“Sebab seperti tubuh tanpa roh adalah mati, demikian jugalah iman tanpa perbuatan-perbuatan adalah mati.” Yakobus 2:26
Ada orang yang berpendapat bahwa perbuatan yang baik di mata Tuhan adalah kesadaran bahwa kita tidak dapat berbuat baik. Ada juga yang menyatakan bahwa jika kita merasa dapat berbuat baik itu hanya bukti kesombongan. Jika ini benar, sia-sialah Yesus dibangkitkan. Jika ini benar, sia-sialah umat Tuhan bersekutu dalam satu iman. Mereka tidak dapat mengasihi sesama manusia, terutama saudara-saudara seiman.
“Karena itu, selama masih ada kesempatan bagi kita, marilah kita berbuat baik kepada semua orang, tetapi terutama kepada kawan-kawan kita seiman.” Galatia 6: 10
Pendapat-pendapat di atas sudah pasti keliru. Bukan kekeliruan kecil, tetapi sangat besar, yang bisa memadamkan api Roh Kudus. Alkitab mencatat bahwa ada banyak hal yang baik yang dilakukan oleh murid-murid Yesus setelah menerima Roh Kudus. Kepada mereka dikaruniakan penyataan Roh dalam berbagai bentuk untuk kepentingan bersama (1 Korintus 12:7). Itu terjadi pada zaman rasul-rasul, dan pada zaman sekarang tetap ada berbagai hal yang baik yang dimampukan oleh Tuhan – yang tidak dapat diremehkan.
Anda mungkin merasa tidak mampu untuk berbuat baik. Tetapi, pernahkan Anda memohon Tuhan untuk memberi karunia-Nya untuk bisa berbuat baik? Ataukah Anda merasa bahwa Anda harus menunggu Tuhan membuat Anda bisa melakukan apa yang baik? Saya anjurkan sekarang juga Anda memohon agar diberi kemampuan untuk bisa mendoakan orang lain. Doa adalah salah satu kemampuan berbuat baik yang dijanjikan Yesus untuk semua umat-Nya. Siapapun tanpa perkecualian.
Mungkin Anda merasa malu atau canggung berdoa di depan orang lain. Itu bukan masalah. Anda dapat berdoa di mana pun, karena Tuhan ada di mana saja. Lagi pula, dalam melakukan perbuatan baik, apa yang penting adalah Tuhan melihat hati kita; doa bukan untuk dipamerkan.
“Tetapi jika engkau berdoa, masuklah ke dalam kamarmu, tutuplah pintu dan berdoalah kepada Bapamu yang ada di tempat tersembunyi. Maka Bapamu yang melihat yang tersembunyi akan membalasnya kepadamu.” Matius 6:6
Jika Roh Kudus bekerja dalam diri seseorang, orang itu akan dapat hidup dalam karunia-Nya. Orang itu akan dapat mendoakan orang lain dan bukannya membiarkan orang lain hidup dalam kesalahan atau penderitaannya. Berdoa adalah perbuatan baik yang sering diremehkan orang. Mereka yang merasa belum dapat berbuat baik mungkin belum bisa mengasihi Tuhan dan sesama, dan karena itu belum bisa mendoakan orang-orang lain untuk kebaikan mereka.
“Dan Allah yang menyelidiki hati nurani, mengetahui maksud Roh itu, yaitu bahwa Ia, sesuai dengan kehendak Allah, berdoa untuk orang-orang kudus. Kita tahu sekarang, bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah.” Roma 8:27-28
“Karena itu, saudara-saudara, demi kemurahan Allah aku menasihatkan kamu, supaya kamu mempersembahkan tubuhmu sebagai persembahan yang hidup, yang kudus dan yang berkenan kepada Allah: itu adalah ibadahmu yang sejati.” Roma 12: 1
Pernahkah Anda beribadah? Pertanyaan ini tentunya akan membuat heran mereka yang rajin ke gereja. Bukankah beribadah menyangkut kegiatan menghadiri kebaktian gereja dan berdoa? Itu benar, tetapi belum sepenuhnya. Menurut kamus besar bahasa Indonesia (KBBI), ibadah atau ibadat artinya adalah perbuatan untuk menyatakan bakti kepada Allah, yang didasari ketaatan mengerjakan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya. Mungkin Anda menjawab, itu bukan definisi yang benar karena itu hanya definisi orang dunia. Anda tidak salah, karena kamus bahasa bukanlah kitab suci. Pengertian KBBI belumlah lengkap. Pengertian ibadah yang benar adalah seperti yang tertulis dalam ayat di atas.
Paulus sedang memberikan gambaran kepada orang percaya tentang bagaimana seharusnya mengejar kebenaran Allah melalui iman. Kebenaran berarti hidup harmonis atau hidup benar; bahan utama untuk keharmonisan; ini adalah kemauan untuk berkorban atau mempersembahkan hidup kita kepada Tuhan.
Dalam kitab Roma pasal 1-11, Paulus memberi tahu pendengarnya, orang percaya di Roma, bagaimana kebenaran Allah bisa diperoleh. Dia menjelaskan bahwa itu bukan melalui Hukum Taurat, seperti yang diperdebatkan oleh beberapa “otoritas” Yahudi yang bersaing, tetapi melalui iman. Sekarang, Paulus mengatakan kepada pendengarnya seperti apa hidup yang benar melalui iman itu. Hal ini terlihat dari penggunaan kata “karena itu” oleh Paulus, yang mengatakan bahwa, karena apa yang telah dia jelaskan di Bab 1-11 (bahwa kebenaran diperoleh melalui iman) kita tahu bagaiman orang percaya seharusnya hidup. Dia mulai dengan panggilan yang kuat, mendesak kita dengan belas kasihan Allah untuk hidup dengan kudus. Itu adalah arti ibadah yang benar.
Pertama, Paulus berbicara tentang pengorbanan. Kita orang beriman dimaksudkan untuk mempersembahkan tubuh kita sebagai persembahan yang hidup dan suci, yang berkenan kepada Tuhan; untuk hidup berkorban, melakukan apa yang Tuhan minta dari kita, yang semuanya merupakan cara memberikan penyembahan, pujian, dan penghormatan kepada Tuhan. Paulus menyebut pengorbanan ini sebagai ibadah rohani. Ini bukanlah sesuatu tugas yang mudah dilakukan.
Kedua, kata yang diterjemahkan “yang sejati” sebenarnya adalah kata Yunani “logikos,” yang juga dapat diterjemahkan “logis.” Tampaknya idenya adalah – dalam terang apa yang telah ditunjukkan Paulus tentang kehidupan yang benar – satu-satunya kesimpulan logis atau kesimpulan yang benar adalah kita harus menjalani hidup kita sebagai persembahan yang hidup kepada Tuhan.
Mengapa ini masuk akal, hidup sebagai pengorbanan? Tanpa sebelas bab sebelumnya, kita akan sangat sulit untuk memahami gagasan bahwa adalah “logis” untuk mengosongkan diri kita bagi kepentingan orang lain. Namun bercermin pada pasal 1-11, hidup di bawah hukum adalah hidup dalam perbudakan dosa, karena adanya hukum membuat kita tahu apa yang dianggap dosa oleh Allah. Dan dalam banyak hal, kita hidup dalam dosa. Dan meskipun orang percaya dibenarkan di hadirat Allah semata-mata atas dasar iman kepada Yesus, terlepas dari perilaku kita, jika kita tidak menjalani kehidupan pengorbanan yang mengikuti teladan Yesus, kita tergelincir kembali ke dalam dosa.
Ini berarti bahwa kita kemudian akan menderita setelah kita menerima pembebasan atau keselamatan kita oleh kuasa kebangkitan Yesus. Seperti seseorang yang dibebaskan dari penjara, tetapi memilih untuk tetap berada di selnya. Alih-alih hidup dalam kebebasan sebagai orang pilihan untuk melayani tujuan Yesus menciptakan kita, kita malah kembali menjadi budak dosa. Perbudakan dosa mengarah pada penghukuman duniawi; kita dan orang-orang yang kita kasihi akan menderita akibat dosa kita dan kematian (atau pemutusan hubungan), sebagai akibat dari penolakan untuk menjalani kehidupan spiritual yang dipersembahkan kepada Yesus. Itulah mengapa hidup berkorban begitu “logis”, karena hidup bebas di dalam Yesus seharusnya adalah kemerdekaan dari perbudakan dosa.
Ketika kita mempersembahkan tubuh kita sebagai persembahan yang hidup dan kudus untuk digunakan Tuhan, kita sedang menjalani kehidupan pelayanan kepada Tuhan dan sesama kita, untuk itulah kita diciptakan. Jadi sekali lagi, adalah logis bagi ciptaan-Nya untuk melakukan apa yang harus mereka lakukan. Kata “mempersembahkan” (latreian, λατρείαν) ditemukan dalam teks aslinya, dan tentu cocok selama kita memahami bahwa “mempersembahkan” menurut Alkitab adalah berbeda dengan cara yang sangat terbatas yang cenderung digunakan di kalangan pengunjung gereja, untuk merujuk hanya kepada pelayanan gereja yang dijadwalkan. Bagi seorang Yahudi, seperti Paulus, ibadah adalah pengorbanan pada setiap saat selama hidup di dunia. Di sini kita digambarkan sedang berada di altar, dikorbankan untuk Tuhan. Itu berarti seluruh pribadi kita dikhususkan untuk Tuhan. Ini bukan hanya tingkat komitmen kehadiran kebaktian gereja. Dalam Kitab Suci, kata menyembah sangat luas, dan berlaku untuk segala aspek kehidupan di mana kita mengakui Tuhan.
Nasihat Paulus kepada orang-orang percaya di Roma adalah untuk mempersembahkan diri mereka kepada Allah, bukan sebagai korban di mezbah, sebagaimana Hukum Musa menuntut korban binatang, tetapi sebagai korban yang hidup. Sebagai orang percaya, bagaimana kita mempersembahkan dan mempersembahkan diri kita kepada Tuhan sebagai persembahan yang hidup?
Di bawah Perjanjian Lama, Tuhan menerima pengorbanan hewan. Tetapi ini hanyalah bayangan dari pengorbanan Anak Domba Allah, Yesus Kristus. Karena pengorbanan-Nya yang terakhir, sekali untuk selamanya di kayu salib, pengorbanan dengan cara Perjanjian Lama tidak lagi bermanfaat (Ibrani 9:11-12). Bagi mereka yang ada di dalam Kristus dan berdasarkan iman yang menyelamatkan, satu-satunya ibadah yang dapat diterima adalah mempersembahkan diri kita sepenuhnya kepada Tuhan. Di bawah kendali Allah, tubuh orang percaya yang belum ditebus dapat dan harus diserahkan kepada-Nya sebagai alat kebenaran (Roma 6:12-13; 8:11-13). Mengingat pengorbanan terakhir Yesus bagi kita, ini hanya “masuk akal.” Masuk akal bagi semua orang Kristen? Belum tentu! Sebab banyak orang yang merasa sudah diselamatkan oleh iman saja, tetapi tidak mengerti bahwa tidak ada iman yang tidak disertai persembahan yang hidup.
“Demikian juga halnya dengan iman: Jika iman itu tidak disertai perbuatan, maka iman itu pada hakekatnya adalah mati.” Yakobus 2:17
Seperti apakah persembahan yang hidup dalam arti praktis? Ayat berikutnya (Roma 12:2) membantu kita untuk mengerti.
“Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaharuan budimu, sehingga kamu dapat membedakan manakah kehendak Allah: apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna.” Roma 12:2
Kita adalah persembahan yang hidup bagi Tuhan dengan tidak menjadi serupa dengan dunia ini. Dunia didefinisikan bagi kita dalam 1 Yohanes 2:15-16 sebagai keinginan daging, keinginan mata, dan keangkuhan hidup. Semua yang ditawarkan dunia dapat direduksi menjadi tiga hal ini. Nafsu daging mencakup segala sesuatu yang menarik selera kita dan melibatkan keinginan yang berlebihan akan makanan, minuman, uang, seks, dan hal lain yang memuaskan kebutuhan fisik. Nafsu mata sebagian besar melibatkan materialisme, mengingini apa pun yang kita lihat yang tidak kita miliki dan iri pada mereka yang memiliki apa yang kita inginkan. Kebanggaan hidup ditentukan oleh ambisi apa pun untuk apa yang membuat kita sombong dan menempatkan kita di atas takhta kehidupan kita sendiri.
Bagaimana mungkin orang percaya TIDAK serupa dengan dunia? Dengan “diubah oleh pembaharuan budi kita (Roma 12:2). Firman Tuhan, yang ditanamkan dalam hati kita oleh Roh Kudus, adalah satu-satunya kekuatan di bumi yang dapat mengubah kita dari orang Kristen duniawi (carnal Christian) menjadi orang Kristen spiritual yang sejati. Ini berarti kita harus mau menerima seluruh hukum Tuhan sebagai kaidah moral untuk bisa menyadari dosa kita agar kita bisa memperbaiki cara hidup kita.
“Segala tulisan yang diilhamkan Allah memang bermanfaat untuk mengajar, untuk menyatakan kesalahan, untuk memperbaiki kelakuan dan untuk mendidik orang dalam kebenaran.” 2 Timotius 3:16
Sebab bukan apa yang aku kehendaki, yaitu yang baik, yang aku perbuat, melainkan apa yang tidak aku kehendaki, yaitu yang jahat, yang aku perbuat. Roma 7: 19
Ayat di atas adalah ayat yang cukup terkenal, yang menggambarkan perjuangan Raul Paulus dalam hidup kerohaniannya. Dikatakannya bahwa sekalipun ia tahu apa yang baik dan ingin melakukannya, ia justru melakukan apa yang tidak dikehendakinya, yaitu apa yang jahat. Ayat ini sering dipakai oleh sebagian orang Kristen untuk menyatakan bahwa kalau Paulus saja tidak bisa melakukan apa yang baik, tentu saja mereka tidak akan bisa berbuat baik untuk Tuhan. Jadi, usaha umat Kristen untuk melakukan apa yang baik akan sia-sia dan hanya menunjukkan kesombongan. Orang Kristen dengan kelemahannya, tidaklah perlu memikirkan perlunya berbuat baik. Kurang disadari bahwa arti ayat ini bukanlah tentang Paulus yang gagal untuk melakukan perintah Tuhan untuk hidup dalam terang-Nya, tetapi tentang sulitnya orang Kristen untuk hidup menurut firman Tuhan jika mereka hanya bersandar pada kekuatan sendiri.
Dalam Roma 7, Paulus menulis tentang hubungan antara hukum – perintah yang diberikan oleh Allah – dan keberdosaan manusia. Dia mulai dengan menjelaskan bahwa mereka yang ada di dalam Kristus telah dibebaskan dari kewajiban agama yang bertalian dengan hukum Musa, yang membuat seluruh umat manusia gagal untuk menaatinya. Paulus menjelaskan bagaimana kita dibebaskan dari tuntutan hukum Taurat untuk kesempurnaan manusia, melalui kematian dan kebangkitan dalam Kristus yang pada saatnya akan menyempurnakan orang percaya. Karena melalui kematian Yesus membuat kita mati dari kehidupan rohani yang lama, dan melalui kebangkitan-Nya kita dibangkitkan ke dalam kehidupan rohani yang baru.
Paulus menggunakan ilustrasi tentang hukum pernikahan. Seorang wanita yang suaminya telah meninggal tidak lagi wajib untuk tetap setia kepadanya. Dia bebas menikah dengan pria lain. Dengan cara yang sama, kematian kita bersama Kristus membebaskan kita dari kewajiban kita terhadap hukum dan memungkinkan kita untuk melayani Allah dalam apa yang Paulus sebut sebagai jalan baru Roh (Roma 7:1-6).
Beberapa orang mungkin berpikir bahwa ajaran Paulus tentang kebebasan dari hukum berarti bahwa ia percaya hukum itu sendiri adalah penyebab dosa. Dia bersikeras bahwa dia tidak menganggapnya demikian. Sebaliknya, itu adalah hukum yang mengungkapkan dosa-dosanya. Dia menyadarii bahwa dia tamak setelah diberitahu oleh hukum untuk tidak mengingini. Tetapi, sebagai manusia berdosa, karena ia mengetahui bahwa ketamakan adalah dosa justru membuatnya makin mengingini! Seperti Adam dan Hawa, sifat pemberontak kita sering membuat kita memilih untuk melanggar aturan hanya demi melanggar aturan. Hukum lama menjanjikan kehidupan kepada Paulus jika dia dapat mematuhi semua perintah-perintah, tetapi dia menemukan bahwa dia tidak dapat melakukannya. Dalam pengertian itu, hukum justru menghukumnya sampai mati. Namun demikian, Paulus menggambarkan hukum itu kudus, benar, dan baik (Roma 7:7-12). Manusialah yang lemah dan berdosa.
Paulus kemudian menggambarkan pengalamannya yang menyedihkan tentang keinginan untuk melakukan apa yang baik dan sebaliknya mendapati dirinya melakukan apa yang berdosa. Para teolog tidak setuju atas pendapat bahwa Paulus menggambarkan dirinya sebelum dia menjadi seorang Kristen, ketika dia mencoba untuk mengikuti hukum. Berdasarkan bentuk waktu dari bahasa Yunani yang digunakan, Paulus tampaknya sedang menggambarkan pergumulan yang terus menerus dari seorang percaya melawan dosa selama hidup, dan bukan pergumulan melawan dosa yang sudah diampuni ketika dia diselamatkan (Roma 7:13-23).
Di seluruh tulisannya, Paulus berdiri di atas gagasan bahwa siapa pun tidak dapat sepenuhnya taat kepada hukum. Itu sebabnya hukum tidak bisa membuat kita benar di hadapan Tuhan. Juga benar bahwa orang-orang Kristen yang telah dibebaskan dari kuasa dosa seringkali masih merasa bahwa pengaruh dosa yang kuat sangat sulit untuk diatasi (lihat Pengakuan Westminster Bab 9 Poin 4). Menjadi umat Tuhan memberi seseorang kekuatan untuk mengatasi dosa (1 Korintus 10:13; Roma 6:17), tetapi itu tidak membuat dia tidak berdosa (1 Yohanes 1:9-10).
Bila Allah membuat orang berdosa bertobat dan memindahkan dia ke kedudukan seorang yang telah beroleh rahmat, Dia membebaskannya dari perhambaan kodratnya di bawah dosa dan oleh rahmat-Nya semata-mata menjadikan dia mampu menghendaki dan melakukan apa yang baik secara rohani. Akan tetapi, caranya begitu rupa sehingga, disebabkan kerusakan yang masih tinggal padanya, ia tidak menghendaki apa yang baik itu secara sempurna, dan hanya itu saja, tetapi menghendaki juga apa yang jahat.Pengakuan Westminster Bab 9 Poin 4.
Setelah menggambarkan adanya jurang antara niatnya untuk berbuat baik dan tindakan dosanya di dunia nyata, Paul berteriak dengan frustrasi bahwa dia adalah orang yang malang dan bertanya siapakah yang akan membebaskannya dari pengaruh dosa. Dia menanggapi jeritan hatinya dengan berterima kasih kepada Tuhan melalui Yesus Kristus, menyiratkan bahwa dia telah dan/atau akan menemukan pembebasan yang sempurna itu hanya melalui iman kepada Kristus (Roma 7:24–25).
Jauh dari sempurna, manusia adalah mahluk yang berdosa. Kedatangan Yesus ke dunia adalah dengan maksud untuk menyelamatkan manusia dari kematian akibat dosa mereka. Memang Yesus menerima manusia sebagaimana adanya, dan mau memberi anugerah keselamatan kepada siapa saja yang percaya, tetapi siapapun yang menerima Yesus haruslah mengalami perubahan hidup. Seperti apa yang ditulis Paulus, hidup lama harus berubah menjadi hidup baru untuk Kristus. Hidup yang dulunya bergelimang dosa seperti yang dinyatakan oleh hukum Tuhan, haruslah berubah menjadi hidup yang menurut Firman.
“Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaharuan budimu, sehingga kamu dapat membedakan manakah kehendak Allah: apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna.” Roma 12: 2
Perjuangan hidup untuk menjadi anak-anak Allah tidaklah mudah. Iblis dari mulanya selalu berusaha membuat manusia agar menjauhkan diri dari Tuhan. Dalam berbagai kesempatan, iblis berusaha meyakinkan manusia bahwa mereka adalah mahluk istimewa yang tidak memerlukan Tuhan. Mahluk yang berkuasa di dunia dan bangga atas eksistensi, hak, kebebasan, dan kemampuan mereka untuk hidup seperti yang mereka ingini. Sikap itulah yang justru bisa membawa manusia jauh dari kasihTuhan.
Seringkali, walaupun kita sadar tentang apa yang baik yang harus kita lakukan, tetapi bukanlah itu yang kita perbuat, melainkan apa yang tidak kita kehendaki, yaitu yang jahat, yang kita perbuat. Karena itu, perjuangan kita untuk mengikut Yesus adalah perjuangan untuk melawan diri kita sendiri, untuk mengalahkan keakuan kita.
Pagi ini kita diingatkan bahwa kita tidak boleh berpandangan bahwa jika Tuhan ingin agar kita menjadi pengikut-Nya, Ia harus mau menerima kita dan cara hidup kita, karena “aku adalah aku” dan “Tuhan mau menerima aku sebagaimana adanya”. Atau juga “Tuhan yang berdaulat sudah menetapkan semua bagian dari hidupku”. Sebaliknya, kita harus mengakui setiap dosa dan kelemahan kita, agar Tuhan yang maha kasih memberikan pengampunan dan kekuatan, sehingga kita bisa burubah, makin hari makin sempurna di dalam Dia.
“Setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya setiap hari dan mengikut Aku.” Lukas 9: 23
Mengenai teman-temanku, para Antinomian berkhotbah dengan sangat baik, saya percaya bahwa mereka melakukannya dengan sungguh-sungguh – mengenai belas kasihan Kristus, pengampunan dosa, dan isi lain dari pasal penebusan.
Tetapi mereka melarikan diri dari kesimpulan ini seperti dari iblis, bahwa mereka harus memberitahu orang-orang tentang Pasal Ketiga, pengudusan, yaitu hidup baru di dalam Kristus.
Karena mereka berpendapat bahwa kita tidak boleh menakuti orang dan membuat mereka sedih, tetapi harus selalu memberitakan kepada mereka penghiburan kasih karunia dalam Kristus dan pengampunan dosa. Mereka memberitahu kita untuk menghindari, demi Tuhan, pernyataan seperti ini:
‘Dengar, Anda ingin menjadi seorang Kristen sementara Anda adalah seorang pezina, seorang pezina, seorang rakus, penuh kesombongan, keserakahan, praktik riba, iri hati, balas dendam, kedengkian, dll, dan bermaksud untuk melanjutkan dosa-dosa ini?’ Sebaliknya, mereka memberi tahu kita bahwa ini adalah cara yang tepat untuk berbicara: ‘Dengar, kamu adalah seorang pezinah, pezina, pelit, atau kecanduan dosa lainnya. Sekarang, jika Anda hanya mau percaya, Anda diselamatkan dan tidak perlu takut akan Hukum, karena Kristus telah menggenapi semuanya.’
Kata mereka kepadaku, berdoalah, bukankah ini berarti mengakui kebenaran, tetapi menyangkal kesimpulan? Sungguh, ini berarti bahwa Kristus diambil dan dibuat tidak berharga dalam nafas yang sama dengan bagaimana Dia sangat dimuliakan. Artinya mengatakan ya dan tidak dalam hal yang sama. Untuk Kristus yang mati untuk orang berdosa yang, setelah menerima pengampunan, tidak akan meninggalkan dosa mereka atau menjalani hidup baru, yang bagi mereka tidak berharga dan tidak ada.
