“Setelah orang-orang majus itu berangkat, nampaklah malaikat Tuhan kepada Yusuf dalam mimpi dan berkata: ”Bangunlah, ambillah Anak itu serta ibu-Nya, larilah ke Mesir dan tinggallah di sana sampai Aku berfirman kepadamu, karena Herodes akan mencari Anak itu untuk membunuh Dia.” Matius 2:13
“Ketika Herodes tahu, bahwa ia telah diperdayakan oleh orang-orang majus itu, ia sangat marah. Lalu ia menyuruh membunuh semua anak di Betlehem dan sekitarnya, yaitu anak-anak yang berumur dua tahun ke bawah, sesuai dengan waktu yang dapat diketahuinya dari orang-orang majus itu.” Matius 2:16
Para pelayat di Australia mengheningkan cipta pada hari Minggu kemarin untuk mengenang para korban serangan teroris di Pantai Bondi. Peringatan itu adalah bagian dari hari refleksi nasional untuk menandai satu minggu sejak peristiwa tanggal 14 Desember 2025, di mana penembakan massal terjadi di Pantai Bondi di Sydney, Australia, pada saat perayaan Hanukkah yang dihadiri oleh sekitar seribu orang. Dua orang bersenjata membunuh 15 orang, termasuk seorang anak. Jika kita renungkan, adalah menyedihkan bahwa damai di bumi adalah jauh dari kenyataan.
Natal memang selalu diidentikkan dengan damai di bumi. Namun ketika kita membaca kisah Natal dalam Alkitab, ternyata tidak semuanya indah dan tenang. Di Betlehem, setelah Yesus lahir, terjadi peristiwa yang sangat menyedihkan: bayi-bayi dibunuh atas perintah Raja Herodes. Kisah ini sering membuat orang bertanya, mengapa hal buruk bisa terjadi, terutama di saat Natal?
Di tengah kisah itu, ada orang-orang Majus dari Timur. Mereka datang dari jauh untuk mencari dan menyembah Yesus. Mereka mengikuti bintang, menempuh perjalanan panjang, dan membawa persembahan terbaik. Mereka tidak berniat jahat. Mereka hanya ingin bertemu Sang Raja yang dijanjikan Tuhan. Namun setelah mereka pergi, tragedi itu terjadi.
Penting untuk kita pahami: orang Majus tidak bersalah atas pembunuhan bayi-bayi di Betlehem. Kejahatan itu adalah pilihan Herodes sendiri. Tuhanlah yang melindungi orang Majus dengan memperingatkan mereka lewat mimpi agar tidak kembali kepada Herodes. Mereka taat, lalu pulang melalui jalan lain.
Kisah ini mengajarkan sesuatu yang sangat menenangkan: tidak semua hal buruk terjadi karena kesalahan kita. Dalam hidup, banyak orang memikul beban yang terlalu berat. Kita mungkin sering menyalahkan diri sendiri atas masa lalu, atas keputusan orang lain, atau atas peristiwa yang tidak bisa kita kendalikan. Ada rasa bersalah yang terus kita bawa, meskipun sebenarnya itu ada di luar kemampuan atau tanggung jawab kita.
Firman Tuhan berkata:
“Baiklah tiap-tiap orang menguji pekerjaannya sendiri” (Galatia 6:4).
Artinya, Tuhan meminta kita melihat dengan jujur apa yang menjadi bagian kita—bukan memikul semua hal yang terjadi di sekitar kita.
Natal mengajak kita untuk berdamai dengan masa lalu.
Apa yang sudah terjadi, tidak selalu bisa diperbaiki. Tetapi kita bisa memilih untuk tidak terus hidup dalam penyesalan dan rasa bersalah. Yesus lahir bukan untuk menambah beban hidup manusia, melainkan untuk membebaskan.
Orang Majus tidak tinggal di Betlehem selamanya. Mereka pulang ke negeri mereka. Mereka melanjutkan hidup dengan tenang karena mereka tahu telah melakukan apa yang Tuhan kehendaki. Mereka taat, dan itu cukup.
Natal juga mengingatkan kita untuk melihat ke depan.
Tuhan tidak menuntut kita mengendalikan semua orang atau semua keadaan. Tuhan hanya meminta kita setia dalam hal-hal yang Dia percayakan kepada kita hari ini—dalam keluarga, pekerjaan, pelayanan, dan hubungan dengan sesama.
Damai Natal bukan berarti hidup tanpa masalah. Damai Natal adalah ketenangan hati karena kita tahu: saya sudah melakukan bagian saya, sisanya saya serahkan kepada Tuhan.
Natal ini, marilah kita belajar melepaskan beban yang bukan milik kita, menerima pengampunan atas kekeliruan kita dan menyambut kasih Tuhan, serta melangkah ke depan dengan hati yang tenang. Seperti orang Majus, marilah kita pulang melalui jalan yang Tuhan tunjukkan—jalan damai.
Doa Penutup:
Tuhan yang baik,
Terima kasih untuk Natal dan kelahiran Yesus, Sang Juruselamat kami. Terima kasih karena Engkau tidak bermaksud membebani kami dengan rasa bersalah yang tidak pernah berakhir. Ajarlah kami untuk berdamai dengan masa lalu, setia pada tanggung jawab kami hari ini, dan percaya kepada-Mu untuk masa depan. Berikan kami hati yang tenang dan damai dalam menjalani hidup.
“Sebab itu Tuhan sendirilah yang akan memberikan kepadamu suatu pertanda: Sesungguhnya, seorang perempuan muda mengandung dan akan melahirkan seorang anak laki-laki, dan ia akan menamakan Dia Imanuel.” — Yesaya 7:14
Yesaya 7:14 sering dibacakan dan direnungkan khususnya selama masa Adven dan Natal untuk memperingati kedatangan Kristus ke dunia. Istilah “Natal” sendiri mempunyai arti “berkaitan dengan kelahiran,” dan berasal dari bahasa Latin natalis.
Ayat ini merupakan salah satu nubuatan mesianik paling terkenal dalam Alkitab yang merujuk pada kelahiran Yesus Kristus. Ini diberikan sebagai tanda kedaulatan Tuhan di tengah situasi politik yang sulit karena penindasan umat Israel oleh bangsa Romawi.
Nubuat ini digenapi dalam Perjanjian Baru, secara spesifik dicatat dalam Matius 1:22-23, yang menegaskan bahwa Yesus adalah anak yang dimaksud dalam nubuat Yesaya tersebut.
Yesus dilahirkan pada hari yang dikenal sebagai hari Natal; tetapi Alkitab tidak menjelaskan kapan terjadinya. Kita tidak tahu dengan pasti kapan Dies Natalis dari Yesus.
Walaupun demikian, pada bulan Desember dunia berubah wajah. Lampu-lampu menghiasi jalan, lagu-lagu Natal terdengar di pusat perbelanjaan, dan kalender dipenuhi acara keluarga. Namun di balik semua itu, sebuah pertanyaan sederhana tetapi mendalam patut kita ajukan secara pribadi: apa arti Natal untuk Anda? Apakah ia sekadar tradisi tahunan, atau sebuah perjumpaan rohani yang memperbarui iman?
Bagi orang Kristen, Natal pada dasarnya adalah perayaan kelahiran Yesus Kristus—peristiwa inkarnasi, ketika Firman menjadi manusia dan diam di antara kita.
Alkitab memang tidak mencatat tanggal kelahiran Yesus, juga tidak memerintahkan kita untuk merayakannya secara khusus. Namun Alkitab dengan sangat jelas menekankan fakta kedatangan-Nya: Sang Juruselamat masuk ke dalam sejarah manusia. Fokus Kitab Suci bukan pada kapan-Nya, melainkan pada siapa dan mengapa Ia datang.
