Apa yang dilakukan Allah membuktikan kemahakuasaan-Nya

“Aku tahu bahwa segala sesuatu yang dilakukan Allah akan tetap ada untuk selamanya; itu tak dapat ditambah dan tak dapat dikurangi; Allah berbuat demikian, supaya manusia takut akan Dia” Pengkhotbah 3:14

Bagaimana seseorang bisa menyadari adanya Allah? Ini adalah pertanyaan yang sulit dijawab oleh sebagian orang. Tetapi, ada banyak orang yang sadar bahwa Allah ada karena melihat berbagai karya-Nya. Roma 1:20 menyatakan bahwa “Sebab apa yang tidak nampak dari pada-Nya, yaitu kekuatan-Nya yang kekal dan keilahian-Nya, dapat nampak kepada pikiran dari karya-Nya sejak dunia diciptakan, sehingga mereka tidak dapat berdalih. ” Manusia yang tidak dapat melihat Allah yang mahakuasa, dapat melihat pikiran dan karya Allah melalui segala yang dikerjakan-Nya. Itu jika mata mereka dicelikkan oleh Roh Kudus; sebab sekalipun semua itu nyata, tidak semua orang percaya bahwa itu dilakukan oleh Allah.

Ayat di atas bukan menyangkut semua hal yang terjadi dalam hidup kita, dan karena itu, memakai ayat itu dalam pengertian fatalis adalah keliru. Allah tidak bertanggungjawab atas cara hidup, dosa dan kejahatan manusia di dunia, dan Allah tidak memaksa manusia untuk melakukan sesuatu (Lihat Pengakuan Wesminster Bab 3 Poin 1). Ayat di atas adalah tentang apa yang dikehendaki Allah dan sudah dinyatakan-Nya kepada manusia, karena apa yang belum atau tidak dinyatakan kepada manusia tentunya tidak dapat dilihat atau dirasakan mereka. Di antara semua yang sudah dinyatakan Allah adalah penciptaan alam semesta, apa yang terjadi dalam alam semesta, dan apa yang sudah tertulis dalam Alkitab. Tetapi apa yang terbesar dari segala yang sudah dilakukan Allah adalah mengirim Anak-Nya ke dunia, sehingga barangsiapa percaya kepada-Nya tidak akan binasa, tetapi beroleh hidup yang kekal (Yohanes 3:16).

Ketika Tuhan sudah menghendaki sesuatu, maka sesuatu itu akan tetap ada untuk selama-lamanya. Ketetapan dan keputusan Tuhan tetap berlaku dan tidak akan pernah berubah. Itulah kesaksian iman dalam Pengkotbah 3:14. Melalui ayat ini kita akan mendapatkan nilai kebenaran yaitu bahwa segala sesuatu yang dilakukan Allah akan tetap ada untuk selamanya bahkan tidak dapat ditambah atau dikurangi. Hal ini pada umumnya disebut kehendak Tuhan. Apa yang dikehendaki Tuhan tidak bisa diubah, dengan demikian manusia diharapkan untuk memiliki rasa takut akan Tuhan.

Untuk pengertian kita, sebenarnya kehedak Tuhan itu bisa dibagi menjadi tiga macam:

(a) Kehendak mulak: yaitu dekrit yang berdaulat, kehendak yang dengannya Allah mewujudkan apa pun yang Dia tetapkan. Ini tersembunyi bagi kita sampai itu terjadi. Jika itu sudah dinyatakan kepada manusia, mereka tidak bisa mengabaikannya dan seharusnya mempunyai rasa takut kepada Allah dan kebesaran-Nya. Banyak hal yang terjadi dalam alam semesta berasal dari penetapan mutlak-Nya.

(b) Kehendak preseptif: adalah hukum atau perintah Allah yang diwahyukan, untuk mana kita bisa mengabaikan, tetapi tidak membatalkan. Isi Alkitab tidak bisa diubah, tetapi manusia bertanggungjawab untuk meresponi kehehendak-Nya.

(c) Kehendak watak: kehendak yang menggambarkan sikap atau watak Allah. Ini mengungkapkan apa yang berkenan kepada-Nya. Ini pun sesuatu yang bisa diaabaikan orang. Setiap manusia bertanggungjawab atas apa yang diyakininya dalam pengertian akan karakter Tuhan yang mahakuasa, mahasuci dan mahakasih.

