Tubuh tanpa nafas adalah tubuh yang mati

“Sebab seperti tubuh tanpa roh adalah mati, demikian jugalah iman tanpa perbuatan-perbuatan adalah mati.” Yakobus 2:26

Dalam pasal ini, fokus Yakobus pada perbuatan telah menimbulkan kontroversi mendalam di kalangan umat Kristen sejak beberapa abad. Luther dikenal tidak menyukai kitab Yakobus karena dia membaca Yakobus 2:24 (“Jadi kamu lihat, bahwa manusia dibenarkan karena perbuatan-perbuatannya dan bukan hanya karena iman.”) sebagai kontradiksi dari Galatia 2:16 (“Kamu tahu, bahwa tidak seorang pun yang dibenarkan oleh karena melakukan hukum Taurat, tetapi hanya oleh karena iman dalam Kristus Yesus.”). Para pemimpin Reformasi lainnya tidak sependapat dengan pandangan ini, tetapi keberatan Luther mendominasi pengertian atas tulisan Yakobus di antara sebagian golongan Reformed yang ekstrim. Meskipun kita tidak dapat membahas perdebatan panjang tentang Luther dan kitab Yakobus di sini, kita dapat mempelajari secara singkat apakah penekanan Yakobus pada perbuatan bertentangan dengan penekanan golongan ekstrim itu.

Iman yang sungguh-sungguh menyelamatkan kepada Tuhan menuntun pada tindakan yang baik dan penuh kasih: ”perbuatan.” Dalam pasal 1, Yakobus membahas pentingnya bertindak berdasarkan firman Tuhan, bukan sekadar mendengarkannya. Favoritisme terhadap yang orang kaya dibandingkan dengan yang miskin menunjukkan kurangnya iman. Faktanya, ini adalah dosa. Menindaklanjuti gagasan ini, Yakobus menegaskan bahwa ”iman” yang tidak menghasilkan perbuatan baik adalah mati. Keyakinan mereka yang tidak menganggap perbuatan baik adalah perlu dalam hidup orang Kristen seperti itu hanyalah persetujuan intelektual. Itu bukanlah kepercayaan, atau iman penyelamat yang alkitabiah.

Yakobus tidak menyangkal bahwa kepercayaan kepada Tuhan itu penting untuk keselamatan, ia juga tidak menyatakan bahwa usaha manusia diperlukan untuk memperoleh keselamatan. Sebaliknya, ia menegaskan bahwa perbuatan bagi iman sama dengan arti nafas (pneuma = roh) bagi tubuh: suatu tanda kehidupan. Iman tanpa perbuatan ibarat tubuh tanpa nafas: mati.

Yakobus membuat permainan kata yang cerdas di sini, serupa dengan yang Yesus gunakan dalam Yohanes pasal 3. Yakobus menyatakan bahwa iman tanpa perbuatan sama saja mati seperti tubuh tanpa pneuma. Istilah Yunani ini dapat berarti “angin”, yang merupakan eufemisme untuk bernapas, atau dapat juga berarti “roh”, atau jika dimulai dengan huruf besar, “Roh”, berarti Roh Kudus. Permainan kata adalah kunci untuk melihat betapa seriusnya Yakobus mengenai implikasi pengajaran ini. Tubuh tanpa nafas adalah mati. Seseorang yang mengaku Kristen tapi tidak berbuah adalah orang yang hidup tanpa “Roh Kudus”, yaitu orang yang mati secara rohani. Yakobus menghubungkan kekurangan nafas, kekurangan semangat, dan kehadiran kematian dengan konsep iman tanpa perbuatan.

Yakobus 2:14–26 menyatakan bahwa cara seseorang bertindak dalam hidup adalah ”pekerjaan” mereka, dan tanda dari jenis ”iman” yang mereka miliki. Yang disebut-”iman” yang tidak menuntun seseorang untuk berpartisipasi dalam perbuatan baik bukanlah iman yang menyelamatkan; itu adalah hal yang mati. Tidak ada gunanya bagi kita untuk berdoa setiap hari agar orang-orang miskin agar ditolong Tuhan jika kebiasaan seperti itu tidak membuat kita mau menolong mereka yang menderita. Tidak ada gunanya berdoa setiap hari memohon ampun untuk dosa-dosa kita terhadap sesama kita , jika kita tidak mau berhenti menyakiti atau merugikan mereka.

Perbuatan baik dapat dilakukan dalam berbagai bentuk. Dalam pasal ini, Yakobus menekankan perbuatan baik umat Kristiani yang saling mengasihi seperti kita mengasihi diri sendiri. Dia secara khusus menekankan pemenuhan kebutuhan fisik masing-masing. Ia juga menekankan ketaatan kepada Tuhan. Yakobus membahas topik kerja secara mendetail di bagian kedua dari pasal 2. Saat membahas perbuatan, dia selalu menggunakan bentuk jamak “perbuatan-perbuatan (Yunani erga) daripada “perbuatan” yang berbentuk tunggal (Yunani ergon). Hal ini membuat beberapa orang beranggapan bahwa Yakobus menggunakan kata “perbuatan-perbuatan” untuk mengartikan sesuatu yang berbeda dari “perbuatan”. Namun, erga dan ergon hanyalah bentuk jamak dan tunggal dari kata yang sama. Yakobus menggambarkan segala jenis perbuatan orang Kristen, mulai dari amal ibadah, seperti memberi makan kepada seseorang yang lapar, hingga pekerjaan sosial yang berguna untuk masyarakat, seperti usaha meningkatkan hasil sawah yang berkelanjutan. Penggunaan jamaknya menunjukkan bahwa dia mengharapkan perbuatan baik orang Kristen selama hidup di dunia bisa berlangsung terus-menerus agar nama Tuhan dipermuliakan.

Dengan cara yang persis sama, Yakobus menegaskan bahwa menyetujui secara mental atau teologis tentang fakta-fakta tertentu tentang Tuhan saja tidak cukup. Jika apa yang diyakini seseorang tentang Tuhan tidak menuntun mereka untuk bertindak sesuai dengan keyakinan tersebut, maka “iman” mereka bukanlah iman yang menyelamatkan. Itu hanyalah opini. Yakobus tidak pernah mengatakan bahwa iman tidak penting untuk keselamatan. Dia tidak pernah menyatakan bahwa bekerja diperlukan untuk memperoleh atau mempertahankan keselamatan. Namun ia jelas menyatakan bahwa iman yang benar-benar menyelamatkan tidak dapat dipisahkan dari adanya perbuatan baik. Pohon yang hidupnya baik akan menghasilkan buah yang baik.

Ajaran Yakobus adalah ajaran yang praktis sekalipun sering disalahpahami. Maksud Yakobus adalah bahwa iman yang sejati kepada Tuhan secara alami menuntun orang beriman untuk berpartisipasi dalam perbuatan baik. Ini bukanlah ide yang radikal, bahkan dari sudut pandang non-spiritual. Jika kita benar-benar percaya bahwa Tuhan benar-benar Tuhan dan Dia telah menyelamatkan kita melalui iman kita kepada Kristus, mengapa kita tidak menaati-Nya dalam hukum utama yang kedua? Perbuatan kita tidak menghasilkan keselamatan, namun apa yang kita lakukan membuktikan apakah kita benar-benar mempunyai iman yang menyelamatkan atau tidak.

Yakobus tidak membayangkan bahwa perbuatan bertentangan dengan iman. Tidak ada “pembenaran karena perbuatan” karena tidak akan ada perbuatan baik kecuali sudah ada iman (kepercayaan) kepada Tuhan. Yakobus tidak bermaksud bahwa iman dapat ada tanpa perbuatan namun tidak cukup untuk keselamatan. Maksudnya adalah bahwa setiap “iman” yang tidak mengarah pada perbuatan adalah mati; dengan kata lain, itu sama sekali bukan iman. Ia mengharapkan agar umat Kristiani bekerja untuk kepentingan orang lain yang membutuhkan sebagai hasil dari menaruh iman kepada Kristus.

Wawasan bahwa iman Kristiani selalu mengarah pada tindakan praktis dengan sendirinya menjadi pelajaran bagi kita dalam hidup sehari-hari. Kita tidak dapat membagi dunia menjadi dua: yang rohani dan yang praktis, karena yang rohani seharusnya juga adalah yang praktis atau yang bisa dijalankan. “Abraham, bapa kita, dibenarkan karena perbuatan-perbuatannya,” kata Yakobus (Yakobus 2:21). Oleh karena itu kita tidak pernah dapat mengatakan, “Saya percaya kepada Yesus dan saya pergi ke gereja, tetapi saya memisahkan iman pribadi saya dari bisnis saya.” Iman seperti itu sudah mati. Kata-kata Yakobus “Jadi kamu lihat, bahwa manusia dibenarkan karena perbuatan-perbuatannya dan bukan hanya karena iman.” (Yakobus 2:24) menantang kita untuk mewujudkan komitmen kita kepada Kristus dalam aktivitas kita sehari-hari.

“Demikianlah setiap pohon yang baik menghasilkan buah yang baik, sedang pohon yang tidak baik menghasilkan buah yang tidak baik. Tidak mungkin pohon yang baik itu menghasilkan buah yang tidak baik, ataupun pohon yang tidak baik itu menghasilkan buah yang baik. Dan setiap pohon yang tidak menghasilkan buah yang baik, pasti ditebang dan dibuang ke dalam api. Jadi dari buahnyalah kamu akan mengenal mereka. Bukan setiap orang yang berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan! akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga, melainkan dia yang melakukan kehendak Bapa-Ku yang di sorga. Pada hari terakhir banyak orang akan berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan, bukankah kami bernubuat demi nama-Mu, dan mengusir setan demi nama-Mu, dan mengadakan banyak mujizat demi nama-Mu juga? Pada waktu itulah Aku akan berterus terang kepada mereka dan berkata: Aku tidak pernah mengenal kamu! Enyahlah dari pada-Ku, kamu sekalian pembuat kejahatan!” Matius 7:16-23.