Menurut logika Nestorius dan Eutyches orang-orang ini, dengan cara yang ahli, mengkhotbahkan Kristus yang adalah, dan bukan, Penebus. Mereka adalah pengkhotbah kebenaran Paskah yang luar biasa, tetapi pengkhotbah kebenaran Pentakosta yang menyedihkan. Karena tidak ada dalam khotbah mereka tentang pengudusan Roh Kudus dan tentang dihidupkan ke dalam kehidupan baru.
Mereka hanya berkhotbah tentang penebusan Kristus. Adalah pantas untuk memuji Kristus dalam khotbah kita; tetapi Kristus adalah Kristus dan telah memperoleh penebusan dari dosa dan kematian untuk tujuan ini bahwa Roh Kudus harus mengubah Adam Lama kita menjadi manusia baru, bahwa kita harus mati bagi dosa dan hidup untuk kebenaran, seperti yang diajarkan Paulus Rom. 6, 2 dst., dan bahwa kita harus memulai perubahan dan peningkatan ini dalam kehidupan baru ini di sini dan menyempurnakannya nanti.
Karena Kristus telah memperoleh bagi kita tidak hanya kasih karunia (gratiam), tetapi juga karunia (donum) Roh Kudus, sehingga kita memperoleh dari-Nya tidak hanya pengampunan dosa, tetapi juga berhenti dari dosa. Oleh karena itu, siapa pun yang tidak berhenti dari dosanya, tetapi terus melakukan kejahatan sebelumnya pasti telah memperoleh Kristus yang berbeda – dari Antinomian. Kristus yang asli tidak bersama mereka, bahkan jika mereka berseru dengan suara semua malaikat, Kristus! Kristus! Mereka harus pergi ke kebinasaan dengan Kristus baru mereka.”
-Martin Luther, Concerning Councils and Churches St. L. Ed. XVI, 2241 f.
Ketika sampai pada Hukum Musa, para reformator awal umumnya berpendapat bahwa dari tiga fungsi hukum ini hukum upacara telah dibatalkan, hukum sipil telah kedaluwarsa, tetapi hukum moral (Sepuluh Perintah) memiliki kewajiban yang terus berlanjut. Yang terakhir ini benar karena sepeluh hukum Tuhan mewakili hukum abadi Allah yang tertanam dalam jalinan alam dan hati nurani (mis., Rm 2:14; Inst. 4.20.16).
Hukum Musa sebagai Kitab Suci tetap otoritatif bagi orang Kristen sebagai orang Kristen sejati. Hukum upacara menunjuk kepada Kristus, dan hukum sipil menjaga kasih dan persamaan. Tetapi hukum moral mengutuk dan menahan dosa seperti yang akan dikemukakan oleh Martin Luther. Sementara Luther dan yang lainnya akan menggunakan sebagian besar hukum, adalah John Calvin yang lebih jelas di antara para reformis awal yang mengartikulasikan penggunaan hukum secara positif dalam kehidupan Kristen.
Setuju dengan Luther (yang dia kagumi sepanjang hidupnya), Calvin berbicara tentang penggunaan ketiga dari hukum moral.
Penggunaan Ketiga dari Hukum
Calvin pertama-tama melihat penggunaan hukum yang mengutuk (Inst. 2.7.6). Dia kemudian melihat hukum moral sebagai penahan dosa (Inst. 2.7.10). Kemudian ketiga, dia melihat peran positif hukum dalam kehidupan Kristen, yang dia identifikasi sebagai “penggunaan prinsip” (Inst. 2.7.12).
Dia membagi penggunaan hukum yang ketiga ini menjadi dua. Pertama, hukum moral mengajarkan kita kehendak Allah. Kedua, itu tidak hanya mengajarkan kepada kita kehendak Allah tetapi menasihati kita untuk taat. Dengan cara ini, hukum moral membantu mereka yang memiliki Roh Kudus melakukan apa yang ingin mereka lakukan: menaati Allah. Seperti yang dicatat Calvin, “Bahkan bagi manusia rohani yang belum bebas dari beban daging, hukum tetap merupakan sengatan terus menerus yang tidak akan membiarkannya berdiam diri” (Inst. 2.7.12).
Calvin melihat Daud memuji hukum dalam Mazmur 19 dan 119 karena alasan yang sangat mirip. Hukum itu baik bagi orang-orang rohani karena menunjuk pada kehendak Allah dan menasihati kita untuk taat sementara kita dibebani oleh daging.
Antara Legalisme dan Antinomianisme
Calvin di sini menempatkan hukum pada tempatnya yang diberikan Tuhan tanpa jatuh ke dalam perangkap antinomianisme (menentang hukum) atau legalisme (salah menerapkan hukum kepada orang Kristen). Calvin ingin berhati-hati ketika berbicara tentang hukum moral. Hukum moral tidak lagi memiliki kekuatan kutukan bagi seorang Kristen (Roma 7:6; Inst. 2.7.14). Paulus menekankan hal ini, seperti yang dicatat Calvin, dalam Galatia 3:13 (juga Gal 4:4–5).
Sebagai anak Tuhan, kita tidak perlu lagi khawatir tentang kutukan hukum atau ketakutan akan kematian. Dalam kebebasan ini, kita menganut hukum moral karena tindakan pembunuhan, misalnya, selalu merupakan dosa. Namun, kita tidak khawatir tentang kutukannya.
Hukum upacara menunjuk pada hal-hal rohani tetapi itu sudah dibatalkan menurut Calvin (Inst. 2.7.1, 16). Praktik-praktik ini adalah bayang-bayang (Kol 2:17). Kitab Ibrani khususnya menjelaskan kasus ini juga.
Penting untuk mendengar bagaimana Calvin membahas hukum sipil karena dia mencapai keseimbangan yang layak untuk didengarkan sepenuhnya:
Praktek-praktek seremonial itu memang termasuk dalam doktrin kesalehan, karena mereka menjaga gereja orang Yahudi dalam pelayanan dan penghormatan kepada Tuhan. Dengan cara yang sama, bentuk hukum yudisial mereka, meskipun tidak memiliki maksud lain selain apa yang terbaik untuk mempertahankan kasih yang diamanatkan oleh hukum abadi Allah, memiliki sesuatu yang berbeda dari ajaran kasih itu. Oleh karena itu, karena hukum upacara dapat dibatalkan sementara kesalehan tetap diprlihara, demikian pula, ketika hukum peradilan ini dicabut, tugas dan ajaran kasih yang abadi masih dapat dipertahankan. (Inst.4.20.15)
Calvin melihat upacara sebagai bayangan Kristus tetapi juga berguna bagi orang Yahudi untuk beribadah. Dia mengatakan hal serupa tentang hukum sipil. Mereka bertujuan untuk mempertahankan kasih, meskipun mereka masih memiliki “sesuatu yang berbeda dari ajaran kasih itu”. Oleh karena itu, hukum ini seperti hukum upacara, dapat “diabaikan” tanpa menghilangkan “tugas dan ajaran kasih yang abadi.”
Ketika berbicara tentang pemerintahan sipil hari ini, Calvin menegaskan bahwa sementara pemerintah dapat membuat hukumnya sendiri, mereka harus mengikuti “aturan kasih abadi” itu (Inst. 4.20.15).
Pemerintahan sipil khusus Israel memuat aturan kasih itu tetapi untuk Israel di tempat dan waktu serta keadaan mereka. Sekarang, bangsa-bangsa mungkin memiliki keadaan yang berbeda dari Israel, tetapi mereka harus tetap berusaha untuk memiliki hukum yang bertujuan untuk mempromosikan kasih.
Juga, mereka harus seperti yang dijelaskan Calvin, setuju dengan prinsip kesetaraan yang dapat diakses semua orang di alam dan di hati nurani (Inst. 4.20.16). Yang dengan kata lain, merupakan cara lain untuk mengatakan semua bangsa harus mengikuti hukum moral Allah:
“Adalah fakta bahwa hukum Tuhan yang kita sebut hukum moral tidak lain adalah bukti hukum kodrat dan hati nurani yang telah diukir Tuhan pada pikiran manusia” (Inst. 4.20.16).
Kesimpulan
Hukum Allah mengutuk, menahan, dan mengajar. Itu tidak bisa lagi mengutuk atau menyebabkan ketakutan akan kematian bagi mereka yang ada di dalam Kristus. Sebaliknya, itu dapat membantu orang Kristen dalam mencapai apa yang ingin mereka lakukan dengan Roh: menaati Allah dengan bebas (tanpa paksaan) melalui Roh.
“Tetapi kamu tidak hidup dalam daging, melainkan dalam Roh, jika memang Roh Allah diam di dalam kamu. Tetapi jika orang tidak memiliki Roh Kristus, ia bukan milik Kristus.” Roma 8:9
Sejak kapankah Anda menjadi milik Kristus? Pertanyaan ini mungkin dilontarkan kepada kita dalam bentuk yang serupa: Sejak kapankah Anda menjadi orang Kristen? Pertanyaan ini mudah dijawab jika kita ingat kapan kita dibaptis atau mengaku percaya di gereja. Tetapi, pertanyaan yang lain akan lebih sukar dijawab: Sejak kapankah Anda benar-benar hidup sebagai orang Kristen?
Mengapa “menjadi orang Kristen’ harus berbeda dengan “benar-benar menjadi orang Kristen”? Apaakah ada orang Kristen yang tidak benar-benar Kristen? Tentu ada, dan bahkan banyak. Orang yang mengaku Kristen belum menjadi orang yang benar-benar Kristen sampai pada saat di mana ia menyadari bahwa ia harus mau hidup seperti apa yang difirmankan Tuhan, bukan hidup dalam daging sebagai carnal Christian. Tidak semua orang yang memanggil Kristus akan terbilang sebagai umat-Nya jika mereka tidak menyadari dosanya yang sudah diampuni Tuhan, tidak boleh diulangi lagi. Kesadaran ini hanya bisa dimungkinkan oleh adanya Roh Kudus, dan karena itu mereka yang tidak memiliki Roh Kudus akan terus hidup dalam dosa tanpa menyadari bahwa pengudusan orang Kristen adalah tanda bahwa ia milik Kristus. Pada pihak yang lain, mereka yang sudah menerima Roh Kudus mungkin saja terus menerus mendukakan-Nya melalui hidup yang menyimpang dari firman Tuhan.
Memang, sebagian orang Kristen tidak mau memikirkan akan pentingnya untuk hidup kudus, yaitu untuk berusaha menaati perintah Tuhan. Mereka mungkin beralasan bahwa sebagai manusia mereka tidak mampu untuk menyenangkan Tuhan. Mereka justru sering menuduh orang lain yang berusaha hidup suci sebagai orang munafik. Pandangan seperti ini adalah merendahkan Tuhan yang sudah memberikan Roh Kudus kepada setiap orang yang benar-benar percaya kepada-Nya. Menjadi orang Kristen bukan berarti menjadi orang yang sempurna, tetapi orang yang mau berubah dari hidup lamanya.
Rasul Paulus dengan jelas mengajarkan bahwa kita menerima Roh Kudus pada saat kita percaya bahwa Yesus Kristus adalah Juruselamat kita. Melalui 1 Korintus 12:13, ia mengatakan, “Sebab dalam satu Roh kita semua, baik orang Yahudi, maupun orang Yunani, baik budak, maupun orang merdeka, telah dibaptis menjadi satu tubuh dan kita semua diberi minum dari satu Roh.” Paulus dalam Efesus 1:13-14 mengajar kita bahwa Roh Kudus adalah materai keselamatan bagi setiap orang yang percaya: “Di dalam Dia kamu juga – karena kamu telah mendengar firman kebenaran, yaitu Injil keselamatanmu – di dalam Dia kamu juga, ketika kamu percaya, dimeteraikan dengan Roh Kudus, yang dijanjikan-Nya itu. Dan Roh Kudus itu adalah jaminan bagian kita sampai kita memperoleh seluruhnya, yaitu penebusan yang menjadikan kita milik Allah, untuk memuji kemuliaan-Nya.”.
