama Kristus (Filipi 1:21). Namun kematian orang jahat adalah sebuah tragedi karena kesempatan orang tersebut untuk diselamatkan dan hidup selamanya bersama Tuhan telah berlalu. Perpisahan abadi dari Tuhan adalah nasib yang menanti setiap orang yang pada akhirnya menolak Dia dalam hidup ini (Matius 25:46). Daripada bersukacita atas kematian orang jahat, kita harus berdoa agar mereka menerima keselamatan sebelum terlambat. Itu jugalah yang dikehendaki Tuhan.

Doa yang dikabulkan adalah doa yang sesuai dengan kehendak Tuhan

“Dan inilah keberanian percaya kita kepada-Nya, yaitu bahwa Ia mengabulkan doa kita, jikalau kita meminta sesuatu kepada-Nya menurut kehendak-Nya.” 1 Yohanes 5:14

Hal berdoa adalah satu bentuk ibadah yang lazim dilakukan oleh semua umat beragama sebagai salah satu bentuk komunikasi dengan yang mereka kenal sebagai tuhan. Dengan ritual dan cara mereka masing-masing mereka berdoa, dan dengan keterbatasan pengertian, mereka mencoba mengerti siapa tuhan itu dan berharap doa mereka didengar tuhan mereka. Tetapi sering mereka merasa kecewa.

“Tuhan belum menjawab doaku” adalah keluhan umum manusia. Setelah lama menunggu, rasa berharap mungkin diganti rasa putus asa karena seolah Tuhan mengabaikan doa mereka. Mungkinkah Ia tidur, terlalu sibuk atau sekedar mengabaikan aku? Apakah Ia marah kepadaku? Apakah Ia sudah menentukan apa yang terjadi dalam hidupku? Apakah doaku sia-sia?

Jika kita memperhatikan doa manusia manapun dan dimanapun, kebanyakan itu merupakan permohonan. Bukan pujian atau percakapan. Kalaupun ada pujian, itu sekedar pembuka kata saja. Tidaklah mengherankan bahwa sekalipun doa adalah bentuk komunikasi dengan sang pencipta, seringkali doa adalah “shopping list” atau daftar belanja manusia. Karena itu seringkali doa orang salah alamat, karena apa yang mereka yang ingin temui mungkin bukan Tuhan tapi Mamon. Tuhan yang mahasuci hanya bisa didekati dengan iman dan cara yang benar. 

Tuhan kita tidak pernah mengabaikan anak-anak-Nya. Dia tidak pernah terlalu sibuk. Tidak pernah kekurangan sumber daya. Tidak pernah bingung. Tidak pernah memiliki sifat buruk. Dia selalu penuh perhatian. Selalu bersemangat. Selalu bijaksana. Selalu penuh kasih. Dia mendengar setiap permintaan dari anak-anak-Nya yang rendah hati dan penuh kepercayaan, dan Dia menjawab dengan apa pun yang terbaik. Dengan demikian, berdoa selalu bermanfaat. Selalu begitu.

Itu tidak berarti bahwa hal berdoa tidak membingungkan. Apa arti “menurut kehendak-Nya” dalam ayat 1 Yohanes 5:14? Ada tiga kemungkinan arti “kehendak Tuhan” yang ditemukan dalam Alkitab. Di satu sisi, kehendak Allah adalah apa yang Ia perintahkan, atau apa yang Ia perintahkan agar kita lakukan dengan benar. Pada pihak yang lain, kehendak Tuhan adalah apapun yang Tuhan putuskan akan terjadi. Kita dapat menyebut arti pertama sebagai perintah Tuhan. Dan yang kedua bisa kita sebut sebagai penetapan Tuhan. Selain itu ada kehendak Tuhan agar kita kenal akan sifat hakiki-Nya, sehingga kita tidak mungkin “salah pilih” dalam berdoa. Kita tidak dapat memohon agar Dia melakukan apa yang bertentangan dengan hakiki-Nya sebagai Tuhan yang mahakuasa, mahasuci dan mahakasih.

Satu tindakan mungkin merupakan kehendak Tuhan di satu sisi, namun tidak di sisi lain. Misalnya, Anda dapat melihat ketetapan kehendak Allah dalam Efesus 1:11: “Allah, yang di dalam segala sesuatu bekerja menurut keputusan kehendak-Nya.” Atau dalam Yakobus 4:15: “”Jika Tuhan menghendakinya, kami akan hidup dan berbuat ini dan itu.”.” Dalam kedua ayat ini, kehendak Tuhan mengacu pada kendali Tuhan atas semua yang terjadi: “Segala sesuatu” dan “Akan hidup dan berbuat ini atau itu”. Ini adalah ketetapan kehendak Tuhan. Segala sesuatu yang terjadi adalah kehendak Tuhan dalam pengertian ini.

“Allah kita di sorga; Ia melakukan apa yang dikehendaki-Nya!” Mazmur 115:3

Di sisi lain, Anda dapat melihat perintah Allah, misalnya, dalam 1 Yohanes 2:17: “orang yang melakukan kehendak Allah tetap hidup selama-lamanya.” Atau Markus 3:35: “Barangsiapa melakukan kehendak Allah, dialah saudara-Ku laki-laki, dialah saudara-Ku perempuan, dialah ibu-Ku.” Atau 1 Tesalonika 4:3: “Karena inilah kehendak Allah: pengudusanmu, yaitu supaya kamu menjauhi percabulan.” Kita dapat melihat bahwa “kehendak Tuhan” dalam ayat-ayat ini tidak berarti “semua yang terjadi.” Ini mengacu pada apa yang Tuhan perintahkan sebagai hal yang benar untuk kita lakukan. Jadi, dalam hal ini sambutan kita adalah perlu agar kita mau melakukan apa yang Tuhan kehendaki, dan bukannya mengabaikan semua itu karena kita yakin bahwa apa pun yang terjadi, Dia sudah menghendaki kita untuk diselamatkan.

Sekarang, apakah yang dimaksudkan ketika Yohanes menulis, “Ia mengabulkan doa kita, jikalau kita meminta sesuatu kepada-Nya menurut kehendak-Nya” ? Maksudnya adalah, “Jika kita meminta sesuatu sesuai dengan rencana Allah yang mahabijaksana, menjalankan perintah-Nya untuk dunia, dan menghargai Dia sesuai dengan sifat hakiki-Nya, Dia mendengarkan kita dan akan mengabulkan permintaan kita.”