Karena itu, Natal bukanlah soal tanggal, dekorasi, atau bentuk perayaannya, melainkan tentang pribadi Kristus sendiri. Ia adalah Immanuel—Tuhan beserta kita. Di dalam Yesus, Allah tidak tinggal jauh dan tak terjangkau, tetapi hadir, merasakan penderitaan manusia, dan akhirnya menebus dosa melalui salib. Natal mengingatkan kita bahwa kasih Allah bukan konsep abstrak, melainkan kasih yang menjelma, berjalan, menangis, dan berkorban.
Sebagian orang keberatan merayakan Natal karena menganggapnya sebagai tradisi buatan manusia atau bahkan warisan pagan. Memang, secara historis, tanggal 25 Desember kemungkinan bersinggungan dengan festival musim dingin Romawi. Namun gereja mula-mula tidak sedang melanjutkan penyembahan berhala; sebaliknya, mereka mengarahkan perhatian umat kepada Kristus sebagai terang sejati yang mengalahkan kegelapan. Fokusnya dialihkan—dari dewa palsu kepada Tuhan yang hidup. Itu bukan kompromi rohani, melainkan pernyataan iman.
Di sinilah kita belajar tentang kebebasan Kristen. Alkitab tidak memerintahkan Natal, tetapi juga tidak melarang kita untuk menghormati kelahiran Yesus. Sama seperti kita bersyukur atas ulang tahun orang yang kita kasihi, demikian pula gereja bersukacita atas kedatangan Sang Juruselamat. Yang menjadi ukuran bukanlah bentuk luar perayaan, melainkan sikap hati yang memuliakan Tuhan.
Bagi banyak orang percaya, Natal justru menjadi momen yang sangat Alkitabiah. Firman Tuhan dibacakan, Injil diberitakan, doa dinaikkan, dan umat diingatkan kembali akan janji-janji Allah yang digenapi.
Natal mengarahkan kita pada kebutuhan terdalam manusia—bukan sekadar kesejahteraan lahiriah, tetapi keselamatan jiwa. Di tengah hiruk-pikuk dunia, Natal mengundang kita untuk berhenti sejenak dan merenungkan kasih karunia.
Maka pertanyaannya kembali kepada kita masing-masing: apa arti Natal untuk Anda? Apakah Natal membawa Anda lebih dekat kepada Kristus? Apakah ia mendorong Anda untuk mengasihi, melayani, dan membagikan kabar baik?
Jika Natal hanya berhenti pada kebiasaan budaya, kita telah kehilangan intinya. Tetapi jika Natal menuntun kita pada penyembahan yang sejati, maka perayaan itu, betapapun sederhana, berkenan di hadapan Tuhan.
Kiranya Natal selalu menjadi undangan untuk memandang palungan, dan melalui palungan itu, melihat salib dan kebangkitan. Di sanalah makna Natal menemukan kepenuhannya.
Doa Penutup:
Tuhan yang kami sembah, kami bersyukur karena Engkau tidak tinggal diam melihat dunia yang terhilang. Dalam kasih-Mu, Engkau mengutus Yesus, Immanuel, Tuhan beserta kami. Ajarlah kami untuk merayakan Natal bukan sekadar dengan tradisi, tetapi dengan hati yang menyembah dan hidup yang taat.
Biarlah kelahiran Kristus memperbarui iman kami, menyalakan kasih kami, dan menggerakkan kami untuk menjadi terang di dunia yang gelap. Kiranya hidup kami memuliakan Engkau, bukan hanya di hari Natal, tetapi sepanjang tahun.
“Maka kembalilah gembala-gembala itu sambil memuji dan memuliakan Allah karena segala sesuatu yang mereka dengar dan mereka lihat, semuanya sesuai dengan apa yang telah dikatakan kepada mereka.” — Lukas 2:20
Malam itu sunyi, namun penuh kejutan ilahi. Bukan istana yang menjadi tujuan malaikat, bukan pula para imam atau penguasa. Tuhan memilih ladang dan para gembala—orang-orang sederhana yang bekerja di pinggiran, sering dianggap rendah dan tak penting. Kepada merekalah kabar terbesar sepanjang sejarah disampaikan: Juruselamat telah lahir.
Setelah melihat Sang Bayi di palungan, para gembala kembali ke pekerjaan mereka, tetapi hati mereka tidak lagi sama. Mereka pulang sambil memuji dan memuliakan Allah. Natal telah mengubah arah batin mereka.
Inilah keindahan Natal: Kristus datang bukan pertama-tama untuk yang merasa layak, tetapi untuk yang rendah hati dan yang mau menurut panggilan Tuhan.
Para gembala tidak membawa persembahan mewah. Mereka hanya membawa diri mereka apa adanya—tangan yang kasar, pakaian yang berbau padang, dan hati yang terbuka. Namun justru itulah yang berkenan. Allah tidak menunggu kesempurnaan; Ia menyambut kerendahan hati. Ia menghargai hati yang tanggap atas panggilan-Nya.
Pesan ini digemakan secara indah dalam lagu The Little Drummer Boy. Lagu ini mengisahkan seorang anak yatim piatu yang miskin, dipanggil untuk melihat Bayi Yesus. Ia gelisah karena tidak memiliki hadiah berharga seperti orang-orang lain. Di tangannya hanya ada sebuah drum kecil. Dengan ragu namun tulus, ia memainkan lagu sederhana. Maria tersenyum, dan Bayi Yesus tampak berkenan. Pesannya jelas: persembahan dari hati yang tulus diterima oleh Allah.
Seperti gembala-gembala dan si penabuh drum kecil itu, kita sering merasa ragu untuk datang kepada Tuhan. Kita menilai diri dari ukuran dunia: prestasi, reputasi, kelayakan rohani. Kita berkata, “Nanti saja kalau hidupku lebih rapi,” atau “Aku tidak punya apa-apa untuk dipersembahkan.” Namun Natal membalikkan logika itu. Allah justru datang ketika kita tidak punya apa-apa selain kebutuhan akan Dia.
Kerendahan hati bukan merendahkan diri secara palsu, melainkan kejujuran di hadapan Allah. Para gembala tidak berpura-pura menjadi orang lain. Mereka datang, melihat, percaya, lalu pulang dengan hati yang memuji. Mereka tidak tinggal di palungan; mereka kembali ke ladang. Tetapi pujian mereka menunjukkan bahwa perjumpaan dengan Kristus memberi makna baru pada rutinitas lama.
Natal yang praktis berarti membawa sikap itu ke dalam kehidupan sehari-hari. Mungkin hadiah kita bukan besar: doa yang singkat, pelayanan kecil yang tak terlihat, kesetiaan dalam pekerjaan yang biasa, atau kesediaan mengampuni. Seperti denting drum sederhana, persembahan itu mungkin terdengar kecil di telinga manusia, tetapi bernilai di hadapan Tuhan bila lahir dari hati yang tulus mengakui bahwa kita bukan apa-apa.
Di dunia yang gemar memamerkan yang besar dan berkilau, Kristus lahir di tempat yang sunyi. Ia memilih palungan agar setiap orang—siapa pun—mau datang. Ia menyambut gembala dan anak miskin, dan Ia juga menyambut kita hari ini. Pertanyaannya bukan apa yang kita miliki, melainkan bagaimana hati kita mau datang dengan rendah hati kepada-Nya.
Kiranya Natal ini kita belajar dari para gembala: datang dengan sederhana, pulang dengan pujian. Dan seperti si penabuh drum kecil, mari mempersembahkan apa yang ada di tangan kita—waktu, kasih, ketaatan—dengan hati yang tulus. Sebab Kristus datang untuk mereka yang rendah hati, dan di sanalah sukacita Natal menemukan rumahnya.
Doa Penutup:
Tuhan Allah kami yang penuh kasih, kami bersyukur untuk anugerah Natal— bahwa Engkau berkenan datang ke dunia ini, bukan untuk orang-orang yang merasa besar dan layak, melainkan untuk mereka yang rendah hati dan haus akan kasih-Mu.
Kami belajar dari para gembala yang datang dengan sederhana dan pulang dengan hati yang memuji. Kami juga belajar dari kisah si penabuh drum kecil, bahwa Engkau tidak menuntut persembahan yang megah, tetapi hati yang tulus dan taat.
