Bukan hanya sehat jasmani, tetapi juga sehat rohani

“Kita dikelilingi orang-orang besar yang beriman ini sebagai contoh kita. Jadi, kita juga harus berlari dalam perlombaan yang ada di depan kita, tanpa menyerah. Marilah kita membuang dari hidup kita semua yang akan memperlambat kita dan semua dosa yang membuat kita sering terjatuh.” Ibrani 12:1 (AMD)

Semakin bertambah usia, topik pembicaraan saya dengan teman-teman sering berubah mengikuti perjalanan hidup. Kalau dulu, dua puluh atau tiga puluh tahun yang lalu, percakapan saya banyak berkisar pada pekerjaan, keluarga muda, atau cita-cita karier, kini topiknya lebih sering tentang anak-anak yang sudah dewasa, cucu yang lucu, atau kesehatan yang mulai menuntut perhatian. Jika dahulu pertanyaan yang lazim adalah, “Kamu kerja di mana?” kini yang terdengar lebih sering adalah, “Sudah berapa cucu sekarang?” Begitulah kehidupan manusia, selalu bergeser dan berkembang seiring waktu.

Bersamaan dengan itu, dengan usia lanjut percakapan tentang kesehatan menjadi semakin umum. Banyak teman saya saling berbagi pengalaman tentang tekanan darah, kolesterol, gula darah, atau sendi yang mulai kaku. Ada yang bertukar informasi tentang obat dan suplemen, ada pula yang membicarakan pola makan atau olahraga. Semua itu wajar, bahkan baik, karena semakin tua seseorang, semakin ia menyadari bahwa kesehatan jasmani bukan sesuatu yang bisa disepelekan. Tubuh ini adalah anugerah Tuhan yang harus dijaga, sebab tanpa tubuh yang sehat, aktivitas dan pelayanan pun menjadi terbatas.

Namun di tengah kesadaran besar untuk menjaga kesehatan jasmani, sering kali kita lupa bahwa ada jenis kesehatan lain yang jauh lebih penting — yaitu kesehatan rohani. Banyak orang sanggup menempuh diet ketat, bangun pagi untuk berjalan kaki, dan minum vitamin dengan disiplin, tetapi jarang memberi waktu untuk menyehatkan jiwanya. Padahal, tubuh yang kuat tidak menjamin hati yang tenang; otot yang berisi tidak menjamin iman yang teguh. Dan pada akhirnya, ketika usia semakin lanjut dan tenaga semakin berkurang, justru kesehatan rohanilah yang paling menentukan bagaimana seseorang menapaki sisa hidupnya dengan damai dan bersyukur.

Penulis surat Ibrani mengajak kita memandang hidup sebagai perlombaan iman. Kita semua sedang berlari di lintasan kehidupan menuju garis akhir, di mana Tuhan menanti. Dalam perjalanan itu, ada banyak hal yang bisa memperlambat langkah: dosa yang belum ditinggalkan, dendam dan kepahitan yang disimpan, rasa takut, kekhawatiran, dan keinginan yang tak terkendali. Semua itu seperti beban berat yang kita bawa saat berlari. Firman Tuhan berkata, “Marilah kita membuang dari hidup kita semua yang memperlambat kita.” Artinya, kita diajak untuk menanggalkan segala hal yang membuat langkah iman kita terseret, agar bisa berlari dengan ringan dan penuh ketekunan.

Kesehatan rohani, sama seperti kesehatan jasmani, memerlukan perawatan yang terus-menerus. Roh yang sehat tidak muncul begitu saja, tetapi tumbuh dari kebiasaan hidup yang benar: pergi ke gereja secara teratur, membaca firman Tuhan, berdoa dengan tulus, bersyukur dalam segala hal, dan hidup dalam pengampunan. Orang yang sehat rohaninya tidak berarti tidak pernah sedih atau marah, tetapi ia tahu ke mana harus membawa kesedihan dan kemarahannya — kepada Tuhan. Ia mungkin menghadapi banyak masalah, tetapi hatinya tidak dikuasai kecemasan. Ia mungkin menua secara fisik, tetapi rohnya tetap muda karena setiap hari diperbarui oleh kasih karunia Tuhan.

Dalam surat Ibrani pasal 11, penulis menyebut banyak tokoh iman: Nuh, Abraham, Musa, dan yang lain. Mereka bukanlah orang-orang yang sempurna, tetapi adalah contoh orang-orang yang hidupnya dipimpin oleh iman, bukan oleh rasa takut. Mereka menanggung penderitaan, bahkan kematian, namun tetap setia. Itulah sebabnya mereka disebut “awan saksi iman” — seolah-olah mereka kini menjadi penonton yang menyemangati kita dari tribun kehidupan. Kesadaran itu memberi kekuatan: kita tidak sendirian. Ada banyak orang percaya yang telah berlari lebih dulu dan berhasil menyelesaikan perlombaan mereka dengan iman yang tetap utuh. Allah yang memampukan mereka adalah Allah yang sama yang menolong kita hari ini.

Dan di atas semua itu, Yesus sendiri menjadi teladan utama dari hidup yang sehat secara rohani. Ia tidak hanya mengajarkan bagaimana kita harus hidup, tetapi Ia sendiri meneladankannya. Ia menghadapi pencobaan dan penderitaan, tetapi tidak pernah goyah dalam ketaatan kepada Bapa. Ia menanggung salib bukan karena lemah, tetapi karena tahu bahwa penderitaan itu adalah bagian dari rencana Allah yang sempurna. Kesehatan rohani Yesus terletak pada ketaatan-Nya yang penuh kasih — ketaatan yang tidak tergoyahkan oleh rasa sakit, hinaan, atau kesepian.

Ketika kita menatap kepada Yesus, kita belajar bahwa hidup rohani yang sehat berarti hidup yang mau taat, sekalipun jalan yang ditempuh tidak mudah. Sehat rohani bukan berarti bebas dari masalah, tetapi kuat menghadapi masalah dengan iman. Sehat rohani berarti terus berharap walau belum melihat hasilnya, terus berdoa walau belum menerima jawaban, dan terus mengasihi walau mungkin tidak dibalas dengan kasih.

Pada umumnya, kebugaran jasmani mulai menurun di usia 40-an karena metabolisme yang melambat, massa otot yang berkurang sekitar 1% per tahun, dan daya tahan tubuh yang menurun. Perubahan ini dapat menyebabkan peningkatan berat badan dan penurunan kekuatan, namun perubahan ini normal dan dapat dikelola dengan gaya hidup sehat. Bagi banyak orang berumur, masa hidup sekarang adalah waktu di mana tubuh mulai memberi tanda-tanda keterbatasan. Tetapi justru di sinilah iman diuji. Tubuh boleh melemah, tetapi roh harus tetap kuat. Orang yang sehat rohaninya akan memandang hari tua bukan sebagai beban, tetapi sebagai kesempatan baru untuk bersyukur dan menjadi berkat. Ia tidak pahit terhadap masa lalu, tidak cemas terhadap masa depan, tetapi hidup dengan damai karena tahu bahwa hidupnya ada di tangan Tuhan.

Kesehatan rohani membuat seseorang tetap memancarkan cahaya Kristus meski tubuhnya tidak lagi sekuat dulu. Ia tetap sabar, penuh kasih, dan mudah mengampuni. Ia tidak lagi sibuk mengejar pengakuan manusia, karena hatinya sudah dipenuhi oleh kasih Allah. Ia tahu bahwa sukacita sejati tidak datang dari keadaan, melainkan dari hubungan yang hidup dengan Sang Pencipta. Orang yang rohnya sehat akan menjadi sumber penghiburan bagi sekitarnya. Kehadirannya membawa ketenangan, bukan kegelisahan; membawa semangat, bukan keluhan.

Menjaga kesehatan rohani tidak perlu menunggu masa pensiun atau masa tua. Sama seperti tubuh yang perlu dirawat sejak muda, jiwa pun harus dipelihara sejak awal. Jika tubuh perlu makanan bergizi, roh kita pun perlu makanan rohani: firman Tuhan setiap hari. Jika tubuh perlu bergerak untuk tetap bugar, roh kita pun perlu dipraktikkan melalui pelayanan, kasih, dan pengampunan. Jika tubuh perlu istirahat, roh kita pun perlu hening — waktu tenang untuk bersekutu dengan Tuhan, memeriksa hati, dan menerima pembaruan dari-Nya.

Pada akhirnya, hidup ini bukan tentang siapa yang paling cepat sampai garis akhir, tetapi siapa yang tetap setia sampai garis akhir. Paulus berkata dengan yakin, “Aku telah mengakhiri pertandingan yang baik, aku telah mencapai garis akhir dan aku telah memelihara iman.” Itulah tujuan yang sejati. Sehat jasmani memang penting agar kita bisa terus melayani dan bekerja, tetapi sehat rohani jauh lebih penting karena menentukan arah hidup dan masa depan kekal kita.

Ketika tubuh tak lagi kuat dan langkah mulai melambat, roh yang sehat akan menjadi kekuatan yang menopang. Dan ketika akhirnya kita mencapai garis akhir, biarlah kita dapat berkata dengan damai, “Aku telah berlari dan tidak menyerah.” Sebab pada saat itu, yang menanti kita bukan sekadar akhir dari perjuangan, melainkan awal dari kemuliaan kekal bersama Tuhan yang telah menuntun kita sepanjang jalan.

Doa Penutup:

Tuhan Yesus, terima kasih karena Engkau telah memberi kami hidup dan tubuh untuk dijaga, tetapi lebih dari itu, Engkau memberi kami roh yang harus dipelihara. Tolong kami agar tidak hanya sibuk merawat jasmani kami, tetapi juga menjaga kesehatan rohani kami setiap hari. Beri kami kekuatan untuk tetap beriman, tetap berharap, dan tetap mengasihi sampai kami mencapai garis akhir dengan mata tertuju kepada-Mu. Dalam nama Yesus kami berdoa. Amin.

Bagaimana seharusnya kita melangkah dalam hidup?