Tanggapan yang umum terhadap kesimpulan ini adalah bahwa doa seakan-akan menjadi sia-sia, karena doa yang terkabul hanya terjadi ketika Allah telah menetapkan bahwa sesuatu harus dilakukan. Bukankah peristiwa yang sudah ditetapkan itu akan tetap terjadi? Jadi mengapa berdoa? Namun tanggapan seperti itu tidak datang dari pemikiran alkitabiah yang cermat. Pemikiran yang cermat akan melihat bahwa Tuhan benar-benar melakukan sesuatu sebagai respons terhadap doa umat-Nya.

“Kamu tidak memperoleh apa-apa, karena kamu tidak berdoa.” Yakobus 4:2b

Dan pemikiran alkitabiah yang cermat juga akan melihat bahwa, sebagaimana Allah menetapkan akibat-akibatnya, Ia juga menetapkan sebab-sebab dari akibat-akibat tersebut. Sebagaimana Dia menetapkan tujuan, maka Dia menetapkan jalannya. Sebagaimana Dia memerintahkan agar orang yang tersesat bertobat dan kembali, demikian pula Dia memerintahkan doa-doa yang dapat membawanya kembali. Doa adalah penyebab dari semua kejadian nyata di dunia ini karena Tuhan telah menghendaki hal itu terjadi. Karena itu kita harus tetap berdoa dalam kebenaran-Nya karena Tuhan memerintahkan kita untuk itu.

“Doa orang yang benar, bila dengan yakin didoakan, sangat besar kuasanya.” Yakobus 5:16b

Tugas dan tanggung jawab umat Kristen

“Bukan setiap orang yang berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan! akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga, melainkan dia yang melakukan kehendak Bapa-Ku yang di sorga. Pada hari terakhir banyak orang akan berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan, bukankah kami bernubuat demi nama-Mu, dan mengusir setan demi nama-Mu, dan mengadakan banyak mujizat demi nama-Mu juga? Pada waktu itulah Aku akan berterus terang kepada mereka dan berkata: Aku tidak pernah mengenal kamu! Enyahlah dari pada-Ku, kamu sekalian pembuat kejahatan!” Matius 7:28

Dapatkah manusia sepenuhnya mempertanggungjawabkan hidupnya? Jawabnya sudah pasti tidak, karena setiap manusia sudah berbuat dosa dan telah kehilangan kemuliaan Allah (Roma 3:23). Walaupun demikian, setiap manusia tetap harus bertanggung jawab atas hidupnya karena mereka akan diadili dihadapan Allah.

Sebagai Allah Anak, Yesus Kristus yang akan menjadi Hakimnya (Yohanes 5:22). Semua orang-tidak-percaya akan dihakimi oleh Kristus dan dihukum menurut perbuatan mereka selama di dunia. Alkitab dengan jelas menyatakan kalau semua orang-tidak-percaya ini telah menimbun murka Allah (Roma 2:5) sehingga Allah akan “membalas setiap orang menurut perbuatannya” (Roma 2:6).

Orang-percaya juga akan dihakimi, tapi pada jenis penghakiman yang berbeda. Karena kebenaran Kristus telah dikaruniakan kepada mereka sehingga nama mereka tertulis di Kitab Kehidupan, maka orang-percaya akan diberi upah, bukannya dihukum, menurut perbuatan baik mereka.

Meskipun menjadi anak Tuhan membawa banyak keistimewaan dan manfaat yang tidak dapat ditandingi oleh apa pun dalam hidup ini, hal ini juga memerlukan tugas-tugas besar yang sangat memuaskan bila kita melakukannya dengan sepenuh hati. Bagaimanapun, ini hanyalah hal-hal yang seharusnya kita lakukan: hal-hal yang menyenangkan dan memuliakan Tuhan, dan membawa sesama kita ke dalam pengetahuan yang menyelamatkan tentang Tuhan Yesus Kristus.

Tahukah Anda tanggung jawab Anda sebagai duta Kristus dan anak Tuhan? Apakah Anda bersemangat untuk mengetahui tanggung jawab Kristen Anda sehingga Anda dapat menjalani kehidupan yang bermanfaat dan memuaskan? Ada banyak tugas yang kita terima dari Tuhan, tapi berikut adalah beberapa ayat Alkitab yang memberi tahu kita beberapa tugas yang utama:

Mengasihi Tuhan sebelum diri sendiri dan orang lain (Matius 22:36-40)

”Guru, hukum manakah yang terutama dalam hukum Taurat?” Jawab Yesus kepadanya: ”Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu. Itulah hukum yang terutama dan yang pertama. Dan hukum yang kedua, yang sama dengan itu, ialah: Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri. Pada kedua hukum inilah tergantung seluruh hukum Taurat dan kitab para nabi.”

Memberitakan Injil kepada semua orang di dunia (Matius 28:19-20)

“Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus, dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu. Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman.”

Bantulah rekan seiman kembali ke jalan yang benar (Galatia 6:1-2)

“Saudara-saudara, kalaupun seorang kedapatan melakukan suatu pelanggaran, maka kamu yang rohani, harus memimpin orang itu ke jalan yang benar dalam roh lemah lembut, sambil menjaga dirimu sendiri, supaya kamu juga jangan kena pencobaan. Bertolong-tolonganlah menanggung bebanmu! Demikianlah kamu memenuhi hukum Kristus.”

Lakukanlah apa yang baik karena kasih karunia Allah (Titus 3:1-3)

“Ingatkanlah mereka supaya mereka tunduk pada pemerintah dan orang-orang yang berkuasa, taat dan siap untuk melakukan setiap pekerjaan yang baik. Janganlah mereka memfitnah, janganlah mereka bertengkar, hendaklah mereka selalu ramah dan bersikap lemah lembut terhadap semua orang. Karena dahulu kita juga hidup dalam kejahilan: tidak taat, sesat, menjadi hamba berbagai-bagai nafsu dan keinginan, hidup dalam kejahatan dan kedengkian, keji, saling membenci.”

Membela orang lain yang membutuhkan (Amsal 31:8-9)

“Bukalah mulutmu untuk orang yang bisu, untuk hak semua orang yang merana. Bukalah mulutmu, ambillah keputusan secara adil dan berikanlah kepada yang tertindas dan yang miskin hak mereka.”

