Adanya kemalangan menunjukkan kedaulatan dan kasih Tuhan

“Akulah Tuhan dan tidak ada yang lain, yang menjadikan terang dan menciptakan gelap, yang menjadikan nasib mujur dan menciptakan nasib malang; Akulah Tuhan yang membuat semuanya ini.” Yesaya 45:7

Jika kita membaca berita dalam surat kabar atau dari media eletronik, pastilah kita bisa melihat bahwa setiap hari selalu ada saja kabar buruk yang terjadi di dunia. Tidak hanya berita tentang adanya kekacauan di bidang sosial, ekonomi dan politik di berbagai tempat, tetapi juga adanya penderitaan yang dialami manusia karena adanya kelaparan, penyakit, penganiayaan, kejahatan, perang atau kecelakaan. Apalagi, ada kejadian-kejadian dimana sejumlah besar manusia yang nampaknya tidak bersalah, menemui kematian pada waktu yang bersamaan akibat suatu bencana.

Kemarin dulu, ada berita buruk yang muncul di media Australia. Sebuah bis sewaan yang mengangkut 35 penumpang yang baru menghadiri sebuah pesta pernikahan di daerah Hunter Valley, terguling di sebuah bundaran di persimpangan. Diperkirakan ada 10 penumpang yang tewas seketika, dan banyak lagi yang cedera. Mengapa ini bisa terjadi masih belum dapat dipastikan, tetapi ada dugaan bahwa supir bis itu ingin mempertunjukkan kemahirannya dalam menyetir bis pada kecepatan tinggi. Sekarang supir bis itu berada dalam tahanan polisi.

Kegembiraan mereka yang merayakan pesta pernikahan, secara tiba-tiba menjadi kesedihan yang besar. Bagi teman dan sanak dari mereka yang mengalami kecelakaan, tentunya ada pertanyaan mengapa ini harus terjadi. Untuk banyak orang lain, Kristen maupun bukan, memang sering muncul pertanyaan apakah Tuhan selalu dibalik semua bencana di dunia ini. Pertanyaan ini tidak mudah dijawab karena Alkitab banyak menceritakan saat- saat dimana Tuhan marah dan menjatuhkan hukuman kepada orang atau bangsa tertentu.

Mengapa bencana harus terjadi? Tidak ada seorangpun yang dapat memberikan jawaban yang memuaskan semua orang, terutama mereka yang mengalaminya. Namun ada beberapa pokok pemikiran yang bisa kita pelajari dari Alkitab.

  • Tuhan adalah Sang Pencipta dan maha kasih. Sebagai Tuhan yang mencipta dan menghargai ciptaan-Nya, Ia tidak mungkin menjadi Tuhan yang senang merusak ciptaan-Nya sendiri. Lebih dari itu, Tuhan justru ingin agar umat-Nya hidup bahagia.
  • Tuhan mahakuasa dan mahasuci, dan Ia ingin agar mereka yang dipilih-Nya untuk hidup sesuai dengan perintah-Nya. Karena itu, kadang-kadang Ia memberikan hajaran agar mereka bertobat.
  • Manusia sudah jatuh dalam dosa dan dunia bukanlah Firdaus lagi. Sesuatu yang buruk terjadi karena yang baik sudah hilang. Dunia ini menjadi kacau dan iblis selalu berusaha menghancurkan manusia.
    Dalam keadaan khusus, bencana bisa terjadi sebagai hukuman Tuhan. Ini terjadi karena kesalahan manusia sendiri, terutama jika pempimpin atau bangsa melakukan hal-hal yang jahat.
  • Tuhan tidak membuat manusia berbuat jahat atau berbuat dosa. Manusia berbuat jahat adalah karena kehendaknya sendiri, dan bahkan semua manusia adalah berdosa sejak lahirnya. Manusia harus bertanggung jawab atas moralnya. Jika supir bis mengambil keputusan untuk mengebut, itu bukan karena Tuhan yang membuatnya.
  • Bencana bisa terjadi kepada siapapun juga. Jika seorang mengalami bencana, itu belum tentu sehubungan dengan dosanya. Belum tentu itu menunjukkan bahwa dosanya lebih besar dari dosa orang lain.

Lalu, mengapa Allah yang baik dan pengasih membiarkan tragedi seperti itu terjadi? Ini adalah pertanyaan yang juga sulit untuk dijawab.

  • Pertama, kita harus ingat, “Karena sama seperti langit lebih tinggi dari bumi, demikianlah tingginya jalan-Ku dari jalanmu, dan rancangan-Ku dari rancanganmu” (Yesaya 55:9). Mustahil bagi manusia yang terbatas untuk memahami jalan Allah yang tidak terbatas (Roma 11:33-35).
  • Kedua, kita harus menyadari bahwa Tuhan tidak bertanggung jawab atas tindakan jahat orang jahat. Alkitab memberitahu kita bahwa manusia dalam kebebasannya sangat jahat dan berdosa (Roma 3:10-18, 23).
  • Ketiga, Allah mengizinkan manusia melakukan dosa karena alasan-Nya sendiri dan untuk memenuhi tujuan-Nya sendiri. Kadang-kadang kita berpikir bahwa kita mengerti mengapa Tuhan melakukan sesuatu, hanya untuk mengetahui kemudian bahwa itu untuk tujuan yang berbeda dari yang kita pikirkan semula.

Satu hal yang juga harus kita sadari ialah sifat Tuhan yang mahakasih tentulah bertentangan dengan pandangan sebagian agama atau pendapat beberapa pemuka agama, bahwa Dialah yang menyebabkan munculnya malapetaka. Dalam Yohanes 3:16 kita tahu bahwa karena Tuhan mencintai seisi dunia, Ia sudah memberikan jalan keselamatan melalui Yesus Kristus. Dengan kasih yang sedemikian besarnya, tidaklah mungkin bahwa Tuhan bermaksud membiarkan orang-orang atau bangsa-bangsa tertentu untuk menderita jika tidak ada sebabnya.

Kita harus menyadari bahwa karena bumi ini sudah jatuh kedalam dosa, hidup semua makhluk tidak lagi dapat memperoleh ketenteraman. Karena dunia ini adalah dunia yang tidak sempurna, manusia secara perorangan atau kolektif, bisa membuat kesalahan yang bisa mencelakakan orang lain atau dirinya sendiri. Dalam hal ini, kita harus ingat bahwa iblis dengan segala usahanya juga berusaha menghancurkan kehidupan manusia.

Dalam keadaan yang demikian, bagi umat Kristen satu-satunya pegangan hidup adalah kasih Tuhan yang sudah mengurbankan Anak-Nya yang tunggal untuk menebus dosa manusia. Karena sedemikian besar kasih Tuhan kepada manusia, Ia sebenarnya tidak menginginkan adanya bencana apapun pada diri manusia. Walaupun begitu, karena dosa yang diperbuat manusia, Tuhan bisa memungkinkan terjadinya hal-hal yang menyedihkan sebagai peringatan dan hukuman. Selain itu, dalam berbagai penderitaan, kuasa Tuhan bisa terasa dan membuat orang mau berserah kepada-Nya.

Kita seringkali tidak mengerti mengapa Ia mengambil keputusan tertentu atau membiarkan hal-hal yang buruk terjadi di dunia. Tetapi, satu hal yang kita mengerti adalah hidup di dunia ini hanyalah sebagian kecil dari hidup manusia. Orang mungkin hidup di dunia untuk 70-80 tahun dan dalam jangka waktu yang relatif singkat itu berbagai kesukaran dan penderitaan bisa muncul (Mazmur 90: 10). Tetapi apa yang datang sesudah hidup di dunia adalah yang lebih penting; masa yang abadi dimana kita sudah menerima garansi untuk bisa menikmati kebahagiaan yang penuh dengan Tuhan. Hidup yang singkat di dunia, dengan demikian bisa kita gunakan untuk menolong mereka yang menderita, agar mereka bisa mengenal Tuhan yang mahakasih seperti kita.

Pagi ini, sebagai umat percaya kita diingatkan untuk selalu berdoa meminta perlindungan Tuhan agar bencana tidak terjadi dalam hidup kita, dalam keluarga, gereja, bangsa dan negara. Kita juga harus berdoa agar semua orang yang ada dalam hidup kita berjalan di jalan yang benar, untuk tidak menghujat nama Tuhan atau meninggikan diri sendiri. Lebih dari itu, apapun yang terjadi dalam hidup kita, kita harus percaya bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu yang terjadi dalam hidup kita untuk mendatangkan kebaikan bagi kita di masa mendatang.

“Kita tahu sekarang, bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah.” Roma 8:28

Menjalankan tugas yang diberikan Tuhan

“Aku telah mengakhiri pertandingan yang baik, aku telah mencapai garis akhir dan aku telah memelihara iman.” 2 Timotius 4:7

Adakah tugas yang diberikan Tuhan kepada Anda? Anda mungkin menjawab bahwa sebagai anggota biasa dari sebuah gereja, tidak ada tugas khusus yang anda miliki. Anda bukan pendeta, anggota majelis atau pengurus gereja, dengan demikian mungkin Anda berpikir bahwa sekali seminggu ke gereja dan berdoa secara teratur setiap hari adalah tugas Anda.

Setiap umat Kristen sudah diubah dari hamba dosa menjadi hamba kebenaran, hamba Tuhan. Tugas seorang hamba adalah melaksanakan tugas yang diberikan untuk keperluan sang majikan, bukan untuk kepentingan sang hamba. Dengan demikian, setiap orang Kristen tentunya harus melakukan sesuatu untuk kemuliaan Tuhan. Tidaklah cukup bagi orang Kristen untuk menjadi hamba yang pasif, yang hanya menikmati segala berkat Tuhan, tetapi tidak merasa mempunyai tugas dan tanggung jawab untuk melaksanakan tugas dari Tuhan.