Adalah kelemahan manusia bahwa sampai sekarang manusia ingin mengetahui apa kehendak mutlak Tuhan, yang tidak bisa mereka ketahui sampai saat Tuhan menyatakan hal itu. Manusia terobsesi dengan apa yang akan terjadi sehingga sebagian ingin melaksanakan rencananya secepat-cepatnya agar dapat memperoleh hasilnya. Tetapi, ada orang-orang yang tidak mau atau tidak bisa melaksanakan rencana mereka sebelum ada “kepastian” bahwa itu adalah apa yang dikehendaki Tuhan. Sebaliknya ada orang-orang yang merasa tahu apa kehendak mutlak Tuhan sehingga mereka yakin untuk berhasil. Semua itu adalah pandangan yang kurang benar karena tidak ada seorang pun yang tahu apa yang secara mutlak dikehendaki-Nya, sampai itu terjadi.

Sebagian orang sadar akan adanya Tuhan karena Tuhan sudah bekerja dalam hidupnya. Itu terjadi melalui berbagai pengalaman luar biasa yang dialaminya, seperti apa yang terjadi pada Paulus yang bertobat setelah menjumpai Tuhan dalam perjalanan ke Damaskus. Baik pengalaman pahit maupun manis bisa membuat orang sadar bahwa Tuhan yang membuatnya untuk menunjukkan kuasa-Nya sehingga terbentuk rasa takut akan Dia. Ini bukan berarti bahwa Tuhan yang membuat segala yang terjadi pada hidup sesorang, karena sebab-sebab sekunder yang berasal dari manusia dan seisi alam semesta bisa terjadi pada hidup seseorang yang dimungkinkan oleh Tuhan untuk terjadi. Jika seorang mengalami musibah karena perbuatannya sendiri, ia tentu saja tidak dapat menyalahkan Tuhan; sekalipun ia patut merasa takut kepada Tuhan yang membiarkan itu terjadi pada dirinya.

Dengan demikian, apa yang kita lakukan sehubungan dengan kehendak Tuhan (b) dan (c) adalah tanggung jawab dalam kebebasan kita untuk menaati dan menghormati Tuhan. Jika kita tidak mau tunduk kepada (b) dan (c), kita telah berbuat dosa. Banyak contoh di Alkitab yang menunjukkan manusia yang mengalami berbagai masalah karena tidak mau melaksanakan apa yang dituntut oleh kehendak Tuhan dalam bentuk (b) dan (c). Ini jelas terlihat dalam perbuatan Adam dan Hawa di taman Eden, ketika mereka melanggar perintah Tuhan untuk tidak memakan buan terlarang (Kejadian 3: 3).

Ayat di atas secara tidak langsung menyatakan bahwa manusia boleh dan bisa merencanakan segala hal, tetapi harus sadar bahwa rencananya akan berhasil jika itu sesuai dengan seluruh kehendak Tuhan. Sebaliknya, jika manusia tidak mau membuat rencana, apa yang kemudian terjadi mungkin tidak sesuai dengan apa yang diharapkannya. Kita harus sadar bahwa kita tidak dapat melawan kehendak mutlak Tuhan. Karena itulah takut akan Tuhan akan memberi kita kebijaksanaan dalam melangkahkan kaki kita selama hidup di dunia. Jika kita percaya kepada Tuhan yang mahakuasa, kita akan selalu mencari semua kehendak-Nya yang sudah dinyatakan kepada semua umat-Nya sebelum kita bertindak.

Pagi ini, kita harus sadar bahwa Tuhan tidak membuat kita melangkah, tetapi sebagai ciptaan-Nya yang bertanggung jawab kita harus melangkah dengan rasa takut kepada Dia. Jika kita melangkah sesuai dengan firman dan sifat keilahian-Nya, Tuhan akan memakai kita dan membimbing kita untuk mencapai apa yang direncanakan-Nya.

“Sebab segala sesuatu adalah dari Dia, dan oleh Dia, dan kepada Dia: Bagi Dialah kemuliaan sampai selama-lamanya!” Roma 11:36

Tinggalkan komentar