Ampuni kami, ya Tuhan, jika sering kali kami menunda datang kepada-Mu karena merasa diri tidak cukup baik, tidak cukup rohani, atau tidak punya apa-apa untuk dipersembahkan. Mungkin juga kami segan untuk datang karena kesibukan kami.
Di Natal ini, ubahlah hati kami, supaya dalam setiap langkah kehidupan sehari-hari kami hidup sebagai orang yang telah berjumpa dengan Juruselamat: penuh syukur, penuh damai, dan penuh ketaatan.
Kami serahkan hidup kami ke dalam tangan-Mu, dalam nama Tuhan Yesus Kristus, Sang Raja yang lahir di palungan.
“Dan engkau Betlehem, tanah Yehuda, engkau sekali-kali bukanlah yang terkecil di antara mereka yang memerintah Yehuda, karena dari padamulah akan bangkit seorang pemimpin, yang akan menggembalakan umat-Ku Israel.”” — Matius 2:6
“Tetapi kamu tidaklah demikian, melainkan yang terbesar di antara kamu hendaklah menjadi sebagai yang paling muda dan pemimpin sebagai pelayan.” — Lukas 22:26
Dunia memiliki ukuran kebesaran yang jelas: siapa yang berkuasa, siapa yang dikenal, siapa yang berada di pusat perhatian. Kita terbiasa berpikir bahwa sesuatu yang besar harus dimulai dari tempat yang besar, oleh orang yang besar, dan dengan cara yang besar. Namun sejak awal, Alkitab menunjukkan bahwa Allah bekerja dengan cara yang berbeda.
Ketika para imam dan ahli Taurat diminta menunjukkan di mana Mesias akan lahir, mereka mengutip nubuat Mikha: Betlehem. Sebuah kota kecil, jauh dari hiruk-pikuk Yerusalem, pusat kekuasaan politik dan agama. Betlehem bukan tempat yang strategis, bukan pula kota yang disegani. Namun justru dari sanalah Sang Juruselamat dunia dilahirkan. Allah memilih yang kecil untuk menghadirkan karya yang paling besar: keselamatan bagi umat manusia.
Pilihan Allah ini bukan kebetulan. Ia sedang menyatakan sebuah prinsip Kerajaan-Nya. Kebesaran tidak selalu muncul dari tempat yang terlihat penting. Nilai sejati tidak ditentukan oleh ukuran di mata dunia. Yang menentukan adalah kehendak Allah dan ketaatan manusia. Bayi yang lahir di kota kecil itu kelak akan mengubah arah sejarah, bukan dengan pedang atau takhta, melainkan dengan kasih, pengorbanan, dan ketaatan sempurna kepada Bapa.
Beberapa puluh tahun kemudian, Yesus yang lahir di Betlehem itu duduk bersama murid-murid-Nya. Anehnya, di tengah perjalanan bersama Sang Mesias, para murid masih memikirkan siapa yang terbesar di antara mereka.
Jelas bahwa para murid membawa pola pikir dunia ke dalam percakapan rohani. Padahal, Yesus sangat menyukai orang yang rendah hati, karena Allah menentang orang sombong tetapi mengasihi orang yang rendah hati, dan orang rendah hati akan ditinggikan oleh-Nya.
Yesus lalu berkata dengan lembut tetapi tegas bahwa dalam Kerajaan Allah, yang terbesar justru adalah yang melayani.
Yesus membalikkan cara pandang mereka. Pemimpin bukanlah orang yang menuntut dilayani, melainkan yang rela merendahkan diri. Yang besar bukan yang paling berkuasa, tetapi yang paling mau mengosongkan diri demi orang lain.
Ia tidak hanya mengajarkan hal ini, tetapi juga menghidupinya. Raja yang lahir di kota kecil itu juga adalah Raja yang membasuh kaki murid-murid-Nya dan akhirnya menyerahkan nyawa-Nya di kayu salib.
Dua peristiwa ini—kelahiran Yesus di Betlehem dan ajaran-Nya tentang kepemimpinan—diikat oleh satu kebenaran yang sama sekalipun berbeda konteks: dalam Kerajaan Allah, kebesaran lahir dari kerendahan hati. Dari yang kecil muncullah yang besar. Dari pelayanan tersembunyi muncullah kemuliaan kekal.
Renungan ini menantang kita untuk memeriksa kembali hati kita. Mungkin kita merasa peran kita kecil, pelayanan kita tidak terlihat, atau hidup kita jauh dari pusat perhatian. Namun Allah tidak mencari yang besar menurut ukuran dunia. Ia mencari hati yang mau taat, rendah hati, dan setia.
Jika hari ini kita dipanggil untuk melayani dalam hal-hal yang dianggap kecil, baik di rumah, gereja, kantor, sekolah, atau masyarakat, janganlah meremehkannya. Bisa jadi Allah sedang menumbuhkan sesuatu yang besar melalui kesetiaan yang sederhana. Dalam Kerajaan-Nya, tidak ada pelayanan yang sia-sia, dan tidak ada ketulusan dan kerendahan hati yang luput dari perhatian-Nya.
Dari Betlehem yang kecil lahirlah keselamatan yang besar. Dan dari hati yang mau melayani, Allah menghadirkan kebesaran yang kekal.
Doa Penutup:
Tuhan yang Mahabesar,
Terima kasih karena Engkau bekerja dengan cara yang sering tidak kami mengerti.
Engkau memilih yang kecil, yang sederhana, dan yang rendah hati untuk menyatakan kebesaran-Mu.
Ajarlah kami untuk setia dalam hal-hal kecil, rendah hati dalam pelayanan, dan tidak mengejar kebesaran menurut ukuran dunia.
Bentuklah hati kami agar serupa dengan hati Kristus, yang rela menjadi hamba demi menghadirkan keselamatan yang besar.
“Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaharuan budimu, sehingga kamu dapat membedakan manakah kehendak Allah: apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna.” Roma 12:2
Banyak orang Kristen—sering dengan niat baik—mengatakan, “Semua yang terjadi adalah kehendak Tuhan.” Kalimat ini terdengar saleh, tetapi jika tidak dipahami dengan benar, justru dapat menyesatkan. Ia bisa membuat kita menerima kejahatan, ketidakadilan, dan dosa seolah-olah itu adalah “takdir” yang berasal dari Allah yang mahasuci.
Alkitab dengan tegas menyatakan bahwa Allah tidak pernah menghendaki kejahatan. Ia tidak merancang dosa, tidak bersukacita atas penderitaan, dan tidak memerintahkan manusia untuk berbuat jahat. Tuhan memang berdaulat atas segala sesuatu, tetapi kedaulatan-Nya tidak sama dengan keterlibatan langsung-Nya dalam dosa manusia.
Di sinilah pentingnya membedakan istilah-istilah teologis tentang kedaulatan Allah.
Ada hal-hal yang Allah kehendaki, ada yang Ia izinkan, ada yang Ia biarkan, dan ada pula yang Ia arahkan untuk maksud yang lebih besar, meskipun peristiwanya sendiri berasal dari pilihan manusia yang berdosa. Tuhan adalah penyebab utama dalam arti Ia memegang kendali atas sejarah, tetapi Ia bukan pelaku utama dari kejahatan yang dilakukan manusia.
Natal menolong kita memahami perbedaan ini dengan sangat jelas.
Jika segala sesuatu—baik dan buruk—benar-benar adalah kehendak Allah dalam arti yang sama, maka kelahiran Yesus tidak akan diperlukan. Tetapi justru karena dunia ini rusak oleh dosa manusia, Allah memilih masuk ke dalam sejarah melalui Anak-Nya. Natal adalah bukti bahwa Allah tidak merestui dunia apa adanya, melainkan datang untuk menebus dan memperbaruinya.
Yesus tidak lahir di istana, tetapi di dunia yang penuh ketidakadilan, kekerasan, dan penindasan. Ia datang bukan untuk berkata, “Semua ini kehendak-Ku,” melainkan untuk menyatakan, “Inilah kehendak Bapa-Ku: keselamatan, pemulihan, dan kehidupan.”