Sebagian orang Kristen merasa bahwa karena ia sudah menerima keselamatan, tidaklah perlu baginya untuk berbuat sesuatu untuk keselamatannya. Itu benar. Tetapi, itu bukan berarti bahwa kita tidak mempunyai tugas-tugas tertentu, yang secara spesifik diberikan kepada tiap orang Kristen. Orang Kristen yang sejati adalah orang yang merasa bersyukur kepada Tuhan yang menebusnya, dan mau menjadi hamba Kristus yang setia. Ia harus mencari tugas apa yang diberikan Tuhan kepadanya, dan tidak hanya berdiam diri menikmati hidupnya. Ia harus berdoa, berpikir dan berusaha dengan giat untuk mencari kehendak Tuhan dan setelah mengetahui tugasnya, ia akan berjuang untuk melaksanakannya untuk kemuliaan Tuhan.

Mereka yang merasa tidak mempunyai tugas mungkin belum sepenuhnya menjadi hamba Kristus atau belum mengenal Dia. Mereka yang menolak adanya tugas dari Tuhan, dapat dipastikan bukanlah orang Kristen, karena hanya Iblis dan pengikutnya yang secara terang-terangan tidak mau tunduk kepada Tuhan. Setiap orang Kristen yang sejati harus pernah bertanya kepada Tuhan: apakah tugas yang Engkau berikan kepadaku? Apakah perbuatan baik yang harus aku lakukan?

Jika orang Kristen sering bingung tentang apa yang harus dilakukannya sebagai hamba yang setia, Alkitab menyatakan adanya banyak perntah Tuhan yang perlu kita taati. Walaupun demikian, salah satu tugas yang harus kita lakukan dalam hidup kita adalah apa yang disebut sebagai “Amanat Agung” atau “The Great Comission“.

“Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus, dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu. Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman.” Matius 28: 19-29

Menurut ajaran gereja-gereja injili, perbuatan baik adalah konsekuensi dari keselamatan dan bukan pembenarannya. Mereka adalah tanda iman yang tulus dan bersyukur. Itu termasuk tindakan untuk melaksanakan Amanat Agung, pelayanan di gereja dan perbuatan amal. Jika kita mau melakukan tugas-tugas ini, itu menunjukkan bahwa iman kita bukanlah apa yang mati.

“Demikian juga halnya dengan iman: Jika iman itu tidak disertai perbuatan, maka iman itu pada hakekatnya adalah mati.” Yakobus 2: 17

Setiap orang Kristen seharusnya mau untuk melaksanakan tugas-tugasnya sampai Tuhan memanggilnya. “Aku telah mengakhiri pertandingan yang baik” adalah anak kalimat kedua dari tiga ayat (6, 7, dan 8) yang ditulis oleh rasul Paulus kepada Timotius. Sang rasul menulis kata-kata ini menjelang akhir hidupnya. Ketiga pernyataan ini mencerminkan pergumulan Paulus dalam memberitakan Injil Kristus dan kemenangannya atas pergumulan tersebut. Paulus mendapatkan tugas dari Tuhan untuk menjadi rasul dan mengajarkan Injil ke berbagai tempat. Kita juga mendapat perintah untuk mengajarkan Injil, sekalipun bukan sebagai rasul. Paulus berjuang mati-matian untuk melaksanakan tugasnya, dan kita pun harus demikian, di mana pun kita hidup dan bekerja. Paulus berjuang sampai saat ia dipanggil Tuhan, dan begitu juga kita harus menjadi hamba yang setia sampai mati.

Pada abad ke-1, orang Romawi merayakan Olimpiade dan Pertandingan Isthmian. Pesaing akan menghabiskan hingga sepuluh bulan dalam latihan fisik yang berat. Karena orang-orang Korintus sangat akrab dengan peristiwa-peristiwa ini, Paulus menggunakan pertandingan itu sebagai analogi dari kehidupan orang percaya yang setia. Dia menulis kepada jemaat di Korintus dengan mengatakan, “Tidak tahukah kamu, bahwa dalam gelanggang pertandingan semua peserta turut berlari, tetapi bahwa hanya satu orang saja yang mendapat hadiah? Karena itu larilah begitu rupa, sehingga kamu memperolehnya! Tiap-tiap orang yang turut mengambil bagian dalam pertandingan, menguasai dirinya dalam segala hal. Mereka berbuat demikian untuk memperoleh suatu mahkota yang fana, tetapi kita untuk memperoleh suatu mahkota yang abadi.” (1 Korintus 9:24-25). Nasihat Paulus adalah bahwa orang percaya harus berfokus dan berdedikasi seperti para pelari kuno dalam pertandingan. Motivasi kita dalam melayani Kristus jauh lebih tinggi; kita “bertanding” bukan untuk mahkota sementara, tetapi untuk mahkota yang kekal.

Dalam suratnya kepada Timotius, Paulus tidak memuji dirinya sendiri karena telah “berlari sejauh mungkin”; sebaliknya, dia hanya menggambarkan apa yang telah dimampukan oleh kasih karunia Allah untuk dia lakukan. Dalam kitab Kisah Para Rasul, Paulus mengatakan kata-kata yang penuh kuasa ini: “Tetapi aku tidak menghiraukan nyawaku sedikit pun, asal saja aku dapat mencapai garis akhir dan menyelesaikan pelayanan yang ditugaskan oleh Tuhan Yesus kepadaku untuk memberi kesaksian tentang Injil kasih karunia Allah.” (Kisah Para Rasul 20:24).

Jadi, dengan menyatakan “Aku telah mencapai garis akhir”, Paulus memberi tahu Timotius bahwa dia telah mengerahkan segala upaya untuk memberitakan Injil keselamatan ke seluruh dunia. Dia telah menyelesaikan tujuan yang ditetapkan sebelumnya; dengan sepenuhnya, tanpa mengabaikan satu tugas pun. Dia siap melintasi garis finis menuju surga.

Komitmen Kristiani seperti perlombaan maraton, lari jarak jauh. Ada wajah-wajah segar dan bersemangat pada saat balapan dimulai, tetapi di sepanjang rute yang melelahkan sepanjang 42 km, satu demi satu pesrtanya keluar sebelum finis. Jika Anda tidak serius menghadapi panggilan Tuhan untuk Anda, itu adalah dosa dan tragedi yang menyedihkan. Kitab Suci mengatakan bahwa waktunya singkat. Tuhan telah memberi kita pintu terbuka, dan Dia telah memberi kita alat dan teknologi untuk menyentuh seluruh dunia jika Anda dan saya bersungguh-sungguh.

Mungkin sebagian di antara kita mengeluh bahwa sebagai orang yang sederhana ia tidak mampu untuk mengabarkan injil seperti seorang yang terlatih untuk itu, tidak bisa melakukan pelayanan di gereja karena usia dan lain hal, dan tidak mampu melakukan perbuatan amal karena ia justru membutuhkan bantuan orang lain. Tetapi Alkitab tidak membatasi perbuatan baik dalam tiga hal saja. Perbuatan baik yang memuliakan Allah dan yang dapat membawa orang lain ke dalam iman adalah apa saja yang kita lakukan dengan tanggung jawab sepenuhnya dalam hidup kita.

“Aku menjawab: Jika engkau makan atau jika engkau minum, atau jika engkau melakukan sesuatu yang lain, lakukanlah semuanya itu untuk kemuliaan Allah. Janganlah kamu menimbulkan syak dalam hati orang, baik orang Yahudi atau orang Yunani, maupun Jemaat Allah. Sama seperti aku juga berusaha menyenangkan hati semua orang dalam segala hal, bukan untuk kepentingan diriku, tetapi untuk kepentingan orang banyak, supaya mereka beroleh selamat. 1 Korintus 10: 31-33

Dalam pertandingan, hanya satu pelari yang menang. Namun, dalam “pertandingan” Kristen, setiap orang yang membayar harga pelatihan yang waspada demi Kristus dapat menang. Kita tidak bersaing satu sama lain, seperti dalam permainan atletik, tetapi melawan pergumulan, fisik dan rohani, yang menghalangi kita untuk mencapai hadiah (Filipi 3:14).

Pagi ini kita diingatkan bahwa setiap orang percaya menjalankan pertandingannya sendiri (1 Korintus 9:24). Setiap orang Kristen dimampukan untuk menjadi pemenang. Paulus menasihati kita untuk “berlari sedemikian rupa untuk memperoleh hadiah,” dan untuk melakukan ini kita harus mengesampingkan apa pun yang dapat menghalangi kita untuk menjalankan dan mengajarkan Injil Kristus. Penulis Ibrani menggemakan kata-kata Paulus: “Kesampingkan setiap beban dan dosa yang begitu merintangi kita, dan marilah kita berlomba dengan tekun dalam perlombaan yang diwajibkan bagi kita, memandang kepada Yesus, penulis dan penyelesaian iman kita. ” (Ibrani 12:1-2). Semoga kita rajin dalam “pertandingan” kita, semoga kita tetap berfokus pada tujuan yang benar, dan semoga kita, seperti Paulus, menyelesaikannya dengan kuat.

Apa arti kaum yang lebih lemah?

Demikian juga kamu, hai suami-suami, hiduplah bijaksana dengan isterimu, sebagai kaum yang lebih lemah! Hormatilah mereka sebagai teman pewaris dari kasih karunia, yaitu kehidupan, supaya doamu jangan terhalang. 1 Petrus 3:7

Ayat di atas adalah salah satu ayat Alkitab yang sering menimbulkan kontroversi di kalangan orang Kristen. Ayat itu menyebutkan bahwa kaum wanita adalah kaum yang lebih lemah dari kaum pria. Dalam Alkitab berbahasa Inggris, kaum wanita disebutkan sebagai “bejana” yang lebih lemah, yang lebih mudah pecah.

Sampai saat ini banyak wanita anggota gereja yang merasa bahwa ayat ini agaknya berbunyi janggal, untuk tidak dikatakan merendahkan derajat kaum wanita secara keseluruhan. Memang di zaman sekarang, tidak ada yang menghalangi kaum wanita untuk memilih pekerjaan apa pun, dan dalam banyak hal lebih bisa diandalkan jika dibandingkan dengan kaum pria. Bahkan di negara maju, kaum wanita bisa menjadi CEO, Presiden, menteri ataupun jendral. Dalam bidang olahraga, mereka bisa bertanding dalam bidang apa pun, termasuk tinju, gulat, angkat besi dan sepakbola.