“Hati manusia memikir-mikirkan jalannya, tetapi Tuhanlah yang menentukan arah langkahnya.” ‭‭Amsal‬ ‭16‬:‭9‬‬

Selama berabad-abad, para teolog telah memperdebatkan apa artinya bagi pria dan wanita untuk diciptakan menurut gambar Allah (Kejadian 1:26-27). Belum ada definisi yang diterima secara universal, tetapi terdapat kesepakatan luas mengenai setidaknya beberapa hal yang membentuk gambar ilahi. Salah satu aspeknya adalah bahwa manusia memiliki pikiran dan kehendak. Sebagian orang memikirkan kemampuan ini sebagai kehendak bebas (free will). Seperti Allah, kita memiliki niat, kita membuat rencana, dan kita memilih tindakan tertentu. Lebih lanjut, kita semua merasa setidaknya bisa mengendalikan apa yang kita biasa lakukan setiap hari, seperti makan apa, berbaju warna apa dan sebagainya. Betapa pun kita mencoba menyangkalnya, kita semua merasa bertanggung jawab atas pilihan kita (Rm. 1:18-2:29).

Pada pihak yang lain, Alkitab mengajarkan kita untuk tidak pernah membiarkan kenyataan ini membodohi kita dengan percaya bahwa kita memiliki keputusan akhir atas apa yang kita capai. Free will adalah kemampuan untuk memilih, tetapi bukan untuk memastikan bahwa apa yang kita kehendaki akan terjadi. Ada satu kehendak yang selalu mengalahkan kehendak kita, yaitu kehendak ilahi. Allah, “yang mengerjakan segala sesuatu menurut keputusan kehendak-Nya” (Efesus 1:11), memiliki keputusan akhir karena Dialah yang menetapkan langkah-langkah kita, seperti yang kita baca dalam bacaan hari ini. KIta mungkin tidak sadar bahwa Tuhan bisa mengizinkan atau menolak pilihan kita, bisa menyuruh atau menetapkan kita untuk berbuat atau mengalami sesuatu, dan apa yang terjadi adalah sesuai dengan apa yang ditetapkan-Nya.

Dalam tafsirannya atas kehendak bebas manusia dan kedaulatan Tuhan, Matthew Henry mencatat bahwa setiap manusia adalah “makhluk yang berakal budi, yang memiliki kemampuan untuk merancang bagi dirinya sendiri” dan “makhluk yang bergantung, yang tunduk pada arahan dan kekuasaan Penciptanya.” Ini adalah suatu paradox. Paradoks adalah sebuah pernyataan atau proposisi yang tampaknya tidak masuk akal atau bertentangan, namun jika diselidiki dapat terbukti berdasar atau benar. Kita harus berpegang teguh bahwa manusia memiliki kebebasan untuk membuat keputusan mereka sendiri, sementara pada saat yang sama pilihan mereka berada di bawah kedaulatan Tuhan.

Kebebasan manusia berarti kita selalu melakukan apa yang ingin kita lakukan dalam situasi apa pun. Memang, banyak situasi tampaknya tidak memberi kita pilihan yang baik. Namun demikian, begitu kita berada dalam situasi seperti itu, kita selalu memilih pilihan yang tampaknya terbaik bagi kita. Jika semua hal sama, kita biasanya tidak ingin seseorang melukai kita, tetapi jika pilihannya adalah antara melukai kita untuk mengangkat usus buntu yang meradang atau meninggal karena radang usus buntu, pilihan operasi kita menunjukkan bahwa kita lebih ingin hidup daripada mati. Kita bebas memilih operasi karena saat itu itulah yang paling ingin kita lakukan.

Walaupun demikian, karena adanya kedaulatan Allah, pilihan kita itu terkadang dibuat sesuai dengan hasil yang telah Dia tetapkan, dan kita mencapai apa yang kita inginkan. Di lain waktu, pilihan yang telah kita tetapkan tidak sesuai dengan hasil yang telah Dia tetapkan, dan rencana kita pun gagal. Namun dalam kedua kasus tersebut, tujuan Allah tidak pernah gagal. Langkah kita ditetapkan sesuai dengan apa yang telah Dia rancang (Amsal 16:9), karena Dia memiliki keputusan akhir dalam ciptaan-Nya.

Kebebasan manusia dan kedaulatan ilahi berada dalam hubungan yang kompleks dan misterius. Meskipun Allah menetapkan semua pilihan kita—bahkan pilihan yang akhirnya gagal karena tidak sesuai dengan hasil yang telah Dia tetapkan—kita tidak pernah dapat menyalahkan-Nya atas dosa dan kekeliruan kita. Kita juga tidak dapat lepas dari tanggung jawab atas tindakan kita. Kita telah salah memahami firman Tuhan jika kita menganggap pilihan-pilihan kita merupakan penentu akhir perjalanan hidup kita, tetapi kita juga telah salah memahaminya jika kita mengingkari kebebasan dan tanggung jawab manusia.

Apa yang Anda lakukan ketika menghadapi keputusan penting? Anda berdoa, memohon hikmat dari Tuhan. Anda mencari nasihat dari orang percaya yang dewasa, yang melalui pengalaman dan hikmat mereka membantu Anda memikirkan apa yang baik. Anda mempelajari Firman Tuhan, yang menyingkapkan motif dan niat hati Anda. Anda pergi ke gereja, di mana Anda menemukan dorongan dan persekutuan untuk menopang iman Anda.

Anda ingin rencana Anda (dan keinginan terdalam Anda) mencerminkan rencana Tuhan. Anda bertumbuh dalam pemahaman Anda akan Firman Tuhan, sehingga hidup Anda dapat menjadi cerminan (meskipun terkadang redup) dari apa yang penting bagi-Nya. Karena itu, Anda harus merencanakan dengan bijaksana, penuh kasih, dan cermat.

Anda seharusnya merasa terhibur karena Tuhan yang menetapkan rencana-rencana Anda: “TUHANlah yang menentukan langkahnya” (Amsal 16:9). Tidak ada yang terjadi tanpa Tuhan. Dia berdaulat atas segalanya, termasuk rencana-rencana kita. Seperti yang dikatakan Amsal 16:1, “Manusia dapat merencanakan dalam hati.” Saya mungkin berkata, “Ini rencanaku,” tetapi Tuhan yang menetapkan rencanaku. Dia yang membuatnya berhasil atau membiarkannya gagal. Dia yang mengendalikan apa yang terjadi. Itu seharusnya melenyapkan kesombongan Anda atas keyakinan yang Anda tanamkan pada rencana-rencana Anda. Tidak ada yang Anda rencanakan terjadi di luar kehendak Tuhan.

Jika Tuhan menetapkan segalanya, apakah kita adalah robot-robot-Nya? Bukan! Kita bukan robot yang sudah diprogram sebelumnya. Tuhan memberi kita kebebasan untuk merencanakan dan mengatur jalan ke depan. Sebagai manusia yang digambarkan dalam gambar-Nya, kita diberi kemampuan untuk menyusun strategi, membentuk, dan memilih. Jika kita mendapat tawaran pekerjaan yang bagus di kota lain, kita akan mencari nasihat, berdoa, dan membaca Firman Tuhan, tetapi pada akhirnya, kita memutuskan untuk menerima atau menolak tawaran itu.Tuhan berjalan di depan Anda untuk menetapkan jalan Anda. Dia yang mengatur jalan Anda. Apakah Anda selalu mendapatkan apa yang Anda rencanakan? Tidak. Sama seperti seorang anak yang orang tuanya melihat apa yang terbaik untuknya, Tuhan tahu apa yang terbaik untuk kita.

Perhatikan akhir dari Amsal 16:1: “Manusia dapat menimbang-nimbang dalam hati, tetapi jawaban lidah berasal dari pada TUHAN.” Tuhan menciptakan mulut Anda. Dia memberi Anda ucapan dan kata-kata. Anda mungkin membuat dan bisa menguraikan rencana yang rumit, tetapi keputusan akhir datang dari-Nya. Jika Anda menghadapi masa depan yang tidak pasti, sungguh melegakan bahwa rencana Anda tidak terjadi di luar tangan Tuhan. Tuhan yang menentukan masa depan Anda. Dia memegang hidup Anda di tangan-Nya.

Seseorang dapat merencanakan setiap aspek kehidupannya; namun Allah-lah yang pada akhirnya memutuskan apa yang akan terjadi. Para penulis Perjanjian Baru seperti Paulus (Roma 9:20-21) dan Yakobus (Yakobus 4:13-15) memperkuat gagasan ini. Ayub 42:2 menyatakan, “Aku tahu, bahwa Engkau dapat melakukan segala sesuatu, dan bahwa tidak ada rencana-Mu yang gagal”. Itu tidak berarti usaha perencanaan manusia itu salah—tetapi apa yang kita rencanakan perlu dipersiapkan dengan semangat kerendahan hati dan ketaatan kepada Dia yang mahakuasa.

Yesaya 53:6 menggambarkan manusia sebagai domba yang telah menyimpang dari Allah. Kita semua telah tersesat, dan betapapun cerdasnya seseorang, ia tidak dapat melawan kebijaksanaan Tuhan.

“Aku tahu, ya TUHAN, bahwa manusia tidak berkuasa untuk menentukan jalannya, dan orang yang berjalan tidak berkuasa untuk menetapkan langkahnya.” Yeremia 10:23

Namun demikian, jika seseorang mencari kehendak Allah dan berjalan oleh Roh dalam terang Firman Allah, Tuhan akan berkenan dan membimbing langkahnya. Semoga kita sadar bahwa frasa “Ora et Labora” (berdoa dan bekerja) adalah satu hal yang harus kita praktikkan dalam hidup ini.

Orang Kristen yang suam-suam kuku

“Aku tahu segala pekerjaanmu: engkau tidak dingin dan tidak panas. Alangkah baiknya jika engkau dingin atau panas! Jadi karena engkau suam-suam kuku, dan tidak dingin atau panas, Aku akan memuntahkan engkau dari mulut-Ku.” Wahyu 3:15-16

Wahyu 3:14–22 adalah pesan terakhir dan paling keras dari Yesus, yang ditujukan kepada gereja di Laodikia. Kita belajar dari penilaian ini bahwa gereja Laodikia suam-suam kuku, sombong, dan puas diri. Mereka membanggakan kekayaannya dan tidak membutuhkan apa pun. Namun gereja Laodikia menipu dirinya sendiri. Dalam hal kondisi rohaninya, gereja itu malang, menyedihkan, miskin, buta, dan telanjang. Yesus mendesak gereja untuk berpaling kepada-Nya, karena Ia berada di luar gereja, mengundang siapa pun yang mendengar suara-Nya untuk membuka pintu dan menyambut-Nya. Laodikia adalah satu-satunya gereja dari tujuh gereja yang hanya menerima teguran, dan tidak mendapat komentar positif.