Umat Kristiani jelas mempunyai tanggung jawab yang besar sebagai umat pilihan Tuhan. Mengetahui apa tanggung jawab ini hanyalah langkah pertama untuk menjalani kehidupan Kristen yang bermanfaat. Melaksanakan tanggung jawab itu adalah hal yang lain. Umat Krisen sejati bukan saja tahu, tapi mau benar-benar menurut perintah Tuhan.

Makin lama makin banyak penipu

“Baiklah setiap orang berjaga-jaga terhadap temannya, dan janganlah percaya kepada saudara manapun, sebab setiap saudara adalah penipu ulung, dan setiap teman berjalan kian ke mari sebagai pemfitnah.” Yeremia 9: 4

Pagi ini saya membaca berita tentang penangkapan sejumlah orang di luar negeri yang terlibat dalam penipuan lewat internet (online scams) secara terorganisasi. Scam adalah skema penipuan untuk mendapatkan uang atau barang atau data dari korban sasarannya. Celah untuk tindak kejahatan scam ialah kelalaian dan kurang telitinya pengguna alat komunikasi (telepon gengam kartu atau komputer) terhadap informasi yang diterima.

Banyak pelaku scam ternyata adalah orang-orang yang ditipu oleh dalang-dalang yang mempekerjakan mereka secara paksa. Mereka adalah warga beberapa negara yang terbujuk oleh janji gaji yang besar jika mereka mau bekerja di luar negeri. Setibanya mereka di pusat scam di negara tertentu, paspor mereka ditahan dan mereka dipaksa untuk melakukan usaha scam. Mereka ditargetkan untuk mencuri sejumlah besar dana per bulan. Jika ini tidak tercapai mereka akan dihukum secara fisik atau dipotong gajinya.

Ada ratusan ribu orang dari berbagai negara Asia yang tertipu dan menjadi pekerja usaha scam ini, kebanyakan karena mereka adalah orang-orang yang sangat membutuhkan pekerjaan sejak munculnya pandemi. Mereka adalah orang-orang yang malang, yang tidak mengerti bahaya dan risiko dari janji-janji palsu. Bagaimana kita bisa menolong masyarakat agar mereka tidak mudah tertipu?

Sebagai orang Kristen, kita diperintahkan untuk waspada atas berita-berita yang tidak jelas asal-usulnya dan berita-berita yang dapat menyebabkan kegundahan, kekacauan dan penderitaan orang lain. Sebagai orang Kristen kita harus waspada akan adanya kemungkinan bahwa apa yang kita terima dari orang lain bukanlah sesuatu yang bisa dipercaya. Kita juga harus bisa memilih berita yang benar agar tidak membuat orang lain kecewa atau salah bertindak. Kita harus mau memperingatkan orang lain jika ada berita-berita yang tidak benar.

Berita yang tidak benar bukan saja muncul di antara masyarakat umum, tetapi juga sering muncul di antara orang-orang yang kita anggap pemimpin. Apa yang sudah terjadi selama pandemi yang lalu, membuka mata banyak orang bahwa seorang pemimpin besar bisa juga membuat berita-berita yang mengacaukan kehidupan rakyatnya. Dalam bulan-bulan mendatang, ada kemungkinan bahwa berita-berita palsu akan muncul lagi, baik di dalam negeri kita atau di negara lain. Kita harus sadar bahwa Tuhan membenci adanya ketidakjujuran dan kebohongan.

“Enam perkara ini yang dibenci TUHAN, bahkan, tujuh perkara yang menjadi kekejian bagi hati-Nya: mata sombong, lidah dusta, tangan yang menumpahkan darah orang yang tidak bersalah, hati yang membuat rencana-rencana yang jahat, kaki yang segera lari menuju kejahatan, seorang saksi dusta yang menyembur-nyemburkan kebohongan dan yang menimbulkan pertengkaran saudara.” Amsal 6: 16-19

Hari ini, kita membaca dari ayat pembukaan di atas bahwa kita harus berhati-hati atas apa yang kita dengar dan terima dari orang-orang di sekeliling kita, sebab ada banyak orang yang mempunyai maksud yang kurang baik. Banyak orang yang hanya mencari perhatian orang lain, mencari nama dalam menyebarkan berita-berita yang tidak benar. Memang kita tidak bertanggung jawab atas apa yang mereka perbuat, tetapi kita bertanggung jawab atas apa yang kita lakukan dalam menghadapi hal-hal itu.

“Jadi akhirnya, saudara-saudara, semua yang benar, semua yang mulia, semua yang adil, semua yang suci, semua yang manis, semua yang sedap didengar, semua yang disebut kebajikan dan patut dipuji, pikirkanlah semuanya itu.” Filipi 4: 8

Dosa kecil dan dosa besar

“Sebab barangsiapa menuruti seluruh hukum itu, tetapi mengabaikan satu bagian dari padanya, ia bersalah terhadap seluruhnya.” Yakobus 2:10

Meskipun semua dosa di hadapan Allah adalah serius dan patut mendapat hukuman kekal, masyarakat umum sering membedakan tingkatan dosa. Ada korupsi kecil, ada korupsi besar; ada bohong kecil, ada bohong besar. Apa yang kecil mungkin bisa ditolerir, dimaafkan, atau diampuni. Walaupun demikian, apakah Alkitab mengajarkan bahwa ada tingkatan dosa atau apakah semua dosa harus dipandang setara?

Secara umum orang Kristen percaya bahwa semua dosa itu sama. Yakobus 2:10 sering dikutip untuk menyatakan bahwa mengabaikan satu perintah Tuhan sama saja dengan mengabaikan seluruh hukum Tuhan. Dengan demikian, banyak orang berpendapat bahwa ini adalah bukti bahwa Alkitab tidak membedakan antara dosa yang lebih besar dan yang lebih kecil. Setidaknya dalam hal dampak buruknya, semua dosa adalah sama di hadapan Tuhan yang mahasuci. Tapi apakah ini benar?