Peranan Tuhan dan peranan manusia dalam keselamatan

Kata-Nya: “Waktunya telah genap; Kerajaan Allah sudah dekat. Bertobatlah dan percayalah kepada Injil! Markus 1:15

Ucapan Yesus di atas adalah ajakan agar manusia bertobat dan percaya agar bisa diselamatkan. Sebagian orang Calvinis yang ekstrim menyangkal perlunya tindakan manusia karena Tuhan menetapkan segala sesuatu dari awalnya, dan sebagian golongan Arminian kurang menekankan dan bahkan mengabaikan penentuan Ilahi karena keyakinan akan adanya kehendak bebas yang diberikan oleh Tuhan kepada setiap manusia. Dalam hal ini, Alkitab dengan jelas menyatakan baik yang ilahi maupun yang manusiawi sebagai hal yang penting dalam rencana keselamatan Allah. Tetapi bagaimana Tuhan dan manusia harus melakukan sesuatu sebelum manusia dapat diselamatkan? Ini tidak mudah dibayangkan atau dimengerti, tetapi perlu dipelajari karena Tuhan adalah berdaulat dan manusia bukanlah robot ciptaan Tuhan. Berikut ini adalah tulisan John G. Reisinger, seorang pendeta dan penulis Reformed yang terkenal. Artikel dari situs Monergism ini menjelaskan banyak kebingungan dan kesalahpahaman mengenai doktrin kasih karunia.

Poin-poin penting yang harus kita pegang:

SATU: Seseorang harus bertobat dan percaya agar dapat diselamatkan. Tidak ada seorang pun yang diampuni dan dijadikan anak Allah jika ia tidak rela berbalik dari dosanya kepada Kristus. Alkitab tidak pernah mengisyaratkan bahwa manusia dapat diselamatkan tanpa pertobatan dan iman, namun sebaliknya, Firman selalu menyatakan bahwa hal-hal ini penting sebelum seseorang dapat diselamatkan. Satu-satunya jawaban Alkitab terhadap pertanyaan “Apa yang harus saya lakukan agar dapat diselamatkan?” adalah “Percayalah kepada Tuhan Yesus Kristus dan engkau akan diselamatkan.”

KEDUA: Setiap orang yang bertobat dan percaya Injil akan diselamatkan. Setiap jiwa, tanpa kecuali, yang menaati perintah Injil untuk datang kepada Kristus akan diterima dan diampuni oleh Allah dan Bapa Tuhan kita Yesus Kristus. Jika kita dapat benar-benar yakin akan segala hal, kita dapat yakin bahwa Kristus tidak akan pernah mengingkari janji-Nya untuk menerima “semua orang yang datang kepada-Nya”. “Datang dan sambutlah” adalah kata-kata kekal Juruselamat kepada semua orang berdosa.

KETIGA: Pertobatan dan iman bukanlah sesuatu yang dipaksakan oleh Tuhan, melainkan merupakan tindakan bebas (yaitu sukarela) yang dilakukan manusia. Manusia, dengan pikiran, hati, dan kemauannya sendiri harus meninggalkan dosa dan menerima Kristus. Tuhan tidak bertobat dan percaya untuk kita; sebaliknya kita bertobat dan percaya. Berpaling dari dosa dan menjangkau Kristus dalam iman adalah tindakan manusia, dan setiap orang yang menanggapi panggilan Injil melakukan hal tersebut karena sejujurnya dia ingin melakukannya. Dia ingin diampuni dan dia hanya bisa diampuni dengan bertobat dan percaya. Tidak ada seorang pun, termasuk Tuhan, yang dapat meninggalkan dosa demi kita, kita harus melakukannya. Tidak seorang pun boleh berharap Kristus “menggantikan kita” dalam mengambil keputusan, kita harus secara pribadi, sadar, dan rela memercayai Dia agar dapat diselamatkan.

Sekarang seseorang mungkin berpikir, “Tetapi bukankah semua itu yang diajarkan oleh golongan Kristen Arminian?” Pembaca, itulah yang diajarkan Alkitab – dan mengajarkannya dengan jelas dan dogmatis. “Tetapi bukankah kaum Calvinis menyangkal ketiga poin di atas?” Saya tidak sedang berbicara tentang, atau mencoba membela “kaum Calvinis” karena mereka mempunyai ratusan variasi. Jika Anda mengenal seseorang yang menyangkal fakta-fakta di atas, maka orang tersebut, apapun sebutannya, sedang menyangkal pesan yang jelas dari Alkitab.

EMPAT: Alkitab yang sama yang menyatakan manusia harus bertobat dan percaya agar dapat diselamatkan, juga dengan tegas menyatakan bahwa manusia, karena sifat berdosanya, sama sekali tidak mampu bertobat dan percaya. Ketiga kemampuan pikiran, hati, dan kemauan manusia, yang harus dapat menerima kebenaran Injil, tidak memiliki kemampuan untuk menerima kebenaran tersebut atau bahkan keinginan untuk memiliki kemampuan tersebut. Apa yang terjadi justru sebaliknya. Seluruh keberadaan manusia bukan saja tidak mampu untuk datang, atau ingin datang kepada Kristus, namun setiap bagian dari naturnya secara aktif bertentangan dengan Kristus dan kebenaran.

Menolak Yesus Kristus sebagai Tuhan dan Juruslamat bukanlah tindakan pasif, melainkan sebuah pilihan yang disengaja dan dilakukan. Ini adalah dengan sengaja memilih untuk mengatakan “tidak” kepada Kristus dan “ya” kepada diri sendiri dan dosa. Tidak ada seorang pun yang “netral” terhadap Tuhan dan otoritas-Nya. Ketidakpercayaan adalah tindakan pikiran, hati, dan kemauan yang disengaja seperti halnya iman. Inilah yang Yesus maksudkan dalam Yohanes 5:40 ketika Dia berkata, “Kamu (kamu dengan sengaja membuat pilihan) tidak mau datang kepadaku.” Jelas, ketidakpercayaan adalah tindakan kemauan manusia, bukan buatan Tuhan Sebenarnya ketidakpercayaan adalah iman yang aktif, tapi sayangnya itu adalah iman kepada diri sendiri.

Memercayai dan memberitakan poin Satu, Dua, dan Tiga, tanpa memberitakan poin nomor Empat adalah tindakan yang salah dalam menggambarkan Injil kasih karunia Allah. Hal ini bisa memberikan gambaran yang salah tentang orang berdosa dan kebutuhannya yang sebenarnya. Itu hanya menunjukkan setengah dari dosa manusia. Hal ini tidak memperhatikan hal yang paling krusial dari kebutuhan manusia yang terhilang, yaitu kurangnya kuasa atau kemampuan untuk mengatasi sifat berdosa dan dampaknya. “Injil” yang dibuat berdasarkan poin satu, dua dan tiga saja hanyalah separuh Injil. Pada titik inilah penginjilan modern bisa gagal total. Hal ini mengacaukan tanggung jawab manusia dengan kemampuannya, dan secara keliru berasumsi bahwa orang berdosa mempunyai kemampuan moral untuk melaksanakan segala perintah Allah. Pada pihak yang lain, ada orang yang percaya bahwa manusia tidak bisa bertanggung jawab atas segala dosa mereka. Teks-teks kitab suci yang menunjukkan ketidakmapuan dan tanggungjawab manusia kemudian diabaikan atau dipelintir secara parah oleh penyimpangan dari Injil kasih karunia Allah yang menyelamatkan.

Harap perhatikan beberapa ayat Alkitab yang secara dogmatis menyatakan beberapa hal yang tidak dapat dilakukan oleh orang yang terhilang:

  1. Manusia tidak dapat melihat – sampai ia dilahirkan kembali terlebih dahulu. (Yohanes 3:3)
  2. Manusia tidak dapat mengerti – sampai ia terlebih dahulu diberi sifat yang baru. (1 Kor. 2:14)
  3. Manusia tidak dapat datang – sebelum ia dipanggil secara efektif oleh Roh Kudus. (Yohanes 6:44-45)

Ada banyak yang tidak bisa dilakukan manusia, tetapi kita tidak mempunyai ruang untuk membahas semuanya. Ketiga hal ini sudah cukup untuk menunjukkan bahwa orang berdosa sama sekali tidak bisa (perhatikan, ini bukan “tidak akan”) datang kepada Kristus sampai Allah terlebih dahulu melakukan sesuatu dalam natur orang berdosa tersebut. “Sesuatu” itu adalah apa yang Alkitab sebut sebagai regenerasi, atau kelahiran baru, dan itu merupakan pekerjaan eksklusif Tuhan Roh Kudus. Manusia tidak mempunyai andil apa pun dalam regenerasi.

LIMA: Kelahiran baru, atau kelahiran kembali, adalah Allah memberi kita kehidupan rohani yang memampukan kita melakukan apa yang harus kita lakukan (bertobat dan percaya), namun TIDAK BISA MELAKUKANnya karena kita terikat pada dosa. Ketika Alkitab mengatakan manusia mati di dalam dosa, itu berarti pikiran, hati, dan kehendak manusia semuanya mati secara rohani di dalam dosa. Ketika Alkitab berbicara tentang keberadaan kita dalam “perbudakan dosa,” itu berarti bahwa seluruh keberadaan kita, termasuk kehendak kita, berada di bawah perbudakan dan kuasa dosa. Kita memang membutuhkan Kristus untuk mati dan membayar hukuman dosa kita, namun kita juga sangat membutuhkan Roh Kudus untuk memberi kita sifat baru dalam kelahiran kembali. Anak Allah secara hukum memerdekakan kita dari hukuman dosa, namun hanya Roh Kudus yang mampu memerdekakan kita dari kuasa dan kematian kebobrokan dosa. Kita membutuhkan pengampunan agar dapat diselamatkan, dan Kristus menyediakan pengampunan dan kebenaran yang lengkap bagi kita melalui kematian-Nya.