Seringkali, kaum wanita Kristen yang merasa tersinggung dengan bunyi tulisan rasul Petrus, dihibur dengan alasan bahwa pada zaman Alkitab PB ditulis, kebudayaan saat itu masih didominasi oleh kaum pria. Emansipasi kaum wanita belum terjadi, jadi rasul Petrus agaknya menulis berdasarkan keadaan dunia pada saat itu yang belum menyadari bahwa wanita bukanlah makhluk lemah. Mungkin pada zaman itu wanita memang pantas dianggap kaum lemah, dan karena itu harus tunduk kepada kaum pria. Sekalipun ini kelihatannya masuk akal, ini bukanlah penjelasan yang benar.

Sebenarnya, konteks 1 Petrus 3:7 adalah petunjuk Rasul Petrus tentang hidup sebagai orang percaya, dalam hubungan satu sama lain yang dimulai dari hubungan dalam keluarga (1 Petrus 3:1-12). Istri harus dikasihi dulu, dan kemdian istri menghormati suami. Ini adalah urutan yang sama yang digunakan Rasul Paulus dalam Efesus 5:22-33. Memang seperti Tuhan mengasihi manusia, suami harus mengasihi istrinya. Suami juga harus mengasihi istrinya seperti ia mengasihi dirinya sendiri (Efesus 5: 25-28).

Membandingkan pria dan wanita, mungkin tidak ada orang yang membantah bahwa pada umumnya pria lebih kuat fisiknya daripada wanita, sekalipun umur wanita secara umum lebih panjang dari kaum pria. Karena itulah, dalam olahraga, tim pria tidak bertanding melawan tim wanita. Dengan demikian, dapatlah dipahami bahwa tidaklah keliru jika Petrus menyebut kaum wanita sebagai kaum yang lebih lemah, yang perlu dibantu oleh kaum pria dalam hal-hal tertentu. Dalam kehidupan rumah tangga, ini memerlukan kebijaksanaan suami sebab dia tidak dapat menganggap sang istri tidak bisa berbuat apa-apa tanpa dukungannya, atau mengira istri selalu dapat menjalankan segala sesuatu tanpa perlu melibatkan sang suami. Pada pihak yang lain, adalah kenyataan bahwa banyak suami yang membutuhkan bantuan istrinya dalam berbagai hal.

Bahwa wanita biasanya lebih lemah secara fisik, tidak berarti dia kurang berharga (Efesus 1:6) atau bahwa dia tidak memiliki akses yang sama terhadap kasih karunia Tuhan (Galatia 3:28). Dalam hal kebijaksanaan, seorang istri membangun rumah tangganya (Amsal 14: 1). Dengan demikian, adalah penting bagi seorang suami untuk memperlakukan istrinya dengan pengertian, penghargaan, kelembutan, dan kesabaran. Ayat di atas menyatakan bahwa seorang suami harus menghormati istrinya sebagai teman pewaris dari kasih karunia Tuhan, yaitu kehidupan, supaya mereka dapat bersama-sama berdoa kepada Tuhan untuk bimbingan dan berkat-Nya.

Seorang pria membutuhkan seorang wanita sebagai seorang pendamping, dan itu diketahui Allah sejak mulanya. Tuhan Allah berkata: ”Tidak baik, kalau manusia itu seorang diri saja. Aku akan menjadikan penolong baginya, yang sepadan dengan dia.” Mengapa Allah mengatakan bahwa tidak baik bagi Adam untuk hidup seorang diri? Tentu Tuhan tahu bahwa Adam tidak mungkin menjadi manusia yang serba bisa dan sanggup mengelola segenap ciptaan Tuhan. Adam memerlukan seorang penolong yang sepadan. Apa arti kata sepadan? Sepadan bukan menunjuk kepada kesamaan dalam penampilan dan kemampuan, tetapi kecocokan dalam fungsi dan kedudukan. Pria dan wanita memang diciptakan untuk saling melengkapi.

Sebagai umat Kristen, kita memahami dinamika kehidupan orang percaya bertentangan dengan sudut pandang manusia dan “kebijaksanaan” duniawi. Dari segi emansipasi wanita, kata “kelemahan” ini dapat menyebabkan pertentangan besar padahal seharusnya tidak ada sama sekali. Justru karena wanita lebih lemah secara fisik, mereka perlu diperlakukan dalam masyarakat unum dengan pengertian dan rasa hormat. Dari situlah muncul istilah “ladies first” yakni memberi kesempatan pertama kepada kaum wanita untuk mengambil makanan, tempat duduk dll. Dalam lingkungan keluarga, seorang suami dapat menunjukkan kasihnya kepada sang istri dengan mengutamakan istrinya. Dengan demikian, jika seorang istri menolak perhatian yang penuh kasih dari suaminya, ia membuang kebahagiaan yang diberikan kepadanya. Serupa dengan itu, jika seorang wanita sering menolak mentah-mentah tawaran bantuan dari rekan-rekan prianya, ia menyia-nyiakan kesempatan untuk dihormati sebagai makhluk ciptaan Tuhan yang sepadan.

Cara seorang suami memberikan dirinya untuk istrinya adalah dengan menghormatinya secara khusus karena dia adalah istrinya. Tentu saja, ini idealnya dan bukan sesuatu yang bisa terjadi dalam semalam. Seorang pria dan seorang wanita memulai hubungan mereka ketika mereka menikah, tetapi apakah hubungan itu berhasil atau tidak berhubungan langsung dengan suami dan istri mengambil tempat mereka sesuai dengan perintah Tuhan dan ketundukan mereka dalam menaati Tuhan. Prinsip-prinsip di sini diberikan kepada orang percaya; namun, prinsip-prinsip ini berlaku baik pasangan itu beriman atau tidak atau bahkan jika hanya satu yang beriman.

Rasul Paulus menambahkan banyak bobot pada ide ini karena dia menulis bahwa suami adalah kepala keluarga seperti Kristus adalah kepala gereja (Efesus 5:23) dan karena itu suami harus mengasihi istrinya “seperti ” (membuat perbandingan) atau dengan cara yang sama Kristus mengasihi gereja dan memberikan diri-Nya untuk itu (Efesus 5:25). Itu berarti suami seharusnya mau memikul tanggung jawab yang lebih besar dalam pernikahan daripada sang istri. Dia adalah pemimpin, dan seperti seorang dirigen dia harus bisa mengatur nada hubungan dalam keluarga agar bisa terdengar harmonis.

Hari ini kita belajar bahwa baik pria dan wanita adalah ciptaan Tuhan yang sepadan dan yang saling melengkapi. Baik pria maupun wanita adalah sederajat di hadapan Tuhan dan keduanya dapat memperoleh berkat dan karunia Tuhan. Walaupun demikian, adalah baik jika pria dan wanita saling menyadari fungsi, kelemahan dan keistimewaan masing-masing, terutama dalam hidup berumah tangga. Selain itu, dalam hal pekerjaan dan jabatan, pria dan wanita bisa memegang kedudukan yang sesuai dengan kemampuan fisik mereka. Perbedaan kemampuan fisik antara pria dan wanita diciptakan oleh Tuhan agar mereka bisa saling melengkapi dan saling mengasihi dan saling menghormati.

Roma 8:28 yang sering disalahgunakan

“Kita tahu sekarang, bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah.” Roma 8:28

Ayat di atas adalah ayat yang sangat terkenal dan sering dipakai untuk menghibur orang Kristen yang mengalami musibah. Walaupun demikian, ayat ini tidak dapat dipakai secara sembarangan. Mengapa begitu?

Pertama-tama, ayat ini hanya berlaku pada orang yang mengasihi Allah, yaitu orang yang sudah lahir baru. Allah ikut bekerja dalam segala sesuatu untuk kebaikan orang Kristen sejati. Bagaimana dengan mereka yang bukan umat-Nya yang sejati? Apakah Allah akan mendatangkan bencana kepada mereka? Belum tentu. Allah bisa saja membiarkan mereka untuk hidup semaunya seperti lalang di antara gandum, tetapi tetap memegang kontrol atas mereka, supaya apa yang sudah direncanakan-Nya tetap akan terjadi. Karena itu, jika kita ingin menyampaikan pesan ayat ini, kita harus mengerti bahwa tidak semua orang yang mengaku Kristen akan menerima apa yang dijanjikan Allah (1 Yohanes 2:19).

Kedua, ayat ini bukanlah ayat yang menyatakan bahwa Allah secara sepihak akan membuat hidup umat-Nya untuk menjadi baik melalui keajaiban. Allah turut bekerja bersama umat-Nya untuk membawa kebaikan bagi mereka. Ini berarti bahwa umat Tuhan tidak boleh menyerah atau mengharapkan bahwa kesulitan mereka akan berlalu secara otomatis. Umat Tuhan harus mau untuk terus berjuang, berdoa dan mencari kehendak Tuhan dalam menghadapi gelombang kehidupan. Allah sudah memberi umat-Nya iman, dan seandainya iman itu sekecil biji sesawi, itu seharusnya sudah cukup untuk memberi keyakinan akan penyertaan-Nya (Matius 17:20).

Ketiga, ayat ini tidak menyatakan bahwa musibah yang dialami umat Tuhan akan diganti dengan karunia yang menghilangkan dukacita mereka. Terlalu banyak orang Kristen yang memakai ayat ini dengan harapan agar orang yang mengalami bencana akan merasa terhibur dan dikuatkan. Tetapi, akibat yang berlawanan justru sering terjadi, karena banyak orang yang menyadari bahwa Tuhan membiarkan apa yang buruk terjadi pada mereka, akan merasa Tuhan itu kejam jika memakai penderitaan mereka untuk mendatangkan kebaikan. Bagaimana mungkin Tuhan menganggap kehilangan seorang anak misalnya, sebagai suatu cara untuk mendatangkan kebaikan bagi orang tuanya? Karena itu kita harus berhati-hati dalam menggunakan ayat ini.