Kita harus menjawab pertanyaan ini dengan hati-hati, namun baik Alkitab maupun teologi menyatakan bahwa beberapa dosa “lebih besar” dibandingkan yang lain. Tuhan kita Yesus menyatakan fakta ini ketika Dia berbicara kepada Pilatus:

Yesus menjawab: ”Engkau tidak mempunyai kuasa apa pun terhadap Aku, jikalau kuasa itu tidak diberikan kepadamu dari atas. Sebab itu: dia, yang menyerahkan Aku kepadamu, lebih besar dosanya.” Yohanes 19:11

Apa sebenarnya maksud Yesus? Di hadapan Allah semua dosa adalah dosa, namun Alkitab juga berbicara tentang tingkatan dosa, dan bahwa tidak semua dosa memiliki dampak yang sama.

Sebelum reformasi, dosa berat didefinisikan sebagai dosa yang “menghancurkan kasih amal dalam hati manusia karena pelanggaran berat terhadap hukum Tuhan; hal itu menjauhkan manusia dari Tuhan, yang sebenarnya merupakan tujuan akhir dan kebahagiaannya.” Dalam pemahaman ini, “pelanggaran berat” adalah penolakan yang disengaja atau disengaja terhadap Sepuluh Hukum. Kecuali pengakuan dosa dan penebusan dosa dilakukan, Tuhan tidak akan bekerja seperti biasanya atau memberi anugerah dalam diri seseorang, yang pada akhirnya menghasilkan hukuman kekal. Dalam pengertian teologi ini, Allah menerapkan karya Kristus kepada kita dengan menerima sakramen-sakramen yang telah Ia tetapkan dalam gereja. Pada akhirnya proses menjadi orang benar mencapai puncaknya dengan dibersihkannya dosa-dosa kita dan dimuliakan, sehingga memungkinkan kita untuk “melihat” Tuhan. Akan tetapi, dosa berat, jika tidak diakui dan dilakukan penebusan dosa, akan menghentikan seluruh proses ini, yang berakibat pada hukuman kekal.

Pada pihak lain, dosa ringan didefinisikan sebagai dosa-dosa kecil yang “memungkinkan amal tetap ada, meskipun hal tersebut menyinggung dan melukai hati Tuhan.” Ini agaknya dosa yang dianggap kurang serius, karena jika ada orang Kristen yang tidak mengaku dosa itu serta bertobat, hal-hal tersebut tidak akan menghentikan proses yang dimulai pada saat baptisan atas pekerjaan kasih karunia “membenarkan” dari Allah yang secara bertahap membuat seseorang menjadi lebih benar. Dosa-dosa ini mengakibatkan hukuman sementara, namun tidak menghilangkan keselamatan seseorang selamanya.

Berbeda dengan pandangan di atas, para Reformator tidak menyangkal adanya derajat dosa, namun bagi mereka, semua dosa adalah “berat” di hadapan Allah, dan satu-satunya harapan kita adalah kita dipersatukan dengan Kristus dalam iman yang menyelamatkan dan dinyatakan benar di dalam Dia. Agar kita sebagai makhluk yang jatuh dapat berdiri di hadapan Allah, kita membutuhkan penebusan Kristus yang sempurna yang diperhitungkan kepada kita dan seluruh dosa kita dibayar lunas melalui kematian-Nya yang menggantikan kita. Juga bagi orang percaya yang lahir dari Roh dan dipersatukan dengan Kristus sebagai kepala perjanjian karena pembenaran kita sudah lengkap di dalam Kristus, tidak ada dosa yang menghilangkan pembenaran kita, dan pada akhirnya menggagalkan pekerjaan pengudusan Roh dengan hilangnya keselamatan kita. Namun, meskipun menolak pembedaan dosa ringan dan berat, hal ini tidak berarti bahwa kita harus menolak pembedaan antara semua dosa yang setara di hadapan Allah dan berbagai tingkat dosa dalam kaitannya dengan dampak keseluruhannya terhadap diri sendiri, orang lain, dan masyarakat dan dunia

Para Reformator benar ketika mengatakan bahwa semua dosa berakibat pada kematian rohani dan jasmani (Roma 6:23). Dosa dihadapan Tuhan, apapun dosanya, akan menyebabkan kita berstatus bersalah, tercemar, dan jauh dari Tuhan (Efesus 2:1-3). Dalam hal ini, Yakobus 2:10 sekarang dapat digunakan secara sah: “Sebab siapa pun yang menaati seluruh hukum tetapi tidak melakukan satu hal pun, ia bersalah terhadap keseluruhannya.” Di hadapan Tuhan, pelanggaran terhadap satu poin pun dari hukum berarti melanggar keseluruhannya. Paulus menulis hal yang serupa: “Terkutuklah orang yang tidak setia melakukan segala sesuatu yang tertulis dalam kitab hukum Taurat.” (Galatia 3:10). Melanggar satu perintah mengakibatkan kita patut dihukum di hadapan Tuhan.

Mengingat bahwa semua dosa menentang Dia, dan mengingat bahwa kehendak dan sifat Allah adalah standar moral alam semesta, Dia tidak dapat dan tidak mengabaikan dosa kita, apa pun dosa kita. Allah menentang dan menghukum semua dosa. Ketika ada dosa, Allah yang kudus akan menghadapi makhluk-makhluk-Nya dalam pemberontakan mereka; jika tidak, Allah bukanlah Allah yang kudus seperti yang Ia nyatakan. Inilah fakta yang sering ditentang orang yang tidak mau percaya akan adanya Allah yang mahakudus dan mahaadil.

Selain kekudusan Allah, terdapat pula keadilan-Nya, yang sama pentingnya dengan semua sifat-sifat-Nya yang lan. Tuhan tidak seperti hakim manusia yang mengadili orang lain dengan tidak membandingkannya dengan standar dirinya. Ketika Tuhan menghakimi, Dia harus berpegang pada tuntutan moralnya yang sempurna, yang berarti Dia tetap mempertahankan status-Nya. Dosa bertentangan dengan Tuhan yang berpribadi yang kudus dan adil, yang berarti bahwa semua dosa di hadapan Tuhan layak menerima kematian kekal. Agar keputusan-Nya bisa dinyatakan adil, Tuhan mengharuskan dosa kita dibayar lunas dan karena itu kita pantas untuk menerima hukuman mati.