ENAM: Iman dan pertobatan adalah bukti dan bukan penyebab kelahiran kembali. Kita memerlukan kehidupan dan kemampuan rohani, dan Roh Kudus menyediakannya bagi kita dalam kelahiran kembali. Karya kelahiran kembali Roh Kuduslah yang memampukan kita untuk menerima karya penebusan Kristus dengan iman yang sejati. Setiap orang yang berpaling kepada Kristus melakukannya dengan sukarela, namun kesediaan itu adalah akibat langsung dari pemilihan Bapa dan panggilan efektif Roh Kudus. Hanya ketika orang yang mati secara rohani mulai melakukan tindakan rohani seperti pertobatan dan iman – “buah” rohani ini menunjukkan bahwa mukjizat kelahiran baru telah terjadi. Jika ada penginjil yang yakin bahwa kelahiran baru berada dalam kekuasaan dan kemampuan kehendak manusia, maka teologi “aku” buatan manusia menjadi jauh lebih penting daripada teologi Alkitab, dan pekerjaan Roh Kudus hampir dilupakan. Sebaliknya, orang yang tidak mau berpaling kepada Kristus melakukannya dengan kehendaknya sendiri yang terus-menerus menolak panggilan Roh Kudus. Orang seperti itu belum lahir baru.

Pagi ini kita belajar bahwa Tuhan berdaulat tetapi umat manusia tidak dipaksa-Nya untuk melakukan apa yang tidak dikehendaki mereka. Kepada setiap orang, Tuhan sudah memberikan petunjuk yang cukup untuk melihat kebesaran-Nya agar mereka mau mendengarkan panggilan-Nya. Satu-satunya alasan di mana seseorang tidak mendapatkan pengampunan adalah kalau dia tidak termasuk orang yang mau bertobat dan percaya kepada-Nya.

Hubungan komitmen dan keselamatan

“Tetapi aku melatih tubuhku dan menguasainya seluruhnya, supaya sesudah memberitakan Injil kepada orang lain, jangan aku sendiri ditolak.” 1 Korintus 9:27

Semua orang Kristen percaya bahwa mereka seharusnya setia dan berkomitmen untuk melayani Yesus. Tetapi, orang berbeda pendapat mengenai apakah seseorang yang benar-benar percaya dan berkomitmen kepada Kristus dapat kehilangan keselamatannya. Selain itu, ada perdebatan mengenai seberapa besar komitmen kita kepada Tuhan untuk bisa yakin bahwa kita adalah benar-benar orang yang diselamatkan.

Mengenai komitmen dalam hal hidup sehari-hari, Paulus mendorong jemaat di Korintus untuk rela menyerahkan “posisi nyaman” mereka demi kebaikan orang-orang yang lemah imannya. Paulus menunjukkan bahwa ia pun telah melepaskan kedudukannya, termasuk apa yang bertalian dengan kerasulannya untuk menerima dukungan keuangan dari orang-orang yang ia layani. Berbeda dengan banyak pendeta zaman sekarang, ia bangga karena dapat melayani jemaat Korintus tanpa imbalan apa pun, bahkan dengan mengorbankan dirinya sendiri. Paul menggambarkan dirinya sebagai seorang atlet yang bersaing memperebutkan hadiah mahkota dalam kekekalan. Maksudnya adalah agar orang percaya mengejar kesalehan, dan kebaikan orang lain, dengan komitmen dan disiplin seperti seorang atlet.

Paulus mempraktikkan pengendalian diri dengan cara yang hampir sama seperti seorang atlet dalam latihan yang terus mendisiplinkan tubuhnya dengan pengendalian diri yang ketat terhadap pola makan, olahraga, tidur, dan perilaku lainnya. Istilah Yunani yang Paulus gunakan untuk “disiplin” di sini adalah hypōpiazō. Paul mengatakan dia melatih tubuhnya dengan keras seperti seorang petinju, untuk menguatkan dirinya demi stamina rohaninya.

Paul tetap mau dalam latihan yang berkelanjutan karena dia tidak ingin didiskualifikasi. Apa artinya? Apakah ia takut tidak dapat masuk surga jika ia gagal? Bukan! Ia tidak kuatir tentang kehilangan keselamatannya akibat dosa. Ajaran Paulus sendiri sangat jelas bahwa keselamatan orang Kristen adalah sebuah anugerah, bukan sesuatu yang diperoleh melalui usaha yang keras (Efesus 2:8-9). Jadi, hadiah yang diharapkan Paulus tentunya adalah mahkota penghargaan dari Kristus yang telah ia layani dengan baik.

Sekalipun demikian, banyak orang percaya berpendapat bahwa orang Kristen bisa kehilangan keselamatan karena ada beberapa teks Perjanjian Baru yang sepertinya menunjukkan bahwa hal ini bisa terjadi, misalnya, kata-kata Paulus dalam 1 Timotius 1:18–20:

“Tugas ini kuberikan kepadamu, Timotius anakku, sesuai dengan apa yang telah dinubuatkan tentang dirimu, supaya dikuatkan oleh nubuat itu engkau memperjuangkan perjuangan yang baik dengan iman dan hati nurani yang murni.  Beberapa orang telah menolak hati nuraninya yang murni itu, dan karena itu kandaslah iman mereka di antaranya Himeneus dan Aleksander, yang telah kuserahkan kepada Iblis supaya jera mereka menghujat.”

Di sini, di tengah-tengah instruksi dan teguran yang berhubungan dengan kehidupan dan pelayanan Timotius, Paulus memperingatkan Timotius untuk menjaga iman dan menjaga hati nurani yang baik, dan untuk diingatkan kepada mereka yang tidak melakukannya. Rasul Paulus merujuk pada orang-orang yang membuat “iman mereka kandas,” yaitu orang-orang yang “diserahkannya kepada iblis agar mereka belajar untuk tidak menghujat.” Poin ini mengacu pada pengucilan Paulus terhadap orang-orang ini, dan seluruh bagian ini menggabungkan peringatan serius dengan contoh nyata tentang mereka yang sangat murtad dari pengakuan Kristen mereka.

Secara teologis, istilah “menghujat” termasuk dalam konsep kemurtadan. Istilah ini berasal dari kata Yunani apostasia yang berarti “menjauhi”. Ketika kita berbicara tentang mereka yang murtad atau telah melakukan penghujatan, yang dimaksudkan adalah mereka yang telah berontak atau setidaknya mengingkari pengakuan iman mereka kepada Kristus yang pernah mereka buat.

Tidak diragukan lagi bahwa orang yang mengaku percaya bisa jatuh dan terjatuh secara radikal. Kita memikirkan orang-orang seperti Petrus, misalnya, yang menyangkal Kristus. Namun fakta bahwa Petrus kemudian dipulihkan menunjukkan bahwa tidak semua orang yang mengaku percaya dan jatuh, kemudian tidak dapat kembali lagi. Pada titik ini, kita harus membedakan kejatuhan yang serius dan radikal dari kejatuhan yang total dan final. Para teolog mencatat bahwa Alkitab penuh dengan contoh orang percaya sejati yang jatuh ke dalam dosa besar dan bahkan tidak bertobat dalam waktu lama. Jadi, umat Kristiani memang bisa jatuh dan bahkan secara radikal.

Apa yang lebih serius daripada penyangkalan Petrus di muka umum terhadap Yesus Kristus? Bukankah itu serupa dengan keengganan kita untuk berkomitmen kepada kebenaran Kristus? Kita tidak tahu bagaimana orang yang tidak berkomitmen kemudian menjadi orang yang jatuh secara total dan final. Kita tidak tahu apakah orang-orang yang benar-benar bersalah atas kejatuhan ini sudah terjatuh dan hilang selamanya, atau apakah kejatuhan ini hanya sebuah kondisi sementara yang, pada analisa akhir, akan diperbaiki dengan pemulihan mereka? Hanya Tuhan yang dapat melihat jiwa itu, mengubah jiwa itu, dan memelihara jiwa itu. Dalam kasus orang seperti Petrus, kita melihat bahwa kejatuhannya dapat diatasi melalui pertobatannya. Ini jugalah yang mendorong kita untuk giat mengabarkan Injil ke seluruh dunia. Namun, bagaimana dengan mereka yang akhirnya murtad? Apakah mereka benar-benar beriman?

Jawaban kita terhadap pertanyaan ini adalah “tidak”. Mereka bukan orang Kristen sejati. Ayat 1 Yohanes 2:19 berbicara tentang guru-guru palsu yang keluar dari gereja karena tidak pernah benar-benar menjadi bagian dari gereja. Yohanes menggambarkan kemurtadan orang-orang yang telah membuat pengakuan iman namun tidak pernah sungguh-sungguh bertobat. Kita tahu bahwa Allah memuliakan semua orang yang dibenarkan-Nya (Roma 8:29-30). Karena itu, jika seseorang mempunyai iman sejati sebagai karunia Tuhan yang menyelamatkan dan dibenarkan, maka Tuhan sendiri akan memelihara kehidupan orang tersebut.

Sementara itu, kalau orang yang terjatuh atau tidak berkomitmen selama hidup di dunia, bagaimana kita tahu kalau dia sudah murtad? Satu hal yang tidak bisa dilakukan oleh siapa pun di antara kita adalah membaca hati orang lain. Ketika kita melihat seseorang yang telah membuat pengakuan iman dan kemudian menolaknya, kita tidak tahu apakah dia benar-benar orang yang sudah dilahirkan kembali, yang berada di tengah-tengah proses kejatuhan yang serius dan radikal, namun pada suatu saat di masa depan pasti akan mengalami kemerosotan. Kita tidak dapat menerka kehendak Tuhan dalam pemulihan di masa depan; atau apakah Tuhan membiarkan orang yang belum pernah benar-benar bertobat, yang pengakuan imannya sudah salah sejak awal, yang tidak mau berkomitmen kepada-Nya. Itu adalah hak Tuhan.