Dari ketiga ayat di atas, jelas diartikan bahwa Roh Kudus pasti diterima seseorang, pada saat ia dianugerahi keselamatan. Paulus tentunya tidak bisa menyatakan bahwa semua orang telah dibaptis oleh satu Roh dan minum dari satu Roh jika semua orang percaya di Korintus saat itu tidak dianggap sudah memiliki Roh Kudus. Jadi, jelas bahwa pembenaran dan mulainya proses pengudusan terjadi saat yang sama. Di Roma 8:9 bahkan lebih tegas dinyatakan bahwa jika seseorang tidak memiliki Roh Kudus, dia bukan orang Kristen sejati.
Memiliki Roh Kudus menjadi tanda pengenal dari keselamatan. Roh Kudus tidak mungkin menjadi ”materai keselamatan” (Efesus 1:13-14) jika Roh Kudus tidak diterima pada saat keselamatan dianugerahkan. Penerimaan/berdiamnya Roh Kudus terjadi pada momen keselamatan. Kepenuhan Roh Kudus adalah suatu proses yang terus berlanjut dalam kehidupan Kristiani untuk seumur hidup.
Walaupun kita percaya bahwa baptisan Roh Kudus juga terjadi pada momen keselamatan, ada sekelompok orang Kristen yang tidak percaya hal itu. Akibatnya, kadang-kadang baptisan Roh disalahartikan dengan ”menerima Roh Kudus” sebagai sesuatu yang terjadi sesudah orang diselamatkan, dan mungkin saja masih akan terjadi pada suatu saat di masa depan. Ini adalah pandangan yang keliru, yang sering dipakai sebagai alasan untuk mengabaikan firman Tuhan. Pembenaran dan pengudusan adalah karunia penebusan yang tidak dapat dipisahkan, karena itu mengalir dari kesatuan karya Allah Tritunggal dan belas kasih-Nya yang memilih, menebus, dan memperbarui.
Pembenaran dan pengudusan, seperti semua manfaat penebusan, adalah karunia belas kasihan Allah yang cuma-cuma. Bahkan pengudusan, yang membutuhkan kerja sama dari usaha manusia, tetap merupakan karunia belas kasihan. Fakta bahwa Perjanjian Baru menggunakan istilah yang sama untuk menggambarkan pentahbisan yang menentukan dari orang percaya pada pertobatan mereka (pengudusan definitif; misalnya, 1 Kor. 6:11) dan pertumbuhan mereka yang berkelanjutan dalam kekudusan (pengudusan progresif; misalnya, 1 Tes. 5: 23) harus memberi kepastian kepada kita tentang kenyataan ini.
Walaupun pengudusan dalam arti tertentu bersifat sinergis, yang mencakup pekerjaan Allah yang menyucikan dan pekerjaan agen manusia yang dikuduskan, peran penting dari kasih karunia tetap ada. Kita bahkan dapat menyatakan bahwa pengudusan tidaklah kurang berarti jika dibandingkan dengani pembenaran. Sebagai karunia yang diterima oleh orang percaya hanya karena kasih karunia melalui iman dalam Kristus saja, itu adalah hal penyebab definitif kekudusan dalam kehidupan umat pilihan. Pembenaran dan pengudusan tetap tidak dapat dipisahkan karena kesatuannya ada dalam rencana penyelamatan Allah.
Selain itu, ajaran kitab suci tentang penghakiman terakhir menurut perbuatan, menentang segala bentuk ketidakpedulian antinomian terhadap kebenaran sejati orang percaya (mis., 2 Kor. 5:10; 1 Pet. 1:17). Orang-orang percaya dibenarkan oleh iman saja, tetapi mereka akan mengalami penghakiman terakhir menurut perbuatan, di mana perbuatan baik mereka ditampilkan bukan sebagai dasar hukum untuk pembenaran mereka, tetapi sebagai bukti yang diperlukan dari kesatuan iman mereka dengan Kristus. Memang, karya penyelamatan Kristus menghasilkan “penyembuhan ganda”: pembebasan legal dari konsekuensi dosa dan pembebasan transformatif dari pengaruh dosa yang merusak. Pembebasan transformatif inilah yang tidak atau kurang dinyatakan dalam pandangan kaum antinomian. Mereka merasa lega karena merasa sudah menrima pembebasan legal dari konsekuensi dosa.
Karya keselamatan yang terpadu ini muncul bukan dari anugerah ilahi yang umum tetapi dari Allah Tritunggal, yang adalah Bapa, Putra, dan Roh Kudus hanya kepada umat-Nya. Ketidakterpisahan pembenaran dan pengudusan didasarkan pada ketidakterpisahan operasi Allah Tritunggal. Menurut doktrin apropriasi, kita dapat berbicara tentang Bapa yang memilih, Putra yang nenebus, dan Roh Kudus yang melahirkan kembali, tetapi dalam setiap karya kemurahan ilahi ini, Ketuhanan yang tak terbagilah yang bekerja secara bersatu untuk mewujudkan keselamatan umat manusia yang terpilih.
Pagi ini, firman Tuhan menyatakan bahwa pembenaran dan pengudusan tidak dapat dipisahkan dalam pengalaman umat pilihan, karena keduanya adalah satu dalam maksud penyelamatan Allah Tritunggal. Jadi, jika orang Kristen yang membuat pengudusan sebagai suatu karunia tambahan yang tidak penting jika dibandingkan dengan pembenaran adalah membuat kesalahan besar. Pembenaran adalah putusan yang ditetapkan, didasarkan pada kebenaran Kristus saja dan diterima hanya dengan iman, tetapi itu selalu dan pasti menghasilkan pengudusan bagi mereka yang dibenarkan. Oleh karena itu, semua bentuk pandangan antinomianisme yang menyatakan bahwa pengudusan adalah suatu hal yang tidak perlu dipikirkan orang pilihan, harus dilenyapkan dari lingkungan keluarga dan gereja Kristen, karena kita tahu tentang adanya kesatuan tujuan penyelamatan dari Allah Tritunggal.
Apakah Anda benar-benar hidup sebagai orang Kristen? Anda akan bisa menjawab pertanyaan ini jika Anda sudah dikuduskan, dan dengan demikian sudah dibenarkan; yaitu jika Anda bisa merasakan bagaimana Roh Kudus bekerja mengubah Anda secara berkelanjutan, hari demi hari, sehingga hidup Anda makin lama makin menyerupai Yesus.
“Tetapi hendaklah kamu menjadi kudus di dalam seluruh hidupmu sama seperti Dia yang kudus, yang telah memanggil kamu, sebab ada tertulis: Kuduslah kamu, sebab Aku kudus.” 1 Petrus 1:15-16 TB
“Tetapi hukum Taurat ditambahkan, supaya pelanggaran menjadi semakin banyak; dan di mana dosa bertambah banyak, di sana kasih karunia menjadi berlimpah-limpah, supaya, sama seperti dosa berkuasa dalam alam maut, demikian kasih karunia akan berkuasa oleh kebenaran untuk hidup yang kekal, oleh Yesus Kristus, Tuhan kita.” Roma 5:20-21
Sudah cukup lama para teolog Kristen, mengikuti berbagai teks dan nuansa dalam Kitab Suci, mengatakan bahwa ada tiga macam penggunaan hukum Allah sesuai dengan apa yang dikenal sebagai “Tiga Penggunaan Hukum” untuk menunjukkan pentingnya hukum Allah bagi kehidupan Kristen (Institutes 2.1.304-10). Apakah itu?
1.Penggunaan Pedagogis (usus elenchticus atau pedagogicus)
Tujuan pertama dari hukum adalah menjadi cermin. Di satu sisi, hukum Allah mencerminkan dan mencerminkan kebenaran-Nya yang sempurna. Hukum memberi tahu kita banyak tentang siapa Allah itu. Mungkin yang lebih penting, hukum menerangi keberdosaan manusia. Agustinus menulis, “Hukum memerintahkan, agar kita, setelah berusaha melakukan apa yang diperintahkan, dan dengan demikian merasakan kelemahan kita di bawah hukum, dapat belajar untuk memohon bantuan rahmat” (Institutes 2.7.9). Hukum menyoroti kelemahan kita sehingga kita dapat mencari kekuatan yang ditemukan di dalam Kristus. Di sini hukum bertindak sebagai guru sekolah yang berdisplin, yang mendorong kita kepada Kristus.
2.Penggunaan Sipil (usus politicus atau civilis)
Tujuan kedua hukum adalah pengendalian kejahatan. Hukum, dengan sendirinya, tidak dapat mengubah hati manusia. Namun, itu bisa berfungsi untuk melindungi yang benar dari yang tidak adil. Calvin mengatakan tujuan hukum ini adalah “melalui ancaman yang menakutkan dan akibatnya yang berupa ketakutan akan hukuman, untuk mengekang mereka yang, kecuali dipaksa, tidak menghargai kejujuran dan keadilan” (Institutes 2.7.10). Hukum mengizinkan ukuran keadilan yang terbatas di bumi ini, sampai penghakiman terakhir diwujudkan.
3.Penggunaan Normatif (usus didakticus atau normativus)
Inilah yang disebut tertius usus legis, penggunaan hukum yang ketiga. Hukum adalah aturan hidup bagi orang percaya, mengingatkan mereka akan tugas mereka dan memimpin mereka di jalan kehidupan dan keselamatan. Penggunaan hukum yang ketiga inilah yang ditolak oleh kaum Antinomian, yang menolak relevansi moralitas dalam kehidupan orang Kristen.
Penggunaan yang ketiga ini adalah untuk mengungkapkan apa yang berkenan kepada Allah. Sebagai anak-anak Allah yang dilahirkan kembali, hukum menerangi kita tentang apa yang menyenangkan Bapa kita, yang ingin kita layani. Orang Kristen seharusnya menyenangi hukum sebagaimana Allah sendiri menyenanginya. Yesus berkata, “Jikalau kamu mengasihi Aku, kamu akan menuruti segala perintah-Ku.” (Yohanes 14:15). Inilah fungsi tertinggi dari hukum, untuk melayani sebagai alat bagi umat Allah untuk menghormati dan memuliakan Dia.
Dengan mempelajari atau merenungkan hukum Allah setiap hari, kita menghadiri pendidikan Ilahi tentang kebenaran. Kita belajar apa yang menyenangkan Tuhan dan apa yang menyinggung Dia. Hukum moral yang dinyatakan Allah dalam Kitab Suci selalu mengikat kita. Penebusan kita untuk menghilangkan kutukan hukum Allah, bukan untuk menghilangkan kewajiban kita untuk menaatinya. Dalam hal ini, ketidak taatan kita kepada hukum bukan untuk melempar kita ke neraka, dan ketaatan kita bukan agar kita diselamatkan. Itu karena kita sudah diselamatkan oleh darah Kristus. Kita sudah dibenarkan agar kita menjadi umat-Nya dan patuh pada hukum-Nya. Mengasihi Kristus berarti menaati perintah-perintah-Nya. Mengasihi Allah berarti menaati hukum-Nya. Inilah pengertian yang ditolak kamum Antinomian yang menyatakan bahwa iman Kristen tidak ada hubunngannya dengan moralitas.