Dalam hal ini, kita harus berpikir hati-hati tentang apa yang diajarkan Kitab Suci tanpa meremehkan kenyataan serius dari dosa manusia dan segala konsekuensi buruknya. Semua dosa di hadapan Tuhan, mengingat siapa Tuhan itu, pantas dan menuntut hukuman kekal, oleh karena itu kita membutuhkan seorang Penebus. Namun, Kitab Suci juga menyebutkan tingkat dosa tergantung pada konteks dan niat orang yang melakukan dosa, dan dampak dosa itu secara keseluruhan.

Dalam kehidupan kita sehari-hari, kita tahu hal ini benar. Misalnya, mengucapkan kata-kata kotor kepada seseorang, atau menyimpan kebencian dalam hati terhadap orang lain adalah dosa yang serius (Yakobus 3:8-10). Namun, membenci seseorang sedemikian rupa sehingga seseorang merencanakan dan melaksanakan kematiannya adalah “lebih besar” dalam hal niat, akibat, dan hukumannya. Atau berpikir untuk berbohong. Berbohong kepada seseorang itu salah. Namun, berbohong sebagai pejabat pemerintah dan bertindak curang dapat mengakibatkan berbagai masalah. Sekali lagi, orang yang melakukannya, niat, konteks, dan konsekuensinya menghasilkan pelanggaran yang lebih “serius”. Perlu dicatat bahwa biasanya orang yang bisa melalukan dosa besar belajar dengan berbuat dosa kecil sebelumnya. Mereka yang berani melakukan dosa besar adalah orang yang tidak merasa bersalah melakukan dosa-dosa kecil pada masa lalunya. Mereka yang melakukan dosa besar tanpa segan adalah orang-orang yang sebelumnya belum pernah tertangkap atau dilarang untuk membuat dosa kecil.

Bagaimana pula dengan dosa seksual? Segala aktivitas seksual di luar perjanjian pernikahan antara seorang pria dan seorang wanita adalah dosa. Namun, kita memandang dosa seksual yang dilakukan antara orang dewasa dan anak-anak, atau dosa seksual yang merupakan distorsi terhadap tatanan ciptaan Tuhan, baik homoseksualitas maupun bestialitas, merupakan hal yang lebih serius dalam hal konsekuensi dan dampaknya terhadap orang-orang yang terlibat serta dampaknya yang lebih besar terhadap masyarakat. Ini berarti bahwa orang Kristen yang mendukung atau mengabaikan bahaya dosa-dosa seperti itu sudah melakukan dosa yang besar karena potensinya untuk mempengaruhi pandangan dan cara hidup orang lain. Ini berlaku terutama untuk para orang tua, pendidik, dan pimpinan gereja yang memilih untuk abstain dalam menyatakan hukum Tuhan.

Pagi ini, Alkitab menegaskan apa yang kita ketahui sebagai kebenaran dalam pengalaman kita sehari-hari. Karena kita diciptakan sebagai pembawa gambar dan kasih karunia Allah, kita tidak dapat menghilangkan kebenaran Allah dari kehidupan, hati nurani, dan diri kita sendiri. Marilah kita berusaha untuk hidup di dalam terang kebenaran Tuhan setiap hari!

Sumber: Degrees of Sin by Stephen Wellum, The Gospel Coalition

Rasa bangga yang pada tempatnya

“Tetapi, jika ia menderita sebagai orang Kristen, maka janganlah ia malu, melainkan hendaklah ia memuliakan Allah dalam nama Kristus itu.” 1 Petrus 4: 16

Hal berbangga adalah sesuatu yang umum dan sering kita jumpai dalam hidup ini. Orang mungkin bangga akan keberhasilan, kekayaan, kepandaian dan apa yang sudah diperolehnya atau yang sudah dicapai oleh anak cucu dan kerabatnya. Tetapi, setiap orang harus berhati-hati dalam membanggakan semua itu. Kebanggaan yang dipamerkan kepada orang lain bisa dipandang sebagai kesombongan jika terlalu sering diutarakan, apalagi jika dengan cara yang berlebihan. Memang, beda antara kebanggaan dan kesombongan itu terkadang sangat tipis, sehingga sulit untuk memisahkan keduanya. Selain itu, kebanggaan sesorang bisa membuat orang lain iri, sedih, dan bahkan marah karena adanya perasaan bahwa hidup atau Tuhan sudah memerlakukan dirinya secara tidak adil. Itu yang sudah terjadi antara Kain dan Habel dalam kitab Kejadian 4:1-17.

Memang, kita sering mendengar bahwa hidup orang yang beriman adalah hidup yang diberkati Tuhan. Dari mimbar gereja sering dikumandangkan pesan bahwa Tuhan yang mengasihi anak-anakNya yang taat, akan juga memberikan berkat-Nya dengan berkelimpahan. Apa yang kita perlukan adalah iman yang kuat, dan dengan itu Tuhan akan memenuhi kebutuhan kita di dunia. Karena itu banyak orang Kristen yang bangga karena Tuhan sudah memberkati hidup mereka dengan berbagai kenyamanan dan keberhasilan. Mereka mungkin merasa bahwa Tuhan mengasihi mereka lebih dari yang lain karena iman mereka. Sebaliknya, banyak juga orang Kristen yang malu dan menderita karena merasa bahwa Tuhan kurang mengasihi mereka. Mungkinkah ada sesuatu yang salah dalam hidup mereka?

Apa yang kita lihat sebagai kenyataan hidup adalah sebaliknya. Mereka yang hidupnya tidak baik seringkali terlihat jaya dan nyaman hidupnya, dan mereka yang berusaha hidup dalam kejujuran justru sering mengalami kekurangan dan penderitaan. Tambahan pula, dalam masyarakat yang semakin bersifat materialistik ini, orang cenderung lebih menghargai orang yang mampu. Lebih payah lagi, jika penderitaan di dunia itu bisa datang kepada siapa saja, kapan saja, dan dimana saja, mereka yang berduit kelihatannya lebih mudah untuk menghindarinya. Adakah keuntungan menjadi orang Kristen di dunia ini?

Ayat diatas jelas mengatakan bahwa sebagai orang Kristen kita beruntung karena kita tidak perlu merasa malu jika kita mengalami penderitaan. Itu jika penderitaan bukan terjadi karena kita berbuat jahat atau salah (1 Petrus 4: 15). Jadi, apapun yang terjadi atas diri kita, kita tidak perlu merasa tertekan, gundah ataupun merana.

