Manusia tidak bisa melupakan, tapi Tuhan bisa

”Aku akan menaruh hukum-Ku di dalam hati mereka dan menuliskannya dalam akal budi mereka, dan Aku tidak lagi mengingat dosa-dosa dan kesalahan mereka.” Ibrani 10:16-17

Salah satu pernyataan yang paling umum kita dengar dalam percakapan tentang pengampunan adalah ini: “Saya dapat mengampuni, tetapi saya tidak dapat melupakan.” Kedengarannya mulia—jujur, bahkan praktis. Lagi pula, bagaimana seseorang dapat benar-benar melupakan pengkhianatan, luka, atau kekecewaan yang mendalam? Daya ingat kita sangat kuat. Kenangan yang ada dalam pikiran kita membentuk siapa diri kita dan memberi tahu cara kita berinteraksi dengan dunia. Wajar saja jika kita membawa kenangan tertentu—terutama yang menyakitkan—dalam diri kita.

Namun, pernahkah Anda berhenti sejenak untuk mempertimbangkan betapa berbedanya Allah dengan kita? Ibrani 10:16–17 berisi salah satu janji yang paling mengejutkan dalam Alkitab. Allah, berbicara tentang perjanjian yang baru yang dimungkinkan melalui Yesus Kristus, menyatakan bahwa Ia akan “menaruh hukum-hukum-Nya di dalam hati mereka” dan “menuliskannya dalam pikiran mereka.” Kemudian, seolah-olah untuk menyegel perjanjian itu dengan sesuatu yang bahkan lebih radikal, Ia berkata: “Aku tidak lagi mengingat dosa-dosa dan pelanggaran hukum mereka.”

Ibrani 10:16 dikutip dari Yeremia 31:33. Ayat yang sama disebutkan sebelumnya dalam Kitab Ibrani, untuk menunjukkan bahwa Allah telah berjanji untuk mengganti perjanjian yang lama. Maksud Allah bukanlah untuk menggunakan imamat Lewi sebagai solusi utama bagi umat manusia untuk dosa. Sebaliknya, ritual dan objek perjanjian Tuhan yang lama dimaksudkan untuk mengarahkan umat manusia kepada Mesias, Yesus Kristus. Penulis litab Ibrani sangat berhati-hati untuk mendukung klaim ini dengan menggunakan Firman Allah sendiri, dari Alkitab Perjanjian Lama. Ayat sebelumnya secara eksplisit mengingatkan pembaca bahwa itu adalah firman Allah—Roh Kudus yang berbicara kepada kita—sebagai cara untuk mendorong pembaca agar menganggap serius firman tersebut.

Yeremia 31:33 menekankan aspek utama dari perjanjian Tuhan yang baru. Sementara perjanjian Tuhan yang lama bersifat eksternal dan bergantung pada hukum tertulis, perjanjian yang baru bersifat internal dan “tertulis” di hati dan pikiran setiap orang percaya.

Ibrani 10:17 muncul di akhir diskusi panjang di mana penulis Ibrani sering mengutip ayat dari Perjanjian Lama. Alasan kutipan ini adalah untuk membuktikan bahwa Allah, sejak awal, berjanji untuk mengutus Yesus sebagai penggenapan akhir dari rencana-Nya untuk menyelesaikan dosa kita. Pada waktu itu, orang-orang Kristen Yahudi yang membaca kata-kata ini pasti akan terpengaruh terutama oleh seruan kepada Kitab Suci mereka sendiri.

Salah satu bagian yang digunakan adalah Yeremia 31:31–34. Di sana, Allah secara langsung mengatakan bahwa Ia akan membentuk “perjanjian yang baru” dengan Israel, terpisah dari perjanjian yang diberikan kepada Musa dan dilaksanakan oleh para imam Lewi (Ibrani 8:7–13). Komponen utama dari perjanjian yang baru ini adalah kehadirannya di dalam setiap orang. Berbeda dengan perjanjian Tuhan yang lama yang ditulis di atas batu dan bergantung pada pengorbanan hewan yang berulang, perjanjian yang baru ini akan “ditulis” di dalam pikiran dan hati manusia.

Perjanjian yang lama bukanlah penyembuhan permanen untuk dosa; ini hanyalah pengingat sementara akan dosa dan simbol rencana akhir Allah. Sebaliknya, perjanjian yang baru, menurut Yeremia, akan menghasilkan sesuatu yang tidak dapat ditawarkan oleh perjanjian yang lama: pengampunan dosa yang sesungguhnya. Pengorbanan tunggal Yesus untuk dosa sekali untuk selamanya akan benar-benar membersihkan manusia, dari dalam, alih-alih hanya menutupi dosanya untuk sementara waktu.

Allah—yang mahatahu, yang mengetahui segala sesuatu—mengatakan bahwa Ia akan melupakan. Ini bukan masalah kegagalan ingatan ilahi. Ini adalah tindakan Tuhan dengan kehendak yang disengaja dan penuh kasih. Allah memilih untuk tidak mengingat dosa-dosa kita. Ia memilih untuk tidak mengingatnya ketika berurusan dengan kita. Ia menghapus semua kesalahan—tidak hanya sementara, tidak hanya bersyarat, tetapi selamanya.

Kelupaan ilahi ini tidak seperti kelupaan manusia. Ini bukan sesuatu yang tidak disengaja atau tidak lengkap. Ini sempurna dan bertujuan. Allah, karena Ia adalah kasih, memilih untuk melupakan dosa-dosa kita. Ia melakukan ini karena Yesus, melalui kematian dan kebangkitan-Nya, telah membuat penebusan penuh atas dosa-dosa kita. Keadilan Allah telah dipuaskan di kayu salib. Dan karena itu, Tuhan sekarang dapat berkata: “Aku tidak mengingat dosa-dosamu lagi.” Sungguh pemikiran yang luar biasa.

Jika kita taat pada firman Tuhan, kita berusaha untuk menghentikan kemarahan kita secepat mungkin. Kita berjuang untuk melupakan kesalahan orang lain yang dilakukan kepada kita. Tetapi ini tidak mudah. Kita lebih sering menyimpan dendam, mengingat luka masa lalu, dan terkadang bahkan memendamnya. Bahkan ketika kita mengatakan kita mengampuni, kenangan itu masih menghantui kita. Kenangan itu muncul dalam pikiran kita, hubungan kita, dan reaksi kita. Namun, Tuhan semesta alam—yang memiliki hak penuh untuk menghukum kita—berkata, “Aku tidak akan mengingatnya lagi.” Seperti inilah rupa kasih karunia.

Sebagian orang mungkin berkata, “Begitulah Tuhan. Aku bukan Tuhan—aku tidak bisa melupakan seperti itu.” Itu benar. Kita tidak bisa melakukannya sendiri. Namun, jika Kristus hidup di dalam kita, maka Roh-Nya memberi kita kekuatan untuk hidup secara berbeda. Kita mungkin tidak dapat melupakan seperti yang Tuhan lakukan, tetapi kita dapat memilih untuk tidak memikirkan pelanggaran itu. Kita dapat memilih untuk tidak terus-menerus mengungkitnya—baik dalam pikiran kita maupun dalam hubungan kita.

Kita dapat memilih untuk melepaskan cengkeraman kepahitan. Jadi, pengampunan bukan hanya peristiwa satu kali—sering kali merupakan keputusan yang harus diambil setiap hari. Dan melupakan bukan berarti tidak adanya ingatan, tetapi penolakan untuk membiarkan ingatan mengendalikan sikap dan tindakan kita. Ketika kita berkata, “Saya mengampuni, tetapi saya tidak bisa melupakan,” kita sering kali mengakui tetap adanya pergumulan alih-alih keadaan yang sudah mapan dan aman. Itu normal bagi manusia yang lemah. Namun, kita juga harus bersedia untuk bertumbuh. Kita harus mengizinkan Kristus melakukan pekerjaan transformasi-Nya di dalam diri kita.

Penting untuk dicatat bahwa melupakan tidak berarti meremehkan apa yang terjadi. Itu tidak berarti menyangkal rasa sakit atau berpura-pura semuanya baik-baik saja. Tuhan tidak melupakan karena dosa-dosa kita tidak serius—Dia melupakan karena pengorbanan Kristus sudah cukup. Dan dengan cara yang sama, kita tidak melupakan karena kesalahan itu tidak enar-benar terjadi, tetapi karena kasih karunia Yesus memampukan kita untuk bangkit darinya.

Inilah kebenaran yang lebih dalam: Ketika kita berpegang teguh pada ingatan tentang dosa orang lain terhadap kita, kita sering kali mengikat diri kita pada rasa sakit itu. Kita sendiri bisa menderita. Namun, saat kita menyerahkannya kepada Tuhan, kita tidak hanya meniru kasih-Nya—kita melangkah menuju kebebasan. Kita membiarkan belas kasihan yang sama, dari Tuhan, yang mengalir atas kita mengalir melalui diri kita kepada orang lain.

Semakin kita berjalan bersama Yesus, semakin hati kita dibentuk oleh-Nya. Dan semakin hati kita dibentuk oleh-Nya, semakin kita mulai mencerminkan karakter-Nya—bahkan dalam cara kita mengampuni, bahkan dalam cara kita memilih untuk melupakan. Jadi, lain kali Anda tergoda untuk berkata, “Saya tidak bisa melupakan,” ingatlah ini: Tuhan bisa. Dan Dia hidup di dalam Anda.

Doa:

Bapa, terima kasih atas mukjizat kasih karunia. Terima kasih karena Engkau tidak hanya mengampuni dosa-dosaku melalui Yesus, tetapi Engkau memilih untuk tidak mengingatnya lagi. Bantulah aku untuk memahami kedalaman kasih itu dan menyebarkannya kepada orang lain. Ajari aku cara mengampuni dari hati dan melepaskan cengkeraman kemarahan masa lalu yang masih ada padaku. Bahkan saat aku berjuang untuk melupakan, bantulah aku untuk tidak berkutat pada rasa sakit. Jadikanlah aku lebih seperti-Mu, Tuhan. Dalam nama Yesus, Amin.

Ketika kemuliaan manusia memudar

“Sebab pendurhakaan adalah sama seperti dosa bertenung dan kedegilan adalah sama seperti menyembah berhala dan terafim. Karena engkau telah menolak firman TUHAN, maka Ia telah menolak engkau sebagai raja.” 1 Samuel 15:23

Pada saat itu Samuel memberi raja Saul sebuah misi dari Tuhan untuk menggenapi penghakiman Tuhan atas orang Amalek dengan membunuh semua orang dan hewan. Kemudian Saul dan pasukannya mengalahkan Amalek, tetapi mereka menyelamatkan raja dan hewan-hewan terbaik. Tuhan memberi tahu Samuel bahwa tindakan Saul—yang merupakan penolakan terhadap perintah Tuhan—akan mengakibatkan berakhirnya pemerintahan Saul.

Tentang mengapa Saul tidak membunuh semua hewan milik orang Amalek, sang raja membuat alasan dan mengklaim bahwa ia sebenarnya bermaksud mengorbankan hewan-hewan yang dikutuk itu kepada Tuhan. Samuel menanggapi dengan pernyataan puitis tentang bagaimana Tuhan menginginkan ketaatan, bukan upaya arogan untuk “memperbaiki” perintah-perintah-Nya.

Tidak jelas apakah Saul dan orang-orang pada awalnya memang bermaksud untuk mempersembahkan barang rampasan di Gilgal, atau apakah mereka sengaja berencana menyimpan hewan-hewan itu untuk diri mereka sendiri. Tapi, mengingat bahwa Saul mendirikan sebuah monumen untuk dirinya sendiri (1 Samuel 15:12) dan bahwa perintah dari Allah tentang kehancuran total sudah begitu jelas (1 Samuel 15:3), niat untuk menggunakan hewan-hewan untuk penyembahan perlu dipertanyakan. Bahkan sekalipun jika Saul jujur, ketidaktaatannya masih merupakan pemberontakan terhadap perintah langsung Tuhan. Tuhan menghendaki ketaatan, bukan persembahan (1 Samuel 15:22).

Samuel menyatakan keputusan Tuhan untuk menolak Saul sebagai raja. Sebagai tanggapan atas ketidaktaatan Saul, Tuhan telah menyatakan bahwa garis keturunan Saul tidak akan menduduki takhta Israel (1 Samuel 13:14). Tuhan menolak Saul sekalipun Ia memilih Saul pada awalnya.

Ketika Samuel melihat Saul, maka berfirmanlah Tuhan kepadanya: ”Inilah orang yang Kusebutkan kepadamu itu; orang ini akan memegang tampuk pemerintahan atas umat-Ku.” 1 Samuel 9:17

Sekalipun Tuhanlah yang menghendaki Saul menjadi raja, itu bukan berarti bahwa Saul tidak perlu bertanggungjawab atas tindakannya. Tuhan yang mengangkat Saul, tetapi bukanlah Tuhan yang bermaksud menjatuhkan Saul ke dalam dosa. Saul telah menolak firman Tuhan, dan dengan demikian Tuhan kemudian menolaknya sebagai raja. Ketidaktaatan Saul sangat parah, dan konsekuensinya sangat berat.

Dalam kisah di atas, kita membaca tentang ambisi manusia yang salah tempat dan kebenaran bahwa Tuhan terkadang mengizinkan kita berjalan melewati pintu-pintu yang sebenarnya bukan apa yang Ia buka untuk memberkati kita. Saul tidak merebut kekuasaan untuk dirinya sendiri; ia dipilih oleh Tuhan sebagai tanggapan atas permintaan Israel yang terus-menerus akan seorang raja. Namun, jabatan raja yang dimulai dengan pengurapan ilahi berakhir dengan aib — bukan karena Tuhan berubah, tetapi karena Saul yang berubah. Saul bukanlah robot Allah dan karena itu ia bisa jatuh dalam dosa.

Hal ini membawa kita pada pertanyaan yang menghantui: Bagaimana jika Tuhan mengizinkan kita untuk berhasil — hanya untuk menunjukkan kepada kita bahwa keberhasilan tanpa Dia adalah hampa? Apa yang akan terjadi pada hidup kita jika Tuhan menyatakan bahwa kita sudah sengaja melanggar perintah-Nya?

Pertanyaan ini bukan untuk mengada-ada. Sekalipun kita pada saat ini berada dalam keadaan aman dan mungkin juga nyaman, belum tentu Tuhan senang dengan cara hidup kita! Mengapa demikian?