Kalau kita perhatikan ayat-ayat sebelumnya Paulus menyatakan “Tetapi hukum Taurat ditambahkan, supaya pelanggaran menjadi semakin banyak, dan di mana dosa bertambah banyak, di sana kasih karunia menjadi berlimpah-limpah.” Paulus tahu jika ia berkata demikian pasti akan terjadi pertentangan, karena orang-orang akan berkata, “Kalau demikian halnya nanti orang semakin seenak-enaknya berbuat dosa, nanti orang akan bertekun dalam dosa, supaya kasih karunia bertambah banyak.” Itu sebabnya Paulus langsung menjawab, “Jika demikian, apakah yang hendak kita katakan? Bolehkah kita bertekun dalam dosa supaya semakin bertambah kasih karunia? Sekali-kali tidak.”
Perlu diketahui, Antinomianisme tidak mengajarkan orang Kristen untuk berbuat jahat, tetapi tidak menekankan pentingnya perbuatan baik, dengan alasan bahwa orang Kristen tetap tidak dapat melakukan apa yang baik. Oleh karena itu, bagi orang yang tidak waspada, faham ini seolah-olah Alkitabiah. Paulus menolak pandangan antinomian dengan tegas. Dia dalam Roma 6:1-2 mengatakan: ” Jika demikian, apakah yang hendak kita katakan? Bolehkah kita bertekun dalam dosa, supaya semakin bertambah kasih karunia itu? Sekali-kali tidak! Bukankah kita telah mati bagi dosa, bagaimanakah kita masih hidup di dalamnya?” Memang, jika orang sudah dilahirkan kembali, Roh Kudus memungkinkan dia untuk memilih apa yang baik (Pengakuan Westminster Bab 9 Poin 4). Jika ia tidak tertarik untuk berbuat baik, ada kemungkinan orang itu sudah memadamkan api Roh Kudus (1 Tesalonika 5:19).
Jadi Paulus berkata demikian bukan untuk memberi semangat kepada orang-orang untuk berbuat dosa supaya kasih karunia semakin bertambah, “Ayo buat dosa lebih banyak supaya lebih banyak kasih karunia”, ini bodoh. Paulus tidak pernah berkata demikian, dan di gereja mana pun tidak pernah dikatakan demikian. Walaupun demikian, banyak gereja yang sekarang mengumandangkan bahwa karena karunia yang kita terima sudah sangat besar, dan bahkan mahabesar, kita tidak perlu memikirkan penggunaan ketiga dari hukum Allah. Moralitas seakan tidak perlu dipikirkan oleh orang Kristen sejati.
Ketika kita melihat generasi sekarang, banyak di antara kita yang mengatakan, “Aduh, generasi sekarang sangat mengerikan, dulu generasi saya belum ada internet, belum ada YouTube, Facebook, belum ada TikTok, sekarang mereka dengan mudah mengakses situs-situs yang tidak baik”. Dulu, pada generasi sebelum ini, memang belum ada yang seperti demikian, sekalipun tetap saja orang punya cara lain untuk berbuat dosa. Jika sekarang transaksi gelap bisa dilakukan dengan komputer, dulu itu harus dilakukan muka dengan muka. Jika dulu pelanggaran seksual harus dilakukan muka dengan muka, sekarang itu bisa dilakukan lewat komputer. Jika apa yang kita rasakan, yaitu generasi sekarang lebih mengerikan, itu bukan karena banyaknya ancaman dosa “baru”, tetapi karena kurangnya kesadaran atas adanya standar moralitas lama yang masih berlaku. Banyak orang tua Kristen yang mengalah kepada kemauan anak-anak mereka untuk tidak dikatakan ketinggalan zaman, begitu juga banyak pendeta yang tidak mau menegur jemaat mereka jika mereka melanggar perintah Tuhan, karena semua itu dianggap lumrah bagi manusia yang tidak sempurna. Tidaklah mengherankan, banyak jemaat gereja yang tetap hidup dalam dosa karena tidak mengenal pengajaran yang benar.
“Segala tulisan yang diilhamkan Allah memang bermanfaat untuk mengajar, untuk menyatakan kesalahan, untuk memperbaiki kelakuan dan untuk mendidik orang dalam kebenaran.” 2 Timotius 3:16
Di mana dosa bertambah banyak, di sana kasih karunia menjadi berlimpah-limpah. Apa yang Paulus maksudkan di sini, kalau kita mengalami kegagalan, kalau kita berbuat sesuatu yang salah, kalau kita berbuat dosa, kalau sekarang kita berada dalam kegelapan karena apa yang kita lakukan, kalau ada area yang lemah di dalam hidup kita, percaya ini, jangan takut, jangan merasa kecil hati, ingat baik-baik Tuhan tetap mengasihi kita. Dalam keadaan demikian kita harus mau mengaku dosa dan memohon pengampunan-Nya. Masalahnya, bagaimana kita sadar bahwa kita sudah berbuat dosa jika fungsi ketiga hukum Allah selalu kita diabaikan? Dan bagaimana kita bisa yakin bahwa kita dan anak-cucu kita adalah orang terpilih jika kita selalu dengan sengaja mengabaikan hukum Tuhan yang tidak pernah berubah dan menolak kaidah moral yang Tuhan berikan dari awalnya untuk kebaikan umat-Nya? Antinomianisme adalah seperti benalu dalam sebuah gereja, yang bisa mematikan pengajaran yang benar. Antinomianisme adalah tindakan memusuhi Allah yang memberikan hukum-hukum moral untuk dipatuhi oleh umat-Nya. Kita harus sadar bahwa kita hidup di hadapan Allah yang melihat semua tingkah laku dan perbuatan kita (coram Deo).
Pagi ini kita harus sadar bahwa orang-orang yang memiliki iman yang menyelamatkan tentu ingin mematuhi perintah-perintah Allah. Mereka tidak berusaha melakukannya untuk mendapatkan kehidupan kekal; mereka melakukannya untuk berterima kasih kepada Tuhan dan menunjukkan keaslian iman mereka. Kita harus berhati-hati untuk tidak mematuhi hukum sebagai sarana pembenaran, tetapi jika kita tidak ingin menaati perintah-perintah Allah, kita benar-benar berada dalam kesulitan rohani yang besar, untuk tidak dikatakan sudah tersesat.
“Siapa tidak bersama Aku, ia melawan Aku dan siapa tidak mengumpulkan bersama Aku, ia mencerai-beraikan.”Lukas 11:23
“Janganlah kita jemu-jemu berbuat baik, karena apabila sudah datang waktunya, kita akan menuai, jika kita tidak menjadi lemah.” Galatia 6: 9
Paulus baru saja meminta orang-orang Kristen Galatia untuk diyakinkan, sekali lagi, bahwa mengandalkan kedagingan mereka dalam hidup ini hanya akan membawa kepada kerusakan. Ketergantungan pada kekuatan kita sendiri hanya menyebabkan pembusukan dan kematian. Itu akan terjadi jika kita mempercayai upaya manusia untuk menyelamatkan kita dengan mengikuti ritual dan sakramen hukum, atau dengan mengikuti keinginan kita yang egois dan berdosa. Keselamatan datang hanya dengan “menanam” Roh. Melalui iman kepada Kristus untuk pengampunan dosa kita, Allah memberikan kepada kita Roh-Nya sendiri. Hanya Roh itu yang akan memberikan kehidupan kekal pada akhirnya (Galatia 6:6-8).
Sekarang Paulus mendesak jemaat Galatia untuk tidak bosan berbuat baik. Berbuat baik adalah kerja keras, terutama jika seseorang mulai meragukan apakah itu penting. Paulus mendesak jemaat Galatia untuk tetap hidup dengan cara yang konsisten dengan apa yang mereka yakini. Mereka adalah orang-orang dimerdekakan di dalam Kristus, dan Roh Allah menyertai mereka. Pada akhirnya, panen kehidupan kekal akan muncul dan mereka akan melihatnya sendiri.
Dalam pengertian yang lebih langsung, pekerjaan baik yang dilakukan orang Galatia dengan kuasa Roh juga akan menghasilkan buah. Tuhan akan sering mengizinkan umat-Nya untuk melihat bagaimana investasi mereka sendiri untuk melakukan hal-hal yang baik baik di kehidupan ini maupun di kehidupan yang akan datang. Namun itu tidak mudah, karena adanya orang-orang Kristen yang terjebak dalam ajaran Antinomianisme.
Antinomianisme adalah kata yang berasal dari bahasa Yunani anti dan nomos. Anti berarti melawan. Nomos berarti hukum. Antinomianisme berarti anti terhadap hukum. Ajaran ini pada mulanya mengajarkan bahwa orang-orang Kristen telah dibebaskan dari hukum Taurat dan tidak perlu menjalankan hukum Taurat lagi karena orang-orang Kristen telah mendapat kasih karunia Allah. Tetapi pada zaman sekarang, Antinomianisme diartikan sebagai seseorang yang yakin bahwa hanya iman, dan bukan hukum moral yang diperlukan dalam hidup orang Kristen. Dalam arti teologis, seseorang juga cenderung memandang rendah adanya hukum, dan memandang dirinya sendiri di atas semua hukum dan aturan-aturan karena adanya keyakinan diri sendiri bahwa ia sudah dipilih Tuhan untuk diselamatkan sekalipun hidupnya belum menunjukkan adanya pertobatan.
Dalam Galatia 6:9 Rasul Paulus memberi tahu kita, “Janganlah kita jemu-jemu berbuat baik, karena pada waktunya kita akan menuai tuaian jika kita tidak menyerah.” Dalam perikop Kitab Suci ini, Paulus memberi tahu orang percaya bahwa mereka tidak merasa bosan untuk berbuat baik. Seringkali, sulit untuk tidak jemu dalam berbuat baik apalagi jika kita selalu dikritik atau diolok-olok oleh orang lain, tetapi Tuhan tidak ingin kita menjadi jemu dalam berbuat baik. Tuhan ingin kita terus berbuat baik dan memancarkan terang terang-Nya kepada sesama.
Orang percaya tidak perlu jemu dalam berbuat baik karena Tuhan berjanji kepada semua orang percaya bahwa jika mereka tetap kuat dan terus berbuat baik, mereka akan menuai panen pada waktunya (Galatia 6:9). Ketika Paulus menulis surat ini kepada jemaat di Galatia, dia tahu bahwa mereka merasa terbebani oleh tanggung jawab kehidupan Kristen sehari-hari. Mungkin Anda juga pernah merasakan hal ini dalam gereja Anda. Anda mungkin dituduh “sok” atau “Farisi” ketika berusaha berbuat baik. Paulus menuliskan pernyataan tidak jemu-jemu dalam berbuat baik untuk mengangkat semangat mereka dan memberi mereka kekuatan untuk tetap bertekun dalam berbuat baik.
Kehidupan kekristenan memang tidak mudah, tetapi sebagai orang percaya, kita mendapat pertolongan Roh Kudus. Dia akan membantu, mendukung, dan menyemangati kita setiap hari sekalipun orang-orang yang kita kenal berusaha menghentikan maksud baik kita. Roh Kudus siap membantu orang percaya setiap saat dan dengan cara apa pun yang Dia bisa. Dia dapat membantu kita berjalan menurut jalan yang benar daripada jalan kedagingan (Galatia 5:16).
Setiap kali Anda merasa lelah dan bosan berbuat baik, kembalilah kepada Tuhan. Dia dapat mengangkat Anda dengan tangan-Nya yang perkasa (Yesaya 41:10). Ketika Anda mulai menjadi lelah, putus asa, atau tertekan, oleh ucapan sinis orang seiman, ingatlah bahwa apa pun yang Anda kerjakan, Anda bekerja untuk Tuhan. Anda bermaksud untuk menyenangkan Tuhan dan bukannya manusia. Kristuslah yang Anda layani (Kolose 3:23) dan Ia melihat setiap perbuatan yang baik, setiap kata yang baik, setiap hal yang baik yang Anda lakukan. Ingatlah bahwa setiap orang akan dimintai pertanggungjwaban oleh Tuhan (Roma 14:12).