Surat-surat terakhir di Alkitab ini melambangkan sejarah Gereja dari tahun 1500 M hingga saat kepindahan orang percaya dari bumi untuk pergi bersama Yesus. Orang Kristen di Laodikia bangga dengan kekayaannya, tetapi secara rohani suam-suam kuku, suatu karakteristik yang dibenci Yesus. Ia berjanji untuk bersekutu dengan siapa pun di gereja yang akan mengindahkan suara-Nya dan menyambut-Nya. Laodikia adalah satu-satunya gereja yang tidak dipuji oleh Kristus karena acuh tak acuh kepada Yesus.

Tidak ada yang luput dari perhatian Yesus. Dalam ayat ini, Ia memberi tahu jemaat Laodikia bahwa Ia mengetahui kondisi jemaat itu. Ia berkata jemaat itu tidak dingin atau panas, meskipun Ia lebih suka jika jemaat itu salah satu atau yang lain. Kutukan terhadap iman yang “suam-suam kuku” ini membawa konsekuensi yang mengerikan. Pada masa itu, air bersuhu ruangan adalah air yang berbahaya. Air dingin menunjukkan air segar dari mata air atau sungai yang mengalir, dan air panas adalah air yang telah dimasak atau dibersihkan. Apa pun di antara keduanya, tentu saja mencurigakan dan mungkin tidak berharga.

Jemaat di Laodikia tidak bersemangat atau dingin. Jemaat itu hanya puas mempertahankan posisi status quo. Jemaat itu tidak bersemangat tentang masalah-masalah aktuil kehidupan Kristen atau tidak berperasaan tentang hal-hal itu. Mereka tidak peduli akan keadaan di sekitarnya karena merasa aman dalam keadaan mereka sendiri. Mereka merasa sudah terpilih dan tidak mungkin kehilangan keselamatan mereka. Sementara Yesus tidak memberikan teguran kepada jemaat di Filadelfia, Ia tidak memberikan pujian kepada jemaat Laodikia. Tidak seperti jemaat di Sardis yang menyadari adanya hal-hal yang kurang dan perlu dikuatkan, jemaat di Laodikia yakin tidak memiliki apa pun yang perlu diperbaiki. Dalam beberapa hal, jemaat-jemaat yang ada saat ini tidak panas atau dingin.

Seperti itu juga keadaan beberapa gereja di zaman ini. Mereka hanya terus melakukan kegiatan tradisional yang sama, menawarkan ajaran “teologi unggulan” yang seakan menjamin keselamatan para pengunjung, mengikuti gerakan-gerakan liturgi yang “steril”, dan dengan demikian membuat para anggotanya bersikap pasif dalam usaha untuk hidup dalam kekudusan. Mereka juga tidak tertarik untuk giat menginjil karena semua itu dianggap kurang berguna sebab Tuhan yang mahakuasa sudah menetapkan segalanya.

Aspek lain dari keinginan Yesus agar gereja saat ini menjadi “panas atau dingin” berkaitan dengan bagaimana kita menanggapi Injil. Mereka yang “panas” dalam hal-hal rohani terlibat secara mendalam dan berkomitmen pada iman. Namun, mereka yang dingin, setidaknya berada dalam posisi di mana mereka mengakui kelemahan mereka dan dengan demikian dapat diubah oleh pekerjaan Roh Kudus. Mereka yang “suam-suam kuku” memiliki cukup pengetahuan teologi tentang Kristus sehingga mereka tidak menolak Yesus, tetapi tidak memiliki cukup iman sejati untuk terlibat sepenuhnya dalam hidup sehari-hari. Hidup mereka tidak pernah berubah dari cara hidup lamanya. Kondisi itu, sebenarnya, lebih sulit diubah daripada mengubah orang yang tidak percaya yang sepenuhnya dingin!

Perlu diketahui, Laodikia tidak memiliki sumber air sendiri. Mereka bergantung pada kota Hierapolis di dekatnya untuk mendapatkan airnya. Hierapolis dibangun di sekitar banyak sumber air panas, sehingga mereka menikmati pasokan air panas yang melimpah yang dikirim ke Laodikia melalui saluran air. Akan tetapi, pada saat air mencapai Laodikia, air tersebut telah mendingin hingga suhu suam-suam kuku. Air tersebut perlu didinginkan atau dipanaskan kembali sebelum layak untuk dikonsumsi. Rasa suam-suam kuku dari kehidupan keagamaan jemaat Laodikia membuat Yesus merasa sangat sakit sehingga Ia ingin memuntahkan jemaat itu dari mulut-Nya.

Dalam ayat ini Yesus menggambarkan jemaat di Laodikia sebagai jemaat yang suam-suam kuku. Pada zaman dahulu, orang-orang biasa minum minuman panas atau dingin pada pesta-pesta mereka dan dalam persembahan keagamaan mereka, tetapi mereka tidak pernah minum minuman yang suam-suam kuku. Air seperti itu tidak enak diminum, dan ada alasannya: cairan tersebut lebih mungkin mengandung kuman. Sekarang, pada hari yang panas, orang-orang merasa minuman dingin menyegarkan, dan pada hari yang dingin mereka merasa minuman panas menyegarkan, tetapi tidak seorang pun yang menyukai minuman yang suam-suam kuku.

Ini juga merupakan analogi yang berguna untuk penginjilan. Mereka yang “panas” secara rohani terlibat dalam iman mereka. Mereka yang “dingin” memiliki kesempatan untuk dipengaruhi dengan cara yang kuat oleh Injil. Namun, mereka yang “suam-suam kuku” sebenarnya berada dalam kondisi yang lebih buruk daripada mereka yang “dingin.” Mereka tahu “cukup” tentang Yesus, jadi mereka tidak menolak, tetapi mereka juga agak tidak peduli dengan suara-Nya. Dari sudut pandang Yesus, sebenarnya lebih baik untuk menjadi “dingin” secara rohani, karena itu berarti mereka lebih mungkin memperhatikan panggilan Tuhan.

Sungguh indah untuk diingat pagi ini bahwa Juruselamat kita tidak mencurahkan diri-Nya bagi kita dengan cara yang suam-suam kuku. Dia tidak merendahkan diri-Nya kepada kita dengan cara yang ragu-ragu. Dia tidak canggung dengan pergaulan-Nya dengan para murid-Nya. Sebaliknya, Dia menjadi Gembala Utama kita, dan sudah menyerahkan nyawa-Nya bagi domba-domba-Nya. Allah tidak akan menoleransi kekristenan yang suam-suam kuku atau hati yang hanya sebagian menjadi milik-Nya. Mereka yang acuh tak acuh mungkin saja belum pernah menerima uluran tangan-Nya!

Tetap tenteram setiap hari

“Tak berkesudahan kasih setia Tuhan, tak habis-habisnya rahmat-Nya, selalu baru tiap pagi; besar kesetiaan-Mu!” Ratapan 3:22–23

Nabi Yeremia menulis kitab Ratapan dalam suasana duka yang mendalam. Yerusalem telah hancur, bait Allah dibakar, dan bangsa Yehuda dibuang ke negeri asing. Segala sesuatu yang menjadi kebanggaan mereka hilang. Namun, justru di tengah reruntuhan itulah Yeremia menulis kata-kata yang penuh pengharapan: “Kasih setia Tuhan tidak berkesudahan, rahmat-Nya selalu baru tiap pagi.”

Kata-kata ini seperti setetes embun di tanah gersang. Bukan diucapkan dalam kenyamanan, tetapi di tengah penderitaan. Di saat semua tampak gelap, Yeremia menemukan bahwa kasih Tuhan justru tidak padam. Ia menyadari bahwa kesetiaan Tuhan tidak bergantung pada keadaan, tetapi pada karakter-Nya yang kekal.

Renungan ini mengajak kita menelusuri makna kasih setia Tuhan yang tak berkesudahan dan rahmat-Nya yang selalu baru tiap pagi, agar kita dapat hidup dengan hati yang tenteram setiap hari, meski dunia di sekitar kita berubah.

Apa arti “Tak berkesudahan kasih setia Tuhan.”? Frasa ini menegaskan bahwa kasih Tuhan tidak mengenal batas waktu maupun keadaan. Ia tidak berubah ketika kita jatuh, tidak berkurang ketika kita gagal, dan tidak berhenti ketika kita ragu.

Banyak orang mengukur kasih Tuhan dari keberhasilan atau kenyamanan yang mereka rasakan. Ketika doa dijawab, mereka bersukacita; tetapi ketika pergumulan datang, mereka merasa ditinggalkan. Yeremia menunjukkan bahwa kasih Tuhan tetap hadir bahkan di tengah kehancuran.

Kasih setia Tuhan adalah seperti matahari yang tetap terbit walau langit tertutup awan. Saat ini, kita mungkin tidak melihatnya, tetapi cahayanya tetap ada. Ia setia bukan karena kita layak, tetapi karena Ia adalah kasih itu sendiri.

Apa arti “Selalu baru tiap pagi.”? Setiap pagi adalah bukti konkret bahwa Allah memberi kita kesempatan baru. Napas yang masih kita hirup adalah tanda bahwa Ia belum selesai dengan hidup kita.

Rahmat Tuhan tidak menumpuk seperti sisa makanan kemarin; Ia selalu segar, selalu baru, selalu cukup untuk hari ini. Seperti manna di padang gurun, Tuhan menyediakan kasih karunia yang cukup untuk setiap hari—tidak lebih, tidak kurang.

Terlalu sering kita hidup dengan bayangan masa lalu: kesalahan, penyesalan, atau rasa malu. Namun Firman Tuhan mengingatkan, rahmat Tuhan membebaskan kita dari belenggu itu. Apa pun yang terjadi kemarin, hari ini selalu ada kesempatan untuk memperbaiki, untuk mengasihi, untuk melangkah lagi.

Ketika dunia terasa berat, renungkanlah bahwa setiap pagi Tuhan berbisik: “Aku masih di sini. Mulailah lagi bersama-Ku.”

Ungkapan “Besar kesetiaan-Mu” menunjukkan bahwa kesetiaan Tuhan adalah jangkar bagi jiwa kita di tengah badai kehidupan. Dunia berubah, manusia berubah, bahkan hati kita pun kadang berubah—tetapi Allah tidak pernah berubah.

