Apakah Tuhan ingin kita bahagia?

“Memang tiap-tiap ganjaran pada waktu ia diberikan tidak mendatangkan sukacita, tetapi dukacita. Tetapi kemudian ia menghasilkan buah kebenaran yang memberikan damai kepada mereka yang dilatih olehnya.” Ibrani 12: 11

Ibrani 11 menjelaskan kemenangan beberapa pahlawan iman terbesar dalam Perjanjian Lama. Bab ini juga menjelaskan penderitaan dan penganiayaan mereka. Bab ini menggunakan contoh-contoh tersebut sebagai ”awan saksi” untuk membuktikan bahwa Tuhan tidak meninggalkan kita saat kita menderita. Dalam banyak kasus, Dia menggunakan pengalaman-pengalaman tersebut untuk ”melatih” kita, seolah-olah kita adalah atlet, untuk membuat kita lebih kuat. Dalam kasus lain, itu adalah jenis disiplin yang sama yang diterima seorang anak dari seorang ayah yang penuh kasih. Tidak seperti Perjanjian Lama, yang dengan tepat mengilhami rasa takut dan gentar, perjanjian baru menawarkan kita kedamaian. Seperti halnya masalah kebenaran atau kepalsuan lainnya, kita harus berpegang teguh pada apa yang benar, sehingga kita dapat menjadi bagian dari ”kerajaan yang tidak dapat digoyahkan.”

Ibrani 12:3–17 dibangun dari deskripsi para pahlawan iman di atas, yang berpuncak pada Yesus Kristus. Mereka yang datang sebelumnya dikasihi oleh Allah dan dihormati oleh Allah, namun mereka menderita kesulitan di dunia ini. Dalam bagian ini, penulis menjelaskan bahwa penderitaan sering kali merupakan cara Allah membangun dan melatih kita, bukan selalu merupakan tanda ketidaksenangan-Nya. Orang Kristen yang menanggapi pencobaan dengan mencari Tuhan, dalam iman, dapat terhindar dari nasib orang-orang yang kurang setia, seperti Esau.

Lalu apa arti Ibrani 12:11? Dalam ayat ini, penulis Ibrani menunjukkan bahwa sekadar mengalami sesuatu yang tidak menyenangkan tidak berarti kita sedang dihukum oleh Tuhan, atau telah ditinggalkan oleh-Nya. Ada kalanya Tuhan menggunakan pergumulan dan kesulitan untuk mengoreksi kita agar menjauh dari dosa (Ibrani 6:7–8). Dan, ada kalanya kita hanya diberi kesempatan untuk bertumbuh—dilatih untuk memiliki iman yang lebih dalam. Hal ini terlihat jelas dalam hubungan antara orang tua dan anak, di mana orang tua yang penuh kasih “mendisiplinkan” anaknya. Selang waktu, ketika menoleh ke belakang, anak tersebut menyadari makna dan guna dari bimbingan itu dan karena itu menghormati orang tuanya.

Di sini, penulis Ibrani juga menunjukkan bahwa tidak seorang pun suka didisiplinkan. Saat berada di tengah-tengah suatu pergumulan, pikiran kita sebagian besar tertuju pada betapa tidak menyenangkannya situasi tersebut. Namun, setelah itu, kita dapat lebih mudah melihat bagaimana Tuhan menggunakan pengalaman-pengalaman itu untuk menumbuhkan iman kita. Kita dapat melihat adanya proses kedewasaan dan pengudusan, yang didorong oleh disiplin kita.

Itulah sebabnya penulis Kitab Ibrani merujuk pada gagasan tentang “dilatih,” dari kata Yunani gegymnasmenois, yang secara harfiah berarti “latihan yang berat.” Penggunaan disiplin oleh Allah, meskipun tidak menyenangkan pada saat itu, sangat mirip dengan pelatihan seorang atlet. Latihan atlet “tampaknya menyakitkan daripada menyenangkan” saat dilakukan. Namun, setelah itu, atlet melihat pertumbuhan dan perkembangan sebagai hasil dari pengalaman tersebut. Iman, dengan cara itu, juga bertumbuh saat kita menanggung disiplin Allah, membantu kita menghasilkan “buah kebenaran.”

Jika Tuhan bermaksud baik dalam melatih kita dalam hidup, itu tidak mudah dimengerti. Pernahkah Anda bertanya kepada diri sendiri, berdasarkan Firman Tuhan, apakah Tuhan sebenarnya ingin kita bahagia dalam hidup di dunia? Apakah Dia peduli tentang itu? Apakah hal-hal kecil dalam hidup kita penting bagi-Nya, atau apakah Dia lebih peduli untuk membawa kita ke surga?

Di seluruh dunia, dalam setiap budaya, orang mencari kebahagiaan. Orang mencari ke berbagai tempat untuk membantu mereka menutupi, atau menghilangkan rasa sakit dalam hidup ini. Saya mendengar banyak orang Kristen yang bermaksud baik berkata, “Tuhan tidak ingin Anda bahagia. Dia ingin Anda menjadi kudus.” Jawaban ini terdengar alkitabiah dan intens, jadi pasti benar, bukan? Bukankah Tuhan lebih peduli dengan kita yang menaati semua aturan-Nya, daripada tersenyum sepanjang hidup?

Apakah Tuhan ingin kita bahagia? Ya, Tuhan ingin kita bahagia – selalu dan pada akhirnya dan selamanya. Tetapi, bukankah Tuhan ingin kita menjadi kudus? Ya, tentu saja, selalu dan pada akhirnya dan selamanya. Kedua hal ini sebenarnya saling terkait. Tuhan ingin kita menjadi kudus, karena Ia ingin kita bahagia lebih dari sekadar sesaat. Tuhan menciptakan kita, Ia tahu bagaimana kita diciptakan untuk hidup dan apa yang akan memberi makna pada hidup kita. Yang terpenting, Tuhan tahu bahwa semakin dekat kita dengan-Nya, semakin bahagia dan puas kita nantinya. Jadi, Ia dengan penuh kasih memanggil kita untuk taat dan mendekat kepada-Nya.

Seperti orang tua yang memberi tahu anaknya, jangan berlari di depan mobil itu, atau jangan minum air kotor itu, atau menjauhlah dari tepi jurang itu, Tuhan memperingatkan dan menegur kita untuk melindungi dan merawat kita. Ibrani 12:5-7 menjelaskan lebih lanjut agar kita tidak melupakan bahwa Tuhan berbicara kepada kamu seperti kepada anak-anak: “Hai anakku, janganlah anggap enteng didikan Tuhan, dan janganlah putus asa apabila engkau diperingatkan-Nya; karena Tuhan menghajar orang yang dikasihi-Nya, dan Ia menyesah orang yang diakui-Nya sebagai anak. Jika kamu harus menanggung ganjaran; Allah memperlakukan kamu seperti anak. Di manakah terdapat anak yang tidak dihajar oleh ayahnya?”

Saat ini, jika kita mengalami masalah yang bukan akibat dosa kita, Allah mungkin sedang mendidik kita; karena itu janganlah kita putus asa. Ia memperlakukan kita seperti anak-anak-Nya yang terkasih. Masalah yang kita alami dalam hidup tidak selalu merupakan bagian hukuman Tuhan kepada keturunan Adam dan Hawa; melainkan bisa menjadi pelatihan, pengalaman normal anak-anak Tuhan di dunia. Hanya orang tua yang tidak bertanggung jawab yang membiarkan anak-anak berjuang sendiri.

Kita menghormati orang tua kita sendiri karena telah mendidik dan tidak memanjakan kita, jadi mengapa tidak menerima pelatihan Tuhan agar kita dapat benar-benar hidup? Ketika kita masih anak-anak, orang tua kita melakukan apa yang menurut mereka terbaik. Tetapi Tuhan melakukan apa yang terbaik bagi kita, melatih kita untuk menjalani kehidupan yang terbaik dari Tuhan. Pada saat itu, disiplin tidaklah menyenangkan dan terasa tidak enak. Tetapi,, hal itu akan membuahkan hasil yang besar, karena orang-orang yang terlatih dengan baiklah yang akan menemukan diri mereka dewasa dalam hubungan mereka dengan Tuhan.

Jadi, apakah Tuhan ingin kita bahagia? Tentu saja. Dia memberi kita segalanya melalui Putra-Nya. Dia peduli dengan detail kehidupan kita. Seperti orang tua yang baik, Tuhan peduli pada kita dan ingin kita menjalani kehidupan yang bahagia, terpenuhi, dan sangat bermakna di bumi ini, serta bersama-Nya selamanya dalam sukacita kekal dari hadirat dan kemuliaan-Nya. Walaupun demikian, ada kalanya Tuhan, dalam hikmat dan perlindungan-Nya yang tak terbatas, meminta kita untuk melepaskan keinginan kita untuk mendapat kebahagiaan sementara yang ada di dunia ini agar kita dapat mengejar sukacita yang jauh lebih besar, lebih dalam, dan abadi. Tuhan ingin kita bahagia lebih dari sekadar sesaat!

“TUHAN menetapkan langkah-langkah orang yang hidupnya berkenan kepada-Nya; apabila ia jatuh, tidaklah sampai tergeletak, sebab TUHAN menopang tangannya.” Mazmur 37:23-24

Bersyukurlah sekalipun hidup ini berat

“Bersukacitalah senantiasa. Tetaplah berdoa. Mengucap syukurlah dalam segala hal, sebab itulah yang dikehendaki Allah di dalam Kristus Yesus bagi kamu.” 1 Tesalonika 5: 16-18

Pernahkah Anda menggunakan AI (Artificial Intellegence) atau Kecerdasan Buatan dalam pekerjaan Anda? Kecerdasan buatan adalah teknologi yang memiliki kemampuan pemecahan masalah layaknya seperti manusia. AI dalam tindakannya tampak seperti meniru kecerdasan manusia—teknologi ini dapat mengenali gambar, menulis puisi, dan membuat prediksi berbasis data yang ada sekalipun dalam batas-batas tertentu.