Sama sekali tidak ada yang Anda lakukan yang tidak diketahui oleh Bapa Surgawi kita. Ibrani 6:10 memberi tahu kita, “Sebab Allah bukan tidak adil, sehingga Ia lupa akan pekerjaanmu dan kasihmu yang kamu tunjukkan terhadap nama-Nya oleh pelayanan kamu kepada orang-orang kudus, yang masih kamu lakukan sampai sekarang.” Anda tidak melayani umat manusia, tetapi melayani Tuhan. Jangan pernah melupakan kebenaran penting ini dan jangan pernah bosan berbuat baik. Upaya Anda akan dihargai Tuhan, sekalipun teman-teman Anda menyatakan kebencian mereka atas usaha Anda.
Orang Kristen harus mau berbuat baik karena Tuhan telah memanggil kita untuk berbuat baik. Saat kita mengikuti tuntunan Roh Kudus dan berbuat baik, kita bersinar terang bagi Yesus (Matius 5:16). Dengan berbuat baik, kita menunjukkan Kristus kepada dunia yang terhilang dan terluka. Tuhan telah memberkati kita dengan kemampuan untuk berbuat baik dan membantu orang lain.
Jika kita memilih untuk tidak berbuat baik, kita berdosa (Yakobus 4:17). Siapa yang tidak mau mengikut Yesus, adalah musuh-Nya (Lukas 11:23). Alkitab memberi tahu kita bahwa dosa memisahkan kita dari Allah, “tetapi yang merupakan pemisah antara kamu dan Allahmu ialah segala kejahatanmu, dan yang membuat Dia menyembunyikan diri terhadap kamu, sehingga Ia tidak mendengar, ialah segala dosamu.” (Yesaya 59:2). Ketika kita berbuat baik, kita bertindak dalam kepatuhan kepada Bapa Surgawi kita. Tidak ada yang membawa sukacita yang lebih besar bagi Tuhan daripada mengetahui bahwa anak-anak-Nya menaati perintah-Nya.
Tuhan memiliki tujuan khusus untuk setiap hidup kita dan tujuan ini termasuk melakukan pekerjaan baik untuk Dia. Efesus 2:10 mengatakan, “Karena kita ini buatan Allah, diciptakan dalam Kristus Yesus untuk melakukan pekerjaan baik, yang dipersiapkan Allah sebelumnya. Ia mau, supaya kita hidup di dalamnya.” Perikop Efesus ini memberi tahu kita bahwa kita telah diciptakan untuk melakukan pekerjaan baik, yang pada akhirnya akan mengarahkan orang kepada Kristus. Hidup kita bukanlah milik kita sendiri. Hidup kita telah dibeli dengan harga kematian Yesus di kayu salib.
Sebagai pegikut Kristus kita juga tidak boleh membuat orang lain untuk jemu berbuat baik. Bagaimana kita bisa membuat saudara seiman kita meremehkan pentingnya untuk berbuat baik? Tetapi hal ini sering terjadi di gereja tertentu, di mana pesan-pesan yang disampaikan selalu bernada negatif terhadap usaha untuk berbuat baik. Jika kita terpukau oleh ajaran yang bersifat Antinomianisme, kita pun bisa ikiut-ikutan mengumandangkan pesan-pesan berikut ini, yang bisa membuat orang lain segan untuk berbuat baik. Sudah tentu dengan berbuat demikian, kita hanya menambah dosa yang sudah ada, yang harus kita pertanggung jawabkan di hadapan Tuhan.
Mengulang-ulang pesan keselamatan hanya karena karunia – bukan pertobatan atau iman,
Menekankan bahwa adanya dosa tidak memengaruhi keputusan Tuhan,
Menekankan bahwa pilihan Tuhan sama sekali tidak ada hubungannya dengan ketaatan atau iman manusia,
Menekankan semua orang sama jahatnya,
Menekankan orang Kristen tidak bisa sempurna,
Memastikan perbuatan baik akan berakhir dengan kesombongan,
Menyatakan perbuatan baik akan menjadi kekeliruan bahwa itu akan membawa keselamatan, dan
Menyamakan usaha berbuat baik dengan sikap kaum Farisi yang munafik.
Semua hal di atas ada benarnya, tetapi jika dinyatakan secara berulang kali sebagai satu-satunya kebenaran dari Alkitab, itu akan membuat saudara-saudara seiman kita menjadi malu, segan atau tidak mau untuk berusaha berbuat baik. Apalagi, jika khotbah di gereja tidak pernah menyatakan bahwa setiap orang Kristen harus berbuat baik selama hidup di dunia. Seperti kita, orang-orang ini kemudian bisa menjadi orang Kristen “kedagingan” atau carnal Chtistian yang hidup dalam dosa dan tidak merasa perlu bertobat untuk memperoleh keselamatan.
Apakah Anda tidak tahu bahwa tubuh Anda adalah bait Roh Kudus, yang ada di dalam Anda, yang telah Anda terima dari Tuhan? Anda bukan milik Anda sendiri; Anda dibeli dengan harga tertentu. Karena itu hormatilah Tuhan dengan tubuhmu (1 Korintus 6:19-20). Karena Yesus membayar harga yang sangat mahal untuk kebebasan kita, kita seharusnya ingin melakukan hal-hal baik yang menghormati Dia dan tidak menjadi lelah dalam prosesnya. Yesus adalah Guru Utama kita karena Dia adalah teladan terbaik untuk diikuti dalam hidup kita. Yesus selalu berbuat baik dan Dia tidak pernah jemu berbuat baik. Demikian pula, sebagai pengikut Yesus, kita juga tidak boleh jemu-jemu berbuat baik. Yesus membayar harga terbesar dengan mati di kayu salib untuk dosa-dosa kita untuk menebus kita.
Pagi ini, kita harus sadar bahwa ajaran antinomianisme ini adalah ajaran sesat yang sangat berbahaya bagi umat Kristen yang ingin hidup dalam kekudusan. Ajaran ini sebenarnya serupa dengan bujukan iblis kepada Hawa di taman Eden untuk tidak menaati perintah Tuhan. Semoga kita selalu mau mendengarkan suara Roh Kudus yang mau membimbing kita dalam hidup kudus seperti yang dikehendaki Tuhan!
“Tetapi hendaklah kamu menjadi kudus di dalam seluruh hidupmu sama seperti Dia yang kudus, yang telah memanggil kamu, sebab ada tertulis: Kuduslah kamu, sebab Aku kudus.” 1 Petrus 1:15-16
“Sebab apa yang tidak mungkin dilakukan hukum Taurat karena tak berdaya oleh daging, telah dilakukan oleh Allah. Dengan jalan mengutus Anak-Nya sendiri dalam daging, yang serupa dengan daging yang dikuasai dosa karena dosa, Ia telah menjatuhkan hukuman atas dosa di dalam daging, supaya tuntutan hukum Taurat digenapi di dalam kita, yang tidak hidup menurut daging, tetapi menurut Roh.” Roma 8: 3-4
Apakah Anda masih menganggap Sepuluh Hukum Tuhan adalah suatu yang penting di zaman ini? Saya harap begitu, karena hukum ini tidak pernah dihapuskan, malahan diperkuat oleh dua hukum utama yang diucapkan oleh Yesus.
”Janganlah kamu menyangka, bahwa Aku datang untuk meniadakan hukum Taurat atau kitab para nabi. Aku datang bukan untuk meniadakannya, melainkan untuk menggenapinya. Karena Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya selama belum lenyap langit dan bumi ini, satu iota atau satu titik pun tidak akan ditiadakan dari hukum Taurat, sebelum semuanya terjadi.” Matius 5:17-18
Jawab Yesus kepadanya: ”Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu. Itulah hukum yang terutama dan yang pertama. Dan hukum yang kedua, yang sama dengan itu, ialah: Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri. Pada kedua hukum inilah tergantung seluruh hukum Taurat dan kitab para nabi.” Matius 22: 37-40
Dalam kenyataannya, banyak orang Kristen pada zaman sekarang beranggapan bahwa kita tidak hidup dibawah hukum lagi karena Yesus sudah menggenapi semua hukum yang tidak dapat dipenuhi oleh manusia mana pun. Jika manusia berdosa karena tidak dapat melaksanakan hukum Taurat dengan sempurna, Yesuslah yang sudah melaksanakannya dengan sempurna untuk keselamatan umat-Nya. Karena itu, banyak orang Kristen yang mengira bahwa sebagai orang Kristen kita tidak perlu memikirkan hal moral lagi, seperti apa yang tercantum dalam hukum Taurat. Ini adalah kekeliruan besar yang terjadi dalam kehidupan sebagian orang Kristen yang kemudian menjadi orang yang anti hukum, atau antinomianis. Beberapa teolog Reformed seperti RC Sproul dan John MacArthur sudah menyatakan keseriusan masalah ini, yang sebenarnya bukan barang baru karena sudah mulai memasuki gereja sejak abad 16.
Setiap orang Kristen bergumul dengan pertanyaan, bagaimana hubungan hukum Perjanjian Lama dengan hidup saya? Apakah hukum Perjanjian Lama tidak relevan bagi orang Kristen atau adakah pengertian di mana kita masih terikat oleh bagian-bagiannya? Ketika ajaran sesat antinomianisme menjadi semakin meresap dalam budaya Kristen kita, kebutuhan untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan ini semakin mendesak.
Reformasi didirikan atas kasih karunia dan bukan atas hukum. Namun hukum Allah tidak disangkal oleh para Reformator. John Calvin, misalnya, menulis apa yang kemudian dikenal sebagai “Tiga Penggunaan Hukum” untuk menunjukkan pentingnya hukum bagi kehidupan Kristen (Institutes 2.1.304-10).
Penggunaan Pedagogis Tujuan pertama dari hukum adalah menjadi cermin. Di satu sisi, hukum Allah mencerminkan dan mencerminkan kebenaran-Nya yang sempurna. Hukum memberi tahu kita banyak tentang siapa Allah itu. Mungkin yang lebih penting, hukum menerangi keberdosaan manusia. Agustinus menulis, “Hukum memerintahkan, agar kita, setelah berusaha melakukan apa yang diperintahkan, dan dengan demikian merasakan kelemahan kita di bawah hukum, dapat belajar untuk memohon bantuan rahmat” (Institutes 2.7.9). Hukum menyoroti kelemahan kita sehingga kita dapat mencari kekuatan yang ditemukan di dalam Kristus. Di sini hukum bertindak sebagai guru sekolah yang berdisplin, yang mendorong kita kepada Kristus.
Penggunaan Sipil Tujuan kedua hukum adalah pengendalian kejahatan. Hukum, dengan sendirinya, tidak dapat mengubah hati manusia. Namun, itu bisa berfungsi untuk melindungi yang benar dari yang tidak adil. Calvin mengatakan tujuan hukum ini adalah “melalui ancaman yang menakutkan dan akibatnya yang berupa ketakutan akan hukuman, untuk mengekang mereka yang, kecuali dipaksa, tidak menghargai kejujuran dan keadilan” (Institutes 2.7.10). Hukum mengizinkan ukuran keadilan yang terbatas di bumi ini, sampai penghakiman terakhir diwujudkan.
Penggunaan Normatif Tujuan ketiga dari hukum adalah untuk mengungkapkan apa yang berkenan kepada Allah. Sebagai anak-anak Allah yang dilahirkan kembali, hukum menerangi kita tentang apa yang menyenangkan Bapa kita, yang ingin kita layani. Orang Kristen seharusnya menyenangi hukum sebagaimana Allah sendiri menyenanginya. Yesus berkata, “Jikalau kamu mengasihi Aku, kamu akan menuruti segala perintah-Ku.” (Yohanes 14:15). Inilah fungsi tertinggi dari hukum, untuk melayani sebagai alat bagi umat Allah untuk menghormati dan memuliakan Dia.