Janji-Nya tidak pernah gagal. Ketika Ia berfirman bahwa Ia akan menyertai kita, itu bukan janji kosong. Mungkin kita tidak selalu melihat kehadiran-Nya secara nyata, tetapi Ia bekerja dalam diam, menuntun langkah-langkah kita satu demi satu.

Kesetiaan Tuhan juga berarti bahwa apa pun yang telah dimulai-Nya dalam hidup kita akan Ia selesaikan. Seperti seorang pelukis yang tidak berhenti sebelum karyanya sempurna, Tuhan sedang membentuk hidup kita menjadi indah sesuai rencana-Nya.

Jika kasih setia Tuhan tak berkesudahan dan rahmat-Nya selalu baru, maka tidak ada alasan untuk hidup dalam kegelisahan yang terus-menerus.

Tenteram bukan berarti hidup tanpa masalah, tetapi hati yang damai karena tahu bahwa Allah memegang kendali.

Ketenteraman lahir ketika kita berhenti berjuang sendiri dan mulai menyerahkan kendali hidup kepada Tuhan. Ia tidak pernah menjanjikan jalan yang selalu mudah, tetapi Ia menjanjikan kehadiran-Nya di sepanjang jalan.

Hidup tenteram juga berarti belajar menikmati kasih Tuhan dalam hal-hal kecil: secangkir kopi hangat, senyum keluarga, udara pagi yang sejuk, dan firman yang meneguhkan hati. Semua itu adalah bentuk kecil dari rahmat yang besar.

Kasih dan rahmat Tuhan yang baru setiap hari juga mengundang kita untuk memperbarui kasih kita kepada sesama. Mungkin kemarin kita gagal bersabar, gagal memahami orang lain, atau gagal mengampuni. Tetapi hari ini, Tuhan memberi kesempatan baru untuk mencintai lebih tulus, mengampuni lebih cepat, dan melayani lebih setia.

Ketika kita hidup dari rahmat, kita pun terdorong untuk menyalurkan rahmat. Dunia membutuhkan lebih banyak orang yang berani memulai kembali dengan hati yang lembut. Itulah tanda bahwa kasih Tuhan benar-benar hidup dalam diri kita.

Kasih Tuhan tidak habis, rahmat-Nya selalu baru, dan kesetiaan-Nya tidak pernah gagal. Itulah dasar dari ketenteraman sejati. Dunia boleh berubah, hidup boleh berguncang, tetapi hati yang berlabuh pada kasih Tuhan akan tetap damai.

Hidup hari ini bukan karena kekuatan kita, melainkan karena kasih dan rahmat-Nya yang baru setiap pagi. Maka berjalanlah dengan tenang, bersyukurlah dengan tulus, dan percayalah bahwa kasih Tuhan akan terus memelihara langkah kita.

Pertanyaan Reflektif:

  • Apakah saya menyadari bahwa setiap hari adalah anugerah baru dari Tuhan?
  • Apakah saya masih membawa beban masa lalu yang seharusnya sudah saya serahkan kepada Tuhan
  • Apakah saya sudah menggunakan kesempatan hari ini untuk menjadi berkat bagi orang lain?

Doa Penutup:

Tuhan yang setia, Terima kasih untuk rahmat-Mu yang selalu baru. Di saat aku terjatuh, Engkau mengulurkan tangan. Di saat aku lemah, Engkau menguatkan.

Ajarlah aku melihat setiap pagi sebagai kesempatan baru untuk hidup dalam kasih-Mu dan membagikan rahmat-Mu kepada sesama.

Biarlah hatiku tenteram, karena Engkau tetap setia, kemarin, hari ini, dan selamanya. Dalam nama Yesus aku berdoa. Amin.

Uang bukan akar segala kejahatan

“Karena akar segala kejahatan ialah cinta uang. Sebab oleh memburu uanglah beberapa orang telah menyimpang dari iman dan menyiksa dirinya dengan berbagai-bagai duka.” 1 Timotius 6:10

Kitab 1 Timotius 6 melengkapi instruksi Paulus yang sangat praktis kepada sahabat dan muridnya, Timotius. Fokus utama dari bagian ini adalah hal perilaku Kristen yang benar, dan hal menghindari kejahatan. Paulus menyebutkan beberapa kelemahan karakter yang umum pada mereka yang mengajarkan doktrin palsu. Ia juga memberikan peringatan keras tentang bahaya keserakahan dan materialisme. Mereka yang terobsesi dengan kekayaan membuka diri terhadap hampir semua dosa lain yang dapat dibayangkan. Dalam hal ini, Timotius diberi mandat yang jelas untuk menjunjung tinggi iman dan kesaksiannya, disertai berkat dan dorongan dari Paulus.

Frasa pembuka ayat 1 Timotius 6:10 adalah sangat terkenal sekaligus samar. Frasa ini terkenal karena menjadi inspirasi bagi pepatah umum yang dikenal orang di seluruh dunia: “uang adalah akar segala kejahatan.” Pada kenyataannya, ayat tersebut tidak mengatakan hal seperti itu. Kekayaan dan kesuksesan sama baik atau buruknya dengan apa yang seseorang bisa lakukan dengannya. Sebaliknya, yang dicela adalah cinta akan uang. Jadi, uang bukanlah akar segala dosa. Keserakahan, dan obsesi terhadap uang adalah yang membentuk dasar dari berbagai-bagai jenis dosa atau kejahatan.

Kata Yunani untuk “berbagai-bagai” yang digunakan di sini adalah pantōn. Ini secara harfiah dapat berarti “semua” dalam arti “setiap orang,” tetapi juga digunakan dalam arti yang lebih non-harfiah. Misalnya, kata dasar yang sama digunakan dalam Matius 3:5 untuk mengatakan bahwa “seluruh Yudea” datang untuk dibaptis. Kata ini juga digunakan dalam Kolose 1:6 ketika mengatakan bahwa “seluruh dunia” melihat Injil menghasilkan buah. Di sini, seperti dalam Matius dan Kolose, makna “berbagai-bagai” tampaknya lebih cocok sebagai “setiap jenis,” bukan secara harfiah “mutlak setiap dosa.”

Dengan kata lain, intinya bukanlah bahwa semua dosa selalu merupakan akibat dari keserakahan materi. Melainkan, intinya adalah bahwa cinta akan uang dapat menuntun seseorang kepada hampir semua dosa lainnya. Keserakahan dapat meningkatkan, mengilhami, dan memperbesar godaan untuk melakukan dosa lainnya, dan menuntun kita kepada bencana. Inilah sebabnya Paulus melanjutkan dengan mengatakan bahwa orang percaya yang tergoda oleh cinta akan uang dapat meninggalkan hubungan yang dekat dengan Allah. Mereka cenderung menukar hidp dalam kekudusan dengan fokus membangun kekayaan demi keuntungan dan kepuasan pribadi. Paulus mencatat bahwa mereka yang telah melakukannya telah “menyiksa dirinya dengan berbagai-bagai duka” atau “menusuk diri mereka sendiri dengan banyak kepedihan.” Gambaran kata yang digunakan di sini adalah luka yang ditimbulkan sendiri.

Seiring dengan ketamakan yang merupakan pilihan manusia, ada ungkapan “apa yang Anda pilih adalah apa yang Anda dapatkan”, yang berarti bahwa kualitas hidup Anda adalah hasil langsung dari pilihan yang Anda buat. Hidup Anda bukan hanya sesuatu yang terjadi pada Anda, tetapi jalan yang secara aktif diciptakan oleh keputusan Anda, dari yang mengubah hidup yang besar hingga tindakan dan reaksi kecil sehari-hari. Dengan pimpinan Roh Kudus, Anda bia memilih dengan bijak; ini berarti menyelaraskan pilihan Anda dengan apa yang disukai Tuhan.

Dalam banyak hal, Anda bertanggung jawab atas hasil hidup Anda karena setiap manusia diberi kemampuan untuk memilih jalan hidupnya. Ini memberi Anda kendali atas bagaimana Anda menanggapi keadaan Anda. Ini bukan berarti bahwa Tuhan tidak berdaulat, tetapi dosa adalah pilihan manusia yang terjadi dengan sepengetahuan Tuhan. Manusia tidak dapat menyalahkan Tuhan atas dosanya, Tuhan tidak membuat jebakan agar manusia mencintai uang di atas segalanya.

“Apabila seorang dicobai, janganlah ia berkata: ”Pencobaan ini datang dari Allah!” Sebab Allah tidak dapat dicobai oleh yang jahat, dan Ia sendiri tidak mencobai siapa pun. Tetapi tiap-tiap orang dicobai oleh keinginannya sendiri, karena ia diseret dan dipikat olehnya. Dan apabila keinginan itu telah dibuahi, ia melahirkan dosa; dan apabila dosa itu sudah matang, ia melahirkan maut.” Yakobus 1: 13-15

Pagi ini kita harus menyadari bahwa hidup kita bukan sebuah takdir. Setiap orang harus mengambil keputusan secara sadar. Faktor kesengajaan dengan pilihan Anda—bahkan yang paling kecil pun—bisa menjadi hal yang penting. Kebiasaan sehari-hari Anda, tanggapan terhadap tantangan, dan prioritas semuanya membentuk masa depan Anda. Memang benar bahwa tidak ada yang bisa terjadi tanpa seizin Tuhan, tetapi ini bukannya meniadakan tanggung jawab manusia.

Karena itu, mulai sekarang, berfokuslah pada apa yang dapat Anda kendalikan. Meskipun Anda tidak dapat mengendalikan semuanya, Anda dapat mengontrol bagaimana Anda berpikir, bereaksi, dan apa yang Anda pilih untuk difokuskan. Setiap keputusan, besar atau kecil, meninggalkan jejak dan berkontribusi pada diri Anda, orang lain dan kehidupan yang Anda bangun. Mengenali hal ini dapat memotivasi Anda untuk membuat pilihan yang mengarah pada masa depan yang Anda inginkan.