Karena itu Rasul Paulus menasihati kita dalam ayat di atas yang sangat relevan dengan Natal.
Dunia ini sering menyebut yang jahat sebagai wajar, yang tidak adil sebagai biasa, dan yang berdosa sebagai tak terelakkan. Tetapi orang yang telah disentuh oleh Kristus dipanggil untuk membedakan: mana yang berasal dari kehendak Allah, dan mana yang hanya terjadi karena manusia menyalahgunakan kebebasannya.
Natal mengingatkan kita bahwa Tuhan tidak memanggil kita menjadi pasrah secara rohani, tetapi peka secara moral. Kita tidak boleh berkata, “Ini kehendak Tuhan,” untuk membenarkan ketidakpedulian kita terhadap penderitaan sesama. Sebaliknya, kita dipanggil untuk bertanya: “Apa yang dikehendaki Tuhan untuk aku lakukan di tengah situasi ini?”
Secara praktis, renungan Natal ini mengajak kita melakukan tiga hal.
Pertama, berhenti menyalahkan Tuhan atas dosa manusia. Ketika melihat kejahatan, korupsi, kekerasan, atau kerusakan relasi, jangan cepat berkata bahwa semua itu berasal dari Tuhan. Natal menyatakan bahwa Allah justru datang untuk melawan kuasa dosa, bukan menciptakannya.
Kedua, belajar membedakan kehendak Allah dalam kehidupan sehari-hari. Kehendak Allah selalu sejalan dengan karakter-Nya: kudus, penuh kasih, adil, dan benar. Apa pun yang bertentangan dengan karakter ini—sekalipun “terjadi”—bukanlah sesuatu yang patut kita terima atau tiru.
Ketiga, menjadi bagian dari karya pemulihan Allah. Natal bukan hanya tentang Allah yang datang ke dunia, tetapi juga tentang Allah yang kini bekerja melalui umat-Nya. Ketika kita memilih mengasihi, mengampuni, berkata jujur, dan membela yang lemah, kita sedang hidup selaras dengan kehendak Allah yang baik dan sempurna.
Di tengah dunia yang sering membingungkan kehendak Allah dengan kenyataan dunia yang rusak, Natal adalah terang yang menuntun kita kembali pada kebenaran: Allah itu baik, dan kehendak-Nya selalu baik.
Kiranya Natal ini bukan hanya kita rayakan dengan lagu dan tradisi, tetapi dengan hati dan pikiran yang diperbarui—mampu membedakan kehendak Allah, dan berani hidup sesuai dengan kehendak itu.
Doa Penutup:
Tuhan Allah yang mahasuci, kami bersyukur karena Engkau tidak tinggal diam melihat dunia yang rusak oleh dosa. Di dalam Natal, Engkau menyatakan kasih-Mu dengan mengutus Anak-Mu ke dunia ini. Perbaruilah budi kami, ya Tuhan, agar kami tidak menyamakan kehendak-Mu dengan kejahatan yang terjadi di sekitar kami. Ajarlah kami membedakan yang baik, yang berkenan kepada-Mu, dan yang sempurna. Pakailah hidup kami menjadi alat pemulihan di dunia ini, sampai terang Kristus nyata melalui kami. Dalam nama Yesus, Sang Juruselamat yang lahir bagi kami, kami berdoa. Amin.
“Maka masuklah mereka ke dalam rumah itu dan melihat Anak itu bersama Maria, ibu-Nya, lalu sujud menyembah Dia. Mereka pun membuka tempat harta bendanya dan mempersembahkan persembahan kepada-Nya, yaitu emas, kemenyan dan mur.” Matius 2:11
Kisah kelahiran Yesus sering kita bayangkan dengan gambaran yang sederhana: sebuah kandang, palungan, para gembala, dan malaikat. Gambaran ini indah dan benar, namun Alkitab mengajak kita untuk memperhatikan detail-detail kecil yang sering terlewatkan. Salah satunya terdapat dalam Matius 2:11 yang dengan jelas menyebutkan bahwa orang-orang majus menemukan Yesus di sebuah rumah, bukan lagi di kandang.
Mengapa hal ini penting? Karena detail ini menunjukkan bahwa orang-orang majus tidak datang pada malam kelahiran Yesus. Mereka tiba kemudian, setelah perjalanan panjang dan melelahkan. Yesus bukan lagi bayi yang baru lahir, melainkan seorang Anak. Ini berarti pencarian mereka bukan pencarian sesaat, bukan dorongan emosi, melainkan sebuah perjalanan iman yang tekun dan penuh kesabaran.
Kita tahu bahwa orang-orang majus berasal dari Timur, kemungkinan besar dari wilayah Persia—wilayah yang kini dikenal sebagai Iran modern. Jarak yang mereka tempuh diperkirakan sekitar 800 hingga 900 mil. Dalam konteks zaman itu, perjalanan tersebut bukan sekadar perjalanan jauh, tetapi juga berbahaya dan mahal. Mereka harus menempuh padang pasir, menghadapi ancaman perampok, cuaca ekstrem, dan ketidakpastian. Namun mereka tetap berangkat. Mengapa? Karena mereka percaya bahwa apa yang mereka cari jauh lebih berharga daripada kenyamanan dan keamanan pribadi.
Di sinilah kita mulai memahami arti kebijaksanaan sejati. Orang-orang majus bukan hanya cerdas secara intelektual, tetapi bijak secara rohani. Mereka adalah orang-orang yang, pertama-tama, membaca dan mempercayai Firman Tuhan. Walaupun bukan orang Yahudi, mereka mengenal nubuat tentang bintang dan Raja yang akan lahir. Pengetahuan mereka tidak berhenti pada informasi; mereka menanggapinya dengan iman. Banyak orang mengetahui Firman Tuhan, tetapi hanya sedikit yang benar-benar mempercayainya sampai bersedia mengubah arah hidup mereka.
Kedua, mereka setia mencari Yesus. Bintang yang mereka ikuti tidak selalu terlihat jelas. Ada saat-saat ketika mereka harus bertanya, bahkan sempat tersesat hingga tiba di istana Herodes. Namun mereka tidak berhenti. Kebijaksanaan sejati tidak menyerah ketika jalan menjadi rumit. Orang bijak tidak berhenti mencari Tuhan hanya karena doa belum dijawab atau arah terasa kabur.
Ketiga, orang-orang majus mengakui nilai Kristus. Emas, kemenyan, dan mur bukanlah hadiah sembarangan. Itu adalah persembahan mahal, simbol kehormatan, penyembahan, dan pengorbanan. Mereka mempersembahkan yang terbaik, bukan sisa. Ini menantang kita: apa yang kita anggap paling berharga dalam hidup kita? Waktu, tenaga, harta, atau ambisi—apakah semuanya kita tempatkan di bawah kaki Kristus?
Keempat, mereka merendahkan diri untuk menyembah Yesus. Bayangkan para cendekiawan, bangsawan Timur, sujud di hadapan seorang Anak kecil di sebuah rumah sederhana. Tidak ada mahkota emas, tidak ada istana megah. Namun mereka tidak kecewa. Kebijaksanaan sejati mampu melihat kemuliaan Allah di balik kesederhanaan. Orang yang benar-benar bijak tidak tersandung oleh penampilan luar.
Kelima, mereka menaati Tuhan daripada manusia. Setelah bertemu Yesus, mereka diperingatkan dalam mimpi untuk tidak kembali kepada Herodes. Maka mereka pulang melalui jalan lain. Keputusan ini tidak mudah, karena berarti menentang otoritas politik yang berkuasa. Namun mereka memilih taat kepada Allah. Kebijaksanaan sejati selalu berpihak pada kebenaran, meskipun ada risiko.