Pertanyaan apakah seseorang bisa kehilangan keselamatannya bukanlah pertanyaan abstrak. Hal ini menyentuh kita pada inti kehidupan Kristiani kita, tidak hanya berkaitan dengan kepedulian kita terhadap ketekunan dan komitmen kita sendiri, namun juga berkaitan dengan kepedulian kita terhadap keluarga dan teman-teman kita, khususnya mereka yang tampaknya, secara lahiriah, telah berbuat baik. pengakuan iman yang sejati. Kita mengira pengakuan mereka dapat dipercaya, kita menganggap mereka sebagai saudara, namun ternyata mereka bisa saja menolak keyakinan tersebut.

Secara praktis, apa yang kita lakukan dalam situasi seperti itu? Pertama, kita harus rajin berdoa, dan kemudian, kita menunggu. Kita tidak tahu hasil akhir dari situasi ini, dan mungkin terkejut ketika kita sampai ke surga. Kita akan terkejut melihat orang-orang di sana yang kita pikir tidak akan ada di sana, dan kita akan terkejut bahwa kita tidak melihat orang-orang di sana yang kita yakini akan ada di sana. Tidak mungkin kita mengetahui status batin hati manusia atau jiwa manusia. Hanya Tuhan yang dapat melihat jiwa itu, mengubah jiwa itu, dan memelihara jiwa itu. Bagi kita, yang paling penting adalah jangan sampai kita terkejut menemukan diri kita sendiri ternyata tidak masuk ke surga karena tidak adanya komitmen untuk hidup sebagai umat-Nya.

Bukan setiap orang yang berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan! akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga, melainkan dia yang melakukan kehendak Bapa-Ku yang di sorga. Pada hari terakhir banyak orang akan berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan, bukankah kami bernubuat demi nama-Mu, dan mengusir setan demi nama-Mu, dan mengadakan banyak mujizat demi nama-Mu juga? Pada waktu itulah Aku akan berterus terang kepada mereka dan berkata: Aku tidak pernah mengenal kamu! Enyahlah dari pada-Ku, kamu sekalian pembuat kejahatan!” Matius 7:21-23

Kasih tanpa Humanisme?

“Demikianlah tinggal ketiga hal ini, yaitu iman, pengharapan dan kasih, dan yang paling besar di antaranya ialah kasih.” 1 Korintus 13:13

Humanisme adalah pemikiran filsafat yang mengedepankan nilai dan kedudukan manusia serta menjadikannya sebagai kriteria dalam segala hal. Sebagian orang Kristen menolak ajaran humanisme dalam segala bentuknya, terutama mereka yang kurang menekankan pentingnya hidup dan perbuatan baik orang Kristen di dunia.

Sebenarnya, ada berbagai jenis humanisme. Humanisme klasik, yang dikaitkan dengan Renaisans, menekankan estetika, kebebasan, dan studi tentang “humaniora” (sastra, seni, filsafat, dan bahasa klasik Yunani dan Latin). Humanisme sekuler menekankan potensi manusia dan pemenuhan diri sampai pada titik mengesampingkan semua kebutuhan akan Tuhan; ini adalah filosofi naturalistik yang didasarkan pada akal, sains, dan pemikiran yang membenarkan tujuan. Pada pihak yang lain, humanisme Kristen mengajarkan bahwa kebebasan, hati nurani individu, dan kebebasan intelektual sejalan dengan prinsip-prinsip Kristen dan bahwa Alkitab sendiri mendukung pemenuhan kebutuhan manusia—berdasarkan keselamatan Tuhan di dalam Kristus dan tunduk pada kendali kedaulatan Tuhan atas alam semesta.

Humanisme Kristen mewakili kesatuan filosofis agama Kristen dan prinsip-prinsip humanis klasik. Sementara para humanis klasik mempelajari tulisan-tulisan Yunani dan Latin, para humanis Kristen mempelajari tulisan-tulisan Ibrani dan Yunani yang alkitabiah, bersama dengan tulisan-tulisan para bapa gereja mula-mula. Humanisme Kristen, seperti humanisme klasik, mengejar akal, penyelidikan bebas, pemisahan gereja dan negara, dan cita-cita kebebasan. Humanis Kristen berkomitmen pada pendidikan dan pengembangan serta penggunaan ilmu pengetahuan dan teknologi. Humanisme Kristen mengatakan bahwa segala kemajuan dalam ilmu pengetahuan, ilmu pengetahuan, dan kebebasan individu harus digunakan untuk mengabdi pada umat manusia demi kemuliaan Tuhan. Ini adalah mandat budaya dari Tuhan kepada umat-Nya.

“Apa pun juga yang kamu perbuat, perbuatlah dengan segenap hatimu seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia.” Kolose 3:23 TB

Istilah humanisme Kristen telah digunakan untuk merujuk pada berbagai pandangan, beberapa di antaranya lebih alkitabiah dibandingkan yang lain. Secara umum humanisme adalah suatu sistem pemikiran yang berpusat pada nilai-nilai, potensi, dan nilai kemanusiaan; humanisme menaruh perhatian pada kebutuhan dan kesejahteraan umat manusia, menekankan nilai intrinsik individu, dan memandang manusia sebagai agen yang otonom, rasional, dan bermoral. Sejauh mana sudut pandang luas ini diintegrasikan dengan kepercayaan Kristen menentukan dengan tepat bagaimana humanisme Kristen alkitabiah.

Humanisme Kristen berpendapat bahwa manusia mempunyai martabat dan nilai karena manusia diciptakan menurut gambar Allah (Kejadian 1:27). Sejauh mana manusia bersifat otonom, rasional, dan bermoral merupakan cerminan dari penciptaan mereka sebagai gambar Allah (imago Dei). Nilai kemanusiaan diasumsikan di banyak tempat dalam Kitab Suci: dalam inkarnasi Yesus (Yohanes 1:14), belas kasihan-Nya terhadap manusia (Matius 9:36), perintah-Nya untuk “mengasihi sesamamu manusia seperti dirimu sendiri” (Markus 12:31), dan Perumpamaannya tentang orang Samaria yang baik hati (Lukas 10:30–37). Singgungan Paulus terhadap tulisan-tulisan sekuler (Kisah 17:28; Titus 1:12) menunjukkan nilai pendidikan klasik dalam menyajikan kebenaran.

Berbeda dengan humanisme sekuler, kaum humanis Kristen menekankan perlunya menerapkan prinsip-prinsip Kristen dalam setiap bidang kehidupan, baik publik maupun pribadi. Humanisme Kristen menganggap prinsip-prinsip humanis seperti martabat manusia universal, kebebasan individu, dan pentingnya kebahagiaan sebagai komponen esensial dan prinsipal atau bahkan eksklusif dari ajaran Yesus. Sebagian orang Kristen tidak menyadari hal ini dan bahkan menolaknya karena berbau jasmani. Memang kita harus menyadari bahwa Humanisme tidak menyelamatkan, karena imanlah yang membawa keselamatan. Tetapi iman yang sejati akan melahirkan humanisme Kristen.

“Apakah gunanya, saudara-saudaraku, jika seorang mengatakan, bahwa ia mempunyai iman, padahal ia tidak mempunyai perbuatan? Dapatkah iman itu menyelamatkan dia? Jika seorang saudara atau saudari tidak mempunyai pakaian dan kekurangan makanan sehari-hari, dan seorang dari antara kamu berkata: “Selamat jalan, kenakanlah kain panas dan makanlah sampai kenyang!”, tetapi ia tidak memberikan kepadanya apa yang perlu bagi tubuhnya, apakah gunanya itu? Demikian juga halnya dengan iman: Jika iman itu tidak disertai perbuatan, maka iman itu pada hakekatnya adalah mati.” Yakobus 2: 14-17

Kaum humanis Kristen memahami bahwa semua kekayaan hikmat dan pengetahuan tersembunyi di dalam Kristus (Kolose 2:3) dan berusaha untuk bertumbuh ke dalam pengetahuan penuh tentang setiap hal yang baik untuk pelayanan Kristus (Filipi 1:9; 4:6; Kolose 1 :9). Tidak seperti kaum humanis sekuler yang menolak gagasan kebenaran yang diwahyukan, kaum humanis Kristen menganut Firman Tuhan sebagai standar yang mereka gunakan untuk menguji kualitas segala sesuatu. Para humanis Kristen menghargai budaya manusia namun mengakui dampak niskala (yaitu, intelektual) dari sifat kejatuhan manusia (1 Korintus 1:18-25) dan kehadiran sifat dosa dalam setiap hati manusia (Yeremia 17:9). Humanisme Kristen mengatakan bahwa manusia mencapai potensi penuhnya hanya jika ia memiliki hubungan yang benar dengan Kristus. Pada saat diselamatkan, ia menjadi ciptaan baru dan dapat mengalami pertumbuhan dalam segala bidang kehidupan (2 Korintus 5:17).

Humanisme Kristen mengatakan bahwa setiap usaha dan pencapaian manusia harus berpusat pada Kristus. Segala sesuatu harus dilakukan untuk kemuliaan Allah dan bukan untuk kesombongan atau menonjolkan diri (1 Korintus 10:31). Kita harus berusaha untuk melakukan yang terbaik secara fisik, mental, dan rohani dalam segala hal yang Tuhan ingin kita lakukan dan lakukan. Kaum humanis Kristen percaya bahwa hal ini mencakup kehidupan intelektual, kehidupan seni, kehidupan rumah tangga, kehidupan ekonomi, politik, hubungan ras, dan pekerjaan lingkungan.

