Memasuki Tahun Baru dengan keyakinan

“Kita tahu sekarang, bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah.” Roma 8:28

Hari ini adalah hari pertama di tahun 2026. Selamat Tahun Baru! Semoga tahun baru ini diisi dengan segala kebahagiaan dari Tuhan kita Yesus Kristus. Untuk itu, kita pagi ini akan belajar dari Roma 8:28.

Roma 8:18-30 berbicara tentang partisipasi orang Kristen dalam penderitaan sehari-hari yang dialami oleh seluruh ciptaan. Kita semua mengerang bersama seperti seorang wanita yang sedang melahirkan sambil menunggu Tuhan menemui anak-anak-Nya. Sebagai anak-anak-Nya, kita menunggu Bapa untuk menyelesaikan pengadopsian kita dengan menebus tubuh kita sehingga kita dapat bersama-Nya. Roh Allah membantu kita di masa penantian dengan membawa doa-doa kita yang belum sempurna kepada Allah. Kita percaya bahwa Allah menggunakan setiap keadaan dalam hidup kita untuk tujuan-Nya dan bahwa Dia telah memilih kita sejak lama untuk menjadi anak-anak-Nya.

Roma 8:28 adalah salah satu ayat Alkitab yang paling populer, paling sering dikutip, dan sekaligus paling sering disalahpahami. Ayat ini kerap dijadikan penghiburan instan, seolah-olah setiap peristiwa buruk pasti akan segera berubah menjadi sesuatu yang menyenangkan. Tidak jarang ayat ini diucapkan dengan maksud baik, tetapi justru terdengar dingin dan tidak peka bagi mereka yang sedang berada dalam penderitaan yang nyata.

Banyak orang Kristen, tanpa disadari, memiliki hubungan yang canggung dengan Roma 8:28. Ayat ini terdengar indah, tetapi terasa sulit dipercaya ketika hidup dipenuhi kegagalan, kehilangan, sakit penyakit, konflik keluarga, atau doa-doa yang tampaknya tidak dijawab. Di titik inilah Roma 8:28 menjadi bukan hanya ayat penghiburan, tetapi juga ayat yang menguji iman.

Memasuki tahun baru, kita membawa serta berbagai pengalaman dari tahun-tahun sebelumnya. Ada sukacita, ada pencapaian, tetapi juga ada luka yang belum sembuh, kesedihan yang belum terurai, dan pertanyaan yang belum menemukan jawaban. Roma 8:28 tidak menyangkal kenyataan pahit itu. Ayat ini tidak berkata bahwa segala sesuatu itu baik. Ayat ini berkata bahwa Allah bekerja di dalam segala sesuatu. Ini perbedaan yang sangat penting.

Alkitab tidak pernah mengajarkan bahwa penderitaan itu sendiri adalah kebaikan. Kehilangan, ketidakadilan, penyakit, dan kejahatan tetaplah sesuatu yang menyakitkan dan sering kali tidak masuk akal bagi kita. Namun, Roma 8:28 menegaskan bahwa tidak ada satu pun peristiwa yang berada di luar kedaulatan dan pemeliharaan Allah, khususnya bagi mereka yang berada di dalam Kristus.

Paulus menulis ayat ini bukan dari menara gading, yaitu tempat atau kedudukan yg serba mulia, enak, dan menyenangkan. Ia menulisnya sebagai seseorang yang mengenal penderitaan, penganiayaan, penolakan, bahkan ancaman kematian. Karena itu, Roma 8:28 bukanlah slogan optimisme murahan, ajaran teologi kemakmuran, atau sekadar ayat penghibur, melainkan pernyataan iman yang matang: Allah tidak pernah kehilangan kendali, bahkan ketika hidup terasa kacau.

Kunci ayat ini terletak pada frasa “bagi mereka yang mengasihi Dia” dan “terpanggil sesuai dengan rencana Allah.” Janji ini bukan janji universal bagi semua orang, dan bukan pula jaminan hidup tanpa masalah. Ini adalah janji perjanjian—janji bagi mereka yang hidup di dalam relasi dengan Kristus.

Bagi orang percaya, “kebaikan” yang dimaksud Allah tidak selalu identik dengan kenyamanan, keberhasilan, atau kebahagiaan jangka pendek. Kebaikan yang Allah kerjakan sering kali berbentuk pembentukan karakter, pemurnian iman, pendewasaan rohani, dan semakin serupanya kita dengan Kristus. Proses ini sering menyakitkan, tetapi tujuannya mulia.

Roma 8:28 juga menolong kita memasuki tahun baru dengan sikap yang lebih tenang dan realistis. Kita tidak memasuki tahun baru dengan ilusi bahwa semuanya akan berjalan lancar, melainkan dengan keyakinan bahwa apa pun yang terjadi, Allah tidak akan meninggalkan kita. Keyakinan ini tidak menghapus air mata, tetapi memberi makna di tengah air mata.

Iman Kristen bukan iman yang menutup mata terhadap penderitaan, melainkan iman yang berani berjalan di tengah penderitaan dengan pengharapan. Kita boleh berduka, kita boleh kecewa, kita boleh mengeluh kepada Tuhan. Dalam hal ini, kitab Mazmur penuh dengan keluhan yang jujur. Namun di balik semua itu, ada pegangan yang kokoh: Allah tetap bekerja, bahkan ketika kita tidak melihat hasilnya sekarang.

Memasuki tahun baru, mungkin kita tidak tahu apa yang akan terjadi. Tetapi Roma 8:28 mengingatkan kita bahwa masa depan kita tidak ditentukan oleh kebetulan, nasib, atau kekuatan gelap, melainkan oleh Allah yang setia pada rencana-Nya. Keyakinan inilah yang memberi kita keberanian untuk melangkah, satu hari demi satu hari.

Tahun baru bukan jaminan hidup yang lebih mudah, tetapi undangan untuk mempercayakan hidup lebih dalam kepada Tuhan. Di dalam Kristus, tidak ada penderitaan yang sia-sia, tidak ada air mata yang tidak diperhitungkan, dan tidak ada cerita hidup yang berakhir tanpa makna.

Doa Penutup:

Tuhan Allah kami yang setia, kami memasuki tahun yang baru dengan hati yang beragam—ada harapan, ada ketakutan, ada luka yang masih kami bawa. Kami bersyukur karena Engkau adalah Allah yang bekerja di dalam segala sesuatu, bahkan ketika kami tidak memahaminya.

Ajarlah kami untuk percaya, bukan karena hidup selalu mudah, tetapi karena Engkau selalu setia. Berilah kami iman untuk melangkah hari demi hari, kekuatan saat kami lemah, dan pengharapan saat jalan terasa gelap.

Kami menyerahkan tahun ini ke dalam tangan-Mu. Bentuklah hidup kami sesuai dengan kehendak-Mu, dan pakailah segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan yang Engkau maksudkan bagi kami di dalam Kristus.

Di dalam nama Tuhan Yesus kami berdoa.

Amin.

Tinggalkan komentar