Keenam, kebijakan mereka bukan untuk jangka pendek. Mereka tidak hanya datang, menyembah, lalu kembali sama seperti sebelumnya. Alkitab mencatat bahwa mereka pulang melalui jalan lain—bukan hanya secara geografis, tetapi juga secara rohani. Pertemuan dengan Kristus mengubah arah hidup. Orang bijak memikirkan dampak jangka panjang dari keputusan mereka, bukan hanya keuntungan sesaat.
Pada minggu sebelum Natal ini, pertanyaannya beralih kepada kita: apakah kita benar-benar bijak? Kita hidup di zaman yang penuh informasi, teknologi, dan kecepatan. Namun kebijaksanaan Alkitab tidak diukur dari seberapa banyak yang kita tahu, melainkan dari bagaimana kita hidup. Apakah kita membaca Firman Tuhan hanya sebagai rutinitas, ataukah kita sungguh mempercayainya? Apakah kita masih tekun mencari Yesus ketika iman diuji oleh penderitaan, usia, atau kekecewaan?
Apakah kita mengakui nilai Kristus lebih tinggi daripada kenyamanan dan keamanan kita? Apakah kita masih mau sujud menyembah, merendahkan diri, dan taat, bahkan ketika itu bertentangan dengan arus dunia? Dan yang tidak kalah penting: apakah keputusan-keputusan kita hari ini mencerminkan kebijaksanaan untuk kekekalan, atau hanya kepentingan jangka pendek?
Orang-orang majus tidak pernah tercatat berkata-kata dalam Alkitab, namun hidup mereka berbicara dengan sangat lantang. Mereka datang dari jauh untuk menyembah Sang Juruselamat. Mereka adalah saksi bahwa kebijaksanaan sejati selalu membawa seseorang lebih dekat kepada Kristus, bukan kepada diri sendiri.
Kiranya renungan ini menolong kita bercermin. Mungkin kita sudah lama berada di “sekitar” Yesus—di gereja, dalam pelayanan, atau dalam aktivitas rohani. Mungkin kita menantikan datangnya hari Natal dengan perasaan gembira. Namun pertanyaannya adalah: apakah kita benar-benar bijak seperti orang-orang majus itu?
Doa Penutup:
Tuhan yang Mahabijaksana, kami datang kepada-Mu dengan hati yang rindu untuk belajar. Ajarlah kami kebijaksanaan yang sejati, bukan yang berasal dari dunia, melainkan yang berakar pada takut akan Tuhan. Ampuni kami bila selama ini kami lebih mengejar kenyamanan daripada ketaatan, lebih memilih jalan mudah daripada jalan kebenaran.
Seperti orang-orang majus, berikanlah kami hati yang tekun mencari Engkau, iman untuk mempercayai Firman-Mu, dan kerendahan hati untuk menyembah-Mu. Tolong kami agar berani menaati-Mu lebih daripada manusia, dan hidup dengan perspektif kekekalan, bukan kepentingan sesaat.
Bimbing langkah hidup kami, ya Tuhan, agar setelah berjumpa dengan Kristus, kami pun pulang melalui “jalan yang lain”—jalan yang Engkau kehendaki. Di dalam nama Yesus Kristus, Sang Hikmat sejati, kami berdoa. Amin.
“Sesungguhnya, anak dara itu akan mengandung dan melahirkan seorang anak laki-laki, dan mereka akan menamakan Dia Imanuel” – yang berarti: Allah menyertai kita. Matius 1:23
Natal kembali mendatangi kita. Bagi sebagian orang, ini adalah musim belanja dan perayaan. Bagi yang lain, ini adalah masa pelayanan yang padat di gereja. Lampu-lampu menyala, lagu-lagu Natal terdengar di mana-mana, dan kalender penuh dengan acara. Dari luar, dunia tampak meriah dan sibuk.
Namun Natal tahun ini juga datang di tengah luka yang mendalam.
Peristiwa teror kemarin siang di pantai Bondi, Sydney, mengguncang rasa aman dan menorehkan duka yang nyata. Lebih dari 10 orang tewas akibat ulah ayah dan anak yang menembaki pengunjung perayaan hari raya kaum Yahudi. Di ruang publik yang selama ini kita anggap biasa—tempat berbelanja, berjalan, dan menjalani hidup sehari-hari—kekerasan bisa datang tanpa peringatan. Banyak hati diliputi ketakutan, kesedihan, dan kebingungan.
Di saat seperti ini, wajar bila pertanyaan-pertanyaan berat muncul:
Di mana Tuhan?
Mengapa Ia membiarkan malapetaka terjadi?
Bagaimana mungkin kita berbicara tentang damai Natal di tengah tragedi?
Pertanyaan-pertanyaan ini bukan tanda iman yang rapuh. Justru inilah suara hati manusia yang jujur ketika berhadapan dengan penderitaan. Alkitab tidak pernah melarang pertanyaan semacam ini. Mazmur penuh dengan ratapan. Ayub bergumul dengan ketidakmengertian. Bahkan Yesus sendiri berseru di kayu salib. Iman Kristen tidak dibangun di atas penyangkalan rasa sakit, tetapi di atas keberanian untuk membawa rasa sakit itu kepada Allah.
Ayat di atas sering kita dengar setiap Natal. Namun di tengah duka dan ketakutan, maknanya terasa jauh lebih dalam. Kata Imanuel tidak berarti Allah menjauhkan kita dari semua penderitaan. Itu berarti Allah hadir di dalam penderitaan itu.
Natal tidak menjanjikan dunia tanpa kejahatan. Natal menyatakan bahwa Allah tidak meninggalkan dunia ketika kejahatan terjadi. Ia tidak menonton dari kejauhan. Ia masuk ke dalam sejarah manusia, ke dalam dunia yang rapuh, ke dalam realitas yang penuh kekerasan dan air mata.
Yesus lahir bukan di dunia yang aman. Sejak awal hidup-Nya, ancaman sudah ada. Tak lama setelah kelahiran-Nya, anak-anak di Betlehem dibunuh oleh kekuasaan yang kejam. Kisah Natal sejak awal telah bersinggungan dengan darah dan penderitaan. Namun justru di dunia seperti itulah Allah memilih untuk hadir.
Imanuel berarti Allah berjalan bersama manusia yang terluka. Ia hadir bersama mereka yang berduka karena kehilangan. Ia hadir bersama mereka yang hidup dalam ketakutan. Ia hadir bersama mereka yang tidak menemukan jawaban atas pertanyaan “mengapa”.
Kita mungkin tidak pernah sepenuhnya mengerti mengapa Tuhan mengizinkan tragedi seperti teror di Bondi terjadi. Alkitab pun tidak memberi penjelasan yang sederhana. Tetapi iman Kristen memberi sesuatu yang lebih dari sekadar penjelasan: kehadiran Allah yang setia.
Di tengah dunia yang sibuk dan sering kali bising, Natal mengajak kita untuk berhenti sejenak. Bukan untuk melarikan diri dari kenyataan, tetapi untuk mengingat bahwa kita tidak sendirian menghadapinya. Damai Natal bukanlah damai karena semua masalah selesai, melainkan damai karena Allah menyertai kita di tengah masalah itu.
Natal juga memanggil kita untuk hidup sebagai pembawa terang. Jika Allah memilih untuk hadir di dunia yang terluka, maka umat-Nya pun dipanggil untuk hadir—menghibur yang berduka, menguatkan yang lemah, dan menolak kebencian dengan kasih. Kita mungkin tidak dapat menjelaskan penderitaan, tetapi kita dapat menghadirkan kasih di tengahnya.
Natal tahun ini mungkin terasa lebih sunyi dan berat. Namun justru di sanalah makna Natal menjadi nyata. Imanuel bukan sekadar kata indah dalam lagu dan kartu ucapan. Ia adalah pengakuan iman yang dalam: Allah menyertai kita—bahkan ketika dunia terasa gelap dan tidak masuk akal.
Dan mungkin iman yang paling murni pada Natal ini bukan iman yang memiliki semua jawaban, melainkan iman yang berani berkata:
Tuhan, kami tidak mengerti, tetapi kami percaya Engkau tetap menyertai kami.