”Janganlah kamu mengumpulkan harta di bumi; di bumi ngengat dan karat merusakkannya dan pencuri membongkar serta mencurinya. Tetapi kumpulkanlah bagimu harta di sorga; di sorga ngengat dan karat tidak merusakkannya dan pencuri tidak membongkar serta mencurinya. Karena di mana hartamu berada, di situ juga hatimu berada.” Matius 6:19-21

Adanya kasih menunjukkan adanya karunia Tuhan

“Jadi, saudara-saudariku, ketika kalian berkumpul bersama untuk makan, tunggulah dan berilah kesempatan kepada orang lain dulu.” 1 Korintus 11:33 (AMD)

Ayat ini ditulis Paulus kepada jemaat di Korintus untuk menegur kebiasaan mereka ketika merayakan perjamuan kasih. Alih-alih mencerminkan kasih Kristus, pertemuan mereka justru diwarnai egoisme, ketidaksabaran, dan perbedaan perlakuan antara yang kaya dan miskin. Dalam konteks itu, Paulus mengingatkan jemaat untuk menunggu satu sama lain — memberi kesempatan bagi semua orang untuk ikut serta dalam persekutuan dengan sikap saling menghormati dan mengasihi.

Namun, makna ayat ini jauh melampaui sekadar etika makan bersama. Ini adalah seruan untuk belajar menahan diri, mendahulukan orang lain, dan membuka hati pada tuntunan Roh Kudus dalam setiap hubungan antar manusia. Kasih yang sejati bukan sekadar perasaan hangat; kasih sejati ditunjukkan dalam kesabaran, penghargaan, dan kerendahan hati untuk tidak menjadikan diri sendiri pusat segalanya.

Di dalam kehidupan modern saat ini, kebiasaan menunggu bukanlah hal yang populer. Dunia mendorong kita untuk bergerak cepat, mengambil yang kita mau, dan memastikan kita tidak “ketinggalan.” Ini bukan saja ketika kita sedang di jalan yang ramai dengan pengemudi kendaraan yang ingin saling mendahului, tetapi juga dalam semua segi kehidupan. Namun, kasih sering kali menuntut kita untuk melambat. Menunggu adalah tindakan kasih — bukan karena kita tidak sanggup bergerak lebih cepat, tetapi karena kita mau memberi ruang bagi orang lain. Menunggu berarti kita mengakui bahwa orang lain pun berharga di mata Tuhan.

Perhatikan bahwa Paulus tidak berkata, “Ambillah lebih dulu karena kamu lebih terpandang.” Sebaliknya, ia mengajarkan untuk menunggu dan memberi kesempatan. Inilah sikap hati seorang murid Kristus yang telah disentuh oleh kasih karunia-Nya. Ketika hati dipenuhi kasih, kita tidak merasa dirugikan saat memberi jalan bagi orang lain. Sebaliknya, ada sukacita batin karena kita ikut memperluas ruang kasih di tengah komunitas.

Jika kita jujur, salah satu ujian kasih terbesar adalah saat kita merasa harus menunggu orang lain atau mengalah kepada mereka yang “tingkatnya lebih rendah”. Di jalan raya, kita mungkin merasa mampu untuk mendahului yang lain dengan mobil sport kita yang lincah, atau karena kita mengendarai sebuah mobil utility besar yang bisa menakut-nakuti pengemudi mobil lain. Dalam keluarga, sering kali kita tidak sabar terhadap anak-anak atau pasangan. Dalam gereja, kita mudah jengkel terhadap anggota gereja yang lamban. Dalam masyarakat, kita kesal pada mereka yang dianggap “menghambat.” Namun, justru dalam momen-momen seperti inilah kasih diuji dan dimurnikan.

Masalahnya, sebagai orang Kristen kita masig sering terjebak dalam perasaan “saya mau duluan” (me first!). Kita mungkin sudah lam berusaha untuk menghindari hal ini, tetapi itu tetap saja kita lakukan. Ini persis seperi apa yang dialami rasul Paulus.

“Sebab bukan apa yang aku kehendaki, yaitu yang baik, yang aku perbuat, melainkan apa yang tidak aku kehendaki, yaitu yang jahat, yang aku perbuat” Roma 7:19

Ini merujuk pada pergumulan batin di mana ia berkehendak melakukan hal baik, namun justru melakukan hal jahat yang ia benci. Paulus menggambarkan bagaimana ia merasa tidak berdaya melawan dosa dan hukum dosa yang ada dalam dirinya, sampai ia menemukan jalan keluar melalui Yesus Kristus dan kuasa Roh Kudus. Paulus menemukan jawaban dari pergumulannya ini bukan dengan usaha sendiri untuk menaati hukum, tetapi dengan bergantung pada kasih karunia, kemurahan, dan kekuatan Yesus Kristus, serta kuasa Roh Kudus yang memerdekakan dari perbudakan dosa.

Kasih sejati memang tidak bersumber dari kemampuan kita, tetapi dari Roh Kudus yang bekerja di dalam kita. Kasih sering kali bukan hal yang rumit, tetapi selalu membutuhkan pencerahan Roh Kudus. Tanpa pertolongan-Nya, kita cenderung mementingkan diri sendiri. Roh Kuduslah yang mengubah kesabaran dari sekadar kewajiban menjadi sukacita rohani. Ia menolong kita melihat bahwa menunggu orang lain bukanlah kehilangan waktu, melainkan kesempatan untuk memperlihatkan kasih Allah dalam tindakan nyata.

Dalam budaya jemaat yang mula-mula, perjamuan kasih (agape meal) bukan sekadar makan bersama, melainkan lambang kesatuan tubuh Kristus. Ketika satu anggota tidak dihargai, maka seluruh tubuh menderita. Hal ini mengingatkan kita bahwa kasih bukan tindakan individualistik, melainkan komunal. Jika kasih hanya memikirkan diri sendiri, maka kasih itu kehilangan Rohnya. Kasih sejati memperhatikan dan merangkul sesama.

Dalam kehidupan bergereja hari ini, ketika kita berkumpul, baik dalam ibadah, persekutuan, atau kegiatan pelayanan, semangat yang harus mewarnai semuanya adalah memberi kesempatan kepada yang lebih membutuhkan — bukan berebut posisi, hak, atau kehormatan. Setiap orang memiliki tempat dalam keluarga Tuhan. Tugas kita bukan memastikan kita duduk di kursi terbaik, sekalipun kita berhak, melainkan memastikan semua orang merasa diterima.

Pernyataan “Orang Kristen tidak mementingkan hak tapi kewajibannya” adalh benar. Itu mencerminkan penekanan ajaran Kristen pada kewajiban mengasihi sesama, tanggung jawab pribadi kepada Allah, dan mengikuti teladan Yesus Kristus yang tidak mementingkan diri. Meskipun tidak meniadakan hak, prinsip dasarnya adalah hidup untuk melayani dan menempatkan kebutuhan orang lain di atas keinginan pribadi, sebagaimana dicontohkan oleh Yesus yang “memberikan diri-Nya sendiri”.

Kita tentu ingat bahwa Yesus membasuh kaki murid-murid-Nya sebelum Paskah untuk mengajarkan kerendahan hati dan teladan pelayanan, menunjukkan bahwa pemimpin sejati harus melayani dan merendahkan diri seperti hamba. Yesus, meskipun Tuhan dan guru, melakukan pekerjaan yang biasanya dilakukan oleh budak dengan kasta terendah pada masa itu, yaitu membasuh kaki yang kotor karena berjalan di jalanan berlumpur. Melalui tindakan ini, Yesus memberikan teladan bagi kita untuk saling melayani dan mengasihi satu sama lain.

Memberi kesempatan bagi orang lain juga dapat dimaknai sebagai tindakan percaya kepada Tuhan. Dalam masyarakat moderen yang bergerak cepat, orang yang mau menunggu sering kali dianggap lemah atau lamban. Namun, dalam Kerajaan Allah, orang yang menunggu dengan kasih adalah orang yang mengerti Siapa yang sebenarnya berdaulat. Kita tidak perlu terburu-buru untuk memastikan agar kepentingan kita terjamin, sebab kita tahu Tuhan sendiri yang memelihara. Itulah sebabnya, kasih sejati tidak hanya memberi kesempatan kepada sesama, tetapi juga membuka ruang bagi karya Allah. Ketika kita berhenti mendorong kepentingan diri, kita memberi ruang bagi kasih karunia Tuhan untuk bekerja di tengah komunitas.

Ada satu hal menarik dari perintah Paulus ini: kasih tidak pernah dipaksakan. Paulus tidak berkata, “Tunggulah, kalau tidak, kamu tidak layak ikut.” Ia berbicara sebagai seorang rasul yang memahami bahwa kasih tidak dapat tumbuh dari perintah yang kaku, tetapi dari hati yang telah disentuh Kristus. Hanya mereka yang telah menerima kasih karunia Kristus yang sanggup membagikannya kepada orang lain.

Maka dari itu, kasih membutuhkan pencerahan Roh Kudus. Tidak cukup hanya tahu ayatnya; kita perlu mengalami kasih itu secara pribadi. Roh Kudus mengajarkan kita melihat sesama bukan sekadar sebagai “orang lain” melainkan sebagai sesama anggota tubuh Kristus. Ketika pandangan kita diubahkan, tindakan kita pun akan berubah — kita akan lebih sabar, lebih mengerti, lebih bersedia memberi tempat.

Dalam kehidupan sehari-hari, perintah ini dapat diterapkan dalam banyak bentuk:

  • Menunggu giliran dengan sikap menghormati.
  • Memberi kesempatan bagi yang lebih lemah atau yang datang belakangan.
  • Mendengarkan orang lain lebih dahulu sebelum berbicara.
  • Menahan keinginan untuk selalu menjadi pusat perhatian.
  • Menunjukkan kasih dengan kerelaan hati.

Hal-hal ini mungkin terlihat sederhana, tetapi dampaknya sangat besar. Dalam keluarga, ini bisa membangun suasana penuh kasih. Dalam jemaat, ini mempererat persaudaraan. Dalam masyarakat, ini menjadi kesaksian nyata tentang kasih Kristus.

Yesus sendiri memberi teladan tentang kasih yang memberi ruang bagi orang lain. Ia tidak memaksa, tapi mengundang. Ia tidak menyingkirkan orang lemah, Ia justru memberi tempat terhormat kepada mereka. Ia menunggu murid-murid memahami kebenaran-Nya, dengan kesabaran yang sempurna. Ketika kita mengikuti jejak-Nya, kita belajar bahwa kasih bukan tentang siapa yang lebih dulu atau lebih penting, melainkan siapa yang lebih rela mengasihi.

Akhirnya, kasih yang sejati selalu akan memuliakan Allah. Ketika kita memberi kesempatan kepada orang lain, kita sedang mengatakan kepada dunia bahwa hidup kita bukan tentang “aku,” tetapi tentang “kita di dalam Kristus.” Kita menyatakan bahwa kasih lebih kuat daripada ego sehingga “hidupku bukanlah aku lagi, tapi Kristus dalamku”.