Humanisme Kristen percaya bahwa gereja harus terlibat secara aktif dalam kebudayaan dan bahwa umat Kristen harus menjadi suara yang menegaskan nilai dan martabat kemanusiaan sambil mengecam, memprotes, dan membela diri terhadap semua pengaruh yang tidak manusiawi di dunia. Humanisme Kristen bersifat alkitabiah sejauh ia berpegang pada pandangan alkitabiah tentang manusia—agen moral yang bertanggung jawab, diciptakan menurut gambar Allah namun jatuh ke dalam dosa. Humanisme Kristen menjadi kurang Kristen jika makin berkompromi dengan humanisme sekuler, yang mengangkat umat manusia ke status ketuhanan. Bagaimana Anda menerapkan humanisme dalam hidup sehari-hari? Apakan Anda ingin mengasihi Tuhan dan sesama tanpa menghargai humanisme? Itu tidak mungkin bisa.

Sambutlah uluran tangan-Nya

“Masuklah melalui pintu yang sesak itu, karena lebarlah pintu dan luaslah jalan yang menuju kepada kebinasaan, dan banyak orang yang masuk melaluinya; karena sesaklah pintu dan sempitlah jalan yang menuju kepada kehidupan, dan sedikit orang yang mendapatinya.” Matius 7:13-14

Saat Yesus mendekati akhir dari Khotbah di Bukit (Matius 5:1-2), Dia menjelaskan serangkaian pilihan yang harus diambil oleh para pendengar-Nya. Mereka harus memilih apa yang baik dengan bimbingan Tuhan, tetapi bukan hanya menantikan keajaiban Tuhan. Pilihan yang pertama adalah gerbang sempit yang membuka jalan yang lebih sulit (kebenaran Tuhan), dan yang lain adalah gerbang lebar yang menuju jalan yang mudah (kebenaran manusia). Meskipun analogi ini sengaja dibuat sederhana, namun mengandung beberapa lapisan makna.

Dalam konteks ajaran Yesus dalam Matius 5-7, jelas bahwa Dia menunjuk jalan yang sempit itu pada diri-Nya sendiri dan ajaran-Nya tentang kebenaran rohani sebagai “gerbang sempit”. Ia juga mengindikasikan bahwa hal ini membuka jalan yang sulit untuk diterima dan dijalani. Dengan kata lain, mereka yang mengikuti-Nya harus memahami bahwa mereka memilih jalan yang sulit menurut sudut pandang duniawi (Matius 5:10-12). Menjadi orang Kristen sejati memang bukan sesuatu yang mudah dijalani.

Ayat ini menyebabkan beberapa orang mempertanyakan kebaikan Tuhan. Jika Dia benar-benar ingin menyelamatkan semua orang, mengapa Dia tidak mempermudah mereka untuk diselamatkan? Mengapa Dia tidak membiarkan semua orang masuk surga? Mengapa Ia justru membuat jalan keselamatan itu sangat sempit sehingga banyak orang yang tidak menyukainya?

Pilihan yang akan diambil kebanyakan orang adalah gerbang lebar menuju jalan yang mudah. Gambaran gerbang yang “lebar” menyiratkan sesuatu yang mudah dilihat, dan mudah untuk dilewati. Hal ini juga menunjukkan sesuatu yang mengakomodasi preferensi kita: gerbang lebar memberi kita lebih banyak pilihan mengenai cara melewatinya dibandingkan gerbang sempit. Karena apa yang ada di balik gerbang itu tampaknya mudah, itulah pilihan yang akan diambil kebanyakan orang. Orang tidak memikirkan bahwa apa yang dapat dilakukan dengan usaha sendiri tidak akan membawa ke arah kebenaran. Hal ini mempunyai implikasi yang menyedihkan dan menyayat hati bagi nasib kekal kebanyakan orang.

Sebenarnya, Matius 7:7–14 menggambarkan Allah sebagai Bapa yang murah hati yang ingin sekali memberikan pemberian yang baik kepada anak-anak-Nya yang berdoa. Yesus memerintahkan para pengikut-Nya untuk terus meminta dan mencari, dengan keyakinan bahwa mereka akan menerima dan menemukan. Jalan Yesus dimulai dengan memasuki gerbang sempit dan terus menyusuri jalan sulit menuju kehidupan. Dia memerintahkan para pengikut-Nya untuk mengambil jalan itu, bukan jalan mudah yang menuju kehancuran.

Sebagian yang Yesus maksudkan sebagai orang yang memilih jalan yang mudah adalah mereka yang akan terus mengikuti ajaran para pemimpin agama Israel, ahli-ahli Taurat, dan orang-orang Farisi. Ajaran mereka yang legalistik menuntut perubahan lahiriah yang meningkatkan ketaatan terhadap peraturan. Hal ini “lebih mudah”, karena hanya mengharuskan seseorang untuk berpura-pura menjadi orang benar atau yakin bahwa mereka orang benar. Orang akan merasa bahwa dengan berbuat baik mereka akan dapat membuat Tuhan merasa puas atas “kebaikan’ mereka. Yesus memperingatkan para pengikut-Nya bahwa ini adalah jalan yang terlalu mudah dan mengarah pada kehancuran kekal. Keyakinan akan kebaikan diri sendiri justru membuat mereka tidak sadar akan kebusukan hidup mereka.

Yesus memerintahkan para pendengar-Nya untuk tidak mengucapkan penilaian yang dangkal atau palsu seperti itu. Ia menggambarkan Allah sebagai Bapa yang murah hati dan ingin memberikan hal-hal yang baik kepada anak-anak-Nya ketika mereka menaati perintah-Nya. Dia memerintahkan para pengikut-Nya untuk memilih gerbang yang sempit dan menempuh jalan yang sulit menuju kehidupan. Ini bertentangan dengan apa yang diajarkan oleh nabi-nabi palsu.

Nabi palsu dapat dikenali dari buahnya, yaitu tindakan dan pilihannya. Di zaman ini, paling tidak ada dua macam nabi palsu yang sering kita lihat: mereka yang mengajarkan bahwa keselamatan harus kita capai dengan berbuat baik, dan yang lain adalah mereka yang mengajarkan bahwa keselamatan sudah diberikan Tuhan dan tidak membutuhkan respon kita.

Ketika kita membaca kata sempit, kita cenderung mengasosiasikannya dengan hal yang merugikan. Kedengarannya seolah-olah Tuhan telah menilai kita semua melalui syarat penerimaan tertentu dan hanya mengijinkan segelintir orang saja untuk memasuki hadirat-Nya. Namun, beberapa ayat sebelumnya, Yesus telah mengatakan kepada pendengar yang sama, “Mintalah, maka akan diberikan kepadamu; carilah, maka kamu akan mendapat; ketoklah, maka pintu akan dibukakan bagimu. Karena setiap orang yang meminta, menerima dan setiap orang yang mencari, mendapat dan setiap orang yang mengetok, baginya pintu dibukakan.” (Matius 7:7-8). Yesus menjelaskannya: jalan menuju kehidupan kekal terbuka bagi setiap orang yang mau bertobat dan meminta bimbingan untuk bisa memilih jalan yang benar, yang sudah disediakan Tuhan.

Gerbang ke surga itu “sempit” dalam artian ada persyaratan khusus untuk masuk: iman kepada Yesus Kristus. Keselamatan hanya ditemukan dalam pribadi Yesus Kristus; Dialah satu-satunya jalan (Yohanes 14:6). Sebaliknya, gerbang yang “lebar” tidaklah eksklusif; hal ini memungkinkan upaya manusia dan semua agama lain di dunia. Dalam hal ini, memang ada banyak jalan ke Roma, tetapi hanya satu jalan ke surga!

Yesus berkata bahwa gerbang sempit itu membawa kita ke jalan yang “sulit”, yaitu jalan yang akan membawa kita melewati kesukaran dan keputusan sulit. Mengikuti Yesus mengharuskan kita menyalibkan daging kita (Galatia 2:20; 5:24; Roma 6:2), hidup dengan iman (Roma 1:17; 2 Korintus 5:7; Ibrani 10:38), menanggung pencobaan dengan kesabaran seperti Kristus (Yakobus 1:2–3, 12; 1 Petrus 1:6), dan menjalani gaya hidup yang terpisah dari dunia (Yakobus 1:27; Roma 12:1–2). Saat dihadapkan pada pilihan antara jalan sempit dan bergelombang atau jalan raya lebar beraspal, kebanyakan dari kita memilih jalan yang lebih mudah. Sifat manusia tertarik pada kenyamanan dan kesenangan. Ketika dihadapkan pada kenyataan menyangkal diri untuk mengikuti Yesus, kebanyakan orang berpaling (Yohanes 6:66). Yesus tidak pernah menutup-nutupi kebenaran, dan kenyataannya tidak banyak orang yang bersedia membayar harga untuk mengikuti-Nya. Itu adalah kesalahan mereka sendiri.

Allah menawarkan keselamatan kepada setiap orang yang mau menerimanya (Yohanes 1:12; 3:16-18; Roma 10:9; 1 Yohanes 2:2). Tapi itu sesuai dengan ketentuan-Nya. Kita harus menempuh jalan yang telah Dia sediakan. Kita tidak dapat menciptakan jalan kita sendiri atau datang kepada Tuhan yang kudus berdasarkan usaha kita sendiri. Dibandingkan dengan kebenaran-Nya, kita semua kotor (Yesaya 64:6; Roma 3:10). Tuhan tidak bisa begitu saja memaafkan atau mengabaikan dosa kita. Dia penyayang, tapi Dia juga adil. Keadilan Tuhan mengharuskan dosa dibayar. Dengan harga yang mahal bagi diri-Nya sendiri, Dia membayar harga tersebut (Yesaya 53:5; 1 Yohanes 3:1, 16; Mazmur 51:7). Tanpa darah Yesus yang menutupi dosa kita, kita bersalah di hadapan Allah (Roma 1:20).