1. Karunia Tuhan yang bisa menjadi jerat

Sebelum Saul menjafi raja, Israel telah lelah dengan pemerintahan Tuhan. Mereka ingin menjadi “seperti bangsa-bangsa lain” (1 Samuel 8:5). Para tua-tua datang kepada Samuel, bukan untuk meminta kebangkitan rohani atau petunjuk ilahi, tetapi untuk sebuah sistem pemerintahan yang dapat mereka kendalikan. Allah melihat apa yang ada dalam hati bani Israel: “… tetapi Akulah yang mereka tolak, supaya jangan Aku menjadi raja atas mereka” (1 Samuel 8:7).

Alih-alih mengirimkan penghakiman, Allah mengirim Saul — tinggi, tampan, karismatik. Ia tampak seperti pemimpin yang ideal, tipe yang menginspirasi rasa percaya diri. Dengan melakukan ini, Allah memberi orang-orang itu apa yang mereka inginkan, bukan sebagai hadiah, tetapi sebagai pelajaran. Ia memberikan kepada mereka apa yang mereka inginkan, tetapi yang mendatangkan kekeringan ke dalam jiwa mereka. Secara lahiriah, mereka menerima kemuliaan — seorang raja, prestise, kekuasaan. Namun secara batiniah, ada sesuatu yang layu.

Kita sering berasumsi bahwa jika kita menemukan kesuksesan, rencana kita pasti benar dan Tuhan memberi kita berkat-Nya. Namun Kitab Suci menunjukkan bahwa tidak setiap pintu yang terbuka adalah apa yang terbaik dari Allah. Terkadang, Allah membiarkan kita berjalan untuk mencapai mimpi kita sendiri — untuk mengajar kita bahwa mimpi kita tanpa Dia akan menjadi mimpi buruk.

2. Pergeseran menuju rasa puas hati

Awalnya, Saul tampak rendah hati dan sabar. Namun, adanya kekuasaan dengan cepat menyingkapkan apa yang ada di balik permukaan: rasa takut kepada manusia, rasa tidak aman, dan hati yang gelisah yang tidak mau menanti Tuhan. Dalam 1 Samuel 13, Saul panik dan mempersembahkan korban yang tidak sah. Dalam pasal 15, ia tidak menaati perintah langsung Tuhan, lalu mencari-cari alasan. Dalam kedua momen itu, ia lebih peduli pada penampilannya daripada ketaatan. Ia lebih tunduk kepada kehendak dunia daripada kepada Tuhan.

Inilah tragedi kepuasan rohani. Saul lupa siapa yang memberinya mahkota. Saul lebih mengandalkan posisinya daripada suara Tuhan. Hasilnya? Tuhan menyesal telah mengangkatnya menjadi raja (1 Samuel 15:11), dan kerajaan itu pun terkoyak darinya. Kebesaran yang sangat diinginkan Israel dan Saul berubah menjadi kesedihan mereka.

3. Bahaya harapan manusiia

Kita hidup di dunia yang menghargai kesuksesan — dalam studi, karier, bahkan dalam kehidupan dalam keluarga dan gereja. Ada tekanan terus-menerus untuk berproduksi, memberi kesan, dan berprestasi. Entah itu berupa kenyamanan, kemewahan, penampilan atau hal lain yang bisa dikagumi orang lain. Dan sering kali, kita menerjemahkan harapan-harapan ini ke dalam hubungan kita dengan Tuhan. Kita berasumsi bahwa pertumbuhan, pengaruh, dan pintu-pintu yang terbuka selalu merupakan tanda-tanda kebaikan ilahi. Kesuksesan dunia yang kita miliki, sering kita pandang sebagai bukti iman dan ketaatan kita kepada Tuhan.

Namun, Kitab Suci memperingatkan kita: Tuhan terkadang mengizinkan kita untuk meraih apa yang kita dambakan — bukan karena itu yang terbaik bagi-Nya, tetapi karena itu akan mengajarkan kita untuk mendambakan-Nya sebagai gantinya. Suatu pelajaran pahit bagi umat-Nya agar mereka bertobat.

karena Tuhan menghajar orang yang dikasihi-Nya, dan Ia menyesah orang yang diakui-Nya sebagai anak.” Jika kamu harus menanggung ganjaran; Allah memperlakukan kamu seperti anak. Di manakah terdapat anak yang tidak dihajar oleh ayahnya? Ibrani 12:6-7 TB

Ini tidak berarti Tuhan senang dengan kejatuhan manusia. Jauh dari itu. Tuhan memberi Saul setiap kesempatan. Dia mengurapinya. Dia memberinya kuasa dengan Roh Kudus. Dia mengutus Samuel sebagai mentor. Namun, hati Saul bimbang. Peringatannya jelas: semakin besar karunia kita yang kita terima, semakin besar pula kebutuhan kita untuk taat kepada firman-Nya. Kita harus menghindari pemikiran bahwa kita adalah orang-orang yang “istimewa” di hadapan Allah.

4. Rasa takut yang kudus, bukan ketakutan yang melumpuhkan

Jadi, haruskah kita takut bahwa Tuhan akan mengambil “kemuliaan” kita jika kita menjadi puas diri?

Ya — tetapi bukan dengan rasa takut yang menyiksa. Melainkan, rasa takut yang kudus dan penuh hormat yang merendahkan hati. Jenis rasa takut yang Paulus bicarakan dalam suratnya kepada jemaat di Filipi:

“Hai saudara-saudaraku yang kekasih, kamu senantiasa taat; karena itu tetaplah kerjakan keselamatanmu dengan takut dan gentar, bukan saja seperti waktu aku masih hadir, tetapi terlebih pula sekarang waktu aku tidak hadir, karena Allahlah yang mengerjakan di dalam kamu baik kemauan maupun pekerjaan menurut kerelaan-Nya.” Filipi 2:12–13:

Ini bukanlah rasa takut akan hukuman, tetapi rasa kagum yang membuat kita tetap bergantung pada-Nya.

Ketakutan, dalam pengertian Alkitab, bukanlah keraguan dan ketidakmampuan untuk bertindak. Seperti apa yang dialami Petrus yang berjalan di atas air, kita harus percaya bahwa jika Ia beserta kita dan kita taat kepada-nya, tidak ada bahaya yang bisa menghancurkan kita. Ketakutan adalah kesadaran bahwa tanpa Dia, bahkan keberhasilan terbesar kita malahan bisa menjadi beban. Takut pada Tuhan akan membuat kita lebih bijaksana, tidak tenggelam dalam kesombongan, tidak membangun menara tanpa fondasi, tidak melupakan bahwa segala kemuliaan adalah milik-Nya, bukan milik kita.

Kata Yesus: ”Datanglah!” Maka Petrus turun dari perahu dan berjalan di atas air mendapatkan Yesus. Tetapi ketika dirasanya tiupan angin, takutlah ia dan mulai tenggelam lalu berteriak: ”Tuhan, tolonglah aku!” Segera Yesus mengulurkan tangan-Nya, memegang dia dan berkata: ”Hai orang yang kurang percaya, mengapa engkau bimbang?”Matius 14:29-31

5. Kemuliaan yang lebih baik

Tuhan akhirnya membangkitkan Daud — seorang yang berkenan di hati-Nya. Daud juga orang berdosa, tetapi tidak seperti Saul, ia cepat bertobat. Ia mengetahui sumber kemuliaan yang sejati:

“Bukan kepada kami, ya TUHAN, bukan kepada kami, tetapi kepada nama-Mulah beri kemuliaan, oleh karena kasih-Mu, oleh karena setia-Mu!” (Mazmur 115:1).

Itulah sikap yang mempertahankan kebesaran Tuhan. Itulah jenis hati yang dapat dilihat Tuhan untuk memberikan berkat-Nya yang terbaik.

Hari ini, di mana pun Anda berada — baik dalam kelimpahan atau kekurangan, keberhasilan atau perjuangan — tanyakan pada diri Anda:

  • Apakah saya mengejar kehendak Tuhan, atau hanya kebenaran versi saya sendiri?
  • Apakah saya lebih takut kehilangan reputasi saya daripada kehilangan hadirat-Nya?
  • Apakah saya menggunakan Tuhan untuk memenuhi impian saya, atau membiarkan Dia membentuk rencana-Nya dalam diri saya?
  • Apakah saya menikmati berkat Tuhan untuk kepentingan saya sendiri, tanpa mau mencari maksud Tuhan?

Biarlah kisah Saul menjadi lebih dari sekadar sejarah. Biarlah itu menjadi panggilan kita untuk keintiman yang lebih dalam, penyerahan diri yang terus-menerus, dan rasa takut yang kudus kepada Tuhan. Karena ketika kita berjalan dekat dengan Tuhan, bahkan jika dunia melupakan nama kita — kita berjalan dalam kemuliaan yang tidak pernah pudar.

Kita tidak dapat membuat pilihan yang lebih baik daripada Allah, dan kita tidak dapat mempengaruhi-Nya untuk mengampuni pengabaian dan penolakan kita terhadap-Nya. Kebenaran ini memanggil kita untuk berwaspada, rendah hati, dan bergantung kepada Tuhan— bukan dengan rasa takut dalam pengertian duniawi, tetapi rasa kagum dan bersyukur kepada Dia yang bisa membuat kita tetap teguh sampai sekarang.

Setiap orang berpotensi menjadi Mesias palsu

“Sebab banyak orang akan datang dengan memakai nama-Ku dan berkata: Akulah Mesias, dan mereka akan menyesatkan banyak orang.” Matius 24:5

Matius 24:1–14 mengikuti Yesus dan para murid keluar dari bait suci. Ini terjadi setelah kritik-Nya yang pedas terhadap para ahli Taurat dan orang Farisi dalam pasal 23. Ia meramalkan saat ketika bait suci akan dihancurkan tanpa satu batu pun tersisa di atas batu lainnya. Segera setelah ini, ketika duduk di Bukit Zaitun, Yesus menjawab pertanyaan dari para murid. Mereka bertanya kapan penghakiman akan datang dan tanda-tanda apa yang akan menandai kedatangan-Nya kembali.

Yesus kemudian menggambarkan adanya banyak kekacauan dan penganiayaan di dunia yang tak terbayangkan. Ia menunjuk pada saat tertentu ketika bait suci dihancurkan, dan orang-orang harus lari menyelamatkan diri. Yesus lebih lanjut berbicara tentang kesengsaraan yang mengancam dunia yang akan dipersingkat tepat sebelum Ia kembali sebagai Raja dan Hakim. Karena tidak seorang pun mungkin tahu kapan Ia akan kembali, para pengikut-Nya harus hidup dalam kesiapsiagaan. Itu termasuk kita sekarang ini.

Pada saat penantian, banyak penipu akan datang dengan mengatakan bahwa mereka adalah Kristus, Sang Mesias. Yesus tidak bermaksud bahwa mereka akan berpura-pura menjadi Dia. Sebaliknya, Ia mengatakan bahwa banyak orang akan datang yang mengklaim bahwa Yesus sebenarnya bukan Mesias, tetapi merekalah yang benar-benar Mesias. Yesus menambahkan bahwa banyak dari para pendusta ini akan berhasil: banyak orang akan tertipu. Karena Yesus adalah satu-satunya jalan yang benar menuju kerajaan surga, mereka yang tersesat akan dituntun menuju kehancuran. Itu termasuk orang-orang yang saat ini mengenal Yesus, tetapi kemudian mengingkari-Nya.

Sejarah mencatat contoh-contoh orang yang mengaku sebagai Mesias setelah pelayanan Yesus di bumi berakhir. Salah satu Mesias palsu tersebut, Simon Bar Kokhba, gagal dalam upayanya untuk memberontak terhadap Roma pada tahun 135 M. Yesus tidak ingin para pengikut-Nya terperangkap dalam tipu daya bodoh seperti itu. Yesus juga tidak ingin kita terperangkap dalam hal yang serupa.

Mungkin Anda kurang percaya kalau di zaman ini ada orang yang berani mengaku bahwa ia adalah sang juru selamat. Tapi sejarah membuktikan bahwa orang-orang yang tinggi hati, yang merasa bahwa ia adalah orang yang dipilih Tuhan untuk menyelamatkan seisi bangsa, sering muncul. Malahan baru- baru ini ada seorang presiden negara besar yang menyatakan bahwa dia adalah pilihan Tuhan dan tidak ada seorang pun yang bisa menghentikan dia!

Ayat di atas adalah sebuah peringatan—tetapi bukan sekadar peringatan tentang apa yang “ada di luar sana.” Itu adalah peringatan yang menyentuh setiap hati manusia, dalam lingkungan kita, dan mungkin untuk kita sendiri. Mudah untuk mendengar perkataan Yesus dalam Matius 24 dan berpikir bahwa Dia hanya berbicara tentang penipu akhir zaman, pemimpin aliran sesat palsu, atau gerakan anti-Kristen. Namun, hari ini ayat di atas menantang kita untuk mempertimbangkan hal ini:

“Mungkinkah saya adalah mesias palsu yang diperingatkan Yesus?”

Saya tidak bermaksud Anda benar-benar pernah mengaku sebagai Kristus. Namun, dapatkah kita—melalui cara hidup, kesombongan, atau bahkan sikap rohani kita—bertindak seolah-olah kita adalah juru selamat, seolah-olah kita adalah standar, contoh, “orang benar” yang harus diikuti orang lain?

Mari kita dengarkan Yesus lagi:

“Banyak orang akan datang dengan memakai nama-Ku dan berkata: Akulah Mesias, dan mereka akan menyesatkan banyak orang.” (Matius 24:5)

1. Makna Yang Jelas: Mesias Palsu Itu Nyata

Yesus memperingatkan bahwa orang-orang akan secara harfiah mengaku sebagai Dia atau berbicara dengan otoritas-Nya. Hal ini telah terjadi sepanjang sejarah—mulai dari pemimpin bangsa/agama hingga para tokoh yang mengaku membawa keselamatan melalui politik, agama, atau pengetahuan.

Banyak orang yang menyatakan melalui cara hidup dan kerja mereka, bahwa mereka adalah pemimpin yang patut diikuti dan dikagumi. Mereka menuntut kesetiaan dan penghormatan dari orang lain, seolah mereka adalah orang-orang yang dipilih Tuhan untuk menyelamatkan orang lain.

2. Perangkap Halus: Kita Ingin Dianggap Paling Benar

Mungkin kita yakin bahwa ayat itu adalah peringatan akan adanya orang lain yang berbahaya. Kita tidak mungkin melakukan kejahatan seperti itu. Mungkin kita tidak pernah berkata, “Akulah Kristus,” tetapi kita dapat hidup seolah-olah kita adalah standar keserupaan dengan Kristus. Kita merasa bahwa kita adalah contoh orang yang paling benar atau paling beriman.