Saya baru-baru ini mencoba kemampuan AI untuk menjawab pertanyaan penting: Apa yang harus kita lakukan untuk hidup bahagia? Di luar dugaan saya, AI memberi beberapa cara yang nampaknya masuk akal untuk tetap optimis selama masa-masa sulit:

  • Berlatihlah bersyukur: Mengekspresikan rasa syukur secara teratur dapat membantu Anda menjadi lebih optimis dan tangguh.
  • Tantang pikiran negatif: Daripada terus-menerus memikirkan hal-hal negatif, cobalah untuk mengubahnya menjadi pikiran positif.
  • Fokus pada hal-hal positif: Carilah hal-hal baik dalam berbagai hal, rayakan pencapaian Anda, dan ubahlah pikiran negatif.
  • Luangkan waktu dengan orang-orang yang positif: Orang-orang yang positif dapat membantu Anda melihat sisi positif kehidupan dan menginspirasi Anda untuk mencapai tujuan Anda.
  • Berlatihlah untuk tetap sadar: Kesadaran melibatkan pemusatan perhatian pada saat ini tanpa mencari kesalahan. Ini dapat membantu Anda menghadapi kejadian yang tidak menyenangkan dan berdamai dengannya.
  • Tetapkan tujuan-tujuan kecil: Tetapkan tujuan-tujuan kecil yang dapat dicapai untuk membantu Anda tetap termotivasi.
  • Lakukan perawatan diri: Pastikan untuk merawat diri sendiri secara teratur.
  • Pertahankan omunikasi: Tetap terhubung dengan orang-orang terkasih dan carilah dukungan.

Yang membuat saya heran ialah bahwa AI menempatkan “berlatih bersyukur” pada urutan pertama. Itu berarti tindakan “bersyukur” adalah sangat penting. Tetapi, saya rasa ini tidak akan bisa dilaksanakan oleh semua orang. Bagaimana orang bisa bersyukur dalam keadaan sulit dan kepada siapa mereka harus bersyukur? Ini tidak dijelaskan. Tidak semua orang mengenal Tuhan yang sudah menyertai setiap orang dalam keadaan apa pun.

Karena dengan demikianlah kamu menjadi anak-anak Bapamu yang di sorga, yang menerbitkan matahari bagi orang yang jahat dan orang yang baik dan menurunkan hujan bagi orang yang benar dan orang yang tidak benar.” Matius 5:45

Hanya orang percaya yang tahu bahwa Tuhan sudah memberkati semua manusia, baik yang mengenal Dia atau yang tidak mengenal-Nya. Dalam hal ini, hanya orang Kristen yang tahu bahwa karunia terbesar yang sudah diterimanya adalah keselamatan kekal. Pada pihak lain, banyak orang Kristen yang lupa untuk bersyukur kepada-Nya pada setiap waktu dan dalam keadaan apa pun.

Ayat-ayat 1 Tesalonika 5:12-22 memberikan serangkaian nasihat kepada jemaat di Tesalonika. Sebagai anak-anak zaman itu, yang menantikan kedatangan Tuhan kembali, mereka perlu hidup benar. Sebagai jemaat, mereka perlu berhubungan baik dengan para pemimpin mereka. Paulus meminta mereka untuk memperlakukan semua rekan seiman mereka dengan baik dan sabar serta berbuat baik satu sama lain. Paulus menasihati jemaat untuk selalu bersukacita dan terus berdoa. Ucapan syukur yang terus-menerus harus menandai kehidupan mereka. Lebih jauh, Paulus memberi tahu para pembacanya untuk tidak memadamkan Roh Kudus atau bersikap negatif terhadap pelayanan gereja yang ada. Sebaliknya, mereka diharapkan untuk tetap berpegang teguh pada ajaran-ajaran yang telah mereka uji dan temukan kebenarannya. Terakhir, Paulus mengarahkan para pembacanya untuk menghindari segala jenis kejahatan.

Menurut 1 Tesalonika 5:16, orang Kristen harus bersukacita setiap saat. Mempraktikkan karunia pengampunan Tuhan tanpa syarat memungkinkan kita untuk menaati perintah untuk “bersukacita senantiasa.” Pikiran yang pahit dan tidak mau mengampuni menghalangi sukacita sebagaimana halnya balok kayu menghalangi aliran sungai. Kitab Suci mengakui bahwa keadaan hidup kita dan perlakuan orang lain kepada kita mungkin tidak selalu menghasilkan “kebahagiaan,” tetapi kebahagiaan tidak sama dengan sukacita. Sukacita, dalam Alkitab, melibatkan harapan yang penuh kepercayaan kepada Kristus, yang menuntun kepada hidup kekal (Yakobus 1:2-3; Ibrani 12:2).

Paulus mempraktikkan apa yang ia khotbahkan. Ketika ia menulis kepada jemaat Filipi dari penjara, ia tidak hidup dalam keadaannya, sebaliknya ia bangkit mengatasinya. Meskipun ia dibelenggu, ia bersukacita di dalam Tuhan (Filipi 1:17-18; 4:10). Sukacita Paulus mengalahkan pencobaannya. Meskipun mengalami perlakuan buruk, sering kali berhadapan dengan kematian, kesedihan, dan kemiskinan, ia selalu bersukacita (2 Korintus 6:8-10). Dengan demikian, sekalipun keadaan jemaat Tesalonika sulit, mereka juga dapat bersukacita “di dalam Tuhan.”

Yesus menghubungkan sukacita dengan ketaatan. Ia berkata,

“Jikalau kamu menuruti perintah-Ku, kamu akan tinggal di dalam kasih-Ku, seperti Aku menuruti perintah Bapa-Ku dan tinggal di dalam kasih-Nya. Semuanya itu Kukatakan kepadamu, supaya sukacita-Ku ada di dalam kamu dan sukacitamu menjadi penuh.” Yohanes 15:10-11

Dalam ayat 17 Paulus mendorong jemaat di Tesalonika untuk berdoa terus-menerus. Tentu saja, ini tidak berarti berdoa setiap saat. KIta tetap harus mengerjakan apa yang perlu dalam hidup kita. Sebaliknya, kita harus rajin berdoa, dan sering berbicara kepada Tuhan dalam doa yang sungguh-sungguh dan penuh dedikasi. Bahkan di tengah-tengah pencobaan, orang percaya harus menyadari nilai yang tak terukur dari memelihara persekutuan dengan Tuhan melalui doa yang sering.

Yesus adalah contoh terbaik tentang apa artinya berdoa terus-menerus. Ia mengajar murid-murid-Nya untuk berdoa (Matius 6:5–13). Ia berdoa sebelum memberi makan lima ribu orang (Matius 14:19–21). Ia berdoa ketika Ia memberkati anak-anak (Matius 19:13). Ia berdoa di pagi hari (Markus 1:35) dan di malam hari (Markus 6:45–47). Ia berdoa untuk murid-murid-Nya dan untuk semua orang percaya berikutnya (Yohanes 17). Ia berdoa di Taman Getsemani (Matius 26:36-42). Ia berdoa dari kayu salib (Lukas 23:34).

Rasul Paulus juga berdoa terus-menerus. Ia berdoa dari penjara pada tengah malam (Kisah Para Rasul 16:25). Ia berdoa setelah memberikan perintah kepada para penatua gereja di Efesus (Kisah Para Rasul 20:36). Ia berdoa di Malta (Kisah Para Rasul 28:8). Ia berdoa untuk Israel (Roma 10:1). Ia berdoa untuk gereja-gereja (Roma 1:9; Efesus 1:16; Filipi 1:4; Kolose 1:3-12).

Pagi ini kita belajar dari Paulus bahwa sukacita tidak datang secara otomatis dari Tuhan. Sukacita dan dukacita bukanlah takdir. Untuk bersukcita kita harus mempunyai kesadaran dan kemauan. Kita harus sadar bahwa Tuhan sudah mengasihi kita dari awalnya dan mau untuk rajin berdoa serta bersyukur kepada Dia yang merupakan sumber kekuatan kita.

Dari hati timbullah berbagai dosa

“Tetapi apa yang keluar dari mulut berasal dari hati dan itulah yang menajiskan orang. Karena dari hati timbul segala pikiran jahat, pembunuhan, perzinahan, percabulan, pencurian, sumpah palsu dan hujat.” Matius 15:18-19

Pada waktu itu, orang-orang Farisi dan ahli Taurat datang dari Yerusalem untuk menantang Yesus. Mereka tersinggung karena para murid-Nya melanggar tradisi para pemimpin agama tentang mencuci tangan sebelum makan. Yesus membalikkan serangan itu, dengan menunjukkan bahwa para pengkritik-Nya menghormati tradisi di atas perintah-perintah Allah yang sebenarnya! Ia menegaskan bahwa tidak seorang pun menjadi najis oleh apa yang masuk ke dalam mulut—oleh hal-hal yang harfiah itu sendiri—tetapi oleh luapan isi hati, seperti perkataan yang keluar dari mulut. Dosa bahkan sudah terjadi sebelum ada perkataan yang jahat keluar dari mulut.

Apa saja yang bisa menajiskan kita secara rohani? Segala macam dosa: perbuatan, perkataan, dan pikiran yang jahat, yang semuanya berasal dari hati yang kotor. Dalam Matius 15, Yesus tidak mengharuskan murid-murid-Nya untuk melakukan ritual mencuci tangan seperti yang dilakukan orang Farisi sebelum makan. Orang Farisi memang telah mengangkat tradisi ini ke tingkat “doktrin”. Mereka menganggap perlu untuk menghindari memasukkan setitik makanan yang dinyatakan “najis” oleh Hukum Taurat ke dalam mulut seseorang (Matius 15:1–2).

Matius 15:10–20 menggambarkan jawaban Yesus yang diperluas terhadap tantangan dari orang Farisi. Kekhawatiran mereka bukanlah tentang mencuci tangan demi kesehatan, tetapi untuk mengikuti ritual keagamaan. Ia berkata orang-orang Farisi ini adalah penuntun kerohanian yang buta. Yesus memberi tahu para murid bahwa bukan apa yang masuk ke mulut seseorang yang menajiskannya; melainkan perkataan yang keluar yang menyingkapkan dosa rohani dalam hatinya. Kekotoran itu sudah ada di sana, termasuk segala macam dosa. Ia memberi tahu mereka dengan tegas bahwa makan dengan tangan yang tidak dicuci tidak menajiskan siapa pun secara rohani. Orang tidak dapat mencuci kekotoran rohani mereka dengan mencuci kaki atau tangan.