Keempat, pengertian mengenai “mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia” bisa membuat sesorang merasa sedih jika ia mengalami kemalangan yang berkepanjangan, karena merasa bahwa ia tidak cukup baik sebagai umat-Nya. Memang tidak ada orang yang cukup baik untuk Allah, tetapi mereka yang terpanggil oleh-Nya sudah diterima-Nya sebagaimana adanya untuk menjadi anak-anak-Nya, sesuai dengan rencana-Nya. Setiap umat Kristen sejati tidak perlu meragukan alan kasih Allah yang sudah mengurbankan Anak-Nya untuk menebus setiap orang percaya.

Kelima, ayat ini menjanjikan sesuatu yang baik untuk umat Kristen sejati, tetapi tidak menyatakan keberhasilan atau kegembiraan akan menggantikan apa yang sebelumnya sudah menjadi kegagalan atau kesedihan. Banyak orang Kristen yang mengharapkan Tuhan akan memberikan kedamaian setelah adanya kekacauan di dunia. Mereka mungkin membayangkan berkat Allah pada diri Ayub setelah terjadinya berbagai musibah yang dilakukan iblis. Memang Allah sudah menggantikan apa yang merupakan kehilangan Ayub dengan berbagai karunia yang melebihi apa yang sudah lenyap, tetapi apa yang diberikan Tuhan dan jauh lebih berharga dari itu adalah iman yang semakin besar setelah mengalami berbagai penderitaan. Ayub mendapatkan kemenangan rohani yang jauh lebih besar nilainya dari kekalahan jasmani yang dialaminya. Kemenangan rohani yang membuat penderitaan Ayub berakhir demgan kebaikan bagi Ayub karena ia pada akhirnya dipastikan sebagai umat Tuhan yang setia dalam keadaan apa pun.

Apa yang diharapkan kebanyakan orang Kristen ketika mereka mengalami musibah atau kegagalan adalah pertolongan Tuhan yang secara cepat mendatangkan kebaikan bagi mereka. Tetapi ini bukanlah apa yang dimaksudkan oleh ayat di atas. Tuhan turut bekerja dalam hidup kita untuk mendatangkan kebaikan bagi kita sesuai dengan rencana-Nya, pada waktu yang ditetapkan-Nya. Itu mungkin terjadi sewaktu kita masih hidup dan aktif berjuang di dunia, tetapi mungkin juga setelah kita berumur, atau sesudah kita meninggalkan dunia ini. Kebaikan yang kita akan terima mungkin tidak berarti apa yang bersifat jasmani, tetapi juga apa yang rohani. Kedamaian, penyerahan, takut akan Tuhan, iman yang tak tergoncangkan bisa saja muncul sebagai karunia Tuhan selama kita hidup di dunia. Tetapi, kebaikan terbesar yang akan kita terima adalah persekutuan kekal antara kita dengan Tuhan dan sesama orang percaya setelah kita meninggalkan dunia ini.

Karena Kitab Suci berkata: “Barangsiapa yang percaya kepada Dia, tidak akan dipermalukan.” Roma 10: 11

Menjadi bijak di masa depan

“Dengarkanlah nasihat dan terimalah didikan, supaya engkau menjadi bijak di masa depan.” Amsal 19: 20

Sepandai-pandainya manusia, mereka hanya bisa menduga-duga apa yang akan terjadi di masa depan, dan mencoba-coba mencari jalan keluar dari kesulitan yang sekarang ada. Dalam hal ini, mereka yang bijaksana akan mau belajar dari keadaan dan dari orang lain agar bisa mengambil keputusan yang terbaik. Ini lebih mudah dikatakan daripada dilakukan.

Kepercayaan pada diri sendiri yang semakin besar sesuai dengan bertambahnya usia, seringkali bisa membuat orang tidak merasa perlu untuk mendengarkan pendapat atau nasihat orang lain. Tidaklah mengherankan bahwa ada banyak tokoh dunia yang dikenal sebagai orang yang tidak pernah belajar dari orang lain dan tidak mau menerima nasihat para pembantunya. Orang yang sedemikian mungkin selalu merasa bahwa ia adalah orang yang selalu benar dan merasa bahwa orang lain selalu salah.

Kapankah orang harus mau menerima nasihat orang lain? Perlukah seseorang menerima nasihat dan didikan sepanjang hidupnya? Ayat di atas kelihatannya memang lebih cocok diterapkan pada kaum muda, tetapi sebenarnya juga berlaku untuk setiap orang yang masih mempunyai masa depan. Jika masa depan masih ada, tentunya setiap orang seharusnya ingin untuk menjalani hidup yang ada dengan kebijaksanaan, dan itu tentunya harus didapat dari nasihat dan didikan orang lain.

Mereka yang lebih muda bisa belajar dari yang lebih tua karena pengalaman yang dipunyai mereka, tetapi yang lebih tua pun harus mau belajar dari yang lebih muda karena mereka mempunyai pendidikan yang lebih relevan untuk zaman sekarang. Ini berbeda dengan adat istiadat kuno di mana orang yang lebih muda harus selalu belajar dari yang lebih tua, yang merasa sudah tahu tentang segala hal.

Bagi setiap orang yang masih mempunyai masa depan, selalu ada yang harus dipelajari setiap hari. Dengan demikian, hampir semua manusia yang masih bisa menggunakan pikirannya seharusnya mau mempertimbangkan nasihat dan didikan orang lain supaya bisa menghadapi masa depan dengan baik. Bagi umat Kristen, ini juga berarti mau mendengarkan nasihat dan didikan berdasarkan firman Tuhan dari saudara-saudara seiman selama masih hidup di dunia.

Masa depan bagi kita adalah masa di mana kita masih dapat hidup untuk memuliakan Tuhan. Tetapi, setiap hal yang terlihat baik untuk masa depan, belumlah betul-betul baik untuk dilaksanakan jika itu tidak sejalan dengan apa yang ditulis dalam Alkitab. Dengan demikian, umat Kristen tidak hanya harus mau dengan rendah hati mendengarkan pendapat dan nasihat orang lain, tetapi juga mau mendalami firman Tuhan sehingga apa yang nantinya dilaksanakan tidaklah menyalahi perintah Tuhan.

“Segala tulisan yang diilhamkan Allah memang bermanfaat untuk mengajar, untuk menyatakan kesalahan, untuk memperbaiki kelakuan dan untuk mendidik orang dalam kebenaran.” 2 Timotius 3: 16

Dalam kenyataannya, sesukar-sukarnya orang mendengarkan nasihat dan didikan orang lain, masih lebih sulit untuk mau mendengarkan nasihat dan didikan Tuhan. Seringkali orang Kristen menghindari nasihat dan didikan Tuhan yang ada dalam Alkitab karena dianggap sudah kurang sesuai dengan keadaan zaman sekarang. Tambahan lagi, mereka mungkin cenderung memilih firman yang dirasa bisa mendukung pandangan hidup sendiri. Dalam hal ini, ada orang Kristen yang segan untuk menerima nasihat dan didikan Tuhan karena mereka malas untuk belajar, tidak mau dihalangi, atau tidak ingin diingatkan bahwa apa yang diperbuat mereka adalah tidak sesuai dengan firman Tuhan.

Mereka yang kurang mau menekankan pentingnya hidup baik sering kali adalah mereka yang sangat menekankan kenyataan bahwa Tuhan memilih umat-Nya semata-mata karena kehendak-Nya, bukan karena kebaikan manusia. Ini tentu saja adalah kebenaran karena tidak ada seorang pun yang layak di hadapan Tuhan. Walaupun demikian, kita harus sadar bahwa Tuhan yang menghendaki kita untuk diselamatkan, adalah Tuhan yang juga menghendaki kita untuk tunduk kepada hukum, firman dan bimbingan-Nya. Kehendak-Nya secara khusus sudah dinyatakan dalam Alkitab, dan kita tidak dapat mengingkarinya.

Pagi ini, firman Tuhan mengingatkan kita bahwa selama kita masih hidup dan bisa memikirkan langkah kehidupan kita, masa depan masih ada. Masa depan adalah hidup yang harus diisi dengan segala yang baik dan sesuai dengan firman Tuhan. Jika kita segan mempelajari apa yang dikehendaki Tuhan dalam hidup kita, kita tidak akan dapat memperoleh nasihat dan didikan yang benar. Dengan itu kita akan kehilangan kesempatan untuk menjadi bijak di masa depan. Tidaklah mengherankan bahwa mereka yang tidak mau belajar dari firman Tuhan akhirnya menjadi orang yang bodoh di mata Tuhan dan kemudian menjadi orang yang tidak mempunyai masa depan yang baik.

“Ujilah segala sesuatu dan peganglah yang baik. Jauhkanlah dirimu dari segala jenis kejahatan. Semoga Allah damai sejahtera menguduskan kamu seluruhnya dan semoga roh, jiwa dan tubuhmu terpelihara sempurna dengan tak bercacat pada kedatangan Yesus Kristus, Tuhan kita.” 1 Tesalonika 5:21-23

Dosa yang bisa membinasakan kita

“Kalau ada seorang melihat saudaranya berbuat dosa, yaitu dosa yang tidak mendatangkan maut, hendaklah ia berdoa kepada Allah dan Dia akan memberikan hidup kepadanya, yaitu mereka, yang berbuat dosa yang tidak mendatangkan maut. Ada dosa yang mendatangkan maut: tentang itu tidak kukatakan, bahwa ia harus berdoa.” 1 Yohanes 5:16

Salah satu kepastian sebagai umat Tuhan adalah keyakinan bahwa doa kita akan didengar dan dijawab dengan tegas oleh Tuhan ketika kita meminta sesuatu sesuai dengan kehendak-Nya (Matius 7: 7-8). Dalam perikop hari ini, Yohanes berbicara tentang doa, memberi tahu kita apa yang bisa kita yakini saat kita saling mendoakan.