Penderitaan bisa datang kepada orang percaya melalui beberapa sebab:

  • Dunia sudah jatuh dalam dosa, apa yang sekarang adalah cacat dan jahat.
  • Pengikut Tuhan sering dibenci oleh mereka yang membenci Tuhan.
  • Iblis ingin menghancurkan umat Tuhan dan gerejaNya.
  • Tuhan mendidik anak-anakNya untuk bisa lebih baik.
  • Pengikut Tuhan ingin mengikuti cara hidup Yesus di dunia dan menjadi seperti Dia yang sudah mati untuk mereka.

Jika kita pada saat ini merasa hidup kita berat, kita mungkin mengalami salah satu atau sebagian dari sebab diatas. Firman Tuhan mengatakan bahwa kita tidak perlu merasa malang; sebaliknya kita harus merasa bersyukur karena ada kesempatan bagi kita untuk menunjukkan iman kita kepada seisi dunia – bahwa dalam semua hal kita bisa merasakan penyertaan Kristus, dan menyelami betapa besar kasih-Nya yang sudah menebus dosa kita. Kita juga bisa menyatakan kepada dunia bahwa iman kita yang teguh datang dari Tuhan dan diberikan kepada umat-Nya yang setia.

“Akan tetapi kami harus selalu mengucap syukur kepada Allah karena kamu, saudara-saudara, yang dikasihi Tuhan, sebab Allah dari mulanya telah memilih kamu untuk diselamatkan dalam Roh yang menguduskan kamu dan dalam kebenaran yang kamu percayai.” 2 Tesalonika 2:13

Jika kita mengingini kenyamanan

Aku tahu apa itu kekurangan dan aku tahu apa itu kelimpahan. Dalam segala hal dan dalam segala perkara tidak ada sesuatu yang merupakan rahasia bagiku; baik dalam hal kenyang, maupun dalam hal kelaparan, baik dalam hal kelimpahan maupun dalam hal kekurangan. Segala perkara dapat kutanggung di dalam Dia yang memberi kekuatan kepadaku. Filipi 4:12-13

Adakah orang yang tidak ingin hidup nyaman? Jawabnya saya rasa bergantung pada definisi kenyamanan. Jika kenyamanan diartikan hidup yang berkelimpahan tanpa perlu berjuang, mungkin sebagian orang tidak mengingininya. Sebaliknya, hidup tenang dalam kemiskinan juga tidak menarik bagi banyak orang. Dalam hal ini, keseimbangan hidup adalah sulit dicari karena orang sering berada pada dua ekstrim: hidup yang berkelimpahan atau hidup yang penuh perjuangan. Hidup cukup dengan rasa syukur atas apa yang ada, adalah satu pedoman yang sulit dijalankan.

Banyak renungan Kristen yang membahas hidup yang penuh perjuangan, yang berusaha menguatkan mereka yang dalam penderitaan dan kekurangan. Tetapi, agaknya jarang ada khotbah atau renungan yang menguraikan masalah yang mungkin ada dalam hidup yang kelihatannya penuh berkat dan kenyamanan. Contoh yang ada dalam Alkitab tentang kehidupan Ayub yang nyaman, sering dibahas dari segi ketaatan Ayub selagi mengalami malapetaka yang disebabkan oleh iblis. Tetapi, kita harus ingat bahwa sewaktu Ayub belum mengalami serangan iblis, ia adalah orang yang berhati-hati dalam hidupnya.

Ayub 1:3-5 menyatakan bagaimana Ayub dan keluarganya hidup dalam kelimpahan dan kenyamanan. Ayub adalah yang terkaya dari semua orang di sebelah timur. Anak-anaknya yang lelaki secara bergilir sering mengadakan pesta di rumah mereka masing-masing dan saudara-saudara perempuan mereka diundang untuk makan dan minum bersama-sama mereka. Setiap kali, apabila hari-hari pesta telah berlalu, Ayub memanggil mereka, dan menguduskan mereka. Keesokan harinya, pagi-pagi, bangunlah Ayub, lalu mempersembahkan korban bakaran atas nama anak-anaknya, sebab pikirnya: ”Mungkin anak-anakku sudah berbuat dosa dan telah mengutuki Allah di dalam hati.” Demikianlah dilakukan Ayub senantiasa. Ayub tahu bahwa hidup dalam kenyamanan bukanlah berarti hidup yang tidak bertanggung jawab kepada Allah.

Dalm kenyataannya, hidup dalam kenyamanan memang cenderung membuat manusia lupa akan Tuhan. Hidup dalam kenyamanan sering membuat orang lupa tentang adanya perjuangan yang lebih besar untuk menempatkan Tuhan di atas segala-galanya. Hidup dalam kenyamanan bisa membuat orang sulit untuk mempunyai hubungan yang baik dengan Tuhan karena kecilnya dorongan kebutuhan. Karena itu, orang yang hidup berkelimpahan membutuhkan usaha dan perjuangan yang lebih besar agar tetap bisa beriman dan berjalan dalam kebenaran Tuhan.

Komentar Paulus dalam ayat di atas dimaksudkan untuk mencakup semua situasi kehidupan manusia. Dalam tahanan rumah saat menulis surat ini, dia mengaku telah menemukan “rahasia” untuk bertahan dalam perjuangan untuk tetap teguh dalam iman. Seperti disebutkan sebelumnya, ini adalah pilihan yang disengaja untuk merasa puas, dalam kuasa Kristus. Paulus kadang-kadang tidak makan, dan pada waktu lain diberi banyak makanan. Ia tahu apa itu kekurangan dan ia tahu apa itu kelimpahan. Paulus pernah hidup dengan banyak dan dengan sedikit. Dia pernah mengalami lapar dan haus, tidak mempunyai teman, dan masih banyak lagi, seperti yang tertulis dalam surat yang ditulis jauh sebelum suratnya ke Filipi (2 Korintus 11:27-28).

Filipi 4:10–20 menjelaskan bagaimana orang Kristen dapat mengatasi kekhawatiran dan keinginan duniawi, apa pun keadaan mereka. Dengan membuat keputusan yang bertujuan untuk merasa puas dalam hidup, orang percaya dapat mempercayai Tuhan untuk memenuhi kebutuhan kita yang sebenarnya, dan tidak termakan oleh materialisme atau kecemasan. Paulus telah mempelajari keterampilan ini melalui banyak pencobaan dan pengalaman pelayanannya. Paulus juga mengucapkan terima kasih kepada jemaat di Filipi atas kemurahan hati mereka, dan mengungkapkan keyakinannya bahwa Allah akan memberkati mereka atas kemurahan hati mereka.