Ketika Kristus menepis gagasan ini, Ia dengan tegas menyatakan bahwa tidak ada yang masuk ke mulut seseorang yang menajiskan (Matius 15:10–11). Zat dalam makanan hanya bergerak melalui tubuh dan kemudian dikeluarkan. Itu adalah proses fisik tanpa kemampuan untuk mengkontaminasi jiwa manusia dan membuatnya berdosa. Bahkan makanan yang dilarang bagi orang Israel hanyalah makanan—makanan itu sendiri tidak berisi berdosa. Sebagai orang Yahudi menurut garis keturunan Maria, Yesus tidak pernah melanggar pantangan makanan tersebut (Matius 5:17–19), tetapi Ia juga tidak mengajarkan orang untuk melakukannya.

Sebaliknya, dosa dan kenajisan sudah hidup dalam jiwa manusia dari awalnya. Kekotoran itu bisa terungkap dari hati melalui kata-kata yang diucapkan seseorang. Kata-kata menunjukkan apa yang ada di dalam hati seseorang. Ketika kita mengatakan sesuatu yang kotor atau jahat, kita menyingkapkan fakta bahwa kita sudah tercemar. Apa yang memenuhi hati meluap dan keluar melalui kata-kata seseorang. Jika seseorang berbicara cukup lama, ia akhirnya akan menunjukkan apa yang ada di dalam hatinya. Hati yang tercemar selalu mengluarkan kata-kata yang jahat, tidak sopan dan tidak benar.

Lebih lanjut, Yesus memberikan daftar contoh-contoh pencemaran yang ada di dalam hati manusia. Daftar ini tidak dimaksudkan untuk menjadi daftar yang lengkap; ada lebih banyak dosa daripada hanya ini. Daftar tersebut mencakup pikiran-pikiran jahat, pembunuhan, dan perzinahan. Yesus merujuk pada amoralitas seksual dalam bentuk apa pun dengan menggunakan istilah Yunani porneia. Ia juga merujuk pada pencurian, berbohong tentang tindakan orang lain, dan fitnah. Inilah yang hidup di dalam hati manusia dan diungkapkan melalui apa yang kita keluarkan dari hati kita.

Dalam kehidupan kita sehari-hari, kita tahu hal ini benar. Hatilah yang menbuat “dosa kecil” menjadi “dosa besar”. Misalnya, mengucapkan kata-kata kotor kepada seseorang, atau menyimpan kebencian dalam hati terhadap orang lain adalah dosa yang serius (Yakobus 3:8-10). Namun, membenci seseorang sedemikian rupa sehingga seseorang merencanakan dan melaksanakan pembunuhan adalah “lebih besar” dalam hal niat, akibat, dan hukumannya. Atau berpikir untuk berbohong. Berbohong kepada seseorang itu salah. Namun, berbohong sebagai pejabat pemerintah atau pengurus gereja dan bertindak curang dalam hal pendanaan dapat mengakibatkan berbagai masalah.

Bagaimana pula dengan dosa seksual? Segala aktivitas seksual di luar perjanjian pernikahan antara seorang pria dan seorang wanita adalah dosa. Namun, kita memandang dosa seksual yang merupakan distorsi terhadap tatanan ciptaan Tuhan, baik homoseksualitas, maupun keinginan seksual terhadap anak-anak (pedofilia) dan hubungan dengan binatang (bestialitas) merupakan hal yang lebih serius dalam hal konsekuensi dan dampaknya terhadap orang-orang yang terlibat dan juga masyarakat umum. Ini berarti bahwa orang Kristen yang mendukung atau mengabaikan bahaya dosa-dosa seperti itu sudah melakukan dosa yang besar karena potensinya untuk mempengaruhi pandangan dan cara hidup orang lain. Apalgi, di zaman ini, ada kecenderungan di beberapa negara bahwa pikiran erotis terhadap anak-anak dan hewan untuk dianggap normal selama itu tidak diwujudkan dalam perbuatan yang merugikan orang lain.

Pagi ini, Alkitab menegaskan apa yang kita ketahui sebagai kebenaran dalam pengalaman kita sehari-hari. Karena kita diciptakan sebagai pembawa gambar dan kasih karunia Allah, kita tidak dapat menghilangkan kebenaran Allah dari kehidupan, hati nurani, dan diri kita sendiri. Marilah kita berusaha untuk hidup di dalam terang kebenaran Tuhan setiap hari!

Karena bersyukur kita rela berkorban

“Karena itu, saudara-saudara, demi kemurahan Allah aku menasihatkan kamu, supaya kamu mempersembahkan tubuhmu sebagai persembahan yang hidup, yang kudus dan yang berkenan kepada Allah: itu adalah ibadahmu yang sejati. Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaharuan budimu, sehingga kamu dapat membedakan manakah kehendak Allah: apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna.” Roma 12:1-2

Roma 12:1–2 menjawab pertanyaan, ”Bagaimana kita harus menanggapi kemurahan hati Allah yang besar kepada kita?” Jawabannya adalah menjadi korban yang hidup dan bernapas, menggunakan hidup kita dalam pelayanan kepada Allah sebagai tindakan penyembahan yang berkelanjutan. Itulah yang masuk akal. Ini bukanlah cara untuk memperoleh keselamatan, tetapi tanggapan alami yang seharusnya kita miliki untuk diselamatkan. Untuk melakukan ini, kita perlu melepaskan diri dari pola dunia yang mementingkan diri sendiri dan mengubah pikiran kita agar mampu memahami apa yang Allah inginkan. Melalui ayat-ayat ini, kita akan tahu bagaimana cara hidup sebagai orang Kristen sejati.

Dalam Roma 12, Paulus menggambarkan penyembahan kepada Allah kita sebagai korban yang hidup bagi Allah kita. Kita berhenti mencari apa yang kita inginkan dari kehidupan duniawi dan belajar untuk mengetahui dan melayani apa yang Allah inginkan. Itu dimulai dengan menggunakan karunia rohani kita untuk melayani satu sama lain di gereja. Daftar perintah Paulus menggambarkan gaya hidup yang berbeda dengan gaya hidup orang lain. Sudah tentu kita harus berusaha mencukupi kebutuhan kita sendiri, tetapi lebih dari itu tujuan kita sebagai orang Kristen adalah untuk saling mengasihi dan saling menolong. Kita harus memfokuskan harapan kita pada kekekalan dan menunggu dengan kesabaran dan doa, agar Bapa kita menyediakan itu untuk kita pada waktunya. Kita harus menolak untuk terjerumus ke dalam kejahatan, memberikan kebaikan kepada mereka yang menyakiti kita dan bukannya membalas dendam.

Paulus memulai permohonan kepada saudara-saudari rohaninya: saudara-saudarinya di dalam Kristus. Meskipun ia adalah rasul yang diutus oleh Yesus sendiri untuk membawa Injil ke seluruh dunia, Paulus juga “salah seorang dari kita.” Ia adalah manusia berdosa yang diselamatkan oleh kasih karunia Allah melalui iman kepada Yesus. Ia memanggil Allah Bapa, seperti kita, menjadikan-Nya saudara kita. Ia menyampaikan perintah Tuhan yang juga berlaku untuk dirinya sendiri.

Paulus mendesak kita untuk menyadari bahwa Allah telah menunjukkan belas kasihan yang sangat besar kepada kita, yang dijelaskan secara rinci sebelumnya dalam surat ini. Himne pujian dalam empat ayat sebelumnya (Roma 11:33-36) memperjelas bahwa Allah tidak berutang apa pun kepada kita. Namun, bukannya menghukum kita yang berdosa dengan kematian, Ia justru memberi kita hidup dan tujuan hidup di dalam Kristus. Ia telah mengampuni dosa-dosa kita dan berbagi dengan kita kekayaan dan kemuliaan-Nya. Kita tidak pantas mendapatkan semua itu. Bagaimana kita harus menanggapinya?

Paulus menulis bahwa sebagaimana orang Yahudi mempersembahkan hewan yang disembelih sebagai kurban kepada Tuhan, orang Kristen seharusnya rela mempersembahkan diri kita, tubuh kita, kepada-Nya sebagai kurban yang hidup. Dengan kata lain, satu-satunya tanggapan yang rasional terhadap kemurahan hati Tuhan dalam memberi kita hidup kekal adalah dengan rela memberikan hidup kita kepada-Nya sebagai kurban untuk digunakan bagi tujuan-Nya saat ini.

Kurban hewan di bawah sistem kurban perjanjian lama harus dipisahkan dari kawanannya untuk tujuan itu dan dipilih dengan hati-hati untuk memastikan bahwa kurban tersebut dapat diterima—tidak cacat dan tidak terluka. Sebagai kurban yang hidup, Tuhan telah memisahkan kita untuk tujuan-Nya dan menyatakan kita dapat diterima karena Dia melihat kita dalam posisi kita di dalam Kristus. Dengan kata lain, kita tidak perlu menunggu menjadi orang yang sempurna sebelum kita mempersembahkan tubuh dan hidup kita kepada Tuhan. Sebagai orang-orang di dalam Kristus, Dia akan menerima kurban kehidupan kita sehari-hari saat ini.

Maka, kehidupan dalam penyembahan ini adalah tanggapan yang tepat terhadap kemurahan hati yang telah Tuhan berikan kepada kita. Paulus mendesak orang Kristen untuk sekarang juga menanggapi belas kasihan Allah, pengampunan-Nya atas dosa kita, dan penyertaan-Nya atas kita dalam keluarga-Nya. Reaksi yang tepat adalah mempersembahkan seluruh hidup kita kepada-Nya, hari demi hari, sebagai bentuk rasa syukur dengan pengorbanan yang hidup dan bernapas.

Selanjutnya, Paulus menulis bahwa kita tidak boleh lagi mengikuti dunia. Kata “dunia” sering digunakan dalam Perjanjian Baru untuk merujuk pada “sistem dunia,” atau cara setiap manusia hidup secara duniawi. Yohanes menggambarkan cara hidup duniawi ini sebagai “keinginan daging dan keinginan mata serta keangkuhan hidup” (1 Yohanes 2:16). Secara naluri, kita semua mengejar hal-hal itu untuk mengejar kebahagiaan dan makna.