  • “Lihatlah bagaimana aku beribadah.”
  • “Lihatlah bagaimana aku hidup.”
  • “Lihatlah betapa benar teologiku.”
  • “Lihatlah betapa taatnya aku.”

Tanpa menyadarinya, kita mungkin mulai menunjuk kepada diri kita sendiri alih-alih menunjuk kepada Yesus. Kita mulai menarik orang kepada kinerja kita alih-alih kasih karunia-Nya. Dan tiba-tiba, kita telah menjadi semacam mesias palsu, seperti orang Farisi.

Ingatlah, jangan kamu melakukan kewajiban agamamu di hadapan orang supaya dilihat mereka, karena jika demikian, kamu tidak beroleh upah dari Bapamu yang di sorga.” (Matius 6:1)

3. Sindrom Farisi: Mesias Buatan Kita Sendiri

Yesus memperingatkan orang Farisi bukan karena mereka adalah “orang Yahudi yang jahat,” tetapi karena mereka telah menggantikan rahmat Allah dengan kinerja mereka. Mereka menjadi penjaga gerbang keagamaan, pemberi pengaruh rohani yang berkata—kadang dengan kata-kata, selalu dengan sikap “Ikutlah Aku. Akulah yang tahu akan hal ini.”

Di sini terletak bahaya untuk orang lain: kita dapat melakukan ini di gereja, keluarga, dan persahabatan kita.

  • Ketika kita mempermalukan orang lain untuk meninggikan kepatuhan mereka kepada kita.
  • Ketika kita cenderung membertakan kebaikan kita alih-alih kasih karunia Tuhan.
  • Ketika kita lebih banyak berbicara tentang kesetiaan kita daripada kesetiaan Allah.
  • Ketika kita lebih sering menyatakan kebenaran teologi kita daripada kebenaran Alkitab.

Secara psikologis, hal ini menyerupai perasaan kompleks mesias (messiah complex):

  • Kepercayaan bahwa seseorang dipanggil oleh Tuhan untuk “menyelamatkan” bangsa/dunia/ gereja/orang lain.
  • Keyakinan bahwa Tuhan sudah menyatakan kebenaran-Nya hanya kepada orang tertentu.
  • Sering mencari perhatian dengan narasi penganiayaan (misalnya, “mereka membenci saya karena saya mengatakan kebenaran”).
  • Rasa sombong yang berkembang di bawah pengaruh para pengikut yang suka menyanjung mereka.

4. Bagaimana Menolak Dorongan Untuk Menjadi Mesias?

Yohanes Pembaptis melakukannya dengan benar. Ia berkata:

“Ia harus makin besar, tetapi aku harus makin kecil.” (Yohanes 3:30)

Itulah suara seseorang yang menolak menjadi mesias palsu.

  • Ia tidak menarik perhatian kepada dirinya sendiri.
  • Ia mempersiapkan jalan bagi seseorang yang lebih besar.
  • Ia menyadari bahwa Yesus, bukan dirinya sendiri, adalah pusat berita Injil.
  • Ia menyadari bahwa Alkitab adalah satu-satunya firman Tuhan untuk manusia.

Dalam hidup kita sekarang ini, kita harus sadar akan bahaya perasaan kompleks mesias. Gereka Kristen yang benar adalah gereja yang memuliakan Kristus, bukan pemimpin gereja atau orang-orang kudus yang dianggap “istimewa”. Orang Kristen yang paling berkuasa bukanlah orang yang tampak paling bijak dan saleh dari luarnya, tetapi orang yang paling jelas menunjukkan adanya buah Roh:

“Tetapi buah Roh ialah: kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan, penguasaan diri. Tidak ada hukum yang menentang hal-hal itu.” Galatia 5:22-23

5. Cara Menguji Hati Kita

Kita mungkin yakin tidak pernah mempunyai perasaan kompleks mesias. Tetapi, kita bisa bertanya kepada diri sendiri:

  • Apakah saya mendekatkan orang kepada Yesus atau hanya kepada saya atau golongan saya?
  • Apakah saya membuat orang lain merasa bahwa mereka membutuhkan kasih karunia Tuhan—atau menyatakan bahwa mereka perlu meniru saya?
  • Apakah saya pernah berpikir, “Jika lebih banyak orang seperti saya, gereja akan menjadi lebih baik”?
  • Apakah saya berpendapat, surga akan lebih penuh jika orang lain pergi ke gereja saya?
  • Apakah saya merasa bahwa semua orang adalah keliru dan harus belajar dari saya?

Jika demikian, kita harus berhenti sejenak untuk berdoa dan memohon pengampunan dari Tuhan. Kita harus bertobat dan menyerahkan keinginan kita untuk dirubah menjadi benar. Karena bahkan orang Kristen yang bermaksud baik pun dapat menjadi mesias palsu—dan Yesus berkata bahwa itu menuntun orang lain ke dalam kesesatan dan bebinasaan.

Pagi ini, kita harus ingat bahwa Mesias yang sejati datang dalam kelemahan. Dia yang mahasuci tidak membangun singgasana. Dia yang mahabesar, membasuh kaki murid-Nya. Dia mati untuk orang-orang yang tidak memahami-Nya. Dan ketika Dia bangkit, Dia tidak berkata, “Sekarang jadilah seperti Aku.” Sebaliknya, Dia berkata, “Aku akan menyertai kamu selamanya.” Jadi, janganlah kita berusaha untuk terlihat seperti mesias, tetapi ajaklah setiap orang untuk selalu bersandar kepada Mesias.

“dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu. Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman.” Matius 28:20

Orang Kristen dan tantangan hidup

”Lihat, Aku mengutus kamu seperti domba ke tengah-tengah serigala, sebab itu hendaklah kamu cerdik seperti ular dan tulus seperti merpati. Tetapi waspadalah terhadap semua orang; karena ada yang akan menyerahkan kamu kepada majelis agama dan mereka akan menyesah kamu di rumah ibadatnya. Dan karena Aku, kamu akan digiring ke muka penguasa-penguasa dan raja-raja sebagai suatu kesaksian bagi mereka dan bagi orang-orang yang tidak mengenal Allah.” Matius 10: 16-18

Screenshot

Apakah kehidupan Anda saat ini sebagai orang Kristen mengalami berbagai tantangan? Jika tidak demikian, mungkin Anda patut mempertanyakan mengapa demikian. Ayat-ayat di atas jelas menunjukkan bahwa murid-murid Yesus akan mengalami berbagai kesulitan dari berbagai jurusan karena iman mereka. Mungkin Anda mengira bahwa ayat-ayat itu hanya khusus untuk murid-murid Yesus pada zamannya. Tetapi ayat-ayat lain dalam Alkitab juga menyatakan bahwa menjadi orang Kristen sejati di tengah masyarakat dan dunia yang secara mayoritas menolak Kristus itu tidaklah mudah.

Matius 10:16–25 mengikuti instruksi Yesus kepada kedua belas rasul-Nya, memberi mereka bimbingan untuk perjalanan misi mereka yang akan datang. Di sini, Dia mulai menggambarkan peristiwa-peristiwa yang akan mengikuti kebangkitan-Nya sendiri dan kembali ke surga. Ketika saat itu tiba, para rasul akan ditangkap dan diseret ke hadapan berbagai pengadilan dan pejabat karena mereka mewakili Kristus dan bersikeras bahwa Dia adalah Anak Allah. Roh Kudus akan berbicara melalui mereka tentang Yesus. Mereka akan berlari dari satu kota ke kota lain untuk menghindari penganiayaan, sambil menyebarkan kabar baik tentang Kristus di sepanjang perjalanan. Yesus dianiaya, demikian pula mereka. Ia akan mendorong orang-orang ini untuk berdiri teguh dalam iman mereka. Mereka tidak perlu takut, tetapi percaya bahwa Bapa mereka akan menyertai mereka dan memberi mereka pahala di surga.

Yesus mengutus dua belas murid pilihan-Nya untuk menjadi rasul; kata ini secara harfiah berarti “orang-orang yang diutus.” Mereka memiliki misi khusus: memberitakan kedatangan kerajaan surga dari kota ke kota di wilayah Galilea (Matius 10:5–8). Yesus memperingatkan mereka tentang kesulitan-kesulitan yang akan mereka hadapi:

  • Ayat 16: “Aku mengutus kamu seperti domba ke tengah-tengah serigala…”
  • Ayat 17–18: Memperingatkan tentang penyerahan diri kepada dewan-dewan setempat, dicambuk, dan dibawa ke hadapan gubernur-gubernur dan raja-raja.
  • Ayat 19–20: Mendorong mereka untuk tidak khawatir tentang apa yang harus dikatakan, karena Roh akan berbicara melalui mereka.
  • Ayat 21–22: Memprediksi penganiayaan yang hebat, bahkan di dalam keluarga.
  • Ayat 23: Apabila mereka menganiaya kamu di suatu kota, mereka harus lari menghindar ke kota lain. Sebelum mereka selesai menjelajahi kota-kota Israel, Anak Manusia akan datang.
  • Ayat 24–25: Menegaskan bahwa para pengikut harus menerima perlakuan yang sama seperti yang Yesus terima.

Matius 10:16–25 tidak secara khusus merujuk kepada akhir zaman (atau eskaton) sebagaimana teks-teks apokaliptik seperti bagian-bagian dari Wahyu atau Matius 24. Sebaliknya, bagian ini merupakan bagian dari instruksi Yesus kepada para pengikut-Nya saat Ia mengutus mereka untuk menjalankan misi pertama mereka. Di sini, Yesus mulai menggambarkan misi jangka panjang. Kemungkinan besar, pada saat itu para murid tidak akan sepenuhnya memahami hal itu. Apa yang Kristus maksud di sini sebagian besar akan terjadi setelah kematian-Nya, kebangkitan-Nya, dan kembali ke surga. Selama Perjamuan Terakhir, Yesus akan memberikan peringatan dan dorongan serupa (Yohanes 15:18–20; 16:1–4).

Metafora yang digunakan Kristus di sini adalah gambaran yang mencolok. Di tempat lain, Yesus berbicara tentang Diri-Nya sebagai “Gembala yang Baik” yang akan mati untuk melindungi kawanan domba-Nya (Yohanes 10:11), khususnya dari serangan serigala (Yohanes 10:12–14). Perbedaan radikal antara orang-orang percaya kepada Kristus dan seluruh dunia terungkap dalam simbolisme tentang menjadi domba yang “dikirim” ke tengah-tengah serigala. Awalnya, ini mungkin tampak kontradiktif karena tugas seorang gembala yang sebenarnya adalah menjauhkan domba dari bahaya. Namun, Yesus telah memberi kuasa kepada kelompok yang terdiri dari dua belas orang ini untuk bertindak atas nama-Nya; mereka akan diperlengkapi untuk menghadapi bahaya yang menyertai tindakan tersebut.

Orang-orang Yahudi terbiasa menganggap diri mereka sebagai domba yang dikelilingi oleh serigala-serigala non-Yahudi. Namun, Yesus mengklaim metafora ini untuk para pengikut-Nya. Mereka akan menghadapi serigala-serigala Yahudi dan non-Yahudi saat mereka melakukan pekerjaan berbahaya untuk menyatakan Yesus dan kerajaan-Nya kepada dunia. Seperti itu juga, jika kita adalah orang Kristen sejati, kita akan menghadapi serigala-serigala yang mengaku Kristen dan yang bukan Kristen.

Dalam budaya saat itu, ular merupakan simbol kelicikan dan kelicikan. Merpati begitu polos sehingga sering kali tampak sama sekali tidak menyadari bahaya. Yesus memberi tahu para pengikut-Nya untuk menggunakan kecerdikan yang mereka punyai untuk menghindari konflik dan bahaya tanpa kehilangan kepolosan seperti merpati yang akan memungkinkan mereka untuk terus menyatakan kebenaran tanpa rasa takut. Keseimbangan ini akan sulit dipertahankan, tetapi hal itu diperlukan agar misi tersebut berhasil. Menjadi murid Tuhan bukan berarti bahwa kita harus menjadi orang yang bodoh dan tidak bisa bersiasat.

Yesus memang sedang mempersiapkan kelompok yang terdiri dari dua belas murid pilihan-Nya untuk pergi sendiri ke seluruh dunia dan mengabarkan pesan-Nya tentang kedatangan kerajaan-Nya (Matius 10:1). Tetapi, Yesus juga memerintahkan kita pada saat ini untuk melakukan hal yang sama melalui Amanah Agung-Nya.

“Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus, dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu. Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman.” Matius 28:19-20

Yesus memberikan perintah-Nya kepada para rasul sesaat sebelum Ia naik ke surga. Pada dasarnya, perintah ini menguraikan apa yang Yesus harapkan untuk dilakukan oleh mereka. Termasuk bagi orang-orang yang mengikuti para rasul ketika Yesus sudah tidak lagi bersama dengan mereka di bumi. Ia memperingatkan mereka bahwa hal itu akan berbahaya. Mereka mungkin belum mengetahuinya, tetapi Yesus menunjuk ke masa penganiayaan besar terhadap orang Kristen setelah kematian-Nya, kebangkitan-Nya, dan kembali ke surga. Ia berkata dalam ayat sebelumnya bahwa penganiayaan akan mencakup hukuman cambuk di sinagoge oleh para pemimpin agama Yahudi setelah diadili di hadapan pengadilan Yahudi (Matius 10:17).

Meskipun kata-kata ini diucapkan kepada sekelompok pria yang unik, kata-kata ini masih memiliki makna bagi orang-orang Kristen yang beriman, saat ini. Yesus tidak mendukung kepercayaan yang naif dan dangkal. Yesus tidak menghendaki kita menjadi orang Kristen yang kedagingan, dalam arti tetap hidup seperti orang bukan Kristen. Pada pihak lain, Dia juga tidak mengizinkan orang-orang beriman menjadi orang-orang sinis yang pahit dan senang melakukan pertikaian rohani dengan orang lain. Bagian-bagian Kitab Suci lainnya menekankan kembali perlunya orang-orang Kristen untuk memiliki informasi yang benar dan akal sehat dalam kehidupan rohani mereka (1 Petrus 3:15–16; Kolose 2:8). Menjadi orang Kristen bukan berarti hidup dalam pengucilan sebagai orang yang keras kepala.