Paulus menampilkan orang-orang Kristen yang setia sebagai orang-orang yang sadar dan siap untuk menghadapi peristiwa kehidupan apa pun. Ia menyatakan bahwa ketergantungan pada kuasa Kristus tidak hanya membuat orang percaya bersukacita, namun juga menghasilkan kedamaian dalam hubungan kita dengan orang Kristen lainnya. Ini termasuk perlunya untuk menjadi orang pemaaf dan murah hati. Kita tidak boleh lengah dan merasa bahwa tidak ada yang harus kita pelajari dari keadaan kita saat ini. Kita harus yakin bahwa dalam keadaan apa pun Tuhan akan memberi kita bimbingan dan kekuatan jika kita tetap membina hubungan yang baik dengan Dia.

Bersukacitalah senantiasa. Tetaplah berdoa. Mengucap syukurlah dalam segala hal, sebab itulah yang dikehendaki Allah di dalam Kristus Yesus bagi kamu.1 Tesalonika 5:16-18

Janganlah takut, sebab Aku menyertai engkau

Janganlah takut, sebab Aku menyertai engkau, janganlah bimbang, sebab Aku ini Allahmu; Aku akan meneguhkan, bahkan akan menolong engkau; Aku akan memegang engkau dengan tangan kanan-Ku yang membawa kemenangan. Yesaya 41:10

Dalam hidup, kebanyakan orang tentu pernah merasa takut. Rasa takut adalah salah satu mekanisme pertahanan diri manusia untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan. Jika ada orang yang tidak mengenal takut, atau katakanlah “berani mati”, Alkitab menyatakan bahwa orang seperti itu mempunyai risiko besar untuk mengalami hal-hal yang menakutkan tidak hanya sebelum ia mati, tetapi juga sesudah ia mati! Dalam hal ini, mereka yang tidak percaya akan adanya Tuhan, mungkin memilih hidup yang bebas dan semaunya sendiri. Mereka mungkin tidak takut untuk berbuat jahat atau melanggar hukum, tetapi jika mereka mengalami kejadian yang menakutkan dan di luar dugaan, mereka tidak akan bisa mendapatkan kekuatan dan penghiburan dari Tuhan yang mahakuasa untuk menghilangkan rasa takut mereka.

Pada banyak orang, rasa takut muncul setiap hari. Sebagai orang Kristen, rasa takut, kuatir dan bimbang tetap ada. Kita mungkin berusaha mengingatkan diri kita sendiri ketika kita putus asa, “Jangan putus asa, Jangan cemas, Jangan takut, Tuhan akan menyertaimu kemanapun kamu pergi” . Jika Anda bisa mengucapkan kata-kata itu dan mengingatnya karena itu berasal dari janji di dalam Alkitab, Anda akan bisa juga berkata, “Terima kasih Tuhan. Saya akan mengambil langkah dengan keyakinan di masa depan.” Dan pada saat itu suatu ketenangan batin telah Anda nikmati, dan persekutuan dengan Tuhan telah Anda alami. Tetapi itu lebih mudah untuk dibayangkan daripada untuk dijalankan.

Tuhanlah yang memberi tahu kita untuk tidak takut dan memerintahkan kita untuk tidak khawatir terhadap orang yang berbuat jahat atau karena adanya keadaan yang kurang baik. Dia mengajak kita untuk menyerahkan segala kekhawatiran kita kepada-Nya karena Dia peduli pada kita dan berjanji akan menyertai kita selamanya – bahkan sampai akhir zaman. Tuhan Yesus adalah Dia yang memerintahkan kita untuk tidak berkecil hati atau kecewa karena Dia adalah Tuhan kita, dan kebenaran itu sudah cukup untuk menguatkan mereka yang beriman.

Ayat indah di atas pertama kali diberikan oleh Tuhan kepada bangsa Israel. Kita bisa mengambil tiga pengertian darinya:

Pertama, kita tidak perlu takut karena Tuhan telah berjanji untuk menguatkan semua milik-Nya, dan Yesus juga pernah menjelaskan kebenaran ini kepada rasul Paulus ketika Dia mengatakan kepadanya: “Cukuplah kasih karunia-Ku bagimu, sebab justru dalam kelemahanlah kuasa-Ku menjadi sempurna” (2 Korintus 12:9).

Kedua, Tuhan melanjutkan bahwa, selain memiliki kekuatan-Nya untuk semua yang kita perlukan, Dia akan menjadi penolong yang selalu hadir dalam kesulitan: “Allah adalah pelindung kita dan sumber kekuatan kita. Pada-Nya kita selalu mendapat pertolongan pada waktu kesusahan” (Mazmur 46:2). Sesungguhnya Tuhan Yesus sendiri berjanji, “Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman” (Matius 28:20). Lebih jauh lagi, Dia bahkan mengirimkan Roh Kudus-Nya yang tinggal di dalam kita untuk menjadi Penolong kita saat ini dan Penghibur kita di segala waktu dan di mana pun: “Aku akan minta kepada Bapa, dan Ia akan memberikan kepadamu seorang Penolong yang lain, supaya Ia menyertai kamu selama-lamanya, yaitu Roh Kebenaran” (Yohanes 14:16)

Ketiga, kepastian-Nya merentangkan lengan kasih-Nya semakin lebar, dengan janji untuk menopang kita dengan tangan kanan-Nya yang adil dan mencegah langkah kita tergelincir dengan memeluk kita dalam pelukan kebenaran-Nya: “Sebab Aku ini, TUHAN, Allahmu, memegang tangan kananmu dan berkata kepadamu: ”Janganlah takut, Akulah yang menolong engkau” (Yesaya 41:13).

Hari ini kita membaca kata-kata yang memberi semangat dan penghiburan yang diucapkan kepada bani Israel melalui mulut nabi Yesaya. Instruksi serta jaminan ajaib yang sama juga diberikan kepada Gereja, yaitu Tubuh Kristus. Jika Kristus adalah kebenaran kita, Kristus adalah penolong kita yang selalu hadir pada saat kesusahan; dan Kristuslah yang kasih karunia-Nya selalu mencukupi segala kebutuhan kita setiap hari, karena Kristuslah yang menjadi pelindung kita.