Dengan mempelajari atau merenungkan hukum Allah, kita menghadiri sekolah kebenaran. Kita belajar apa yang menyenangkan Tuhan dan apa yang menyinggung Dia. Hukum moral yang dinyatakan Allah dalam Kitab Suci selalu mengikat kita. Penebusan kita berasal dari kutukan hukum Allah, bukan dari kewajiban kita untuk menaatinya. Kita dibenarkan, bukan karena ketaatan kita pada hukum, tetapi agar kita menjadi patuh pada hukum Allah. Mengasihi Kristus berarti menaati perintah-perintah-Nya. Mengasihi Allah berarti menaati hukum-Nya. Inilah pengertian yang ditolak kamum antinomian yang menyatakan bahwa iman Kristen bukanlah didasarkan moralitas.
Ketika kita berbicara tentang penggunaan hukum Allah secara normatif, kita mengatakan bahwa kehidupan moral orang percaya harus diatur, diarahkan, dan dibentuk oleh hukum moral Allah, yang secara ringkas dipahami dalam Sepuluh Perintah. Hukum moral Tuhan harus penting bagi orang Kristen, karena Tuhan tidak menuliskannya di atas loh batu untuk Anda, Dia telah menuliskannya di hati Anda.
Pertama, dalam kelahiran baru Roh Allah menulis (atau harus kita katakan, menulis ulang) hukum moral Allah di hati umat-Nya. Inilah yang dikatakan perikop terkenal dalam Yeremia 31 yang akan terjadi pada semua orang yang mengambil bagian dalam Perjanjian Baru.
Sesungguhnya, akan datang waktunya, demikianlah firman TUHAN, Aku akan mengadakan perjanjian baru dengan kaum Israel dan kaum Yehuda, bukan seperti perjanjian yang telah Kuadakan dengan nenek moyang mereka pada waktu Aku memegang tangan mereka untuk membawa mereka keluar dari tanah Mesir; perjanjian-Ku itu telah mereka ingkari, meskipun Aku menjadi tuan yang berkuasa atas mereka, demikianlah firman TUHAN. Tetapi beginilah perjanjian yang Kuadakan dengan kaum Israel sesudah waktu itu, demikianlah firman TUHAN: Aku akan menaruh Taurat-Ku dalam batin mereka dan menuliskannya dalam hati mereka; maka Aku akan menjadi Allah mereka dan mereka akan menjadi umat-Ku. Dan tidak usah lagi orang mengajar sesamanya atau mengajar saudaranya dengan mengatakan: Kenallah TUHAN! Sebab mereka semua, besar kecil, akan mengenal Aku, demikianlah firman TUHAN, sebab Aku akan mengampuni kesalahan mereka dan tidak lagi mengingat dosa mereka.” Yeremia 31:31-34
Perhatikan dua hal tentang teks ini. Pertama, ketika TUHAN berkata bahwa Ia akan menuliskan hukum-Nya di hati umat Allah Perjanjian Baru, Ia dengan jelas menyinggung hukum moral yang sama yang Ia tuliskan di atas batu untuk umat Allah Perjanjian Lama. Tuhan tidak memiliki dua hukum moral, tetapi satu. Hukum Kristus adalah hukum moral Allah yang tertulis di hati. Kedua, Yeremia 31 tidak mengatakan bahwa tidak seorang pun memiliki hukum moral yang tertulis di dalam hati mereka di bawah Perjanjian Lama. Tentu saja, mereka yang memiliki iman sejati pada masa Perjanjian Lama telah dilahirkan kembali oleh Roh Kudus dan hukum Allah tertulis di dalam hati mereka. Mereka beriman kepada Mesias yang sudah dijanjikan. Dan mereka dilahirkan kembali oleh Roh.
Kelahiran baru adalah berkat dari Perjanjian Baru yang didapatkan oleh Kristus, tetapi hal itu disampaikan kepada mereka sebelumnya melalui janji Injil. Raja Daud adalah contohnya. Baca Mazmur 119 dan pertimbangkan kecintaannya pada hukum Allah, sekalipun ia bukan orang yang tanpa cacat cela. Inilah hal yang unik tentang Perjanjian Baru – semua yang benar-benar mengambil bagian dalam Perjanjian Baru akan dilahirkan kembali. Semua yang berada di bawah Perjanjian Baru akan memiliki hukum tertulis, bukan di atas loh batu, tetapi di hati mereka. Ini adalah salah satu perbedaan terbesar antara Perjanjian Lama dan Baru.
Pria dan wanita dilahirkan ke dalam Perjanjian Lama melalui kelahiran jasmani. Beberapa memiliki iman yang sejati, tetapi banyak yang tidak. Beberapa dilahirkan kembali oleh Roh Tuhan, tetapi banyak yang tidak. Inilah sebabnya kitab suci membedakan antara anak-anak Abraham dan anak-anak Abraham yang sebenarnya. Sesudah Yesus datang, orang percaya dilahirkan kembali ke dalam Perjanjian Baru. Semua yang menjadi anggota Perjanjian Baru memiliki hukum moral Allah yang tertulis di hati mereka. Itulah inti dari Yeremia 31:31-34.
Jadi bagaimana sikap kita ketika mengetahui bahwa hukum moral Allah – hukum moral yang terkandung dalam Sepuluh Hukum – adalah norma atau standar bagi yang ada di dalam Kristus? Pertama, Yeremia 31 mengatakan bahwa hukum akan tertulis di hati semua umat Perjanjian Baru Allah. Kedua, dalam kitab suci Perjanjian Baru kita menemukan bahwa kode moral bagi umat Allah Perjanjian Baru sama dengan kode moral Perjanjian Lama. Kita tetap harus mau menerima standar moral yang sama dan bukan menolaknya.
Misalnya, Kristus meringkaskan hukum Allah dengan cara ini: “Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu. Itulah hukum yang terutama dan yang pertama. Dan hukum yang kedua, yang sama dengan itu, ialah: Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri” (Matius 22: 37-40). Kristus tidak mengada-ada. Dia mengutip Perjanjian Lama. Dan kedua hukum ini dengan jelas meringkas isi dua loh batu tentang Sepuluh Perintah.
Kristus mengajarkan arti sebenarnya dari hukum Perjanjian Lama. Dia tidak mengubahnya tetapi mengajarkan arti sebenarnya. Kristus dan para Rasul mengacu pada hukum Perjanjian Lama untuk menetapkan prinsip-prinsip moral bagi umat Allah dari Perjanjian Baru. Rasul Paulus dalam Roma 13:8-10 menyatakan: “Janganlah kamu berhutang apa-apa kepada siapa pun juga, tetapi hendaklah kamu saling mengasihi. Sebab barangsiapa mengasihi sesamanya manusia, ia sudah memenuhi hukum Taurat. Karena firman: jangan berzinah, jangan membunuh, jangan mencuri, jangan mengingini dan firman lain mana pun juga, sudah tersimpul dalam firman ini, yaitu: Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri! Kasih tidak berbuat jahat terhadap sesama manusia, karena itu kasih adalah kegenapan hukum Taurat.”. Perhatikan juga Paulus dalam suratnya kepada jemaat di Efesus: “Hai anak-anak, taatilah orang tuamu di dalam Tuhan, karena haruslah demikian. Hormatilah ayahmu dan ibumu – ini adalah suatu perintah yang penting, seperti yang nyata dari janji ini: supaya kamu berbahagia dan panjang umurmu di bumi. (Efesus 6:1–3). Mungkin prinsip moralitas dalam keluarga seperti ini juga sudah mulai kabur dalam banyak keluarga Kristen akibat Antinomianisme.
Kita perlu pertimbangkan cara Paulus mengidentifikasi prinsip-prinsip moral yang terkandung dalam hukum sipil Israel (prinsip keadilan umum) dan menerapkannya pada kehidupan gereja Perjanjian Baru. Dia menulis kepada Timotius dengan mengatakan, “Penatua-penatua yang baik pimpinannya patut dihormati dua kali lipat, terutama mereka yang dengan jerih payah berkhotbah dan mengajar. Bukankah Kitab Suci berkata: “Janganlah engkau memberangus mulut lembu yang sedang mengirik,” dan lagi “seorang pekerja patut mendapat upahnya.” (1 Timotius 5:17–18). Paulus memerintahkan agar para penatua yang mengabdikan diri untuk mengajarkan tulisan suci dihormati dengan dua cara. Mereka harus dihormati dengan hormat, dan mereka harus dihormati dengan kompensasi finansial untuk pekerjaan mereka. Apa yang menjadi dasar Paulus atas hal ini? Prinsip moral yang menjadi inti dari hukum sipil yang diberikan kepada Israel, “‘Jangan memberangus mulut lembu yang sedang mengirik biji-bijian,’ dan, ‘Buruh pantas menerima upahnya.'”
Begitu banyak lagi contoh kaidah moral yang bisa diberikan. Intinya sederhana. Hukum moral Allah, yang diringkas dalam Sepuluh Perintah, tetap untuk umat Kristen dalam Perjanjian Baru. Itu adalah standar dan norma kita. Itu ditulis untuk kita, bukan di atas batu, seolah-olah kita hanya menggantungnya di jalan dan mencoba, dengan kekuatan kita sendiri untuk mempertahankannya. Tidak, itu tertulis di hati kita oleh Roh Allah. Oleh kasih karunia-Nya, Ia tidak hanya membasuh dosa-dosa kita dan memperhitungkan kebenaran Kristus kepada kita. Dia juga telah memperbaharui kita sehingga kita dapat mengetahui dan memelihara hukum Allah dari hati.
Pagi ini, biarlah kita menyadari bahwa meskipun orang beriman sejati tidak berada di bawah hukum sebagai perjanjian untuk perbuatan baik guna dibenarkan atau dihukum, namun itu sangat berguna bagi mereka dan juga bagi orang lain. Dalam hal ini, hukum Allah sebagai aturan hidup, memberi tahu mereka tentang kehendak Tuhan dan tugas mereka, itu mengarahkan dan mengikat mereka untuk berjalan sesuai dengan itu. Selain itu, hukum Allah juga berguna untuk menemukan berbagai pencemaran dalam hati dan kehidupan mereka yang berdosa, sehingga dengan memeriksa diri mereka sendiri, mereka dapat sampai pada kekudusan lebih lanjut. Hukum Allah juga memungkinkan timbulnya kebencian mereka terhadap dosa; bersamaan dengan munculnya pandangan yang lebih jelas akan kebutuhan mereka akan Kristus dan perlunya untuk menuju ke arah kesempurnaan dalam ketaatan kepada-Nya. Itu juga berguna bagi orang yang sudah lahir baru untuk menahan kerusakan mereka, karena hukum melarang dosa; dan ancaman hukum berfungsi untuk menunjukkan apa yang layak diterima oleh dosa-dosa mereka, dan kesengsaraan apa yang mungkin mereka harapkan dalam hidup ini, meskipun sudah dibebaskan dari kutukan Allah. Kemauan orang Kristen untuk menaati hukum Allah juga menunjukkan persetujuan atas ketaatan kepada Allah, dan berkaitan dengan berkat-berkat apa yang dapat mereka harapkan atas pelaksanaannya, meskipun bukan hak mereka untuk menerima upah dari perbuatan baik.