Peringatan yang diberikan di sini, pada awalnya, akan tampak rutin bagi para pendengar pria Yahudi. Mereka terbiasa dengan peringatan tentang orang-orang bukan Yahudi, khususnya orang Romawi. Namun, Yesus sekarang menunjukkan bahwa penganiayaan besar akan datang dari para pemimpin agama Yahudi. Ia menggambarkan suatu masa setelah kematian-Nya, kebangkitan-Nya, dan kedatangan-Nya kembali ke surga di mana para rasul-Nya akan dianiaya sebagai orang Kristen oleh para penguasa Yahudi. Hal yang serupa bisa terjadi pada kita, karena di zaman ini hidup kita ada di bawah kuasa dunia yang sekuler, yang tidak mengenal Tuhan. Dunia menganggap kita bodoh jika kita tidak mau melakukan apa yang jahat.

Perlu dicatat, Rasul Paulus memberikan hukuman cambuk terhadap orang-orang Kristen Yahudi (Kisah Para Rasul 22:19) dan menerima hukuman cambuk setelah ia menjadi seorang Kristen dan mulai berkhotbah tentang Yesus (2 Korintus 11:24-25). Yesus memperingatkan para murid-Nya, tentang apa yang harus mereka korbankan untuk menyampaikan pesan-Nya kepada orang-orang Israel. Yesus juga memperingatkan kita bahwa kita harus mau berkorban untuk bisa tetap hidup sebagai orang Kristen sejati.

Perlu kita catat bahwa Matius 10:23 masih sering diperdebatkan.

“Apabila mereka menganiaya kamu dalam kota yang satu, larilah ke kota yang lain; karena Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya sebelum kamu selesai mengunjungi kota-kota Israel, Anak Manusia sudah datang.”

Sebagian menafsirkannya “sebelum kamu selesai mengunjungi kota-kota Israel, Anak Manusia sudah datang” sebagai:

  • Referensi tentang kebangkitan atau kedatangan Roh Kudus pada hari Pentakosta.
  • Yang lain melihatnya sebagai rujukan pada penghancuran Yerusalem pada tahun 70 M
  • Pandangan minoritas melihatnya sebagai rujukan pada kedatangan terakhir Kristus, meskipun ini lebih spekulatif dalam konteks langsung ayat ini.

Penganiayaan di hadapan para penguasa ini memiliki tujuan tertentu. Ketika diadili, Yesus berkata bahwa para pengikut-Nya akan terus mewakili-Nya. Dengan cara ini, mereka akan memiliki kesempatan untuk menyampaikan pesan Yesus kepada mereka yang berada di tingkat kekuasaan tertinggi, baik orang Yahudi maupun orang bukan Yahudi. Penganiayaan yang akan datang akan memungkinkan kabar baik tentang keselamatan melalui iman kepada Kristus untuk menjangkau siapa saja, bahkan mereka yang melakukan penganiayaan.

Pagi ini, pesan Yesus di atas juga berlaku untuk kita yang mengalami kesulitan hidup karena iman kita. Kita harus memandang kesulitan hidup sebagai kemungkinan untuk membuat orang lain menyadari bahwa kita dikuatkan oleh Tuhan yang mahakuasa. Setiap tindakan kita haruslah membawa kemuliaan bagi Tuhan sebagai suatu kesaksian bagi orang-orang yang belum mengenal Allah yang mahakasih.

“Jika engkau makan atau jika engkau minum, atau jika engkau melakukan sesuatu yang lain, lakukanlah semuanya itu untuk kemuliaan Allah.”Korintus 10:31

“Apa pun juga yang kamu perbuat, perbuatlah dengan segenap hatimu seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia.” Kolose 3:23

Apakah Anda merasa akhir zaman sudah dekat?

“Dan karena makin bertambahnya kedurhakaan, maka kasih kebanyakan orang akan menjadi dingin. Tetapi orang yang bertahan sampai pada kesudahannya akan selamat. Dan Injil Kerajaan ini akan diberitakan di seluruh dunia menjadi kesaksian bagi semua bangsa, sesudah itu barulah tiba kesudahannya.” Matius 24:12-14

Tidak dapat disangkal bahwa masa depan dunia adalah sebuah tanda tanya besar, terutama sesudah terjadinya pandemi COVID-19 yang masih menimbulkan berbagai masalah sampai sekarang. Sebagian orang sadar bahwa jika malapetaka seperti itu terjadi lagi dalam waktu dekat, hidup manusia akan menjadi lebih kacau. Apakah kita sudah memasuki akhir zaman?

Pad pihak yang lain, banyak orang yang kagum melihat perkembangan teknologi yang terjadi selama abad-abad terakhir. Tidak dapat disangkal bahwa kemajuan teknologi sudah sedemikian rupa sehingga manusia makin bergantung pada teknologi, terutama teknologi komputer. Apalagi, dengan adanya AI (artificial intelligence atau kecerdasan buatan), banyak orang yang menduga bahwa di masa depan hidup-mati manusia akan bergantung pada AI. Dengan demikian, ada kemungkinan bahwa AI bisa menimbulkan berbagai masalah besar di dunia jika manusia tidak bisa menguasainya. Apakah adanya AI menunjukkan bahwa akhir zaman sudah dekat? Jawaban saya: Belum tentu.

Perkembangan AI belum tentu merupakan tanda bahwa akhir dunia sudah dekat, tetapi dapat dimengerti mengapa beberapa orang merasa tidak nyaman tentang hal itu. Seperti alat yang ampuh lainnya, AI memiliki potensi yang luar biasa dan risiko yang serius. Apakah itu mengarah pada masa depan yang lebih baik atau masalah yang signifikan tergantung pada bagaimana umat manusia memilih untuk menggunakan dan mengaturnya. Menurut Alkitab, akhir zaman ditandai dengan munculnya banyak orang yang durhaka kepada Tuhan.

Perlu dicatat, definisi akhir zaman dalam Alkitab secara umum merujuk pada masa atau periode yang meliputi berbagai peristiwa penting yang akan terjadi menjelang akhir zaman, termasuk kedatangan Kristus yang kedua, kebangkitan orang mati, penghakiman akhir, dan penggenapan Kerajaan Allah. Secara lebih detail, akhir zaman bisa diartikan sebagai masa yang ditandai dengan berbagai kesengsaraan, kesulitan, dan tanda-tanda yang mengarah pada akhir sejarah dunia. Kedatangan Kristus yang kedua kali, juga disebut Parousia, adalah peristiwa eskatologis utama di mana Kristus akan kembali untuk menghakimi dunia dan mendirikan Kerajaan Allah. Ini dapat kita baca dalam kitab Wahyu, tetapi Yesus sebenarnya sudah menerangkan hal ini semasa Ia di dunia.

Matius 24:1–14 mengisahkan bagaimana Yesus dan para murid keluar dari Bait Suci. Ini terjadi setelah kritik-Nya yang pedas terhadap ahli Taurat dan orang Farisi dalam pasal 23. Kristus juga meramalkan saat ketika Bait Suci akan dihancurkan tanpa satu batu pun tersisa di atas batu lainnya. Atas hal itu, para murid-Nya meminta informasi lebih lanjut tentang peristiwa-peristiwa yang sedang mendatangi ini.

Yesus menggambarkan musim di mana dunia akan berada dalam kekacauan – tetapi itu saja tidak akan menjadi bukti bahwa akhir telah tiba. Murid-murid-Nya akan dianiaya, dibunuh, dan dibenci demi nama-Nya. Nabi-nabi palsu akan muncul dan bahkan beberapa di antara para murid akan murtad. Yesus adalah Tuhan, dan karena itu siapapun yang menjadi pengikut-Nya seharusnya percaya atas apa yang sudah diramalkan-Nya.

Memang, salah satu bukti keilahian Yesus adalah kenyataan bahwa Ia sering meramalkan masa depan. Seringkali prediksi-prediksi tersebut berkaitan dengan peristiwa-peristiwa yang akan terjadi dalam waktu singkat setelah Ia membuat prediksi-prediksi tersebut, seperti hal penangkapan-Nya sendiri oleh orang-orang Yahudi dan kematian serta kebangkitan-Nya (Matius 16:21), atau pendirian Gereja setelah kenaikan-Nya (Matius 16:18; Kisah Para Rasul 1:4-8). Namun, salah satu prediksi Yesus yang paling mendalam dan mudah diverifikasi, berkaitan dengan peristiwa-peristiwa yang akan terjadi bertahun-tahun setelah Ia berada di bumi. Dengan sangat rinci, Yesus meramalkan kehancuran Yerusalem, sebuah peristiwa yang benar-benar terjadi hampir empat dekade setelah kenaikan-Nya ke surga. Nubuat ini tidak hanya membuktikan keilahian-Nya, tetapi juga mendukung inspirasi Ilahi atas isi Alkitab.

Yesus menggambarkan bakal adanya musim kekacauan dan penganiayaan dunia yang tak terbayangkan. Ia menunjuk pada saat tertentu ketika Bait Suci dicemarkan, saat orang-orang harus lari menyelamatkan diri. Yesus berbicara tentang kesengsaraan yang mengancam dunia yang akan dipersingkat tepat sebelum Ia kembali sebagai Raja dan Hakim. Karena tidak seorang pun mungkin tahu kapan Ia akan kembali, para pengikut-Nya harus hidup dalam kesiapsiagaan.

Yesus menggambarkan kepada para pengikutnya kenyataan pahit yang menanti mereka setelah Ia pergi (Yohanes 16:5–7) dan sebelum akhir zaman ketika Ia kembali (Wahyu 19:11–15). Ia telah mengatakan bahwa mereka akan dibenci karena pergaulan mereka dengan-Nya, bahwa mereka akan dianiaya dan dibunuh (Matius 24:9). Banyak orang yang tampaknya mengikuti Yesus akan murtad karena tekanan itu dan beberapa bahkan akan mengkhianati yang lain. Nabi-nabi palsu akan bangkit untuk mengajarkan kesalahan dan menuntun banyak orang menjauh dari kebenaran Yesus (Matius 24:10–11).

Yesus menambahkan bahwa salah satu akibat dari ajaran palsu ini adalah kekacauan: penolakan terhadap standar kebaikan dan moralitas. Mereka yang mengikuti visi menyimpang yang ditawarkan oleh nabi-nabi palsu akan meninggalkan kebenaran. Mereka akan memberontak terhadap kebajikan atau tunduk kepada Tuhan. Hasil akhir dari pelanggaran hukum yang mementingkan diri sendiri dan mengikuti diri sendiri itu adalah hilangnya kasih.

Adanya berbagai perang, terorisme, legalisasi aborsi, kebebasan memilih gender, dan hal-hal yang melawan kehendak Tuhan pada saat ini merupakan gambaran tentang kasih yang menjadi “dingin”; mengingatkan kita pada mayat: tidak hanya tidak bergerak, tetapi juga dingin dan tidak bernyawa. Ketika manusia semakin menjauh dari ajaran Kristus, kasih akan berkurang, sedemikian rupa sehingga banyak manusia yang hanya hidup untuk dirinya sendiri.

Yesus mengajarkan bahwa seluruh pesan Tuhan kepada manusia bergantung pada dua perintah Kitab Suci: mengasihi Tuhan dengan segala keberadaannya dan mengasihi sesama seperti dirinya sendiri (Matius 22:37–40). Tidak mengherankan bahwa penolakan terhadap hukum Tuhan berkorelasi dengan hilangnya kasih kepada Tuhan dan sesama.

Matius 24:13 mengarah pada salah satu pernyataan Kristus yang paling banyak diperdebatkan: hubungan antara “bertahan” dan “diselamatkan”. Seperti pernyataan Kitab Suci lainnya, mengambil ayat ini di luar konteks bisa menimbulkan salah tafsir, seolah orang Kristen harus berjuang dengan tenaga sendiri untuk mempertahankan keselamatan mereka. Keselamatan adalah karunia cuma-cuma dari Tuhan, yang tidak dapat diganggu-gugat atau dibatalkan meskipun dosa dan kelemahan masih ada dalam setiap diri orang percaya.

Surat-surat yang ditulis oleh para rasul seperti Yohanes, Petrus, dan Paulus, akan memberikan rincian yang lebih spesifik tentang kerajaan Allah yang menakjubkan. Pesan yang disampaikan murid-murid Yesus kepada dunia adalah bahwa semua orang yang beriman kepada Yesus pasti akan menerima kasih karunia keselamatan dari Allah (Kisah Para Rasul 4:12). Allah menerima kematian Yesus di kayu salib sebagai pembayaran atas dosa-dosa orang yang percaya (Roma 6:23) dan akan memberikan mereka penghargaan karena pengurbanan yang sudah Yesus jalani (2 Korintus 5:21). Singkatnya, kabar baiknya adalah bahwa semua orang yang menerima Kristus diterima di kerajaan surga melalui iman kepada Anak Allah (Efesus 2:8-9).

Pada pihak yang lain, Yesus telah menggambarkan masa-masa sulit yang akan datang bagi mereka yang mengikuti Yesus setelah Ia meninggalkan bumi (Yohanes 16:5–7). Ia telah menunjuk kepada suatu era penganiayaan yang hebat, kematian, dan kebencian terhadap siapa pun yang terkait dengan nama-Nya. Banyak orang yang dari luarnya terlihat seperti orang percaya, sebenarnya adalah orang-orang sesat yang mengikuti ajaran para nabi palsu. Mereka tidak mengenal Tuhan tetapi berpura-pura menjadi orang Kristen.

Saat ini keadaan dunia nampaknya makin buruk, dan kejahatan manusia terlihat makin meningkat. Namun, tidak satu pun dari hal ini akan menghentikan pemberitaan Injil kerajaan surgawi. Kabar baik yang Yesus khotbahkan tentang kerajaan surga adalah bahwa kerajaan itu akan datang dan akan segera ada di sini. Ia sendiri adalah Raja, dan Ia akan memerintah selamanya (Matius 4:17; 13:43; 26:29).

Selain Yudas, orang-orang yang Yesus ajak bicara (Matius 24:3) memang tetap setia selama menghadapi penganiayaan. Mereka berhasil meluncurkan penyampaian Injil ke seluruh dunia sebagai kesaksian bagi semua bangsa. Namun, mereka tidak bisa menyelesaikan pekerjaan itu.

Para pengajar Alkitab memperdebatkan kapan dan apakah seluruh dunia telah dijangkau dengan Injil kerajaan, meskipun semua setuju bahwa kabar baik ini di saat ini telah menjangkau sebagian besar bumi. Pertanyaan ini penting, karena Yesus bernubuat bahwa ketika Injil telah diberitakan kepada semua bangsa, akhir zaman akan tiba, yang berarti bahwa Ia akan kembali sebagai raja dan hakim. Ini adalah jawaban parsial-Nya kepada para pengikut-Nya tentang tanda-tanda yang menunjukkan bahwa akhir zaman sudah dekat.