“Sebab semua yang ada di dalam dunia, yaitu keinginan daging dan keinginan mata serta keangkuhan hidup, bukanlah berasal dari Bapa, melainkan dari dunia.” 1 Yohanes 2:16

Paulus memberi tahu kita untuk rela meninggalkan pengejaran kesenangan, harta benda, dan status—untuk berhenti hidup seperti orang yang belum percaya. Sebaliknya, ia mendesak kita untuk diubahkan dari dalam ke luar. Secara khusus, ia menulis bahwa kita harus diubah dalam cara kita berpikir, untuk memperbarui pikiran kita karena adanya rasa syukur yang luar biasa, sehingga kita dapat mulai memahami kehendak Allah bagi hidup kita dan menyatakannya dalam segala perbuatan kita.

Hari ini, Tuhan mungkin terus memberi kita kesenangan, harta benda, dan status dalam berbagai bentuk, tetapi Ia mendesak kita untuk belajar cara memandang hidup baru kita di dalam Kristus dengan pertanyaan baru: Apa yang Tuhan inginkan untukku dengan semua yang ada? Apa yang benar-benar baik, dapat diterima, dan sempurna dalam hidupku untuk tujuan-Nya dan bukan hanya untuk tujuanku sendiri?

“Sebab itu marilah kita, oleh Dia, senantiasa mempersembahkan korban syukur kepada Allah, yaitu ucapan bibir yang memuliakan nama-Nya. Dan janganlah kamu lupa berbuat baik dan memberi bantuan, sebab korban-korban yang demikianlah yang berkenan kepada Allah.” Ibrani 13: 15-16

Sikap antinomianisme dari kaum Hiper-Calvinis

Hiper-Calvinisme adalah pembunuh. Saya tidak mengatakan ini untuk bersikap dramatis, tetapi sekadar bersikap realistis tentang teologi yang akan menguras habis kehidupan gereja lokal. Dalam tulisan terakhir saya, saya mulai mengupas “dampak mematikan” Hiper-Calvinisme sebagai peringatan yang bermanfaat bagi saudara-saudara Calvinis saya untuk menjauh sejauh mungkin dari jalan licin yang halus ini.

Secara khusus, saya telah berusaha menggarisbawahi lima cara di mana Hiper-Calvinisme akan mengeraskan gereja, dan karenanya menekan kuasa pemberi hidup, belas kasihan, dan pengudusan Injil. Tiga dampak mematikan pertama dalam Hiper-Calvinisme ini menjadi fokus pertimbangan terakhir kita. Pertama-tama, kita melihat bagaimana prevalensi Hiper-Calvinisme akan mematikan pemberitaan Injil kepada orang-orang yang terhilang. Sementara kaum Hyper-Calvinis dengan tepat menerima kedaulatan Allah dalam keselamatan, namun ia secara keliru menyimpulkan dari kebenaran ini (berdasarkan akal budi manusia dan bukan Kitab Suci ilahi) bahwa memanggil orang berdosa untuk bertobat dan percaya kepada Kristus mengingkari kehendak Allah yang berdaulat untuk menyelamatkan. Dengan demikian, mandat Alkitab untuk memberitakan Injil kepada semua bangsa (Lukas 24:47) diingkari, diabaikan, atau ditafsirkan ulang untuk mengartikan sesuatu selain menginjili orang berdosa.

Selain itu, kaum Hyper-Calvinis juga akan mematikan doa. Karena Allah telah menetapkan segala sesuatu yang akan terjadi, kaum Hyper-Calvinis beralasan bahwa doa tidak ada gunanya, karena doa tidak akan mengubah apa yang telah Allah kehendaki. Oleh karena itu, kaum Hyper-Calvinis benar-benar menjadi seorang fatalis karena ia mengingkari kebenaran bahwa Allah menetapkan doa sebagai sarana untuk mencapai tujuan ilahi-Nya (misalnya, Filipi 1:19-20). Akhirnya, kaum Hyper-Calvinisme akan mematikan semangat bersyukur dalam pemeliharaan Allah. Karena kaum Hyper-Calvinis telah memutuskan bahwa “apa pun yang akan terjadi, akan terjadi” – maka ia tidak dapat “mengucap syukur dalam segala hal” (1 Tesalonika 5:18), karena ia tidak dapat melihat bagaimana Allah secara pribadi, dengan bijaksana, dan penuh kasih mengerjakan segala sesuatu untuk kebaikan orang percaya (Roma 8:28). Oleh karena itu tidak ada sukacita dan rasa syukur dalam pemeliharaan Allah, tetapi hanya ketabahan yang muram untuk sekadar menanggung apa pun yang telah Allah kehendaki.

Namun ini bukanlah satu-satunya “dampak mematikan” dari Hyper-Calvinisme. Ada dua cara mematikan lainnya di mana Hyper-Calvinisme bekerja melawan kehidupan rohani sebuah gereja. Pertama, Hyper-Calvinisme akan membunuh kewaspadaan harian. Memuliakan kebenaran kedaulatan Allah atas segala sesuatu adalah benar dan sehat untuk menumbuhkan kehidupan Kristen yang kuat (lihat Amsal 16:1,9; Roma 8:28-31; 11:33-36). Akan tetapi, bagi kaum Hyper-Calvinis, kedaulatan Allah adalah segalanya. Ia makan, minum, dan tidur adalah kedaulatan ilahi. Jadi, ketika Kitab Suci memanggilnya untuk “berjaga-jaga” (1 Petrus 5:8), memperhatikan bagaimana ia harus hidup agar ia tidak jatuh ke dalam pencobaan (Matius 26:41; bdk. 1 Korintus 10:12) – ia mengabaikan peringatan-peringatan tersebut sebagai sesuatu yang harus dianggap enteng, karena Allah berdaulat. Dengan kata lain, kedaulatan Allah bagi kaum Hyper-Calvinis membatalkan mandat Alkitab yang menekankan tanggung jawab pribadi pada orang Kristen untuk berhati-hati dalam cara hidupnya.

Akibatnya, kaum Hyper-Calvinis menjadi seorang antinomian. Karena itu, ia menggunakan kebenaran kedaulatan Allah untuk membenarkan perilakunya yang berdosa. Ia bernalar dalam hati: “Baiklah, saya tidak akan melakukan dosa ini jika bukan kehendak kedaulatan Allah.” Namun, penalaran semacam ini adalah kegilaan dan penghujatan. Ia berusaha menjadikan Allah sebagai sumber dosa, sementara menolak kebenaran Alkitab tentang tanggung jawab moral manusia atas tindakannya sendiri (Yakobus 1:13-15). Hasil dari pemikiran semacam ini di gereja akan menjadi jemaat yang keras kepala, orang-orang berdosa yang sombong, yang sebagian besar perlu diselamatkan. Karena jika tidak ada panggilan untuk bertobat dari dosa dan mengejar kekudusan sebagai jalan hidup, ini hanya akan meneguhkan orang-orang berdosa dalam kesombongan dan ketidakpercayaan mereka. Dan ini adalah konsekuensi yang paling mematikan dari Hyper-Calvinisme.

Kedua, Hyper-Calvinisme membunuh kesesuaian total dengan seluruh Kitab Suci. 2 Timotius 3:16-17 meyakinkan kita bahwa “semua Kitab Suci dihembuskan oleh Allah dan bermanfaat untuk mengajar, untuk menyatakan kesalahan, untuk memperbaiki kelakuan dan untuk mendidik orang dalam kebenaran. Dengan demikian tiap-tiap manusia kepunyaan Allah diperlengkapi untuk setiap perbuatan baik.” Namun, Hyper-Calvinis tidak mempercayai kesaksian suci tentang Kitab Suci ini. Satu-satunya hal yang “bermanfaat” baginya adalah kedaulatan Allah. Namun, sejauh menyangkut ajaran Alkitab lainnya, hal itu tidak menjadi masalah. Akan tetapi, ketidakpedulian yang ditunjukkan oleh Hyper-Calvinisme terhadap seluruh Firman Tuhan sebenarnya merupakan penyangkalan terhadap kedaulatan Tuhan. Sebab jika yang Tuhan inginkan agar kita ketahui hanyalah kedaulatan-Nya, maka ini akan menjadi satu-satunya doktrin yang ditemukan dalam Kitab Suci. Namun, bukan itu masalahnya. Tuhan menghendaki kita menerima segala sesuatu yang telah Dia ungkapkan (dalam konteks yang tepat!), sehingga kita akan diperlengkapi untuk setiap pekerjaan baik. Namun, Hyper-Calvinisme menyangkal berkat ini.

December 5, 2017 By Kurt Smith, Providence Reformed Baptist Church, Pine Mountain in Remlap, Alabama

Apa pentingnya karakter bagi orang Kristen?

“dan jadikanlah dirimu sendiri suatu teladan dalam berbuat baik. Hendaklah engkau jujur dan bersungguh-sungguh dalam pengajaranmu, sehat dan tidak bercela dalam pemberitaanmu sehingga lawan menjadi malu, karena tidak ada hal-hal buruk yang dapat mereka sebarkan tentang kita.” Titus 2: 7-8

Pemilihan umum di Amerika sudah berlangsung dengan baik dan untuk itu kita harus bersyukur. Tidak ada yang lebih mengkhawatirkan daripada terjadinya kerusuhan berdarah di negara besar yang dianggap sebagai contoh negara demokrasi, seperti yang terjadi pada tanggal 6 Januari 2021 di ibukota Amerika, Washington D.C., ketika gedung Capitol diserbu oleh pendukung capres yang baru terpilih minggu lalu. Walaupun demikian, bagi sebagian orang, ada keheranan bagaimana seorang yang dianggap mempunyai karakter yang tercela bisa terpilih menjadi presiden. Dalam hal ini, jawabannya adalah bahwa rakyat pada umumnya lebih mementingkan apa yang dijanjikan seorang capres daripada apa yang terlihat sebagai karakternya. Sebagai alasan, sebagian orang berpendapat bahwa mereka tidak bisa mengharapkan setiap orang yang mengaku Kristen untuk berkarakter seperti orang Kristen. Bagi orang yang lain, setiap orang Kristen masih mempunyai karakter yang tidak baik. Jelas bahwa hasil pemilihan umum tidak dipengaruhi oleh karakter capres yang mengaku Kristen itu. Karena itu, pertanyaan bagi kita adalah: Apakah pentingnya karakter bagi orang Kristen?