Doa saya, kiranya kita sebagai umat percaya — baik di keluarga, jemaat, maupun komunitas — menjadi orang-orang yang siap menunggu, memberi ruang, dan mendahulukan sesama dengan kasih Kristus. Sebab kasih seperti inilah yang akan membuat dunia melihat Kristus melalui hidup kita.

Doa Penutup:

Tuhan, terima kasih atas kasih-Mu yang sabar, panjang sabar, dan selalu memberi kesempatan kepada kami. Ajari kami untuk menunggu, mengasihi, dan memberi tempat bagi orang lain seperti Engkau telah memberi tempat bagi kami. Penuhi hati kami dengan Roh Kudus-Mu, supaya kami dapat mengasihi bukan dengan kekuatan kami sendiri, tetapi dengan kasih yang berasal dari-Mu. Di dalam nama Yesus kami berdoa. Amin.

Apakah Anda bisa melihat apa yang tidak kelihatan?

“Sebab kami tidak memperhatikan yang kelihatan, melainkan yang tak kelihatan, karena yang kelihatan adalah sementara, sedangkan yang tak kelihatan adalah kekal.” 2 Korintus 4:18

Setiap manusia, tanpa terkecuali, mendambakan kesuksesan. Sejak kecil kita ditanamkan pengertian untuk bekerja keras, belajar giat, dan mencapai sesuatu yang membanggakan. Di sekolah, kesuksesan diukur lewat nilai dan prestasi. Di dunia kerja, kesuksesan sering diukur lewat jabatan, gaji, atau ketenaran. Bahkan dalam kehidupan keluarga, ukuran keberhasilan pun sering kali dikaitkan dengan status sosial, rumah yang bagus, anak-anak yang berprestasi, atau masa pensiun yang mapan. Tidak ada yang salah dengan semua itu — tetapi semuanya berada dalam ranah yang kelihatan.

Masalahnya, barangkali jarang orang tua Kristen yang mengajarkan anak-anaknya untuk “mengejar kesuksesan” dalam apa yang tidak kelihatan, seolah itu adalah hal yang sepele. Lebih jarang lagi orang tua yang mengajarkan anak-anaknya bahwa kesuksesan dalam hal yang tidak kelihatan itu adalah yang terpenting dalam hidup di dunia karena itu sudah ditawarkan Tuhan sekarang ini, untuk masa depan yang kekal. Apapun yang terjadi pada apa yang kelihatan tidaklah akan menjadi masalah jika apa yang tidak kelihatan, yaitu karunia keselamatan Tuhan, tidak disia-siakan.

Paulus, seperti semua orang, tidak ingin mengalami hidup yang terancam bahaya secara terus menerus. Tetapi ia menolak untuk patah semangat dalam menghadapi penderitaan demi imannya kepada Kristus. Ia menulis di ayat sebelumnya bahwa penderitaannya saat ini, meskipun terkadang hampir tak tertahankan (2 Korintus 1:8), tidaklah dapat dibandingkan dengan kemuliaan kekekalan yang jauh lebih besar. Ia menyatakan bahwa perspektif ini membutuhkan fokus pada apa yang tidak dapat dilihat dalam hidup ini, yaitu dunia rohani.

Sekalipun kebanyakan manusia sangat bergantung pada hal-hal jasmani, dan merasa gagal jika mereka tidak dapat mencapai apa yang dianggap berharga; hal-hal yang terlihat oleh manusia dalam hidup ini hanya ada sesaat lalu lenyap. Tidak ada manusia yang bisa mencapai apa yang abadi. Jelas, apa pun yang ada di dunia ini hanya bertahan dalam waktu yang sangat singkat dibandingkan dengan hal-hal yang bertahan selamanya. Selain itu, kehidupan manusia jauh lebih singkat daripada sejarah manusia. Apa yang terlihat oleh mata jasmani kita akan datang dan pergi dengan sangat cepat.

Allah yang tidak kelihatan, bagaimanapun, adalah “kekal,” yang berarti “di luar waktu.” Apa pun yang ada bersama-Nya di dunia rohani tidak akan pernah berakhir. Paulus mampu mempertahankan fokusnya pada kemuliaan kekekalan dengan menjaga fokus batinnya pada apa yang kekal. Hal ini memungkinkannya menanggung penderitaan dalam hidup ini yang “ringan” dan “singkat” dibandingkan dengan kemuliaan dan kenikmatan kekekalan yang akan datang (Ibrani 11:14-16).

Memang, bila kita berhenti sejenak dan merenung, apa yang dikejar manusia di bumi ini memiliki satu kesamaan: sementara. Harta bisa hilang dalam sekejap. Kesehatan bisa merosot mendadak. Kedudukan bisa digantikan. Nama besar bisa dilupakan. Bahkan hidup kita sendiri pun dapat berakhir sewaktu-waktu. Sejarah dan pengalaman hidup banyak orang membuktikan bahwa apa yang dibangun selama puluhan tahun dapat runtuh dalam hitungan hari. Yesus sendiri berkata, “Janganlah kamu mengumpulkan harta di bumi; di bumi ngengat dan karat merusakkannya dan pencuri membongkar serta mencurinya.” (Matius 6:19). Segala hal duniawi rentan, rapuh, dan tidak kekal.

Orang yang berhasil secara rohani bukanlah mereka yang paling kaya, paling sehat, atau paling terkenal, melainkan mereka yang hidup dalam damai sejahtera Tuhan, mengasihi sesama, dan tetap setia dalam iman — sekalipun dunia tidak melihat dan memuji mereka. Mereka menanam sesuatu yang kekal: kasih, kesetiaan, pengharapan, pengampunan, dan iman kepada Kristus.

Damai surgawi adalah salah satu bentuk kesuksesan rohani. Ini bukan sekadar perasaan tenang ketika semua keadaan baik. Damai surgawi adalah ketenangan yang datang dari Tuhan sendiri, yang melampaui segala akal (Filipi 4:7). Ini adalah damai yang tidak bisa dicuri oleh keadaan, penyakit, tekanan hidup, atau bahkan maut.

Sebagai orang percaya, kita memang hidup di dunia ini, tetapi kita tidak boleh terpaku pada dunia ini. Dunia ini hanyalah tempat singgah sementara, bukan tujuan akhir. Oleh sebab itu, ukuran kesuksesan kita tidak boleh hanya ditentukan oleh apa yang dunia anggap berhasil.

Mereka yang hidup dengan perspektif kekekalan akan berbeda dalam cara memandang hidup. Mereka tidak akan putus asa ketika kehilangan hal-hal duniawi, sebab mereka tahu bahwa ada harta di surga yang tidak dapat dicuri. Mereka tidak sombong ketika berhasil, sebab mereka tahu semua itu fana. Mereka juga tidak takut menghadapi masa tua atau kematian, sebab mereka tahu kehidupan yang sejati dimulai setelah dunia ini berakhir.

Perspektif kekekalan membuat kita lebih tenang dalam menghadapi tekanan. Lebih rela memberi dan melayani. Lebih fokus pada hal-hal rohani. Lebih siap untuk berkata, “Hidupku adalah Kristus dan mati adalah keuntungan” (Filipi 1:21).

Menghidupi kesuksesan sejati bukan berarti berhenti bekerja keras atau tidak memiliki cita-cita duniawi. Tuhan tidak menentang kemajuan dan keberhasilan. Tetapi kita perlu menempatkan semuanya pada tempatnya: sebagai sarana, bukan tujuan akhir. Kita boleh memiliki harta, tetapi jangan biarkan harta memiliki kita. Kita boleh mencapai prestasi, tetapi jangan biarkan prestasi menjadi identitas kita. Identitas sejati kita adalah sebagai anak-anak Allah yang telah ditebus oleh Kristus. Itulah kesuksesan terbesar dalam hidup ini: dikenal dan dikasihi oleh Tuhan.

Pagi ini, berapapun usia kita, kiita harus mengalihkan pandangan. Tidak lagi mendasarkan nilai hidup pada pujian atau pengakuan manusia. Belajar untuk mengukur keberhasilan berdasarkan ketaatan kepada Tuhan. Melatih hati untuk bersyukur bukan karena apa yang dimiliki, tetapi karena siapa Tuhan dalam hidup kita. Menaruh pengharapan bukan pada harta atau manusia, tetapi pada janji kekal yang diberikan oleh Kristus.

Mungkin saat ini Anda sedang berada dalam masa sulit, atau justru sedang berada di puncak keberhasilan. Apa pun keadaan Anda, mari arahkan pandangan kepada Tuhan. Sebab yang kelihatan adalah sementara, tetapi yang tak kelihatan — kasih Tuhan, damai sejahtera-Nya, janji keselamatan — itulah yang kekal.

Doa Penutup:

Tuhan, ajarilah aku untuk tidak terpaku pada apa yang kelihatan, tetapi untuk menaruh pandangan pada yang kekal. Ketika aku tergoda untuk mengukur kesuksesan seperti dunia, ingatkan aku bahwa hanya kasih-Mu yang abadi. Ketika aku mengalami kesulitan, kuatkan imanku untuk tetap melihat kepada-Mu. Bentuklah aku menjadi pribadi yang hidup dalam damai surgawi, bukan dalam kejaran akan hal-hal fana. Dalam nama Yesus aku berdoa. Amin.

Apakah Anda masih berlari dengan penuh semangat?

“Saudara-saudara, aku sendiri tidak menganggap, bahwa aku telah menangkapnya, tetapi ini yang kulakukan: aku melupakan apa yang telah di belakangku dan mengarahkan diri kepada apa yang di hadapanku, dan berlari-lari kepada tujuan untuk memperoleh hadiah, yaitu panggilan sorgawi dari Allah dalam Kristus Yesus.” Filipi 3:13-14

Filipi 3:12—4:1 menjelaskan sikap yang tepat yang seharusnya dimiliki orang Kristen sejati terhadap proses “sanctification” atau “pengudusan”. Ini adalah jalan bertahap seumur hidup untuk menjadi semakin serupa dengan Yesus. Jika kita benar-benar pengikut Kristus, tempat kita dalam kekekalan sudah terjamin sejak kita percaya kepada-Nya, tetapi butuh waktu untuk melihat tindakan dan sikap kita berubah menjadi serupa dengan-Nya.