Jika demikian, mungkinkah kita sekarang hidup dalam era yang sangat dekat pada akhir zaman? Ini tidak dapat kita pastikan, tetapi kita tidak perlu kuatir jika akhir zaman terjadi, karena Yesus akan menyertai kita dalam menghadapi semua masalah saat ini dan menguatkan iman kita. Pada waktu Ia datang sesudah semuanya terjadi, Ia akan mengumpulkani semua orang yang setia kepada-Nya. Halleluya!

“Tetapi tentang hari dan saat itu tidak seorang pun yang tahu, malaikat-malaikat di sorga tidak, dan Anak pun tidak, hanya Bapa sendiri.” Matius 24:36

Antara kenaikan Yesus ke surga dan tugas kita

“Kamu adalah terang dunia. Kota yang terletak di atas gunung tidak mungkin tersembunyi. Lagipula orang tidak menyalakan pelita lalu meletakkannya di bawah gantang, melainkan di atas kaki dian sehingga menerangi semua orang di dalam rumah itu. Demikianlah hendaknya terangmu bercahaya di depan orang, supaya mereka melihat perbuatanmu yang baik dan memuliakan Bapamu yang di sorga.” Matius 5:14-16

Hari ini adalah hari kenaikan Yesus ke surga. Saat ini, ada sekitar 25 negara di dunia yang memperingati kenaikan Yesus ke surga, yang dirayakan 40 hari setelah Paskah, sebagai hari libur umum. Sebagian besar negara-negara tersebut adalah negara-negara dengan mayoritas penduduk beragama Kristen, khususnya di Eropa, Afrika, dan sebagian Karibia serta Pasifik. Australia tidak pernah menetapkan hari ini sebagai hari libur, sekalipun sebelum tahun 2021 dianggap sebagai negara yang mayoritas penduduknya beragama Kristen. Ini mungkin karena Australia mengikutti tradisi Inggris yang tidak pernah menetapkan hari ini sebagai hari libur nasional. Menariknya adalah Indonesia, yang meskipun merupakan negara dengan mayoritas Muslim, menetapkan Hari Kenaikan Yesus sebagai hari libur nasional sejak tahun 1950an karena adanya dasar negara yang mengakui adanya pluralisme agama.

Di Australia, selain kenaikan Yesus tidak dinyatakan sebagai hari libur umum, banyak gereja yang tidak memperingatinya. Gereja-gereja yang menekankan liturgi (misalnya, Katolik Roma, Anglikan, Ortodoks, Lutheran) biasanya mencantumkan Hari Kenaikan Isa Almasih dalam kalender gereja mereka. Gereja-gereja Injili, Pantekosta, Baptis, dan non-denominasi sering kali tidak mengikuti kalender liturgi, dan karena itu hanya berfokus pada hari Paskah dan Natal.

Apakah kenaikan Yesus adalah hal yang penting dalam iman Kristen? Sudah tentu! Jika Yesus tidak naik ke surga, konsekuensi terbesar adalah tidak akan ada Roh Kudus yang dikirim untuk menuntun hidup dan menyembuhkan rohani umat percaya. Tanpa kenaikan-Nya, ibadah kepada Kristus mungkin akan terbatas pada tempat dan waktu tertentu, dan kita tidak akan dapat mengalami penghiburan dan kekuatan rohani yang ditawarkan oleh Roh Kudus, yang tinggal dalam hati setiap orang Kristen, di mana saja dan kapan saja. Selain itu, dengan adanya Roh Kudus, kita bisa menjadi terang dunia (Matius 5:16).

Kita perlu memahami bahwa hubungan antara kenaikan Yesus dan para pengikut-Nya sebagai “terang dunia” terletak pada pengalihan misi dan wewenang:


  1. Kenaikan Yesus Menandai Akhir Pelayanan-Nya di Bumi
  • Setelah kebangkitan-Nya, Yesus menampakkan diri kepada para pengikut-Nya selama 40 hari dan kemudian naik ke surga (Kisah Para Rasul 1:9-11).
  • Kenaikan menandakan bahwa kehadiran fisik Yesus di bumi telah berakhir, tetapi misi-Nya berlanjut melalui para pengikut-Nya.

  1. Para Murid Mewarisi Misi Yesus
  • Sebelum kenaikan-Nya, Yesus mengutus para pengikut-Nya untuk melanjutkan pekerjaan-Nya:
    “Kamu akan menjadi saksi-Ku… sampai ke ujung bumi.” (Kisah Para Rasul 1:8)
    “Pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku…” (Matius 28:19)
  • Ini menjadikan mereka wakil-wakil Yesus di bumi, yang dipanggil untuk mewartakan Injil dan mewujudkan ajaran-ajaran-Nya.

  1. Para Murid Menjadi Terang Dunia
  • Yesus berkata kepada murid-murid-Nya:
    “Kamu adalah terang dunia… Hendaklah terangmu bercahaya di depan orang lain, supaya mereka melihat perbuatan-perbuatanmu yang baik dan memuliakan Bapamu yang di surga.” (Matius 5:14-16)
  • Sementara Yesus juga berkata bahwa Dia adalah “terang dunia” (Yohanes 8:12), melalui kenaikan-Nya, terang-Nya terus bersinar melalui para murid.
  • Kehidupan dan misi mereka sekarang dimaksudkan untuk memantulkan terang Yesus di dunia yang gelap.

  1. Roh Kudus Memungkinkan Peran Mereka
  • Setelah kenaikan-Nya, Yesus mengutus Roh Kudus pada hari Pentakosta (Kisah Para Rasul 2), yang memberdayakan para murid untuk menjalani identitas mereka sebagai terang.
  • Tanpa Roh, cara hidup dan kesaksian mereka tidak akan memiliki kuasa dan bimbingan ilahi.

Dengan demikian, kita bisa mengerti bahwa

  • Yesus naik ke surga → Kehadiran fisik-Nya tidak terlihat lagi.
  • Ia mengutus para murid → Mereka menjadi kehadiran-Nya yang terlihat di bumi.
  • Mereka sekarang adalah “terang dunia” → Melaksanakan misi-Nya dengan kuasa Roh Kudus.

Kenaikan Yesus tidak mengakhiri pekerjaan-Nya. Yesus justru melipatgandakannya melalui para pengikut-Nya, yang sekarang menjadi tubuh-tubuh pembawa terang-Nya di dunia.

Terang adalah simbol penting dalam pandangan orang Yahudi. Sama seperti budaya Yunani yang menghargai pengetahuan, atau budaya Romawi yang menghargai kemuliaan, atau budaya barat modern yang menggembar-gemborkan kebebasan, standar ideal budaya Ibrani adalah terang. Konsep ini sangat berperan dalam penjelasan Alkitab tentang kesalehan dan kebenaran (Amsal 4:18–19; Matius 4:16; Yohanes 8:12; 2 Korintus 4:6).

Secara rohani, tidak ada terang di dunia ini selain dari Yesus Kristus. Namun, terang-Nya bersinar melalui setiap orang yang menjadi milik-Nya. Dengan cara ini, terang Kristus disebarkan ke dalam kegelapan di setiap sudut umat manusia. Bahwa terang ini dimaksudkan untuk terlihat oleh dunia juga penting. Yesus menambahkan metafora ini dengan merujuk pada sebuah kota yang terletak di atas bukit. Kota itu tidak dimaksudkan untuk disembunyikan; kota di atas bukit dimaksudkan untuk dilihat dan ditemukan bahkan dalam kegelapan malam. Pada zaman Kristus, tembok-tembok di sekeliling kota di atas bukit sering kali terbuat dari batu kapur putih, yang relatif mudah dilihat, bahkan pada malam yang redup.

Malam hari bisa sangat gelap pada zaman Yesus. Bagi kita yang terbiasa dengan lampu listrik, kegelapan malam di dunia kuno mungkin agak menakutkan. Di luar rumah, pada malam tanpa bulan atau mendung orang-orang akan kesulitan melihat tangan mereka di depan mata mereka sendiri. Di dalam rumah, cahaya tersedia dalam bentuk api, termasuk lampu minyak. Saat rumah-rumah menjadi gelap setelah matahari terbenam, lampu akan dinyalakan dan, jika tersedia, disebarkan di sekitar rumah. Penempatan adalah kuncinya. Lampu-lampu akan diletakkan di atas dudukan di tempat yang optimal untuk menyediakan cahaya sebanyak mungkin ke ruangan. Inilah inti dari komentar Yesus dalam ayat ini: mengapa seseorang menyalakan lampu di malam hari dan kemudian meletakkan sebuah gantang di atasnya? Mereka tidak akan melakukannya, kata Yesus. Cahaya lampu dimaksudkan untuk dilihat dengan cara yang sama seperti cahaya Kristus dimaksudkan untuk dilihat di dunia.

Dengan cara yang sama, terang Kristus tidak dimaksudkan untuk disembunyikan di bumi. Terang itu dimaksudkan untuk bersinar terang dari semua orang yang menjadi milik Kristus. Terang itu dimaksudkan untuk mudah ditemukan oleh mereka yang masih berada dalam kegelapan. Yesus akan menambahkan poin ini dalam ayat berikutnya bahwa terang Kristus tidak boleh ditutupi dalam kehidupan para pengikut-Nya. Terang itu dimaksudkan untuk dilihat. Sebagai orang percaya, kita tidak boleh hanya tinggal dalam lingkungan gereja atau keluarga kita dan tidak mempunyai minat untuk berpartisipasi dalam kegiatan masyarakat luas yang ada.

Orang Kristen sejati adalah satu-satunya sumber cahaya rohani, yaitu cahaya Kristus. Cahaya itu dimaksudkan untuk dilihat, jadi Yesus memberi tahu para pengikut-Nya untuk tidak menyembunyikannya atau menutupinya dengan alasan apa pun. Melakukan pekerjaan yang diberikan oleh Tuhan adalah cara para pengikut-Nya akan menyebarkan cahaya-Nya. Gagal melakukan pekerjaan baik itu, sama seperti menutupi satu-satunya lampu di ruangan yang gelap; menyembunyikan cahaya membuat lampu itu tidak berguna. Terang dimaksudkan untuk dilihat oleh mereka yang berada dalam kegelapan. Terang tidak ada nilainya jika ditutupi dan disembunyikan.

Para pengikut juga wajib memperlihatkan terang Yesus dengan melakukan perbuatan baik yang Allah inginkan bagi mereka. Bahkan jika mengikut Kristus mendatangkan penganiayaan dari dunia (Matius 5:11–12), orang percaya diperintahkan untuk tetap bertahan untuk memancarkan terang itu ke dalam dunia yang gelap. Demikianlah hendaknya terang kita bercahaya di depan orang, supaya mereka melihat cara hidup kita dan memuliakan Tuhan.

Dalam pelajaran lain, Yesus menjelaskan lebih lanjut tentang arti melakukan perbuatan baik. Poin penting yang Ia sampaikan kemudian dalam Khotbah di Bukit melibatkan motivasi yang tepat (Matius 6:1). Perbuatan baik yang dilakukan demi Allah, dengan cara dan tujuan yang mendatangkan kemuliaan bagi Allah, seharusnya dilakukan agar dapat dilihat. Namun, dalam situasi sekarang, di mana dunia cenderung memuji orang dari tampak luarnya, lebih baik tindakan itu dilakukan “secara rahasia” untuk menghindari kesombongan dan keangkuhan.

“Jadi apabila engkau memberi sedekah, janganlah engkau mencanangkan hal itu, seperti yang dilakukan orang munafik di rumah-rumah ibadat dan di lorong-lorong, supaya mereka dipuji orang. Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya mereka sudah mendapat upahnya. Tetapi jika engkau memberi sedekah, janganlah diketahui tangan kirimu apa yang diperbuat tangan kananmu. Hendaklah sedekahmu itu diberikan dengan tersembunyi, maka Bapamu yang melihat yang tersembunyi akan membalasnya kepadamu.” Matius 6:2-4

Pagi ini, kita menyadari bahwa Kristus adalah satu-satunya terang rohani di dunia, dan kebenaran itu disebarkan melalui umat-Nya: murid-murid-Nya, yang berarti orang Kristen yang dilahirkan kembali. Orang percaya berbuat baik kepada orang lain untuk menunjukkan kebenaran (Yohanes 14:6), dan untuk membawa kemuliaan bagi Tuhan.

Jangan mengucilkan diri selama hidup di dunia

“karena perjuangan kita bukanlah melawan darah dan daging, tetapi melawan pemerintah-pemerintah, melawan penguasa-penguasa, melawan penghulu-penghulu dunia yang gelap ini, melawan roh-roh jahat di udara.” Efesus 6:12?

Seringkah Anda membaca berita koran? Mungkin Anda lebih sering membaca berita dari media internet karena hampir semua surat kabar di dunia memiliki berita versi internet. Saya harap Anda tidak memusatkan pikiran Anda pada berita yang ada dalam TitTok, Instagram, Facebook dan sejenisnya, karena banyaknya hoax yang disampaikan oleh orang-orang yang tidak bertanggung jawab. Namun itulah kenyataan dunia saat ini, bahwa apa yang benar dan baik sering diganti dengan apa yang tidak benar dan jahat. Sayang sekali bahwa banyak orang yang mudah terperangkap dalam hal-hal semacam itu.

Dalam kekacauan dunia ini, saya bisa mengerti jika banyak orang Kristen yang menghindari berita macam apa pun. Mereka tidak tertarik untuk membaca berita politik, ekonomi, sosial dan budaya yang memiliki dinamika yang luas di dunia, dan hanya memusatkan perhatian pada kegiatan rohani. Dalam hal ini, mereka mungkin memakai ayat di atas sebagai alasan mengapa mereka mengabaikan kejadian-kejadian penting atau perubahan masyarakat di dunia. Selain itu, ada pula orang-orang Kristen yang percaya bahwa semua peristiwa di dunia saat ini menunjukkan bahwa akhir zaman sudah dekat, dan karena itu mereka tidak lagi tertarik untuk mengikuti berita sehari-hari. Hidup mereka mungkin bisa dibayangkan sebagai kehidupan rohaniawan yang tinggal di biara. Ini sudah tentu bukanlah maksud Paulus dalam Filipi 6.