Mengerjakan keselamatan dengan takut dan gentar

Hai saudara-saudaraku yang kekasih, kamu senantiasa taat; karena itu tetaplah kerjakan keselamatanmu dengan takut dan gentar, bukan saja seperti waktu aku masih hadir, tetapi terlebih pula sekarang waktu aku tidak hadir, karena Allahlah yang mengerjakan di dalam kamu baik kemauan maupun pekerjaan menurut kerelaan-Nya. Filipi 2:12-13

Filipi 2:12–18 menjelaskan bagaimana orang Kristen seharusnya hidup, dengan mempertimbangkan semua yang Kristus sudah lakukan untuk mereka. Perintah untuk “mengerjakan” keselamatan adalah sebuah arahan untuk membiarkan kelahiran baru di dalam Kristus diwujudkan dalam tindakan. Sebagai bagian dari hal ini, orang percaya harus melayani Tuhan tanpa mengeluh atau mengeluh. Paulus tahu bahwa pelayanannya kepada Tuhan sangat sulit, namun ini hanyalah bentuk lain dari persembahan. Semua umat Kristiani diajak untuk melayani dengan cara yang sama tanpa pamrih.

Paulus menggambarkan Yesus Kristus sebagai pribadi yang bersedia rendah hati, taat kepada Allah Bapa. Untuk ini, Tuhan akan meninggikan nama Yesus di atas segalanya. Suatu hari nanti, dengan satu atau lain cara, semua orang akan mengakui bahwa Yesus Kristus adalah Tuhan, dan tunduk kepada-Nya. Paulus ingin jemaat di Filipi hidup dengan rasa puas dalam persatuan, tanpa merasa tertekan. Instruksi diberikan sehubungan dengan adanya dua orang yang mengunjungi Filipi. Yang pertama adalah orang yang menyampaikan surat ini, Epafroditus. Yang lainnya adalah Timotius, teman terpercaya Paul, yang diharapkan akan segera berkunjung.

Ayat ini beralih dari fokus Paulus pada perlunya orang Kristen di Filipi menghidupi iman mereka agar dunia dapat melihatnya. Dia mencatat perhatiannya kepada mereka dengan penggunaan kata “kekasih” atau orang-orang yang dicintai. Paulus juga menggunakan panggilan “saudara-saudara yang kukasihi dan yang kurindukan” dalam Filipi 4:1. Dalam kedua konteks tersebut, fokusnya adalah untuk menekankan kasih Kristus kepada pembacanya sekaligus memberi mereka perintah untuk dipatuhi.

Paulus mencatat bahwa jemaat Filipi dengan setia mengikuti ajarannya baik dia bersama mereka atau tidak. Mengikuti instruksi seorang guru ketika ia tidak bersama mereka adalah ujian utama kesetiaan, dan umat Kristen di Filipi telah melakukan hal yang sama. Selama bertahun-tahun mereka berpisah, Paulus tetap berhubungan dengan kelompok orang percaya ini. Bab 4 membahas beberapa kali mereka mengiriminya sumbangan keuangan untuk membantunya dalam pelayanannya.

Dalam ayat 12, Paulus memerintahkan umat Kristen di Filipi untuk “mengerjakan keselamatan mereka”, artinya mereka harus menerapkan kebenaran kepercayaan mereka – bukan bekerja untuk mempertahankan keselamatan mereka agar tidak hilang. Keberadaan mereka di dalam Kristus perlu “dinyatakan” melalui tindakan dan sikap mereka. Alasan perintah ini diberikan di sini dalam ayat 13: Allah bertindak melalui kehidupan orang-orang percaya ini. Pemahaman ini hendaknya membawa orang beriman pada rasa kagum dan penghargaan yang mendalam kepada kasih-Nya.

Seperti disebutkan di atas, Paulus memberikan perintah dengan menggunakan ungkapan yang aneh dan sering disalahpahami: “kerjakanlah keselamatanmu sendiri dengan takut dan gentar.” Pernyataan unik ini berbicara tentang ketaatan yang berkelanjutan bagi mereka yang sudah diselamatkan. Penting untuk dicatat bahwa Paulus tidak menyuruh mereka bekerja demi keselamatan mereka. Pernyataan ini menyiratkan suatu kebutuhan untuk menghayati—untuk mengamalkan, mendemonstrasikan, dan memperlihatkan—keselamatan yang dimiliki orang-orang percaya di dalam Kristus. Menjadi orang Kristen bukanlah satu kejadian yang sesudah terjadi, tidak perlu diingat lagi dan dipraktikkan setiap hari. Lebih dari itu, konsep “takut dan gemetar” menunjukkan rasa hormat yang penuh ibadah kepada Tuhan.

Paulus kemudian menambahkan dua bidang di mana Allah bekerja dalam kehidupan orang percaya. Pertama, Tuhan bekerja di dalam kita untuk tunduk kepada kehendak-Nya. Ini termasuk gagasan menempatkan keinginan atau memimpin orang percaya untuk melayani Tuhan. Kedua, Allah bekerja di dalam kita untuk hidup sesuai dengan kehendak-Nya. Roh Allah dalam diri orang percaya memberikan keinginan dan kekuatan agar kita bisa hidup bagi Tuhan. Gagasan tentang “kerelaan-Nya” mencakup ketaatan (Filipi 2:12) menurut bimbingan Roh Allah. Ini bukanlah ketaatan legalistik yang membuta terhadap hukum atau aturan manusia yang ditentang Paulus, melainkan ketaatan berdasarkan kasih kepada Tuhan berdasarkan Roh yang hidup di dalam diri orang percaya.

Pagi ini, firman Tuhan menyatakan bahwa jika kita hidup, kita harus hidup untuk Tuhan. Kita bekerja, melayani, menolong orang lain, mengerjakan apa saja, untuk menaati perintah-Nya. Ia yang sudah memberi kita karunia terbesar dalam diri Yesus, adalah Tuhan yang harus kita hormati dan kita patuhi. Dalam hidup, kita bukan berusaha keras untuk mempertahankan keselamatan kita, tetapi berusaha keras untuk menyatakan keselamatan yang sudah kita terima dalam bentuk kasih kepada Tuhan dan sesama sebagai pernyataan ketaatan dan rasa syukur kita.