Sebagai orang Kristen kita percaya bahwa manusia dapat menjadi murid Tuhan sebenarnya bukan karena usaha manusia. Inilah prasyarat pertama untuk pengaruh spiritual, yaitu bekerjanya Roh Kudus dalam diri orang pilihan Tuhan. Selanjutnya, karakter adalah prasyarat kedua untuk pengaruh spiritual. Setiap manusia diciptakan menurut gambar Tuhan, dan secara naluriah dan dalam keterbatasan mereka, menghargai sifat-sifat karakter Tuhan yang merancang kita – bahkan bagi mereka yang tidak mengenal Tuhan. Umat manusia secara universal menghargai buah Roh: “kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan dan penguasaan diri” (Galatia 5:22-23). Pada zaman Yesus, banyak orang yang ditolak oleh para pemimpin agama kemudian tertarik kepada Yesus karena Ia mewujudkan karakteristik ini. Sampai hari ini, karakter seperti yang Yesus miliki masih menarik perhatian dan mengundang rasa hormat banyak orang, tetapi bukan semua orang.

Orang non-Kristen memerhatikan kegembiraan kita ketika kita bekerja, kedamaian kita di tengah kekecewaan, dan keanggunan dan kerendahan hati kita terhadap orang-orang yang menguji kesabaran kita. Sayangnya, karakter semacam ini sering terasa kurang terlihat dalam hidup kita yang dituntut untuk menunjukkan karakter Yesus kepada dunia. Pada tahun 2013, ada survei yang mempelajari kemunafikan di kalangan orang Kristen. Di antara mereka yang mengidentifikasi diri mereka sebagai orang Kristen, penelitian berdasarkan daftar sikap dan tindakan yang dipilih untuk diri sendiri menemukan bahwa 51 persen menggambarkan diri mereka lebih seperti orang Farisi (munafik, merasa benar sendiri, menghakimi) dibandingkan dengan hanya 14 persen yang mencontoh tindakan dan sikap Yesus (tanpa pamrih, empati, kasih dan lain-lainnya). Kekurangan umat Kristen inilah yang bisa menghambat usaha penginjilan. Mengapa demikian? Teolog terkenal C.S. Lewis menjelaskan masalahnya:

“Ketika kita orang Kristen berperilaku buruk, atau gagal berperilaku baik, kita membuat kekristenan tidak dapat dipercaya oleh dunia luar. … Kehidupan kita yang ceroboh membuat dunia luar berbicara; dan kita memberi dunia sebuah alasan untuk berbicara dengan cara yang meragukan kebenaran kekristenan….”

Karakter didefinisikan sebagai kekuatan moral yang oleh sebagian orang Kristen dipandang tidak terlalu penting, dengan alasan bahwa semua orang adalah tidak sempurna. Walaupun demikian, penginjil terkenal A.W. Tozer menggambarkan karakter sebagai “keunggulan makhluk bermoral.” Sebagaimana keunggulan yang dimiliki emas adalah kemurniannya dan keunggulan dari seni adalah keindahannya, maka keunggulan manusia adalah karakternya. Orang yang berkarakter dikenal karena kejujuran, etika, dan kedermawanannya. Deskripsi seperti “pria yang berprinsip” dan “wanita yang berintegritas” merupakan penegasan karakter. Kurangnya karakter adalah kekurangan moral, dan orang yang tidak memiliki karakter yang baik cenderung berperilaku tidak jujur, tidak etis, dan tidak beramal.

Karakter seseorang berasal dari watak, pikiran, niat, keinginan, dan tindakannya. Perlu diingat bahwa karakter diukur berdasarkan kecenderungan umum, bukan berdasarkan beberapa tindakan yang terisolasi. Kita harus melihat keseluruhan kehidupan orang yang bersangkutan. Misalnya, Abraham yang diberkati Tuhan sekalipun tidak percaya bahwa istrinya akan memperoleh seorang putra di hari tua (Kejadian 18:1-3). Raja Daud adalah orang yang berkarakter baik (1 Samuel 13:14) meskipun ia terkadang berbuat dosa (2 Samuel 11). Sebaliknya, meskipun Raja Ahab mungkin pernah bertindak mulia (1 Raja-raja 22:35), ia tetaplah seorang yang berkarakter buruk secara keseluruhan (1 Raja-raja 16:33). Dengan demikian, sebagai orang Kristen kita tidak boleh tertipu oleh janji-janji manis dari orang yang buruk karakternya karena sekalipun orang itu dapat membuat kita puas, besar kemungkinan bahwa hasil itu dicapainya dengan cara yang salah.

Karakter juga dipengaruhi dan dikembangkan oleh pilihan-pilihan kita, bukan 100% ditetapkan oleh Tuhan melalui faktor genetika dan tempat dan situasi di mana kita hidup. Daniel “bertekad untuk tidak menajiskan dirinya” di Babel (Daniel 1:8), dan pilihan saleh itu merupakan langkah penting dalam merumuskan integritas yang tak tergoyahkan dalam kehidupan pemuda itu. Karakter, pada gilirannya, memengaruhi pilihan-pilihan kita. “Orang yang jujur dipimpin oleh ketulusannya” (Amsal 11:3a). Karakter akan membantu kita menghadapi badai kehidupan dan menjauhkan kita dari dosa (Amsal 10:9a). Setiap orang bertanggung jawab atas hidupnya.

“Sebab kita semua harus menghadap takhta pengadilan Kristus, supaya setiap orang memperoleh apa yang patut diterimanya, sesuai dengan yang dilakukannya dalam hidupnya ini, baik ataupun jahat.” 2 Korintus 5:10

Tujuan Tuhan adalah mengembangkan karakter di dalam diri kita. “Kui adalah untuk melebur perak dan perapian untuk melebur emas, tetapi TUHANlah yang menguji hati.” (Amsal 17:3). Karakter yang saleh adalah hasil dari pekerjaan pengudusan Roh Kudus. Karakter dalam orang percaya adalah manifestasi Yesus yang konsisten dalam hidupnya. Kemurnian hati yang diberikan Allah menjadi kemurnian dalam tindakan. Allah terkadang menggunakan ujian untuk memperkuat karakter: “Kita malah bermegah juga dalam kesengsaraan kita, karena kita tahu, bahwa kesengsaraan itu menimbulkan ketekunan, dan ketekunan menimbulkan tahan uji dan tahan uji menimbulkan pengharapan.” (Roma 5:3-4). Tuhan senang ketika anak-anak-Nya bertumbuh dalam karakter yang baik dan menjadi sempurna di dalam Dia.

Kita dapat mengembangkan karakter dengan mengendalikan pikiran kita (Filipi 4:8), mengamalkan kebajikan Kristen (2 Petrus 1:5-6), menjaga hati kita (Amsal 4:23; Matius 15:18-20), dan bergaul dengan orang baik (1 Korintus 15:33). Pria dan wanita yang berkarakter akan memberikan contoh yang baik bagi orang lain untuk diikuti, dan reputasi saleh mereka akan terlihat oleh semua orang (Titus 2:7-8).

Jika kata-kata kita berarti bagi orang lain, kata-kata itu harus mengalir dari kehidupan yang berintegritas. Jika tidak, perbuatan dan kata-kata kita akan diwarnai dengan kesombongan atau kebohongan. Sebaliknya, ketika orang melihat bahwa kita tidak hanya berpose atau melakukan pencitraan, tetapi dengan rendah hati berusaha menjalani kehidupan yang berintegritas, mereka akan menghargai pesan-pesan kita.

Orang-orang juga memerhatikan apa yang akan kita lakukan ketika kita gagal dalam menjalani tes integritas. Dalam hal ini, apakah kita mau mengakui bahwa kita tidak sepenuhnya memiliki integritas sebagai anak Tuhan? Mungkin yang lebih penting daripada memperbaiki keadaan adalah mengakui bahwa kita sering melakukan kesalahan, mencari pengampunan, dan menebus kesalahan kita kepada mereka yang kita lukai. Salah satu elemen karakter yang paling menarik adalah kerendahan hati untuk menerima bahwa kita bukanlah manusia yang sempurna atau manusia yang paling bijaksana.

Memang, sering kali sebagai orang Kristen kita berperilaku seolah-olah kita yang sudah lahir baru dan memiliki segalanya untuk diberikan kepada orang non-Kristen yang belum menerima apa pun dan sama sekali rusak karakter dan moralnya. Karena itu, banyak orang mungkin merasa malu untuk mengakui kelemahan atau memperlihatkan kekurangan apa pun yang bisa merendahkan pamor kita. Pada pihak yang lain, ada juga orang Kristen yang merasa bahwa mereka tidak perlu malu dengan segala kekurangan dan cara hidup mereka yang kacau karena mereka yakin sudah terpilih. Kedua sikap ini tentunya keliru, untuk tidak dikatakan munafik!

Hari ini kita belajar bahwa karakter dan moralitas yang baik adalah ciri orang Kristen sejati. Hidup sebagai saksi Kristus tidaklah mudah. Rasul Yakobus menulis bahwa imat adalah mati jika tidak disertai perbuatan (Yakobus 2: 17). Tetapi, berbuat baik saja tidak cukup untuk mmberitakan injil. Kita harus mempunyai sesuatu yang menarik dalam karakter kita. Dalam hal ini, yang terutama adalah kemampuan kita untuk mengakui kegagalan dan kehancuran, yang merupakan karakter yang sangat menonjol dalam masyarakat dan budaya di sekitar kita. Orang perlu mencium bau harum kehadiran Yesus dalam karakter kita, yang paling nyata terlihat melalui karakter rendah hati yang Dia ciptakan dalam diri kita. Itu tidaklah mudah untuk dipraktikkan. Kita tidak dapat memperlihatkan karakter yang baik kepada dunia jika Roh Kudus tidak bekerja sepenuhnya dalam hidup kita. Kita tidak dapat berkarakter baik dengan meniru pemimpin yang berkarakter buruk.