Dalam Efesus 6, Paulus pada awalnya memberikan instruksi khusus untuk hidup sehari-hari kepada orang tua dan anak-anak mereka, masing-masing menekankan ketaatan dan kesabaran. Ia juga mengarahkan para pelayan untuk melayani dengan ketulusan dan niat baik, seolah-olah mereka bekerja untuk Kristus. Para majikan diperingatkan untuk tidak bersikap kasar: Tuhan yang sama yang menghakimi semua orang, tidak akan memandang mereka lebih istimewa dari pada orang-orang yang mereka awasi. Semua orang Kristen yang hidup di dunia saat ini, dipanggil untuk menggunakan peralatan yang diberikan Tuhan kepada kita untuk bertahan hidup dari serangan iblis. Peralatan ini dibayangkan sebagai bagian dari perlengkapan perang. Paulus mengakhiri surat ini dengan gaya khasnya, dengan doa, berkat, dan berita tentang rencananya. Jelas Paulus menulis surat ini dengan tujuan mengajak setiap orang Kristen untuk tidak “jatuh tertidur” selama hidup di dunia.

Hidup orang Kristen di dunia adalah seperti hidup dalam peperangan. Efesus 6:10–20 menyimpulkan penerapan praktis Kekristenan oleh Paulus dengan serangkaian metafora yang terkenal. Di sini, ia menggambarkan ”perlengkapan perang Allah.” Dalam bagian ini, Paulus menggunakan kiasan tentang perlengkapan dasar prajurit Romawi untuk menunjukkan bagaimana komponen-komponen Kekristenan bekerja sama saat kita berusaha melayani Tuhan di dunia yang kacau ini. Peralatan prajurit meliputi ikat pinggang, pelindung dada, sepatu, perisai, helm, dan pedang. Secara paralel, peralatan orang Kristen adalah kebenaran, keadilan, Injil, iman, keselamatan, dan Firman Tuhan. Orang Kristen juga diberi doa. Sama seperti perlengkapan prajurit dirancang untuk pertempuran duniawi mereka, perlengkapan orang Kristen dimaksudkan untuk bisa memenangkan peperangan rohani. Karena itu, orang Kristen harus mengerti apa yang terjadi di dunia agar dapat memakai senjata yang tepat untuk menghadapi serangan musuh.

Efesus 6:12 yang terkenal ini menggambarkan peperangan rohani yang terjadi dalam kehidupan orang percaya. Pertama, Paulus menegaskan bahwa peperangan kita memang rohani, bukan jasmani. Musuh yang kita hadapi, pada akhirnya, bukanlah orang atau benda yang kita lihat di dunia. Tetapi, Iblis mungkin menggunakan berbagai hal di dunia sebagai bagian dari serangannya, tetapi perjuangan kita bukanlah untuk melawan orang atau hal-hal lain: melainkan untuk melawan dosa.

Kedua, Paulus mengidentifikasi musuh rohani kita. Daftar ini sering ditafsirkan sebagai gambaran dari “pangkat” dalam pasukan setan.”Penguasa” mengacu pada kekuatan umum jahat yang menyerang orang percaya. “Penghulu dunia” tampaknya mengacu pada adanya kekuatan iblis yang ada dalam pertempuran rohani ini di seluruh dunia saat ini. “Melawan roh-roh jahat di udara” menekankan adanya kuasa iblis dalam pertempuran di luar dunia ini. Walaupun demikian, pertempuran rohani dapat terjadi di semua tingkatan, di mana saja di dunia ini dan di luar dunia. Orang percaya harus siap menghadapi semua jenis serangan dengan mengenakan perlengkapan senjata Allah, seperti yang dijelaskan Paulus.

Paulus menjelaskan bagaimana kita harus memperlengkapi diri kita untuk peperangan rohani ini. Dalam Efesus 6:10–12, ia mengingatkan kita bahwa pergumulan kita dengan dosa dan dengan orang-orang yang membenci Allah yang hidup di dunia bukanlah pertempuran melawan darah dan daging, tetapi melawan sang dalang: iblis. Sebelum kita mengenal Kristus, kita berada di dalam Adam dan diperbudak oleh kuasa dosa dan maut. Setelah didamaikan dengan Allah melalui Yesus, kita tidak lagi taat kepada Iblis sebagai pemimpin kita, tetapi sekarang melayani dalam pasukan Tuhan (Roma 5:12–21). Namun, pengaruh dosa tidak serta-merta lenyap, karena dunia, daging, dan Iblis berusaha membuat kita lupa di pihak mana kita berada sebagai hamba Tuhan (1 Petrus 5:8–9). Iblis berusaha membuat kita jatuh dalam dosa dalam keadaan apa pun yang kita hadapi di dunia.

Rasul Petrus juga memperingatkan orang-orang percaya untuk tetap waspada terhadap iblis:

“Sadarlah dan berjaga-jagalah! Lawanmu, si Iblis, berjalan keliling sama seperti singa yang mengaum-aum dan mencari orang yang dapat ditelannya. Lawanlah dia dengan iman yang teguh, sebab kamu tahu, bahwa semua saudaramu di seluruh dunia menanggung penderitaan yang sama.” (1 Petrus 5:8-9).

Satu-satunya cara yang efektif untuk mencegah kita menentang jalan Yesus dan bertindak sebagai pengkhianat terhadap tujuan-Nya adalah dengan terus-menerus mengenakan seragam yang mengidentifikasi kita sebagai prajurit-Nya (Efesus 6:13–17). Paulus menggunakan analogi baju zirah prajurit untuk menggambarkan iman. Meskipun ada beberapa kesimpulan yang dapat ditarik mengenai alasan mengapa setiap baju zirah tertentu dikaitkan dengan karakteristik rohaninya yang spesifik, lebih penting untuk melihat bahwa akar pemikiran Paulus kembali ke Perjanjian Lama. Dalam Yesaya 59:15b–17, sang nabi berbicara tentang Allah yang mengenakan baju zirah yang sama seperti yang harus kita kenakan dalam pertempuran melawan iblis. Mengenakan perlengkapan senjata rohani berarti kita terus-menerus taat kepadaTuhan, mengandalkan karunia dan kasih karunia-Nya untuk melawan godaan dosa apa pun di dunia, agar kita bisa mengorbankan apa pun, bahkan kesejahteraan kita sendiri, demi kerajaan-Nya.

Doa terus-menerus dalam Roh baik untuk diri kita sendiri maupun untuk kebutuhan sesama orang percaya adalah cara kita mengenakan perlengkapan senjata ini (Efesus 6:18-20). Berdoa dalam Roh bukanlah pengalaman mistis, melainkan kewaspadaan dalam menghadapi peristiwa dan perbahan apa pun di dunia, disertai dengan kecepatan dan ketepatan dalam berdoa. Kita hanya bisa dengan cepat dan tepat menyampaikan permohonan kita jika kita tahu dan sadar akan adanya bahaya serangan iblis. Karena kita yakin bahwa Roh Kudus bersama dengan kita saat kita berdoa, kita akan menyadari kuasa dalam mengakui ketergantungan kita kepada Allah (Rm. 8:26-27).

Paulus berkata, dalam pergumulan kita dengan iblis, kita harus waspada terhadap taktiknya (2 Korintus 2:11). Dan dalam Efesus 6:11-12, Paulus menyebutkan tiga ciri utama kekuatan rohani iblis dan antek-anteknya. Pertama, mereka kuat. Mereka memiliki wewenang untuk memerintah dunia. Kedua, mereka jahat. Musuh-musuh rohani yang jahat ini menggunakan kekuatan mereka untuk mendatangkan kehancuran. Mereka dikaitkan dengan kegelapan dan bukan terang, kejahatan dan bukan kebaikan. Dan, ketiga, mereka cerdik. Mereka tahu bagaimana merencanakan dan menyusun strategi. Mereka sangat ahli dalam penipuan sehingga terkadang mereka datang dengan menyamar sebagai malaikat terang (2 Korintus 11:14) atau serigala berbulu domba (Matius 7:15). Jelas, bahwa sebagai prajurit Tuhan, kita tidak boleh mengabaikan apa yang terjadi di dunia saat ini; kita harus aktif dalam menyelidiki, memelajari dan menganalisa taktik dan gebrakan iblis di dunia dan bukannya mengucilkan diri untuk menghindari serangan iblis.

Tetapi, bagaimana kita, dalam kelemahan manusiawi kita, berharap untuk melawan musuh yang begitu kuat dan licik? Kekuatan kasar tidak akan memenangkan pertempuran. Kita juga tidak dapat menyembunyikan diri dari pengamatan iblis. Secara manusiawi, kemenangan itu mustahil. Dalam perjuangan kita melawan iblis dan pasukannya yang licik, Paulus mengatakan kita harus “kuat di dalam Tuhan dan di dalam kekuatan-Nya yang dahsyat” (Efesus 6:10).

Hanya Tuhan yang dapat menguatkan, membela, dan membebaskan kita dari kuasa, kejahatan, dan tipu daya iblis di dunia (2 Timotius 4:17-18). Kita harus sadar bahwa iblis bisa bekerja dalam organisasi pemerintah, perusahaan, sekolah, universitas, dan juga gereja dan keluarga kita. Musuh kita mungkin kuat, tetapi Tuhan lebih kuat (1 Yohanes 4:4). Tuhan menyediakan bagi kita kuasa yang sama dahsyatnya yang membangkitkan Yesus Kristus dari antara orang mati dan mendudukkan-Nya di sebelah kanan Allah di surga (Efesus 1:19-20). Musuh-musuh kita akan dikalahkan melalui kemenangan Kristus atas mereka di kayu salib (Kolose 2:15). Jangan takut, tapi berwaspadalah dan siap untuk berperang!

Anda khawatir karena masih ada kekhawatiran?

“Bersukacitalah senantiasa dalam Tuhan! Sekali lagi kukatakan: Bersukacitalah! Hendaklah kebaikan hatimu diketahui semua orang. Tuhan sudah dekat! Janganlah hendaknya kamu kuatir tentang apa pun juga, tetapi nyatakanlah dalam segala hal keinginanmu kepada Allah dalam doa dan permohonan dengan ucapan syukur.” Filipi 4:4-6

Paulus kembali lagi ke tema sukacita dalam ayat-ayat ini Kali ini, ia sangat menekankan bahwa sikap sukacita seperti itu haruslah konstan, bukan sementara. Ini menggemakan kata-kata Filipi 3:1, untuk “bersukacita dalam Tuhan,” sebuah frasa yang juga Paulus gunakan dalam Filipi 4:10 mengenai tindakannya sendiri. Orang percaya menemukan sukacita dan harapan mereka di dalam Tuhan. Sukacita adalah bagian dari buah Roh (Galatia 5:22-23) dan penting bagi setiap orang percaya.

Paulus tampaknya secara khusus berfokus pada gagasan bahwa sukacita harus terjadi setiap saat. Kita sering lupa bahwa Paulus menulis kata-kata ini saat menjadi tahanan di Roma. Ia telah ditangkap secara salah selama beberapa waktu, mengalami karam kapal dalam perjalanan ke sana, digigit ular, dan dibiarkan dalam tahanan rumah selama dua tahun (Kisah Para Rasul 27:39-28:16). Ia memiliki banyak alasan untuk mengeluh, tetapi berfokus pada sukacita. Baik pengajaran maupun teladannya memberikan contoh yang luar biasa. Setiap orang percaya seharusnya berusaha bersukacita di dalam Tuhan meskipun menghadapi situasi sulit, seperti yang dilakukan Paulus.

Selain bersukacita, Paulus mendorong para pembacanya untuk dikenal sebagai orang yang lemah lembut, sabar, dan tidak berlebihan. Inilah arti dari kata Yunani, epieikes, yang bisa diterjemahkan sebagai “kewajaran”. Orang Kristen tidak boleh terlihat mudah marah atau bodoh, tetapi lebih sebagai orang yang bijaksana dan berakal sehat yang dapat menangani kesulitan dan perselisihan dengan kedewasaan. Hal ini penting dalam konteks permintaan Paulus kepada kedua wanita anggota gereja di Filipi, Euodia dan Sintikhe, untuk mengesampingkan argumen mereka di depan umum.

Paulus melanjutkan dorongannya dengan harapan bahwa Yesus akan kembali kapan saja. Pemahaman tentang kedatangan Kristus ini memiliki banyak penerapan langsung bagi kehidupan orang percaya. Paulus menjelaskan beberapa penerapan ini dalam ayat 6–9. Semua tanggapan ini positif, bukan negatif, bagi orang percaya. Memahami bahwa Kristus dapat datang kapan saja merupakan sumber dorongan bagi mereka yang diselamatkan (1 Tesalonika 4:13–18), bukan sumber keputusasaan atau ketakutan.

Karena Tuhan sudah dekat, atau akan segera kembali (Filipi 4:5), orang percaya harus mengatur hidup dan pikiran mereka dengan cara tertentu. Paulus memulai dengan kontras antara kecemasan dan doa. Ia mencatat orang percaya tidak boleh “khawatir tentang apa pun.” Ini tidak berarti sama sekali tidak ada kekhawatiran. Ini juga tidak berarti orang Kristen harus ceroboh. Sebaliknya, ini berarti orang percaya tidak boleh takut, paranoid, atau gelisah. Mengapa tidak? Orang percaya dapat berbicara langsung dengan Tuhan, pencipta langit dan bumi, yang memiliki semua kuasa dan otoritas, yang memegang kendali penuh atas situasi.

Daripada cemas, orang percaya harus dengan rendah hati dan bersyukur mendekati Tuhan dengan apa pun yang ada dalam pikiran mereka. Doa yang dewasa mencakup ucapan syukur kepada Tuhan atas apa yang telah Dia lakukan selain meminta bantuan di bidang-bidang yang membutuhkan. Ini adalah resep Kristen untuk mengurangi kecemasan di semua bidang kehidupan. Ini tidak berarti orang percaya akan menjalani hidup tanpa kekhawatiran. Ini juga tidak berarti bantuan tambahan tidak akan dibutuhkan. Namun, ini menunjukkan bahwa mengatasi masalah dalam hidup kita harus dimulai dengan doa pujian.

Bagi sebagian dari kita, kecemasan adalah bagian dari pengalaman sehari-hari. Bukan hanya kecemasan akan tekanan hidup sehar-hari, tetapi di masa sekarang ini, kecemasan akan adanya perang, mundurnya ekonomi dunia, dan berbagai kejahatan di sekeliling kita bisa membuat pikiran kita sangat berkabut. Saya tahu kita semua akan mempunyai alasan untuk merasa cemas hari ini. Saya juga tahu bahwa sebagian orang juga merasa cemas akan kemungkinan datangnya akhir zaman.