Secara khusus, Yohanes memberi tahu kita bahwa jika kita berdoa untuk keselamatan seorang saudara yang melakukan dosa yang tidak membawa maut, Allah akan memberikannya kepada dia. Di sisi lain, ada dosa yang menyebabkan kematian, dan meskipun Yohanes tidak benar-benar melarang berdoa untuk saudara yang melakukannya, bahasanya menunjukkan bahwa kita tidak perlu merasa adanya keharusan untuk mendoakan mereka yang melakukan dosa yang menyebabkan kematian.

Apakah dosa yang menyebabkan kematian, dan apakah dosa yang tidak menyebabkan kematian? Kalau kita tidak tahu apa arti kedua dosa itu, kita bisa-bisa tidak mendoakan mereka yang seharusnya didoakan, atau mendoakan mereka yang tidak perlu didoakan. Dan jika masa depan mereka sudah ditentukan, kita tidak perlu mendoakan mereka. Selain itu, apakah kita juga perlu berdoa terus menerus untuk keselamatan kita sebagai orang yang tidak melakukan dosa yang tidak membawa kebinasaan? Bagaimana kita tahu bahwa seseorang atau kita sendiri tidak melakukan dosa yang membawa maut?

Sebagian orang Kristen mengambil cara yang mudah untuk memisahkan dosa yang membawa kematian dari dosa yang tidak membawa kematian. Mereka mendefinisikan dosa yang tidak membawa kematian adalah dosa apa pun yang dilakukan oleh orang pilihan, sedangkan dosa yang sama jika dilakukan oleh orang bukan pilihan akan membawa kematian. Mereka sendiri merasa yakin bahwa Tuhan sudah memilih untuk diselamatkan, sekalipun masih melakukan berbagai macam dosa yang tidak perlu dipisahkan dalam dua jenis.

Pendapat sedemikian agaknya kurang mementingkan adanya dosa tertentu yang dalam ayat di aas, yang bisa menyebabkan amarah Tuhan yang tidak terpadamkan, dan karena itu harus dihindari semua orang Kristen. Selain itu, pendapat ini menunjukkan bahwa Tuhan bukanlah Oknum Ilahi yang mahaadil jika Ia mengizinkan orang pilihan untuk terus berbuat dosa. Kita harus menyadari bahwa ketika umat manusia menghadapi pengadilan Tuhan, tidak ada seorang pun yang bisa menuduh Tuhan tidak adil karena menerima hukuman Tuhan yang tidak sesuai dengan kejahatannya. Sesuatu yang jahat dan mematikan itu haruslah bisa didefinisikan, karena jika tidak, kita akan tidak merasa tenteram (apalagi kalau didoakan orang lain), karena kita tidak tahu apakan kita sendiri melakukan dosa yang membinasakan.

Jelas bahwa hal ini adalah perikop yang sangat sulit, terutama karena tidak jelas apa sebenarnya yang Yohanes maksudkan dengan dosa yang membawa maut. Yohanes sama sekali tidak membahas soal orang pilihan atau tidak, tetapi ia menyebut adanya dua macam dosa. Kematian yang dibicarakan sudah tentu mengacu pada kematian kekal; dengan demikian, sepertinya Yohanes mengerti bahwa setidaknya ada satu dosa yang tidak dapat diampuni. Berbagai kemungkinan untuk dosa ini telah dikemukakan oleh para teolog, seperti penghujatan Roh Kudus yang tidak dapat diampuni dan yang disebutkan oleh Yesus sendiri (Markus 3:28-30). Penafsir Alkitab yang lain menyebutkan bahwa dosa yang khusus itu adalah penolakan terus-menerus untuk menerima Injil. Meskipun sulit dipastikan, berbagai kemungkinan ini tidak dapat dipisahkan secara tegas.

Penghujatan terhadap Roh Kudus umumnya dipahami sebagai penolakan manusia yang disengaja atas pekerjaan Roh Kudus dalam mengajak dia untuk menerima Yesus, terutama jika orang itu sebenarnya tahu siapakah Yesus itu. Kemurtadan manusia (apostasis) yang tidak mau menerima Yesus dan kebenaran-Nya sampai mati tentu memenuhi syarat kategori ini, karena kemurtadan hanya dapat dilakukan oleh mereka yang sudah memiliki pengetahuan tentang kebenaran tetapi sengaja menolaknya. Penghujatan seperti itu secara alami akan menghasilkan hati yang tidak mau menanggapi Injil dengan iman, sekalipun orang itu terlihat dari luar sebagai orang percaya. Istilah apostasi berasal dari kata Yunani apostasia (“ἀποστασία“) yang berarti pembelotan atau pemberontakan. Istilah ini juga digambarkan sebagai “sengaja”, atau memberontak melawan kebenaran Kristen.

Jika kita pikirkan dalam-dalam, implikasi nyata Yohanes bahwa seorang saudara dapat melakukan dosa ini tidak berarti bahwa orang Kristen tidak dapat murtad. Istilah “saudara” dapat digunakan untuk setiap orang yang mengaku Kristen, apakah orang tersebut memiliki iman yang menyelamatkan atau tidak. Jelas Yohanes mengetahui bahwa orang percaya sejati tidak akan melakukan dosa yang membawa maut. Meskipun kita bukanlah orang yang tidak bisa berbuat dosa, sebagai orang percaya yang sejati, kita tidak akan terus melakukan dosa tertentu secara sadar dan terus menerus, dan tidak pernah bertobat, sehingga dosa itu mengarah pada pengerasan hati sampai mati.

Firman Tuhan mengingatkan kita untuk meneliti hidup kita untuk tidak mengabaikan dosa-dosa tertentu yang kita sengaja lakukan dengan kepercayaan bahwa kita tidak melakukan apa yang melanggar kebenaran Tuhan. Jika kita melihat hal yang sedemikian diperbuat orang-orang lain, mumgkin kita merasa bahwa mereka sudah melakukan dosa yang mendatangkan maut. Tetapi, karena kita yang melakukannya kita dengan mudah menampik keserupaan kita dengan mereka, karena kita merasa sudah tergolong orang pilihan. Memang firman Tuhan berkata bahwa kita yang sudah lahir baru, menerima perlindungan Yesus dari ancaman iblis. Tetapi, itu bukan berarti bahwa kita tidak bisa dengan kehendak diri sendiri menjadi orang yang melakukan apostasis tanpa menyadarinya.

Kita tahu, bahwa setiap orang yang lahir dari Allah, tidak berbuat dosa; tetapi Dia yang lahir dari Allah melindunginya, dan si jahat tidak dapat menjamahnya. 1 Yohanes 5:18

Alkitab menyatakan bahwa apostasi akan semakin bertambah buruk seiring waktu kedatangan Kristus yang mendekat. Matius 24: 10 menyatakan bahwa “banyak orang akan murtad dan mereka akan saling menyerahkan dan saling membenci. Banyak nabi palsu akan muncul dan menyesatkan banyak orang.” Paulus menekankan kembali perkataan Yesus di dalam tulisan-tulisannya yang diilhamkan oleh Allah. Rasul Paulus berkata kepada jemaat di Tesalonika bahwa kemurtadan yang luar biasa akan mendahului kedatangan Yesus yang kedua (2 Tesalonika 2:3) dan pada akhirnya akan ditandai dengan masa tribulasi dan munculnya nabi-nabi palsu. Masa tribulasi itu adalah masa yang akan menjadi titik akhir bagi Allah mendisplinkan bangsa Israel dan sekaligus menjadi titik permulaan bagi Allah untuk menghakimi seisi dunia.

“Ketahuilah bahwa pada hari-hari terakhir akan datang masa yang sukar. Manusia akan mencintai dirinya sendiri dan menjadi hamba uang. Mereka akan membual dan menyombongkan diri, mereka akan menjadi pemfitnah, mereka akan berontak terhadap orang tua dan tidak tahu berterima kasih, tidak mempedulikan agama, tidak tahu mengasihi, tidak mau berdamai, suka menjelekkan orang, tidak dapat mengekang diri, garang, tidak suka yang baik, suka mengkhianat, tidak berpikir panjang, berlagak tahu, lebih menuruti hawa nafsu dari pada menuruti Allah. Secara lahiriah mereka menjalankan ibadah mereka, tetapi pada hakekatnya mereka memungkiri kekuatannya. Jauhilah mereka itu!” 2 Timotius 3:1-5

Pagi ini marilah kita lebih berhati-hati dengan penerapan ibadah kita, sebagai orang Kristen sejati. Ini sangatlah penting, terutama di masa-masa sekarang, yang menjadi lebih penting daripada masa sebelumnya. Setiap orang-percaya harus berdoa untuk mendapatkan hikmat, supaya bisa menghindari apostasi dan berjuang dengan sungguh-sungguh untuk mempertahankan iman yang telah disampaikan kepada orang-orang pilihan Allah. Janganlah keyakinan atas predikat umat pilihan justru membuat kita terlena dan jatuh!

Apa yang dilakukan Allah membuktikan kemahakuasaan-Nya

“Aku tahu bahwa segala sesuatu yang dilakukan Allah akan tetap ada untuk selamanya; itu tak dapat ditambah dan tak dapat dikurangi; Allah berbuat demikian, supaya manusia takut akan Dia” Pengkhotbah 3:14

Bagaimana seseorang bisa menyadari adanya Allah? Ini adalah pertanyaan yang sulit dijawab oleh sebagian orang. Tetapi, ada banyak orang yang sadar bahwa Allah ada karena melihat berbagai karya-Nya. Roma 1:20 menyatakan bahwa “Sebab apa yang tidak nampak dari pada-Nya, yaitu kekuatan-Nya yang kekal dan keilahian-Nya, dapat nampak kepada pikiran dari karya-Nya sejak dunia diciptakan, sehingga mereka tidak dapat berdalih. ” Manusia yang tidak dapat melihat Allah yang mahakuasa, dapat melihat pikiran dan karya Allah melalui segala yang dikerjakan-Nya. Itu jika mata mereka dicelikkan oleh Roh Kudus; sebab sekalipun semua itu nyata, tidak semua orang percaya bahwa itu dilakukan oleh Allah.