Kita dapat “mendukakan Roh Kudus” dengan bertindak seperti orang yang belum percaya dengan menyerah kepada natur dosa kita, dengan berdusta, dengan kemarahan, dengan percabulan. “Mendukakan Roh Kudus” itu terjadi ketika kita melakukan hal yang berdosa baik melalui pikiran, perkataan, dan perbuatan, maupun melalui pikiran saja. Baik “memadamkan” dan “mendukakan” Roh memiliki dampak yang sama; keduanya menghalangi seseorang untuk hidup dalam kekudusan. Keduanya terjadi ketika orang-percaya berdosa kepada Allah dan mengikuti keinginan duniawinya. Jika kita tidak suka didukakan, kita juga tidak akan berusaha memadamkan apa yang baik. Karena itu, kita tidak boleh mendukakan atau memadamkan Roh Kudus dengan menolak mendengarkan bimbingan-Nya.

“Dan janganlah kamu mendukakan Roh Kudus Allah, yang telah memeteraikan kamu menjelang hari penyelamatan.” Efesus 4:30

Larangan bukan untuk diabaikan

“Sebab itu hendaklah dosa jangan berkuasa lagi di dalam tubuhmu yang fana, supaya kamu jangan lagi menuruti keinginannya.” Roma 6:12

Tidak dapat dipungkiri bahwa dunia pendidikan anak sudah mengalami perubahan besar selama 40 tahun terakhir. Jika dulu, seorang anak agaknya harus menaati semua perintah orang tua, di zaman ini banyak orang tua yang kewalahan dalam usaha mendidik anak-anak mereka. Mengapa? Dengan kemajuan teknologi zaman ini anak-anak sudah terbiasa melihat berbagai hal melalui TV dan media sosial. Mereka sering merasa bahwa perintah orang tua sebagai sesuatu yang tidak relevan. Pada pihak yang lain, banyak orang tua modern merasa bahwa kebebasan untuk memilih dan belajar untuk bertanggung jawab atas pilihan sendiri adalah perlu bagi anak-anak mereka.

Dalam kehidupan Kristen, peruahan serupa juga terjadi sekalipun sudah berlangsung sejak lama. Dengan kemajuan cara hidup individual dan hak azasi manusia, banyak orang Kristen yang merasa bahwa hukum Tuhan adalah “optional” atau “pilihan” bagi mereka dan bukannya keharusan. Para pemimpin gereja mengalami kesulitan untuk menegur jemaat yang melakukan hal yang tidak baik. Dalam khotbah, semakin jarang disampaikan pesah untuk tidak berbuat ini dan itu, atau agar jemaat melaksanakan firman Tuhan jika mereka mengaku orang Kristen. Apalagi, di gereja tertentu agaknya ditekankan bahwa karena kita sudah menerima “grace” atau karunia keselamatan dari Tuhan, Tuhan tidak lagi menuntut kita untuk melaksanakan semua perintah-Nya. Kata “hendaklah” dan “janganlah” dalam Alkitab kelihatannya sudah pudar artinya.

Dalam Roma 6, Paulus menjawab pertanyaan apakah orang Kristen harus terus berbuat dosa. Jawabannya tegas: kita sama sekali tidak boleh berbuat dosa. Pertama, ketika kita datang kepada Allah melalui iman kepada Yesus, kita mati terhadap dosa. Kita tidak lagi menjadi budak dosa. Kedua, apa yang pernah kita dapatkan dari hidup demi dosa? Itu menuntun kita kepada rasa malu dan kematian. Kebenaran yang diberikan kepada kita secara cuma-cuma oleh Allah di dalam Kristus Yesus menuntun kita untuk menjadi seperti Yesus dan kepada hidup kekal. Kita harus melayani kebenaran dan bukan dosa.

Roma 6:1–14 membahas bagaimana orang Kristen seharusnya berpikir tentang dan menanggapi dosa sekarang setelah kita berada di dalam Kristus dan dosa-dosa kita diampuni. Dalam menjelaskan hal ini, Paulus mengungkapkan informasi baru tentang apa yang terjadi ketika kita menaruh iman kita kepada Kristus. Dalam arti rohani, kita mati bersama-Nya, dan terhadap dosa-dosa kita. Kita kemudian dibangkitkan ke dalam kehidupan rohani yang baru. Sekarang Paulus memerintahkan kita untuk terus mengingat bahwa kita tidak lagi menjadi budak dosa. Kita tidak boleh mempersembahkan tubuh kita untuk digunakan demi dosa, tetapi kita harus mempersembahkan diri kita sebagai alat kebenaran.

Dalam Roma 6:11, Paulus memberi tahu kita untuk menganggap diri kita mati terhadap dosa dan hidup bagi Allah sebagaimana Kristus mati terhadap dosa dan hidup bagi Allah. Sekarang dalam Roma 6:12, ia memberi tahu kita untuk tidak membiarkan dosa berkuasa atau berkuasa dalam tubuh kita yang fana saat ini. Kita tidak boleh membiarkan dosa membuat kita menaatinya. Dosa adalah musuh kita.

Perlu dicatat, bahwa kata “hendaklah dosa jangan berkuasa” dalam Roma 6:12 muncul sebagai “jangan lagi membiarkan dosa” dalam terjemahan Alkitab versi lain. Kata “jangan” bisa dianggap sebagai larangan tegas yang harus ditaati, dan ini sesuai dengan terjemahan dalam banyak Alkitab berbahasa Inggris. Tentunya ada orang yang mengangap bahwa kata “hendaklah” sebagai sebuah anjuran dan bukan perintah.

Perintah ini bisa membingungkan beberapa pembaca. Bukankah Paulus mengatakan bahwa kita telah mati terhadap dosa (Roma 6:1)? Bukankah ia telah memberi tahu kita bahwa “tubuh dosa” telah disingkirkan (Roma 6:6) dan bahwa kita telah dibebaskan dari dosa dengan mati bersama Kristus ketika kita percaya kepada-Nya (Roma 6:7)? Jadi, bagaimana mungkin dosa dapat berkuasa dalam diri kita atau membuat kita menaati hawa nafsunya? Mengapa kita tetap harus berjuang untuk melawan dosa? Jawaban sederhananya adalah ini: Kita telah dibebaskan dari belenggu dosa atas diri kita, tetapi kita belum kehilangan keinginan untuk berbuat dosa. Singkatnya, dosa masih menarik bagi kita. Mudah bagi kita untuk lupa, atau bahkan tidak percaya, bahwa kita tidak akan pernah lagi melakukan dosa (1 Korintus 10:13). Kita bukanlah budak dosa. Kita hanya bisa melakukan dosa dengan sukarela, alias dengan kehendak sendiri.

Paulus memerintahkan kita untuk terus-menerus melakukan percakapan dengan diri kita sendiri. Ia memerintahkan kita untuk terlibat dalam pertempuran melawan keinginan kita. Jangan biarkan dosa memberi tahu Anda apa yang harus dilakukan, tulisnya. Bagi orang Kristen yang sudah diselamatkan, keinginan berdosa bukan lagi yang utama. Orang Kristen seharusnya tidak menyerahkan kendali kepada dorongan tersebut. Orang Kristen tidak seharusnya berpikir bahwa ia sudah ditakdirkan untuk mempunyai kelemahan atau berada dalam keadaan yang tidak menguntungkan dalam menghadapi godaan dosa. Kita bertanggung jawab atas semua dosa kita.

Paulus telah menjelaskan dengan sangat jelas bahwa kita yang ada di dalam Kristus harus terlibat dalam semacam pertempuran dengan diri kita sendiri. Kita telah dibebaskan, melalui kematian rohani dan kebangkitan kita bersama Kristus, dari kuasa dosa. Diri lama kita telah disalibkan secara rohani dengan cara yang sama seperti Kristus disalibkan secara rohani. Hasilnya adalah bahwa dosa seharusnya tidak lagi memiliki otoritas atas kita. Kita telah dibebaskan.

Namun, kita belum kehilangan keinginan untuk berbuat dosa. Kita masih ingin berbuat dosa, kadang-kadang, bahkan sekalipun sadar betapa merusaknya dosa kita. Paulus telah memerintahkan kita untuk tidak secara sukarela berbuat dosa, tidak membiarkannya mengendalikan tubuh kita. Sekarang dia menekankan perintahnya dengan lebih rinci. Kita tidak boleh menyerahkan anggota tubuh kita, bagian mana pun dari tubuh kita, untuk digunakan dosa untuk melakukan hal-hal yang tidak benar.

Perhatikan sesuatu tentang perintah itu: Perintah itu menegaskan bahwa kita memiliki kendali atas apa yang kita lakukan dengan tubuh kita sendiri. Kematian Kristus dan kuasa roh Allah memberi kita kendali itu. Mereka yang sudah diselamatkan hanya dapat berdosa dengan memilih dengan kehendak bebas untuk melakukannya.

Pagi ini, Paulus menulis bahwa kita harus mempersembahkan tubuh kita kepada Allah untuk digunakan bagi kebenaran. Bahkan, kita harus melakukannya dengan sengaja seperti orang-orang yang telah dibawa dari kematian menuju kehidupan. Bagaimana kita melakukannya? Kita mulai dengan terus-menerus mengingatkan diri kita sendiri bahwa kita benar-benar telah dibawa dari kematian menuju kehidupan. Itulah diri kita sekarang, dan itulah kehidupan yang ditakdirkan untuk kita jalani.

Tuhan bisa memakai apa yang tidak kita sukai untuk mencapai tujuan-Nya

“Lihatlah di antara bangsa-bangsa dan perhatikanlah, jadilah heran dan tercengang-cengang, sebab Aku melakukan suatu pekerjaan dalam zamanmu yang tidak akan kamu percayai, jika diceriterakan. Sebab, sesungguhnya, Akulah yang membangkitkan orang Kasdim, bangsa yang garang dan tangkas itu, yang melintasi lintang bujur bumi untuk menduduki tempat kediaman, yang bukan kepunyaan mereka.” Habakuk 1:5-6

Pemilihan umum di Amerika sudah selesai dan hasilnya mungkin membuat sebagian orang sedih atau marah karena apa yang diharapkan mereka ternyata tidak terjadi. Walaupun demikian, semua itu adalah kenyataan yang harus diterima semua orang yang percaya akan azas demokrasi. Apakah kejadian semacam ini sudah ditetapkan Tuhan? Bagi mereka yang kecewa, Tuhan mungkin dituduh sebagai Tuhan yang jahat, Tuhan yang tidak peduli atau Tuhan yang tidak berkuasa untuk memilih apa yang baik.