Adanya perang di Ukraina dan keadaan umum dunia yang serba kacau saat ini sebenarnya bukanlah hal yang baru. Sebelum Reformasi Protestan, ada keputusasaan yang meluas di Eropa. Wabah Hitam melanda Eropa pada pertengahan abad ke-14, dan sekitar sepertiga, bahkan mungkin hingga setengah, populasi Eropa meninggal. Perang Seratus Tahun dimulai pada abad ke-14, dan terjadi perpecahan gerejawi yang besar di gereja, yang menyebabkan para paus berperang melawan antipaus dan perpecahan di kalangan Kristen Katolik Barat. Pada saat seperti itu, ada banyak orang-orang yang putus asa; mereka mengira dunia akan segera berakhir. Dari ujian dan api yang luar biasa itu muncullah Reformasi Protestan.

Tuhan selalu merencanakan sesuatu, bahkan ketika kehidupan di dunia terlihat gelap, berbahaya, dan menentang. Sebagai orang percaya, kita perlu memiliki keyakinan kepada Tuhan yang berdaulat, bahkan ketika kita melihat kehidupan masyarakat dan merasa tertekan karena etika dan budaya kita tidak seperti yang seharusnya, jangan berpikir bahwa Tuhan tidak melakukan sesuatu. Dia selalu mempersiapkan jalan untuk meninggikan nama Yesus dan melakukan pekerjaan besar. Kita memiliki keyakinan bahwa bahkan di masa-masa sulit, Tuhan akan melakukan sesuatu.

Pesan Palus “Janganlah hendaknya kamu kuatir tentang apa pun juga”. Saya menyukainya karena salah satu pergumulan saya sejak muda adalah dalam usaha mengatasi kekhawatiran. Saya tahu bahwa ketika saya khawatir, saya sebenarnya menunjukkan bahwa saya tidak sepenuhnya percaya pada kedaulatan Tuhan. Kepedulian dan perhatian yang tidak berakar pada kepercayaan pada kedaulatan pemeliharaan Tuhan atas kita memang dapat membuat kita putus asa. Saya sebenarnya harus terus-menerus kembali ke ayat di atas dan mendengar Paulus berkata kepada saya, “Jangan khawatir tentang apa pun. Jangan khawatir tentang apa pun.”

Setiap kali saya bertemu seseorang yang mengaku tidak pernah khawatir tentang apa pun atau yang mengaku tidak memiliki rasa takut, saya menyimpulkan satu dari tiga hal: mereka berbohong, mereka menipu diri sendiri, atau mereka telah menjadi begitu tidak berperasaan dan puas dengan hati mereka sendiri sehingga mereka tidak peduli tentang apa pun atau siapa pun dan, dengan demikian, secara membabi buta terpaku pada diri mereka sendiri.

Mungkin kita berkata: “Saya tidak khawatir tentang diri saya, tetapi khawatir akan anak-cucu saya. Bagaimana saya tidak khawatir jika mereka berada dalam kesulitan?”. Dalam hal ini, Paulus juga di tempat lain mengatakan bahwa kecemasan atau kekhawatiran jemaat ada padanya. Paulus yang memberi tahu kita untuk tidak khawatir tentang apa pun memberi tahu kita bahwa bebannya untuk merawat jemaat menyebabkan dia tergoda untuk khawatir sepanjang waktu. Semua itu hanya mengingatkan kita semua bahwa kepedulian dan perhatian akan orang lain itu baik. Tetapi, kepedulian dan perhatian yang tidak berakar pada kepercayaan pada pemeliharaan Tuhan yang berdaulat atas kita, pemeliharaan-Nya atas kita, dan pengawasan-Nya atas kita, dapat membuat kita putus asa.

Orang percaya adalah orang yang telah diselamatkan dan ditebus, dibenarkan dan diampuni oleh Tuhan, tetapi dia adalah orang yang masih memiliki dosa yang berdiam di dalam dirinya, dan, dengan demikian, masih ada ketakutan dan kecemasan. Jadi Anda tidak perlu mempunyai rasa khawatir karena sebagai orang percaya Anda masih punya rasa khawatir. Kita belum menjadi orang yang sempurna. Namun, sementara orang yang tidak percaya dipenuhi dengan ketakutan dan kecemasan yang menopang dan mengobati dirinya sendiri, orang percaya membawa semua ketakutan dan kecemasannya kepada Dia yang kasihnya yang sempurna melenyapkan ketakutan (1 Yohanes 4:18).

Sebagai anak angkat Allah, Allah telah merendahkan hati kita dengan berdaulat dan dengan murah hati membuat hati kita takut kepada-Nya sehingga semua ketakutan kita yang lain mungkin tidak berarti. Namun, kita tidak dapat dengan benar takut kepada Allah jika kita tidak mengenal Allah, dan karenanya semakin kita mengenal Allah dalam Alkitab, semakin kita mampu untuk dengan benar-benar takut kepada Allah, yang mahabesar, mahakudus dan mahakasih, yang dengan ajaib membuat kita untuk bisa hidup tenteram di hadapan wajah-Nya selamanya.

Percaya, tidak percaya atau belum sepenuhnya percaya?

“Sebab sekalipun mereka mengenal Allah, mereka tidak memuliakan Dia sebagai Allah atau mengucap syukur kepada-Nya. Sebaliknya pikiran mereka menjadi sia-sia dan hati mereka yang bodoh menjadi gelap.” Roma 1:21

Apakah Anda merasa yakin bahwa Anda sudah diselamatkan? Bagaimana Anda bisa yakin akan hal itu? Tentunya Anda mengerti apa syarat untuk diselamatkan: percaya dan bertobat. Itu dinyatakan dalam Alkitab.

“Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal.” Yohanes 3:16

”Waktunya telah genap; Kerajaan Allah sudah dekat. Bertobatlah dan percayalah kepada Injil!” Markus 1:15

Percaya dan pertobatan adalah dua sisi dari satu koin dalam perjalanan rohani. Keduanya adalah tindakan sukarela tanpa paksaan yang harus dilakukan oleh setiap orang yang ingin menerima iluran tangan keselamatan yang datang dari Tuhan (Kisah 2:38-40). Pertobatan dan iman berjalan seiring karena jika Anda percaya bahwa Yesus adalah Tuhan yang menyelamatkan (iman), pikiran Anda berubah tentang dosa dan diri Anda (pertobatan); dan jika Anda bertobat, itu karena Anda percaya bahwa Yesus adalah Tuhan yang menyelamatkan. Lalu bagaimana dengan orang yang tidak diselamatkan?

Roma 1:21 dimulai dengan pernyataan Paulus bahwa murka Allah dinyatakan terhadap ketidakbenaran manusia. Secara khusus, murka ini datang karena Allah telah menyatakan diri-Nya dengan cukup jelas kepada umat manusia sehingga tidak seorang pun punya alasan untuk mengabaikan-Nya. Kita mungkin dengan sengaja mengabaikan-Nya (Matius 7:7-8), tetapi kita tidak dapat berdalih bahwa kita tidak diberi bukti yang cukup tentang adanya Tuhan dan kehendak-Nya (Roma 1:18-20).

Mengapa manusia menyangkal Allah, dimulai dengan fakta bahwa banyak manusia menolak untuk melihat siapa Allah itu dalam hidup mereka. Mereka membuat pilihan yang disengaja untuk mengabaikan ciri-ciri-Nya dalam ciptaan yang mengelilingi mereka setiap hari. Dengan kata lain, mereka menolak-Nya terlebih dahulu sebagai Pencipta. Penolakan akan Allah sebagai pencipta mengarah pada penolakan untuk menghormati atau mengucap syukur kepada Allah. Mengapa menghormati Allah yang tidak menciptakan dunia? Dan jika Tuhan bukan pencipta, mengapa mereka harus berasumsi bahwa Dia adalah penyedia semua yang mereka butuhkan? Mengapa bersyukur kepada Tuhan atas apa yang mereka kembangkan dan peroleh dengan kemampuan diri sendiri? Begitulah ulah mereka yang belum mengenal Tuhan.

Jika kita tidak memahami Tuhan sebagai pencipta dan penyedia yang harus disembah, kita tidak akan dapat mencapai pemahaman yang benar tentang cara kerja alam semesta. Jika kita tidak memahami bahwa Bapa, Yesus, dan Roh adalah satu, kita akan sulit untuk taat kepada firman yang disampaikan Yesus dan petunjuk Roh Kudus. Jika kita berpendapat bahwa Yesus lebih rendah dari Bapa, kita akan cenderung mencari keselamatan dalam ketaatan pada Hukum Taurat, seperi apa yang dilakukan orang Farisi.

Dengan demikian, pemikiran orang dunia tentang Tuhan adalah sia-sia, tidak berharga sejak awal. Pemikiran yang sia-sia mengarah pada kesimpulan yang salah dan, akhirnya, ke hati yang gelap. Segala sesuatu yang akhirnya mereka percayai didasarkan pada asumsi yang salah tentang alam semesta dan tempat manusia di dalamnya. Misalnya, banyak orang akan memutuskan bahwa alam semesta yang tidak diciptakan dan tidak dipelihara oleh Tuhan tidak memiliki makna atau tujuan. Kesimpulan itu sering kali mengarah pada keputusasaan dan nihilisme: kepercayaan bahwa hidup tidak berarti. Atau sebaliknya, karena hidup ini pada akhirnya lenyap tak berbekas, lebih baik mereka bersuka-suka selagi masih bisa.

Tidaklah mengherankan bahwa tanda-tanda orang yang belum menerima keselamatan menurut apa yang ditulis Paulus dalam berbagai ayat di Alkitab meliputi:

  • Penolakan atau pengabaian atas suara Roh Kudus
  • Kebutaan rohani dan ketidakmampuan untuk memahami firman Tuhan
  • Penolakan terhadap kebenaran dan pengerasan hati yang berkelanjutan
  • Cara hidup yang menurut sifat dosa
  • Kerusakan moral dan perilaku yang mengabaikan Tuhan

Roma 1 memperkenalkan Paulus dan tujuannya dalam menulis surat ini kepada orang-orang Kristen di Roma. Sebagai hamba dan rasul Yesus, misi Paulus dalam hidup adalah untuk memberitakan Injil Yesus kepada semua kelompok orang, baik orang Yahudi maupun non-Yahudi. Dia berharap untuk segera melakukannya di Roma. Paulus tidak malu akan Injil. Itu adalah kuasa Tuhan untuk keselamatan semua orang melalui iman kepada Kristus. Semua manusia perlu diselamatkan karena Tuhan marah kepada seisi dunia. Karena dosa, banyak manusia telah menolak Dia sebagai pencipta dan penyedia segala sesuatu. Sebaliknya, mereka menyembah hal-hal lain seperti harta, kuasa dan seks. Sebagai jawabannya, Tuhan telah menyerahkan mereka untuk menuruti segala macam praktik dosa yang mengarah kepada kesengsaraan di masa sekarang (lihat tulisan tentang tujuh dosa yang membinasakan), dan penghakiman-Nya yang murka di kemudian hari.

Roma 1:18–32 menjelaskan mengapa Tuhan dengan tepat mengutuk manusia dan sebagian dari apa yang telah Dia lakukan terhadapnya. Kejatuhan manusia digambarkan sebagai perkembangan ke bawah atau kemerosotan. Dimulai dengan menolak Tuhan sebagai pencipta, menolak untuk melihat apa yang dapat diketahui tentang Dia melalui apa yang telah Dia ciptakan. Kita juga menolak bahwa Dia adalah penyedia kita dan berhenti bersyukur kepada-Nya. Kita menyembah ciptaan-Nya, bukan Dia. Akhirnya, Tuhan bertindak dengan menyerahkan kita pada hal-hal yang jahat dan korup, dan semua jenis dosa lainnya yang tak terkendali. Ada juga kemungkinan bahwa Dia mengungkapkan murka-Nya dengan memberi kita apa yang kita inginkan dan mengutuk kita untuk menanggung konsekuensi yang menyakitkan.

Pada penghakiman terakhir, iman kepada Kristus adalah garis batas yang nyata (Yohanes 14:6). Hanya ada satu pilihan, atau tidak sama sekali (Yohanes 3:36). Siapa pun yang tidak mengakui Dia sebagai Tuhan dan Mesias berada di sisi yang buruk dari garis itu. Dengan melakukan upaya yang begitu jelas dan keras hati untuk menolak-Nya (Matius 12:24), orang-orang Farisi tidak memberikan ruang untuk mengklaim bahwa mereka hanya salah mengerti atau tidak memahami Yesus. Penolakan mereka terhadap-Nya menunjukkan bahwa mereka sebenarnya jahat di dalam hati mereka.

Kata Yesus kepadanya: ”Akulah jalan dan kebenaran dan hidup. Tidak ada seorang pun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku.” Yohanes 14:6

“Barangsiapa percaya kepada Anak, ia beroleh hidup yang kekal, tetapi barangsiapa tidak taat kepada Anak, ia tidak akan melihat hidup, melainkan murka Allah tetap ada di atasnya.” Yohanes 3:36

Tetapi ketika orang Farisi mendengarnya, mereka berkata: ”Dengan Beelzebul, penghulu setan, Ia mengusir setan.” Matius 12:24

Uraian Paulus dalam Roma 1 tidak dimaksudkan untuk menghakimi semua orang dengan keras, tetapi untuk membedakan antara mereka yang hidup di dalam Kristus dan mereka yang masih membutuhkan Injil. Dalam Pengakuan Westminster Bab 18 – Mengenai Kepastian Kasih Karunia dan Keselamatan, kita mendapatkan penjelasan lebih lanjut tentang hal ini.

Orang-orang munafik dan orang-orang yang belum dilahirkan kembali lainnya mungkin dengan sia-sia menipu diri mereka sendiri dengan harapan-harapan palsu dan anggapan-anggapan duniawi bahwa mereka akan diselamatkan. Namun mereka yang sungguh-sungguh percaya kepada Tuhan Yesus, dan mengasihi-Nya dengan tulus, berusaha untuk berjalan dengan hati nurani yang baik di hadapan-Nya, pasti yakin bahwa mereka berada dalam keadaan kasih karunia, dan boleh bersukacita dalam pengharapan akan kemuliaan Allah: yang mana harapan itu tidak akan pernah membuat mereka malu atau kecewa.

Kepastian ini bukanlah sekadar dugaan dan kemungkinan, yang didasarkan pada harapan yang bisa salah; tetapi suatu keyakinan iman yang tidak dapat salah, yang didasarkan atas kebenaran ilahi dari janji-janji keselamatan, bukti batiniah dari kasih karunia yang kepadanya janji-janji ini dibuat. Kesaksian Roh Kudus yang memberi kesaksian kepada roh kita bahwa kita adalah anak-anak Allah; Roh mana yang merupakan jaminan warisan kita, yang dengannya kita dimeteraikan sampai hari penebusan.