Doa Penutup:
Tuhan Allah yang penuh kasih, di hadapan-Mu kami datang dengan hati yang berat. Kami membawa duka, ketakutan, dan pertanyaan yang tidak selalu memiliki jawaban.
Kami berdoa bagi mereka yang menjadi korban teror di Bondi, bagi keluarga yang kehilangan orang-orang terkasih, dan bagi semua yang masih hidup dalam trauma dan ketakutan. Kiranya Engkau sendiri menjadi penghibur dan sumber kekuatan mereka.
Tuhan, kami tidak selalu mengerti jalan-Mu. Kami tidak memahami mengapa kejahatan diizinkan terjadi. Namun kami berpegang pada janji-Mu bahwa Engkau adalah Imanuel—Allah yang menyertai kami.
Hadirlah di tengah dunia yang terluka ini. Hadirlah di tengah hati kami yang gelisah. Jadikanlah kami alat damai-Mu, pembawa kasih di tengah kebencian, dan terang di tengah kegelapan, dalam keluarga, gereja, dan masyarakat umum.
Di Natal ini, ajarlah kami untuk tidak hanya merayakan kelahiran Kristus, tetapi juga hidup dalam kehadiran-Nya setiap hari.
Dalam nama Tuhan Yesus Kristus, Imanuel kami, kami berdoa. Amin.
“Maka Ia maju sedikit, lalu sujud dan berdoa, kata-Nya: ”Ya Bapa-Ku, jikalau sekiranya mungkin, biarlah cawan ini lalu dari pada-Ku, tetapi janganlah seperti yang Kukehendaki, melainkan seperti yang Engkau kehendaki.” Matius 26:39
Ada doa-doa yang mengalir dengan ringan dari bibir kita. Doa sebelum makan. Doa syukur ketika kabar baik datang. Doa permohonan sederhana yang kita ucapkan hampir tanpa berpikir. Namun ada juga doa-doa yang terasa berat, bukan karena kata-katanya sulit, melainkan karena maknanya menuntut kejujuran dan keberanian yang dalam.
Salah satu doa yang paling berat sering muncul di ruang tunggu rumah sakit, di depan hasil pemeriksaan medis, atau ketika dokter berkata, “Kita perlu memastikan lebih lanjut.” Pada saat itu, hati manusia hampir secara refleks ingin berdoa: “Tuhan, semoga ini tidak serius.” Itu doa yang sangat manusiawi. Tidak ada yang salah dengan ketakutan. Tidak ada dosa dalam keinginan untuk tetap sehat, tetap kuat, tetap bersama orang-orang yang kita kasihi.
Namun ada doa lain, yang jarang diucapkan dengan spontan, dan sering muncul setelah pergumulan batin yang panjang: “Tuhan, biarlah diagnosis ini benar dan jelas, supaya pengobatan dapat dilakukan dengan tepat.” Doa ini terdengar lebih dingin, lebih rasional, bahkan mungkin kurang rohani bagi sebagian orang. Tetapi justru di sinilah iman diuji—bukan hanya iman kepada kuasa Allah, tetapi iman kepada karakter-Nya.
Ketika kita berdoa agar penyakit “tidak serius”, sesungguhnya kita sedang berdoa agar realitas disesuaikan dengan harapan kita, dan kita tidak mau menghadapi kemungkinan adanya salah diagnosis. Ini seperti orang yang menerima adanya mukjizat tanpa ingin mengetahui kebenarannya. Ketika kita berdoa agar diagnosis “akurat”, kita sedang berdoa agar kita disesuaikan dengan realitas, apa pun bentuknya, dan dengan itu bisa berdoa untuk memohon pertolongan Tuhan. Yang pertama berangkat dari keinginan untuk terhindar dari penderitaan. Yang kedua berangkat dari keinginan untuk berjalan dalam kebenaran.
Alkitab menunjukkan bahwa Allah tidak alergi terhadap doa-doa yang lahir dari ketakutan. Mazmur penuh dengan jeritan orang-orang yang ingin dilepaskan dari sakit, dari maut, dari penderitaan. Bahkan Yesus sendiri, di taman Getsemani, berdoa agar cawan penderitaan itu berlalu dari-Nya. Ini mengingatkan kita bahwa meminta kelegaan bukanlah tanda iman yang lemah. Itu tanda kita adalah manusia.
Namun doa Yesus tidak berhenti di sana. Ia melanjutkan dengan kalimat yang sering kita kagumi tetapi jarang kita tiru sepenuh hati: “Namun bukan kehendak-Ku, melainkan kehendak-Mu yang jadi.” Di titik inilah doa berubah dari permohonan menjadi penyerahan. Dari harapan pribadi menjadi ketaatan. Dari keinginan untuk diselamatkan dari penderitaan menjadi kesediaan untuk berjalan bersama Allah di dalamnya.
Doa agar diagnosis akurat adalah doa semacam ini. Doa yang berkata, “Tuhan, aku tidak tahu apa hasilnya, tetapi aku ingin tahu kebenaran.” Ini bukan doa orang yang putus asa, melainkan doa orang yang ingin hidup dengan bijaksana. Kebenaran mungkin menyakitkan, tetapi ketidakjelasan sering kali jauh lebih berbahaya. Diagnosis yang salah, atau yang disangkal, dapat menunda pengobatan, memperparah kondisi, dan pada akhirnya membawa penderitaan yang lebih besar.
Di sinilah iman Kristen bersifat realistis. Kita tidak dipanggil untuk hidup dalam ilusi rohani. Allah yang kita sembah adalah Allah yang bekerja dalam sejarah, dalam tubuh manusia, dalam proses medis, dalam hikmat para dokter, dan dalam teknologi yang berkembang. Lukas, penulis Injil, adalah seorang tabib. Paulus menyarankan Timotius untuk menggunakan anggur demi kesehatannya. Semua ini menunjukkan bahwa mencari kejelasan medis bukanlah tanda kurang iman, melainkan bentuk tanggung jawab.
Namun tetap saja, doa agar kebenaran dinyatakan membutuhkan keberanian. Keberanian untuk menerima kabar buruk. Keberanian untuk mengakui keterbatasan tubuh. Keberanian untuk menyerahkan masa depan kepada Allah tanpa syarat. Doa ini memotong ilusi bahwa kita mengendalikan hidup kita sendiri.
“datanglah Kerajaan-Mu, jadilah kehendak-Mu di bumi seperti di sorga.” Matius 6:10
Menariknya, justru di sinilah banyak orang menemukan damai yang lebih dalam. Ketika kita berhenti menawar realitas dan mulai mempercayakan diri kepada Allah sepenuhnya, ketakutan perlahan berubah menjadi ketenangan. Bukan karena situasi menjadi lebih ringan, tetapi karena beban tidak lagi dipikul sendirian.
Dalam perjalanan iman, doa sering kali bertumbuh seiring usia dan pengalaman. Pada masa muda, doa kita sering berpusat pada hasil: kesembuhan, keberhasilan, jalan keluar cepat. Seiring waktu, doa berubah menjadi permohonan akan hikmat, keteguhan, dan kesetiaan. Kita mulai berdoa bukan hanya agar penderitaan dijauhkan, tetapi agar hidup kita—sehat atau sakit—tetap memuliakan Tuhan.
Doa yang matang bukan doa yang paling optimistis, melainkan doa yang paling jujur. Jujur tentang ketakutan kita, dan jujur tentang ketergantungan kita kepada Allah. Dalam kejujuran itulah iman menemukan bentuknya yang paling murni.
Maka ketika kita berdiri di persimpangan antara dua doa—doa agar penyakit tidak serius, dan doa agar diagnosis akurat—kita tidak perlu memilih salah satunya secara kaku. Kita boleh memulai dengan doa yang lahir dari ketakutan, dan berakhir dengan doa yang lahir dari penyerahan. Kita boleh berkata, “Tuhan, aku berharap ini ringan,” sambil menambahkan, “tetapi lebih dari itu, aku ingin berjalan dalam kebenaran-Mu.”