Ayat di atas bukan menyangkut semua hal yang terjadi dalam hidup kita, dan karena itu, memakai ayat itu dalam pengertian fatalis adalah keliru. Allah tidak bertanggungjawab atas cara hidup, dosa dan kejahatan manusia di dunia, dan Allah tidak memaksa manusia untuk melakukan sesuatu (Lihat Pengakuan Wesminster Bab 3 Poin 1). Ayat di atas adalah tentang apa yang dikehendaki Allah dan sudah dinyatakan-Nya kepada manusia, karena apa yang belum atau tidak dinyatakan kepada manusia tentunya tidak dapat dilihat atau dirasakan mereka. Di antara semua yang sudah dinyatakan Allah adalah penciptaan alam semesta, apa yang terjadi dalam alam semesta, dan apa yang sudah tertulis dalam Alkitab. Tetapi apa yang terbesar dari segala yang sudah dilakukan Allah adalah mengirim Anak-Nya ke dunia, sehingga barangsiapa percaya kepada-Nya tidak akan binasa, tetapi beroleh hidup yang kekal (Yohanes 3:16).

Ketika Tuhan sudah menghendaki sesuatu, maka sesuatu itu akan tetap ada untuk selama-lamanya. Ketetapan dan keputusan Tuhan tetap berlaku dan tidak akan pernah berubah. Itulah kesaksian iman dalam Pengkotbah 3:14. Melalui ayat ini kita akan mendapatkan nilai kebenaran yaitu bahwa segala sesuatu yang dilakukan Allah akan tetap ada untuk selamanya bahkan tidak dapat ditambah atau dikurangi. Hal ini pada umumnya disebut kehendak Tuhan. Apa yang dikehendaki Tuhan tidak bisa diubah, dengan demikian manusia diharapkan untuk memiliki rasa takut akan Tuhan.

Untuk pengertian kita, sebenarnya kehedak Tuhan itu bisa dibagi menjadi tiga macam:

(a) Kehendak mulak: yaitu dekrit yang berdaulat, kehendak yang dengannya Allah mewujudkan apa pun yang Dia tetapkan. Ini tersembunyi bagi kita sampai itu terjadi. Jika itu sudah dinyatakan kepada manusia, mereka tidak bisa mengabaikannya dan seharusnya mempunyai rasa takut kepada Allah dan kebesaran-Nya. Banyak hal yang terjadi dalam alam semesta berasal dari penetapan mutlak-Nya.

(b) Kehendak preseptif: adalah hukum atau perintah Allah yang diwahyukan, untuk mana kita bisa mengabaikan, tetapi tidak membatalkan. Isi Alkitab tidak bisa diubah, tetapi manusia bertanggungjawab untuk meresponi kehehendak-Nya.

(c) Kehendak watak: kehendak yang menggambarkan sikap atau watak Allah. Ini mengungkapkan apa yang berkenan kepada-Nya. Ini pun sesuatu yang bisa diaabaikan orang. Setiap manusia bertanggungjawab atas apa yang diyakininya dalam pengertian akan karakter Tuhan yang mahakuasa, mahasuci dan mahakasih.

Adalah kelemahan manusia bahwa sampai sekarang manusia ingin mengetahui apa kehendak mutlak Tuhan, yang tidak bisa mereka ketahui sampai saat Tuhan menyatakan hal itu. Manusia terobsesi dengan apa yang akan terjadi sehingga sebagian ingin melaksanakan rencananya secepat-cepatnya agar dapat memperoleh hasilnya. Tetapi, ada orang-orang yang tidak mau atau tidak bisa melaksanakan rencana mereka sebelum ada “kepastian” bahwa itu adalah apa yang dikehendaki Tuhan. Sebaliknya ada orang-orang yang merasa tahu apa kehendak mutlak Tuhan sehingga mereka yakin untuk berhasil. Semua itu adalah pandangan yang kurang benar karena tidak ada seorang pun yang tahu apa yang secara mutlak dikehendaki-Nya, sampai itu terjadi.

Sebagian orang sadar akan adanya Tuhan karena Tuhan sudah bekerja dalam hidupnya. Itu terjadi melalui berbagai pengalaman luar biasa yang dialaminya, seperti apa yang terjadi pada Paulus yang bertobat setelah menjumpai Tuhan dalam perjalanan ke Damaskus. Baik pengalaman pahit maupun manis bisa membuat orang sadar bahwa Tuhan yang membuatnya untuk menunjukkan kuasa-Nya sehingga terbentuk rasa takut akan Dia. Ini bukan berarti bahwa Tuhan yang membuat segala yang terjadi pada hidup sesorang, karena sebab-sebab sekunder yang berasal dari manusia dan seisi alam semesta bisa terjadi pada hidup seseorang yang dimungkinkan oleh Tuhan untuk terjadi. Jika seorang mengalami musibah karena perbuatannya sendiri, ia tentu saja tidak dapat menyalahkan Tuhan; sekalipun ia patut merasa takut kepada Tuhan yang membiarkan itu terjadi pada dirinya.

Dengan demikian, apa yang kita lakukan sehubungan dengan kehendak Tuhan (b) dan (c) adalah tanggung jawab dalam kebebasan kita untuk menaati dan menghormati Tuhan. Jika kita tidak mau tunduk kepada (b) dan (c), kita telah berbuat dosa. Banyak contoh di Alkitab yang menunjukkan manusia yang mengalami berbagai masalah karena tidak mau melaksanakan apa yang dituntut oleh kehendak Tuhan dalam bentuk (b) dan (c). Ini jelas terlihat dalam perbuatan Adam dan Hawa di taman Eden, ketika mereka melanggar perintah Tuhan untuk tidak memakan buan terlarang (Kejadian 3: 3).

Ayat di atas secara tidak langsung menyatakan bahwa manusia boleh dan bisa merencanakan segala hal, tetapi harus sadar bahwa rencananya akan berhasil jika itu sesuai dengan seluruh kehendak Tuhan. Sebaliknya, jika manusia tidak mau membuat rencana, apa yang kemudian terjadi mungkin tidak sesuai dengan apa yang diharapkannya. Kita harus sadar bahwa kita tidak dapat melawan kehendak mutlak Tuhan. Karena itulah takut akan Tuhan akan memberi kita kebijaksanaan dalam melangkahkan kaki kita selama hidup di dunia. Jika kita percaya kepada Tuhan yang mahakuasa, kita akan selalu mencari semua kehendak-Nya yang sudah dinyatakan kepada semua umat-Nya sebelum kita bertindak.

Pagi ini, kita harus sadar bahwa Tuhan tidak membuat kita melangkah, tetapi sebagai ciptaan-Nya yang bertanggung jawab kita harus melangkah dengan rasa takut kepada Dia. Jika kita melangkah sesuai dengan firman dan sifat keilahian-Nya, Tuhan akan memakai kita dan membimbing kita untuk mencapai apa yang direncanakan-Nya.

“Sebab segala sesuatu adalah dari Dia, dan oleh Dia, dan kepada Dia: Bagi Dialah kemuliaan sampai selama-lamanya!” Roma 11:36

Lemah lembut bukan berarti lemah

“Berbahagialah orang yang lemah lembut, karena mereka akan memiliki bumi.” Matius 5: 5

Suatu hal yang dapat kita lihat dari pertumbuhan jasmani seorang bayi ialah adanya perubahan yang terjadi pada kekuatan tubuhnya. Pada saat baru dilahirkan, seorang bayi kebanyakan hanya bisa tidur dan kalau merasa lapar, ia akan bangun dan menangis. Tetapi, setelah beberapa bulan, ia mulai bisa tetap bangun untuk beberapa jam dan malahan ingin bermain setelah diberi minum.

Seorang manusia akan bertumbuh makin kuat secara badani hinga mencapai umur sekitar 25-30 tahun, dan kemudian menurun kemampuannya. Jika otak Anda mencapai kemampuan maksimum sekitar umur 20 tahun, otot Anda paling kuat ketika Anda berusia 25 tahun. Meskipun demikian, untuk 10 atau 15 tahun ke depan Anda akan bisa mempertahankan kekuatan fisik jika Anda mau melatih tubuh Anda dengan berolahraga. Setiap manusia pada umumnya mulai menurun kekuatan fisiknya setelah melewati umur 40 tahun, tetapi mungkin ia bisa lebih kuat dalam hal kemampuan mentalnya, karena berbagai pengalaman yang diperolehnya.

Ayat Matius 5: 5 diatas nampaknya sederhana, tetapi seringkali menjadi pertanyaan orang percaya. Didalam dunia yang penuh persaingan ini, nampaknya sulit dimengerti bagaimana orang yang lemah lembut bisa menmperoleh keberhasilan dan kemenangan atas mereka yang vokal dan agresif. Apalagi dikatakan bahwa orang yang lemah lembut akan memiliki bumi tempat dimana mereka berada.

Bertentangan dengan ayat diatas, beberapa filsuf pernah mengatakan bahwa kelemahlembutan tidak mungkin bisa mencapai kesuksesan di dunia ini. Menurut mereka, hanya yang kuat dan yang bisa menekan orang lain akan menang. Orang yang tidak menunjukkan kekuatannya tidak mungkin bisa menundukkan orang lain. Mana yang benar?

Dalam kenyataan hidup kita, penampilan yang lemah lembut itu belum tentu menunjuk kepada orang yang lemah.  Seperti peribahasa “Air tenang menghanyutkan” kita bisa mengerti bahwa seorang yang pendiam belum tentu kurang bisa, justru orang pendiam sering mampu melakukan  pekerjaan yang hebat. Peribahasa senada dalam bahasa Inggris, “Still waters run deep”  yaitu “Air yang tenang menunjukkan kedalaman”, dapat diartikan sebagai “Orang yang pendiam dan halus tampak luarnya, sering mempunyai karakter yang baik dan kemampuan yang hebat”.

Adalah kenyataan hidup bahwa tiap -tiap orang mempunyai karakternya sendiri sejak dilahirkan.  Karakter manusia memang bermacam-macam dan tidak selalu bisa dilihat dari penampilan luarnya. Tetapi  orang Kristen yang benar akan mempunyai karakter baru yang bisa terlihat dari luar karena pekerjaan Roh Kudus dalam hidupnya. Karakter baru, luar dan dalam.