Perlu diketahui, keyakinan tentang keselamatan ini tidak otomatis termasuk dalam hakikat iman, tetapi memerlukan respons manusia. Iman yang hidup adalah iman yang diseertai perbuatan (Yakobus 2:17). Dan karena itu adalah kewajiban setiap orang untuk bertekun dalam panggilan dan pemilihannya; sehingga dengan demikian hatinya dapat diperluas dalam kedamaian dan sukacita dalam Roh Kudus sekalipun mengalami perjuangan hidup yang berat. Orang sedemikian akan hidup dalam kasih dan rasa syukur kepada Tuhan, dan dengan sukacita akan hidup dalam ketaatan, menghasilkan Buah Roh: kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan, dan penguasaan diri. Buah-buah Roh ini adalah hasil dari kehidupan yang dipimpin oleh Roh Kudus (Galatia 5:22-23). Bahwa seorang percaya sejati dapat sabar menunggu jawaban Tuhan dan bisa berjuang menghadapi banyak kesulitan adalah karena ia dimampukan oleh Roh untuk mengetahui apa yang diberikan Tuhan dengan cuma-cuma kepadanya dari ia dapat menggunakan sarana-sarana itu.

Orang percaya bukanlah orang yang sempurna selama hidup di dunia. Mereka dapat saja, melalui kesalahan mereka sendiri, jatuh ke dalam beberapa dosa khusus yang melukai hati nurani dan mendukakan Roh. Dalam hal ini, Allah menarik cahaya wajah-Nya dan membiarkan mereka berjalan dalam kegelapan dan tidak memiliki terang: namun mereka tidak pernah sepenuhnya kehilangan benih Allah, dan kehidupan iman, kasih kepada Kristus dan saudara-saudara, ketulusan hati dan kesadaran akan kewajibannya. Melalui pekerjaan Roh, keyakinan ini dapat dihidupkan kembali pada waktunya karena mereka ditopang dari keputusasaan total.

Pagi ini kita belajar membedakan orang percaya dengan orang yang tidak percaya, dan dengan orang yang belum percaya sepenuhnya. Panggilan untuk kita adalah untuk tetap mau mendengarkan panggilan Tuhan yang membimbing kita ke arah yang benar. Janganlah kita mengeraskan hati kita dan menolak-Nya. Pada pihak lain, hidup dalam iman bukanlah otomatis membuat kita menjadi orang yang sempurna, yang sepenuhnya taat kepada firman Tuhan. Tetapi, jika kita adalah orang yang sudah diberi pengenalan akan Allah, kita harus selalu berusaha untuk memuliakan Dia sebagai Allah dan mengucap syukur kepada-Nya dalam setiap segi kehidupan kita.

Masihkah Anda ragu akan keselamatan Anda?

“Dan mereka yang ditentukan-Nya dari semula, mereka itu juga dipanggil-Nya. Dan mereka yang dipanggil-Nya, mereka itu juga dibenarkan-Nya. Dan mereka yang dibenarkan-Nya, mereka itu juga dimuliakan-Nya.” Roma 8:30

Roma 8 dimulai dan diakhiri dengan pernyataan tentang keamanan mutlak orang Kristen di hadapan Tuhan. Tidak ada penghukuman bagi mereka yang ada di dalam Kristus, dan tidak ada yang akan pernah dapat memisahkan kita dari kasih-Nya. Setelah percaya kepada Injil, kita sekarang hidup dalam Roh Tuhan. Itu memungkinkan kita untuk memanggil Tuhan sebagai Abba atau Bapa. Kita menderita bersama Kristus, dan kita menderita bersama dengan semua ciptaan sementara kita menunggu Tuhan untuk menyatakan kita sebagai anak-anak-Nya. Dengan bantuan Roh, kita bisa yakin bahwa Tuhan bersama kita dan mengasihi kita di dalam Kristus untuk selamanya.

Dalam Roma 8 ayat 29, Paulus menulis bahwa Tuhan telah menentukan mereka yang sekarang ada di dalam Kristus untuk menjadi serupa dengan gambar Kristus.

“Sebab semua orang yang dipilih-Nya dari semula, mereka juga ditentukan-Nya dari semula untuk menjadi serupa dengan gambaran Anak-Nya, supaya Ia, Anak-Nya itu, menjadi yang sulung di antara banyak saudara.” Roma 8:29

Ia membuat pilihan ini dari semula (Roma 8:29) dan sebelum dunia dijadikan (Efesus 1:4). Tujuan Allah bagi hidup kita selalu dan selamanya adalah agar kita menjadi seperti Yesus. Dalam beberapa hal, Allah mengetahui dan memilih mereka yang akan diselamatkan, jauh sebelum kita ada untuk membuat pilihan tersebut. Rincian tentang apa artinya ini, dan bagaimana Allah melakukannya, merupakan bagian dari makalah yang jauh lebih besar. Namun, dalam konteks renungan hari ini, pembahasan secara luas tidaklah penting.

“Sebab di dalam Dia Allah telah memilih kita sebelum dunia dijadikan, supaya kita kudus dan tak bercacat di hadapan-Nya.” Efesus 1:4

Sekarang, dalam Roma 8 ayat 30, Paulus menulis bahwa mereka yang telah ditentukan Allah untuk tujuan ini, Ia juga memanggil mereka. Dinyatakan secara terbalik, Allah memanggil setiap orang yang telah Ia tentukan sebelumnya. Seperti yang Paulus gunakan dalam Roma, “dipanggil” oleh Allah berarti Allah menembus kesadaran kita yang terbatas akan Dia, dan kemudian menarik kita kepada-Nya. Jika kita hanya bergantung pada kemampuan kita sendiri, kita tidak akan bisa mengenal Allah.

Kemudian, Allah membenarkan setiap orang yang Ia panggil. Empat bab pertama Kitab Roma membahas masalah pembenaran Allah. “Dibenarkan” oleh Allah berarti dibenarkan di hadapan-Nya. Kita tidak akan pernah dapat membenarkan diri kita sendiri karena dosa kita, bahkan dengan berusaha menaati hukum, karena kita tidak dapat menaati seluruh hukum Taurat (Roma 3:10, 23). Apa pun yang kita usahakan untuk tampil “cukup naik” di hadapan pengadilan Allah, akan gagal karena kita adalah manusia yang tidak sempurna. Kita hanya dapat dibenarkan melalui iman kepada Kristus (Roma 5:1). Oleh sebab itu, semua ajaran yang menyatakan bahwa kita akan diadili berdasarkan apa yang kita lakukan dalam hidup di dunia adalah tidak benar.

Akhirnya, setiap orang yang dibenarkan Allah, melalui iman kepada Kristus, kemudian dimuliakan-Nya. Paulus menulis kalimat ini dalam bentuk lampau, yang menunjukkan bahwa pemuliaan kita sebenarnya sudah selesai di mata Allah. Akan tetapi, Paulus memulai bagian ini dalam ayat 18-19 dengan mengatakan bahwa seluruh ciptaan sedang menantikan anak-anak Allah untuk dimuliakan. Itu berarti bahwa kita saat ini menantikan hal itu untuk dinyatakan, meskipun harapan kita yang pasti dan yakin adalah bahwa hal itu akan datang pada waktu yang tepat menurut Allah.

Roma 8: 29-30 adalah sebagian ayat yang mendukung konsep predestinasi dan pembenaran umat Tuhan. Banyak orang Kristen yang tidak mengenal atau tidak mau mengenal doktrin predestinasi. Namun, predestinasi adalah doktrin alkitabiah yang dikenal oleh semua aliran Kristen. Memang ada perbedaan dalam pengertannya, tetapi, adalah penting bagi kita untuk memahami apa arti predestinasi secara alkitabiah.

Kata-kata yang diterjemahkan sebagai “ditentukan dari semula” dalam Kitab Suci yang dirujuk di atas berasal dari kata Yunani proorizo, yang mengandung arti “menentukan sebelumnya,” “menetapkan,” “memutuskan sebelumnya.” Jadi, predestinasi adalah Allah yang sebelumnya sudah menentukan hal-hal tertentu untuk terjadi. Apa yang Allah tentukan sebelumnya? Menurut Roma 8:29-30, Allah telah menentukan sebelumnya bahwa individu-individu tertentu akan disesuaikan dengan rupa Anak-Nya, dipanggil, dibenarkan, dan dimuliakan. Predestinasi adalah doktrin Alkitab yang menyatakan bahwa Allah dalam kedaulatan-Nya memilih individu-individu tertentu untuk diselamatkan.

Keberatan yang paling umum terhadap doktrin predestinasi adalah bahwa hal itu tidak adil. Mengapa Allah memilih orang-orang tertentu dan tidak memilih yang lain? Kita harus ingat bahwa tidak seorang pun layak diselamatkan. Kita semua telah berdosa (Roma 3:23) dan semua layak menerima hukuman kekal (Roma 6:23). Akibatnya, jika Allah hanya memakai keadilan-Nya, kita semua sudah sepantasnya untuk ke neraka. Namun, Allah dengan kasih-Nya memilih untuk menyelamatkan sebagian dari umat manusia. Ia tidak berlaku tidak adil kepada mereka yang tidak dipilih, karena mereka menerima apa yang pantas mereka terima. Keputusan Allah untuk bersikap murah hati kepada sebagian orang tidaklah membuat Dia tidak adil bagi sebagian yang lain. Tidak seorang pun layak menerima apa pun dari Allah; oleh karena itu, tidak seorang pun dapat mengajukan protes jika ia tidak menerima apa pun dari Allah.

Lalu, jika Allah memilih siapa yang diselamatkan, bukankah itu menghilangkan kehendak bebas kita untuk memilih dan percaya kepada Kristus? Alkitab mengatakan bahwa kita tetap memiliki pilihan, karena semua orang yang mau percaya kepada Yesus Kristus akan diselamatkan (Yohanes 3:16; Roma 10:9-10). Alkitab tidak pernah menggambarkan Allah menolak siapa pun yang percaya kepada-Nya atau menolak siapa pun yang mencari-Nya (Ulangan 4:29).

Kebenaran tentang pilihan Allah yang berdaulat dan tanggung jawab manusia yang bebas memilih tidaklah merupakan dualisme yang terpisah atau berdiri sendiri. Secara misterius, keputusan Allah bekerja sama dengan seseorang yang ditarik oleh Allah (Yohanes 6:44) dan percaya kepada keselamatan (Roma 1:16). Allah menentukan siapa yang akan diselamatkan, dan kita harus menerima Kristus agar diselamatkan. Kedua fakta tersebut sama-sama benar. Roma 11:33 menyatakan, “O, alangkah dalamnya kekayaan, hikmat dan pengetahuan Allah! Sungguh tak terselidiki keputusan-keputusan-Nya dan sungguh tak terselami jalan-jalan-Nya!”.

Keberatan lain yang dikemukakan oleh banyak orang terhadap predestinasi adalah apa yang terlihat sebagai kekejaman Allah, yang “menetapkan” sebagian orang untuk ke neraka. Ini adalah kesan yang keliru, karena Allah memang memungkinkan sebagian orang untuk mendengarkan panggilan keselamatan-Nya dan percaya, tetapi Ia tidak dengan semena-mena melemparkan orang lain ke neraka. Allah cukup membiarkan mereka untuk hidup dalam kenikmatan dosa dan memilih dosa apa pun yang disenangi mereka, yang kemudian membawa mereka ke dalam kebinasaan. Dengan demikian, pada saat pengadilan terakhir, semua orang yang selamat akan mengamini bahwa mereka hanya bisa selamat karena karunia Tuhan, dan mereka yang tidak selamat tidak akan bisa memungkiri apa pun dosa mereka. Inilah keadilan dan kasih Tuhan yang dinyatakan sepenuhnya untuk kemuliaan-Nya.

Kitab Suci menyingkapkan bahwa akan ada suatu hari di mana Allah akan menghakimi para malaikat dan seluruh umat manusia melalui Anak-Nya, Yesus Kristus. Ketika Kristus datang kembali dalam kemuliaan, Ia akan membangkitkan orang benar dan orang tidak benar. Penghakiman terakhir akan terjadi segera setelah kebangkitan. Hari penghakiman akan menjadi hari keselamatan dan penghakiman. Hari itu secara umum disebut dalam Perjanjian Lama sebagai “hari Tuhan” (Yesaya 13:9; Yehezkiel. 30:3). Orang percaya akan melewati penghakiman dan dibebaskan dari hukuman berdasarkan kematian Yesus yang menebus dosa mereka, dan kebangkitan Kristus yang membawa hidup kekal. Pada pihak yang lain, Allah akan menghukum orang tidak percaya ke dalam kebinasaan kekal, berdasarkan pikiran, perkataan, dan perbuatan mereka sendiri yang berdosa.

Hari ini, jika Anda masih ragu akan keselamatan Anda, Yesus sudah menyatakan dengan sangat jelas bahwa tidak akan ada penghakiman yang menghukum bagi mereka yang bersatu dengan-Nya dengan cara yang menyelamatkan:

“Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya barangsiapa mendengar perkataan-Ku dan percaya kepada Dia yang mengutus Aku, ia mempunyai hidup yang kekal dan tidak turut dihukum, sebab ia sudah pindah dari dalam maut ke dalam hidup.” Yohanes 5:24

Yesus membuat pernyataan ini dalam konteks pekerjaan yang akan Dia selesaikan di kayu salib. Yesus menanggung penghakiman Allah atas umat-Nya ketika Dia tergantung di kayu salib. Pengorbanan Yesus memenuhi keadilan ilahi dan meredakan murka Allah bagi orang-orang pilihan.

Meskipun tidak ada penghakiman yang menghukum bagi orang percaya karena persatuan mereka dengan Kristus, akan ada perhitungan atas perbuatan yang dilakukan oleh orang percaya, yang menghasilkan pembagian pahala sesuai dengan kerja keras mereka yang setia. Pahala-pahala ini harus dipertimbangkan sebagai tambahan atas kehidupan kekal yang telah mereka terima melalui iman kepada Kristus saja. Dengan kata lain, umat percaya menerima keselamatan hanya melalui iman kepada Kristus dan dilayakkan untuk memperoleh hidup kekal, tetapi Allah memberikan pahala tambahan yang berbeda-beda bagi setiap orang, tergantung pada ketaatan masing-masing individu. Hari dan saat penghakiman ini tidak diketahui oleh umat manusia dengan tujuan yang jelas untuk mendorong kita semua agar selalu berjaga-jaga dan berdoa (Matius 24:36).