Karena pada akhirnya, iman Kristen bukan janji bahwa kita akan selalu terhindar dari penderitaan, melainkan keyakinan bahwa kita tidak pernah berjalan sendirian di dalamnya.
“Sebab aku yakin, bahwa baik maut, maupun hidup, baik malaikat-malaikat, maupun pemerintah-pemerintah, baik yang ada sekarang, maupun yang akan datang, atau kuasa-kuasa, baik yang di atas, maupun yang di bawah, ataupun sesuatu makhluk lain, tidak akan dapat memisahkan kita dari kasih Allah, yang ada dalam Kristus Yesus, Tuhan kita.” Roma 8:38-39
Doa Penutup:
Tuhan yang penuh kasih, Engkau mengenal tubuh kami lebih dari siapa pun. Engkau tahu ketakutan yang tersembunyi di hati kami, dan Engkau tidak menolak doa yang lahir dari kelemahan.
Kami mohon belas kasihan-Mu, ya Tuhan. Jika berkenan, jauhkanlah penyakit dan penderitaan dari kami. Namun bila kami harus menghadapi kenyataan yang sulit, berilah kami hati yang mau menerima kebenaran. Tuntunlah setiap pemeriksaan, setiap keputusan medis, dan setiap tangan yang merawat kami,supaya semua berjalan dalam hikmat dan kejelasan.
Ajarlah kami untuk tidak hanya mencari kesembuhan, tetapi juga kesetiaan. Tidak hanya kelegaan, tetapi juga kedewasaan iman. Di dalam sehat maupun sakit, biarlah hidup kami tetap berada di dalam tangan-Mu. Dalam nama Tuhan Yesus kami berdoa. Amin.
“Masa hidup kami tujuh puluh tahun dan jika kami kuat, delapan puluh tahun, dan kebanggaannya adalah kesukaran dan penderitaan; sebab berlalunya buru-buru, dan kami melayang lenyap.” Mazmur 90:10
Mazmur 90 adalah satu-satunya mazmur yang ditulis oleh Musa. Dari seluruh pengalamannya memimpin umat di padang gurun, ia menyimpulkan bahwa hidup manusia sesungguhnya singkat. Ia tidak sedang menetapkan aturan baku tentang usia rata-rata, tetapi menggambarkan realitas umum pada zamannya: kehidupan penuh perjuangan, rasa letih, dan cepat berlalu. Bahkan para pemimpin besar seperti Musa sendiri menyadari bahwa manusia hanyalah debu yang bergantung sepenuhnya pada belas kasihan Allah.
Mazmur ini juga memuat nada penghakiman: generasi yang berjalan di padang gurun menyaksikan banyak yang gugur sebelum mencapai Tanah Perjanjian. Namun isi mazmur tidak berhenti pada hukuman—sebaliknya, ia mengajak umat menyadari kefanaan mereka agar mereka berhikmat dalam menjalani hidup.
Di tengah gambaran tentang umur 70–80 tahun ini, Alkitab memberi perspektif yang lebih luas. Kristus sendiri hidup hanya sekitar tiga puluh tahun di dunia. Artinya, panjang umur bukan ukuran nilai hidup. Justru melalui hidup Yesus yang relatif singkat, kita melihat rencana kekal Allah yang jauh melampaui batas usia manusia.
1. Hidup Panjang Bukanlah Ukuran, Melainkan Kesempatan
Banyak orang menganggap umur yang panjang sebagai bukti berkat. Namun Mazmur ini mengingatkan bahwa angka usia tidak menentukan kualitas hidup seseorang. Seseorang bisa mencapai usia lanjut tetapi tidak pernah mengenal damai Tuhan. Sebaliknya, seseorang bisa hidup sebentar tetapi meninggalkan warisan kasih, kesetiaan, dan ketaatan yang berpengaruh sampai generasi berikutnya.
Dalam terang ini, hidup panjang sesungguhnya adalah kesempatan—bukan kebanggaan. Kesempatan untuk bertobat, belajar, mengasihi, dan melayani. Kesempatan untuk mengarahkan hati kepada Dia yang memberi hidup.
2. Hidup Bernilai Ketika Dipakai untuk Memuliakan Tuhan
Mazmur lain berkata: “Aku hendak memuliakan Tuhan selama aku hidup.” Itu bukanlah pernyataan tentang berapa lama seseorang bisa bertahan, melainkan tentang kemana arah hatinya tertuju. Setiap hari adalah kesempatan memuliakan Tuhan melalui kasih yang tulus, melalui kesabaran, melalui pengampunan, melalui pekerjaan yang dilakukan dengan setia, dan melalui kehidupan yang menjadi kesaksian.
Ada orang yang hidup bertahun-tahun tetapi tidak pernah mengarahkan hidupnya kepada Tuhan. Ada pula orang-orang yang singkat umurnya, namun kehidupan mereka seperti pelita yang tetap menyala bagi generasi setelahnya. Ukuran kehidupan tidak ditentukan oleh panjangnya kalender, tetapi oleh kedalaman ketaatan.
3. Perumpamaan Talenta: Tuhan Menilai Isi Hidup, Bukan Lamanya Hidup
Perumpamaan talenta adalah kunci untuk memahami bagaimana Tuhan menilai kehidupan kita. Yesus sedang berbicara tentang kedatangan-Nya kembali—tentang penghakiman terakhir. Ia menggambarkan seorang tuan yang mempercayakan talenta kepada hamba-hambanya. Talenta di sini bukan hanya bakat, melainkan seluruh paket kesempatan, pengaruh, waktu, sumber daya, dan panggilan yang Tuhan titipkan kepada kita.
Yang mencolok adalah ini:
Tuan itu tidak mempersoalkan berapa lama para hamba mengerjakan talenta itu. Ia hanya melihat apa yang mereka lakukan dengan apa yang diberi.
Demikian pula dalam hidup kita:
Tuhan tidak menanyakan, “Berapa tahun kamu hidup?” Melainkan, “Apa yang kamu perbuat dengan tahun-tahun itu?”
Hamba yang setia mendapat pujian. Hamba yang menyembunyikan talenta mendapat teguran keras. Pesan Yesus jelas: hidup di dunia adalah masa penantian yang aktif. Setiap napas adalah kesempatan untuk setia, bukan untuk pasif.
4. Hidup Yang Kekal Mengubah Cara Kita Melihat Usia
Kematian bukanlah akhir bagi orang percaya. Melalui Kristus, kematian telah ditaklukkan, dan kehidupan kekal telah dibukakan. Ketika seseorang menyadari bahwa hidupnya tidak berakhir di dunia, ia tidak lagi mengukur nilainya dari panjang usia.
Usia 70, 80, atau bahkan 100 tahun hanyalah titik kecil jika dibandingkan dengan kekekalan. Karena itu, yang terpenting bukanlah mempertahankan hidup sepanjang mungkin, atau bangga dengan kebugaran tubuh di hari tua, tetapi hidup setia selama Tuhan memberi.
Kualitas hidup yang memuliakan Tuhan—itulah yang bertahan sampai selamanya. Tuhan tidak mencari lilin yang bisa lama menyala, tetapi lilin yang mau menyinarkan cahaya-Nya.
Doa penutup;
Tuhan, ajarlah kami menghitung hari-hari kami sehingga kami memperoleh hati yang bijaksana. Ingatkan kami bahwa hidup ini cepat berlalu, tetapi setiap hari yang Engkau berikan penuh dengan kesempatan untuk mengasihi-Mu dan melayani sesama. Biarlah kami tidak sekadar mengejar umur panjang, tetapi mengejar hidup yang memuliakan Engkau. Pakailah setiap talenta, waktu, dan kesempatan yang Engkau titipkan agar hidup kami menjadi terang bagi dunia. Dan ketika hari-hari kami berakhir, biarlah kami menemukan diri kami dalam kemuliaan-Mu yang kekal. Dalam nama Yesus kami berdoa. Amin.