Istilah “ditetapkan Tuhan” adalah istilah yang sering disalah-gunakan atau disalah- mengertikan. Tuhan bisa menetapkan, menyebabkan atau mengizinkan sesuatu untuk terjadi. Dalam hal ini, Tuhan adalah yang memegang kendali. Semua yang terjadi di dunia adalah dalam kuasa-Nya, dan dipakai-Nya untuk mencapai rencana-Nya. Ini bukan berarti bahwa Dia yang secara langsung membuat atau menyebabkan semua hal, tetapi semua yang baik maupun buruk terjadi dengan seizin-Nya.

Habakuk 1:5-11 adalah nubuat di mana Allah mengaitkan maksud-Nya untuk membangkitkan Babel, bangsa yang “kejam” dan “ditakuti”, untuk mencapai tujuan-Nya. Hal ini menimbulkan pertanyaan, Apakah Allah terkadang menggunakan kejahatan untuk mencapai rencana-Nya?

Ada perbedaan penting yang harus dibuat antara Allah yang mengendalikan kejahatan dan Allah yang menciptakan kejahatan. Allah bukanlah pencipta dosa, tetapi Ia dapat menggunakan manusia berdosa untuk mencapai suatu tujuan. Peristiwa-peristiwa seperti itu, meskipun kita tidak memahami alasannya, merupakan bagian dari rencana ilahi-Nya yang sempurna. Jika Allah tidak dapat mengendalikan apa yang buruk atau jahat, Ia bukanlah Allah. Kedaulatan-Nya menuntut agar Ia mengendalikan segala sesuatu, bahkan bangsa-bangsa dan orang-orang yang “ditakuti”.

Pada saat yang sama, Alkitab dengan jelas menyatakan bahwa Allah tidak berdosa dan tidak melakukan kejahatan. Yakobus 1:13 mengajarkan, “Apabila seorang dicobai, janganlah ia berkata: ”Pencobaan ini datang dari Allah!” Sebab Allah tidak dapat dicobai oleh yang jahat, dan Ia sendiri tidak mencobai siapa pun.” Ulangan 32:4 mengatakan, “Gunung Batu, yang pekerjaan-Nya sempurna, karena segala jalan-Nya adil, Allah yang setia, dengan tiada kecurangan, adil dan benar Dia.”

Masalah dalam Habakuk adalah bahwa Allah menggunakan orang Babilonia (bangsa yang jahat) untuk melaksanakan kehendak-Nya. Allah kita yang bijaksana dan sempurna dapat dan terkadang memang menggunakan dosa yang sudah ada di dunia kita untuk memenuhi tujuan-Nya. Contoh sempurna dari hal ini adalah penyaliban Yesus: pembunuhan Kristus adalah tindakan jahat, tetapi melalui itu Allah menebus umat pilihan-Nya dan menundukkan iblis.

“Ia telah melucuti pemerintah-pemerintah dan penguasa-penguasa dan menjadikan mereka tontonan umum dalam kemenangan-Nya atas mereka.” Kolose 2:15

Wahyu Allah menyebabkan Habakuk bertanya bagaimana Allah dapat menggunakan bangsa yang lebih jahat daripada Yehuda untuk menghakimi Yehuda (Habakuk 1:12-2:1). Pada zaman Habakuk, tujuan Allah adalah untuk mendatangkan penghakiman atas Yehuda atas penyembahan berhala mereka. Babel adalah alat penghakiman-Nya (lihat Yesaya 10:5). Tanggapan Allah adalah janji bahwa Ia akan menghukum Babel juga di kemudian hari (Habakuk 2:2-20). Pada akhirnya, Habakuk hanya dapat mengakui hikmat Tuhan yang sempurna; nabi itu mengakhiri dengan nyanyian pujian di pasal 3.

Saat ini, kita mungkin bergumul dengan pertanyaan tentang metode Allah seperti yang dialami Habakuk. Bagaimana Allah memilih untuk bekerja tergantung pada-Nya. Kadang-kadang, Ia campur tangan secara ajaib. Di waktu lain, Ia bekerja di balik layar. Allah bahkan dapat memberikan kebebasan tertentu kepada kekuatan jahat di dunia untuk mewujudkan rencana-Nya. Seperti Habakuk, jika kita melihat kehidupan dari sudut pandang Allah, tanggapan kita yang benar seharusnya adalah menyembah Tuhan dan mengakui bahwa Ia memegang kendali atas segala sesuatu.

Barangkali Anda masih merasa bahwa terkadang Tuhan tidak adil dalam menetapkan, menyebabkan atau mengizinkan hal-hal yang tidak kita harapkan? Paulus membahas keputusan Allah untuk memberi kuasa kepada Firaun:

“Sebab Kitab Suci berkata kepada Firaun: ”Itulah sebabnya Aku membangkitkan engkau, yaitu supaya Aku memperlihatkan kuasa-Ku di dalam engkau, dan supaya nama-Ku dimasyhurkan di seluruh bumi.” Jadi Ia menaruh belas kasihan kepada siapa yang dikehendaki-Nya dan Ia menegarkan hati siapa yang dikehendaki-Nya.” Roma 8:17-18

Paulus terus menegaskan bahwa Allah bukannya tidak adil atau “tidak jujur” karena membiarkan Firaun menguasai bani Israel. Paulus kemudian merujuk pada pembebasan Firaun Israel dari Mesir, dengan mengutip dari Keluaran 9:16. Ini berasal dari firman Tuhan kepada Musa tentang apa yang harus dikatakan kepada Firaun sebelum mengirimkan tulah lainnya. Tuhan ingin Firaun tahu bahwa Ia telah mengangkat Firaun—atau Mesir—ke kekuasaan dan keunggulan sehingga Tuhan dapat menunjukkan kuasa-Nya sendiri yang jauh lebih besar dalam menundukkan Mesir. Alasan Tuhan melakukan ini adalah agar nama-Nya sendiri akan diberitakan di seluruh bumi.

Pagi ini, biarlah kita menerima apa yang terasa kurang nikmat dalam hidup kita dengan sabar. Apa yang terjadi dalam hidup manusia adalah dengan sepengetahuan Tuhan. Tuhan yang mahatahu adalah Tuhan yang mahakuasa, mahabijaksana, serta mahakasih. Ia tidak pernah meninggalkan kita. Roma 8:28 mengatakan, “Kita tahu sekarang, bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah.” Kata “segala sesuatu” mencakup hal-hal yang baik dan buruk. Allah dapat menggunakan pergumulan, patah hati, dan tragedi dengan berbagai cara untuk mendatangkan kemuliaan-Nya dan kebaikan bagi umat-Nya.

Apakah Anda anak Allah?

“Lihatlah, betapa besarnya kasih yang dikaruniakan Bapa kepada kita, sehingga kita disebut anak-anak Allah, dan memang kita adalah anak-anak Allah. Karena itu dunia tidak mengenal kita, sebab dunia tidak mengenal Dia.’ 1 Yohanes 3:1

Bagi orang yang tidak mengenal Tuhan yang kita imani, cara hidup orang Kristen sejati mungkin dipandang sebagai keanehan. Jika dunia memandang bahwa hidup itu adalah sesuatu kebebasan yang harus dipakai dan dinikmati, orang Kristen sejati seakan menjauhkan diri dari apa yang dianggap nikmat dan nyaman oleh dunia. Mungkin sebagian orang menganggap bahwa kita berusaha untuk hidup baik karena kita percaya adanya Allah yang gemar menghukum manusia. Tetapi itu bukan apa yang diimani orang Kristen. Bab ketiga dari 1 Yohanes sebagian besar berfokus pada konsep kasih Allah. Karena kasih-Nya, Allah tidak hanya menyebut kita anak-anak-Nya, Dia benar-benar menjadikan kita anak-anak-Nya. Bahkan ketika kita masih hidup dalam dosa, Allah sudah mengasihi kita (Roma 5:8).

Kitab 1 Yohanes 3:1–3 menyoroti kasih Allah yang luar biasa bagi kita. Dia tidak hanya bersedia menyebut kita anak-anak-Nya, kita benar-benar adalah anak-anak-Nya. Sebagian dari transformasi itu terjadi secara langsung, tetapi belum semua yang akan kita alami terungkap. Selama kita hidup di dunia, kita tetap bisa jatuh dalam dosa dan mengalami hal-hal yang tidak nyaman dan bahkan berbagai penderitaan. Hanya ketika Kristus kembali, kita akan melihat semua yang telah Dia persiapkan bagi kita. Keselamatan kita dan kemuliaan dari Allah akan bisa terlihat oleh semua makhluk ciptaan Allah.

Menjadi anak Allah dipandang sebagai tanda kasih yang besar dari Allah Bapa. Yohanes secara khusus menyebutkan bahwa orang percaya tidak hanya “dianggap anak-anak Allah;” orang percaya benar-benar adalah anak-anak Allah. Tema ini berhubungan erat dengan kata-kata Yohanes 1:12: “Tetapi semua orang yang menerima-Nya diberi-Nya kuasa supaya menjadi anak-anak Allah, yaitu mereka yang percaya dalam nama-Nya” Anak-anak Allah adalah mereka yang menerima Yesus sebagai Tuhan dan percaya dalam nama-Nya sebagai Mesias yang telah bangkit.

Yohanes menyoroti konsep ini dengan menggunakan istilah Yunani ideate, yang berarti, “lihatlah!” Gagasan bahwa Allah mengasihi kita untuk menjadikan kita anak-anak-Nya adalah salah satu aspek Injil yang menakjubkan. Yohanes kemudian mencatat mengapa orang yang tidak percaya tidak “mengenal” orang percaya: Orang yang tidak percaya tidak mengenal Kristus. Seperti yang digunakan oleh Yohanes, konsep “mengenal” melibatkan lebih dari sekadar informasi. Ini merujuk pada rasa keintiman, persekutuan, dan koneksi.