Memang selama hidup di dunia tidak ada orang yang sempurna, dan Paulus sadar akan hal itu, tetapi ia mendorong setiap orang Kristen sejati untuk meniru fokus tunggalnya dalam mengejar Yesus. Paulus juga meratapi mereka yang menolak Injil, yang mungkin mengaku Kristen, tetapi tidak pernah berubah dari hidup lama mereka; karena mereka sudah membuat sebuah pilihan yang akan mengakibatkan kebinasaan mereka.

Paulus merinci riwayat hidup Yahudinya yang mengesankan. Ia menyebutkan hal ini hanya untuk menekankan betapa kecilnya arti hal-hal tersebut dibandingkan dengan iman kepada Kristus. Bahasa Paulus di sini tajam dan langsung ke intinya. Ia kemudian menjelaskan bagaimana fokus seorang Kristen seharusnya murni kepada Kristus, sama seperti seorang pelari berkonsentrasi pada tujuannya agar dapat berlari secara efektif.

Mungkin kita merasa bahwa kita sudah menjadi orang percaya sejak muda, lahir dalam keluarga Kriten, sudah banyak mempelajari firman Tuhan, dan merasa sudah cukup taat kepada Tuhan. Tetapi Paulus berkata bahwa kita tidak patut menyia-nyiakan waktu yang masih ada. Daripada melihat ke masa lalu atau ke diri kita sendiri, kita seharusnya melihat ke depan, ke keabadian bersama Tuhan.

Paulus terus memusatkan pandangannya pada garis finis karena seluruh tujuan hidupnya adalah mendapatkan Kristus:

“Tetapi apa yang dahulu merupakan keuntungan bagiku, sekarang kuanggap rugi karena Kristus. Malahan segala sesuatu kuanggap rugi, karena pengenalan akan Kristus Yesus, Tuhanku, lebih mulia dari pada semuanya. Oleh karena Dialah aku telah melepaskan semuanya itu dan menganggapnya sampah, supaya aku memperoleh Kristus” Filipi 3:7-8

Tujuan Paulus adalah kesempurnaan, tetapi ia belum mencapainya. Ia bukannya tanpa cela, dan ia juga tidak berharap mencapai kesempurnaan sebelum kematiannya. Sebaliknya, ia menggunakan analogi seorang pelari dalam perlombaan untuk menggambarkan motivasi kehidupan rohaninya. Seperti seorang pelari yang berdedikasi, ia memiliki satu tujuan. Sebagaimana seorang pelari tidak dapat berhasil kecuali ia berkonsentrasi pada perlombaan yang dihadapinya, Paulus juga tidak dapat berhasil bertumbuh di dalam Kristus jika ia membiarkan hal-hal lain mengganggunya.

Melanjutkan analogi berlari, Paulus juga memilih untuk hidup dengan prinsip penting: tetap fokus pada jalan di depannya. Seorang pelari tidak dapat melihat ke belakang dan tetap fokus pada tujuan di depannya. Kedua gagasan ini saling bertentangan. Tujuan seorang pelari adalah berfokus pada langkah selanjutnya menuju tujuannya agar tidak jatuh tersandung. Tujuan rohani Paulus dinyatakan secara langsung di sini: “hadiah, yaitu panggilan surgawi dari Allah dalam Kristus Yesus.”

Orang Kristen dapat belajar dari masa lalu, tetapi kita tidak terikat pada hal-hal yang telah kita lakukan. Daripada terbelenggu oleh pengalaman masa lalu, kita dapat terus maju, karena kita tahu bahwa kita adalah manusia berdosa yang sudah menerima pengampunan Kristus. Kehidupan rohani Paulus pun sama. Ia tidak akan melihat kembali langkah-langkah sebelumnya, tetapi berfokus untuk meningkatkan setiap langkah dalam perlombaannya hingga mencapai tujuan bersama Kristus. Paulus memiliki tujuan yang jelas: berada di surga bersama Tuhan. Ia menantikan pahala tertinggi atas pelayanannya yang setia.

Dalam kitab Korintus, Paulus membandingkan mahkota seorang atlet dengan hadiah kekal orang percaya:

“Tiap-tiap orang yang turut mengambil bagian dalam pertandingan, menguasai dirinya dalam segala hal. Mereka berbuat demikian untuk memperoleh suatu mahkota yang fana, tetapi kita untuk memperoleh suatu mahkota yang abadi.” 1 Korintus 9:23

Apa hal-hal yang ada di belakang kita, yang bisa menghambat kemajuan rohani kita? Seperti yang sudah ditulis sebelumnya, ada banyak hal yang bisa membuat kita tidak bisa berlari dengan sepenuh tenaga. Tetapi, di antara semua itu, memendam emosi seperti kepahitan dan ketidakmauan untuk mengampuni orang lain dapat memperlambat kita dan bahkan membuat kita terkunci di masa lalu. Mengungkit-ungkit konflik dan mengungkit kembali kejadian-kejadian yang menyakitkan hanya akan membuka luka lama.

Rasul Petrus mendesak kita untuk berhenti melakukan hal-hal ini:

“Karena itu buanglah segala kejahatan, segala tipu muslihat dan segala macam kemunafikan, kedengkian dan fitnah. Dan jadilah sama seperti bayi yang baru lahir, yang selalu ingin akan air susu yang murni dan yang rohani, supaya olehnya kamu bertumbuh dan beroleh keselamatan” 1 Petrus 2:1-2

Rasa bersalah dan putus asa atas dosa-dosa masa lalu juga dapat membuat kita terbelenggu di masa lalu. Namun, Allah tidak mengungkit-ungkit dosa masa lalu kita, dan kita pun seharusnya tidak (1 Yohanes 1:7-9).

Pagi ini, kita disadarkan bahwa kehidupan Kristen harus dijalani dengan mata kita tertuju kepada Yesus Kristus. Dia adalah prioritas utama yang membuat hidup kita berharga. Tujuan tertinggi kita adalah mengenal-Nya lebih baik, seperti yang dikatakan Paulus:

“Yang kukehendaki ialah mengenal Dia dan kuasa kebangkitan-Nya dan persekutuan dalam penderitaan-Nya, di mana aku menjadi serupa dengan Dia dalam kematian-Nya.” Filipi 3:10

Apa yang kita harus lakukan dalam kasih?

“Ia menutupi segala sesuatu, percaya segala sesuatu, mengharapkan segala sesuatu, sabar menanggung segala sesuatu.”1 Korintus 13: 7

Ayat 1 Korintus 13:1–13 adalah salah satu bagian Alkitab yang paling disukai orang Kristen dan terkenal, tetapi Paulus menempatkannya setelah pengajarannya tentang karunia-karunia rohani – ini karena ada sebabnya. Paulus menanggapi penekanan berlebihan jemaat Korintus pada karunia-karunia rohani tertentu dengan menunjukkan kepada mereka bahwa semua karunia tidak ada nilainya jika tidak dipraktikkan melalui kasih ilahi. Beberapa karunia mungkin tampak mengesankan, tetapi jika dicoba tanpa kasih yang rela berkorban bagi orang lain, karunia-karunia itu menjadi tidak berarti, bahkan bisa merusak.

Dalam bagian kitab Korintus ini, Paulus menggunakan 14 kata kerja untuk menggambarkan apa yang dilakukan dan tidak dilakukan oleh kasih. Kasih adalah dasar bagi pengajaran Paulus dalam bab berikutnya tentang nubuat, bahasa roh, dan bahkan ibadah yang teratur. Meskipun bagian ini sering dikutip dalam suasana pernikahan, konsep yang dimaksud adalah agape: kasih ilahi yang rela berkorban dalam setiap keadaan.

Karunia-karunia rohani memang memberikan sekilas gambaran tentang apa yang dapat kita diketahui saat ini, tetapi ketika kesempurnaan datang, kita akan mengetahui segalanya. Dalam hal ini, ada satu hal yang sudah pasti: kasih adalah kebajikan terbesar. Jika kita memilih untuk saling mengasihi, itu akan menyelesaikan banyak masalah dalam hidup sehari-hari.

Dalam ayat di atas, Paulus hampir sampai pada akhir uraian singkatnya tentang seperti apa kasih sejati itu. Kata Yunani yang digunakan untuk kasih, agape, menggambarkan kasih Allah yang tanpa syarat bagi anak-anak-Nya dan bagaimana Dia menghendaki kita untuk saling mengasihi.

Seiring dengan deskripsi Paulus tentang apa yang dilakukan dan tidak dilakukan oleh kasih Kristen, jelas bagi kita bahwa kasih selalu mengesampingkan diri sendiri demi kebaikan orang lain. Lebih tepatnya, mereka yang mengasihi seperti Kristus memang mau mengesampingkan kebutuhan diri sendiri demi memenuhi kebutuhan orang Kristen lainnya. Sudah tentu, mengasihi seperti Yesus mengasihi kita tidaklah mudah kita tiru jika tidak karena karunia Tuhan.

Paulus menunjukkan bahwa kasih Allah, dalam arti tertentu, tidak ada habisnya. Kasih itu tidak membatasi komitmen-Nya kepada orang percaya lainnya. Seperti itu juga, kasih kita seharusnya bersifat langgeng, bukan untuk sementara.

Kasih dikatakan “menutupi” segala sesuatu, artinya menanggung segala sesuatu. Kasih tidak berkata, “sejauh ini dan tidak lebih.” Kasih tidak dibatasi oleh apa yang masuk akal atau apa yang orang lain rela untuk memberikan. Ini tidak berarti seseorang harus membiarkan dirinya terus-menerus dilukai, baik secara fisik maupun dengan cara lain, oleh sesama orang percaya atau anggota keluarga. Terkadang kasih menanggung rasa sakit dari jarak yang aman dan legal, tetapi kita harus ingat bahwa kasih yang sejati dari Allah tidak berhenti ketika sifat kita menjengkelkan atau sulit diatur.

Kasih percaya segala sesuatu. Apakah ini membuat kasih mudah tertipu? Tidak, tetapi pilihan kita untuk memercayai mereka yang mungkin menipu kita akan menghilangkan beban untuk menemukan kebohongan mereka dan memproyeksikan kepada mereka rasa hormat yang mungkin pantas atau tidak pantas mereka terima. Kita yakin bahwa orang yang dikasihi memikul beban untuk jujur ​​atau bertanggung jawab kepada Allah, dan bukan kepada kepada kita.