“Demikian jugalah kamu. Apabila kamu telah melakukan segala sesuatu yang ditugaskan kepadamu, hendaklah kamu berkata: Kami adalah hamba-hamba yang tidak berguna; kami hanya melakukan apa yang kami harus lakukan.” Lukas 17:10
”Akulah pokok anggur yang benar dan Bapa-Kulah pengusahanya. Setiap ranting pada-Ku yang tidak berbuah, dipotong-Nya dan setiap ranting yang berbuah, dibersihkan-Nya, supaya ia lebih banyak berbuah. Kamu memang sudah bersih karena firman yang telah Kukatakan kepadamu. Tinggallah di dalam Aku dan Aku di dalam kamu. Sama seperti ranting tidak dapat berbuah dari dirinya sendiri, kalau ia tidak tinggal pada pokok anggur, demikian juga kamu tidak berbuah, jikalau kamu tidak tinggal di dalam Aku. Akulah pokok anggur dan kamulah ranting-rantingnya. Barangsiapa tinggal di dalam Aku dan Aku di dalam dia, ia berbuah banyak, sebab di luar Aku kamu tidak dapat berbuat apa-apa. Barangsiapa tidak tinggal di dalam Aku, ia dibuang ke luar seperti ranting dan menjadi kering, kemudian dikumpulkan orang dan dicampakkan ke dalam api lalu dibakar.” Yohanes 15: 1-8
Pada poin-poin penting dalam pelayanan-Nya, Kristus menekankan kesetaraan-Nya dengan Allah dalam terminologi yang sangat jelas. Yesus telah berkata, “Akulah terang dunia” (Yohanes 8:12); “Akulah roti hidup” (Yohanes 6:35); “Akulah Jalan” (Yohanes 14:6); dan “Akulah Pintu” (Yohanes 10:9). Sekarang, pada malam sebelum kematian-Nya, Dia memberi tahu mereka, “Akulah Pokok Anggur.” Seperti perikop lainnya yang dicatat dalam Injil Yohanes, ini pun menunjuk pada keilahian-Nya. Masing-masing terminologi adalah metafora yang mengangkat Yesus ke tingkat Pencipta, Pemelihara, Juruselamat, dan Tuhan – gelar yang hanya bisa diklaim oleh Tuhan.
Metafora dalam Yohanes 15 adalah pokok anggur dan cabang-cabangnya. Pokok anggur adalah sumber dan penopang hidup bagi ranting-rantingnya, dan ranting-ranting itu harus tinggal di dalam pokok anggur untuk hidup dan menghasilkan buah. Yesus, tentu saja, adalah pokok anggur, dan rantingnya adalah manusia. Meskipun jelas bahwa cabang-cabang yang berbuah melambangkan orang-orang Kristen sejati, identitas cabang-cabang yang tidak berbuah dipertanyakan. Beberapa peneliti Alkitab mengatakan cabang yang mandul adalah orang Kristen yang tidak menghasilkan buah rohani. Yang lain percaya bahwa mereka bukan orang Kristen. Manakah yang benar?
Arti sebenarnya dari metafora menjadi jelas ketika kita mempertimbangkan karakter dalam drama malam itu. Para murid waktu itu bersekutu bersama Yesus. Dia sangat mencintai mereka; Dia telah menghibur mereka dengan kata-kata dalam Yohanes pasal 14. Tapi Dia juga menyadari adanya orang lain, si pengkhianat. Yudas yang telah dikeluarkan dari persekutuan ketika dia menolak seruan kasih Yesus yang terakhir.
Semua karakter drama itu ada dalam pikiran Yesus. Dia melihat kesebelas murid, yang sangat Dia kasihi dan penuh semangat. Dan Dia pasti berduka atas Yudas, yang Dia kasihi tanpa syarat. Semua karakter itu berperan dalam metafora Yesus. Pokok anggur adalah Kristus; pemilik kebun anggur adalah Sang Bapa. Cabang-cabang yang menghasilkan buah melambangkan kesebelas murid dan semua murid sejati sejak zaman terbentuknya gereja. Cabang yang tidak berbuah melambangkan Yudas dan semua orang yang tidak pernah menjadi murid sejati.
Yesus sudah lama menyadari perbedaan antara Yudas dan kesebelas lainya. Setelah membasuh kaki para murid, Dia berkata, “‘Barangsiapa telah mandi, ia tidak usah membasuh diri lagi selain membasuh kakinya, karena ia sudah bersih seluruhnya. Juga kamu sudah bersih, hanya tidak semua.” Sebab Ia tahu, siapa yang akan menyerahkan Dia. Karena itu Ia berkata: “Tidak semua kamu bersih.” (Yohanes 13:10-11). Begitu seseorang diampuni oleh Tuhan, dia bersih dan tidak membutuhkan mandi untuk pengampunan lagi. Yang diperlukan hanyalah membersihkan debu dan kotoran dosa sehari-hari dari kakinya.
Seorang umat Tuhan yang melakukan dosa tidak perlu diselamatkan lagi; dia hanya perlu memulihkan hubungan pribadinya dengan Sang Bapa. Tetapi Yudas bahkan belum “dimandikan”, karena ia bukan anak Allah, dan Yesus mengetahuinya. Itu sebabnya Dia menambahkan, “tidak semua dari kalian bersih.” Yudas tampak seperti murid-murid lainnya. Dia bersama Yesus untuk waktu yang sama – dia bahkan diberi tanggung jawab untuk menyimpan uang. Tampaknya dia adalah cabang pohon anggur seperti yang lainnya, tetapi dia tidak pernah menghasilkan buah yang nyata. Allah akhirnya mencabut cabang itu dari pokok anggur, dan kemudian dibakar.
Beberapa orang akan mengatakan Yudas telah kehilangan keselamatannya. Menurut mereka, hal yang sama bisa terjadi pada setiap orang percaya yang tidak menghasilkan buah. Tetapi Yesus berjanji kepada anak-anak-Nya, “Aku memberikan hidup yang kekal kepada mereka dan mereka pasti tidak akan binasa sampai selama-lamanya dan seorang pun tidak akan merebut mereka dari tangan-Ku” (Yohanes 10:28). Dia menjamin keamanan anak Allah: “Semua yang diberikan Bapa kepada-Ku akan datang kepada-Ku, dan barangsiapa datang kepada-Ku, ia tidak akan Kubuang.” (Yohanes 6:37).
Seorang Kristen sejati tidak dapat kehilangan keselamatannya dan dikutuk ke neraka. Ranting yang benar-benar terhubung dengan pokok anggur akan aman dan tidak akan pernah disingkirkan. Tapi satu yang hanya tampak terhubung – yang hanya memiliki koneksi dangkal – akan potong. Jika ia tidak memiliki kehidupan yang mengalir dari pokok anggur, ia tidak akan menghasilkan buah. Itu adalah Yudas.
Ada orang yang, seperti Yudas, menurut persepsi manusia tampak bersatu dengan Kristus, tetapi mereka adalah orang murtad yang akan masuk neraka. Mereka mungkin menghadiri gereja, mengetahui semua jawaban yang benar, dan mengikuti gerakan keagamaan; tetapi tidak nampak buahnya. Tuhan akan menyingkirkan mereka, dan mereka akan dibakar. Yang lainnya, seperti sebelas murid, benar-benar terhubung dengan pokok anggur dan memang menghasilkan buah anggur.
Tuhan telah melakukan semua yang Dia bisa untuk membuat bangsa Israel menghasilkan buah, namun tidak menghasilkan buah. Mereka justru menyalibkan Yesus. Jadi Dia mengambil temboknya dan membiarkannya tidak terlindungi. Itulah sebabnya bangsa Israel kemudian diinjak-injak oleh negara asing dan dihancurkan. Israel bukan lagi pokok anggur Allah; bangsa itu telah kehilangan hak istimewanya. Sekarang ada pokok anggur baru. Berkat tidak lagi datang melalui hubungan perjanjian dengan Israel. Buah dan berkat datang melalui hubungan dengan Yesus Kristus, Sang Pokok Anggur..
Yesus memilih sosok pohon anggur karena beberapa alasan. Kerendahan pohon anggur menunjukkan kerendahan hati-Nya. Itu juga menggambarkan kesatuan yang dekat, permanen, dan vital antara pokok anggur dan ranting. Itu adalah simbol dari kepemilikan, karena ranting-ranting sepenuhnya milik pokok anggur; jika cabang ingin hidup dan menghasilkan buah, mereka harus sepenuhnya bergantung pada pokok anggur untuk makanan, penopang, kekuatan, dan vitalitas.
Namun banyak orang yang menyebut dirinya Kristen gagal untuk bergantung pada Kristus. Alih-alih terikat pada pokok anggur yang benar, mereka terikat pada rekening bank. Yang lain mungkin terikat pada pendidikan mereka. Banyak yang telah mencoba menjadi ranting yang merambat dari popularitas, ketenaran, keterampilan pribadi, kepemilikan, hubungan, atau keinginan daging. Beberapa orang mengira gereja adalah pokok anggur mereka, dan mencoba mengikatkan diri pada teologi dan pengajaran pendetanya. Tetapi tidak satu pun dari hal-hal itu yang dapat menopang hidup orang Kristen untuk menghasilkan buah yang asli. Mereka semuanya adalah ranting yang tidak berguna.
Mereka yang disingkirkan hanya tampak terhubung dengan Kristus. Mereka tidak benar-benar tinggal di dalam Dia. Mereka tidak pernah diselamatkan. Mereka adalah ranting-ranting, yang seperti Yudas, tidak benar-benar mengikuti Yesus, imannya mati, dan tidak menghasilkan buah. Pada suatu saat, Sang Bapa akan memindahkan mereka untuk memelihara kehidupan dan kesuburan cabang-cabang lainnya.
“Tetapi buah Roh ialah: kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan, penguasaan diri. Tidak ada hukum yang menentang hal-hal itu.” Galatia 5:22-23
Ranting-ranting yang menghasilkan buah dipangkas agar menghasilkan lebih banyak buah. Kita tahu ranting-ranting ini melambangkan orang Kristen, karena hanya orang Kristen yang dapat menghasilkan buah yang membawa kemuliaan kepada Yesus. Pemangkasan tidak dilakukan hanya sekali – itu adalah proses yang konstan. Bapa memangkas sebuah ranting agar dapat menghasilkan lebih banyak buah.
Inti dari kehidupan Kristen adalah menghasilkan buah. Efesus 2:10 mengatakan, “Karena kita ini buatan Allah, diciptakan dalam Kristus Yesus untuk melakukan pekerjaan baik, yang dipersiapkan Allah sebelumnya. Ia mau, supaya kita hidup di dalamnya.” Buah keselamatan adalah perbuatan baik. Yakobus 2:17 menjelaskan hubungan erat antara iman dan perbuatan, “Demikian juga iman, jika tidak ada perbuatan, adalah mati, dengan sendirinya.” Jika iman yang menyelamatkan itu sah, itu pasti menghasilkan buah. Itu tidak berarti seseorang diselamatkan oleh perbuatan, tetapi perbuatan adalah bukti bahwa iman itu asli.
Yesus berkata bahwa seorang percaya sejati dapat diuji dari buahnya. Dalam Matius 7:16-17 Ia berkata, “Dari buahnyalah kamu akan mengenal mereka. Dapatkah orang memetik buah anggur dari semak duri atau buah ara dari rumput duri? Demikianlah setiap pohon yang baik menghasilkan buah yang baik, sedang pohon yang tidak baik menghasilkan buah yang tidak baik.” Ilustrasi Yesus tidak masuk akal jika orang Kristen tidak perlu menghasilkan buah, apalagi jika mereka justru menghasilkan apa yang tidak dikehendaki oleh Bapa.
Yohanes Pembaptis mengakui hubungan antara keselamatan dan menghasilkan buah. Ketika dia melihat orang-orang Farisi dan Saduki datang untuk dibaptis, dia berkata: ”Hai kamu keturunan ular beludak. Siapakah yang mengatakan kepada kamu, bahwa kamu dapat melarikan diri dari murka yang akan datang? Jadi hasilkanlah buah yang sesuai dengan pertobatan.” (Matius 3:7-8). Tidak adanya buah yang baik menunjukkan bahwa pertobatan mereka pada saat menerima uluran tangan Yesus adalah tidak tulus.
Pagi ini, jika Anda merasa yakin bahwa Anda adalah orang terpilih, Anda perlu memastikan bahwa pertobatan Anda itu asli. Rasul Paulus berkata, “Ujilah dirimu sendiri, apakah kamu tetap tegak di dalam iman. Selidikilah dirimu! Apakah kamu tidak yakin akan dirimu, bahwa Kristus Yesus ada di dalam diri kamu? Sebab jika tidak demikian, kamu tidak tahan uji.” (2 Korintus 13:5).
Bahan diambil dari tulisan Dr. John MacArthur (1984)