 “Jadi siapa yang ada di dalam Kristus, ia adalah ciptaan baru: yang lama sudah berlalu, sesungguhnya yang baru sudah datang.” 2 Korintus 5: 17

Setelah seseorang menerima Yesus sebagai juruselamatnya, perubahan hidup harus terjadi dan sifat-sifat dan cara hidup yang lama akan perlahan-lahan diisi dengan hal-hal yang baik seperti kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan, penguasaan diri (Galatia 5:22). Jadi, dari apa yang kelihatan dari hidup seseorang,  kita akan dapat mengenali apakah orang itu sudah menjadi “air tenang yang dalam”. Orang yang bukan hanya terlihat sabar dan lemah lembut, tetapi juga mempunyai banyak sifat-sifat lain yang baik, yang tumbuh karena mereka berlatih setiap hari.

“Tiap-tiap orang yang turut mengambil bagian dalam pertandingan, menguasai dirinya dalam segala hal. Mereka berbuat demikian untuk memperoleh suatu mahkota yang fana, tetapi kita untuk memperoleh suatu mahkota yang abadi. Sebab itu aku tidak berlari tanpa tujuan dan aku bukan petinju yang sembarangan saja memukul. Tetapi aku melatih tubuhku dan menguasainya seluruhnya, supaya sesudah memberitakan Injil kepada orang lain, jangan aku sendiri ditolak.” 1 Korintus 9: 25-27

Memang agaknya dunia sering lebih memihak kepada mereka yang bisa memaksa dan menindas orang lain secara fisik maupun mental. Tetapi, kita tahu bahwa orang yang demikian hidupnya seringkali tidak tenang atau damai. Sejarah membuktikan bahwa kekacauan di berbagai gereja dan negara, dan bahkan peperangan di dunia sering disebabkan oleh ulah dan ambisi para pemimpin. Sebaliknya,  masyarakat yang hidup damai dan bersatu pada umumnya disebabkan oleh adanya pemimpin yang baik yang bisa mengayomi anak buahnya. Bukan seorang diktator.

Seorang pemimpin yang baik adalah orang yang bisa mengendalikan hidupnya sendiri dan hidup dalam kedamaian sehingga tidak ada keraguan diantara mereka yang disekelilingnya. Seorang pemimpin dihormati bawahannya karena ia seperti “air tenang yang menghanyutkan”. Apapun kedudukan dan tugas kita, adalah panggilan bagi kita untuk menjadi orang yang lemah lembut. Kelemahlembutan tidak sama dengan kelemahan. Yesus adalah contoh pemimpin yang baik, karena Ia mempunyai kesabaran dan kelemahlembutan yang membungkus kekuasaan Ilahi-Nya. Kita harus belajar dari Dia.

“Pikullah kuk yang Kupasang dan belajarlah pada-Ku, karena Aku lemah lembut dan rendah hati dan jiwamu akan mendapat ketenangan.” Matius 11: 29

Dalam hidup berkeluarga, dalam bekerja, dalam bermasyarakat, juga dalam bergereja dan bernegara, mereka yang mau memperoleh lingkungan yang mendukung mereka, haruslah bisa menjadi orang yang lemah lembut. Sesuai dengan Matius 5: 5, kelemahlembutan yang didasari kasih akan membawa keberhasilan di “bumi” mana pun, dimana pun kita berada. Semoga hidup baru kita bisa terlihat oleh orang disekitar kita yang bisa menyadari bahwa sekalipun kita nampak sebagai air yang tenang, kuasa Tuhan yang besar ada bersama kita!

Rasa takut yang bisa menghilangkan ketakutan

Siapakah orang yang takut akan TUHAN? Kepadanya TUHAN menunjukkan jalan yang harus dipilihnya.” Mazmur 25: 12

“Ketakutan adalah respons untuk kelangsungan hidup kita,” kata seorang psikolog. Beberapa orang – penggemar roller-coaster dan penggemar film horor – menikmatinya, sementara orang lain menghindarinya. Pernahkah Anda bertanya-tanya mengapa bisa begitu?

Ketakutan dialami dalam pikiran Anda, tetapi memicu reaksi fisik yang kuat dalam tubuh Anda. Segera setelah Anda mengenali rasa takut, amigdala Anda (organ kecil di tengah otak Anda) mulai bekerja. Ini mengingatkan sistem saraf Anda, yang membuat respons ketakutan tubuh Anda bergerak. Hormon stres seperti kortisol dan adrenalin dilepaskan. Tekanan darah dan detak jantung Anda meningkat. Anda mulai bernapas lebih cepat. Bahkan aliran darah Anda berubah – darah benar-benar mengalir dari jantung Anda ke anggota tubuh Anda, sehingga lebih mudah bagi Anda untuk mulai melawan, atau melarikan diri demi hidup Anda. Tubuh Anda sedang bersiap untuk mermpertahankan kelangsungan hidup Anda.

Saat beberapa bagian otak Anda berputar, yang lain mati. Ketika amigdala merasakan ketakutan, korteks serebral (area otak yang mengatur penalaran dan penilaian) menjadi terganggu — jadi sekarang sulit untuk membuat keputusan yang baik atau berpikir jernih. Akibatnya, Anda mungkin berteriak dan melarikan diri saat didekati oleh seorang yang bertopeng di rumah hantu, karena tidak dapat merasionalisasi bahwa ancaman tersebut tidak nyata.

Tetapi mengapa orang-orang yang menyukai roller coaster, rumah hantu, dan film horor bisa menikmati saat-saat yang menakutkan dan menegangkan itu? Karena sensasinya belum tentu berakhir saat atraksi atau film berakhir. Melalui proses transfer eksitasi, tubuh dan otak Anda tetap terangsang bahkan setelah pengalaman yang menakutkan berakhir. Selama pengalaman ketakutan secara bertahap, otak Anda akan menghasilkan lebih banyak zat kimia yang disebut dopamin, yang menimbulkan rasa senang.

Ketakutan adalah emosi manusia yang kompleks yang bisa positif dan sehat, tetapi juga bisa berdampak negatif. Takut akan Allah adalah kondisi alami dan biologis yang seharusnya kita punyai. Penting bagi manusia untuk merasa takut kepada oknum Ilahi yang menciptakan mereka. Ketika Adam dan Hawa jatuh ke dalam dosa, mereka takut akan Tuhan karena sadar akan konsekuensinya. Sebaliknya, Daud merasa tenteram sekalipun dalam ancaman bahaya, karena adanya kesadaran bahwa Tuhan yang nyata dan mahakuasa, adalah Tuhan yang melindungi-Nya.

“Sekalipun aku berjalan dalam lembah kekelaman, aku tidak takut bahaya, sebab Engkau besertaku; gada-Mu dan tongkat-Mu, itulah yang menghibur aku.” Mazmur 23: 4

Jelas bahwa kebahagiaan umat Kristen bergantung pada pandangan hidup mereka. Mereka yang selalu berpikir negatif tentang dirinya sendiri, yang selalu merasa bersalah di hadapan Tuhan, yang selalu merasa bahwa Tuhan adalah penyebab penderitaan mereka, akan mengalami masa depan yang suram. Tetapi mereka yang menyadari bahwa Tuhan adalah mahakasih dan maha pengampun, akan menemukan kebahagiaan dalam hidup di dunia. Pada pihak yang lain, mereka yang selalu berpikir positif tentang dirinya sendiri, yang selalu merasa benar atau bebas di hadapan Tuhan, akan menemui masa depan yang suram; tetapi mereka yang menyadari bahwa Tuhan adalah mahasuci dan mahakuasa, akan menemukan kebahagiaan dalam hidup kudus yang bersandar pada anugerah pengampunan dan keselamatan yang sudah mereka terima.

Bagaimana kita bisa mempunyai pandangan hidup yang benar? Ajaran “positive thinking” sekarang populer di kalangan kaum motivator yang mencari penghasilan dari menjual nasihat yang nampaknya bijaksana kepada orang lain. Memang mereka yang berusaha untuk membangkitkan semangat orang lain, tentunya tidak memberikan nasihat yang bernada suram. Selain motivator, banyak juga pendeta dan penginjil populer yang menyuarakan hal yang sama: kita bisa menjadi orang yang berhasil, apa saja, jika kita percaya. Jika kita berani bertindak, Tuhan akan menyertai kita.

Positive thinking adalah baik, jika ditinjau dari segi psikologi. Tetapi itu belum tentu sesuai dengan iman Kristen. Iman Kristen memang menyangkut cara berpikir positif, tetapi yang bukan berasal diri kita sendiri; bukan dengan keyakinan bahwa kita adalah baik, cantik, mampu, bijak dan kuat. Tetapi, orang Kristen berpikir positif dengan percaya bahwa Tuhan yang mahakuasa mengasihi semua anakNya, dengan tidak memandang siapa mereka dan bagaimana keadaan mereka. Orang Kristen juga percaya bahwa Tuhan yang mahakuasa senantiasa membimbing mereka yang taat dan takut kepadaNya. Tuhan membimbing kita jika kita mengikuti jalan yang sudah ditentukan-Nya.

Orang Kristen adalah orang yang mempraktikkan positive thinking dengan pertama-tama menempatkan dirinya sebagai orang yang membutuhkan Tuhannya. Orang yang takut akan Tuhan. Yesus Kristus sudah menebus dosa setiap orang yang percaya melalui darah-Nya. Dengan itu kita mempunyai masa depan yang baik karena seluruh dosa dan kelemahan kita tidak lagi membebani hidup kita. Kita tahu bahwa apapun keadaan kita, jika kita sudah mengaku dosa kita dan menerima Yesus sebagai Juruselamat kita, Tuhan itu setia dan adil dan Ia akan ada di pihak kita dan menyertai kita.