Kasih mengharapkan segala sesuatu. Kasih berharap untuk kemenangan dalam diri orang lain, untuk kebaikan yang menang, untuk kebenaran yang terungkap bagi mereka. Dalam Alkitab, harapan lebih dari sekadar keinginan, itu adalah keyakinan bahwa Allah akan melakukan apa yang Dia janjikan bagi orang-orang yang dipilih-Nya.

Kasih menanggung segala sesuatu. Orang Kristen sering menghadapi masa-masa sulit. Mereka yang memilih untuk mengasihi seperti Yesus tidak berhenti mengasihi ketika hidup menjadi sulit. Kasih kepada Tuhan dan sesama bertahan melewati hari-hari yang sulit dan malam-malam yang panjang.

Harapan Paulus yang teguh bagi jemaat Korintus merupakan salah satu bukti kasihnya kepada mereka. Dan pagi ini, harapan yang sama tertuju kepada kita.

“Ia juga akan meneguhkan kamu sampai kepada kesudahannya, sehingga kamu tak bercacat pada hari Tuhan kita Yesus Kristus.” 1 Korintus 1:8

Tetap Menyala Sampai Garis Akhir

“Janganlah hendaknya kerajinanmu kendor, biarlah rohmu menyala-nyala dan layanilah Tuhan.” Roma 12:11

Banyak orang Kristen percaya bahwa seiring bertambahnya usia, seseorang akan secara alami menjadi lebih rohani. Mereka membayangkan masa tua sebagai masa keemasan dalam iman, masa di mana hidup menjadi tenang, damai, dan dipenuhi kesadaran akan hadirat Tuhan. Namun dalam kenyataannya, hal ini sering kali berbeda.

Pertambahan usia tidak secara otomatis membuat seseorang semakin dekat dengan Tuhan. Pertambahan usia hanya membuat tubuh menjadi semakin lemah, pengalaman hidup semakin banyak, dan waktu semakin sedikit. Sementara itu, perjuangan iman tidak berhenti. Bahkan pada banyak orang, justru di masa-masa menjelang garis akhir kehidupan, api iman mulai meredup oleh kejemuan rohani.

Keadaan ini sering terjadi secara perlahan. Orang yang dahulu bersemangat melayani, rajin berdoa dan membaca Alkitab, bisa saja menjadi lebih pasif. Mereka merasa telah “melakukan bagian mereka” di masa muda: sudah ikut paduan suara, sudah mengajar Sekolah Minggu, sudah menjadi penatua, sudah membangun banyak hal untuk gereja. Ketika usia semakin lanjut, muncul pikiran seperti, “Biarlah yang muda yang melayani.” Lalu perlahan-lahan, semangat melayani Tuhan menjadi kendor, bahkan nyaris padam. Mereka mungkin yakin bahwa “Sekali selamat, tetap selamat”.

Paulus berkata dengan tegas: “Janganlah hendaknya kerajinanmu kendor, biarlah rohmu menyala-nyala dan layanilah Tuhan.” (Roma 12:11). Kata “menyala-nyala” dalam bahasa aslinya berarti mendidih, berapi-api, penuh semangat. Ini bukan gambaran iman yang pasif, tetapi iman yang hidup, yang terus berkobar sekalipun tubuh sudah tidak sekuat dahulu. Semangat melayani Tuhan tidak boleh padam hanya karena usia bertambah. Justru pada masa-masa inilah, kesaksian iman menjadi sangat berharga tidak hanya bagi diri sendiri, tapi juga untuk orang lain. Itu karena keluar dari hidup yang telah mengalami begitu banyak suka dan duka bersama Tuhan.

Perlu dicatat bahwa kepada jemaat Filipi, Paulus juga berkata: “Hai saudara-saudaraku yang kekasih, kamu senantiasa taat; karena itu tetaplah kerjakan keselamatanmu dengan takut dan gentar, bukan saja seperti waktu aku masih hadir, tetapi terlebih pula sekarang waktu aku tidak hadir” (Filipi‬ ‭2‬:‭12‬‬).

“Kerjakan keselamatanmu” berarti menjalankan kehidupan yang saleh dan taat sesuai dengan ajaran Firman, bukan untuk mendapatkan keselamatan, melainkan untuk mengamalkan keselamatan yang telah diterima secara cuma-cuma. Ini harus dilakukan dengan sungguh-sungguh (“takut dan gentar”) dan konsisten, baik di depan orang lain maupun ketika sendirian, sebagai wujud syukur atas anugerah Tuhan yang memberikan iman dan kekuatan untuk melakukannya.

Kita perlu menyadari bahwa garis akhir bukan tempat beristirahat sebelum waktunya. Dalam dunia olahraga, banyak pelari yang justru tersandung pada kilometer terakhir karena kehilangan fokus. Mereka kehabisan tenaga atau menganggap kemenangan sudah di depan mata, sehingga lengah. Dalam hidup iman pun demikian. Ketika seseorang merasa “sudah cukup” dalam perjalanan rohaninya, justru pada saat itulah iblis sering datang dengan godaan yang halus. Godaan untuk menyerah, menjadi apatis, tidak lagi peduli, atau merasa semua sudah lewat. Padahal Iblis tidak pernah pensiun. Karena itu, selama kita masih hidup di dunia ini, perjuangan rohani tetap berjalan.

Usia lanjut sering membawa tantangan tersendiri: tubuh yang tidak sekuat dahulu, kesehatan yang menurun, teman-teman seangkatan yang satu per satu dipanggil pulang, dan rasa kesepian yang kadang menyelinap di antara kesibukan anak cucu. Dalam keadaan seperti itu, semangat rohani sangat mudah merosot bila tidak dipelihara. Kejemuan rohani dapat menyusup dalam bentuk rasa bosan berdoa, kehilangan gairah membaca firman, malas ke gereja, atau kehilangan makna dalam pelayanan. Mungkin sebagian orang bisa saja tetap datang ke gereja setiap minggu, tetapi tanpa lagi memiliki api semangat yang sama seperti dahulu.

Karena itulah, iman harus terus dipelihara seperti api dalam perapian. Jika dibiarkan tanpa kayu bakar, api itu akan padam. Namun jika terus diberi kayu — dalam bentuk doa, firman, dan persekutuan — api itu tetap menyala, bahkan memberi kehangatan bagi orang lain. Doa pribadi yang konsisten bukan sekadar kebiasaan rohani, tetapi persekutuan yang intim dengan Tuhan. Membaca Alkitab setiap hari bukan hanya mengulang cerita-cerita lama, melainkan merenungkan karya Tuhan yang terus hidup dan berbicara pada setiap musim kehidupan. Pelayanan tidak selalu berarti aktivitas fisik yang besar. Bagi banyak orang lanjut usia, pelayanan terbaik dapat berupa doa syafaat bagi keluarga, gereja, bangsa, dan orang-orang muda yang akan melanjutkan tongkat estafet iman. Setiap doa, sekecil apa pun, menjadi bagian dari pelayanan yang menyala.

Selain itu, ucapan syukur yang tulus menjadi bahan bakar rohani yang penting. Semakin bertambah usia, semakin banyak pengalaman yang dapat disyukuri. Mungkin tidak semua pengalaman itu manis. Ada luka, kegagalan, kehilangan, dan penyesalan. Namun ketika semua itu dipandang dalam terang kasih Tuhan, hati menjadi penuh ucapan syukur. Ucapan syukur membuat hati tetap hangat, tidak pahit, tidak letih dalam perjalanan iman. Dengan bersyukur, kita tetap dapat berkata seperti Daud, “Sekalipun rambutku memutih, ya Allah, janganlah Engkau meninggalkan aku, supaya aku memberitakan kuasa-Mu kepada angkatan ini, keperkasaan-Mu kepada semua orang yang akan datang.” (Mazmur 71:18).

Persekutuan dengan sesama orang percaya juga menjadi penopang yang sangat penting. Banyak orang lanjut usia mulai menarik diri dari komunitas rohani dengan alasan kelelahan atau merasa tidak relevan lagi. Sebagian lagi mungkin lebih senang berjumpa dengan teman di media sosial untuk “cakap angin”. Padahal, hal sedemikian justru membuat iman makin mudah padam. Bersekutu dengan sesama orang percaya, saling menguatkan dan saling mendoakan, menyalakan kembali api semangat yang mungkin hampir padam.

Tuhan sering memberi kesempatan kepada orang-orang percaya lanjut usia untuk menjadi teladan iman bagi generasi berikut. Seperti Paulus yang berkata menjelang akhir hidupnya: “Aku telah mengakhiri pertandingan yang baik, aku telah mencapai garis akhir dan aku telah memelihara iman.” (2 Timotius 4:7). Ini bukan kata-kata orang yang hanya berdiam diri menunggu akhir hidup, tetapi suara seorang pejuang iman yang tetap menyala sampai akhir.

Saat mendekati garis finish dalam kehidupan Kristen bukan waktu untuk berhenti. Itu adalah saat untuk berlari lebih teguh, dengan mata tertuju kepada Yesus, Sang Pemimpin dan Penyempurna iman kita. Semakin mendekati garis akhir, seharusnya api itu menyala semakin terang. Bukan karena kekuatan kita, tetapi karena kasih karunia Tuhan yang menopang dari awal hingga akhir.

Karena itu, jangan biarkan kerajinan Anda menjadi kendor. Jangan biarkan kejemuan rohani mencuri semangat Anda. Bila tubuh melemah, biarkan roh Anda semakin menyala. Bila dunia menjadi sunyi, biarkan doa menjadi nyanyian yang tidak pernah padam. Bila banyak hal berubah, ingatlah bahwa kasih Tuhan tetap sama. Dan bila garis akhir mulai terlihat di kejauhan, janganlah takut. Tetaplah berlari kencang dengan mata tertuju kepada Yesus!

Doa Penutup:

Tuhan yang setia, terima kasih karena Engkau menyertai aku sejak masa mudaku hingga kini. Tolong aku untuk tidak menyerah dalam iman, bahkan ketika tubuhku menjadi lemah dan hari-hariku semakin singkat. Nyalakan kembali api kasih dan pelayanan dalam hatiku. Jadikan hidupku teladan iman bagi anak-anakku, cucu-cucuku, dan banyak orang di sekitarku. Aku ingin tetap berlari sampai garis akhir, bukan dengan kekuatanku sendiri, melainkan dengan kasih karunia-Mu yang cukup. Dalam nama Tuhan Yesus aku berdoa. Amin.