Ada sebuah pengakuan jujur dalam Mazmur 90 yang selalu menyentuh hati manusia sepanjang zaman. Musa, pemimpin besar Israel, menuliskan refleksi hidupnya: “Masa hidup kami tujuh puluh tahun dan jika kami kuat, delapan puluh tahun, dan kebanggaannya adalah kesukaran dan penderitaan; sebab berlalunya buru-buru, dan kami melayang lenyap.” Ayat ini bukan sebuah vonis ilahi tentang batas usia manusia, melainkan gambaran jujur tentang kefanaan hidup manusia di dunia. Musa yang melihat begitu banyak orang Israel jatuh di padang gurun, yang menyaksikan kerapuhan manusia setiap hari, menyimpulkan bahwa hidup itu pendek, melelahkan, dan bergerak cepat seperti kabut pagi yang hilang saat matahari terbit.
Namun justru di balik pengakuan tentang singkatnya hidup ini, tersimpan undangan rohani yang mendalam: bila hidup ini tidak panjang, bagaimana kita harus menjalankannya? Bila waktu bergerak cepat dan tidak bisa ditahan, apa arti umur panjang? Dan bila umur manusia bukan ukuran nilai hidup, maka apa yang benar-benar membuat hidup bermakna di hadapan Tuhan?
Renungan tentang hidup panjang sering mengarah pada angka: apakah seseorang mencapai 70, 80, atau bahkan 100 tahun. Banyak budaya menganggap umur panjang sebagai simbol keberhasilan, berkat, atau hidup yang baik. Tetapi Alkitab memperlihatkan sesuatu yang jauh lebih mendalam: panjangnya hidup bukanlah jumlah tahun, tetapi kedalaman pengabdian. Bukan lamanya napas, tetapi kepada siapa napas itu dipersembahkan. Hidup yang panjang adalah hidup yang dipenuhi makna, bukan hitungan kalender.
Bahkan Tuhan Yesus sendiri hidup relatif singkat—sekitar tiga puluh tahun. Namun tidak ada satu manusia pun yang memiliki pengaruh lebih besar dari Dia. Dari sini kita belajar: Tuhan tidak menilai panjangnya usia, tetapi kesetiaan dalam menjalani panggilan Ilahi. Tidak semua orang diberi kesempatan untuk hidup lama, tetapi setiap orang diberi kesempatan untuk hidup bermakna.
Itulah sebabnya Mazmur lain mengatakan, “Aku hendak memuliakan Tuhan selama aku hidup.” Perhatikan bahwa ayat ini tidak menyebutkan panjang usia. Memuliakan Tuhan tidak membutuhkan usia tertentu, tidak membutuhkan masa hidup yang panjang atau pendek. Yang dibutuhkan adalah hati yang mau diarahkan kepada Dia. Seseorang dapat hidup lama namun tidak pernah memuliakan Tuhan. Sebaliknya, ada yang hidup singkat, namun hidupnya menjadi kesaksian yang tetap dikenang di bumi dan diperhitungkan di surga.
Ketika kita berbicara tentang hidup panjang, kita sering terpaku pada berapa lama kita bisa bertahan. Tetapi Alkitab mengarahkan fokus kita kepada apa yang kita lakukan selama kita diberi waktu. Ini ditegaskan dengan sangat kuat dalam Perumpamaan Talenta. Yesus berbicara tentang seorang tuan yang pergi jauh dan mempercayakan talenta kepada hamba-hamba-Nya. Talenta itu bukan sekadar kemampuan, tetapi seluruh kesempatan, waktu, kekuatan, pengaruh, dan karunia yang Tuhan berikan kepada kita untuk dikelola dan dikembangkan.
Yang menarik, dalam perumpamaan itu, tuan tersebut tidak bertanya berapa lama para hamba bekerja. Ia tidak menghitung jam, hari, atau tahun. Yang Ia perhatikan adalah apa yang mereka hasilkan dengan apa yang telah dipercayakan. Ada hamba yang setia mengembangkan talenta, dan ada yang memilih untuk menyembunyikannya. Perbedaan mereka bukan pada usia, melainkan pada respons. Bukan pada lamanya hidup, melainkan pada kesetiaan.
Karena itu, dunia sering mengukur keberhasilan dari berapa lama seseorang hidup. Tetapi Tuhan mengukur dari bagaimana seseorang menghidupi anugerah-Nya dari hari ke hari. Kita dapat merasakan tekanan batin ketika memikirkan usia yang terus bertambah, tubuh yang semakin lemah, atau kesempatan yang perlahan menyempit. Tetapi renungan Mazmur 90 mengajak kita memandang dari perspektif yang berbeda. Jika hidup memang singkat, maka setiap hari menjadi permata yang berharga. Jika usia manusia cepat berlalu, maka setiap jam menjadi kesempatan untuk hidup dengan bijak.
Musa sendiri memohon kepada Tuhan: “Ajarlah kami menghitung hari-hari kami sedemikian, hingga kami beroleh hati yang bijaksana.” Ia tidak berdoa agar Tuhan menambah tahun hidupnya. Ia meminta hikmat untuk memakai waktu yang tersedia. Inilah doa yang memampukan manusia menjalani hari-hari tanpa penyesalan, sebab setiap langkah dipenuhi kesadaran akan tujuan yang kekal.
Hidup yang memuliakan Tuhan adalah hidup yang menyala di hadapan-Nya. Bukan karena panjangnya tahun, melainkan karena ketekunan, kasih, dan pelayanan yang terus dipersembahkan. Ibarat sebuah lilin, ada lilin yang besar dan panjang, tetapi nyalanya redup dan tidak memberi banyak cahaya. Ada juga lilin kecil yang cepat habis, tetapi selama menyala ia mengusir gelap dan menghangatkan suasana. Tuhan tidak mencari lilin yang paling panjang, tetapi lilin yang paling setia menyinarkan terang. Dia melihat kualitas, bukan kuantitas. Dia melihat hati, bukan usia.
Ketika seseorang hidup dengan cara ini—dengan kesadaran bahwa hidupnya adalah alat untuk memuliakan Tuhan—maka ia tidak takut dengan usia. Ia tidak mengeluh tentang masa lalu, tidak cemas tentang masa depan. Ia berjalan dengan damai karena tahu setiap hari adalah kesempatan untuk menyaksikan kasih Tuhan. Orang seperti ini membuat hidupnya “panjang”, bukan karena angka, tetapi karena buahnya tetap tinggal bahkan setelah ia pergi.
Pada akhirnya, renungan tentang hidup panjang membawa kita kepada satu kenyataan: hidup ini terbatas, tetapi hidup dalam Tuhan tidak pernah berakhir. Dalam Kristus, kehidupan kekal sudah dimulai di dalam diri kita sejak saat kita percaya. Karena itu, makna hidup bukan ditentukan dari berapa lama kita tinggal di dunia, tetapi bagaimana kita menghidupi anugerah yang sudah diberikan. Ketika hidup diarahkan untuk memuliakan Tuhan, ketika talenta dipakai dengan setia, ketika waktu dimanfaatkan untuk mengasihi dan melayani, maka hidup kita tidak akan pernah “pendek”—sebab buahnya melampaui batas waktu dan masuk ke dalam kekekalan.
DOA PENUTUP
Tuhan, ajarlah kami menghitung hari-hari kami dengan bijaksana. Ingatkan kami bahwa hidup ini singkat, tetapi setiap hari adalah kesempatan untuk memuliakan nama-Mu. Bentuklah hati kami agar setia dengan talenta dan waktu yang Engkau percayakan. Biarlah hidup kami dipenuhi terang-Mu dan meninggalkan jejak yang memuliakan Engkau. Ketika hari-hari kami berakhir, bawa kami masuk dalam kehidupan kekal yang telah Engkau sediakan melalui Kristus. Amin.
Jika Anda ingin, saya dapat menyiapkan versi untuk dibawakan sebagai khotbah, atau versi lebih puitis untuk renungan pribadi.