Positive thinking sebagai orang Kristen dengan demikian juga membawa keyakinan bahwa Tuhan yang sudah menerima kita sebagai anak-anak-Nya, tentu adalah Tuhan yang memelihara mereka selama hidup di dunia. Tuhan adalah mahabijaksana, dan Ia tahu segala kebutuhan kita sebelum kita mengucapkannya. Tuhan juga tahu apa yang terbaik untuk anak-anak-Nya, dan Ia selalu mau membimbing mereka yang mau dibimbing-Nya. Mereka adalah orang-orang yang takut dan tunduk kepada Dia.

Pagi ini, ayat diatas menggaris bawahi the power of positive thinking, kekuatan yang ada dari cara berpikir positif. Ayat itu mengajarkan bahwa jika kita mau mempunyai masa depan yang baik, baiklah kita percaya dan berserah kepada Tuhan yang mahakuasa, agar Ia menunjukkan jalan yang terbaik untuk kita. Dengan berpikir positif, kita tidak lagi bergantung pada kesombongan, kekuatan, keinginan dan impian kita; tetapi kita akan menyerahkan hidup kita sepenuhnya kepada Tuhan kita. Dalam rasa takut akan Tuhan, kita akan menghilangkan ketakutan yang kita alami selama hidup di dunia.

Hal menghindari kebohongan

Jauhkanlah dari padaku kecurangan dan kebohongan. Jangan berikan kepadaku kemiskinan atau kekayaan. Biarkanlah aku menikmati makanan yang menjadi bagianku. Amsal 30: 8

Bersediakah anda untuk berbohong? Pertanyaan ini lebih sulit untuk dijawab daripada pertanyaan “Apakah anda pernah berbohong”. Setiap orang tentunya pernah berbohong, baik itu bohong kecil ataupun bohong besar, dan setiap orang bisa mengakuinya. Memang manusia tidak ada yang sempurna. Walaupun demikian, pertanyaan apakah kita mau berbohong tidaklah mudah dijawab. Dengan sejujurnya kita pernah berbohong di masa lalu karena suatu sebab; dan jika ada sebab yang kuat di masa depan, mungkin saja kita tidak ragu-ragu untuk berbohong lagi.

Dalam kegiatan apa pun, terutama dalam bidang politik dan bisnis, kita bisa melihat banyak orang yang mampu dan mau untuk berbohong pada saat tertentu. Berbohong memang adalah suatu kemampuan yang ada pada diri manusia sejak awalnya, dan yang bisa dikembangkan sesuai dengan keadaan yang sering dihadapinya. Selain dari kemampuan untuk berbohong, orang juga mampu membuat alasan untuk berbohong. Sudah tentu semua ini harus dibedakan dari kemampuan dan kebijaksanaan yang datang sebagai karunia Tuhan.

“Iblislah yang menjadi bapamu dan kamu ingin melakukan keinginan-keinginan bapamu. Ia adalah pembunuh manusia sejak semula dan tidak hidup dalam kebenaran, sebab di dalam dia tidak ada kebenaran. Apabila ia berkata dusta, ia berkata atas kehendaknya sendiri, sebab ia adalah pendusta dan bapa segala dusta.” Yohanes 8: 44

Pada waktu penciptaan manusia, Allah telah memperlengkapi kehendak manusia dengan kebebasan kodrati yang tidak dipaksa dan tidak ditentukan oleh keharusan alamiah apa pun untuk berbuat baik atau jahat. Ketika masih berada dalam kedudukan tidak berdosa, Adam dan Hawa memiliki kebebasan dan kuasa yang membuatnya mampu menghendaki dan melakukan apa yang baik dan berkenan dan kepada Allah. Akan tetapi, dalam hal itu mereka bisa dipengaruhi keadaan di sekitarnya, sehingga bisa jatuh. Adam dan Hawa jatuh ke dalam dosa karena perbuatan mereka sendiri, dan sejak itu kebohongan manusia dan iblis adalah bagian dari kehidupan sehari-hari msnusia.

Berbohong terkadang dihubungkan dengan pekerjaan atau kedudukan seseorang di masyarakat. Menurut survey di Australia, penjual mobil (car salesmen) adalah orang yang paling tidak bisa dipercaya. Sebaliknya. mereka yang bekerja sebagai jururawat, apoteker dan dokter dianggap sebagai orang yang paling bisa dipercaya. Ini berbeda dengan keadaan di Indonesia, dimana banyak orang yang kurang bisa mempercayai dokter karena adanya anggapan bahwa mereka adalah orang kaya yang mata duitan. Tidaklah mengherankan bahwa ada orang yang tidak mau ke dokter sekalipun sudah sakit parah.

Memang orang sering jatuh ke dalam dosa kebohongan karena soal harta. Alkitab sendiri mengatakan karena cinta uang (alias cinta kedudukan) orang bisa jatuh ke dalam pencobaan.

“Tetapi mereka yang ingin kaya terjatuh ke dalam pencobaan, ke dalam jerat dan ke dalam berbagai-bagai nafsu yang hampa dan yang mencelakakan, yang menenggelamkan manusia ke dalam keruntuhan dan kebinasaan. Karena akar segala kejahatan ialah cinta uang. Sebab oleh memburu uanglah beberapa orang telah menyimpang dari iman dan menyiksa dirinya dengan berbagai-bagai duka.” 1 Timotius 6: 9 – 10

Walaupun demikian, setiap orang dalam kenyataannya sering berbohong bukan saja sewaktu butuh uang, tetapi juga sewaktu kelebihan uang. Kebohongan di zaman ini agaknya sudah menjadi norma kehidupan manusia dari segala tingkatan, jika mereka ingin sukses dan ingin selalu menang bersaing dengan orang lain. Mereka yang ingin jujur terus, justru dianggap orang bodoh yang tidak mau memanfaatkan kesempatan. Ini bahkan bisa terlihat juga di banyak negara, dimana mereka yang ingin berkuasa mungkin harus bisa melakukan berbagai tipu daya dan menutupi ketidak-jujuran. Sebaliknya, rakyat yang hidup dalam penderitaan seringkali juga terdesak untuk melalui jalan yang curang agar bisa tetap hidup.

Dalam ayat pembukaan di atas, Agur bin Yake memohon kepada Tuhan untuk menjauhkan dirinya dari kecurangan dan kebohongan. Ia lebih lanjut meminta agar ia tidak mengalami kemiskinan atau kekayaan, karena keduanya bisa mendorongnya untuk berlaku curang dan melakukan kebohongan. Apa yang diharapkannya adalah kesempatan untuk menikmati apa yang ada, yang sudah menjadi bagian hidupnya. Ini tidak mudah, karena banyak orang yang justru tidak merasa puas dengan apa yang sudah dipunyainya. Lebih parah lagi, di zaman ini banyak “guru” yang mengajarkan agar kita tidak puas dengan prestasi kita.

Dalam hidup di dunia ini, selalu ada saja ketidakadilan yang kita jumpai. Hal-hal semacam itu bisa membuat kita berpikir mengapa Tuhan seolah membiarkan mereka yang tidak jujur untuk menduduki posisi tinggi, dan mereka yang jahat untuk berkuasa dan bertindak dengan sewenang-wenang. Mungkin seperti itu jugalah perasaan penulis Mazmur ketika ia melihat orang-orang jahat yang hidupnya terlihat nyaman:

“Tetapi aku, sedikit lagi maka kakiku terpeleset, nyaris aku tergelincir. Sebab aku cemburu kepada pembual-pembual, kalau aku melihat kemujuran orang-orang fasik. Sebab kesakitan tidak ada pada mereka, sehat dan gemuk tubuh mereka; mereka tidak mengalami kesusahan manusia, dan mereka tidak kena tulah seperti orang lain.” Mazmur 73: 2 – 5.

Kejadian dimana orang yang jahat, curang dan tidak jujur seolah hidup jaya dan membuat Tuhan seolah tidak ada, memang seringkali muncul dalam hidup kita sehari-hari dengan berbagai bentuk dan ukuran. Mungkin jika hal-hal itu tidak terlalu mencolok mata, kita bisa mengabaikannya. Lain halnya jika kita melihat mereka yang jelas-jelas melakukan hal-hal yang jahat, justru bangga atas “keberhasilan” mereka. Tetapi pemazmur berkata bahwa bagaimanapun juga, kita tidak boleh sakit hati karena adanya orang yang berbuat jahat, atau iri hati kepada orang yang berbuat curang. Kejayaan mereka, yang kita lihat dari luar, belum tentu seperti apa yang kita bayangkan; dan apa yang mereka nikmati sekarang ini, tidaklah akan abadi.

“Biarkanlah keduanya tumbuh bersama sampai waktu menuai. Pada waktu itu aku akan berkata kepada para penuai: Kumpulkanlah dahulu lalang itu dan ikatlah berberkas-berkas untuk dibakar; kemudian kumpulkanlah gandum itu ke dalam lumbungku.” Matius 13: 30.

Jika kita mempunyai rasa iri hati atas keberhasilan orang-orang yang tidak jujur di sekeliling kita, marilah kita menenangkan diri dan mencari kedamaian dalam Tuhan. Tuhan memang sering membiarkan mereka yang jahat dan curang hidup bersama-sama dengan pengikut-Nya, seperti lalang yang hidup diantara gandum. Tuhan bisa memakai apapun yang ada di dunia untuk memenuhi rancangan-Nya, dan karena itu kita tidak perlu hidup dalam keresahan dengan adanya orang-orang yang kelihatannya jaya dalam kecurangan mereka. Tetapi sebagai orang beriman, kita tidak perlu meragukan bahwa Tuhan yang maha adil pada akhirnya pasti bertindak tegas.

Pagi ini, marilah kita memikirkan apa saja yang masih kita ingini dalam hidup ini. Tidak ada salahnya jika kita memohon apa yang kita butuhkan dalam hidup kita. Tuhan yang mahakasih selalu mau mendengarkan doa-doa kita. Walaupun demikian, pernahkah kita memohon agar kita diberi kemampuan untuk merasa cukup dengan apa yang sudah kita terima? Rasa cukup atas apa yang ada akan menjauhkan kita dari dosa kebohongan dan kecurangan. Rasa cukup juga akan menghindarkan kita dari hidup Kristen yang penuh kepalsuan.