Dunia yang tidak percaya tidak memiliki hubungan dengan Kristus. Karena itu, mereka tidak memiliki hubungan baik dengan anak-anak-Nya. Jika cara hidup kita tidak berbeda dengan orang dunia, dan kita dengan senang hati bergaul dan mengikuti cara hidup mereka, itu mungkin menandakan bahwa kita sendiri belum sadar akan kasih Allah. Anak-anak Allah harus semakin menjadi seperti Bapa, terlepas dari apakah orang lain mengenali kita atau tidak. Kita adalah anak-anak Allah yang sangat dikasihi-Nya, terlepas dari keadaan kita saat ini. Yohanes juga menjelaskan bagaimana dosa, termasuk kebencian, tidak pernah merupakan hasil dari hubungan yang benar dengan Allah. Orang Kristen, berbeda dengan dunia, seharusnya melakukan lebih dari sekadar ”merasakan” kasih; kita juga harus melakukannya.

Pagi ini kita harus menyadari bahwa sekarang kita adalah anak-anak Allah, tetapi belum nyata apa keadaan kita kelak; akan tetapi kita tahu, bahwa apabila Kristus menyatakan diri-Nya, kita akan menjadi sama seperti Dia, sebab kita akan melihat Dia dalam keadaan-Nya yang sebenarnya. Jarena itu setiap orang yang menaruh pengharapan itu kepada-Nya, harus berusaha menyucikan diri sama seperti Dia yang adalah suci. Setiap orang yang berbuat dosa, melanggar juga hukum Allah, sebab dosa ialah pelanggaran hukum Allah. Kita tahu, bahwa Ia telah menyatakan diri-Nya, supaya Ia menghapus segala dosa, dan di dalam Dia tidak ada dosa. Karena itu setiap orang yang tetap berada di dalam Dia, tidak ingin berbuat dosa lagi. Setiap orang yang tetap hidup dalam dosa, tidak melihat dan tidak mengenal Dia.

Orang Kristen yang acuh tak acuh

“Aku tahu segala pekerjaanmu: engkau tidak dingin dan tidak panas. Alangkah baiknya jika engkau dingin atau panas! Jadi karena engkau suam-suam kuku, dan tidak dingin atau panas, Aku akan memuntahkan engkau dari mulut-Ku.” Wahyu 3:15-16

Wahyu 3:14–22 adalah pesan terakhir dan paling keras dari Yesus, yang ditujukan kepada gereja di Laodikia. Kita belajar dari penilaian ini bahwa gereja Laodikia suam-suam kuku, sombong, dan puas diri. Mereka membanggakan kekayaannya dan tidak membutuhkan apa pun. Namun gereja Laodikia menipu dirinya sendiri. Dalam hal kondisi rohaninya, gereja itu malang, menyedihkan, miskin, buta, dan telanjang. Yesus mendesak gereja untuk berpaling kepada-Nya, karena Ia berada di luar gereja, mengundang siapa pun yang mendengar suara-Nya untuk membuka pintu dan menyambut-Nya. Laodikia adalah satu-satunya gereja dari tujuh gereja yang hanya menerima teguran, dan tidak mendapat komentar positif.

Surat-surat terakhir di Alkitab ini melambangkan sejarah Gereja dari tahun 1500 M hingga saat memindahkan orang percaya dari bumi untuk bersama Yesus. Jemaat di Sardis memiliki reputasi yang baik, tetapi sebenarnya mati secara rohani. Gereja di Filadelfia memiliki kesempatan yang baik untuk menyebarkan Injil, dan telah menaati firman Yesus dan tetap setia kepada-Nya. Karena itu, Yesus berjanji untuk memberi pahala kepada para penakluk gereja ini. Orang Kristen di Laodikia bangga dengan kekayaannya, tetapi secara rohani suam-suam kuku, suatu karakteristik yang dibenci Yesus. Ia berjanji untuk bersekutu dengan siapa pun di gereja yang akan mengindahkan suara-Nya dan menyambut-Nya. Laodikia adalah satu-satunya gereja yang tidak dipuji oleh Kristus karena acuh tak acuh kepada Yesus.

Tidak ada yang luput dari perhatian Yesus. Dalam ayat ini, Ia memberi tahu jemaat Laodikia bahwa Ia mengetahui kondisi jemaat itu. Ia berkata jemaat itu tidak dingin atau panas, meskipun Ia lebih suka jika jemaat itu salah satu atau yang lain. Kutukan terhadap iman yang “suam-suam kuku” ini membawa konsekuensi yang mengerikan. Pada masa itu, air bersuhu ruangan adalah air yang berbahaya. Air dingin menunjukkan air segar dari mata air atau sungai yang mengalir, dan air panas adalah air yang telah dimasak atau dibersihkan. Apa pun di antara keduanya, tentu saja mencurigakan dan mungkin tidak berharga.

Jemaat di Laodikia tidak bersemangat atau dingin. Jemaat itu hanya puas mempertahankan posisi status quo. Jemaat itu tidak bersemangat tentang masalah-masalah aktuil kehidupan Kristen atau tidak berperasaan tentang hal-hal itu. Mereka tidak peduli akan keadaan di sekitarnya karena merasa aman dalam keadaan mereka sendiri. Mereka merasa sudah terpilih dan tidak mungkin kehilangan keselamatan mereka. Sementara Yesus tidak memberikan teguran kepada jemaat di Filadelfia, Ia tidak memberikan pujian kepada jemaat Laodikia. Tidak seperti jemaat di Sardis yang menyadari adanya hal-hal yang kurang dan perlu dikuatkan, jemaat di Laodikia yakin tidak memiliki apa pun yang perlu diperbaiki. Dalam beberapa hal, jemaat-jemaat yang ada saat ini tidak panas atau dingin.

Seperti itu juga keadaan beberapa gereja di zaman ini. Mereka hanya terus melakukan kegiatan tradisional yang sama, menawarkan ajaran “teologi unggulan” yang seakan menjamin keselamatan para pengunjung, mengikuti gerakan-gerakan liturgi yang “steril”, dan dengan demikian membuat para anggotanya bersikap pasif dalam usaha untuk hidup dalam kekudusan. Mereka juga tidak tertarik untuk giat menginjil karena semua itu dianggap kurang berguna sebab Tuhan yang mahakuasa sudah menetapkan segalanya.

Aspek lain dari keinginan Yesus agar gereja saat ini menjadi “panas atau dingin” berkaitan dengan bagaimana kita menanggapi Injil. Mereka yang “panas” dalam hal-hal rohani terlibat secara mendalam dan berkomitmen pada iman. Namun, mereka yang dingin, setidaknya berada dalam posisi di mana mereka mengakui kelemahan mereka dan dengan demikian dapat diubah oleh pekerjaan Roh Kudus. Mereka yang “suam-suam kuku” memiliki cukup pengetahuan teologi tentang Kristus sehingga mereka tidak menolak Yesus, tetapi tidak memiliki cukup iman sejati untuk terlibat sepenuhnya dalam hidup sehari-hari. Hidup mereka tidak pernah berubah dari cara hidup lamanya. Kondisi itu, sebenarnya, lebih sulit diubah daripada mengubah orang yang tidak percaya yang sepenuhnya dingin!

Perlu diketahui, Laodikia tidak memiliki sumber air sendiri. Mereka bergantung pada kota Hierapolis di dekatnya untuk mendapatkan airnya. Hierapolis dibangun di sekitar banyak sumber air panas, sehingga mereka menikmati pasokan air panas yang melimpah yang dikirim ke Laodikia melalui saluran air. Akan tetapi, pada saat air mencapai Laodikia, air tersebut telah mendingin hingga suhu suam-suam kuku. Air tersebut perlu didinginkan atau dipanaskan kembali sebelum layak untuk dikonsumsi. Rasa suam-suam kuku dari kehidupan keagamaan jemaat Laodikia membuat Yesus merasa sangat sakit sehingga Ia ingin memuntahkan jemaat itu dari mulut-Nya.

Dalam ayat ini Yesus menggambarkan jemaat di Laodikia sebagai jemaat yang suam-suam kuku. Pada zaman dahulu, orang-orang biasa minum minuman panas atau dingin pada pesta-pesta mereka dan dalam persembahan keagamaan mereka, tetapi mereka tidak pernah minum minuman yang suam-suam kuku. Air seperti itu tidak enak diminum, dan ada alasannya: cairan tersebut lebih mungkin mengandung kuman. Sekarang, pada hari yang panas, orang-orang merasa minuman dingin menyegarkan, dan pada hari yang dingin mereka merasa minuman panas menyegarkan, tetapi tidak seorang pun yang menyukai minuman yang suam-suam kuku.

Ini juga merupakan analogi yang berguna untuk penginjilan. Mereka yang “panas” secara rohani terlibat dalam iman mereka. Mereka yang “dingin” memiliki kesempatan untuk dipengaruhi dengan cara yang kuat oleh Injil. Namun, mereka yang “suam-suam kuku” sebenarnya berada dalam kondisi yang lebih buruk daripada mereka yang “dingin.” Mereka tahu “cukup” tentang Yesus, jadi mereka tidak menolak, tetapi mereka juga agak tidak peduli dengan suara-Nya. Dari sudut pandang Yesus, sebenarnya lebih baik untuk menjadi “dingin” secara rohani, karena itu berarti mereka lebih mungkin memperhatikan panggilan Tuhan.

Sungguh indah untuk diingat pagi ini bahwa Juruselamat kita tidak mencurahkan diri-Nya bagi kita dengan cara yang suam-suam kuku. Dia tidak merendahkan diri-Nya kepada kita dengan cara yang ragu-ragu. Dia tidak canggung dengan pergaulan-Nya dengan para murid-Nya. Sebaliknya, Dia menjadi Gembala Utama kita, dan sudah menyerahkan nyawa-Nya bagi domba-domba-Nya. Allah tidak akan menoleransi kekristenan yang suam-suam kuku atau hati yang hanya sebagian menjadi milik-Nya. Mereka yang acuh tak acuh mungkin saja belum pernah menerima uluran tangan-Nya!