Jika jalan menuju Tuhan tertutup sepenuhnya, dosa kitalah menjadi penghalangnya (Roma 5:12). Tidak ada seorang pun yang berhak mendapat kesempatan kedua. Kita semua berhak untuk tetap berada di “jalan lebar yang menuju kehancuran”. Namun Allah cukup mengasihi kita sehingga memberikan kesempatan untuk memilih jalan menuju kehidupan kekal (Roma 5:6-8). Namun, Dia juga tahu bahwa di dunia kita yang egois dan penuh dosa, tidak banyak orang yang menginginkan Dia – untuk datang kepada-Nya sesuai dengan persyaratan-Nya (Yohanes 6:44, 65; Roma 3:11; Yeremia 29:13) . Setan telah membuka jalan menuju neraka dengan godaan daging, ketertarikan duniawi, dan kompromi moral. Setan juga mengatakan bahwa hidup bermoral tidaklah perlu untuk orang yang sudah diselamatkan karena bukan moral yang menyelamatkan.

Kebanyakan orang membiarkan nafsu dan keinginannya menentukan jalan hidup mereka. Mereka memilih kesenangan duniawi yang bersifat sementara dibandingkan pengorbanan diri yang dituntut dalam mengikut Yesus (Markus 8:34; Lukas 9:23; Matius 10:37). Gerbang sempit diabaikan. Kebanyakan orang lebih suka menciptakan agama mereka sendiri dan merancang dewa-dewa mereka sendiri. Jadi dengan penuh duka, bukan diskriminasi, Yesus menyatakan bahwa jalan menuju kehidupan kekal itu “sempit, dan hanya sedikit yang menemukannya”. Semoga kita sadar bahwa untuk menyambut tawaran keselamatan dari Yesus kita harus mau mengambil keputusan untuk memilih jalan yag sempit, seperti apa yang sudah dibisikkan oleh Roh Kudus ke dalam hati kita. Jangan sampai kita yang merasa sudah diselamatkan kemudian ditolak-Nya karena kita tidak pernah menyambut uluran tangan-Nya.

Bertumbuh sebagai orang Kristen

“Tetapi bertumbuhlah dalam kasih karunia dan dalam pengenalan akan Tuhan dan Juruselamat kita, Yesus Kristus. Bagi-Nya kemuliaan, sekarang dan sampai selama-lamanya.” 2 Petrus 3:18

Baik saat kita bermain game, mengendarai mobil, atau membuat kue, ada aturan tertentu yang harus dipatuhi demi keberhasilan kita. Begitu juga, sebagai orang yang sudah diselamatkan, kita harus mau menaati hukum dan firman Tuhan untuk menjadi orang Kristen yang baik.

Alkitab mengajarkan bahwa kehidupan Kristen adalah kehidupan yang terus bertumbuh. Ketika Anda dilahirkan kembali, Anda dilahirkan ke dalam keluarga Tuhan. Adalah tujuan Tuhan agar Anda bertumbuh menjadi dewasa dan menjadi dewasa di dalam Kristus. Adalah melanggar hukum Tuhan dan hukum alam jika Anda tetap menjadi bayi dan kemudian menjadi kerdil secara rohani.

Dalam ayat di atas, Alkitab mengatakan bahwa kita harus bertumbuh. Ini menyiratkan perkembangan yang mantap, perluasan yang terus-menerus, peningkatan kebijaksanaan.

Agar seseorang dapat bertumbuh dengan baik, aturan-aturan tertentu harus dipatuhi demi kesehatan rohani yang baik.

  • Bacalah Alkitab Anda setiap hari. Jangan puas membaca satu bab hanya untuk memuaskan hati nurani Anda. Simpanlah Firman Tuhan di dalam hati Anda. Firman Tuhan menghibur, membimbing, mengoreksi, memberi semangat – semua yang kita perlukan ada di sana.
  • Pelajari rahasia doa. Doa adalah komunikasi. Setiap doa yang Anda panjatkan akan didengar-Nya. Terkadang jawabannya mungkin “Ya” dan terkadang “Tidak”, dan terkadang “Tunggu”, namun tetap saja jawabannya pasti akan diberikan Tuhan.
  • Andalkan terus-menerus pada Roh Kudus. Kita tahu bahwa Roh Kudus berdoa bagi kita (Roma 8), dan hal ini seharusnya menjadi penghiburan bagi kita yang merasa lemah. Tenangkan hati Anda dan biarkan Dia mengambil alih semua pilihan dan keputusan dalam hidup Anda.
  • Menghadiri gereja secara teratur. Gereja yang kelihatan adalah organisasi Kristus di bumi. Umat Kristen saling membutuhkan satu sama lain, kita perlu berkumpul untuk beribadah kepada Tuhan dan tidak ada yang bisa menggantikan kehadiran Anda secara pribadi di gereja.
  • Jadilah orang Kristen yang memberi kesaksian. Kita bersaksi dalam dua cara: melalui kehidupan dan perkataan – dan keduanya, jika memungkinkan, harus berjalan beriringan.
  • Biarkan kasih menjadi prinsip utama hidup Anda. Yesus berkata kepada mereka yang mengikuti-Nya, “Dengan demikian semua orang akan tahu, bahwa kamu adalah murid-murid-Ku, yaitu jikalau kamu saling mengasihi.” (Yohanes 13:35). Bukti terbesar dari fakta bahwa kita adalah orang Kristen sejati adalah bahwa kita saling mengasihi, bukan memusuhi dan membenci orang lain.
  • Jadilah orang Kristen yang taat. Biarlah Kristus mendapat tempat pertama dalam semua pilihan hidup Anda. Ini bukan untuk menjamin keselamatan Anda, tetapi pernyataan rasa syukur Anda atas keselamatan yang diberikan-Nya secara cuma-cuma.
  • Pelajari cara menghadapi godaan. Godaan bukanlah dosa. Menyerah itulah dosa. Biarkan Kristus melalui Roh Kudus yang berperang untuk Anda, jangan terus-menerus mengabaikan atau menghalangi Dia.
  • Jadilah orang Kristen yang sehat. Kehidupan dan penampilan kita hendaknya menyatakan cahaya Injil dan menjadikannya menarik bagi orang lain.
  • Hiduplah di atas keadaan Anda. Jangan biarkan keadaan membuat Anda putus asa. Belajarlah untuk hidup dengan rasa syukur dan cukup atas rahmat-Nya yang ada di dalam diri Anda, menyadari bahwa Tuhan sendiri ada bersama Anda.

Pedoman Hidup Kristen dikutip dari “Peace with God” oleh Billy Graham, diterbitkan pada tahun 1953, direvisi dan diperluas pada tahun 1984.

Apa yang harus kita lakukan sesudah diselamatkan?

“Karena itu, saudara-saudara, demi kemurahan Allah aku menasihatkan kamu, supaya kamu mempersembahkan tubuhmu sebagai persembahan yang hidup, yang kudus dan yang berkenan kepada Allah: itu adalah ibadahmu yang sejati.” Roma 12:1

Perayaan Paskah, hari kemenangan Yesus atas maut baru saja berlalu. Jika kita memperingati penderitaan dan kenatian Yesus pada hari Jumat Agung, pada hari Minggu sesudahnya kita merayakan kebangkitan-Nya. Karena kematian-nya, kita sudah ditebus-Nya dari hukuman mati, dan karena kebangkitan-Nya kita akan dibangkitkan dan hidup bersama Dia di masa depan. Yesus sudah berkurban untuk kita karena kasih-Nya, dan itu sesuai dengan kehendak Allah Bapa yang dinyatakan segera setelah Adam dan Hawa jatuh dalam dosa. Sudah tentu, sebagai orang Kristen yang dibenarkan kita seharusnya mengerti bahwa kita sepatutnya selalu bersyukur atas kasih Tuhan.

Sebagai orang yang beruntung, kita harus berjuang untuk bisa menjadi persembahan yang harum kepada Tuhan. Itu jika kita mempunyai kebijaksanaan, sebab banyak orang Kristen yang merasa bahwa sesudah diselamatkan mereka tidak perlu berbuat apa-apa untuk Tuhan. Selain itu, ada orang Kristen yang justru memandang sesama orang Kristen yang berusaha berbuat baik sebagai orang yang “sok” karena beranggapan bahwa tidak ada apa yang baik yang bisa kita persembahkan kepada Tuhan. Mereka lupa bahwa kita adalah bani pilihan Tuhan yang baru, yang tetap harus mempersebahkan kurban meskipun bukan untuk mendapatkan keselanatan.

Bagian baru dari surat Paulus dimulai dengan Roma 12. Ia menyimpulkan bagian yang membahas doktrin keselamatan dan apa artinya datang kepada Allah melalui iman di dalam Kristus. Sekarang dia mulai menjelaskan bagaimana kita yang berada di dalam Kristus seharusnya hidup. Bagaimana seharusnya kita menyikapi kemurahan Tuhan yang begitu besar kepada kita?

Paulus mulai menyampaikan permohonannya kepada saudara-saudara rohaninya: saudara-saudarinya di dalam Kristus. Meskipun dia adalah rasul yang diutus oleh Yesus sendiri untuk membawa Injil ke dunia, Paulus juga “salah satu dari kita.” Ia adalah manusia berdosa yang diselamatkan oleh kasih karunia Allah melalui iman kepada Yesus. Dia menyebut Tuhan sebagai Bapa, sama seperti kita, menjadikannya saudara kita.

Paulus mendesak kita untuk menyadari bahwa Tuhan telah menunjukkan belas kasihan yang sangat besar kepada kita, yang dijelaskan secara rinci di awal surat ini. Nyanyian pujian pada empat bait sebelumnya memperjelas bahwa Tuhan tidak berhutang apa pun kepada kita. Namun, alih-alih kematian, Dia telah memberi kita kehidupan dan tujuan di dalam Kristus. Dia telah mengampuni dosa kita dan membagikan kekayaan kemuliaan-Nya kepada kita. Kita sebenarnya tidak pantas menerima semua itu. Bagaimana seharusnya kita menanggapinya?

Roma 12:1-2 menjawab pertanyaan, ”Bagaimana seharusnya kita menanggapi kemurahan Allah yang besar kepada kita?” Jawabannya adalah dengan menjadi umat yang selalu setia untuk mempersembahkan kurban, menggunakan hidup kita dalam pelayanan kepada Allah sebagai tindakan ibadah yang berkelanjutan (Ibrani 9:14). Itu yang masuk akal. Ini bukanlah cara untuk mendapatkan keselamatan, namun respon alami yang harus kita miliki setelah diselamatkan. Untuk melakukan hal ini, kita perlu melepaskan diri dari pola dunia yang mengutamakan diri sendiri dan mengubah pikiran kita agar dapat memahami apa yang Tuhan inginkan. Maka kita akan tahu bagaimana cara hidup di dunia untuk memuliakan-Nya.

“Sebab itu jadilah penurut-penurut Allah, seperti anak-anak yang kekasih dan hiduplah di dalam kasih, sebagaimana Kristus Yesus juga telah mengasihi kamu dan telah menyerahkan diri-Nya untuk kita sebagai persembahan dan korban yang harum bagi Allah.” Efesus 5:1-2

Paulus menulis bahwa ketika orang-orang Yahudi mempersembahkan hewan yang telah dibunuh sebagai kurban kepada Tuhan, orang Kristen seharusnya mempersembahkan diri kita sendiri, tubuh kita, kepada-Nya sebagai kurban yang hidup. Dengan kata lain, satu-satunya tanggapan rasional terhadap kemurahan Allah yang memberi kita kehidupan kekal adalah dengan memberikan hidup kita kepada-Nya sebagai pengurbanan untuk digunakan demi tujuan-tujuan-Nya saat ini.

Hewan kurban di bawah sistem pengorbanan perjanjian lama harus dipisahkan dari kawanannya untuk tujuan tersebut dan dipilih dengan hati-hati untuk memastikan bahwa pengorbanan tersebut dapat diterima—tidak cacat dan tidak terluka. Sebagai korban yang hidup, Allah telah memisahkan kita dari umat manusia untuk tujuan-tujuan-Nya dan menyatakan kita dapat diterima karena Dia melihat kita berada pada posisi kita di dalam Kristus. Dengan kata lain, kita tidak perlu menunggu untuk menjadi orang yang benar-benar saleh 100 persen sebelum kita bisa mempersembahkan tubuh dan hidup kita kepada Tuhan. Sebagai umat di dalam Kristus, Dia akan menerima pengorbanan hidup kita sehari-hari saat ini, sebagaimana adanya, tetapi yang akan terus berkembang menuju kesempurnaan (Matius 5:48). Maka, kehidupan beribadah yang terus bertumbuh dalam iman dan perbuatan ini merupakan respon yang tepat terhadap rahmat Tuhan yang telah diberikan kepada kita.

Dalam Roma 12, Paulus menggambarkan penyembahan kepada Tuhan kita sebagai pengurbanan yang hidup kepada Tuhan kita, berhenti mencari apa yang kita inginkan dalam hidup dan belajar untuk mengetahui dan melayani apa yang Tuhan inginkan. Itu dimulai dengan menggunakan karunia rohani kita untuk saling melayani di gereja dan dalam masyarakat dan keluarga. Daftar perintah Paulus menggambarkan gaya hidup yang mengesampingkan diri sendiri. Tujuan kita sebagai orang Kristen adalah untuk saling mengasihi dan meninggikan Tuhan. Kita harus memusatkan pengharapan kita pada kekekalan dan menunggu dengan sabar dan berdoa agar Bapa kita menyediakannya. Kita harus menolak untuk tenggelam dalam berbagai bentuk kejahatan, seperti memberi kebaikan pada orang yang merugikan kita, bukan membalas dendam.

“Sebab itu janganlah kamu bodoh, tetapi usahakanlah supaya kamu mengerti kehendak Tuhan.” Efesus 5:17

Hari ini, firman Tuhan menegaskan bahwa barangsiapa berkata: aku mengenal Tuhan, tetapi ia tidak mau menuruti perintah-Nya, ia adalah seorang pendusta dan di dalamnya tidak ada kebenaran. Sebaliknya, barangsiapa menuruti firman-Nya, di dalam orang itu sungguh sudah sempurna kasih Allah; dengan itulah kita ketahui, bahwa kita ada di dalam Dia.

“Barangsiapa mengatakan, bahwa ia ada di dalam Dia, ia wajib hidup sama seperti Kristus telah hidup.” 1 Yohanes 2:6

Masih ada kesempatan untuk berubah

Dan ketika mereka sedang makan, Ia berkata: “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya seorang di antara kamu akan menyerahkan Aku.” Dan dengan hati yang sangat sedih berkatalah mereka seorang demi seorang kepada-Nya: “Bukan aku, ya Tuhan?” Matius 26: 21 – 22

Ketika itu Yesus dan murd-muridNya merayakan hari Paskah dengan makan malam bersama. Hari raya Paskah (Passover dalam bahasa Ingris dan Pesach dalam bahasa Yahudi) adalah hari peringatan keluarnya orang Israel dari tanah Mesir setelah Allah menulahi orang Mesir sehingga semua anak sulung mereka mati bersama anak sulung hewan peliharaan mereka (Keluaran 12: 27). Hari besar utama bangsa Yahudi ini masih diperingati sampai sekarang.

Bagi kita yang bukan pengikut agama Yahudi, perayaan Paskah yang adalah perayaan hari kebangkitan Yesus. Jika orang Israel mengingat saat dimana mereka luput dari tulah Allah melalui tanda darah domba yang dilaburkan pada ambang atas dan jenang-jenang pintu rumah mereka (Keluaran 12: 23), orang Kristen memperingati kemenangan Kristus atas maut.

Kematian Kristus di kayu salib sudah tentu adalah satu hal yang sangat penting bagi kita orang Kristen, karena melalui darah Kritus kita memperoleh pengampunan Allah atas dosa-dosa kita. Tetapi, dengan memperingati kebangkitan Kristus, kita menyatakan keyakinan iman bahwa kita akan bisa hidup bersama Dia di surga sesudah kita meninggalkan dunia yang fana ini. Dengan kemenangan Kristus atas maut, iman kita tidak akan sia-sia (1 Korintus 15: 14).

Pada waktu itu murid-murid Yesus sudah mulai mendapat gambaran bahwa Guru mereka akan mengalami penderitaan dan kemudian mati disalibkan. Ia berkata: “Kamu tahu, bahwa dua hari lagi akan dirayakan Paskah, maka Anak Manusia akan diserahkan untuk disalibkan”  (Matius 26: 2). Mereka tentunya merasa sedih, walaupun mereka tidak benar-benar mengerti mengapa itu harus terjadi. Kesedihan mereka bertambah besar ketika Yesus berkata: “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya seorang di antara kamu akan menyerahkan Aku.” Mereka seorang demi seorang berkata kepada-Nya: “Bukan aku, ya Tuhan?” Mereka tentunya berharap bahwa kematian Kristus bukanlah akibat kesalahan mereka.

Alkitab menulis bahwa Yesus mengungkapkan bahwa Yudas yang mencelupkan roti ke dalam pinggan bersamaan dengan Yesus adalah orangnya.  Yudas adalah pengkhianat yang menjual Yesus dengan harga tiga puluh uang perak. Yudas dengan demikian adalah murid durhaka. Tidaklah mengherankan, bagi kita umat Kristen nama Yudas adalah nama yang identik dengan orang yang tidak bisa dipercaya, orang jahat yang tidak ada bandingnya. Kesimpulan yang mudah diambil adalah bahwa Yudas sudah patutnya menemui kematian yang mengerikan karena sangat besar dosanya.

Pada pihak yang lain, sulit diterima oleh pikiran kita adanya kenyataan bahwa di dunia ini ada banyak Yudas. Di hadapan Allah, setiap manusia adalah berdosa dan patut menerima kematian, tidak hanya secara tubuh tetapi juga secara roh. Jika Yudas sudah mengkhianati Yesus, kita juga sering mengkhianati Dia dalam hidup kita ketika kita mendahulukan kepentingan kita dan kepentingan orang lain di atas kepentingan Tuhan. Mungkin kita mengaku kenal dengan Yesus, tetapi seringkali kita mengorbankan kebenaran Kritus dengan memilih cara hidup duniawi yang tidak berkenan di hadapanNya.

Pernahkah kita memikirkan bahwa kita mungkin sudah lama hidup dan bertingkah laku seperti Yudas? Jika Yudas tidak mempunyai kesempatan untuk memperbaiki hidupnya, kita harus bersyukur bahwa masih ada waktu bagi kita untuk menjadi pengikutNya yang setia. Sekarang, dan bukan esok hari.

Mengapa Engkau meninggalkan aku?

Kira-kira jam tiga berserulah Yesus dengan suara nyaring: “Eli, Eli, lama sabakhtani?” Artinya: Allah-Ku, Allah-Ku, mengapa Engkau meninggalkan Aku?” Matius 27: 46

Hari ini adalah hari Jumat Agung, hari dimana umat Kristen di seluruh dunia dengan khusyuk memperingati kematian Yesus di kayu salib. Kematian Kristus adalah suatu hal yang tidak mudah dimengerti oleh orang yang bukan Kristen, karena agaknya sulit diterima bahwa Anak Allah yang mahakuasa harus mati secara tragis karena ulah manusia.

Pada ayat diatas diungkapkan apa yang terjadi pada diri Anak Allah yang datang ke dunia dalam bentuk manusia yang bernama Yesus. Manusia yang berdosa bukannya menyambut kedatanganNya dengan rasa hormat, tetapi sebaliknya justru membenci Dia. Karena itu, Ia yang tidak berdosa akhirnya mengalami kematian di kayu salib sebagai ganti umat manusia.

Penderitaan Yesus dimulai dengan segala hinaan dan cacian yang dilontarkan kepadaNya dan berbagai siksaan jasmani. Seperti layaknya seorang hukuman, Yesus dipaksa untuk memikul kayu salib menuju ke Golgota, bukit tengkorak. Dan di situ Ia disalibkan bersama-sama dengan dua orang penjahat, sebelah-menyebelah, dan Yesus ada di tengah-tengah. Pilatus, wakil pemerintahan Romawi pada waktu itu, menyuruh memasang tulisan di atas kayu salib Yesus, bunyinya: “Yesus, orang Nazaret, Raja orang Yahudi”.

Penderitaan fisik dan mental yang dialami Yesus yang tidak berdosa tidaklah sama dengan penderitaan yang dialami kedua penjahat disampingNya. Yesus adalah Tuhan tetapi harus mengalami penderitaan ditangan manusia ciptaanNya. Lebih dari itu, karena Yesus harus merasakan semua penderitaanNya seorang diri di kayu salib dan menanggung murka Allah, secara spiritual Ia juga sangat menderita. Ia mengungkapkan penderitaan rohaniNya dengan ucapan Eli, Eli, lama sabakhtani. Yesus setia kepada tugas penyelamatanNya sampai titik kulminasi dimana Ia merasa bahwa semua yang Ia punyai sudah dikurbankanNya untuk menebus dosa manusia. MisiNya di dunia sudah selesai!

Pagi ini kita membaca dan mengenang apa yang sudah terjadi pada diri Yesus di Golgota dengan rasa kagum atas kasihNya kepada umat manusia. Karena begitu besar kasihNya, Ia mau untuk mengalami semua itu. Karena begitu besar kasihNya, apapun yang terjadi pada diriNya tidak dapat menutupi atau menghilangkan pancaran kasihNya kepada kita.

Dalam hidup ini, saat ini kita mungkin sedang mengalami berbagai tantangan hidup dan penderitaan. Tetapi kematian Yesus di kayu salib menunjukkan bahwa Ia bukanlah Tuhan yang jauh disana. Semoga kita bisa selalu menyadari bahwa Yesus yang sudah pernah mengalami hal yang serupa tidak akan meninggalkan kita!

Percaya dan bertobat

Sesudah Yohanes ditangkap datanglah Yesus ke Galilea memberitakan Injil Allah, kata-Nya: ”Waktunya telah genap; Kerajaan Allah sudah dekat. Bertobatlah dan percayalah kepada Injil!” Markus 1: 14-15

Ayat di atas adalah apa yang sering diucapkan dalam kebaktian kebangunan rohani, di mana para penginjil berusaha menjelaskan bagaimana orang bisa menjadi orang Kristen. Tidak ada penginjil yang menyatakan hal yang sebaiknya: yaitu bahwa mereka tidak perlu berbuat apa-apa dalam menanggapi Injil, karena semua akan diperbuat Tuhan untuk mereka pada waktunya, jika Tuhan menghendaki. Paulus mengklarifikasi hal itu dalam Kisah Para Rasul 20:20-21: “Aku senantiasa bersaksi kepada orang-orang Yahudi dan orang-orang Yunani, supaya mereka bertobat kepada Allah dan percaya kepada Tuhan kita, Yesus Kristus”. Paulus bekerja keras agar orang lain bertobat dan percaya, atau untuk percaya kepada Tuhan yang berkat-kata melalui Roh Kudus dalam hati mereka, agar mereka kemudian bisa bertobat melalui karunia-Nya. Baik percaya maupun bertobat adalah karena rahmat-Nya semata-mata, tetapi untuk itu manusia harus meresponi.

Tanggapan yang tepat terhadap kabar baik adalah sederhana dan mendalam. Kita harus bertobat dan percaya Injil. Namun apa yang Alkitab maksudkan dengan “bertobat” dan “percaya”? Seperti biasa, ketika kita membaca Firman Tuhan, kita harus menemukan arti sebenarnya dari kata-kata di dalam Firman tersebut. Jadi, mari kita lihat apa arti kedua istilah penting dalam Alkitab ini.

Ketika Yesus berkata “Bertobat,” Dia sedang berbicara tentang perubahan hati terhadap dosa, dunia, dan Tuhan; perubahan batin yang memunculkan cara hidup baru yang meninggikan Kristus dan memberikan bukti kebenaran Injil.

Apa artinya bertobat? Kata Yunani Perjanjian Baru yang diterjemahkan sebagai “bertobat” adalah METANOEO. Ini memiliki dua bagian: META dan NOEO. Kata META, merupakan awalan yang berarti pergerakan atau perubahan. Kata NOEO, mengacu pada disposisi batin Anda, “pengaturan standar” Anda terhadap kenyataan. META, atau “perubahan,” ditambah NOEO, atau “disposisi” sama dengan “mengubah disposisi Anda terhadap kehidupan dan kenyataan, untuk mengubah pengaturan standar Anda tentang apa yang penting.”

Yesus menjelaskan bahwa ketika pengaturan standar kita diubah oleh Roh Kudus, hal ini terlihat ketika kita “menghasilkan buah sesuai dengan pertobatan” (Lukas 3:8). Pertobatan sejati adalah perubahan hati batin yang menghasilkan buah dari perilaku baru. Bertindak berbeda, berbicara berbeda, dan hidup berbeda (inilah buahnya) adalah hasil lahiriah yang tak terhindarkan dari perubahan batin secara total (itulah pertobatan).

Yesus menjelaskan dengan jelas bahwa pertobatan dan iman ibarat dua sisi mata uang yang saling sama. Markus 1:15 mencatat ringkasan pesan Yesus yang terilham ketika Dia memulai pelayanan-Nya: “Waktunya telah genap; Kerajaan Allah sudah dekat. Bertobatlah dan percayalah kepada Injil.” Pertobatan dan iman berjalan seiring karena jika Anda percaya bahwa Yesus adalah Tuhan yang menyelamatkan (iman), pikiran Anda berubah tentang dosa dan diri Anda (pertobatan); dan jika Anda bertobat, itu karena Anda percaya bahwa Yesus adalah Tuhan yang menyelamatkan.

Hal ini karena iman, seperti yang dijelaskan dalam Kitab Suci, adalah percaya bahwa Yesus adalah seperti yang Dia katakan dan bahwa Dia melakukan apa yang Dia katakan akan Dia lakukan. Hal penting tentang definisi iman yang alkitabiah ini adalah bahwa definisi ini berfokus pada siapa Yesus itu, bukan pada Anda atau usaha Anda. Inilah artinya bagi Anda. Anggaplah iman memiliki tiga bagian: mengetahui, menyetujui, dan mengandalkan.

Bagian mengetahui dari iman berarti Anda belajar dari Firman Tuhan Siapakah Yesus dan apa yang telah Dia lakukan untuk menyelamatkan orang-orang berdosa. Itulah sebabnya Alkitab berkata, “Jadi, iman timbul dari pendengaran, dan pendengaran oleh firman Kristus.” (Roma 10:17).

Bagian iman yang menyetujui datang ketika Roh Kudus meyakinkan Anda tentang kebenaran tentang Yesus. Engkau setuju dengan kesaksian Tuhan dan mengakui, “Apa yang Tuhan katakan adalah benar.” Ini adalah salah satu pelayanan utama Roh Kudus. Dalam Yohanes 16:13, Yesus berkata, “Tetapi apabila Ia datang, yaitu Roh Kebenaran, Ia akan memimpin kamu ke dalam seluruh kebenaran;…”

Bagian mengandalkan iman berarti Anda mempertaruhkan hidup Anda pada kebenaran yang Anda ketahui dan setujui. Di sinilah iman menjadi pribadi, ketika Anda mempercayakan jiwa kekal Anda hanya kepada Yesu: “Dan bahwa tidak ada orang yang dibenarkan di hadapan Allah karena melakukan hukum Taurat adalah jelas, karena orang yang benar akan hidup oleh iman.” (Galatia 3:11).

Dua bagian pertama dari iman – mengetahui dan menyetujui – adalah seperti pergi ke bandara, melihat orang naik pesawat, dan melihat pesawat lepas landas. Melalui pengamatan, Anda mengetahui bahwa benda bersayap besar ini dapat membawa manusia sejauh ribuan mil dengan kecepatan luar biasa; dan Anda setuju bahwa hal itu terjadi setiap saat. Bagian ketiga dari iman, mengandalkan, adalah seperti Anda menaiki pesawat terbang. Mengetahui dan menyetujui bahwa pesawat dapat membawa orang ke tempat yang jauh adalah satu hal. Naik pesawat sendiri adalah hal lain yang membutuhkan keputusan Anda.

Iman alkitabiah memang seperti itu. Anda jadi tahu dari Firman Tuhan kebenaran tentang Siapa Yesus itu dan apa yang telah Dia lakukan bagi Anda. Kemudian, Roh Kudus meyakinkan Anda tentang kebenaran Firman Tuhan, dan Anda setuju bahwa Injil itu benar. Dan kemudian Anda menganggapnya sebagai masalah pribadi: Anda tidak lagi bergantung pada upaya Anda sendiri untuk mencapai keselamatan, dan menyerahkan hidup Anda di tangan Yesus, percaya bahwa Siapa Dia dan apa yang Dia lakukan sudah cukup untuk menyelamatkan Anda.

Pagi ini, Anda mungkin bersiap untuk pergi ke gereja. Anda yakin bahwa Anda adalah orang yang dipilih Tuhan untuk percaya kepada Yesus Penebus. Tetapi, sudahkah Anda bertobat? Jika belum, pernahkah Anda bertanya-tanya mengapa itu belum terjadi? Apakah Anda tidak percaya bahwa pertobatan adalah bagian dari keselamatan? Apakah Anda sudah berusaha menghentikan dosa-dosa Anda tetapi sampai saat ini kurang berhasil? Sudahkah Anda mengandalkan Yesus saja untuk pertobatan Anda? Jika belum, maukah Anda meminta Yesus untuk menolong Anda dalam setiap langkah kehidupan Anda?